You are on page 1of 3

2.

ETIOLOGI
Penyakit tetanus ini disebabkan karena Clostridium tetani yang
merupakan basil gram positif obligat anaerobik yang dapat ditemukan pada
permukaan tanah yang gembur dan lembab dan pada usus halus dan feses
hewan. Mempunyai spora yang mudah bergerak dan spora ini merupkan
bentuk vegetatif. Kuman ini bisa masuk melalui luka di kulit. Spora yang ada
tersebar secara luas pada tanah dan karpet, serta dapat diisolasi pada banyak
feses binatang pada kuda, domba, sapi, anjing, kucing, marmot dan ayam.
Tanah yang dipupuk dengan pupuk kandang mungkin mengandung sejumlah
besar spora. Di daerah pertanian, jumlah yang signifikan pada manusia
dewasa mungkin mengandung organisma ini. Spora juga dapat ditemukan
pada permukaan kulit dan heroin yang terkontaminasi. Spora ini akan menjadi
bentuk aktif kembali ketika masuk ke dalam luka dan kemudian berproliferasi
jika potensial reduksi jaringan rendah. Spora ini sulit diwarnai dengan
pewarnaan gram, dan dapat bertahan hidup bertahun – tahun jika tidak terkena
sinar matahari. Bentuk vegetatif ini akan mudah mati dengan pemanasan
120oC selama 15 – 20 menit tapi dapat betahan hidup terhadap antiseptik
fenol, kresol.
Spora tersebut seperti stik dram, meski tidak selalu terlihat clostridium
tetani merupakan bakteri yang motile karena memiliki flagella dimana
menurut antigen flagellanya dibagi menjadi 11 strain. Kesebelas strain
tersebut memproduksi neurotoksin yang sama.
Kuman ini juga menghasilkan 2 macam eksotoksin yaitu tetanolisin
dan tetanospasmin. Fungsi tetanolisin belum diketahui secara pasti, namun
diketahui dapat menyebabkan kerusakan jaringan yang sehat pada luka
terinfeksi, menurunkan potensial reduksi dan meningkatkan pertumbuhan
organisme anaerob. Tetanolisin ini diketahui dapat merusak membran sel lebih

dari satu mekanisme. Tetanospasmin (toksin spasmogenik) ini merupakan
neurotoksin potensial yang menyebabkan penyakit. Tetanospasmin merupakan
suatu toksin yang poten yang dikenal berdasarkan beratnya. Toksin ini
disintesis sebagai suatu rantai tunggal asam amino polipeptida 151-kD 1315
yang dikodekan pada plsmid 75 kb. Tetanospasmin ini mempengaruhi
pembentukan dan pengeluaran neurotransmiter glisin dan GABA pada
terminal inhibisi daerah presinaps sehingga pelepasan neurotransmiter inhibisi
dihambat dan menyebabkan relaksasi otot terhambat. Batas dosis terkecil
tetanospasmin yang dapat menyebabkan kematian pada manusia adalah 2,5
nanogram per kilogram berat badan atau 175 nanogram untuk manusia dengan
berat badan 75 kg.

Gambar 1. Mikroskopik Clostridium tetani.
FAKTOR RISIKO
1. Luka yang terbuka yang sering dalam keadaan anaerob sehingga cocok untuk
berkembang biak bakteri clostridium tetani
2. System imun yang menurun seperti pada lansia dan pada orang yang terkena
diabetes mellitus.
3. Kehamilan ini merupakan factor risiko terkena tetanus neonatus akibat
pemotongan tali pusat yang tidak bersih, higine.
4. Lokasi luka semakin dekat dengan system saraf pusat semakin berisiko
terkena tetanus.

DAFTAR PUSTAKA Hendarwanto. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid
I,Edisi III: p 474-476