You are on page 1of 6

BUPIVACAINE

Farmakodinamik :
Obat menembus saraf dalam bentuk tidak terionisasi (lipofilik), tetapi saat di dalam akson
terbentuk beberapa molekul terionisasi, dan molekul-molekul ini memblok kanal Na+, serta
mencegah pembentukan potensial aksi. Absorpsi sistemik anestetik ini dapat mengakibatkan
perangsangan dan atau penekanan sistem saraf pusat. Rangsangan pusat biasanya berupa
gelisah, tremor dan menggigil, kejang, diikuti depresi dan koma, akhirnya terjadi henti
napas. Fase depresi dapat terjadi tanpa fase eksitasi sebelumnya.
Farmakokinetik :
Kecepatan absorpsi anestetik ini tergantung dari dosis total dan konsentrasi obat yang
diberikan, cara pemberian, dan vaskularisasi tempat pemberian, serta ada tidaknya epinefrin
dalam larutan anestetik. Bupivacaine mempunyai awitan lambat (sampai dengan 30 menit)
tetapi mempunyai durasi kerja yang sangat panjang,sampai dengan 8 jam bila digunakan
untuk blok syaraf. Lama kerja bupivacaine lebih panjang secara nyata daripada anestetik
lokal yang biasa digunakan. Juga terdapat periode analgesia yang tetap setelah kembalinya
sensasi.
Efek samping :
Penyebab utama efek samping kelompok obat ini mungkin berhubungan dengan kadar
plasma yang tinggi, yang dapat disebabkan oleh overdosis, injeksi intravaskuler yang tidak
disengaja atau degradasi metabolik yang lambat.
Sistemik : Biasanya berkaitan dengan sistem saraf pusat dan kardiovaskular seperti
hipoventilasi atau apneu, hipotensi dan henti jantung.
SSP : Gelisah, ansietas, pusing, tinitus, dapat terjadi penglihatan kabur atau tremor,
kemungkinan mengarah pada kejang. Hal ini dapat dengan cepat diikuti rasa
mengantuk sampai tidak sadar dan henti napas. Efek SSP lain yang mungkin timbul
adalah mual, muntah, kedinginan, dan konstriksi pupil.
Kardiovaskuler : Depresi miokardium, penurunan curah jantung, hambatan
jantung, hipotensi, bradikardia, aritmia ventrikuler, meliputi takikardia
ventrikuler dan fibrilasi ventrikuler, serta henti jantung.
Alergi : Urtikaria, pruritus, eritema, edema angioneuretik (meliputi edema laring),

Mencegah dan mengobati mual-muntah akut pasca bedah . dengan cara menghambat aktivasi aferen-aferen vagal sehingga menekan terjadinya refleks muntah. ONDANCETRON Farmakodinamik: Mekanisme kerja obat ini sebenarnya belum diketahui dengan pasti. Bioavalibilitas oral absolut Ondansetron sekitar 60%. Volume distribusi dalam keadaan statis sekitar 140 L. Farmakokinetik: Konsentrasi akan diserap dengan cepat maksimum (30 ng / ml) dalam plasma dapat dicapai dalam 10 menit dengan pemberian Ondansetron 4 mg i. sakit kepala. episode asma. kelemahan. meningitis septik.v. Indikasi .inkontinensia fekal dan urin. Neurologik : Paralisis tungkai.v. Ondansetron dimetabolisme sanagt baik di sistem sirkulasi. parestesia. retensi urin. meningkatnya kejadian persalinan dengan forcep. sakit punggung. Meskipun demikian yang saat ini sudah diketahui adalah bahwa Ondansetron bekerja sebagai antagonis selektif dan bersifat kompetitif pada reseptor 5HT3. paralisis ekstremitas bawah dan hilangnya kontrol sfingter. dan kemungkinan gejala anafilaktoid (meliputi hipotensiberat).anestesia persisten. Waktu paruhnya sekitar 3 jam. hipotensi sekunder dari blok spinal. hilangnya kesadaran.Mencegah dan mengobati mual-muntah pasca kemoterapi pada penderita kanker . Ondansetron yang berikatan dengan protein plasma sekitar 70 – 76%.bersin. meningismus. lambatnya persalinan. Kondisi sistemik yang setara juga dapat dicapai melalui pemberian secara i. hilangnya sensasi perineal dan fungsi seksual.m atau i. sehingga hanya kurang dari 5 % saja yang terdeteksi di urine.Mencegah dan mengobati mual-muntah pasca radioterapi pada penderita kanker Kontra Indikasi . paralisis pernapasan dan bradikardia (spinal tinggi). atau kelumpuhan saraf kranial karena traksi saraf pada kehilangan cairan serebrospinal.

Juga pernah dilaporkan terjadinya gerakan-gerakan tanpa sadar. Pada penderita yang sedang mendapat pengobatan dengan obat-obat yang secara kuat merangsang enzim metabolisme CYP3A4 (seperti Fenitoin. karena meningkatnya waktu transfer di usus besar. rasa panas atau hangat di kepala dan epigastrium yang bersifat sementara. Kadang juga dapat dijumpai peningkatan serum transaminase (5%) dan ruam kulit (1%). .Pasien hipersensitif terhadap Ondansetron Interaksi Obat Karena Ondansetron dimetabolisme oleh enzim metabolik sitokrom P-450. akibatnya impuls nyeri terhambat. Pernah dilaporkan terjadinya reaksi hipersensitif sampai kejadian anafilaksis dan gangguan visual sementara (pandangan kabur). tetapi kasus ini sangat jarang dan tanpa disertai gejala-gejala sisa. khususnya pada trimester I. perangsangan dan penghambatan terhadap enzim ini dapat mengubah klirens dan waktu paruhnya. kecuali jika terdapat resiko yang lebih berat pada bayi akibat penurunan berat badan ibu. sehingga konsentrasi dalam darah akan menurun. sehingga dianjurkan untuk tidak diberikan pada ibu menyusui. Tramadol mengikat secara stereospesifik pada reseptor di sistem saraf pusat sehingga mengeblok sensasi nyeri dan respon terhadap nyeri. Karbamazepin dan Rifampisin). Peningkatan aminotransferase tanpa disertai gejala-gejala. Kadang dapat dijumpai sakit kepala. wajah ke merahan (flushing). sedasi dan diare. Konstipasi merupakan efek samping yang paling sering ditemukan (11%). Peringatan dan Perhatian Ondansetron sebaiknya tidak digunakan pada wanita hamil. TRAMADOL Tramadol adalah analgesik kuat yang bekerja pada reseptor opiat. setelah pemberian Ondansetron secara cepat. Ondansetron dieksresi pada air susu ibu. klirens Ondansetron akan meningkat secara signifikan. Di samping itu tramadol menghambat pelepasan neurotransmitter dari saraf aferen yang sensitif terhadap rangsang. Efek Samping Ondansetron pada umumnya dapat ditoleransi dengan baik.

Peringatan dan perhatian: • Pada penggunaan jangka panjang dapat terjadi ketergantungan. karena tramadol diekskresikan melalui ASI. sedangkan kejang dapat diatasi dengan pemberian benzodiazepin. gangguan fungsi ginjal dan hati yang berat atau hipersekresi bronkus. • Penggunaan selama kehamilan harus mempertimbangkan manfaat dan resikonya baik terhadap janin maupun ibu. Dosis sangat tergantung pada intensitas rasa nyeri yang diderita. apabila masih terasa nyeri dapat ditambahkan 50 mg setelah selang waktu 30-60 menit. Dosis umum: Dosis tunggal 50 mg.Indikasi: Efektif untuk pengobatan nyeri akut dan kronik yang berat. • Hati-hati penggunaan pada pasien trauma kepala. • Penggunaan bersama dengan obat-obat penekanan SSP lain atau penggunaan dengan dosis berlebihan dapat menyebabkan menurunnya fungsi paru. • Tramadol dapat mengurangi kecepatan reaksi pasien. Penderita gangguan hati dan ginjal dengan "creatinine clearances” <30 ml/menit: 50-100 mg setiap 12 jam. Dosis maksimum: 400 mg sehari. • Meskipun termasuk antagonis opiat. sehingga dokter harus menentukan lama pengobatan. • Depresi pernapasan akibat dosis yang berlebihan dapat dinetralisir dengan nalokson. seperti kemampuan mengemudikan kendaraan ataupun mengoperasikan mesin. . tramadol tidak dapat menekan gejala "withdrawal" akibat pemberian morfin. • Tramadol tidak boleh diberikan pada pasien ketergantungan obat. Dosis tersebut biasanya cukup untuk meredakan nyeri. nyeri pasca pembedahan. karena dapat mengakibatkan meningkatnya resiko kejang atau syok. • Hati-hati penggunaan pada ibu menyusui. meningkatnya tekanan intrakranial. maksimum 200 mg sehari.

meningkatkan MAC anestetik volatil. dan ginjal. Interaksi obat: Efek analgesik dan sedasi tramadol ditingkatkan pada penggunaan bersama dengan obatobat yang bekerja pada SSP seperti tranquiliser. obat ini resisten terhadap metabolisme MAO dan metiltransferase katekol (COMT). dan nadi melalui stimulasi adrenergik alfa dan beta. . berkeringat.Keuntungan pemakaian efedrin ialah menaikan kontraksi miokar. meningkatkan aliran darah koroner dan skelet dan menimbulkan bronkhodilatasi melalui stimulasi reseptor beta 2. sering sekali dipakai untukpencegahan maupun terapi hipotensi pada pasien kebidanan. Efedrin mempunyai efek minimal terhadap aliran darah uterus. tekanan darah dampai 50%. Kontraindikasi: Pasien hipersensitif terhadap Tramadol atau Opiat dan penderita yang mendapatkan pengobatan dengan penghambat MAO. Efek puncak : 2-5 menit. Efedrin meningkatkan curah jantung. menimbulkan aksi yang berlangsung lama. pruritus. Interaksi/Toksisitas: peningkatan resiko aritmia dengan obat anetesik volatil. hipnotika. Obat ini merupakan suatu simpatomimetik non katekolamin dengan campuran aksi langsung dan tidak langsung. tekanan darah. seperti efedrin. Namun. lelah. intoksikasi akut dengan alkohol. analgetik atau obat-obat yang mempengaruhi SSP lainnya. mulut kering. kulit kemerahan. Dispepsia dan obstipasi. mual. Lama aksi : 10-60 menit. dieliminasi dihati. muntah. sedasi. EPHEDRIN HCL Pemberian vasopresor. dipotensiasi oleh anti depresi trisiklik.Efek samping: Efek samping yang umum terjadi seperti pusing. Menurut penyelidikan Wreight. curah jantung. sakit kepala. efedrin dapat melewati plasenta dan menstimulasi otak bayi sehingga menghasilkan skor Apgar yang lebih tinggi. hipnotik. memulihkan aliran darah uterus jika digunakan untuk mengobati hipotensi epidural atau spinal pada pasien hamil. tetapi sedikit sekali menurunkan vasokonstriksi pembuluh darah uterus.

24 jam dilahirkan sangat baik. pemeriksaan pH dan base-excessnya dalam batas normal. dosisnya 10 mg yang diulang sampai tekanan darah kembali ke awa1. Bayi yang dilahirkan dengan cara ini mempunyai skor Apgar sangat baik. .Dianjurkan pemberian efedrin cara intravena kalau terjadi hipotensi atau sudah terjadi penurunan tekanan darah 10 mmHg. dan sikap neurologi bayi setelah 4 .