You are on page 1of 1

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia dapat merasakan nyeri ketika mengalami sakit kronis,
infeksi, pembedahan maupun intervensi medis lainnya. Menurut International
Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah sensori subyektif dan
emosional

yang

tidak menyenangkan

yang

didapat

terkait

dengan

kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisi
terjadinya kerusakan. Obat atau senyawa yang dipergunakan

untuk

mengurangi rasa sakit atau nyeri tanpa menghilangkan kesadaran disebut
analgetik. Analgetik dikelompokkan menjadi 2 yaitu analgetik opioid dan
OAINS/ NSAIDs. NSAIDs yang paling banyak digunakan dalam farmasi
adalah ibuprofen.

Seperti

semua

NSAIDs

non-selektif, menghambat

cyclooxygenase (COX) tipe I dan II dan sekunder juga platelet agregasi.
Untuk intervensi dengan peningkatan risiko hemoragik (tonsilektomi, luka
besar daerah dan lain-lain) dan pada pasien dengan perdarahan kecenderungan
penilaian risiko-hati diperlukan (Anonymous, 2008).
Ibuprofen merupakan derivat asam fenil propionat yang banyak
digunakan ebagai obat anti inflamasi non steroid, analgetik, dan antipiretik
(Eichie,

dkk,

2009).

Ibuprofen merupakan inhibitor non selektif

cyclooxigenase (COX) yang dapat menghambat enzim COX 1 dan COX 2.
Enzim COX 2 diduga bertanggung jawab untuk efek anti inflamasi NSAIDs,
edangkan enzim COX 1 bertanggung jawab untuk toksisitas gastrointestinal
(Neal, 2006).
Ibuprofen merupakan derivat asam propionat yang bersifat
analgesik kuat, antipiretik, dan daya anti inflamasi yang tidak terlalu kuat.
Ibuprofen bekerja dengan menghambat enzim yang berperan dalam produksi
prostaglandin. Prostaglandin adalah senyawa yang dilepaskan tubuh yang
menyebabkan

inflamasi

dan

rasa

sakit dengan menghalangi

produksi

prostaglandin, ibuprofen mengurangi inflamasi dan rasa sakit. Ibuprofen
1