You are on page 1of 11

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

Sekitar 95 % infeksi orofacial adalah infeksi yang berasal dari gigi
(odontogenic). Dari total tersebut sekitar 70 % berasal dari infeksi periapikal yang
disebut juga abses akut dentoalveolar dan diikuti oleh abses periodontal.
3.1 Etiologi
Penyebab yang paling sering menyebabkan infeksi orofasial adalah gigi
non vital, perikoronitis, ektraksi gigi, granuloma periapikal yang tidak dirawat dan
infeksi kista. Penyebab paling jarang seperti trauma postoperative, defek fraktur,
lesi kelenjar saliva dan limph node dan infeksi karena lokal anestesi.
3.1.1 Abses periodontal
Merupakan inflamasi yang bersifat akut atau kronis yang berkembang
pada poket periodontal. Secara klinis terlihat edema pada pertengahan gigi, sakit
dan gingiva merah.
3.1.2 Abses dentoalveolar akut
Merupakan inflamasi akut jaringan periapikal pada gigi non vital. Symptom
diklasifikasikan jadi lokal dan sistemik.
1. Simptom lokal

Sakit. Rasa sakit tergantung pada tahapan inflamasi. Pada fase inisial rasa
sakit terasa tumpul dan berlanjut semakin memburuk saat perkusi atau saat
gigi berkontak dengan gigi lawan. Jika rasa sakit semakin berat dan
berdenyut berarti akumulasi pus masih didalam tulang atau didalam

8

 Symptom lainnya.40 ) C. menggigil. Rasa sakit hilang saat pus perforasi dari periosteum ke jaringan lunak.2 Komplikasi Jika komplikasi tidak ditangani dengan baik maka komplikasi yang dapat terjadi seperti : trismus. Tes clab menunjukan leukositosis atau leukopenia dan meningkatnya ESR dan level CRP. Pada tahap awal inflamasi terdapat pembengkakan lunak pada jaringan lunak. limfadenitis. Symptoms Sistemik Dapat diamati berupa : demam ( 39. imsomnia. Dapat terjadi intaoral atau extraoral dan biasanya terlokalisasi pada bukal. Hal terpenting. Gigi juga sensitif selama palpasi di daerah apikal dan selama . 3. terutama pada tahap awal. bakterimia dan sepsis. Adanya elongansi dan mobility gigi.3 Diagnosis Diagnosis biasanya didasarkan pada pemeriksaan klinis dan riwayat pasien. Pada fase akhir edema bergelombang dan merupakan saat yang tepat untuk insisi dan drainase abses. nausea dan muntah. Penonjolan muncul sebelum suppurasi khususnya jaringan conective seperti sublingual dan bibir. gigi terasa sensitif saat disentuh dan kesulitan dalam menelan 2. anorexia. 3. Biasanya edema lunak dan kemerahan pada kulit. malaise pada otot dan sendi. osteomielitis. Pada fase awal penonjolan halus jaringan dapat dilihat.9 periosteum. adalah lokalisasi gigi yang bertanggung jawab.  Edema.

Dengan cara sistem limfatik 3. Pada tahap yang lebih maju. kecuali ada kekambuhan abses kronis. sedangkan gigi hypermobile dan elongasi. Pus menyebar oral. inflamasi bisa menyebar dalam tiga cara: 1. Dengan kesinambungan melalui ruang dan bidang jaringan 2. bahkan setelah sedikit kontak dengan permukaan gigi. Namun kadang-kadang muncul positif yang karena konduktivitas dari cairan dalam saluran akar. sedangkan yang terkait apeks .4 Penyebaran Pus dalam Jaringan Dari tempat lesi awal. 3. Radiografi. Inflamasi purulen yang berhubungan dengan apeks dekat tulang alveolar buccal atau labial biasanya menyebar secara buccal. ketebalan tulang. palatal atau lingual terutama tergantung pada posisi gigi dalam lengkung gigi. rasa sakit ini sangat parah.10 perkusi dengan instrumen. di mana osteolisis ditemukan. tidak terdapat tanda-tanda yang dapat diamati pada tulang (dapat diamati 8-10 hari kemudian). pus terbentuk di tulang cancellous dan menyebar di berbagai arah dengan cara jaringan menyajikan sedikit perlawanan. Reaksi gigi selama tes dengan vitalometer listrik negatif. pada fase akut. Dengan cara sirkulasi darah Rute yang paling umum dari penyebaran inflamasi adalah dengan kesinambungan melalui ruang dan bidang jaringan dan biasanya terjadi seperti yang dijelaskan di bawah ini. Verifikasi radiografi gigi pada gigi dengan karies yang dalam atau restorasi sangat dekat dengan pulpa serta penebalan ligamen periodontal adalah data yang menunjukkan gigi penyebab. dan jarak itu harus bepergian. Pertama.

Panjang gigi dan hubungan antara apeks dan attachment proksimal dan distal dari berbagai otot juga berperan penting dalam penyebaran pus. pus mandibula yang berasal dari apeks yang berada di atas otot milohioid biasanya menyebar intraoral. Gambar 3. Berdasarkan hubungan ini.11 dekat tulang alveolar palatal atau lingual biasanya akan menyebar secara palatal atau lingual.1 Arah Buccal Contohnya. akar palatal dari gigi posterior dan insisivus lateral rahang atas dianggap bertanggung jawab atas penyebaran pus ke palatal. pus menyebar menuju ruang submandibula menghasilkan lokalisasi ekstraoral. Inflamasi bahkan dapat menyebar ke dalam sinus maksilaris ketika apeks gigi posterior ditemukan di dalam atau dekat dengan dasar antrum. sedangkan molar ketiga rahang bawah dan kadang-kadang molar kedua rahang bawah dianggap bertanggung jawab atas penyebaran infeksi ke lingual. Infeksi yang berasal dari gigi insisivus dan caninus mandibula dapat menyebar secara buccal atau lingual dikarenakan tulang alveolar yang tipis di . terutama menuju dasar mulut (ruang sublingual). Ketika apeks ditemukan di bawah otot milohioid (kedua dan molar ketiga).

kemudian setelah menembus tulang. abses dentoalveolar akut dapat memiliki tampilan klinis. Pada rahang atas. Penyebaran bersifat intraoral. Penyebaran melalui jaringan ikat dan menyebar di bawah kulit.5 Abses Submandibula 3.1 Lokasi Anatomis . Namun. 3. seperti intra alveolar. jika apeks ditemukan di atas attachment maka infeksi menyebar ke atas dan ekstraoral. Terkadang. Kadang-kadang. yang merupakan tempat sumber abses subperiosteal dimana pus terbatas akan berakumulasi diantara tulang dan periosteum. Setelah terjadi perforasi periosteum. penyebaran menuju spasia fasial. pus menyebar intraoral. fasial atau migratory servikofasial Tahap inisial dari fase seluler terkarakteristik oleh akumulasi pus di dalam tulang alveolar dan disebut dengan abses intra alveolar Pus menyebar mulai dari tempat tersebut. subperiosteal. akan menyebar ke subperiosteal space. menyebar dibawah mukasa dan membentuk abses submukosa. ketika apeks ditemukan dibawah attachment. attachment dari otot businator signifikan. subkutan. dilihat dari tempat inokulasi dari pus.12 daerah tersebut. Hal ini biasanya terlokalisasi secara buccal jika apeks ditemukan di atas attachment otot mentalis. Ketika apeks dari gigi premolar rahang atas dan molar ditemukan di bawah attachment otot buccinator. Pada tahap selular. membentuk abses spasia fasial. pus menyebar ekstraoral. akan terbentuk abses subkutan. submukosal. pus terus menyebar melalui jaringan lunak melalui berbagai arah.5.

Gambar 3. posterior oleh ligament stilohioid dan bagian posterior dari otot digastrikus. superior oleh milohioid dan otot hyoglossus dan inferior oleh lapisan superfisial dari fasia servikal dalam (Gambar 3.2 Abses Submandibula. 3. (a) Ilustrasi penjalaran abses ke spasia submandibular di bawah otot mylohyoid.2 Etiologi . Di dalam spasia ini terdapat kelenjar saliva submandibular dan kelenjar getah bening submandibular.5.13 Spasia submandibular dibatasi secara lateral oleh batas inferior dari mandibular. (b) Gambaran klinis menunjukkan pembengkakan parah pada area kiri posterior rahang bawah.2). secara median oleh anterior dari otot digastrikus.

jika apeks berada dibawah perlekatan otot mylohyoid. Diseksi Blunt juga perlu dilakukan di daerah media tulang mandibula karena pus sering terdapat di daerah tersebut.5. 3. Saat insisi.4).5) (Gambar 3.4 Perawatan Insisi untuk drainase dilakukan pada kulit. sekitar 1 cm di bawah dan parallel terhadap batas inferior dari mandibular (Gambar 3. Angulus mandibular hancur dan terdapat rasa nyeri pada palpasi dan trismus sedang karena keterlibatan otot pterigoid media. letak arteri fasial dan vena beserta cabangnya perlu diperhatikan. Hemostat diletakkan pada kavitas abses untuk mengeksplorasi spasia (Gambar 3. tempatkan rubber pada daerah tersebut (Gambaran 3. 3.6). yang bila menyebar akan membentuk edema yang lebih besar dan kulit di atasnya berwarna kemerahan (Gambar 3.14 Infeksi dari spasia ini mungkin berasal dari gigi molar ketiga atau kedua mandibular.5.3 Keadaan Klinis Infeksi menunjukkan pembengkakan sedang pada area submandibular. Hal tersebut dapat diakibatkan oleh penyebaran infeksi dari spasia sublingual dan submental. Setelah drainase.2b).3). .

6 Gambaran klinis setelah 10 hari postoperatif 3.4 Insersi hemostat dan eksplorasi kavitas untuk drainase pus. Gambar 3.6 Prinsip Fundamental Perawatan Infeksi Perawatan yang tepat untuk infeksi akut dentoalveolar seperti abses spasia fasial sebaiknya mengikuti langkah-langkah berikut ini : 1.15 Gambar 3. Gambar 3.5 Stabilisasi karet drain pada daerah insisi Gambar 3.3 (a) dan (b) gambaran melakukan insisi drainase abses Ilustrasi gambar klinis saat pada kulit untuk submandibular. Anamnesis yang tepat dari Pasien .

insisi ekstraoral (3). Anestesi area insisi dan drainase dengan teknik anestesi blok dan infiltrasi peripheral pada jarak tertentu untuk menghindari masuknya mikroba ke jaringan yang lebih dalam 6. insisi intraoral (2). Drainase dengan trepinasi di tulang bukal dapat dilakukan apabila tidak ada akses drainase melalui saluran akar 4. Drainase pus dengan mengebor gigi yang menjadi sumber infeksi dan terapi panas pada fase inisial inflamasi dapat mencegah penyebaran inflamasi dan mengurangi sakit pada pasien tersebut. Drainase pus dapat dilakukan melalui jalan saluran akar (1). jika memungkinkan insisi dilakukan secara intraoral . Antisepsis area dengan larutan antiseptik sebelum insisi 5. Pemberian antibiotik saja tanpa mengeluarkan pus tidak dapat menghentikan infeksinya 3. Rencanakan insisi. atau melalui ekstraksi alveolus (4). sehingga :  Cedera pada duktus (Wharton.16 2. Stensen) dan pembuluh darah besar dapat dihindari  Insisi dilakukan secara superfisial pada tempat yang rendah dan sedikit akumulasi pus untuk menghindari rasa sakit dan membiarkan pus keluar mengikuti gravitasi  Insisi dilakukan pada area yang tidak terlihat sehingga tidak mempengaruhi estetik.

biasanya akan terjadi sedikit pendarahan. 9. Menghindari penerapan kompres panas pada ekstraoral.17 7. contoh memastikan titik paling lunas dari bengkak saat palpasi. yang mana dimasukan ke dalam rongga abses dengan paruh tertutup. Yaitu ketika pus sudah terakumulasi di jaringan lunak dan adanya fluktuasi saat palpasi. Insisi dan drainase abses harus dilakukan pada waktu yang tepat. sebisa mungkin dilakukan secara intraoral. karena ini menyebabkan meningkatnya resiko saat pengeluaran pus pada kulit (drainase spontan). 8. a. digunakan untuk menjelajahi rongga . tidak terasa nyeri pada pasien dan oedem tidak berkurang. terasa ada cairan bergelombang yang bergerak di dalam abses. Insisi tidak dilakukan pada area yang terlihat untuk alasan estetik. 10. Jika tidak ada indikasi akumulasi pus. Area ini menunjukkan dimana insisi superficial dengan sebuah scalpel dapat dibuat. bilasan intraoral panas dengan chamomile dianjurkan untuk mempercepat perkembangan abses dan untuk memastikan abses sudah matang. Jika insisi dilakukan sebelum waktunya “premature”. Lokasi yang tepat dari pus di jaringan lunak (jika tidak ada fluktuasi) dan insisi untuk drainase harus dilakukan setelah interpretasi data tertentu. kemerahan pada kulit atau mukosa dan titik paling menyakitkan untuk ditekan. Drainase abses awalnya dilakukan dengan hemostat. Yaitu ketika menekan diantara jempol dan jari tengah.

Cabut gigi sesegera mungkin. mengingat fakta bahwa dibutuhkan waktu unutk mendapatkan hasil dari kultur sampel. terlepas dari adanya indikasi pus. 11. Karena kebanyakan mikroorganisme yang diisolasi dari 10 infeksi odontogenik adalah streptococcus (aerob dan anaerob). 14. daerah jaringan lunak dipijat membantu proses pengeluaran pus. . Pemberian antibiotik. Terapi antibiotik biasanya empiris. atau jika ada peningkatan resiko komplikasi serius dalam kasus dimana pencabutan gigi sangat sulit. terutama jika ada demam dan penyebaran infeksi ke ruang fasia. 12. dan menghilangkan sumber infeksi. untuk memastikan immediate drainage pada inflammatory maerial. Penempatan rubber drain di dalam rongga dan stabilisasi dengan jahitan pada satu bibir insisi yang bertujuan untuk menjaga insisi terbuka untuk drainase terus menerus pada akumulasi pus baru. 13. ketika bengkak umumnya diffuse dan menyeba.18 dengan paruh terbuka. Dalam waktu yang bersamaan diseksi dilakuakn. Ekstraksi dihindari jika gigi dapat dipertahankan. penicillin tetap antibiotic pilihan untuk pengobatan.