You are on page 1of 7

Partisipasi Politik Perempuan Pada Masa Pasca Kemerdekaan Indonesia

oleh : Nolly Rodus V.T.C Telaumbanua
Teger Prananda Bangun
Vellayati Hajad
Irfan Maulana
Yanoman F. purba
(Mahasiswa departemen Ilmu politik,Fisip USU)

BAB. I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu mengenang jasa para pahlawannya, selain itu
juga sangat melindungi dan melestarikan budayanya, termasuk adat-istiadat bangsanya. Hal
ini merupakan modal berharga bagi upaya pemantapan ketahanan mental spiritual dalam
menghadapi pengaruh negatif yang dibawa oleh arus globalisasi yang terjadi pada saat ini.
Apabila tidak kita waspadai, bukan tidak mungkin bahwa hal itu akan bisa menimbulkan
erosi terhadap budaya bangsa kita.
Sejak Kebangkitan Nasional tahun 1908 sampai saat ini. Perempuan merupakan bagian dari
bangsa Indonesia yang sejak dahulu kala berkiprah dalam berbagai bidang kehidupan. Karena
itu, kita tidak boleh melupakan peranan perempuan Indonesia sebagai bagian dari perjuangan
bangsa ini.
Perempuan Indonesia memiliki peranan dan kedudukan sangat penting sepanjang perjalanan
sejarah. Kiprah perempuan di atas panggung sejarah tidak diragukan lagi. Gerakan
kebangkitan nasional berhubungan dengan politik etis Hindia-Belanda yang memberi
kesempatan bagi para pribumi untuk bersekolah. Sebenarnya maksud pemerintah HindiaBelanda adalah untuk menghasilkan buruh-buruh terdidik, guru-guru, birokrat rendahan yang
cukup terdidik, dokter-dokter yang mampu menangani penyakit menular pada bangsa
pribumi/dan kaum kolonial khususnya. Tindakan ini dilakukan karena Hindia-Belanda harus
menekan biaya operasional tanah jajahan (Indonesia) yang terlalu mahal bila menggunakan
tenaga impor dari Belanda.
Meskipun yang diizinkan memasuki sekolah Belanda saat itu hanyalah kaum bangsawan,
priyayi, dan kaum elite, ternyata para pemuda pribumi kemudian berbondong-bondong
memasuki Sekolah Rakyat, HIS, MULO dan HBS, hingga sekolah dokter (STOVIA), dan
sekolah guru (Kweekschool). Dengan bersekolah mereka mampu membaca buku-buku
berbahasa Belanda dan Inggris. Buku-buku ini membuka mata dan hati pelajar dan
mahasiswa tentang perjuangan pembebasan nasional di seluruh negeri di bumi ini. Dibukanya
sekolah-sekolah Belanda untuk elite pribumi dan para ningrat, telah menghasilkan
sekumpulan orang-orang muda berpendidikan Barat yang kelak menjadi tulang punggung
gerakan pembebasan nasional.
Pencerahan dalam dunia pendidikan tersebut menggugah orang-orang muda untuk
berkumpul, berbicara, berdiskusi dan menentukan. Tahun 1908 lahirlah organisasi yang
dinamakan Budi Utomo. Sebelum Budi Utomo berdiri, telah lahir seorang pejuang
perempuan, yaitu R.A. Kartini (1879-1904). Beliau adalah pelopor dan pendahulu perjuangan

Nasionalisme menjadi gagasan yang diterima di seluruh kekuatan politik yang ada. perkembangan gerakan berbasiskan agama. RUMUSAN MASALAH. melainkan harus dapat meneruskan ke sekolah yang lebih tinggi. . Berbagai karya jurnalisme pun bertebaran. Gairah nasionalisme tengah mencari jalan untuk memodernisasikan dirinya. dengan cara menggugah kesadaran orang-orang sejamannya. bukan hanya dalam Bahasa Belanda. Dan seberapa pentingkah peranan perempuan Indonesia bagi persatuan bangsa Indonesia? BAB. yaitu Aisyiah. berikut gagasan paling awal dalam melihat ketertindasan rakyat di bawah feodalisme dan kapitalisme. perjuangan perempuan semakin terorganisir. sehingga konsepsi persatuan menjadi lebih mudah untuk diwujudkan. Sejalan dengan itu. Seperti apakah kondisi pergerakan perempuan Indonesia terkhusus pasca kemerdekaan? B. atau pun membentuk wadah organisasi perempuan tersendiri yang dilaksanakan oleh perjuangan perempuan di satu sektor atau tingkat tertentu. Dalam makalah kami ini. Seiring dengan terbentuknya berbagai organisasi nasional atau pun partai politik. terutama di bidang pendidikan. kiprah sejumlah sastrawati mulai muncul ke permukaan. bahwa kaum perempuan harus bersekolah. ada beberapa pokok pertanyaan yang mendasar yang kami coba untuk memaparkannya antara lain : A. II PEMBAHASAN A. Kartinilah yang membangun pola pikir kemajuan. Namun Kartini sendiri tetap sebagai Sang Penggedor. Kartini berpendapat bahwa bila perempuan ingin maju dan mandiri. seperti Muhammadiyah. Tidak hanya di Sekolah Rendah. baik sebagai sayap atau bagian dari organisasi perempuan yang sudah ada. Gerakan perempuan pun terus berkembang dan menyesuaikan dinamikanya dengan perkembangan perjuangan bangsa Indonesia. maka perempuan harus mendapat pendidikan. Di sisi lain. seperti Raden Dewi Sartika yang mendirikan Sekolah Keutamaan Isteri di Bandung dan Rohanna Kudus yang mendirikan perusahaan penerbitan koran Soenting Malajoe. Setelah kebangkitan nasional. B. Kartini selama ini kita kenal sebagai seorang pejuang emansipasi perempuan. melainkan terutama dalam bahasa Melayu. Beliau adalah simbol gerakan perempuan Indonesia yang mengawali seluruh tradisi dan intelektual gerakan perempuan Indonesia. sejajar dengan saudara-saudaranya yang laki-laki. Bagaimana keterlibatan perempuan Indonesia dalam perjuangan bangsa Indonesia memperjuangkan dan mempertahankan integritas nasional terutama dalam perpolitikan Indonesia dan gerakan-gerakan sosial budaya setelah kemerdekaan? C. maka pergerakan perempuan pun mulai terbentuk. Gagasan-gagasan brilian dari Kartini tersebut kemudian diikuti oleh beberapa tokoh perempuan lainnya. AWAL PERGERAKAN PEREMPUAN INDONESIA. turut pula membentuk polarisasi dalam gerakan perempuan.untuk pendidikan perempuan dan persamaan hak perempuan.

Maret 1932. selain soal . 1919). hampir setiap organisasi perempuan ini menerbitkan majalah mereka sendiri sebagai media untuk membentuk opini publik sehingga gagasan-gagasan mereka terkomunikasikan ke dalam masyarakat luas. 1917). misalnya pada tahun 1935 dibentuk Badan Penyelidikan Perburuhan Kaum Perempuan. Percintaan Ibu Kepada Anak Temurun—PIKAT (Manado.Kebijakan politik etis telah membangkitkan semangat di kalangan kaum perempuan untuk bergerak dan berjuang mendapatkan persamaan hak pendidikan bagi perempuan. Dalam Kongres Perempuan II. kecuali catatan-catatan yang lebih menunjukkan pada kegiatan-kegiatan sosial-budaya. pendidikan kaum perempuan. berdirilah Poetri Mardika (1912). Badan Pemberantasan Perdagangan Perempuan dan Anak-anak. Gerakan nasionalisme juga berkobar di kalangan organisasi perempuan. upaya-upaya yang dilakukan adalah perhatian pada lingkungan keluarga dan masyarakat. Aisyiyah atas bantuan Muhammadiyah (Yogyakarta. kedudukan perempuan dalam hukum perkawinan (Islam). nasib yatim piatu dan janda. diadakan Kongres Perempuan Indonesia I di Yogyakarta. 1920). (Sukanti Suryochondro: 1995). 1919). dan kejahatan kawin paksa. 1918). Poteri Boedi Sedjati (Surabaya. pendidikan dan perlindungan anak-anak. mencegah perkawinan anakanak. Setelah Kongres Perempuan Indonesia tingkat nasional pertama. Pada awal berdirinya. 1917). Buah dari semangat ini. Serikat Kaoem Iboe Soematra (Bukit Tinggi. 1917). Pada periode ini mulai muncul organisasi-organisasi yang membuka wawasan perempuan melampaui lingkup rumah tangga dan keluarga. diganti menjadi Perikatan Perkumpulan Istri Indonesia (PPII). salah satunya rapat umum untuk perempuan buruh batik di Lasem Jawa Tengah. lingkup kegiatan hampir semua organisasi perempuan hanya meliputi masalah emansipasi dan usaha menjadikan perempuan lebih sempurna dalam menjalankan peran tradisionalnya sebagai perempuan. Pawiyatan Wanito (Magelang. Dalam perkembangannya. Wanito Oetomo dan Wanito Moeljo (Yogyakarta. Kongres ini melahirkan semacam federasi organisasi perempuan dengan nama Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI) dan pada tahun 1929. Wanito Soesilo (Pemalang. berdiri banyak perkumpulan perempuan baik yang didukung oleh organisasi lakilaki maupun yang terbentuk secara mandiri oleh perempuan sendiri misalnya. Wanito Katolik (Yogyakarta. 1920). Padahal sebelumnya semua organisasi yang bergabung dalam PPPI (Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia) menolak mencampuri urusan politik dan agama. memperjuangkan nilai-nilai baru dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Poetri Mardika pernah mengajukan mosi kepada Gubernur Jenderal pada tahun 1915 agar perempuan dan laki-laki diperlakukan sama di muka hukum. Organisasi-organisasi baru ini menjadikan masalah-masalah politik dan agama sebagai pokok perhatiannya. Wanito Hadi (Jepara. salah satu organisasi perempuan yang kelahirannya memang mendapat dukungan dari Boedi Oetomo (organisasi laki-laki). Pada periode sebelumnya. 1924). organisasi perempuan semakin berkembang. perempuan dalam perkawinan. Secara umum sifat tujuan organisasi tersebut adalah sosial dan kultural. mempertahankan ekspresi kebudayaan asli melawan aspek-aspek kebudayaan Barat yang tidak sesuai. dan pada tanggal 22 Desember 1928. 1915). pentingnya peningkatan harga diri perempuan. Perhatian ini meluas. Dalam catatan sejarah. Setelah itu. Hampir tidak ada sumber yang bisa dilacak kegiatan politik macam apa. yang ditandai dengan makin banyaknya jenis gerakan perempuan dan semakin terbuka wawasannya. Purborini (Tegal. isu nasionalisme dan politik muncul. membentuk Badan Pemberantasan Buta Huruf. setahun setelah terbentuknya.

adalah upaya gerakan perempuan untuk menentang poligami yang dipandang merugikan perempuan. Selanjutnya setelah di Indonesia diperbolehkan mendirikan partai politik. perempuan dan laki-laki tidak dibedakan dalam sistem penggajian. Ki Hajar Dewantara. Cina. meskipun gagal. Pada masa ini. Pada pemilu 1955. sangat terkesan dengan perjuangan feminis di Turki. baik sebagai organisasi yang baru maupun kebangkitan kembali yang telah ada. organisasi perempuan mulai tumbuh. gerakan perempuan Indonesia berhasil menempatkan perempuan sebagai anggota parlemen. dalam pidatonya mengatakan. mulai dimunculkan isu tentang hak suara perempuan. penjajah Jepang melarang semua bentuk organisasi. Pada Kongres Perempuan III. selain kegiatan menghibur tentara yang sakit dan kursus buta huruf. dan disebut Fujinkai. akan tetapi karena pada awal kemerdekaan Negara Republik Indonesia masih diliputi oleh perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Kenyataan ini menjadikan adanya dua jenis orientasi di kalangan aktivis perempuan. Perempuan terus memperjuangkan hak politik atau keterwakilan perempuan. Trimurti menjadi menteri Perburuhan pada Kabinet Amir Sjarifuddin (1947-1948). B. yaitu mereka yang berkooperasi dengan pemerintah bala tentara Dai Nippon dan yang non-kooperatif atau memilih bergerak diam-diam di bawah tanah. organisasi perempuan kembali bergerak. mendirikan organisasi perempuan yang aktif dalam perjuangan politik. yaitu Istri Sedar di Bandung dan menerbitkan jurnal Sedar. Suwarni Pringgodigdo. Bagi para perempuan yang mempunyai wawasan luas. termasuk pasca pemberangusan di zaman Jepang. maka perjuangan perempuan Indonesia adalah mendukung para pejuang dalam gerilya atau pertempuran. setelah melakukan pembubaran PPII. hak politik yang sama setidaknya secara legal telah dijamin dalam pasal 27 UUD 45. Pada zaman Pendudukan Bala Tentara Jepang (1942-1945). Dua tahun sebelum Kongres II ini. Kemudian dibentuk organisasi-organisasi baru dengan dalih sebagai propaganda untuk kepentingan dan kemakmuran bangsa-bangsa Asia Timur Raya. PERGERAKAN PEREMPUAN PASCA KEMERDEKAAN INDONESIA. Persoalan yang dihadapi adalah tindakan diskriminatif antara laki-laki dan perempuan. di samping tetap memperjuangkan agenda-agenda. Perjuangan lain.perdagangan peremuan. pada tahun 1930. dan diketuai oleh isteri masing-masing kepala daerah. Pada tahun 1946. Persia. bahkan pada tahun 1948 sempat berdiri . termasuk organisasi perempuan dan membubarkannya. Lalu lahir UU 80/1958. Kegiatan Fujinkai dibatasi hanya pada urusan-urusan keperempuanan dan peningkatan keterampilan domestik. hak perempuan dan penelitian keadaan sanitasi di kampung serta tingginya angka kematian bayi. maka sejumlah perempuan masuk menjadi anggota partai politik. Maria Ulfa kemudian terpilih menjadi menteri Sosial pada Kabinet Syahrir II (1946) dan S. pembatasan ini merisaukan dan mereka tidak ikut masuk Fujinkai. mereka terus memperjuangkan kesamaan politik. yang memberikan kontribusi sangat besar bagi suksesnya perjuangan nasional di negara mereka. Untuk organisasi perempuan yang dibentuk oleh para isteri pegawai di daerah-daerah. dengan memperjuangkan Maria Ulfa menjadi anggota Volksraad. hak memperoleh pendidikan dan kesempatan bekerja. meski demikian. yang menjamin adanya prinsip pembayaran yang sama untuk pekerjaan yang sama. Setelah kemerdekaan.K. Gerakan perempuan pasca kemerdekaan (masa Soekarno) ini. dan India.

dan yudikatif. seperti Wanita Marhaenis. C. yaitu: 1. Pada tahun 1952. Partisipasi perempuan diharapkan dapat mencagah kondisi yang tidak menguntungkan perempuan dalam mengatasi permasalahan stereotipe terhadap perempuan.Partai Wanita Rakyat atas inisiatif Ibu Sri Mangunsarkoro di Yogyakarta. yaitu Ny. Setelah tahun 1950. kesehatan reproduksi. Ada alasan yang penting bagi perempuan untuk berpartisipasi dalam politik. sehingga seluruhnya ada 19 organisasi isteri pegawai di masing-masing departemen. Budiardjo. namun tetap mengikuti perkembangan zaman. isu kekerasan perempuan dan lain-lain. S. Demikian juga di bidang eksekutif. organisasi perempuan berkembang seiring dengan berkembangnya partai-partai di Indonesia. menyumbangkan pemikiran sampai kepekaan yang tinggi terhadap permasalahan politik yang sangatlah diperlukan. kebangsaan dan mempunyai program perjuangan yang sangat militan. Banyak organisasi perempuan yang menjadi bagian perempuan dari suatu partai. Gerwani. Trimurti sebagai Menteri Perburuhan. Artha Kencana (Dep. Ada pula partai yang bergerak dan merupakan bagian dari organisasi keagamaan. Mc Closky merupakan kegiatan sukarela dari warga negara melalui mana mereka mengambil bagian dalam proses pemilihan penguasa secara langsung atau tidak langsung dalam proses pembentukan kebijakan umum (M. dan kepekaan terhadap permasalahan yang ada. kehidupan sosial dan kerja. diskriminasi di bidang hukum. Idhata (Dep. selain itu juga organisasi perempuan yang berdiri sendiri tanpa ikatan dengan partai lain. . lahir organisasi yang menghimpun para isteri Kementerian Dalam Negeri yang sifatnya nonpolitik. Sampai dengan tahun 1950. seperti Aisyiah. pada tahun 1950 telah diangkat dua orang menteri perempuan. marginalisasi di dunia karir. PERANAN PEREMPUAN DALAM PERPOLITIKAN PASCA KEMERDEKAAN INDONESIA. eksekutif. Eksistansi politik terwujud dalam aspek kehidupan bersama dalam tingkat lokal. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat pun meningkat. sangat sarat dengan muatan politis dan dengan semangat yang militan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Perempuan memiliki pengalaman khusus yang dipahami dan dirasakan oleh perempuan. seperti Perwari. Partisipasi politik menurut H. Pendidikan dan Kebudayaan). Partai ini berazaskan ke-Tuhan-an. Maria Ulfah Santoso sebagai Menteri Sosial dan Ny. Seperti isu diskriminasi. 2. kerakyatan. Hal inilah yang memungkinkan perempuan untuk turut dalam pengambilan keputusan dan pembuatan undang-undang. Wanita Katolik. misalnya. isu kekerasan dalam rumah tangga. dan banyak lagi organisasi perempuan yang bergerak di bidang sosial dan kesejahteraan masyarakat. hasil politik yang dicapai kaum perempuan cukup banyak. Demikian juga dengan keputusan kongres Kowani pada tahun 1948 dan 1949. Partisipasi perempuan dalam politik secara aktif. Hal 367). 2008. marginalisasi.K. Gerakan Wanita Sosial. masing-masing departemen juga membentuk perkumpulan isteri pegawainya.Keuangan). dan lain-lain. dan lain-lain. Selain dari isteri pegawai Departemen Dalam Negeri. dan eksploitasi yang terjadi pada perempuan. kita tidak mengartikan politik secara sempit seperti melihat politik dalam kaca mata formal di bidang legislatif. Bila kita membicarakan peran politik perempuan.

kaum perempuan Indonesia merobohkan simbolsimbol budaya yang menuntut mereka berada di bawah kaum laki-laki. sejarah mencatat bahwa pandangan-pandangan patriaki telah memposisikan perempuan Indonesia pada kasta kedua dibawah laki-laki. Peranan perempuan pun hanya sekedar peranan dalam rumah tangga. pemerintah kolonial Hindia-Belanda menerapkan kelonggaran untuk memberikan pendidikan kepada kaum pribumi. sarat dengan persaingan bahkan terkesan sangat ambisius. Dengan keteguhan dan semangat tinggi. serta mengurus kebutuhan mendasar keluarga. Budaya patriarki memosisikan perempuan pada peran-peran domestik seperti peran pengasuhan. hal tersebut belum menunjukkan perubahan yang signifikan. dan penjaga moral. Perpanjangan dari berbagai peran yang dilekatkan pada perempuan tersebut maka. perempuan masih belum dapat mengecap pendidikan sebagaimana mestinya. dan pencari nafkah.A Kartini yang menjadi simbol penuntun ke arah penyamaan dan kesetaraan hak-hak kaum laki-laki dengan kaum perempuan di segala bidang. Kaum perempuan telah memberi warna kepada perjuang bangsa dan mendukung perjuangan tersebut kearah yang terintegrasi dalam semangat . Partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan politik dapat berpengaruh pada pengambilan keputusan politik yang mengutamakan perdamaian. tanggung jawab kodrati yakni mengurus anak. pengambil keputusan. Perempuan Indonesia merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dari diri bangsa ini. III PENUTUP KESIMPULAN. Ketika. Partisipasi politik perempuan sangat dibutuhkan dalam upaya pengintegrasian kebutuhan gender dalam berbagai kebijakan publik dan menggolkan instrumen hukum yang sensitif gender yang selama ini terabaikan dan banyak menghambat kemajuan perempuan di berbagai sektor kehidupan. Apabila perempuan masuk ke panggung politik kerap dianggap sesuatu yang kurang lazim atau tidak pantas bahkan arena politik dianggap dunia yang keras. tercatat perempuan memiliki andil besar dalam perjuangan kemerdekaan Bangsa Indonesia dan pula memiliki peranan dalam perpolitikan bangsa ini pasca kemerdekaan. BAB. Tidak bagi kasta rendahan apalagi kaum perempuan Indonesia. mengubah kompetisi menjadi kerjasama.3. Dunia pendidikan yang ditawarkan oleh pemerintah kolonial kala itu. hanya menawarkan diri kepda kaum laki-laki dari golongan bangsawan dan priyayi. Sementara itu. peran laki-laki sebagai kepala rumah tangga. Adalah R. Seiring perjalanan sejarah bangsa Indonesia. arena politik yang sarat dengan peran pengambil kebijakan terkait erat dengan isu-isu kekuasaan yang identik dengan dunia lakilaki. pendidik. Kendatipun. Politik perempuan diharapkan membawa nilai-nilai penyeimbang yang mengatasi perkelahian dengan solusi berembuk. Kalau ditelusuri tingkat keterwakilan perempuan di badan legislatif semenjak 1950 sampai dengan pemilu 1999.

2007. dalam penentuan kebijakan. Moore. Sebab baik laki-laki dan perempuan merupakan suatu hal yang saling melengkapi. . Setelah kemerdekaan tercapai. mereka ikut bahu-membahu kaum laki-laki dalam memperjuangkan mewujudkan bangsa Negara Indonesia yang merdeka dan berdaulat. 1998. Keadilan: Suatu Tinjauan Berwawasan Gender Karangan. Perempuan. Jadi tidaklah terlalu berlebihan bila kita mencoba untuk memberikan porsi yang pantas terhadap kaum permpuan dalam perpolitikan dan sudah saatnya menyingkirkan streotipe dalam masyarakat yang menunjukan bahawa laki-laki lah yang superior daripada kaum perempuan. pemikiran perempuan sangatlah dibutuhkan sebab pada kondisi-kondisi masyarakat tertentu. Raja Grafindo Persada.persatuan dan kesatuan. Tak segan-segan mereka ikut turun ke hutan-hutan untuk bergerilya dan meninggalkan dapur dan kompor untuk mengangkat senjata menentang penjajah. saling mendukung seperti kala memperjuangkan kemerdekaan Indonesia lewat kekuatan senjata. Kesetaraan. padahal kaum perempuan memiliki potensi untuk menjadi penyeimbang perpolitikan dalam mewujudkan musyawarah mufakat dalam mencapai keputusan. Jakarta : PT. Feminisme : Sebuah Kata Hati. kaum perempuan lebih peka daripada kaum lakilaki dalam mempertimbangkan muara kebijakan yang akan diambil oleh pemerintahan kala itu. Selain itu. Feminisme Dan Antropologi. Perempuan-perempuan yang tergabung dalam berbagai organisasi perempuan pada awalnya hanya menuntut kesetaraan dengan kaum laki-laki. kaum perempuan masih belum mendapat porsi yang pantas dalam perpolitikan. Arivia. 2006. Gadis. Jakarta : Penerbit Buku Kompas. Namun Dengan keterpaduan. Romany. Jakarta : Penerbit OBOR. DAFTAR PUSTAKA Sihite. Henrietta L.