You are on page 1of 9

DAFTAR ISI

Pengertian Agama dan Masyarakat ............................................................. 2
Pengertian Agama ............................................................................................ 2
Pengertian Masyarakat ..................................................................................... 3
Fungsi Agama Dalam Masyarakat ............................................................... 4
Konflik Agama dan Masyarakat .................................................................. 6
Daftar Pustaka ............................................................................................... 9

1

Pengertian Agama dan Masyarakat
Pengertian Agama
Dalam kamus sosiologi pengertian agama yaitu kepercayaan pada hal hal
yang spriritual, perangkat kepercayaan dan praktik-praktik spiritual yang di
anggap sebagai tujuan tersendiri, dan ideologi mengenai hal-hal yang bersifat
supranatural. Dari definisi diatas jelas tergambar bahwa agama merupakan suatu
hal yang dijadikan sandaran penganutnya ketika terjadi hal-hal yang berada di luar
jangkauan dan kemampuannya, karena sifatnya yang supranatural sehingga di
harapkan dapat mengatasi masalah-masalah yang non-empiris.
Pengertian agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem
yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang
Maha Kuasa, serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia serta
lingkungannya. Kata agama berasal dari Bahasa sansakerta yang berarti tradisi,
sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari
Bahasa latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti mengikat
kembali. Maksudnya dengan religi seseorang mengikat dirinya kepada tuhan.
Pengertian agama menurut M. Hasbi Alshiddiqy adalah tuntunan yang melengkapi
segala segi dan suatu perjuangan untuk memperoleh kekayaan dunia dan
kesentosaan akhirat, pengertian agama menurut Emile Durkheim adalah suatu
sistem yang terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktik yang berhubungan
dengan hal yang suci.

2

Pengertian Masyarakat
Masyarakat merupakan manusia yang hidup bersama. Di dalam ilmu sosial
tak ada ukuran mutlak ataupun angka pasti untuk menentukan berapa jumlah
manusia yang harus ada. Akan tetapi, secara teoretis angka minimalnya adalah dua
orang yang hidup bersama. Bercampur untuk waktu yang cukup lama. Karena
dengan berkumpulnya manusia, maka akan timbul manusia-manusia baru.
Manusia itu juga dapat bercakap-cakap, merasa dan mengerti, mereka juga
mempunyai keinginan-keinginan untuk menyampaikan kesan-kesan atau
perasaan-perasaannya. Sebagai akibat hidup bersama itu, timbulah sistem
komunikasi dan timbulah peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antarmanusia dalam kelompok tersebut. Beberapa definisi menurut para ahli :
1. Gillin & Gillin, definisi masyarakat adalah kelompok manusia yang
mempunyai kebiasaan, tradisi, sikap, dan perasaan persatuan yang diikat
oleh kesamaan.
2. Harold J. Laski, definisi masyarakat adalah suatu kelompok manusia
yang hidup dan bekerjasama untuk mencapai terkabulnya keinginankeinginan mereka bersama.
3. Robert Maciver, definisi masyarakat adalah suatu sistem hubunganhubungan yang ditertibkan.
4. Selo Soemardjan, definisi masyarakat adalah orang-orang yang hidup
bersama dan menghasilkan kebudayaan.
5. Horton & Hunt, definisi masyarakat adalah suatu organisasi manusia
yang saling berhubungan.
6. Mansur Fakih, definisi masyarakat adalah sebuah sistem yang terdiri atas
bagian-bagian yang saling berkaitan dan masing-masing bagian secara
terus menerus mencari keseimbangan (equilibrium) dan harmoni.
7. Emile Durkheim, definisi masyarakat merupakan suau kenyataan objektif
pribadi-pribadi yang merupakan anggotanya.

Fungsi Agama Dalam Masyarakat

3

Peranan sosial agama harus dilihat terutama sebagai sesuatu yang
mempersatukan. Dalam pengertian harfiah nya agama menciptakan suatu ikatan
bersama, baik diantara anggota-anggota beberapa masyarakat maupun dalam
kewajiban-kewajiban sosial yang membantu mempersatukan mereka. Karena
nilai-nilai yang mendasari sistem-sistem kewajiban sosial didukung bersama oleh
kelompok-kelompok keagamaan, maka agama menjamin adanya persetujuan
bersama dalam masyarakat. Agama juga cenderung melestarikan nilai-nilai sosial.
Fakta yang menunjukan bahwa nilai-nilai keagamaan itu sakral berarti bahwa
nilai-nilai keagamaan tersebut tidak mudah diubah karena adanya perubahanperubahan dalam konsepsi-konsepsi kegunaan dan kesenangan duniawi.
Dalam praktiknya fungsi agama dalam masyarakat antara lain yaitu :
1. Fungsi Edukatif
Para penganut agama berpendapat bahwa ajaran agama yang mereka
anut memberikan ajaran-ajaran yang harus dipatuhi. Ajaran agama secara
yuridis berfungsi menyuruh dan melarang. Kedua unsur suruhan dan
larangan ini mempunyai latar belakang mengarahkan bimbingan agar
pribadi penganutnya menjadi baik dan terbiasa dengan yang baik menurut
ajaran agama masing-masing.
2. Fungsi Penyelamatan
Keselamatan yang meliputi bidang yang luas adalah keselamatan yang
diajarkan oleh agama. Keselamatan yang diberikan oleh agama kepada
penganutnya adalah keselamatan yang meliputi dua alam yaitu dunia dan
akhirat. Dalam mencapai keselamatan itu agama mengajarkan para
penganutnya melalui : pengenalan kepada masalah sakral berupa keimanan
kepada tuhan.
3. Fungsi Sebagai Perdamaian
Melalui agama seseorang yang bersalah atau berdosa dapat mencapai
kedamaian batin melalui tuntunan agama. Rasa berdosa dan rasa bersalah
akan segera menjadi hilang dari batinnya, apabila seseorang pelanggar
telah menebus dosanya melalui tobat, pensucian atau penebusan dosa.
4. Fungsi Sebagai Social Control
Ajaran agama oleh penganutnya di anggap sebagai norma, sehingga
dalam hal ini agama dapat berfungsi sebagai pengawasan sosial secara
individu maupun kelompok.
5. Fungsi Sebagai Pemupuk Rasa Solidaritas
Para penganut agama yang sama secara psikologis akan memiliki
kesamaan dalam satu kesatuan : iman dan kepercayaan. Rasa kesatuan ini

4

akan membina rasa solidaritas dalam kelompok maupun perorangan
bahkan kadang-kadang dapat membina rasa persaudaraan yang kokoh.
6. Fungsi Transformatif
Ajaran agama dapat merubah kehidupan kepribadian seseorang atau
kelompok menjadi kehidupan baru sesuai dengan ajaran agama yang
dianutnya.
7. Fungsi Kreatif
Ajaran agama mendorong dan mengajak para penganutnya untuk
bekerja produktif bukan saja untuk kepentingan dirinya sendiri, tetapi juga
untuk kepentingan orang lain. Penganut agama bukan saja disuruh bekerja
secara rutin dalam pola hidup yang sama akan tetapi juga dituntut
melakukan inovasi penemuan baru.
8. Fungsi Pembaharuan
Ajaran agama dapat mengubah kehidupan pribadi seseorang atau
kelompok menjadi kehidupan baru. Dengan fungsi ini seharusnya agama
terus-menerus menjadi agen perubahan basis-basis nilai dan moral bagi
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
9.

Fungsi Sublimatif
Ajaran agama mensucikan segala usaha manusia, bukan saja yang
bersifat agamawi, melainkan juga bersifat duniawi. Usaha manusia selama
tidak bertentangan dengan norma-norma agama, bila dilakukan atas niat
yang tulus, karena untuk Tuhan, itu adalah ibadah.

Konflik Agama dan Masyarakat
Sebagai sistem kepercayaan dan sistem peribadatan, agama berperan penting
dalam menciptakan tatanan kehidupan yang berkeadilan dan beradab bagi seluruh
umat manusia di dunia. Dalam perjalanan umat manusia, agama-agama menjadi

5

sumber motivasi dan inspirasi yang tidak pernah kering, bahkan ia akan terus
berkembang seiring dengan perkembangan peradaban manusia. Namun,
sayangnya agama-agama seringkali dipahami secara sempit dan eksklusif oleh
penganutnya, disertai perasaan curiga yang berlebihan terhadap penganut agama
lain. Akibatnya, sepanjang sejarah, dunia mencatat terjadinya berbagai macam
konflik yang terjadi atas nama agama. Konflik ini telah mengakibatkan bukan saja
kehancuran fisik dan kematian dalam jumlah yang sangat besar, tetapi yang lebih
berbahaya ialah mengancam peradaban umat manusia.
Agama adalah sebuah realitas sosial yang tidak dapat dielakkan oleh siapapun,
baik dalam masyarakat tradisional maupun modern. Dimensi pluralitas yang
dipunyai agama adalah sesuatu yang sifatnya neutral values, artinya ia
mempunyai potensi konstruktif sekaligus dekstruktif dalam kehidupan umat
manusia.
Mengingat pluralitas agama merupakan keniscayaan sosiologis, maka perlu
ditingkatkan kedewasaan dalam menerima perbedaan dan memperluas wawasan
paham keagamaan, agar perbedaan yang ada bukannya menambah potensi konflik
melainkan menjadikan pluralitas sebagai aset budaya dan politik (Nurcholish
Madjid dalam Ahmad Baso, 1999: 23-24). Sayangnya, kadangkala agama, baik
tokoh dan lembaganya, terperangkap pada kecenderungan sikap ekslusif sehingga
akhirnya mereka bukannya sebagai problem solver, melainkan sebagai problem
maker.
Dalam wacana, teori konflik beranggapan bahwa masyarakat adalah suatu
keadaan konflik yang berkesinambungan di antara kelompok dan kelas serta
berkecenderungan ke arah perselisihan, ketegangan, dan perubahan. Tampaknya
masyarakat menjadi lahan yang tumbuh suburnya konflik. Bibitnya bisa
bermacam-macam faktor; ekonomi, politik, sosial, bahkan agama.
Pada dasarnya, apabila merujuk kepada Al-Qur’an, banyak indikasi yang
menjelaskan adanya faktor konflik di masyarakat. Dalam Al-Qur’an disebutkan
bahwa faktor konflik itu sesungguhnya berawal dari manusia. Misalnya, dalam
surat Al-Rum ayat 41 disebutkan bahwa kerusakan—bisa berbentuk kerusuhan,
demonstrasi, dan lain-lain—diakibatkan oleh tangan manusia. Ayat ini bisa
dijadikan argumentasi bahwa penyebar konflik sesungguhnya adalah manusia.
Oleh karena itu, dalam pembicaraan ini akan melihat dari segi penganut
agamanya, bukan agamanya, untuk mengidentifikasi timbulnya konflik.
Penganut agama adalah orang yang meyakini dan mempercayai suatu ajaran
agama. Keyakinannya itu akan melahirkan bentuk perbuatan baik atau buruk,
yang dalam term Islam disebut “amal perbuatan”. Dari mana mereka meyakini
bahwa suatu perbuatan itu baik dan buruk. Keyakinan ini dimiliki dari rangkaian
proses memahami dan mempelajari ajaran agama itu. Oleh karena itu, setiap
penganut akan berbeda dan memiliki kadar interpretasi yang beragam dalam

6

memahami ajaran agamanya. Dengan demikian, pada sisi ini agama memiliki
potensi yang dapat melahirkan berbagai bentuk konflik (intoleransi). Paling tidak,
konflik seperti ini adalah konflik intra-agama atau disebut juga konflik
antarmazhab, yang diakibatkan oleh perbedaan pemahaman terhadap ajaran
agama.
Paling tidak, ada dua pendekatan untuk sampai pada pemahaman terhadap
agama. Pertama, agama dipahami sebagai suatu doktrin atau ajaran; dan kedua,
agama dipahami sebagai aktualisasi dari doktrin tersebut yang terdapat dalam
sejarah. Nurcholish Madjid menyebutkan kedua istilah itu dengan istilah doktrin
dan peradaban. Sedangkan Sayyed Hossein Nasr, menyebutnya dengan istilah
Islam ideal dan Islam realita. Oleh karena itu, wajah ganda, seperti yang
diistilahkan oleh Afif Muhammad, bisa dilihat dalam kedua pemahaman terhadap
agama itu. Dalam ajaran atau doktrin agama, terdapat seruan untuk menuju
keselamatan yang dibarengi dengan kewajiban mengajak orang lain menuju
keselamatan tersebut. Dan dalam pengalaman suatu ajaran agama (aktualisasi
doktrin) oleh para penganutnya, tampak kesenjangan jika dibandingkan dengan
doktrin agamanya.
Oleh karena itu, dalam setiap agama, ada istilah “dakwah”, meskipun dalam
bentuk yang berbeda. Dakwah merupakan upaya mensosialisasikan ajaran agama.
Bahkan tidak jarang masing-masing agama menjastifikasi bahwa agamanya lah
yang paling benar. Apabila kepentingan ini lebih dikedepankan, masing-masing
agama akan berhadapan satu sama lain dalam menegakkan hak kebenarannya. Ini
yang memunculkan adanya sentimen agama. Maka tidak mustahil benturan pun
sulit dihindarkan. Dan inilah yang kemudian melahirkan konflik antar agama,
bukan intra-agama. Misalnya, peristiwa Perang Salib antara umat Islam dan
Kristen. Tragedi ini sangat kuat muatan agamanya daripada politisnya.
Kecenderungan sentimen agama di antara kedua umat tersebut menimbulkan
konflik yang berkepanjangan dan menimbulkan banyak korban.
Pada tataran ini tampaknya agama tidak hanya menjadi faktor pemersatu, tetapi
juga faktor disintegratif. Faktor disintegratif timbul karena agama itu sendiri
memiliki potensi yang melahirkan intoleransi (konflik), baik karena faktor internal
ajaran agama itu sendiri maupun karena faktor eksternalnya yang sengaja
dilakukan oleh pihak-pihak tertentu dengan mengatasnamakan agama.
Apalagi dalam perbendaharaan perpolitikan kita, ada kecenderungan agama
disejajarkan dengan persoalan kesukuan dan rasisme (rasialisme). Dua hal ini
sebetulnya mengandung kerawanan dan kepekaan yang sangat tinggi, yang
kemudian mengundang benih-benih timbulnya sektarianisme. Untuk contoh yang
paling baik dalam hal ini adalah kasus Dr. A.M. Saefuddin. Menteri Negara
Pangan dan Holtikultura pada masa pemerintahan Presiden BJ. Habibie, A.M.
Saefuddin dianggap telah melecehkan salah satu agama, atas pernyataannya

7

tentang “Megawati pindah agama” menjadi agama Hindu. Pernyataan itu
dilontarkan oleh A.M. Saefuddin setelah ia menyaksikan seorang yang beragama
Islam ikut melakukan kegiatan ritual pada agama Hindu di Bali. Akibatnya, dalam
beberapa hari terjadi sejumlah demonstrasi, bahkan menjadi kerusuhan
mempersoalkan ucapan A.M. Saefuddin itu. Kita melihat dalam kasus seperti ini
agama sangat rentan memunculkan persoalan-persoalan konflik (intoleransi). Ini
diakibatkan posisi agama disejajarkan dengan kesukuan dan rasisme tadi sehingga
pernyataan A.M. Saefuddin itu dianggap telah mengusik apa yang disebut dengan
istilah SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar-golongan).
Dalam kaitan ini, kiranya perlu dipertimbangkan pandangan Nurcholish
Madjid, yang menyarankan agar agama tidak disejajarkan dengan suku dan ras.
Betapapun semangat yang terdapat dalam akronim SARA itu mungkin bisa
dibenarkan, tetapi dari sudut kepentingan yang lebih besar dan berjangka panjang
sebenarnya sangat merugikan, terutama dalam bidang pembangunan agama.
Dengan demikian, dampak negatif agama berupa daya pemecah belah
(sentrifugal), juga konflik, dapat dieliminir, dan sebaliknya, dampak positif agama
berupa daya pemersatu (sentripetal) dapat dibangun dan dikembangkan.
Mengingat hal-hal tersebut, sekaranglah saatnya mencari terobosan baru dalam
rangka menciptakan iklim kehidupan beragama yang lebih harmonis dan penuh
toleransi (tasamuh).
Agama juga sering dituduh sebagai penyebab terjadinya berbagai konflik. Hal
ini dikarenakan agama pada satu sisi mempunyai fungsi integratif, namun pada
sisi lain juga mempunyai fungsi disintegratif. Satu hal yang sering diperdebatkan
oleh para ilmuwan sosial, adalah benarkah agama sebagai pemicu utama dalam
berbagai konflik atau agama hanya alat legitimasi dan justifikasi agar bisa
mengerahkan massa demi kepentingan-kepentingan tertentu.
Dari berbagai kasus yang terjadi di Indonesia, harus diakui pluralitas agama
memang bisa menciptakan konflik. Namun, yang sering ditemukan konflik sosial
yang terjadi lebih banyak disebabkan oleh faktor non-agama, seperti ekonomi dan
politik. Agama hanya dijadikan “tameng” untuk mencapai tujuan dan kepentingan
golongan tertentu. Karena dengan membangkitkan isu agama, pengerahan massa
lebih mudah dilakukan, mengingat bangsa Indonesia yang berkarakter religius dan
mempunyai sentimen yang tinggi terhadap agama.

Daftar Pustaka
Kahmad, Dadang. 2006. Sosiologi Agama. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Nottingham, K. Elizabeth. 1996. Agama Dan Masyarakat : Suatu Pengantar

8

Sosiologi Agama. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Elvira, Hasbullah. 2010. Agama Dan Konflik Sosial. Melalui
<http://www.academia.edu/10950961/Agama_dan_Konflik_Sosial>

9