You are on page 1of 12

MAKALAH

BUDIDAYA KAKAP PUTIH (Lates calcarifer)

Oleh :
SARAH SEKAR

26010212110054

IMAM BAHRUDDIN

26010212140083

YOHANES PAMUNGKAS

26010212140084

NERI YUNIRA

26010212140087

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2013

Ikan Kakap Putih Nama Latin : Lates calcarifer Nama lokal : Pelak. Alasan lain Ikan Kakap Putih ini berpotensi untuk dibudidayakan adalah banyak lahan yang tersedia untuk pelaksanaan budidaya di Indonesia baik di laut. Cabek. Cabik (Jawa Tengah dan Jawa Timur). (Sumber : http://www.html) Akuakultur merupakan salah satu aktivitas penting untuk memenuhi kebutuhan pangan dari sektor perikanan. Perairan laut di Indonesia kaya akan sumber daya ikan yang berpotensi untuk usaha budidaya. Pica-pica. kebanyakan produksi Ikan Kakap Putih di Indonesia dihasilkan dari penangkapan di laut.id/ind/warintek/3b3c. Dalam satu dekade terakhir. . produksi perikanan dari sektor akuakultur mengalami peningkatan sedangkan produksi perikanan hasil penangkapan (captured fishery) cenderung stagnan bahkan mengalami penurunan (Anonim. Hal itu disebabkan karena masih sulitnya pengadaan benih Ikan Kakap Putih.net. PENDAHULUAN Gambar 1. Kaca-kaca (Sulawesi). Namun.I. Dubit Tekong (Madura). 2004). tambak maupun air tawar.iptek. Salah satu ikan yang berpotensi adalah ikan Kakap Putih (Lates calcarifer Bloch). Talungtar. Petakan. Ikan Kakap Putih atau sering disebut dengan nama seabass/Baramundi memiliki nilai ekonomis tinggi untuk kebutuhan konsumsi dalam negeri maupun luar negeri.

lagoon dan perairan pantai yang terletak di antara dua buah pulau (selat). Lokasi tersebut juga diusahakan tidak dilalui transportasi laut lain yang dapat mencemari atau mengganggu proses budidaya. . Alasan dipilihnya lokasi tersebut supaya memudahkan untuk kegiatan transportasi dan monitoring karena dekat dengan daratan. Pemilihan perairan pantai di antara pulau-pulau dimaksudkan untuk mencegah gelombang besar dari laut lepas yang dapat merusak sarana budidaya.Lokasi budidaya Ikan Kakap Putih di laut secara umum adalah daerah perairan teluk.

osigen terlarut 7 – 8 ppm dan tersediaanya sumber tenaga kerja. Secara umum lokasi yang baik untuk kepentingan budidaya adalah daerah teluk. Lokasi budidaya Sebelum kegiatan budidaya terlebih dahulu diadakan pemilihan lokasi. Karamba menjadi populer setelah ikan-ikan tawar dan laut dapat dibudidayakan. Ukuran: 3 m x 3 m x 3 m 1 Unit Pembesaran: 6 jaring (4 terpasang dan 2 jaring cadangan) 2.25‖. karena asal muasal karamba adalah melakukan hasil tangkapan yang kemudian berubah ukuran atau tumbuh. Bagi nelayan lebih dekat hubungannya dibanding dengan kolam. Kerangka/Rakit: Kerangkan berfungsi sebagai tempat peletakan kurungan. Pemeliharaan kakap putih di KJA dengan metode operasional monokultur Pemilihan lokasi yang tepat akan menentukan keberasilan usaha budidaya ikan kakap putih.  Bahan: Bambu atau kayu . lagoon dan pantai yang terletak diantara dua pulau. PEMBAHASAN 2.1. Jaring Jaring terbuat dari bahan:  Bahan: Jaring PE 210 D/18 dengan ukuran lebar mata 1 ~ 1. Metode Budidaya 2. kedalam 5 – 7 meter. Secara garis besar KJA terdiri dari bagian : 1. Setelah mempelajari materi ini. Persyaratan fisik lain seperti: Perairan terlidung bebas pencemaran.1.1. salinitas 27–32 ppt. a.II. pelaku utama usaha budidaya mengetahui dan mampu melakukan kegiatan pembesaran kakap putih di karamba jaring apung. Secara umum karamba lebih mudah mengurusnya Produksi per satuan luas luas lebih tinggi karamba jaring apung. Budidaya ikan kakap putih di karamba jaring apung Karamba adalah wadah sebagai tempat pembesaran ikan yang biasanya diletakan di badan air (perairan). guna   untuk menjaga jangan sampai ada ikan peliharaan yang lolos keluar.

2007. Budidaya Ikan Kakap Biologi dan Teknik. Karamba tipe bujur sangkar atu pesegi empat Gambar diatas merupakan gambar karamba dengan tipe bujur sangkar atau persegi empat. Semarang. 101 Halaman. Ukuran: 8 m x 8 m 3. Dan H.Semarang. Dahara Prize. Sumber : Gufron. Budidaya Ikan Kakap Biologi dan Teknik. Gambar 3. 101 Halaman. . Dan H. M. Kordi K. Kordi K. Dahara Prize. M. Pelampung: Pelampung berpfungsi untuk mengapungkan seluruh sarana budidaya atau barang lain yang diperlukan untuk kepentingan pengelolaan   Jenis: Drum (Volume 120 liter) Jumlah: 9 buah Gambar 2. Unit Karamba dengan rangka dan pemasangan jaring Gambar diatas merupakan gambar Unit karamba dengan rangka dan pemasangan jaring Sumber : Gufron. 2007.

5 kali ke dalam air Ukuran benih yang akan Dipelihara: 50-75 gram/ekor Pakan yang digunakan: ikan rucah Perahu : Jukung Peralatan lain : ember. 101 Halaman.serok ikan. M. padat penebaran Benih kakap putih dapat diperoleh dari alam atau dari panti benih. keranjang. Jangkar: Agar seluruh sarana budidaya tidak bergeser dari tempatnya akibat pengaruh angin. Kordi K. Cara mengikat pelampung di rakit Gambar diatas merupakan gambar teknik cara mengikat pelampung pada rakit Sumber : Gufron. 2007.4. Padat . Budidaya Ikan Kakap Biologi dan Teknik. Benih berenang cepat/gesit. gelombang digunakan jangkar. Dan H. Kepadatan optimal untuk benih berukuran 25-30 gram/ekor adalah 100 ekor/m 3.Semarang. Jumlah : 4 buah Panjang tali : Minimal 1. 5. Peralatan pendukung lainya.        Jenis yang dipakai: Besi atau beton (40 kg). Sedangkan benih berukuran 100-150 gram/ekor padat tebarnya adalah 40-50 ekor/m3 KJA. Pendederan dilakukan setelah benih berumur 30 hari (D-30) dari saat penetasan. Waktu penebaran benih adalah pagi hari atau sore hari. Dahara Prize. gunting dll Gambar 4. b. sisik mengkilat tergolong benih yang baik dan sehat. Ukuran panjang 2-3 cm dalam kurun waktu 30-40 hari atau ukuran besar 25-30 gram/ekor.

Untuk ukuran konsumsi waktu pemeliharaannya ditambah beberapa bulan dan padat penebarannya diturunkan menjadi 15-20 ekor/m3. benih sudah akan mencapai ukuran gelondong. diberikan 10% dari berat total ikan dalam karamba per hari. Ikan berukuran 50 gram. perlu diberi tambahan pakan cacahan daging ikan rucah segar dengan dosis 5-10% per hari dari total berat badan ikan. mineral dan protein tambahan. Ikan rucah akan diperoleh nilai tukar . Ikan kakap putih dapat juga diberi pakan ikan rucah.5 cm. 2007). untuk menghasilkan pelet ikan. langkah pemeliharaan selanjutnya adalah pemindahan benih ke dalam kurungan pembesaran. Pakan diberi berupa cacahan daging segar halus dengan dosis 100% per hari dari total berat badan selama bulan pertama. udang rebon) dan pakan buatan dengan kandungan protein > 40% dan lemak < 12%. yaitu: pakan hidup (rotifera. yakni bulan 111—V kepadatannya diturunkan menjadi 25-30 ekor gelondong/m3. Ikan rucah bisa diperoleh dari hasil tangkapan gombang. pakan dan pemberian pakan Pakan yang diberikan untuk ikan kakap putih ada 3 jenis. pada kurungan pembesaran adalah 30-35 ekor gelondong/m3. Bahan kurungan (jaring) dari P€ (polythilene = eks jaring trawl) dengan mesh size 3/4 inchi (D. waktu dan ukuran ikan. Masa pememliharaan pendederan selama 1-2 bulan.5-3.16) untuk pembesaran tahap I. dan pada bulan kedua dosisnya diturunkan menjadi 75% per hari.12 . Ikan berukuran 100-300 gram cukup diberi sebanyak 5% dari berat total per hari. Pemberian pakan harus memperhatikan keadaan cuaca. yakni bulan I dan II.I8). naupli artemia). dan untuk tahap II dengan mesh size 1. Jaring/hapa yang memiliki lubang (mata jaring) kecil. Pemeliharaan selama satu bulan ukuran panjang 2.Untuk mernacu pertumbuhan. B Konstruksi kurungan pembesaran yaitu 4x4x3 m3 atau 5x5x3 m3. Berukuan di tas 300 gram. Ditambah dengan vitamin.5 – 10 cm.25 inchi (D. Ikan rucah bisa diramu dengan bahan pengikat (tepung sagu). dan untuk tahap II.penebaran antara 80-100 ekor/m3 volume air. Usaha pembesaran di perairan atau laut diperlukan waktu sekitar 4-5 bulan. Setelah benih berukuran 7. Padat penebaran untuk tahap I. pakan segar (daging ikan segar yang dihaluskan. c. Dengan ukuran kurungan pendederan adalah 2x2x2 m 3 atau 3x3x3 m3 (Ghufron. diberi 3% per hari dari berat total ikan dalam karamba.5-10 cm. sedangkan pemeliharaan selama 2 bulan 7.

. Artinya untuk menghasilkan berat kakap 1 kg diperlukan ikan rucah sebanyak 5-7 kg.1. membersihkan jaring dari kotoran atau mengganti jaring dengan yang baru apabila sudah rusak.3. Penyakit patogen Parasit yang pernah menyerang larva ikan kakap putih adalah cacing pipih golongan Trematoda. Serangannya mencapai 2-3 %. serta mempersihkan rakit dan pelampung dari kotoran yang menempal. dan salinitas. tingkah laku. Adanya monitoring atau pengontrolan rutin perlu dilakukan dalam kegiatan budidaya ikan kakap putih di keramba jaring apung. (2004) menunjukkan bahwa kecepatan pertumbuhan dan tingkat konsumsi pakan akan meningkat sejalan dengan peningkatan suhu. laju metamorfosis. suhu.2.2. Masalah yang Sering Dihadapi Masalah yang sering dijumpai dalam budidaya Ikan kakap putih adalah masalah internal yaitu penyakit yang menyerang ikan kakap baik patogen maupun non patogen. 2. tingkat konsumsi pakan. Hal tersebut bertujuan untuk mengantisipasi masalah yang akan terjadi dalam kegiatan budidaya. Contoh masalah yang paling sering terjadi adalah adanya hama dan penyakit yang menyerang kultivan budidaya.1. yang diantaranya adalah intensitas cahaya.3. 2. Salinitas yang baik dalam pemeliharaan berkisar antara 30-31 ppt.pakan 5-71. yaitu pada bagian spina. Suhu memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan ikan yaitu pada pertumbuhan. 2. dan kecepatan metabolisme. Aktivitas Rutin Budidaya 2. Pengelolaan air dan wadah pemeliharaan Perkembangan dan kelangsungan hidup ikan kakap putih dalam kegiatan budidaya sangat bergantung pada parameter lingkungan pemeliharaan. Penelitian Sugama et al. dengan kisaran suhu 26-29 oC (Kungvankij. Larva yang terserang parasit berumur sekitar 18 hari. kecepatan renang. 1988). Cacing ini banyak terdapat pada air media pemeliharaan dan sebagian menempel pada tubuh larva. Untuk menaggulangi hal tersebut harus dilakukan pengecekan kualitas air apakah sudah sesuai dengan kultivan.

Tabel 1. Penyakit viral pada larva kakap putih adalah VNN (viral nervous necrosis). Beberapa penyakit non patogenik pada larva ikan kakap putih karena faktor lingkungan antara lain defisiensi oksigen. Ikan yang terserang virus VNN tidak menunjukan perubahan secara fisik. Bakteri ini bersifat patogen pada larva dan merupakan penyebab kematian yang besar selain penyakit viral. Bakteri yang menyerang larva adalah jenis Vibrio sp. Ikan yang terserang bakteri vibrio sp tidak menunjukan perubahan secara fisik.gejala yang terlihat adalah terjadinya kematian secara masal dan tiba-tiba (Kurniastuty et al. 2004). Virus ini sangat patogenik dan merupakan penyebab kematian larva terbesar.3.4. 3 hari Semalam 1 jam 1 jam . gerakan larva lambat dan berenang di permukaan.. 2004).15ppm Air tawar 250ppm formalin atau air tawar berturut-turut ½-1jam. Berikut adalah contoh penyakit dan cara penanggulangannya dapat dilihat pada Tabel 1. warna tubuh pucat. Umumnya bakteri ini menyerang pada larva berumur sekitar 17 hari. gas bubble desease dan keracunan. Perlakuan untuk Mengatasi Penyakit Bakteri dan Parasit pada Ikan Kakap Putih Patogen Monogonea Cryptocaryon irritants Diplectanum sp. Terjadinya perubahan kualitas air dapat menyebabkan inang memilki daya tahan tubuh lemah dan patogen berkembang dengan baik sehingga menimbulkan kematian pada larva. Solusi dari Masalah Terkait Masalah penyakit pada Ikan Kakap Putih dapat ditanggulangi dengan berbagai cara sesuai dengan jenis penyakitnya.. aerasi kuat Formalin 20ppm + MG 0. 2. VNN yang menginfeksi larva dapat mengakibatkan kematian total 100 % dalam tempo yang relatif singkat (1-2 minggu). 2. namun pada saat gelap tubuh ikan tampak bercahaya dan larva kehilangan nafsu makan (Kurniastuty et al. Penyakit non patogen Penyebab penyakit non patogenik dipengaruhi faktor lingkungan dan erat kaitannya dengan parameter kualitas air.Tanda gejala serangan pada larva adalah nafsu makan berkurang. 7 hari hidrogen peroksida Pergantian air. pemindahan ikan Formalin 200ppm.2. Pseudohabdosyncus Perlakuan Perendaman dengan 150ppm Lama Perlakuan 30 menit.

Chlorampenichol 0. mencegah penyebaran organisme penyebab penyakit dari bak pemeliharaan ke bak pemeliharaan yang lain (Kurniastuty et al.Vibrio sp.2 kg/kg pakan Sulphonamide 0. (2004). pencegahan dan pengobatan. III. menyatakan bahwa untuk mencegah mortalitas pada ikan dapat dilakukan hal. termasuk pengetahuan mengenai daur hidup dan ekologi organisme penyebab penyakit. internal atau eksternal yang cenderung mengganggu kondisi homeostatis suatu organisme. Diagnosa yang tepat diperlukan dalam setiap rencana pengendalian penyakit. 2004). KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat didapatkan dari pembuatan makalah ini adalah: 1. Penanggulangan penyakit pada budidaya ikan laut baik pembesaran maupun pembenihan dapat dilakukan dengan mencegah timbulnya stress pada ikan.. pemberian pakan yang optimal mutu dan kualitasnya. Diagnosa yang tepat akan menghasilkan tindakan penanggulangan yang lebih terarah yaitu dengan mempertahankan kualitas air agar tetap baik. (2004) Secara umum penanganan panyakit meliputi tindakan diagnosa. Menurut Kurniastuty et al. mengurangi kemungkinan penanganan yang kasar. Bentuk wadah dalam budidaya ikan kakap putih berupa keramba jaring apung (KJA) . baik secara fisik.hal sebagai berikut :    Mempertahankan kualitas air tetap baik Pemberian pakan yang cukup secara kualitas dan kuantitas Mencegah menyebarnya organisme penyebab penyakit dari bak pemeliharaan satu ke bak yang lain. Stress didefinisikan sebagai reaksi biologis terhadap stimulus yang mengganggu.5 g/kg pakan Perendaman dengan Nitrofurazone 4 hari 7 hari 4 hari 15 ppm atau Sulfonamide 50ppm Sumber : Kurniasuty et al.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. Direktorat Kungvankij. T. FAO. Masalah yang sering dihadapi dalam budidaya ikan kakap putih adalah masalah internal berupa penyakit patogen dan non patogen. 3. Dahara Prize. P. 1988. . 101 Halaman. Aktivitas rutin budidaya ikan kakap putih meliputi pengelolaan air dan wadah pemeliharaan serta pemberian pakan. Gufron. Hama dan Penyakit Ikan dalam Pembenihan Ikan Kerapu. Solusi penanganan penyakit secara umum dengan mempertahankan kualitas air tetap baik. pemberian pakan yang cukup secara kualitas dan kuantitas. Rome. Kordi K. Budidaya Ikan Kakap Biologi dan Teknik. M. Kurniastuty.2. dan mencegah menyebarnya organisme penyebab penyakit dari bak pemeliharaan satu ke bak yang lain. Dan H. Guide to Marine Finfish Hatchery Management. 2007. Semarang. 2004. Hartono. Food And Agriculture Of United Nations. 2004. Depertemen Kelautan dan Perikanan. Tusihadi dan P. The State of World Fisheries Aquaculture. 4.

A. Editors: M. K. Rimmer. Survival and Feeding Rate of Humpback Grouper (Cromileptes altivelis). .C.. S. Trijoko.Sugama. McBride and K. Maha Setiawati. K. Effect of Water Temperature on Growth. Ismi. 2004. Williams. In: Advences in Grouper Aquaculture. Page 55-60. S. Canberra. Australian Centre for International Aqricultural Research.