You are on page 1of 9

Pengaruh Penggunaan Produk Fermentasi Onggok Oleh Ragi

(Saccharomyses cereviseae) Dalam Ransum Konsentrat Terhadap
Efisiensi Penggunaan Ransum Sapi Fries Holland Jantan Lepas Sapih.
Tidi Dhalika, Dedi Rachmat dan Iman Hernaman
Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran.
Abstrak
Penelitian untuk mempelajari pengaruh penggunaan produk fermentasi onggok
oleh ragi (Saccharomyses cereviseae) dalam ransum konsentrat terhadap efisiensi
penggunaan ransum sapi Fries Holland jantan lepas sapih telah dilakukan dengan
menggunakan empat ekor sapi Fries Holland yang memiliki bobot badan lebih kurang
100 kg. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Bujur Sangkar Latin dengan
empat tingkat penggunaan produk fermentasi onggok oleh ragi ((Saccharomyses
cereviseae) dalam ransum konsentrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1)
penggunaan produk fermentasi onggok oleh ragi (Saccharomyses cereviseae) sampai 30
persen dalam ransum konsentrat memberikan pengaruh berbeda tidak nyata terhadap nilai
efisiensi penggunaan ransum sapi Fries Holland jantan lepas sapih, dan (2) produk
fermentasi onggok oleh ragi (Saccharomyses cereviseae) sebanyak 30 persen di dalam
konsentrat menghasilkan nilai efisiensi penggunaan ransum yang cukup baik, yaitu
sebesar 26,56 persen.
Kata kunci : onggok, fermentasi, Saccharomyses cereviseae, efisiensi, ransum,
sapi Fries Holland.
Abstract
An experiment was held to evaluate the effects of using products fermented
Cassava fomace by yeast (Saccharomyses cereviseae) in concentrate diet on feed
efficiency of post weaning male Fries Holland cattle. This experiment used four post
weaning male Fries Holland with average weight about 100 kg. Latin Square Design was
used with four levels of product fermented Cassava fomace in concentrate diet as
treatments. The results of this experiment indicated that (1) usage of product fermented
Cassava fomace to 30 percents in concentrate diet was gave non significant influence on
feed efficiency of post weaning male Fries Holland cattle, and (2) usage of product
fermented Cassava fomace to 30 percents in concentrate diet was gave the best feed
efficiency value, as about 26,56 percent.
Key word : Cassava fomace, fermentation, Saccharomyses cereviseae, efficiency, diet,
Fries Holland cattle.
Pendahuluan
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki berbagai sumber bahan
berpati. Sebagian bahan berpati ini dikonsumsi masyarakat secara tradisionil dan juga

Menurut Tisnadjaja (1996) produksi ubikayu Indonesia adalah 13 juta ton setiap tahun. William dkk (1991). Beberapa jenis mikroba dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan nilai guna bahan pakan berpati.. sehingga untuk meningkatkan nilai hayatinya diperlukan upaya lebih lanjut. Hal ini terutama ditunjukan oleh kandungan bahan ekstrak tanpa nitrogen ( BETN ) yang cukup tinggi. lebih tinggi dari kandungan asam amino tersebut pada tepung daging dan tepung ikan yaitu 3. dilihat dari kandungan zat makanannya onggok dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi.3 persen. digunakan oleh industri tapioka dan setiap tahun diperkirakan sekitar 1. Hal tersebut di atas terjadi karena melalui kerja mikroba dalam proses fermentasi dapat memecah komponen yang kompleks menjadi zat-zat yang lebih sederhana sehingga mudah dicerna. juga kandungan protein ragi memiliki persentase yang cukup tinggi dan sangat mudah dicerna. Hartadi 1990 ). Secara umum ragi mengandung protein kasar 47-53 persen. etanol. salah satu diantaranya adalah ragi (Saccharomyses cereviseae).45 dan 0.8 dan 1. Akan tetapi kandungan zat makanan lain relatif rendah. 1985. dikeluarkan oleh industri tapioka di Indonesia. Asam amino esensil yang terkandung dalam ragi sangat baik. Artinya terjadi peningkatan laju pencernaan bahan pakan berserat. menambah daya tahan dan dapat mengurangi senyawa-senyawa racun dalam bahan dasar. yaitu limbah padat industri tapioka yang masih mengandung 60 – 70 persen karbohidrat. Sapi daging dan sapi perah yang mengkonsumsi ransum basal konsentrat dengan suplementasi kultur ragi menunjukkan peningkatan in take bahan kering ransum ( Phillips dan Von .6 dan 0. Kandungan lysine dan tripthopan pada ragi berturut turut adalah 7.2 juta ton onggok. Lebih lanjut dikemukakan bahwa kadar protein ragi tergantung pada jenis ragi. Konsentrasi karbohidrat yang masih tinggi pada onggok menjadikan onggok sebagai bahan pakan sumber energi potensil untuk mendukung peningkatan kontinuitas sediaan ransum ternak. maltosa. Dawson dan Hopkins (1991). mengubah rasa dan aroma menjadi lebih baik. karena selain kemampuannya dalam memecah komponen karbohidrat kompleks. Teknologi fermentasi merupakan salah satu alternatif yang dapat meningkatkan nilai gizi bahan berkualitas rendah. Saccharomyses cereviseae) merupakan jenis ragi yang memiliki protein yang baik untuk berperan dalam upaya peningkatan nilai tambah bahan pakan yang memiliki nilai hayati rendah.1 persen sehingga onggok merupakan sumber karbohidrat yang cukup potensial. dekstrin dan asamasam organik. Bau yang spesifik dari ragi akan memberikan aroma pada bahan pakan sehingga akan meningkatkan palatabilitasnya. Misalnya melalui pembuatan protein sel tunggal dengan bahan dasar karbohidrat. sehingga nilai manfaat ransum menjadi lebih baik.sebagian sudah dimanfaatkan sebagai bahan baku industri. Salah satu bahan berpati yang diproduksi di Indonesia adalah ubikayu. dan Wohlt dkk (1991) menyatakan bahwa penambahan ragi secara in vitro pada kultur rumen dapat meningkatkan degradasi selulosa dan menurunkan lag time pada pencernaan Hay.52 persen ( Suriawiria. seperti dikemukakan oleh Tisnadjaja (1996) bahwa secara biologis pati dapat diubah menjadi glukosa. tapi masih ada porsi besar dari potensi pati ini yang belum dimanfaatkan dan dapat digunakan untuk mendukung peningkatan produktifitas ternak penghasil daging. Sebagian besar dari produksi ubikayu. Menurut Sutardi (1981) kandungan BETN onggok mencapai 76. Teknologi biokonversi membuka peluang bagi upaya penganekaragaman bahan pakan yang memiliki daya dukung bagi peningkatan produktifitas ternak.37 persen serta 4. Penggunaan onggok sebagai bahan pakan ternak telah lama diketahui.

1985. Komposisi Bahan Pakan Pada Ransum Konsentrat (Ransum Basal) Jenis Bahan Pakan Persentase (%) Wheat Pollard Dedak Padi Jagung Kuning Bungkil Kelapa Bungkil Biji Kapok Ampas Kecap Tepung Tulang 25.00 25.00 0. Apabila jumlah konsumsi ransum masih berada dalam kisaran persentase kebutuhan sebesar 10-12 persen dari bobot badan pada konsumi ransum segar (as fed). dkk. bahwa untuk memenuhi kebutuhan zat makanan sapi dengan bobot badan 100 kg dibutuhkan bahan kering ransum sebanyak 2.4-2. Hughes. atau 1.. 1978. dan Williams dkk 1991).. ternak sapi tersebut telah berumur enam bulan dengan kisaran bobot badan lebih kurang 100 kg. Kandang ternak yang digunakan untuk penelitian adalah kandang individu dengan ukuran masing-masing 130 x 180 cm.00 8. Ransum konsentrat yang digunakan untuk penelitian ini tersusun dari bahan pakan sebagai berikut : Tabel 1.00 20. 1991). tiap kandang dilengkapi fasilitas berupa bak makanan dan tempat minum untuk ternak sapi. Hudyma dan Gray.. 1988. Manifestasi selanjutnya dari peranan ragi dalam ransum adalah terjadinya peningkatan pertambahan berat badan dan nilai efisiensi penggunaan konsentrat pada ternak sapi (Fallon dan Harte. Adapun kandungan zat makanan pada ransum basal tersebut dicantumkan pada Tabel 2. Banyaknya konsumsi ransum dan pertambahan berat badan yang dicapai akan menentukan efisiensi penggunaan ransum.50 Jumlah 100.50 11. TDN 1. maka ransum yang digunakan memiliki nilai efisiensi yang baik. jumlah konsumsi ransum dipengaruhi oleh bobot badan.00 Sumber : Hasil Perhitungan Berdasarkan Hartadi. 1990. Sapi Fries Holland jantan lepas sapih ini diperoleh dari peternak di kecamatan Tanjungsari kabupaten Sumedang.Tungeln. mineral kalsium 16 g dan pospor 8 g. Menurut Preston dan Willis (1974). Pemberian ransum disesuaikan dengan rekomendasi Church (1984).1990. seperti berikut : .. protein kasar 361 g.00 10. Metode Jumlah ternak sapi Fries Holland jantan lepas sapih yang digunakan dalam penelitian ini adalah empat ekor.80 kg..89 kg.7 persen dari bobot badan pada konsumsi bahan kering ransum. dan Mc Leod dkk.

Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap respon yang diukur dilakukan analisis statistika dengan menggunakan uji Sidik Ragam. Model matematika yang digunakan dalam penelitian ini adalah : Yijk = μ + αi + βj + r k + ∑ijk Peubah yang diukur meliputi konsumsi bahan kering ransum dan pertambahan bobot badan dengan cara pengukuran seperti yang dikemukakan Bogart dan Taylor (1983) serta efisiensi penggunaan ransum.50 68. Perbedaan antar perlakuan dapat diketahui melalui cara . 1990. Penelitian dilakukan dengan metode eksperimen menggunakan Rancangan Bujur Sangkar Latin (Latin Square Design) dengan empat macam perlakuan ransum konsentrat yang mengandung berbagai taraf produk fermentasi onggok oleh ragi (Saccharomyses cereviseae).80 0. yaitu ratio antara rataan pertambahan bobot badan harian dengan konsumsi bahan kering ransum (Crampton dan Harris.00 0. Komposisi Zat Makanan Pada Ransum Konsentrat (Ransum Basal) Zat Makanan Persentase (%) Bahan Kering Protein TDN Kalsium Pospor 86. dkk. Setiap periode pengumpulan data pengamatan respon terhadap perlakuan dilakukan selama dua minggu.40 Sumber : Hasil Perhitungan Berdasarkan Hartadi.00 16. yaitu : R1 = ransum konsentrat tanpa produk fermentasi onggok (ransum basal) R2 = 90% ransum basal + 10% produk fermentasi onggok oleh ragi (Saccharomyses cereviseae) R3 = 80% ransum basal + 20% produk fermentasi onggok oleh ragi (Saccharomyses cereviseae) R4 = 70% ransum basal + 30% produk fermentasi onggok oleh ragi (Saccharomyses cereviseae) Ransum hijauan berupa rumput Gajah (Pennisetum purpureum) dan air minum diberikan secara ad libitum. 1983).Tabel 2. Pergantian perlakuan terus dilakukan dengan cara seperti sebelumnya sampai semua sapi percobaan mendapat giliran seluruh perlakuan ransum yang diteliti. Selang waktu pergantian antar perlakuan adalah dua minggu dengan tujuan menghilangkan pengaruh perlakuan ransum sebelumnya.

45 3 3.10 3.84 sampai 3.42 3.38 2 2. produk fermentasi dengan ragi .2 kg/ekor/hari.65 2.40 3. maka penambahan produk fermentasi onggok oleh ragi (Saccharomyses cereviseae) sampai 30 persen dalam konsentrat telah mengakibatkan peningkatan konsumsi bahan kering ransum sebanyak 13. masih berada dibawah angka kebutuhan bahan kering ransum yang diperlihatkan oleh Cullison (1974). bahwa sapi daging dan sapi perah yang mengkonsumsi ransum konsentrat dengan suplementasi kultur ragi menunjukkan peningkatan intake bahan kering ransum. dicantumkan pada Tabel 4.25 3.80 3. 1991).05 2. Namun.35 3.57 persen dari angka kebutuhannya.70 2.18 (a) Rataan konsumsi bahan kering ransum berkisar dari 2. Vincent Gasversz. yaitu sebesar 3.60 3. 1980. bahkan terdapat peningkatan terhadap konsumsi bahan kering ransum.pengujian dengan menggunakan uji Jarak Berganda Duncan (Steel dan Torrie. dkk (1991) bahwa penambahan ragi secara in vitro pada kultur rumen dapat meningkatkan degradasi selulosa dan menurunkan lag time atau waktu tinggal bahan pakan berserat didalam saluran pencernaan ternak ruminan.45 Rataan 3. Sehingga produk fermentasi onggok oleh ragi (Saccharomyses cereviseae) dapat digunakan untuk menggantikan sebagian konsentrat tanpa mengakibatkan terganggunya kemampuan sapi untuk mengkonsumsi bahan kering ransum.10 4 3. Seperti dikemukakan oleh Hughes (1991) dan Williams (1991).. Konsumsi Bahan Kering Ransum Sapi Fries Holland Jantan Lepas Sapih (kg/ekor/hari) Periode (waktu) Ransum Perlakuan R1 R2 R3 1 2.8 kg/ekor/hari.45 3.76 2. Dibandingkan kebutuhan bahan kering ransum untuk sapi dengan berat badan 100 kg seperti dikemukakan oleh Church (1984). Lebih lanjut dikemukakan juga oleh Dawson dan Hopkins (1991) dan Wolt.84 (a) (a) (a) Keterangan : huruf yang sama kearah kolom menunjukkan berbeda tidak nyata R4 2.18 kg/ekor/hari.60 2. Tabel 4. Selain itu. Hasil dan Pembahasan Pengaruh Perlakuan Terhadap Konsumsi Bahan Kering Ransum Konsumsi bahan kering ransum oleh sapi Fries Holland jantan lepas sapih pada masing-masing perlakuan selama periode percobaan. Hasil uji statistik untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap konsumsi bahan kering ransum menunjukkan bahwa penggunaan produk fermentasi onggok oleh ragi (Saccharomyses cereviseae) sampai 30 persen dalam konsentrat untuk sapi perah Fries Holland jantan lepas sapih memberikan pengaruh yang berbeda tidak nyata. yaitu sebanyak 2.02 3.

bahkan dapat mencapai 1 kg/ekor/hari (Cullison. 1978).75 0.74 0.71 0. Selain itu. .63 3 0.70 sampai 0.60 0. dicantumkan pada Tabel 5.80 0.menimbulkan bau spesifik sehingga akan meningkatkan palatabilitas ransum dan pada gilirannya akan meningkatkan konsumsi bahan kering ransum.84 4 0.73 0.85 (a) Rataan pertambahan bobot badan yang dicapai pada masing-masing perlakuan berkisar antara 0.90 kg/ekor/hari (Church.64 0.82 0.70 0.88 1. pengembangbiakan sel ragi pada onggok dapat meningkatkan kadar protein dan beberapa zat makanan lainnya seperti beberapa vitamin dari kelompok vitamin B kompleks dari bahan pakan tersebut. Kemampuan pertambahan bobot badan sapi sapi jantan muda yang memiliki kisaran bobot badan 100 kg adalah 0. 1984).63 0. artinya sampai pada taraf penggunaannya sebanyak 30 persen kecukupan zat makanan yang dibutuhkan oleh sapi Fries Holland jantan lepas sapih masih dapat terpenuhi karena dengan adanya proses fermentasi pada onggok maka kandungan zat makanan bahan pakan tersebut mengalami perubahan menjadi komponen zat makanan yang lebih sederhana sehingga mudah dicerna.84 Rataan 0.72 (a) (a) (a) Keterangan : huruf yang sama kearah kolom menunjukkan berbeda tidak nyata R4 0. Hal itu memperlihatkan bahwa penggunaan produk fermentasi onggok oleh ragi (Saccharomyses cereviseae) sampai 30 persen didalam ransum konsentrat tidak mengganggu pertumbuhan sapi Fries Holland jantan lepas sapih. Respon pertambahan bobot badan yang berbeda tidak nyata sampai taraf penggunaan 30 persen produk fermentasi onggok oleh ragi (Saccharomyses cereviseae) didalam konsentrat. erat kaitannya dengan konsumsi bahan kering ransum.58 2 0. Dengan demikian.10 0.5 sampai 0. Hasil uji statistik memperlihatkan bahwa penggunaan produk fermentasi onggok oleh ragi (Saccharomyses cereviseae) sampai 30 persen didalam ransum konsentrat untuk sapi Fries Holland jantan lepas sapih memberikan pengaruh yang berbeda tidak nyata terhadap pertambahan bobot badan harian sapi tersebut.62 0. Pertambahan Bobot Badan Sapi Fries Holland Jantan Lepas Sapih (kg/ekor/hari) Periode (waktu) Ransum Perlakuan R1 R2 R3 1 0.76 0. Tabel 5. respon pertambahan berat badan sapi Fries Holland jantan lepas sapih yang diberi ransum konsentrat mengandung produk fermentasi onggok oleh ragi (Saccharomyses cereviseae) sampai 30 persen menunjukan hasil yang cukup baik. Pengaruh Perlakuan Terhadap Pertambahan Bobot Badan Pertambahan bobot badan sapi Fries Holland jantan lepas sapih pada masingmasing perlakuan penggunaan produk fermentasi onggok oleh ragi (Saccharomyses cereviseae).85 kg/ekor/hari.

nilai efisiensi penggunaan ransum yang menggunakan produk fermentasi onggok oleh ragi (Saccharomyses cereviseae) sampai 30 persen didalam ransum konsentrat masih cukup baik.09 4 22.7 persen dari bobot badan. artinya setiap kilogram bahan kering ransum yang dikonsumsi akan menghasilkan pertambahan bobot badan 120 sampai 240 g/ekor/hari. Efisiensi Penggunaan Ransum Oleh Sapi Fries Holland Jantan Lepas Sapih (%) Periode (waktu) Ransum Perlakuan R1 R2 R3 1 23.56 (a) Penggunaan produk fermentasi onggok oleh ragi (Saccharomyses cereviseae) sampai 30 persen didalam ransum konsentrat menghasilkan nilai efisiensi penggunaan ransum berkisar antara 22.96 25. maka ransum yang digunakan memiliki nilai efisiensi yang baik Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tingkat konsumsi bahan kering ransum lebih dari 2. artinya masih berada pada kisaran nilai tersebut diatas.07 30.55 26. .85 25.05 21.07 23.56 persen.37 (a) (a) (a) Keterangan : huruf yang sama kearah kolom menunjukkan berbeda tidak nyata R4 22.37 Rataan 23.34 27.95 25.5 persen.95 25.36 2 26.80 27. Dengan demikian.65 22.68 22. seperti berikut. Dikemukakan oleh Preston dan Willis (1974) bahwa apabila jumlah konsumsi bahan kering ransum masih berada didalam kisaran persentase kebutuhan sebesar 1. Penggunaan produk fermentasi onggok oleh ragi (Saccharomyses cereviseae) sampai 30 persen didalam konsentrat memberikan pengaruh berbeda tidak nyata terhadap nilai efisiensi penggunaan ransum sapi Fries Holland jantan lepas sapih.71 3 22. Hasil uji statistik pada data penelitian yang diperoleh menunjukan bahwa penggunaan produk fermentasi onggok oleh ragi (Saccharomyses cereviseae) sampai 30 persen didalam ransum konsentrat memberikan pengaruh yang berbeda tidak nyata terhadap nilai efisiensi penggunaan ransum oleh sapi Fries Holland jantan lepas sapih.4 sampai 2. Menurut Preston dan Willis (1974) nilai efisiensi pakan pada sapi muda bervariasi antara 12 sampai 24 persen.Pengaruh Perlakuan Terhadap Efisiensi Penggunaan Ransum Nilai efisiensi penggunaan ransum oleh sapi Fries Holland jantan lepas sapih ditampilkan pada Tabel 6.95 sampai 26.77 24. Nilai efisiensi penggunaan ransum sangat dipengaruhi oleh banyaknya konsumsi ransum dan pertambahan bobot badan yang dicapai oleh ternak yang bersangkutan.81 22. Tabel 6. Kesimpulan dan Saran Kesimpulan 1.

Influence of yeast culture and monensin on ruminal metabolic and product and feedlot catlle performance. W.. dan dapat menghasilkan nilai efisiensi penggunaan ransum yang cukup baik. 68 (supll.C. A. p. 69 (supll..2. Cullison. Dairy. Anim. Applied Animal Nutrition. 1991. Anim. sehingga penelitian ini dapat terlaksana.E. 103-110.1) : 143 (Abstr). Hartadi. Minnesota. 1990.J. Dawson..T.E. Published aand Distributed by O & B Books. 69. Burgess Publishing Company. D. Taylor. Crampton. 2nd Ed. and Gray. 81. . R. amien. Daftar Pustaka Bogart. Mc. San Fransisco. Anim.1) : 143 (Abstr). Harris. Sci. J. New Delhi. Mitchel. J.H. Tabel Komposisi Pakan Untuk Indonesia. 61-63.W. Produk fermentasi onggok oleh ragi (Saccharomyses cereviseae) sebanyak 30 persen didalam konsentrat menghasilkan nilai efisiensi penggunaan ransum yang cukup baik. Sci. K. Oregon. K. Effects of feeding yeast culture and sorting calves by weight on feedlot performance of calves fed a corn silage diet. The effects of yeast culture inclusion in the concentrate diet on calf performance. Sci. R. D. 1978.K. Feeds and Feeding Animal Nutrition. atas segala bantuannya yang disalurkan melalui pendanaan oleh DIKS Universitas Padjadjaran tahun 1998/1999. H.... Harte. Sci..T. 1969.E. Prentice Hall of India Private Limited. Hopkins.W.56 persen.J. Tillman. Reksohadiprodjo.. 1984. IncCorvalis.. K. 41. Ucapan Terimakasih Ucapan terimakasih disampaikan kepada Ketua Lembaga Penelitian dan Dekan Fakultas Peternakan..A. Leod. Gadjah Mada University Press. Pp.R. Freeman and Company.J. D. yaitu sebesar 26.M. 1987. Saran Produk fermentasi onggok oleh ragi (Saccharomyses cereviseae) dapat digunakan sebanyak 30 persen didalam konsentrat untuk sapi Fries Holland jantan lepas sapih. 1991. Differential effects of live yeast on the cellulolityc activities of an aerobic ruminal bacteru. Livestock Feeds and Feeding. Fallon. J. Mineapollis. E. USA. Aaron. and L. 1983. J. 1990. Cetakan ke Dua..E. and R. 1) 158 (Abstr).A. Hudyma. K. and F.. Church. Dawson. Semoga amal baik yang telah tercurah mendapat rakhmat dan ridlo Alloh S. Karr.A. and D. 2nd Ed. R.. W. Scientific Farm Animal Production. G. 70 (suppl.

Willis. 72. Anim. R. Institut Pertanian Bogor. Oxford. Sutardi.. C. J. Effects of the inclusion of yeast culture (Saccharomyses cereviseae plus growth medium) in the diet of dairy cow on milk yield and forage degradation and fermentation pattern in the rumen of steer.. Pp 181-183.M.J. J.. and C. Gadjah Mada University Press. Frankfurt. Jilid I.D. Tillman. 3-5 Vincents Gasversz. Tait.. Edisi ke Dua. 1974. Yeast culture to improve intake.. Puslitbang Bioteknologi. and W. Dairy.H. P. Rep. D.B.H. 1981. Williams. Penerbit PT. Pergamon Press. Chung. Hartadi. 32:287. Pengantar Mikrobiologi Umum.D. Intr.G. 2 nd Ed. Wohlt..G. D. Torornto.. S. Preston.E. 1996. dan J. Warta Biotek. C. Penerbit Tarsito. H. Steel. Nutr. Tisnadjaja. 1991. 1985.. 1985.E. S. Sci. Paris.A. Intensive Beef Production. Landasan Ilmu Nutrisi. Reksohadiprodjo. nutrient digestibility and performance by dairy catlle during early lactation. 1991. Bandung.. T. G. W. LIPI. Prawirokusumo. 69:3016. 74. J. 1991.K. Lebdosoekojo. Penerbit Angkasa. Fakultas Peternakan.Phillips. The effects of yeast culture on the post stress performance of feeder calves. U. Suriawiria. Sidney. 1986. Teknik Analisis Dalam Penelitian Percobaan. New York. and D.L. Finkelstein. Gramedia. Newbold. Prinsip dan Prosedure Statistika Suatu Pendekatan Biometrika.A. S. Sci. A. Von Tungeln.. . Pemanfaatan bahan berpati sebagai bahan baku dalam industri asam sitrat.1395. Bandung.. Edisi Pertama. T. Innes. Departemen Ilmu Makanan Ternak..A. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Torrie.V.