You are on page 1of 19

ASKEP POSTOPERATIF : PROSES KEPERAWATAN

PASCAOPERATIF
PROSES KEPERAWATAN PASCAOPERATIF
Ns. SUMARDA
Proses keperawatan pasca operatif pada praktiknya akan dilaksanakan secara berkelanjutan baik di ruang pemulihan,
ruang intensif, dan ruang rawat inap bedah. Untuk di ruang pemulihan akan dilaksanakan secara mandiri oleh penata
anestesi. Keahlian perawat pascaoperatif dibentuk dari pengetahuan keperawatan professional dan keterampilan
psikomotor, yang kemudian dibaurkan ke dalam tindakan keperawatan yang harmonis, kemampuan dalam
pengenalan masalah pasien yang resiko atau actual yang akan didapatkan pada setiap fase perioperatif didasarkan
atas pengetahuan dan pengalaman keperawatan perioperatif akan mengarahkan perencanaan intervensi keperawatan
untuk membantu penanganan atau pencegahan masalah. Rencana keperawatan disusun sesuai dengan respons pasien
dan dievaluasi keefektifan nya dalam memenuhi tujuan pasien dan keperawatan.
Fase pascaoperatifadalah suatu kondisi dimana pasien sudah masuk di ruang pulih sadar sampai pasien dalam
kondisi sadar betul untuk dibawa ke ruang rawat inap.

PROSES KEPERAWATAN DI RUANG PULIH SADAR
Ruang pulih sadar (recovery room) atau unit perawatan pascaanestesi (PACU) merupakan suatu ruangan untuk
pemulihan fisiologis pasien pascaoperatif. PACU biasanya terletak berdekatan dengan ruang operasi. Pasien yang
masih di bawah pengaruh anestesi atau yang pulih dari anestesi ditempatkan di unit ini untuk kemudahan akses ke :
1 ) perawat yang disiapkan dalam merawat pasien pascaoperatif segera; 2) ahli anestestesi dan ahli bedah; 3) alat
pemantau dan peralatan khusus, medikasi, dan penggantian cairan, dalam lingkungan ini, pasien diberikan
perawatan spesialis yang disediakan oleh mereka yang sangat berkualifikasi untuk memberikannya.
Ruangan dijaga agar tenang , bersih, dan bebas dari peralatan yang tidak dibutuhkan. Ruangan juga harus dicat
dengan warna yang lembut, menyenangkan, dan mempunyai : 1) pencahayaan tidak lansung ; 2) plafon kedap
suara ; 3) peralatan yang mengontrol atau menghilangkan suara ; dan 4) ruang terisolasi (kotak berkaca) untuk
pasien yang terganggu . gambaran ini juga memberikan nilai psikologis bagi pasien untuk menurunkan ansietas.
Alat pemantau tersedia untuk memberikan penilaian yang akurat dan cepat tentang kondisi pasien . peralatan khusus
termasuk tipe alat bantu pernapasan, yaitu oksigen, laringoskop, set traekostomi, peralatan bronchial, kateter,
ventilator mekanis, dan peralatan suction. Peralatan lain diperlukan untuk memenuhi kebutuhan sirkulasi, seperti
apparatus, tekanan darah, peralatan parenteral, plasma ekspander, nampan berisi set intravena, set pembuka jahitan,
peralatan henti jantung, defibrillator, keteter vena, dan tourniquet. Bahan-bahan balutan bedah, narkotik,medikasi
kedaruratan, set kateterisasi, dan peralatan drainase, tempat tidur pemulihan memberikan akses mudah dan cepat
ditempatkan dalam posisi syok, dan mempunyai kelengkapan yang memudahkan perawatan, seperti tiang intravena,
pagar tempat tidur brankar beroda , dan rak penyimpan kertas catatan.

alat monitor EKG. perawat dan anggota tim bedah menyerahkan status pasien. perawat menerima laporan adanya komplikasi yang terjadi selama pembedahan berlansung.dan adanya komplikasi. Laporan tim bedah mencakup laporan tentang obat anestesi yang diberikan. kondisi ini menyebabkan adanya masalah keperawatan jalan nafas tidak efektif dan resiko tinggi pola nafas tidak efektif. Pengkajian dilakukan saat memindahkan pasien yang berada di atas brankar. laporan ini diberikan saat petugas PACU menerima kedatangan pasien. . Efek dari anestesi umum terlihat pada system respirasi. Perawat biasanya menganjurkan anggota keluarga untuk tetap berada di ruang tunggu sehingga mereka dapat dengan mudah ditemukan jika dokter bedah datang untuk menjelaskan kondisi pasien. Pasofisiologi masalah keperawatan di ruang pemulihan Pasien pascaoperasi akan mengalami perubahan fisiologis sebagai efek dari anestesi dan intervensi bedah. Hal ini akan memudahkan petugas keperawatan untuk member informasi kepada anggota keluarga pasien tentang tindakan pembedahan yang telah dijalani. Dokter bedah sering melaporkan beberapa hal yang perlu mendapat perhatian khusus (misalnya pasien yang beresiko mengalamai pendarahan atau infeksi) . sebagian besar pasien menerima oksigen melalui beberapa cara. sehingga perawat PACU dapat mengantisipasi dengan mudah pasien mana yang seharusnya sudah sadar. Dokter bedah akan memberi gambaran tentang status pasien. status vascular. hasil pembedahan. seperti alat monitor tekanan darah noninvasif. oksigen. tingkat kesadaran. sirkulasi. suhu tubuh.Pengkajian Pengkajian dan intervensi pada saat pemindahan Pengkajian pascaanastesi dilakukan sejak pasien mulai dipindahkan dari kamar operasi ke ruang pemulihan. pada periode pemulihan ini. Perawat akan memasang berbagai jenis peralatan monitor. mengkaji dan melakukan intervensi tentang kondisi jalan napas. Pengaturan posisi kepala pada saat pemindahan sangat penting dilakukan dengan tetap menjaga kepatenan jalan nafas. petugas memberitahu divisi keperawatan tentang kedatangan pasien. penurunan kemampuan terhadap control kepatenan jalan nafas karena kemampuan memposisi kan lidah secara fisiologis masih belum optimal . Pada saat pasien siap dipindahkan dari PACU. dan oksimeter nadi. dan saturasi. dimana akan terjadi respons depresi pernapasan sekunder dari sisa anestesi inhalasi. Laporan pemberian cairan IV atau transfusi darah selama pembedahan berlansung mengingatkan perawat pada keseimbangan cairan dan elektrolit. Dokter bedah akan memberi gambaran tentang status pasien. pendarahan. perawat. Saat pasein masuk ke PACU.

.

perubahan elektrolit . Pasien . dan metabolism karena terjadi mekanisme kompensasi pe ngaliran suplai hanya untuk organ vital. Efek anestesi juga mempengaruhi pusat pengatur suhu tubuh sehingga kondisi pascabedah cenderung mengalami hipotermi.Efek anestesi akan mempengaruhi mekanisme regulasi sirkulasi normal sehingga mempunyai resiko terjadinya penurunan kemampuan jantung dalam melakukan stroke volume efektif yang berimplikasi pada penurunan curah jantung . efek intervensi bedah dengan adanya cedera vascular dan banyaknya jumlah volume darah yang keluar dari vascular adalah terjadinya penurunan perfusi perifer. Efek anestesi pada system saraf pusat akan mempengaruhi penurunan control kesadaran dan kemampuan dalam orientasi pada lingkungan sehingga pasien yang mulai sadar biasanya gelisah. Kondisi penurunan reaksi anestesi akan bermanifestasi pada munculnya keluhan nyeri akibat kerusakan neuromuscular pascaoperasi.

parastesia. dan warna membrane mukosa. kedalaman ventilasi pernafasan. Table 5-1 membantu perawat untuk memfokuskan sistematika pengkajian pada pasien pascaoperatif di ruang pulih sadar.antibiotic). Efek anestesi juga mempengaruhi penurunan kemampuan pengosongan lambung. cairan dan elektrolit. Control pernafasan Obat anestesi tertentu dapat menyebabkan depresi pernafasan . syok. Table 5-1 pedoman pengkajian pascaoperatif pengkajian Pengkajian awal          System pernafasan   Implikasi dan hasil pengkajian Pengkajian awal pascaoperatif adalah sebagai berikut: Diagnosis medis dan jenis pembedahan yang dilakukan Usia dan kondisi umum pasien. kondisi luka dan drainase. suhu tubuh. Sehingga cenderung terjadinya refluks esophagus dan makanan keluar ke kerongkongan yang memicu terjadinya aspirasi makanan ke saluran nafas.pascaoperasi cenderung mengalami kecemasan pascaoperasi sehubungan dengan penurunan kemampuan adaptasi normal. efek anestesi juga mempengaruhi terhambatnya jaras aferen dan eferen terhadap control miksi. kehilangan darah. genitourinary. Perawat mengkaji frekuensi. Efek anestesi akan mempengaruhi penurunan control otot dan keseimbangan secara sadar sehingga pasien beresiko tinggi cedera. Apabila pernafasan dangkal.relaksan otot. drain. sirkulasi. Patologi yang dihadapi (jika malignansi. Secara umum. Efek intervensi bedah akan meninggalkan adanya kerusakan integritas jaringan dengan adanya luka pasca bedah dan adanya system drainase pada sisi luka bedah. kepatenan jalan nafas. tanda-tanda vital Anestesi dan medikasi lain yang digunakan (misalnya:narkotik. Segala selang. dan penggantian. letakkan tangan . Pengkajian Di Ruang Pemulihan Pengkajian di ruang pemulihan berfokus pada keselamatan jiwa pasien. gastrointestinal. Fokus pengkajian meliputi : pengkajian resprasi. psikologi dan kemanan peralatan. Cairan yang diberikan. apakah pasien atau keluarga sudah diberitahukan). atau alat bantu pendukung lainnya. Efek anestesi akan menimbulkan penurunan peristaltic usus dan berimplikasi pada peningkatan resiko paralisis usus dengan distensi otot-otot abdomen dan timbulnya gejala obstruksi gastrointestinal. sehingga. irama.dan henti jantung). kateter. dan cedera tekan pada beberapa penonjolan tulang. Segala masalah yang terjadi dalam ruang operasi yang mungkin mempengaruhi perawatan pascaoperatif (misalnya: hemoragi berlebihan. bunyi nafas. Respons pengaturan posisi bedah akan menimbulkan peningkatan resiko terjadinya tromboemboli. kesimetrisan gerakan dinding dada. perawat perlu mewaspadai pernafasan yang dangkal dan lambat serta batuk yang lemah. status neurologi. sehingga berimplikasi pada masalah gangguan pemenuhan eliminasi urine. Informasi spesifik tentang siapa ahli bedah atau ahli anestesi yang akan diberitahu. nyeri.

maka perawat mengajarkan pasien cara membersihkan jalan nafas dengan cara meludah. Perawat membandingkan TTV praoperatif dengan pascaoperatif . dokter harus diberitahu jika tekanan darah pasien terus menurun dengan cepat pada setiap pemeriksaan atau jika kecepatan denyut jantung menjadi semakin tidak teratur. mukosa di faring atau spasme faring. Pengkajian kecepatan denyut dan irama jantung yang teliti serta pengkajian tekanan darah menunjukkan status kardiovaskular pasien. efek samping anestesi. Respons perdarahan pascaoperatif Masalah sirkulasi yang sering terjadi adalah perdarahan. kulit dingin. maka darah mengalir kesamping pasien dan berkumpul di bawah seprai tempat tidur. lembab. apabila perdarahan terjadi secara internal . Apabila balutan basah . Kehilangan darah terjadi secara eksternal melalui drain atau insisi. Apabila fungsi pernafasan sudah kembali normal . Kemampuan melakukan hal tersebut menandakan kembalinya reflex muntah normal. ketidakseimbangan elektrolit. atau secara internal pada luka bedah. meningkatnya kecepatan denyut jantung dan pernafasan. Perawat yang waspada selalu memeriksa adanya drainase di bawah tubuh pasien. Kepatenan jalan nafas Jalan nafas oral atau oral airway masih dipasang untuk mempertahankan kepatenan jalan nafas sampai tercapai pernafasan yang nyaman dengan kecepatan normal. maka perawat memperhatikan adanya peningkatan drainase yang mengandung darah pada balutan atau melalui drain. akumulasi sekresi. dan depresi mekanisme regulasi sirkulasi normal. Perdarahan dapat mengakibatkan turunnya tekanan darah. serta gelisah. Apabila perdarahan terjadi secara eksternal.  Status sirkulasi          perawat di atas muka atau mulut pasien shingga perawat dapat merasakan udara yang keluar. Perawat mengkaji perfusi sirkulasi dengan melihat warna dasar kuku dan mukosa. Respons cedera sirkulasi Pasien yang menjalani bedah pelvis atau pasien yang diposisikan litotomi selama pembedahan berlansung beresiko mengalami . maka tempat pembedahan menjadi bengkak dan kencang. Respons TTV Pasien beresiko mengalami komplikasi kardiovaskular akibat kehilangan darah secara actual atau resiko dari tempat pembedahan. pucat. denyut nadi lemah. Salah satu kekhawatiran terbesar perawat adalah obstruksi jalan nafas akibat aspirasi muntah.

reflex muntah. mungkin terjadi komplikasi akibat pemberian anestesi yang dapat mengancam kehidupan. Dua komplikasi serius dari TVP adalah embolisme pulmonary. meningkatnya suhu tubuh menyebabkan peningkatan metabolism. hipertermia meligna menyebabkan takipnea. lebih umum lagi adalah melambatnya aliran darah dalam ekstremitas akibat metabolism yang melambat dan depresi sirkulasi setelah pembedahan. Apabila suhu berada pada < c maka penghangat eksternal dapat digunakan . apabila pasien mulai sadar. tetapi hanya efek samping dari obat anestesi tertentu. Respons thrombosis vena profunda (TVP) secara patofisiologi dimulai dengan adanya inflamasi ringan sampai berat dari vena yang terjadi dalam kaitannya dengan pembekuan darah. tekanan darah tidak stabil. Pada hipertermia maligna tertentu. Menggigil mungkin bukan merupakan tanda hipotermia. dan kaku otot. maka perawat mencoba mengkaji pasien dengan cara menyentuh atau menggerakkan tubuh pasien dengan lembut. dan sindrom pascafibilitis. Penurunan tingkat fungsi tubuh pasien menyebabkan turunnya metabolism dan menurunkan suhu tubuh. maka reflex . dan mengkaji genggaman tangan serta pergerakan ekstermitas pasien. Obat-obatan . Kaji tingkat respons sensibilitas dengan membandingkan peta dermatom untuk menilai kembalinya fungsi sensasi taktil. kekuatan otot. mereka mungkin akan mengeluh kedinginan dan tidak nyaman. kemungkinan juga beberapa factor ini berinteraksi untuk menghasilkan thrombosis. Control suhu      Status neurologi       thrombosis vena provunda. Perawat mengukur suhu tubuh pasien dan memberikan selimut hangat. Perawat dapat memeriksa reflex pupil. serta pernafasan pasien. termasuk cedera pada vena yang disebabkan oleh pengikat yang terlalu ketat atau penahan tungkai pada waktu operasi. Apabila pasien tetap tidur atau tidak berespons . Pengkajian dermatom (segmen area kulit yang dipengaruhi segmen . sirkulasi. Lingkungan ruang operasi dan ruang pulih sadar sangat dingin. menggigil dapat dikurangi dengan memberikan Demerol dalam jumlah kecil. tungkai kiri lebih sering terkena disbanding yang kanan. dan tingkat orientasi pasien akan kembali normal. Komplikasi dapat terjadi dari sejumlah penyebab . nyeri dan factor emosional dapat mempengaruhi tingkat kesadaran bersamaan dengan hilangnya efek anestesi. Perawat memperhatikan apakah pasien merespons dengan tepat atau terlihat bingung dan disorientasi. Perawat mengkaji tingkat kesadaran pasien dengan cara memanggil pasien dengan suara sedang. takikardia. perubahan elektrolit dan metabolism.

selama periode pemulihan di ruang pulih sadar dan saat pasien pindah dari ruang pulih sadar. Biasanya perawat mengkaji level dermatom dengan cara meyentuh pasien secara bilateral dan mendokumentasikan area tubuh yang sentuhannya dapat dirasakan pasien. rasa nyeri menjadi sangat terasa. Saat pasien sadar dari anestesi umum. Apabila pasien mempunyai persiapan yang baik sebelum pembedahan. sentuhan dapat dilakukan dengan cara menekan tangan atau mencubit kulit pasien dengan lembut. Respons nyeri   Genitourinari      medulla spinalis) saraf spinalis dilengkapi saat kedatangan. Apabila pasien merasa nyeri. Pasien yang mendapat anestesi regional dan local biasanya tidak mengalami nyeri karena area insisi masih berada dibawah pengaruh anestesi. maka kecemasannya akan lebih rendah pada saat perawat di ruang pulih sadar mulai memberi perawatan. biasanya akan menyebabkan urine mengandung darah kurang lebih selama 12-24 . Pembedahan yang melibatkan saluran perkemihan . dan mendokumentasikan beratnya nyeri secara objektif . Karena kandung kemih yang penuh dapat menyebabkan nyeri dan sering menyebabkan kegelisahan selama pemulihan. Menjelaskan pembedahannya sudah selesai.perawat mengorientasikan kembali pasien. Nyeri mulai terasa sebelum kesadaran pasien kembali penuh. Pengkajian orientasi pada lingkungan ruang pulih sadar sangat penting dalam mempertahankan kesadaran pasien. bergantung pada jenis pembedahan Pasien perlu dibantu berkemih jika pasien tidak dapat berkemih dalam waktu 8 jam. Nyeri akut akibat insisi menyebabkan pasien gelisah dan menyebabkan tanda-tanda vital berubah. Apabila pasien telah terpasang kateter tetap. maka pemasangan kateter mungkin diperlukan. Skala nyeri merupakan metode efektif bagi perawat untuk mengkaji nyeri pascaoperatif mengevaluasi respons pasien terhadap pemberian analgesic. Pengkajian rasa tidak nyaman pasien dan evaluasi terapi untuk mengilangkan rasa nyeri merupakan fungsi keperawatan yang penting. pengkajian nyeri praoperatif digunakan sebagai dasar bagi perawat untuk mengevaluasi efektifitas intervensi selama masa pemulihan Dalam waktu 6-8 jam setelah anestesi . maka urine harus mengalir sedikitnya 2 ml/kg/jam pada dewasa dan 1 ml/kg/jam pada anak-anak. mereka sulit melakukan batuk efektif dan nafas dalam. dan memberi gambaran tentang prosedur dan tindakan keperawtan yang dilakukan di ruang pemulihan. pasien akan mendapatkan control fungsi berkemih secara volunter. Perawat mengobservasi warna dan bau urine pasien.

System gastrointestinal . bergantung pada jenis pembedahan. drainase lambung.  Anestesi memperlambat motilitas gastrointestinal dan menyebabkan mual.  Karena pengosongan lmbung berlansung lambat akibat pengaruh anestesi . bising usus terdengar lemah atau hilang ke tempat kuadran. abrasi. maka perawat mengkaji status hidrasi dan memonitor fungsi jantung dan neurologi untuk melihat adanya tanda-tanda perubahan elektrolit. Paralis usus dengan distensi dan gejala obstruksi akut ini mungkin juga berhubungan dengan pemberian obat-obatan antikolinergik.. Keseimbangan cairan dan  Karena pasien bedah beresiko mengalami ketidakseimbangan elektrolit cairan.  Inspeksi abdomen menentukan adanya distensi yang mungkin terjadi akibat akumulasi gas. Setelah pembedahan. pasien mungkin juga menerima produk darah yang jumlahnya bergantung pada banyaknya kehilangan darah selama pembedahan berlansung.  Catatan intake dan output cairan yang akurat membantu proses pengkajian fungsi ginjal dan sirkulasi .  Abrasi atau ptekie dapat terjadi karena posisi yang kurang tepat atau pengikatan yang menyebabkan cedera pada lapisan kulit. untuk memastikan pemasukan cairan yang adekuat. kondisi  Di ruang pulih sadar. drainase luka. Perawat menginspeksi tempat pemasangan kateter IV untuk memastikan bahwa kateter berada pada posisi yang tepat dalam vena sehingga cairan dapat mengalir dengan lancer . Perawat menjaga jangan sampai infuse cairan berjalan lambat. perawat mengkaji kondisi kulit pasien. maka isi lambung yang terakumulasi tidak bisa keluar dan dapat menimbulkan mual dan muntah. dan drainase melihat adanya kemerahan. perawat mengukur semua sumber pengeluaran. Normalnya pasien tidak boleh minum saar di ruang pulih sadar Karena lambatnya pergerakan usus beresiko menyebabkan mual dan muntah karena pasien masih berada dibawah pengaruh anestesi. Normalnya selama tahap pemulihan setelah pembedahan. tanggung jawab yang penting adalah mempertahankan kepatenan infuse IV. serta mencatat adanya kehilangan cairan yang tidak dapat dirasakan akibat diaphoresis. Distensi juga terjadi pada pasien yang mengalami ileac paralitik akibat pembedahan bagian usus. dokter memberikan program tentang kecepatan pemberian setiap cairan infuse .jam setelah pembedahan. distensi terjadi jika pasien mengalami pendarahan internal. dan elektrolit.  Pada pasien yang baru menjalani bedah abdomen. mucus yang diisap dari jalan nafas tidak termasuk perhitungan output cairan. luka.  Kemerahan dapat menunjukkan adanya sensitifitas terhadap obat atau alergi. ptekie. Integritas kulit. atau luka bakar. termasuk urine. Satu-satunya sumber asupan cairan untuk pasien segera setelah pembedahan selesai adalah melalui infuse.

     Luka bakar dapat menunjukkan bahwa bantalan arde kauter listrik tidak terpasang dengan benar pada kulit pasien. hipovolemia. cedera pleksus brakialis. Tidak optimalnya pengaturan posisi bedah akan memicu terjadinya thrombosis vena ekstermitas bawah. parastesia ekstermitas bawah. Perawat menentukan status masalah yang diidentifikasi dari diagnosis keperawatan praoperatif dan mengelompokkan data baru yang relevan untuk mengidentifikasi diagnosis baru. luka bakar atau cedera serius pada kulit harus didokumentasikan sebagai laporan kecelakaan Setelah pembedahan. penurunan curah jantung. bau dan konsistensi drainase yang terdapat pada balutan. dan vasokontriksi. Konstipasi berhubungan dengan penurunan motilitas lambung dan usus selama periode intraoperatif . perdarahan pascaoperatif. kerusakan neuromuscular pascabedah. efek depresan dari medikasi dan agen anestesi.pembedahannya sendiri dapat menambah factor resiko bagi pasien perawat juga mempertimbangkan kebutuhan keluarga pasien saat membuat diagnosis misalnya. pasien lansia yang telah menjalani bedah abdomen mayor dan sebelumnya mempunyai masalah penurunan mobilitas pada pangkal paha akibat arthritis cendeung mengalami hambatan mobilitas fisik. pengumpulan darah perifer. 3. sebagian besar luka bedah ditutup dengan balutan untuk melindungi tempat luka dan mengumpulkan drainase. region sacrum. Nyeri berhubungan dengan cedera jaringan lunak bedah urogenital. Perawat memperkirakan jumlah drainase. Berdasarkan pada data pengkajian. dengan cara mencatat jumlah kasa yang basah. 5. Diagnosis sebelumnya.wrna. Berhubungan dengan cedera vascular. dan kalkaneus. efek sekunder kompresi posisi bedah. Resiko terhadap cedera vascular (thrombosis vena provunda). diagnosis keperawatan pascaoperatif dapat mencakup beberapa diagnosis berikut: Resiko tinggi pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan kondisi pernafasan efek sekunder anestesi Jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan control kepatenan jalan nafas(lidah). penurunan control batuk efektif dan muntah efek sekunder anestesi. Penurunan perfusi perifer berhubungan dengan depresi mekanisme regulasi sirkulasi normal. 6. DIAGNOSIS KEPERAWATAN PASCAOPERATIF 1. 4.’ Perawat mengobservasi. seperti gangguan integritas kulit . misalnya. olekranon. distensi otot abdomen. jumlah. scapula. kram otot ekstermitas bawah. dapat berlanjut menjadi masalah pascaoperatif. pembentukan thrombus pada ekstremitas. diagnosis ketidakmampuan koping keluarga menghadapi kondisi pasien yang membutuhkan intervensi keperawatan. 2. Perawat juga dapat mengidentifikasi factor resiko yang mengarah pada identifikasi diagnosis keperawatan baru. cedera tekan pada proesus spinalis vertebra torakalis.

dan perubahan dalam konsep diri. Pertahankan kepatenan jalan nafas Jalan nafas oral atau oral airway tetap terpasang untuk kepatenan jalan nafas sampai tercapai pernafasan yang nyaman dengan kecepatan normal. Atur posisi kepala untuk mempertahankan Tindakan terhadap obstruksi hipofariangus jalan nafas termasuk mendongakkan kepala ke belakang dan mendorong ke depan pada sudut rahang . 8. kehilangan fungsi dan struktur organ pasca bedah. Tujuan . Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan efek depresan dari anestesi.7. Gangguan konsep diri berhubungan dengan perubahan bentuk tubuh. dan penurunan masukan cair. mempertahankan ventilasi pulmonal. Kecemasan berhubungan dengan diagnosis pascaoperatif. 11. bantu pasien membersihkan jalan nafas dengan cara meludah. Kemampuan melakukan hal tersebut menandakan kembalinya reflex muntah normal. Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan kerentanan terhadap invasi bakteri. Gerakan toraks dan diafragma tidak selalu menandakan pasien bernafas. mengefektifkan jalan nafas. 10. 9. efek medikasi. penurunan intoleransi aktifitas. 12. Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan penurunan aktivitas. dan pembatasan aktivitas yang diresepkan. dan mencegah hipoksemia (penurunan oksigen dalam dara) dan hiperkapnea (kelebihan karbondioksida dalam darah) Criteria evaluasi : Frekuensi pernafasan dalam batas normal (12-20x/menit) Pasien tidak menggunakan otot bantu nafas Tidak terdengar bunyi nafas tambahan Oral airway dapat dilepas tanpa komplikasi Intervensi Rasional Atur rempat pasien dengan didekatkan pada Pasien biasanya masih mendapat okigenisasi akses oksigen dan suction pemeliharaan sampai sadar penuh Kaji dan observasi dalan nafas Deteksi awal untuk interpretasi selanjutnya Salah satu cara untuk mengetahui apakah pasien bernafas atau tidak adalah dengan menempatkan telapak tangan di atas hidung dan mulut pasien untuk merasakan hembusan nafas. kemungkinan perubahan dalam gaya hidup.apabila fungsi pernafasan sudah kembali normal. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tempat insisi bedah dan drainase.     resiko tinggi pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan control pernafasan efek sekunder anestesi.

membrane mukosa. Jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penurunan control kepatenan jalan napas (lidah). kesimetrisan gerakan control pola pernapasan dari medulla dinding dada. . bunyi napas. kemudian sifat serta jumlah muntah dicatat. irama. Wajah diusap dengan kasa atau kertas tisu . efek depresan dari medikasi dan agens anestesi.membalikkan pasien dari satu sisi ke sisi lainya memungkinkan cairan yang terkumpul untuk keluar dari sisi mulut. Kreteria evaluasi: Frekuensi peranapasan dalam batas normal (12-20 x/menit) Pasien tidaka menggunakan otot bantu napas. seperti jika mendorong gigi bawah di depan gigi atas. Mucus atau muntah yang menyambut faring atau trakea dihisap dengan ujung penghisnap faringeal atau kateter nasal yang dimasukkan ke dalam nasofaring atau orofaring. Kesulitan pernafasan dapat terjadi akibat sekresi lendir yang berlebihan. penurunan control batuk efektif dan muntah efek sekunder anestesi. mulut dapat dibuka secara manual dan berhati-hati dengan spatel lidah yang dibungkus kasa. Jika terjadi muntah. Tindakan evaluasi untuk menentukan dimulainya latihan pernapasan sesuai yang diajarkan pada saat praoperatif. kedalaman Deteksi awal adanya perubahan terhadap ventilasi pernapasan. Oleh karena itu. Tujuan: Pola napas kembali efektif sesuai dengan berkurangnya efek anestesi umum dan pasien mampu melakukan laatihan pernapasan pascabedah. Saturasi oksigen 100% Oral airway sudah bisa dilepas saat pasien keluar ruang pemulihan. pasien dibalikkan miring dan vomitus dikumpulkann dalam basin emesis. Intrevensi Rasional Kaji dan monitor control pernapasan Obat anestesi tertentu dapat menyebabkan depresi pernapasan.Beri oksigen 3 liter/menit Bersihkan secret pada jalan nafas     bawah. Jika gigi pasien mengatup. dan warna oblongata untuk intervensi selanjutnya. Pastikan fungsi pernapasan sudah optimal. Pemenuhan oksigen dapat membantu meningkatkan paO2 dicairan otak yang akan mempengaruhi pengaturan pernafasan. perawat harus mewaspadai pernapasan yang dangkal dan lambat serta batuk yang lemah. Monitor frekuensi.

TTV dalam batas normal. Akral hangat Pengisian kapiler < 3 detik Tidak terlihat adanya sianosis sentaral atau perifer. Penurunan perfusi perifer berhubungan dengan depresi mekanisme regulasi sirkulasi normal. . dan sianosis. Output urine 50 ml/jam. dan vasokontriksi. gejala yang menandakan menurunnya perfusi jaringan. dan agen inotropik). Pembebatan dengan cermat pada abdomen atau insisi toraks membantu pasien mengatasi ketakutannya bahwa eksresi dari batuk dapat menyebabkan insisi bedah terbuka.Instruksikan pasien untuk napas dalam. Untuk memperbesar ekspasnsi dada dan pertukaran gas. output urine kurang dari 30 ml/jam. pernapasan cepat atau sulit. Tindakan yang dilakukan dapat mencakup penggantian cairan. Instruksikan untuk melakukan batuk efektif. tergantung pad penyebab tidak adekuatnya perfusi jaringan. Salah satu dari tanda dan gejala ini harus dilaporkan. yaitu: penurunan tekanan darah. Kulit perifer tidak pucat. respons melambat. peningkatan frekuensi nadi > 100 x/menit. Tujuan: Dalam waktu 15 menit pascabedah perfusi perifer menjadai optimal. meminta pasien untuk menguap atau untuk melakukan inspirasi maksimal. kulit dingin. Batuk juga didorong untuk melonggarkan sumbatan mucus. Intervensi Rasional Monitor tandaa dan gejala penurunan perfusi Pasien dipantau terhadapa segala tanda dan jaringan. medikasi untuk mendukung atau memperbaiki fungsi jantung (misalnya: vasodilator koroner. gelisah. hipovolemia. antidisritmia. kusam. penurunan curah jantung. Kriteria evaluasi: Denyut nadi perifer teraba. Beri intervensi sesuai dengan penyebab Tindakan dilakukan untuk mempertahankan penurunan perfusi. denyut perifer menurun atau tak teraba. dan pemberian oksigen. pengumpulan darah perifer.        Meningkatkan ekspansi paru. perdarahan pascaoperatif. Sebagai contoh. terapi komponen darah. perfusi jaringan yang adekuat. satursi O2yang tidka adekuat.

Duduk di tepi tempat tidur dan kaki menggantung dapat membahayakan dan tidak dianjuran pada pasien yang rentan. Selain itu. kemudian pasien diberi pakaian yang mencukupi dan slimut untuk mencegah menggigil yang menyebabkan vasokontriksi. efek sekunder kompresi posisi bedah. Risiko terhadap cedera vascular (thrombosis vena profunda/TVP) berhubungan dengan cedera vascular. Heparin dosis rendah dapat diresepkan dan diberikan melalui subkutan sampai pasien bisa ambulasi. karena tekanan di bawah lutut dapat membahayakan sirkulasi. Lakukan latihan tungkai Upaya yang diarahkan pada pencegahan pembentukan thrombus temasuk tindakan seperti latian tungkai yang dapat diajarkan sebelum pembedahan. Kriteria evaluasi: Tidak terdapat tanda-tanda Hormans. Dextran 40 dan Dextran 70 (dengan berat molekul rendah dan tinggi) adalah plasma ekspander yang mengurangi pembentukan bekuan mikroskopik yang dicetuskan oleh hemokonsentrasi. keram pada kaki seperti yang ditunjukkan oleh tanda Homan.Lakukan percepatan mobilisasi aktivitas. Kolaborasi pemberian heparin. pembentukan thrombus pada ekstremitas. Warfarin dosis rendah adalah antikoagulan lain yang mungkin dibeikan. Hindari posisi kaki yang menggantung.  Respons pasien terhadap tindakan ini dipantau dan didokumentasikan. suhu ruangan dijaga agar nyama. Tujuan: Dalam Waktu 1 X 24 Jam Tidak Terjadi TVP. Intervensi Rasional Monitor tanda dan gejala thrombosis vena Gejala pertama TVP bisa berupa nyeri atau profunda (TVP). . Aktivitas sepertai latihan tungkai dilakukan untuk menstimulasi sirkulasi dan pasien didorong untuk berbalik dan mengubah posisi dengan perlahan dan untuk menghindari posisi yang megganggu arus bali vena. Efek daraia terapi cairan dan komponen darah dipantau.

dan emosional) yang dapat memengaruhi persepsi nyeri. Manajemen lingkungan: lingkungan tenang. asupan O2 sehingga Ajarkan tekni relaksasi pernapsan dalam saat Meningkatkan menurukan nyeri sekunder dari iskemia nyeri muncul. Lakukan manajemen nyeri keperawatan. Itervensi Rasional Kaji kemmpuan control nyeri pasien. Distraksi (pengalihan perhatian) dapat Ajarkan tekni distraksi pada saat nyeri. Kaji persiapan pengelolaan nyeri Persiapan praoperatif yang diterima oleh peroeperatif. Manajemen sentuhan pada saat nyeri berupa Lakukan manajemen sentuhan. kognitif. Nyeri di tingkat 0 atau 1 dari skala 0-4. kerusakan neruomuskular pascabedah. spina. Istirahatkan secara fisiologis akan Istirahatkan pasien. Banyak factor fisiologi (motivasi. Kriteria evaluasi: TTV dalam batas normal. Masase ringan dapat meningkatkan aliran darah dan membantu suplai darah dan oksigen ke area nyeri. pasien (termasuk informasi tentang apa yang diperkirakan dan dukungan psikologis) adalah factor yang signifikan dala menurunkan ansietas dan nyeri yang dialami dalam periode pascaoperatif. Lingkungan tenang akan menurunkan stimulus nyeri eksternal dan pembatasan batasi pengunjung dan istirahatkan pasien. menurunkan kebutuhan oksigen yang diperlukan untuk memnuhi kebutuhan metabolism basa. Istirahat akan menurunkan kebutuhan O2jaringan perifer. afektif. . dan kedalaman trauma bedah. menurunkan stimulus internal. pengunjung akan membantu meningkatkan kondisi O2 ruangan yang akan bekurnag apabila banyak pengunjung yang berada di ruangan.       Nyeri bernubungan dengan cedera jaringan lunak bedah urogenital. Tujuan: Dalam waktu 1 x 24 jam nyeri berkurnag atau teradaptasi. Kaji skala nyeri. Saka nyeri pascaoperatif tergantung pada persepsi fisiologis dan psikologis individu. sentuhan dukungan psikologis dapat membantu menurunkan nyeri. sifat prosedur. toleransi yang ditimbulkan untuk nherim letak insisi.

jus apel. pertama-tama perawat memberikan cairan yang encer. Berikan asupan nutrisi dan tingkatkan secara Beberapa jam pertama setelah pembedahan. akan berlangsung. Salah satu metode distraksi untuk menstimulasi pengeluaran endorphinenkefalin yang berguna sebagai analgetik internal untuk memblok rasa nyeri. Hal ini merupakan tanda penting yang menunjukkan bahwa fungsi usus telah kembali normal. Adanya suara seperti berkumur yang nyaring sebanyka 5-30 kali per menit pad setup kuadran abdomen menunjukkan bahwa peristaltic telah kembali normal. atau the. Perawat menanyakan apakah pasien sudah mengeluarkan gas (flatus).    Konstipasi berhubungan dengan penurunan motilitas lambung dan usus selama periode intraoperatif. nyeri akan berkurang. bertahap. Penilaian bunyi bising usus merupakan parameter penting yang dilakukan perawat untuk mengetahui fungsi intestinal sudah optimal. Bunyi gemerincing bernada tinggi yang disertai dengan distensi abdomen menunjukkan usus belum berfungsi dengan baik. Tujuan: Dalam Waktu 3 X 24 Jam Fungsi Peristalik Menjadi Normal. Lakukan teknik stimulasi perkutaneus. seperti air. membantu mengurangi  Tingkatkan pengetahuan tentang penyebab Pengetahuan nyerinya dan mengembangkan kepatuhan nyeri dan menghubungkan berapa lama nyeri pasien terhadap rerncana teraupetik. .  Anestesi umum akan memengaruhi penurunan peristaltic usus. Intervensi Rasional Kaji kemampuan peristaltic setiap 4-8 jam.  Perawat mengkaji peristaltic usus setiap 4-8 jam. pasien hanya menerima cairan melalui IV. Kriteria evaluasi: TTV dalam batas normal Peristaltik usus normal Pasien mampu BAB. sehingga analgesik. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian Analgesik memblok lintasan nyeri. Perawat secara rutin mengaustulasi abdomen untuk mendeteksi kembalinhya bising usus normal. setelah mual pasien hilang. Apabila dokter memprogramkan pemberian diet normal pada malam pertama setalah pembedahan.

pasien harus berkemih dalam waktu 8-12 jam setelah pembedahan. Selang rectal atau enema aliran balik meningkatkan keluarnya flatus. Tujuan: Dalam waktu 8-12 jam pasien mampu berkemih. rectal. pasien akan mengalami kesulitan untuk memulai berkemih. Perubahan elimanasi urine berhubungan dengan penurunan aktivitas. apabila peristaltic sudah kembali. diet ringan makanan padat. dokter mencoba memasang peristaltic melalui katarik atau enema. Kriteria evaluasi : pasien mampu berkemih secara spontan dan tanpa bantuan selang kateter Intervensi Rasional Kaji kemampuan control berkemih Efek depresan dari anestesi dan analgesic dapat mengganggu sensasi penuhnya kandung kemih. dan penurunan masukan cairan. efek medikasi. dilanjutkan dengan cairana yang kental. supositoria obat supositoria. Lakukan dan tingkatkan ambulasi dan Aktivitas fisik merangsang kembalinya latihan. diet terus diberikan sesuai program. Apabila pasien dapat menoleransi cairan tanpa rasa mual. pertistaltik.Jumlah cairan yang terlalu banyak dapat menyebabkan distensi dan muntah. pasien laki- . Jus buah dan air hangat biasanya sangat efektif. Pasien yang telah menjalani bedah abdomen biasanya berpuasa selama 24-48 jam pertama setelah pembedahan. Bantu pasien untuk berkemih dalam posisi Perawat membantu pasien untuk berada pada normal posisi normal selama berkemih. Apabila tonus kandung kemih menurun. perawat memberikan cairan yang encer. dan akhirya diberikan diet regular. Pertahankan asupan cairan yang adekuat. namun. Apabila terjadi konstipasi atau distensi. pasien yang menjalani pembedahan pada system perkemihan biasanya akan dipasang kateter tetap untuk mempertahankan kelancaran aliran urine sampai control volunteer berkemih kembali normal. dan selang rectal sesuai instruksi. Pasien yang mengalami distensi abdomen dan “nyeri karena gas” akan merasa lebih nyaman ketika berjalan. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian Perawat memberikan enema. Caiaran menjaga feses tetap lembut sehingga mudah dikeluarkan.

Monitor keinginan berkemih dari pasien Perawat memeriksa pasien dengan sering untuk mengetahui adanya kebutuhan untuk berkemih.perawat mengukur asupan dan keluaran cairan selama beberapa hari setelah pembedahan sampai tercapai asupan cairan dan keluaran urine yang normal. Pasien bedah yang diharuskan berbaring di tempat tidur memerlukan bantuan untuk memegang dan menggunakan pispot atau urinal. pispot menyebabkan pasien sulit berkemih. Jumlah keluaran urine untuk dewasa minimal 2 ml/kg/jam. dan perawat harus berespons dengan cepat jika pasien meminta bantuan. maka dokter harus diberitahu. mungkin pasien perlu dipasang kateter urine . mempengaruhi posisi pasien pada brankar . Reaksi verbal/nonverbal dapat menunjukkan dampingi pasien dan lakukan tindakan bila rasa agitasi. apabila pasien tidak berkemih dalam waktu 8 jam setelah pembedahan. untuk itu diperlukan instruksi dari dokter. Monitor asupan dan keluaran cairan tiap 4 Perawat memantau asupan dan keluaran jam cairan. pekat dan volumenya sedikit. Pasien mudah mengalami dehidrasi akibat cairan yang hilang dari luka bedah. Apabila urine berwarna gelap. Pasien wanita akan berkemih dengan baik jika ia dapat berkemih di toilet.     Kecemasan berhubungan dengan diagnosis pascaoperatif. Pasien kooperatif terhadap tindakan Wajah rileks Intervensi Rasional Kaji tanda verbal dan nonverbal kecemasan. dapat mengidentifikasi penyebab atau factor yang mempengaruhinya. marah dan gelisah yang akan menunjukkan perilaku merusak. Kaji adanya distensi kandung kemih Perawat mengkaji adanya distensi kandung kemih. kemungkinan perubahan dalam gaya hidup.laki akan membutuhkan bantuan untuk berdiri saat berkemih. Pasien sering merasa bahwa tiba-tiba kandung kemihnya penuh dan perlu segera berkemih. dan perubahan dalam konsep diri Tujuan : dalam waktu 1x24 jam tingkat kecemasan pasien berkurang atau hilang Kriteria evaluasi : Pasien menyatakan kecemasan berkurang Pasien mampu mengenal perasaannya.

dan aktivitas yang diharapkan       EVALUASI KEPERAWATAN PASCAOPERATIF Evaluasi yang diharapkan pada pasien pascaoperatif. dan memperlambat penyembuhan. Orientasikan pasien terhadap prosedur rutin Orientasi dapat menurunkan kecemasan. Apabila perawat mendapatkan gejala awal perubahan dari nonverbal. Tingkatkan control sensasi pasien Control sensasi pasien (dalam menurunkan ketakutan) dengan cara memberikan informasi tentang keadaan pasien. maka perawat meminta bantuan dari perawat lain di ruang pemulihan untuk melakukan fiksasi pada pasien. membantu latihan relaksasi dan tehnik-tehnik pengalihan. meliputi : Kembalinya fungsi fisiologis pada seluruh system secara normal Tidak terjadi komplikasi pascabedah Pasien dapat beristirahat dan memperoleh rasa nyaman Tidak terjadi luka operasi Hilangnya rasa cemas . menekankan pada penghargaan terhadap sumber-sumber koping (pertahanan diri) yang positif. dan memberikan respons balik yang positif. menurunkan kerjasama.sehingga mempunyai resiko jatuh. Hindari konfrontasi Konfrontasi dapat meningkatkan rasa marah.