You are on page 1of 16

Menurut Suwitra (2014) penatalaksanaan gagal ginjal sebagai berikut

:
Tabel 2.3
RENCANA TATALAKSANA PENYAKIT GINJAL KRONIK
Derajat
1

SESUAI DENGAN DERAJATNYA
LFG (ml/mn/1.73m2)
Rencana Tatalaksana
≥90
Terapi penyakit dasar, kondisi
komorbid, evaluasi perburukan
(progression) fungsi ginjal,

2

60 – 89

memperkecil kardiovaskular
Menghambat perburukan ginjal

3
4

30 – 59
15 – 29

(progression) fungsi ginjal
Evaluasi dan terapi komplikasi
Persiapan untuk terapi pengganti

5

< 15 atau dialisis

ginjal
Terapi pengganti ginjal

Hudak and Gallo et al (2014) penatalaksanaan gagal ginjal kronik adalah
sebagai berikut:
1. Penatalaksanaan gangguan kardiovaskular
Gangguan di sistem kardiovaskular dapat menyebabkan atau mempercepat
gagal ginjal akut dan kronis. Selain itu, komplikasi kardiovaskular dapat muncul
sebagai akibat gagal ginjal. Komplikasi kardiovaskular yang yang sering terjadi
pada gagal ginjal akut dan kronis mencakup hipertensi dan hiperkalemia.
Komplikasi lain yang sering di jumpai adalah perikarditis.
a. Hipertensi
Hipertensi merupakan komplikasi gagal ginjal yang disebabkan retensi air dan
natrium yang berlebihan, aktivitas sistem saraf simpatis yang berlebihan, dan
rangsangan sistem renin-angiotensin-aldosteron. Karena pengendalian tekanan

Ketika GFR menurun. Melawan efek kalium pada jantung dapat dicapai dengan kalsium glukonat atau . dan resin yang mengikat kalium (natrium polistirena sulfat). Dan membuang kalium dari tubuh. asidosis. Natrium polistirena diberikan secara per oral (25 sampai 50 g dicampur dengan 100 ml sorbito 20%) atau sebagai enema (50 g dalam 50 ml sorbitol 70% dan 150 ml air biasa). terapi antihipertensi. dan transfusi darah. Natrium polistirena tidak boleh digunakan pada pasien dengan obstruksi pencernaan. terapi yang adekuat sangat penting. Jika tidak dikenali dan diobati. kemampuan ginjal untuk mengekskresikan kelebihan kalium berkurang. semuanya dapat meningkatkan kadar kalium serum. Hiperkalemia ringan (kadar kalium serum <6 mEq/L tanpa perubahan EKG) dapat diatasi dengan pembatasan kalium dalam diet. Obat ini harus digunakan dengan hati-hati pada pasien yang sakit kritis dan hemodinamiknya tidak stabil karena asosiasinya dengan nekrosis kolon. Pada pasien yang sakit kritis. diuretik.darah sangat penting untuk mencegah kerusakan terminal serabut saraf dan mengurangi risiko serangan kardiovaskular yang membahayakan jiwa. cedera selular. pemberian obat-obatan yang berbahan dasar kalium. Pengobatan hiperkalemia yang berat membutuhkan dilakukannya upaya melawan efek kalium pada jantung. Penatalaksanaan dapat mencakup pembatasan cairan dan natrium. b. hiperkalemia dapat menyebabkan aritmia yang mematikan. pemberian diuretik. kerusakan ginjal sering kali dengan status peningkatan katabolisme. dan dialisis untuk membuang cairan yang berlebihan. Hiperkalemia Hiperkalemia adalah keadaan yang membahayakan yang dijumpai pada pasien yang menderita gagal ginjal akut dan kronis.

Memberi penyuluhan kepada pasien dan mendorong tindakan mengeluarkan sputum. dan menggunakan diuretik jika ginjal pasien dapat meresponnya. Penatalaksanaan Gangguan Paru Komplikasi yang sering dialami pasien yang menderita gagal ginjal akut oliguria atau ERSD adalah terjadinya edema paru. keadaan daya tangkap imun rendah seluruh tubuh. atau keduanya. Faktor yang terkait dengan gagal ginjal yang berperan pada infeksi paru mencakup penurunan aktivitas makrofag paru. Komplikasi paru lain pada gagal ginjal adalah efusi pleura. Inflamasi pleuritik dan pneumonitis uremik lebih sering dijumpai pada ESRD dan disebabkan oleh efek toksin uremik pada paru dan dialisis yang tidak adekuat. 3. sputum kental. Edema paru sering kali membahayakan jiwa. dialisis segera. dan infeksi paru. Terapi β-antagonis juga dapat menimbulkan perpindahan kalium transelular. Penatalaksanaan mencakup pembatasan cairan dan natrium. mengharuskan intubasi. 2. Komplikasi ini terjadi akibat kelebihan beban cairan. Penatalaksanaan Gangguan Pencernaan . pneumonitis uremik.klorida. dan penurunan reflek batuk. untuk mengatasi penyakit jantung. Infeksi paru umumnya terjadi pada gagal ginjal akut dan kronis. Penatalaksanaan kolaboratif mencakup biakan sputum. Cara untuk memindahkan kalium ke dalam sel meliputi pemberian dekstrosa dan insulin dan pemberian bikarbonat. khususnya pada pasien yang sakit kritis. Perpindahan intraselular kalium dilakukan kemudian untuk menjembatani celah sampai dapat dilakukan pembuangan kalium dari tubuh. atau keduanya untuk memperbaiki oksigenasi arteri dan memulihkan keseimbangan cairan. gagal jantung. memberi antibiotik spektrum luas sampai didapatkan sensitivitas spesifik organisme. inflmasi dan nyeri pleuritik.

atau keduanya.Komplikasi pencernaan yang berpotensi membahayakan jiwa pada gagal ginjal akut dan kronis adalah perdarahan pencernaan. Komplikasi konstipasi seringkali dijumpai pada . Masalah mulut dan gejala anoreksia. konstipasi. mual. pemakaian antikoagulan yang berhubungan dengan dialisis. Penatalaksaan kolaboratif mencakup memulai (atau memberikan) dialisis yang adekuat dan memberi anti etemik. meminum obat yang mengiritasi (NSAID. tipe 2. aspirin). hemoglobin. Jika perdarahan pencernaan diduga terjadi. Amonia bersifat iritatif pada permukaan mukosa. Untuk perdarahan pencernaan yang berkaitan dengan gagal ginjal meliputi kelainan pembekuan darah dan trombosit. dan memperhatikan dengan seksama terhadap tanda deplesi volume intravaskuler. muntah. Pengkajian meliputi pemeriksaan darah makrospik atau mikroskopik dalam seperti muntah dan feses. dan gangguan rongga mulut seperti stomatitis. namun seringkali mencakup pemulihan volume dengan kristaloid dan produk darah serta pemberian penyekat reseptor histamin (H 2). dan fetor uremikus (nafas bau urine dan amonia). rasa logam dimulut. mual dan muntah sebagian menghubungkan dengan tingginya kadar toksin uremik. dan peningkatan produksi amonia disaluran pencernaan akibat pemecahan urea. yang mempengaruhi mukosa usus dan merangsang pusat muntah diotak. diare. hematokrit dan indeks sel darah merah. Penatalaksaan bergantung pada lesi spesifik. Hygene oral yang baik juga sangat penting. pemeriksaan radiografik dan endoskopik seringkali dibutuhkan untuk menegakan diagnosis dan mengatasi lesi spesifik. inhibitor pompa proton. Komplikasi pencernaan lain yang tekait dengan gagal ginjal terutama terjadi pada gagal ginjal kronis dan meliputi anoreksia. pemantauan zat besi.

khususnya pada malam hari. seperti kesulitan berkonsentrasi dan kerusakan ingatan jangka pendek. yang meliputi sindrom restless leg dan sindrom kaki terbakar. sehingga tidak boleh digunakan. Komplikasi neuromuskular ini khususnya dikaitkan dengan ESRD dan dianggap akibat ketidakseimbangan elektrolit. iritabilitas otot. asidosis metabolik. Pengkajian ganguan kognitif. Gangguan proses kognitif. Penatalaksanaan Gangguan Neuromuskular Gangguan neuromuskular mencakup gangguan tidur. 4. Selain . Edema serebral yang ekstensif dapat menyebab kejang. termasuk karakteristik sperti magnesium sitrat. pemberian laksatif pembentuk masa. dan bahkan koma dan kematian. enema flet. letargi. Penatalaksaan kolaboratif mencakup peningkatan serat dalam diet. muntah proyektil. pelunak feses. dan neuropati perifer. harus dihindari karena akan menyebabkan resiko hipermagnesemia pada pasien. Selain itu.pasien yang menderita gagal ginjal akibat penurunan serat dan cairan dalam diet dan pemberian suplemen zat besi oral dan pengikat pospat yang berbahan dasar kalsium. gangguan proses kognitif. dan efek toksin uremik di saraf motorik dan sensorik. Sindrom restless leg ditandai dengan ketidaknyanan di tungkal. aktivitas kejang. yang kadang kala mereda dengan gerakan ekstermitas yang terus menerus. dikaitkan dengan peningkatan BUN dipembuluh darah otak. Sindrom kaki terbakar terdiri atas parestesia dan kebas di telapak kaki dan bagian tungkai bawah. obat-obatan yang mengandung magnesium. Untuk pasien yang menderita ESRD. dan pemberian anti diare. yang dapat mengakibatkan edema serebral. dan gangguan neorumuskular lain dengan sering sangat penting. Diare juga dapat terjadi sebagai hasil iritasi usus akibat uremia. yang mengandung fosfat dalam jumlah besar dapat diabsorbsi secara sistemik.

seperti diabetes. seperti pada kasus aktivitas kejang menetap. Poin khusus yang perlu disertakan selama penyuluhan pasien adalah pentingnya pencegahan cidera pada ekstremitas akibat panas atau trauma pada saat parestesia terjadi dan bahwa gangguan pada fungsi neuromuskular seringkali membaik dengan dialisis teratur atau transplantasi. menggunakan dialisis secara teratur dan memberikan penyuluhanyang ekstensif pada pasien. dapat digunakan. Gangguan ini mencakup peningkatan kecendrungan perdarahan. memelihara kesimbangan elektolit. a. dan konsumsi protombin. sering disertai dengan penguatan material dan harus melibatkan keluarga sesering mungkin. Namun. Kecenderungan peningkatan perdarahan Peningkatan kecenderungan perdarahan pada gagal ginjal dihubungkan dengan penurunan faktor pembekuan. Gangguan ini dianggap disebabkan oleh uremia. gangguan sistem imun dan anemia. termasuk elektroensefalogram (EEG) dan CT kepala.pemeriksaan neuromuskular yang seksama. Gangguan kognitif yang dihadapi penting untuk diingat selama penyuluhan pasien. Penatalaksaan Gangguan Hematologis Gangguan hematologis adalah komplikasi utama pada gagal ginjal akut dan kronis. Karena kesulitan dalam konsentrasi dan gangguan ingatan jangka pendek. Pengkajian meliputi . hal ini tidak berlaku jika komponen neuropati pasien disebabkan oleh kondisi penyerta lain. Penatalaksaan kolaboratif melibatkan implementasi terapi kedaruratan. gangguan agregasi dan pelekatan trombosit. 5. pemeriksaan konduksi saraf dan pemeriksaan diagnostik. namum mekanisme patofisiologis pastinya tidak diketahui. mengoreksi asidosis metabolik. masalah mungkin hanya berespon minimal terhadap dialisis atau transplantasi ginjal.

dan gangguan fagositosis. Efek ini mencakup. khusus perdarahan pencernaan. Terkait suhu sebagai pengukur adanya infeksi. Melepas kateter invasif sesegera mungkin (atau menghindari pemakainannya secara bersamaan). pemeriksaan koagulasi.pemantauan hitung trombosit dan masa perdarahan. diantara efek yang lain. Satu kemungkinan komplikasi serius dari heparin adalah trombositopenia akibat heparin terjadinya komplikasi ini mengharuskan dihentikannya obat tersebut. penurunan kekebalan yang dimediasi sel T dan antibodi. dan penurunan opsonisasi bakteri. suhu tubuh dasar pada pasien yang uremik turun dan oleh sebab itu adanya peningkatan suhu diatas nilai dasar adalah bermakna. dan efek uremia pada sel darah putih. Pada kasus tersebut. penurunan kemotaksis sel darah putih. efek obat-obatan ini pada trombosit harus dipantau dengan ketat. melindungi pasien dari cidera dan menghindari dari obat-obatan yang mengganggu fungsi trombosit. b. Gangguan sistem imun Pasien gagal ginjal berada dalam keadaan daya tanggap imun rendah. yang mengatur tahapan infeksi (penyebab utama kematian pada gagal ginjal akut dan kronis). Gangguan sistem imun dianggap disebakan oleh malnutrisi. Penatalaksaan kolaboratif mencakup mencuci tangan dengan sering. penurunan protein komplemen. Penatalaksaan kolaboratif mencakup pemberian produk darah sesuai kebutuhan. Pengkajian apakah ada infeksi pada pasien dan pemantauan indikator laboratorium akan infeksi harus dilakukan secara terus-menerus. dan pengkajian apakah ada perdarahan. dan . Sering kali heparin (untuk dialisis) dan aspirin (untuk pencegahan infark miokard) diindikasikan pada pasien yang menderita gagal ginjal. seperti NSAID dan aspirin.

mal fungsi dialiser . c. yang berada dengan masa hidup normal sel darah merah selama 120 hari pada populasi ini. Mekanisme pasti terjadi hemolisis belum jelas. Penurunan masa hidup sel darah merah pada gagal ginjal terjadi dalam bentuk hemolisis ringan. Anemia Anemia yang dikaitkan dengan gagal ginjal dapat dihubungkan dengan tiga mekanisme utama: defisiensi eritropoietein. Ini adalah glikoprotein yang merangsang produksi sel darah merah sebagai respons terhadap hipoksia dan penting untuk mempertahankan hitung sel darah merah normokromik normositik. dan kehilangan darah akibat peningkatan kecenderungan perdarahan. Sebelumnya ada poroduksi eritropoietin melalui tekhnik rekombinan manusia. Selain tiga mekanisme anemia yang disebutkan sebelumnya. defisiensi hormon ini menyebabkan sebagian besar pasien yang menderita gagal ginjal kronis berada dalam keadaan anemik berat yang membutuhkan transfusi darah dengan sering. Lebih dari 90% eritropoitein hormon dihasilkan di ginjal. pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan laboratorium yang sering. namun dapat dikaitkan dengan terapi dialisis atau efek uremia pada sel darah merah. Dari mekanisme ini. Contohnya adalah malnutrisi. faktor lain dapat berkontribusi menyebabkan anemia pada pasien yang menderita gagal ginjal. penurunan masa hidup sel darah merah. defisiensi eritropoitein mempunyai efek yang paling sering. khususnya mereka yang sakit kritis. Masa hidup rata-rata sel darah merah pada penderita uremia hanya 70 hari.mengambil biakan darah dan cairan tubuh lain yang mungkin terinfeksi untuk mengidentifikasi organisme spesifik dan menentukan terapi anti mikroba yang tepat.

dan kemampuan kerja. induk sel darah merah. piridoksin dan vitamin B12. diantaranya adalah peningkatan kemampuan darah mengangkut oksigen. Akhirnya. mengkaji apakah ada tanda dan gejala anemia (yaitu . Riwayat dan pemeriksaan fisik yang menyeluruh melibatkan menanyakan pada pasien mengenai tempat yang berpotensi mengalami perdarahan (misalnya dengan warna feses).dan lepasnya darah dalam dialiser. kemampuan mengikat zat besi total. hematokrit. Parameter metabolik diagnostik yang harus di pantau mencakup hemoglobin. dan hitung retikulosit. energi. semuanya yang memengaruhi produksi sel darah merah harus dipantau. feses atau muntahan harus diperiksa apakah mengandung darah mikroskopik. Pemeriksaan zat besi juga perlu diambil karena defisiensi zat besi itu sendiri dapat menyebabkan anemia dan karena simpanan zat besi yang adekuat di butuhkan agar eritopoietin bekerja efektif. Diagnosis anemia membutuhkan pemeriksaan diagnostik dan riwayat dan pemeriksaan fisik yang menyeluruh. anemia memperburuk iskemia miokard. dan keadaan infeksi. peningkatan volume intravaskular. Menangani anemia pada pasien yang menderita gagal ginjal sangat penting untuk berbagai alasan yang berbeda. dan pencegahan konsekuensi negatif anemia pada sistem kardiovaskular. termasuk peningkatan selera makan. dan perifer dan meningkatkan risiko terjadinya (atau mempercepat) LVH. Selain itu. dan kadar feritin serum. Indeks zat besi spesifik yang harus didapatkan mencakup zat besi serum total. serebral. Mengoreksi anemia juga telah ditunjukkan mempunyai dampak positif isu kualitas hidup pada pasien yang menderita gagal ginjal. nutrisi dan kadar asam folat. Berkenaan dengan sistem kardiovaskular.

hiperparatiroidisme. toksisitas alumunium. Beberapa poin tertentu mengenai eritropoitin dan penatalaksanaan anemia layak mendapatkan perhatian khusus. Selain itu. atau keduanya.angina. Tujuan dan panduan untuk mencapai kadar tersebut di perinci dalam panduan National Kidney Foundation Dialysis Outcomes Quality Initiative (NKF-DOQI) mengenai anemia. Penatalaksanaan kolaboratif anemia mencakup meminimalkan kehilangan darah. keletihan). memberikan suplemen zat besi oral atau IV. takikardia. dan mengkaji apakah ada penyakit lain yang dapat menyebabkan anemia (misalnya lupus. dan kadar hemoglobin 11 sampai 12 mg/dl. status inflamotorik. kadar feritin serum lebih dari 10 mg/ml. penurunan nafsu makan. pucat dikulit dan membran mukosa. malnutrisi. modifikasi terapi antihipertensi dapat dibutuhkan. penurunan tingkat energi. diindikasikan pemberian darah. memberikan suplemantasi vitamin. Hal ini dapat menyebabkan infeksi samar. pemberian eritropoietin dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah. Ketika terdapat respon yang tidak adekuat terhadap eritropoietin meski terdapat peningkatan dosis. mengatasi infeksi dengan agresif. mengkaji sumber kehilangan darah. anemia sel sabit). defiensi zat besi. produk darah. penurunan berat badan. Pada beberapa kasus. alasan resistensi terhadap pemberian eritropoietin perlu di kaji. Tujuan terapi besi dan pemberian eritopoietin pada populasi ESRD adalah saturasi transferin lebih besar dari 20%. dan . memastikan nutrisi yang adekuat. dan memberikan eritropoietin. karenanya pasien yang menderita anemia berat. mengkaji apakah ada inflamasi atau infeksi. Salah satuya adalah efek penuh eritropoietin membutuhkan beberapa minggu untuk terwujud.

kemungkinan penyebab dan tanda dan gejala perburukan anemia. penyesuaian dosis obat. kadang kala reaksi yang membahayakan jiwa. Informasi mengenai tindakan untuk mengurangi perdarahan. dan informasi tentang teknik penghematan energi. interval antara dosis obat. 6. kewaspadaan saat memberikan obat-obatan pada pasien yang menderita gagal ginjal harus sangat di perhatikan. antasid. khususnya pada ginjal akut adalah bahwa GFR sering kali tidak stabil. atau keduanya mungkin perlu dilakukan. dan karenanya GFR harus dipantau dengan sering agar dapat menetapkan dosis obat-obatan yang benar. semuanya bisa diresepkan untuk pasien yang menderita gagal ginjal. Bergantung pada GFR pasien. Penatalaksanaan Gangguan Eliminasi Obat Karena banyak agens farmakologis. atau keduanya diekskresikan oleh ginjal. Untuk pasien yang menjalani dialisis. penyakit H 2. metaboliknya. Seperti pada pasien tanpa gagal ginjal. pemantauan kadar serum obat-obatan tertentu guna meyakinkan obat tersebut dalam kisaran terapi sangat penting. waktu suplemen besi. Salah satunya adalah besi per oral diabsorbsi dengan buruk jika diminum bersama dengan pengikat fosfat. Kewaspadaan penting mengenai preparat zat besi juga perlu dilakukan. seperti pemakaian sikat gigi yang lembut dan menghindari NSAID. Di sisi lain. Penyuluhan pasien yang ekstensif mengenai anemia sangat pnting.keganasan di sumsum tulang. besi per IV mempunyai biovailabilitas yang lebih baik namun menimbulkan risiko alergi. Yang perlu diperhatikan. atau inhibitor pompa proton. tim perawatan kesehatan harus mewaspadai obat mana saja . Informasi tentang terapi obat-obatan. juga membantu.

Ketika produk tersebut melebihi 70 mg/dl. dan kulit. Hal ini menimbulkan penurunan kadar serum kalsium terionisasi karena mebgikat kalsium dengan fosfat. mata. Penatalaksanaan Gangguan Skeletal Pada gagal ginjal. kristal fosfat kalsium dapat terbentuk dan terbentuk di berbagai bagian tubuh (suatu kondisi yang disebut sebagai klasifikasi metastasis). yang diperlukan untuk absorbsi adekuat kalsium di usus. kadar keduanya dalam serum naik secara bersamaan. yang meliputi otak. seiring dengan rearbsorbsi kalsium dan fosfat yang terus menerus dari tulang. yang menyebabkan reabsorbsi kalsium dan garam fosfat dari tulang. paru. Seiring dengan penurunan GFR. filtrasi fosfat di glomerulus juga berkurang dan kadar fosfat serum mulai naik. Akhirnya. PTH juga menyebabkan reabsobsi kalsium dan ekskresi fosfat di ginjal. 7. Sebagai respon terhadap penurunan kadar kalsium terionisasi. Namun. kelenjar paratiroid mensekresi hormon paratiroid (PTH). gusi. Gangguan lain pada tulang yang dapat terjadi pada penyakit ginjal . seiring dengan perburukan gagal ginjal. pembuluh darah. gangguan keseimbangan kalsium dan fosfat terjadi dini dan muncul sebelum terjadinya hiperparatiroidisme dan penyakit tulang (osteodistrofi ginjal). katup jantung. Keadaan ini meningkatkan kadar kalsium serum namun terjadi pada penurunan densitas dan massa tulang. efek PTH ini tidak disadari. sendi. miokardium. Kadar kalsium juga berkurang akibat gagalnya kemampuan ginjal untuk mengubah vitamin D menjadi bentuk aktifnya (dihidroksikolekalsiferol atau vitamin D).yang didialisis keluar selama terapi untuk memastikan waktu pemberian obat yang tepat. Hal ini menyebabkan peningkatan produk fosfat-kalsium normal sebanyak 40 mg/dl.

suatu kondisi pengalihan tulang yang rendah. dan sevelamer hidroklorida. Kalsifikasi metastatik dapat menyebabkan kalsifikasi pembuluh darah dan katup. pseudogout akibat penumpukaan kalsium oksalat di cairan sinovial. Suatu analog sintetik vitamin D yang dapat juga digunakan adalah parikalsitol (zemplar). dan pengendalian asidosis metabolik. vitamin D aktif juga secara langsung menghambat sekresi PTH dengan mengikat reseptor vitamin D di kelenjar paratiroid. periatritis akibat klasifikasi sendi. Secara umum vitamin D aktif harus diberikan hanya saat produk kalsium-fosfat kurang dari 65 mg/dl. Pemberian agen tersebut harus dengan hati-hati untuk menghindari hiperkalsemia dan peningkatan produk kalsium-fosfat. lesi kulit. pencegahan toksisitas alumunium. Tindakan untuk mengendalikan kadar fosfat yang biasa digunakan adalah kalsium asetat. dan pruritus. Obat ini mempunyai keuntungan yaitu menimbulkan peningkatan kadar kalsium dan fosfat . Osteomalasia dipercaya disebabkan oleh penumpukan alumunium di tulang. sindrom mata merah akibat penumpukkan kristal di konjungtiva dan yang paling serius adalah ulkus iskemik.diantaranya adalah demineralisasi tulang sebagai respon terhadap asidosis metabolik dan osteomalasia. Suplemen vitamin D aktif diberikan untuk meningkatkan kadar kalsium serum pada pasien yang mengalami hipokalsemia serta untuk mengurangi sekresi PTH. Komplikasi yang disebabkan oleh penyakit tulang di ginjal mencakup nyeri tulang. fraktur. kalsium karbonat. Selain menyebabkan penurunan PTH secara tidak langsung melalui peningkatan kalsium serum. Penatalaksanaan terdiri atas pengaturan fosfat. Vitamin D aktif dapat diberikan secara oral (kalsitriol) atau secara intravena. suplementasi kalsium dan vitamin D aktif (kalsitriol).

Beberapa area tertentu yang harus disertakan adalah tujuan dan waktu pemberian obat-obatan (pengikat fosfat harus diberikan dengan makanan agar efektif). 8. pruritus. Penatalaksanaan kolaboratif untuk gangguan kulit mencakup pengaturan fosfat. terapi dialisis juga dapat memperburuk sebagian keadaan pruritus. purpura dan pemucatan kulit. Faktor kontributor pada gangguan ini adalah anemia. Namun. Penatalaksanaan Gangguan Kulit Gangguan sistem integumen pada gagal ginjal meliputi kerosis (kekeringan). hiperparatiroidismia. kerena kemungkinan alergi terhadap komponen sistem dialisis. obat-obatan antihistamin. suatu zat berbentuk bubuk dan berwarna putih yang tersusun atas urat di kulit. Jarang terjadi. penurunan aktivitas kelenjar keringat dan sebasea. ketidaknyamanan dan gangguan psikologis pada pasien dapat terjadi akibat kerusakan kulit. pemberian vitamin D aktif. terbentuk akibat kristalisasi urea. modifikasi diet. penumpukan kristal kalsium fosfat di dalam kulit. dan peningkatan aktivitas sel mast dan sekresi histamin. Penyuluhan pasien berkenaan dengan penyakit tulang dan penatalaksanaannya bersifat kompleks dan perlu diperkuat secara terus menerus. Selain itu. anemia. Bekuan uremik. paratiroidektomi diindikasikan untuk menangani hiperparatiroidisme yang tidak responsif terhadap terapi lain. pembekuan darah abnormal dan kerapuhan kapiler. Komplikasi yang perlu diperhatikan pada gangguan kulit ini terutama pruritus dan kerosis (infeksi terlokalisasi akibat eksoriasi). dan komplikasi pada penyakit tulang yang tidak di obati. retensi pigmen kulit. Terapi dialisis juga membantu membuang produk sisa metabolik. Penyuluhan pasien harus mencakup informasi . ekimosis. dan perawatan kulit yang baik mencegah untuk kerusakan kulit.serum lebih kecil sementara tetap menimbulkan penekanan PTH.

sebagian besar diet tersebut harus atas kombinasi karbohidrat dan lipid. Pembatasan diet yang berhubungan dengan mengatasi penyakit penyerta dan mengurangi resiko kardiovaskular juga perlu dipertimbangkan. Pada pasien yang mengalami oliguria.5 g/kg/hari. yang membuat pasien tersebut berisiko mengalami malnutrisi. Pada pasien yang sakit kritis. elektrolit. Asupan Diet Tujuan terapi nutrisi pada gagal ginjal adalah meminimalkan gejala uremik.mengenai faktor yang berperan pada gangguan kulit. Pembatasan protein pada pasien yang tidak menjalani dialisis sebanyak 0. Selain itu asam amino baik esensial maupun nonesensial harus diberikan untuk meminimalkan katabolisme. dan asam basa. pasien yang sakit kritis dengan gagal ginjal membutuhkan diet kalori dengan total 30 sampai 40 kkal/kg/hari. sedangkan pada pasien yang menjalani dialisis sebanyak 1. Secara kalori. meminimalkan gejala anemia. dan kalsium. Pembatasan protein untuk untuk mengurangi gejala uremia dan perburukan gagal ginjal. nutrisi parenteral perlu diberikan karena gangguan fungsi usus atau malnutrisi berat.8 g/kg/hari. Penyusun program diet ginjal mencakup pembatasan asupan cairan. vitamin. mengurangi ketidakseimbangan cairan. kalium. dan cara-cara untuk menghindari eksoriasi. Pembatasan protein tidak boleh mengganggu pemenuhan anabolik. pentingnya memelihara kebersihan kulit dan jaga kelembapan kulit. TABEL 2. natrium. kebutuhan volume per jam yang tinggi yang dibutuhkan untuk nutrisi parenteral sering kali harus diseimbangkan dengan dialisis atau hemofiltrasi terpisah. 9. dan membatasi katabolisme. fosfat dan mencakup seplemen zat besi. mengurangi kerentanan pasien terhadap infeksi.4 .

3 g/kg tambahan asam amino esensial atau asam keton).8/kg/hari. < 60 Asupan protein 0.PEMBATASAN ASUPAN PROTEIN DAN FOSFAT PADA PENYAKIT GAGAL GINJAL KRONIK LFG ml/menit Asupan Protein g/kg/hari Fosfat g/kg/hari > 60 Tidak di anjurkan Tidak dibatasi 25 – 60 Asupan protein 0. Asupan protein 0. (Suwitra.6- ≤ 10 g 0.8/kg/hari (sindrom nefrotik) (+1 gr protein / proteinuria atau 0.35 gr/kg/hari nilai biologi tinggi atau tambahan 0. termasuk ≥ 0.3 g asam amino esensial atau asam keton.6≤ 10 g 0.35 5 – 25 gr/kg/hari nilai biologi tinggi.2014) ≤9g .8/kg/hari. termasuk ≥ 0.