You are on page 1of 133

DIKTAT KULIAH

MEKANIKA
BAHAN
SI 221 – 3 SKS
Dosen:
Dr. Yosafat Aji Pranata, ST., MT.

Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Sipil dan
Perencanaan Institut
Teknologi Nasional
2012

i

Kata Pengantar

Puji dan syukur penyusun ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan
rahmat -Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan diktat kuliah Mekanika
Bahan (SI 221). Diktat kuliah ini disusun berdasarkan acuan silabus SAP/GBPP
Mekanika Bahan sesuai yang diberlakukan pada Jurusan Teknik Sipil, Fakultas
Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Nasional, Bandung.
Penyusun mengucapkan terima kasih secara tulus kepada bapak Ir. Hazairin, MT.
(Ketua Jurusan ITENAS) dan bapak B. Herbudiman, ST., MT. (Sekretaris Jurusan
ITENAS) yang telah memberikan kesempatan kepada penyusun untuk mengajar
matakuliah Mekanika Bahan di ITENAS. Penyusun juga mengucapkan terima
kasih kepada bapak Abinhot Sihotang, ST., MT. (Dosen Jurusan Teknik Sipil,
FTSP ITENAS) dan ibu Ir. Theresita Herni, MT. (Dosen Prodi Teknik Sipil, FT
UNPAR) atas diskusinya perihal silabus, materi, dan hal-hal lain terkait, sebagai
dosen-dosen kelas paralel mata kuliah Mekanika Bahan di ITENAS Semester
Gasal Tahun Akademik 2012/2013.
Penyusun sangat menyadari keterbatasan isi diktat kuliah ini, oleh karena itu
segala saran dan masukan yang bersifat positif dari pembaca, akan sangat
bermanfaat bagi perkembangan dan perbaikan diktat ini di masa yang akan
datang. Penyusun dengan senang hati menerima saran melalui e-mail
yosafat.ap@gmail.com.
Penyusun,
Bandung, Mei 2012

Dr. Yosafat Aji Pranata, ST., MT.

ii

4 Deformasi Balok Statis Tertentu Metode Integrasi Berganda Metode Balok Konjugasi Referensi iii 51 51 79 93 .2 6.1 Regangan Normal dan Regangan Geser 5.2 Teorema Sumbu Sejajar untuk Momen Inersia Penampang 12 2.2 Tegangan Geser Akibat Momen Torsi 4.4 Tegangan Normal Akibat Gaya Normal Sentris 30 3.8 Referensi 35 Bab 4 Tegangan Geser pada Penampang Akibat Gaya Geser dan Torsi 36 4.1 Pendahuluan 23 3.6 Tegangan Normal Akibat Momen Lentur dan Gaya Normal 32 3.3 Referensi Bab 5 Regangan Akibat Gaya Normal 36 41 44 45 5.2 Konsep Tegangan Normal dan Tegangan Geser 24 3.2 Analisis Reaksi Perletakan dengan Hukum Hooke 5.3 Tegangan Normal Akibat Momen Lentur 27 3.3 Referensi Bab 6 Deformasi Balok Statis Tertentu 45 46 50 51 6.Daftar Isi Halaman Judul Kata Pengantar Daftar Isi Bab 1 Pendahuluan i ii iii 1 1.5 Referensi 22 Bab 3 Tegangan Normal pada Penampang Akibat Gaya Normal 23 dan Momen 3.3 6.1 Mekanika Bahan 1.1 6.2 Aplikasi dalam Rekayasa Sipil 1.3 Istilah-istilah Penting 1.3 Sumbu Utama Penampang 18 2.4 Latihan Soal dan Pembahasan 1.1 Titik Berat dan Statis Momen Penampang 11 2.5 Referensi Bab 2 Karakteristik Berbagai Bentuk Penampang 1 3 8 9 9 11 2.4 Latihan Soal dan Pembahasan 19 2.7 Latihan Soal dan Pembahasan 33 3.5 Tegangan Normal Akibat Gaya Normal Eksentris 31 3.1 Tegangan Geser Akibat Gaya Geser 4.

3 Latihan Soal dan Pembahasan 7.1 Pendahuluan 7.4 Referensi Pustaka 94 94 94 97 103 105 Riwayat Hidup 106 iv .2 Beban Tekuk Kritis 7.Bab 7 Stabilitas Elemen Tekan 7.

1 Mekanika Bahan Material adalah merupakan suatu bahan yang bersifat diskrit. Yosafat Aji Pranata. perilaku reologi diperlukan untuk Mekanika Bahan. walaupun pada statika tidak tergantung pada waktu.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Bab 1 Pendahuluan 1. Gaya. dalam kasus bahan padat. massa. dan mekanika fluida (fluid mechanics). 1 . Secara umum. atau. Mekanika dapat didefinisikan sebagai cabang dari ilmu fisika berkaitan dengan gerak dari suatu benda (body) yang menerima aksi gaya [Hibbeler. Interaksi fisik antara unsur-unsur konstituen menentukan perilaku bahan. 2006]. butiran. dalam hal cairan dan gas. karena tersusun oleh atom dan molekul. Mekanika benda kaku dibagi menjadi dua lingkup. sedangkan dinamik terdapat pengaruh dari fungsi waktu. MT. yaitu panjang. Dari aspek yang berbeda dari perilaku bahan. Massa adalah properti yang dapat digunakan untuk membandingkan aksi dari suatu benda yang satu terhadap benda yang lain. Dr. 2006]. yaitu terdapat 4 (empat) kuantitas dasar mekanika. kristal. waktu.. secara umum dapat berupa tekanan (push) atau tarikan (pull) yang bekerja pada suatu benda. mekanika dibagi menjadi tiga kategori yaitu mekanika benda kaku (rigid body mechanics). Ini dapat didefinisikan bahwa material dapat berdeformasi akibat adanya aksi gaya [Da Silva. Kuantitas Dasar Mekanika: Prinsip dan konsep dasar dari mekanika. ST. dan dinamika atau dinamik. Panjang dibutuhkan untuk menentukan posisi dari suatu titik pada ruang dan mendeskripsikan ukuran dari suatu sistem fisik. mekanika benda yang dapat berdeformasi (deformablebody mechanics). juga serat. Waktu memegang peranan penting dalam lingkup dinamika. asosiasi dari bahan yang berbeda. yaitu statika atau statik. Statik artinya persamaan-persamaan keseimbangan yang terjadi tidak bergantung dari waktu atau velocity. dan gaya.

2006]. dan III tentang Gerak: Mekanika benda kaku diformulasikan dengan basis tiga hukum Newton. Dr. batang. Partikel: Partikel mempunyai massa namun ukurannya dapat diabaikan. yang mengembangkan teori matematik berkaitan dengan teori kolom dan menghitung beban kritis kolom pada tahun 1744. Yosafat Aji Pranata. II. baik pada kondisi sebelum dan sesudah pembebanan. Berat: Material mempunya berat sendiri atau dengan arah sesuai gravitasi. Dimulai dari Leonardo da Vinci (1452-1519) dan Galileo Galilei (15641642) yang melakukan eksperimen-eksperimen untuk mendapatkan kekuatan dari kabel baja. Kemudian dilanjutkan dengan penelitian-penelitian yang dilakukan oleh Leonhard Euler (1707-1783). yang digunakan untuk menyederhanakan suatu aplikasi dari teori yang dipelajari.. ST. dan balok.1 Hukum aksi dan reaksi [Hibbeler. Gambar 1. MT. Benda Kaku (Rigid Body): Benda kaku. 2 . merupakan asumsi bahwa antar partikel akan tetap seperti semula (jaraknya) antar satu dengan yang lain. Gaya Terpusat: Gaya terpusat menunjukkan pengaruh dari pembebanan dengan asumís bahwa bekerja pada suatu titik pada benda. Perkembangan historis dari ilmu mekanika bahan telah diada sejak abad ke-14. Hukum Newton I.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Idealisasi: Selain itu diperlukan suatu idealisasi atau model.

MT.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Gambar 1. Yosafat Aji Pranata.. material baja mempunyai batas kuat leleh dan kuat ultimit. 3 . serta material-material yang lain Dr. 1. Sebagai contoh material beton mempunyai batas kuat tekan.2 Skematik struktur yang dikenai beban eksternal [Ye. 2008].3 Gaya-gaya dalam pada elemen struktur [Ye.2 Aplikasi dalam Rekayasa Sipil Material mempunyai batas kemampuan (kekuatan dan kekakuan) tertentu. 2008]. ST. Gambar 1.

Yosafat Aji Pranata. 4 . 2006]. Gambar 1. Untuk mencegah kegagalan struktur. Kekakuan artinya struktur harus kaku dan memenuhi batasan persyaratan deformasi yang diijinkan. ST. yaitu kekuatan. kekakuan. Stabilitas artinya struktur tidak boleh runtuh akibat tekuk akibat adanya beban tekan. Gambar 1.5 memperlihatkan ilustrasi bahwa setiap material mempunyai batas kekuatan tertentu.5 Kerusakan bangunan akibat gempa [Darmawan. Gambar 1. Apabila suatu struktur bangunan menerima gaya/beban yang mengakibatkan timbulnya tegangantegangan yang besarnya lebih besar daripada kekuatan bahan/materialnya.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS juga demikian. perencanaan suatu struktur bangunan harus didasarkan pada tiga aspek utama. 2006].4 dan Gambar 1. maka bangunan tersebut akan mengalami kerusakan. MT. Dr. Kekuatan artinya struktur harus kuat menahan beban yang (direncanakan) bekerja.. dan stabilitas.4 Kerusakan bangunan akibat tsunami [Darmawan.

Gambar 1. kekakuan. Gambar 1. untuk mendapatkan informasi dan data besarnya Dr. MT. Gambar 1. 5 .4 dan Gambar 1. Yosafat Aji Pranata. dan stabilitasnya. sehingga bangunan dapat digunakan dengan baik selama batas layan usia bangunan tersebut.5.. Bagaimana mengetahui kekuatan suatu material ? Salah satunya dengan pengujian secara eksperimental di laboratorium.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Tugas insinyur dalam hal ini adalah bagaimana merencanakan suatu struktur bangunan agar aman dalam konteks kekuatan. sehingga sangat perlu bagi para calon insinyur untuk mempelajari mekanika bahan. maka diperlukan pemahaman yang baik dan tepat terhadap perilaku bahan. Untuk menghindari kerusakan-kerusakan bangunan seperti contoh pada Gambar 1. ST.6 Pengujian tarik baut.7 Pengujian tekan kayu arah sejajar serat.6 memperlihatkan ilustrasi pengujian tarik baut.

Seperti telah dijelaskan sebelumnya.7 memperlihatkan ilustrasi pengujian tekan kayu arah sejajar serat. dapat diketahui pula informasi modulus elastisitas material tersebut. Penampang yang semula rata akan tetap rata (azas Navier). karena persoalan yang diangkat merupakan masalah engineering. Oleh karena itu terdapat beberapa asumsi dalam analisis material dan penampang. Beban yang dipergunakan merupakan beban statik. Material bersifat elastik sempurna dan linier. Gambar 1.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS kuat tarik baut. Material dimodelkan sebagai elemen persegi atau kubus. karena semua permasalahan engineering adalah kompleks. Persamaan kesetimbangan benda bebas (free body) material hanya berupa persamaan kesetimbangan translasi saja ( ∑ F = 0 ) karena semua gaya yang bekerja pada material bersifat konkuren. MT. Sebagai contoh yaitu: Dr. Gaya. d. penyelesaian secara matematis harus melibatkan model dan asumsi. Selain itu. Perbedaan ini karena sudah merupakan sifat bawaan. f. ST. Material dianggap isotropik.. dan hasil analisis tidak persis sama dengan kondisi faktualnya [Darmawan. e. b. Jika suatu struktur utuh berada dalam keadaan setimbang. untuk mendapatkan informasi dan data besarnya kuat tekan kayu dan rasio poisson. c. bahwa terdapat idealisasi atau asumsi yang dipergunakan. Material dianggap homogen. Sudut. Yosafat Aji Pranata. 6 . Setiap material memiliki perilaku mekanik yang berbeda. yaitu (antara lain) sebagai berikut: a. maka seluruh material pembentuknyapun juga akan berada dalam setimbang. Selain kekuatan. tidak memungkinkan melakukan analisis seperti apa adanya. asumsi selalu mengarahkan pada penyederhanaan persoalan riil. 2006]. Terdapat 3 (tiga) besaran teknis yaitu Panjang. sehingga besaran yang terkait di dalamnya memiliki satuan teknis. terdapat hal penting yaitu Persamaan Kesetimbangan. sehingga insinyur harus memiliki perhatian tentang tanda dari besaran teknis dan tanda dari hasil analisis serta maknanya karena ini terkait dengan properties mekanik material. Nilai ratio poisson dan modulus young konstan. Hal penting lain yaitu berkaitan dengan satuan teknis dan konversinya.

Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS

a. Panjang

: m, dm, cm, mm, feet, inch

b. Gaya

: kg, N (Newton), kN, lb (pound), k (kip)

c. Sudut

: radian

d. Tegangan

: kg/cm , Pa (Pascal), MPa (Mega Pascal),

2

2

2

2

2

psf (lb/ft ), psi (lb/in. ), ksf (kip/ft ), ksi (kip/in. )
e. Regangan normal

: mm/mm, in./in.

f. Regangan geser

: radian

Faktor konversi satuan teknis, antara lain yaitu sebagai berikut:
1 feet = 12 inch
1 inch = 2,54 cm

1 kg
1 Pa

1 lb

1 MPa = g kg/cm2

= 4,44822 N

= g N = 9,81 N
= 1 N/m2

Selain itu, terdapat kesepakatan bersama, berkaitan dengan Perjanjian
Tanda. Gaya dan tegangan adalah besaran vektor, hanya saja antar besaran
tegangan tidak dapat dijumlahkan. Regangan normal dan geser juga merupakan
besaran vektor. Perjanjian tanda harus ditetapkan untuk penyusunan persamaan
keseimbangan dan regangan material. Tanda dari hasil dikembalikan kepada
perjanjian tanda awal untuk dapat diinterpretasikan maknanya.
Adalah tidak lengkap sebagai insinyur jika hanya mengetahui nilai
teknisnya saja tanpa mengetahui arah/orientasi dari besaran teknis yang dimaksud.
Ini perlu ditekankan, karena properti mekanik material dipengaruhi pula oleh arah.
Penggunaan Mekanika Bahan tidak hanya untuk menganalisis kuat atau
tidaknya material/penampang dalam memikul tegangan atau gaya dalam yang
bekerja padanya dan deformasi yang terjadi, namun harus menjadi concern pula
bahwa analisis juga mempertimbangkan faktor kehematan material sebagai hasil
optimasi.
Dengan menghemat material, maka akan dapat menghemat waktu, tenaga,
alat, dan harga, yang pada akhirnya akan menghemat biaya pelaksanaan
konstruksi. Ini penting agar faktor ekonomi juga menjadikan pertimbangan di
dalam perencanaan struktur bangunan [Darmawan, 2006].

Dr. Yosafat Aji Pranata, ST., MT.

7

Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS

1.3 Istilah-istilah Penting
Elastik adalah sifat material, yaitu apabila material tersebut mengalami
kerja berupa gaya luar (beban), sesudah gaya dilepas maka material kembali pada
keadaan semula secara utuh.
Elastik linier adalah suatu material berperilaku secara elastik dan
mempunyai hubungan linier antara tegangan dan regangan. Hubungan linier
antara tegangan (σ) dan regangan (ε) suatu batang aksial yang mengalami
tarik/tekan sederhana dinyatakan dalam Hukum Hooke, dimana E adalah modulus
elastisitas,
E.

(1.1)

Robert Hooke (1635-1703), seorang ilmuwan Inggris, orang pertama yang
menyelidiki secara ilmiah besaran elastis beberapa bahan, dan menguji bahanbahan seperti metal, kayu, batu, dan tulang. Hooke mengukur perpanjangan kawat
yang memikul gaya berat dan mengamati bahwa perpanjangannya ”selalu
mempunyai proporsi yang sama dengan berat material yang membentuk kawat”.
Hooke membangun hubungan linier antara beban dan perpanjangan yang
ditimbulkannya.
Elastik non-linier adalah suatu material berperilaku elastik dan mempunyai
hubungan tidak linier antara tegangan dan regangan.

Gambar 1.8 Diagram tegangan-regangan.
Inelastik adalah lawan kata dari elastik. Maka material dengan sifat
inelastik adalah sifat material yaitu apabila material tersebut mengalami kerja
berupa gaya luar (beban), sesudah gaya dilepas maka material tidak kembali pada
keadaan semula secara utuh.

Dr. Yosafat Aji Pranata, ST., MT.

8

Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS

Material isotropik yaitu material dengan sifat dan besaran elastik (properti)
sama dalam semua arah. Material ortotropik adalah material dengan properti yang
berbeda pada ketiga arah sumbu utamanya, yaitu arah sumbu longitudinal, radial,
dan tangensial.
Homogen adalah serba sama di semua posisi (seragam).
Daktail: Sifat material yaitu apabila material tersebut dibebani, maka akan
terjadi deformasi yang besar sebelum runtuh.
Tidak Daktail (brittle): Sifat material yaitu apabila material tersebut
dibebani, maka struktur akan mendadak runtuh secara tiba-tiba (getas). Sehingga
tidak terjadi deformasi yang besar sebelum runtuh.
Gambar 1.9 memperlihatkan contoh kurva hubungan tegangan vs regangan
material baja hasil pengujian eksperimental. Gambar 1.10 memperlihatkan contoh
kurva hubungan tegangan vs regangan material yang sifatnya getas (brittle).

Gambar 1.9 Diagram tegangan-regangan material baja [Beer dan Johnston, 2005].

Gambar 1.10 Diagram tegangan-regangan material yang bersifat getas atau
brittle [Beer dan Johnston, 2005].

Dr. Yosafat Aji Pranata, ST., MT.

9

5.. Netherlands. Mechanics of Materials. Tutorials. Y. Pengajaran Matakuliah Mekanika Bahan. Singapore. USA. Diketahui suatu material baja dengan nilai modulus elastisitas sebesar 200000 MPa. ST. E.98 kg/cm 2 1.R. 10 .. Dr. Inc. Taylor and Francis Group. Statics and Mechanics of Materials.5 Referensi 1. Structural and Stress Analysis: Theories. Dokumentasi Pribadi Foto-foto Pengujian Material Kayu dan Baut. S. J. 2. Prentice-Hall. 4. 6.. 3. and Examples. Yosafat Aji Pranata. R. Darmawan. MT. 26-27 Juli 2006. Ye. F. Ubahlah menjadi mm dan meter. Johnston. (2008). (2004). Hibbeler.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS 1. Jawab: 100 cm = 1000 mm = 1 meter 2. (2006). Ubahlah menjadi satuan kg dan cm. New York. Da Silva. (2006). (2010). McGraw-Hills. V.P. Beer. Konstruksi Beton. Universitas Udayana.D.4 Latihan Soal dan Pembahasan 1. Springer-Verlag Berlin Heidelberg. Mechanics and Strength of Materials. Diketahui batang panjangnya 100 cm.A. dan Konstruksi Baja. 2 Jawab: 200000 MPa = 200000 N/mm = 2038735. Bali. (2005). Pranata.C. Lokakarya Pengajaran Mekanika Teknik.

. Untuk mendapatkan rumus yang dapat digunakan untuk menentukan lokasi pusat berat. tergantung pada posisi sumbu xy. Sistem koordinat xy ditentukan secara bebas. Qxy.1 Titik Berat dan Statis Momen Penampang Posisi pusat berat suatu area bidang merupakan besaran geometris yang penting.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Bab 2 Karakteristik Berbagai Bentuk Penampang 2. Koordinat pusat berat (atau selanjutnya disebut titik berat) xo dan yo dapat dihitung dengan membagi statis momen dengan luasnya. Statis momen mempunyai satuan panjang pangkat tiga. Statis momen dapat bertanda positif maupun negatif. 3 sebagai contoh mm .dA (2. digunakan (sebagai ilustrasi) Gambar 2. Momen pertama (atau disebut statis momen penampang) dari area tersebut terhadap sumbu x dan y masing-masing didefinisikan sebagai berikut.1) Dimana dA adalah elemen diferensial area yang mempunyai koordinat x dan y. kemudian A adalah luas area. Luas dari bentuk geometris didefinisikan dengan integral sebagai berikut. A dA (2.dA (2.2a) Qyx. dengan pusatnya di titik O.1 yang menunjukkan area bidang berbentuk tak beraturan dengan pusat berat di titik C.2b) Statis momen penampang adalah jumlah dari hasil kali setiap area diferensial dan koordinatnya.

Yosafat Aji Pranata. ST. 11 .. MT.Dr.

dA o yo A dA Q y. untuk suatu bentuk penampang tertentu.3b) dA Gambar 2. Yosafat Aji Pranata.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS x Qy x. dengan jumlah elemen sebanyak i. 12 .A i A A Q y . MT.1 Area.4a) Q y x . titik berat penampang dapat dihitung dengan membagi-bagi gambar geometris menjadi elemen-elemen terhingga yang kecil-kecil dan menggantikan integrasi dengan penjumlahan. Dr. Dengan kata lain..3a) (2.dA x A (2. Secara umum.4b) Ai 2.2 Teorema Sumbu Sejajar untuk Momen Inersia Penampang Momen inersia dari suatu luas terhadap suatu sumbu referensi yang terletak pada bidang luas tersebut adalah sebagai jumlah hasil kali elemen luas dengan kuadrat jarak elemen luas tersebut ke sumbu referensi. x i o yo (2.A x A i i i (2. Maka persamaan titik berat penampangnya adalah sebagai berikut. ST.

yang mana besaranya selalu bernilai positif.y). Momen inersia suatu luas terhadap sumbu x dan sumbu y adalah : I y 2 .Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS momen inersia disebut juga momen kedua dari suatu area.5b) y0 Gambar 2. 13 . Secara umum.y).5a) x0 I x2 . momen inersia elemen dA untuk suatu penampang seperti terlihat pada gambar diatas adalah menggunakan persamaan sebagai berikut. ST.2 Penampang dengan area luas A dan titik berat (x.3 Detail penampang dengan area luas A dan titik berat (x.. Dr.dA (2. Gambar 2.dA (2. Yosafat Aji Pranata. MT.

d) dapat kita peroleh sebagai berikut.dA I y xo 2 x1 (2.y1.8b) 1 Untuk penampang tertentu.dA (2. persamaan diatas dapat disederhanakan dengan menggunakan pendekatan sebagai berikut : Gambar 2.y1 y1 2 .b. 3d 2 d 2 .7a) (2. d 8 3 .dA y1 (2. d 2 1 3 I x0y . maka untuk menghitung I y0 diperoleh sebagai berikut.4 Penampang persegi.6) dan (4.6b) .y 2 (2.x1 x12 .xo . yo .8a) A. 2 I y xo Iy I y0 2.6a) (2. 2 I x yo 2.dy .b.7d) 1 dengan cara yang sama.dA 2. misal sebagai contoh penampang persegi.x 2 (2. Dari persamaan (4.b 1 12 .Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS I x yo y1 2 .yo .d 3 (2.y 2 (2.10.10a) .7b) .b 8 1 3 .dA yang mana persamaan diatas dapat disederhanakan menjadi.7c) 1 Ix I x0 A.dA o Ix I x0 0 A.dA 2 Ix y 2 .

Yosafat Aji Pranata. ST.Dr. MT.. 14 .

dan masih mempunyai momen inersia yang sama dengan area semula.1 Beberapa contoh rumus praktis momen inersia penampang. 3b 3 2 b .b3 (2.8b. Radius girasi dapat dipandang sebagai jarak (dari sumbu acuan) di mana keseluruhan area dapat dipusatkan. Karena momen inersia mempunyai satuan panjang pangkat empat dan luas adalah satuan panjang pangkat dua. Tabel 2.d 1 12 .dx .11b) A dimana rx dan ry menunjukkan radius girasi terhadap sumbu-x dan sumbu-y.d 8 1.d. Radius Girasi Radius atau jari-jari girasi sering dijumpai di dalam mekanika. a. Momen inersia suatu area terhadap sembarang sumbu di dalam bidangnya sama dengan momen inersia terhadap sumbu berat sejajar ditambah hasil kali luas tersebut dan kuadrat jarak antara kedua sumbu. b 8 3 .Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS b 2 1 I y0x . rx ry Ix A Iy (2.d.11a) (2.7d dan Persamaan 2.10b) 3 2 Teorema sumbu sejajar untuk momen inersia dinyatakan dalam Persamaan 2. maka radius girasi mempunyai satuan panjang. . Radius girasi suatu area bidang didefinisikan sebagai akar dari momen inersia dibagi luasnya.

ST. 15 . MT.Dr.. Yosafat Aji Pranata.

Momen Inersia Polar Momen inersia terhadap sumbu yang tegak lurus bidang area dan berpotongan dengan bidang tersebut di titik pusat O disebut momen inersia polar atau diberi notasi Ip.dA (2.13c memperlihatkan bahwa momen inersia polar merupakan jumlah dari momen inersia terhadap setiap dua sumbu yang saling tegak lurus x dan y yang melalui titik yang sama dan terletak di bidang gambar.15d) c.x12 y12 (2.y1 Ip I p0 A.13a) y2 . I p2 . momen inersia polar terhadap berbagai titik di dalam bidang suatu area dihubungkan oleh teorema sumbu sejajar momen inersia polar.dAx2 (2.. 2 x2 I 2 y2 .Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS b. MT. Momen inersia polar terhadap sumbu yang melalui O yang tegak lurus bidang gambar dapat dihitung dengan integral sebagai berikut. Hal ini bergantung pada posisi sumbu xy terhadap area tersebut. II I px 0 (2.dA (2.dA y2 . Yosafat Aji Pranata. 16 . x12 2 I y 0 A.16) Produk inersia dapat bertanda positif. Integral ini mempunyai bentuk sama dengan momen inersia Ix dan Iy. Produk Inersia Produk inersia suatu area bidang didefinisikan terhadap satu set sumbu yang saling tegak lurus yang terletak di bidang tersebut.15b) (2.13c) Iy Persamaan 2.dA (2.13b) p I p Ix (2. ST. negatif.y1 Ip Ix 0 I y0 A.x12 2 A. Dr.15c) (2. Ixyxy.dA x 2 . (2.12) Dimana ρ adalah jarak dari titik O ke elemen luas diferensial dA. maupun nol. Atau dalam notasi umum ditulis sebagai berikut.14) y 0 Dalam bentuk umum.15a) Ip Ix Iy Ip Ix 0 A.

xi . MT.sin (2. momen inersia dan produk inersia bervariasi apabila sumbu-sumbunya diputar terhadap pusat sumbu tersebut. x1 x.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Produk inersia untuk suatu area terhadap sistem sumbu yang sejajar dihubungkan dengan teorema sumbu sejajar yang analog dengan teorema untuk momen inersia kartesian dan teorema untuk momen inersia polar. tetapi diputar melalui sudut θ berlawanan jarum jam terhadap sumbu-sumbu tersebut.cos 2 Dengan cara yang sama dapat dihitung pula.dA (2.18b) Ixyxy. I y1 x12 . Yosafat Aji Pranata.dA (2.Ixy ..18c) dimana x dan y adalah koordinat elemen luas diferensial dA.yi Produk inersia untuk suatu area terhadap sepasang sumbu di dalam bidang sama dengan produk inersia terhadap sumbu yang sejajar sumbu berat ditambah hasil kali luas dan koordinat pusat berat terhadap sepasang sumbu tersebut. Ixy 2 .20c) (2. ST. (2. Untuk suatu pusat sumbu yang diketahui.sin 2 I Ix I y .18a) I yx 2 .dA (2. Rotasi Sumbu Momen inersia suatu area bidang bergantung pada posisi pusat sumbu dan orientasi sumbu referensi.cos 2 Ixy . Selanjutnya sumbusumbu x1y1 mempunyai pusat yang sama dengan sumbu-sumbu xy.cos y.20b) (2.21a) 17 .17) Ixy I x 0 y 0 A. dan Ix1y1.20a) x1 I I x . Iy1 .cos x.19a) y1 y. Maka momen inersia dan produk inersia diberi nama Ix1 . I y12 .sin 2 2 x1 x1 Ix I y 2. d.sin .sin (2. (2.dA Dr.cos 2 I y .19b) Maka.dA (2.

sin 2 Ixy . Jumlah ini adalah momen inersia polar untuk area tersebut terhadap pusatnya. Produk inersia akan berharga nol untuk sumbu utama. Yosafat Aji Pranata. ST.26b) 18 .23) Iy 2.3 Sumbu Utama Penampang Momen inersia mempunyai harga maksimum dan minimum. Ix1 Iy1 Ix (2. Ix I y .cos 2 (2. Untuk mencari sudut θ yang menghasilkan momen inersia Ix1 yang maksimum atau minimum.Ixy .22) x1 y 1 2 Jumlah momen inersia terhadap sepasang sumbu akan tetap konstan apabila sumbu-sumbunya diputar terhadap pusatnya.26a) y 2 I 2 Ix2y Dr.. Ix I I1 y x 2 I y 2 Ix2y 2 Ix I I2 I y 2 I x (2. (2.25) 2.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS I x I y I x I y . I I x I y .sin 2 2. MT.cos 2 0 tan 2 p (2.21b) y1 2 2 Dan dapat dihitung pula. Selanjutnya momen inersia utama dapat diperoleh dengan persamaan sebagai berikut. dan sumbusumbunya disebut sumbu utama.cos 2 Ixy . Dalam kasus tertentu. sering disebut dalam istilah momen inersia pada sumbu kuat dan pada sumbu lemah.24) (2.Ixy Ix I y dimana θp menunjukkan sudut yang memberikan sumbu utama. Kedua nilai ini dikenal dengan momen inersia utama. diambil turunan terhadap θ dari persamaan sebagai berikut.sin 2 I (2.

Penyelesaian : Penampang dibagi menjadi 2 bagian. penampang pertama adalah persegi sebelah kiri (h1 = 300 mm dan b1 = 100 mm).4 Latihan Soal dan Pembahasan a. Penampang 1: A1 100.. Maka dapat dihitung sebagai berikut. MT.x2 30000.200 110 mm o 30000 20000 A A2 1 Dr.x1 A2 . 19 .Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS 2. Gambar 2.5.100 20000 mm² x2 200 mm y2 50 mm Kemudian menghitung titik berat penampang: x A1 . Hitunglah titik berat dan momen inersia penampangnya (satuan mm).50 20000. lalu penampang kedua adalah persegi sebelah kanan (b2 = 200 mm dan h2 = 100 mm). Latihan 1 Diketahui suatu penampang dengan bentuk seperti terlihat pada Gambar 2.5 Bentuk penampang latihan soal 1.300 30000 mm² x1 50 mm y1 150 mm Penampang 2: A2 200. ST. Yosafat Aji Pranata.

ST.b1 .b13 A1 .6 s. y 1 2 yo 50.6 Penampang berbentuk C.b2 .50110 A1 . x1 xo 2 1 .h2 ..616667 x10 mm 4 b.h1 .616667 x10 mm Iy 1 .9 (keterangan: satuan mm).50. Gambar 2.b23 A2 .50 50. MT.y1 A2 . 20 .150.h2 12 8 3. y 2 yo 2 1 3 12 .50 200.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS yo 30000.y2 mm 30000 20000 A1 A 2 Kemudian menghitung momen inersia penampang: Ix 1 3 12 .50.150.50. 50 110 2 4 12 Iy 1 3 12 .150. 50 110 2 1 . 150 110 8 2 A2 . Latihan 2 Hitung titik berat dan momen inersia penampang luasan-luasan dengan bentukbentuk seperti terlihat pada Gambar 2. 200 110 2 Ix A1 . Dr.150 Ix 3.50.h1 Ix 1 3 12 .150 20000. x2 xo 2 12 12 3 1 . Gambar 2.2003 200.200.d. Yosafat Aji Pranata.

8 Penampang berbentuk Canal.. ST. Gambar 2.7 Penampang berbentuk Z. MT. Dr.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Gambar 2. 21 . Yosafat Aji Pranata.

C. MT. 2. Prentice-Hall. Yosafat Aji Pranata.M. McGraw-Hill Companies. J. Inc. C. M. Thomson Learning. 4..M. (2001).J. The McGraw-Hill Civil Engineering PE Exam Depth Guide. Taylor and Francis Group. J. Lwin. New York. 2. Singapore. Lee... 3.. ST. Dr. USA. (2004). (2008). Gere. Ye.9 Penampang berbentuk I tidak simetris. (2001). Tutorials.5 Referensi 1. Inc. R. Hibbeler. Brooks/Cole. Mechanics of Materials.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Gambar 2. Structural and Stress Analysis: Theories. 22 .S.. Lee. Statics and Mechanics of Materials. and Examples. J.

Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Bab 3 Tegangan Normal pada Penampang Akibat Gaya Normal dan Momen 3. .1 Pendahuluan Sebelum mempelajari lebih lanjut mengenai tegangan. Tabel 3. yang timbul akibat adanya beban/gaya luar yang bekerja.1 Tipe-tipe dasar deformasi [Ye. terlebih dahulu direview dasar-dasar analisis. 2008]. yaitu investigasi gaya-gaya dalam yang terjadi pada elemen struktur.

MT..Dr. Yosafat Aji Pranata. 23 . ST.

.2 Konsep Tegangan Normal dan Tegangan Geser Konsep paling dasar dalam mekanika bahan adalah tegangan dan regangan. P A (3. 2008]. Perpanjangan atau perpendekan dinyatakan dalam notasi δ dan panjang mula-mula batang dinyatakan dalam notasi L. Notasi tegangan adalah sigma (σ). sehingga mengakibatkan terjadinya tarik atau tekan pada batang. Gambar 3.2) L Gambar 3. 2008]. 24 . Dalam hal studi kasus diatas. besarnya P adalah gaya tarik atau tekan yang bekerja dan A adalah luas penampang batang. MT. Dr. Notasi regangan adalah epsilon (ε). Untuk mempermudah dalam hal perjanjian tanda.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS 3. Gaya yang dimaksud disini adalah gaya aksial yang mempunyai arah sama dengan sumbu elemen. ST. tegangan normal yang timbul akibat adanya gaya tarik dinamakan tegangan normal (aksial) tarik dengan tanda positif. Regangan normal adalah besarnya perpanjangan/perpendekan dibagi dengan panjang mulamula.1 Batang yang mengalami tarik dan tekan [Ye.1) (3.2 Skematik ilustrasi gaya-gaya dalam dan tegangan tarik [Ye. Tegangan normal adalah gaya persatuan luas penampang. dan tegangan normal yang timbul akibat adanya gaya tekan dinamakan tegangan normal (aksial) tekan dengan tanda negatif. Yosafat Aji Pranata.

(3. dapat dilihat Gambar 3. Gambar 3. Kasus ini merupakan kasus tegangan geser atau disebut geser langsung..2. Yosafat Aji Pranata. atau lihat Gambar 3.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Tegangan geser adalah bekerja pada arah tangensial terhadap permukaan bahan.3) A Dalam contoh kasus sesuai Gambar 3. yaitu dengan membagi total gaya geser V dengan luas A atau luas penampang melintang dimana gaya tersebut bekerja. MT.4) 25 . Regangan geser (γ) adalah suatu ukuran yang berubah akibat adanya tegangan geser pada sudut antara dua serat dalam suatu bidang (sebagai ilustrasi dapat dilihat pada Gambar 3. Sebagai ilustrasi tentang aksi tegangan geser.2 sebagai berikut. Tipe tegangan ini berbeda dengan tegangan normal (tarik dan tekan). besarnya V sebanding dengan gaya P dan besarnya A adalah sebanding dengan luas penampang melintang baut. ST. Tegangan geser terjadi ketika beban yang bekerja mengakibatkan satu sisi dari suatu benda bergerak (slip). 2008]. Distribusi eksak tegangan geser tidak mudah didefinisikan. tetapi dapat dihitung dari tegangan geser rata-rata. Baut dalam hal ini menahan geser sepanjang luas penampangnya.3).2 Sambungan baut [Ye. γ = α1 + α2 Dr.2 sebagai ilustrasinya. V (3.

ε τ = G. Dr. σ = E.(1 v) (3.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Gambar 3. Rasio poisson adalah perbandingan antara elongasi aksial dan kontraksi lateral dari suatu batang prismatik dalam kondisi mengalami tarik. Hubungan antara tegangan dan regangan berdasarkan hokum Hooke. Hubungan antara E dan G untuk material isotropik dinyatakan dalam persamaan sebagai berikut. G E 2. v lateral strain (3.5) (3.4 Batang prismatis yang dibebani gaya aksial tarik. 26 . Yosafat Aji Pranata.6) dimana E adalah modulus elastisitas dan G adalah modulus geser.γ (3. Sebagai ilustrasi dapat dilihat Gambar 3.7) dimana v adalah rasio poisson. ST..4. MT. adalah sebagai berikut.5. untuk model 3D.3 Skematik tegangan geser.8) axial strain Gambar 3. hukum Hooke mengenai hubungan tegangan dan regangan dapat dilihat pada ilustrasi Gambar 3. Secara umum.

. ST. Yosafat Aji Pranata. Beban-beban yang bekerja juga diasumsikan bekerja pada bidang xy.3 Tegangan Normal Akibat Momen Lentur Beban yang bekerja pada balok menimbulkan aksi (atau resultan tegangan) dalam bentuk gaya geser dan momen lentur. sehingga lendutan atau deformasi lentur terjadi pada bidang xy pula. Hal ini penting untuk analisis dan desain balok yang mengalami kondisi berbagai pembebanan. atau disebut bidang lentur. MT. Kelengkungan (kurvatur) adalah ukuran seberapa tajam suatu Dr. Oleh karena itu perlu dipelajari tegangan dan regangan berkaitan dengan gaya geser dan momen lentur. Balok yang ditinjau diasumsikan simetris terhadap bidang xy. 27 . sumbu-y. yang mana sumbu y adalah sumbu simetri penampang. 3. Tegangan dan regangan balok sebanding dengan kelengkungan (kurvatur) dari kurva lendutan. dan sumbu-z.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Gambar 3.5 Tegangan normal arah sumbu-x. Pembahasan lengkap mengenai tegangan dan regangan ini dapat dipelajari lebih lanjut pada buku-buku dan literatur-literatur yang berkaitan dengan teori elastisitas.

Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS

balok melentur [Gere, 2001]. Tegangan bekerja di seluruh bagian penampang dari
suatu balok dan intensitasnya bervariasi bergantung pada bentuk diagram
tegangan-regangan dan dimensi penampang. Karena arah x adalah longitudinal
maka digunakan simbol σx untuk menunjukkan tegangan tersebut.

Gambar 3.6 Skematik ilustrasi tegangan normal dan tegangan geser
yang terjadi pada elemen balok.

Gambar 3.7 Terminologi deformasi balok [Ye, 2008].
Tegangan normal yang bekerja di penampang bervariasi linier terhadap
jarak y dari permukaan netral. Distribusi tegangan dimana momen lentur M adalah

Dr. Yosafat Aji Pranata, ST., MT.

28

Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS

positif dan balok melentur dengan kelengkungan positif. Apabila kelengkungan
positif maka tegangan adalah negatif (tekan) pada bagian cekung atau bagian
tertekan, dan positif (tarik) pada bagian cembung atau bagian tertarik (lihat
Gambar 3.8).

Gambar 3.8 Balok yang mengalami pelenturan akibat momen (lentur murni)
dengan kelengkungan positif [Rees, 2000].
Sumbu netral selalu melewati pusat berat penampang apabila bahannya
mengikuti hukum Hooke. Regangan longitudinal pada serat CD (Gambar 3.8)
adalah sebagai berikut,

R

y

(3.9)

Dimana R adalah radius dari kurvatur serat AB. Hubungan tegangan dan regangan
longitudinal adalah sebagai berikut,
E

(3.10a)

E

(3.10b)

R

y

Apabila ditinjau tegangan lentur σ bekerja pada elemen area sebesar δA, jarak y
dari garis netral. Maka persamaan keseimbangan momen adalah sebagai berikut,
Md A y

(3.11a)

A

M

E y2dA
R

(3.11b)

A

Dr. Yosafat Aji Pranata, ST., MT.

29

Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS

M

E .I

(3.11c)

R
Maka tegangan lentur longitudinal pada sembarang penampang pada balok dapat
dihitung sebagai berikut,
M .y

(3.12a)

I

M

(3.12b)

S

S

I
y

(3.12c)

Dimana σ adalah tegangan normal (atau disebut tegangan lentur) dan

S adalah

modulus penampang elastik.
3.4 Tegangan Normal Akibat Gaya Normal Sentris
Untuk mempelajari pengaruh gaya normal sentris (P) yang menimbulkan
tegangan normal, maka lihat Gambar 3.9, yaitu sebuah balok sederhana dengan
tumpuan sendi dan rol pada masing-masing ujungnya, dan pada balok tersebut
bekerja beban berupa gaya P dengan arah aksial sejajar balok.
y
A

B

P

Gambar 3.9 Balok dengan beban aksial P.
Balok mempunyai dimensi dan ukuran penampang b x h. Maka luas penampang
balok adalah sebesar A = b.h. Maka tegangan normal akibat gaya normal sentris
yang terjadi adalah sebagai berikut,
P
A

(3.13)

Maka pada balok tersebut hanya terjadi tegangan normal akibat gaya dalam
(aksial) saja, dikarenakan gaya yang bekerja tepat pada sumbu netral balok,
sehingga diagram gaya geser (Q) dan diagram momen lenturnya (M) nol, dan
hanya terdapat diagram gaya normal (N) saja.

Dr. Yosafat Aji Pranata, ST., MT.

30

yaitu sebuah balok sederhana dengan tumpuan sendi dan rol pada masing-masing ujungnya.5. MB 0 MA VA.L P. Balok mempunyai dimensi dan ukuran penampang b x h. Sebagai contoh.e B L L Apabila ditinjau titik C (dari sisi sebelah kiri atau bagian (↓) AC) yang berlokasi ditengah bentang balok.L P.5 Tegangan Normal Akibat Gaya Normal Eksentris Untuk mempelajari pengaruh gaya normal eksentris (P) yang menimbulkan tegangan normal.5. Beban diaplikasikan sejarak e atau sebesar 0. 2 0. maka momen MC dapat dihitung.h diatas (sumbu positif) dari garis netral.10. Yosafat Aji Pranata.y P C Ix A (3.e 0 (↑) V P.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS 3. dan pada balok tersebut bekerja beban berupa gaya P dengan arah aksial sejajar balok.e 0 V A P. 31 .e L L . M .. ST. maka lihat Gambar 3. Luas penampang balok adalah sebesar A = b.e Maka tegangan normal di titik C adalah sebagai berikut. Sedangkan distribusi tegangan normal akibat gaya normal adalah seragam pada seluruh penampang.e 0 VB .P. MC P . y A P C B Gambar 3. Reaksi-reaksi tumpuan di titik A dan titik B adalah sebagai berikut.10 Balok dengan beban aksial P eksentris.h. Dr. Distribusi tegangan normal dari serat terluar bagian atas (tekan) sampai dengan serat terluar bagian bawah (tarik) bergantung pada besarnya (atau tinggi) y. MT.14) Maka pada balok tersebut terjadi tegangan normal akibat gaya-gaya dalam (aksial) dan momen lentur.

.y P I A x (3. 0 V . L 0 B 2 32 .y P MC . ST. y P I A MC . Pada serat berimpit garis netral. Maka reaksi-reaksi tumpuan di titik A dan titik B adalah sebagai berikut.0 P P C (3.15c) x 3.y P Ix A Ix A (3. maka lihat Gambar 3.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS a.15a) b. y = -h/2. y = +h/2. Pada serat tepi terluar bagian atas.L P.L P. L 0 A 2 Dr.15b) Ix A A c. Balok mempunyai dimensi dan ukuran penampang b x h.11 Balok dengan beban terpusat P ditengah bentang dan di (salah satu) ujung.6 Tegangan Normal Akibat Momen Lentur dan Gaya Normal Untuk mempelajari pengaruh momen lentur dan gaya normal yang menimbulkan tegangan normal. y = 0.11. Yosafat Aji Pranata. Kasus ini mirip dengan yang telah dibahas pada Subbab 3. MC . MT. dan pada balok tersebut bekerja beban terpusat P berlokasi di tengah bentang balok dan di salah satu ujungnya.h.5. Maka luas penampang balok adalah sebesar A = b. y A P C B P Gambar 3. MC . hanya saja gaya P (aksial) yang bekerja adalah sentris. Pada serat tepi terluar bagian bawah. M . MB 0 MA V . yaitu sebuah balok sederhana dengan tumpuan sendi dan rol pada masing-masing ujungnya.

17a) Ix A b. 2 PL 4 Maka tegangan normal di titik C adalah sebagai berikut. M . diagram gaya geser.y P C (3. y = 0. dan titik B.17b) c. Distribusi tegangan normal dari serat terluar bagian atas (tekan) sampai dengan serat terluar bagian bawah (tarik) bergantung pada besarnya (atau tinggi) y. Diketahui balok dengan beban-beban seperti terlihat pada Gambar 3. diagram gaya normal.0 P P A A C Ix (3. Pada serat tepi terluar bagian atas. Pada serat berimpit garis netral. y = -h/2. M . Sebagai contoh.17c) x 3. Sedangkan distribusi tegangan normal akibat gaya normal adalah seragam pada seluruh penampang. maka momen MC dapat dihitung.y P I A I A x (3. titik C. M . .7 Latihan Soal dan Pembahasan a.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS V P A (↑) V B 2 P (↑) 2 Apabila ditinjau titik C (dari sisi sebelah kiri atau bagian AC) yang berlokasi ditengah bentang balok. Hitunglah reaksi-reaksi tumpuan. titik D.12. Pada serat tepi terluar bagian bawah. a. MC P L 2 . MC .16) Ix A Maka pada balok tersebut terjadi tegangan normal akibat gaya-gaya dalam (aksial) dan momen lentur.Latihan 1. kemudian hitunglah tegangan-tegangan normal yang terjadi di titik A.y P C (3. y = +h/2. y P MC . dan diagram momen lentur.

ST. MT. Yosafat Aji Pranata.Dr.. 33 .

dan titik B. Diketahui balok mempunyai bentuk penampang persegi panjang 300x500 mm. Titik E berada ditengah bentang AC. Diketahui balok dengan beban-beban seperti terlihat pada Gambar 3.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS y A P C D L B P 1.. diagram gaya geser. titik C. diagram gaya geser. dan diagram momen lentur.6L. dan beban P = 2 ton. Hitunglah reaksi-reaksi tumpuan. Titik D berada ditengah bentang CB.13 Balok latihan soal 2. Hitunglah reaksi-reaksi tumpuan. b. dan beban P = 2 ton. Diketahui balok dengan beban-beban seperti terlihat pada Gambar 3. diagram gaya normal. Diketahui balok mempunyai bentuk penampang persegi panjang 300x500 mm. ST. panjang L adalah 2 meter. y A P E P C L D B P 1.L Gambar 3. Jarak titik D dari titik B adalah sebelah kiri sebesar 0. 34 . titik E. MT.12 Balok latihan soal 1. Latihan 2.2. dan diagram Dr. Yosafat Aji Pranata.L Gambar 3. titik D. kemudian hitunglah tegangan-tegangan normal yang terjadi di titik A. c. diagram gaya normal. panjang L adalah 2 meter.13.2.14. Latihan 3.

McGraw-Hill Companies. Hibbeler. (2001).S. Statics and Mechanics of Materials.8 Referensi 1. Prentice-Hall. q y A C E B P D L 1. Dr. 35 .L Gambar 3. Keterangan tambahan: titik A. B. Titik E berada ditengah bentang AC. 2.M. (2008). Imperial College Press. R. Inc.2. Lee. kemudian hitunglah tegangan-tegangan normal yang terjadi di titik E dan titik D. Taylor and Francis Group. M. 5. J. C.. (2004).. Tutorials. Yosafat Aji Pranata. 3. Brooks/Cole.W.. and Examples. ST.J.. beban P = 5 ton.C. (2001). Inc. Gere. dan E berada pada garis atau sumbu netral penampang. Lwin. Ye. Mechanics of Materials. 3. 2000. MT. USA. D.A. 4. panjang L adalah 4 meter. C. J. The McGraw-Hill Civil Engineering PE Exam Depth Guide. Structural and Stress Analysis: Theories. Lee. Mechanics of Solids and Structures. Titik D berada ditengah bentang CB. Singapore. Rees.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS momen lentur. Diketahui balok mempunyai bentuk penampang persegi panjang 300x600 mm. beban q = 500 kg/meter.14 Balok latihan soal 3. Thomson Learning. D.M. New York. J.

Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Bab 4 Tegangan Geser pada Penampang Akibat Gaya Geser dan Torsi 4. .1 Skematik tegangan geser pada penampang balok [Ye. Gambar 4. tergantung jaraknya terhadap garis netral. yang mana menimbulkan adanya gaya-gaya dalam.1 memperlihatkan gaya geser pada penampang yang mengakibatkan adanya distribusi gaya geser. Distribusi tegangan geser pada potongan penampang berupa kurva parabola. maka disamping timbul tegangan normal. Gambar 4. Tegangan geser (τ) dapat dihitung dengan persamaan berikut ini.1 Tegangan Geser Akibat Gaya Geser Untuk elemen struktur balok yang dikenai beban/gaya luar. juga terdapat tegangan geser. Tegangan geser pada masing-masing serat tepi terluar bernilai nol (tidak ada tegangan geser). 2008].

ST. MT.Dr. Yosafat Aji Pranata. 36 ..

dimana balok sederhana dengan tumpuan sendi dan rol pada masing-masing ujungnya. MT.2) Ix .b dimana V adalah gaya geser pada tinjauan titik tertentu pada bentang balok.b Maka pada balok tersebut. V . Yosafat Aji Pranata.2). selain terjadi tegangan normal akibat gaya-gaya dalam (aksial) dan momen lentur. Beban diaplikasikan sejarak e atau sebesar 0. Balok mempunyai dimensi dan ukuran penampang b x h. Digunakan contoh studi kasus seperti telah dibahas pada Subbab 3. 37 ..Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS V .2 Balok dengan beban aksial P eksentris. Dr.h diatas (sumbu positif) dari garis netral.h.Q C (4. Latihan 1.e VA (↑) L P. y A P C B Gambar 4.e A C L Maka tegangan geser di titik C adalah sebagai berikut. ST.5 (lihat Gambar 4. Reaksi-reaksi tumpuan di titik A dan titik B adalah sebagai berikut. maka gaya geser VC dapat dihitung. pada balok tersebut bekerja beban berupa gaya P dengan arah aksial sejajar balok. dan b adalah lebar balok. Luas penampang balok adalah sebesar A = b. P.5. a. V V P. I adalah momen inersia.1) I.Q (4. juga terdapat tegangan geser akibat gaya geser. Q adalah statis momen.e V (↓) B L Apabila ditinjau titik C (dari sisi sebelah kiri atau bagian AC) yang berlokasi ditengah bentang balok.

V .Q C V . Pada serat dimana y = +h/4.b b.3c) I x .Q h4 8 VC .3. Pada serat tepi terluar bagian atas. dan pada balok tersebut bekerja beban terpusat P berlokasi di tengah bentang balok dan di salah satu ujungnya.b I x .b Ix .b I x . Pada serat berimpit garis netral. namun pada pembahasan ini yang dihitung adalah tegangan geser pada potongan penampang balok di titik D yang berlokasi ditengah bagian bentang AC.b e. V .3a) C Ix . a. h C (4. h C (4. b. yaitu sebuah balok sederhana dengan tumpuan sendi dan rol pada masing-masing ujungnya. b. Lihat Gambar 4. y A P D C B P . y = 0.0 0 C (4.Q h2 4 VC . b. V .b b. Kasus ini mirip dengan yang telah dibahas pada Subbab 3.Q V .0 C Ix . Pada serat tepi terluar bagian bawah. Latihan 2. .Q h4 8 VC . . Pada serat dimana y = -h/4.3d) I x .b c.b d. .b 0 (4.3b) I x . h C (4.b I x .6.3e) Ix .Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Distribusi tegangan geser dari serat terluar bagian atas (tekan) sampai dengan serat terluar bagian bawah (tarik) bergantung pada besarnya statis momennya. V . V .

38 .3 Balok latihan 2..Gambar 4. MT. Dr. ST. Yosafat Aji Pranata.

selain terjadi tegangan normal akibat gaya-gaya dalam (aksial) dan momen lentur. b. V . P V D 2 Maka tegangan normal di titik D adalah sebagai berikut.0 0 D (4.b I x .Q (4.b Maka pada balok tersebut.Q V . b.Q h4 8 VD .h D I x . Distribusi tegangan geser dari serat terluar bagian atas (tekan) sampai dengan serat terluar bagian bawah (tarik) bergantung pada besarnya statis momennya.b c. VA P 2 V P (↑) (↑) B 2 Apabila ditinjau titik D (dari sisi sebelah kiri atau bagian AC) yang berlokasi ditengah bentang balok. Pada serat berimpit garis netral.b b. juga terdapat tegangan geser akibat gaya geser.b d.b Ix .h.5e) .5d) (4.4) C Ix . .Q h4 8 VD . b.b e.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Balok mempunyai dimensi dan ukuran penampang b x h. Maka luas penampang balok adalah sebesar A = b.Q h2 4 VD . Reaksi-reaksi tumpuan di titik A dan titik B.b I x .b Ix . V . Pada serat tepi terluar bagian bawah. Pada serat tepi terluar bagian atas. Pada serat dimana y = -h/2.5a) D Ix . h D I x . V . y = 0. a.5c) (4. V . V .b I x .h D I x .5b) (4. .Q V . maka gaya geser VD dapat dihitung.b (4.0 0 D D Ix . . V . Pada serat dimana y = +h/2.

. MT.Dr. 39 . Yosafat Aji Pranata. ST.

Diketahui balok mempunyai bentuk penampang persegi panjang 300x500 mm. titik C.L Gambar 4. 40 . Titik D berada ditengah bentang CB.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS c. Diketahui balok mempunyai bentuk penampang persegi panjang 300x500 mm. titik D. titik E. ST. Hitunglah tegangan-tegangan geser yang terjadi di titik A. y A P E P C L D B P 1.Latihan 3. dan beban P = 2 ton.L Gambar 4. Yosafat Aji Pranata. d.. dan beban P = 2 ton.5 Balok latihan soal 4. Latihan 4.2. titik D. MT. dan titik B. Titik E berada ditengah bentang AC. panjang L adalah 2 meter. panjang L adalah 2 meter.6L. Diketahui balok dengan beban-beban seperti terlihat pada Gambar 4. Jarak titik D dari titik B adalah sebelah kiri sebesar 0.2. y A P C D L B P 1. Hitunglah tegangan-tegangan geser yang terjadi di titik A.5. titik C.4 Balok latihan soal 3. Diketahui balok dengan beban-beban seperti terlihat pada Gambar 4. dan titik B. Dr.4.

sebagai ilustrasi dapat dilihat pada Gambar 4. beban q = 500 kg/meter.2. q y A C E B P D L 1. Dr. Gambar 4.L Gambar 4..2 Tegangan Geser Akibat Momen Torsi Torsi adalah salah satu tipe deformasi juga yang terjadi pada struktur akibat adanya aksi puntir dari gaya yang bekerja. apabila batang mempunyai bentuk penampang lingkaran dan bentangnya panjang. dan E berada pada garis atau sumbu netral penampang. Diketahui balok mempunyai bentuk penampang persegi panjang 300x600 mm. Yosafat Aji Pranata.7 Batang yang terkena puntir. ST. C. panjang L adalah 4 meter. MT. Sebuah batang kantilever dibebani torsi pada ujung bebas. Titik D berada ditengah bentang CB.6 Balok latihan soal 5. Titik E berada ditengah bentang AC. Hitunglah tegangan-tegangan geser yang terjadi di titik E dan titik D.7. beban P = 5 ton. 4. Latihan 5. Diketahui balok dengan beban-beban seperti terlihat pada Gambar 4.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS e. D.6. Keterangan tambahan: titik A. B. maka torsi dan deformasi yang terjadi seperti terlihat pada gambar. 41 .

Dengan hokum Hooke.8) A Gambar 4. Pada penampang lingkaran. dan J adalah momen inersia polar. ST.7) J dimana T adalah torsi yang bekerja pada batang. Tegangan-tegangan yang terjadi pada potongan penampang akibat adanya torsi adalah tegangan geser. Dr.6) dimana G adalah modulus geser material..9 Distribusi tegangan geser. J r2 .r (4. tegangan geser bervariasi linier dari sumbu utama atau garis netral pusat berat (lihat Gambar 4.8 Perjanjian tanda. r adalah jari-jari atau jarak radial dari pusat lingkaran penampang.dA (4. MT.γ (4. Yosafat Aji Pranata. tegangan geser proporsional dengan regangan geser. τ = G.9). regangan geser bervariasi linier dari nol pada sumbu utama. T.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Gambar 4. Pada potongan penampang. yaitu dihitung dengan persamaan sebagai berikut. 42 .

L i i1 (4. J.10 maka besarnya sudut putaran dapat dihitung dengan rumus berikut. Untuk penampang pipa (lingkaran berongga) seperti terlihat pada Gambar 4.10) D4 Sudut putar (angle of twist) adalah sudut antara dua penampang parallel dari batang yang terkena torsi. Apabila untuk kondisi kontinu dari T.12) i G.9b maka J dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut. dan G sepanjang bentang L. maka persamaanya adalah.J Atau persamaan umum sudut putaran sebagai berikut. (4. N T . L T x 0 Gx.13) 43 .L (4.J x dx Dr..10 Batang lingkaran yang mengalami torsi. ST. Dout4 Din4 J (4. Nilainya proporsional terhadap beban torsinya (T) dan jarak antara dua penampang (L).11) G. MT. T.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Gambar 4. Untuk batang dengan penampang seperti terlihat pada contoh Gambar 4. J 32 (4. Yosafat Aji Pranata.9) 32 dimana Dout adalah diameter luar dan Din adalah diameter dalam. Apabila penampang lingkaran berupa solid tanpa rongga.i J i dimana i adalah jumlah total segmen. maka persamaan sudut putaran adalah sebagai berikut.

3 Referensi 1. Structural and Stress Analysis: Theories. 4. USA. C. J. (2008).11. Keterangan: jawabannya adalah. 2. J. Statics and Mechanics of Materials.J.46 MPa 4. Brooks/Cole. R. Lwin. Lee. M. MT.25. serta tegangan geser akibat torsi di batang AB dan batang BC. Thomson Learning. Gere. Inc. Singapore. Hibbeler. Diameter batang adalah untuk batang AB adalah 0. (2001). Diketahui E = 200000 MPa dan v = 0.01948 radian θB = 0.. 3. New York.M.. Prentice-Hall. ST. (2001).M. McGraw-Hill Companies. Tutorials. The McGraw-Hill Civil Engineering PE Exam Depth Guide. Diketahui batang (shaft) kantilever dengan penampang solid seperti terlihat pada Gambar 4. Taylor and Francis Group.00318 radian AB maks BC maks 81. θA = 0.11 Batang kantilever dengan beban dua torsi terpusat. Hitung dan gambarlah diagram torsi.5 meter dan batang BC 1 meter. Lee. J. Dr. Gambar 4. Inc.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Latihan. Ye. Mechanics of Materials. (2004). sudut putaran di titik A dan titik B. and Examples.49 MPa 25.S.. 44 . Yosafat Aji Pranata. Beban yang bekerja adalah dua buah torsi terpusat di titik A dan titik B.C..

P (5.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Bab 5 Regangan Akibat Gaya Normal 5.1 Regangan Normal dan Regangan Geser a. definisi regangan normal adalah besarnya perpanjangan/perpendekan dibagi dengan panjang mula-mula. P (5. (5. 45 .E maka perpanjangan atau perpendekan batang yang terjadi dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut. Dr.1 Batang yang mengalami tarik dan tekan [Ye. Regangan Normal Seperti telah dibahas pada Bab sebelumnya.2a) E dimana tegangan adalah. Dengan menggunakan prinsip hukum Hooke.. 2008]. ST.1) L Gambar 5. Notasi regangan adalah ε dan δ dalam konteks ini menyatakan pertambahan panjang atau perpendekan batang akibat adanya gaya aksial tarik atau tekan. (5.2b) A maka. MT.2c) A. Yosafat Aji Pranata. yaitu.

2). Yosafat Aji Pranata. Regangan Geser Regangan geser (γ) adalah suatu ukuran yang berubah akibat adanya tegangan geser pada sudut antara dua serat dalam suatu bidang (sebagai ilustrasi dapat dilihat pada Gambar 5. Diketahui struktur batang statis tak tentu dengan dua buah beban terpusat seperti terlihat pada Gambar 5.3) b. dan keseimbangan momen ( ∑ M = 0 ). 46 . Hitunglah perubahan panjang batang yang terjadi.2 berikut ini. E (5. Oleh karena itu struktur statis tak tentu tidak dapat diselesaikan langsung dengan menggunakan persamaan keseimbangan saja. MT.2 Skematik tegangan geser.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS P. 5. a. dan reaksi-reaksi tumpuannya.L A. γ = α1 + α2 (5. yaitu keseimbangan vertikal ( ∑ V = 0 ). ST. namun diperlukan metode lain. keseimbangan horisontal ( ∑ H = 0 ).4) Gambar 5. Struktur statis tak tentu adalah struktur dengan jumlah reaksi-reaksi tumpuan (yang dapat terjadi) lebih banyak dibandingkan jumlah persamaan keseimbangan. ada tiga.2 Analisis Reaksi Perletakan dengan Hukum Hooke Dalam subbab ini akan dibahas bagaimana menghitung reaksi-reaksi perletakan struktur statis tak tentu (lingkup dibatasi dalam konteks berupa struktur batang statis tak tentu) dengan bantuan persamaan regangan. regangan-regangan normal yang terjadi. Latihan 1.. Persamaan keseimbangan seperti kita ketahui bersama. Dr.

Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS

Gambar 5.2 Batang dengan dua buah beban terpusat.
Penyelesaian mengunakan tahapan-tahapan sebagai berikut,
1. Berdasarkan pemilihan reaksi di titik B sebagai redundan, maka batang di-rilis
dari tumpuan, dan kemudian dihitung peralihan di titik B akibat adanya beban
yang bekerja (akibat beban primer).
2. Setelah itu dihitung peralihan di titik B akibat reaksi redundan di titik B.
3. Setelah itu dihitung reaksi di titik B dan di titik A.

Gambar 5.3 Penyelesaian latihan 1.
Maka,
L

R

0

Dr. Yosafat Aji Pranata, ST., MT.

(5.5)

47

Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS

Selanjutnya dihitung,
P1 0
P P
2

600 10 3 N

3

P 900 10 3 N
4

A A
1

2

3

4

A A

400 10 6 m2
250 10 6 m2

L1 L2 L3 L4 0.150 m
PL
1.125 109

L

i i

i

AE

E

i i

P1 P2

RB

A 400 10 6 m2
1

A 250 10 6 m2
2

L1

L2

δ

0.300 m
PL
1.95 103 RB

R

i i

i

E

AE
i i

R

L

0

1.125 109
RB

Fy

E
577 103 N

1.95 103 R

B

0

E
577 kN

0

RA 300 kN 600kN 577 kN
RA 323kN

Dr. Yosafat Aji Pranata, ST., MT.

48

Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS

a. Latihan 2.
Diketahui suatu benda seperti terlihat pada Gambar 5.4. Benda tersebut terbuat
dari material dengan nilai modulus geser (modulus rigiditas) G = 90 Ksi. Benda
tersebut diikat (bagian atas dan bawahnya) dengan masing-masing pelat kaku
(rigid). Bagian bawah pelat dimodelkan tumpuan jepit, dan pada pelat bagian atas
terdapat beban berupa gaya horisontal P. Apabila adanya beban tersebut, maka
pelat bagian atas bergeser sebesar 0,04 in. Hitunglah regangan geser rata-rata
material dan berapakah besarnya beban P tersebut ?

Gambar 5.4 Latihan Soal 2.
Penyelesaian sebagai berikut, digunakan hukum Hooke untuk mendapatkan
tegangan geser, regangan geser, dan gaya P.

Gambar 5.5 Penyelesaian latihan soal 2.
Menghitung rata-rata deformasi angular atau regangan geser,
xy

tan

0.04in.
xy

2in. xy 0.020rad

Selanjutnya mengaplikasikan hukum Hooke untuk mendapatkan tegangan geser,
yaitu sebagai berikut,

Dr. Yosafat Aji Pranata, ST., MT.

49

Thomson Learning. 50 . Structural and Stress Analysis: Theories.P. yaitu sebagai berikut. Gere.020rad 1800psi Selanjutnya menghitung beban P. USA.M. 4. E. McGraw-Hills.. Inc. F. Lee. New York. Taylor and Francis Group. Tutorials. Ye. and Examples.M. 3. (2001). Lee.3 Referensi 1. J. J. Lwin.. Statics and Mechanics of Materials. Singapore. The McGraw-Hill Civil Engineering PE Exam Depth Guide. Beer.. R. MT. 36 10 3 lb 5. Inc. Brooks/Cole.J. Mechanics of Materials. M.S. C. (2005). (2001). Hibbeler. 5. J.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS xy G xy 90 103 psi 0. Yosafat Aji Pranata.R. 2. ST. McGraw-Hill Companies..5in. P xy A 1800 psi 8in. Mechanics of Materials. (2008). Johnston. 2..C. Dr. Prentice-Hall. (2004).

elastik. 51 . apabila dikenai beban luar. akan mengalami deformasi. dan model tumpuan balok tersebut. gaya/beban yang bekerja. ST.1 Balok sederhana dengan beban terpusat sebesar F ditengah bentang. MT. Gambar 6.. material bahan. adalah material bersifat homogen. Sebagai ilustrasi dapat dilihat pada Gambar 6.1. Lingkup yang digunakan dalam bab ini. yaitu balok sederhana statis tertentu (simple beam dengan model tumpuan sendi dan rol pada masing-masing ujung) yang dikenai beban terpusat ditengah bentang sebesar F. Deformasi (atau defleksi atau lendutan) pada balok tergantung dari panjang. linier.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Bab 6 Deformasi Balok Statis Tertentu 6. bentuk penampang. Yosafat Aji Pranata. 6. panjang bentang balok l. dan rotasi balok sangat kecil.2 Metode Integrasi Berganda Metode integrasi berganda (double integration method) merupakan salah satu metode yang sangat baik untuk mendapatkan persamaan lendutan (deflection) Dr.1 Deformasi Balok Statis Tertentu Struktur balok.

Keterangan: Perjanjian tanda. dan titik m2 berlokasi pada jarak sebesar x + dx. Dr. Lendutan balok (v) adalah peralihan (displacement) pada arah sumbu-y atau arah vertikal.. Gambar 6.2. 6. Asumsi perjanjian tanda selengkapnya ditampilkan pada Gambar 6.2 Balok kantilever dengan beban terpusat P.1 Persamaan Umum Persamaan diferensial lendutan balok.3 Penjelasan dan detail dari kurvatur. 52 . maka ρdθ = ds. Gambar 6.2.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS dan kemiringan (slope) balok pada sembarang titik disepanjang bentang balok tersebut. ST. dan kurvatur κ = 1/ρ = dθ/ds.2. karena adanya persamaan kurva/garis elastik yang diperoleh. Sudut rotasi θ atau disebut kemiringan (slope) adalah sudut antara sumbu-x dan tangen kurva lendutan tersebut. O’ adalah pusat dari kurvatur dan ρ adalah radius dari kurvatur. Keterangan dan detail kurvatur selengkapnya ditampilkan pada Gambar 6. Yosafat Aji Pranata. Titik m1 berlokasi pada jarak sebesar x. MT.3. Kemiringan di m1 adalah sebesar θ dan di m2 adalah sebesar θ + dθ. dapat dihitung dengan contoh ilustrasi balok kantilever seperti terlihat pada Gambar 6.

2c) dx dx Apabila material linier elastik. d d 2v M (6. dan tan θ ≈ θ. 1 M (6.6a) E. maka 1d (6.5c) E I d 4v q dx4 EI (6. cos θ ≈ 1. dM V (6.v’’’ = V (6.1) dx dx Untuk asumsi bahwa nilai θ sangat kecil.I.6c) .5a) dx dV q (6.I Persamaan diferensial kurva lendutan balok dapat dihitung sebagai berikut.4) dx d E x I Selanjutnya dapat diintegralkan untuk mendapatkan nilai θ dan nilai v.3) E. E.2b) d x 1 d 2v d (6. maka.v’’’’ = -q (6. V. dan q dapat dilihat pada Gambar 6.6b) E.2a) dx dv (6.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Maka dapat dihitung sebagai berikut.v’’ = M (6. dv atau tan tan 1 dv (6.5d) Perjanjian tanda untuk M. maka ds ≈ dx.I.4.I.5b) dx d 3v dx3 V (6. selanjutnya persamaan-persamaan tersebut dapat ditulis dengan notasi yang disederhanakan sebagai berikut.

MT. Yosafat Aji Pranata..Dr. 53 . ST.

Sebagai tambahan. (a). maka Persamaan 6.2.8) 3/ 2 6.7c) (6. MT. (b). kondisi kontinuitas (continuity conditions).Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Persamaan 6. 54 .7a) M 2 d EI dx d 2 EI x 2 dx v d x 2 dM dx V dx d 2v2 dV q dx dx Persamaan eksak kurvatur dapat diturunkan sebagai berikut. ST. untuk balok nonprismatis dimana I = I(x). Contoh penerapan kondisi batas.6 menjadi sebagai berikut. Yosafat Aji Pranata. Balok sederhana. Dr.4 Lendutan balok di tumpuan sama dengan nol (syarat batas).7b) 2 (6.5.4 dan Gambar 6. EIx d 2v dx 2 (6. kemudian diintegralkan dengan mempertimbangkan pengaruh dari kondisi batas (boundary conditions). 1 v'' 1v' (6. Gambar 6.6 tersebut valid hanya jika hukum Hooke diaplikasikan dan ketika kemiringan dan lendutan yang terjadi sangat kecil..2 Lendutan dengan Integrasi dari Persamaan Momen Lentur Persamaan M(x) apabila disubstitusikan kedalam persamaan lendutan. dan kondisi simetri (symmetry conditions) untuk mendapatkan besarnya kemiringan (θ) dan lendutan (v) balok. sebagai ilustrasi dapat dilihat pada Gambar 6. Balok kantilever.

Penyelesaian : Karena panjang a = b = 3 meter.L 0 2 Dr. L Vb . a 3 meter.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Gambar 6.5 Contoh penerapan kondisi batas di titik C. dengan bentang (L) dan beban yang bekerja adalah beban terpusat (P). diperoleh : Vb P 5 kg ( ↑ ) 2 55 . Gambar 6.3 Latihan Soal dan Pembahasan Latihan 1. Diketahui sebuah balok dengan tumpuan sendi-rol.6 Balok dengan beban terpusat P. Hitung lendutan maksimum yang terjadi pada balok tersebut. P 10 kg. dan b 3 meter. maka posisi beban P adalah tepat ditengah bentang. Maka dapat dihitung reaksi-reaksi perletakan. ST. jika diketahui : L 6 meter. Ma 0 maka P. Yosafat Aji Pranata. MT. 6..2.

L2 maka diperoleh C 1 16.E .E. 2x 2 ( x) maka. L 4.I 16.x 2 . L P M b 0 maka Va .E . B A P.I maka persamaan menjadi.E .. 2 0 diperoleh : Va 2 5 kg ( ↑ ) maka dapat kita hitung momen M. x 2 P. M P Va .L2 C 1 16. maka pada saat x L 2 maka v(' x) 0 P.E .0 v '(0) A 2 2 P.I 2 P. I 16. P.L P. 56 .I Besarnya slope pada titik B sama dengan slope pada titik A.E. ST.E .E .I 2 0 P. d 2v E . v('' x) P. MT. Yosafat Aji Pranata. x 2. I .I .x Persamaan diferensial dasar kurva defleksi/lendutan.L2 16.I P.L 16.L2 ( x) 4.I Dr. Menghitung slope atau kemiringan balok (sudut rotasi).v '' M dx P.E .E.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS dengan cara yang sama dapat dihitung.dx C 4. x2 v' ( x) v '' ( x) . P. E .( L )2 2 v'( L ) C1 4. v' P.I 1 Syarat Batas : Kemiringan di tengah bentang = 0. maka. I Menghitung slope pada titik A ( x 0 ).E.I (i).

I 16. v( x ) v(' x) .L2 . .E . v( x) P. maka.I 0 0 0 C2 maka diperoleh C2 0 maka persamaan menjadi. I Syarat Batas : Lendutan di tumpuan (titik A atau x v(0) P.x 12. pada jarak x L 2 . maka v( x) 0 P.E.0 C2 16.E .I 0 ) adalah nol. L2 . x 3 P.x C2 12.dx P.E.E .I 16.L2 . I Lendutan maksimum ( max ) terjadi di tengah bentang. Menghitung lendutan maksimum yang terjadi. x 3 P.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS max (ii).E .03 12.

L 2 L ) 2 16. I 3 max P. Diketahui sebuah balok dengan tumpuan sendi-rol. Gambar 6.E. Hitung lendutan maksimum yang terjadi pada balok tersebut.( 3 P. E . E .I Latihan 2.63 45 48. L 3 P. Yosafat Aji Pranata.max P.7 Balok dengan beban merata. I I Untuk nilai L = 6 meter dan P = 10 kg. q = 5 kg/m. ST. Dr.L .( v L (2 ) L 3 ) 2 12.. I P. 48. L 96.I E. jika diketahui : L 6 meter. 57 . dengan panjang bentang (L) dan beban yang bekerja adalah beban merata (q). MT. 10. I 32. maka dapat dihitung. E . E . E .

L.E .( L )2 v'L (2) 0 q.E .I q. I Menghitung slope pada titik A ( x 0 ).(0) 2 A v '(0) 4.L x q. x q. L 0 diperoleh : Va a 2 maka dapat kita hitung momen M. q. E .(0) 6.( L )3 2 C1 6.E .I 6. x 2 v(' x ) v('' x) . I (i).I 6. L (↑) 2 dengan cara yang sama dapat dihitung. q. I 3 q. L.E .L 24.v '' M q.L3 24.L. I Syarat Batas : Kemiringan di tengah bentang = 0.L3 C 1 24. x.L 24. M V . I 3 q.I 24.I maka persamaan menjadi. v' q. x3 C1 q.L. M b 0 maka V .E .L. E .L . I 3 q. x2 ( x) 2 2 maka. E .L.E .x q.L q.E .x q.L3 ( x) 4. L (↑) 2 x2 a 2 2 2 Persamaan diferensial dasar kurva defleksi/lendutan. Menghitung slope atau kemiringan balok (sudut rotasi). maka Ma 0 q. q. maka pada saat x v' 0 ( x) q.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Penyelesaian : Menghitung reaksi-reaksi perletakan.E .L. I L 2 maka .I q. x 3 1 q.L 0 diperoleh : Vb 2 q.I maka diperoleh C 2 4.E . q. I 2. x2 v'' ( x) 2. maka. L Vb . x q. E .E .E .E .I .dx 4. x 2 q.

ST.Dr. 58 . Yosafat Aji Pranata.. MT.

E . L q.(0)4 3 q. Gambar 6.E. I 4 q.E.L. I 384. v( x ) v(' x) . Yosafat Aji Pranata. Diketahui panjang bentang AB adalah L dan beban yang bekerja adalah beban terpusat (P) di titik B. Menghitung lendutan maksimum yang terjadi.x3 q. pada jarak x 4 max L 3 L q..I 12. I vL (2 ) 4 max 4 q. 384 E . Dr.E.( ) q.(0) C vq.x C2 12. I q.I A (ii).x4 24. L L 2 .E. maka v( x) 0 maka persamaan menjadi.I 24.I I Latihan 3. 59 .L3 24.I 24.L. E .Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Besarnya slope pada titik B sama dengan slope pada titik A. B q. 3 L 2 24.E.dx q. E .(0) 2 (0) 12.x4 q. maka.E.8 Balok kantilever dengan beban terpusat P.I Syarat Batas : Lendutan di tumpuan (titik A atau x q.I 24.L .E.L. Diketahui sebuah balok kantilever. I 24.L3. L 48.( ) 4 5 q. ST. dengan tumpuan jepit (titik A) dan bebas (titik B) seperti terlihat pada gambar. E .E.I 24.x 24.I ) terjadi di tengah bentang.E. L 96.I Lendutan maksimum ( max q. 3 v( x) q.I 0 0 0 0 C2 diperoleh C2 0 0 ) adalah nol.L3.x q.E. E .( ) 2 2 12. MT. E .L.L3. Hitung lendutan maksimum yang terjadi.

( L ) P.E .L E. x P.L 0 diperoleh : M a P (↑) P.I E .L ( ) maka dapat kita hitung momen M. x 3 P. I (ii).dx P. E .E . maka v' 0.I .(0) C (0) 1 2.I E .E . ( x) P. I 2 0 . x 2 P.I 0 0 0 C1 maka diperoleh C1 0 maka persamaan menjadi.I (i). E.E . M Va . V 0 Ma maka Va maka 0 P 0 Ma diperoleh : Va P.E .x M a P. I E . I Syarat Batas : Lendutan Balok pada jarak x 0 (titik A). x C1 2.I 2.v('' x) M P. I v (0) P. v v(' x) .(0)2 C 6. v' P. L. ( L ) 2 P. L.I E. x2 C2 (x) 2.L.dx P. v(' x ) v('' x) . I 2. L maka.L.E . x P. x ( x) 2.(0)2 v' P.L Persamaan diferensial dasar kurva defleksi/lendutan. x P. Menghitung lendutan maksimum yang terjadi. v('' x) P. L 2.I Menghitung slope pada titik B ( x L ).L.I E . maka.E .E . x 2 P. 2 v '( L) B P.I Syarat Batas : Kemiringan balok pada jarak x 0 adalah NOL. Menghitung slope atau kemiringan balok (sudut rotasi).(0)3 P. maka v( x) 6.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Penyelesaian : Menghitung reaksi-reaksi perletakan.L.

. MT. 60 . Yosafat Aji Pranata. ST.Dr.

x.E . Hitung lendutan maksimum yang terjadi.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS 0 0 0 C2 diperoleh C2 0 maka persamaan menjadi. x q. E .L. V 0 Ma maka Va maka 0 Ma q. I L . L2 q. 3 v( x) P. E . x2 ( x) 2 L2 2 maka dapat kita hitung momen M. pada jarak x P.E . I Latihan 4. L.9 Balok kantilever dengan beban merata. I 3 max P. L 0 diperoleh : Va q. 2 3 P.v '' M q.L 6.L diperoleh : M a q.I . x2 2.E . maka. E . Diketahui panjang bentang AB adalah L dan beban yang bekerja adalah beban merata (q) di sepanjang bentang AB. x2 a 2 2 2 Persamaan diferensial dasar kurva defleksi/lendutan.x M q. M V .L 3. a (↑) 2 ( ) . x q. Diketahui sebuah balok kantilever. L P.L. I 3 P. I 2.( L) 2.L. I P. x q. dengan tumpuan jepit (titik A) dan bebas (titik B) seperti terlihat pada gambar. x 6.L 0 q. E . E . Gambar 6. I Lendutan maksimum ( max ) terjadi di tengah bentang. 2 L2 q. Penyelesaian : Menghitung reaksi-reaksi perletakan.L.( L ) 3 maxv( L) 6.

MT. ST.Dr.. Yosafat Aji Pranata. 61 .

Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS maka. E . E .L q. I 4. I 2. I Syarat Batas : Kemiringan balok pada jarak x 0 adalah NOL. L 4 q.I 6. I q. I 2.( L ) q. I ) terjadi di tengah bentang.E .( L ) 2.E . ( x) v ' q. L.(0) C 1 2. v ( x) q. x 2 q. .E . E . I (ii). 3 2 2 q.L .E .E .L.I Syarat Batas : Lendutan Balok pada jarak x 0 (titik A). x 4 q.L.L2 2. E . I 2.dx q.E . I (i).L2 . I Lendutan maksimum ( max 4.I E . E . I 2.E . L . x 3 q. maka v' 0.E . x 2.L2 .I 6. Menghitung slope atau kemiringan balok (sudut rotasi).(0) 24. maka.E .E .E .L. q. x 4 q.( L) 6. L 3 4 q.E .E .E . x 3 q.E .x2 C2 (x) 24. L 2 L .E .I v('' x) q.L2 . v '( L) B v v(' x) .E .E .(0) 4 q. I Menghitung slope pada titik B ( x L ).(0) 2 C 2 6.x2 24. maka.L. I I maka diperoleh C1 6. I 4 max 4 4 q.E . L.L2 . I I diperoleh C2 0 0 0 0 C2 0 0 maka persamaan menjadi.dx q.L. x 3 6.I 2.L2 . x 3 q. 2. Menghitung lendutan maksimum yang terjadi. v(' x ) v('' x) .(0)3 (0) q.x ( x) 6.( L ) 3 q.I 0 0 0 0 C1 0 maka persamaan menjadi. v' q.E . I 24.I 3 2 q. I 6. x 2 q. pada jarak x q.L 2 q. 4. L. x 2 q.L.I 4. E . maka v( x) v (0) q.E .x C1 6.( L ) q.L .( L ) v max ( L) q.(0)2 q.

.24. E . Yosafat Aji Pranata. I 62 . 4. E . I Dr. MT. I 8. I 6. ST. E . E .

dengan tumpuan jepit (titik A) dan bebas (titik B) seperti terlihat pada gambar.10 Balok kantilever dengan beban berupa momen. V 0 maka Va 0 Ma maka 0 Ma MB 0 diperoleh : M a MB ( ) maka dapat kita hitung momen M. ( x) v' M B .Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Latihan 5.I Syarat Batas : Kemiringan balok pada jarak x 0 adalah NOL. Gambar 6.I 0 0 C1 maka diperoleh C1 0 maka persamaan menjadi. 63 . Menghitung slope atau kemiringan balok (sudut rotasi).I (i).v '' M M B ( x) maka. Hitung lendutan maksimum yang terjadi. M v'' B ( x) E.(0) C1 (0) E ..I . Yosafat Aji Pranata.dx M B . ST. Diketahui sebuah balok kantilever. E. v' ( x) M B . maka v' 0. Penyelesaian : Menghitung reaksi-reaksi perletakan. v(' x ) v('' x) .x E.I Dr. M MB Persamaan diferensial dasar kurva defleksi/lendutan. MT. Diketahui panjang bentang AB adalah L dan beban yang bekerja adalah momen (MB) di titik B dengan arah berlawanan jarum jam.x C1 E .

maka v( x) 0 v 0 maka persamaan menjadi.x2 2.I Latihan 6.I (ii). M B v '( L) B . M B .(0)2 C2 (0) 2. Menghitung lendutan maksimum yang terjadi.I E.E .E .11 Balok dengan beban terpusat tidak simetris. L B E .x2 C2 2. Panjang segmen a lebih besar daripada segmen b. maka.(L ) M . v( x ) v(' x) . Diketahui sebuah balok dengan tumpuan sendi-rol.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Menghitung slope pada titik B ( x L ). pada jarak x L .E . maka. Gambar 6.E . v( x) M B .I Lendutan maksimum ( max ) terjadi di tengah bentang. dengan bentang (L) dan beban yang bekerja adalah beban terpusat (P).L2 2.I Syarat Batas : Lendutan Balok pada jarak x M B .E .I 0 0 C2 diperoleh C2 0 (titik A). Ditanyakan: Buatlah persamaan umum untuk menentukan kemiringan balok (slope) dan lendutan.( L)2 maxv( L) 2.dx M B . I max M B . .

Yosafat Aji Pranata.Dr. MT. 64 . ST..

dx P. v( x ) P.a Persamaan diferensial dasar kurva defleksi/lendutan. 0 ≤ x ≤ a.x C3 (2).I Lendutan balok.(x a ) P .E .a P. d v maka. a ≤ x ≤ L.L. x3 v(' x) . I .b.b.I (3).b L x P. E . . I Slope atau kemiringan balok (sudut rotasi).I (ii).b L x P. x2 v(' x ) v('' x) .I 2E . '' 2 E 2.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Penyelesaian : Menghitung reaksi-reaksi perletakan.v '' M dx2 P.b L x Persamaan diferensial dasar kurva defleksi/lendutan.E . d 2v E . M Va .v( x) dx v'' M P. Kita hitung momen M (potongan kiri). I E . v('' x) P.a Vb .E . x 2 2. M Va .a L (↑) P. I .dx C1 . I Slope atau kemiringan balok (sudut rotasi). x P. 6.I P .L 0 diperoleh : Va (i). E . Mb 0maka P. x ( x) L.x P .I P.x P. P. x C2 E .b. x 2 P.dx (1). x L. x P. C1 2.b x L ( x) maka.b. Ma 0 maka P.L 0 diperoleh : Vb P.L.E .b.b L (↑) dengan cara yang sama dapat dihitung.a E.a.E .I . Kita hitung momen M (potongan kiri).L.b Va .I . v(' x ) v('' x) . x P.

MT. 65 . ST. Yosafat Aji Pranata.Dr..

E.I C P.I P.L3 P.a.a.b.L C4 6.I P.I 2 .L2 C2 .L.E.E. P.b.x3 v ( x) 0 C .E.I 6.L3 P.a.b. maka Persamaan (4) mempunyai hasil nilai lendutan = 0.(L)3 P.E.L. 66 .b.L2 P.L.E.x C (7). 4 2 C2 . 1 Syarat batas : (2).x C4 2E .L C.x (6). MT.L2 P. x 3 6. v(' x) . I 6.I maka Persamaan (4) menjadi.E. Syarat batas : (1). v ( x) 0 0 P.L.(0) C3 C3 0 maka Persamaan (2) menjadi.x3 6. (5).I 6. v ( x) P.b.I 2E.x C 1 6.L 4 6.L2 6. x2 C 2 .x3 P.x2 C 6.L3 P.a. 3 C1.b.x3 P. maka Persamaan (1) dan Persamaan (3) mempunyai hasil Kemiringan yang sama. v ( x) P.I 2 P. x 3 v( x ) P.dx P.(0)3 6. Pada saat x = a.I 2E.I C .x2 C 2E.b.I 6.I 6.a.E.b.x3 P.I 2E.a.L2 C2 . Syarat batas : (3).b.E.I (4).. Pada saat x = L.I 2E.E.L.a. Pada saat x = 0.x3 6.E.L 2 (8).Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Lendutan Balok.I 2E.x P.I 6.L.E . Yosafat Aji Pranata.(L)2 .E .L C4 6.E.E. Dr.(L)3 P. ST.I P.I P.b. maka Persamaan (2) mempunyai hasil nilai lendutan = 0.E.I P.I 6.I maka diperoleh.L.E.

v' ( x) P.E .I Persamaan (3) : v' P.a3 P.I C P. x 2 P.a2 2. maka Persamaan (1) dan Persamaan (2) mempunyai hasil nilai Lendutan yang sama.a3 C 1 6.I 6.L.I 2.I P.a C v 1 6.b.E .I P.a3 C .E .a 2 P.E .E.I Maka Persamaan (8) dan Persamaan (9).b. x 2.I 2.I 6.L.a3 P.E .I 4 C .b.I 2. I 6.L.( a) C 1 2 E .I E .(a) (0) v ( a) 1 6.I P.L. v v (a) ( a) Dr.L.E.I 2.a2 C E .a2 2.E.I P.b.a C 2 ( a) v P.(a )2 (9).a P.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Persamaan (1) : P.a2 1 2.L. 2 ( a) 2. 67 .. E .I C2 maka diperoleh.E.E .a. Yosafat Aji Pranata.b.L.L. I P.E .b.a 2 P. C 2 C1 P.E .b.( a ) 3 v ( a) v ( a) 6.L.I 2E.b. Pada saat x = a.(a )2 C v' ( a) 2.L.a2 . ST.a 2 ' 2E .b.E .(a )2 1 P.a2 C 2.E.b.( a ) 2 C 2. P.E .I (11).b.a3 C .E . I 2E .I P.a.a3 P.I P.I Maka Persamaan (3) menjadi.I P.a3 ( a) 6.E . x 2 P.I 2. Syarat batas : (4).E . v (' a ) v(' a) P.b.L.I 2 (10).a 2 C1 P.b.a. MT.E.I E .a P.L.( a ) 3 P.a P.a2 C2 2E .E.I 4 4 maka.L. 1 2.I 1 P.(a)3 C .E .

E.E.x C4 pada kondisi x = a.x P.I 6.L.L.a P.a2 P. maka v(a) = 0.L2 0 6.b.x E.x 6.I 2.L.I P.a. v P.I P.L.E.a3 2 6.x ( x) 6.E.E.L3 6.E .E.I P. v ( x) P.a P.I Dr.x3 P.I (10). 2 v(' x) P.I 2.b.x2 P.I P. P.a3 6.I 6.E.E. I ` P.L. Lendutan balok.E.E.I P.b.a 3.E.a.L.I 3.a2 .a3 6.x P.x3 6.I P.I C2 .E.I (12).E.I 3.x3 P.E.a.E.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS P.I maka diperoleh.a3 6.E . P.b.E.E.x3 6.a3 6.E.L.L.L2 C2 .x P. Slope atau kemiringan balok (sudut rotasi).x 2E.I 2E.I maka diperoleh.a3 .x2 2.L 2E.b.I 3. ST. 68 .I 6.x2 2E.x2 P.x 3.L.E.a P.I 6.I 6.a3..a 3 C .E.a3 6.L.L.E.I Slope atau kemiringan balok (sudut rotasi). 3 v( x) P. v' ( x) P.L.b.E.E.E.E. Lendutan Balok.b.a3 P.I P. MT.I P.L. Yosafat Aji Pranata.I 3.L.b.a2 2.a P. (11).I P.a.a 3 P.L.a3 6.I (9).I maka diperoleh.a C 4 1 6. P.I Maka nilai C2 dapat kita hitung dengan memasukkan nilai C4 menggunakan persamaan (6). C4 1 C .L.E .a.E .L.L.a.I P.I Maka persamaan umum dapat dihitung sebagai berikut. C C 1 P.L.E.I 2.

a 0 diperoleh : M a (↑) P ( P. C1 x 2.I E.12 Balok kantilever dengan beban P pada jarak a dari tumpuan.x P.I .x2 P. E .I maka diperoleh C1 0 ) .a v'' ( x) E. V 0 Ma maka Va maka 0 P 0 Ma diperoleh : Va P. 0 ≤ x < a. Diketahui sebuah balok kantilever.a Persamaan diferensial dasar kurva defleksi/lendutan.v '' M P.a.x P.E. P.a ( x) maka. x P. Diketahui panjang bentang AB adalah L dan beban yang bekerja adalah beban terpusat (P) di titik C dengan jarak sebesar a dari titik A.(0)2 2. Menghitung slope atau kemiringan balok (sudut rotasi).I 0 0 0 C1 P.E. v(' x ) v('' x) .(0) C 1 E.a. dengan tumpuan jepit (titik A) dan bebas (titik B) seperti terlihat pada gambar.I (i). Hitung lendutan maksimum yang terjadi.I Syarat Batas : Kemiringan balok pada jarak x 0 adalah NOL.a maka dapat kita hitung momen M.I E. ( x) v' (0) P. maka v' 0.x M a P.dx P. M Va .Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Latihan 7. Penyelesaian : Menghitung reaksi-reaksi perletakan. Gambar 6.

MT.Dr. Yosafat Aji Pranata.. 69 . ST.

a.I diperoleh C2 0 maka persamaan menjadi. P.a E. E . v v(' x) . E . I P. Hitung lendutan maksimum yang terjadi.dx P.I Menghitung slope pada titik C ( x a ). x ( x) 2. .a.I 2.a.a.I Syarat Batas : Lendutan Balok pada jarak x P. dengan tumpuan jepit (titik A) dan bebas (titik B) seperti terlihat pada gambar. x 3 P.a 3 Latihan 8.E .( a ) P. P. Jarak AC adalah sebesar a.(0)2 C 2 (0) 6.E . Diketahui sebuah balok kantilever.( a) 2 6. E .a.E . x 3 P. v '( a) Lendutan maksimum terjadi di titik C.( a ) max ( a) P.I E . E .I 0 0 0 C2 2. maka v( x) 0 P. I Lendutan maksimum ( max ) terjadi di tengah bentang. I 3 P.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS maka persamaan menjadi. x 2 v' P. I 2. I L . I 2. maka.E .E . pada jarak x 3 v P.(0)3 v 0 (titik A). Diketahui panjang bentang AB adalah L dan beban yang bekerja adalah beban merata (q) di sepanjang bentang AC. I 2.I 2. x2 6.E .E . E . v ( x) P. I 3.E . maka.a 2. x2 C2 (x) 6. Menghitung lendutan maksimum yang terjadi.a. 2 C 2 P.( a ) P. I (ii).a max 3 6.E .

Dr. 70 . ST. Yosafat Aji Pranata. MT..

E .(0) C 1 2.I 0 0 0 0 C1 q. v (' x ) v('' x) . x.a.E .v M q. I Dr. x q. x2 ( ) a a 2 2 2 Persamaan diferensial dasar kurva defleksi/lendutan. I E . x 3 q. E .a 2 .a.(0)3 (0) 6.E .a. I 2.x 6.I (i). ( x) v' q.x M q.E . Menghitung slope atau kemiringan balok (sudut rotasi).E .I 2. I .a 2 . '' ( x) a2 x2 2 2 maka. 71 . q. x 2 q. q. x 2 q. x 3 q. x 2 q. x q.13 Balok kantilever dengan beban merata pada sebagian bentang.E .Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Gambar 6. ST.(0)2 q. diperoleh : Va a0 diperoleh : q.x C1 v '' 6.dx q. q.E .a M a q. M V .I 2.I Syarat Batas : Kemiringan balok pada jarak x 0 adalah NOL. a 2 q.I 2.a.a2 .E . maka v' 0. MT. v' ( x) q.a 0 maka 0 M a q.I maka diperoleh C1 0 maka persamaan menjadi.I 2. Penyelesaian : Menghitung reaksi-reaksi perletakan.E . 0 ≤ x < a. V Ma 0 maka Va q.a.a.a.a2 x ( x) 2.E . Yosafat Aji Pranata.. (↑) a2 2 2 maka dapat kita hitung momen M.I 2.E . x q.

a.E .E .E .E .(0)3 0 (titik A). x 3 q. a 4 4.a2 .E .E .a. I 0 0 0 0 C2 q.14 Balok sederhana dengan beban merata pada sebagian bentang.I 6.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Menghitung slope pada titik C ( x a ).I 6. Gambar 6. I q. Diketahui sebuah balok dengan tumpuan sendi-rol.( a) a . 2. E .( a ) 3 v 2 . maka.E . I 8. 2 q. I 6. seperti terlihat pada gambar.a 2 .a.(0)4 v (0) 24.( a ) a 2. dengan panjang bentang (L) dan beban yang bekerja adalah beban merata (q). I q.I diperoleh C2 0 maka persamaan menjadi.dx q.I 4.E . a 4 q. Ditanyakan hitunglah persamaan umum kemiringan balok dan lendutan.a 2 . Penyelesaian : (i).a ( a) 24. I (ii).I 2.I Syarat Batas : Lendutan Balok pada jarak x q.E .( a ) 2 q. I q. a 4 max 24.E .a. maka v( x) 0 q.E .I q. E .( a ) max 4 q. .x2 24. 4 a 4. q. a 3 6. x 4 q. q. I 6. maka.E . x 4 v ( x) q.a. I 6. E .( a ) v '( a) C 3 q.I I Lendutan maksimum ( max ) terjadi di tengah bentang. 4.(0)2 C 2 6. Menghitung lendutan maksimum yang terjadi. x 3 q.x2 C2 24. pada jarak x q. Menghitung reaksi perletakan di titik A.E . I Latihan 9. E . I 4.E . E .E . v( x ) v(' x) .

Yosafat Aji Pranata. ST.Dr.. 72 . MT.

x2 16. 0 ≤ x ≤ 2 x V A . 2 ≤ x ≤ L L VA . x2 8.x q.x 1 . E .q.L 8 L (ii).q.I . L.x q. I 2.q. Yosafat Aji Pranata. x 1 . 3 . E . Menghitung persamaan momen lentur untuk segmen CB.q.v('' x) M X v '' ( x) (1).L q. L2 8 8 2 8 8 maka.x q.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS MB 0 maka V A.L . (iv).q. E .L.E.L. E .I 8. x.x q. Menghitung kemiringan balok. diperoleh VA 3 L 3 2 4 L0 (↑) q. x maka. L Segmen AC. I L (iii).E . x 2 .q.q. 73 .E.v('' x) M X v '' ( x) 1 . MT.I . Menghitung persamaan momen lentur untuk segmen AC.x q.L2 8.dx 3 ..q. ST. MX 2 L .x MX 0 4 3 .q.x3 C1 6.L.q. 1 .I Dr.L. L2 1.I (2). 0 ≤ x ≤ 2 v(' x ) v('' x) .L. 2 MX MX 0 3 1 2 8 .E .I (3).

q.E.L. x 4 C1 .E. Menghitung lendutan balok.q. untuk Segmen AC.E.x4 C .L2 . untuk Segmen CB.E.(L)2 C . L ≤ x ≤ L 2 v (' x ) v('' x) .x C4 48.E.x C2 16.L.x3 1 . L Pada saat x = L.L.I 16.(0)3 1 .Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Segmen CB. 0 4 74 .q. x 2 1 . (vii).L2 .q.q. 1 .I C . C3 0 maka persamaan (5) menjadi.x C3 16. L Pada saat x = 0.I (7). (vi).dx 2 v(' x) . Yosafat Aji Pranata.(0) C 0 1 3 diperoleh. (v).I 16.E . ST. 0 ≤ x ≤ L 2 (5). v ( x) 1 . 0 ≤ x ≤ 2 .x 1 24. maka Persamaan (5) menjadi. v ( L) 1 .I Dr.L. L ≤ x ≤ L v( x ) v( ' x) .I (6).E.L.E .dx v( x ) 1 .E .I Segmen CB. L2 . maka lendutan nol. MT.q.q. 2 ≤ x ≤ L .I 1 .q. maka lendutan nol.E .x3 16.q. x 3 1 . maka Persamaan (6) menjadi. Syarat Batas Kedua. I (4).(L) C 2 48. v (0) 1 . Segmen AC.(L)3 1 .q..I 8.I 24.x2 C2 .q.L. Syarat Batas Pertama.(0) 16.E.E.q.dx 1 .I 4 24.

I 24.(L ) 2 1 v' v' .L4 C 2 .E.I 1 .( L ) C2 8.E .I (8). Syarat Batas Ketiga. (viii). (2 ) 16.I 2 Persamaan (4).q.( L L 16.q.q.L 24. Segmen AC v' 3 . maka persamaan kemiringan balok Segmen AC dan ( x ) segmen AC Segmen CB mempunyai nilai sama.L4 C .I 16.I (2 ) L v ' 1 .L2 .I 1 .q.E .E.q.E.I 2 )3 C 3 64.E .Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS diperoleh.L2 .L3 C2 ( x) s .q. Persamaan (3).I 2 2 maka Persamaan (9) sama dengan Persamaan (10).E . Segmen CB 6.q. C4 1 .L3 C 5 192.x 3 1 .x 2 C .q.L.I maka persamaan (6) menjadi.q. Pada saat di titik x = L 2 .E.q.L.L 2 2 48.L.(L )2 1 . v ( x) 1 .E.x 1 .E.

I 2 (ix).L4 1 C . ST.. 75 .q. maka persamaan lendutan balok Segmen AC dan Segmen CB mempunyai nilai sama.L3 C 1 64.L 192.I 2 1 1 (12).E.E.( L )3 2 1 . Syarat Batas Keempat.q.I 0 C C (11).(10). Yosafat Aji Pranata. MT. Segmen AC. Dr.I 1 .L. vL (2 ) 1 16.E.I .q.( L ) 24.E.E.E.L3 3 . 2 1 48. .( L )4 C .q. (9).I 2 1 2 .q.q. Pada saat di titik x = L 2 .L3 C 5 192. Persamaan (7).

q.E .x4 3 .I . 3 C1 .x3 1 .q.L 22 (14).q.L 24.E.E .q.E .L4 C2 . Yosafat Aji Pranata.L4 1 C . Persamaan lendutan balok.q. 2 1 48. I (13).q. I (2 ) vL 11 16.q. C2. L Segmen AC.E. I 2 .x2 16. v ( x) 1 16.E .q.I 2 1 11 .L.I 2 1 2 2 diperoleh.L3 C C 0 1 C .E .L3.L. v v ( x ) segmen AC ( x) segmen CB 1 .q.I 13 .I Dr. Segmen CB.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Persamaan (8). C2 . ST.E .q.( L )3 1 48.E .L4 1 C .q. C3.E .q. 0 ≤ x ≤ 2 Persamaan kemiringan balok.q.I (2 ) 1 .L 1 .L4 384.I 1 .L 1 C .( L )2 C 2 .q.E.E.I 13 .L 0 384.L2 .E .q.L 2 maka Persamaan (12) sama dengan Persamaan (13).E .I (15).I 17 .E.I 128.. v' ( x) v' ( x) 3 .L4 1 384.L 0 C 384.E. dan C4 telah kita peroleh.x 24. 76 .L3 ) 384.L 192.L3 128.L3 6. MT.E.I Karena konstanta C1.(L) 2 2 1 .L.x3 3 . 1 .I 2 1 2 2 maka Persamaan (11) dan Persamaan (14).I 128.x2 64.q. maka persamaan umum C2 kemiringan balok dan lendutan balok dapat kita rumuskan sebagai berikut.L4 1 C .E .L3 384.L.q. vL .x3 9.I q (72.

I 48.I q. 2 ≤ x ≤ L Persamaan kemiringan balok.L2 . I 1 .x 1 .x 17 .L ( 8. I Persamaan lendutan balok. .q. v ( x) v ( x) 1 .E.I 24. x 384 .q.E.I 384.L3 ) (16).L.x L3 ) . v' ( x) .L4 384.q.q.E.x2 1 16.x2 17.L2 .E.L3 8.L ( 24.x3 48.q.E.x 3 9.L3.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS v ( x) q (24.I v' q. 17 384.E.L.q.L.I (18).q.x3 384.L2 ) 1 16.E.I 2 16.L.L2 .E.x2 (17).x2 ( x) 384.I .L.x 17. L Segmen CB.E.E .

L 0 diperoleh : Va q. dengan tumpuan jepit (titik A) dan bebas (titik B).x) (q.I 2.L P ( ↑ ) diperoleh : M a q.x P. L P.I E. V 0 Ma makaVa q.E. v'' ( x) q. 77 .x2 E.L.x) (q. MT. a a 2 2 Persamaan diferensial dasar kurva defleksi/lendutan.I Dr. Hitung lendutan maksimum yang terjadi. ST.L.L. ( x) L2 P.Latihan 10 Diketahui sebuah balok kantilever.v'' M (q.x q.L) q.E.L. Diketahui panjang bentang AB adalah L dan beban yang bekerja adalah beban merata (q) di sepanjang bentang AB dan beban terpusat (P) pada ujung bagian bebas.L P 0 maka M a 0 q.L) q. L2 P.L2 P. x (q.x P.L q.I 2. 2 ) 2 x2 2 x2 2 maka. L2 P.I.x M q.L ( 2 maka dapat kita hitung momen M.. E.x. Penyelesaian : Menghitung reaksi-reaksi perletakan.I P.x E. M V . Yosafat Aji Pranata.

I I (ii).E . x4 24.E .E .(0) q.x P.dx 2. ( x) ' v 2 0 (0) 2 2 q.E .E .E .E . I q.(L )2 P. x 3 q.(0)3 P.E . L.L .I Menghitung slope pada titik B ( x L ).E .E .E .E .I 2.(0)4 4. I q.L2 .I 2.L. I 6.E .E .I C 1 6.L. x3 C1 q.L. I 4. I diperoleh C2 0 (0).E .L.L2 6. I 2.L3 P. I 24.(L ) P.I q.E .E . x P. x 2 P. I 2.I 2.E .I 6.L3 2.E . x3 ( x) 2.I 6.E .I 4. Menghitung lendutan maksimum yang terjadi. x q. Menghitung slope atau kemiringan balok (sudut rotasi). v' q. I P.L2 ( L) 6. 3 3 2 2 2 v( x) q.L2 .E .x 2 P.E .E . pada jarak x q.I Lendutan maksimum ( v ( L) max 4. x 6. L.E .E .x P. I 0 0 0 0 0 0 0 C2 q. L. v(' x ) '' P.(L )3 q.L2 .(L )2 P. .(L)3 2.x C2 ( x ) v( x) .L2 .I L .I 6.E . x q.L. I Syarat Batas 2 : Lendutan Balok pada jarak x 0 (titik A). L.I 2. L2 .I ) terjadi di tengah bentang.I 2.E .I 6.E . L. maka v' 0.E .E .(0)2 P. L.I 2.(0) q.E .(L ) q.E . x 2 v( x) .E .I E .E . I E . v ' ( L) v' ( L) v ' q.I 2. L.(0)3 E . v ' q. maka v( x) v (0) q. L2 .I Syarat Batas 1 : Kemiringan balok pada jarak x 0 adalah NOL.E .I 6. x 2 q.L. x 2 q. L.(L )3 P.I 2. x q. I 6.E .(0) P. maka.I 2.(L )2 q.L . E .L3 q.I q.I 24.I 2.E .dx 6.E .Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS (i).E . x 2 q.E .(0) 2.I maka diperoleh C1 0 maka persamaan menjadi. L.L.(0)3 6.(L )2 2.I 2.I 24.(0)C 2 0 maka persamaan menjadi. I q.L2 E. x 3 P.E .(0)2 q. x4 C1 .I 2.I 0 0 0 0 0 0 C1 P.x P.L3 P.E .(L)4 6. maka.

Yosafat Aji Pranata.Dr. ST.. 78 . MT.

2. dan lendutan.E . dan geser dan momen lentur di sembarang titik pada balok konjugasi harus Dr. Dalam perhitungannya membutuhkan komputasi seperti teorema momen-area untuk mendapatkan persamaan kemiringan dan lendutan balok. 5. L3 q.I 6. 79 .E .L3 q. 3.E .E .L3 3. Beban pada balok konjugasi adalah diagram M/EI dari beban pada balok aktual. I 4. Metode ini menggunakan basis analogi dari hubungan antara beban. Kemudian lendutan pada balok riil sama dengan momen pada balok konjugasi. salah satu insinyur sipil terkemuka akhir abad ke-19 dan juga dikembangkan oleh H.. geser.L4 8. Panjang dari balok konjugasi selalu sama dengan panjang balok aktual.E . Muller-Breslau pada tahun 1865. Titik geser bernilai nol pada balok konjugasi merepresentasikan titik dengan kemiringan nol pada balok riil. kemiringan. serta hubungan antara M/EI.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS 4 v( L) q. MT. I Maka dapat dihitung sebagai berikut.E . 1.L P.L4 6. I 24. v( L) q.L4 P. dan momen lentur. Metode ini dikembangkan oleh Christian Otto Mohr. Properti balok konjugasi adalah sebagai berikut. 6. ST.E . lendutan pada balok riil sama dengan momen pada balok konjugasi. I 2. 4. Kemiringan pada balok riil selalu sama dengan geser pada balok konjugasi. Tumpuan jepit pada balok riil menjadi tumpuan bebas pada balok konjugasi. I 6.3 Metode Balok Konjugasi Metode balok konjugasi adalah metode teknik untuk menurunkan persamaan kemiringan dan lendutan balok. Yosafat Aji Pranata. Titik momen maksimum pada balok konjugasi merepresentasikan titik dengan lendutan maksimum pada balok riil. Tumpuan sederhana dari balok riil tetap menjadi tumpuan sederhana pada balok konjugasi. Kemiringan pada balok riil sama dengan geser pada balok konjugasi.I P.

Hitung reaksi-reaksi tumpuan balok konjugasi.. 6. Hitung gaya geser dan momen lentur pada titik yang ditinjau pada balok konjugasi untuk mendapatkan kemiringan dan lendutan. Gambar 6. 8. 3. Hitung reaksi-reaksi tumpuan.15 Kondisi tumpuan balok riil dan balok konjugasi. ST. prosedur penyelesaian dengan metode ini sebagai berikut: 1. Beban balok konjugasi dengan diagram M/EI. Secara umum. 4. Dr. Contoh penerapan model tumpuan selengkapnya ditampilkan pada Gambar 6. Gambar balok konjugasi. 80 . MT. 7. 5. Yosafat Aji Pranata. Hitung momen lentur pada setiap titik.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS konsisten dengan kemiringan dan lendutan pada balok riil. Gambar diagram momen lentur dan garis/kurva elastik.16. Gambar diagram benda bebas (free body diagram) 2.

Diketahui balok kantilever dengan beban terpusat sebesar 50 kN seperti terlihat pada Gambar 6..17 Balok kantilever dengan beban terpusat. 81 . MT.16 Contoh penerapan model tumpuan. Dr. Gambar 6. Hitunglah kemiringan dan lendutan di titik A dan titik C. Latihan 1.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Gambar 6.17. A. Yosafat Aji Pranata. ST. Titik B adalah tumpuan jepit dan titik C adalah ujung bebas.

3 225 EI EI 2 150 1. Menghitung kemiringan dan lendutan di titik A: 150 .2 2 900 EI B. 82 . Yosafat Aji Pranata. Dr. Menghitung kemiringan dan lendutan di titik C: Kemiringan di titik C = Gaya geser di titik C = Lendutan di titik C = Momen lentur di titik C = b.18. ST. Latihan 2..Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Penyelesaian sebagai berikut: a.2 450 . 1 . Hitunglah lendutan balok ditengah bentang dengan metode balok konjugasi.3. MT. EI 2 EI Kemiringan di titik A = Gaya geser di titik A = 225 EI Lendutan di titik A = Momen lentur di titik A = 225 EI . Diketahui balok dengan beban merata seperti terlihat pada Gambar 6.

1875 ] = 2200 N. ST. Gaya-gaya pada balok konjugasi adalah simetris.1. Yosafat Aji Pranata.18 Balok dengan beban merata sebagian..Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Gambar 6. maka 2 F1 = F2 = 0. Penyelesaian: Reaksi-reaksi tumpuan R1 dan R2 adalah 1200 N.m Dr.5. MT.5 [ 0.3000 + ⅓.5. 83 .75 – ⅓.5.

5) – 2200. lendutan maksimum akan terjadi ditengah bentang.1875. Hitunglah lendutan balok ditengah bentang dengan metode balok konjugasi. Maka. ST.18. Yosafat Aji Pranata.⅓.5.5) .75.2.5) + ⅓.5. MT.2. Latihan 3.0. C. Mmidspan = 0.5.0..5.5 3 Mmidspan = -3350 N.(¼.m Tanda negatif menunjukkan bahwa arah lendutan kebawah (dibawah garis netral).(¼.m Maka lendutan maksimum.(⅓.δmax = Mmidspan = -3350 N. Dr.2.2.3000.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Untuk balok ini. 3 EI. Diketahui balok dengan beban merata seperti terlihat pada Gambar 6.2. 84 .

m 2 Lendutan maksimum terjadi ditengah bentang balok.m Dr.2.(0.. Yosafat Aji Pranata.25) + 0. Mmidspan = ⅔.1 + ⅔. yaitu metode balok konjugasi dengan menggunakan diagram momen aktual. maka.(1.2. 85 . MT.1200 ] = 2200 N. Penyelesaian sebagai berikut: Dengan prinsip simetri pada gambar balok konjugasi tersebut.1200 + 1200.2. ST.5. F1 = F2 = ½ [ ⅔.2200 3 Mmidspan = -3350 N. maka.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Digunakan metode alternatif.1200.5.1200.25) – 2.

19 Balok dengan beban merata segitiga pada sebagian bentangnya. Penyelesaian: Dapat dihitung besarnya y sebagai berikut. MT.δmax = Mmidspan = -3350 N.y.⅓. y = 150 N/m Kemudian dari diagram momen dapat dihitung besarnya a dan b sebagai berikut. ST.1 = -25 N..1. 3 EI. Yosafat Aji Pranata.67 = 800 N.19). Latihan 4. 86 .m Tanda negatif menunjukkan bahwa arah lendutan kebawah (dibawah garis netral). Diketahui balok sederhana dengan beban merata berbentuk segitiga. a = 3R2 = 3.m b = -½. Hitunglah lendutan balok tersebut. yang bekerja pada sebagian bentangnya (Gambar 6.266.m Dr. Gambar 6.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Maka lendutan maksimum. D.

Yosafat Aji Pranata.3. M F1 0 6.67 N.2.3) .(⅓.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Dari balok konjugasi.6) 2 F2 = 1386.1b.m Dr.1600.4) = 12. dapat dihitung besarnya F2 sebagai berikut.25 N.1600.(⅓. MT.6.2. 3 EI.(0.1) .δmax = Mmidspan = -2961.(0.25 N.F2 + ¼. 87 .m Selanjutnya dapat dihitung 3 Mmidspan = ½..4.3a. ST.F2 = -2961.¼.m Maka lendutan maksimum.

Diketahui balok sederhana dengan beban berupa beban terpusat dan momen seperti terlihat pada Gambar 6.500 + 200 ∑ MA = 0 4.20 Balok sederhana dengan beban berupa beban terpusat dan momen. Gambar 6. Yosafat Aji Pranata. menghitung reaksi-reaksi tumpuan.. 88 .R2 + 200 = 1. Hitunglah lendutan balok dititik C. ST.500 R1 = 425 N R2 = 75 N Dr. MT. Penyelesaian sebagai berikut.R1 = 3.20. Latihan 5.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS E. ∑ MD = 0 4.

2) = ½. Latihan 6 Diketahui balok sederhana dengan dua buah beban terpusat.F2 3 MC = -391.21.(⅓.δC = MC = -391.(3+⅓. MC = ½.2.. Hitunglah lendutan balok pada titik B dan titik C.(⅔.(1+⅔.17 N.67 N. MT.3) + ½. ST. Penyelesaian sebagai berikut: Dr. ∑ MA = 0 4.m 3 EI.75.1) – 1.1. seperti terlihat pada Gambar 6.F2 + ½.1275.m Selanjutnya dapat dihitung momen dan lendutan dititik C sebagai berikut. Yosafat Aji Pranata.1. 89 .m F.67 N.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Dari balok konjugasi diperoleh. Gambar 6.1000.3.1) 3 F2 = 404.75.21 Balok sederhana dengan dua buah beban terpusat.

1 8.3 + 400. MT.ft.R1 = 200.R2 = 200.(1+⅔. 90 . ∑ MD = 0 ∑ MA = 0 8. ST.3.1600.2125.5) F1 = 1337.7 R1 = 175 lb R2 = 425 lb yC dapat dihitung sebesar 425 lb. 8.525..ft 2 Dr.4) = ½. dari balok konjugasi dapat dihitung F1 yaitu.4. F1 + ½. Yosafat Aji Pranata.3) + ½.5.5 + 400.(⅔.5 lb.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Menghitung reaksi-reaksi tumpuan sebagai berikut.(5+⅓.

4) = ½. EIδB = MB = -3225 lb. maka.1) – 1.3.(⅓.525.ft 3 Lendutan di titik B. EIδC = MC = -1491. 91 . Latihan 7 Hitunglah lendutan balok pada titik B balok sederhana dengan beban merata pada sebagian bentang. Yosafat Aji Pranata.67 lb.3) – 3.(⅓.ft 3 G.2125. MT.1600. seperti terlihat pada Gambar 6. ST.425.5 – 3.1.1.22.ft 2 Berdasarkan ruas kiri dari titik B pada balok konjugasi.1562.3) + ½.(⅓.. Penyelesaian sebagai berikut: Menghitung reaksi-reaksi tumpuan: Dr. MC = ½. maka.(⅓.525.67 lb.5 lb.5 MB = -3225 lb.F2 MC = ½.(3+⅓.5 MC = -1491.1337.ft 3 Lendutan di titik C.4.yC. F2 + ½.ft 3 Berdasarkan ruas kiri dari titik C pada balok konjugasi.3. Gambar 6.1) – 1.(⅔. MB = ½.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS ∑ MA = 0 8.F1 MB = 787.5.5) F2 = 1562.22 Balok dengan beban merata disebagian bentangnya.

453.2 R1 = 213.4.4. ST.33 lb R2 = 106.4) + ½.(¾.4. Yosafat Aji Pranata..2) F2 = 497.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS ∑ MR2 = 0 ∑ MR1 = 0 6. 92 .4 6.67 lb Dari balok konjugasi.33.R1 = 80.4) = ½. ∑ MA = 0 6.213.R2 = 80.4.(4+⅓.640. MT.(⅔.77 lb.33.ft 2 Dr. F2 + ⅓.2.

C.M. Inc. Lee. Hibbeler.2) – 2.(⅓. G.497.info/book/theory-structures. Ravi. Mechanics of Materials. Dr.33. EIδB = MB = -853.. Gere. 5.F2 MB = ½. url: http://mathalino. maka. MB = ½.M. MT. VTU – EDUSAT Programme. diakses tanggal 12 Mei 2012.com.213.4 Referensi 1. (2001).J.213.C..(⅓. Brooks/Cole.2) – 2. Lee.. url: http://en. 6.33. diakses tanggal 12 Mei 2012. Singapore. Lwin. Prentice-Hall. 93 . The National Institute of Engineering. J. (2001). The McGraw-Hill Civil Engineering PE Exam Depth Guide. 4.ft 3 6.2. McGraw-Hill Companies. url: http://cereview. 3. Inc. Yosafat Aji Pranata. 7. R. (2004).wikipedia.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Menghitung momen titik B pada balok konjugasi.S. Thomson Learning. Structural Analysis..2.ft 3 Lendutan di titik B. diakses tanggal 12 Mei 2012.77 MB = -853. J.org. 2.32 lb. ST.32 lb. M. Mysore. Statics and Mechanics of Materials.

7.2 Beban Tekuk Kritis Kolom merupakan elemen struktur yang sangat banyak digunakan. 2. dengan momen inersia I.. Secara umum. yaitu kolom pendek dan kolom panjang. Sedangkan batang yang relatif cukup kaku maka keruntuhan ditentukan oleh bahan materialnya. Suatu elemen batang yang relatif langsing dan diberi pembebanan tekan. Deformasi struktur relative kecil (small displacement). kolom dibagi menjadi dua tipe. yaitu dengan terjadinya leleh terlebih dahulu.1 Pendahuluan Struktur pemikul beban dapat gagal dengan berbagai cara.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Bab 7 Stabilitas Elemen Tekan 7. MT. salah satunya adalah berhubungan dengan stabilitas. 3. Jenis kegagalan pada elemen tekan. dan bahan yang digunakan. Yosafat Aji Pranata. Batang prismatis. terdiri dari material yang homogen dan bersifat elastis linier mengikuti hukum Hooke. kondisi tumpuan. yaitu tekuk. dapat mengalami tekuk (buckling) sedemikian rupa sebelum mencapai tegangan leleh materialnya. Tekuk pada elemen tekan (kolom) dapat terjadi akibat adanya beban aksial tekan. Deformasi aksial batang diabaikan. Dr. Elemen batang dianggap benar-benar lurus (perfectly straight) dan beban tekan diberikan pada sumbu penampang (centroidal axis). bergantung pada jenis struktur. Asumsi-asumsi dasar yang digunakan pada pembahasan Bab ini adalah sebagai berikut: 1. 94 . jenis beban. yaitu dengan modulus elastisitas E. 4. ST.

com]. Yosafat Aji Pranata. Peningkatan kecil dari beban ini akan meningkatkan lendutan secara signifikan. Dr. Beban tekuk kritis adalah beban maksimum yang dapat dipikul kolom. Beberapa ilustrasi untuk menggambarkan tekuk pada kolom dapat dilihat pada Gambar 7.E . Rasio panjang efektif merupakan rasio panjang efektif dari idealisasi perletakan ujung kolom terhadap panjang aktual kolom untuk berbagai kondisi perletakan ujung. ke = Rasio panjang efektif kolom.l 2 cr dimana : (7. l = Panjang kolom. MT.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Kolom pendek adalah tipe kolom yang kegagalannya berupa kegagalan material (ditentukan oleh kekuatan material). 95 . P 2 . Beban tekuk kritis untuk kolom panjang yang digunakan dalam penulisan ini menggunakan persamaan Euler. E = Modulus elastisitas. Gambar 7.wikipedia. yang memungkinkan terjadinya kegagalan stabilitas [Lwin. jadi kegagalan karena ketidakstabilan. I = Momen inersia penampang. ST.2.I k e . Modifikasi persamaan Euler bergantung pada panjang efektif kolom.. sedangkan kolom panjang adalah tipe kolom yang kegagalannya ditentukan oleh tekuk (buckling).1) Pcr = Beban tekuk kritis.1 dan Gambar 7. 2001].1 Beberapa penelitian eksperimental model tekuk pada kolom [Sumber : http://www.

Gambar 7.virginia. MT. 96 .3 memperlihatkan berbagai nilai rasio panjang efektif kolom (ke) untuk berbagai tipe tumpuan. Dr.. Yosafat Aji Pranata.edu].2 Kegagalan kolom karena tekuk [Sumber : http://www. Gambar 7.3 Nilai rasio panjang efektif kolom dengan berbagai tipe tumpuan.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Gambar 7. ST.arch.

1 d2y dz2 M d2y E I ( material secara umum ) (7. Gambar 7.4a. M = P. didapati kondisi keseimbangan netral. Konfigurasi struktur yang mengalami deformasi dapat dilihat pada Gambar 7. MT. maka rotasinya timbul akan kecil juga. maka momen lentur dihitung dengan persamaan. selanjutnya terlebih dahulu dibahas ulang mengenai teori dasar deformasi akibat momen lentur seperti ilustrasi terlihat pada Gambar 7.y (7. Yosafat Aji Pranata.. ST.5.2. dengan studi kasus kolom dengan model tumpuan seperti terlihat pada Gambar 7.4 Bentuk deformasi akibat tekuk pada kolom (model tumpuan sendi-sendi pada masing-masing ujung).2) Dengan menggunakan anggapan bahwa deformasi aksial yang terjadi sangat kecil. Beban aksial tekuk kritis adalah gaya yang memberikan keseimbangan gaya-gaya dalam (momen lentur dalam hal ini) dalam konfigurasi batang yang dibelokkan (deflected) tanpa dibutuhkan gaya transversal. 97 . Sebelum melanjutkan penyelesaian Persamaan 7. dimana tidak perlu gaya yang dibutuhkan untuk mengubah (perubahan kecil) deformasi struktur.4. Pada kondisi transisi antara stabil dan tidak stabil atau disebut kondisi kritis.3a) ( material linier elastik ) (7.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Selanjutnya akan dibahas penurunan persamaan untuk mendapatkan faktor ke tersebut dalam kaitannya mendapatkan beban tekuk kritis.3b) dz2 Dr.

demikian pula sebaliknya.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Gambar 7.5 Deformasi akibat momen lentur positif [Da Silva. MT. k P (7.7) EI Dr. dalam hal hubungan antara momen lentur dan lendutan y. Persamaan 7. M = P.5a) d2y dz2 P y 0 (7. Yosafat Aji Pranata. ST.3b memperlihatkan perilaku material linier elastik.cos (kz) pada nilai negatif dari dimana. Py EI d 2 y (7.6) y C1 .y M d2y EI dz2 (7. 98 . Persamaan 7.5b) dz 2 EI Tanda negatif mempengaruhi hasil momen lentur dari fakta bahwa nilai positif y d 2 y .. (7.4b) maka.4a) (7.sin (kz ) C 2 . Maka dalam hal ini. Gambar 7.2 didapat.4 memperlihatkan konfigurasi deformasi kolom. Maka. Dengan menggunakan Persamaan 7. 2006].5b adalah dz2 persamaan homogen linier dengan koefisien yang konstan.

8a) C2 0 ii.11) 7. Maka selanjutnya dapat dikembangkan persamaan hubungan antara beban P. Kondisi pertama.. Kondisi pertama ini mengindikasikan bahwa konfigurasi langsung tersebut akan selalu berada pada konfigurasi keseimbangan (meskipun mungkin terjadi ketidakstabilan). Diketahui kolom dengan model tumpuan jepit dan sendi pada masing-masing ujungnya. Yosafat Aji Pranata. 99 . atau sin (kl) = 0. ST. yang fakta berarti bahwa C1 amplitudo menunjukkan defleksi tidak mempengaruhi keseimbangan. z l maka y 0 maka. C1 sin (kl) 0 C1 (7.3 Latihan Soal dan Pembahasan a. Sedangkan koeseimbangan pada adalah kondisi netral. (7. Dr.10b) (7. rigiditas lentur EI dan panjang batang l sebagai berikut. i. z 0 maka y 0 maka. Latihan 1.10a) n2 2 l2 P EI 22 P n EI l2 (7. MT.9) Kondisi pertama dimana defleksi nol pada tumpuan B memperlihatkan bahwa konstanta integrasi C1 adalah nol. kedua.8b) 0 Kondisi kedua. Hitunglah rasio panjang efektif kolom dan kemudian hitung pula beban tekuk kritis kolom tersebut.10c) Beban tekuk kritis berdasarkan nilai n = 1 adalah sebagai berikut.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Persamaan kompatibilitas pada tumpuan menghasilkan hubungan sebagai berikut. kl = nπ (7. Pcr 2 EI l2 (7. kl n k2 (7.

12a) (7.14b) 100 . z 0 maka y 0 maka. Maka.14a) P dy dz 0 maka.13a) P dimana. z 0 maka (7. C R.y + R ( l – z ) M d2y (7. ST.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Gambar 7. MT. C2k R C2 R Pk P 0 Dr.12c adalah persamaan homogen linier dengan koefisien yang konstan. M (z) = -P.12b) dz2 EI d 2 y P y R (l z) (7.sin (kz) 2 R (l z) (7.6 Kolom dengan model tumpuan jepit beban dan jepit-sendi.cos (kz) C 1 .l 1 ii. y C . Yosafat Aji Pranata. i.13b) EI Persamaan kompatibilitas pada tumpuan menghasilkan hubungan sebagai berikut. Penyelesaian sebagai berikut. (7.. k2 P (7.12c) EI dz2 EI Persamaan 7.

Penyelesaian sebagai berikut: Konfigurasi struktur yang mengalami deformasi dapat dilihat pada Gambar 7.4.18) Dengan menggunakan anggapan bahwa deformasi aksial yang terjadi sangat kecil.6992 atau ≈ 0. P EI.17) Atau dengan kata lain faktor ke = 0. Nilai minimum kl adalah 4. maka rotasinya timbul akan kecil juga. Latihan 2.14c) R=0 (7.l EI 0. ST. b.16a) l . maka momen lentur dihitung dengan persamaan. 4934092 l2 2 2 EI 2 4. sin (kl) (7. Hitunglah rasio panjang efektif kolom dan beban tekuk kritis kolom.cos (kl) 0 k P Kondisi pertama.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS iii. R sin (kl) l . Yosafat Aji Pranata..493409. M = P.15) Kondisi kedua. (7. (7.18 didapat. atau y(z) = 0. apabila model tumpuan pada masing-masing ujungnya adalah Jepit-Bebas.19a) 101 .k 2 cr EI . Dengan menggunakan Persamaan 7. Kondisi kedua dimana kl = tan (kl) lebih tepat dan dapat digunakan untuk menentukan beban kritis.7.7.(δ .6992. 493409 . MT.cos (kl) 0 k kl tan (kl) (7. Parameter δ adalah menunjukkan deformasi pada bagian ujung bebas. M EI d2y dz2 Dr.y) (7.l 2 (7. z l maka y 0 maka.16b) Kemungkinan pertama bahwa R = 0 berdasarkan pertimbangan bahwa keseimbangan terjadi tanpa terjadi tekuk. karena kondisi ini memperhitungkan konfigurasi defleksi yang terjadi.

Yosafat Aji Pranata. Maka.sin (kz ) C 2 .19b) (7. z 0 maka C1 dy 0 maka. y C1 . (7.20) k2 (7.22b) 102 .17c adalah persamaan homogen linier dengan koefisien yang konstan. (7. P EI Persamaan kompatibilitas pada tumpuan menghasilkan hubungan sebagai berikut. Kondisi pertama. z 0 maka y 0 maka. Persamaan 7.21) dimana. P.19c) 2 P P y d y EI E I dz2 (7. dz 0 Dr. i.19c) Gambar 7..7 Kolom dengan model tumpuan jepit-bebas (kantilever). ST.cos (kz) (7. y EI P EI d 2 P y EI y dz2 d2y 0 dz2 (7. MT.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS maka.22a) C2 ii.

7. Maka solusi trivial yang mungkin terjadi adalah sebagai berikut.4 Referensi 1. Da Silva. dimana z = l nilai y = δ.24c) Nilai δ tidak mungkin sama dengan nol.23b) Diujung atas kolom. Dr.D.25b) Beban tekuk kritis terjadi pada n = 1. Netherlands. Pcr 2 EI 4L2 (7. karena sama dengan tidak terjadi tekuk. 2.0.l cos P EI .. Prentice Hall. Springer-Verlag Berlin Heidelberg.23a) P y1 cos EI z (7. A. Latihan 3. Yosafat Aji Pranata.l 0 (7.l 2 (7.24a) (7. (2006). V. Hitunglah rasio panjang efektif kolom dan beban tekuk kritis kolom. c.26) Maka rasio panjang efektif kolom ke = 2. P 1 cos EI . Mechanics and Strength of Materials.l 0 (7. cos P . 103 . 1974.l (7. Chajes. y1 cos kz (7.24b) P cos EI .25a) EI P n EI .Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS Persamaan kurva defleksi sebagai berikut. ST. maka. MT. maka. apabila model tumpuan pada masing-masing ujungnya adalah Jepit-Jepit. Principles of Structural Stability Theory. Inc.

com. Gere. 8. Lee. Statics and Mechanics of Materials. C. url: http://www. Brooks/Cole. Kumar.. (2001). Mechanics of Materials.M. R. Lee. 6.S. Lwin.. MT. 1985. Prentice-Hall. 104 . Singapore. ST. 4. Thomson Learning.C.Mekanika Bahan ( SSI 221 ) – 3 SKS 3. (2004). Inc.. The McGraw-Hill Civil Engineering PE Exam Depth Guide.J. Inc.arch.. M. McGraw-Hill Companies. Stability Theory of Structures. J. Tata McGraw-Hill. Hibbeler.edu. Yosafat Aji Pranata. J. (2001).M.virginia.wikipedia. A. Dr. url: http://www. 5. 7.

1974. 18. diakses tanggal 12 Mei 2012. url: http://www.J. Brooks/Cole. Ravi. Y. Pranata. Prentice Hall. USA. 1985. Chajes. 105 . url: http://cereview. (2001). Mechanics and Strength of Materials. Beer. Tata McGraw-Hill. Universitas Udayana. A. 6. url: http://mathalino. 17. J. 26-27 Juli 2006.info/book/theory-structures.wikipedia. 9. VTU – EDUSAT Programme. Statics and Mechanics of Materials.org.R.P. diakses tanggal 12 Mei 2012. Netherlands. Johnston... McGraw-Hill Companies.. (2004). Mechanics of Materials. The National Institute of Engineering. 4.S. Singapore. J. C. Tutorials. G. Lee. 2. R. Negi. Prentice-Hall.edu. Tata McGraw-Hill. M. Bali. Structural and Stress Analysis: Theories.M. diakses tanggal 12 Mei 2012.W. Stability Theory of Structures.com. Ye. Hibbeler. Gere. Lwin. E. Inc. Springer-Verlag Berlin Heidelberg. 16. dan Konstruksi Baja. Pengajaran Matakuliah Mekanika Bahan. Strength of Materials. (2010). Inc. 11..virginia. Mysore. and Examples.C. url: http://www. Rees. (2006). Taylor and Francis Group.S. url: http://en. Lokakarya Pengajaran Mekanika Teknik. V.Daftar Pustaka 1.A. 7. 5. (2005). Mechanics of Solids and Structures. 2000. Imperial College Press.D. Konstruksi Beton. Structural Analysis. (2001). Thomson Learning.M. New York. 8. A. 10. Principles of Structural Stability Theory. Mechanics of Materials.com. McGraw-Hills. Lee. Kumar. 3. F. (2006). S.arch. The McGraw-Hill Civil Engineering PE Exam Depth Guide. 12. J. Darmawan. 15.A. 14. (2008). Inc. Dokumentasi Pribadi Foto-foto Pengujian Material Kayu dan Baut. 13. L. Da Silva. D.wikipedia. (2008).

Universitas Kristen Maranatha. Program Magister Teknik Sipil. 106 . Bandung. Penyusun kemudian melanjutkan pendidikan S3 (Doktor) pada Program Doktor Ilmu Teknik Sipil. dan Tugas Akhir (Skripsi). Universitas Katolik Parahyangan pada tahun 2007-2011. Metode Elemen Hingga. pada tanggal 16 September 1978. dengan bidang konsentrasi Teknik Struktur. Struktur Kayu. Jawa Tengah. Universitas Katolik Parahyangan pada tahun 2003-2005. Kemudian sejak tahun 2005 sampai sekarang menjadi dosen biasa di Institusi yang sama. Kerja Praktek. Program Pascasarjana. Memulai karir di bidang pendidikan sebagai dosen luar biasa pada Jurusan Teknik Sipil. juga dengan bidang konsentrasi Teknik Struktur. Universitas Kristen Maranatha. Kemudian menempuh pendidikan S2 (Magister Teknik) di Program Pascasarjana. yaitu antara lain Analisis Struktur. sejak tahun 2003 sampai 2005. Universitas Atma Jaya Yogyakarta. pada tahun 19972001. Fakultas Teknik. Matakuliah yang diajarkan di Jurusan Teknik Sipil. Fakultas Teknik. Penyusun menempuh pendidikan S1 (Sarjana Teknik) di Program Studi Teknik Sipil. dengan bidang konsentrasi Teknik Struktur.Riwayat Hidup Penyusun lahir di Sukoharjo. Fakultas Teknik. Rekayasa Gempa.