ASUHAN KEPERAWATAN

PADA ANAK DENGAN MASALAH THYPOID

DOSEN PEMBIMBING :
Hj. SUPANIK S. Kep. M. Kes

Disususn Oleh :
FELLANI AGUS S.
TRIYAS NUR F

AKADEMI KEPERAWATAN
PEMERINTAH KABUPATEN LAMONGAN
2009

 Antigen Vi (terletak pada kapsul dari kuman yang mempunyai struktur kimia protein) . KONSEP DASAR 1. 1.1.1 PENGKAJIAN 1.  Antigen H (Flagella kuman)  antigen H menunjukkan seseorang bila sudah pernah terjangkit / kelambuhan ulang.1.2 Demam Thypoid adalah demam menular yang bersifat akut yang ditandai dengan bakterimia atau perubahan pada sistem retikuloedeterial yang bersifat diftus.1.LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN MASALAH KEPERAWATAN PADA THYPOID A. 1.2.1 Thypoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran cerna dengan gejala demam lebih dari 7 hari.2 Salmonella typhii memounyai 3 macam antigen.1 Salmonella typhii mempunyai ciri-ciri sebagi berikut :  Basil gram negatif  Bergerak dengan rambut getar  Tidak berspora  Masa inkubasi 10-20 hari 1.3 Demam thypoid (entericfever) ialah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari 1 minggu.2. Yaitu :  Antingen O (somatik. Pembentukan micro abses dan ulserasi nodus payer distal ileum (Sugeng Sujianto 2002 : 1). gangguan pada saluran cerna dan gangguan kesadaran. gangguan pencernaan dan gangguan kesadaran (Nursalam 2005 : 152) 1. terdiri zat kompleks lipopolisakarida) berasal dari tubuh kuman  antigen O menunjukkan bila seseorang belum pernah menderita / baru pertama terjangkit.2 ETIOLOGI 1.

usus dan kandung empedu. Pada minggu pertama sakit terjadi.2. Minggu kedua terjadi nekrosis dan pada minggu ketiga terjadi uleserasi plaks peyer. . Proses ini terjadi di dalam masa tunas dan akan berakhir pada saat selsel retikulo endoteleal melepaskan kuman ke dalam peredaran darah dan menimbulkan bakterimia untuk kedua kalinya.3 Cara penularan :  Fecal oral  Faktor predieposisi :  Makanan / minuman yang terkontaminasi bakteri / vektor  Sumber infeksi / pembawa kuman “carier”  Sanitasi dan hygiene yang jelek  Sosial ekonomi rendah 1.3 PATOFISIOLOGI Kuman masuk melalui mulut. hati. Gejala demam disebabkan oleh endotoksin sedangkan gejala pada saluran pencernaan disebabkan oleh kelainan pada usus halus. limpa dan organ-organ lainnya. kelenjar-kelenjar mesentrial dan limpa membesar. selain hepar. terutama limpa. Selanjutnya kuman masuk ke beberapa jaringan organ tubuh. Sebagian kuman akan dimusnahkan dalam lambung oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus.1. Ini terjadi pada kelenjar limfoid usus halus. Pada minggu keempat terjadi peyembuhan ulkus yang dapat menimbulkan sakartrik ulkus dapat menyebabkan pendarahan bahkan sampai perforasi usus. kejaringan infoid dan berkembang biak menyerang vili usus halus kemudian kuman masuk ke peredaran darah (bakterimia primer) dan mencapai sel-sel retikulo endoteleal.

virulensi.Infeksi intesnalkelenjar limfe Sel darah putih mengalir melalui pembuluh darah Ikut aliran limfe Ikut aliran darah Timbul ulkus Peningkatan asam lambu Pendarahan usus timbul anemia Keseluruhan tubuh / sistemik Neutrifil dan monont memfagosit M. minum yang terkontaminasi Vector (lalat. kecoa.O Kurangnya kebutuhan cairan tubuh Ductus Toracikus M.Basil Salmonella Typhii Makan. muntah Anoreksia Intake makanan in adequat Sirkulasi portal (hati dan usus) RES (limfa dan hati) Kuman berkembang biak (terangantung jumlah. dll Host carier Tertelan Sebagian kuman dihancurkan oleh Hcl lam Lambung Inflamasi Usus Mempengaruhi hietologi usus timbul berbagai gx.O melepas phyrogen Hepatomegali Ductus sisticus timbul colecietisis Meningkatkan hipotalamus keset point Perforasi usus Peritonitis Timbul gejala : Mual. imun) Limfa timbul splenomegali Peningkatan suhu tubuh Sirkulasi sistemik Cardiovaskuler Darah Paru Hepar dan kandung kemuh Ginjal Tulang Neuropsikatri .

GANGGUAN KESADARAN  Kesadaran yaitu apatis – somnolen  Gejala lain “ROSEOLA” (bintik-bintik kemerahan karena emboli basil dalam kapiler kulit) 1. jarang disertai tremor  Hati dan limpa membesar yang nyeri pada perabaan  Terdapat konstipasi. diare 3.4 GEJALA KLINIS Masa tunas 7-14 (rata-rata 3-30) hari. GANGGUAN PADA SALURAN PENCERNAAN  Lidah kotor yaitu ditutupi selaput kecoklatan kotor. ujung dan tepi kemerahan.5 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK . selama inkubasi ditemukan gejala prodromal (gejala awal tumbuhnya penyakit / gejala yang tidak khas) :  Perasaan tidak enak badan  Lesu  Nyeri kepala  Pusing  Diare  Anoreksia  Batuk  Nyeri otot Menyusul gejala klinis yang lain 1. biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat pada sore dan malam hari.  Minggu II : demam terus  Minggu III : demam mulai turun secara berangsur-angsur 2.1. DEMAM Demam berlangsung 3 minggu  Minggu I : demam remiten.

Pemeriksaan laboratorium  Pemeriksaan darah tepi : dapat ditemukan leukopenia. tidak boleh mengandung banyak serat. trombositopenia. yaitu : 1) Perawatan  Tirah baring absolut sampai minimal 7 hari bebas demam atau kurang lebih selama 14 hari. 1. tidak merangsang maupun menimbulkan banyak gas.  Posisi tubuh harus diubah setiap ± 2 jam untuk mencegah dekubitus.  Pemeriksaan WIDAL - Bila terjadi aglutinasi Pada minggu ke 2 . 2) Diet  Makanan diberikan secara bertahap sesuai dengan keadaan penyakitnya (mula-mula air-lunak-makanan biasa)  Makanan mengandung cukup cairan. 3) Obat  Antimikroba o Kloramfenikol o Tiamfenikol o Co-trimoksazol (Kombinasi Trimetoprim dan Sulfametoksazol) .diperlukan titer anti bodi terhadap antigeno yang bernilai ≥ 1/200 atau peningkatan ≥ 4 kali antara masa akut dan konvalesene mengarah kepada demam tiphoid.6 PENATALAKSANAAN Terdiri dari 3 bagian.  Meobilisasi sesuai kondisi. aneosinofilia. anemia. kalori dan tinggi protein. limfositosis relatif. TKTP  Makanan harus mengandung cukup cairan.  Biakan empedu : basil salmonella typhii ditemukan dalam darah penderita biasanya dalam minggu pertama sakit.

 Syarat pemberian o Lumbal fungsi dalam batas normal o Demam typhoid secara klinis sudah jelas o Elektrolit / metabolik normal atau sudah terkoneksi o Pemberiannya harus tepat karena bisa menimbulkan perdarahan usus. Perdarahan usu b. Obat Symptomatik o Antipiretik o Kartikosteroid. trombosis dan tromboflebitie. o Maintenence : dexa metason dengan dosis 1 mg/kg BB di dripkan ke DS 100 cc diberikan selama 1 jam. o Pemberian menggunakan tetesan makro. 1.Kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi perifer (renjatan sepsis) miokarditis. 4) Hoffman terapi  Cara memberikan o Inisial : dexa metason dengan dosis 3 mg/kg BB di dripkan ke DS 100 cc diberikan selama 1-2 jam.7 KOMPLIKASI Komplikasi dapat dibagi dalam : 1. Komplikasi intestinal a. diberikan pada pasien yang toksik o Supportif : vitamin-vitamin o Penenang : diberikan pada pasien dengan gejala neuroprikiatri. Di ulang tiap 6 jam sampai 8 x pemberian. Perforasi usu c. Ileus paralitik 2. Komplikasi ekstra intestinal a. .

e. meningitie.Darah : anemia hemolitik. terutama bila perawatan pasien kurang sempurna. perifer. pielonefritis dan perinefritis. Penyediaan air minum yang memenuhi b. g. psikosis dan sindrom katatonia. Pada anak-anak dengan demam paratifoid. Imunisasi b. Pemberantasan lalat 2.Hepar dan kandung empedu : hipertitis dan kolesistitis. tromboritopenia. sindrom uremia hemolitik.8 PENCEGAHAN 1. Tulang : oeteomielitis. empiema. komplikasi lebih jarang terjadi. Usaha terhadap manusia a.Ginjal : glomerulonefritis.Neuropsikiatrik : delirium. meningiemus. Komplikasi sering terjadi pada keadaan tokremia berat dan kelemahan umum. f.Paru : pneumoni. d. Pembuangan kotoran manusia (BAK dan BAB) yang hygiene c. . Usaha terhadap lingkungan hidup : a.b. Pendidikan kesehatan pada masyarakat : hygiene sanitasi personal hygiene. sindrom GuillanBarre. c. pleuritis. polineuritie. 1. periostitis dan arthritis.

d. lepra) dan penyakit keturunan (misal : diabetes mellitus. Riwayat keperawatan a. muntah dan diare c. Keluhan utama : panas atau demam yang tidak turun-turun. Riwayat penyakit keluarga o Di keluarga ada yang pernah menderita thypoid atau tidak o Di keluarga ada yang mempunyai penyakit menular (misal TBC. e. PENGKAJIAN 1.ASUHAN KEPERAWATAN I. Pola-pola fungsi kesehatan o Pola nutrisi dan metabolisme o Klien mengalami nafsu makan atau tidak. Riwayat penyakit sekarang Peningkatan suhu tubuh disertai mual. o Pola eliminasi . Riwayat penyakit dahulu o Sebelumnya pernah sakit thypoid atau tidak o Sebelumnya pasien pernah masuk Rumah Sakit atau tidak dan nama penyebabnya (penyakitnya). Identitas Sering ditemukan pada anak berumur diatas 1 tahun 2. b. penyebabnya penurunan nafsu makan klien. hipertensi) atau tidak.

Tidak mengalami gangguan. o Pola penanggulangan stress o Biasanya klien sering melamun dan merasa cemas atas keadaan penyakitnya. f. Bagaimana konsep diri klien. o Pola aktivitas dan latihan o Aktivitas klien akan terganggu karena bed rest dan segala kebutuhan klien dibantu agar tidak terjadi komplikasi. o Pola tidur dan istirahat akan terganggu sehubungan peningkatan suhu. peran dan identitas apakah ada perubahan atau tidak. antara lain : body image. suhu badan meningkat 38-41 0C muka kemerahan. Pemeriksaan fisik 1. o Biasanya terjadi kecemasan terhadap keadaan penyakitnya dan ketakutan merupakan dampak psikologi klien. o Pola persepsi dan konsep diri. Keadaan umum Didapatkan klien tampak lemah. o Pola tata nilai dan kepercayaan o Dalam hal beribadah sedikit teragnggu karena harus bedrest sehingga aktivitas klien dibantu oleh keluarga. o Pola tidur dan istirahat. 2. hanya warna urine menjadi kuning kecoklatan. sehingga dapat meningkatkan kebutuhan cairan tubuh.o Eliminasi alvi. harga diri. Klien dengan demam thipoid terjadi peningkatan suhu tubuh yang berakibat keringat banyak keluar dan merasa haus. Tingkat kesadaran Dapat terjadi penurunan kesadaran (apatis) . Klien dapat mengalami konstipasi. o Eliminasi urine. o Pola hubungan peran o Peran klien dalam keluarga o Hubungan klien dan keluarga terganggu atau tidak. ideal diri.

Sistem gastrointestinal. DIAGNOSA 1. nyeri perut kembung. 9. Gangguan keseimbangan cairan (kurang dari kebutuhan) berhubungan dengan pengeluaran cairan yang berlebihan (diare / muntah). terasa lelah tapi tidak didapatkan adanya kelainan hanya pada bagian sendi kadang terasa nyeri. Sistem kardiovaskuler Terjadinya penurunan tekanan darah. rambut agak kuram. 7. bradikardi relative. 2. Sistem integument Kering turgor kulit menurun. INTERVENSI KEPERAWATAN 1. 8. 6. hemoglobin rendah. Lidah kotor (khas). nafas cepat dan dalam. Sistem muskolasbeletal Klien lemah. anoreksia.3. 3. Pemeriksaan kepala Bibir kering pecah-pecah. Pada perkusi didapatkan perut kembung serta pada auskultasi peristaltic usus meningkat. Dx peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan infeksi salmonella typhsi . 4. 5. II. gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia. Sistem abdomen Saat palpasi didapatkan limpa dan hati membesar dengan konsistensi lunak serta nyeri tekan abdomen. Sistem respirasi Pernafasan rata-rata ada peningkatan. mukosa mulut kering. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan infeksi Salmonella Typhii. mual. III. muntah. muka tampak pucat. 4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan / bedrest. konstipasi.

5. 2. 2.5 liter / 24 jam R/ peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak. minum ± 2. 3.Tujuan : tidak terjadi peningkatan suhu tubuh Kriteria hasil : tanda-tanda vital normal Turgor kulit membaik Intervensi : 1. Anjurkan pasien untuk banyak minum. Tujuan : kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi Kriteria hasil : . Anjurkan klien menggunakan pakaian tipis dan menyerap keringat. Dx gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia. pakaian tipis akan membantu mengurangi penguapan tubuh. R/ agar klien dan keluarga mengetahui sebab dari peningkatan suhu dan membantu mengurangi kecemasan yang timbul. 4. R/ antibiotik untuk mengurangi infeksi dan antipiretik untuk mengurangi panas. Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga tentang peningkatan suhu tubuh. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian tx antibiotik dan antipiretik. 6. Observasi TTV tiap 4 jam sekali R/ tanda-tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien. R/ untuk menjaga agar klien merasa nyaman. Batasi pengunjung R/ agar klien merasa tenang dan udara di dalam ruangan tidak terasa panas. Memberikan kompres dingin R/ untuk membantu menurunkan suhu tubuh 7.nafsu makan meningkat .

R/ untuk meningkatkan asupan makanan karena mudah ditelan 4. 2. Beri nutrisi dengan diet lembek. maupun menimbulkan banyak gas dan dihidangkan saat masih hangat. 3. Dekatkan keperluan pasien dalam jangkauannya R/ untuk mempermudah pasien dalam melakukan aktivitas . Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antasida dan nutrisi parentral. Jelaskan pada klien dan keluarga tentang manfaat makanan / nutrisi. Nutrisi parentral dibutuhkan terutama jika kebutuhan nutrisi per oral sangat kurang. Beri motivasi pada pasien dan keluarga untuk melakukan mobilisasi sebatas kemampuan (missal. Kaji kemampuan pasien dalam beraktivitas (makan. 2.pasien mampu menghabiskan makanan sesuai dengan porsi yang diberikan. Timbang berat badan klien setiap 2 hari R/ untuk mengetahui peningkatan dan penurunan berat badan. Miring kanan. minum) R/ untuk mengetahui sejauh mana kelemahan yang terjadi 3. R/ untuk meningkatkan pengetahuan klien tentang nutrisi sehingga motivasi untuk makan meningkatkan.. miring kiri) R/ agar pasien dan keluarga mengetahui pentingnya mobilisasi bagi pasien yang bedrest. R/ antasida mengurangi rasa mual dan muntah. tidak mengandung banyak serat. Tujuan : pasien bisa melakukan aktifitas sehari-hari tanpa bantuan Kriteria hasil : kebutuhan personal terpenuhi Dapat miring ke kanan dan kiri Intervensi : 1. Intervensi : 1. Beri makanan dalam porsi kecil dan frekuensi sering R/ untuk menghindari mual dan muntah 5. Dx intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan / bed rest. tidak merangsang. 3.

4. Berikan latihan mobilisasi secara bertahap sesudah demam hilang.5 liter / 24 jam R/ untuk pemenuhan kebutuhan cairan 4.4. Dx : peningkatan suhu berhubungan dengan infeksi salmonella typhii. Observasi kelancaran tetesan infus R/ untuk pemenuhan kebutuhan cairan dan mencegah adanya odem. R/ untuk mempermudah pemberian cairan (minum) pada pasien. Observasi pemasukan dan pengeluaran cairan. 5. EVALUASI Dari hasil intervensi yang telah tertulis. rencana keperawatan. memberikan asuhan keperawatan dan pengumpulan data. yaitu validasi. Anjurkan pasien untuk banyak minum ± 2. V. 2. IMPLEMENTASI Dari hasil intervensi yang telah tertulis implementasi / pelaksanaan yang dilakukan disesuaikan dengan keadaan pasien dirumah sakit pelaksanaan merupakan pengelolahan dan perwujudan dan rencana tindakan yang meliputi beberapa bagian. R/ untuk menghindari kekakuan sendi dan mencegah adanya dekubitus. Dx gangguan keseimbangan cairan (kurang dari kebutuhan) berhubungan dengan cairan yang berlebihan (diare/muntah). Tujuan : tidak terjadi gangguan keseimbangan-keseimbangan cairan Kriteria hasil : turgor kulit meningkat wajah tidak nampak pucat Intervensi : 1. 3. evaluasi yang diharapkan : 1. Berikan penjelasan tentang pentingnya kebutuhan cairan pada pasien dan keluarga. . R/ untuk mengetahui keseimbangan cairan. Kolaborasi dengan dokter untuk terapi cairan (oral / parenteral) R/ untuk pemenuhan kebutuhan cairan yang tidak terpenuhi (secara parenteral) IV.

Dx : intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan / bedrest. Evaluasi : kebutuhan nutrisi terpenuhi 3. . Evaluasi : klien dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa bantuan 4. Dx : gangguan keseimbangan cairan (kurang dari kebutuhan) berhubungan dengan pengeluaran cairan yang berlebihan (diare/muntah). Evaluasi : kebutuhan cairan terpenuhi Maka dapat disimpulkan EVALUASI adalah perbandingan yang sistematis dari rencana tindakan dari masalah kesehatan klien dengan tujuan yang telah dutetapkan dilakukan dengan cara berkesinambungan dengan melibatkan klien dan tim kesehatan.Evaluasi : suhu tubuh normal (36 0C) 2. Dx : gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan ‘berhubungan dengan anoreksia.

EKUI. Mansur. Ilmu Penyakit Anak Diagnosa dan Penalaksanaan. 2002. Salemba Medika.DAFTAR PUSTAKA Nursalam. 2004. Kapita Selekta Anak Media Aesculapius. Edisi pertama. Jakarta. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak. Sujianto. Sugeng. 2005. Edisi 2 . Arif.