You are on page 1of 8

CAK NUN: SEMUA BERKEMUNGKINAN SALAH, KECUALI...

RIBUAN manusia sudah tumpah-ruah di halaman gedung tua SMAN7 Purworejo, pada kamis 9 September
2016, sekitar pukul delapan malam. Diatas karpet dan tikar, para guru, murid, wali murid dan masyarakat
umum itu duduk untuk mengikuti “Tadabbur” Bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng. “Pentingnya Akidah,
Akhlak dan Akal Sehat dalam Pendidikan,” menjadi topik bahasan di malam yang tak begitu cerah itu.
Kepala Sekolah, Nikmah Nurbaity membuka dengan sambutan. Wanita yang pernah menyabet Guru
Teladan Nasional itu menyampaikan maksud dan tujuan acara di Lustrum ke V SMA yang berdiri sejak
1915 tersebut. Ia ingin ada keseimbangan antara dunia dan akhirat dalam pendidikan. Selain itu, wanita
yang fasih berbahasa inggris inipun menyampaikan peran SMAN7 yang memperoleh banyak prestasi, baik
di tingkat regional maupun nasional.
Usai Bu Ni’mah, Kiai Kanjeng dipersilakan untuk dimainkan. Mereka membuka dengan shalawat, sebelum
akhirnya Cak Nun memasuki panggung. Ia menggunakan kopiah ala jamaah maiyah dengan baju putih
lengan panjang dan celana hitam. Kemudian, ia meminta agar ada beberapa perwakilan murid untuk maju
ke panggung.
Usai membuka dengan sapaan dan penghormatan, Cak Nun memberi lambaran: “Yang benar-benar benar
hanyalah Allah dan Rasulullah. Selain itu, berkemungkinan salah. Baik sahabat nabi, ulama, cendekiawan,
sistem negara: ada monarki, demokrasi, khilafah dll semua berkemungkinan salah. Termasuk saya sendiri
berkemungkinan salah,” ungkapnya. Ia mengajak hadirin untuk tidak memutlakkan kebenaran apapun, baik
seseorang, organisasi maupun lembaga negara, kecuali Allah dan Rasulullah.
Kemudian ia menanyakan kepada salahsatu siswa yang ada di depan: “akidah itu apa?, dan dijawab:
”Akidah adalah temannya akhlak,” jawab siswa tersebut, polos. Beberapa hadirin tersenyum. Cak Nun
mengejar. “Kalau saya tanya: mangga itu apa?, jangan kamu jawab: mangga adalah temannya jeruk”,
ungkap Cak Nun, mengajari logika. Kemudian sang siswa menjawab: “Akidah adalah keyakinan”. Cak Nun
masih mengejar. “Keyakinan dari siapa kepada siapa? Jika kamu belajar bahasa Indonesia, tentu kalimat
itu ada Subyek, Objek dan Predikat”, kata Cak Nun, sabar. “Yakin kepada Allah,” jawab siswa. Cak Nun tak
kembali mengejar. Ia kemudian menjelaskan bahwa akidah adalah akad atau perjanjian dasar hidup kita
untuk mau beribadah hanya kepada Allah.
Lebih lanjut, Cak Nun mengatakan bahwa yang harus jelas dalam pendidikan atau dalam mendidik anak
adalah akidah: mu’min atau kafir. Ia juga memberikan perbedaan antara yakin dan percaya. “Yakin itu
seperti di depan saya ini ada air putih, saya melihatnya secara faktual, kemudian yakin. Kalau percaya,
tidak harus melihat secara faktual. Nah, kepada Allah kita tidak bisa yakin, bisanya percaya,” jelas Cak
Nun. Kepada para siswa, ia juga menyarankan untuk tidak takut salah, baik dalam menjawab pertanyaan
ataupun menjalani kehidupan. “Salah itu tidak apa-apa, yang penting kita berniat baik,” katanya,
menasehati.

” tanyanya. Kemudian suami Novia Kolopaking tersebut juga mendorong agar para siswa kreatif. yaitu ibadah yang ditentukan Allah kepada makhluk-Nya. Surga bagi seseorang kadang neraka bagi orang lain.” katanya menggoda.” ungkapnya. Misal kali ini bertanding dan menang. Dalam AlQuran kan jelas: Innalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun (semua milik Allah dan semua akan kembali kepadaNya. belum tentu beberapa kemudian kembali menang. Cak Nun menjelaskan: “Tanda agama adalah memiliki ibadah mahdlah-nya. Kemudian Cak Nun menjelaskan. Siswi itu diam agak lama. di surga tidak ada benturan. Untuk baik. lak pastinya semua orang menganggapmu gila”. Menutut Cak Nun. Jadi. Allah punya hak menyuruh kita beribadah kepada-Nya karena semua yang ada di . “Kenapa kita harus beribadah kepada Allah?. menjadi baik. tetap beribadah karena siswi tadi beribadah berdasarkan rasa syukur. inovatis dan banyak menemukan hal baru. sebelum akhirnya Cak Nun menjawabnya.” ungkapnya. maka bagi seorang pria itu adalah surga dan neraka bagi dua lainnya. apakah kamu tetap akan beribadah?. “Al-Quran. Kalaupun ada hanya sebentar. Dunia hanya seperti semester saja sebelum menuju semester berikutnya. Ilaaihi raajiuun-nya (kembali kepada Allah)nya itu selamanya. Cak Nun pun menantang: “Silakan saja.”jawab sang siswi. “Allah itu Maha Bid’ah: badiius samaawaati wal ardl. dan satu pria itu yang mendapatkan. Kalau benar.“Hidup kita ini abadi. tidak ada gunanya jika tidakmenggunakan akal sehat. Kali ini Cak Nun kembali bertanya kepada salahsatu siswi yang ada di depan. Cak Nun membenarkan. gitar. “Manusia disebut manusia karena dia mengguakan akalnya. Dua nomor Turi Putih dan Sebelum Cahaya yang dinyanyikan oleh siswa dan siswi kemudian menghangatkan suasana di malam itu. atau apapun nilai dalam kehidupan ini. semua seimbang”. Perpaduan antara musik jawa tradisional dengan modern membuat gairah hadirin seakan bangkit kembali. “Nah. “Ilmu itu tentang benar dan salah. Alunan gamelan. Semua hadirin diam. selorohnya diikuti gelak tawa hadirin. Cak Nun kembali melanjutkan. seruling. “Karena itu merupakan bentuk rasa syukur. Banyak diantara mereka yang hanyut dan ikut bernyanyi dalam lagu yang dipopulerkan oleh grub band Letto tersebut. kemudian menjadi akhlak. kritis. menyimak dengan seksama. Lebih lanjut. Usai rehat. bid’ah itu membuat sesuatu yang belum ada menjadi ada. bahwa di dunia ini ada banyak benturan. ungkapnya. juara itu tidak ada. drum. Seperti jika ada seorang wanita yang disukai tigaorang pria. Allah membuat langit dan bumi seisinya dari tidak ada sebelumnya menjadi ada. kembali bertanya: “Seandainya Allah tidak memerintahkan kamu beribadah.” ungkapnya. Al-Quran dibaca di depan kambing. dalam. sedangkan akhlak adalah tentang baik dan buruk. Ia menggambarkan bagaimana proses padi menjadi nasi yang melalui berbagai tahap karena akal manusia. Dalam kaitan tema malam itu. harus benar. piano dan gendang menebar semerbak ke arena.” ungkapnya. terima kasih kepada Allah. nanti akan banyak bicara soal akal.” ungkapnya.

Negara yang bikin. Menanggapi hal itu. baik oleh hukum maupun oleh etika. hanya indonesia yang mencantumkan tuhan sebagai dasar negra. Namun maha esanya baiknya tidak uysah dicantumkan. yang berkonotasi buruk. “Kenapa?. mengakali adalah perintah Allah atas apa-apa yang kita temui dalam kehidupan ini. berarti menungkinkan ada mangga yang pahit. Akal (dari bahasa Arab ‘Aql). melihat generasi muda yang ada di depannya. bagaimana waktu guru. Itu memang regulasi sekolah.dunia dan semesta ini adalah ciptaan-Nya”. lebih baik sila pertama itu bunyinya: Tuhan.” jelas Cak Nun. Presiden memanggil MK. dalam kata kerja bahasa Indonesia menjadi ngakali atau mengakali. “Iya. tetapi juga yang shaleh (‘amalan shaliha). “Lalu yang berapa persen yang Islam. “Dari tahun ke tahun fluktuatif. “Ibu atau Bapakmu punya hak tidak menyuruh kamu melakukan sesuatu?”. tanya Cak Nun kembali. Masak. “Namanya tuhan ya maha esa. disini menjadi kotak amal dan term kebaikan.” jawabnya.” jelas Cak Nun. “Kurikulum juga.” kata Cak Nun. Karena dari berbagai negara. sekarang sekitar 95%. kepada siswi di depannya.” jawab sang siswi.” jawabnya. Dulu majapahit ada pemimpin negara. perilaku kita. Cak Nun lalumenawarkan diri ikut mendorong seandainya siswa dan siswi meneliti kata-kata yang kurang pas kemudian diajukan ke pusat bahasa untuk dirubah.” tanya Cak Nun. Tidak sesederhana itu. Bu. dibesarkan dan disayangi oleh mereka. Sumpah Palapa itu dibikin oleh Gajah Mada dan mendapat persetujuan dari Sang Prabu.” ungkapnya. Makanya dalam islam Allah tidak menyuruh ber-amal saja. Titik. baru duduk jadi menteri dua hari sudah mau nggagas full day school. baik makan. tetapi hanya sifat-sifatku. karena malah justru membuka kemungkinan ada tuhan yang tidak esa. Menurutnya. Ini mungkin tuhan akan berkata: yang kamu mau kan bukan Aku to. beserta standarisasinya. Padahal. “Hari ini sistemnya kita masih kalah dengan Majapahit. “Sila pertama juga bunyinya Ketuhanan. banyak sekali yang harus dirundingkan. Dialog Cak Nun dengan siswi itu.” tanyanya. kencing atau apapaun. Kemudian. tidak seperti sekarang yang kacau. Kalau ada kalimat: mangga yang manis. lanjut Cak Nun. Indonesia harus ada pembedaan antara negara dengan pemerintah. hemat Cak Nun. “Seandainya kamu tidak disuruh oleh orang tua anda. yang dalam bahasa Arab berarti perbuatan. misalnya. “Yang muslimah semuanya berjilbab. Cak Nun optimistis melihat masa depan Indonesia. Guru Bangsa yang banyak menelurkan buku ini memberikan permisalan ibadah sebagai manifestasi rasa syukur dengan relasi anak dengan orang tua. “Karena saya hidup. panjang lebar. “Kalau amal itu tindakan.” balas Cak Nun. yaitu Prabu Hayam Wuruk dan pemimpin pemerintah yaitu Gajah Mada.” jawabnya. entah dirumah dipakai atau tidak jilbabnya. diiringi senyuman hadirin. “Berapa pelajar disini yang memakai jilbab?.” jawab sang siswi. sehingga tiap kali ganti menteri tidak diubah. Juga kata Amal. siswanya dan lainnya. itu tidak boleh. .” ungkapnya.” tanyanya untuk terakhir kalinya. MK adalah Lembaga Tinggi Negara. “Namun Pancasila yang ada hari ini juga ndak apa-apa. apakah kamu tetap mau membantu mereka?. kali ini diajukan kepada sang wanita strong itu: Bu Ni’mah.” jelasnya. Kemudian Cak Nun membahas banyaknya kata adopsi yang rancu ketika menjadi bahasa Indonesia. gaji guru. Jadi. “Saya tanya.” jelas Cak Nun. “Punya. dilarang. Kedepan. Meski demikian. mengajarkan sekaligus menjelaskan mengapa manusia perlu beribadah kepada tuhannya dengan logika sederhana.

” ungkapnya. Artinya: Hai orang-orang yang beriman. celana pendek dan pakaian minim sejenisnya. Kini Cak Nun membuka pertanyaan. Seakan menggoda. Hanya ibu dan anak yang punya hak lebih untuk naik ke atas panggung. Ia tidak pernah menyuruh-nyuruhnya. Sambil menunggu transisi beberapa ibu dengan anak mereka yang naik ke atas panggung. “Dosa atau tidak. Setiap minggu.” Jawab Cak Nun. Pertama dengan jalan dialog yang . sekolah memang perlu membuat regulasi seperti itu dalam rangka melatih dan membiasakan. tidak hanya peran sekolah tetapi juga tokoh agama di lingkungannya. termasuk guyuran hujan di malam itu. dan berhasil menghipnotis hadirin. Cak Nun menyilakan Kiai Kanjeng untuk mendendangkan lagu. “Kamu salah nanyanya. bahwa putrinya baru beberapa pekan ini memakai jilbab. itu bisa di diskusikan secara baik-baik kepada kepala sekolah. Dan ini. sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. sampai lagu selesai. “Itu bagaimana? Apakah tindakan saya ini dosa. “itu tergantung efeknya: ada madlaratnya atau tidak kepada Allah dan sesama manusia. Beberapa hadirin gelisah antara tetap diam ditempat atau pindah. adalah curhat seorang pelajar (bukan SMAN7) yang membolos sekolah demi mengikuti pengajian Cak Nun.menurut Cak Nun sudah bagus. diiringi riuh tawa hadirin. Kalau kamu berani begitu. begitu lagu syahdu itu selesai diyanyikan. Cak Nun sendiri mengatakan. meurutnya. saya persilakan naik ke atas panggung. Namun kebanyakan tetap dari mereka tetap setia dan mengikuti pengajian. bisa jadi kamu malah disangoni. Hujan yang membasahi tubuh mereka pun tak dirasakan. Sebaiknya. Pertanyaan kedua dari seorang siswa adalah.” seloroh Cak Nun. bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang pernah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” ungkap Cak Nun. Di mall-mall dan toko banyak yang menyediakan baju you can see. Kemudian rintik hujan mulai mengguyur arena yang tak bertenda. dan bertakwalah kepada Allah. Lha wong saya ini dulu juga suka mbolos kok!. Generasi muda Islam hari ini. mereka pesta buka-bukaan di sebuah rumah untuk meluapkan kebebasan atas keterkekangan memakai cadar dan pelbagai regulasi lain yang tidak menguntungkan perempuan. Cak?. wattaqullaaha. “Wanita di Arab banyak yang dendam dengan sistem disana. Pertanyaan pertama.” tanyanya. “Untuk ibu yang membawa anak. Ia ingin memakai jilbab memang atas kemauan dan niat baiknya sendiri. Harusnya itu ditanyakan kepada kepala sekolahmu. apakah mengkritik guru itu boleh? Dan Cak Nun menjawab teori kritik yang ada dalam Al-Quran: wajaadilhum billati hiya achsan. Cak Nun menghimbau kepada segenap hadirin untuk menatap otimis masa depan degan merenungi ayat Al-Quran dalam Surat Al-Hasr [59] ayat 18: Yaa Ayyuhalladziina aamanuu ittaqullaaha wal tangdzur nafsum ma qaddamat lighaddin. “Sebagai lembaga pendidikan.” ungkapnya. Nomor Ruang Rindu karya Letto kemudian dilantunkan secara bersama-sama. Ini beda dengan beberapa Negara lain yang kebebasannya terlalu dikekang oleh negara. Kalaupun dosa.” lanjut Cak Nun. dosammu karena membuat wali kelas atau kepala sekolah sakit hati. menurutnya. yang menunukkan kebijaksanaannya dalam melihat suasana. hujan mereda dan forum kembali fokus. Kemudian. Cak Nun tetap mengajak para hadirin untuk selalu positif thingking kepada Allah. agar menjadi berkah. mulai memiliki kesadaran keagamaan sendiri. innallaaha khabirum bima ta’malun.

pen). “Orang harus punya lintas kecerdasan dalam melihat langit. dan. diikuti gelak tawa hadirin. “Bukan kuliah di universitas. pun begitu seterusnya dalam melihat apapun. Jadi. Hadirin pun tertawa.”Kuliah itu. adalah tentang ayat dalam Al-Quran: Lakum dinukum waliyadin (teremahan bebas: bagimu agamamu.’ kata Cak Nun kepada sang siswa penanya. lingkungan hidup dll. Pertama. sekali lagi Cak Nun menyatakan bahwa semua berkemungkinan salah. itu tidak melanggar undang-undang. hutangnya malah tidak saya bayar.” ungkapnya.” Jelasnya. misalnya sebulan sekali. menasehati.” tutur budayawan yang masih rajin menulis di caknun.” ungkapnya. Menaggapi pertanyaan-pertanyaan itu. sehingga melihat langit tidak hanya langit saja yang terlihat. adanya sarjana fakultas. Karena universitas sekarang ini adalah kumpulan dari fakultas. Kamu tidak usah menjelek-jelekkan istri orang lain kalau menurutmu ia kurang cantik. Mbok kapan-kapan dinyanyikan ndak apa-apa di sekolah ini. “Kalau ada orang yang menagih hutang ke saya dengan langsung demo di depan rumah. “Sebenanya ada tiga versi di lagu itu. tayangan televisi yangkurang mendidik anak. “jangan sedikit-sedikit demo. saya tidak tidak mau masuk TV nasional. negara mengubah lirik lagu itu tidak apa-apa. bukan “disinilah”. Namun Cak Nun segera meneruskan. Menurut saya. akidah ini seperti istri. Cak Nun menambahkan. siswa itu memiliki lintas kecerdasan. Bagaimana mungkin Ketuhanan Yang Maha Esa disimbolkan dengan bintang? “Ini Tuhan sendiri bisa tersinggung. Pertanyaan selanjutnya datang dari seorang wali murid.” ungkapnya. Kalau kuliah di universitas sekarang ini. Sebenarnya. “Kamu punya bakat untuk kuliah. bukan soal akidah. Pertanyaan selanjutnya adalah: Kenapa di Lagu Indonesia Raya karya WR Soepratman. silakan. karena yang dipelajari hanya dari jurusan dan satu fakultas saja. “Demo itu jalan terakhir” ungkap Cak Nun. tetapi juziyyah. apakah maksudnya? Menanggapi pertanyaan itu. Menaggapi pertanyaan lagu kebangsaan tersebut. bukan kuliah namanya. kebalikan dari juiyyah” ungkapnya. itupun sifatnya kita . Cak Nun mengapresiasi pertanyaan siswa tersebut. tetapi itu bagiku bukan agama. mempelajari sesuatu secara menyeluruh (jangkep. soal keyakinan. orang tua perlu merogoh kocek dalam-dalam jika anaknya mau masuk polisi atau tentara. ayat itu maksudnya: “Kalau menurutmu itu agama. tertulis “disanalah” aku berdiri. pohon. sekarang sebenarnya tidak ada sarjana uiversitas. imbuhnya. disana itu dimana? Dan hadirin pun tertawa.terbaik.com ini. Seperti halnya lambang garuda. Menurut Cak Nun. “Sekarangpun saya maunya di TV-TV lokal. asal dicarikan regulasinya. komprehensif). yang menurutku agama adalah (Islam) ini. cewek dsb. Ia menilai. antara dunia dan akhirat yang ada pendikotomian begitu dalam. saya lebih suka bicara masalah-masalah sosial seperti kesehatan. Mengkritik juga harus menghindarkan diri dari kemungkinan menyakiti orang lain. termasuk lagu itu.” ungkapnya. bahwa dirinya tidak suka memperdepatkan akidah kepada orang lain. “Semenjak 1999. Pertanyaan ketiga.” imbuhnya.” celetuknya. bagiku agamaku . Cak Nun mengelaborasi jawabannya. sehingga saya malu kepada tetagga. Sering saya mengibaratkan. “Dengan umat agama lain.” seloroh Cak Nun. kesenjangan dalam kurikulum pendidikan. Cak Nun “memperingatkan” terlebih bahwa ayat itu adalah ayat sensitif.

bukan hasilnya. Ini ibu apaan.” seloroh Cak Nun. Hari ini. “Yang perlu kita buktikan kepada Allah bukan kehebatan kita. yang memiliki kapasitas: satrio pinandito sinisihan wahyu. nilai dan batas seperti ini orang sudah mulai tidak tahu. iku ki dudu musibah. musibah itu adalah seperti ketika ketika kita naik motor tiba-tiba ditabrak dari belakang.” imbuhnya memberi optimisme. Kemudian juga ada yang meminta penelasi mengenai guru yang memukul murid atau murid dan wali murid yang memukul guru dan banyak teradi dewasa ini. “Mana ada ada anakpulang berprestasi ingin memeluk ibunya kok dikatain: ketekmu bau. “Banyak hal diluar negara dan pemerintah yang bisa kita akses dan rasakan. Nylentik itu bukan kekejaman dan budaya kita sebenarnya mewajarkan. Sekarang saya tanya: Lebih banyak mana. Menurut Cak Nun. Jika yang kita tahu jalan itu ada tiga. Merespon pertanyaan tentang banyaknya suap di Indonesia dalam soal pangkat dan jabatan selanjutnya.” ungkap Cak Nun. Menaggapi pertanyaan itu. Menaggapi pertanyaan dikotomi dalam kurikulum. kita ini kapal besarnya sedang goyang. Rampak. Cak Nun memberi amsal. Menanggapi hal ini.” ungkapnya. upaya yang harus dilakukan orang tua adalah memberi bekal kepada anak agar memiliki daya filter. bahwa yang ditagih Allah itu adalah istiqamah (kekonsistenan) kita dalam memperjuangkan kebenaran.” terangnya. UN itu tidak perlu diadakan. Bangunan. baru disiarkan. Allah melebihi itu semua. Biar rusak-rusak sekalian. Cak Nun berpandangan bahwa Ilmu eksak itu ya ilmu agama yang tunduk kepada Allah. Dalam berbagai kesempatan. “Namun itu tak perlu dikhawatirkansecara berlebihan. Ketika salahsatu Artis terkena narkoba dan meminta pendapatnya kepada artis lain dan menjawab: ya dia sedang terkena musibah. lanut Cak Nun. Kekerasan itu boleh. tetapi perjuangan yang terus menerus. Cak Nun menilai kurang perlunya regulasi dalam hal itu. “Semua yang kita lihat adalah syariat Allah. Menurut saya. Cak Nun menjelaskan jika TV-TV nasional hanya soal kepentingan dan duit. syariat Allah. tetapi uga soal akhlak. langsung saja suruh belajar kemudian mengikuti UN. gedug-gedung apapun takkan bisa tegak tanpa mengikuti sunnatullah. Nah. Menurut Cak Nun. kemarin sempat nesu-nesu melihat TV. Kalau hanya soal nilai tidak perlu sekolah. Pihak TV datang ke kita untuk merekam. sehingga kamar dan kabin di dalamnya pun ikut goyang. Cak Nun berpendapat. Jika yang atas-atas goyang. yang tidak boleh adalah kekejaman. diikuti gelak tawa hadirin. diikuti riuh tawa hadirin. tidak ada upanya untuk mendidik dan mencerdaskan. misalnya. menyerahkan ke kita untuk disetujui. kemudian diedit. “Jadi sebenarnya. setiap hari. sebenarnya sudah bisa diakses hanya degan sehari. memiliki banyak jalan.sedekah. kita yang dibawah pun tentunya terseret”. kurikulum yang tiga tahun diajarkan di sekolah itu. sekolah itu bukan tentang angka-angka nilai saja. semoga saja bisa kuat menghadapinya. yang perlu kita syukuri atau keluhkan?” Tanya Cak Nun. hal ini hanya bisa diatasi oleh munculnya pemimpin yang kuat. agar masyarakat tahu dan bisa membedakan. “Kita syukuri.” jawab hadirin. Dan sifanya kita tidak transaksional. “cerita Cak Nun.” Pertanyaan selanjutnya: bagaimana cara berpegang teguh kepada Allah (wa’tashimu bihablillaah) secara riil. “Anti violen yang diadopsi dari luar negeri dan diartikan anti kekerasan itu salah secara budaya. Cak Nun mengatakan. hal-hal detil tentang istilah. Dan perilaku kasar itu kadang adalah bentuk kasih sayang untuk . “Anak saya yang masih SD. Anak saya langsung misuh: guuoooblllokkk!!!. “Jika diibaratkan.

malah kasihan. apa ruginya kamu? Mbok santai saja. namun orang tuanya meminta masuk di fakultas kedokteran. Misalnya. terpisah dengan temanmu. Saya sendiri selalu catat secara detail siapa-siapa yang menghina saya. Kita punya kearifan kebudayaan yang harus dipakai. Lalu. Sampai disana. bukan engkau yg melempar ketika engkau melempar. karena orang yang sudah ayu tak perlu kemayu. Hal-hal seperti itu tidak perlu dibuat regulasinya. marah. jika dia memang selalu mencitrakan dirinya. “Misalnya kamu diajak temanmu Sekatenan di Jogja dan kamu tidak suka. dirembuk melalui forum wali murid. sedikit-sedikit polisi. Anehnya. “Orang yang melakukan pencitraan itu sebenarnya hina. Kita tidak perlu mencitrakan diri. Tapi di kesempatan itu kamu malah justeru bertemu dengan seorang cewek.” ungkap Cak Nun. yang punya hobi dan passion di dunia fotografi. malah saya jadikan energi dan motivasi untuk lebih baik lagi kedepannya. Menjawab hal ini. sambil mengutip surah Al-Anfal ayat17". tetapi jangan dikeluarkan. biarlah sangsi sosial berlaku jika ada melaggarnya.” pintanya. melecehkan saya dan membuat emosi saya.wama romaita iz romaita wala kinnallaharama.mendidik. tidak dosa. itu kan kekerasan juga. “Ingin membunuh itu tidak apa-apa. lalu kemudian kamu lamar dan sebagai istrimu.” terang Cak Nun. fifty-fifty. Belum ada lembaga atau institusi yang memiliki mekanisme skill sebagai standar diterima bekerja atau ditolak. Insya Allah memiliki banyak akses yang tak pernah kamu sangka. Cak Nun mengharapkan agar apa saja yang kita semua temui di dunia ini. dengan niat membahagiakan kedua orang tuamu. Saya tanya: kamu diajak temanmu ikut Sekatenan itu baik atau tidak?. dan tidak ada pasalhukumnya. emosi. omong kosong!. Mbok yao itu diselesaikan dengan kearifan budaya. ikut desak-desakan dan kamu hilang. kegantengan. kamu masuk kedokteran juga belum menjamin. kembalikanlah semua kepada Allah. Cak Nun memberi pandangan. . Dendam. Cak Nun memiliki pandangan tersendiri. Tapi memang seperti itulah isi dunia. “kita ini kadang lebay. Yang tidak boleh adalah membunuh. syukurilah. kamu marah. tinggal di batin: ah. tetapi tidak kekejaman. itu adalah energi jika disalurkan kepada hal yang benar. tetapi Allah yang melempar. saya menghina bapak anda. Tidak semua harus dipasal hukumkan..". masuk saja di kedokteran. bagaimana jika ingin membalas tindakan buruk seseorang. Pencitraan.” jelas Cak Nun memberi cara pandang dalam menyikapi setiap kejadian.. Misalnya. Lalu karena ndak enak sama temanmu kamu ikut saja. “Saran saya. Jika kamu niat membahagiakan orang tua. solusi yang terbaik adalah sekolah memiliki “orang tua” yang mamiliki kearifan. Kamu di fotografi. yagn dipasalhukumkan hanya yang soal fisik. Kamu harus punya pertahanan diri yang kuat. Menjawab pertanyaan salahsatu penanya yang emosi dengan orang yang selalu sibuk dengan pencitraan. Cak Nun mengatakan bahwa hari ini memang semua lembaga dan institusi menggunakan ijasah sebagai standarisasi. juga kedepan belum tentu menjamin. paling kamu ndobos!.” jelas Cak Nun. Itu makanya kamu harus punya sistem kontrol diri. “Jika ada sesuatu apapun. Terkait dengan pertanyaan.” Pertayaan selanjutnya: lebih penting manakah skill atau ijasah? Lebih jauh sang penanya mengadukan kegundahannya. kemayu. saya tidak pernah membalasnya. kekerasan atau penindasan verbal. Dari data cemoohan-cemoohan itu. Menurut Cak Nun.” jelas Cak Nun panjang lebar.

Kemudian Cak Nun berdoa dan mendoakan seluruh jamaah yang hadir. Mbak Via. Lalu Cak Nun mereka-reka sendiri pertanyaannya. Ya angan begitu-begitu amat. katanya.” cerita Cak Nun. Allah seakan tidak ada alasan untuk mengadzab. Dalam sesi-sesi akhir. Sementara dipanggung. Tadabbur ini dipungkasi dengan nomor Tombo Ati dan Chasbunnallah wa ni’mal wakil ni’mal mawla wanni’man nashir. akan kalah dengan kepastian nasib dari Allah. “Di Jatim ada sebuah kisah: satu orang dulunya selalu juara di kelas. karena bergelut langsung di dalamnya. Kalau kamu ingin membangun. Dan yang lebih banyak tau istri saya. Seberapapun kurang baik sistemnya. jangan dengan meghina. Ribuan orang pun bubar. . Ngenes. adalah seseorang yang galau mau jadi guru. “. ini malah tambah kamu bilang comberan. F. Dengan tegas Cak Nun mengklarifikasi. Beberapa tahun kemudian. Ketika esok harinya ada pelatikan bupati. masih sibuk diajak foto-foto oleh para fansnya. sekarang ini sudah tidak ada nabi lagi. bahwa ia khawatir jika Allah tidak Cinta lagi kepada penghuni negeri ini. “Saya banyak tahu soal ini. sang juara jualan nasi goreng di depan pendopo. “kenapa negara kita yang sedemikian bobrok kok tidak di adzab? Padahal Allah mengadzab kepada mereka yang menyakiti nabi Nuh as”.” jelas Cak Nun. Saya tahu bagaimana nasib guru. banyak hal yang terlibat di dalamnya.[] Disarikan oleh Ahmad Naufa Kh. bagai lebah yang keluar dari sarangnya. Inilah kehidupan. karena sistemnya sudah seperti comberan.Kemudian Cak Nun juga berpesan kepada para siswa agar apapun gelarnya. “Dulu Allah mengadzab umat Nabi Nuh karena mereka menyakiti hatinya dan Allah tidak terima. Nah. Semua hadirin terdiam. Bu Ni’mah mengucapkan terima kasih kepada Cak Nun dan Kiai Kanjeng serta seluruhnya yang terlibat dalam suksesi acara tersebut. kata “comberan” terlalu kasar. gajinya. Pegiat Wolulasan Jamaah Maiyah Purworejo. ternyata yang jadi bupati adalah temannya yang dulu sering ia bully. sedangkan satunya selalu dibuli dan tak pernah dapat prestasi. terangnya. Cak Nun bertanya kepada audiens. mengajak untuk jangan pernah meremehkan seseorang.. Mas Doni sang vokalis Kiai Kangjeng. seberapapun banyaknya kelak. Pertanyaan terakhir. apalagi yang belum masuk sertivikasi.