Nama Fasilitator

:
Kelompok:
PETUNJUK UNTUK FASILITATOR
DISKUSI KELOMPOK 5
BLOK 17 INFEKSI & PENYAKIT TROPIS
Hari, Tanggal
: Kamis, 23 Mei 2013, pukul 09.00-12.00
Modul
: Infeksi Jamur & Parasit
Pokok bahasan : Infeksi Jamur
Level kompetensi
:4
Penanggung jawab
: Lina Damayanti, dr., SpKK
Narasumber
: Lina Damayanti, dr., SpKK
Dr. Sayu Putu Y, drh, M.Si.
Dr. Evi Sovia, dr., M.Si.
Astri Pradini, dr., M.Si.
Ali Taufan, dr., M.HKes.
Sasaran belajar
Setelah mengikuti diskusi kelompok ini mahasiswa mampu:
1. Merumuskan diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan lab, dengan menyusun resume kasus (overview case).
2. Menjelaskan kerangka konsep dalam menganalisis kasus
3. Menjelaskan ilmu kedokteran dasar terkait dengan kasus
4. Menganalisis patofisiologi kasus terkait gejala dan tanda pada kasus
5. Merencanakan penatalaksanaan sesuai dengan konsep patofisiologi penyakit
serta kompetensi dokter umum.
6. Menganalisis komplikasi penyakit sesuai dengan konsep patofisiologi.
7. Menjelaskankan konsep dasar komunikasi efektif, etika profesi serta aspek
epidemiologi dan kesehatan masyarakat pada kasus.
Skenario:
Seorang laki-laki berusia 19 tahun, mahasiswa, datang berobat ke
Puskesmas dengan keluhan utama adanya bercak kemerahan yang terasa gatal
pada perut sebelah kanan. Keluhan timbul kira-kira 1 bulan yang lalu, berupa
bercak kemerahan sebesar uang logam Rp 100,- pada perut sebelah kanan.
Pasien sering menggaruknya karena terasa gatal terutama bila berkeringat.
Sejak 1 minggu yang lalu bercak kemerahan semakin melebar menjadi sebesar
tutup gelas.
Kelainan kulit tersebut sudah diobati dengan krim hidrocortison yang
didapatkan dari dokter lain sebelum pasien datang ke Puskesmas (pasien
menunjukkan obat tersebut). Keluhan gatal hilang namun bercak kemerahan
semakin melebar. Pasien mandi 2 kali sehari, menggunakan sabun mandi,
mengganti baju dalam setiap kali mandi, namun mengganti celana panjang
seminggu sekali. Pasien mempunyai hobi bermain basket dan sering bertukar
baju dengan temannya. Pasien memelihara seekor kucing. Keluhan serupa di
keluarga tidak ada. Adanya bercak kemerahan bersisik tebal disangkal
HASIL PEMERIKSAAN
Keadaan Umum : tidak tampak sakit, komposmentis
Mata
: sklera tidak ikterik
Abdomen : tidak terdapat pembesaran hati

Diskusi Kelompok 6 Blok 17 2013

1

central healing Efloresensi Papula.. mengganti baju dalam setiap kali mandi. Kelainan kulit sudah diobati dengan krim hidrocortison.  GEJALA KHAS DERMATOFITOSIS. menimbul dari permukaan. Pasien mandi 2 kali sehari. bentuk tidak teratur.papula eritem pada bagian tepi lesi. double contour .pada perut sebelah kanan. bercabang.hifa panjang.2 cm dan 5x10x0. tepi polisiklik.artrospora. *Yang bergaris bawah hanya ada pada fasilitator Mekanisme pembelajaran: No 1 Waktu 10 menit 2 3 30 menit 100 menit 4 10 menit Keterangan Pembukaan Pembacaan kasus oleh ketua Pembagian sub kelompok (3) Diskusi kelompok kecil/ penyamaan persepsi Presentasi Pembahasan hasil diskusi dan feedback fasilitator Penutup PETUNJUK UNTUK FASILITATOR A. ukuran : 4x8x0. kering. Penegakkan diagnosis dan resume kasus (overview case) Anamnesis : Seorang laki-laki berusia 19 tahun  INSIDENS PADA DEWASA MUDA. konfluens. berupa kemerahan sebesar uang logam Rp 100. Sejak 1 minggu yang lalu bercak kemerahan semakin melebar menjadi sebesar tutup gelas. namun mengganti celana panjang seminggu sekali  FAKTOR PREDISPOSISI (HIGIENE BURUK) Pasien mempunyai hobi bermain basket  FAKTOR PREDISPOSISI Diskusi Kelompok 6 Blok 17 2013 2 . menggunakan sabun mandi. makula hiperpigmentasi : pada bagian tengah lesi dengan skuama halus diatasnya. Pada pemeriksaan sediaan langsung menggunakan KOH dari kerokan kulit ditemukan: . keluhan gatal hilang namun bercak kemerahan semakin melebar  RIWAYAT PENGOBATAN. Pasien sering menggaruknya karena terasa gatal terutama bila berkeringat.epitel . batas tegas.2 cm. Keluhan timbul kira-kira 1 bulan yang lalu  PERJALANAN PENYAKIT BERSIFAT KRONIS. berobat ke Puskesmas dengan keluhan utama adanya bercak kemerahan yang terasa gatal pada perut sebelah kanan  PREDILEKSI TINEA KORPORIS PADA KULIT BERAMBUT HALUS (GALBROUS’S SKIN). bersepta.Status dermatologikus : Distribusi Regioner : Ad regio Perut sebelah kanan : Lesi Dua buah lesi.

plak hiperpigmentasi pada bagian tengah lesi) Pemeriksaan KOH yang diambil dari kerokan lesi ditemukan hifa panjang. Kerangka konsep analisis kasus Diskusi Kelompok 6 Blok 17 2013 3 . bercabang. Keluhan serupa di keluarga tidak ada  FAKTOR ETIOLOGI (ANTROPOFILIK).(KELEMBABAN/ BANYAK BERKERINGAT dan sering bertukar baju dengan temannya  FAKTOR ETIOLOGI (ANTROPOFILIK) Pasien memelihara seekor kucing  FAKTOR ETIOLOGI (ZOOFILIK). tidak terdapat pembesaran hati (kontra indikasi pemberian antimikotik sistemik) Status dermatologikus: (CIRI-CIRI LESI DERMATOFITOSIS) o Tepi polisiklik o Batas lesi tegas o Central healing  bagian tepi lebih aktif dari bagian tengah lesi (efloresensi : papula-papula eritem pada bagian tepi lesi. Adanya bercak kemerahan bersisik tebal disangkal  DD/ PSORIASIS VULGARIS Status generalis : sklera tidak ikterik. bersepta dan double contour serta artrospora  HIFA YANG KHAS UNTUK DERMATOFITOSIS Diagnosis kerja : Tinea korporis B.

konfluens. timbul ± 1 bln yl. Higiene buruk. Lesi : 2 buah.Pencegahan Diskusi Kelompok 6 Blok 17 2013 Prognosis 4 . hepatomegali (-) Status dermatologikus : Distribusi : regioner. kering. Gatal bila berkeringat. sering bertukar baju dg temannya. makula hiperpigmentasi pada bagian tengah lesi dengan skuama halus diatasnya Patofisiologi : Menempel pada keratinosit  germinasi  penetrasi hifa  kerusakan jaringan Pemeriksaan KOH : -Hifa panjang -Artrospora .Psoriasis vulgaris Epidemiologi Diagnosis : Tinea korporis Komplikasi Bioetik humaniora Penatalaksanaan : -Obat antimikotik -Bioetika & humaniora . tepi polisiklik. Status generalis : sklera ikterik (-). Efloresensi : papula-papula eritem pada bagian tepi lesi.2 cm.Epitel Diagnosis Banding : -Tinea korporis . central healing. ukuran 4x8x0. 19 th. menimbul dari permukaan. hobi bermain basket. batas tegas. Ad regio : perut sebelah kanan. memelihara kucing. gatal pada perut sebelah kanan. bentuk tidak teratur.2 cm dan 5x10x0.Etiologi : Dermatofita Struktur dan fisiologi kulit normal Faktor presipitasi Faktor predisposisi : -Endogen -Eksogen TANDA & GEJALA Anamnesis : Laki-laki. KU: bercak kemerahan.

Sedangkan T. disebabkan oleh T. T. rubrum telah dibedakan yaitu : T. sistem enzim dan sistem komplemen. Diskusi Kelompok 6 Blok 17 2013 5 . berbentuk tetesan air mata sepanjang sisi. T. rubrum berbulu halus adalah strain jamur yang paling banyak menginfeksi manusia. dan tidak mempunyai makrokonidia. rubrum tipe granuler menyebabkan penyakit Tinea corporis. yaitu sel fagosit. Beberapa strain dari T. yaitu terdapatnya lingkaran-lingkaran konsentris di tengah lesi. T.C. floccosum. dan berbentuk seperti cerutu. tipis. Strain ini dapat menyebabkan infeksi kronis pada kulit. mikrokonidia adalah bentuk spora yang paling banyak.Tinea korporis banyak disebabkan oleh E. sedangkan sistem imun spesifik antara lain sel limfosit T Mikrobiologi Secara umum dermatofitosis dapat disebabkan oleh berbagai spesies dari genus Trichophyton. Koloni sering menghasilkan warna merah pada sisi yang sebaliknya. rubrum berbulu halus dan T. tonsuran dan T. rubrum tipe granuler yaitu produksi mikrokonidia dan makrokonidia yang jumlahnya sangat banyak. rubrum tipe granuler. terbanyak disebabkan oleh Microsporum canis. Proses keratinisasi juga berperan sebagai sawar (barrier) mekanis karena sel-sel mati melepaskan diri secara teratur. Mikrokonidia berbentuk clavate dan pyriform. concentricum. Sedangkan karakteristik T. Bentuk tinea korporis yang khas adalah tinea imbrikata. rubrum berbulu halus memiliki karakteristik yaitu produksi mikrokonidia yang jumlahnya sedikit. Setelah sawar kimiawi dan mekanik. kecil. Mikrokonidia berdinding halus. Trichophyton rubrum Taksonomi : Phylum : Ascomycota Class : Eurotiomycetes Order : Onygenales Family : Arthrodermataceae Genus : Trichophyton Species : Trichophyton rubrum Pada jamur ini. sehingga merupakan perlindungan kimiawi terhadap infeksi bakteri maupun jamur. Pada anak-anak yang sering kontak dengan binatang. T. rubrum. Ilmu Kedokteran dasar terkait kasus Histologi kulit Fisiologi kulit sebagai fungsi pertahanan tubuh terhadap infeksi jamur Kulit merupakan organ yang kompleks yang salah satu fungsinya adalah sebagai proteksi terhadap lingkungannya. Ekskresi dari kelenjar keringat dan sebum membentuk lapisan yang asam (acid mantel layer) dengan pH 5-6.5. pada beberapa strain terdapat banyak mikrokonidia bentuk ini. Microsporum dan Epidermophyton. halus.sisi hifa. terdapat pula mekanisme pertahanan nonspesifik dan spesifik. mentagrophytes. makrokonidia berdinding tipis.

floccosum tumbuh dengan kecepatan sedang (10 hari) pada 25 °C dalam medium potato dextrose agar. halus. rubrum downy type T mentagrophytes. silinder dengan dinding tipis atau tebal. Mikroskopik Diskusi Kelompok 6 Blok 17 2013 6 . Conidiophore sulit dibedakan dengan hifa.atau lebih sel)). Macroconidia (disebut juga macroaleuriconidia) adalah multiselular (2. Satu-satunya spesies yang patogen pada orang adalah Epidermophyton floccosum. floccosum Taksonomi Kingdom: Fungi Phylum : Ascomycota Class : Euascomycetes Order : Onygenales Family : Arthrodermataceae Genus : Epidermophyton Epidermophyton merupakan fungi filamentous dan merupakan salah satu dari 3 genus fungi penyebab dermatophytes. Microconidia biasanya dihasilkan lebih banyak oleh Trichophyton. rubrum granular type Typical slender clavate microconidia of T. macroconidia. Biakan Koloni E. dapat berkelompok atau sendiri-sendiri. koloni coklat kekuningan atau atau abuabu. Miroconidia atau disebut juga microaleuriconidia) merupakan satu sel berbentuk spiral. E. microconidia. Habitat alamiah fungi ini dan spesies yang nonpatogenik Epidermophyton stockdaleae adalah tanah.Typical cigar shaped macroconidia of T. Taksonomi Kingdom: Fungi Phylum : Ascomycota Class : Euascomycetes Order : Onygenales Family : Arthrodermataceae Genus : Trichophyton Hifa hyaline berseptat. Chlamydospores kemungkinan juga dihasilkan oleh jamur ini. dan arthroconidia. Fungi ini menyebar di seluruh dunia. Texture datar dan berbutir. tampak adanya conidiophores.

3 sampai 5 sel halus dan clavate-shaped with rounded ends. Endogen o Diabetes melitus o Obesitas o Kehamilan Diskusi Kelompok 6 Blok 17 2013 7 . sporotrikosis Patogenesis dermatomikosis superfisialis Untuk dapat menimbulkan suatu penyakit. macroconidia. Sel yang menyerupai Chlamydoconidium umum ditemukan pada biakan tua.Septate. jamur harus dapat mengatasi pertahanan tubuh nonspesifik dan spesifik. D. hyaline hyphae.Bertahan di dalam lingkungan pejamu dan dapat menyesuaikan diri dengan suhu serta keadaan biokimia pejamu. dan kadang-kadang menyerupai chlamydoconidium. Dapat ditemukan sendiri-sendiri atau berkelompok. misetoma. blastomikosis. jamur harus mempunyai kemampuan: .berkembang biak dan menimbulkan reaksi radang. Untuk dapat menginfeksi pejamu. Patofisiologi kasus Klasifikasi infeksi jamur pada kulit (dermatomikosis) Dermatofitosis Superfisialis Non dermatofitosis Tinea Tinea Tinea Tinea Tinea Tinea Tinea Tinea kapitis fasialis barbae korporis kruris manus pedis unguium Pitiriasis versikolor Piedra hitam Piedra putih Tinea nigra Palmaris Kandidosis kutis/ intertriginosa Kandidosis orale Kandidosis vaginalis Intermediet Kandidosis Profunda Kromomikosis. Microconidia tidak ditemukan dan Macroconidia (10-40 x 612 µm) dengan dinding tipis.Melekat pada kulit dan mukosa pejamu (adherence) .Menembus jaringan pejamu (penetration) . Faktor predisposisi : 1. Dari berbagai kemampuan tersebut mekanisme terpenting dalam pathogenesis penyakit jamur adalah kemampuan jamur untuk menyesuaikan diri dalam lingkungan pejamu dan kemampuan mengatasi imunitas seluler.

efikasi terapi. lutut. Bila lesi terbatas pada kulit yang berambut halus (kulit glabrosa) digunakan antimikotik topikal saja. Faktor etiologi : Berdasarkan habitat dari dermatofita : o Antropofilik : habitatnya pada manusia o Geofilik : habitatnya pada tanah dan air o Zoofilik : habitatnya pada hewan Diagnosis banding Diagnosis banding : . digunakan KOH 20% . seperti pekerjaan.Psoriasis vulgaris : merupakan suatu golongan penyakit eritema papuloskuamosa (EPS) sejati yang bersifat kronik residef. Status dermatologikus : Infeksi dermatofita mempunyai gambaran yang khas pada lesinya. Bila bahan pemeriksaannya kuku atau rambut.o Hiperhidrosis 2. memberikan gambaran tepi lesi yang polisiklik o Central healing : bagian tepi lebih aktif dari bagian tengah lesi (pada efloresensi : papula-papula eritem pada bagian tepi lesi. plak hiperpigmentasi pada bagian tengah lesi) Pemeriksaan Laboratorium : Pemeriksaan laboratorium yang sering dilakukan pada dermatofitosis adalah : . tebal. permukaan ekstensor ekstremitas. E. siku. presternal. pakaian ketat. Predileksi pada hair line di kepala. dengan bahan sediaan diambil dari kerokan lesi akan ditemukan hifa panjang. Eksogen o Pemakaian obat-obatan dalam jangka waktu lama (antibiotik. bercabang. kortikosteroid) o Higiene yang buruk o Kelembaban :  Cara berpakaian : pakaian yang tidak menyerap keringat. interaksi obat maupun efek sampingnya.Pemeriksaan dengan KOH 10%. sedangkan bila lesi luas atau mengenai kuku dan rambut digunakan antimikotik sistemik.Kultur pada media agar sabouraud atau media DTM (Dermatophyte Test Medium). pemilihan penggunaan obat antimikotik baik topikal maupun sistemik bergantung pada luas. sekitar umbilicus. Penatalaksanaan kasus Pada kasus infeksi jamur superfisial. penyakit penyerta. karena beberapa lesi multiple yang bersatu. bersepta dan double contour. Lamanya kultur sekitar 2-4 minggu. serta ditemukan adanya artrospora. lumbosakral. olah raga  Tempat bekerja/ sekolah dengan ventilasi yang kurang/ panas. Gejala pada kulit biasanya terdapat makula eritem atau plak eritem yang berskuama tebal yang tidak terlalu gatal. berlapis-lapis  kelembaban tinggi  Kegiatan yang menimbulkan banyak berkeringat. berat ringannya infeksi. yaitu : o Batas lesi tegas o Tepi polisiklik. Diskusi Kelompok 6 Blok 17 2013 8 .

terbinafin 1% (fungisidal. bufonazol 1%.2 kali/ hari. butenafin 1%. Adanya interaksi ireversibel dengan ergosterol membrane plasma sel jamur. suspense oral). ekonazol 1%  bekerja menghambat enzim 14-α-demetilase pada pembentukan ergosterol membran sel jamur. Berdasarkan mekanisme kerjanya obat antimikotik topikal terbagi atas :  Bahan kimia antiseptik yang bersifat antibakteri dan antimikotik ringan. krim. sampai kurang lebih 1 cm diluar batas lesi 3. keratolitik. Diskusi Kelompok 6 Blok 17 2013 9 .Obat antimikotik topikal yang ideal adalah :  Bersifat fungisidal  Spektrum luas  Keratinofilik  Non iritan.  Golongan alilamin : naftilin 1%. bersifat antiinflamasi)  bekerja menghambat enzim epoksidase skualen pada pembentukan ergosterol membran sel jamur  Golongan benzilamin : tolnaftat 1%  Bentuk khusus :  Siklopiroksolamin 2% (cat kuku. Diberikan 1.  Derivate imidazol : klotrimazol 1%. sertakonazol 2%. asidi benzoikum 6 – 12%).4 minggu diteruskan sekurang-kurangnya 2 minggu setelah lesi menyembuh. 2. 2. yaitu setelah pemberian antimikotik topikal tidak sembuh. losio)  Selenium sulfide 1. salap. hipoalergenik  Tidak diabsorpsi secara sistemik  Aktif pada konsentrasi rendah  Tersedia dalam berbagai bentuk formula  Efek samping minimal/ tidak ada  Adanya manfaat tambahan untuk kelainan yang biasanya menyertai infeksi jamur (misalnya antiinflamasi. Dioleskan tipis-tipis di atas lesi. (krim. kemudian keringkan. yaitu gentian violet 1%. Daerah terinfeksi dibersihkan dengan air dan sabun. Castellani paint (solusio karbol fuschin).5% (solusio) Indikasi pemberian antimikotik sistemik pada dermatomikosis superfisial adalah :  Bila lesinya luas  Rekalsitran. mikonazol 2%. Asam undesilenat (bentuk krim atau bedak 3%)  Golongan polyene : nystatin. 4. ketokonazol 2%. Jarang digunakan karena mewarnai kulit dan pakaian  Bahan keratolitik untuk meningkatkan eksfoliasi startum korneum : Unguentum whitfield (asidi salisilikum 3 – 6%. Hasil maksimal diperoleh bila faktor predisposisi dihilangkan atau diminimalisir.8% (sampo) dan 2. antibakteri)  Murah Cara penggunaan antimikotik topikal : 1.

rubrum. Bekerja dengan cara menghambat enzim skualen epoksidase dalam sintesis ergosterol. sakit kepala. Waktu terapi yang dibutuhkan lebih singkat. rash. spektrum luas. Ikatan dengan protein plasma > 99%. Terbinafin lebih efektif dibandingkan dengan itrakonazol atau griseofulvin.  Dosis : 250 mg/hari.  Dosis : 150 mg/ minggu. sangat lipofilik  Dosis : 100 mg/hari selama 15 hari. Hanya 11% dimetabolisme di hepar dan hampir 80% diekskresikan di ginjal. Bekerja pada biosintesis ergosterol  Dosis : 200 mg/ hari selama kurang lebih 4 minggu  Itrakonazol :  Merupakan golongan triazol. Hal ini ditambah dengan terjadinya akumulasi toksik dari squalen menyababkan kematian sel jamur. mekanisme kerja sama dengan golongan imidazol.2 minggu Farmakologi obat-obat antijamur Golongan alilamin (Terbinafin) Terbinafin merupakan obat pilihan untuk dermatofitosis terutama onikomikosis. Efek samping: Gangguan gastrointestinal (diare. Diskusi Kelompok 6 Blok 17 2013 10 . dan nausea). termasuk golongan imidazol. dyspepsia. Mengalami metabolisme lintas pertama. Terbinafin bersifat fungisidal. peningkatan kadar serum transaminase hati. untuk anak ultramicrosize griseofulvin 10-20 mg/kgBB/hari 6 minggu atau lebih  Ketokonazol :  Merupakan obat antimikotik sistemik pertama yang berspektrum luas. Bioavailabilitas 40%. Eksresi melalui urin. tinea unguium dan tinea pedis Sistemik :  Griseofulvin :  Berasal dari Penicillium griseofulvum. Farmakokinetik: Dapat diberikan secara peroral. Terakumulasi dalam air susu sehingga tidak boleh diberikan kepada ibu menyusui. Mekanisme kerja: Menghambat squalen epoksidase sehingga menurunkan sintesis ergosterol. 4 – 6 minggu  Terbinafin :  Merupakan golongan alilamin.  Penyebabnya dermatofita golongan antropofilik terutama T. Golongan polyene (Nistatin) Mekanisme kerja: Berikatan dengan ergosterol dalam membrane plasma sel jamur kemudian membentuk pori sehingga mengganggu fungsi membran akibatnya elektrolit dan molekul berukuran kecil keluar dari sel dan menyebabkan kematian sel jamur. untuk anak 3-6 mg/kg BB/ hari. Terbinafin ditoleransi dengan baik. berspektrum luas dan bersifat fungisidal. untuk anak 5 mg/ kgBB/hari selama 1 minggu  Flukonazol :  Merupakan obat antimikotik sistemik golongan triazol. selama 1. bekerja pada inti sel dengan cara menghambat mitosis pada stadium metafase  Dosis 500 mg/ hari selama 2 – 6 minggu. Tinea kapitis.

Prinsip bioetika humaniora. G. Jarang diberikan secara parenteral karena dapat menyebabkan toksisitas yang berat. Penggunaannya terbatas secara topikal karena toksisitasnya tinggi. Isu etik dokter A. bila pasien kontrol teratur. dan tidak pernah digunakan secara parenteral. Tidak boleh diberikan bersama dengan minuman beralkohol karena dapat menyebabkan intoksikasi alkohol. Efek samping jarang terjadi. pasien tersebut mendapatkan terapi yang tidak sesuai dengan penyakit pasien tersebut dari dokter lain. Namun keputusan dokter sebelumnya memberikan terapi kortikosteroid terhadap pasien Diskusi Kelompok 6 Blok 17 2013 11 . selang seminggu F. Dalam kasus ini dokter dapat mendiagnosis pasien tersebut menderita tinea korporis melalui anamnesis serta tanda dan gejala dari pemeriksaan fisik hal tersebut menggambarkan KDM BENEFICENCE. Prognosis: o Pada umumnya baik. Menginduksi aktivitas sitokrom P450 sehingga meningkatkan kecepatan metabolism beberapa obat seperti antikoagulan. a. Griseofulvin Penggunaannya untuk infeksi dermatofita pada kuku telah banyak digantikan oleh terbinafin. Menganalisis komplikasi penyakit sesuai dengan konsep patofisiologi Dermatofita merupakan infeksi jamur superfisial yang hanya menginfeksi atau mengenai jaringan yang mengandung keratin. butoconazole and terconazole) Mekanisme kerja: Menghambat C-14 -demethylase (cyt P-450 enzyme) sehingga menghambat demetilasi lanosterol menjadi ergosterol (sterol utama dari membran sel jamur). kadang-kadang dapat timbul nausea dan vomiting. klotrimazole. epidemiologi dan pelayanan kesehatan masyarakat pada kasus Bioetika humaniora Pada kasus ini.Farmakokinetik: Absorpsi secara peroral buruk. Derivat imidazol (miconazole. Farmakokinetik: Dapat diberikan secara topikal. faktor predisposisi dihindari o Kriteria sembuh pada dermatomikosis (superfisialis) :  Keluhan gatal berkurang  Lesi tidak ada/ makula hiperpigmentasi  Pada pemeriksaan KOH dan kultur hasil negatif tiga kali berturutturut. 1. Medical Indication : penilaian dokter mengenai segala hal yang terkait kondisi medis pasien. Dieksresikan melalui feses. jarang sekali menimbulkan komplikasi menjadi infeksi jamur profunda ataupun sistemik. Mekanisme kerja: Menyebabkan kerusakan spindle mitosis dan menghambat mitosis sel jamur. Farmakokinetik: Absorpsi meningkat dengan pemberian bersama makanan tinggi lemak.

Diskusi Kelompok 6 Blok 17 2013 12 . dalam kasus ini pasen mengharapkan adanya second opinion dari anda mengenai penyakitnya. Isu Etik Pasien C. terutama yang terinfeksi  Mengobati individu/ binatang yang terinfeksi Daftar Pustaka. tidak berlapislapis. D. rubrum. 1. Spesies dermatofita yang paling banyak diisolasi adalah T. anda mengetahui bahwa dokter sebelumnya memberikan kortikosteroid tidak sesuai dengan indikasi maka anda memutuskan untuk mengganti obat tersebut dengan terapi yang sesuai untuk tinea korporis adalah KDM NONMALEFICENCE prinsip Do No Harm.6%.93% sampai 27. keputusan medik dan etis anda mengganti obat yang sesuai dengan indikasi setelah mengetahui hal tersebut merupakan prinsip do no harm Nonmaleficence . Contekstual features : semua kondisi yang dapat mempengaruhi kondisi kesehatan pasien seperti faktor predisposisi dan etiologi dari penyakit tinea korporis tersebut. Dilema etik antara keputusan medik dokter sebelumnya yang telah memberikan terapi kortikosteroid pada pasien yang menderita tinea korporis tidak sesuai dengan indikasi hal tersebut tidak sesuai dengan KDM BENEFICENCE goldenrule principle. B. dermatomikosis termasuk 10 penyakit terbanyak. hal ini terkait KDM JUSTICE. Patient Preferences : pandangan pasien terhadap penyakitnya serta terhadap pengobatan yang akan diberikan oleh dokter. pitiriasis versikolor dan kandidosis kutis. Di puskesmas. Dermatomikosis yang paling sering ditemukan adalah dermatofitosis.b. Quality of Life : penilaian dokter terhadap kondisi pasien setelah menderita penyakit tersebut sampai sesudah diberikan terapi dokter sebelumnya. Maka primafacienya adalah Nonmaleficence. pakaian bersama-sama  Tidak menggaruk lesi  Menghindari kontak dengan binatang. antara lain : o Menggunakan pakaian yang longgar/ tidak ketat. Pencegahan:  Menghilangkan faktor predisposisi. Epidemiologi penyakit dermatomikosis secara umum Dermatomikosis/ mikosis superfisial sering ditemukan di daerah tropis dan masih merupakan masalah di Indonesia. Data yang tepat di Indonesia belum ada. hal ini merupakan hak OTONOMI.ini tidak sesuai dengan prinsip BENEFICENCE yaitu tidak menerapkan Goldenrule principles. dibeberapa rumah sakit pendidikan di Indonesia pada tahun 1996 – 1998 berkisar antara 2. 2. bahan yang menyerap keringat o Mencegah obesitas o Menjaga higiene o Mengusahakan daerah lesi selalu kering o Mengobati/ mengontrol penyakit-penyakit yang menjadi faktor predisposisi: DM  Tidak memakai handuk.

Diskusi Kelompok 6 Blok 17 2013 13 . Aisah S. Leffell DJ. 3. 2011. Verma S. 2006. Dalam: Djuanda A. Gilchrest BA. Elston DM. Goldsmith LA. Jakarta: FKUI. 89-100. Katz SI. James WD. Medical Microbiologi. Philadelphia: Saunders Elsevier. Mikosis. Superficial fungal infection : dermatophytosis. penyunting. penyunting. Dalam: Wolff K. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. 2. Edisi ke-6. Eckert J. 1808-21. 2006. Andrews’ diseases of the skin clinical dermatology. Budimulja U. Thieme. Kayser FH. 2005. Bienz KA. New York: McGraw Hill Incorporation. dkk. 4. Jakarta: Balai penerbit FKUI. Heffernan MP. 5. Berger TG. onychomycosis. Edisi ke-2. piedra. 2008. Edisi ke-7. Edisi ke-10. Dermatomikosis superfisialis. Budimulja U. Fitzpatrick’s dermatology in general medicine. Hamzah M. h.1. tinea nigra. Paller AS. Zinkernagel RM. h.