You are on page 1of 2

Tanaman seperti makhluk hidup lainnya, membutuhkan asupan nutrisi yang

cukup untuk tumbuh dan juga berkembang. Tumbuhan apabila mendapatkan nutrisi
dalam jumlah yang kurang ataupun berlebih akan berdampak tidak baik bagi
tumbuhan itu sendiri, maka dari itu asupan nutrisi pada tumbuhan haruslah sesuai.
Setidaknya ada 2 jenis nutrisi yang dibutuhkan oleh tumbuhan, yaitu nutrisi makro
dan mikro (Johan, 2015).
Nutrisi makro adalah nutrisi yang dibutuhkan dalam jumlah banyak oleh
tumbuhan. Nutrisi makro ( makronutrien) tersebut mencakup kalium yang berfungsi
untuk mengangkut hasil asimiliasi enzim juga mineral ; kalsium yang berperan
dalam pertumbuhan sel,memperkuat jaringan; magnesium untuk transportasi
enzim; nitrogen berfungsi dalam proses sintesis klorofil; phospat untuk
pengangkutan energi hasil metabolisme; sulfur sebagai agen aktivator enzim.
(Chairani, 2008).
Sedangkan nutrisi mikro (mikronutrien) yang dibutuhkan oleh tumbuhan
mencakup boron(B) berfungsi pembentukan dinding sel; cobalt(Co) yang berperan
pada fiksasi nitrogen; besi(Fe) untuk proses-proses fisiologis tanaman seperti
pernapasan; klorida(Cl) sebagai pengatur tekanan osmosis di dalam sel;
mangan(Mn) yang berfungsi dalam proses pembelahan sel; molibdenum(Mo) yang
berperan sebagai pengikat nitrogen bebas di udara untuk pembentukan protein;
natrium(Na) untuk menjaga keseimbangan ion pada regulasi; nikel(Ni) sebagai
aktivator urease; seng(Zn) sebagai katalisator dalam pembentukan protein;
silikon(Si) membuat sifat dinding sel menjadi kaku/elastis; tembaga (Cu) sebagai
aktivator enzim (Lahuddin, 2007).

Hidroponik adalah sistem bercocok tanam tanpa menggunakan tanah
sebagai media tanamnya. Sistem hidroponik ini menggunakan air sebagai
media tanamnya. Dengan cara ini bercocok tanam dapat dilakukan meskipun
dalam lahan yang sempit (Lingga, 2000). Hidroponik memang bukan inovasi
baru di dunia pertanian, tercatat metode ini sudah pernah digunakan bahkan
pada masa sebelum masehi tepatnya berada di taman gantung Babilonia
dan taman terapung Cina walaupun waktu itu masih berupa larutan pupuk
organik bukan air. Baru setelah tahun 1936 istilah hidroponik lahir, ini
berdasarkan hasil penelitian dari Dr.WF.Gericke, seorang agronomis dari
Universitas California, Amerika Serikat, yang menanam tomat hingga tumbuh
setinggi 3 meter dan dipenuhi buah-buahnya menggunakan media tanam air
(Roidah, 2014).
Hidroponik cocok untuk permasalahan cocok tanam yang ada di kota karena
hidroponik memiliki banyak keunggulan dibandingkan metode bercocok
tanam konvensional. Beberapa keunggulan yang dimiliki oleh metode
hidroponik, yaitu :

Hidroponik tidak membutuhkan tanah sebagai media tanam sehingga
tidak membutuhkan lahan yang besar

Peran Nutrisi Bagi Tanaman. Lingga. Departemen Pendidikan Nasional. 2013) Tanaman yang mati lebih mudah diganti dengan tanaman yang baru karena tidak harus menggali terlebih dahulu seperti pada metode konvensional Lahuddin. “Pemanfaatan Lahan Dengan Menggunakan Sistem Hidroponik”. Teknik Budidaya Tanaman Jilid 1.com/peran-nutrisi-bagi-tanaman/ diakses pada tanggal 4 September 2016. karena penggunaan air pada metode hidroponik dapat berupa siklus Dengan metode hidroponik tanaman tidak terancam risiko kebanjiran. 2015. Jurnal Hidroponik. erosi. [Online] http://jurnalaquascape. Jurnal Universitas Tulungagung BONOROWO. 1(2):1-8. 2000. Bercocok tanam dengan menggunakan metode hidroponik memberikan hasil yang lebih banyak Hidroponik tidak membutuhkan air sebanyak yang digunakan pada metode cocok tanam konvensional. 1(1):1-10. Pinus. . 2013. kekeringan ataupun ketergantungan pada kondisi alam (Bachtiar. “Hidroponik”. Depok: Penebar Swadaya Roidah. 2014. M. karena tempat bercocok tanam untuk metode hidroponik ini bisa menggunakan botol-botol bekas air minum. 2007. Hidroponik Bercocok Tanam Tanpa Tanah. Bachtiar. I.S. Yusuf. Aspek Unsur Mikro dalam Kesuburan Tanah. Medan: USU Chairani Hanum. 2008 Johan.    Hidroponik menjadikan barang-barang bekas lebih bermanfaat.