1.

Pengertian Asuransi dan Reasuransi
Asuransi dalam bahasa Belanda di sebut verzekering yang berarti
pertanggungan atau asuransi dan dalam bahasa Inggris disebut Insurance
(Simorangkir, dkk ,2009: 182). Menurut Subekti (2001: 217) dalam bukunya
memberikan definisi mengenai asuransi yaitu, Asuransi atau pertanggungan
sebagai suatu perjanjian yang termasuk dalam golongan perjanjian untunguntungan (kansovereenkomst). Suatu perjanjian untung-untungan ialah suatu
perjanjian yang dengan sengaja digantungkan pada suatu kejadian yang belum
tentu terjadi, kejadian mana akan menentukan untung-ruginya salah satu pihak.
Menurut UU undang-undang No. 2 tahun 1992 menjelaskan

reasuransi

adalah perjanjian anara penanggung dan penanggung ulang berdasarkan perjanjian
tersebut,penanggung ulang menerima premi dari penanggung yang jumlahnya
ditetapkan lebih dulu, dan penganggung ulang bersedia untuk membayar ganti
kerugian kepada penanggung, bilamana dia membayar ganti kerugian kepada
tertanggung sebagai akibat asuransi yang dibuat antara penanggung dan
tertanggung.

2.

Pengaturan dan Perijinan Pendirian Asuransi di Indonesia

3. Manfaat Asuransi dan Reasuransi
Asuransi selaku lembaga keuangan bukan bank mempunyai peranan cukup
besar sekali baik bagi masyarakat maupun bagi pembangunan. Adapun peranan
tersebut

berupa

manfaatnya

yang

dapat

disimpulkan

sebagai

berikut

(Suparman,dkk 1997:70):
a.

Asuransi dapat memberikan rasa terjamin atau rasa aman dalam menjalankan
usaha. Hal ini karena seseorang akan terlepas dari kekhawatiran akan tertimpa
kerugian akibat suatu peristiwa yang tidak diharapkan, sebab walaupun
tertimpa kerugian akan mendapat ganti rugi dari perusahaan asuransi.

b. Asuransi dapat menaikkan efisiensi dan kegiatan perusahaan, sebab dengan
memperalihkan risiko yang lebih besar kepada perusahaan asuransi,
perusahaan itu akan mencurahkan perhatian dan pikirannya pada peningkatan
usahanya.
c. Asuransi cenderung kearah perkiraan penilaiaan biaya yang layak. Dengan
adanya perkiraan akan suatu risiko yang jumlahnya dapat dikira-kira
sebelumnya maka suatu perusahaan akan memperhitungkan adanya ganti rugi
dari asuransi di dalam ia menilai biaya yang harus dikeluarkan oleh
d.

perusahaan.
Asuransi merupakan dasar pertimbangan dari pemberian suatu kredit. Apabila
seseorang meminjam kredit bank, maka ban biasanya meminta kepada debitur

e

untuk menutup asuransi benda jaminn.
Asuransi dapat mengurangi timbulnya kerugian-kerugian. Dengan ditutupnya
perjanjian asuransi, maka risiko yang mungkin dialami seseorang dapat
ditutup oleh perusahaan asuransi.

4. Prinsip Kerja Asuransi
Prinsip-prinsip hukum yang terdapat didalam asuransi ini, membantu
menjelaskan tentang dasar-dasar kontrak asuransi. Pemahaman kareteristik
prinsip-prinsip asuransi tersebut akan membantu konsumen asuransi dalam
membaca dan memahami kontrak asuransi serta mendalami konsepsi hokum yang
melatar belakangi kontrak asuransi pada umumnya. Prinsip-prinsip perjanjian
asuransi, yaitu (Suparman, Sastrawidjaja,1997: 42):
1. Prinsip Ganti Kerugian (Indemnity)
Perjanjian asuransi ini bertujuan memberikan ganti terhadap kerugian yang
diderita oleh tertanggung yang disebabkan oleh bahaya sebagaimana
ditentukan dalam polis. Besarnya nilai ganti rugi adalah sama dengan
besarnya kerugian yang diderita oleh tertanggung, tidak lebih kecuali
ditentukan lain di dalam undang-undang, maka suatu obyek yang telah
dipertanggungkan secara penuh dalam jangka waktu yang sama, tidak dapat
dipertanggungkan lagi.

2.

Prinsip Kepentingan yang Diasuransikan ( Insurable Interest)
Berdasarkan prinsip ini, pihak yang bermaksud akan mengasuransikan
sesuatu

harus

mempunyai

kepentingan

dengan

barang

yang

akan

diasuransikan . Dan agar kepentingan itu dapat diasuransikan , maka
kepentingan itu harus dapat dinilai dengan uang.
2. Prinsip Itikad Baik yang Sempurna (Utmost Goodfaith)
Didalam perjanjian asuransi, tertanggung diwajibkan untuk memberitahukan
segala sesuatu yang diketahuinya, mengenai obyek atau barang yang
dipertanggungkan secara benar. Keterangan yang tidak benar atau informasi
yang tidak diberikan kepada penanggung walaupun dengan itikad baik
sekalipun dapat mengakibatkan batalnya perjanjian asuransi . Prinsip ini
diatur dalam pasal 251.Kitab Undang-Undang Hukum Dagang.
4.

Prinsip Subrogasi bagi Penanggung (Subrogation)
Prinsip ini sebenarnya merupakan konsekuensi logis dari prinsip indemnity,
yaitu yang hanya memberikan ganti rugi kepada tertanggung sebesar kerugian
yang dideritanya. Apabila tertanggung setelah menerima ganti rugi ternyata
mempunyai tagihan kepada pihak lain, maka tertanggung tidak berhak
menerimanya, dan hak itu beralih kepada penaggung.

5. Penggolongan Asuransi
1. Menurut Sifat Pelaksanaannya
a. Asuransi sukarela, yaitu asuransi yang pada prinsipnya dilakukan dengan
cara sukarela, dimana semata - mata dilakukan atas keadaan ketidakpastian
atau kemungkinan terjadinya resiko kerugian atas sesuatu yang
diasuransikan tersebut. Misalnya asuransi kecelakan, asuransi kebakaran,
asuransi kendaraan bermotor, dan sebagainya.
b.

Asuransi wajib, merupakan asuransi yang sifatnya wajib dilakukan oleh
pihak - pihak yang terkait, dimana pelaksanaannya dilakukan berdasarkan
ketentuan perundang - undangan yang ditetapkan oleh pemerintah,
misalnya asuransi tenaga kerja.

2. Menurut Jenis Perasuransiannya

a.

Usaha asuransi, yang dapat digolongkan lagi menjadi:
1) Asuransi kerugian atau adalah usaha yang memberikan jasa - jasa dalam
penanggulangan resiko atas kerugian, kehilangan manfat dan tanggung
jawab hukum kepada pihak ketiga, yang timbul dari peristiwa yang
tidak pasti.
2) Asuransi jiwa atau adalah suatu jasa yang diberikan oleh perusahaan
asuransi dalam penanggulangan resiko yang dikaitkan dengan jiwa atau
meninggalmya seorang yang dipertanggungkan.
3) Reasuransi atau adalah pertanggungan atau pertanggungan yang
dipertanggungkan atau asuransi dari asuransi suatu sistem penyebaran
resiko, dimana penanggung menyebarkan seluruh atau sebagian dari
pertanggungan yang ditutupnya kepada yang lain.
b. Usaha Penunjang Asuransi, yang dapat digolongkan lagi menjadi:
1) Pialang asuransi adalah usaha yang memberikan jasa keperantaraan
dalam penutupan asuransi dan penanganan pemyelesaian ganti rugi
asuransi dengan bertindak untuk kepentingan tertanggung.
2) Pialang reasuransi adalah yang memberikan jasa keperantaraan dalam
penempatan reasuransi dan penanganan penyelesaian ganti rugi
reasuransi dengan bertindak untuk kepentingan perusahaan asuransi.
3) Penilai kerugian asuransi adalah usaha yang memberikan jasa penilaian
terhadap kerugian pada objek asuransi yang dipertanggungkan.
4) Konsultan aktuaria adalah usaha yang memberikan jasa konsultan
aktuaria.
5) Agen asuransi adalah pihak yang memberikan jasa keperantaraan dalam
rangka pemasaran jasa asuransi untuk dan atas nama penanggung.
3. Menurut The Chartered Insurance institute,London
a. Asuransi harta atau property insurance adalah asuransi untuk semua milik
yang berupa harta benda, yang memiliki resiko atau bahaya kebakaran
kecurigaan, tenggelam di laut, misalnya asuransi kebakaran, asuransi
pengangkutan, asuransi penerbangan, asuransi kecelakaan;

b. Asuransi tanggung gugat atau liability insurance adalah asuransi untuk
melindungi tertanggung terhadap kergian yang timbul dari gugatan pihak
ketiga karena kelalaian tertanggung;
c. Asuransi jiwa atau life insurance;
d. Asuransi kerugian atau general insurance;
e. Reasuransi atau reinsurance.

Simorangkir , J.C.T, dkk Kamus Hukum. 2009. Sinar Grafika: Jakarta. Halaman
182
Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata. 2001. PT. Intermasa: Jakarta. Halaman
217-218
Suparman Man, Sastrawidjaja, Aspek-Aspek Hukum Asuransi dan Surat Berharga.
1997. Alumni Bandung: Bandung. Halaman 42-45
Suparman, Man dkk, Hukum Asuransi Perlindungan Tertanggung, Asuransi
Deposito, Usaha Perasuransian. 1997. Alumni Bandung: Bandung. Halaman
70