You are on page 1of 2

Pembahasan

Nyeri merupakan gejala paling sering ditemukan pada gangguan muskuloskletal.
Nyeri pada penderita fraktur bersifat tajam dan menusuk. Nyeri tajam juga bisa ditimbulkan
oleh infeksi tulang akibat spasme otot atau penekanan pada saraf sensoris (Helmi, 2012).
Nyeri merupakan suatu kondisi yang lebih dari sekedar sensasi tunggal yang disebabkan oleh
stimulus tertentu. Nyeri bersifat subjektif dan sangat bersifat individual. Stimulus nyeri dapat
berupa stimulus yang bersifat fisik dan atau mental, sedangkan kerusakan dapat terjadi pada
jaringan aktual atau pada fungsi ego seseorang individu (Potter & Perry 2006, h.1502). Nyeri
dapat diatasi dengan penatalaksanaan nyeri yaitu cara meringankan nyeri atau mengurangi
nyeri sampai tingkat kenyamanan yang dapat diterima klien. Penatalaksanaan nyeri meliputi
dua tipe dasar intervensi keperawatan yaitu intervensi farmakologi dan nonfarmakologi
(Kozier & Berman 2009, h.426).
Salah satu manajemen non farmakologi untuk menurunkan nyeri yang dirasakan pada
pasien fraktur adalah dengan kompres dingin (Potter & Perry, 2005). Pemberian kompres
dingin dipercaya dapat meningkatkan pelepasan 2 endorfin yang memblok transmisi stimulus
nyeri dan juga menstimulasi serabut saraf berdiameter besar A-Beta sehingga menurunkan
transmisi implus nyeri melalui serabut kecil A-delta dan serabut saraf C. tindakan kompres
dingin selain memberikan efek menurunkan sensasi nyeri, kompres dingin juga memberikan
efek fisiologis seperti menurunkan respon inflamasi jaringan, menurunkan aliran darah dan
mengurangi edema (Tamsuri, 2007).
Dari hasil observasi tim selama 2 hari, didapatkan hasil bahwa pemberian kompres
dingin ini dapat menurunkan intensitas nyeri yang diderita pasien akibat fraktur post orif.
Keberhasilan penerapan terapi kompres dingin terhadap intensitas nyeri fraktur post orif ini
diharapkan penerapannya di ruangan perawatan bedah untuk mengefektifkan penatalaksanaan
nyeri dalam pemberian asuhan keperawatan terhadap klien .
Hasil ini sesuai atau sinkron dengan penelitian – penelitian sebelumnya yang menunjukkan
gambaran bahwa pemberian kompres dingin dapat mengurangi rasa nyeri pada pasien post
operasi maupun pada berbagai kondisi fisik lainnya.
1) Penelitian ini mengidentifikasi efektivitas kompres dingin terhadap penurunan
intensitas nyeri pasien fraktur di Rindu B RSUP. H. Adam Malik Medan. Berdasarkan hasil
analisa data diketahui bahwa intensitas nyeri pasien fraktur di Rindu B RSUP. H Adam Malik
Medan yang diberikan kompres dingin mengalami penurunan nyeri yang signifikan, nilai p =
0,000 (p< 0,05).

000 <α (0.05). Ini berarti ada perbedaan yang signifikan tentang intensitas nyeri sebelum dan sesudah pemberian kompres dingin di kelompok eksperimen. aplikasi klinis efektif dingin dan kompresi. Temuan dari percobaan terkontrol acak dari artroplasti lutut umumnya menunjukkan terapi kompresi dingin memberikan hasil yang lebih baik seperti nyeri dibandingkan intervensi alternatif. 18 dari 21 studi yang dilaporkan dievaluasi kompresi dingin dan statis. rata-rata perbandingan interisty fraktur nyeri kelompok eksperimen dan kontrol memiliki perbedaan yang signifikan dengan p value 0. Penelitian ini menemukan bahwa pemberian kompres dingin untuk mengurangi interisty sakit terhadap pasien dengan fraktur tertutup di RSUD Arifin Achmad efektif.00 dan setelah kompres adalah 5.05). Selanjutnya. pada tingkat yang lebih rendah.27. dan tidak konsisten dan divergen. pembengkakan dan rentang gerak.47 adalah p value 0. 3) Temuan yang dilaporkan oleh ini 21 studi yang hasil nyeri sebagian besar subjektif dan.000 <α (0. Daerah intensitas nyeri terhadap kelompok kontrol sebelum dan sesudah pemberian kompres dingin konstan pada 7.2) Penelitian ini untuk menganalisis efektifitas kompres dingin karena rasa sakit pasien dengan patah tulang tertutup di Dahlia kamar di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru. di mana tingkat dan durasi kompresi tidak seragam dalam atau di studi. sehingga sulit untuk merekomendasikan yang paling tepat. mereka tidak tampak secara langsung aditif . Sedangkan efek kompresi dingin dan statis jelas lebih baik daripada tidak ada perawatan. Hasil penelitian ini menemukan bahwa rata-rata intensitas nyeri terhadap kelompok eksperimen sebelum kompres adalah 7.