You are on page 1of 10

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami haturkan atas kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan karuniaNya kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “SISTEM SATU PINTU”.
Dalam proses penyusunan makalah ini, tim penyusun mengalami banyak permasalahan.
Namun berkat arahan dan dukungan dari berbagai pihak akhirnya makalah ini dapat
diselesaikan tepat pada waktunya. Pada kesempatan ini, dengan segala kerendahan hati,
penyusun mengucapkan terima kasih kepada dosen selaku pembimbing mata perkuliahan
farmakognosi yang telah membimbing kami dalam proses penyusunan makalah ini.
Penyusun menyadari makalah ini masih belum sempurna, baik dari isi maupun
sistematika penulisannya, maka dari itu penyusun berterima kasih apabila ada kritik dan saran
yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi rekan-rekan seperjuangan
khususnya Program Studi Farmasi nantinya.
Kediri, 03 Juni 2016
Penulis

BAB I

PENDAHULUAN A. Strategi penyederhaan dalam proses pemberian pelayanan kesehatan yang ada di dalam suatu rumah sakit bukanlah suatu hal yang mudah dilakukan. Model pelayanan satu pintu yang diselenggarakan pada satu tempat. serta didukung oleh program lainnya. h. Pelaksanaan pemberian pelayanan yang terpusat dalam satu tempat maupun satu loket. Pemberian pelayanan kesehatan yang berkualitas dapat tercermin dari asas-asas pemberian pelayanan menurut KEPMENPAN Nomor 63 Tahun 2003 Tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. Saiful Anwar Malang. hal ini dikarenakan membutuhkan waktu yang bertahap serta melibatkan berbagai bagian yang berbeda dalam suatu rumah sakit. Pelaksanaan penyederhanaan pemberian pelayanan kesehatan yang dilakukan dalam satu tempat maupun loket. merupakan salah satu strategi dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan menjawab banyaknya keluhan dari masyarakat. SPM dalam pemberian kesehatan juga dapat dilihat dari asas-asas yang ada di dalam pelayanan publik.157). yang telah dipersiapkan oleh rumah sakit yang bersangkutan. . untuk dapat bekerja dalam suatu tempat yang sama serta harus adanya kerjasama antara berbagai pihak. SPM merupakan salah satu bentuk tolak ukur dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan serta tingkat kepuasan masyarakat terkait pemberian pelayanan kesehatan yang ada di RSUD dr. “Strategi dapat dikatakan sebagai rencana fundamental dalam mencapai suatu tujuan” (Alma. 2000. Pemberian pelayanan kesehatan yang baik merupakan tanggung jawab rumah sakit yang menjadi salah satu institusi milik pemerintah yang bergerak di bidang pemberian pelayanan kesehatan. berpedoman pada Peraturan Menteri Dalam Negeri (PERMENDAGRI) Nomor 24 Tahun 2006 tenteng Pendoman Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu. sehingga Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang dimiliki oleh rumah sakit juga perlu diperhatikan. meliputi proses pemberian pelayanan kesehatan mulai dari pendaftaran hingga pembayaran biaya kesehatan. Latar belakang Penyederhanaan dalam proses pemberian masyarakat merupakan suatu strategi yang pelayanan kesehatan bagi dilakukan oleh pemerintah dalam rangka menjawab tuntutan dari masyarakat dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan.

Apa tugas dan fungsi instalasi farmasi rumah sakit? 4. Apa dasar hukum pelayanan kefarmasian satu pintu? 8. Untuk memahami definisi dari rumah sakit 2. Bagaimana pelayanan farmasi di rumah sakit? 5. Apa yang dimaksud dengan instalasi farmasi rumah sakit? 3. Apa tujuan pelayanan farmasi satu pintu? 9. Apa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menyelenggarakan farmasi sistem satu pintu? 7.Standar Pelayanan yang dimaksud diantaranya transparansi. Rumusan Masalah 1. Tujuan 1. ketepatan waktu. kesamaan hak dalam pemberian pelayanan. dan lain sebagainya. Apa pengertian sistem farmasi satu pintu di rumah sakit? 6. Untuk mengetahui dasar hukum pelayanan kefarmasian satu pintu 8. Bagaimana proses pelaksanaan sistem farmasi satu pintu? 11. Untuk mengetahui tujuan pelayanan farmasi satu pintu 9. Untuk mengetahui tugas dan fungsi instalasi farmasi rumah sakit 4. Untuk memahami definisi dari IFRS 3. Apa yang dimaksud dengan rumah sakit? 2. Untuk memahami proses pelaksanaan sistem farmasi satu pintu 11. Bagaimana sistem pelayanan farmasi satu pintu di rumah sakit? 10. Untuk mengetahui keuntungan sistem farmasi satu pin . Untuk mengetahui faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menyelenggarakan farmasi sistem satu pintu 7. Untuk memahami sistem pelayanan farmasi satu pintu di rumah sakit 10. Untuk mengetahui pelayanan farmasi di rumah sakit 5. Apa keuntungan sistem farmasi satu pintu? C. Untuk memahami definisi sistem farmasi satu pintu di rumah sakit 6. B.

Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai dengan standart pelayanan rumah sakit. tempat penyelenggaraan semua kegiatan pekerjaan kefarmasian yang ditujukan untuk keperluan rumah sakit itu sendiri (Siregar dan Amalia. 44 Tahun 2009. Tugas dan Fungsi Rumah Sakit Menurut Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. Upaya menjalankan tugas sebagaimana disebut diatas. Tentang Rumah Sakit). dan kehidupan social ekonomi masyarakat yang harus tetap mampu meningkatkan pelayanan yang lebih bermutu dan terjangkau oleh masyarakat agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya (UU No. Pelayanan kesehatan paripurna adalah pelayanan kesehatan yang meliputi promotif. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan. rumah sakit mempunyai fungsi: 1. rawat jalan. 983/Menkes/SK/VIII/2004. dan gawat darurat.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Rumah sakit mempunyai tugas memberikan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna. 147/Menkes/PER/2010. Instalasi Farmasi Rumah Sakit dikepalai oleh seorang apoteker dan dibantu . 2004). preventif. 44 Tahun 2009. 2. rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap. C. kemajuan teknologi. Pengertian IFRS Instalasi Farmasi Rumah Sakit adalah suatu bagian/unit/divisi atau fasilitas dirumah sakit. 44 Tahun 2009. Menurut peraturan Menteri Kesehatan No. Tentang Rumah Sakit). B. 3. tugas rumah sakit adalah melaksanakan upaya kesehatan secara berdaya guna dan berhasil dengan mengutamakan upaya penyembuhan dan pemeliharaan yang dilaksanakan secara serasi dan terpadu dengan upaya peningkatan dan pencegahan serta melaksanakan rujukan. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan meliputi pelayanan kesehatan yang paripurna sesuai kebutuhan medis. dan rehabilitative (UU No. kuratif. menurut UU No. Pengertian Rumah Sakit Rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan bagi masyarakat dengan karateristik tersendiri yang dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan kesehatan.

Memberi pelayanan bermutu melalui analisa. Melaksanakan Komunikasi. yaitu instalasi farmasi sebagai pengelola tunggal perbekalan farmasi rumah sakit karena: 1. dan 5. 6. Pelayanan farmasi Akreditasi sistem pelayanan farmasi di RS mengacu pada Standar Pelayanan Farmasi Di Rumah Sakit (KepMenKes RI No. Informasi dan Edukasi (KIE) 4. 1197/MENKES/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit. 2004). evaluasi untuk meningkatkan mutu pelayanan farmasi Melakukan pengawasan berdasarkan aturan-aturan yang berlaku Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan di bidang farmasi Mengadakan penelitian dan pengembangan di bidang farmasi Memfasilitasi dan mendorong tersusunnya standar pengobatan dan formularium rumah sakit. Apabila ada sumber daya farmasi lain di samping instalasi atau bagian farmasi. 1197/ Menkes/ SK/ X/ 2004). dengan adanya KepMenKes ini sistem pelayanan farmasi satu pintu (SK Dirjen Yanmed no. baik rawat jalan maupun rawat inap. 7. Fungsi farmasi rumah sakit yang tertera pada Kepmenkes No. 8. Farmasi rumah sakit bertanggung jawab atas semua barang farmasi yang beredar di rumah sakit. Melangsungkan pelayanan farmasi yang optimal 2. Pengelolaan Perbekalan Farmasi 2. maka pelayanan farmasi dengan satu pintu mutlak dilaksanakan. Tugas dan Fungsi Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) Berdasarkan Kepmenkes No. dan merupakan tempat atau fasilitas penyelenggaraan yang bertanggung jawab atas seluruh pekerjaan serta pelayanan kefarmasian (Siregar dan Amalia. tugas pokok farmasi Rumah Sakit adalah sebagai berikut: 1. Menyelenggarakan kegiatan pelayanan farmasi profesional berdasarkan prosedur kefarmasian dan etik profesi 3.oleh beberapa orang apoteker yang memenuhi persyaratan peraturan perundangundangan yang berlaku. 1197/MENKES/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit adalah sebagai berikut: 1. . D. Pelayanan Kefarmasian dalam Penggunaan Obat dan Alat Kesehatan E. 0428/YAPI/LED/RSKS/K/1989) diharapkan dapat berjalan dengan baik sehingga dapat meningkatkan mutu pelayanan farmasi di rumah sakit.

Pelayanan farmasi sistem satu diselenggarakan sesuai dengan Surat Keputusan Pelayanan Farmasi yang berlaku di masing . 3. pengadaan.2. Hal ini berguna untuk merencanakan jumlah dan letak outlet apotek. penerimaan. pendistribusian. 0428/YAPI/LED/RSKS/K/1989). antara lain: 1. keamanan penderita. Dana merupakan masalah strategis dalam pengembangan pelayanan farmasi bermutu. baik petugas kesehatan maupun pasien. G. F. dan harga obat di luar kendali instalasi farmasi. Memperkirakan jumlah resep. penyimpanan. Untuk menentukan fast and slows moving drug agar persediaan obat selalu ada. produksi. Hal ini sangat erat kaitannya dengan persediaan dana. pelayanan farmasi dengan sistem satu pintu mutlak dilaksanakan. yaitu pada Bab II pasal 9.masing rumah sakit dan koordinasinya berada di bawah Instalasi / Bagian Farmasi Rumah Sakit. satu pengawasan operasional dan satu sistem informasi. Oleh karena itu. satu standar operasional (SOP). Jumlah resep per hari pada jam sibuk/jam kerja dan luar jam kerja (khusus TJGD/IRD). 2. Farmasi rumah sakit bertanggung jawab atas semua pekerjaan pelayanan kefarmasian di rumah sakit (mengacu pada akreditasi rumah sakit dan SK Dirjen Yanmed no. . Pelayanan farmasi satu pintu adalah suatu sistem dimana dalam pelayanan kefarmasian itu sendiri menggunakan satu kebijakan. dan evaluasi penggunaan perbekalan farmasi. dan UU no 44 th 2009 tentang Rumah Sakit pasal 15 ayat 3. Jumlah unit pelayanan yang ada di RS. Faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menyelenggarakan pelayanan farmasi sistem satu pintu Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menyelenggarakan pelayanan farmasi sistem satu pintu. Keadaan ini tidak kondusif untuk melakukan pelayanan farmasi yang bermutu dan berspektrum luas. 3. Farmasi rumah sakit bertanggung jawab atas pengadaan dan penyajian informasi obat siap pakai bagi semua pihak di rumah sakit. Pelayanan farmasi satu pintu pada rumah sakit Yaitu mengelola perbekalan farmasi yang efektif dan efisien mulai dari perencanaan. Dana untuk pengadaan obat selalu menjadi alasan yang dikemukakan RS pemerintah untuk membenarkan beroperasinya berbagai apotek swasta murni dan/atau apotik swasta milik RS sendiri. Hampir semua apotek ini tidak di bawah kendali instalasi farmasi sehingga mutu. Macam-macam item obat yang diresepkan.

penyimpanan. H. penyaluran. Satu kebijakan . IFRS bertanggung jawab terhadap obat yang beredar di RS. pasal 6 ayat 1-3 2. Tersedia tenaga farmasis klinik.Pelaporan . Outlet apotik di tiap lantai 3. Menghindari resep keluar 2. Satu pengawasan operasional .Evaluasi pengelolaan obat . Tujuan Pelayanan Farmasi Satu Pintu 1. Jumlah tenaga yang diperlukan untuk setiap outlet apotek.4. Berkewajiban mengelola obat secara berdaya guna dan berhasil guna.Pelayanan . 7. Agar tercapai tepat obat dan tepat waktu. 3. Apabila dalam pendanaan pengadaan obat melibatkan pihak ke tiga. Berkewajiban melaksanakan pengendalian pelayanan dan pemantauan penggunaan obat di rumah sakit. 5. SK Menkes Nomor 085/Menkes/Per/I/1989 tentang Penulisan Obat Generik di Instansi Pelayanan Kesehatan Milik Pemerintah. Kerjasama dgn poli rawat jalan 6.Tata laksana obat (TLO) . Satu sop Prosedur / Instruksi kerja : . Pasal 8 ayat 2-C pasal 9 ayat 1-4 I. 4. Jemput resep 4. SK Dirjen Pelayanan Medis Nomor 0428/ Yanmed/RSKS/SK/1989 tentang Petunjuk Pelaksanaan SK Menkes Nomor 085/Men-kes/Per/I/1989 tentang Penulisan Obat Generik di Instansi Pelayanan Kesehatan Milik Pemerintah. Tersedia tenaga untuk unit dose dispensing 5. 2.Laporan rutin dari pihak ke 3 .Monitoring 9.Monitoring pengelolaan obat . Meningkatkan pendapatan RS J. Sistem Pelayanan satu Pintu 1.Formularium RS .Menentukan distributor yang tepat 8. Sistem dimana Instalasi Farmasi RS memiliki kewenangan penuh dalam pengelolaan perbekalan farmasi. maka tata kerja dan teknis layanan kefarmasian harus di bawah koordinasi IFRS. dan pemantauan obat yang digunakan di rumah sakit. 6. Fasilitas antar untuk jarak tertentu 5. Dasar Hukum pelayanan Kefarmasian satu Pintu: 1. pengadaan.Harga jual obat seragam . IFRS diharuskan membuat prosedur perencanaan.

Logistik (pengadaan. obat formularium. Dalam pelaksanaannya Kebijakan ini kurang efektif. pengawasan) K. dana gotong royong seluruh jajaran RS. sesuai program Instalasi Farmasi serta Panitia Farmasi dan Terapi. Membangun kekuatan internal RS terhadap pesaing farmasi dari luar dan mewujudkan keterikatan terhadap pelayanan farmasi RS dengan penyediaan 4. dll. obat DPHO Askes. penyimpanan. 2. pasien rawat jalan maupun rawat inap.Informasi obat . Kenyataan dilapangan ditemukan beberapa hal antara lain: . Keuntungan Sistem Satu Pintu 1.. Satu sistem informasi . persediaan. Memudahkan monitoring penggunaan obat. Commitment Building : Memberikan yang terbaik untuk pelanggan. Penerapan SIM farmasi. baik obat generik. Proses pelaksanaan sistem pelayanan kefarmasian satu pintu 1.Pertemuan rutin dgn pihak ke 3 . Pemahaman tentang tanggungjawab kepada pihak internal IFRS bahwa Instalasi farmasi bertanggung jawab atas semua obat yang beredar di rumah sakit. Dapat melakukan Pengkajian Penggunaan Obat di rumah sakit. L.Pengkajian penggunaan obat . 4. 6. Dapat dilaksanakan Monitoring Efek Samping Obat (MESO) oleh Panitia Farmasi dan Terapi. Dapat mengetahui kebutuhan obat secara menyeluruh. penghapusan.Konseling obat . 7. 3. 5. Pemberdayaan Panitia Farmasi dan Terapi Penerapan sistem formularium RS Penerapan satu SOP penulisan resep Resep wajib dikirim ke IFRS untuk dilakukan skrining (dan validasi).. pelayanan bebas kesalahan (Zerro Defect). sehingga memudahkan perencanaan obat 3. 8.Tindak lanjut 10. tidak sesuai dengan tujuan diharapkan. Dapat dilaksanakan Pelayanan Informasi Obat dan Konseling Obat baik bagi 6. 2. Menjamin mutu obat yg tersedia sesuai persyaratan kefarmasian. Dapat dilaksanakannya pelayanan obat dengan sistem unit dose ke semua ruang rawat 5. 7. pelayanan bebas copy resep (terlayani semua di rumah sakit).

Keterbatasan dari segi sumber daya manusia (khusus yang menangani proses pengadaan) pada Direktorat Binfar Alkes terbatas sehinga mempengaruhi lambatnya proses pengadaan berdampak terhadap ketersediaan obat. mengakibatkan kegiatan tidak berjalan maksimal (Program Pengobatan Massal Filariasis dicanangkan pada bulan Oktober. kemasan tidak utuh/rusak. vaksin. mengakibatkan terjadi kekosongan vaksin berdampak pada delay vaksinasi 2. .1. Kebijkan tidak disertai dengan pemenuhan sarana dan prasarana pendukung. drug user (contoh) Direktorat Jenderal PP dan PL tidak dilibatkan dalam monitoring pasca proses pengadaan/distribusi obat sehingga beberapa masalah obat yang diterima di Dinas Kesehatan Kab/Kota mengalami masalah seperti :expired date singkat. gudang farmasi masih terbatas sehingga beberapa obat-obatan titipkan pada gudang-gudang penyedia (Proses penyimpanan tidak efektif atau tidak sesuai dengan tatakelola yang standar). Proses pengadaan vaksin yang sering terlambat karena birokrasi yang panjang . 3. 4. Sinkronisasi dengan program sebagai drug user dengan pelaksana proses pengadaan belum maksimal. Kurangnya ketatnya monitoring (tight monitoring).sementara pada bulan tersebut beberapa Kabupaten/Kota sebagai daerah endemis belum menerima dropping obat).

dan evaluasi penggunaan perbekalan farmasi.BAB III PENUTUP A. penyimpanan. penerimaan. . Kesimpulan Pelayanan farmasi satu pintu pada rumah sakit yaitu mengelola perbekalan farmasi yang efektif dan efisien mulai dari perencanaan. produksi. Pelayanan farmasi sistem satu diselenggarakan sesuai dengan Surat Keputusan Pelayanan Farmasi yang berlaku di masing-masing rumah sakit dan koordinasinya berada di bawah Instalasi / Bagian Farmasi Rumah Sakit. pengadaan. pendistribusian.