You are on page 1of 15

kesalahan diagnosis

Home

Kesalahan Diagnosis
Diterjemahkan oleh :
Stephany Natalia
17120040005

BAB III : KESALAHAN DIAGNOSIS
Kesalahan diagnosis adalah penyebab terbesar dari semua tuntutan malpraktek. Namun dapat
pula terjadi diagnosis dari dokter benar namun perawatannya tidak adekuat. Kesalahan
diagnosis adalah kegagalan dokter menemukan penyakit pasien atau dokter mendiagnosis
pasien dengan penyakit yang tidak pernah dimiliki pasien. Perawatan standar yang diperlukan
dalam menegakkan diagnosis adalah keterampilan, pengetahuan, dan perawatan yang
digunakan oleh dokter.
Pada banyak bidang medis, diagnosis tidak dapat dibuat berdasarkan hitungan
matematika yang pasti. Pertanggungjawaban dokter biasanya berkisar seputar apakah dokter
tersebut telah melakukan pemeriksaan serta pemeriksaan penunjang dengan benar atau tidak,
bila dokter tersebut melakukan semuanya dengan benar, maka dia memiliki pertahanan yang
bagus untuk melawan semua tuntutan hukum.

Informasi yang Kurang Lengkap dari Pasien
Dokter tidak akan mendiagnosa suatu penyakit tanpa alasan yang jelas. Bila pasien
atau keluarga pasien tidak bisa atau tidak ingin memberikan informasi yang dapat menunjang
diagnosa dokter, maka bila dokter tersebut membuat kesalahan, dokter tersebut tidak akan
bertanggung jawab. Karena dokter tidak sama dengan peramal atau orang yang dapat
membaca pikiran orang lain.
Seorang anak kecil meminum aspirin. Ayahnya membawa anak tersebut ke IGD, dan
memberitahu orang-orang yang ada di IGD bahwa anaknya telah meminum aspirin. Semua orang
menasehati si ayah agar memberitahu dokter jaganya mengenai hal tersebut. Ayahnya sama sekali
tidak memberitahu pihak RS, diagnosa dari RS adalah bahwa anak tersebut terserang flu. Sesaat
kemudian anak itu meninggal dan orangtuanya menuntut. Pengadilan menyatakan bahwa si ayahlah

Dokter biasanya memiliki hak untuk mengasumsikan bahwa pasien mengatakan yang sebenarnya. Bila seorang wanita menyangkal memiliki riwayat hubungan seksual. walaupun sudah ditanyakan. biasanya terjadi kegagalan dalam mendiagnosa karena si dokter tidak memperhatikan keadaan penyakit yang ada sekarang. bila seorang dokter memiliki pasien yang telah dilihat oleh dokter lain.yang diduga keras menyebabkan kesalahan diagnosis terjadi. maka dokter harus bertanggung jawab bila terjadi reaksi yang tidak diinginkan. Lebih jauh. Dokter yang menerima di RS kedua. namun juga supaya si dokter mengetahui apakah pasien memiliki alergi pada obat yang akan diberikan atau tidak. Bila pasien yang memiliki alergi diberikan pengobatan. Pada keadaan lain. Pengadilan menyatakan bahwa dokter di RS kedua. maka dokter tersebut akan bertanggung jawab penuh bila terjadi penuntutan. Namun bila pasien menyangkal pernah memiliki reaksi alergi sebelumnya. telah lalai membaca status kesehatan si pasien yang telah diberikan. dan dokter tersebut mengetahui bahwa diagnosa awal tersebut diberikan oleh seorang dokter juga. karena si dokter tidak mengetahui apa yang si ayah tidak pernah katakan. Karena tidak ada ranjang yang tersedia. namun dia meninggal karena peritonitis. Informasi ini tidak hanya untuk menegakkan diagnosa. maka RS tersebut mengirimkan si pasien ke RS lain dengan status kesehatan si pasien yang berisi diagnosa pasien tersebut. Seorang dokter. seperti alergi-alergi yang dimiliki pasien. dimana pasien tidak sadar. Pemeriksaan yang Cermat dan Tepat . atau menanyakan kepada pasien mengenai penyakitnya ataupun diagnosanya. maka si dokter tidak selalu bertanggung jawab. maka si dokter tidak bertanggung jawab bila dia tidak segera mendiagnosa bahwa si pasien hamil. dokter tidak akan menunggu hingga pasien dapat memberitahu apakah dia memiliki alergi atau tidak. tidak hanya mendengarkan pernyataan pasien. Si pasien kemudian dibawa ke RS ketiga dan apendiksnya yang ruptur diangkat. tidak membaca statusnya. Pada keadaan darurat. namun juga menanyakan informasi yang mungkin tidak diberitahukan pasien. dokter ini menganjurkan enema dan memulangkan pasien. namun pada keadaan ini dokter tidak bertanggung jawab bila terjadi tuntutan karena keadaan darurat tersebut. harus melakukan anamnesa untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. maka dia harus sangat hati-hati sebelum dia menyingkirkan diagnosa dari dokter yang awal tersebut. Pada sebuah RS. bila terjadi reaksi alergi. seorang pasien didiagnosa memiliki apendisitis.

Otopsi menemukan bahwa tidak terdapat kandungan alkohol dalam darah pria tersebut. Seorang polisi menahan dia karena mabuk. contohnya bila dokter melihat anak tetangga jatuh dari pohon dan mendapat luka yang serius di kepala dan memperhatikan cidera kepalanya saja. Beberapa jam kemudian. si anak telah mendapat perdarahan otak. Si anak kemudian sadar dan minum air bersoda. Dia mendapat kejang otot dan si terdakwa di panggil.Salah satu penyebab yang sering terjadi dari kesalahan diagnosis adalah dokter tidak melakukan pemeriksaan secara lengkap dan cermat. usia 7 tahun. Beberapa jam kemudian. Dokter. bahwa anaknya dalam keadaan koma diabetikus. ibunya menemukan bahwa urin si anak mengandung glukosa dalam batas normal. dan mengatakan kepada si polisi bahwa pria itu mabuk. Seorang pasien adalah wanita hamil. pengadilan tidak akan mengharapkan dokter melakukan perawatan sama seperti yang dapat dia berikan di RS. dokternya meminta si suami untuk tidak mengganggunya. dia pusing setiap kali turun dari tempat tidur. ibunya menemukan si anak tidak sadar dan berkeringat dingin. Bila dokter mencoba memberi perawatan gawat darurat di luar RS. Pengadilan menyatakan bahwa pemeriksaan hanya dilakukan sambil lalu. Seorang anak laki-laki. kemudian dia memberikan suntikan penisilin. Bila ketidakcermatan ini menyebabkan kerugian pasien maka dokter akan bertanggungjawab. Sebelum masuk RS. Suaminya memanggil si dokter kembali. Beberapa jam kemudian. tidak akan ada pengadilan yang akan menyalahkan si dokter karena tidak menyadari bahwa lengan si anak juga mengalami patah tulang. dipanggil. Dia mengeluhkan sakit perut yang akut. Pria itu meninggal beberapa jam kemudian. Dokter tersebut tidak melakukan tes dan hanya memeriksa si anak dalam beberapa menit. melihat si anak. dan mengatakan kepada si ibu. terdakwa. Ketiga kalinya si suami memanggil si dokter. Dia melihat pria itu dua kali. anak itu dilarikan ke RS dan diketahui dia dalam keadaan syok karena insulin. dan si dokter harus bertanggung jawab. Seorang pria tiba-tiba sakit saat mengendarai mobilnya. Pengadilan menyatakan si dokter bertanggung jawab karena lalai dalam memeriksa si pasien dengan cermat dan tepat untuk menegakkan diagnosa yang dia buat. si ibu segera melarikan anaknya ke dokter. pasien meninggal dalam perjalanan ke RS. dan diberitahu supaya memberinya aspirin. Istrinya mengalami perdarahan karena rupturnya tuba uterin. dan dia meninggal karena penyumbatan koroner. saat si suami membawa istrinya ke IGD. Setahun setelah diketahui dia menderita diabetes. mengecek nadinya. . pernah menderita diabetes. 5 menit setiap kalinya. Hasilnya adalah kerusakan otak yang permanen dan berat. Dokternya. keadaan si pasien bertambah buruk. Pengadilan memutuskan bahwa si dokter telah lalai untuk melakukan pemeriksaan yang cermat dan tepat dan melakukan tes urin. Dua jam kemudian. dan turun dari mobil untuk muntah.

tes kehamilan merupakan contoh penting dimana bila tidak dilakukan. si dokter tidak akan dipersalahkan karena bergantung pada hasil dari tes kehamilannya. ditemukan bahwa wanita ini ternyata hamil. dokter mendiagnosa bahwa si wanita hamil. Pemeriksaan seperti Xray. Saat operasi dimulai. wanita-wanita diberitahu bahwa mereka hamil. Seorang wanita yang belum menikah memiliki tumor fibroid. dia tidak akan dinyatakan lalai bila segera melakukan operasi tanpa menunggu hasil tes kehamilan. Harus dicatat bahwa kehamilan ektopik adalah keadaan medis yang gawat. walaupun nantinya diagnosa kehamilan ektopik tersebut salah. memiliki gejala tumor fibroid.Penggunaan Tes Penunjang Diagnosis yang Tepat Pemeriksaan penunjang secara umum wajib dilakukan. . Pada beberapa kondisi dokter atau ahli bedah harus memastikan apakah seorang wanita sedang hamil atau tidak sebelum melakukan tindakan operasi atau memulai perawatan untuk kondisi yang tidak berhubungan. Bila terjadi negatif palsu. pada beberapa kasus lain. padahal kenyataannya mereka memiliki masalah medis yang lain. Pengadilan menyatakan bahwa si dokter telah menggunakan metode tes yang tersedia untuk mendiagnosa. Dua tes kehamilan yang berbeda telah diberikan. Tidak dilakukan tes kehamilan. telah menikah. Pengadilan menyatakan bahwa telah terjadi kelalaian dalam diagnosa. Banyak kasus terjadinya kehamilan yang tidak terdiagnosa. 32 tahun. biopsi. Dokter tersebut tidak hanya mengatakan kepada si wanita. Maka dokter tersebut akan bertanggung jawab atas kelalaian dalam mendoagnosa dan menyebarkan informasi rahasia. Saat insisi dibuat untuk tindakan histerektomi. ahli bedah menemukan bahwa dia hamil dan mengakhiri operasi. Biasanya kelalaian dalam melakukan tes standar untuk mengkonfirmasi adanya kehamilan atau tidak terjadi karena kurang cermatnya pemeriksaan. Tanpa menggunakan tes apapun. dan keduanya negatif. dapat menyebabkan kelalaian yang berakibat fatal. Ketika kebanyakan kasus adalah gagalnya dokter untuk menegakkan kehamilan. namun juga kepada keluarga si wanita. Pada kasus di atas dokter maupun ahli bedah akan bertanggung jawab penuh bila dia tidak melakukan tes-tes standar dalam mengevaluasi kondisi pasien. Seorang wanita didiagnosa memiliki tumor fibroid. karena itu dokter itu tidak dinyatakan lalai dalam membuat diagnosanya. Bila dokter mencurigai adanya kehamilan ektopik. Seorang wanita.

Pada saat itu ditemukan bahwa si pasien menderita osteomielitis. Dia terjatuh dari tempat tidur dan menyebabkan patah pada tulang panggulnya. namun tidak mencapai lokasi fraktur. Kegagalan dalam melakukan pemeriksaan penunjang X-ray. sehingga dokternya tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang salah yang lainnya pada pasien ini. namun tidak mengetahuinya. maka sebaiknya tidak dilakukan X-ray. Dokter bedah saraf dan bedah bedah tulang bersama dokternya mendiagnosa siatika. Kasus patah tulang panggul dan tungkai penyebab paling banyak dari tuntutan tidak dilakukannya foto X-ray sehingga menyebabkan komplikasi lain. Pasien kemudian menuntut karena tidak dilakukannya foto X-ray saat dia datang pertama kalinya ke dokternya. karena perawatannya akan berbeda dan non bedah bila dokternya mengetahui kehamila pasiennya. Pengadilan menyatakan telah terjadi kelalaian karena melakukan operasi tanpa melakukan tes kehamilan. Kelalaian dalam melakukan foto X-ray pada pasien yang telah lanjut usia yang dicurigai terdapat fraktur tulang panggul . Dokter lain mendiagnosis keduanya keesokan harinya. Tidak ada foto X-ray yang diambil dan terdakwa tidak menyadari bahwa pasien memiliki patah tulang dada dan kebocoran pada paru-parunya. Seorang pasien yang telah lanjut usia. Gejala yang dialami pasien. maka dokter bedah akan melakukan tindakan bedah tanpa menunggu hasil dari tes kehamilan. namun pengadilan memutuskan bahwa saat itu kondisi pasien mendukung tidak dilakukannya foto X-ray. Beberapa minggu kemudian. sama seperti penyakit terdahulunya. dapat menyebabkan kegagalan diagnosa dari kondisi pasien. Dia juga hamil. Seorang pasien mengalami kecelakaan lalu lintas. Tapi dalam keadaan gawat darurat seperti pasien yang dicurigai apendisitis. Seorang pasien mengeluhkan adanya sakit pada punggung. dia mengalami patah tulang tungkai. dalam pemulihan penyakit strokenya. namun tidak membuktikan adanya kerugian karena penundaan waktu pembuatan diagnosa yang pendek. Operasi harus segera dilakukan. Tidak ada tes kehamilan dan terjadi keguguran karena operasi tersebut. Masalah ini tidak terdiagnosa untuk beberapa waktu. Bila gejala-gejala yang ada pada pasien tidak merujuk pada penggunaan X-ray. terlihat bahwa dokter tidak bertanggung jawab atas kelalaian memutuskan dilakukannya foto X-ray pada keadaan yang tidak mendukung dilakukannya foto X-ray. Pasien membuktikan adanya kelalaian dalam membuat diagnosa. Foto X-ray telah diambil. Pengadilan memutuskan bahwa tidak terjadi kelalaian dalam kasus ini. Sebaliknya penggunaan X-ray yang berlebihan akan menyebabkan bahaya tertentu. terdakwa melihat pasien ini di IGD RS.Seorang pasien memiliki penyakit empedu. Dari ketiga contoh kasus diatas.

Pengadilan memutuskan bahwa telah terjadi kelalaian dalam membuat diagnosa. Seorang pasien ditemukan tidak sadarkan diri dan hanya mengenakan pakaian dalam saja. Pada pengambilan foto X-ray dan didapatkan gambaran hasil positif adanya tuberkulosa. Empat jam kemudian. Dilakukan foto X-ray. Pengadilan memutuskan bahwa memecat dokter karena RS tidak memiliki fasilitas foto X-ray adalah kelalaian. ahli radiologi harus melaporkan kepada dokter bahwa pasiennya memiliki tuberkulosa. Seorang anak kecil terjatuh saat berjalan. Pengadilan memutuskan menyerahkan keputusan akhir pada juri. Kesimpulan ini dapat pula digunakan pada kasus-kasus yang melibatkan anak-anak. Dia dibawa ke IGD RS. Dia ditemukan terbaring di taman hotel tempat dia menginap. Penegakkan diagnosa tuberkulosis juga amat memerlukan foto X-ray. meskipun tujuan utama pengambilan foto X-ray tersebut adalah bukan untuk pemeriksaan tuberkulosa. pasien ini benar-benar mendapat tuberkulosa. Seorang pasien hidup dalam rumah dengan beberapa anggota keluarga yang memiliki penyakit tuberkulosa aktif. dokternya mengetahui hal ini. pasien ditemukan meninggal dunia di sel tersebut. Seorang anak laki-laki berusia 16 tahun. Setelah itu dokternya harus mengambil tindakan atas laporan dokter ahli radiologi tersebut. sehingga dilakukan foto X-ray. namun tidak ada seorangpun yang memperhatikan daerah belakang kepalanya yang justru adalah area dimana hantaman diterima. Dokternya tidak memeriksa tanda-tanda vital pasien dan mengatakan kepada ibu pasien untuk membawa pasien pulang ke rumah. Ahli penyakit dalam di RS tersebut mengatakan kepada polisi bahwa pasien tersebut dalam keadaan mabuk dan si pasienpun dipindahkan ke dalam penjara. ditabrak oleh truk. Pasien kemudian meninggal karena terdapat fraktur tulang kepala. Si dokter tidak memberitahu pasien keadaannya. Beberapa bulan kemudian. Pasien membuat foto X-ray dan disimpulkan pasien memiliki tuberkulosa tersembunyi. Pada banyak kasus dimana penyakit tuberkulosa tidak dapat ditemukan biasanya karena ketidakmampuan atau kesalahan dalam membaca hasil foto X-ray. Dia mengeluhkan sakit pada lututnya. Pemeriksaan otopsi menyatakan terdapat fraktur tulang kepala yang hebat. Dia harus memberitahu pasien bahwa dia memiliki penyakit ini .karena jatuh paling sering menyebabkan kesalahan diagnosa. Foto X-ray lebih jauh akan dapat menegakkan diagnosa terdapatnya patah tulang panggul. Pengadilan memutuskan bahwa dokter bertanggung jawab karena seharusnya pasien mendapat pengobatan segera. karena pada keadaan ini telah dilakukan tindakan pertama yaitu foto X-ray. Sumber tuntutan lain adalah kelalaian karena tidak melakukan foto X-ray pada cidera kepala. Kemudian pasien dibawa ke RS yang tidak memiliki fasilitas foto X-ray.

20 menit kemudian. Gagal untuk mendiagnosa neoplasma maligna dimana kondisi dari penyakit ini adalah mengancam jiwa pasien karena tidak dilakukannya pemeriksaan biopsi atau telah dilakukan pemeriksaan biopsi namun pembacaan hasilnya salah. Namun terdakwa tetap melanjutkan operasi dan mengangkat payudara pasien. Kemudian didapat diagnosa limfosarkoma. berdasarkan kondisi pasien. Dokter kedua memerintahkan untuk segera dilakukan pemeriksaan biopsi. Seorang pasien memiliki benjolan pada lengannya. namun tidak dilakukan. maka dia dapat dinyatakan lalai. kesalahan dalam membaca pemeriksaan biopsi dapat menyebabkan operasi serius yang tidak perlu. Pasien menuntut laboratorium tersebut. Pada kasus-kasus ini banyak terdapat kesalahan dalam mendiagnosa kanker payudara. Maka ahli bedah itu dinyatakan lalai. Terdakwa memeriksa benjolan tersebut pada bulan September 1964. namun dia menyatakan bahwa tidak diperlukan pemeriksaan biopsi. dia mengecek hasil tesnya. datang laporan segera dari ahli patologis bahwa bedah beku yang di kirim ke laboratorium adalah keganasan. setelah berobat terus-menerus ke terdakwa dalam waktu setahun. pemeriksaannya dilaporkan negatif. Saksi ahli mengindikasikan bahwa operasi dapat dihentikan begitu laporan kedua diterima. Bila dokter atau ahli bedah memutuskan. Selama operasi untuk menemukan kanker payudara seorang pasien. pasien ditemukan benjolan pada payudaranya dan lengan lainnya. seorang pasien diberitahukan bahwa dia menderita penyakit Hodgkin’s. Ternyata diagnosa laboratorium tersebut salah. Kesaksian lebih lanjut mengindikasikan bahwa bila diagnosis dibuat lebih cepat maka pengobatan kondisi ini akan jauh lebih mudah. Pasien kemudian konsultasi ke dokter lain pada bulan Desember 1965. Saksi ahli menyatakan kelalaian membuat pemeriksaan biopsi pertama kali adalah merupakan kelalaian. Pasien tersebut menderita kerugian yang sangat berat. namun pemeriksaan ulang pada slide pada biopsi pertama menunjukkan telah terjadi kesalahan pemeriksaan dan bahwa keganasan tersebut telah dapat di baca saat itu. walaupun terdakwa mengatakan bahwa saat itu operasi hampir selesai. diagnosa tersebut dikoreksi. Sebaliknya. maka keputusan jurilah yang menetukan nasib si dokter. Pemeriksaan biopsi dilakukan pada RS terdakwa pada tahun 1963. Pada tahun 1966. Tidak hanya kemudian di diagnosa memiliki keganasan. Saat dokternya melakukan pengobatan selama 10 tahun kepadanya dan menyadari bahwa pasiennya merasa baik-baik saja dan tidak menunjukkan gejala lebih lanjut. bahwa tidak ada keganasan. namun . Berdasarkan laporan laboratorium. bahwa pemeriksaan biopsi diperlukan. Seorang pasien memiliki benjolan pada lehernya.dan menganjurkan untuk dilakukan tes lebih lanjut yang akan menguatkan atau melumpuhkan opini dokter radiologi tersebut.

memiliki 2 balita. Bila opininya salah dan bahwa tindakan operasi yang dilakukan tidak diperlukan. Saksi ahli mengindikasikan bahwa ibu dengan riwayat diabetes memiliki resiko memiliki bayi yang sangat besar. Dokternya berkata akan dia akan menghubungi dokter spesialis obsgyn untuk memimpin proses persalinan si pasien. Terdakwa harusnya telah mewaspadai hal ini dan mengindikasikan operasi sesar bila memang diperlukan. Bila kondisi pasien cukup serius. Dokter yang merawat perinatal pasien dikatakan telah lalai dan bertanggung jawab penuh atas terjadinya kerugian pada pasien dan bayinya. Pada kehamilan selanjutnya dia mengatakan kepada dokternya bahwa dia ingin dilakukan operasi sesar dan dokternya setuju. dokter tersebut akan dikatakan lalai. Seorang wanita memiliki riwayat penyakit diabetes. Dia menghubungi dokter obsgyn tersebut.pengadilan menyatakan bahwa kasus tersebut telah mat Seorang dokter juga akan dikatakan lalai bila dia melakukan tindakan operasi untuk pasien yang diduga memiliki keganasan namun tidak melakukan permintaan pemeriksaan biopsi. Prinsip kelalaian yang sama akan diaplikasikan pada kesalahan diagnosa yang mencegah dilakukannya operasi darurat. Tidak dilakukannya elektrokardiogram biasanya dikatakan bukan suatu kelalaian seperti bila tidak dilakukannya pengambilan foto X-ray pada pasien yang dicurigai . kesalahan diagnosa yang menyebabkan tidak dilakukannya operasi yang diperlukan juga akan dikatakan telah melakukan kelalaian. Seorang pasien pada pertengahan 30. Pada beberapa keadaan tindakan operasi dibutuhkan untuk membuat diagnosa yang tepat dari pasien. Bayinya yang amat besar. maka dokter akan lebih memilih dikatakan telah lalai karena tidak melakukan tes yang cukup berbahaya daripada membuat kondisi pasien tersebut lebih mengancam jiwa lagi. Si pasien kemudian menuntut si dokter. Bayinya kemudian lahir mati setelah setelah waktu persalinan yang sangat memanjang. Contohnya. terdapat beberapa kasus yang telah gagal memastikan perlunya dilakukan tindakan operasi sesar. namun dia tidak mengatakan bahwa menurutnya pasien ini mengindikasikan dilakukannya operasi sesar. Contohnya. Saksi ahli mengindikasikan bahwa bayi itu akan lahir hidup bila dilakukan operasi sesar. namun kemudian diketahui pasien dan bayinya menderita kerugian karena keputusan tersebut. Pada situasi gawat darurat. meninggal dalam persalinan. kecuali bila keadaannya gawat darurat. kegagalan dalam mendiagnosa apendisitis dapat dikatakan lalai bila standar pemeriksaan untuk apendisitis tidak dilakukan diikuti dengan terjadinya ruptur dan peritonitis. Namun dokter tidak akan dapat diminta bertanggung jawab bila terjadi kesalahan dalam mendiagnosa apendisitis bila tes standar telah dilakukan dan didapatkan hasil normal dari tes-tes tersebut.

Saat si bayi lahir. Pengadilan memutuskan bahwa si dokter telah lalai dalam mendiagnosa diabetes. Saksi ahli mengatakan bahwa seharusnya tes darah dan urin tersebut dilakukan segera setelah pasien masuk ke RS. Anak tersebut kemudian meninggal dan diketahui bahwa dia telah meninggal karena diabetes yang tidak terdiagnosa. namun si dokter tidak melakukan visite ke pasien dalam 20 jam. Tes urin rutin telah dilakukan. laporan tes urin pasien mengindikasikan adanya diabetes. namun tidak dilakukan pemeriksaan elektrokardiogram dapat dikatakan suatu kelalaian bila telah ada gejala objektif dari penyakit jantung pada pasien. Saat hasil otopsi keluar ternyata penyebab kematiannya adalah diabetik asidosis berat. Beberapa bulan kemudian baru diketahui oleh orang tuanya bahwa bayi mereka memiliki cacat otak. Setelahnya si pasien mengalami stroke beberapa kali. bahwa tidak terdapat glukosa pada urin anak tersebut. Karena hasil tes tersebut. dan kegagalan dalam melihat diabetesnya adalah penyebab utama kematian si pasien. Seorang anak perempuan berusia 13 tahun masuk ke RS dan dalam pengawasan terdakwa. kemudian dilarikan ke RS. Seorang dokter mengawasi bayi yang baru lahir. karena pemeriksaan tes-tes ini diketahui secara umum di seluruh bagian negara tersebut. dokter biasanya melakukan kelalaian dalam kasus penyakit diabetes. si dokter mengobati pasien dengan diagnosa anoreksia nervosa. Beberapa bulan kemudian. Dia mengetahui bahwa si ibu memiliki Rh (-) dan si ayah memiliki Rh (+). sangat simpel dan akurat. dia mengalami jaundice dan dilakukan tes. Saat akhirnya si dokter memerintahkan agar melakukan tes urin dan tes darah. yang akan dengan mudah ditemukan bila tes-tes umum tersebut dilakukan. Dokter yang tidak melakukan tes laboratorium umum dalam mendiagnosa kondisi pasien juga dapat dikatakan lalai dan harus bertanggung jawab. pasiennya telah dalam kondisi sakit berat dan meninggal kemudian. namun dia lalai melakukannya. Hasil dari tes . namun tidak terbukti adanya hubungan antara kelalaian dalam mengobati penyakit diabetes pasien dengan terjadinya stroke. Pengadilan memutuskan bahwa ahli pediatrik tersebut telah melakukan kelalaian.mengalami patah tulang. namun si dokter tidak membaca laporan tes urin tersebut. Seorang pasien didiagnosa memiliki penyakit flu. Dokternya merujuk si pasien agar masuk RS. dan diabetesnya ditegakkan. Pada kasus lain. Seorang bayi memiliki kerusakan otak. Kesalahan interpretasi dalam membaca hasil tes laboratorium dapat menjadi pertanggung jawaban dokter utamanya. Namun bila telah diketahui bahwa si pasien memiliki cacat jantung. namun terjadi kesalahan interpretasi dalam laporan tes. Seorang ahli pediatrik tidak melakukan tes-tes umum pada bayi yang baru lahir. Setelah pemeriksaan fisik rutin. pasien tidak sadarkan diri.

gejala kerusakan otak yang ireversibel menjadi jelas. Bila ada keterlambatan dalam mengirimkan laporan laboratorium kepada dokter yang menangani atau dokter yang merawat tidak pernah menerima hasil tes sama sekali dan menyebabkan kerugian pada pasien. Terdakwa seharusnya mengirimkan slide biopsi tersebut ke laboratorium lain dimana seorang ahli patologi keganasan akan membaca slide tersebut. Seorang dokter melakukan pemeriksaan biopsi kepada seorang anak. Juga akan dikatakan lalai bila dokter yang membuat laporan laboratorium ataupun petugas RS tidak mengirimkan hasil laporan tersebut dengan cepat dan tepat kepada dokter yang menangani. dan karena itu dokter ahli radiologi tersebut dikatakan telah lalai. Bila gejala onjektif pada pasien mengindikasikan adanya kemungkinan hasil tes laboratorium yang salah.tersebut bahwa si bayi tidak memiliki kelainan dan ternyata salah. Bayangan tersebut ada di ginjal kanan. maka RS dan dokter yang memegang laboratorium harus bertanggung jawab. bila dilakukan diagnosa awal dari batu ginjalnya. Seorang ahli radiologi tidak melaporkan adanya bayangan dalam foto X-ray yang mengindikasikan adanya batu ginjal. Beberapa bulan kemudian pasien menemukan adanya batu ginjal yang telah diangkat. maka RS dan dokter laboratoriumnya tidak diragukan lagi harus bertanggung jawab. Saksi ahli mengatakan berdasarkan pengetahuan dasar si dokter harusnya telah mengetahui riwayat golongan darah si anak. Menurutnya. harusnya dia mengetahui bahwa hasil tes tersebut salah. Dokternya tidak meminta tes ulang. Foto X-ray tersebut dilakukan pasien mengeluhkan adanya sakit pada punggung dan pada leher belakangnya. setelah si . Beberapa tahun kemudian seluruh ginjalnya harus diangkat. Seminggu kemudian. Diagnosa dan opini dari hasil biopsi tersebut amat beragam dari beberapa ahli patologi yang melihat. Namun slide tersebut tidak dikirimkan sampai sebulan kemudian. Pasien menuntut RS yang telah mempekerjakan dokter radiologi tersebut. Sedangkan dokter yang merawat tidak akan dinyatakan bersalah. namun ternyata salah. Dalam penyelidikan lebih lanjut maka dinyatakan bahwa si dokter bersalah. dan dengan gejala yang ada pada si anak. Kelalaian juga dapat ditegakkan bila hasil laporan laboratorium yang salah mengindikasikan adanya penyakit berbahaya padahal tidak pernah ada. dokter yang tidak menyelidiki lebih jauh akan bertanggung jawab penuh atas kesalahan ini. Namun bila hasil dari tesnya sesuai dengan kondisi pasien. tes hemoglobin yang baru atau tes Vandenburg. maka akan mencegah diangkatnya ginjalnya. dan foto X-ray tersebut dilakukan atas indikasi dua keluhan tadi. namun ahli radiologi tersebut tidak melaporkan karena bukan informasi yang diminta oleh dokter yang merawat si pasien. Pengadilan memutuskan kegagalan dalam memberikan informasi tentang bayangan tersebut telah memperburuk penyakit ginjal si pasien.

dia dirawat oleh dokter keluarga setelah dokter keluarga itu berdiskusi dengan terdakwa. Setahun kemudian dalam pemeriksaan rutin kantor. bukan hanya ilmu pengetahuan pasti. pengobatan yang diberikan mungkin saja cocok untuk penyakitnya. harus ditegaskan bahwa kesalahan diagnosa tersebut telah menyebabkan kerugian pada pasien. namun juga kesalahan diagnosa tersebut telah menyebabkan kerugian pada pasien. Bahkan meskipun diagnosa si dokter salah. Seorang pekerja mengalami kecelakaan kerja pada kakinya. Lututnya mengalami deformitas yang permanen dan terdakwa dinyatakan bertanggung jawab karena lalai dalam mengoreksi diagnosa awalnya. dan bahwa ternyata terdapat patah tulang pada lututnya. pengadilan memutuskan telah terjadi kelalaian dalam mengirimkan slide tersebut. kemudian keluhan tersebut hilang. hanya luka saja. Jadi bila pengobatan telah menyebabkan kesembuhan bagi pasien. pasien tidak dapat menuntut si dokter. Perkiraan Penyebab Sebelum seorang dokter dapat dinyatakan bertanggung jawab untuk kesalahan diagnosa yang terjadi.ibu dari anak tersebut memastikan pengiriman slide biopsi tersebut. meskipun diagnosa si dokter salah. tidak boleh juga terjadi kesembuhan pada penyakit. Karena si pasien tidak hanya harus membuktikan bahwa dokter tersebut telah melakukan kesalahan diagnosa.Tidak lama kemudian si anak meninggal. meskipun telah diobati. namun dokternya tidak dapat dinyatakan . Singkatnya. dan mereka pun menyadari bahwa tidak mungkin membuat diagnosa dengan begitu banyak macam penyakit dengan ketepatan 100%. Saat pasien keluar dari RS dan pulang ke rumah. Setelah itu ahli radiologinya memanggil terdakwa dan mengatakan bahwa dia telah membuat kesalahan dalam membaca foto X-ray si pasien. Terdakwa merawat si pasien berdasarkan laporan radiologi bahwa lutut pasien tidak ada patah tulang. Pengadilan pun menyadari bahwa kedokteran adalah ilmu dengan seni. pada pemeriksaan X-ray yang baru ditemukan adanya tulang patah yang telah menyembuh. Dia didiagnosa bahwa terjadi penjepitan pada sarafnya dan diobati. Saat dalam liburan seorang wanita mengalami perlukaan pada lututnya. Pasien tersebut menuntut si dokter. Peraturan umumnya adalah dokter tidak dinyatakan lalai untuk kesalahan penilaian dalam membuat diagnosa selama dia mengerti dan melakukan pengobatan dan perawatan standar. seorang dokter tidak akan dikatakan lalai hanya karena dia tidak membuat diagnosa yang benar mengenai luka atau penyakit pasien. Terdakwa melakukan pemeriksaan foto X-ray dan diberitahukan bahwa tidak ada patah tulang terjadi. Informasi ini tidak disampaikan oleh terdakwa kepada dokter keluarga pasien.

dan biasanya pada kasus-kasus seperti ini kerugian yang diderita pasien tidak sulit untuk dibuktikan. Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun. Saksi ahli mengatakan bahwa bila diagnosa yang tepat ditegakkan maka akan dapat mengatasi kebutaan si anak. Harus diingat pula bila dokter menyarankan atau ahli bedah melakukan operasi dan kemudian diketahui operasi tersebut tidak perlu dilakukan maka kedua dokter di atas akan dikatakan lalai dan harus bertanggung jawab atas kerugian yang didapat pasien. Mendiagnosa Penyakit yang Tidak Pernah Ada Pembahasan pada bab ini adalah mengenai kegagalan seorang dokter dalam menemukan penyakit sebenarnya. dan bahwa dokter umum tersebut seharusnya menyadari adanya tanda-tanda tekanan intra kranial yang meningkat pada si anak. Maka dokter tersebut tidak dapat dikatakan lalai. Anak itu muntah-muntah selama beberapa hari dan ada gangguan pada matanya. Saksi ahli mengatakan bahwa pengobatan yang diberikan sama baiknya untuk patah tulang dan untuk penjepitan saraf. Karena si anak tidak juga membaik.lalai. ibunya membawa dia ke ahli pediatrik lain yang langsung mendiagnosa si anak memiliki subdural hematom. maka pasien akan semakin mengalami kerugian. Bila seorang dokter telah melakukan perawatan standar seperti yang diharuskan. hal ini dapat terjadi karena dia berfikir tidak ada yang salah . Dilakukan operasi untuk mengatasi perdarahan subdural tersebut. Ibu si anak bertanya terus namun si dokter tetap meyakinkan si ibu bahwa tidak ada yang salah dengan anaknya. dan kemudian terjadi kerugian pada pasien. Dokter umum yang merawatnya mengatakan kepada ibunya bahwa anak itu terkena virus. maka dokter tersebut juga tidak akan dikatakan lalai. Bila terjadi kesalahan diagnosa maka pasien harus menunjukkan kepada pengadilan bahwa dia seharusnya dapat sembuh lebih cepat dari seharusnya bila kesalahan diagnosa tidak terjadi. namun pasien atau keluarganya tidak di beri penjelasan lebih lanjut. kemudian keadaan pasien baik-baik saja. namun telah terjadi kebutaan pada matanya yang tidak dapat diperbaiki lagi. Penundaan diagnosa. Selama penundaan terjadi karena kondisi pasien mengharuskan penundaan terjadi. Tentu saja bila kesalahan diagnosa tidak diikuti dengan pengobatan yang tepat. terutama pada kasus yang membutuhkan operasi segera akan menyebabkan kondisi pasien menjadi lebih serius daripada bila diagnosa yang tepat segera ditegakkan. jatuh dari kursi yang tinggi dan kepalanya membentur lantai.

hanya 2 bekas luka kecil saja. namun menolak bila dikatakan dia telah melakukan kelalaian. Bila suatu diagnosa ditegakkan atau tindakan operasi dilakukan tanpa dilakukannya tes penunjang yang tepat. Dia juga mengatakan bahwa bantalan lemak jenis itu sangat amat jarang. Tidak ada kerugian yang diderita si anak. Ahli bedahnya setuju dengan diagnosa ahli pediatrik dan menyarankan dilakukannya operasi. Pada kedua kasus ini yang terpenting adalah perawatan yang diberikan kepada pasien sudah tepat. karena diagnosa pre operatif tersebut masuk akal dan dokter pediatriknya pun menyetujui. dia menemukan adanya pembengkakan pada satu sisi dan menduga adanya hernia. Sebaliknya dapat pula terjadi seorang dokter mengatakan kepada pasien yang sehat bahwa dia memiliki suatu penyakit.dengan pasiennya atau dia mengetahui ada suatu masalah medis dengan pasiennya namun ternyata penyakit tersebut adalah penyakit baru. Situasi ini tidak mengindikasikan kelalaian pada ahli bedah kecuali dia tidak melakukan prosedur dan tes-tes standar dalam diagnosis pre operasinya. karena dia telah menyarankan untuk menunggu dulu baru melakukan operasi. maka dokternya . kemudian diapun melakukan operasi. Seorang anak tersedak kacang dan kehilangan suaranya. namun lebih baik daripada seorang dokter gagal menegakkan diagnosa kanker tepat pada waktunya sehingga tidak dapat menyelamatkan nyawa pasien. Ahli berdah itu tidak menemukan kacangnya. Efek dari tipe kesalahan diagnosa ini biasanya tidak fatal. Dalam pengadilan ahli bedah tersebut tidak melakukan kelalaian. Walaupun mungkin akan sangat merugikan bila seorang pasien yang sehat dikatakan memiliki kanker payudara dan telah dilakukan operasi untuk pengangkatan tumor tersebut namun ternyata tidak ada kanker payudara itu. Seorang anak berusia 8 tahun diperiksa dokter pediatrik setelah kecelakaan ringan. namun bila ternyata diagnosanya benar. Ahli bedah menurut teori seharusnya bertanggung jawab bila terjadi operasi yang tidak perlu. dan faktanya pasien itu tidak memiliki penyakit itu. ahli bedah itu mengakui dia telah melakukan kesalahan dalam mendiagnosa. Karena dia dinyatakan memilki pengetahuan dan perawatan yang benar. Dia menyarankan kepada ibu si anak untuk membawa si anak ke dokter ahli bedah. Pada kasus ini pengadilan memutuskan bahwa kesalahan diagnosa itu tidak dapat dikatakan kelalaian. Pada pengadilan. dan tidak ditemukan juga. Ahli bedah itu kemudian meminta ijin kepada ibu si anak untuk melakukan pemeriksaan untuk hernia pada sisi sebelahnya. Setelah operasi dilakukan ditemukan bantalan lemak dan bukan hernia. ahli bedah dapat dikatakan tidak bersalah. dan si anak meninggal karena komplikasi operasi yang tidak dapat dihindari. Pada pemeriksaan tersebut. Ahli bedahnya menyarankan untuk dirawat dulu dan tunggu dulu sampai 3 hari untuk melihat apakah dapat terjadi perbaikan sendiri.

maka bila ragu-ragu operasi boleh dilakukan. Dia di diagnosa memiliki tuberkulosis. tidak masuk akal atau tidak ditemukan. Pengadilan juga mengatakan pasien dapat menuntut si dokter bila diagnosa ditegakkan tanpa melakukan pengobatan. Diagnosanya masuk akal dan meyakinkan pada saat itu. Saat melakukan pemeriksaan di tempat lain. Dengan kata lain. seorang pasien diberitahu bahwa dia terkena suatu penyakit padahal tidak dan kemudian menyebabkan gejala-gejala psikiatri karenanya dan membuat pasien menderita penyakit lain. maka tuntutan yang diajukan akan sangat berat. akan menjadi tanggung jawab ahli bedah itu. karena apendektomi itu sendiri dapat dikatakan untuk tujuan penegakkan diagnosa. Selain kanker payudara. yang menimbulkan terjadinya kesalahan diagnosa. atau bila si dokter menjatuhkan mental si pasien. dan dia sangat mengkhawatirkan hal itu. Dia mengatakan kepada si pasien agar kembali lagi minggu depan. karena itu dia ditolak masuk ke perusahaan tersebut. Sebaliknya bila terjadi apendektomi yang tidak perlu maka sangat jarang dokter itu dituntut karena sangat mustahil untuk membuat diagnosa pasti bila terdapat apendisitis dan bila terjadi penundaan pada apendisitis yang akut dan menyebabkan ruptur serta peritonitis. Pasien beranggapan bahwa . diketahui bahwa dia tidak pernah memiliki penyakit tuberkulosis. seperti histerektomi. Namun ada juga beberapa kasus dimana diagnosa apendisitis yang diikuti apendektomi adalah salah dan pasien memiliki penyakit lain yang ternyata tidak dapat diobati yang dikarenakan ditegakkannya diagnosa apendisitis tersebut. Pengadilan memutuskan bahwa pasien tersebut mendapat ganti rugi penuh.akan dapat dikatakan bertanggung jawab penuh. Pengadilan mengatakan bila dokter mendagnosa dengan benar namun tidak mengatakan kepada pasien. Seorang dokter ahli kebidanan mengatakan kepada pasiennya bahwa dia tidak dapat mendengar bunyi detak jantung janin dalam kandung pasien. penyakit lain yang sering salah diagnosa adalah tuberkulosis. Kelainan Iatrogenik Kelainan iatrogenik adalah komplikasi psikiarti yang disebabkan karena diagnosa yang disebabkan oleh dokter. maka dia akan dikatakan melakukan kelalaian. Operasi yang tidak perlu. Seorang dokter melakukan kesalahan diagnosa dan telah memberitahukan kepada pasiennya bahwa dia menderita tuberkulosis aktif. Bila karena kesalahan diagnosa terjadi pengangkatan organ reproduksi yang tidak perlu. Seorang pelamar kerja diharuskan melakukan pemeriksaan kesehatan pada dokter perusahaan sebelum diterima bekerja.

dokter itu tidak akan dikatakan melakukan kelalaian bila dia membuat diagnosa berdasarkan informasi yang tersedia yang masuk akal. Karena itu. Namun bila tindakan operasi jelas-jelas tidak dibutuhkan maka dokter akan dikatakan lalai karena eksplorasi operasi itu sendiri dapat menimbulkan kerusakan pada tubuh pasien. selama diagnosa yang dibuat berdasarkan alasan yang kuat dan masuk akal. Pasien ini menuntut ahli kebidanan pertama. namun pengadilan menyatakan bahwa dokter itu tidak bersalah.maksud dari dokter ahli kebidanan tersebut adalah bahwa mungkin saja janinnya meninggal. maka dokter itu tidak akan dikatakan telah lalai meskipun kenyataannya pasiennya ternyata tidak memiliki penyakit yang di diagnosa. Bab ini membahas mengenai kelalaian dalam melakukan diagnosa. Pengadilan tidak mengharuskan seorang dokter menjamin kebenaran dari diagnosa yang ditegakannya ataupun keberhasilan pengobatannya. . Terlihat bahwa meskipun dokter gagal mengetahui bahwa pasien memiliki kondisi medis yang serius ataupun pasien yang sehat didiagnosa memiliki suatu penyakit. Keesokan harinya pasien mendatangi ahli kebidanan lain yang mengatakan kepadanya bahwa bayinya dalam keadaan baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.