You are on page 1of 15

BAB 1

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tunisia merupakan negara berbentuk republik yang dipimpin oleh seorang Presiden.
Negara yang beribukotakan Tunis ini menjadikan Islam sebagai agama resmi negara.
Mayoritas masyarakatnya (sekitar 98 %) adalah muslim Sunni, 1 negara yang terletak di
Afrika Utara, sebelah barat berbatasan dengan Mediterania dan selatan Libya. Tunisia
termasuk kepulauan Karkunna untuk daerah timur, sementara di bagian tenggara termasuk
kepulauan Djerba.2 Negara yang memiliki luas wilayah 163.610 km2 memperoleh
kemerdekaan pada tahun 1956, dengan presiden pertama Habib Bourguiba, yang membawahi
23 Provinsi. Sebelumnya Tunisia merupakan wilayah otonom dari pemerintahan Turki
Usmani dan pada tahun 1883 menjadi negara persemakmuran Perancis berdasarkan
perjanjian La Marsa.3
Pada Tanggal 20 Maret 1956, pemerintah Perancis secara resmi mengakui
kemerdekaan Tunisia. Pada tahun yang sama Presiden Habib Bourgubia mengeluarkan
aturan-aturan kontroversial yang dinamakan personal status code untuk menggantikan hukum
al-Quran dalam bidang perkawinan, perceraian dan hadanah. Aturan-aturan baru ini tidak
hanya menentang beberapa praktek muslim tradisional bahkan menyatakan konfrontasi
dengannya, sesuatu yang tidak pernah dilakukan bangsa Perancis. 4 Berdasarkan konstitusi
Tunisia, Islam adalah agama resmi negara. Sedangkan mazhab Maliki mempunyai pengaruh
yang sangat dominan di negara tersebut. Latar belakang negara Tunisia memberi gambaran
kepada kita setidaknya di Tunisia pernah pula berlaku hukum Islam (fiqh) berdasarkan
mazhab Hanafi, sebagai pengaruh yang dibawa oleh pemerintah dinasti Usmani.5
Demikian paparan singkat tentang negara Tunisia berdasarkan sejarahnya, makalah ini
bermaksud memberikan gambaran singkat tentang hukum keluarga di Tunisia baik dari segi
sejarah lahirnya Undang-Undang, isi Undang-Undang serta beberapa kali amandemen dari
Undang-Undang tersebut.
1 Larry A.. Barry, “Tunisia” dalam Reeva S. Simon, Philip Mattar, Richard W. Bulliet (Ed.s).
1796.
2 Larry A. Barry, “Tunisia” dalam reeve S. Simon Dkk. (ed), encycplopedy Of Modern
Middle East, (New York: Simon And Schuster Macmillan, 1996), Iv: 1794
3 John P. Entelis, “Tunisia” dalam John L. Esposito dkk. (ed) The Oxport Encyclopedia Of
The Modern Word, (New York: Oxford University Press, 1995), Iv Hlm 236
4 Ibid.
5 M. Atho’ Muzdhar dan Khairuddin Nasution, Hukum Keluarga Di Dunia Islam Modern,
(Jakarta: Ciputat Press, 2003) Hlm. 84

1

7 Pada akhirnya pemerintah Tunisia membentuk sebuah komite di bawah pengawasan Syeikh Islam Muhammad Ja’it untuk merancang undang-undang secara resmi. Esposito (ed). (New York : Oxford University Press. Hunafa: Jurnal Studia Islamika. The Oxford Encyclopedia of TheMuslim World. Pembentukan Hukum Keluarga di Tunisia Pada tahun 1956 setelah Tunisia memperoleh kemerdekaannya.9 6 John L. Jordania. terutama dalam membela hak-hak perempuan. Vol 8. Vol 8. UU No. Rancangan tersebut bersumber dari Laihat Majjalat alAhkam alsyar’iyyah.h. Hukum Keluarga …. pasal yang dirubah adalah pasal 143 A tentang 2 . Syria dan Turki Utsmani. selain itu juga bersumber dari Hukum Keluarga Mesir. hukum keluarga itu dianggap menyalahi bahkan menentang syariat islam. 8 Atho Muzdhor dan Khaoiruddin Nasution. Setelah disetujui pemerintah rancangan tersebut akhirnya diundangkan pada tanggal 1 Januari 1957 dengan nama Majjalah al Ahwal al Syakhsiyyah (Code of Personal Status) 1956 yang berisikan 170 pasal. 6 Oleh banyak pengamat. melalui Presiden Habib Bourgubia negara tersebut mengeluarkan aturan-aturan yang kontroversial yang dikenal dengan “The Tunisian Code of Personal Status” untuk menggantikan hukum al Qur’an dalam bidang perkawinan. Tahir Mahmod. No 2 (2011): HUKUM ISLAM. 70 tahun 1958 dengan perubahan pada pasal 18 tentang poligami. Namun bagi kalangan tertentu. Undang-undang ini mengalami beberapa kali perubahan dan penambahan dengan ketentuan-ketentuan baru. IV : 236 7 HUNAFA: Jurnal Studia Islamika. hukum keluarga tersebut dianggap cukup maju dalam menginterpretasikan syariat islam. 1995).BAB II PEMBAHASAN 1. perceraian dan hadanah. 77 tahun 1969. sebuah ketentuan hukum baru mengenai hukum keluarga dapat dikembangkan sesuai dengan perkembangan situasi dan kondisi sosial kemasyarakatan Tunisia. Personal Law…. Sejumlah ahli hukum Tunisia kemudian mengajukan catatan perbandingan antara dua system hukum Hanafi dan Maliki yang kemudian dipublikasikan dengan judul Laihat Majjalat al-Ahkam alsyar’iyyah (Draft Undang-undang Hukum Islam). Aturan-aturan baru ini tidak hanya menentang beberapa praktek muslim tradisional bahkan menyatakan konfrontasi dengannya.152 9 Perubahan tersebut adalah UU No. Sejarah lahirnya kodifikasi dan reformasi hukum keluarga Tunisia tersebut berawal dari adanya pemikiran dari sejumlah ahli hukum terkemuka Tunisia yang berfikir bahwa dengan melakukan fusi terhadap mazhab Hanafi dan mazhab Maliki. 86.8 Komite tersebut kemudian merancang dan mengajukan rancangan Undang-undang Hukum Keluarga kepada pemerintah.h.

49 tahun 1966. presiden Bourgiba tetap memberlakukan hukum keluarga tersebut. Bahkan.. Hal ini merupakan ketentuan yang merubah isi pasal 5 Undang-Undang 1956. Atas saran dan dukungan beberapa elit ulama pembaharu. yaitu pengacara.43-44 11 Ibid 12 Perubahan ini terjadi pada tahun 1964 memalui UU No.. 17 tahun 1964 yang dirubah adalah buku XII tentang hibah. 2. Padahal. pasal yang dirubah adalah pasal 32 tentang perceraian. dan terakhir UU No.152-4 10 Ibid. kewarisan (85-152). 41 tahun 1961. orang hilang (81-84). perwalian (68-76). Lihat Tahir Mahmod. perceraian (29-33).Setelah diamandemen tahun 1966 The Tunisian Code of Personal Status berisi 213 pasal yang meliputi : perkawinan (pasal 10-28). UU no. Beberpa ulama negara Timur Tengah terus melakukan kritik dan tetap menyuarakan penolakan terhadap hukum ini.11 Dalam memeberlakukan hukum keluarga tersebut. ketentuan usia nikah adalah 17 tahun bagi perempuan dan 20 tahun bagi laki-laki.10 Pada tahun 1981 ditetapkan sebuah undang-undang baru yang merupakan modifikasi dari undang-undang keluarga tahun 1956. Materi Yang Diperbaharui dalam Hukum Keluarga di Tunisia Hukum Pernikahan dan Perceraian a. Personal Law. Usia pernikahan Laki-laki dan perempuan di Tunisia dapat melakukan pernikahan jika telah berusia 20 tahun. adapun pasal yang dirubah adalah pasal 57. Undang-undang tahun 1981 ini berdasarkan rekomendasi dari komite yang terdiri dari ahli hukum. 64. dan pengajar hukum yang diketuai oleh menteri hukum. wasiat (171-199). nafkah (37-53A).. di negara-negara muslim lain sempat muncul ketegangan ketika hukum keluarga yang diberlakukan dianggap menyimpang dari syariat. Dengan ketentuan bahwa baik laki-laki maupun perempuan harus berusia 20 tahun untuk boleh melangsungkan perkawinan. h. UU No. bagi wanita yang berusia 17 harus mendapat izin dari walinya. yang anti islam. h. Proposal komite ini berdasarkan pada interpretasi bebas terhadap hukum syari’ah yang berhubungan dengan hak-hak keluarga.12 sebelum dirubah. padahal dalam konstitusinya islam merupakan dasar agama. hakim. mereka menjadikannya sebagai tolak ukur untuk menggolongkan Tunisia sebagai negara sekuler. dan hibah (200-213). buku XI tentang wasiat. anak terlantar (77-80). cakap hukum (153-170). Jika wali tidak memberikan izin.1/1964. 3 . buku IX tentang kewarisan. contohnya negara Pakistan. Tunisia tidak mengalami hambatan politis yang cukup berarti. pemeliharaan anak (54-67). perkara tersebut dapat diputuskan di radd. idda (34-36). dan pasal 67 tentang pemeliharaan anak.

7 tahun1981 15 Pasal 5 (3). Poligami Dalam pasal 18 Undang-Undang hukum keluarga di Tunisia menyatakan: 1. menurut ketentuan yang tak resmi.13 Pada tahun 1981. ia bisa juga dikenakan hukuman yang sama. jika wali menolak memberikan izin padahal kedua belah pihak berhasrat melakukan pernikahan. 4 . 2. 14 Pasal 5 (2) UU1956 yang telah dirubah melalui UU no.16 b. (New Delhi: Tri Pathi. Atho’ Muzdhar dan Khairuddin Nasution. 3. 88 17 Tahir Mahmood. 16 M. 1987). sementara ia masih terikat perkawinan.. Hukum Keluarga Di Dunia. Hlm. melanggar aturan yang terdapat pada UU No. maka akan dikenakan hukuman yang sama. Siapa yang telah menikah. Hlm. Personal Law in Islamic Counties. akan dikenakan hukuman penjara selama satu tahun atau denda sebesar 240. yang menyatakan bahwa seorang lakilaki wajib menikah dengan seorang istri jika dia yakin tidak mampu berbuat adil kepada istriistrinya yaitu dalam surat an-Nisa ayat 3: 13 Pasal 5 UU 1956.000 malim atau kedua-duanya. Siapa yang dengan sengaja menikahkan seseorang yang dikenai hukuman. Ketentuan ini merupakan langkah maju jika dilihat dari ketentuan-ketentuan dalam kitab fiqh mazhab Maliki. Larangan ini konon mempunyai landasan hukum pada ayat Alquran... siapa saja yang telah menikah sebelum perkawinan pertamanya benar-benar berakhir. perkara tersebut dapat dipurtuskan di pengadilan. Pernikahan di bawah usia ini membutuhkan izin khusus dari pengadilan 15. sebab di dalam kitab fiqh Maliki tidak ada batasan mengenai usia penikahan. yang dapat diberikan hanya untuk alasan mendesak dan atas dasar dari kepentingan yang jelas atau manfaat yang akan direalisasikan oleh kedua pasangan dengan pernikahan. Pernikahan di bawah umur memerlukan persetujuan dari wali.17 Undang-Undang di atas secara tegas menetapkan bahwa poligami dilarang. 155-157. Poligami dilarang. ketentuan pasal ini berubah menjadi Usia minimum pernikahan adalah 20 untuk pria dan 17 untuk wanita14. 3 Tahun 1957 yang berhubungan dengan aturan sipil dan kontrak pernikahan kedua. lalu menikah lagi.pengadilan.

(New York: Syracus University Press. tiga atau empat. hal seperti ini adalah suatu kondisi yang sangat sulit. yang mampu berlaku adil terhadap istri-istrinya. an-Nisa [4] : 3). yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (Qs. 1976). (The Athlone Press. walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian. bahwa institusi budak dan poligami hanya boleh pada masa perkembangan atau masa transisi umat Islam. 63. Jika ada isi perjanjian yang terlanggar.92.S. dan jika kamu Mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan). Dengan demikian. bahkan tidak mungkin dapat terealilasi sepenuhnya. Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. tetapi dilarang pada masa perkembangan atau masyarakat berbudaya. lebih dari itu syarat yang diajukan supaya suami berlaku adil terhapad istri-istrinya. 19 Norman Anderson. Women In Muslim Law. dan Kedua. Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua. Perjanjian perkawinan. London. Ayat di atas telah dibatasi oleh ayat al-Qur’an itu sendiri yaitu:                          Artinya: Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat Berlaku adil di antara isteri-isteri(mu). atau budak-budak yang kamu miliki. idealnya al-Quran adalah monogami. Perjanjian tersebut 18 John l. An-Nisa’:129). Maka (kawinilah) seorang saja. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil. hlm. 1982) Hlm. 19 c. Esposito. pihak yang di rugikan atas pelanggaran perjanjian tersebut dapat mengajukan tuntutan pembubaran perkawinan. bahwa syarat mutlak bolehnya poligami adalah kemampuan berlaku adil pada istri.                               Artinya: Dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya). 5 .(Q.18 Ada dua alasan yang dikemukakan Tunisia melarang poligami: Pertama. karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai). sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. sementara fakta sejarah membuktikan hanya Nabi SAW. Law Reform in the Muslim World. Undang-Undang tunisia 1956 memberi peluang adanya khiyar al-syart (perjanjian perkawinan).

Anak yang lahir dapat disandarkan nasabnya kepada suami. Perkawinan yang di dalamnya terdapat alangan untuk melangsungkan perkawinan (pasal 1517). Ia bisa terjadi karena kesepakatan suami dan isteri. maka pemohon baik suami maupun isteri diwajibkan untuk memberi kompensasi kepada pihak yang dimohon. Menikah dengan wanita yang masih dalam masa iddah (pasal 20). Sedangkan apabila perceraian terjadi sebelum dukhul. Perkawinan yang dilakukan sebelum usia pubertas atau terdapat halangan hukum yang lain (pasal 5). perceraian yang sah dan efektif hanya diputuskan di pengadilan. 4. istri berhak terhadap mahar. Pernikahan yang tidak sah Pernikahan yang dipandang tidak sah menurut Undang-Undang hukum keluarga di tunisia adalah: 1. 3.tidak bisa melahirkan hak ganti rugi jika hal tersebut terjadisebelum perkawinan terlaksana secara sempurna. jika perkawinan memang telah berlangsung sempurna (ba’da ad dukhul). Perkawinan tanpa persetujuan dari salah satu pihak suami atau istri (pasal 3). Pernikahan seperti di atas dapat segera dianulir. Perkawinan yang bertentangan dengan dasar-dasar perkawinan (pasal 21) 2. perceraian yang di jatuhkan secara sepihak tidak tidak berdampak jatuhnya talak. 5. diantaranya masalah perceraian (talak). Adapun hukum keluarga Tunisia yang diperdebatkan.20 d. hlm 101 6 . Perceraian Perceraian adalah hal yang ketat dalam hukum di tunisia. adalah bahwa istri berhak atas mahar dan kewajiban menjalani masa iddah. Bila talak terjadi karena hal yang kedua. Akibat hukum yang lahir.21 e. Dalam hukum Tunisia talak hanya jatuh dan sah bila terjadi dimuka pengadilan. Bila isteri menjadi pihak yang 20 Pasal 11 21 Ibid. atau karena permohonan salah satunya. akan tetapi tidak berhubungan dengan harta warisan antara dua pihak tersebut.

dengan konsekuensi bahwa pihak yang mengajukan gugatan perceraian wajib membayar ganti rugi kepada pihak yang lain. Sebelumnya. pasal 14 menyebutkan talak tiga menjadi halangan yang bersifat permanen untuk pernikahan. Rifa’ah Tahtawi dan pemikir Tunisia Tahir Al-Hadad. talak merupakan wewenang laki-laki (suami) dan tidak bisa dipindahkan pada orang lain. Tetapi pemerintah Tunisia lebih memilih pandangan ulama-ulama pembaharu. sampai si isteri yang dicerai meninggal atau kawin lagi. 7 . Nafkah bagi isteri. (Bombay.23 g. Hal ini secara rinci di atur dalam pasal 37-42. seperti Muhammad Abduh. Pasal 19 UU 1954 tunisia menyatakan bahwa seorang pria dilarang merujuk bekas istri yang telah di talak tiga (talak bain kubro). Lebih jauh. Ketentuan ini memicu perdebatan serius di kalangan ulama negara-negara Arab. Undang-undang hukum keluarga tunisia menerapkan prinsip-prinsip mazhab maliki dalam hal hak istri untuk mendapatkan nafkah dari suaminya. Qasim Amin. pasal 41 menyatakan bahwa isteri diizinkan membelanjakan 22 Pasal 30-32 23 Tahir Mahmud. Menurut Wahbah Az-Zuhaili. kecuali atas izin dan kesepakatannya. Menurut mereka syariat selalu berpijak kepada kebaikan dan menolak segala bentuk penindasan. Suami memiliki hak penuh untuk menceraikan isterinya. Keputusan perceraian hanya di berikan apabila upaya perdamaian pasangan suami istri tersebut gagal. akan terjadi pengungkapan dan penyebaran aib suami atau isteri yang dalam etika islam harus ditutup dan tidak disebarluaskan. karena melanggar teks-teks syariat dan prinsip-prinsip dasar syariat.dirugikan dalam peroses perceraian. mayaoritas ulama menolak ketentuan ini. Hlm. kapan dan dalam keadaan apapun dan tanpa pertimbangan siapapun. Pengadilan dapat memberikan perceraian berdasarkan 1) kesepakatan dari pasangan 2) petisi dari salah satu pasangan dengan alasan cedera yang disebabkan oleh yang lain. Al-Zuhaili tidak sependapat kalau hak talak diserahkan kepada hakim atau pengadilan. Family Law Reform In The Muslim Word. Np tripathi. 102. Pengadilan juga dapat memutuskan perceraian apabila salah satu pihak bermaksud bercerai. Talak tiga. suami diwajibkan memberi nafkah kepada isteri selama hidupnya.22 f. 1972). Ketika hak talak dialihkan pada pengadilan.

1995) II Hlm. 782 25 Ibid 8 . Pengadilan tetap mengusahakan rekonsiliasi antara suami dan istri untuk rujuk kembali. 5. Meskipun tidak diminta. Alma’unah Ala Mazhab Alim Al-Madinah. dijelaskan bahwa posisi hadlonah ada setelah terjadi perceraian antara suami dan isteri berdasarkan keputusan pengadilan. sampai pada tingkat pertemuan dengan anak-anaknya. dalam fiqh mazhab maliki dinyatakan bahwa jika seorang laki-laki mentalaq istrinya. Perceraian terjadi dihadapan pengadilan setelah gagal membuat rekonsiliasi atara suami isteri 2.harta pribadinya yang digunakan sebagai biaya hidup dengan untuk diminta ganti dari suami. Pandangan ini berbeda dengan pendapat Abu Hanifah dan salah satu pendapat imam Syafi’i yang tidak mensyaratkan suami harus baliq. Keputusan pengadilan juga menetapkan tentang hak-hak anak. Saat ini ketentuan hukum keluarga yang berlaku di Tunisia setelah terjadi Amandemen adalah Code Of Personal Status 1956-1981. Ketentuan tentang pemeliharaan anak secara umum bersumber dari prinsip-prinsip mazhab maliki. Fiqih mazhab maliki yang banyak menjadi sumber rumusan unddang-udang tunisia menyatakan bahwa nafkah wajib dibayar suami jika telah terjadi dukhul dan suami telah baliq. 4. (Beirut: Dar Al-Fikr. pengadilan menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan tempat tinggal suami isteri. Secara rinci pasal tersebut menguraikan sebagai berikut: 1. Pemeliharaan anak. Pasal 54-57 UU 1956 Tunisia secara rinci mengatur hak dan kewajiban orang tua dan para wali terhadap pemeliharaan anak. Masalah hadlonah yang terdapat di dalam Code Of Personal Status 1958 Pasal 32. Pengadilan juga memutuskan tentang kompensasi setelah terjadi perceraian dan setelah masa iddah. serta biaya hidup yang wajar pada saat itu (pasal 52). Adapun besarnya jumlah nafkah tergantung kemampuan suami dan status istri.24 h. pemeliharaan anak menjadi hak ibu dengan alasan seorang ibu lebih besar kasih sayangnya dan memahami kemaslahatan dan kebutuhan anak dari pada ayah atau keluarga yang lain. pemeliharaan dan pengurusan anak-anaknya.25 Formulasi fiqh juga menyatakan bahwa hak hadanah 24 Al-Bagdadi. 3.

Diantaranya: - Pengasuh anak harus orang dewasa (major). Untuk pengasuh perempuan. persyaratan dijelaskan dalam Pasal 59 yang menjelaskan. dibolehkan menjadi pengasuh meskipun agamanya berbeda dengan agama anak yang diasuh. Kebolehan mengasuh dibatasi kepada anak yang berusia diatas lima tahun. Adapun apabila ibu meninggal maka hak asuh anak berpindah ke nenek dari garis ibu asalkan kakek merupakan kakek secara langsung dari abak tersebut. 940 27 Ibid. Hal ini diatur dalam Pasal 58. - Harus bebas dari semua penyakit. hak hadanah tersebut berpindah kepada orang tua yang masih hidup. pengadilan dapat memutuskan batas waktu pemeliharaan anak dengan memperhatikan sepenuhnya kepada kondisi anak yang bersangkutan (pasal 67). yang mengakibatkan anaktidak dapat hidup dengan tenang dan sejahtera. dan mampu melaksanakan kewajiban pemeliharaan. sebab ada prediksi bahwa ibu akan lalai dalam mengasuh anak. Sedangkn dalam fiqh dinyatakan bahwa berakhirnya hadanah adalah jika anak laki-laki sudah mencapai usia baliq dan anak perempuan sudah menikah. - Seorang pengasuh perempuan tidak mesti tinggal bersama dengan ayah anak yang diasuh kecuali terjalin hubungan kekerabatan. di Tunisa dibolehkan mencari pengasuh sebagai pengganti orang tua. menguraikan tentang persyaratan menjadi seorang pengasuh khususnya bagi pengasuh laki-laki. 26 Ibid hlm. Selanjutnya.menjadi terputus apabila ibu melangsungkan pernikahan. hak pemeliharaan anak diserahkan kepada salah satu pihak atau boleh tiga diserahkan kepada pihak ketiga. Hal ini berbeda dengan pendapat mazhab syafi’i yang menyatakan bahwa anak perempuan putus atau berakhir masa hadanahnya ketika ia sudah baliq27 Pada dasarnya selama perkawinan. usia pengasuh perempuan berada pada usia dilarang kawin. menyatakan bahwa jika orang tua yang berhak mengasuh anak mkan kedua orangeninggal dunia sedangkan sebelumnya perkawinan telah bubar. dapat dipercaya (reliable). Sedangkan apabila pernikahan bubar sedangkan kedua belak pihak masih hidup. Berbeda jika terjadi perceraian.26 Pada pasal 67 yang telah diamandemen pada tahun 1981. Hlm 941 9 . orang tualah yang menjadi pengasuh dan pemelihara anak-anaknya.

“Pemeliharaan anak atau hadhonah adalah kegiatan dalam mengasuh. ibu. Hadlonah dalam Kompilasi Hukum Islam Pembahasan hadlonah dalam KHI tidak terlepas dari pembahasan para pemikiran ulama. hak kepengasuhan anak dibebankan kepada salah satu darinya atau pihak ketiga dan pengadilan akan memutuskan kepada siapa hak - mengasuh diberikan Hak kebapaan dibebankan kepada suami dari bayi yang dilahirkan setelah enam bulan - masa perkawinan apakah status perkawinannya sah atau tidak sah Tidak ada bukti sahnya status anak. ketiaka orangtuanya hidup - dan telah bercerai Jika telah bercerai dan masih hidup. hak kepengasuhan dibebankan kepada wali. para fuqaha menefinisikan hadhanah adalah suatu aktifitas yang dilakuakan orang tua dalam mengasuh anak kecil. sebagai berikut: - Harus mencari pendidikan bagi anaknya Ayah atau bapak lainnya tidak boleh menolak untuk mengunjungi dan mencari - anaknya dimanapun berada Hak kepengasuhan anak dibebankan kepada orangtuanya. Jika kedua orangtuanya meninggal atau tidak mampu. wali secara legal ditetapkan oleh pengadilan. hak kepengasuhan dibebankan kepada ayah. akan memberikan pengaruh terhadpa status garis - keturunan anak dan hak penerimaan pengasuh dan warisan Tidak ada penolakan terhadap anak yang belum lahir atau status anak secara sah - ditetapkan oleh keputusan pengadilan Bagi pengasuh yang tidak mampu. Bab ini menjelaskan hadlonah semenjak bayi sampai sudah menjadi dewasa disamping menjelaskan status dan usia anak yang dilakukan hadlonah. Secara khusus. pria maupun wanita. Hak asuh ayah. jika ayah anak meninggal dunia atau tidak mampu. hak kepengasuhan anak - dibebankan kepada pengadilan. Makna Hadhonah dapat dilihat dalam KHI pasal 1 huruf g yang berbunyi.Ketentuan tentang hak pengasuhan terhadap anak di negara Tunisia secara rinci dijelaskan tentang peran bapak dari anak yang diasuh dan pengasuhnya. memelihara dan mendidik anak hingga dewasa atau mampu berdiri sendiri”. dan jika wali tidak mampu. hak kepengasuhan dibebankan kepada ibu. Secara istilah. 10 . masalah hadhonah ini terdapat pada Bab XIV dengan judul pemeliharaan anak. baik ulama klasik ataupun modern.

Berdasarkan paparan KHI diatas. karena ia masih tanggungan orang tua terutama anak yang usianya dibawah umur 21 atau belum mandiri. Masa penyusuan anak dibatasi dua tahun. Dan pada dasarnya semua biaya pemeliharaan anak dibebankan kepada ayahnya. meskipun bisa jadi si ibu lebih mampu. Poin 2 menjelaskan bahwa orangtualah yang harus menjadi tanggung jawab anak tersebut. i. 2. Dalam Pasal 99 KHI. Huruf a dengan jelas menyebutkan bahwa anak yang masih dibawah 12 tahun. Poin 3 dengan tegas menyatakan bahwa pengadilan dapat menunjuk kerabat/orang yang mampu yang bisa mengganti orang tua yang tidak mampu menjalankan kewajibannya terhadap anak yang masih berada dalam tanggungan orang tua. Dalam Pasal 103 KHI menjelaskan. Selanjutnya Dalam Pasal 104 KHI menyebutkan bahwa hadlonah yang identic dengan “penyusuan anak” dibebankan kepada ayahnya untuk mengeluarkan biaya penyusuan tersebut. anak diberi kebebasan memilih ayah atau ibunya yang harus memelihara dia. Hak kepengasuhan anak pasca bercerai termaktub dalam Pasal 105 KHI. untuk membuktikan itu adalah anak yang sah. anak yang bisa diurus atau dipelihara adalah anak yang usianya dibawah 21 tahun. selama anak tersebut belum dewasa.Dalam Pasal 98 poin 1 KHI menjelaskan. dapat dipahami bahwa hampir sebagian besar masalah hadlonah dalam KHI diambil dari pemikiran ulama yang bersumber kepada AlQur’an dan Al-Hadis. hal ini secara jelas diambil dari Al-Hadis dan Al-Qur’an tentang “masa penyusuan anak tersebut adalah dua tahun”. maka diperlukan bukti otentik asal-usul anak (akte kelahiran atau yang lain). Poin 2 ini bila dilihat secara seksama tidak mewajibkan secara mutlak pertanggungjawaban hanya dibebankan kepada orangtua. Anak sah adalah anak berdasarkan pembuahan anatar suami isteri secara alami (hubungan suami isteri). Anak yang dilahirkan berdasarkan pembuahan suami isteri diluar Rahim dengan mediasi ilmu kedokteran (bayi tabung). Akibat perceraian tidak menghalangi anak untuk diasuh. bahwa anak yang sah memiliki dua sifat: 1. akan tetapi bisa dibebankan kepada orang lain yang mampu mengurus anaknya. Adopsi 11 . maka hak kepengasuhan jatuh kepada ibunya. Jika diatas 12 tahun.

kafalah dan anak angkat atau adopsi.html 12 . Beda atau selisih usia antara pihak yang akan melakukan adopsi dengan anak yang hendak diadopsi minimal 15 tahun. maka nama baru anak yang diadopsi itu bisa dicatatkan pada surat adopsi tersebut (pasal 14).co.Adopsi atau anak angkat diperkenalkan dalam hukum keluarga Tunisia melalui Undang-undang Perwalian dan Adopsi Tahun 1958 . nama aslinya juga bisa dirubah. Dalam keluarga angkatnya. sehat jasmani maupun rohani dan secara finansial mampu memenuhi kebutuhan seorang anak yang diangkat. namun disyaratkan haruslah sudah dewasa. ketentuan dan syarat pengangkatan anak itu secara detail disebutkan dalam pasal 9-16. Jika diinginkan oleh oleh pihak yang melakukan adopsi. seperti yang ditetapkan dalam Undang-undang Status Personalia Tunisia 1956. Akan tetapi. pengadilan mewajibkan orang-orang tersebut untuk memenuhi semua aspek adopsi yang diusulkan sebagai keperluan anak yang hendak diadopsi. Seorang warga Negara Tunisia juga boleh melakukan adopsi terhadap seorang anak yang bukan dari warga Negara Tunisia (pasal 10). anak angkat memperoleh hak dan kewajiban yang sama sebagaimana layaknya anak kandung. berkarakter moral yang baik. Pihak pengadilan juga bisa memberikan izin kepada seorang janda atau duda untuk (karena kematian pasangannya). telah menikah dan mempunyai hak sipil secara penuh. Akan tetapi. Pihak yang diperbolehkan melakukan pengangkatan anak adalah laki-laki dana perempuan. bagi anak tersebut masih berlaku larangan-larangan kawin dengan keluarga kandungnya (pasal 15). ketentuan mengenai anak angkat diamademen. Praktek adopsi berakibat pada diperolehnya nama baru (nasab) bagi si anak dari orang tua angkatnya.blogspot. satu tahun kemudian. maisng-masing mengenai perwalian umum.id/2011/04/hukum-keluarga-islam-direpublik. Tata cara. Dalam hal ini. Izin dari pasangan (suami/istri) disyaratkan untuk menentukan sah atau tidaknya praktek adopsi yang dilakukan oleh seseorang (pasal 11).28 28 http://auliarahmat-alakazaam. atau orang yang telah bercerai untuk mengangkat seorang anak (pasal 9). demikian juga halnya dengan orang tua angkatnya. Undang-undang ini terdiri dari 60 pasal yang dibagi dalam 3 bab.

pengadilan –melalui jaksa penuntut umumnya—bisa mengambil alih anak angkat dari orang tua angkatnya apabila terjadi kesalahan dan kelalaian dalam pemenuhan kewajibannya. dan haknya dipindahkan kepada orang lain. baik laki-laki maupun perempuan (pasal 192). Hal ini kemudian diikuti oleh Syiria dan Tunisia. sehingga bukti oral dipandang tidak cukup sebagai alat bukti (pasal 176). 3. di Tunisia secara umum hanya melakukan kodifikasi terhadap ketentuan-ketentuan hukum mazhab Maliki. Diantara ketentuan hukum wasiat yang menonjol adalah perihal sahnya wasiat antara dua pihak yang berbeda agama. Perbedaan agama dan kewarganegaraan. dengan catatan bahwa cucu laki-laki mendapat bagian dua kali lebih besar dari bagian cucu perempuan. Hal ini dilakukan demi menjaga kepentingan anak tersebut (pasal 16). orang tersebut tidak berhak mendapat warisan dari armarhum. yaitu dengan mendasarkan pada pendapatpendapat pakar hukum dari mazhab lain. Demikian pula dipandang sah wasiat yang dilakukan para pihak yang berkewarganegaraan berbeda (pasal 174-175). Dalam UndangUndang Tunisia. Berkaitan dengan masalah warisan. Sedangkan bukti terjadinya wasiat harus berupa bukti tertulis yang bertanggal dan ditandatangani pihak yang berwasiat. Hukum Wasiat a. b. Wasiat wajibah. BAB III PENUTUP Kesimpulan 13 . Hukum Waris. Sebagai contoh adalah pasal 88 yang menyatakan bahwa seorang ahli waris yang dengan sengaja menyebabkan kematian pewaris. Akan tetapi ada beberapa hal terdapat perbedaan ketentuan dengan mazhab Malik. atau mengungkapkan kesaksian palsu terhadap kematian pewaris.Selanjutnya. ketentuan tentang wasiat wajibah hanya diperuntukkan bagi cucu yatim dari generasi pertama. 4. Ketentuan mengenai wasiat wajibah telah diperkenalkan oleh UU waris Mesir pada tahun 1946 dengan membuat ketentuan hukum perihal kewajiban adanya wasiat bagi cucu yang yatim dari pewaris. baik sebagai pelaku utama atau hanya pendukung saja.

dan kemashlahatan bangsa dan rakyat Tunisia itu sendiri.1982.1976. cakap hukum (153-170). Bombay: Np tripathi 14 . dan hibah (200-213). akan tetapi lebih disebabkan keinginan pemerintah untuk menjamin kesejahteraan. Tahir.New York: Syracus University Press Mahmud. tetapi juga melakukan langkah-langkah yang sangat progresif dalam upaya melakukan pembuatan Undang-Undang dan pengaturannya dalam bidang hukum keluarga. No 2 (2011): HUKUM ISLAM. John. Reformasi hukum yang dilakukan pemerintah Tunisia. Law Reform in the Muslim World. Undang-undang ini mengalami beberapa kali perubahan dan penambahan dengan ketentuan-ketentuan baru. perwalian (68-76). Hunafa: Jurnal Studia Islamika. London: The Athlone Press HUNAFA: Jurnal Studia Islamika. pemeliharaan anak (54-67). Esposito.Women In Muslim Law. Beirut: Dar Al-Fikr Anderson. l. Tidak hanya sekedar upaya membukukan fiqh mazhab Maliki. Vol 8. kewarisan (85-152). 1995. Setelah diamandemen tahun 1966 The Tunisian Code of Personal Status berisi 213 pasal yang meliputi : perkawinan (pasal 10-28).Proses perumusan dan penataan kembali hukum keluarga di tunisia yang disebut dengan nama Majjalah al Ahwal al Syakhsiyyah (Code of Personal Status) 1956 yang berisikan 170 pasal. Family Law Reform In The Muslim Word. anak terlantar (77-80). nafkah (37-53A). wasiat (171-199). dalam persoalan-persoalan hukum keluarga tidaklah bermaksud melakukan penyimpangan dan meninggalkan prinsip-prinsip hukum Islam.Norman. Alma’unah Ala Mazhab Alim Al-Madinah. kedamaian. perceraian (29-33). orang hilang (81-84). idda (34-36). DAFTAR PUSTAKA Al-Bagdadi.1972. Vol 8.

The Oxport Encyclopedia Of The Modern Word. Tunisia. 2003.35 15 . Atho M & Nasution Khairuddin.html diakses pada 29 September 2016 15. Bandung: Pustaka Al-Fikriis.Muzdhar.blogspot.id/2011/04/hukum-keluarga-islam-di-republik.30 http://irwantokrc.co. 1995. 2009. Hukum Keluarga di Dunia Islam Modern. 15. Perbandingan Hukum Perkawinan Islam di Dunia Islam.id/2015/04/hukum-keluarga-di-tunisia. Entelis. Website : http://auliarahmat-alakazaam. Dedi & Musthofa.html diakses pada 29 September 2016. P.co.New York: Oxford University Press Supriyadi. Jakarta: Ciputat Press.John.blogspot. Esposito dkk. dalam John L.