You are on page 1of 35

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa diharapkan mampu memberikan asuhan keperawatan pada
Tn.K.
2. Tujuan Khusus
Setelah pembuatan laporan asuhan keperawatan gerontik di Panti Wredha
Harapan Ibu, mahasiswa diharapkan mampu :
a. Melakukan pengkajian pada Tn.K
b. Menentukan diagnosa keperawatan yang

muncul

pada Tn.K

berdasarkan pengkajian yang telah dilakukan dengan berpedoman
pada NANDA dalam penentuan diagnosa.
c. Menentukan kriteria hasil untuk menyelesaikan etiologi dan problem
pada masalah keperawatan pada Tn.K.
d. Merencanakan tindakan keperawatan pada Tn.K.
e. Melakukan implementasi tindakan keperawatan pada Tn.K sesuai
dengan yang direncanakan.
f. Mengevalusi hasil implementasi yang telah dilakukan pada Tn.K
g. Menganalisa tindakan keperawatan yang telah dilakukan pada Tn.K
dengan laporan penelitian ilmiah sebelumnya/ jurnal ilmiah terkait.
C. Manfaat

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Diabetes Mellitus
1. Definisi
a. Diabetes berasal dari bahasa Yunani yang berarti “mengalirkan atau
mengalihkan” (siphon). Mellitus berasal dari bahasa latin yang
bermakna manis atau madu. Penyakit diabetes melitus dapat diartikan
individu yang mengalirkan volume urine yang banyak dengan kadar
glukosa tinggi. Diabetes melitus adalah penyakit hiperglikemia yang
ditandai dengan ketidakadaan absolute insulin atau penurunan relative
insensitivitas sel terhadap insulin (Corwin, 2009).
b. Diabetes Melitus (DM) adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai
berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang
menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf, dan

pembuluh darah, disertai lesi pada membran basalis dalam
pemeriksaan dengan mikroskop elektron (Mansjoer dkk, 2007)
c. Menurut American Diabetes Association (ADA) tahun 2005, diabetus
merupakan suatu kelompok panyakit metabolik dengan karakterristik
hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja
insulin atau kedua-duanya.
d. Diabetes Mellitus (DM) adalah kelainan defisiensi dari insulin dan
kehilangan toleransi terhadap glukosa ( Rab, 2008)
e. DM merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh
kelainan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia yang
disebabkan defisiensi insulin atau akibat kerja insulin yang tidak
adekuat (Brunner & Suddart, 2002)

2. Klasifikasi
4 kategori utama diabetes, yaitu: (Corwin, 2009)
a. Tipe I: Insulin Dependent Diabetes Melitus (IDDM)/ Diabetes Melitus
tergantung insulin (DMTI).
Lima persen sampai sepuluh persen penderita diabetik adalah tipe I.
Sel-sel beta dari pankreas yang normalnya menghasilkan insulin
dihancurkan oleh proses autoimun. Diperlukan suntikan insulin untuk
mengontrol kadar gula darah. Awitannya mendadak biasanya terjadi
sebelum usia 30 tahun.
b. Tipe II: Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM)/ Diabetes
Mellitus tak tergantung insulin (DMTTI)
Sembilan puluh persen sampai 95% penderita diabetik adalah tipe II.
Kondisi ini diakibatkan oleh penurunan sensitivitas terhadap insulin
(resisten insulin) atau akibat penurunan jumlah pembentukan insulin.
Pengobatan pertama adalah dengan diit dan olah raga, jika kenaikan
kadar glukosa darah menetap, suplemen dengan preparat hipoglikemik
(suntikan insulin dibutuhkan, jika preparat oral tidak dapat mengontrol

3. d. c. yaitu 100 gram glukosa. Diabetes Kehamilan: Gestasional Diabetes Melitus (GDM) Diabetes yang terjadi pada wanita hamil yang sebelumnya tidak mengidap diabetes. dan penyakit dengan karakteristik gangguan endokrin. mempunyai kecenderungan mengalami DM setelah kehamilan. sindroma penyakit lain. Diabetes Melitus tergantung insulin (DMTI) 1) Faktor genetik Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri tetapi mewarisi suatu presdisposisi atau kecenderungan genetik kearah terjadinya diabetes tipe I. Kecenderungan genetic ini ditentukan pada individu yang memililiki tipe antigen HLA (Human Leucocyte Antigen) tertentu. DM tipe lain Karena kelainan genetik. 2) Faktor imunologi Pada diabetes tipe I terdapat bukti adanya suatu respon autoimun. infeksi. . HLA merupakan kumpulan gen yang bertanggung jawab atas antigen tranplantasi dan proses imun lainnya. kelainan kongenital dan makrosomia. antibodi. 4) Klien dengan GDM. Etiologi a. 1) Intoleransi karbohidrat yang pertama diketahui pada kehamilan. 2) Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang menderita GDM mempunyai resiko kematian.hiperglikemia). obat. penyakit pankreas (trauma pankreatik). Ini merupakan respon abnormal dimana antibody terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. 5) Diagnosis didasarkan pada hasil GTT . Terjadi paling sering pada mereka yang berusia lebih dari 30 tahun dan pada mereka yang obesitas. 3) Anak dari ibu yang menderita GDM juga beresiko mengalami obesitas dan gangguan toleransi glukosa pada usia lanjut.

(Smeltzer and Bare. b. Jika terdapat defisit insulin. golongan hispanik serta penduduk asli amerika tertentu memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk terjadinya diabetes tipe II dibanding dengan golongan AfroAmerika. 2) Obesitas 3) Riwayat Keluarga 4) Kelompok etnik Di Amerika Serikat. (b)Glikogenesis berkurang dan tetap terdapat kelebihan glukosa dalam darah. Proses glikogenesis ini mencegah hiperglikemia (kadar glukosa darah > 110 mg/dl). Faktor genetik diperkirakan memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin. (c)Glikolisis meningkat sehingga cadangan glikogen berkurang dan glukosa hati dicurahkan ke dalam darah secara terus menerus melebihi kebutuhan. Selain itu terdapat faktor-faktor resiko tertentu yang berhubungan yaitu: 1) Usia Resistensi insulin cenderung meningkat pada usia diatas 65 tahun. asupan glukosa atau produksi glukosa yang melebihi kebutuhan kalori akan disimpan sebagai glikogen dalam sel-sel hati dan sel-sel otot. sebagai contoh hasil penyelidikan menyatakan bahwa virus atau toksin tertentu dapat memicu proses autoimun yang dapat menimbulkan destuksi sel β pancreas. Diabetes Melitus tak tergantung insulin (DMTTI) Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe II belum diketahui.3) Faktor lingkungan Faktor eksternal yang dapat memicu destruksi sel β pancreas. Patofisiologi Tubuh dalam keadaan normal. 2002) 4. Empat perubahan itu adalah: (a)Transport glukosa yang melintasi membran sel berkurang. jika terdapat insulin. (d)Glukoneogenesis meningkat . empat perubahan metabolik terjadi menimbulkan hiperglikemi.

pasien akan mengalami peningkatan dalam berkemih (poliuria) dan rasa haus (polidipsia). Sebagai akibat dari kehilangan cairan berlebihan. Jika konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi maka ginjal tidak dapat menyerap kembali semua glukosa yang tersaring keluar. Hiperglikemi puasa terjadi akibat produkasi glukosa yang tidak terukur oleh hati. Diabetes tipe I. Gejala lainnya mencakup kelelahan dan kelemahan.dan lebih banyak lagi glukosa hati yang tercurah ke dalam darah dari pemecahan asam amino dan lemak. akibat menurunnya simpanan kalori. namun pada penderita defisiensi insulin. Di samping itu glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan dalam hati meskipun tetap berada dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia posprandial (sesudah makan). akibatnya glukosa tersebut muncul dalam urin (glukosuria). Disamping itu akan terjadi pemecahan lemak yang mengakibatkan peningkatan produksi badan keton yang merupakan produk samping pemecahan lemak. a. ekskresi ini akan disertai pengeluaran cairan dan elektrolit yang berlebihan. Ketika glukosa yang berlebihan di ekskresikan ke dalam urin. Pasien dapat mengalami peningkatan selera makan (polifagia). Dalam keadaan (pemecahan normal glukosa insulin yang mengendalikan disimpan) dan glikogenolisis glukoneogenesis (pembentukan glukosa baru dari dari asam-asam amino dan substansi lain). Pada diabetes tipe satu terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin karena sel-sel beta pankreas telah dihancurkan oleh proses autoimun. proses ini akan terjadi tanpa hambatan dan lebih lanjut akan turut menimbulkan hiperglikemia. Badan keton merupakan asam . Defisiensi insulin juga akan menggangu metabolisme protein dan lemak yang menyebabkan penurunan berat badan. Keadaan ini dinamakan diuresis osmotik.

nafas berbau aseton dan bila tidak ditangani akan menimbulkan perubahan kesadaran. Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor khusus pada permukaan sel. Diet dan latihan disertai pemantauan kadar gula darah yang sering merupakan komponen terapi yang penting. terjadi suatu rangkaian reaksi dalam metabolisme glukosa di dalam sel. koma bahkan kematian. mual. muntah. Namun demikian. Pada penderita toleransi glukosa terganggu. Untuk mengatasi resistensi insulin dan untuk mencegah terbentuknya glukosa dalam darah. Pemberian insulin bersama cairan dan elektrolit sesuai kebutuhan akan memperbaiki dengan cepat kelainan metabolik tersebut dan mengatasi gejala hiperglikemi serta ketoasidosis. namun masih terdapat insulin dengan jumlah yang adekuat untuk mencegah pemecahan lemak dan produksi badan keton yang menyertainya. jika sel-sel beta tidak mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan akan insulin. Meskipun terjadi gangguan sekresi insulin yang merupakan ciri khas DM tipe II. b. harus terdapat peningkatan jumlah insulin yang disekresikan. Ketoasidosis yang diakibatkannya dapat menyebabkan tanda-tanda dan gejala seperti nyeri abdomen. keadaan ini terjadi akibat sekresi insulin yang berlebihan dan kadar glukosa akan dipertahankan pada tingkat yang normal atau sedikit meningkat. Resistensi insulin pada diabetes tipe II disertai dengan penurunan reaksi intrasel ini. hiperventilasi.yang menggangu keseimbangan asam basa tubuh apabila jumlahnya berlebihan. maka kadar glukosa akan meningkat dan terjadi diabetes tipe II. Sebagai akibat terikatnya insulin dengan resptor tersebut. . Dengan demikian insulin menjadi tidak efektif untuk menstimulasi pengambilan glukosa oleh jaringan. Diabetes tipe II Pada diabetes tipe II terdapat dua masalah utama yang berhubungan dengan insulin yaitu resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin.

poliuria. infeksi vagina atau pandangan yang kabur (jika kadar glukosanya sangat tinggi) . Diabetes tipe II paling sering terjadi pada penderita diabetes yang berusia lebih dari 30 tahun dan obesitas. maka awitan diabetes tipe II dapat berjalan tanpa terdeteksi. Jika gejalanya dialami pasien. polidipsi. Akibat intoleransi glukosa yang berlangsung lambat (selama bertahun-tahun) dan progresif. Meskipun demikian. iritabilitas.Karena itu ketoasidosis diabetik tidak terjadi pada diabetes tipe II. diabetes tipe II yang tidak terkontrol dapat menimbulkan masalah akut lainnya yang dinamakan sindrom hiperglikemik hiperosmoler nonketoik (HHNK). luka pada kulit yang lama sembuh-sembuh. gejala tersebut sering bersifat ringan dan dapat mencakup kelelahan.

.

intoleransi glukosa progresif 2) Gejala seringkali ringan mencakup keletihan. 2001). muntah. luka pada kulit yang sembuhnya lama.5. Manifestasi Klinis a. Konsentrasi gula darah lebih dari 600 mg bahkan sampai 2000. nafas bau buah. koma. ada perubahan tingkat kesadaran. infeksi vaginal. poliuria. a. hiperventilasi. Komplikasi Komplikasi diabetes mellitus terbagi menjadi 2 yaitu komplikasi akut dan komplikasi kronik (Carpenito. penglihatan kabur 3) Komplikasi jangka panjang (retinopati. osmolitas darah . penyakit vaskular perifer) 6. nyeri abdomen. ketiga komplikasi tersebut adalah (Smeltzer. tidak terdapat aseton. Komplikasi Akut. 2002 : 1258) 1) Diabetik Ketoasedosis (DKA)Ketoasedosis diabetik merupakan defisiensi insulin berat dan akut dari suatu perjalanan penyakit diabetes mellitus. mudah tersinggung. Diabetes Tipe II 1) Lambat (selama tahunan). polidipsia. Diabetik ketoasedosis disebabkan oleh tidak adanya insulin atau tidak cukupnya jumlah insulin yang nyata ( Smeltzer. Diabetes Tipe I 1) Hiperglikemia berpuasa 2) Glukosuria. polidipsia. polifagia 3) Keletihan dan kelemahan 4) Ketoasidosis diabetik (mual. kematian) b. diuresis osmotik.Koma Hiperosmolar Nonketotik merupakan keadaan yang didominasi oleh hiperosmolaritas dan hiperglikemia dan disertai perubahan tingkat kesadaran. 2002 : 1258 ) 2) Koma Hiperosmolar Nonketotik (KHHN). neuropati. poliuria. ada 3 komplikasi akut pada diabetes melitus yang penting dan berhubungan dengan keseimbangan kadar glukosa darah dalam jangka pendek.

(Smetzer. 3) Hypoglikemia. Bila kadar glukosa darah meningkat. Hypoglikemia (Kadar gula darah yang abnormal yang rendah) terjadi kalau kadar glukoda dalam darah turun dibawah 50 hingga 60 mg/dl. maka mekanisme filtrasi ginjal akan mengalami stress yang . elektrolit natrium berkisar antara 100 – 150 mEq per liter kalium bervariasiSalah satu perbedaan utama KHHN dengan DKA adalah tidak terdapatnya ketosis dan asidosis pada KHHN. Angiopati Diabetik dibagi menjadi 2 yaitu (Long 1996): 1) Mikrovaskuler a) Penyakit Ginjal. Salah satu akibat utama dari perubahan– perubahan mikrovaskuler adalah perubahan pada struktural dan fungsi ginjal. tidak terdapat asidosis dan fungsi ginjal pada umumnya terganggu dimana BUN banding kreatinin lebih dari 30 : 1. Salah satu bentuk dari kegawatan hipoglikemik adalah koma hipoglikemik. 2002 : 1262). 2002 : 1256) b.tinggi melewati 350 mOsm perkilogram. Keadaan ini dapat terjadi akibat pemberian preparat insulin atau preparat oral yang berlebihan. konsumsi makanan yang terlalu sedikit. Diagnosa dibuat dari tanda klinis dengan gejala hipoglikemik terjadi bila kadar gula darah dibawah 50 mg% atau 40 mg% pada pemeriksaaan darah jari (Smeltzer. Koma hipoglikemik biasanya disebabkan oleh overdosis insulin. Selain itu dapat pula disebabkan oleh karana terlambat makan atau olahraga yang berlebih. Komplikasi kronik Diabetes Melitus pada adsarnya terjadi pada semua pembuluh darah diseluruh bagian tubuh (Angiopati Diabetik). Pada kasus spoor atau koma yang tidak diketahui sebabnya maka harus dicurigai sebagai suatu hipoglikemik dan merupakan alasan untuk pembarian glukosa.

dengan resiko penderita penyakit jantung koroner atau stroke. 1996: 17) 2) Makrovaskuler a) Penyakit Jantung Koroner. Lemak yang menumpuk dalam pembuluh darah menyebabkan mengerasnya arteri (arteriosklerosis). Timbul karena adanya anesthesia fungsi saraf–saraf sensorik. Infeksi dimulai dari celah– celah kulit yang mengalami hipertropi. pada sel–sel kuku yang tertanam pada bagian kaki. Katarak disebabkan karena hiperglikemia yang berkepanjangan yang menyebabkan pembengkakan lensa dan kerusakan lensa (Long. Akumulasi sorbital dan perubahan–perubahan metabolik lain dalam sintesa atau fungsi myelin yang dikaitkan dengan hiperglikemia dapat menimbulkan perubahan kondisi saraf (Long. 1996: 16) c) Neuropati Diabetes dapat mempengaruhi saraf-saraf perifer. atau sistem saraf pusat. b) Pembuluh darah kaki. retinopati. 2002 : 1272) b) Penyakit Mata (Katarak). Penderita Diabetes melitus akan mengalami gejala penglihatan sampai kebutaan. Akibat kelainan fungsi pada jantung akibat diabetes melitus maka terjadi penurunan kerja jantung untuk memompakan darahnya keseluruh tubuh sehingga tekanan darah akan naik atau hipertensi. bagia kulit kaki yang . sistem saraf otonom.menyebabkan kebocoran protein darah dalam urin (Smeltzer. 1996: 588). keadaan ini berperan dalam terjadinya trauma minor dan tidak terdeteksinya infeksi yang menyebabkan gangren. Keluhan penglihatan kabur tidak selalui disebabkan retinopati (Sjaifoellah. Medulla spinalis.

dan kalus. 1996: 17). demikian juga pada daerah–daerah yang tekena trauma (Long. Pada pembuluh darah otak dapat terjadi penyumbatan sehingga suplai darah ke otak menurun (Long. 1996: 17) . c) Pembuluh darah otak.menebal.

oksalat b. j) Benda keton. i) Gas darah arteri : biasanya menunjukkan pH rendah dan penurunan pada HCO3 (asidosis metabolik). Pemeriksaan Diagnostik a. eritrosit. meningkat atau menurun. Aseton plasma (keton ) positif secara mencolok. Kalium : normak atau peningkatan semu (perpindahan seluler selanjutnya menurun). e) Glukosa Darah GDS > 200 mg/dl. 2) Urine a) Kimia : proteinuria b) Sedimen : leukosit. Radiodiagnostik . gula darah puasa >120 mg/dl dan dua jam post pandrial > 200 mg/dl f) Elektrolit Natrium : mungkin normal.7. g) RFT (renal fungsi tes) Ureum/kreatinin mungkin meningkat atau normal (dehidrasi atau penurunan fungsi ginjal). Laboratorium 1) Darah a) Hemoglobin b) Trombosit c) Leukosit d) HbAIc. h) LFT (liver fungsi tes) Asam lemak bebas : kadar lipid dan kolesterol meningkat. Normalnya adalah 4 – 6 % jika hasilnya > 8% mengindikasikan DM yang tidak terkontrol.

Cardiac studies EKG dan ECHO B. Gangren Fornier . Pedis/ekstrimitas (ulkus diabetic foot) c.Thorax.

Tn. Hubungan dengan Klien : Istri B. glans penis. Penanggung Jawab a. Nama : Tn.K bengkak dan sore harinya muncul lepuhan di area pelvic kiri sebesar bola kecil dengan diameter sekitar 2 .Reg : 788764 d.BAB III TINJAUAN KASUS Tanggal Masuk : 14 Desember 2014 Tanggal Pengkajian : 29 Desember 2014 A. T: Nyeri timbul sewaktu-waktu) C. Keesokan paginya buah zakar/ scrotum Tn.K b. Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga e. Jenis Kelamin : Perempuan d.RM : C511318 c. Umur : 46 tahun c.K merasa pegal dan linu (kemeng) di area paha kiri atas (sekitar pelvis hingga alat vital). DATA DEMOGRAFI 1. saat ditekan. paha kiri atas. lalu Tn. Jenis Kelamin : Laki-Laki f.K dibawa keluarganya untuk opname di RS Panti Wiloso. Biodata Klien a. No. pelvis. Pekerjaan : Buruh i. pegal. RIWAYAT KESEHATAN 1. Riwayat Penyakit Sekarang Sekitar 2 minggu sebelum masuk rumah sakit. Alamat : Penggaron Kidul 2. Setelah masuk RS Panti Wilosos. Umur : 47 tahun e.K mengalami demam selama 2 hari. Nama : Ny. Agama : Islam g. saat diam. Tn. Status Perkawinan : Kawin h. R: Nyeri di area scrotum. No. KELUHAN UTAMA Nyeri (P: mucul saat digerakkan. S: Nyeri skala 2. Q: Nyeri terasa panas.M b. cekit-cekit.

cm. Stres dan Koping Tn. paracetamol 500 mg (per oral) dan codein 20 mg (per oral) 2.K sudah mendapatkan infuse RL 20 tpm. .K sampai demam dan mengalami penurunan kesadaran lalu dirawat di HCU sekitar 4 hari. Peran Diri Tn.K mengatakan bahwa seharusnya dirinya bisa beraktifitas seharihari seperti bekerja dan berjalan/ bergerak leluasa apabila ia tidak sedang sakit seperti ini c. injeksi lantus 6U. Gambaran Diri Tn. Rencana operasi tidak bisa dilakukan karena kondisi Tn. RIWAYAT PSIKOSOSIAL 1. Tanggal 13 Desember 2014 jam 23.K menjadi lebih mudah marah/ kesal karena nyeri yang dirasakan dan luka yang tidak sembuh-sembuh 2. namun saat ini ia hanya terbaring di tempat tidur. injeksi novorapid 6 U hingga 14 U. Tn. Tn.K hanya menginginkan luka dip aha dan alat vitalnya segera sembuh b.K mulai menjalani perawatan di bangsal Rajawali 6A semenjak tanggal 14 Desember 2014. Nyeri dirasakan Tn.40 dilakukan debridement pada area hipogamik dan scrotum. Konsep Diri a. Ideal Diri Tn.K masih belum stabil dan GDS 448 mg/dl.K juga memiliki sakit DM dengan gangrene di kaki kanannya D.K semakin tidak tertahan hingga kondisi Tn.K dirujuk ke RSDK. Tn. lepuhan yang muncul semakin melebar dan kondisi luka memburuk.9%.K dapat menerima semua anggota tubuhnya dengan baik dan tidak merasa malu. Riwayat Penyakit Dahulu Tn. vancomycin dalam 100 cc NaCl 0. Riwayat Penyakit Keluarga Tn.K mengatakan sudah memiliki sakit DM sekitar 1 tahun lalu 3. Selama dirawat di HCU. Tn.K dan istri mengatakan kalau kakak perempuan pertama Tn.K menyatakan kalau biasanya ia bekerja untuk mencari nafkah bagi anak istrinya saat sebelum sakit.

M dan ayah bagi kedua anak perempuan dan laki-lakinya. Identitas Diri Tn. mengaji tentang selama Selama Dirawat Tidak solat. RIWAYAT SPIRITUAL Keterangan Nilai Khusus Praktik Ibadah Pengetahuan praktik ibadah sakit Sebelum Sakit Solat 5 waktu masih sering bolong.5. tapi tidak dilakukan F. PEMERIKSAAN PENUNJANG Tanggal 14 Desember 2014 Jam 13. 106 / ᵤ MCH MCV MCHC Leukosit Trombosit RDW MPV KIMIA KLINIK Glukosa Sewaktu Asam Laktat Nilai Normal 13.59 Pemeriksaan Hemoglobin Hematokrit Hasil 12.K adalah seorang laki-laki yang menjadi suami dari Ny.3% Eritrosit 4. E. Harga Diri Tidak ada masalah e. PEMERIKSAAN FISIK G.d. berbaring. hanya berdoa Tahu bahwa apabila kondisi sakit bisa ibadah dengan tayamum dan solat dnegan duduk.00 40-54% Interpretasi L L Rasional Dehidrasi karena penurunan filtrasi ginjal menyebabkan glukosuria+eksresi cairan elektrolit (dieresis osmotic) .7 g/dl 37. PENGKAJIAN KEBUTUHAN DASAR MANUSIA H.00-16.

9 mmol/L 0.23 mmol/L H Calcium 1.5-5.3% Eritrosit 4.74-0.7 g/dl 37.1 mmol/L 98-107 mmol/L Rasional L Tanggal 24 Desember 2014 Pemeriksaan Hemoglobin Hematokrit Hasil 12.Magnesium Tanggal 14 Desember 2014 Source: MIOBP/ Pus dari scrotum Selected: Stephylococcus Haemolyticus Tanggal 16 Desember 2014 Pemeriksaan Kimia Kllinik Magnesium Hasil Nilai Normal Interpretasi 1.3 mmol/L 101 mmol/L 136-145 mmol/L 3.00 40-54% Interpretasi L L Rasional Dehidrasi karena penurunan filtrasi ginjal menyebabkan glukosuria+eksresi cairan elektrolit (dieresis osmotic) .12-2.52 mmol/L Eleketrolit Natrium 135 mmol/L L Kalium Chlorida 4.99 mmol/L 2.5. 106 / ᵤ MCH MCV MCHC Leukosit Trombosit RDW MPV KIMIA KLINIK Glukosa Sewaktu Asam Laktat Magnesium Nilai Normal 13.00-16.

.

vancomycin muntah. dan edema paru Efek Samping Edema jaringan pada penggunaan volume besar (biasanya paruparu). ototoksisitas gagal ginjal. mual. mengurangi kejadian hipoglikemi pada malam hari 1gr/ 12 jam. . Pasien yang alergi Kontraindikasi Hipertonik uterus.9% Dosis+Rute 20 tpm. lipohipertrofi atau lipoartrofi. nefritiss interstisial. hiponatremia. Cara kerja : menurunkan HbA1C dan kadar glukosa darah. edema hipersensitif terhadap Hipoglikemia. penggunaan dalam jumlah besar menyebabkan akumulasi natrium hipoglikemi Hipoglikemia. dan anak-anak ≥ 6 tahun dengan DM yang memerlukan terapi insulin. Infeksi berat yang disebabkan oleh bakteri staphylococcus yang resisten terhadap metisilin 2. sel-sel endothelium pembuluh darah bocor diikuti oleh keluarnya molekul protein besar ke kompartemen interstisial.9% Novorapid Lantus Vancomycin dalam 100 NaCl 0. TERAPI Jenis Terapi NaCl 0. stoatitis eosinophilia. Digunakan dengan pengawasan ketat pada CHF. rekasi pada tempat injeksi. jarang reaksi alergi berat atau edema Hipersensitif terhadap Mulut pahit. subcutan Untuk dewasa. intravena Indikasi+Cara Kerja Resusitasi pada kondisi kritis.I. hipertensi. edema perifr. subcutan Terapi diabetes mellitus tipe 1 dan 2. intravena Indikasi: cc 1. remaja. retensi cairan. Cara kerja: memperlambat absorpsi makanan dan atau meningkatkan kebutuhan insulin 16 U. insufisiensi renal. insulin glargin gangguan visual temporer. ruam kulit. diikuti air dan elektrolit yang bergerak ke interstisial karena gradient osmosis 14 U.

Pasien yang tidak memberikan respon terhadap penisilin/ sefalosporin 4. per Antitusif. per Indikasi: oral Meringankan rasa sakit kepala. kehilangan nafsu lama) makan Asma bronchial. Kodein oral menyebabkan penurunan flek batuk dengan efek langsung pada pusat batuk di medulla otak dan meningkatkan trombositopenia. Infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme yang peka terhadap vancomycin Cara kerja: menghambat sintesis dinding sel bakteri dengan cara menghambat polimerasi glikopeptida melalui ikatan yang kuat kepada D-alanyl-D-alanyn pada prekusor dinding sel. pusing. terapi jangka perut. nyeri besar. 500mg/ 8 jam. sembelit. terutama pada . analgetik. vaskuliis. trauma kepala. peningkatan tekanan depresi pernafasan intracranial. menurnkan demam dan nyeri Cara kerja: Menghambat impuls/ rangsang nyeri di perifer dan menurnkan demam dengan cara menghambat pusat pengatur panas tubuh di hipotalamus 20 mg/ 8 jam. sakit gigi.Paracetamol Codein terhadap penisilin 3. Menimbulkan emfisema paru-paru. hipotensi ekstrimitas pada wajah dan bagian tubuh atas (berhubungan dengan infuse yang terlalu cepat) Gangguan fungsi hati Kerusakan hati (dosis berat. ketergantungan. mual. mual.

operasi saluran empedu depresi jantung dan syok .viskositas sekresi bronkial alkoholisme akut. pasca penderita asma.

Q: Tn. galns penis. Fisik tidak (gangrene fornier) bugar . glan penis. P: Tn. Ketergantungan pemenuhan kebutuhan ADL Hambatan (00085) Etilogi Agens injuri biologis (penurunan perfusi jaringan perifer. Tn.K mengatakan bahwa nyeri yang dirasakan di area scrotum. Tn.K mengatakan kalau nyeri yang dirasakan saat diam.K mengatakan kalau nyeri yang dirasakan terasa panas.K mengeluhkan susah tidur karena nyeri yang dirasakan c. Gangrene fornier di area scrotum. gangrene fornier) Mobilitas Fisik Nyeri. pelvis. paha kiri atas b. galns penis.K tampak meringis kesakitan Masalah Nyeri akut (00132) 2. cekit-cekit c. paha kiri atas Do: a. Rekam Medis Ruang Rawat : Tn. Ds: Tn. Posisi Tn. S: Nyeri skala 2 e. bergerak. paha kiri atas d.J.K : C511318 : Rajawali 6A No 1 Data Ds: a. pelvis. ANALISA DATA Nama Klien No. T: Tn. dan ditekan area luka (gangrene fornier) b. R: Tn.K menyatakan kalau nyeri timbul sewaktuwaktu Do: a.K mengatakan nyeri skala 2 di area scrotum. pegal.K selalu berbaring dengan pergerakan kai kiri sangat minimal d. pelvis.

K mengatakan kalu dirinya sudah memiliki sakit DM sekutar 1 tahun lalu Do: a. paha kiri atas Gangguan sirkulasi. pelvis.K mengatakan bahwa sudah terkena DM sekitar 1 (00044) tahun lalu Do: a. glans penis. Glukosa Puasa: 385 mg/dL b. glans penis.K hanya mampu tidur telentang Ds: Kerusakan integritas jaringan Tn. 1) Mandi. Gangren fornier di area scrotum. pus. glans penis. berpakaian. kemampuan ROM adalah 2 (dibantu orang lain) 2) Toileting 3 (dibantu orang lain dan alat) 3) Kemampuan berpindah dan berjalan 4 (tidak mampu) b. mobilitas di tempat tidur. terdapat jaringan nekrotik di pinggir luka area pelvic yang berwarna kehitaman Ds: Hiperglikemi Tn. Gangren fornier di area scortum. gangrene fornier . Kondisi gangrene terdapat keluaran cairan kekuningan. pelvic. sudah mulai tampak granulasipada area paha kiri atas dan pubis. pelvic. 4. Terdapat gangrene fornier di area scrotum. paha kiri atas c. Tn.3. paha kiri atas b.

Kaji faktor yang menyebabkan pemberian manajemen nyeri nyeri . dan pencetus b. Membantu dalam a. fisik tidak bugar (gangrene fornier) Hiperglikemia Tanggal Ditemukan 29 Desember 2014 Tanggal Teratasi 2 Januari 2015 29 Desember 2014 2 Januai 2015 29 Desember 2014 2 Januari 2015 29 Desember 2014 2 Januari 2015 L.K No. kualitas.K No. nyeri yang dirasakan berkurang/ tidak bertambah dan nyeri terkontrol dengan kriteria hasil: a. gangrene fornier Hambatan mobilitas fisik (00085) berhubungan dnegan nyeri. manajemen nyeri frekuensi. Membnatu menentukan nyeri kebutuhan manajemen b. INTERVENSI KEPERAWATAN Nama Klien : Tn. Membantu menentukan c. Skala nyeri Rencana Tindakan Rasional Pain Management (1400) a. 2. Rekam Medis : C511318 Ruang Rawat : Rajawali 6A Tanggal No. 3.K. gangrene fornier) Kerusakan integritas jaringan (00044) berhubungan dengan gangguan sirkulasi. 4. karakteristik. Observasi reaksi non verbal dari nyeri ketidaknyamanan c. Rekam Medis : C511318 Ruang Rawat : Rajawali 6A No 1. Kaji nyeri secara komprehenssif: menentukan kebutuhan lokasi. durasi. DIAGNOSA KEPERAWATAN Nama Klien : Tn. Diagnos Keperawatan Nyeri akut (00132) berhubungan dengan agens injuri biologis (penurunan perfusi jaringan perifer.Dx 29-12-2014 1 Tujuan dan Kriteria Hasil Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam .

Ajarkan teknik manajemen nyeri d. Lakukan dressing pada area mikroorganisme gangrene dengan NaCl 0. Tidak ada tandatanda infeksi b. Tnda-tanda vital dalam batas normal c. Evaluasi tindakan manajemen dalam proses nyeri. Tercapai proses penyembuhan luka c. dan granulasi kontaminasi b. a. b. Lakukan ganti balut penyembuhan luka d. Monitor karakteristik luka.95 ada pada luka sehingga mengurangi resiko infeksi Setelah dilakukan Exercise Therapy: Ambulation tindakan keperawatan (0221) selama 3x24 jam. Damping klien untuk berubah hambatan mobilitas fisik posisi berbaring menjadi miring dapat berkurang dengan kanan dan miring kiri Melatih kemampuan gerak pasien sebagai bentuk aktfiitas bertahap agar tidak terjadi kekakuan akibat tirah baring atau proses perawatan . Berikan posisi yang mengurangi d. cairan. untuk mencegah bau. jaringan nekrotik. Menentukan kondisi luka a. nyeri meingkatkan seksresi hormone endorphin yang meningkatkan perasaan nayamn. bahagia. Mengurangi resiko yang tekanan dapat memperburuk Infection Control (6540) kerusakan jaringan Kolaborasi pemberian vancomycin e. Nafas dalam non farmakologis: nafas dalam mempengaruhi gate control e. Mengurangi bakteri yang 1gr/ 12 jam dalam 100 cc NaCl 0. Menjaga kebersihan luka warna. Menjaga kebersihan luka pertahankan teknik steril untuk mempercepat c. dan relaks e. Tanda-tanda vital dalam batas normal d.29-12-2014 2 29-12-2015 3 berkurang dari 2 menjadi 1 atau tidak bertambah b. Kerusakan integritas jaringan teratasi dengan kriteria hasil: a. Membantu menentukan keefektifan program yang diberikan Wound Care (3660) a. Mampu melakukan teknik manajemen nyeri non farmakologis: nafas dalam untuk mengurangi nyeri Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam.9% dan c.

berpindah dari tempat tidur ke kursi.K mengatakan kalau masih nyeri apabila dibuat banyak Paraf Ade Ayu . berdiri. Dx 1 Jam 07. Damping klien untuk duduk di pinggir salah satu sisi tempat tidur/ kursi c. berjalan Hyperglicemia Management (2120) Asupan cairan yang baik a. berpindah. miring kiri. duduk. Tingkatkan asupan cairan d.K No. Damping klien dalam latihan berdiri. EVALUASI Nama Klien : Tn.Rekam Medik : C51138 Ruang Rawat : Rajawali 6A Tanggal 02-02-2015 No. Berikan injeksi lantus M. Sampaikan ulang hasil kadar gula darah pemeriksaan kadar gula darah kepada klien dan keluarga c.00 Evaluasi Sumatif S: a.29-12-2015 kriteria hasil: Mampu melakukan pergerakan mandiri miring kanan. IMPELEMENTASI N. Monitor kadar gula darah membantu menurunkan b. berjalan Setelah dilakukan tindakan keperawtaan selama 3x24 jam diharapkan kondisi hiperglikemia dapat distabilkan dengan kriteria hasil: GDS: 80-160 mg/dL 4 b. P: Tn.

Tn. Kaji nyeri secara komprehenssif: lokasi. suhu 36.30C b. tidak merasa demam O: a.K mengatakan bahwa dirinya sudah melakukan nafas dalam apabila nyeri O: a. nadi 80x/ menit. karakteristik. Tekanan Darah: 120/80 mmHg. kualitas. terdapat jaringan nekrotik berwarna kehitaman di tepi luka Ade Ayu . TD: 120/80 mmHg. Tn. RR: 20x/ menit. Pertahankan pelaksanaan relaksasi nafas dalam S: Tn.30C b.K mengatakan bahwa masih keluar rembesan. nadi: 80x/ menit. durasi. Tn. S: skala nyeri 2 e. R: Tn. RR: 20x/menit. Masih terdapat keluaran/ cairan berwarna kekuningan. suhu: 36. Q.K tampak tidur terlentang mengurangi pergerakan agar tidak terlalu nyeri A: Masalah teratasi 02-01-2015 2 07.gerak b.00 P: a.K mengatakan kalau nyeri dirasakan di sekitar paha kiri atas dan perut bawah d. T: nyeri muncul sewaktu-waktu f. frekuensi. dan pencetus nyeri b.K menyatakan kalau nyeri yang dirasakan seperti cekitcekit dan terasa kemeng c.

00 P: a.K bertahap untuk berdiri.00 07.K belum mampu berdiri.” Gulanya udah agak turun ya mbak dibandingin awal kemarin.K berkata.” O: GDS: 124 mg/dl Ade Ayu Ade Ayu . Tn.area perut dan paha kiri atas. Tn.K sudah bisa duduk sambil ongkang-ongkang kaki di pinggir bed pasien d. Kaji karakteristik luka b. Lakukan ganti balut dengan dressing NaCl 0. berpindah. Tn. Kolaborasi pemberian vancomycin 1gr/12 jam dalam 100 cc NaCl 0. dan berjalan S: Tn.K berkata.9% S: Tn.” O: a. sudah mulai tampak kemerahan pada beberaapa bagian di paha kiri atas dan perut bawah A: Masalah belum teratasi 02-01-2015 02-01-2015 3 4 07. dan berjalan A: Masalah belum teratasi P: Pertahankan aktifitas pada Tn. Tn.K sudah bisa miring kanan dan miring kiri dengan dibantu keluarganya b.9% c. pelan-pelan digerakin bisa mbak.”Iya mba. berpindah.K sudah bisa melakukan duduk dibantu keluarganya c.

K b.K .A: Masalah tertasi P: a. Monitor kadar gula darah Tn. Tingkatkan asupan cairan Tn.

4.K mengatakan kalau nyeri yang dirasakan terasa panas. berpakaian.K mengatakan bahwa sudah terkena DM sekitar 1 tahun lalu 2. paha kiri atas Tn. Nyeri (P: Tn. T: Tn. pelvis. Toileting 3 (dibantu orang lain dan alat) c. Glukosa Puasa: 385 mg/dL Berdasarkan data-data tersebut. R: Tn.K mengatakan kalau nyeri yang dirasakan saat diam. 6. Kemampuan berpindah dan berjalan 4 (tidak mampu) 8. S: 3. dan ditekan area luka (gangrene fornier). cekit-cekit. Kerusakan integritas jaringan (00044) berhubungan dengan gangguan sirkulasi. Nyeri skala 2. Kondisi gangrene terdapat keluaran cairan kekuningan.K hanya mampu tidur telentang 9. pegal. pus.BAB IV PEMBAHASAN Tn.K mengatakan bahwa nyeri yang dirasakan di area scrotum. Hasil pengkajian didapatkan data berupa: 1. gangrene fornier) 2. galns penis. mobilitas di tempat tidur. Tn. paha kiri atas. glan penis. Nyeri akut (00132) berhubungan dengan agens injuri biologis (penurunan perfusi jaringan perifer.K selalu berbaring dengan pergerakan kaki kiri sangat minimal Tn. terdapat jaringan nekrotik di pinggir luka area pelvic yang berwarna kehitaman 10.K tampak meringis kesakitan Ketergantungan pemenuhan kebutuhan ADL a. gangrene fornier . Tn. bergerak. pelvis. sudah mulai tampak granulasipada area paha kiri atas dan pubis.K sudah dirawat di Rajawali 6A sejak tanggal 14 Desember 2014 setelah menjalani operasi berupa debridement. Tn. 5. Q: Tn.K mengeluhkan susah tidur karena nyeri yang dirasakan Posisi Tn. didapatkanlah 4 diagnosa keperawatan yaitu 1. kemampuan ROM adalah 2 (dibantu orang lain) b.K menyatakan kalau nyeri timbul sewaktu-waktu Gangrene fornier di area scrotum. Mandi. 7.K adalah seorang laki-laki berusia 47 tahun dengan diagnosa medis DM tipe II dan gangrene fornier.

Teknik nafas dalam apabila dilakukan secara benar akan menghambat impuls nyeri dengan mekanisme gate control dan bisa melepaskan hormone endorphin pada tubuh seseorang yang melakukan sehingga orang tersebut merasakan kenyamanan.K sangat sedikit melakukan pergerakan dan . Diagnosa keperawatan yang ketiga adalah hambatan mobilitas fisik.9% Compress for Wound Lead Process Post Operation In Anggrek III Room RSUD DR.T).K menggunakan dressing NaCl 0.S. Hiperglikemia Diagnosa keperawatan pertama dengan masalah nyeri diberi tindakan berupa pengkajian nyeri (P. fisik tidak bugar (gangrene fornier) 4.Q. tidak iritan.. glans penis. Perawatan luka yang dilakukan pada gangrene fornier Tn. Hambatan mobilitas fisik (00085) berhubungan dnegan nyeri. paha kiri atas. mengobservasi rekasi non verbal nyeri karena salah satu penanda secara ojektif seseorang mengalami sensasi nyeri bisa terlihat dari raut wajah (sumber). Selama implementasi 3 hari didapatkan bahwa nyeri tetap pada skala 2 dan Tn.9%.3. kebahagiaan. Larutan NaCl adalah cairan fisiologis yang tidak membahayakan jaringan luka. Tn.R.95 mencapai 88.9%.9%. larutan isotonis yang aman untuk tubuh. melindungi granulasi jaringan dari kondisi kering.). perasaan tersebut bisa mengurangi sensasi nyeri yang sedang dirasakan. dan merasa relaks.K mengalami hambatan mobilitas fisik karena kondisi fisiknya sedang tidak bugar ditandai dengan adanya gangrene fornier meliputi area scrotum. mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam sebagai bentuk manajemen nyeri secara non farmakologis. membantu luka menjalani proses penyembuhan. Diagnosa keperawatan yang kedua dengan masalah gangguan integritas jaringan dilakukan suatu implementasi berupa perawatan luka dan pencegahan infeksi dengan kolaborasi pemberian vancomycin 1gr/ 12 jam dalam 100cc NaCl 0. Kondisi ini membuat Tn.K sudah mampu melaksanakan teknik manajamen nyeri nafas dalam setiap merasakan sensasi nyeri. pelvis. Moewardi Surakarta” didapatkan bahwa proses penyembuhan luka dengan kompres NaCl 0. Menurut jurnal “Difference Effect Of Antibiotic Topical and NaCl 0.9% dan kompres NaCl 0. (tambahin sumber + argument yaa yu.

suatu tindakan berupa latihan mobilisasi secara bertahap perlu dilakukan pada Tn. Oleh karena itu. Mobilisasi bertahap tujuan fungsi bagi klien tirah baring…(jurnal) Diagnosa keperawatan yang keempat adalah hiperglikemi. Implementasi yang diberikan adalah monitoring kadar gula darah dan peningkatan asupan cairan.K.K yang lebih sering dalam posisi tirah baring agar tidak terjadi kekakuan sendi. akan menyebabkan kekakuan pada tubuh Tn. Apabila kondisi ini terus dilanjutkan selama proses perawatan yang mungkin memiliki waktu yang lama.aktifitas. Asupan cairan yang baik bisa membantu menurunkan kadar gula darah (jurnal or teori) .