BAB I

PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Kekerasan anak telah menjadi isu global. Meskipun karakteristik kekerasan terhadap anak

secara global kadang-kadang berbeda dengan kekerasan anak di Indonesia. Sebagai isu global,
ini mengindikasikan bahwa kekerasan anak telah menjadi masalah yang serius dan harus menjadi
perhatian semua pihak. Terkait isu global, data dari World Health Organization (2010)
menunjukkan bahwa sekitar 20% perempuan dan 5-10% laki-laki pernah mengalami kekerasan
seksual pada suatu ketika semasa masih anak- anak.1
Di Indonesia kasus kekerasan seksual setiap tahun mengalami peningkatan, korbannya
bukan hanya dari kalangan dewasa saja sekarang sudah merambah ke remaja, anak-anak bahkan
balita. Fenomena kekerasan seksual terhadap anak semakin sering terjadi dan menjadi global
hampir di berbagai negara. Kasus kekerasan seksual terhadap anak terus meningkat dari waktu
ke waktu. Peningkatan tersebut tidak hanya dari segi kuantitas atau jumlah kasus yang terjadi,
bahkan juga dari kualitas. Dan yang lebih tragis lagi pelakunya adalah kebanyakan dari
lingkungan keluarga atau lingkungan sekitar anak itu berada, antara lain di dalam rumahnya
sendiri, sekolah, lembaga pendidikan, dan lingkungan sosial anak.
Menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada tahun 2011 saja telah terjadi
2.275 kasus kekerasan terhadap anak, 887 kasus diantaranya merupakan kekerasan seksual anak.
Pada tahun 2012 kekerasan terhadap anak telah terjadi 3.871 kasus, 1.028 kasus diantaranya
merupakan kekerasan seksual terhadap anak. Tahun 2013, dari 2.637 kekerasan terhadap anak,
48 persennya atau sekitar 1.266 merupakan kekerasan seksual pada anak.2
Anak menjadi kelompok yang sangat rentan terhadap kekerasan seksual karena anak
selalu diposisikan sebagai sosok lemah atau yang tidak berdaya dan memiliki ketergantungan
yang tinggi dengan orang-orang dewasa di sekitarnya. Hal inilah yang membuat anak tidak
berdaya saat diancam untuk tidak memberitahukan apa yang dialaminya. Hampir dari setiap
kasus yang diungkap, pelakunya adalah orang yang dekat korban. Tak sedikit pula pelakunya
adalah orang yang memiliki dominasi atas korban, seperti orang tua dan guru. Kemampuan
pelaku menguasai korban, baik dengan tipu daya maupun ancaman dan kekerasan, menyebabkan
kejahatan ini sulit dihindari. Dari seluruh kasus kekerasan seksual pada anak baru terungkap
setelah peristiwa itu terjadi, dan tak sedikit yang berdampak fatal.2
1

Secara umum pengertian kekerasan seksual pada anak adalah keterlibatan seorang anak
dalam segala bentuk aktivitas seksual yang terjadi sebelum anak mencapai batasan umur tertentu
yang ditetapkan oleh hukum negara yang bersangkutan dimana orang dewasa atau anak lain yang
usianya lebih tua atau orang yang dianggap memiliki pengetahuan lebih dari anak
memanfaatkannya untuk kesenangan seksual atau aktivitas seksual.2
Kekerasan seksual pada anak baik perempuan maupun laki-laki tentu tidak boleh
dibiarkan. Kekerasan seksual pada anak adalah pelanggaran moral dan hukum, serta melukai
secara fisik dan psikologis. Kekerasan seksual terhadap anak dapat dilakukan dalam bentuk
sodomi, pemerkosaan, pencabulan, serta incest. Oleh karena itu, kasus kekerasan seksual
terhadap anak itu ibarat fenomena gunung es, atau dapat dikatakan bahwa satu orang korban
yang melapor dibelakangnya ada enam anak bahkan lebih yang menjadi korban tetapi tidak
melapor. Fenomena kekerasan seksual terhadap anak ini, menunjukkan betapa dunia yang aman
bagi anak semakin sempit dan sulit ditemukan. Bagaimana tidak, dunia anak-anak yang
seharusnya terisi dengan keceriaan, pembinaan dan penanaman kebaikan, harus berputar balik
menjadi sebuah gambaran buram dan potret ketakutan karena anak sekarang telah menjadi
subjek pelecehan seksual.2
Kekerasan seksual terhadap anak dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Siapa pun
bisa menjadi pelaku kekerasan seksual terhadap anak, karena tidak adanya karakteristik khusus.
Pelaku kekerasan seksual terhadap anak mungkin dekat dengan anak, yang dapat berasal dari
berbagai kalangan. Pedofilia tidak pernah berhenti, pelaku kekerasan seksual terhadap anak juga
cenderung memodifikasi target yang beragam, dan siapa pun bisa menjadi target kekerasan
seksual, bahkan anak ataupun saudaranya sendiri, itu sebabnya pelaku kekerasan seksual
terhadap anak ini dapat dikatakan sebagai predator.2
Oleh karena itu, pendidikan seksual atau kesehatan reproduksi bagi anak-anak perlu
dilakukan secara dini baik dari pihak orangtua, sekolah, maupun lembaga perlindungan anak
agar anak-anak mendapat informasi yang tepat terkait dengan pengetahuan akan kesehatan
reproduksi yang diharapkan dapat menekan tingginya angka kekerasan seksual pada anak di
Indonesia.
1.2.

Rumusan Masalah

2

Melihat uraian diatas, maka timbul beberapa pertanyaan yang hendak dijawab dengan
pembuatan makalah ini:
a. Apakah yang dimaksud dengan kekerasan seksual pada anak
b. Bagaimana penegakan hukum terhadap kekerasan seksual pada anak
c. Bagaimana cara untuk mengetahui tanda-tanda kekerasan seksual pada anak
1.3.

Tujuan Umum
Untuk mengetahui prevalensi dan aspek hukum tentang kekerasan seksual pada anak di

Indonesia.
1.4.

1.5.

Tujuan Khusus
a. Mengetahui pengertian dan penyebab kekerasan seksual pada anak
b. Mengetahui dasar hukum kekerasan seksual pada anak di Indonesia
c. Mengetahui peranan kedokteran forensik dalam kasus kekerasan seksual pada anak
Manfaat Penulisan
Dari hasil referat ini diharapkan dapat diperoleh beberapa manfaat, antara lain:
1. Memberikan informasi yang dapat digunakan untuk menambah pengetahuan bagi orang
tua, tenaga pendidik, maupun masyarakat luas mengenai kekerasan seksual pada anak
serta aspek hukum yang mendasari.
2. Mengetahui peranan ilmu kedokteran forensik dalam kaitannya dengan kasus kekerasan
seksual pada anak.

3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Definisi Anak
Pengertian anak menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dapat disimpulkan
ialah keturunan yang kedua yang berarti dari seorang pria dan seorang wanita yang
melahirkan keturunannya, yang dimana keturunan tersebut secara biologis berasal dari sel
telur laki-laki yang kemudian berkembang biak di dalam rahim wanita berupa suatu
kandungan dan kemudian wanita tersebut pada waktunya nanti melahirkan keturunannya.
Dalam hukum nasional Indonesia terdapat berbagai macam definisi mengenai anak,
karena dalam tiap perundang-undangan diatur kriteria tersendiri mengenai pengertian anak.
Namun, secara khusus belum ada ketentuan yang secara jelas dan seragam yang mengatur
tentang batas umur kapan seseorang dapat dikelompokkan sebagai anak dan kapan
seseorang dapat dikelompokkan sebagai orang dewasa. Kedewasan seseorang dalam
lingkungan hukum digunakan untuk menentukan apakah dia dapat dipandang sebagai
subyek hukum dan mampu mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Termasuk
sebagai orang yang belum dewasa adalah subyek hukum yang tidak mampu
mempertanggungjawabkan perbuatannya. Hal itu dapat dilihat dari beberapa perumusan
perundang-undangan yang mengatur mengenai pengertian anak, sebagai berikut.:
a. Pasal 1 Convention on the Right of the Child
Anak diartikan sebagai setiap orang dibawah usia 18 (delapan belas) tahun, kecuali
berdasarkan hukum yang berlaku terhadap anak, kedewasaan telah diperoleh sebelumnya.
Artinya yang dimaksud dengan anak adalah mereka yang belum dewasa dan yang
menjadi dewasa karena peraturan tertentu sedangkan secara mental dan fisik masih belum
dewasa.
b. Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
Anak adalah setiap manusia yang berusia di bawah 18 (delapan belas) tahun dan belum
menikah termasuk anak yang masih dalam kandungan apabila hal tersebut adalah demi
kepentingannya.
c. Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak
Anak adalah orang yang dalam perkara anak nakal telah mencapai umur 8 (delapan)
tahun tetapi belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun dan belum pernah kawin.
d. Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak
Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun termasuh anak yang
masih dalam kandungan.
4

e. Pasal 1 angka 2 Undang-undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak
Anak adalah seseorang yang belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun dan belum
pernah kawin.
f. Dalam Pasal 330 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (Burgelijk Weetbook)
Diatur tentang batasan umur anak bahwa anak adalah yang belum berumur 21 tahun dan
belum kawin.
g. Pasal 1 ayat (8) huruf a Undang-undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang
Pemasyarkatan
Menyebutkan anak pidana yaitu anak yang berdasarkan putusan pengadilan menjalani
pidana di LAPAS Anak paling lama sampai usia 18 (delapan belas) tahun. Artinya yang
dimaksud anak adalah seseorang sampai dengan usia 18 (delapan belas) tahun.
h. RUU Sistem Peradilan Pidana Anak, dalam Pasal 1 ayat (2)
Menyebutkan Anak yang berkonflik dengan hukum, yang selanjutnya disebut anak
adalah orang yang telah berumur 12 (dua belas) tahun tetapi belum mencapai umur 18
(delapan belas) tahun yang disangka, didakwa atau dijatuhi pidana karena melakukan
tindak pidana.
Pengertian atau definisi anak dalam berbagai peraturan perundang-undangan yang ada di
Indonesia saat ini belum ada batasan yang konsisten. Artinya antara satu dengan lainnya belum
terdapat keseragaman, melihat hal tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa penetapan batasan
umur atau usia anak digantungkan pada kepentingan pada saat produk hukum tersebut dibuat.
2.2

Perkembangan Seks Sekunder
Masa remaja merupakan bagian dari siklus tumbuh kembang anak mulai dari saat
konsepsi sampai dewasa. Masa remaja ditandai dengan adanya perubahan yang sangat besar
yang menyangkut perubahan fisik, kognitif, dan psikososial. Sebelum memasuki masa fertile
sebagai individu dewasa, pada anak perempuan akan terjadi pematangan seksual yang ditandai
dengan perubahan bertahap dari tanda-tanda kelamin sekunder yaitu pertumbuhan payudara,
pertumbuhan rambut pubis serta datangnya menstruasi yang pertama kali (menarche).
Sementara pada laki-laki tanda kematangan seksual sulit ditentukan tetapi biasanya ditandai
dengan basah malam (nocturnal emission = spermache). Adanya perbaikan status gizi disertai
dengan pengaruh hormon seksual yang mulai meningkat pada usia remaja, menyebabkan
kematangan organ seksual menjadi lebih cepat. Kecenderungan meningkatnya tinggi badan dan
berat badan di Negara-negara yang sudah berkembang diikuti dengan perkembangan seksual
sekunder yang lebih awal dibanding beberapa dekade lalu.1
5

T3. kulit skrotum kemerahan dan mengalami perubahan tekstur. semakin ikal. Pembesaran signifikan penis. 6 . sedikit pigmentasi agak ikal. Lebat. diameter areola bertambah Tahap 3 Pembesaran lebih lanjut payudara dan Rambut Pubis Prepubertas.3 Tahapan Tahap 1 Payudara Prepubertas Tahap 2 Payudara dan papilla menonjol seperti bukit kecil. pigmentasi terutama di sekitar labia mayora.Penilaian perkembangan seksual sekunder bermanfaat dalam menilai pertumbuhan dan perkembangan selama masa remaja dan berkorelasi baik dengan tingkat kematangan dan ukuran biologis lainnya. kasar.3 Tahapan Tahap 1 Genitalia Prepubertas. tidak ada rambut pubis Jarang. T2. terutama dalam diameter serta pembesaran lebih lanjut dari testes Penis semakin membesar. Bentuk dan distribusi dewasa. panjang testis <2. T4 dan T5 yang dapat dilakukan sebagai bagian dari pemeriksaan fisik. Penis tidak membesar atau pembesaran minimal. terutama pada daerah pangkal penis Jumlah bertambah. testes membesar dengan warna kulit skrotum semakin gelap Dewasa dalam bentuk dan ukuran Tahap 3 Tahap 4 Tahap 5 Rambut Pubis Prepubertas. ikal Bentuk dewasa tetapi belum secara distribusi. meluas ke permukaan medial paha Tabel 2. Sexual Maturity Rating (Marshal and Tanner) Tahap Perkembangan Pubertas Pada Anak Laki-laki2. tidak ada rambut pubis Jarang.2. Tabel 1. panjang.5 cm Tahap 2 Pembesaran skrotum dan testis. Tahap Perkembangan Pubertas Pada Anak Perempuan. Kecepatan maturitas seksual didasarkan pada ciri-ciri seksual sekunder yang secara sederhana dapat dinilai dengan tingkat maturitas seksual dalam bentuk tingkatan T1.

Bentuk dewasa namun menutupi daerah yang lebih kecil dibanding dewasa. Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP) mengartikan kekerasan sebagai perbuatan yang dapat membuat orang pingsan atau tidak berdaya. tidak ada pemisahan kontur. Matur.Tahap 4 Tahap 5 2. non Accidental “injury” mulai dari ringan “bruiser laserasi” sampai pada trauma neurologik yang berat dan kematian. Terbentuk tonjolan sekunder dari areola dan papila diatas payudara. yaitu:4 1. Bentuk dan jumlah seperti dewasa. Kelalaian dapat berupa pemeliharaan yang kurang memadai. baik fisik. papilla menonjol. 7 . kekerasan terhadap anak (child abuse) didefinisikan sebagai perlakuan fisik. mental. bersaranakan kekuatannya secara fisik maupun non fisik yang superior dengan kesengajaan untuk dapat ditimbulkan rasa derita dipihak yang tengah menjadi obyek kekerasan. Secara teoritis. tidak ada penyebaran ke permukaan medial paha.3 areola. atau seksual yang umumnya dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai tanggung jawab terhadap kesejahteraan anak yang mana semua diindikasikan dengan kerugian dan ancaman terhadap kesehatan dan kesejahteraan anak. kekerasan adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang (orang yang berkuasa) yang dapat menimbulkan sakit. pengawasan yang kurang memadai. menyebar dengan distribusi secara horizontal (feminin) Kekerasan Pada Anak Kekerasan adalah semua bentuk perilaku verbal non verbal yang dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain sehingga menyebabkan efek negatif secara fisik maupun psikologis pada orang yang menjadi sasarannya. areola merupakan bagian dari kontur payudara secara keseluruhan. psikis.4 Adapun terdapat 2 golongan besar kekerasan terhadap anak.4 Secara yuridis. Kekerasan adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau sejumlah orang yang berposisi kuat (atau yang tengah merasa kuat) terhadap seseorang atau sejumlah orang yang berposisi lebih lemah (atau dipandang berada didalam keadaan lebih lemah). Berdasarkan pengertian beberapa pengertian di atas. penderitaan. dan sosial pada seseorang (identik orang yang lemah). Dalam keluarga Penganiayaan fisik.

4 KUHP mengatur tindak kekerasan sebagaimana tercantum dalam Bab XX dengan judul Penganiayaan. Kekerasan secara Verbal (Verbal Abuse) 8 . Penganiayaan seksual mempergunakan pendekatan persuasif. genital. Dalam pandangan hukum pidana kekerasan dikualifikasikan sebagai salah satu bentuk kejahatan. atau sodomi). maka anak bisa dalam posisi sebagai obyek maupun sebagai subyek dari kekerasan.6 2. Paksaan pada seseorang anak untuk mengajak berperilaku atau mengadakan kegiatan seksual yang nyata. Penganiayaan seperti ini umumnya selalu diikuti bentuk penganiayaan lain. yang merumuskan definisi tentang kekerasan terhadap anak. Namun demikian. Kekerasan secara Fisik (Physical Abuse) Physical abuse. Ancaman sanksi pidana bagi pelaku. diatur mulai Pasal 351 sampai dengan Pasal 358. kegagalan dalam merawat anak dengan baik dan kelalaian dalam pendidikan. Kekerasan yang dilakukan seseorang berupa melukai bagian tubuh anak. sehingga menggambarkan kegiatan seperti: aktivitas seksual (oral genital.5 2.kelalaian dalam mendapatkan pengobatan. Bahkan termasuk tindakan pelanggaran hukum. termasuk oleh anak-anak. anal. yang sudah tentu merupakan perbuatan yang tidak patut dilakukan oleh siapapun.3. terjadi ketika orang tua/pengasuh dan pelindung anak memukul anak (ketika anak sebenarnya memerlukan perhatian). tindak kekerasan apapun bentuknya merupakan suatu perilaku menyimpang (deviance). diantaranya:6 1.1.6 3. Jenis Kekerasan Pada Anak Seorang psikiater internasional Terry E. Penganiayaan emosional Ditandai dengan kecaman atau kata-kata yang merendahkan anak. Anak akan mengingat semua kekerasan emosional jika kekerasan emosional itu berlangsung konsisten. 2. Kekerasan Emosional (Emotional Abuse) Emotional abuse. antara tiga bulan sampai tujuh tahun penjara. tidak mengakui sebagai anak. Lawson. Melihat masalah kekerasan kaitannya dengan masalah anak. menyebut ada 4 macam abuse yang dapat dikategorikan masuk ke dalam kekerasan terhadap anak. Membiarkan anak basah atau lapar karena ibu terlalu sibuk atau tidak ingin diganggu pada waktu itu ataupun kata-kata yang melecehkan anak. mengabaikan anak itu. terjadi ketika orang tua/pengasuh dan pelindung anak setelah mengetahui anaknya meminta perhatian.

Familial Abuse Termasuk familial abuse adalah incest. menjadi bagian dalam keluarga inti. anak dan pekerja rumah tangga). memperlihatkan media/benda porno. tindakan seksual atau pemerkosaan terhadap anak. Perbuatan ini dilakukan dengan menggunakan paksaan. ataupun kata-kata yang melecehkan anak. saudara sekandung atau orang tua dimana anak dipergunakan sebagai objek pemuas kebutuhan seksual pelaku. pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain untuk tujuan komersil dan atau tujuan tertentu. menunjukkan alat kelamin pada anak dan sebagainya. Pelaku biasanya melakukan tindakan mental abuse. Kekerasan seksual (sexual abuse) merupakan jenis penganiayaan yang biasanya dibagi dua dalam kategori berdasarkan identitas pelaku. suap. Dalam hal ini termasuk seseorang yang menjadi pengganti orang tua.6 4. Bentuk-bentuk kekerasan seksual itu sendiri bisa dalam tindakan perkosaan ataupun pencabulan.7 Menurut Lyness kekerasan seksual terhadap anak meliputi tindakan menyentuh atau mencium organ seksual anak. tipuan bahkan tekanan. Sexual abuse juga di definisikan sebagai setiap perbuatan yang berupa pemaksaan hubungan seksual. ancaman. Kegiatan-kegiatan kekerasan seksual terhadap anak tersebut tidak harus melibatkan kontak badan antara pelaku dengan anak sebagai korban. atau juga mengkambinghitamkan. atau kekasih. Kekerasan Seksual (Sexual Abuse) Sexual abuse meliputi pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut (seperti istri. menyalahkan. pemaksaan hubungan seksual dengan cara tidak wajar dan atau tidak disukai.6 2. pengasuh atau orang yang dipercaya merawat anak. yaitu:7 a. yaitu kekerasan seksual dimana antara korban dan pelaku masih dalam hubungan darah. misalnya ayah tiri.4 Kekerasan Seksual Pada Anak Kekerasan seksual terhadap anak menurut End Child Prostitution in Asia Tourism (ECPAT) Internasional merupakan hubungan atau interaksi antara seorang anak dengan seorang yang lebih tua atau orang dewasa seperti orang asing. Mayer 9 .Biasanya berupa perilaku verbal dimana pelaku melakukan pola komunikasi yang berisi penghinaan.

dan ancaman menjadi sulit bagi korban. dan stimulasi oral pada klitoris (cunnilingus). fondling (meraba-raba dada korban. Rasa takut. Ephebohiles. alat genital.7 Menurut Adrianus E. “anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun. petting. Anak-anak yang sering bolos sekolah cenderung rentan untuk mengalami kejadian ini dan harus diwaspadai. b. ada yang disebut : 1. paha. yaitu mereka yang tertarik dengan anak laki-laki berusia 13-16 tahun Berdasarkan perilaku. meliputi kontak seksual. dan bokong). perkosaan (sexual assault). suka menelanjangi anak 10 . termasuk anak yang masih dalam kandungan”. penganiayaan (sexual molestation). Pada pola pelecehan seksual di luar keluarga. Kategori terakhir. exhibitionism (memamerkan atau menelanjangi anak). hal ini meliputi interaksi noncoitus. Selain itu. yaitu:7 1. Seseorang dewasa yang melakukan kekerasan seksual terhadap anak sebagai korbannya dikenal sebagai Pedophile (Pedofilia). Kategori pertama. Hebophilia. Kategori kedua. Meliala. masturbasi. pelaku biasanya orang dewasa yang dikenal oleh sang anak dan telah membangun relasi dengan anak tersebut. stimulasi oral pada penis (fellatio). Pedofilia dapat diartikan ”menyukai anak-anak” yang dalam Pasal 1 Ayat 1 UU No 35 Tahun 2014 tentang Peradilan anak. Extra Familial Abuse Extra Familial Abuse adalah kekerasan seksual yang dilakukan oleh orang lain di luar keluarga korban. kemudian membujuk sang anak ke dalam situasi dimana pelecehan seksual tersebut dilakukan.menyebutkan kategori incest dalam keluarga dan mengaitkan dengan kekerasan pada anak. Infantophilia. Sang anak biasanya tetap diam karena bila hal tersebut diketahui mereka takut akan memicu amarah dari orangtua mereka. dan voyeurism (masturbasi depan anak atau sekadar meremas kemaluan anak). perkosaan secara paksa (forcible rape). sering dengan memberikan imbalan tertentu yang tidak didapatkan oleh sang anak di rumahnya. yaitu :7 1. ada beberapa kategori pedofilia. yaitu mereka yang tertarik dengan anak perempuan berusia 13-16 tahun 3. yaitu mereka yang tertarik dengan anak berusia di bawah 5 tahun 2. 3. 2. dan yang menjadi korban utamanya adalah anak-anak. beberapa orangtua kadang kurang peduli tentang di mana dan dengan siapa anak-anak mereka menghabiskan waktunya. kekerasan. semua hal yang berkaitan untuk menstimulasi pelaku secara seksual. yaitu bagi mereka yang suka memamerkan. berupa oral atau hubungan dengan alat kelamin. Exhibitionism.

tak sedikit pula pelaku kekerasan seksual pada anak ini melakukan aksinya tanpa kekerasan. kasus kekerasan seksual sering tidak terungkap karena adanya penyangkalan terhadap peristiwa kekerasan seksual yang terjadi. tetapi bisa juga terjadi dengan pelakunya orang dewasa normal. Voyeurism. Selain itu. seperti kebiasaan menonton pornografi. Korban sulit mempercayai orang lain sehingga merahasiakan peristiwa kekerasan seksualnya. Namun. Kedua macam orang itu bisa digolongkan pedofilia selama melakukan hubungan seksual dengan anak. belum mampu menilai sesuatu sebagai tipu daya atau bukan.2.8 2. sehingga korban tak berdaya itu disebut Molester. sehingga mengakibatkan perilaku yang menyimpang. anak merasa malu untuk menceritakan peristiwa kekerasan seksualnya. Terdapat dua tipe pedofilia yaitu:8 1. tetapi tidak menemukan penyalurannya sehingga memilih anak sebagai substitusi. atau sekadar meremas kemaluan anak Pedofilia bisa memang dapat disebabkan karena kelainan. Namun. bisa juga karena gaya hidup. anak merasa bahwa peristiwa kekerasan seksual itu 11 . Lebih sulit lagi adalah jika kekerasan seksual ini terjadi pada anak-anak. Tipe pertama adalah Pedophilia Eksklusif. Kekerasan seksual yang dilakukan di bawah kekerasan dan diikuti ancaman. yaitu merupakan bentuk ketertarikan seksual yang tidak wajar.1. tetapi dengan menggunakan manipulasi psikologi. Psikolog forensik Reza Indragiri Amriel menjelaskan tak semua kekerasan seksual pada anak dilakukan orang dewasa yang memiliki orientasi seksual pada anak. yaitu memiliki orientasi heteroseksual pada orang dewasa. karena anak-anak korban kekerasan seksual tidak mengerti bahwa dirinya menjadi korban. Anak sebagai individu yang belum mencapai taraf kedewasaan. sehingga membentuk hasrat untuk melakukan hubungan seksual. Dampak Kekerasan Seksual Pada Anak Kekerasan seksual cenderung menimbulkan dampak traumatis baik pada anak maupun pada orang dewasa.4. anak cenderung takut melaporkan karena mereka merasa terancam akan mengalami konsekuensi yang lebih buruk bila melapor. 2. Artinya orang ini (pelaku) mungkin saja pernah mengalami trauma yang sama. sehingga mengikuti keinginannya. Tipe kedua adalah Pedophilia Fakultatif. yaitu hanya memiliki ketertarikan pada anak. yaitu suka masturbasi depan anak. Kondisi itu menyebabkan korban terdominasi dan mengalami kesulitan untuk mengungkapnya. Anak ditipu.

Dampak pelecehan seksual yang terjadi ditandai dengan adanya powerlessness. 3. adanya perasaan bersalah dan menyalahkan diri sendiri.terjadi karena kesalahan dirinya dan peristiwa kekerasan seksual membuat anak merasa bahwa dirinya mempermalukan nama keluarga. penyakit jiwa lain termasuk gangguan kepribadian dan gangguan identitas disosiatif. keluhan somatik. Sedangkan kekerasan seksual yang dilakukan oleh anggota keluarga adalah bentuk incest. Selain itu muncul gangguan-gangguan psikologis seperti pasca-trauma stress disorder. kunjungan dokter. Secara Fisik Anak dapat mengalami penurunan nafsu makan. jangka panjangnya adalah ketika dewasa nanti dia akan mengalami fobia pada hubungan seks atau bahkan yang parahnya lagi dia akan terbiasa dengan kekerasan sebelum melakukan hubungan 12 . depresi. dan konsentrasi menurun yang akhirnya akan berdampak pada kesehatan. tempat. ketakutan yang berlebihan pada orang lain. bulimia nervosa. bahkan adanya cedera fisik kepada anak. Dampak Jangka Pendek Anak yang mendapat kekerasan seksual. bayangan kejadian dimana anak menerima kekerasan seksual. bau. dan dapat menghasilkan dampak yang lebih serius dan trauma psikologis jangka panjang. disfungsi seksual. terutama dalam kasus inses orangtua. dan kehamilan yang tidak diinginkan. sulit tidur. keinginan bunuh diri. masalah harga diri. insomnia. kehamilan yang tidak diinginkan dan lainnya. Dampak Jangka Panjang Anak yang mendapat kekerasan seksual. Tindakan kekerasan seksual pada anak membawa dampak emosional dan fisik kepada korbannya. luka di tubuh akibat perkosaan dengan kekerasan. dimana korban merasa tidak berdaya dan tersiksa ketika mengungkap peristiwa pelecehan seksual tersebut. ketakutan dengan hal yang berhubungan dengan penyalahgunaan termasuk benda. 4. berisiko tertular penyakit menular seksual. kecemasan. sakit kronis. mimpi buruk. goncangan jiwa. rasa takut berhubungan dengan orang lain. Secara Emosional Anak sebagai korban kekerasan seksual mengalami stress.9 1. kecenderungan untuk reviktimisasi di masa dewasa. 2. kecanduan. dampak jangka pendeknya akan mengalami mimpi-mimpi buruk. sakit kepala. tidak nyaman di sekitar vagina atau alat kelamin.

dan sebagai konsekuensinya menjadi korban kekerasan seksual dalam rumah tangga. Korban merasa dirinya tidak mampu dan kurang efektif dalam bekerja. 4. malu. Merasa Tidak Berdaya (Powerlessness) Rasa takut menembus kehidupan korban. Stigmatization Korban kekerasan seksual merasa bersalah. Namun. memiliki gambaran diri yang buruk. Mimpi buruk. Finkelhor dan Browne mengkategorikan empat jenis dampak trauma akibat kekerasan seksual yang dialami oleh anak-anak. anak tesebut akan mengikuti apa yang dilakukan kepadanya semasa kecilnya. 2. Secara fisik memang mungkin tidak ada hal yang harus dipermasalahkan pada anak yang menjadi korban kekerasan seksual. Perasaan tidak berdaya mengakibatkan individu merasa lemah. Rasa bersalah dan malu terbentuk akibat ketidakberdayaan dan merasa bahwa mereka tidak memiliki kekuatan untuk mengontrol dirinya. dan kecemasan dialami oleh korban disertai dengan rasa sakit. pelampiasan dendam dan lain-lain. Sebagai seorang anak. Anak sebagai korban sering merasa berbeda dengan orang lain. menumpulkan inderanya. tapi secara psikis bisa menimbulkan ketagihan. atau berusaha menghindari memori kejadian tersebut. mempunyai kepercayaan kepada orangtua dan kepercayaan itu dimengerti dan dipahami. Trauma secara Seksual (Traumatic sexualization) Russel menemukan bahwa perempuan yang mengalami kekerasan seksual cenderung menolak hubungan seksual. Finkelhor mencatat bahwa korban lebih memilih pasangan sesama jenis karena menganggap laki-laki tidak dapat dipercaya.9 13 . fobia. Apa yang menimpa mereka akan mempengaruhi kematangan dan kemandirian hidup anak di masa depan. Korban lainnya menggunakan obat-obatan dan minuman alkohol untuk menghukum tubuhnya. caranya melihat dunia serta masa depannya secara umum. trauma. yaitu: 9 1. Beberapa korban juga merasa sakit pada tubuhnya. Bisa juga setelah menjadi dewasa. 3. kepercayaan anak dan otoritas orangtua menjadi hal yang mengancam anak. dan beberapa korban marah pada tubuhnya akibat penganiayaan yang dialami.seksual. Pengkhianatan (Betrayal) Kepercayaan merupakan dasar utama bagi korban kekerasan seksual.

Peran Individu dan Keluarga Langkah paling sederhana untuk melindungi anak dari kekerasan seksual bisa dilakukan oleh individu dan keluarga.9. Apabila kekerasan seksual terhadap anak tidak ditangani secara serius dapat menimbulkan dampak sosial yang luas di masyarakat.2. yang telah mengemukakan dengan tepat bahwa “melindungi anak pada hakekatnya melindungi keluarga. menyeluruh dan komprehensif.4. Upaya perlindungan terhadap anak berarti terwujudnya keadilan dalam suatu masyarakat. dalam penanganan kasus kekerasan seksual terhadap anak seharusnya bersifat holistik dan terintegrasi. Penanganan Kekerasan Seksual Terhadap Anak Upaya perlindungan terhadap anak akibat tindak kekerasan harus diberikan secara utuh. perlu adanya sinergi antara keluarga. Asumsi ini diperkuat dengan pendapat Age yang dikutip oleh Gosita. maupun dukungan sosial. Upaya yang diberikan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kepentingan terbaik bagi anak dengan mengingat haknya untuk hidup dan berkembang. 14 . tak semua korban kekerasan seksual bakal menunjukkan tanda-tanda yang mudah dikenali. masyarakat dan negara. Kesulitan yang umumnya dihadapi oleh pihak keluarga maupun ahli saat membantu proses pemulihan anakanak korban kekerasan seksual dibandingkan dengan korban yang lebih dewasa adalah kesulitan dalam mengenali perasaan dan pikiran korban saat peristiwa tersebut terjadi. bangsa dan negara di masa depan”. Terutama apabila si pelaku melakukan pendekatan secara persuasif dan meyakinkan korban apa yang terjadi antara pelaku dan korban merupakan hal wajar. Selain itu. tidak memihak kepada suatu golongan atau kelompok anak.10 a. Orangtua harus benar-benar peka jika melihat sinyal yang tak biasa dari anaknya. Anak-anak cenderung sulit mendeskripsikan secara verbal dengan jelas mengenai proses mental yang terjadi saat mereka mengalami peristiwa tersebut. Penyembuhan trauma psikis akibat kekerasan seksual haruslah mendapat perhatian besar dari semua pihak yang terlibat. Orangtua memegang peranan penting dalam menjaga anak-anak dari ancaman kekerasan seksual.2. masyarakat. baik dari sisi medis. aspek hukum (dalam hal ini masih banyak mengandung kelemahan).9 Dengan demikian. serta tetap menghargai pendapatnya. didalam penanganan kekerasan seksual terhadap anak. Namun. sisi individu. Semua sisi memerlukan pembenahan dan penanganan.

Menurut beberapa penelitian yang dilansir oleh Protective Service for Children and Young People Department of Health and Community Service(1993) keberadaan dan peranan keluarga sangat penting dalam membantu anak memulihkan diri pasca pengalaman kekerasan seksual mereka. Peran Masyarakat Penanganan kekerasan seksual terhadap anak. dikhawatirkan akan menambah dampak negatif pada anak karena anak akan memutar ulang peristiwa tersebut dalam benak mereka. Oleh karena itu.Sedangkan untuk membicarakan hal tersebut berulang-ulang agar mendapatkan data yang lengkap. perlu adanya peran serta masyakarat. b. Proses pemulihan orang tua berkaitan erat dengan resiliensi yang dimiliki oleh orang tua sebagai individu dan juga resiliensi keluarga tersebut. Perlakuan semacam ini juga dirasa sebagai salah satu perwujudan perlindungan kepada korban. Orang tua (bukan pelaku kekerasan) sangat membantu proses penyesuaian dan pemulihan pada diri anak pasca peristiwa kekerasan seksual tersebut. Selain itu juga. yang pertama harus dilakukan adalah memberikan rasa aman kepada anak untuk bercerita. orang tua membutuhkan kesempatan untuk mengatasi perasaannya tentang apa yang terjadi dan menyesuaikan diri terhadap perubahan besar yang terjadi. Berkaitan dengan peran masyarakat oleh media massa harus dilakukan dengan bijaksana demi perlindungan anak karena dalam Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak ditegaskan Pasal 64. Masyarakat diharapkan ikut mengayomi dan melindungi korban dengan tidak mengucilkan korban. tidak memberi penilaian buruk kepada korban. yang bertujuan memberikan perlindungan pada anak di tingkat akar rumput. Pasca peristiwa kekerasan seksual yang sudah terjadi. “perlindungan dari pemberitaan identitas melalui media massa dan untuk menghindari labelisasi”. Biasanya orang tua yang memang memiliki hubungan yang dekat dengan anak akan lebih mudah untuk melakukannya. Artinya dalam hal ini seharusnya masyarakat ikut membantu memulihkan kondisi kejiwaan korban. dengan memerhatikan aspek pencegahan yang melibatkan warga dan juga melibatkan anak-anak. 15 . orang tua membutuhkan kembali kepercayaan diri dan perasaaan untuk dapat mengendalikan situasi yang ada.

Sebab. dengan tujuan agar kejahatan itu tidak terulang kembali. meskipun sudah ada jaminan peraturan yang mampu melindungi anak. tetapi dapat juga menggunakan sarana yang non hukum pidana. namun fakta membuktikan bahwa peraturan tersebut belum dapat melindungi anak dari tindakan kekerasan seksual. termasuk dalam hal ini adalah menjamin masa depan bagi anak-anak kita sebagai generasi penerus. Oleh karena itu. Tetapi dalam kenyataannya. Oleh karena itu. maka memberikan perlindungan secara tidak langsung kepada korban perkosaan anak di bawah umur ataupun perlindungan terhadap calon korban. Spirit untuk melakukan reformasi hukum dilandasi dengan paradigma pendekatan berpusat pada kepentingan terbaik bagi anak (a child-centred approach) berbasis pendekatan hak. Sampai saat inipun. Ini berarti memberikan hukuman yang setimpal dengan kesalahannya atau dengan kata lain para pelaku diminta pertanggungjawabannya. Negara dalam hal ini pemerintah adalah pihak yang bertanggung jawab penuh terhadap kemaslahatan rakyatnya. Upaya penanggulangan kejahatan dengan menggunakan sanksi hukum pidana merupakan cara yang paling tua. c. Usaha-usaha yang rasional untuk mengendalikan atau menanggulangi kejahatan sudah barang tentu tidak hanya dengan menggunakan hukum pidana. hukum pidana masih digunakan dan diandalkan sebagai salah satu sarana politik kriminal. Pemerintah bertanggung jawab untuk melindungi warga negaranya dari korban kekerasan seksual yang terjadi pada anak-anak. Peran Negara Peran negara tentu paling besar dalam penanganan kekerasan seksual terhadap anak. pada hakikatnya negara memiliki kemampuan untuk membentuk kesiapan individu. upaya yang harus menjadi prioritas utama (high priority) untuk melindungi anak dari tindakan kekerasan seksual adalah melalui reformasi hukum. 16 . Penanggulangan secara hukum pidana dalam suatu kebijakan kriminal merupakan penanggulangan kejahatan dengan memberikan sanksi pidana bagi para pelakunya sehingga menjadi contoh agar orang lain tidak melakukan kejahatan. keluarga serta masyarakat. korban tidak merasa minder dan takut dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Penanggulangan secara hukum pidana yaitu penanggulangan setelah terjadinya kejahatan atau menjelang terjadinya kejahatan. Berlakunya sanksi hukum pada pelaku.karena dengan sikap masyarakat yang baik.

Sebagai bentuk perlindungan anak anak di Indonesia. Pemberian informasi. psikolog. Koordinasi dengan pihak kepolisian harus dilakukan. seperti kekerasan ekonomi. Hak korban untuk mendapat informasi mengenai perkembangan kasus dan juga keputusan hakim. tetapi juga kekerasan non fisik. yang mengakibatkan penderitaan fisik 4. Upaya preventif perlu dilakukan dengan dibentuknya lembaga yang berskala nasional untuk menampung anak yang menjadi korban tindak kekerasan seperti perkosaan. diberikan kepada korban yang menderita secara medis akibat suatu tindak pidana seperti perkosaan. ahli hukum dan dokter. Terkait kekerasan seksual dengan anak sebagai korbannya. Undang-Undang No. Pemberian restitusi dan kompensasi bertujuan mengembalikan kerugian yang dialami oleh korban baik fisik maupun psikis. 5. Konseling diberikan kepada anak sebagai korban perkosaan yang mengalami trauma berupa rehabilitasi yang bertujuan untuk mengembalikan kondisi psikis korban semula 3. penganiayaan. seperti pembunuhan. melalui perundang-undangan (hukum positif). Perlindungan yang diberikan oleh keluarga maupun masyarakat. 23 Tahun 2002 sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang. Lembaga ini perlu didukung setidaknya oleh pekerja sosial.Hukum pidana hampir selalu digunakan dalam produk legislatif untuk menakuti dan mengamankan bermacam-macam kejahatan yang mungkin timbul di berbagai bidang. Pelayanan / bantuan medis. agar kepolisian segera meminta bantuan lembaga ini ketika mendapat laporan terjadinya tindak kekerasan terhadap perempuan. Hukum Kekerasan Seksual Terhadap Anak Di Indonesia Bentuk kekerasan terhadap anak tidak hanya berupa kekerasan fisik saja. psikis.11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak yang secara 17 . maupun seksual.5.Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan Undang-Undang No. maupun kekerasan religi. 2. serta penggantian atas biaya yang dikeluarkan sebagai akibat viktimisasi tersebut 2. Secara represif diperlukan perlindungan hukum berupa: 1. seperti Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). perlu adanya upaya preventif dan represif dari pemerintah. maka pembuat Undang-Undang.

seperti yang dimaksud oleh pasal 285 dan 286 KUHP. karena dengan membuat korban pingsan atau tidak berdaya ia telah melakukan kekerasan. perlindungan terhadap anak ditunjukkan dengan pemberian hukuman (sanksi) pidana bagi pelaku. Pasal 288. Pasal 298 Jadi bentuk perlindungan hukum yang diberikan KUHP bagi anak terhadap kekerasan seksual merupakan pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku. maka perlu diketahui bagaimana terjadinya pingsan itu. padahal diketahui bahwa wanita itu dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya. adakah penyakit yang diderita korban yang sewaktu-waktu dapat mengakibatkan korban pingsan atau tidak berdaya. tetapi lebih tertuju pada pertanggungjawaban yang bersifat pribadi/individual. Pada kasus persetubuhan di luar perkawinan yang merupakan kejahatan dimana persetubuhan tersebut terjadi tanpa persetujuan wanita. Jika korban mengatakan ia menjadi pingsan. Perbuatan cabul diatur dalam Pasal 289. Pasal 294.” Pada tindak pidana di atas harus terbukti bahwa korban berada dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya. atau tanda-tanda telah berada di bawah pengaruh obat-obatan. Pasal 291 2.5. ia dapat dituntut telah melakukan tindak pidana perkosaan. Masalah persetubuhan diatur dalam Pasal 287. maka untuk kasus-kasus tersebut Visum et Repertum harus dapat membuktikan bahwa pada wanita tersebut telah terjadi kekerasan dan 18 . apakah terjadi setelah korban diberi minuman atau makanan. Jika terbukti bahwa si pelaku telah telah sengaja membuat korban pingsan atau tidak berdaya. Dokter perlu mencari tahu apakah korban sadar waktu persetubuhan terjadi. diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.11 2.Pasal 292.15  Pasal 286 “Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan.mutlak memberikan berbagai bentuk perlindungan hukum yang berkaitan dengan masalah perlindungan anak. Pasal 295. bukanlah pertanggung jawaban terhadap kerugian/penderitaan korban secara langsung dan konkret. Pasal 293. Pada pemeriksaan perlu diperhatikan apakah korban menunjukkan tanda-tanda bekas kehilangan kesadaran.1. Hal ini tercantum dalam KUHP pada pasal-pasal dalam sebagai berikut:11 1. Perlindungan Hukum menurut KUHP Dalam KUHP terdapat beberapa pasal yang memberikan perlindungan bagi anakterhadap kekerasan seksual.

kecuali jika umur wanita belum sampai dua belas tahun atau jika ada salah satu hal berdasarkan pasal 291 dan pasal 294. atau c.  Pasal 287 (1) Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan. dan perlu dibedakan dari pasal 286 KUHP. Jika tidak ada akte kelahiran maka umur korban yang pasti tidak diketahui. Dokter perlu memperkirakan umur korban baik dengan menyimpulkan apakah wajah dan bentuk tubuh korban sesuai dengan umur yang dikatakannya. tidak ada penuntutan. Korban yang belum cukup 15 tahun itu menderita luka berat atau mati akibat perbuatan itu (KUHP pasal 291).persetubuhan. (2) Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan. diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. Korban yang belum cukup 15 tahun itu dalah anaknya. muridnya. Pada pemeriksaan akan diketahui umur korban. Dalam keadaan di atas. bila tidak ada pengaduan. serta dengan mengetahui apakah menstruasi telah terjadi. melihat perkembangan payudara dan pertumbuhan rambut kemaluan. Tindak pidana ini merupakan persetubuhan dengan wanita yang menurut undang-undang belum cukup umur. padahal diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa umumya belum lima belas tahun. penuntutan dapat dilakukan walaupun tidak ada pengaduan karena bukan lagi merupakan delik aduan. bawa belum waktunya untuk dikawin. Jika umur korban belum cukup 15 tahun tetapi sudah di atas 12 tahun. Kejahatan seksual seperti yang dimaksud oleh pasal 285 KUHP disebut perkosaan. anak yang berada di bawah pengawasannya. pingsan atau tidak berdayanya korban bukan diakibatkan oleh perbuatan si pelaku kejahatan seksual. anak tirinya. Jadi dengan keadaan itu persetubuhan tersebut merupakan delik aduan. Umur korban belum sampai 12 tahun b. bujangnya atau bawahannya (KUHP pasal 294). 19 . penuntutan baru dilakukan bila ada pengaduan dari yang bersangkutan. melalui pertumbuhan gigi (molar ke-2 dan molar ke-3). Kejahatan seksual yang dimaksud dalam KUHP pasal 286 adalah pelaku tidak melakukan upaya apapun. Tetapi keadaan akan berbeda jika: a. atau kalau umurnya tidak jelas.

 Pasal 289 “Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul. Sedangkan menurut undang-undang perkawinan. yaitu pengertian secara biologis dan pengertian menurut undang-undang. apakah ia belum pernah mendapat menstruasi atau sudah pernah. dijatuhkan pidana penjara paling lama delapan tahun. Perempuan yang belum pernah mengalami menstruasi dianggap belum patut untuk dikawin. tanda-tanda kekerasan dan dapat menjelaskan perihal sebab kematiannya. Dalam kasus-kasus persetubuhan di luar perkawinan yang merupakan kejahatan.  Pasal 288 (1) Barang siapa dalam perkawinan bersetubuh dengan seormig wanita yang diketahuinya atau sepatutnya harus didugunya bahwa yang bersangkutan belum waktunya untuk dikawin. dijatuhkan pidana penjara paling lama dua belas tahun. (2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat. dimana persetubuhan tersebut memang disetujui oleh si perempuan maka dalam hal ini pasal-pasal dalam KUHP yang dimaksud adalah pasal 284 dan 287. dimana hal ini dapat diketahui dari menstruasi. Secara biologis seorang perempuan dikatakan mampu untuk dikawin bila ia telah siap untuk dapat memberikan keturunan.Hal di atas perlu diperhatikan mengingat bunyi kalimat: padahal diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa wanita itu umurnya belum lima belas tahun atau kalau umurnya tidak jelas bahwa belum waktunya untuk dikawin. apabila perbuatan mengakibatkan luka-luka diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun. memang terdapat tanda-tanda persetubuhan. (3) Jika mengakibatkan mati. maka batas umur termuda bagi seorang perempuan yang diperkenankan untuk melangsungkan perkawinan adalah 16 tahun. diancam karena melakukan 20 . Dengan demikian dari Visum et Repertum yang dibuat oleh dokter diharapkan dapat membuktikan bahwa korban memang belum pantas dikawin. Di dalam upaya menentukan bahwa seseorang belum mampu dikawin dapat timbul permasalahan bagi dokter karena penentuan tersebut mencakup dua pengertian. Dengan demikian dokter diharapkan dapat menentukan berapa umur dari perempuan yang diduga merupakan korban seperti yang dimaksud dalam pasal 288 KUHP.

Barang siapa membujuk seseorang yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa umurnya belum lima belas tahun atau kalau umumya tidak jelas yang bersangkutan atau kutan belum waktunya untuk dikawin. 287. diancam dengan  pidana penjara paling lama lima tahun. padahal tentang belum kedewasaannya. 2. yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya belum dewasa. (2) Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan orang yang terhadap dirinya dilakukan kejahatan itu. diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun. diketahui atau selayaknya harus diduganya. 21 . atau dengan penyesatan sengaja menggerakkan seorang belum dewasa dan baik tingkahlakunya untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul dengan dia. dijatuhkan pidana penjara paling lama dua belas tahun (2) Jika salah satu kejahatan berdasarkan pasal 285. bahwa umumya belum lima belas tahun atau kalau umumya tidak jelas. dengan pidana penjara paling  lama sembilan tahun.” Pasal 293 (1) Barang siapa dengan memberi atau menjanjikan uang atau barang. Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan seorang padahal diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya. Pasal 292 “Orang dewasa yang melakukan perbuatan cabul dengan orang lain sesama kelamin. yang bersangkutan belum waktunya untuk dikawin: 3. Pasal 291 (1) Jika salah satu kejahatan berdasarkan pasal 286.” Pasal 290 Diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun: 1. 289. 286. Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan seorang. dan 290 mengakibatkan luka-luka berat. 287. atau bersetubuh di luar  perkawinan dengan orang lain. 289 dan 290 mengakibatkan kematian dijatuhkan pidana penjara paling lama lima belas  tahun. padahal diketahuinya bahwa orang itu pingsan atau tidak berdaya.perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan. menyalahgunakan pembawa yang timbul dari hubungan keadaan. untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul.

 Pasal 294 (1) Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengm anaknya. yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang dimasukkan ke dalamnya. pejabat. rumah sakit jiwa atau lembaga sosial. pengurus atau bujang di penjara. dokter. ataupun oleh bujangnya atau bawahannya yang belum cukup umur. 2.. dengan orang lain. atau dengan orang yang belum dewasa yang pemeliharaanya. diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. tempat pen. guru. pendidikan atau penjagaannya diannya yang belum dewasa. rumah sakit. Dengan pidana penjara paling lama empat tahun barang siapa dengan sengaja menghubungkan atau memudahkan perbuatan cabul. rumah piatu. di tempat bekerja kepunyaan negeri. atau dengan orang yang penjagaannya dipercayakan atau diserahkan kepadanya. anak di bawah pengawannya yang belum dewasa. guru. 2. Pasal 295 (1) Diancam: 1. pengawas atau pesuruh dalam penjara. RS jiwa atau lembaga semua yang melakukan  perbuatan cabul dengan orang yang dimaksudkan di situ. tempat pekerjaan negara. anak angkatnya. pendidikan atau penjagaannya diserahkan kepadanya. kecuali yang tersebut dalam butir 1 di atas. rumah piatu.(3) Tenggang waktu tersebut dalam pasal 74 bagi pengaduan ini adalah masingmasing sembilan bulan dan dua belas bulan. anak angkatnya.didikan. anak tirinya.. Pengurus. Dengan itu maka dihukum juga Pegawai negeri yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang di bawahnya/orang yang dipercayakan/diserahkan kepadanya untuk dijaga. atau oleh orang yang belum dewasa yang pemeliharaannya. dengan orang lain. atau anak di bawah pengawasannya yang belum dewasa. (2) Diancam dengan pidana yang sama: 1. yang dilakukan oleh orang yang diketahuinya belum dewasa atau yang sepatutnya harus diduganya demikian. Dengan pidana penjara paling lama lima tahun barang siapa dengan sengaja menyebabkan atau memudahkan dilakukannya perbuatan cabul oleh anaknya. tempat pendidikan. dokter. Pejabat yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang karena jabatan adalah bawahannya. pegawai. 22 . serta Pengurus. tirinya.

Undang- 23 . atau menjadikan perbuatan tersebut sebagai pencarian atau kebiasaan. diancam  dengan pidana penjara paling lama enam tahun.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak juga memberikan perlindungan bagi anak yang diatur.” Pasal 297 “Perdagangan wanita dan perdagangan anak laki-laki yang belum dewasa. dan menjadikannya sebagai pencarian atau kebiasaan. Perlindungan Hukum menurut Undang – undang Perlindungan Anak Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. (2) Jika yang bersalah melakukan salah satu kejahatan berdasarkan pasal 292 – 297 dalam melakukan pencariannya. pencabutan hakhak berdasarkan pasal 35 No.2.(2) Jika yang rs melakukan kejahatan itu sebagai pencarian atau kebiasaan. Pasal 299 (1) Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruh supaya diobati. dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan bahwa karena pengobatan itu hamilnya dapat digugurkan. 2. diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau pidana denda paling  banyak lima belas ribu rupiah. dapat dicabut haknya untuk menjalakukan pencarian itu. pidmmya dapat ditambah sepertiga (3) Jika yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam menjalankan pencariannya. maka  pidana dapat ditam sepertiga.” Pasal 298 (1) Dalam hal pemidanaan berdasarkan salah satu kejahatan dalam pasal 281. 284 – 290 dan 292 – 297. 1 – 5 dapat dinyatakan. (2) Jika yang bersalah berbuat demikian untuk mencari keuntungan.5. atau jika dia seorang tabib. bidan atau juru obat. diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak empat puluh lima ribu rupiah. Pasal 296 ”Barang siapa dengan sengaja menyebabkan atau memudahkan cabul oleh orang lain dengan orang lain. maka hak untuk melakukan pencarian itu dapat  dicabut.

dan kejahatan lainnya yang dilakukan oleh pendidik. dikarenakan anak-anak mudah untuk diancam dan dilukai oleh pelaku kejahatan seksual untuk melakukan kekerasan seksual mengingat anak-anak tidak mampu untuk melawan atau menjaga dirinya terhadap bahaya yang akan menimpanya. 5.12 Secara tegas dalam Pasal 15 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menyebutkan bahwa. Hal ini terlihat jelas pada Pasal 15 undang-undang ini yang memberikan ketegasan agar setiap anak berhak memperoleh perlindungan dari kejahatan seksual. tenaga kependidikan.undang ini berfungsi untuk pemberian perlindungan khusus bagi hak-hak anak dari berbagai macam kekerasan dalam hal ini tindak kekerasan seksual. sesama pesertapendidik. 3. 2. aparat pemerintah. Penyalahgunaan dalam kegiatan politik Pelibatan dalam sengketa bersenjata Pelibatan dalam kerusuhan sosial Pelibatan dalam peristiwa yang mengandung unsure kekerasan Pelibatan dalam peperangan Kejahatan seksual Kejahatan seksual merupakan salah satu kejahatan yang benar-benar mendapatkan perhatian khusus dalam masalah perlindungan anak. dan/atau pihak lain. UU RI Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas UU Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak 13  Pasal 54 (1) Anak di dalam dan di lingkungan satuan pendidikan wajib mendapatkan perlindungan dari tindak kekerasan fisik. setiap Anak berhak untuk memperoleh perlindungan dari:12 1. Perlindungan yang diberikan yang dimaksudkan bahwa setiap anak dalam lingkungan pendidikan yaitu sekolah berhak mendapatkan perlindungan dari pihak yang terkait dengan masalah perlindungan anak. tenaga kependidikan. (2) Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pendidik. 4. kejahatan seksual. Pada hakikatnya sekolah merupakan tempat anak-anak untuk mendapatkan haknya untuk belajar dan menuntut ilmu 24 . 6. penyebabnya adalah semakin banyaknya kejahatan tindak kekerasan seksual yang menimpa anak-anak di Indonesia. dan/atau masyarakat. psikis.

setinggi-tingginya. melakukan kejahatan serta melanggar hakhak anak pada larangan yang telah diatur diatas 25 . memperlakukan Anak Penyandang Disabilitas secara diskriminatif. Pasal 76A. baik materiil maupun moril sehingga menghambat fungsi sosialnya. “ - Pasal 76E “ Setiap orang dilarang melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan. memaksa. melakukan serangkaian kebohongan. dalam hal ini Undang-Undang ini memberikan perlindungan khusus dalam hal pemulihan korban yang diatur dalam Pasal 64A serta pengajuan ganti rugi (restitusi) terhadap diri korban secara langsung yang ditanggungkan kepada pelaku  tindak kekerasan seksual yang diatur dalam Pasal 71D. 76D dan 76E Selanjutnya dalam Undang-Undang ini berisi tentang larangan-larangan melakukan perbuatan yang melanggar hak-hak anak yang diatur dalam BAB XIA yang terdiri dari Pasal 76A. atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul. “ Untuk selanjutnya ketika terdapat orang yang melanggar larangan yang ada. Karena sekarang ini banyak anakanak yang mengalami tindak kekerasan seksual di lingkungan pendidikan yaitu sekolah.  Pasal 64A dan 71D Selanjutnya dalam hal anak yang menjadi korban dari tindak kekerasan seksual. melakukan tipu muslihat. atau b. Khusus untuk larangan melakukan tindak kekerasan seksual diatur dalam Pasal 76D dan 76E. dengan demikian demi tercapainya hak anak di sekolah atau lingkungan pendidikan maka anak-anak perlu di lindungi dari berbagai tindak kekerasan khususnya tindak kekerasan seksual. 76D yang berisi perbuatan-perbuatan yang dilarang dilakukan terhadap anak. “ Pasal 76D “ Setiap orang dilarang melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain. memperlakukan Anak secara diskriminatif yang mengakibatkan Anak mengalami - kerugian. - Pasal 76A “Setiap orang dilarang: a.

000. mengakibatkan luka berat. serangkaian kebohongan. penyakit menular.000.dalam hal ini melakukan tindak kekerasan seksual terhadap anak maka terhadap orang tersebut akan dikenakan sanksi (hukuman) pidana untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya yang telah diatur dalam Pasal 81 dan Pasal 82 pada BAB XII tentang Ketentuan Pidana dalam undang-undang ini.00 (lima miliar rupiah). (5) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76D menimbulkan korban lebih dari 1 (satu) orang. terganggu atau hilangnya fungsi reproduksi. (4) Selain terhadap pelaku sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (3) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Orang Tua.000. pendidik. pengasuh Anak. maka pidananya ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1). gangguan jiwa. penambahan 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana juga dikenakan kepada pelaku yang pernah dipidana karena melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76D. ketentuan Pasal 81 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut: 14  Pasal 81 (1) Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76D dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp5. pelaku dipidana mati. atau tenaga kependidikan. seumur hidup. dan/atau korban meninggal dunia. atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain. atau pidana penjara paling singkat 10 (sepuluh) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun. (2) Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku pula bagi setiap orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat. Wali. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 dimana. 26 .

sosial. dan ayat (5).000. (9) Pidana tambahan dan tindakan dikecualikan bagi pelaku Anak.(6) Selain dikenai pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1). atau tenaga kependidikan. Di antara Pasal 81 dan Pasal 82 disisipkan 1 (satu) pasal yakni Pasal 81A yang berbunyi sebagai berikut:  Pasal 81A (1) Tindakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 81 ayat (7) dikenakan untuk jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun dan dilaksanakan setelah terpidana menjalani pidana pokok.000. ayat (4).00 (lima miliar rupiah). ayat (3). dan kesehatan. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaan tindakan dan rehabilitasi diatur dengan Peraturan Pemerintah. Wali. (2) Pelaksanaan tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) di bawah pengawasan secara berkala oleh kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum. pengasuh Anak. 27 . pelaku dapat dikenai pidana tambahan berupa pengumuman identitas pelaku. Ketentuan Pasal 82 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:  Pasal 82 (1) Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76E dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp5. (2) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Orang Tua. pendidik. maka pidananya ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (7) Terhadap pelaku sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (5) dapat dikenai tindakan berupa kebiri kimia dan pemasangan alat pendeteksi elektronik. (3) Pelaksanaan kebiri kimia disertai dengan rehabilitasi. (8) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (7) diputuskan bersama-sama dengan pidana pokok dengan memuat jangka waktu pelaksanaan tindakan.000.

penambahan 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana juga dikenakan kepada pelaku yang pernah dipidana karena melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76E. dan kesehatan. (5) Selain dikenai pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (4).(3) Selain terhadap pelaku sebagaimana dimaksud pada ayat (2). mengakibatkan luka berat. (8) Pidana tambahan dikecualikan bagi pelaku Anak. (4) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76E menimbulkan korban lebih dari 1 (satu) orang. gangguan jiwa. dan/atau korban meninggal dunia. pidananya ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1). terganggu atau hilangnya fungsi reproduksi. penyakit menular. (2) Pelaksanaan tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) di bawah pengawasan secara berkala oleh kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaan tindakan diatur dengan Peraturan Pemerintah Oleh karena pemberian sanksi (hukuman) dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 sendiri dirasa belum mampu menanggulangi terjadinya tindak kekerasan seksual terhadap anak dengan melihat kenyataan seperti banyaknya contoh kasus yang telah dipaparkan diatas. (6) Terhadap pelaku sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sampai dengan ayat (4) dapat dikenai tindakan berupa rehabilitasi dan pemasangan alat pendeteksi elektronik. (7) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) diputuskan bersama-sama dengan pidana pokok dengan memuat jangka waktu pelaksanaan tindakan. sehingga diperlukan dilakukannya perubahan atau revisi dengan 28 . Di antara Pasal 82 dan Pasal 83 disisipkan 1 (satu) pasal yakni Pasal 82A yang berbunyi sebagai berikut:  Pasal 82A (1) Tindakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82 ayat (6) dilaksanakan selama dan/atau setelah terpidana menjalani pidana pokok. sosial. pelaku dapat dikenai pidana tambahan berupa pengumuman identitas pelaku.

Peranan Forensik Klinik dalam Kekerasan Seksual Terhadap Anak Interaksi antara bidang medis dan hukum pada saat ini tidak dapat diragukan lagi. Penyidik. Hakim. nama Anak Korban. wajah.” Pasal 19 (1) Identitas Anak. dan/atau Anak Saksi. 60. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Anak Korban.16 29 . Anak Korban.13 UU RI No. Pembimbing Kemasyarakatan.00 (enam puluh juta rupiah) diubah menjadi paling singkat 5 (lima) tahun penjara dan paling lama 15 (lima belas) tahun penjara serta denda Rp. pengurangan bahkan penghapusan beberapa pasal dalam ini yang diubah dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. nama orang tua. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak15 Anak korban kekerasan seksual juga mendapatkan perlindungan di dalam proses peradilan menurut Undang-Undang No.000.melakukan penambahan. 2.000. dan Advokat atau pemberi bantuan hukum lainnya wajib memperhatikan kepentingan terbaik bagi Anak dan mengusahakan  suasana kekeluargaan tetap terpelihara. Anak Korban. alamat. dan/atau Anak Saksi. Penuntut Umum. Di sinilah peranan forensik klinis yang merupakan suatu ruang lingkup keilmuan yang berintegrasi antara bidang medis dan bidang hukum diperlukan. Pekerja Sosial Profesional dan Tenaga Kesejahteraan Sosial. dan hal lain yang dapat mengungkapkan jati diri Anak.00 (lima miliar rupiah). dan/atau Anak Saksi wajib dirahasiakan dalam pemberitaan di media cetak ataupun elektronik (2) Identitas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi nama Anak. nama Anak Saksi. 5.6.000.000. Di dalamnya terdapat Pasal-Pasal mengenai perlindungan terhadap hak-hak anak korban dalam proses beracara diantaranya:  Pasal 18 “ Dalam menangani perkara Anak. yang mana semakin meluas dan berkembang dari waktu ke waktu. Perubahan terjadi pada pemberian sanksi (hukuman) pidana bagi pelaku tindak kekerasan seksual yang awalnya diancam dengan penjara paling singkat 3 (tiga) tahun penjara dan paling lama 15 (lima belas) tahun penjara serta denda paling Rp.000.

yaitu peran dokter klinis yang umum. Tindak pidana asusila adalah tindak pidana yang berhubungan dengan masalah kesusilaan.6. 2. Peran Dokter Pada Kejahatan Seksual Pada Anak Terdapat dua jenis peran yang dapat dimiliki seorang dokter:17 1. khususnya dengan membuat visum et repertum. Mengerti mengenai persetujuan dan kerahasiaan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan anak tersebut. 3. Kompetensi untuk melakukan pemeriksaan fisik umum dan genitalia secara keseluruhan pada anak dan berbagai keahlian untuk dapat memfasilitasi pemeriksaan genitalia.1. namun juga memberikan terapi fisik maupun psikis. Kedua peran tersebut terkadang tidak dapat dipisahkan dan harus dijalankan secara bersama-sama. Keterampilan dasar yang harus dimiliki tersebut adalah:17 1. Kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik kepada anak-anak dan pengasuh mereka mengenai hal ini yang mungkin sangat sensitif bagi mereka. seorang dokter bukan saja harus mencari dan mengamankan bukti-bukti yang terdapat pada korban atau tersangka yang diperiksa. yang bertujuan mendiagnosis dan mengobati atau menyembuhkan pasien.Asusila adalah perbuatan atau tingkah laku yang menyimpang dari norma-norma atau tingkah laku yang menyimpang dari norma-norma atau kaidah yang berlaku di masyarakat. yaitu peran dokter dalam membantu pencarian buktitindak pidana.16 2. Dapat mengerti dan sensitif dengan mempertimbangkan perkembangan anak. Dalam kekerasan seksual. Para dokter yang diberikan dihadapkan untuk memberikan penilaian terhadap kasus-kasus yang dicurigai merupakan kasus kekerasan seksual pada anak haruslah mempunyai keterampilan dasar. Menurut pandangan Pancasila pada sila ketiga tindakan asusila merupakan tindakan pelanggaran dan menyimpang dari nilai-nilai moral manusia. dan variannya berbadasarkan usia dan jenis kelamin anak yang diperiksa 30 . 2. Pemahaman mengenai genitalia normal dan anatomi anus. keburuhan sosial dan emosional dan tingkat kemampuan intelektual anak. 5. Assessing doctor. 4. Attending doctor.

Mengetahui sampel apa yang harus diperoleh untuk kepentingan investigasi.2. Pelatihan untuk pencegahan (termasuk hepatitis B. Pemahaman mengenai diagnosis dan diferensial diagnosis dari tanda-tanda fisik. Sebagai tambahan.6. terdapat beberapa aspek etik dan medikolegal yang harus diperhatikan. Kemauan untuk berkomunikasi dan bekerjasama dengan agensi dan profesional lain yang terlibat dalam perawatan anak (korban). 2. Mempunyai kemampuan mendokumentasikan temuan klinis secara menyeluruh dan tepat pada sebuah buku catatan mereka. Kemampuan untuk mendiskusikan keadaan dan temuan dalam konteks tingkat perkembangan anak dan literatur medis yang relevan. ada beberapa keterampilan yang bergantung pada kasus kadang dibutuhkan. Mempunyai kemampuan untuk memberikan pernyataan secara detail/ melaporkan temuan dan menginterpretasikan temuan klinis. 12. Aspek Etik dan Medikolegal Dalam melakukan penanganan kekerasan seksual.6. Ketepatan untuk menghadirkan bukti yang berkaitan dengan proses sipil dan kriminal 13. Untuk dapat melakukan pemeriksaan yang 31 . 7. 2. Pemahaman mengenai jenis-jenis kontrasepsi post-koital yang tersedia serta indikasi dan kontraindikasi banyak metoda. 8. 10. keterampilan tersebut antara lain: 1. bagaimana cara memperolehnya. HIV). 11. Mampu menggunakan kolposkopi dan memperoleh dokumentasi gambar untuk meyakinkan mengenai temuan dari pemeriksaan klinis sebelumnya dan mendokumentasikannya kalau pun hasilnya tidak seusai. 9. skrining dan diagnosis penyakit menular seksual. dan bagai mana cara menyimpan serta pemindahannya.

dengan tetap membuat penilaian sesuai dengan bukti-bukti objektif yang didapatkan secara sistematis dan menyeluruh. paspor. konfidensial. Karena korban juga berstatus sebagai pasien. Objektif imparsial artinya seorang dokter tidak boleh memihak atau bersimpati kepada korban sehingga cenderung mempercayai seluruh pengakuan korban begitu saja. Korban harus diantar oleh polisi karena tubuh korban merupakan benda bukti. hal utama yang harus diperhatikan adalah memperoleh informed consent. Syarat-syarat cakap hukum adalah: 1. atau akte kelahiran. Catat pula dalam rekam medis bahwa korban tidak diantar oleh polisi. 3. dan yang akan diperiksa adalah daerah “sensitif”. korban jangan diperiksa dahulu tetapi diminta untuk kembali kepada polisi dan datang bersama polisi. Apabila korban tidak diantar oleh penyidik. Informasi tentang pemeriksaan harus diberikan sebelum pemeriksaan dimulai dan antara lain mencakup tujuan pemeriksaan dan kepentingannya untuk pengungkapan kasus. Apabila korban datang sendiri dengan membawa surat permintaan dari polisi. dokumentasi dalam bentuk rekam medis dan foto. Sedangkan jika korban anak kecil dan jiwanya terganggu. seperti KTP. 4. tindakan pengambilan sampel atau barang bukti. Hal ini harus dilakukan untuk menghindari kemungkinan kesalahan identifikasi dalam memeriksa korban. prosedur atau teknik pemeriksaan. dokter harus melakukannya berdasarkan permintaan tertulis dari penyidik yang berwenang. Hal yang boleh dilakukan adalah berempati. Berusia 21 tahun atau lebih Berusia belum 21 tahun tapi sudah pernah menikah Tidak sedang menjalani hukuman Berjiwa sehat dan berakal sehat Seorang dokter yang memeriksa kasus kekerasan seksual harus bersikap objektif imparsial. serta pembukaan sebagian rahasia kedokteran guna pembuatan visum et repertum. persetujuan untuk pemeriksaan harus diperoleh dari korban. 2. atau walinya. Apabila korban cakap hukum.berguna untuk peradilan. dokter harus memastikan identitas korban yang diperiksa dengan mencocokkan antara identitas korban yang tercantum dalam SPV dengan tanda identitas sah yang dimiliki korban. maka persetujuan diberikan oleh orang tuanya atau saudara terdekatnya. dan profesional. Tetap waspada terhadap upaya pengakuan atau tuduhan palsu (false allegation) dari korban. Hindari pula perkataan 32 .

dengan tetap menjaga kerahasiaan data medis yang tidak terkait dengan kasus. pemeriksaan serta tujuan. Dokter juga harus menjaga konfidensialitas hasil pemeriksaan korban. Jika anak yang diduga sebagai korban berjenis kelamin perempuan. proses dan lama mendapatkan persetujuan dari anak yang diduga sebagai korban maupun orangtua. petugas kesehatan harus didampingi oleh petugas kesehatan lainnya. 5.atau sikap yang “menghakimi” atau menyalahkan korban atas kejadian yang dialaminya. Dalam melakukan pemeriksaan. dengan memperhatikan hak dan kewajiban korban (sekaligus pasien) dan dokter.17 a. seperti kepada korban dan atau walinya (jika ada). Tata Cara Pemeriksaan16. 4. serta penyidik kepolisian yang berwenang. 2. ciri-ciri korban kekerasan seksual. Tata Cara Pemeriksaan. 2.3.17 Sebelum pemeriksaan. 3. Menjalin hubungan yang akrab dan saling percaya antara petugas kesehatan dan anak yang diduga sebagai korban KtA. Melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh dengan ramah dan sopan. Melakukan informed consent untuk menjelaskan kepada anak maupun kepada orangtuanya tentang maksud. Pemeriksaan Forensik Pada Kasus Kekerasan Seksual Korban sebaiknya tidak dibiarkan menunggu dengan perasaan was-was dan cemas di kamar periksa. sebaiknya diperiksa oleh petugas kesehatan perempuan dan sebaliknya. perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1. alat gambar dan mainan untuk berkomunikasi dan menggali data dari anak. Komunikasikan hasil pemeriksaan hanya kepada yang berhak mengetahui. dan interpretasi hasilnya. Menyiapkan alat bantu seperti boneka.6. Profesionalitas dokter dalam melakukan penanganan kekerasan seksual ditunjukkan dengan melakukan pemeriksaan sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu kedokteran yang umum dan mutakhir. 33 .Visum et Repertum diselesaikan secepat mungkin agar perkara dapat cepat diselesaikan. Tuangkan hasil pemeriksaan dalam visum et repertum sesuai keperluan saja. Pemeriksa harus menjelaskan terlebih dahulu tindakan-tindakan yang akan dilakukan pada korban dan hasil pemeriksaan akan disampaikan ke pengadilan.

mimpi buruk. tempat dan waktu pemeriksaan serta identitas korban. b) Menilai adanya kemungkinan ketidaksesuaian yang muncul antara penuturan orang tua/pengantar dan anak dengan temuan medis. Anamnesis Melakukan auto dan atau allo anamnesis Autoanamnesis dilakukan setelah terjalin hubungan yang akrab dan saling percaya antara petugas kesehatan dan anak yang diduga sebagai korban dengan menggunakan alat bantu seperti: boneka. Adakah riwayat penyakit dan masalah perilaku sebelumnya.17 1. waktu dan lokasi kejadian. apa dampaknya terhadap anak yang diduga sebagai korban. Keadaan kesehatan sebelum trauma.     murung. c) Memperhatikan sikap/perilaku anak yang diduga sebagai korban dan pengantar. anamnesa terhadap anak yang diduga sebagai korban dan pengantar dilakukan secara terpisah. b. cemas. tanggal. d) Melengkapi rekam medis dengan identitas dokter pemeriksa. apa yang menjadi pemicu. penyiksaan apa yang telah terjadi. Langkah-langkah pemeriksaan terdiri dari:16. Semua hasil pemeriksaan pada kasus KtA merupakan catatan pentingyang harus disimpan dalam rekam medis dan bersifat rahasia. dengan menggunakan apa. tanggal hari pertama haid terakhir dan apakah sedang haid saat kejadian. berapa kali. Adakah riwayat trauma seperti ini sebelumnya. susah tidur. alat tulis dan buku gambar. ragu-ragu dan tidak konsisten dalam memberikan jawaban. Melakukan persetujuan/penolakan untuk dilakukan pemeriksaan medis (informed consent /informed refusal) 2. oleh siapa. g) Jika ditemukan amnesia (organik atau psikogenik) lakukan konseling atau rujuk jika memerlukan intervensi psikiatrik 34 . atau agresif. apakah korban terlihat takut. Adakah faktor-faktor sosial budaya ekonomi yang berpengaruh terhadap perilaku di dalam keluarga. seperti ngompol. e) Melakukan konfirmasi ulang urutan kejadian. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam anamnesis: a) Apabila memungkinkan. f) Menggali informasi tentang:  Adakah perubahan perilaku anak setelah mengalami trauma. suka menyendiri. terutama umur dan perkembangan seksnya. pengantar.6.

patah tulang bentuk spiral pada tulang-tulang panjang lengan dan tungkai. ada tidaknya kekerasan sebelum kejadian. patah tulang baru dan lama yang ditemukan bersamaan. membersihkan kelamin dan dubur. rahang dan hidung serta  patahnya gigi. bentuk luka yang khas sesuai dengan 35 . perdarahan dan atau keluarnya cairan dari vagina. tambahkan pertanyaan tentang hal-hal sebagai berikut: a) Waktu dan lokasi kejadian. segala bentuk kegiatan seksual yang terjadi. lengan atas. Pemeriksaan Fisik a) Memeriksa keadaan umum korban yang meliputi kesadaran dan tanda-tanda vital. paha. atau bokong akibat kontak bagian-bagian tubuh tersebut dengan benda panas.h) Periksa apakah ada tanda-tanda kehilangan kesadaran yang diakibatkan pemberian NAPZA. termasuk bagian-bagian tubuh yang mengalami kekerasan. Suatu kasus patut diduga  sebagai KtA bila ditemukan adanya: Memar/jejas di kulit pada daerah yang tidak lazim terkena  kecelakaan seperti pipi. tanyakan kemungkinan adanya hubungan seksual dua minggu sebelumnya. luka bakar pada tangan. Luka bakar seperti bekas sundutan rokok. Patah tulang pada anak usia dibawah tiga tahun. b) Memperhatikan apakah ada luka lama dan baru yang sesuai dengan urutan peristiwa kekerasan yang dialami. ikat pinggang bahkan gigi orang dewasa. mandi atau gosok gigi. patah tulang pada kepala. e) Khusus untuk kasus kekerasan seksual pada remaja. c) Adanya rasa nyeri dan gangguan pengendalian buang air besar dan/atau buang air kecil. patah tulang ganda. bokong dan genital. Pada kasus kekerasan seksual. b) Adanya rasa nyeri. BAK. kepalan. 3. d) Apa yang dilakukan korban setelah kejadian kekerasan seksual tersebut. ada tidaknya penetrasi. kaki. dengan apa penetrasi dilakukan. Perlukaan multipel (ganda) dengan berbagai tingkat penyembuhan. tali  atau kabel. apakah korban mengganti pakaian. tanda dengan konfigurasi sesuai jari tangan.

Periksa selaput dara. rambut lepas yang ditemukan mungkin milik pelaku dimasukan ke dalam amplop. bercak darah pada pakaian dalam. lokasi robekan tersebut dan teliti apakah sampai ke dasar atau tidak. sedangkan untuk pemeriksaan dalam harus dirujuk): . Bila ditemukan diameter sama atau lebih dari 10 mm.bentuk benda panas yang dipakai untuk menimbulkan luka  tersebut. Rambut pubis korban dicabut/digunting 3-5 helai masukan ke dalam - amplop yang berbeda dan diberi label. seperti perdarahan (hematoma) subkutan atau subdural. hematoma dan perhatikan kesesuaian tanda kekerasan dengan urutan kejadian kekerasan. pada selaput dara tentukan ada atau tidaknya robekan. bercak/area kebotakan akibat tertariknya rambut. vulva dan - perineum. yang dapat dilihat pada foto rontgen. Cedera pada kepala. baik yang baru atau berulang. Bila tidak adanya robekan.Rambut pubis disisir. lakukan pemeriksaan besarnya lingkaran lubang. lokasi. dan dengan bertambahnya usia akan bertambah 1 mm. patut dicurigai sudah terjadi penetrasi oleh benda tumpul misalnya jari. Periksa adanya luka di daerah sekitar paha. c) Pada kasus kekerasan seksual. Catat jenis. Lain-lain: dislokasi/lepas sendi pada sendi bahu atau pinggul. padahal ada informasi terjadinya penetrasi. dasar dan tepi luka. masukkan dalam  amplop terpisah dan diberi label. 36 . bentuk. robekan baru atau lama. Pada balita diameter hymen (selaput dara) tidak lebih dari 5 mm. Gunting/kerok kuku korban kanan dan kiri. ekimosis. Pada remaja pemeriksaan dilakukan dengan memasukkan satu jari kelingking. perlu memperhatikan:  Adanya tanda-tanda perlawanan atau kekerasan seperti pakaian  yang robek. Pemeriksaan ginekologik pada anak perempuan (hanya dilakukan pemeriksaan luar. cakaran. Kadang-kadang tanda ini muncul dengan segera atau setelah beberapa waktu kemudian. gigitan.

Bercak kering dikerok dengan menggunakan skapel. lanjutkan pemeriksaan dengan satu jari telunjuk. Bila dengan 2 jari tanpa hambatan. perdarahan dalam). dicurigai telah terjadi penetrasi. Anuskop hanya digunakan sesuai indikasi (dicurigai ada keluhan. agar tidak menambah trauma baru pada anak. Pemeriksaan colok dubur baik pada anak laki-laki maupun perempuan. infeksi. Gambar 1. dikeringkan pada suhu kamar dan dimasukkan ke dalam amplop. Gambar 2. Knee chest position Pemeriksaan pada anak 37 . teruskan dengan jari telunjuk dan jari tengah (2 jari). Pada balita pemeriksaan dilakukan dalam posisi menungging (knee-chest position). Jangan menggunakan anuskop pada anak di bawah 6 tahun. bercak basah diambil dengan kapas lidi. bila tanpa hambatan.Bila kelingking dapat masuk tanpa hambatan dan rasa nyeri. Frog leg position Gambar 3.

yaitu perlukaan eksternal. luka potong. Perlukaan internal bila terjadi di fossa navicularis. Sedangkan anal bila terjadi pada anus dan rectum.18. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa jenis perlukaan tersering adalah robekan pada anus. Robekan didefinisikan bila adanya diskontinuitas jaringan. Umumnya hal ini menandakan tanda trauma aku dan menggambarkan penampakan edema. lubang vagina dan vagina).19 Pada perlukaan anal terdapat pembengkakan disekitar lubang anus yang sering disebut Tyre sign. Hal ini diduga karena terjadinya hipertrofi 38 . Pembengkakan pada jaringan atau edematous. retakan. 11% perlukaan hymen. Sedangkan menurut Grossin et al. area periuretral. pada hymen sebanyak 29%. Kemerahan pada kulit eritematous dikarenakan peradangan abnormal karena iritasi atau perlukaan tanpa batas tegas. Ekimosis didefinisikan sebagai perubahan warna kulit dan membrane mukosa. internal dan anal.Pola perlukaan pada kejahatan seksual: Perlukaan genital pada anak perempuan akibat kekerasan seksual dapat diklasifikasikan berdasarkan lokasi perlukaannya. luka gores. Sebagian besar hasil penelitian menyimpulkan bahwa fourchette posterior dan labia minora merupakan lokasi perlukaan di organ genitalia paling sering. termasuk adanya fisura. dan 7% perlukaan pada anal. kemerahan dan pembengkakan jaringan.18. perineum dan fourchettes posterior. luka bacok dan luka cabik. dan cervix vagina. dikenal dengan istilah memar berwarna merah kebiruan karena pecahnya pembuluh darah kecil diantara kulit dan membrane mukosa. Perlukaan eksternal bila terjadi di labia mayor. perlukaan pada bagian posterior fourchette sebanyak 70%. labia minor. sedangkan lokasi robekan tersering pada organ genital adalah fourchette posterior. abrasi. hymen.19 Perlukaan yang terjadi pada organ genital dapat berupa robekan. Hasil penelitian Jones et al juga mendapatkan bahwa 78% perlukaan mengenai empat bagian genital diatas. Menurut Slaughter et al. klitoris. Abrasi didefinisikan sebagai ekskoriasi kulit karena hilangnya lapisan epidermis dengan batas tegas. dan fossa navicularis 25%. ekimosis. 20% perlukaan terjadi pada vulvo –vaginal (perlukaan pada organ genital wanita bagian luar termasuk labia. pada labia minora sebanyak 53%.

18. Selaput Dara: yang paling sering mengalami cedera adalah area posterior dan semuanya kebanyakan adalah laserasi. Hasil pemeriksaan yang diharapkan pada korban dan tersangka: KORBAN TERSANGKA Identifikasi Tanda – tanda Persetubuhan Tanda – tanda Kekerasan Perkiraan Umur Pantas Dikawin atau Tidak Sel Epitel Dinding Vagina Penyakit Menular Seksual Golongan Darah Enzimatik DNA Tabel 4. kebanyakan cedera yang dialami - pada vagina terjadi di bagian anterior. Uretra: Area ini termasuk pada ujung atau area depan pada uretra. Cedera lainnya yang sering dialami adalah abrasi pada daerah labia (10%). Cedera yang paling sering dialami adalah laserasi (10%). Tabel 3. Biasanya ukuran lukanya - setengah sentimeter Labia: labia adalah area kedua yang sering mengalami perlukaan dengan proporsi jenis cedera yang merata. Perlukaan yang paling berat pada anus adalah dilatasi maksimal pada anus membentuk huruf “O”. Hasil pemeriksaan yang diharapkan pada korban : PENETRASI PENIS EJAKULASI Robekan Selaput Dara (Hymen) Perlukaan di daerah Genital Sperma dalam vagina Air mani 39 .pada muskulus sfingter ani. Ada beberapa cedera di sini. sebagian besar adalah memar. yang paling sering mengalami cedera adalah area posterior fourchette. Area posterior lebih sering mengalami - cedera. dan biasanya terjadi - karena adanya paksaan pada saat penetrasi.19 - Fourchette posterior: ini adalah yg area yang paing sering mengalami cedera dan paling sering mengalami laserasi. Area genital yang paling sering mengalami perlukaan dan ukurannya:18.19 Pada area genital. Vagina: tidak seperti pola di tempat lain.

selalu ingat peristiwa itu.Kehamilan PENYAKIT KELAMIN Kencing nanah (GO) Lues (Sifilis) Lainnya c. e. Gejala yang muncul antara lain: 1. Test kehamilan. menyalahkan diri sendiri. kacau. Takut ditinggal sendirian 8. lakukan pengambilan darah dan urine untuk pemeriksaan kandungan NAPZA. Pemeriksaan status mental16 Anak memiliki ciri temperamen dan perasaan yang unik. malu. mimpi buruk. keluhan-keluhan fisik atau tingkah laku yang tidak sesuai dengan tahapan perkembangannya. Takut diperiksa oleh dokter pria 5. Takut melaporkan kejadian yang dialaminya 6. 9. Penatalaksanaan Medis 16 Prinsip penatalaksanaan medis pada kasus kekerasan pada anak adalah sebagai berikut: 40 . Takut akan reaksi keluarga maupun teman-teman 3. Siaga berlebihan (mudah kaget terkejut. bingung. usapan rugae untuk pemeriksaan adanya sperma. sehingga dapat memberikan reaksi yang berbeda terhadap trauma/tekanan yang sama. Reaksi emosional lain. Ketakutan 2. seperti syok. Apabila diperlukan. Pada kasus kekerasan seksual ditambah dengan: 1. 4. hilang nafsu makan. pemeriksaan laboratorium: darah dan urin rutin. Panik 11. Pemeriksaan mikroskop adanya sperma dengan menggunakan NaCl. Lakukan penapisan (screening) penyakit kelamin 2. rasa tidak percaya. marah. 3. Berduka (perasaan sedih terus menerus) d. Takut orang lain tidak akan mempercayai keterangannya 4. Pemeriksaan Penunjang16 Pemeriksaan penunjang meliputi Rontgen dan USG (jika tersedia). curiga) 10. Takut terhadap pelaku 7. Anak mungkin akan mengekspresikan masalah melalui kata-kata. histeris yang menyebabkan sulit tidur (insomnia).

Tangani luka sesuai dengan prosedur 3. c) Periksa.4.6. Sistem dan Alur Rujukan Kasus Kekerasan Seksual Pada Anak20 Jika kondisi korban bisa ditangani di puskesmas. d) Berikan konseling untuk pemeriksaan HIV/AIDS dalam 6-8 minggu atau rujuk bila perlu. maka langkah-Iangkah yang dilakukan adalah: anamnesa. Bagi korban yang memerlukan dukungan sosial seperti perlindungan keamanan dapat dirujuk ke rumah perlindungan (Shelter). Namun jika kondisi korban memerlukan penanganan spesialistik atau penanganan lebih lanjut maka korban dirujuk ke Rumah Sakit. 5. 6. Pada anak yang mempunyai status gizi buruk atau kurang diberikan makanan tambahan dan konseling gizi kepada orang tua/keluarga.1. sesuai Bila dicurigai terdapat perdarahan dalam. lakukan rontgen dan penanganan yang 4. dengan beberapa tambahan: a) Mencegah kehamilan (bila perlu) b) Berikan Kontrasepsi Darurat (Kondar) apabila kejadian perkosaan belum melebihi 72 jam. 10. dan berikan surat. Bila dicurigai terdapat patah tulang. lakukan rekam medis. Informasikan dengan hati-hati kemungkinan hasil temuan pemeriksaan dan dampak yang terjadi. Penatalaksanaan medis pada kasus kekerasan seksual pada anak sama seperti pada kasus kekerasan fisik. Buatkan VeR bila ada permintaan resmi dari polisi (surat resmi permintaan VeR harus diantar polisi).surat yang diperlukan. serta dilakukan tindakan medis dan konseling. Petugas 41 . 7. 9. sehingga dapat ditegakkan diagnosa. 8. pemeriksaan penunjang yang diperlukan. pemeriksaan fisik dan psikososial. lakukan USG atau rujuk Dengarkan dan beri dukungan pada anak. sesuai panduan konseling Pastikan keamanan anak Periksa dengan teliti. Tangani kegawatdaruratan yang mengancam nyawa 2. cegah dan obati infeksi menular seksual atau rujuk ke Rumah Sakit. kepada anak dan keluarga serta rencana tindak lanjutnya. 2. Jika kondisi korban telah membaik dapat dipulangkan dan dilakukan kunjungan rumah bila diperlukan.

forensik) dan pemeriksaan penunjang serta bukti-bukti pendukung lainnya seperti pakaian. rambut pubis. pemeriksaan laboratorium (medis.20 42 . dapat memberikan pelayanan komprehensif dalam satu atap (one stop service) yang mencakup aspek. Rumah Sakit yang sudah mempunyai PKT/PPT. Apabila tidak memungkinkan adanya ruang khusus. perawat. kotoran/debris pada kuku.20 Mekanisme rujukan kasus kekerasan terhadap anak di Rumah Sakit tidak dibedakan menurut kelas Rumah Sakit baik kelas C. swab vagina.kesehatan di Puskesmas perlu melakukan pencatatan secara rinci dan lengkap sebagai rekam medis untuk pelaporan dan pembuatan visum et repertum jika diminta oleh Polisi. tetapi berdasarkan tersedia atau tidaknya Pusat krisis Terpadu atau Pusat Pelayanan Terpadu. penangan psikologis. maka ruang konsultasi dapat disesuaikan dengan kondisi yang ada namun perlu dijamin kerahasiaan. keamanan dan kenyamanan. sosial dan hukum. celana dalam. Oleh karena itu di dalam PKT/PPT diperlukan tim yang terdiri dari dokter. serta ruang konsultasi khusus. kronologis singkat kasus. Pusat Krisis Terpadu (PKT)/Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) adalah pusat pelayanan bagi korban kekerasan pada anak dan perempuan yang memberikan pelayanan komprehensif dan holistik meliputi penangan medis dan medikoIegal. kelas B atau kelas A. psikolog dan ahli hukum. pekerja sosial. Untuk melakukan rujukan perlu dipersiapkan: surat pengantar rujukan.

Gambar 4. Alur penanganan dan rujukan kasus Kekerasan seksual terhadap Anak di Puskesmas20 Gambar 5. Alur Rujukan Di Rumah Sakit Yang Memiliki Pkt/Ppt20 43 .

Apabila pasien meninggal. langsung ke IGD selanjutnya dilakukan registrasi dan triage untuk menentukan status korban. pelayanan medis/mediko-Iegal. konseling. psikologis. LBH yang tergabung dalam jaringan kerja penanganan kekerasan terhadap anak. Apabila kondisi korban semi kritis atau kritis maka korban dikirim ke ruang ICU/HCU atau rawat inap untuk mendapat perawatan yang diperlukan. dan lain-lain dilakukan rujukan non medis ke institusi terkait lainnya. prasarana serta kemampuan tenaga di Rumah Sakit. konsultasi spesialis. Selanjutnya pasien dapat dipulangkan/rawat jalanlrujukan non medis. perlindungan. dibawa ke ruang otopsi untuk pembuatan visum et repertum bila diperlukan. Korban datang sendiri ke Rumah Sakit atau diantar oleh Polisi/LSM/ keluarga.Pada kasus yang memerlukan pendampingan. Kasus kekerasan terhadap anak yang ditangani di Rumah Sakit mulai dari derajat ringan sampai berat sesuai dengan ketersediaan sarana.20 Jika korban datang sendiri ke Rumah Sakit atau diantar oleh Polisi/LSM/ keluarga. sosial. konsultasi spesialis. selanjutnya kalau kondisi korban telah membaik dapat dikirim ke PKT/PPT. langsung ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) selanjutnya dilakukan registrasi dan triage untuk menentukan status korban. Apabila kondisi korban non kritis langsung dirujuk ke PKT/PPT untuk mendapatkan pelayanan medis/mediko-Iegal. bantuan hukum. hukum dan perlu bekerjasama dengan LSM. Rumah Sakit yang belum memiliki PKT/PPT kegiatan penanganan kasus penanganan kekerasan terhadap anak dilakukan di Instalasi Gawat Darurat (IGD). selanjutnya jika kondisi korban telah membaik dapat dipulangkan/rawat 44 . Selanjutnya pasien dapat dipulangkan/rawat jalan. Tindakan dalam penanganan kasus penanganan kekerasan terhadap anak di Rumah Sakit diawali dengan anamnesa untuk identifikasi kasus dan pengisian lembar persetujuan pemeriksaan (informed concent). Apabila kondisi korban non kritis langsung ditangani di IGD untuk mendapatkan pelayanan medis.20 Keterangan Gambar 5. Apabila kondisi korban tidak dapat ditangani di Rumah Sakit tersebut maka dirujuk ke Rumah Sakit yang mempunyai fasilitas lebih lengkap. Apabila kondisi korban semi kritis atau kritis maka korban dikirim ke ruang ICU/HCU atau rawat inap untuk mendapat perawatan yang diperlukan. psikososial. dan visum et repertum bila diminta oleh Polisi. serta visum et repertum bila diminta oleh Polisi.

Apabila pasien meninggal.20 Gambar 6. Mekanisme pelayanan KTA di Rumah Sakit yang belum memiliki PKT/PPT 45 . Apabila kondisi korban tidak dapat ditangani di Rumah Sakit tersebut maka dirujuk ke Rumah Sakit yang mempunyai fasilitas lebih lengkap. dibawa ke ruang otopsi untuk pembuatan visum et repertum bila diperlukan.jalan/rujukan non medis.

lurus.  Ciri rambut: Warna hitam. Pada hasil pemeriksaan. Bagian Tubuh Tertentu :  Dubur : 46 . Pasien mengaku kejadian ini sudah di lakukan sebanyak dua kali. umur 6 tahun. alamat Tawang Ngaglik Lor RT 02 / RW 06. Awalnya pasien di beri melihat gambar-gambar seronok. diduga telah mengalami kekerasan seksual Tanggal 4 September 2016 Pukul 18.7oC.1 Kasus 1 : 1. Identitas Umum :  Jenis kelamin: Laki-laki  Umur: 6 tahun. ditemukan : a.  Nadi: 73x/menit.  Warna kulit: Sawo matang. Pasien merasa anus nya terasa sakit ketika nenek korban ingin memijat nya. lalu pasien di suruh tengkurap. Kecamatan Semarang Barat. c. dan alat vital tetangga tersebut di masukan ke lubang anus korban. pendek. Kariadi Semarang karena korban mengaku dua hari lalu pasien di ajak oleh tetangga nya yang bernama R ke kuburan ketika korban sehabis pulang mengaji. Kelurahan Tawangmas.85 kg/m²).  Tinggi badan: 135 cm  Keadaan gizi: Kesan gizi cukup (IMT: 20. lalu korban bercerita kepada nenek nya. jenis kelamin laki-laki. Korban tersebut datang didampingi ayah korban ke Rumah Sakit Umum Pusat Dokter Kariadi Semarang. Anamnesis : Nama An. lalu pasien dipaksa membuka baju dan celana.BAB III KASUS DAN PEMBAHASAN 3.  Suhu: 36. 2.  Berat badan: 38 kg.00 WIB. b. MS.  Tekanan darah: 120/80mmHg. kewarganegaraan Indonesia.  Pernapasan: 19x/menit. Pada tanggal 09 September 2016 korban dibawa ke IGD RSUP dr. Keadaan Umum :  Kesadaran: Sadar penuh.

o Liang dubur : Terdapat tiga buah luka lecet pada liang dubur arah jam delapan. Hal tersebut menimbulkan gangguan psikis dan mental pada korban Pada kasus diatas. warna kemerahan.35 Tahun 2014 Pasal 76E (1).000. jam sembilan.00 (lima miliar rupiah). pelaku kekerasan seksual pada anak dapat dikenakan pelanggaran berdasarkan : Undang-Undang Perlindungan Anak No. warna kemerahan. yang berbunyi setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76E dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp5. memaksa. Dan dapat dikenakan sanksi seperti yang tertulis pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.000. Pembahasan : Berdasarkan temuan-temuan yang ditemukan dari pemeriksaan atas korban tersebut maka saya simpulkan bahwa korban adalah seorang anak laki-laki. Artinya antara satu dengan lainnya belum terdapat 47 . umur enam tahun. BAB IV KESIMPULAN Definisi anak dalam berbagai peraturan perundang-undangan yang ada di Indonesia saat ini belum ada batasan yang konsisten. o Lubang dubur : Tidak ada kelainan 3. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.2. kesan gizi cukup. melakukan serangkaian kebohongan. melakukan tipu muslihat. Pasal 82 ayat (1) UU No. atau membujuk Anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul. warna kulit sawo matang. Dari pemeriksaan luar didapatkan tanda kekerasan tumpul berupa luka lecet. batas tidak tegas.000. batas tidak tegas. Setiap Orang dilarang melakukan Kekerasan atau ancaman Kekerasan. 35 tahun 2014 tentang perubahan terhadap UU No. dan jam sepuluh.

dan kekerasan seksual. yaitu kekerasan secara fisik. mental. 23 Tahun 2002 sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang. seperti Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Secara teoritis. Anak menjadi kelompok yang sangat rentan terhadap kekerasan seksual karena anak selalu diposisikan sebagai sosok lemah atau yang tidak berdaya dan memiliki ketergantungan yang tinggi dengan orang-orang dewasa di sekitarnya. sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa penetapan batasan umur atau usia anak digantungkan pada kepentingan pada saat produk hukum tersebut dibuat. Hal inilah yang membuat anak tidak berdaya saat diancam untuk tidak memberitahukan apa yang dialaminya. aspek hukum maupun dukungan sosial. Bentuk-bentuk kekerasan seksual itu sendiri bisa dalam tindakan perkosaan ataupun pencabulan. tipuan bahkan tekanan. Perbuatan ini dilakukan dengan menggunakan paksaan. baik dari sisi medis. Undang-Undang No.Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan Undang-Undang No. masyarakat dan negara. Kegiatan-kegiatan kekerasan seksual terhadap anak tersebut tidak harus melibatkan kontak badan antara pelaku dengan anak sebagai korban. Selain itu. atau seksual yang umumnya dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai tanggung jawab terhadap kesejahteraan anak yang mana semua diindikasikan dengan kerugian dan ancaman terhadap kesehatan dan kesejahteraan anak. kekerasan emosional. 48 . sisi individu. Semua sisi memerlukan pembenahan dan penanganan. terhadap tindak kekerasan seksual. saudara sekandung atau orang tua dimana anak dipergunakan sebagai objek pemuas kebutuhan seksual pelaku. perlu adanya sinergi antara keluarga. suap. Sebagai bentuk perlindungan anak anak di Indonesia. melalui perundang-undangan (hukum positif). kekerasan verbal.keseragaman. maka pembuatan Undang-undang. ancaman.11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak secara mutlak memberikan berbagai bentuk perlindungan hukum yang berkaitan dengan masalah perlindungan anak. Didalam penanganan kekerasan seksual terhadap anak. dalam penanganan kasus kekerasan seksual terhadap anak seharusnya bersifat holistik dan terintegrasi. Terdapat 4 macam kekerasan terhadap anak. kekerasan terhadap anak (child abuse) didefinisikan sebagai perlakuan fisik. Kekerasan seksual terhadap anak menurut End Child Prostitution in Asia Tourism (ECPAT) Internasional merupakan hubungan atau interaksi antara seorang anak dengan seorang yang lebih tua atau orang dewasa seperti orang asing.

serta pembukaan sebagian rahasia kedokteran guna pembuatan visum et repertum. persetujuan untuk pemeriksaan harus diperoleh dari korban. Pada kasus yang memerlukan pendampingan. dan lain-lain dilakukan rujukan non medis ke institusi terkait lainnya. dan yang akan diperiksa adalah daerah “sensitif”. Informasi tentang pemeriksaan harus diberikan sebelum pemeriksaan dimulai dan antara lain mencakup tujuan pemeriksaan dan kepentingannya untuk pengungkapan kasus. hukum dan perlu bekerjasama dengan LSM. perlindungan. bantuan hukum. Sedangkan jika korban anak kecil dan jiwanya terganggu. LBH yang tergabung dalam jaringan kerja penanganan kekerasan terhadap anak. 49 . Dokter harus menjelaskan terlebih dahulu tindakan-tindakan yang akan dilakukan pada saat pemeriksaan korban dan hasil pemeriksaan akan disampaikan ke pengadilan dalam bentuk Visum et Repertum. tindakan pengambilan sampel atau barang bukti. sosial. Apabila korban cakap hukum. dokumentasi dalam bentuk rekam medis dan foto. psikologis. Untuk dapat melakukan pemeriksaan yang berguna untuk peradilan. atau walinya. prosedur atau teknik pemeriksaan. pelayanan medis/mediko-Iegal. Karena korban juga berstatus sebagai pasien.Peranan ilmu kedokteran forensik dalam kasus kekerasan seksual pada anak mencakup aspek etik dan medikolegal yang harus diperhatikan. maka persetujuan diberikan oleh orang tuanya atau saudara terdekatnya. hal utama yang harus diperhatikan adalah memperoleh informed consent. dokter harus melakukannya berdasarkan permintaan tertulis dari penyidik yang berwenang.

13. Puryatni A. Washington. Undang-Undang No. IV/No. 2015. tentang Kejahatan Terhadap Kesusilaan.Children’s Exposure to Violence: A Comprehensive National Survey. SH. diakses tanggal 20 Agustus 2016 4. 2006. Undang-Undang RI.gov. Hal 250-1. diunduh dari www. 8.DAFTAR PUSTAKA 1. 2010.php/read/xml/2009/01/28/.I (1). Penyebab Kekerasan Seksual terhadap Anak dan Hubungan Pelaku dengan Korban. 1 Tahun 1946 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Kekerasan Seksual Terhadap Anaka : Dampak Dan Penanganannya Child Sexual Abuse : Impact and Handling. 205. Perlindungan Hukum Terhadap Kekerasan Pada Anak.Mhum. Sadjimin T. 6. Lex Crimen Vol. 10. 2006. Maslihah. Diunduh dari http://kompas. 2002. 88. H.25-33. DC: 2009. Nomor 23 tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. 50 . 2008. 2002:114 Jurnal Studi Gender dan Anak. 3. al. 1. Sexual maturity rating (tanner staging) in adolescents. Anastasia Hana Sitompul. 9. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Bab XIV KUHP. Nurul Huda.14. 7.ncbi.. Pusat Studi Gender dan Anak Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak. diakses tanggal 20 Agustus 2016. D et. Bagong Suyanto dan Sri Sanituti. Sari. 11. Sri. 01. Geneva. 2009. . Rianawati.nih. Kekerasan Terhadap Anak dan Masalah Sosial Yang Kronis. Ivo Noviana. Pena Justisia Volume VII No. Berkala Ilmu Kedokteran Volume 34 No. Finkelhor. Pola perkembangan seksual sekunder pada pelajar putri sekolah dasar di kotamadya Yogyakarta. “Kekerasan Terhadap Anak: Model Transisional dan Dampak Jangka Panjang”. Januari – April 2015. 12. No.4: Yogyakarta. Kajian Hukum Tentang Tindak Kekerasan Seksual terhadap Anak.com/index. Raheema: Jurnal Studi Gender dan Anak. Edukid: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini. 5.1/Jan-Mar/2015. A.nlm. Sosio Informa Vol. P. 2. World Health Organization.

18.gizikia. Trauma.204(13):27-33. White C. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.go. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak 17. Pedoman Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak Bagi Petugas Kesehatan. Defining Patterns of Genital Injury from Sexual Assault. Forensic Science International. 1997. Violence.14. Sommers. 2011. Paul S. Female genital injuries resulting from consensual and non-consensual vaginal intercourse. Bakti Husada. 19.depkes. Pemeriksaan Medik pada Kasus Kekerasan Seksual.Available:http://www. Budyanto A dkk. 15. & Abuse. MS.h147-58. 2007. Dalam: Ilmu Kedokteran Forensik. Roberts S. Jakarta: FK UI. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014.id/wpcontent/uploads/downloads/2011 /01/Pedoman-Rujukan-Kasus-KtA-Bagi-Petugas-Kesehatan. 20. McLean I. UU RI No.pdf 51 . 16. University of Pennsylvania School of Nursing.