You are on page 1of 32

MAKALAH

FARMAKOLOGI PADA IBU HAMIL

Disusun oleh
Bahrul Alam
Fifi Harianti
Maria Milawati
Ria Reda Vitalova

AKADEMI FARMASI YARSI PONTIANAK
2016

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur Penulis panjatkan pada Tuhan yang maha esa, yang telah memberikan
petunjuk dan karunianya sehingga Penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul
“ASMA PADA IBU HAMIL”Adapun penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi salah
satu tugas mata kuliah farmakologi program D3 Farmasi di Akademi Farmasi Yarsi
Pontianak.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini tidak menutup
kemungkinan apabila masih terdapat kesalahan dan kekurangan. Dengan lapang dada penulis
menerima saran dan kritiknya demi untuk menambah wawasan. Semoga makalah ini
mendatangkan manfaat bagi penulis khususnya dan bagi rekan-rekan semua pada umumnya.

Pontianak maret 2016

Penyusun

Daftar isi

BAB I

baik menjadi semakin ringan. Kehamilan dan persalinan akan menimbulkan perubahan yang luas terhadap sebagian besar pada fisiologi organ-organ tubuh sehubungan dengan rahim yang membesar bersama dengan tuanya kehamilan sehingga rongga dada menjadi sempit dan gerakan paru akan terbatas untuk mengambil O2 selama pernapasan. dan . Efek kehamilan pada asma tidak dapat diprediksi. Pada kehamilan. Serangan asma biasanya timbul pada usia kehamilan 24-36 minggu. sehingga dapat menghasilkan outcome maternal dan fetal yang maksimal Asma bronkiale merupakan penyakit obstruksi saluran nafas yang sering dijumpai pada kehamilan dan persalinan. berat. tingkat keparahan asma sendiri dapat berubah.000 penduduk setiap tahunnya.000. dan angka kejadian berat badan bayi lahir rendah sehingga penanganan asma yang baik dengan pemantauan ketat serta pengobatan asma dengan prinsip reliever dan controller akan menurunkan morbiditas serta mortalitas ibu hamil dengan asma.000 penduduk dan angka kematian sebanyak 250.5-1 % dari seluruh kehamilan. Dalam penatalaksanaannya pun juga akan berbeda antara Asma dalam kehamilan dan persalinan dengan asma pada wanita yang tidak sedang hamil atau bersalin. diperkirakan 1%-4% wanita hamil menderita asma. atau tidak berubah sama sekali. 49% kasus tetap seperti sebelum terjadinya kehamilan. asma masih merupakan masalah di dunia dengan angka kejadian sebanyak 3. angka kejadian prematuritas. jarang pada akhir kehamilan. Penegakan diagnosis serupa dengan asma diluar kehamilan. Global Initiative for Asthma (GINA) mendefinisikan asma sebagai gangguan inflamasi kronik pada saluran pernapasan yang melibatkan banyak sel inflamasi dan hipersensitivitas bronkus terhadap berbagai rangsangan (alergen) yang ditandai oleh penyempitan saluran pernapasan yang reversibel dengan atau tanpa pengobatan. Frekuensi dan beratnya serangan akan mempengaruhi hipoksia pada ibu dan janin. Hingga saat ini.1 latar belakang Insiden asma dalam kehamilan adalah sekitar 0. Walaupun adanya kekhawatiran akan penggunaan obatobatan selama kehamilan. asma yang tidak terkontrol dapat mengakibatkan efek yang tidak diinginkan terhadap janin berupa peningkatan mortalitas perinatal.PENDAHULUAN 1. ini akan mengakibatkan gangguan pernapasan yaitu Asma. Turner et al dalam suatu penelitian yang melibatkan 1054 wanita hamil yang menderita asma menemukan bahwa 29% kasus membaik dengan terjadinya kehamilan.

dan mengi (wheezing). hal ini disebut status asmatikus. Gordon et al menemukan bahwa angka kematian perinatal meningkat 2 kali lipat pada kehamilan dengan asma dibandingkan kontrol. Pengaruh asma pada ibu dan janin sangat bergantung dari frekuensi dan beratnya serangan asma. yang mana penderita tidak memberikan respon terhadap terapi (obat agonis beta dan teofilin). Serangan asma umumnya berlangsung singkat dan akan berakhir dalam beberapa menit sampai jam. karena ibu dan janin akan mengalami hipoksia.2 Rumusan masalah . 1. sesak nafas. Asma bronkiale merupakan penyakit yang ditandai dengan meningkatnya kepekaan saluran trakeobronkial terhadap berbagai rangsangan. dan berat janin yang tidak sesuai dengan umur kehamilan. berupa abortus. Sekitar 10% akan mengalami eksaserbasi pada persalinan. pembengkakan mukosa dan peningkatan sekresi saluran nafas. Pengaruh kehamilan terhadap timbulnya serangan asma pada setiap penderita tidaklah sama. Biasanya serangan akan timbul mulai usai kehamilan 24 minggu sampai 36 minggu. Keadaan hipoksia jika tidak segera diatasi tentu akan memberikan pengaruh buruk pada janin.22% kasus memburuk dengan bertambahnya umur kehamilan. Pada sebagian kecil kasus terjadi keadaan yang berat. bahkan pada seorang penderita asma serangannya tidak sama pada kehamilan pertama dan kehamilan berikutnya. dan akan berkurang pada akhir kehamilan. Gejala klinik yang klasik berupa batuk. serta bisa juga disertai nyeri dada. persalinan prematur. yang dapat hilang secara spontan atau dengan pengobatan. Pada serangan asma terjadi bronkospasme. dan setelah itu penderita kelihatan sembuh secara klinis. angka kesakitan dan kematian perinatal dapat ditekan mendekati angka populasi normal. Angka kesakitan dan kematian perinatal tergantung dari tingkat penanganan asma. Mabie dkk (1992) melaporkan peningkatan 18 kali lipat resiko eksaserbasi pada persalinan dengan seksio sesarea dibandingkan dengan pervaginam. Sekitar 60% wanita hamil yang mendapat serangan asma dapat menyelesaikan kehamilannya dengan baik. akan tetapi dengan penanganan penderita dengan baik.

dyspnea (sesak nafas) dan peningkatan volume tidal.3 Tujuan 1. Apa saja obat yang dapat digunakan pada ibu hamil ? 2. Mengetahui pa saja obat yang dapat digunakan pada ibu hamil ? 2. Perubahan sistem respirasi pada masa kehamilan diperlukan untuk pertumbuhan janin dan kebutuhan oksigen maternal.paru beserta pembungkusnya (pleura) dan rongga dada yang melindunginya. Pengertian Sistem Pernafasan Pengertian pernafasan atau respirasi adalah suatu proses mulai dari pengambilan oksigen. Mengetahui bagaimana cara penangan pada ibu hamil ? BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. pengeluaran karbondioksida hingga penggunaan energi di dalam tubuh. Sistem Pernafasan Ibu hamil A. 1. Sistem pernafasan pada dasarnya dibentuk oleh jalan atau saluran nafas dan paru. Menusia dalam bernapas menghirup oksigen dalam udara bebas dan membuang karbondioksida ke lingkungan.1 LATAR BELAKANG I. Bagaimana cara penangan pada ibu hamil ? 3. . Perubahan sistem respirasi meliputi perubahan kebutuhan oksigen.1.

peningkatan progesteron menyebabkan hiperventilasi. meningkat 15% -20% pada akhir kehamilan.Selama kehamilan terjadi perubahan fisiologi sistem pernafasan disebabkan oleh perubahan hormonal dan faktor mekanik. Pernafasan melalui hidung akan semakin sulit. Sedangkan perubahan mekanis meliputi elevasi posisi istirahat diafragma kurang lebih 4 cm. Xerostomia ini akan meningkatkan frekuensi karies gigi. Selain itu. Hiperventilasi pada kehamilan adalah hiperventilasi relatif. Semua perubahan ini disebabkan oleh pembesaran uterus akibat tekanan keatas. Peningkatan BMR mencerminkan peningkatan kebutuhan O2 di unit janin-plasenta-uterus serta peningkatan konsumsi O2 akibat peningkatan kerja jantung ibu. Dengan semakin tuanya kehamilan. Namun karena adanya peningkatan kebutuhan O2. Insidensi xerostomia pada wanita hamil adalah sekitar 44%. pernafasan dada menggantikan pernafasan perut dan penurunan diafragma saat inspirasi menjadi semakin sulit. Kebutuhan O2 ibu meningkat sebagai respon terhadap percepatan laju metabolik dan peningkatan kebutuhan O2 jaringan uterus dan payudara. Pemenuhan kebutuhan oksigen Laju basal metabolisme meningkat selama kehamilan seperti terbukti oleh peningkatan konsumsi oksigen. dan kembali ke nilai sebelum hamil pada hari ke-5 atau ke-6 pascapartum. Seain itu. serta lingkar toraks melingkar kurang lebih 6 cm. membuat kapiler membesar sehingga terbentuklah edema dan hiperemia pada traktus . Perubahan-perubahan ini diperlukan untuk mencukupi peningkatan kebutuhan metabolik dan sirkulasi untuk pertumbuhan janin. peningkatan vaskularisasi. Hal ini akan menyebabkan terjadinya xerostomia. Adanya perubahan-perubahan ini juga menyebabkan perubahan pola pernapasan dari pernapasan abdominal menjadi torakal yang juga memberikan pengaruh untuk memenuhi peningkatan konsumsi oksigen maternal selama kehamilan. terutama pada malam hari. artinya kenaikan ventilasi alveolar diluar pengaruh CO2 sehingga PaCO2 menurun. Perubahan hormonal pembesaran mukosa saluran respirasi. B. sebagai respon peningkatan kadar estrogen. plasenta dan uterus. peningkatan 2 cm tranversal saat sudut subkostal dan iga bawah melebar. Laju Metabolisme Basal (BMR) biasanya meningkat pada bulan ke-4 gestasi. Pengaruh hormonal (peningkatan kadar estrogen) menyebabkan ligamen pada kerangka iga berelaksasi sehingga ekspansi rongga dada meningkat. sehingga wanita hamil cenderung bernafas dengan mulut. menyebabkan adanya penurunan kadar CO2 yang menyebabkan alkalosis.

akan tetapi terjadi peningkatan volume tidal dari 450 cc menjadi 600 cc. saluran napas yang banyak diperankan oleh terutama sel mast dan eosinofil Beberapa pengertian Asma menurut beberapa sumber : Asma adalah peradangan kronik saluran nafas dengan heredites utama dimana otot-otot bronchi (saluran udara pada paru) mengalami kontraksi penyimpitan sehingga menyulitkan 2. terjadinya peningkatan diafragma terutama setelah pertengahan kedua kehamilan akibat membesarnya janin. pernapasan. Kondisi ini meliputi sumbatan pada hidung dan sinus. yang menyebabkan terjadinya peningkatan ventilasi permenit selama kehamilan antara 19-50 %. dll. menyebabkan turunnya kapasitas residu fungsional. Selama kehamilan normal terjadi penurunan resistensi saluran napas sebesar 50%. epistaksis. . Peningkatan volume tidal ini disebabkan oleh efek progesteron terhadap resistensi saluran nafas dan dengan meningkatkan sensitifitas pusat pernapasan terhadap karbondioksida. Peningkatan ini juga membuat membran timpani dan tuba eustaki bengkak. atau rasa penuh di telinga. Asma bronkial adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respon trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyimpitan jalan nafas yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah baik secara spontan maupun hasil dari pengobatan (The American Thorakic Society) . mempunyai hubungan yang erat dengan sistem imun dari tubuh. Dari faktor mekanis. perubahan suara. II. sedangkan pO2 tetap berkisar dari 90-106 mmHg. sebesar 20%. yang merupakan volume udara yang tidak digunakan dalam paru.pernafasan atas. Asma Pada Kehamilan A. nyeri pada telinga. Perubahan-perubahan ini menyebabkan terjadinya perubahan pada kimia dan gas darah. sehingga pH darah tidak mengalami perubahan. Karena meningkatnya ventilasi maka terjadi penurunan pCO2 menjadi 30 mm Hg. Asma merupakan penyakit kronik dari saluran pernapasan yang hilang dan timbul diduga 3. Pengertian Asma pada Kehamilan The American Thoracic Society (1962): adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respon trakhea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan jalan napas yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah. sebagai penurunan pCO2 akan terjadi mekanisme sekunder ginjal untuk mengurangi plasma bikarbonat menjadi 18-22 mEq/L. baik secara spontan maupun sebagai hasil suatu pengobatan. C. Gibbs dkk (1992) mendefinisikan sebagai suatu gangguan inflamasi kronik pada 1. Peningkatan Volume Tidal Selama kehamilan kapasitas vital pernapasan tetap sama dengan kapasitas sebelum hamil yaitu 3200 cc.

Faktor Prepisitas Alergen Dimana alergen dapat dibagai menjadi 3 jenis. dan jam tangan . Frekuensi asma berbeda-beda pada tiap penderita. yahg masuk melalui mulut Ex : Makanan dan obat-obatan 3) Kontaktan. Selain itu hipersentifisitas saluran pernapasannya juga bisa diturunkan. Asma eksterisik (berasal dari luar) Yang pemicu serangannya berasal dari luar tubuh (biasanya lewat pernafasan) Serangan asma dapat berlangsung singkat atau berhari-hari. Faktor Predisposisi a. penderita sangat mudah terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan faktor pencetus. Efek kehamilan pada asma tidak dapat diprediksi. Etiologi Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi timbulnya serangan asma bronkhial. 1. spora jamur. bulu binatang. yang masuk melalui saluran pernapasan Ex : debu. Genetik. yang masuk melalui kontak dengan kulit. bakteri dan polusi 2) Ingestan. B. dan batuk yang ditemukan pada wanita hamil. b.Jadi dapat disimpulkan bahwa Asma dalam kehamilan adalah gangguan inflamasi kronik jalan napas terutama sel mast dan eosinofil sehingga menimbulkan gejala periodik berupa sesak napas. Bisanya serangan dimulai hanya beberapa menit setelah timbulnya pemicu. yaitu : 1. Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya. dada terasa berat. Karena adanya bakat alergi ini. Ex : perhiasan. logam. diperkirakan 1%-4% wanita hamil menderita asma. Asma bronkiale merupakan penyakit obstruksi saluran nafas yang sering dijumpai pada kehamilan dan persalinan. yaitu : 1) Inhalan. meskipun belum diketahui bagaimana cara penurunannya yang jelas penderita dengan penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita alergi. serbuk bunga. Serangan asma yang hebat dapat menyebabkan kematiaN C. Asma interisik (berasal dari dalam) Yang sebab serangannya tidak diketahui 2. Jenis-jenis Asma Asma dibagi menjadi dua jenis.

selain itu juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. terutama saat menghembuskan udara Batuk kering Kejang otot di sekitar dada Adapun tingkatan klinik asma dapat dilihat pada tabel berikut dibawah : Tingkatan Alkalosis respiratori ringan PO2 Normal PCO2 ↓ Ph ↑ FEVI (% predicted) 65 – 80 Alkalosis respiratori ↓ ↓ ↑ 50 – 64 Tingkat waspada ↓ Normal Normal 35 – 49 Asidosis respiratori ↓ ↓ ↑ < 35 Pada kasus asma sedang. Stress Stress / gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma. 4. Lingkungan Kerja Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma. Gejala ini membaik pada waktu libur atau cuti. Hal ini berhubungan dengan arah angin serbuk bunga danb debu 3. 4. 1. musim kemarau. polusi lalu lintas. D. Disamping gejala asma yang timbul harus segera diobati penderita asma yang mengalami stress / gangguan emosi perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Tanda / Gejala Asma Kesulitan bernafas Kenaikan denyut nadi Nafas berbunyi. 2. Pada obstruksi berat. Olahraga / aktifitas jasmani yang berat Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan aktifitas jasmani atau olahraga yang berat. Kadang-kadang serangan berhubungan dengan musim. Karena jika stressnya belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati. menurunnya PO2 dan alkalosis respiratori. Serangan asma karena aktifitas biasanya terjadi segera setelah selesai aktifitas.2. industri tekstil. Misalnya orang yang bekerja dilaboratorium hewan. keadaan ini hanya dapat dilihat sebagai PO 2 arteri yang berubah . 5. Perubahan Cuaca Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma. pabrik asbes. Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan asma. 3. hipoksia pada awalnya dapat dikompensasi oleh hiperventilasi sebagai refleksi dari PO2 arteri normal. musim bunga. 5.. pada hiperventilasi. Hal ini berkaitan dengan dimana dia bekerja. Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan asma. seperti : musim hujan. ventilasi menjadi berat karena Fatigue menjadikan retensi CO2.

Asma merupakan obstruksi saluran nafas yang reversible dari kontraksi otot polos bronkus. Karena prostagladin seri F dan ergonovine dapat menjadikan asma. Patofisiologi Asma adalah peradangan kronik saluran nafas dengan herediter utama. kelompok gen sitokin dan reseptor antigen Y –Cell sedangkan lingkungan yang menjadi alergen tergantung individu masing-masing seperti influenza atau rokok. Peningkatan respon saluran nafas dan peradangan berhubungan dengan gen pada kromosom 5. 14 & 16 termasuk reseptor Ig E yang afinitasnya tinggi.menjadi normal. 6. Akhirnya pada obstruksi berat yang diikuti kegagalan pernafasan dengan karakteristik hiperkapnia dan asedemia E. air dingin dan olahraga. aspirin. hipersekresi mukus dan edem mukosa. Terjadi peradangan di saluran nafas dan menjadi responsive terhadap beberapa rangsangan termasuk zat iritan. Aktifitas sel mast oleh sitokin menjadi media konstriksi bronkus dengan lepasnya histamine. 12. prostalgladine D2 dan leukotrienes. maka penggunaanya sebagai obat-obat dibidang obstetric sebaiknya dapat dihindari jika memungkinkan. infeksi virus.11. .

2 PENGARUH ASMA TERHADAP KEHAMILAN Pengaruh asma terhadap kehamilan bervariasi tergantung derajat berat ringannya asma tersebut. terdapat korelasi bermakna antara fungsi paru ibu dengan berat lahir janin. Eksaserbasi serangan asma tampaknya sering terjadi pada trimester III atau pada saat persalinan. yang mengenai 60%-70% wanita hamil. bervariasi dan tidak dapat disuga. janin dengan berat badan lahir rendah. beberapa penelitian menunjukkan adanya peningkatan insidensi abortus.1 PENGARUH KEHAMILAN TERHADAP ASMA Pengaruh kehamilan terhadap perjalanan klinis asma. elahiran prematur. sebaliknya penderita dengan kadar IgE yang menurun akan membaik keadaannya selama kehamilan. tampaknya akan mengalami asma yang lebih berat selama masa kehamilannya dibandingkan dengan mereka yang dengan asma yang lebih ringan. 3. sebagai faktor yang memberikan pengaruh.BAB III PEMBAHASAN 3. Sekitar 60% wanita hamil dengan asma akan mengalami perjalanan asma yang sama pada kehamilan-kehamilan berikutnya. Wanita yang memulai kehamilan dengan asma yang berat. bisa memberi kesan memperberat keadaan asma. Pada persalinan dengan seksio sesarea resiko timbulnya eksaserbasi serangan asma mencapai 18 kali lipat dibandingkan jika persalinan berlangsung pervaginam. yaitu penurunan progesteron dan peningkatan prostaglandin. Dispnea simtomatik yang terjadi selama kehamilan. hal ini menimbulkan pendapat adanya pengaruh perubahan faktor hormonal. . Beratnya derajat serangan asma sangat mempengaruhi hal ini. Angka kematian perinatal meningkat dua kali lipat pada wanita hamil dengan asma dibandingkan kelompok kontrol. dan hipoksia neonatus. Gluck& Gluck menyimpulkan bahwa peningkatan kadar IgE diperkirakan akan memperburuk keadaan asma selama kehamilan. Asma terutama jika berat bisa secara bermakna mempengaruhi hasil akhir kehamilan.

Penemuan pada pemerikasaan fisik penderita asma tergantung dari derajat obstruksi jalan nafas. Selain hal-hal di atas. Serangan asma dapat timbul berulang-ulang dengan masa remisi diantaranya. Serangan dapat cepat hilang dengan pengobatan. tetapi banyak pula penderita yang bukan asma menimbulkan mengi sehingga diperlukan pemeriksaan penunjang 3. aritmia jantung. sehingga hasil akhir kehamilan dan persalinan dapat lebih baik. takikardi. kematian ibu biasanya dihubungkan dengan terjadinya status asmatikus. batuk dan mengi. dan keluarga yang menderita penyakit alergik. tetapi kadang-kadang dapat pula menjadi kronik sehingga keluhan berlangsung terus menerus. dan komplikasi yang mengancam jiwa seperti pneumotoraks. mengi. dan hipoglikemia pada janin. terutama bila dijumpai gejala yang klasik seperti sesak nafas. akan mengurangi serangan akut dan status asmatikus. hiperinflasi dada. I. Diagnosis Asma Bronchial Diagnosis asma tidak sulit. riwayat penyakit alergik seperti rinitis alergik. serta kelemahan otot dengan gagal nafas. pada anamnesa perlu ditanyakan mengenai faktor pencetus serangan. walauoun demikian eksaserbasi akut selalu tak dapat dihindari. dapat memperkuat dugaan penyakit asma. Pengobatan yang harus diusahakan adalah : . Beberapa penelitian menunjukkan bahwa dengan penanganan penderita secara intensif.Asma berat yang tidak terkontrol juga menimbulkan resiko bagi ibu. pernapasan cepat sampai sianosis dapat dijumpai pada penderita asma dalam serangan. Dalam praktek tidak sering ditemukan kesulitan dalam menegakkan diagnosis asma. kor pulmonale akut. pneumomediastinum. Ekspirasi memanjang.3 PENANGANAN ASMA SELAMA KEHAMILAN DAN PERSALINAN Dasar-dasar Penanganan Penanganan penderita asma selama kehamilan bertujuan untuk menjaga ibu hamil sedapat mungkin bebas dari gejala asma. Asma dalam kehamilan juga dihubungkan dengan terjadinya sedikit peningkatan insidensi preeklampsia ringan. terutama pada ibu yang menderita asma berat. Angka kematian menjadi lebih dari 40% jika penderita memerlukan ventilasi mekanik. Adanya riwayat asma sebelumnya.

dalam memulai suatu perawatan obstetri terhadap wanita hamil dengan asma perlu diperhatikan beberapa prinsip tertentu yaitu : 5. anti kolinergik. Menghindari terjadinya perawatan di unit gawat darurat karena kesulitan pernapasan atau status asmatikus. baik untuk alasan obstetrik maupun pulmonal 7. xantin. karena penanganan suatu kasus mungkin berbeda dengan kasus asma yang lain. 6. untuk mengetahui masalah-masalah yang potensial dapat timbul.1. Mendeteksi dan mengeliminasi faktor pemicu timbulnya serangan asma pada penderita tertentu. 2. di samping melindungi keselamatan ibu. Mendeteksi dan mengatasi secara awal jika diduga adanya infeksi pada saluran nafas. juga penentuan gas darah khususnya pada penderita asma berat 3. Pembahasan antara ahli kebidanan dan ahli paru. Dalam penanganan penderita asma diperlukan individualisasi penanganan. 3. menghindari pemaparan terhadap alergen. kromon dan antagonis reseptor leukotilen di samping itu terdapat obat-obat lain yang sering digunakan sebagai terapi tambahan pada penderita asma seperti ekspektoran dan antibiotik. tetapi masih dalam kerangka respon pengobatan yang baik. 10. Mencapai suatu persalinan aterm dengan bayi yang sehat. rencana penanganan umum termasuk penggunaan obatobatan.4 Obat-Obat Anti Asma Yang Sering Digunakan Obat-obat yang digunakan untuk pengobatan asma secara garis besar dapat dibagi dalam 6 kelompok utama yaitu simpatomimetik. Menghindari terjadinya gangguan pernapasan melalui pendidikan terhadap penderita. 9. Pertimbangan untuk mengurangi dosis pengobatan. dengan melakukan intervensi secara awal dan intensif. seperti bronkitis. Melakukan penelitian fungsi paru dasar. dan mengobati gejala awal secara tepat. 4. Menghentikan merokok. . 8. sinusitis. kortikosteroid.

Dengan perangsangan ini maka aktifitas enzim edenisiklase meningkat sehingga perubahan ATP menjadi siklik AMP bertambah. intravena : 250-500 mcg sampai 4 kali sehari. Dosis. maksimum 7. kemudian jika perlu ditingkatkan sampai maksimum 5 mg 3 kali sehari. Contoh obat simpatomimetik adalah :  Terbutaline Terbutalin merupakan beta agonis yang sering digunakan untuk terapi tokolitik pada persalinan prematur.5 mg 3 kali sehari selama 1-2 minggu. saat infratu atau pun masa nitas. meskipun tidak terdapat laporan yang menunjukkan adanya penundaan bermakna dalam onset persalinan normal.  Subkutan.5 mg 2-3 kali sehari. 7-15 th : 2. Cara Pemberian dan Lama Pemberian :  Oral : awal 2. Anak : 75 mcg/kg 3 kali sehari. sehingga tidak dianjurkan dipakai pada ibu hamil tua.5 mg per hari. Anak 2-15 th : 10 mcg/kg sampai maksimum 300 mcg. . bila obat ini digunakan sebagai terapi inti asma standar. sehingga akan menyuitkan jalanya persalinan atau pun atonia uteri.a) Simpatomimetika (Beta adrenergik agonis) Obat-obat golongan ini bekerja dengan meningkatkan siklik AMP melalui perangsangan reseptor B2 yang terdapat dalam membran otot polos bronkus. termasuk bronkitis kronik dan emfisema. Dalam pengobatan asma dosisnya sebaiknya dikurangi pada saat mendekati aterm. Akibat perangsangan pada reseptor B2 oleh obat ini menyebabkan relaksasi otot uterus. intramuskular. Indikasi :Terapi simptomatik pada asma bronkial dan bronkospasme reversibel yang berhubungan dengan PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik).

0. dingin. urtikaria. oral 30-45 menit.  Efedrin . palpitasi.5-1 mL/menit (1.5 jam (0. maksimum 8 kali semprot sehari. Metabolisme: dimetabolisme sebagian di hati. inhalasi 3-4 jam. gangguan tidur dan perilaku pada anak. . dengan laju 0. Efek Samping :Tremor (terutama di tangan).5-3 jam). efek maksimum dicapai 2-3 jam. dan angioderma pernah dilaporkan. tablet= 2 jam (1-3 jam). Stabilitas Penyimpanan :Simpan di suhu kamar (15-30°C).5 mg = 0.5-5 mcg/menit) selama 8-10 jam. Farmakologi :Absorpsi :33-50% dosis oral diabsorpsi di saluran cerna. Jangan digunakan bila larutan berubah warna. tablet : 3 tahun dari tanggal produksi.25 mg = ± 20 menit. cahaya. aritmia. takikardi. terutama dalam bentuk konjugat sulfat. Infus intravena (1. Distribusi: konsentrasi yang terdistribusi ke dalam ASI kurang lebih sama dengan konsentrasi dalam plasma. Cardiac arythmia yang berhubungan dengan takikardi. tetapi diperkirakan yang terdistribusi ke dalam ASI kurang dari 1% dosis. sakit kepala. Bioavailabilitas (tablet) 103% terhadap larutan. terlindung dari panas. Paradoxical bronchospasm. oral : larutan = 1. dalam wadah tertutup rapat. otot kaku. Obat diabsorpsi dengan baik setelah pemberian subkutan. subkutan 6-15 menit. (6Daluwarsa injeksi : 2 tahun. Kontraindikasi Hipersensitif terhadap terbutalin / simpatomimetik amin. Hipokalemia terutama pada dosis tinggi. DOA : oral sampai 8 jam. Dosis anak dikurangi.4) : larutan yang mengandung 3-5 mcg/mL.5 jam (0. inhalasi 5 menit.  Inhaler : dewasa dan anak : 250-500 mcg (1-2 semprot) 3-4 kali sehari1. subkutan 0.08-1 jam).

Dewasa : 0. Atau. Dosis 0. Metabolisme : diambil oleh saraf adrenergik dan dimetabolisme oleh monoamine oxidase dan catechol-o-methyltransferase. Dosis. harus digunakan rute IV. tetapi juga menstimulasi reseptor alfa dan beta-1 yang menyebabkan terjadinya vasokonstriksi perifer dan takikardia baik pada ibu maupun janin. jumlah kecil dalam bentuk tidak berubah) Kontraindikasi Meskipun diindikasikan untuk open-angled glaucoma. Ekskresi : Urin (sebagai metabolit inaktif metanefrin.1-1.5 mg SC atau IM.000) pelan-pelan dalam waktu 510 menit. epinefrin kontraindikasi mutlak pada closed-angle glaucoma karena dapat memperparah kondisi ini. ini merupakan kelemahan teoritis penggunaan epinefrin dalam kehamilan.Dalam golongan ini epinefrin merupakan obat yang paling sering digunakan.3 mg/m2 SC. obat dalam sirkulasi mengalami metabolisme di hepar. untungnya epinefrin mempunyai waktu paruh pendek dan belum ada laporan yang menunjukkan adanya efek jangka panjang terhadap janin pada penggunaannya dalam kehamilan. dan sulfat dan derivat hidroksi asam mandelat.3-0.000) diikuti 0.1-0. bila perlu dapat diulang setelah 20 menit hingga 4-jam (dosis tunggal maksimal: 0.25 mg IV (diencerkan 1:10. Indikasi :Pengobatan anafilaksis berupa bronkospasme akut atau eksaserbasi asthma yang berat. .5 mcg/kg/menit infus IV.1 mg IV pelanpelan dalam waktu 5-10 menit (diencerkan 1:100. Dosis tunggal maksimal 1 mg. bila perlu dapat diulang tiap 5-15 menit. Anak-anak dan bayi : 0. Epinefrin menstimulasi reseptor beta-2 menyebabkan bronkodilatasi. 0. dan diikuti pemberian infus IV 1-4 mcg/menit. Inhalasi : 1 menit. atau tiap 20 menit hingga 4 jam untuk asthma.5 mg). Pada kasus syok yang berat. juga menyebabkan fetal distres. Farmakodinamika/Kinetika : Onset : Bronkodilatasi : SC : 5-10 menit. dapat diulang bila perlu tiap 10-15 menit untuk anafilaksis. Cara Pemberian dan Lama Pemberian:Injeksi parenteral.01 mg/kg atau 0.

insomnia. kontraindikasi mutlak pada syok selain syok anafilaksi. aritmia jantung. 'Hati-hati penggunaan epinefrin pada pasien DM. insufisiensi pembuluh koroner jantung. ektopi ventrikuler. infark miokard akut) dilatasi jantung dan aritmia jantung (takikardi). pusing. ibu jari. muntah. Hatihati penggunaan epinefrin pada pasien hipertensi karena risiko menambah berat penyakit. potensial proaritmia. Efek epinefrin pada kardiovaskuler (mis. Gangguan kardiovaskuler yang kontraindikasi epinefrin misalnya syok hemoragi. penyakit arteri koroner (mis. terutama bila diberikan IV. flushing. Retensi urin akut pada pasien dengan gangguan aliran kandung kemih. karena dapat menyebabkan kerusakan jaringan da/atau gangren atau reksi injeksi setempat di sekitar suntikan.tenggorokan kering. obat ini dapat meningkatkan kadar gula darah dengan cara meningkatkan glikogenolisis di hepar.Ansietas. kronotropik. angina.. Epinefrin jangan disuntikkan ke dalam jari tangan. Peringatan Epinefrin dikontraindikasikan pada penyakit serebrovaskuler seperti arteriosklerosis serebral atau 'organic brain syndrome' karena efek simpatomimetik (diduga alfa) pada sistem serebrovaskuler dan potensial perdarahan otak pada penggunaan IV. Epinefrin. Salbutamol secara spesifik bekerja pada reseptor beta 2 adrenergik yang terdapat pada otot polos bronkus untuk secara langsung menimbulkan efek relaksasi pada otot . nyeri dada. peningkatan kebutuhan oksigen. mual. takikardi (parenteral). mengurangi ambilan glukosa oleh jaringan dan menghambat pelepasan insulin dari pankreas  Salbutamol Salbutamol adalah obat bronkodilator yang merupakan golongan selektif beta 2 adrenergik agonis. sakit kepala. dapat menyebabkan nekrosis jaringan karena terjadi vasokonstriksi pembuluh kapiler. dan vasoaktivitas) dapat memperparah kondisi ini Efek Samping Kardiovaskuler : Angina. kematian mendadak. hipertensi. peningkatan kebutuhan oksigen miokard. dan genitalia. xerostomia.. pallor.Hindari ekstravasasi epinefrin. palpitasi. vasokonstriksi. hidung.

Untuk dewasa yang dianjurkan adalah 2. Anak usia 6 – 12 tahun : dosis yang dianjurkan adalah sirup 5 ml.6 – 2.2 – 0. nebulizer (untuk penguapan) komposisimasing-masing adalah sebagai berikut: Adapun dosis salbutamol adalah sebagai berikut:   Dosis dewasa : dosis yang dianjurkan adalah 1 – 2 tablet. Kontraindikasi Obat salbutamol tidak boleh digunakan pada penderita yang telah diketahui mempunyai riwayat hipersensitif terhadap komponen salbutamol.polos bronkus. diberikan 3 – 4 kali sehari.5 mg/pemberian. Untuk anak usia 2 – 12 tahun yang dianjurkan adalah 0. Indikasi Salbutamol Sebagai obat yang menimbulkan relaksasi bronkus. diberikan 3 – 4 kali  sehari. setiap 4 hingga 6 jam per hari. diberikan 3 – 4 kali sehari Anak usia di atas 12 tahun : dosis yang dianjurkan adalah sirup 5 ml – 10 ml. baik untuk penggunaan akut maupun kronik. sirup. bronkitis asmatis dan emfisema paru. meskipun demikian masih terdapat laporan adanya efek samping.  Dosis inhaler : untuk anak usia di atas 4 tahun dan dewasa yang dianjurkan adalah 1 – 2 tarikan napas.  Dosis penguapan : untuk anak usia di bawah 2 tahun yang dianjurkan adalah 0.  diberikan 3 – 4 kali sehari. Selain pada otot polos bronkus salbutamol juga bekerja pada otot polos uterus untuk menimbulkan efek tokolitik yang secara langsung menurunkan kontraktilitas uterus. Anak usia 2 – 6 tahun : dosis yang dianjurkan adalah sirup 2.6 mg/kg/hari yang terbagi menjadi setiap 4 – 6 jam. Sebagai beta 2 adrenergik agonis salbutamol memiliki pengaruh yang minimal terhadap reseptor beta 1 adrenergik yang terdapat pada sistem kardiovaskuler.5 ml – 5 ml. Efek Samping Salbutamol Salbutamol umumnya dapat ditoleransi dengan baik. inhaler. Setelah pemakaian oral salbutamol dapat diabsorpsi dengan baik melalui saluran pencernaan sehingga efek relakssasi bronkus dapat timbul dengan cepat dalam waktu sekitar 15 menit dan efek yang yang ditimbulkan dapat bertahan selama 4 – 8 jam. diberikan 3 – 6 kali sehari jam sesuai kebutuhan. diberikan 2 – 3 kali sehari. Dosis Salbutamol Salbutamol yang dijual dipasaran tersedia dalam beberapa macam bentuk yaitu tablet.5 mg/pemberian. . maka salbutamol dapat digunakan dengan efektif untuk mengatasi gejala sesak napas yang timbul akibat adanya penyempitan bronkus seperti pada penyakit asma bronkial.

Efek samping yang paling sering dilaporkan adalah tremor yaitu getaran – getaran yang terjadi pada jari – jari yang tidak dapat dikendalikan. obat ini juga dapat meredakan gejala-gejala penyakit. mulut kering. seperti asma. bronkitis. Hati – hati penggunaan salbutamol pada asma akut berat. Aminofilin yang merupakan golongan bronkodilator ini bekerja dengan cara membuka saluran pernapasan di dalam paru-paru. Hati – hati penggunaan salbutamol pada ibu menyusui. Selain itu.  Aminofilin Aminofilin merupakan obat yang digunakan untuk mengobati beberapa penyakit pernapasan. sehingga udara dapat mengalir dengan lancar dan penggunanya dapat bernapas dengan lega. muntah. Hati – hati penggunaan salbutamol pada ibu hamil. seperti sesak napas. karena ada kemungkinan potensi obat salbutamol dapat meningkat bila obat ini digunakan bersama obat xanthin dan steroid. karena ada kemungkinan obat salbutamol dikeluarkan melalui air susu ibu. Efek samping lain yang jarang antara lain sakit kepala. mengi. dan berkeringat. Informasi Keamanan Untuk pengobatan asma penggunaan salbutamol sebaiknya mengikuti program penatalaksanaan asma yang dilakukan secara bertahap sesuai saran dari dokter. reaksi alergi. keram otot. Hati – hati penggunaan salbutamol pada penderita tiroid toksik karena berisiko terjadinya hipokalemia berat. dan penyakit paru-paru kronis. obat ini hanya diberikan apabila manfaat pada ibu dinilai lebih besar dari pada risiko pada janin. Indikasi Aminofilin sangat cocok diberikan untuk menghilangkan gejala atau pencegahan asma bronkial dan bronkospasme reversible yang berkaitan dengan . batuk. dan batuk-batuk. pusing mual. b) Xantin Cara kerja obat golongan ini adalah sebagai bronkodilataor yang langsung bekerja pada otot-otot bronkus dengan jalan menghambat kerja enzim fosfosdisterse. emfisema.

2007). dan hipertensi. Dosis akan disesuaikan dengan tingkat keparahan penyakit dan kondisi kesehatan pasien.  Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis. dosis yang digunakan berkisar antara 225 mg hingga 350 mg sebanyak dua kali dalam sehari. sesuaikan dosis dan penggunaan aminofilin dengan anjuran dokter. porfiria. segera temui dokter. Sakit perut  Teofilin . dan bagi mereka yang sedang menggunakan inhaler atau obat-obatan lainnya.Gemetar. Dosis akan diubah atau disesuaikan seiring respons pasien terhadap obat.Sedangkan bagi pasien anak-anak. Untuk kasus asma kronis. Gangguan tidur. Sebaiknya jangan memberikan aminofilin pada anak-anak yang memiliki berat badan kurang dari 40 kg. gangguan jantung. dosis bisa diberikan sebanyak 13-20 mg/kg sebanyak dua kali dalam sehari.bronchitis kronik dan emfisema. Efek Samping :Detak jantung meningkat. Sedangkan untuk wanita yang sedang menyusui disarankan untuk tidak mengonsumsi obat ini. dan bagi yang ada dalam keadaan mengancam nyawa (British Thoracic Society.Sakit kepala. 2009. epilepsi.  Harap waspada bagi perokok. Dosis Aminofilin Untuk orang dewasa. Mual. Peringatan:  Bagi wanita yang sedang hamil.Gelisah. Anderson. Merupakan obat lini kedua pada serangan akut terutama pada anak-anak yang tidak memberikan reaksi pada pemberian nebulaizer beta agonis dan ipratropium bromide dan steroid oral. hipertiroidisme.  Harap berhati-hati jika menderita demam. tukak lambung. gangguan hati. peminum alkohol. dosis yang diberikan adalah 12 mg untuk tiap satu kg berat badan mereka (12 mg/kg) sebanyak dua kali dalam sehari.

diduga melalui inhibisi kompetitif terhadap enzim fosfodiesterase. tanyakan pada dokter sebelum mengonsumsi obat ini. Sering buang air kecil. Merasa pusing dan sakit kepala Peringatan:  Bagi wanita hamil atau sedang merencanakan kehamilan atau menyusui. Epilepsi Efek Samping Reaksi orang terhadap sebuah obat berbeda-beda. Diare. radang disertai penyumbatan pada cabang-cabang tenggorok kronis. . sehingga menyebabkan terjadinya peningkatan kadar siklik AMP karena degradasinya yang menurun. Mekanisme teofilin menimbulkan bronkodilatasi tidak jelas.  Kelainan sekitar pusat pernafasan. Sakit atau kram perut. emfisema paru (pelebaran dan pecahnya gelembung-gelembung paru secara abnormal). Kehilangan selera makan. Kontraindikasi Infark baru. Detak jantung cepat atau tidak beraturan.Gangguan tidur atau insomnia. Aminofilin merupakan suatu garam dietileniamin dari teofilin dan merupakan satu-satunya obat golongan xanthin yang dapat diberikan secara parenteral Indikasi  Penyakit sumbatan saluran pernafasan seperti asma bronkhial.Teofilin dengan berbagai garamnya termasuk dalam golongan ini.  Kor pulmonale (penyakit jantung karena peningkatan tekanan darah dalam pembuluhpembuluh nadi paru). Beberapa efek samping yang bisa terjadi akibat teofilin adalah:Mual dan muntah.

mengurangi kerusakan mikrovaskuler.  Anda sebaiknya membatasi konsumsi minuman keras. dengan efek samping seperti detak jantung yang cepat atau tidak beraturan. dosis akan sedikit diturunkan untuk mengurangi efek samping teofilin. mengurangi gejala. mengurangi frekuensi . menghambat produksi dan sekresi sitokin. epilepsi. hipertensi. gangguan hati.  Jika Anda mengalami gejala seperti demam atau flu. kafein. Dosis ini akan dibagi menjadi satu hingga dua kali dalam sehari. Mekanisme kerja antiinflamasi dari kortikosteroid belum diketahui secara pasti. Dosis Teofilin Dosis umum untuk orang dewasa dalam mengonsumsi teofilin adalah 300-600 mg per hari. mencegah migrasi dan aktivasi sel radang dan meningkatkan respon reseptor beta pada otot polos saluran nafas. Sedangkan untuk orang lanjut usia. Beberapa yang ditawarkan adalah berhubungan dengan metabolisme asam arakidonat.  Obat ini lebih sensitif jika dikonsumsi oleh orang usia lanjut dan juga anak-anak. pastikan untuk menanyakan pada dokter atau apoteker sebelum Anda mengonsumsi obat lain bersamaan dengan teofilin. Harap berhati-hati dalam mengonsumsi obat ini bagi penderita penyakit jantung.  Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis. c) kortikosteorid Rute pemberian bisa secara inhalasi ataupun sistemik (oral atau parenteral).  Obat ini bisa berinteraksi dengan obat-obatan lain. Perhatikan efek samping dan kadar obat dalam darah. hipotiroidisme. ulkus lambung. beri tahu dokter secepatnya karena dosis yang Anda terima perlu disesuaikan. segera temui dokter atau pergi ke rumah sakit terdekat. Sedangkan dosis untuk anak-anak disesuaikan dengan berat badan. dan porfiria. dan rokok saat mengonsumsi obat ini untuk menurunkan risiko efek samping yang terjadi dan mengganggu jumlah teofilin yang diserap oleh tubuh. Studi tentang kortikosteroid inhalasi menunjukkan kegunaannya dalam memperbaiki fungsi paru. Obat ini bisa sangat beracun apabila terjadi overdosis. juga sintesa leukotrien dan prostaglandin. mengurangi hiperrespon saluran nafas.

obesitas. supresi adrenal dan penurunan metabolisme tulang. mulas. bengkak pada wajah. kesulitan bernapas. Kortikosteroid bukan merupakan bronkodilator. metabolisme di hepar dan waktu paruhnya. Efek samping lokal kortikosteroid inhalasi adalah kandidiasis orofaring. pemberian oral lebih aman dibanding parenteral.  Budesonide Efek samping yang umum terjadi di antaranya mual. lidah. atau tenggorokan. Beberapa studi menyatakan bahwa dosis diatas 1 mg perhari beclometason dipropionat atau budesonid atau dosis ekuivalen kortikosteroid lain. Jika kortikosteroid oral akan diberikan secara jangka panjang. katarak. Dosis tinggi dan jangka panjang kortikosteroid inhalasi bermanfaat untuk pengobatan asma persisten berat karena dapat menurunkan pemakaian koetikosteroid oral jangka panjang dan mengurangi efek samping sistemik. . penipisan kulit dan kelemahan otot Kortikosteroid digunakan sejak lama untuk pengobatan asma. Efek sistemik pemakaian jangka panjang kortikosteroid oral adalah osteoporosis. Umumnya disepakati memberikan steroid seawal mungkin pada penderita dengan serangan asma akut berat. supresi HPA aksis.dan beratnya eksaserbasi dan memperbaiki kualitas hidup.Mintalah segera bantuan tenaga medis jika Anda mengalami reaksi alergi: gatal-gatal. Pemakaian kortikosteroid selama kehamilan tidak menyebabkan meningkatnya resiko komplikasi baik pada janin maupun ibu. harus diperhatikan mengenai efek samping sistemiknya. dan sakit kepala. Untuk kortikosteroid sistemik. diabetes melitus. hipertensi arterial. bioavailabilitas. disfonia dan kadang batuk. absorpsi di usus. berhubungan dengan efek sistemik termasuk penebalan kulit dan mudah luka. bibir. Efek samping sistemik tergantung dari potensi. tetapi bermanfaat dalam mengarungi inflamasi pada saluran napas.

Obat ini akan menghambat aktivasi secara in vitro dan pembebasan mediator dari berbagai tipe sel berhubungan dengan asma termasuk eosinofil.Dosis anak-anak : 50-400mcg dua kali sehari.6 mg tiap hari. Kontraindikasi Reaksi hipersensitivitas terhadap produk budesonide. jauhkan dari cahaya langsung dan tempat yang lembap. dapat disesuaikan sesuai dengan kebutuhan (dosis maksimal 800mcg setiap hari). Jangan dibekukan. pada penderita dengan severe asthma dosis dapat ditingkatkan menjadi 800mcg setiap hari. Natrium kromoglikat menghambat perkembangan .  Aerosol inhalasi :Dewasa 200mcg dua kali sehari. Sebagai terapi primer pada Status asthmaticus atau episode akut asma. Jangan disimpan di kamar mandi.6mg setiap hari dalam 2 dosis terbagi Pada penderita yang tidak terlalu parah dapat diberikan 200-400mcg satu kali sehari (setiap sore). pada severe asthma. sel mast. makrofag. dapat disesuaikan sesuai dengan kebutuhanDosis anak-anak usia 6 tahun keatas : 200-400mcg setiap hari dalam dosis terbagi. Rhinitis. dosis yang diberikan 0.2-1. Penyimpanan Obat ini paling baik disimpan pada suhu ruangan. Merek lain dari obat ini mungkin memiliki aturan penyimpanan yang berbeda. Perhatikan instruksi penyimpanan pada kemasan produk atau tanyakan pada apoteker Anda. Cara Pemberian dan Lama Pemberian  Oral Dosis dewasa : 0. allergic and non-allergic. Jauhkan semua obat-obatan dari jangkauan anak-anak dan hewan peliharaan d) Kromon ( Cromone)  Natrium Kromoglikat Mekanisme kerja natrium kromaglikat merupakan anti-inflamasi inhalasi untuk pencegahan asma.2-1. Tidak dapat digunakan sebagai reliever pada bronkospasme akut Dosis. dosis dapat dikurangi menjadi tidak lebih dari 200mcg tiap hari pada penderita dengan gejala asma yang terkontrol dengan baik.  Dosis : inhalation of powder (turbohaler) : Pada awal pengobatan selama periode severe asthma dan pada saat pengurangan atau pemberhentian oral kortikosteroid. dosis dapat ditingkatkan menjadi 1.Indikasi Pengobatan dan pencegahan asma.6 mg tiap hari dalam dosis terbagi. neutrofil. Crohn’s disease. monosit dan platelet.

tetapi penggunaannya menjadi terbatas karena efek samping yang tidak diinginkan. .respon bronko konstriksi baik awal dan maupun lanjut terhadap antigen terinhalasi. Digunakan sebagai terapi pemeliharaan untuk pasien dewasa dan anak usia 6 tahun atau lebih pada asma ringan sampai sedang.  e) Anti Kolinergik Atropin sulfat Obat antikolenergik seperti atropin sulfat dapat memberikan efek bronkodilatasi ada penderita asma. midriasis dan sikloplegia. Indikasi:profilaksis asma. keracunan fosfor organik. Indikasi Pengobatan simptomatik gangguan saluran cerna yang ditandai dengan spasme otot polos. Dosis: Dewasa dan Anak: 10 mg (2 hirupan) 4 kali sehari pada awal pemberian. kandung kemih dan usus. dosis ditambah jika penyakit bertambah berat atau selama masa sakit sampai 6-8 kali sehari. dan iritasi tenggorokan karena inhalasi serbuk (lihat juga keterangan di atas). terbukti efektif dan kurang menimbulkan efek yang tidak diinginkan. Spasme/kejang pada kandung empedu. dosis penunjang 5 mg (1 hirupan) 4 kali sehari. Oat ini diindikasikan untuk asma. Golongan antikolinergik yang lebih sering digunakan adalah ipratropium bromida. premedikasi. Dosis tambahan dapat diberikan sebelum olah raga. bronkospasme sementara. Penggunaan perlu dilakukan secara teratur. Efek penggunaan obat anti asma dalam kehamilan terhadap janin Umumnya obat-obat anti asma yang biasanya dipergunakan relatif aman penggunaannya selama kehamilan. jarang dijumpai adanya efek teratogenik pada janin akibat penggunaan obat anti asma. Anjuran. Efek Samping: batuk.

peningkatan rangsang susunan saraf pusat. hesitensi dan retensi urin. dan steroid. konstipasi/sukar buang air besar. Efek Samping Peningkatan tekanan intraokular. takikardi. Interaksi obat :  aktifitas antikolinergik bisa meningkat oleh parasimpatolitikum lain. bahkan pada asma berat yang selalu membutuhkan kortikosteroid sistemik. ileus paralitikum. . Preparat yang sudah ada di Indonesia adalah zafirlukast.Kontra Indikasi Glaukoma sudut tertutup. fotofobia (kepekaan abnormal terhadap cahaya). pandangan kabur. hernia hiatal. ruam kulit. kolitis ulserativa. atoni (tidak adanya ketegangan atau kekuatan otot) saluran pencernaan.Obat ini dapat digunakan pada penderita dengan asma persisten ringan. peningkatan suhu tubuh. serta digunakan dalam kombinasi dengan xantin. midriasis. Pada penelitian dapat diberikan sebagai alternatif peningkatan dosis kortikosteroid inhalasi. kemerahan pada wajah dan leher. muntah.  Guanetidin. PerhatianBeresiko menyebabkan panas tinggi. sementara LTE4 dapat memacu masuknya eosinofil dan neutrofil ke saluran napas. miastenia gravis. penyakit hati dan ginjal yang serius. sikloplegia (kelumpuhan iris mata). histamin. gunakan dengan hati-hati pada pasien terutama anak-anak.  antasida bisa mengganggu penyerapan Atropin. f) ANTAGONIS RESEPTOR LEUKOTILEN Antagonis leukotrien LTC4 dan LTD4 menimbulkan bronkokonstriksi yang kuat pada manusia. dan Reserpin dapat mengantagonis efek penghambatan antikolinergik pada sekresi asam lambung. agonis-b2. mulut kering. Usia lanjut dan pada kondisi pasien dengan penyakit sumbatan paru kronis yang terkarakterisa oleh takhikardia. obstruksi/sumbatan saluran pencernaan dan saluran kemih. dada berdebar. saat temperatur sekitarnya tinggi. asma. Posisi anti leukotrien mungkin dapat digunakan pada asma persisten sedang.

Namun. hilangnya nafsu makan . gejala flu . urin berwarna gelap . Zafirlukast Zafirlukast digunakan untuk membantu mencegah serangan asma atau mengendalikan gejala asma dan meningkatkan fungsi paru-paru. yang merupakan salah satu jenis antileukotrien golongan Leukotrien Receptor Antagonist (LTRA). tinja berwarna tanah liat . pembengkakan wajah. bibir . 1 jam sebelum atau 2 jam setelah makan.  Agar bisa bekerja secara efektif. atau tenggorokan. kecemasan. kesulitan bernafas. sakit kuning ( menguningnya kulit atau mata ) . kelemahan otot. zafirlukast harus diminum setiap hari. masalah tidur (insomnia ). Perubahaan mood atau suasana hati atau perubahan perilaku . obat ini tidak boleh digunakan untuk meredakan serangan asma yang sudah dimulai. nyeri pada perut bagian atas .mual. Pemakaian obat ini sebagai pengendali pada asma derajat ringan diharapkan dapat mencegah terjadinya airway remodelling pada penderita asma. Obat ini hanya bisa didapatkan dengan resep dokter. Zafirlukast. . memar . nyeri . ruam kulit . kesulitan bernapas. gatal . meskipun kondisi asma Anda membaik. Dosis dan Penggunaan  orang dewasa dan anak-anak 12 tahun ke atas: 20 mg dua kali sehari – anak-anak 5-11 tahun: 10 mg dua kali sehari – anak-anak di bawah 5 tahun: dosisnya ditentukan oleh dokter  Obat berbentuk tablet ini harus diminum dalam keadaan perut kosong. memburuk batuk . depresi. mati rasa . Dampak dan Efek Samping gatal-gatal. kesemutan parah. demam . lidah.

5. Jika diperlukan dapat diberikan terbulatin sulfat 2. jika pengobatan masih belum adekuat gunakan prednison dengan dosis sekecil mungkin. abortus. diperlukan adanya kerja sama yang baik antara ahli kebidanan dan ahli paru.3. atau beta agonis lainnya.5 Penanganan Pada Asma A. Penanganan asma kronik pada kehamilan Dalam penanganan penderita asma dengan kehamilan. 2. 8. karena keadaan gelisah dan stres dapat memacu timbulnya serangan asma.5-5 mh per oral 3 kali sehari. Bantuan psikologik menenangkan penderita bahwa kehamilannya tidak akan memperburuk perjalanan klinis penyakit. 6. 7. Pertimbangan antibiotika profilaksis pada kemungkinan adanya infeksi saluran nafas atas. Dosis oral teofilin ini sangat bervariasi antara penderita yang satu dengan yang lainnya. Tambahkan kortikosteroid oral. Desensitisasi atau imunoterapi. akan tetapi efek terapinya terhadap penderita asma belum diketahui jelas. aman dilakukan selama kehamilan tanpa adanya peningkatan resiko terjadinya prematuritas. Menghindari alergen yang telah diketahui dapat menimbulkan serangan asma 3. dan malformasi kongenital. Diberikan dosis teofilin per oral sampai tercapai kadar terapeutik dalam plasma antara 10-22 mikrogram/ml. biasa dosis oral berkisar antara 200-600 mg tiap 8-12 jam. kematian neonatus. Adapun usaha penanganan penderita asma kronik meliputi : 1. 4. dan tidak dalam serangan akut. toksemia. . Usaha-usaha melalui edukasi terhadap penderita dan intervensi melalui pengobatan dilakukan untuk menghindari timbulnya serangan asma yang berat.

. khususnya pada penderita-penderita dengan asma berat atau yang steroid dependen. dengan dosis 20-40 mg. Karena pada persalinan kebutuhan ventilasi bisa mencapai 20 I/menit. peneliti menunjukkan bahwa 10% wanita memberat gejala asmanya pada waktu persalinan. ibu yang sebelum persalinan mendapat pengobatan kortikosteroid harus hidrokortison 100 mg intravena. Onset spontan persalinan harus diperbolehkan. maka persalinan harus berlangsung pada tempat dengan fasilitas untuk menangani komplikasi pernapasan yang berat. 4 kali sehari secara inhalasi. kala II dengan menggunakan ekstraksi vakum atau forceps akan bermanfaat. Bila terjadi pendarahan post partum yang berat. Jika dilakukan seksio sesarea. karena mereka mempunyai resiko yang lebih besar untuk mengalami masalah pertumbuhan janin. Bila mendapat serangan akut selama persalinan. Selama persalinan kala I pengobatan asma selama masa prenatal harus diteruskan.9. Pada penderita yang mengalami kesulitan pernapasan selama persalinan pervaginam. Jika dilakukan seksio sesarea lebih dipilih anestesi regional daripada anestesi umum karena intubasi trakea dapat memacu terjadinya bronkospasme yang berat. dan diulangi tiap 8 jam sampai persalinan. Cromolyn sodium dapat dipergunakan untuk mencegah terjadinya serangan asma. Penanganan asma dalam persalinan Pada kehamilan dengan asma yang terkontrol baik. B. prostaglandin E2 dan uterotonika lainnya harus digunakan sebagai pengganti prostaglandin F2(x) yang dapat menimbulkan terjadinya bronkospapasme yang berat. Pada persalinan kala II persalinan per vaginam merupakan pilihan terbaik untuk penderita asma. tidak diperlukan suatu intervensi obstetri awal. memperpendek. intervensi preterm hanya dibenarkan untuk alasan obstetrik. penanganannya sama dengan penanganan serangan akut dalam kehamilan seperti telah diuraikan di atas. Pertumbuhan janin harus dimonitor dengan ultrasonografi dan parameterparameter klinik. kecuali jika indikasi obstetrik menghendaki dilakukannya seksio sesarea.

1 Kesimpulan Obat-obat yang digunakan untuk pengobatan asma secara garis besar dapat dibagi dalam 6 kelompok utama yaitu simpatomimetik. Penanganan asma dalam persalinan. golongan narkotik yang tidak melepaskan histamin seperti fentanyl lebih baik digunakan daripada meperidine atau morfin yang melepas histamin. kortikosteroid. C. Perjalanan dan penanganan klinis asma umumnya tidak berubah secara dramatis setelah post partum. anti kolinergik. BAB IV PENUTUP 4. kromon dan antagonis reseptor leukotilen. tetapi jumlahnya kurang dari 10% dari jumlah yang diterima ibu. xantin. Pada wanita yang menyusui tidak terdapat kontra indikasi yang berkaitan dengan penyakitnya ini. Teofilin bisa dijumpai dalam air susu ibu. keberadaan kedua obat ini dalam air susu ibu masih dalam konsentrasi yang belum mencukupi untuk menimbulkan pengaruh pada janin. Bila persalinan dengan seksio sesarea atas indikasi medik obstetrik yang lain. seperti halnya prednison. maka sebaiknya anestesi cara spinal.Dalam memilih anestesi dalam persalinan. Penanganan asma post partum Penanganan asma post partum dimulai jika secara klinik diperlukan. Penanganan yang dilakukan pada ibu hamil adalah Penanganan asma kronik pada kehamilan. Kadar maksimal dalam air susu ibu tercapai 2 jam setelah pemberian. Penanganan asma post partum .

Ilmu Kebidanan. 1998 . Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan neonatal . Kapita Selekta Kedokteran edisi ketiga Jilid I . Jakarta : JNPKKR – POGI . Jakarta : Media Aesculapius. Yogyakarta : Nuha Medika Prawirohardjo. Abdul Bari . Manuaba. Ilmu Kebidanan . Taufan . Jakarta : EGC Mochtar. Sinopsis Obstetri Jilid I . Jakarta : EGC Nugroho. 2000 . Jakarta : Yayasan Bina Pustaka – Sarwono Prawiroharjo Saifudin. Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan . Rustam .Daftar Pustaka Mansjoer. Sarwono . 1998 . 2002 . Buku Ajar Obstetri untuk Mahasiswa Kesehatan . Arief . 2005 . 2010 . Ida Bagus Gde .