You are on page 1of 12

MAKALAH

TUGAS SP IDK 2
REGULASI OF MOVEMENT DARI MOBILISASI
Dosen Pengampu : Farida Aini,Sp.KMB

KELOMPOK 1
DISUSUN OLEH
1. Ayu Wulandari
2. Galih Dika A
3. Lalu Sahdan
4. Munifah
5. Nindy Kumalasari
6. Pobby Ririn
7. Rika Faradilla
8. Silvyana D S
9. Taufikkurahman
10. Yunda Wardani
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
NGUDI WALUYO
UNGARAN
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang Regulation of
Management dari Mobilisasi ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita mengenai Regulation of Management. Oleh sebab itu, kami berharap adanya
kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang,
mengingat

tidak

ada

sesuatu

yang

sempurna

tanpa

saran

yang

membangun.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang
berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Range of motion (ROM) adalah gerakan dalam keadaan normal dapat dilakukan
oleh sendi yang bersangkutan (Surratun, dkk, 2008). Latihan range of motion (ROM)
adalah latihan yang dilakukan untuk mempertahan kan atau memperbaiki tingkat
kesempurnaan kemampuan mengge rkan persendian secara normal dan lengkap untuk
meningkatkan masa otot dan tonus otot (Potter & perry, 2005).
Latihan ROM biasanya dilakukan pada pasien semi koma dan tidak sadar, pasien
dengan keterbatasan mobilisasi tidak mampu melakukan beberapa atau semua latihan
rentang gerak dengan mandiri, pasien tirah baring total atau pasien dengan paralisis
ekstremitas total.
Selain berfungsi sebagai pertahanan atau terdapat memperbaiki tingkat
kesempurnaan kemampuan menggerakan persendian secara normal, lengkap, dan untuk
meningkatkan massa otot serta tonus otot, ROM juga memiliki klasifikasi ROM, jenis
ROM, indikasi serta kontrak indikasi dilaksanakan ROM dan juga prinsip dasar dilakukan
ROM.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana klasifikasi ROM??
2. Bagaimana prinsip-prinsip dasar ROM??
3. Bagaimana tujuan dan manfaat dilakukannya ROM??
4. Bagaimana indikasi dan kontraindikasi dilakukannya ROM??
5. Apasaja jenis-jenis ROM??
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui tentang klasifikasi-klasifikasi ROM
2. Untuk mengetahui prinsip-prinsip dasar ROM
3. Untuk mengetahui tujuan dan manfaat dilakukannya ROM
4. Untuk mengetahui indikasi dan kontraindikasi dilakukannya ROM
5. Untuk mengetahui

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi
Latihan range of motion (ROM) adalah latihan yang dilakukan untuk
mempertahankan atau memperbaiki tingkat kesempurnaan kemampuan menggerakan

persendian secara normal dan lengkap untuk meningkatkan massa otot dan tonus otot
(Potter & Perry, 2005).
Latihan range of motion (ROM) merupakan istilah baku untuk menyatakan
batas atau batasan gerakan sendi yang normal dan sebagai dasar untuk menetapkan
adanya kelainan ataupun untuk menyatakan batas gerakan sendi yang abnormal (Arif,
M, 2008).

B. Komsep Dasar Mobilisasi
Mobilisasi atau kemampuan seseorang untuk bergerak bebas merupakan
salah satu kebutuhan dasar manusia yang harus terpenuhi.

Tujuan mobilisasi

adalah memenuhi kebutuhan dasar (termasuk melakukan aktifitas hidup seharihari dan aktifitas rekreasi), mempertahankan diri (melindungi diri dari trauma),
mempertahankan konsep diri, mengekspresikan emosi dengan gerakan tangan non
verbal.

Immobilisasi adalah suatu keadaan di mana individu mengalami atau

berisiko mengalami keterbatasan gerak fisik. Mobilisasi dan immobilisasi berada
pada suatu rentang. Immobilisasi
dapat berbentuk tirah baring yang bertujuan mengurangi aktivitas fisik dan
kebutuhan oksigen tubuh, mengurangi nyeri, dan untuk mengembalikan kekuatan.
Individu normal yang mengalami tirah baring akan kehilangan kekuatan otot ratarata 3% sehari (atropi disuse).
Mobilisasi sangat dipengaruhi oleh sistem neuromuskular, meliputi sistem
otot, skeletal, sendi, ligament, tendon, kartilago, dan saraf. Otot Skeletal mengatur
gerakan tulang karena adanya kemampuan otot berkontraksi dan relaksasi yang
bekerja sebagai sistem pengungkit.

Ada dua tipe kontraksi otot: isotonik dan

isometrik. Pada kontraksi isotonik, peningkatan tekanan otot menyebabkan otot
memendek.

Kontraksi isometrik menyebabkan peningkatan tekanan otot atau

kerja otot tetapi tidak ada pemendekan atau gerakan aktif dari otot, misalnya,
menganjurkan klien untuk latihan kuadrisep. Gerakan volunter adalah kombinasi
dari kontraksi isotonik dan isometrik. Meskipun kontraksi isometrik tidak
menyebabkan otot memendek, namun pemakaian energi meningkat.

Perawat

harus mengenal adanya peningkatan energi (peningkatan kecepatan pernafasan,
fluktuasi irama jantung, tekanan darah) karena latihan isometrik. Hal ini menjadi
kontra indikasi pada klien yang sakit (infark miokard atau penyakit obstruksi paru
kronik).

Postur dan Gerakan Otot merefleksikan kepribadian dan suasana hati
seseorang dan tergantung pada ukuran skeletal dan perkembangan otot skeletal.
Koordinasi dan pengaturan dari kelompok otot tergantung dari tonus otot dan
aktifitas dari otot yang berlawanan, sinergis, dan otot yang melawan gravitasi.
Tonus otot adalah suatu keadaan tegangan otot yang seimbang. Ketegangan dapat
dipertahankan dengan adanya kontraksi dan relaksasi yang bergantian melalui
kerja otot. Tonus otot mempertahankan posisi fungsional tubuh dan mendukung
kembalinya aliran darah ke jantung. Immobilisasi menyebabkan aktifitas dan tonus
otot menjadi berkurang.
Ligamen adalah ikatan jaringan fibrosa yang berwarna putih, mengkilat, fleksibel
mengikat sendi menjadi satu sama lain dan menghubungkan tulang dan kartilago.
Ligamen itu elastis dan membantu fleksibilitas sendi dan memiliki fungsi protektif.
Misalnya, ligamen antara vertebra, ligamen non elastis, dan ligamentum flavum
mencegah kerusakan spinal kord (tulang belakang) saat punggung bergerak.
Tendon adalah jaringan ikat fibrosa berwarna putih, mengkilat, yang
menghubungkan otot dengan tulang. Tendon itu kuat, fleksibel, dan tidak elastis,
serta mempunyai panjang dan ketebalan yang bervariasi, misalnya tendon
akhiles/kalkaneus.
Kartilago adalah jaringan penghubung pendukung yang tidak mempunyai
vaskuler, terutama berada di sendi dan toraks, trakhea, laring, hidung, dan telinga.
Bayi mempunyai sejumlah besar kartilago temporer. Kartilago permanen tidak
mengalami osifikasi kecuali pada usia lanjut dan penyakit, seperti osteoarthritis.
Sistem saraf mengatur pergerakan dan postur tubuh.

Area motorik

volunteer utama, berada di konteks serebral, yaitu di girus prasentral atau
jalur motorik.
Propriosepsi adalah sensasi yang dicapai melalui stimulasi dari bagian tubuh
tertentu dan aktifitas otot. Proprioseptor memonitor aktifitas otot dan posisi tubuh
secara

berkesinambungan.

Misalnya: proprioseptor

pada

telapak

kaki

berkontribusi untuk memberi postur yang benar ketika berdiri atau berjalan. Saat
berdiri, ada penekanan pada telapak kaki secara terus menerus. Proprioseptor
memonitor tekanan, melanjutkan informasi ini sampai memutuskan untuk
mengubah posisi.
C. Klasifikasi latihan ROM

Latihan ROM pasif adalah latihan ROM yang di lakukan pasien dengan
bantuan perawat pada setiap-setiap gerakan. Indikasi latihan pasif adalah pasien
semikoma dan tidak sadar, pasien dengan keterbatasan mobilisasi tidak mampu
melakukan beberapa atau semua latihan rentang gerak dengan mandiri, pasien tirah
baring total atau pasien dengan paralisis ekstermitas total (suratun, dkk, 2008).
Rentang gerak pasif ini berguna untuk menjaga kelenturan otot-otot dan persendian
dengan menggerakkan otot orang lain secara pasif misalnya perawat mengangkat
dan menggerakkan kaki pasien. Sendi yang digerakkan pada ROM pasif adalah
seluruh persendian tubuh atau hanya pada ekstremitas yang terganggu dan klien
tidak mampu melaksanakannya secara mandiri.
Latihan ROM aktif adalah Perawat memberikan motivasi, dan membimbing
klien dalam melaksanakan pergerakan sendi secara mandiri sesuai dengan rentang
gerak sendi normal. Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi
dengan cara menggunakan otot-ototnya secara aktif .
D. Prinsip Dasar Latihan ROM
1.

ROM harus diulang sekitar 8 kali dan dikerjakan minimal 2 kali sehari

2.

ROM di lakukan berlahan dan hati-hati sehingga tidak melelahkan pasien.

3.

Dalam merencanakan program latihan ROM, perhatikan umur pasien, diagnosa,
tanda-tanda vital dan lamanya tirah baring.

4.

Bagian-bagian tubuh yang dapat di lakukan latihan ROM adalah leher, jari,
lengan, siku, bahu, tumit, kaki, dan pergelangan kaki.

5.

ROM dapat di lakukan pada semua persendian atau hanya pada bagian-bagian
yang di curigai mengalami proses penyakit.

6.

Melakukan ROM harus sesuai waktunya. Misalnya setelah mandi atau
perawatan rutin telah di lakukan.

E. Tujuan ROM
1.

Mempertahankan atau memelihara fleksibilitas dan kekuatan otot.

2.

Memelihara mobilitas persendian.

3.

Merangsang sirkulasi darah.

4.

Mencegah kelainan bentuk, kekakuan dan kontraktur.

5.

Mempertrahankan fungsi jantung dan pernapasan.

F.

Manfaat ROM

G.

1.

Memperbaiki tonus otot.

2.

Meningkatkan mobilisasi sendi.

3.

Memperbaiki toleransi otot untuk latihan.

4.

Meningkatkan massa otot.

5.

Mengurangi kehilangan tulang.

Indikasi ROM
1.

Stroke atau penurunan tingkat kesadaran

2.

Kelemahan otot

3.

Fase rehabilitasi fisik

4.

Klien dengan tirah baring lama

H. Kontra Indikasi ROM
1.

Trombus/emboli dan keradangan pada pembuluh darah.

2.

Kelainan sendi atau tulang.

3.

Klien fase imobilisasi karena kasus penyakit (jantung).

4.

Trauma baru dengan kemunginan ada fraktur yang tersembunyi atau luka dalam.

5.

Nyeri berat.

6.

Sendi kaku atau tidak dapat bergerak.

I. Respon fisiologik dari perubahan mobilisasi
adalah perubahan pada:
-

muskuloskeletal seperti kehilangan daya tahan, penurunan massa otot, atropi dan
abnormalnya sendi (kontraktur) dan gangguan metabolisme kalsium

-

kardiovaskuler seperti hipotensi ortostatik, peningkatan beban kerja jantung, dan
pembentukan thrombus

- pernafasan seperti atelektasis dan pneumonia hipostatik
-

metabolisme dan nutrisi antara lain laju metabolic; metabolisme karbohidrat, lemak
dan protein; ketidakseimbangan cairan dan elektrolit; ketidakseimbangan kalsium;
dan gangguan pencernaan (seperti konstipasi)

- eliminasi urin seperti stasis urin meningkatkan risiko infeksi saluran perkemihan dan
batu ginjal
- integument seperti ulkus dekubitus adalah akibat iskhemia dan anoksia jaringan

- neurosensori: sensori deprivation
Respon psikososial dari antara lain meningkatkan respon emosional, intelektual,
sensori, dan sosiokultural.

Perubahan emosional yang paling umum adalah

depresi, perubahan perilaku, perubahan dalam siklus tidur-bangun, dan gangguan
koping

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
ROM harus dilaksanakan secara berulang, perlahan dan hati-hati sehingga tidak
melelahkan pasien. Dalam merencanakan program latihan ROM, perhatikan umur pasien,
diagnosa, tanda-tanda vital dan lamanya tirah baring.
Bagian-bagian tubuh yang dapat di lakukan latihan ROM adalah leher, jari, lengan, siku,
bahu, tumit, kaki, dan pergelangan kaki. ROM dapat di lakukan pada semua persendian atau
hanya pada bagian-bagian yang di curigai mengalami proses penyakit serta harus sesuai
waktunya.
Selain daripada yang telah disebutkan diatas, ROM dilakukan juga harus memperhatikan
tujuan, manfaat, indikasi, serta kontraindikasinya agar tidak terjadi suatu hal yang tidak
diinginkan pada pasien lebih lanjut.
3.2 Saran
Berdasarkan makalah yang kami buat ini, kami dapat menyarankan ke semua Pelayan
Kesehatan khususnya perawat untuk lebih dapat mengetahui, memahami tentang ROM
beserta semua prinsip, indikasi dan kontraindikasinya agar mampu menjadi pertimbangan
dalam penerapannya didunia kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA
Warfield, Carol . 1996 . Segala Sesuatu yang Perlu Anda Ketahui Terapi Medis . Jakarta :
Gramedia Widiasarana Indonesia.
Depkes RI, 1995. Penerapan Proses Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem
Muskuloskeletal. Jakarta. Bakti Husada.
Potter, Patricia A. & Perry, Anne Griffin (2006). Buku Ajar Fundamental Keperawatan, Edisi 4.
Jakarta: EGC