BRONKIEKTASIS

I.

PENDAHULUAN
Bronkhiektasis adalah dilatasi bronkhi yang persisten. Terdapat

berbagai istilah deskriptif seperti bronkhiektasis sakular, fusiformis dan
silindris yang kurang memiliki nilai klinis. Sekresi bronkhus sulit
dibersihkan dari bronkhus yang berdilatasi tergantung letaknya dalam paru,
jika letaknya pada bagian atas paru maka umumnya akan mengalir ke luar
karena gravitas. Namun bronkhiektasis lebih sering terjadi di lobus bawah
paru. Bronkhus yang terkena dapat fokal, dapat pula difus atau bilateral.
Bronkhus yang fokal pada umumnya terjadi oelh karena terdapatnya
pembesaran kelenjar limfe yang menyumbat bronkus atau dapat pula
disebabkan oleh karena benda asing. Sedang yang difus pada umumnya
terjadi bila brokhus mengalami infeksi yang berulang akibat aspirasi cairan
lambung maupun akibat dari inhalasi gas. Pada bronkhus yang rusak adalah
otot bronkhusnya sehingga bronkhus kehilangan fleksibilitasnya. Selain itu,
pada bronkhus dapat pula terjadi luka yang dapat menimbulkan infeksi
sehingga

menyebabkan

fibroblas

membentuk

jaringan

parut

di

bronkhus.1,2,3,5,6,7,9
Suatu keadaan bronkhus atau bronkhiolus yang melebar akibat
hilangnya sifat elastisitas dinding otot bronkhus yang dapat disebabkan oleh
obstruksi dan peradangan yang kronis, atau dapat pula disebabkan oleh
kelainan kongenital yang dikenal sebagai sindrom kartagener, yairu suatu
sindrom yang terdiri atas bronkhiektasis, sinusitis dan destrokardia. Kluhan
biasanya berupa sesak, batuk, batuk kronis sekret yang banyak dan kental
kadang-kadang bercampur darah serta pada pemeriksaan fisik ditemukan
suara napas yang kasar dan rhonki basah kasar.1,2,3,5,7,8

1

II.

ANATOMI DAN FAAL PERNAPASAN
Paru manusia terbentuk setelah embrio mempunyai panjang 3 mm.

Pembentukan pasru dimulai dari sebuah groove yang berasal dari foregut.
Selanjutnya pada groove ini terbentuk dua kantung yang dilapisi oleh suatu
jaringan yang disebut primary lung bud. Bagian proksimal foregut membagi
diri menjadi dua yaitu esofagus dan trakea. Pada perkembangan selanjutnya
trakea akan bergabung dengan primary lung bud. primary lung bud
merupakan cikal bakal bronkhi dan cabang-cabangnya. Bronkhial terbentuk
setelah embrio berumur 16 minggu, sedangkan alveoli berkembang setelah
bayi lahir dan jumlahnya terus meningkat hingga anak berumur 8 tahun.1,2,3,4
Saluran napas terdiri atas trakea dan bronkhus utama serta cabangcabangnya. Cabang bronkhus ini dikenal sebagai bronkhus lobaris,
segmentalis dan subsegmentalis hingga berakhir pada bronkhiolus.
Selanjutnya bagian distal brokhus terdiri dari bronkhiolus respiratorius,
duktus alveolaris dan sakus alveolaris. Sistem pernapasan mempunyai
fungsi menyediakan oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida dari tubuh.
Oksigen merupakan sumber tenaga bagi tubuh, sedangkan karbon dioksida
merupakan bahan toksik yang harus segera dikeluarkan dari tubuh. Bila
karbon dioksida tertumpuk di dalam darah maka akan menurunkan PH
sehingga menimbulkan keadaan asidosis yang dapat mengganggu faal tubuh
dan dapat menyebabkan kematian.2,3,5
Paru-paru adalah organ penting dari respirasi, jumlahnya ada dua
yang terletak di samping kanan dan kiri mediastinum, dan terpisah atu sama
lain oleh jantung dan organ lainnya dalam mediastinum. Paru-paru memiliki
area permukaan alveolar kurang lebih seluas 40 m 2 untuk pertukaran udara.
Karakteristik paru-paru yaitu berpori, tekstur kenyal ringan, mengapung di
air, dan sangat elastis. Permukaan paru-paru halus , bersinar, dan
membentuk beberapa daerah polihedral yang menunjukkan lobulus organ.
Paru kanan di bagi oleh fissura transversa dan fissura obliq menjadi tiga

2

Basis pulmonalis paru turun selama inspirasi dan naik selama ekspirasi.5 cm diatas klavikula. dan limpa karena diafrgama sebelah kanan lebih tinggi daripada di sisi kiri. Anatomi paru Setiap paru memiliki bentuk kerucut yang terdiri dari bagian puncak (apeks). dan dua permukaan.5 Permukaan mediastinum adalah permukaan media yang cekung. kecekungan dasar paru kanan lebih dalam dari yang di sebelah kiri. Puncak (apeks) menonjol ke atas dalam leher sekitar 2. yaitu suatu cekungan dimana bronkhus. lambung. Sedangkan paru kiri memiliki fissura obliq dan dua lobus. yang memisahkan paru kanan dari lobus kanan hati. Ruang 3 . Dasar (basis pulmonis) memiliki permukaan luas.2. dan saraf pembentuk radiks pulmonalis masuk dan keluar paru.4.4.3.5 Gambar 1.2. pembuluh darah. tengah. dan bawah). tiga perbatasan. Ligamentum pulmonal adalah lipatan ganda yang menghubungkan kedua lapisan pleura pada hilus paru. dan paru-paru kiiri dari lobus kiri hati. dan terletak di atas diafragma. konkaf. Puncak (apeks pulmonis) memiliki permukaan halus dan tumpul.3. Pada permukaan mediastinal terdapat dari hilus pulmonalis.lobus (atas. dasar (basis).

Zona respiratorik yang terdiri dari bronkhioli respiratorik. trakea.4.3.4. 4 . sakus alveoli serta alveoli.6. yaitu:2. 4.7 1.diafragma tergantung dengan permukaan cembung diafragma dimana disebelah kanan lebih cekung karena adanya hati.3.5.5. bronkhus serta bronkhioli terminalis 2. 2.3. Pernapasan seluler yaitu penggunaan oksigen di dalam sel serta pembuatan karbon dioksida Secara fungsional saluran pernapasan dapat dibagi menjadi dua yaitu:1. 3. Ventilasi yaitu pergerakan udara ke dalam dan ke luar paru Pernapasan luar yaitu pertukaran gas di dalam alveol dan darah Transportasi gas melalui darah Pernapasan dalam yaitu pertukaran gas antara darah dengan sel-sel jaringan 5.2.2. Aktivitas otot pernapasan saat inspirasi dan ekspirasi Proses respirasi berlangsung beberapa tahap. Zona konduksi yang terdiri dari hidung.6.5 Gambar 2.7 1. faring.4.

8 a) Kelainan kongenital Bronhiektasis yang timbul kongenital mempunyai ciri - sebagai berikut: Bronkhiektasis mengenai hampir seluruh cabang bronkhus - pada satu atau kedua paru.4.Obstruksi bronkhus IV. ETIOLOGI Penyebab bronkhiektasis sampai sekarang belum diketahui dengan jelas. Pada kenyataannya kasus-kasus bronkhiektasis dapat timbul secara kongenital dan didapat.Gambar 3. Bronkhiektasis kongenital sering menyertai penyakit- penyakit kongenital lainnya.6. Zona konduksi dan respirasi III. PATOFISIOLOGI 5 . b) Kelainan didapat . misalnya penyakit jantung bawaan atau kifoskoliosis kongenital.Infeksi . yaitu:1.

maka patofisiologinya tidak diketahui dan di duga berkaitan erat dengan faktor genetik atau perkembangan fetus dalan kandungan.13 Imunitas menurun Kelainan struktur kongenital Pneumonia berulang Terkumpulnya sekret Kerusakan permanen pada dinding bronkus batuk Infeksi bakteri pada dinding bronkus Kerusakan pada jaringan otot dan elastin Kerusakan bronkus irreversibel Kemampuan kontraksi <<< Kemampuan mengeluarkan sekret <<< Penyakit paru primer Obstruksi jalan napas atelektas is Tekanan intrapleura lebih negatif dari atmosfer Bronkus dilatasi Pengumpalan sekret.12. Patofisiologi pada bronkhiektasis yang didapat sering berkaitan dengan obstruksi bronkus. Bronkiektasis menetap MANIFESTASI KLINIS Gejala yang timbul pada bronkhiektasis tergantung pada luas dan beratnya penyakit. Patofisiologi bronkiektasis V. Dilatasi bronkus mungkin disebabkan karena kerusakan dinding bronkus akibat peradangan.8. Apabila bronkhiektasis timbul kongenital. infeksi sekunder. lokasi kelainannya dan ada tidaknya komplikasi lanjut. adanya hemoptisis dan pneumonia berulang. Batuk pada bronkhiektasis 6 .Patofisiologi bronkhiektasis tergantung penyebabnya. Ciri khas penyakit ini adalah adanya batuk kronik disertai produksi sputum.1.9. dan terjadi sirkulus Rentan infeksi Gambar 4.7.

4.14.mempunyai ciri antara lain batuk produktif berlangsung kronik dan frekuensi mirip sepeti pada bronkhitis kronik. sesak nafas.2. pada umumnya jumlah sputum banyak terutama pada pagi hari sesudah ada perubahan posisi tidur atau bangun dari tidur.15 VII.6.14.4.5. 2. Pada bronkhiektasis biasanya ditemukan rhonki basah yang jelas pada lobus bawah paru dan menetap dari waktu ke waktu.3. Apabila daerah paru yang terkena sangat luas maka dapat terjadi retraksi dinding dada dan berkurangnya gerakan dada serta dapat terjadi pergeseran mediastinum ke daerah paru yang terkena. Adanya leukositosis yang menunjukkan infeksi supuratif. 2. 1. Tanda-tanda fisik umum meliputi sianosis atau jari tabuh. demam atau sedang batuk darah.3. Pada keadaan lanjut dan terdapat insufisiensi paru dapat ditemukan polisitemia sekunder. Jumlah sputum bervariasi.5. Sedangkan hemoptisis terjadi kira-kira pada 50% kasus bronkhiektasis. Pemeriksaan sputum dengan pengecatan langsung dapat dilakukan untuk menentukan kuman apa yang terdapat pada sputum.15 VI. Kelainan ini terjadi akibat nekrosis atau destruksi mukosa bronkhus mengenai pembuluh darah (pecah) dan timbul perdarahan. PEMERIKSAAN RADIOLOGI A. PEMERIKSAAN LABORATORIUM Kelainan laboratorium pada bronkhiektasis umumnya tidak khas.15 VIII.6. mungkin pasien sedang mengalami batuk-batuk dengan pengeluaran sputum.4.5. PEMERIKSAAN FISIK Pada saat pemeriksaan fisik.3.6.14. RONTGEN THORAX  Paru Radiolusen  Vaskuler paru 2/3 medial  Hilus dextra lebih rendah dibandingkan hilus sinistra  Letak diafragma dextra lebih tinggi dibandingkan sinistra  Sinus lancip 7 .

10. kadang-kadang juga bisa berupa bulatan-bulatan translusen yang sering dikenal sebagai gambaran sarang tawon (honey comb appearance). Bulatan translusen ini dapat berukuran besar (diameter 1-10cm) yang berupa kista-kista translusen dan kadang-kadang berisi cairan (air fluid level) akibat peradangan sekunder.14.   Lapisan pleura tidak tampak Iga depan seperti huruf V Iga belakang seperti huruf A Gambar 6.8.15 8 . Foto thorak normal Pada pemeriksaan foto thoraks polos tampak gambaran berupa bronkhovaskular yang kasar dan terdapat di lapangan bawah paru atau gambaran garis-garis translusen yang panjang menuju ke hilus dengan bayangan konsolidasi sekitarnya akibat peradangan sekunde.

14.15 9 . Gambaran ini sebenarnya menunjukkan bronkus yang penuh dengan sekret.10. Tramline shadow terlihat lebih tebal dan bukan pada daerah parahilus.15 Selanjutnya terdapat tubular shadow yang merupakan gambaran bayangan yang putih dan tebal. Lebarnya dapat mencapai 8mm. 8. Gambaran ini khas untuk bronkiektasis.10. Bayangan ini terdiri atas dua garis paralel yang putih dan tebal yang dipisahkan oleh daerah yang berwarna hitam. 8.14. Gambaran Ring Shadow Gambaran tramline shadow dapat terlihat pada bagian perifer paru.Gambar 7.

Pemeriksaan bronkogram selain dapat menentukan bentuk-bentuk bronkiektasis yang dibedakan dalam bentuk silindris (tubulus.15 10 . Maka perlu dilakukan pemeriksaan bronkografi. oblik). yaitu suatu pemeriksaan foto dengan pengisian media kontras ke dalam sistem saluran bronkus pada berbagai posisi (AP.G ambar 8. 8. Gambaran Tubular Shadow B.14. lateral. BRONKOGRAFI Sering bronkiektasis yang dicurigai tidak ditemukan kelainan pada pemeriksaan foto thoraks polos. fusiform) sakuler (kistik) dan varikosis.10.

14. 8. Gambaran Bronkografi yang menunjukkan bronkiektasis silindris disertai dilatasi bronkus lobus bawah C.15 11 . terutama untuk menentukan apakah perlu dilakukan operasi.10.Gambar 9. TOMOGRAFI KOMPUTER (CT-SCAN) Ct-scan dengan resolusi tinggi menjadi pemeriksaan penunjang terbaik untuk mendiagnosis bronkiektasis. Modalitas ini juga mampu mengetahui lobus mana yang terkena. Ct-scan resolusi tinggi akan memperlihatkan dilatasi bronkus dan penebalan dinding bronkus. Ct-scan resolusi yang tinggi mempunyai sensitivitas sebesar 97% dan spesifitas sebesar 93%. mengklarifikasi temuan dari foto thorax dan melihat letak kelainan jalan nafas yang tidak dapat terlihat pada foto polos thoraks.

Gambar 10. Dalam paru-paru ini terutama melibatkan evaluasi fungsi hemodinamik dan studi perfusi dan ventilasi. CT Scan tampak gambaran kistik bronkiektasis di lobus inferior paru kiri D. kemampuan MR untuk 12 . CT Scan Thorax Normal Gambar 11. MRI fungsional Sebuah keuntungan yang signifikan dari MRI lebih CT adalah kemampuan unggul untuk menilai fungsi. Dibandingkan dengan HRCT. terutama dalam kondisi seperti CF. di mana pasien muda mungkin memerlukan pencitraan serial untuk pemantauan penyakit dan penilaian menanggapi pengobatan. MRI memiliki potensi dalam pencitraan dari bronkiektasis. MAGNETIC RESONANCE IMAGING (MRI) 1.

A B Gambar : a) resonansi magnetik Transverse (T2 setengah Fourier akuisisi single-shot turbo spinecho. seperti yang ditunjukkan oleh anak panah. Dengan peningkatan MRI teknik. plugging mukosa perifer dan dorsal konsolidasi ditunjukkan. bronkiektasis.b) sesuai gambar computed tomography dalam wanita 14 tahun dengan cystic fibros. 13 . Dalam kedua gambar. bronkus penebalan dinding. studi terbaru menunjukkan reproduktifitas baik dan korelasi yang baik dengan hasil PFT.memberikan pencitraan fungsional dan kurangnya radiasi bisa mengimbangi resolusi spasial yang terbatas.

Gambaran radiogram bronkitis kronik hanya memperlihatkan perubahan yang minimal dan biasanya tidak spesifik. Pada foto rontgen hanya tampak corakan yang ramai di bagian basal paru. DIAGNOSA BANDING Beberapa penyakit yang perlu dipertimbangkan jika berhadapan dengan bronkiektasis. Menurut Meschan (1969). Penyakit ini disebabkan oleh bermacam-macam etiologi. misalnya asma. infeksi. Penyakit bronkitis kronis dan emfisema ternyata selalu berhubungan dengan bronkitis asma oleh karena adanya spasme bronkus. bergantung pada berat ringannya gangguan pada bronkus. Acapkali berdasarkan pemeriksaan klinis dan labolatorik sudah dapat ditegakkan diagnosisnya.-7. yaitu:1. infeksi merupakan penyebab kedua tersering terjadinya bronkitis kronik. dengan Cairan intrabronchial memiliki tingkat udara-cairan (panah). Infeksi ini dapat spesifik maupun tidak spesifik. Kadang-kadang tampak corakan peribronkial yang bertambah di basis paru oleh penebalan dinding bronkus dan peribronkus. IX. Corakan yang ramai di basal paru ini dapat merupakan variasi normal pada foto toraks. Cor Pulmonale kronik umumnya disebabkan oleh penyumbatan emfisema paru yang kronik dan sering ditemukan pada bronkitis asma kronik. Tidak ada kriteria yang pasti untuk menegakkan diagnosis bronkitis kronik pada foto toraks biasa. 14 . yaitu : ringan.T1-tertimbang magnetic resonance imaging menunjukkan penampilan) sebelum dan b) setelah kontras media pada pasien fibrosis kistik 43 tahun. dan lain-lain.A B Gambar : a). 16-18 1. Gambar pasca kontras menunjukkan bronkial luas peningkatan dinding dan diferensiasi mengizinkan dari dinding menebal dari sekresi intrabronchial. Bronkitis kronik secara radiologik dibagi dalam 3 golongan. Bronkitis kronik Penyakit bronkitis kronik tidak selalu memperlihatkan gambaran khas pada foto thoraks.

Gambar : Foto polos dan Ct-scan bronkitis kronis 2. juga terdapat emfisema dan kadang-kadang disertai bronkiektasi di parakardial kanan dan kiri. Baik pleuritis maupun 15 . Pada golongan yang sedang. Komplikasi lain adalah atelektasis akibat stenosis bronkus karena perforasi kelenjar ke dalam bronkus. namun sarang dalam parenkim paru-paru sering disertai oleh pembesaran kelenjar limfe regional (kompleks primer). selain corakan paru yang ramai. Sedangkan golongan yang berat ditemukan hal-hal tersebut diatas dan disertai cor pulmonale sebagai komplikasi bronkitis kronis. Kelainan rontgen akibat penyakit ini dapat berlokasi dimana saja di dalam paru-paru. Salah satu komplikasi yang mungkin timbul adalah pleuritis. karena perluasan infiltrat primer ke pleura melalui penyebaran hematogen. Tuberkulosis paru Tuberkulosis paru dibagi menjadi :  Tuberkulosi Anak (infeksi Primer) Tuberkulosis primer terjadi karena infeksi melalui jalan pernafasan (inhalasi) oleh Mycobacterium tuberculosis. Pada golongan yang ringan ditemukan corakan paru yang ramai di bagian basal paru.sedang. dan berat.

16 .atelektasi tuberkulosis pada anak-anak mungkin demikian luas sehingga sarang primer tersembunyi di belakangnya. Pembesaran kelenjar-kelenjar limfe pada tuberkulosis sekunder jarang ditemukan. Gambar: Kompleks primer Tuberculosis  Tuberkulosis Orang Dewasa ( Tuberkulosis re-infeksi) Tuberkulosis yang bersifat kronis ini terjadi pada orang dewasa. tetapi tidak diketahui dan menyembuh sendiri. Sarang-sarang terlihat pada foto Roentgen biasanya berkedudukan di lapangan atas dari segmen apikal lobi bawah. Saat ini pendapat umum mengenai penyakit tersebut adalah bahwa timbul reinfeksi pada seorang yang dimasa kecilnya pernah menderita tuberkulosis primer. walaupun kadang-kadang dapat juga terjadi di lapangan bawah. yang biasanya disertai oleh pleuritis.

atau bila ada lubang-lubang.Gambar : Tuberculosis re-infeksi Klasifikasi tuberkulosis sekunder Klasifikasi tuberculosis sekunder menurut American Tuberculosis Association :  Tuberkulosis minimal: yaitu luas sarang-sarang yang kelihatan tidak melebihi daerah yang dibatasi oleh garis median. apeks. luasnya tidak boleh melebihi luas satu lobus. Tuberkulosis lanjut sedang (moderately advanced tuberculosis): yaitu luas sarang-sarang yang bersifat bercak-bercak tidak melebihi luas satu paru. dan iga 2 depan. diameternya tidak melebihi 4 cm. Tuberkulosis sangat lanjut (far advanced tuberculosis): yaitu luas daerah yang dihinggapi oleh sarang-sarang lebih daripada klasifikasi kedua diatas. 17 . tidak harus berada dalam daerah tersebut di atas. Tidak ditemukan adanya  lubang (kavitas). maka diameter keseluruhan semua lubang melebihi 4 cm. Kalau sifat bayangan sarang-sarang tersebut berupa awan-awan yang menjelma menjadi daerah konsolidasi yang  homogen. sarang-sarang soliter dapat berada di mana saja. sedangkan bila ada lubang.

3. Lubang (kavitas) ini selalu berarti proses aktif kecuali bila lubang  sudah sangat kecil.Ada beberapa cara pembagian kelainan yang dapat dilihat pada foto Roentgen. yaitu:  Sarang-sarang berbentuk awan atau bercak bercak dengan densitas rendah atau sedang dengan batas tidak tegas. Sarang induratif atau fibrotik. Yang mulai lebih banyak dipergunakan di Indonesia dan menurut hemat penulis juga memang lebih praktis. dan terletak di daerah jaringan paru yang rusak. berbatas tegas dengan densitas tinggi. yang  batasnya tidak tegas dengan densitas rendah. Sarang-sarang seperti  ini biasanya menunjukkan bahwa proses aktif. berbentuk butir-butir bulat kecil yang batasnya  tegas dan densitasnya sedang. ialah cara pembagian yang lazim dipergunakan di Amerika Serikat. yaitu yang berbentuk garis-garis. tetapi di Indonesia hampir tidak dipergunakan lagi. Sarang produktif. berbentuk awan-awan atau bercak. Salah satu pembagian adalah menurut bentuk kelainan. yang dinamakan lubang sisa (residual cavity). Abses paru Abses Paru ialah peradangan di jaringan paru yang menimbulkan nekrosis dengan pengumpulan nanah. Kavitas (lubang) Sarang kapur (kalsifikasi) Cara pembagian ini masih banyak digunakan di Eropa. Sarang seperti garis-garis (fibrotik) atau bintik-bintik kapur (kalsifikasi) yang biasanya menunjukkan bahwa proses lebih tenang. Pada foto PA dan lateral abses paru biasanya ditemukan satu kavitas. dapat pula ditemukan permukaan udara dan cairan di dalamnya.   atau pita tebal. Tampak bronkus dan pembuluh darah paru 18 . Gambaran khas CT Scan abses paru ialah berupa lesi dens bundar dengan kavitas berdinding tebal. tetapi dapat juga multi kavitas berdinding tebal. yaitu :  Sarang eksudatif. tidak teratur.

Adenoma Paru  KISTA PARU Terbentuknya kista paru merupakan hiperinflasi udara ke dalam parenkim paru melalui suatu celah 19 . Penyakit paru penyebab hemoptisis.berakhir secara mendadak pada dinding abses. Gambar : Abses Paru foto PA Gambar : Abses paru lateral Gambar : CT-scan abses 4. tidak tertekan atau berpindah letak. misalnya : a.

berupa klep akibat suatu peradangan kronis. atau seluruh hemitoraks. Karsinoma Paru  ATELEKTASIS Gambaran perselubungan padat akibat hilangnya aerasi yang disebabkan sumbatan bronkus oleh tumor. Gambar : Kista paru dengan bayangan-bayangan bulat berdinding tipis di kedua lapangan paru terutama kanan b. dapat terjadi secara segmental. Kista paru dapat pula disebabkan kelainan kongenital yang secara radiolgik tidak dapat dibedakan dengan kista paru didapat (akibat peradangan. Gambaran atelektasi secara radiologik tidak berbeda dengan atelektasis yang disebabkan oleh penyumbatan bronkus lainnya. lobaris. 20 .

A 21 .Gambar : Atelektasis paru kiri tengah (parahiler)  MASSA DI PARU Karsinoma bronkogen dimulai sebagai bayangan noduler kecil di perifer paru dan akan berkembang menjadi suatu massa sebelum terjadi keluhan. Biasanya massa di paru sebesar 4-12 cm berbentuk bulat atau oval yang berbenjol dan kadang-kadang pada pemeriksaan tomografi terlihat gambaran radiolusen yang menunjukkan adanya nekrosis di dalam tumor.

tetapi harus secara terusmenerus. Tomografi computer. menghindari debu dll. tampak massa berbatas tegas di paru kiri tengah B.16-18 - Menciptakan lingkungan yang tepat bagi pasien seperti - membuat ruangan yang hangat. X. PENGOBATAN UMUM Pengelolaan umum ditujukan terhadap semua pasien bronkiektasis. meliputi: 1-7. tampak massa dengan batas relatif rata baik. foto toraks. PENATALAKSANAAN a. Pasien diletakkan dengan posisi sedemikian rupa sehingga dapat di capai drainase sputum secara maksimal. 22 .B Gambar : A. Memperbaiki drainase sekret bronkus dengan cara sebagai berikut:  Drainase postural Melakukan drainase postural merupakan cara untuk mengurangi gejala.

meliputi: 1-7. PENGOBATAN KHUSUS Pengelolaan umum ditujukan terhadap semua pasien bronkiektasis. Antibiotik diberikan selama 7-10 hari sampai terjadi konversi warna sputum yang semula berwarna kuning atau hijau menjadi mukoid atau putih jernih. - Drainase sekret dengan bronkoskop Pengobatan simtomatik  Pengobatan obstruksi bronkus Apabila ditemukan tanda obstruksi bronkus yang diketahui dari faal paru (%VEP1<70%) dapat diberikan bronkodilator. Pengobatan hemoptisis Apabila perdarahan masif. maka diperlukan tindakan operatif untuk menghentikan perdarahan 23 . Mencairkan sputum yang kental dengan menggunakan obat mukolitik dan perbaikan hidrasi   tubuh Mengatur posisi tempat tidur pasien Mengontrol infeksi saluran napas b.16-18 - Kemoterapi Kemoterapi pada bronkiektasis dapat digunakan :  Secara kontinyu untuk mengontrol infeksi bronkus  Untuk pengobatan eksaserbasi infeksi akut pada bronkus Kemoterapi disini menggunakan obat antibiotik tertentu.   Pengobatan hipoksia Pada pasien yang mengalami hipoksia maka harus diberikan oksigen.

3 24 . hemoptisis dan lain-lainnya. Pada kasus-kasus yang berat dan tidak segera di obati maka survivalnya tidak lebih dari 5-15 tahun. 1.3. Pengobatan pembedahan Tujuan pembedahan adalah untuk mengangkat (reseksi) segmen/lobus paru yang terkena bronkiektasis. bila terjadi anastomosis cabang-cabang arteri dan vena pulmonalis pada dinding bronkus akan terjadi arteriovenous shunt sehingga dapat terjadi gangguan oksigenasi darah. gagal jantung kanan. timbul sianosis sentral yang selanjutnya terjadi hipoksemia. kor pulmonal kronik yang bila berlanjut akan menyebabkan gagal jantung kanan.2. KOMPLIKASI Beberapa komplikasi yang dapat ditemui pada pasien bronkiektasis antara lain: 1.dan harus segera diberikan transfusi darah untuk - menggantikan darah yang hilang. Pemilihan obat secara tepat dapat memperbaiki prognosis penyakit. XII. daerah paru yang terkena mengalami perubahan ireversibel dan bagian paru lainnya XI. Kematian tersebut karena pneumonia.5. masih normal. empiema.2.7 - Kegagalan pernapasan Abses otak sebagai akibat dari penyebaran infeksi secara - hematogen Amiloidosis dengan gagal ginjal pada pasien bronkiektasis - yang berat dan berlangsung lama Kor pulmonal kronik. Pada keadaan selanjutnya akan terjadi hipertensi pulmonal.6. Indikasi dilakukannya pembedahan antara lain adanya kelainan yang resektabel. PROGNOSIS Prognosis pasien bronkiektasis tergantung pada berat dan ringannya penyakit.4.

2010. Ilmu Penyakit Dalam. Aru dkk. Nafrialdi. Jakarta: Interna Publishing. Panduan Pelayanan Medik.2 6 DAFTAR PUSTAKA 1. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 25 .Kelainan pada bronkiektasis biasanya mengenai bronkus denga ukuran sedang. Adanya peradangan dapat menyebabkan destruksi lapisan muskular dan elastik dari bronkus serta dapat pula menyebabkan kerusakan daerah peri bronkhial.Z dkk. Edisi VI. Alwi Idrus. Sudoyo W. Kerusakan ini biasanya akan menyebabkan timbulnya daerah fibrosis terutama pada daerah peribronkhial. Rani A. 2014. Mansjoer Arif. 2. 1.

Bhaskar. Keith Grimwood. 2002. 8. Focus. 14. 5. International Journal of Advanced Research ( March 2016). H. Anne B Chang. 26 .L. Sjahrial Rasad. 9. Tanto Chris. 44– 67.K. Bethany Milliron. Gaik C. Hanifati Sonia. Perera and N. RSNA. Reprinted from Australian Family Physician Vol. High-Resolution CT Quantification of Bronchiectasis: Clinical and Functional Correlation. Dr.G. 2009. MJA Sept 2010. Bronchiectasis: Mechanisms and Imaging Clues of Associated Common and Uncommon Diseases. MD Travis S.K.3. Ooi.A.J. American Journal of Roentgenology. et al. 2010 6. Pek L. 11. MD Srihari Veeraraghavan. Khong. Bronchiectasis. 193:6: 356–365. november 2012.L. 7. 4. 193:3: W158-W171. 2014. Volume 4. 12. Tabrani Rab. Pradipta E. Prof. Nocardia In Bronchiectasis. 2008. Eur Respir Mon 2011. 782-787. No. 52.2015.Paramjyothi. 10. et al. Issue 3. Screaton. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Little. RSNA. Bronchiectasis: A guide for primary care. Dr. Bankier and Ronald L. Jakarta : TIM. MRCP. Henry. Jakarta: Media Aesculapius. Dr. Moira ChanYeung. Alexander A. 2015. P. Jakarta: EGC. 225:663–672. Graeme Maguire. Ilmu Penyakit Paru. MD.Ashwani tandon. 41. FRCR. Ilmu penyakit paru. Eisenberg. Jhon E Stark. MD. Brashers V. Aplikasi Klinis Patofisiologi Pemeriksaan dan Manajemen. 13.2012. Dr. Luce Cantin. Radiological Features. FRCR. Chronic suppurative lung disease and bronchiectasis in children and adults in Australia and New Zealand A position statement from the Thoracic Society of Australia and New Zealand and the Australian Lung Foundation. Radiological features of bronchiectasis. Scott C Bell. Jakarta : Binarupa Aksara. Kapita Selekta Kedokteran. John M Shneerson. 35:1011–1030. MD Brent P. Edisi II. Cass A Byrnes. Radiologi Diagnostik. 11. et al.

Murphy . J A Wedzicha. London. 2014. Mariaelena Occhipinti. July 2010. Anna Rita Larici. Michael M. 18. Department of Respiratory Medicine. Number 3. Paola Franchi. Glasgow. UK.2 Kerry Reid.2 C E Bucknall. American Journal of Roentgenology.1 Sally Welham. British Thoracic Society guideline for non-CF bronchiectasis. British Thoracic Society. Kevin P. Imaging of Cystic Fibrosis and Pediatric Bronchiectasis. 16. March 2016. Department of Respiratory Medicine.67. 17. Maher and Owen J. 27 . Edinburgh. Andrea Contegiacomo. Turkish Society of Radiology: Diagn Interv Radiol.3 On behalf of the BritishThoracic Society. 20:299309. Diagnosis and management of hemoptysis. Journal of the British Thoracic Society. Volume 206. Royal Infirmary and University of Edinburgh. July 2012. UK.15. O'Connor. et al. British Thoracic Society national bronchiectasis audit 2010 and 2011. Stobhill Hospital. Volume 65. Adam T Hill.