You are on page 1of 30

1

TINJAUAN PUSTAKA
DERMATOTERAPI
Preseptor : dr. Agus Walujo, SpKK.,M.Kes
Kelompok XLVI-D
Presentan:
Anggi Nuraeny

4151141508

Mediate Baskita G.

4151141432

Dinar Riny N.

4151141077

Eni Siti Nuraeni

4151141009

Partisipan:
I Wayan Yoga M

4151141512

Kuseti

4151141482

Sauqi Nur Alifan Z

4151141494

Marsha Farasannia

4151141455

ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
CIMAHI
2016

2

DERMATOTERAPI

I. DEFINISI
Dermatoterapi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari mengenai
pengobatan pada penyakit kulit.1
II. PRINSIP DERMATOTERAPI
Dalam mengobati penyakit kulit, terdapat prinsip umum dan prinsip khusus
untuk pemberian obat.
a. Prinsip umum :
1. Perhatikan penderita secara keseluruhan, somatik dan psikis
2. Berikan kesempatan pada alam untuk menyembuhkan penyakit tersebut,
obat yang diberikan bertujuan membantu proses penyembuhan oleh alam.
3. Segi fisologi, patologi, biokimia, dan anatomi perlu diperhatikan.
4. Kuasai materi medika
5. Perhatikan farmasi dan farmakologi obat-obatan, misalnya sinergisme, efek
samping dan toksisitas obat.
6. Terapi yang baik adalah terapi kausal
7. Berikan obat sesederhana mungkin, untuk mencegah hal yang tidak
diinginkan. Campuran obat yang sulit akan mempersulit apotik dalam
pembuatannya.
8. Individualisasi
9. Perhatikan segi ekonomi pasien.
b. Prinsip khusus dermatoterapi topikal:
1. Pemilihan vehikulum tergantung pada :
a) Stadium gambaran klinis penyakit
Obat topikal yang diberikan diubah sesuai dengan perjalanan penyakitnya,
misal pada stadium akut (eritema/edema/basah) diberikan kompres, pada
stadium subakut (eritema +/-, tidak basah, tidak eritem) diberikan krim,
bedak kocok, bedak pasta, pada stadium kronik/kering diberikan obat
dengan bentuk salep.

3

b) Distribusi dan lokalisasi penyakit
Misalnya salep tidak digunakan untuk kelainan kulit yang generalisata
(kecuali salep 2-4 untuk skabies ), tidak boleh digunakan pada kulit kepala
berambut, sedangkan untuk daerah lipatan boleh diberikan ketika penderita
istirahat malam hari.
c) Efek yang diinginkan
Misalnya digunakan kompres untuk membersihkan.
2. Makin akut/produktif penyakit kulitnya, makin rendah konsentrasi bahan
aktif yang digunakan.
3. Beri penjelasan kepada penderita mengenai cara pemakaian obat.
4. Hindarkan pemberian obat topikal yang bersifat sensitizer: misalnya
mengandung penisilin, tetrasiklin, sulfa dan anti histamin.
5. Batasi obat yang tidak stabil atau tidak dapat disimpan lama

Salep

Bagan 1 Berdasarkan Gambaran Klinis/Lesi/Stadium
III. JENIS DERMATOTERAPI

dan kedalamannya (tidak selalu) dapat ditambahkan bahan aktif. dan lain-lain. Bedak Pasta Bedak kocok Pasta pendingin Cairan Solutio Tinktura Salep O/W W/O imseeeeEmulsi Gambar 1.Radioterapi A.Bedah kimia .Penyinaran .medikamentosa Bedah : . Dermatoterapi Topikal Vehikulum yaitu bahan dasar obat pembawa zat aktif (bersifat inert).Bedah listrik .4 Topikal Medikamentosa Sistemik Dermatoterapi Non .Psikoterapi . zat pewarna.bedah . zat pewangi. Bagan Vehikulum .Bedah beku Non .Bedah skalpel .

Solusio Solusio adalah suatu dermatoterapi topikal dengan vehikulum dasar monofasik. solutio as. Salisilat 1‰. digunakan dengan cara kompres terbuka. Contoh penulisan resep solusio: Sol.5 1. dan solutio acid Borici 1% dan 3%. Cairan a. Rivanoli1‰ R/ Rivanoli 1 Aqua ad 1000 . Solutio terdiri atas solutio rivanoli 1 ‰. yaitu aqua.

Salisilat 1 Aqua ad 1000 m.l. digunakan dengan cara ditotol. yaitu talk venetum.f. Contoh penulisan resep tinktura: Tinktura podofilin 25% Tinktura yodium 10% Tinktura LCD R/ podofilin 25 gr R/ Yodium 10gr R/ Liq. dermatitis kontak alergika.e ₰ Untuk kompres terbuka b. Contoh penulisan resep bedak: . digunakan dengan cara ditabur.l.a sol ʃ u.6 Sol.f.f. impetigo krustosa Sol.l.f. yang sering etilalkohol dan spiritus dilutus.a tinkt etil alcohol ad 100 m. As.f.a sol ʃ u. Borici 3% Aqua ad 100 m.Acid Borici 3% R/ As.e ₰ Sol. Carb. Det 5% etil alkohol ad 100 Mercurochrom 10 gr As. salisil 5% m. Borici 1% Aqua ad 100 m. Tinktura Tinktura adalah suatu dermatoterapi topikal dengan vehikulum dasar monofasikselain aqua.l.a tinkt 2) Gliserin 5% spiritus dilutus ad 100 Bedak Bedak adalah suatu dermatoterapi topikal dengan vehikulum dasar monofasik. Salisilat 1‰ R/ As.e ₰ Untukkompres terbuka dermatitis numularis.l. Acid Borici 1% R/ As.a sol ʃ u.

Flav ad 100yang vehikulum dasar bifasik menggunakan bedak dan aqua biasanya dengan gliserin sebagai m. Salisilat 3% Vas.l.l.l. Contoh penulisan resep salep: Salep 2-4 Ung L. Salisilat 2 % Talk Venetum ad 100 m.f. Contoh penulisan resep bedak kocok: Lotion Asam Salisilatat 2% R/ As Salisilatat 2% . Zalp. Carb.flav.ad 100 Oxyd Zincii 5% Ung Whitfield (half strength) 5%(full strength) UngLanolin Whitfield R/ As.D R/ As. Ointment) Salep adalah suatu dermatoterapi topikal dengan vehikulum dasar monofasik yaitu lemak.7 Bedak As. Salisilat 2% R/ As.f.Bedak Flav adkocok 100 adalah suatu dermatoterapi Vas. Ad6% 100 R/ As. 5% Sulf Precip 4 % As Salisilat 5% vas. Salisilat 2 % R/ Liq.Salisilat Alb.aditambah ung emulsifying agent.a ung m.f. As benzokum 6% As benzokum 12% Lanolin 10% Lanolin 10% 4) Bedak kocok topikal Vas.a talk ʃ u.C. yang digunakan dengan cara dikocok terlebih dahulu kemudian dibalurkan.e ₰ Untuk impetigo neonatorum 3) Salep (Unguentum. Det. yang tersering digunakan adalah vaselin (album dan flavum) dan adaepslanae dengan cara pemakaian dioles.

l. Krim W/O: air dalam minyak/salep: ‘cold cream’. Dermatoterapi Medikamentosa Sistemik 1.f.l.e ₰ ₰ Untuk pengobatan skabies Ketokonazole 2% R/ Ketokonazole 2% Tube no 1 (10 gr) ʃ u. air merupakan butir-butir di dalam lemak.e 5) ₰ Krim Krim adalah suatu dermatoterapi topikal dengan vehikulum dasar bifasik terdiri atas salep dan aqua dengan scara pemakaiannya dioles. lemak hanya merupakan butir-butir dalam air. Krim ada 2 jenis: a. Fasa luar adalah air.a lot ʃ u. Contoh penulisan resep krim: EBB (Emulsi Benzyl Benzoat) R/ Benzil benzoat 20% Gliserin 5% Spiritus dilitus ad 100 m.e ₰ Untuk pengobatan Tinea fasialis 6) Pasta dan pasta pendingin Pasta merupakan suatu dermatoterapi topikal dengan vehikulum dasar trifasik berupa talk. II. Fasa luar adalah lemak.a tinkt ʃ u. Cocok digunakan siang hari. Tube 1 (10gr) ʃ u.e Permetrin 5% R/ Krim permetrin 5% No.f. Kortikosteroid . b. Krim O/W: minyak dalam air. ‘vanishing cream’. aqua dan salep yang cara penggunaannya dioles. Cocok digunakan malam hari.8 Talk Venetum 10% Gliserin 5% Aqua ad 100 m.

A) Kortikosteroid Topikal Super poten Kuat Sedang Lemah Beclomethasone dipropionate 0. antipruritus.3% Bethamethasone valerate 0. IL-2.01% Fluticasone Prednisolon . sehingga dapat meningkatkan glukosa dari lemak dan protein. TNFα). IFN-α. Pemberian kortikosteroid memiliki efek kerja antieritema.5% Diflucortolone Halcinonide 0.  Mineralokortikoid:mempengaruhi metabolisme mineral yaitu kortikosteroid dapat menyebabkan retensi Na+ dan ekskresi K+.  Immunosupresan Kortikosteroid menghambat proliferasi sel limfosit T. IL-6. tumor. antiproliferasi (antimitotik). imunitas seluler.025% Bethamethasone dipropionate 0.05% Hidrocortisone asetat 1% Diflucortolone valerate 0.1% Triamcinolone acetonide 0. dolor.1% Hidrocortisone asetat 2.9 Kortikosteroid adalah suatu hormon yang disekresi di dalam tubuh oleh kelenjar suprarenal. Efek kortikosteroid sebagai hormon:  Glukokortikoid: mempengaruhi metabolisme glukosa dengan peningkatan glukoneogenesis. dan ekspresi gen yang menyandi berbagai sitokin (IL-1. rubor.05% Desonide 0. Efek kortikosteroid sebagai obat : Kortikosteroid sebagai obat mempunyai efek kerja :  Antiinflamasi Pada inflamasi terjadi kalor. vasokontriksi.

1% Clobetasol propionate0. Penulisan resep krim kortikosteroid topikal: Kortikosteroid potensi sangat kuat R/ Krim clobetasol diproprionate 0.e ₰ Kortikosteroid potensi kuat R/ Krim bethametasone valerat 0.1% No.05% 0.025% Mometasone fuorate 0. Di satu sisi kortikosteroid topikal sebagai fotosensitizer sehingga terjadi hiperpigmentasi. Akibat hipopigmentasi akan terjadi telangiektasi.1% No.10 valerate 0. tube I (5 g) ʃ u. tube I (5 g) ʃ u.05% Fluocinolone acetonide 0.03% Desoximetasone 0.1% proplanate 0.e ₰ . Atrofi kulit menngakibatkam hipopigmentasi karena kulit menipis.05% Desoximetasone 0.e ₰ Kortikosteroid potensi sedang R/ Krim triamcinolone acetonide 0. Efek samping kortikosteroid topikal terhadap folikel mengakibatkan hipertrikosis.04% Efek samping kortikosteroid topikal Pada pemberian kortikosteroid topikal yang lama dan berlebihan akan menimbulkan efek antimitotik yang berlebihan sehingga menimbulkan atrofi kulit.1% Deksamethasone 0. Serabut elastin menipis mengakibatkan timbulnya striae.05% No. tube I (5 g) ʃ u.25% Halobetasol proprionate 0.025% Metilpridnosolon 0.

prednison. tube I (5 g) ʃ u.) banyak digunakan dalam bidang dermatologi karena obat tersebut memiliki efek antiinflamasi dan imunosupresan. Dosis prednison adalah 1-2 mg/kgBB/hari. deksametason.  Kerja lama (36-72 jam): betametason. Berikut adalah dosis ekuivalen untuk berbagai jenis kortikosteroid. prednisolon. parametason.11 Kortikosteroid potensi lemah R/ Krim hydrocortisone asetat 1% No.e ₰ a) Kortikosteroid Sistemik Kortikosteroid sistemik (K.S. triamnisolon.  Kerja sedang (12-36 jam): metilprednisolon. Klasifikasi kortikosteroid berdasarkan waktu kerja obat:  Kerja singkat (8-12 jam): hidrokortison & kortison. Macam Kortikosteroid Potensi Glukokortikoid Dosis ekuivalen (mg) Potensi Mineralokortikoid .

Atrofi 3. Osteoporosisperlu diperhatikan pada pengobatan kortikosteroid.Pemberian dosis besar sebaiknya dilakukan pada waktu lambung berisi.V ₰ R/ Metilprednisolon 4 mg tab No.0 4. Diabetes Melitus Contoh penulisan resep kortikosteroid sistemik: R/ Kortisol 5 mg amp No.0 5.75 2.0 0 0 0 Efek samping kortikosteroid sistemik : 1.0 2+ 2+ 4-5 5 4 4 5 4. IX ʃ 2-0-1 I. maka pengobatan harus dihentikan. Ulkus peptikum merupakan komplikasi yang kadang-kadang terjadi pada pengobatan dengan kortikosteroid. Hal ini terutama perlu diperhatikan pada wanita yang telah berhenti haid. 4.60 0.0 25. 2. VI ʃ 1-0-1 pc ₰ .0 4.8 20. Retensi Na+ 5.0 0 0 1+ 1+ 0 20-30 20-30 10 0. sehingga jika hal tersebut terjadi.12 Kerja singkat Hidrokortison Kortison Kerja sedang Meprednison Metilprednisolon Prednisolon Prednison Triamnisolon Kerja lama Betametason Deksametason Parametason 1 0.0 5.

V ₰ Contoh kasus Seorang pasien dengan berat badan 50kg dengan diagnosis Sindroma Steven Johnson. IX ʃ 2-0-1 I. Sediaan deksametason = ampul 5 ml (setara dengan 5 mg) à pasien membutuhkan 3 ampul deksametason sehari. XVIII  ʃ 2 dd III pc ₰ . Deksametason: 100/5 x 0.V ₰ Apabila kondisi pasien baik (bisa menelan) diberikan prednison (peroral) dengan dosis 30-40 mg/hari dengan resep sebagai berikut: Selama 3 hari R/ Prednison tab 5 mg No.V ₰ R/ Dexamethasone 5 mg amp No. maka pada resep tertulis: R/ Deksametason 5 mg amp No. III ʃ 1-0-0 I. Berapakah dosis kesetaraan prednison bila diganti dengan deksametason? Bagaimana cara pemberiannya? Dosis prednison adalah 1-2 mg/kgBB/hari = 50 – 100 mg/hari (dosis yang diambil yang tertinggi.13 R/ Deksamethasone 5 mg amp No. III ʃ 2-0-1/2 I.V ₰ R/ Deksametason 5 mg amp No. VI ʃ 1-0-1 I. maka pada pasien ini diberikan 100 mg/hari).75 = 15 mg/hari.

bekerja secara kompetitif memblokade histamin pada reseptor histamin.  Agonist β2 adrenoceptor 3. IX ʃ 2-0-1Dosis pc prednisolon diturunkan pada hari ke-10. XII Selama 3 hari Dosis prednisolon diturunkan pada hari ke-7. dengan resep: R/ Prednison tab 5 mg No. VI Selama 3 hari ₰ Dosis prednisolon diturunkan pada hari ke-13. Efek pelepasan histamin pada tubuh dapat dikurangi dengan beberapa cara : 1. IX Selama 3 hari  ʃ 1 dd 1 2. . Antagonis Fisiologis Epinefrin.14 Dosis prednisolon diturunkan pada hari ke-4. Contoh : Cromolyn + Nedocromyl sebagai obat asma. Antihistamin ₰ Anti histamin adalah zat yang digunakan untuk mencegah atau menghambat kerja histamin pada reseptornya.  dengan resep: R/ Prednison tab 5 mg No. berlawanan kerja dengan histamin pada otot polos. namun reseptornya berbeda 2. dengan resep: R/ Prednison tab 5 mg No. dengan resep: Selama 3 hari R/ Prednison tab 5 mg No. Antagonis Reseptor Histamin (Anti Histamin). Pelepasan Inhibitor  Reduksi degranulasi sel mast (pada reaksi hipersensitivitas).

Setelah pemberian secara oral. Antihistamin tipe H1 klasik ini juga memiliki aktivitas antikolinergik.15 AH-1 dibedakan berdasarkan penemuannya dalam 2 kelompok atas dasar kerjanya terhadap SSP menjadi generasi I dan II. Obat ini lebih efektif jika diberikan sebelum pelepasan histamin. AH-1 generasi 1 lebih memiliki kemampuan sedativa daripada AH-1 generasi 2. yaitu menghambat peningkatan permeabilitas kapiler dan edema yang disebabkan oleh histamin serta menghambat vasokonstriksi. efek anestesi lokal. Ikatannya reversibel dan dapat digantikan oleh histamin dalam kadar yang tinggi. AH-1 generasi I (klasik/sedatif) bekerja dengan cara competitif inhibitor terhadap histamin pada reseptor jaringan. Efeknya dapat terlihat dalam 30 menit. karena sifat AH-1 generasi 1 yang lebih lipid soluable. sehingga mencegah histamin berikatan serta mengaktivasi reseptornya.sementara AH-1 generasi 2 kurang lipid soluable sehingga sulit menembus CNS. dan . Beberapa antihistamin tipe H1 mempunyai kemampuan untuk menghambat reseptor α-adrenergik atau reseptor muskarinik kolinergik. Pada pemberian awal. dan anti mabuk perjalanan. antiemetik. sedangkan obat lain mempunyai efek antiserotonin. Dengan menghambat kerja dari histamin. terjadi berbagai pengaruh yang ditimbulkan antihistamin. dan dapat bertahan 4-6 jam. sehingga mudah masuk ke CNS dan memblokade reseptor otonom. mencapai konsentrasi puncak plasma dalam 1-2 jam. antihistamin akan diabsorbsi dengan baik dalam saluran cerna. sehingga banyak keuntungan yang didapat jika digunakan untuk pencegahan urtikaria kronik idiopatik. antihistamin dapat mencegah edema dan pruritus selama reaksi hipersensitivitas.

retensi urin. hipotensi yang bersifat sementara. iritabilitas. Bangkitan dapat terjadi. dikonjugasi membentuk glukuronida dan hampir seluruhnya diekskresikan ke urin setelah 24 jam pemberian. Sifat lipofilik dari antihistamin AH1 klasik menyebabkan distribusi jaringan yang luas dan dapat melewati sawar darah otak. disritmia. glaukoma sudut sempit.16 beberapa obat lainnya dapat bertahan lebih lama. dan asma. walaupun jarang. tremor dan mimpi buruk. konstipasi dan diare. Kontraindikasi pemberian obat ini adalah pada bayi baru lahir atau bayi prematur. karena itu dapat memberikan efek pada:  Sistem saraf pusat Komplikasi tersering pada orang dewasa adalah depresi SSP. plasenta dan air susu ibu.  Jantung Takikardia. Pernah dilaporkan terjadinya diskinesia wajah dan mulut pada penggunaan kombinasi antihistamin-dekongestan. muntah. disfungsi ereksi. retensi urin.  Gastrointestinal Dapat terjadi mual.  Genitourinaria Disuria. kehamilan. insomia. sedasi dan pusing. Antihistamin tipe H1 dimetabolisme oleh sistem enzim sitokrom hepar P450 (CYP) CYP3S4. anoreksia.  Darah . ibu menyusui. Pada anak-anak dan orang tua dapat terjadi: kecemasan.

Antihistamin lainnya seperti ciproheptadin dapat menyebabkan peningkatan berat badan. Lama kerja dari klorfeniramin adalah 4-6 jam.  Kulit Reaksi kulit yang dapat terjadi berupa dermatitis.17 Klorfeniramin dapat menebabkan pansitopenia. klorfeniramin diabsorbsi dengan baik dan cepat pada saluran pencernaan. hipertermia kekeringan pada membran mukosa dan penglihatan yang buram. Setelah pemberian dosis tunggal per oral. dilatasi pupil. melalui metabolisme pertama di hati dan di mukosa saluran pencernaan selama proses absorbsi. Beberapa contoh AH-1 generas I adalah sebagai berikut:  Klorfeniramin (Chlorpheniramine Maleat) Klorfeniramin merupakan antihistamin sedatif dari golongan alkilamin yang paling poten dan stabil. leukopenia dan anemia aplastik.  Efek samping lainnya Terdapat efek samping antikolinergik yang dapat berupa muka merah. petekie. agranulositosis. Dosis yang diberikan 4-6 mg peroral dapat . trombositopenia. fixed drug eruption dan fotosensitif. mencapai kadar puncak plasma dalam waktu 30-60 menit. kemudian didistribusikan secara luas ke seluruh tubuh termasuk susunan saraf pusat. Sebanyak 50% dari dosis yang diberikan diekskresikan terutama melalui urin dalam waktu 12 jam dalam bentuk asal dan metabolitnya.

. termasuk sistem saraf pusat. takikardia. perubahan gelombang T dan pemendekan dari diastole. Difenhidramin tidak dapat menembus jaringan kulit yang intak pada pemberian secara topikal. bahkan dapat menyebabkan reaksi hipersensitivitas. diabsorbsi dengan baik setelah pemberian per oral. dosis maksimal 300 mg/hari.4 sampai 10 jam. Klorfeniramin tablet 2 mg dan 4 mg c. dan hanya 40%-60% dari dosis pemberian yang mencapai sirkulasi sistemik. dengan dosis maksimal 24 mg per hari baik pada anak-anak dan dewasa. Klorfeniramin elixir. Waktu paruh bervariasi dari 2. Dosis pemberian adalah 25 mg-50 mg per oral. Klorfeniramin retarded tablet 8 mg dan 12 mg  Difenhidramin Difenhidramin adalah derivat etanolamin yang sering digunakan dalam praktek sehari-hari. 480 ml b. Pemberian 100 mg atau lebih dapat menyebabkan hipertensi.18 diberikan 3-4x/hari. Difenhidramin tidak dapat diberikan secara subkutan. dengan lama kerja 4-6 jam. intradermal atau perivaskular karena sifatnya yang iritatif dan dapat menyebabkan nekrosis setempat pada pemberian secara subkutan dan intradermal. 2 mg/5ml: 120 ml. Sediaan : a. Obat ini mengalami metabolisme pertama di hati. Kadar puncak plasma dicapai dalam waktu kurang lebih 1-5 jam dan bertahan selama 2 jam. didistribusikan secara luas ke seluruh tubuh.

Hiroksizin injeksi 25 mg/ml. antagonis dari histamin pada reseptor H1. Lama kerja dari obat ini adalah 6-24 jam dengan dosis pemberian 10 mg sampai 50 mg peroral. Hidroksizin merupakan obat pilihan untuk pengobatan dermatografisme dan urtikaria kolinergik.5 mg/5 ml): 120 cc. berikatan secara tidak kompetitif. dapat digunakan sendirian ataupun kombinasi dengan antihistamin lainnya untuk manajemen pengobatan urtikaria kronis. Hidroksizin sirup 10 mg/5ml: 240 ml. 50 mg dan 100 mg b. sering digunakan sebagai transquilizer. 480 cc c. dermatitis atopik dan pruritus yang diinduksi oleh histamin. Difenhidramin kapsul 25 dan 50 mg b. urtikaria akut. sedatif. Difenhidramin elixir (12. Sediaan: a. 25 mg. 50 mg/ml c. antipruritus dan antiemetik. dengan waktu paruh 6 jam kemudian diekskresikan ke dalam urin. setiap 4 jam. 480 ml AH-1 generasi II dan III merupakan antihistamin tipe H1 low sedating. Kadar plasma biasanya dicapai dalam 2-3 jam setelah pemberian per oral. dermatitis kontak. Difenhidramin spray : 60 ml  Hidroksizin Hidroksizin merupakan derivat dari piperazin. tidak . Difenhiramin injeksi (50 mg/ml) : 1 ml ampul d.19 Sediaan : a. Hidroksizin tablet 10 mg.

loratadin. metabolit asam karboksilik dari terfenadin. kurang bersifat lipofilik. astemizol. Astemizol mempunyai efek jangka panjang. Efek astemizol berlangsung lama dan obat harus dihentikan 4-6 minggu sebelum dilakukan uji tusuk. mizolastin. . Cetirizin. namun dalam banyak penelitian dikatakan insidensi sedasi jauh lebih sedikit dibandingkan antihistamin H1 klasik. sangat sedikit menembus sawar darah otak. Antihistamin H1 ini. Cetirizine berpengaruh pada perpindahan sel dalam kulit dan jaringan lainnya. dan menyebabkan perpanjangan masa refraksi jantung serta aritmia ventrikuler ”torsades de pointes”. aktivastin. obat-obat ini tetap dapat menyebabkan efek sedasi. namun onset mulai kerjanya dan konsentrasi dalam keadaan stabil dicapai dalam 3-4 minggu. Walaupun golongan ini sering dikatakan nonsedasi. Obat tersebut menghilangkan urtikaria dan reaksi eritema sekitar 1-24 jam. Waktu paruh eliminasi cetirizin dan feksofenadin pada anak-anak sama dengan dewasa. dan desloratadin tidak dimetablisme dalam hepar. dilepaskan secara perlahan dan kerjanya lebih lama. ebastin dan oksatomid dimetabolisme di hepar melalui sisitem enzim CYP dalam hepar CYP3A4. Terfenadin. pelepasan atau pembuatan dan pelepasan mediator inflamasi serta ekspresi molekul adhesi. Antihistamin tipe H1 low sedating diabsorbsi dari saluran cerna dan mencapai puncak konsetrasi plasma dalam 2 jam. demikian pula efek antikolinergiknya lebih jarang terjadi dibanding antihistamin H1 klasik. dan lebih mengikat reseptor H1 di perifer secara lebih spesifik. Beberapa obat ini mempunyai membrane stabilizing atau efek seperti kuinidine pada otot jantung.20 mudah diganti oleh antihistamin.

eritema serta pengelupasan kulit tangan dan kaki. Kelainan ini dapat tejdadi terutama pada wanita dan penderita dengan kelainan jantung organik yang sebelumnya telah ada (seperti iskemia. urtikaria.  Sistem saraf pusat Dalam beberapa penelitian dikatakan tefenadin. juga mempunyai efek samping yang lebih sedikit dibandingkan dengan antihistamin tipe H1 klasik. pemanjangan interval QT dan takiaritmia ventrikular atipikal berhubungan dengan pemakaian astemizole dan terfenadin. Selain itu juga dilaporkan adanya reaksi fotoalergi dan alopesia yang diduga berhubungan dengan penggunaan terfenadin. kardiomiopati).  Kardiovaskular Efek samping kardiovaskular berupa fibrilasi ventrikel.21 Kontra indikasi dari antihistamin low sedating ini adalah pada kehamilan dan ibu menyusui. astemizole dan loratadin memiliki efek sedasi yang lebih rendah dibandingkan antihistamin H1 klasik. arritmia. Antihistamin tipe low sedating memiliki efek sedasi dan antikolinergik yang sedikit. Dilaporkan juga suatu kasus psoriasis yang mengalami eksaserbasi selama menggunakan terfenadin.  Kulit Fotosensitivitas. ataupun penderita dengan gangguan eletrolit (seperti hipokalemia. erupsi makulopapular.  Hepar . hipokalsemia dan hipomagnesemia).

kekeringan pada mukosa mulut dan beberapa efek antikolinergik lainnya. Loratadin mempunyai efek terhadap fungsi dari miokardial potasium channel tetapi tidak menyebabkan disritmia jantung. Berikut adalah beberapa contoh AH-1 generasi II dan III. Loratadin diindikasikan untuk rinitis alergi dan urtikaria kronik idiopatik pada pasien diatas 6 tahun. Loratadin merupakan long acting antihistamin dengan lama kerja 24 jam. sekali sehari dan mencapai konsentrasi plasma maksimum dalam 1-1. mual. Peningkatan serum transaminase dengan kadar ringan sampai sedang kadang-kadang dapat terjadi. namun insidensinya sangat rendah. pada anak-anak (< 30 kg) adalah 5 mg/kg BB dosis tunggal.  Loratadin Loratadin adalah trisiklik piperidin long acting yang mempunyai aktivitas yang selektif dengan efek sedatif dan antikolinergik yang minimal pada dosis yang direkomendasikan.029%. Dosis yang direkomendasikan 10 mg dosis oral.22 Hepatotoksisitas jarang terjadi. Meskipun loratadin tidak mempunyai . namun dilaporkan adanya kasus hepatitis yang berhubungan dengan penggunaan terfenadin selama 5 bulan. adalah biologikal aktifnya. Loratadin cepat diabsorbsi setelah pemberian dosis 10 mg. feses 42% dan air susu 0. Metabolik utamanya. Eliminasi waktu paruhnya sekitar 8-11 jam. diekskresikan melalui urine 40%.5 jam. deskarboetoksi-loratadin.  Efek samping lainnya Dilaporkan adanya sakit kepala. merupakan antihistamin yang mempunyai masa kerja yang lama.

netrofil dan basofil dan menghambat IgE serta menurunkan prostaglandin D2. Loratadin reditabs 10 mg  Cetirizine Merupakan metabolit karboksil asid dari hidroksin.3 mg/kgBB sedangkan pada pasien . pada anak-anak adalah 0. Cetirizin dapat menghambat eosinofil. Obat ini pada manusia hanya mempunyai transformasi metabolik yang minimal menjadi bentuk metabolit aktif dan obat ini terutama diekskresi lewat urin. Cetirizin diindikasikan untuk terapi urtikaria kronik di Amerika Serikat. dan juga diekskresi lewat urin. Karena cetirizin cepat diabsorbsi dan sedikit yang dimetabolisme. Sediaan: a. Dosis yang direkomendasikan untuk dewasa 10 mg/hari (maksimal 20 mg) dosis tunggal. maka dosis obat ini harus dikurangi pada pasien dengan gangguan ginjal. Loratadin tablet 10 mg c. disarankan untuk mengurangi dosis yang diberikan.23 kontraindikasi pada penderita hati dan ginjal kronis. Kadar puncak plasma dicapai dalam 1 jam dan waktu paruh plasma sekitar 7 jam. diekskresikan dalam urine sebanyak 60% dan feses 10%. Loratadin sirup (1 mg/ml): 480 ml b. Beberapa studi kemudian mendukung khasiat cetirizin untuk kondisi ini dan juga ditemukan khasiatnya untuk terapi coldurtikaria.

Sediaan : a. Pemberian feksofenadin bersama antibiotik golongan makrolid dan obat anti jamur golongan imidazol tidak menunjukkan adanya interaksi obat sehingga tidak terdapat pemanjangan interval QT. serta bersifat non kardiotoksik. Feksofenadin terikat pada protein plasma sekitar 60-70%.24 dengan gangguan ginjal kronik dan hepar dosis yang diberikan adalah 5 mg/hari. merupakan reseptor kompetitif antagonis H-1 yang selektif dengan sedikit atau tanpa efek samping antikolinergik dan non sedatif. metabolit aktif utama dari terfenadin. Feksofenadin kapsul 30 dan 60 mg . Cetirizin tablet 5 mg. Sediaan: a. diekskresikan sebanyak 80% pada urine dan 12% pada feses. terutama pada albumin dan 1-acid gylcoprotein. Waktu paruh feksofenadin adalah 11-15 jam. Feksofenadin diindikasikan pada penderita rinitis alergi dan urtikaria idiopatik kronis. Lama kerja dari cetirizin adalah 12-24 jam. Cetirizin sirup 5mg/ml: 120 ml (Arndt)  Feksofenadin Feksofenadin. Feksofenadin dengan dosis 60mg/hari. 10 mg (Arndt) b. Feksofenadin diabsorbsi cepat setelah pemberian dosis tunggal atau dua kapsul 60 mg dengan waktu rata-rata mencapai konsentrasi plasma maksimum 1-3 jam setelah pemberian per oral.

konsentrasi tetap sampai 3 s/d 4 minggu.  Desloratadine Waktu paruh 27 jam.5 hari. 4 mg No. Antihistamin tipe 2 antara lain simetidin.1 hari dan fase kedua 9. Contoh penulisan resep antihistamin: Klorfeniramin maleat tab R/ Klorfeniramin Maleat tab. carebastine. Memiliki waktu paruh selama 15 jam. famotidin. Makanan maupun grapefruit juice tidak memiliki efek pada bioavailibilitas dan absorpsinya. Tidak ada hambatan penggunaan desloratadnie pada pasien dengan kelainan ginjal maupun hati.25 b. dengan menghasilkan metabolit desmethylastemizole. Feksofenadin tablet 60 mg  Astemizole Waktu kerja lama dengan onset lambat. dengan fase permulaan 1. dan dosisnya harus disesuaikan pada penderita gangguan tersebut. konsentrasi tetap dalam plasma dicapai dalam 7 hari. nizaridin dan ranitidin. Fungsi ginjal yang teganggu mempengaruhi farmakokinetik ebastine. XXI . kira-kira 7 % dari seluruh subyek dan 20% dari keturunan Afrika-Amerika memetabolisme desloratadine denga lambat. Dalam penelitian-penelitian farmakokinetik. Waktu paruh plasmanya setelah pemberian satu dosis tunggal adalah bifasik.  Mizolastine Ebastine dimetabolisme untuk membentuk metabolit asam karboksilat.

Flusitosin . yaitu dengan membentuk ikatan dengan ergosterol membran sel jamur. Antifungi Antifungi sistemik terdiri dari golongan amphoteresin B.6 mg/KgBB/hari.5 mg/hari i. pada anak-anak 3.26 ʃ 3dd 1 pc ₰ Setirizin dihidroklorida cap. akibatnya sel jamur lisis. imidazol dan triazol.v Derivat imidazol dan triazol terdiri dari ketokonazol. R/ Setirizin dihidroklorida cap. Ampotheresin B bersifat fungisidal. Dosis terbinafin: 250mg/hari.v. Flusitosin merupakan obat antifungi yang bekerja dengan cara menghambat sintesis DNA jamur. Mekanisme kerja dengan menghambat ergosterol jamur. sehingga menyebabkan lisis dinding sel jamur. Dosis : 1. 2 x 100 mg Itrakonazol dan flukonazol. Dosis : 1.3-6.5 mg/hari i. itrakonazol. serta alilamin. flusitosin. • • • Griseofulvin Bersifat fungistatik Amfoterisin B Bersifat fungistatik atau fungisida tergantung pada dosis dan sensitivitas jamur yang dipengaruhi. sehingga membran sel jamur tidak terbentuk. squalen pembentukan ergosterol membran sel jamur. VII ʃ 1 dd 1 pc ₰ 3. Ketokonazol dengan dosis pada dewasa 1x200-400 mg / hari. dan flukonazol. 10 mg No. Terbinafin merupakan golongan alilamin yang bersifat antifungi dengan menghambat enzim epoksidase.

krim klotrimazol. ₰ Antifungi mukokutan • Golongan Azol Krim ketokonazol 2%. • Golongan Alilamin Krim terbinafin 1% • Golongan Benzilamin Butenafin &Tolnaftat  1-2x/hari • Nistatin Bersifat fungistatik. 500 mg no.e ₰ . Contoh : Kandistatin. Itrakonazol dan flukonazol. dan flukonazol. Contoh penulisan resep: R/Griseofulvin tab.6 mg/KgBB/hari. 200 mg no. Golongan Alil-amin Bersifat keratofilik dan fungisidal. Golongan triazol terdiri atas itrakonazol. pada anak-anak 3.27 Bersifat fungistatik dengan mengganggu sintesis DNA dengan metabolit • klorourosil. Contoh penulisan resep ketokonazol: Krim ketokonazole 2% R/ Krim ketokonazol 2% tube No I (10 gr) ʃ u. Contohnya ialah terbinafin: 250mg/hari. ₰ R/ Ketokonazoltab. XIV ʃ 1 dd 1 pc. Dosis 50-150 mg/kgBB/hari yuang terbagi dalam 4 dosis Golongan Azol Golongan azol terdiri atas golongan imidazol seperti ketokonazol. Ketokonazol dengan dosis pada dewasa 1x200-400 mg / hari. XIV ʃ 1 dd 1 pc. mikonazol dan klotrimazol. krim mikonazol 2%.3- • 6.

diberikan 4 kali sehari selama 5 hari.Contoh penulisan resep antivirus sistemik: • Untuk varisela dan herpes zoster R/ Asiklovir tab 400 mg No.1% tube No. Contoh penulisan resep antibiotik topikal: R/ Krim Gentamisin sulfat 0. gentamisin. Antibiotik topikal Antibiotik topikal diantaranya ialah neomisin.28 4. I (5gr) ʃ u.e ₰ 5. Dosis asiklovir untuk anak-anak pada varisela dan hepres zoster 20 mg/kg berat badan/kali pemberian. I (5 gr) ʃ u.e ₰ • Antivirus Sistemik Antivirus sistemik diantaranya ialah asiklovir yang menghambat DNA polymerase virus. I (5 gr) ʃ u. mupirosin.e ₰ R/ Krim Mupirosin 2% tube No. Anti replikasi virus • Antivirus Topikal Contoh penulisan resep asiklovir: R/ Krim Asiklovir 5% tube No.XXXV ∫ 5 dd II pc . Contoh lainnya adalah valasiklovir. dan famsiklovir. basitrasin. fusidin.

XXI • Untuk herpes simpleks infeksi kambuh Untuk herpes simpleks infeksi R/ valasiklovir tab 500 mg No. X • Untuk herpes simpleks infeksi pertama (golongan 3) R/ famsiklovir tab 200 mg No. X ∫ 2 dd I pc .29 • Untuk herpes simpleks infeksi pertama (golongan 2) R/ valasiklovir tab 500 mg No.

30 DAFTAR PUSTAKA 1. Edisi Keenam. Dalam: Djuanda A.. . Goldsmith LA. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Fitzpatrick's Dermatology in General Medicine ed. Strober E. Bergstrom KG... 2013: 342-352 2. Paller AS. 2008: 2092-6. Hamzah M. In: Klaus W. New York: McGraww-Hill. Katz SI. Gilchrest BA..... Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Principles of Topical Therapy. Leffel DJ. Dermatoterapi.. Hamzah M. 7th Edition. Aisah.