You are on page 1of 7

Peranan Kreativitas Dalam Proses Belajar

Diajukan untuk memenuhi tugas pada Mata Kuliah
Psikologi Pendidikan

Oleh
ASRI
Nim / Bp : 16583 / 2010
Jurusan Teknik Otomotif
Program Studi S1 Pendidikan Teknik Otomotif

UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2016

Peranan Kreativitas Dalam Proses Belajar

A. Pengertian Kreativitas
Perkembangan kreativitas sangat erat kaitannya dengan
perkembangan kognitif individu karena kreativitas sesungguhnya
merupakan perwujudan dari pekerjaan otak. Para pakar kreativitas,
misalnya Clark (1988) dan Gowan (1989) melalui Teori Belahan Otak
(Hemisphere Theory) mengatakan bahwa sesungguhnya otak
manusia itu menurut fungsinya terbagi menjadi dua belahan, yaitu
belahan otak kiri (left hemisphere) dan belahan otak kanan (right
hemisphere). Otak belahan kiri mengarah kepada cara berfikir
konvergen (convergen thinking), sedangkan otak belahan kanan
mengarah kepada cara berfikir menyebar (difergent thinking).
Kreativitas didefinisikan secara berbeda-beda oleh para pakar
berdasarkan sudut pandang masing-masing. Barron (1982: 253)
mendefinisikan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk
menciptakan sesuatu yang baru. Guilford (1970: 236) menyatakan
bahwa kreativitas mengacu pada kemampuan yang menandai cirriciri seorang kreatif. Guilford mengemukakan dua cara berpikir, yaitu
cara berpikir konvergen dan divergen. Cara berpikir konvergen
adalah cara-cara individu dalam memikirkan sesuatu dengan
pandangan bahwa hanya ada satu jawaban yang benar. Sedangkan
cara berpikir divergen adalah kemampuan individu untuk mencari
berbagai alternative jawaban terhadap suatu persoalan.
Utami Munandar (1992: 47) mendefinisikan kreativitas
sebagai
berikut.
“Kreativitas
adalah
kemampuan
yang
mencerminkan kelancaran, keluwesan, dan orisinalitas dalam
berpikir serta kemampuan untuk mengolaborasi suatu gagasan.”
Utami Munandar (1992: 51) menekankan bahwa kreativitas sebagai
keseluruhan kepribadian merupakan hasil interaksi dengan
lingkungannya.
Rogers (Utami Munandar, 1992: 51) mendefinisikan kreativitas
sebagai proses munculnya hasil-hasil baru ke dalam tindakan. Hasilhasil baru itu muncul dari sifat-sifat individu yang unik yang
berinteraksi dengan individu lain, pengalaman, maupun keadaan
hidupnya. Demikian juga Drevdahl (Hurlock, 1978: 325)
mendefinisikan kreativitas sebagai kemampuan untuk memproduksi
komposisi dan gagasan-gagasan baru yang dapat berwujud
kreativitas imajenatif atau sintesis yang mingkin melibatkan

pembentukan pola-pola baru dan kombinasi dari pengalaman masa
lalu yang dihubungkan dengan yang sudah ada pada situasi
sekarang.
Jadi, yang dimaksud dengan kreativitas adalah cirri-ciri khas
yang dimiliki oleh individu yang menandai adanya kemampuan
untuk menciptakan sesuatu yang sama sekali baru atau kombinasi
dari karya-karya yang telah ada sebelumnya, menjadi sesuatu karya
baru yang dilakukan melalui interaksi dengan lingkungannya untuk
menghadapi permasalahan, dan mencari alternatif pemecahannya
melalui cara-cara berpikir divergen.

B. Karakteristik Individu Kreatif
Siswa kreatif memiliki beberapa ciri diantaranya;
1. Memiliki daya imajinasi yang kuat
2. Memiliki inisiatif
3. Memiliki minat yang luas
4. Bebas dalam berpikir (tidak kaku atau terhambat)
5. Bersifat ingin tahu
6.

Selalu ingin mendapat pengalaman baru

7.

Percaya pada diri sendiri

8.

Penuh semangat

9.

Berani mengambil risiko (tidak takut membuat kesalahan)

10. Berani dalam pendapat dan keyakinan (tidak ragu dalam
menyatakan pendapat meskipun mendapat kritik dan berani
memertahankan pendapat yang menjadi keyakinannya).
Di
samping
ciri-ciri
di
atas,
dari
pengalaman
membelajarkan siswa kreatif, terkadang siswa kreatif memiliki
sifat-sifat yang berani sehingga kadang-kadang berprilaku
berani menentang pendapat, menunjukkan ego yang kuat,
bertindak semau gue, menunjukan minat yang sangat kuat
terhadap yang menjadi perhatiannya namun pada saat yang
berbeda mengabaikannya, memerlukan kebanggaan atas
karyanya. Sifat-sifat tersebut sering bertentangan dengan yang
guru harapkan. Guru mengharapkan siswa sopan, rajin, ulet,

menyelesaikan tugas sesuai
bersikap kompromis, tidak
dengan guru, percaya diri,
dengan baik. Akibat suasana
terjadi prakarsa kreatif siswa
dukungan dari guru.

dengan yang guru targetkan,
selalu bertentangan pendapat
penuh energi, dan mengingat
kontradiktif inilah, maka sering
diabaikan atau tidak mendapat

C. Tahap-tahap Berkembangnya Kreativitas
Menurut Cropley (1999), terdapat 3 tahap perkembangan
kreativitas diantaranya:
1.
Tahap prekonvensional (Preconventional phase)
Tahap ini terjadi pada usia 6–8 tahun. Pada tahap ini, individu
menunjukkan spontanitas dan emosional dalam menghasilkan
suatu karya, yang kemudian mengarah kepada hasil yang aestetik
dan menyenangkan. Individu menghasilkan sesuatu yang baru
tanpa memperhatikan aturan dan batasan dari luar.
2.
Tahap konvensional (Conventional phase)
Tahap ini berlangsung pada usia 9–12 tahun. Pada tahap ini
kemampuan berpikir seseorang dibatasi oleh aturan-aturan yang
ada sehingga karya yang dihasilkan menjadi kaku. Selain itu, pada
tahap ini kemampuan kritis dan evaluatif juga berkembang.
3.
Tahap poskonvensional (Postconventional phase)
Tahap ini berlangsung pada usia 12 tahun hingga dewasa.
Pada tahap ini, individu sudah mampu menghasilkan karya-karya
baru yang telah disesuaikan dengan batasan-batasan eksternal
dan nilai-nilai konvensional yang ada di lingkungan.
D. Faktor yang Mempengaruhi Berkembangnya Kreatifitas
Hurlock (1993), mengatakan ada enam faktor yang
menyebabkan munculnya variasi kreativitas yang dimiliki individu,
yaitu:
1. Jenis kelamin
Anak laki-laki menunjukkan kreativitas yang lebih besar
dari anak perempuan, terutama setelah berlalunya masa kanakkanak. Untuk sebagian besar hal ini disebabkan oleh perbedaan
perlakuan terhadap anak laki-laki dan anak perempuan. Anak
laki-laki diberi kesempatan untuk mandiri, didesak oleh teman
sebaya untuk lebih mengambil resiko dan didorong oleh para
orangtua dan guru untuk lebih menunjukkan inisiatif dan
orisinalitas.
2. Status sosioekonomi

Anak dari kelompok sosioekonomi yang lebih tinggi
cenderung lebih kreatif dari anak kelompok yang lebih rendah.
Lingkungan anak kelompok sosioekonomi yang lebih tinggi
memberi lebih banyak kesempatan untuk memperoleh
pengetahuan dan pengalaman yang diperlukan bagi kreativitas.
3. Urutan kelahiran
Anak dari berbgai urutan kelahiran menunjukkan tingkat
kreativitas yang berbeda. Perbedaan ini lebih menekankan pada
lingkungan daripada bawaan. Anak yang lahir ditengah, belakang
dan anak tunggal mungkin memiliki kreativitas yang tinggi dari
pada anak pertama. Umumnya anak yang lahir pertama lebih
ditekan untuk menyesuaikan diri dengan harapan orangtua,
tekanan ini lebih mendorong anak untuk menjadi anak yang
penurut daripada pencipta.
4. Ukuran keluarga
Anak dari keluarga kecil bilamana kondisi lain sama
cenderung lebih kreatif daripada anak dari keluarga besar. Dalam
keluarga besar cara mendidik anak yang otoriter dan kondisi
sosiekonomi
kurang
menguntungkan
mungkin
lebih
mempengaruhi dan menghalangi perkembangan kreativitas.
5. Lingkungan
Anak dari lingkungan kota cenderung lebih kreatif dari anak
lingkungan pedesaan.
6. Intelegensi
Setiap anak yang lebih pandai menunjukkan kreativitas
yang lebih besar daripada anak yang kurang pandai. Mereka
mempunyai lebih banyak gagasan baru untuk menangani
suasana sosial dan mampu merumuskan lebih banyak
penyelesaian bagi konflik tersebut.

E. Upaya Guru Mengembangkan Kreativitas Peserta Didik
Sifat relasi bantuan untuk membimbing anak-anak kreatif,
menurut Dedi Supriadi (1994), sebenarnya sama saja dengan relasi
untuk anak-anak pada umumnya. Hanya saja, idealnya para guru
dan pembimbing mengetahui mekanisme proses kreatif dan
manifestasi perilaku kreatif. Dalam konteks relasi dengan anak-anak

kreatif ini, Torrance (1977) menamakan relasi bantuan itu dengan
istilah creative relationship yang memiliki karakteristik sebagai
berikut.
1. Pembimbing berusaha memahami berusaha memahami pikiran
dan perasaan anak.
2. Pembimbing mendorong anak untuk mengungkapkan gagasangagasannya tanpa mengalami hambatan.
3. Pembimbing lebih menekankan pada proses daripada hasil
sehingga
Pembimbing
di
tuntut
mampu
memandang
permasalahan anak sebagai bagian dari keseluruhan dinamika
perkembangan dirinya.
4. Pembimbing berusaha menciptakan lingkungan yang bersahabat,
bebas dari ancaman, dan suasana saling menghargai.
5. Pembimbing tidak memaksakan pendapat, pandangan, atau nilainilai tertentu kepada anak.
6. Pembimbing berusaha mengeksplorasi segi-segi positif yang
dimiliki anak dan bukan sebaliknya mencari-cari kesalahan anak.
7. Pembimbing berusaha menempatkan aspek berpikir dan perasaan
secara seimbang dalam proses bimbingan.

Supriadi (1994) mengemukakan sejumlah bantuan yang dapat
digunakan untuk membimbing perkembangan anak-anak kreatif,
yaitu :
Menciptakan rasa aman kepada anak untuk mengekspresikan
kreativitasnya;
1. Mengakui dan menghargai gagasan-gagasan anak;
2. Menjadi pendorong bagi anak untuk mengomunikasikan dan
mewujudkan gagasan-gagasan nya.
3. Membantu anak memahami dalam berpikir dan bersikap, dan
bukan malah menghukumnya;
4. Memberikan peluang untuk mengomunikasikan gagasangagasannya;
5. Memberikan informasi mengenai peluang-peluang yang tersedia.
Disamping itu, beberapa hal yang harus diperhatikan dalam
merancang desain pembelajaran yang berpotensi mengembangkan
kreatifitas siswa adalah:
 proses pembelajaran dirancang untuk membangun pengalaman
belajar yang baru bagi siswa.
 proses pembelajaran dirancang agar siswa memperoleh
informasi terbaru.

 proses belajar dirancang sehingga siswa dapat mengembangkan
pikiran atau ide-ide baru.
 proses belajar dapat mengasilkan produk belajar yang berbeda
dari produk sebelumnya.
 produk belajar diekspersikan dan dikomunikasi melalui media
yang kreatif.