DAFTAR ISI

LEMBAR JUDUL
LEMBAR PENGESAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan Pengujian
BAB II LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Umum Pompa
2.2 Klasifikasi Dan Jenis Pompa
2.3 Teori Dasar Hidrodinamika
2.4 Pengertian Parameter Pompa
BAB III PELAKSANAAN PERCOBAAN
3.1 Data Teknis Peralatan
3.2 Skema Instalasi
3.3 Prosedur Percobaan
3.3.1 Variable Speed – Constant Load
3.3.2 Variable Load – Constant Speed
BAB IV ANALISA DATA
4.1 Data Hasil Pengujian
4.2 Perhitungan Data
4.3 Pembahasan dan Grafik Hubungan Parameter
BAB V PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN
5.1 Pembahasan
5.2 Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sistem refrigerant dan pengkondisian udara merupakan dua bidang yang
berbeda erat hubungannya. Teknik pengkondisian udara tidak hanya berfungsi
sebagai pendingin udara saja. Pengkondisian udara adalah proses perlakuan udara
untuk mengatur suhu, kelembaban, kebersihan dan pendistribusiannya secara
serentak guna mencapai kondisi nyaman. Jadi teknik pengkondisian udara tidak
membahas teknik refrigasi kecuali untuk pompa-pompa kalor. Pengkondisian udara
banyak digunakan pada bangunan-bangunan besar, industri, rumah tingkat dan
kendaraan.
Teknik refrigasi terutama pada mesin pendingin dimana bekerja
berdasarkan silklus Carnot yang bertujuan untuk menurunkan suhu. Siklus dari
refrgeran, bekerjanya menyerap panas dari luar yang bersikulasi, kemudian uap
refrigerant dicairkan kembali dengan tekanan tertentu.
Bentuk dari diagram P – H standart siklus kompresi uap dalah :
Dari diagram diatas siklusnya megikuti urutan : Kompresor – Kondensor – Katup –
Ekspansi – Evaporator – Kompresor.
1.2. Tujuan Percobaan
1. Untuk mengetahui prestasi kerja mesin-mesin pendingin.
2. Untuk

mengetahui

kondisi

parameter-parameter

udara

dalam

pengkondisiannya dan penggunaan diagram psikiometri.
3. untuk mengetahui siklus refrigerant dalam sisyem refrigasi dan
penggunaan diagram Mollier (diagram tekanan entalpi).

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Jenis Pengkondisian Udara
Jenis system pengkondisian udara ini dapat dibedakan menjadi beberapa
macam, yaitu :
A. Sistem Pendistribusian Panas
Yaitu peralatan untuk memindahkan kalor diantara ruang yang dikondisikan
dari sumber atau penampung kalor. Fungsi lain dari system ini adalah membawa
udara fentilasi masuk dan keluar ruangan. Kebanyakan system pendistribusian
panas melayani zona-zona ganda.
System zona berganda meliputi :
1. Sistem-sistem udara :

Pemanas udara pada thermal

Saluran / daerah ganda

Volume udara variable

2. Sistem-sistem air :

Dua pipa

Empat pipa

B. Sistem Zona Tunggal Klasik
Elemen system pengkondisian udara dengan pemanas atau pendingin
ditunjukkan pada gambar dibawah ini :

C. Pengaturan suhu dilakukan oleh sebuah thermostat yang mengendalikan koil pendingin dan pemanas dan kelembaban udara diatur oleh sebuah thermostat yang mengendaliakn pelembab udara. Stoecker. edisi kedua. Dari titik A .Keterangan gambar : Pada titik A dan B adalah sub system silang. . kipas pelembab air atau udara. udara supply hanya terdiri dari udara luar. dan dikondisikan untuk menjaga kondisi khusus ruangan. (Sumber : wiber F. Dalam jalur udara balik sering digunakan atau dipasang sebuah kipas untuk menghindari tekanan yanh berlebihan dan yang dikondisikan relatif dengan tekanan udara luar. udara mengalir melalui koil pendingin. menuju ruang yang yang dikondisikan. hal 82 ).bersambung dengan fasilitas. Tidak ada udara balik untuk pendauran ulang dalam instalasi ini. Pada beberapa penggunaan khusus misalnya : ruang operasi rumah sakit dan ruang laboratorium binatang. Reffrigerasi Dan Pengkondisian Udara. koil pemanas. Pengendalian Udara Luar Dalam banyak instalasi pengkondisian udara untuk kenyamanan kadar udara ventilasi dari luar minimum dalah antara 10% .20% dari laju aliran udara suplly total.

tetapi yang paling banyak digunakan adalah : 1. Damper (pengatur) didalam jalur udara luar dan udara buang serta udara daur ulang berfungsi mengatur laju aliran tersebut.Arus udara yang di B mengalir dari piranti luar zona terbagi sebagaian dibuang keluar dan sebagian didaur ulang. Refrigerasi Dan Pengkondisian Udara. Untuk kasus seperti inilah dikembangkan konsep dasar system sentral. D. ( Sumber : Wibert F. satu sisi bangunan atau ruangan interior. Agar dapat memenuhi kebutuhan pendinginan dan pemanasan zona berganda. Sistem Volume Konstan  Pemanasan ulang pada terminal (terminal reheat)  Dua saluran atau zona ganda (dual duct or multizone) 2. Banyak ragam jaringan saluran udara. biasanya tidak ekonomis bila menggunakan system-sistem terpisah untuk masing-masing zona. satu lantai bangunan. edisi kedua. berlawanan arah dengan gerakkan damper udara daur ulang. Sistem Volume Berubah (variable)  Pendinginan atau pemanasan berfungsi tunggal (single purpose cooling or heating)  Pendinginan dengan pemanasan ulang (cooling with reheat)  Dua saluran volume variable (dual duct variable volume) . Stoecker. Tetapi damper didalam jalur udara luar dan udara buang membuka dan menutup serempak. satu zona adalah ruangan yang dikendalikan oleh satu thermostat. dan cara pengendalian yang dapat digunakan. satu zona dapat berupa satu ruangan. hal 84). lokasi koil-koil. Jika fungsi udara system pengkondisian udara adalah untuk pendinginan. dengan menggunakan suatu alat pengatur udara luar yang standart. maka perlu suhu udara campuran di titik A pada suhu kira-kira 13% 14%. Pada prinsipnya. Sistem Daerah (Zona) Berganda Bagi bangunan-bangunan besar. Udara fentilasi dicampurkan dengan udara daur ulang dan dialirkan ke koil pengkondisian A.

E. dan ventilasi mungkin tak terjamin walaupun masing-masing unit terminal dilengkapi dengan lubang udara luar. Sistem-sistem Air System-system air menghasilkan pemanasan dan pendinginan hanya dengan pendistribusian saja. Keuntungan system ini dalah penggunaan ruang saluran udara yang kecil serta pengaturan suhu dan kelembaban yang yang meliputi daerah beban zona yang luas. . Kerugian energi dapat diatasi sebagian dengan menaikkan suhu udara suplly dingin hingga satu dari koil-koil pemanas benarbenar berhenti bekerja.. Tetapi sistem ini kurang kendali kelembabannya. Sistem-sistem air relative lebih sedikit memakan ruang dan seringkali merupakan sistem yang murah. disini suhu udara dapat diturunkan hingga kira-kira 13% agar terjadi penurunan kelembaban udara thermostat.Sedangkan udara luar untuk ventilasi harus dimasukkan dan dikondisikan dalam tiap zona.3. Sistem Pemanasan Ulang Terminal Bagian skematik dari sistem pemanasan ulang terminal dapat dilihat dalam gambar 2. Pada setiap zona berfungsi mengatur koil pemanas ulang yang berhubungan dengan zona tersebut. unit ventilator atau conveyor adalah unit-unit termal yang terbanyak yang dilayani oleh sistem-sistem perpipaan air. sehingga suhu udara yang masuk dapat mempertahankan suhu udara disana. Sedangkan kelemahannya adalah kebutuhan energinya yang relative lebih tinggi. Koil pemanas ulang ini mungkin dilewati air pemanas atau listrik. Unit-unit koil kipas (fancoil). walaupun pemindahan kalor akhir didalam ruangan yang dikondisikan adalah ke udara. F.

Sistem 2 saluran H. khususnya selama beban-beban pemanasan dan pendinginan yang ringan pada sistem-sistem udara volume konstan telah . udara dari kipas disuplai dan dibagi-bagi. kotak-kotak pencampurdisusun pada unit sentral dan masing-masing saluran membawa udara ke masong-masing zona. Sehingga laju aliran udara panas dan dingin dapat mempertahankan suhu zona yang diinginkan. Sebagian udara mengalir melalui koil pemanas dan sebagian koil pendingin. Gambar 2. Thermostat pada setiap zona mengatur kotak pencampur denagn perbandingan tertentu. Pada system ini. System zona berganda secara termal identik dengan system dua saluran tetapi susunanya berbeda. Sistem Dua Saluran Atau Zona Berganda Dalam system dua saluran.4.G. Sistem Volume Udara Variable Karakteristik energi yang buruk.

Dengan pemilihan dan pengendalian yang baik. sistem-sistem ini dapat mempunyai biaya operasi yang relative rendah. I. Dari sifatnya. Adalah unit-unit yang dibuat di pabrik. Jenis Sistem Refrigerasi Adapun jenis dari sistem refrigerasi adalah : . yang biasanya dengan biaya awal dan biaya instalasi yang lebih rendah. sistem-sistem ini dapat mempunyai biaya operasi yang relative rendah.menggeser pilihan rancangan-rancangan baru menjadi sistem-sistem volume udara variable (VAV). maka kapasitas terpasang dan beban listrik yang bersangkutan umumnya lebih besar dari sistem sentral 2. kendalikendali. Tiga macam konfigurasi yang penting adalah (1) pendinginan atau pemanasan saja (2) pemanasan ulang – VAV dan (3) saluran VAV. Sistem unit berganda (multiple unit) atau unitary. Banyak ragam sistem VAV dan juga banyak kemungkinan kombinasinya dengan sistem lain. Apabila digunakan secara tepat. sistem-sistem ini merupakan sistem-sistem zona. dan ditempatkan di dalam atau di dekat ruang yang dikondisikan. kompresor dan kendali-kendali.2. kipas. Dengan pemilihan dan pengendalian yang baik. Kelemahan dari sistem unitary adalah sedikitnya pilihan yang berkenaan dengan ukuran penguap. Sistem ini dapat ditemui dalam bentuk satuan paket yang berisi koil penguap. sistem-sistem unit ini dapat memberikan sejumlah keuntungan. kompresor dan kondensor yang diletakkan diluar ruangan. Dari sifatnya. sistem-sistem ini dapat mempunyai biaya operasi yang relative rendah. Unit-unit dibuat dengan komponen-komponen yang tepat dan biasanya disertai dengan keterangan daya kerja dan data prestasi yang dipublikasikan. kondensor. Karena setiap unit harus mampu memikul beban puncak ruang yang dilayaninya. Sistem-sistem Unitary Sistem-sistem yang dijelaskan sampai pada bagian ini semuanya bertalian dengan alat pemanas dan pendingin yang terpusat dan dibangun dilapangan. sebaliknya. Kenyataan bahwa sistem ini dibuat secara missal di pabrik.

Penyerapan kalor pada proses 4 – 1 merupakan tujuan utama dari daur ini. Diagram Siklus Refrigerasi Carnot Sumber : Wibert F.5.1. Daur refrigerensi membutuhkan energi dari luar untuk dapat kerja. hal 179 Proses yang membentuk daur refrigerasi carnot : 1 – 2 : Kompresi adiabatic yang terjadi pada kompresor. Shocker. karena menyalurkan energi dari suhu rendah menuju suhu yang lebih tinggi. Oleh karenanya proses 1 – 2 dan 3 – 4 bersifat isentropic.5 : Gambar 2. 2 – 3 : Pelepasan kalor isothermal yang terjadi pada kondensor 3 – 4 : Ekspansi adiabatic pada turbin 4 – 1 : Pemasukan kalor isothermal Seluruh proses pada daur Carnot secara termodinamika bersifat reversible. Siklus Refrigerasi Carnot Daur refrigerasi Carnot merupakan kebalikan dari mesin kalor Carnot. edisi kedua. Seluruh proses lainnya pada daur berfungsi sedemikian rupa . Digram peralatan dan digram suhu entropi dari daur refrigerasi diperlihatkan pada gambar 2. Reffrigerasi Dan Pengkondisian Udara.

2. Namun hal yang sedemikian bukanlah kasus yang nyata selama proses .sehingga energi bersuhu renda dapat dikeluarkan ke lingkungan yang bersuhu lebih tinggi. edisi kedua. akan ada beberapa kalor yang mengurangi kepraktisan kompresi basah itu. dan harus bebas dari cairan. Reffrigerasi Dan Pengkondisian Udara. Siklus kompresi Basah dan Kering Sumber : Wibert F. Proses refrigasi cair tersebut pada gambar 2. hal 184 Proses kompresi 1 – 2 pada gambar 2. Shocker.6 sebelah kanan adalah uap jenuh.6 kiri dapat terjebak kedalam silinder ketika piston dinaikkan yang dapat merusak katup atau silinder. Bila yang digunakan kompresor torak.6. Siklus Kompresi Basah Dan Kering Gambar 2.6 sebelah kiri disebut kompresi basah karena seluruh prosesnya berlangsung pada daerah campuran yang didalamnya terdapat sejumlah cairan. Walaupun titik akhir yang ditunjukkan sebagai titik 2 dalam gambar 2.

Pada diagram suhu entropi hal tersebut menggambarkan tambahan kerja yang dibentuk oleh kompresi kering. Kompresi uap kering akan menghasilkan suhu pada titik 2 yang lebih tinggi dari pada suhu pengembunan. Dengan kompresi kering daur akan kehilangan bentuk segi empat daur Cranot. Daerah daur yang terletak diatas suhu pengembunan biasanya disebut tindak lanjut panas (superheater horn). karena kelemahan tersebut maka pada kompresi kering yang berlangsung tanpa hadirnya cairan dianggap lebih baik dibandingkan dengan kompresi basah. Seharusnya cairan harus diuapkan oleh proses perpindahan panas internal. Siklus Refrigerasi Kompresi Standar Daur kompresi uap standart dapat dilihat pada diagram suhu entropi pada gambar dibawah ini : . 3. tetapi memerlukan beberapa saat tertentu. Pada akhir kompresi. Oleh karena itu refrigerant akan meninggalkan kompresor dalam keadaan panas lanjut (superheater).kompresi uap. titik 2 pada garis uap jenuh hanya menunjukkan kondisi rata-rata campuran pada uap lanjut dan cairan.

Reffrigerasi Dan Pengkondisian Udara. sedangkan entalpi uap air dihitung dari cairan jenuhnya pada 32F. Adapun istilah-istilah dalam diagram psikometri adalah: a. 4–1 : Penambahan kalor reversible pada tekanan tetap yang menyebabkan penguapan menuju uap jenuh. Shocker. Diagram ini juga merupakan diagram kelembaban mutlak terhadap temperatur kering.3. Harga-harga entalpi diberikan berdasarkan satu lbm udara kering.7. akan tetapi kurva koreksi dapat diperoleh untuk tekanan barometer yang lain. b. 2–3 : Pelepasan kalor reversible pada tekanan konstan menyebabkan penurunan panas lanjut dan pengembunan refrigerant. Diagram psikometri umumnya digambarkan untuk satu tekanan barometer tertentu. 3–4 : Ekspansi tidak reversible pada entalpi konstan. dari uap jenuh menuju tekanan kondensor. Diagram Psikiometri Psikometri merupakan kajian tentang campuran udara dan uap air yang mempunyai arti penting tentang dalam pengkondisian udara. edisi kedua. siklus Kompresi Uap Standar Sumber : Wibert F. karena udara atmosfer tidak begitu kering tetapi merupakan campuran udara dengan uap air. Suhu bola kering (DBT) merupakan suhu yang ditunjukkan oleh thermometer kering. hal 187 Proses pada daur kompresi uap standar adalah : 1–2 : Kompresi adiabatic dan reversible. Suhu bola basah . Jadi bila tekanan total untuk diagram yang bersangkutan telah ditentukan (umumnya tekanan atmosfer) garis-garis kelembaban relatif konstan dan entalpi konstan dapat digambarkan.Gambar 2. kebanyakan proses pendinginan dapat diperhatikan pada diagram psikometri. dengan entalpi udara kering diambil 0 pada 0 F. 2. dari cairan jenuh menuju tekanan tekanan evaporator.

Mollier jugha dapat digunakan untuk mengetahui kerja yang dihasilkan oleh sistem.9 Diagram Mollier . Suhu titik embun Temperatur dimana pada saat kandungan uap air didalam udara mulai mengembun disebut titik embun. Gambar2. suhu. Jadi bila tekanan. dan entalpi diketahui maka dapat diketahui entropi dari diagram Mollier tersebut.Suhu yang ditunjukkan oleh thermometer basah dimana pada thermometer terdapat bola yang dibalut dengan sumbu sutera yang dibasahi air. c. 2.4 Diagram Mollier Diagram Mollier adalah diagram yang menyatakan hubungan antara entalpi dan entropi.

2 Skema Instalasi .4  Putaran : 2900 Rpm Kondensor:  Model : AB 19 B 1 E  Power supply : 820 W/240 Volt/50 Hz  Refigeran : R.BAB III PELAKSANAAN PERCOBAAN 3.12 Fan udara:  Power supply : 750 W  Efisiensi : 35%  Daya : 18 3.1 Data Teknis Peralatan Kompresor:  Power supply : 1HP/220V/50Hz  Out put : 750 W  Fla-Nominal : 5.

Menghidupkan mesin pendingin. Manometer 5. 3. Termometer bola basah 3. Termometer bola kering 2. Membuka semua katup yang ada pada instalasi(siklus).Keterangan gambar: 1. Katup ekspansi 8. Memastikan . menunggu beberapa saat sampai kondisi menjadi normal. 6.3 Prosedur Percobaan 1. Melakukan langkah kerja nomor 4 untuk beban pendinginan berikutnya (percobaan selanjutnya) dengan tidak mematikan mesin pendingin. Evaporator 9. Kompresor 6. Kondensor 7. Mengatur beban pendinginan dengan memutar thermostat (8) pada posisi 1 dan menunggu selama 15 menit agar siklus bekerja kemudian mencatat semua yang diperlukan sesuai dengan lembar data. Termostat 4. 2. Memastikan bahwa instalasi percobaan sudah siap digunakan. 4. 5. Fan udara 3.

Perhitungan Data Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil pengujian maka di dalam perhitungan untuk memperoleh besarnya entropi pada sistim atau setiap kondisi dari siklus refrigerasi kompresi uap standar dengan refregeran Freon 12 dapat digunakan A.5 dan harga setiap kondisi dalam siklus adalah sebagai berikut : Untuk mencapai entalpi kita lakukan langkah – langkah sebagai berikut : 1.2 10 3.2 10 3. Kondisi I ( setelah refregeran keluar dari evaporator sebelum masuk kompresor ) .5 40 8.2 10 3.2.5 40 8.8 Sesudah T2 P2 ( oC ) ( bar ) 9 3 10 3.1 Data Hasil Pengujian Termostat Pengkondisian Udara Sisi Masuk 1 2 3 4 5 6 Tdb ( oC ) 26 26 27 27 28 28 Sisi Keluar Twb Tdb Twb ( oC ) ( oC ) ( oC ) 23 16 15 21 16 15 21 16 15 22 16 15 21 16 15 21 16 15 Refrigeran Sebelum T1 P1 ( oC ) ( bar ) 38 8 39 8.8 40 8.2 4.5 40 8.BAB IV ANALISA DATA 4.2 10 3.

510 237.1706 .535 P2 (kPa ) 410.535 238. untuk memperoleh h2.Dan dengan menggunakan table A. Kondisi III ( Setelah keluar dari kondesor sebelum di exspansi ) Keadaan III adalah cairan jenuh pada T 3 = 9 oC.454 2 366.802 3 367.54051 1.510 Kj/ Kg.510 KJ / Kg 4.54051 V1(L/Kg) 19. T1 = 38 oC P1 = 410.5 diperoleh h3 = 236. Kondisi II ( Setelah keluar dari kompresor sebelum didinginkan ) Pada kondisi ini refregeran yang terbentuk adalah uap panas lanjut dengan entropi konstan .6362 18.3 423.146 5 367.3 S1 (Kj/Kg K ) 154. Kondisi IV ( Setelah terjadinya exspansi sebelum masuk Evaporator ) h3 = h4 = 236.Uap pada kondisi ini adalah kondisi jenuh dari data percobaan diperoleh. h2 = 363 KJ/Kg 3.( diagram tekanan entalpi panas lanjut refrigerant 12 ) yaitu dengan menggeser kondisi I sehigga tekanan pengembunan P2 = 410. A-5 maka diperoleh harga entalpinya sebesar h1 : 366. dipakai gambar A-3 .146 h2 (KJ/Kg) 363 368 380 380 380 h3=h4 (KJ/Kg) 236.54079 1.1706 18.54107 Kg/ Kg K 2. Dengan cara yang sama harga entalpi dari thermostat sebagai berikut : no h1(KJ/Kg) 1 366.146 4 367.58 423.54051 1.535 238.521 238.3 423.3 423.58 kPa.107 1. dalam kondisi 2 ini kita akan mencari nilai h 2 .1156 18.1706 18.58 kPa Dimana : - 1 bar : 100 Kpa - 10 bar : 103 Kpa Dengan mengunakan table .454 KJ/Kg S1 : 1.

44).84 – (( 800 – 616.23 = 616.6220.146 380 238.131  Derajat jenuh 0 = Pbar – Pdb / Pbar – Ph .3 1.83 Kpa  Kelembaban temperature Hr = Ph / Pdb .84 ) . Termodinamika 1.54 . ( 26 – 23 ) / (2830 – 1.535 423.83 / 669.1706 4.83 / 800 – 616.131 = 65.3 Pembahasan Dan Grafik Hubungan Parameter 1.1.618888  Rasio Kelembaban Aktual U = 0.6 367. 616. Diagram Psikometri  Tekanan Uap air di udara Ph = Pwb – (( Pbar – Pwb ) .83 . Hr = 800 – 669. (tdb – twb )/ (2830. Efek refregerasi ( Qs= Qin ) Qin = h1 – h4 .100 = 616. 92.54 / 800 – 616.83 = 2.twb)) = 616.54051 18.100 = 92.44 ).09470931 Kj/Kg 2.

454 – 363 = 3.454 ) = 0. Koefisien Prestasi ( COP ) COP = h1 – h4 / h1 .019933 6.49 Kj/Kg 3. Laju masa refrigerant ( Mr ) Mr = Q/ h1 – h4 = 0.= 366.h2) = 0.005771 ( 3.944 = 0.510 = 126.75/129.510 = 129. V = 0.h2 = 129.454 Kj/Kg 4. Kj/s Volume aliran Refrigeran V = Mr . 1 = 0.454 = 37.944/3. Kg/ s Daya kompresi Nk = Mr ( h1 .005771 5.005771 m3/s 7.621 . Kerja kompresi isentropic ( Wcom ) W com = h1 . Kj/Kg Kalor dibuang lewat kondensor (Qcon ) Qcon = h2 – h3 = 363 – 236.h2 = 366.454 – 236.005771 .944 2.

96925176 u 2.12677 97.3761 491.75037756 58.3745 491.38020272 20.27249008 55.3643 u -0.12677 97.12686 97.17834 -0.12851073 57.3643 105.3651 105.95628473 18.4617587 383.4622301 383.15339084 19.3644 105.9728486 383.48035215 0.12717 97.3761 Hr ( ) 97.48035215 0 104.4617587 Hr ( ) 92.504 105.12717 .3651 105.51124158 0.Dengan cara yang sama kita dapatkan hasilnya : a.09470931 0.374 491.51124162 0.4622469 399.17834 -0.96925176 18.12709 97.27856225 0 65.17834 Sisi Keluar no 1 2 3 4 5 6 Ph (Kpa) 491.17834 -0.15080233 54.15971 -0. Data Perhitungan Diagram Psikometri Sisi Masuk no 1 2 3 4 5 6 Ph (Kpa) 616.61969748 22.17834 -0.374 491.552818 0.27856225 54.3757 491.8372307 383.

005771717 37.49 2 129.854 0.47 4 128.611 141.611 141.62131 0.000453675 V Cop m^3/s 0.005831539 0.454 0.005831539 -10.854 0.000453675 -12.47 5 128.005831539 -10.005831539 -10.611 141.0055 0.005831539 0.001671024 -1.914 0.005801317 -107.005831539 0.0055 0.0055 0.47 6 128.198 0.854 0. Data Perhitungan Termodinamika No 1 Qin (kj/kg) 129.0055 .48 3 128.004842501 -12.005801317 0.005771717 0.b.000453675 -12.854 0.281 130.611 141.000453675 -12.005831539 0.944 Qcon (kj/kg) 126.005831539 -10.47 Wcomp Mr Nk (kj/kg) (kg/s) (kg/s) 3.

.

.

.

.

.

Hubungan kerja kompresi terhadap posisi thermostat adalah fluktuatif dengan menambah temperature pada mesin pendingin . Hubungan daya yang dilepas kompresor terhadap posisi thermostat adalah berbanding lurus dengan perubahan temperature pada mesin pendingin maka akan berubah untuk nilai kalor yang dilepas kondensor sesuai dengan kenaikan daya yang dikeluarkannya . 2. sehigga dapat kita lihat temperature yang di lepas kondensor akan sama dengan daya pada mesin pendingin 3. kerja kompresi akan . Hal ini disebabkan adanya perubahan entalpi refregeran sesudah evaporatot ( h1 ) dikurangi dengan entalpi reefregeran sesudah kompresor.BAB V PEMBAHASAN 1. Hubungan kalor yang diserap refrigerant terhadap posisi thermostat adalah berbanding lurus dengan perubahan temperatur pada mesin pendingin maka akan berubah pula nilai kalor yang diserap oleh refrigerant . maka kerja kompresi akan mengalami penurunan dan pada posiasi tertentu untuk merubah termperatur pada mesin pendingin .

Nilai daya kompresi akan mengalami kenaikan maka kerja dari pada mesin pendingin juga akan mengalami kenaikan pula. Sehingga semakin tinggi kerja kompresi yang diperlukan maka semakin besar laju masa refregeran . 4. 6. Hubungan daya komperesi terhadap laju masa adalah berbanding lurus . Hal ini dipengaruhi oleh kerja kompresi yang hasilnya naik turun laju masa refregeran sehigga dapat di lihat dengan perubahan tempereatur pada mesin pendingin . Hal ini disebabkan adanya kerja kompresi yang nilainya cenderung naik turun pada setiap perubahan tempertur mesin pendingin yaitu semakin tinggi laju masa refregeran mengakibatkan koefisien prestasi cenderung menurun . Hubungan laju masa refregeran terhadap posisi thermostat adalah berbanding lurus dengan perubahan temperature pada mesin pendingin maka nilai masa pendauran refregeran akan semakin naik . Hali ini dikarenakan akan adanya perbandingan kapasitas refregeran dengan kalor yang diserap oleh refregeran pada evaporator . Hubungan koefisien dengan laju masa refregeran adalah berbanding terbalik . Maka semakin kecil entalpi yang diberikan maka semakin besar untuk tempertur yang dikeluarkan .mengalami kenaikan . Hal ini dikarenakan perubahan entalpi refregeran sesudah evaporator yang cenderung naik turun dikurangi dengan entalpi sebelum kondensor . 5.

Hubungan antara daya refregeran dengan thermostat menyatakan bahwa kenaikan dari perubahan thermostat akan menyebabkan peningkatan daya refregeran semakin tinggi thermostat maka semkin tinggi pula laju aliran refregaran dan kerja kompresor dalam upanya memapatkan refregeran dan semakin cepat proses pendinginan . Bertambahnya thermostat akan menyebabkan penurunan dampak refregeran . Hubungan daya kompresor terhadap thermostat menunjukkan bahwa naiknya daya kompresor akan diikuti oleh naiknya thermostat . 3. H al ini disebabkan semakin tinggi termostat maka laju aliran yang dibutuhkan semakin tinggi. Hali ini disebabakan refregeran mengalamai perubahan fase sehingga . 2.KESIMPULAN Berdasarkan dari hasil praktikum dari pengolahan data maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1.

4. Prestasi Mesin . .1987. Jakarta . 5.Refrigerasi Dan Pengkondisian Udara Erlangga .  Staecker WF. UMM.2005. DAFTAR PUSTAKA  Team Lab. ketidak akuratnya data yanga diperoleh. Ini dapat disebabkan penurunan prestasi mesin dari alat uji coba . Bertambahnya thermostat menyebabkan penurunan terhadaop panas buang karena uap refregeran semakin bertamabah sehigga panas dibuang sedikit. kurangnya bimbingn dari asisten . Berdasarkan hasil praktikum yang dilaksanakan ternyata tidak semua sejalan dengan teoritis yang berlaku . Malang . Panduan Praktikum Prestasi Mesin. Hal ini dapat dilihat dari fluktasi grafik hasil percobaan . kurangnya pengetauan .menyebabkan perubahan entalpi sehingga diperlukan daya evaporator yang tinggi untuk menguapkan refregeran.