BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Definisi Proses Keperawatan Post Operatif
Fase post operatif adalah suatu kondisi di mana pasien sudah masuk di
ruang pulih sadar sampai pasien dalam kondisi sadar betul untuk dibawa ke ruang
rawat inap. (Arif Muttaqin dan Kumala Sari.2009)
Keperawatan post operatif adalah periode akhir dari keperawatan
perioperatif. Selama periode ini proses keperawatan diarahkan pada menstabilkan
kondisi pasien pada keadaan equlibrium fisiologis pasien, menghilangkan nyeri
dan pencegahan komplikasi. Pengkajian yang cermat dan intervensi segera
membantu pasien kembali pada fungsi optimalnya dengan cepat, aman dan
nyaman. (Smeltzer,S.C. dan B.G.Bare.2002)
2.2 Proses Keperawatan Pada Pasien Pascaoperatif
Ruang pulih sadar (recovery room) atau Unit Perawatan Pascaanestesi
(PACU)

merupakan

suatu

ruangan

untuk

pemulihan

fisiologis

pasien

pascaoperatif. PACU biasanya terletak berdekatan dengan ruang operasi. Pasien
yang masih dibawah pengaruh anestesi atau yang pulih dari anestesi ditempatkan
di unit ini untuk kemudahan akses ke: (1). Perawat yang disiapkan dalam merawat
pasien pascaoperatif segera;(2). Ahli anestesi dan ahli bedah, dan (3). Alat
pemantau dan peralatan khusus,medikasi,dan penggantian cairan. Dalam
lingkungan ini,pasien diberikan perawatan spesialis yang disediakan oleh mereka
yang sangat berkualifikasi untuk memberikannya. Pasien tetap dalam PACU
sampai pulih sepenuhnya dari pengaruh anestesii,yaitu pasien telah mempunyai
tekanan darah yang stabil,fungsi pernapasan adekuat,saturasi oksigen minimum
95%,dan tingkat kesadaran yang baik.
Sasaran penatalaksanaan keperawatan PACU adalah untuk memberikan
perawatan sampai pasien pulih dari efek anetesi (sampai kembalinya fungsi
sensorik dan motorik),terorientasi,mempunyai tanda vital yang stabil,dan tidak

memperlihatkan adanya tanda-tanda hemoragi. Jika timbul masalah,kedekatan
dengan ahli bedah,ahli anestesi, dan ruang operasi memberikan akses cepat untuk
bantuan ahli. Pasien yang berkembang tidak terlalu baik dipindahkan dari PACU
ke unit keperawatan bedah.
A. Pengkajian
Pengkajian pascaanestesi dilakukan sejak pasien mulai dipindahkan dari
kamar operasi ke ruang pemulihan. Pengkajian dilakukan saat memindahkan
pasien yang berada di atas brankar,perawat mengkaji dan melakukan intervensi
tentang

kondisi

jalan

napas,tingkat

kesadaran,status

vaskular,sirkulasi,perdarahan,suhu tubuh,dan saturasi oksigen.
Perawat PACU yang menerima pasien memeriksa hal-hal berikut dengan ahli
anestesi/anestesis :
1. Diagnosis medis dan jenis pembedahan yang dilakukan.
2. Usia dan kondisi umum pasien,kepatenan jalan napas,tanda-tanda vital.
3. Anestetik dan medikasi lain yang digunakan (misalnya : narkotik,relaksan
otot,antibiotik).
4. Segala masalah yang terjadi dalam ruang operasi yang mungkin
mempengaruhi

perawatan

pascaoperatif

(misalnya

:hemoragi

berlebih,syok dan henti jantung).
5. Patologi yang dihadapi (jika malignasi,apakah pasien atau keluarga sudah
diberitahukan)
6. Cairan yang diberikan,kehilangan darah dan penggantian
7. Segala selang,drain,kateter,atau alat bantu pendukung lainnya.
8. Informasi spesifik tentang siapa ahli bedah atau ahli anestesi yang akan
diberitahu.
Pengkajian awal pasien ini termasuk mengevaluasi saturasi oksigen
dengan oksimetri nadi dan memantau volume dan keteraturan nadi,kedalaman dan
sifat pernapasan,warna kulit,tingkat kesadaran,dan kemampuan pasien untuk
berespon terhadap perintah. Bagian yang dioperasi diperiksa terhadap drainase
atau hemoragi,dan terhadap adanya pengkleman selang yang seharusnya tidak
diklem dan dihubungkan ke peralatan drainase.

Usia dan kondisi umum pasien.alergi terhadap medikasi tertentu). suhu tubuh. Informasi spesifik tentang siapa ahli bedah atau System pernafasan ahli anestesi yang akan diberitahu. Segala masalah yang terjadi dalam ruang operasi yang mungkin mempengaruhi perawatan pascaoperatif (misalnya: hemoragi berlebihan. Anestesi dan medikasi lain yang digunakan (misalnya:narkotik. drain. apakah pasien atau keluarga sudah diberitahukan). perawat perlu mewaspadai pernafasan yang dangkal dan lambat serta . status neurologi. Patologi yang dihadapi (jika malignansi. kehilangan darah. Diagnosis medis dan jenis pembedahan yang dilakukan 2. 7. kondisi luka dan drainase. syok.relaksan otot. 4. sehingga. gastrointestinal. psikologi dan kemanan peralatan Pengkajian Pengkajian awal Implikasi dan Hasil Pengkajian Pengkajian awal pascaoperatif adalah sebagai berikut: 1. cairan dan elektrolit.mempunyai riwayat kejang. dan penggantian. 6. Cairan yang diberikan.mempunyai diabetes. tanda-tanda vital 3.antibiotic). atau alat bantu pendukung lainnya. kateter. genitourinary. 5. sirkulasi. Control pernafasan Obat anestesi tertentu dapat menyebabkan depresi pernafasan. 8.dan henti jantung).Penting juga bagi perawat untuk waspada terhadap adanya informasi yang berkaitan dari riwayat praoperatif yang mungkin signifikan pada saat ini (misalnya pasien sulit mendengar. Segala selang. nyeri. Pengkajian di ruang pemulihan berfokus pada keselamatan jiwa pasien. kepatenan jalan nafas. Informasi ini mungkin sudah didapatkan dalam kunjungan praoperatif dengan pasien. Fokus pengkajian meliputi : pengkajian resprasi.

Kepatenan jalan nafas Jalan nafas oral atau oral airway masih dipasang untuk mempertahankan kepatenan jalan nafas sampai tercapai pernafasan yang nyaman dengan kecepatan normal. irama. Pengkajian kecepatan denyut dan irama jantung yang teliti serta pengkajian tekanan darah menunjukkan status kardiovaskular pasien. kedalaman ventilasi pernafasan. akumulasi Status sirkulasi sekresi. bunyi nafas. dan warna membrane mukosa. Perawat mengkaji frekuensi. ketidakseimbangan elektrolit. efek samping anestesi. kesimetrisan gerakan dinding dada. Perawat membandingkan TTV praoperatif dengan pascaoperatif . letakkan tangan perawat di atas muka atau mulut pasien shingga perawat dapat merasakan udara yang keluar. Kemampuan melakukan hal tersebut menandakan kembalinya reflex muntah normal. Apabila pernafasan dangkal. Salah satu kekhawatiran terbesar perawat adalah obstruksi jalan nafas akibat aspirasi muntah. maka perawat mengajarkan pasien cara membersihkan jalan nafas dengan cara meludah. Apabila fungsi pernafasan sudah kembali normal . dokter harus diberitahu jika tekanan darah pasien terus menurun dengan cepat pada setiap . dan depresi mekanisme regulasi sirkulasi normal. mukosa di faring atau spasme faring. Respons TTV Pasien beresiko mengalami komplikasi kardiovaskular akibat kehilangan darah secara actual atau resiko dari tempat pembedahan.batuk yang lemah.

kulit dingin. Respons thrombosis vena profunda (TVP) secara patofisiologi dimulai dengan adanya inflamasi ringan sampai berat dari vena yang terjadi dalam kaitannya . apabila perdarahan terjadi secara internal . pucat. Apabila balutan basah . dan sindrom pascafibilitis. maka tempat pembedahan menjadi bengkak dan kencang. maka perawat memperhatikan adanya peningkatan drainase yang mengandung darah pada balutan atau melalui drain. Apabila perdarahan terjadi secara eksternal. Perawat yang waspada selalu memeriksa adanya drainase di bawah tubuh pasien. meningkatnya kecepatan denyut jantung dan pernafasan. Dua komplikasi serius dari TVP adalah embolisme pulmonary. maka darah mengalir kesamping pasien dan berkumpul di bawah seprai tempat tidur. Respons cedera sirkulasi Pasien yang menjalani bedah pelvis atau pasien yang diposisikan litotomi selama pembedahan berlansung beresiko mengalami thrombosis vena provunda.pemeriksaan atau jika kecepatan denyut jantung menjadi semakin tidak teratur. denyut nadi lemah. atau secara internal pada luka bedah. serta gelisah. Perawat mengkaji perfusi sirkulasi dengan melihat warna dasar kuku dan mukosa. Respons perdarahan pascaoperatif Masalah sirkulasi yang sering terjadi adalah perdarahan. Kehilangan darah terjadi secara eksternal melalui drain atau insisi. lembab. Perdarahan dapat mengakibatkan turunnya tekanan darah.

Lingkungan ruang operasi dan ruang pulih sadar sangat dingin. menggigil dapat dikurangi dengan memberikan Demerol dalam jumlah kecil. sirkulasi. Komplikasi dapat terjadi dari sejumlah penyebab . mereka mungkin akan mengeluh kedinginan dan tidak nyaman. serta pernafasan pasien. Apabila suhu berada pada < c maka penghangat eksternal dapat digunakan . Perawat mengukur suhu tubuh pasien dan memberikan selimut hangat. Control suhu tungkai kiri lebih sering terkena disbanding yang kanan. Menggigil mungkin bukan merupakan tanda hipotermia. tetapi hanya efek samping dari obat anestesi tertentu. apabila pasien mulai sadar.dengan pembekuan darah. hipertermia meligna . kemungkinan juga beberapa factor ini berinteraksi untuk menghasilkan thrombosis. lebih umum lagi adalah melambatnya aliran darah dalam ekstremitas akibat metabolism yang melambat dan depresi sirkulasi setelah pembedahan. meningkatnya suhu tubuh menyebabkan peningkatan metabolism. Pada hipertermia maligna tertentu. mungkin terjadi komplikasi akibat pemberian anestesi yang dapat mengancam kehidupan. termasuk cedera pada vena yang disebabkan oleh pengikat yang terlalu ketat atau penahan tungkai pada waktu operasi. Penurunan tingkat fungsi tubuh pasien menyebabkan turunnya metabolism dan menurunkan suhu tubuh.

maka reflex . Pengkajian dermatom (segmen area kulit yang dipengaruhi segmen medulla spinalis) saraf spinalis dilengkapi saat kedatangan. rasa nyeri . Saat pasien sadar dari anestesi umum. Apabila pasien tetap tidur atau tidak berespons . takikardia. sentuhan dapat dilakukan.menyebabkan takipnea. Status neurologi Obat-obatan . Perawat mengkaji tingkat kesadaran pasien dengan cara memanggil pasien dengan suara sedang. dan tingkat orientasi pasien akan kembali normal. dan mengkaji genggaman tangan serta pergerakan ekstermitas pasien. Perawat dapat memeriksa reflex pupil. kekuatan otot. reflex muntah. dan kaku otot. maka perawat mencoba mengkaji pasien dengan cara menyentuh atau menggerakkan tubuh pasien dengan lembut. Kaji tingkat respons sensibilitas dengan membandingkan peta dermatom untuk menilai kembalinya fungsi sensasi taktil. nyeri dan factor emosional dapat mempengaruhi tingkat kesadaran bersamaan dengan hilangnya efek anestesi. Perawat memperhatikan apakah pasien merespons dengan tepat atau terlihat bingung dan disorientasi. perubahan elektrolit dan metabolism. selama periode pemulihan di ruang pulih sadar dan saat pasien pindah dari ruang pulih sadar. Biasanya perawat mengkaji level dermatom dengan cara meyentuh pasien secara bilateral dan mendokumentasikan area tubuh yang sentuhannya Respons nyeri dapat dirasakan pasien. tekanan darah tidak stabil.

Perawat mengobservasi warna dan bau urine pasien. Pembedahan yang melibatkan saluran . pasien akan mendapatkan control fungsi berkemih secara volunter. dan mendokumentasikan beratnya nyeri secara objektif . Nyeri mulai terasa sebelum kesadaran pasien kembali penuh. Skala nyeri merupakan metode efektif bagi perawat untuk mengkaji nyeri pascaoperatif mengevaluasi respons pasien terhadap pemberian analgesic.menjadi sangat terasa. Karena kandung kemih yang penuh dapat menyebabkan nyeri dan sering menyebabkan kegelisahan selama pemulihan. maka pemasangan kateter mungkin diperlukan. Apabila pasien telah terpasang kateter tetap. Pengkajian rasa tidak nyaman pasien dan evaluasi terapi untuk mengilangkan rasa nyeri merupakan fungsi keperawatan yang penting. mereka sulit melakukan batuk efektif dan nafas dalam. Apabila pasien merasa nyeri. Nyeri akut akibat insisi menyebabkan pasien gelisah dan menyebabkan tanda-tanda vital berubah. maka urine harus mengalir sedikitnya 2 ml/kg/jam pada dewasa dan 1 ml/kg/jam pada anak-anak. bergantung pada jenis pembedahan Pasien perlu dibantu berkemih jika pasien tidak dapat berkemih dalam waktu 8 jam. Pasien yang mendapat anestesi regional dan local biasanya tidak mengalami nyeri karena area insisi masih berada dibawah pengaruh anestesi. pengkajian nyeri praoperatif digunakan sebagai dasar bagi perawat untuk mengevaluasi efektifitas intervensi Genitourinari selama masa pemulihan Dalam waktu 6-8 jam setelah anestesi .

Keseimbangan cairan dan elektrolit Karena pasien bedah beresiko mengalami ketidakseimbangan cairan. Paralis usus dengan distensi dan gejala obstruksi akut ini mungkin juga berhubungan dengan pemberian obat-obatan antikolinergik. Normalnya pasien tidak boleh minum saar di ruang pulih sadar Karena lambatnya pergerakan usus beresiko menyebabkan mual dan muntah karena pasien masih berada dibawah pengaruh anestesi. distensi terjadi jika pasien mengalami pendarahan internal. Karena pengosongan lmbung berlansung lambat akibat pengaruh anestesi . biasanya akan menyebabkan urine mengandung darah kurang lebih selama 12-24 jam setelah pembedahan. . Pada pasien yang baru menjalani bedah abdomen. Inspeksi abdomen menentukan adanya distensi yang mungkin terjadi akibat akumulasi gas. tanggung jawab yang penting adalah mempertahankan kepatenan infuse IV. Normalnya selama tahap pemulihan setelah pembedahan. dan elektrolit. bising usus terdengar lemah atau hilang ke tempat kuadran.perkemihan . Anestesi memperlambat motilitas gastrointestinal gastrointestinal dan menyebabkan mual. Distensi juga terjadi pada pasien yang mengalami ileac paralitik akibat pembedahan bagian usus. bergantung pada jenis System pembedahan. maka perawat mengkaji status hidrasi dan memonitor fungsi jantung dan neurologi untuk melihat adanya tandatanda perubahan elektrolit. maka isi lambung yang terakumulasi tidak bisa keluar dan dapat menimbulkan mual dan muntah.

mucus yang diisap dari jalan nafas tidak termasuk Integritas kulit. abrasi. Kemerahan dapat menunjukkan adanya sensitifitas terhadap obat atau alergi. drainase lambung. drainase atau luka bakar. drainase luka. termasuk urine. melihat adanya kemerahan. Setelah pembedahan. untuk memastikan pemasukan cairan yang adekuat. Di ruang pulih sadar. serta mencatat adanya kehilangan cairan yang tidak dapat dirasakan akibat diaphoresis. perhitungan output cairan. Perawat menginspeksi tempat pemasangan kateter IV untuk memastikan bahwa kateter berada pada posisi yang tepat dalam vena sehingga cairan dapat mengalir dengan lancer . pasien mungkin juga menerima produk darah yang jumlahnya bergantung pada banyaknya kehilangan darah selama pembedahan berlansung.Satu-satunya sumber asupan cairan untuk pasien segera setelah pembedahan selesai adalah melalui infuse. Catatan intake dan output cairan yang akurat membantu proses pengkajian fungsi ginjal dan sirkulasi . dokter memberikan program tentang kecepatan pemberian setiap cairan infuse . Luka bakar dapat menunjukkan bahwa bantalan arde kauter listrik tidak terpasang dengan benar pada . ptekie. perawat mengukur semua sumber pengeluaran. Abrasi atau ptekie dapat terjadi karena posisi yang kurang tepat atau pengikatan yang menyebabkan cedera pada lapisan kulit. Perawat menjaga jangan sampai infuse cairan berjalan lambat.. dan kulit pasien. perawat mengkaji kondisi kondisi luka.

sebagian besar luka bedah ditutup dengan balutan untuk melindungi tempat luka dan mengumpulkan drainase. Perawat memperkirakan jumlah drainase. scapula. cedera tekan pada proesus spinalis vertebra torakalis. olekranon. cedera pleksus brakialis. kram otot ekstermitas bawah. Efek dari anestesi umum terlihat pada system respirasi. Tidak optimalnya pengaturan posisi bedah akan memicu terjadinya thrombosis vena ekstermitas bawah.kulit pasien. parastesia ekstermitas bawah. region sacrum. distensi otot abdomen. Patofisiologi Masalah Keperawatan di Ruang Pemulihan Pasien pascaoperasi akan mengalami perubahan fisiologis sebagai efek dari anestesi dan intervensi bedah.’ Perawat mengobservasi. dengan cara mencatat jumlah kasa yang basah.wrna. dimana akan terjadi respons depresi pernapasan sekunder dari sisa anestesi inhalasi. luka bakar atau cedera serius pada kulit harus didokumentasikan sebagai laporan kecelakaan Setelah pembedahan. penurunan kemampuan terhadap control kepatenan jalan nafas karena kemampuan memposisi kan lidah secara fisiologis masih belum optimal . jumlah. dan kalkaneus. bau dan konsistensi drainase yang terdapat pada balutan. . kondisi ini menyebabkan adanya masalah keperawatan jalan nafas tidak efektif dan resiko tinggi pola nafas tidak efektif.

3. Perdarahan pascaoperatif. 1. Depresi mekanisme regulasi sirkulasi normal. Penurunan kesadaran 2. Perubahan kemampuan kontrol suhu tubuh. 5. Kontrol kepatenan jalan napas (lidah) menurun 2. Kemampuan orientasi masih menurun 3. Nyeri pascaoperatif meningkat sekunder 4. risiko cedera vaskuler. Penurunan reaksi anestesi menurun 5. 4. Kontrol kesadaran masih menurun 2. Risiko tinggi penurunan perfusi jaringan B3 (Brain) Sistem Saraf 1. kecemasan pascaoperatif 1. Penurunan curah jantung. Perubahan elektrolit dan metabolisme. Kontrol batuk efektif dan muntah menurun 1. Jalan napas tidak efektif B2 (Blood) Sistem Kardiovaskuler 1. Risiko tinggi pola napas tidak efektif 2. 2. Nyeri 3. 6.Pascaoperatif Efek anestesi umum Efek intervensi bedah B1 (Breathing) Sistem Pernapasan Respon depresi pernafasan : 1.Kecemasan .

Adanya luka bedah. Risiko paralisis usus dengan distensi dan gejala obstruksi 3.Pascaoperatif Efek anestesi umum Efek intervensi bedah B4 (Bladder) Sistem Perkemihan Kontrol kemampuan miksi menurun Gangguan pemenuhan eliminasi urine Gangguan pemenuhan eliminasi urine B5 (Bowel) Sistem pencernaan 1.integritas kulit dan luka 1.adanya sistem drainase 3. Kemampuan pengosongan lambung menurun Risiko tinggi aspirasi muntah Penurunan motilitas usus B6 (Bone) Sistem muskuloskeleta l. parastesia. Penurunan kontrol otot dan keseimbangan Kerusakan integritas jaringan Risiko tinggi infeksi Risiko cedera bedah Risiko tinggi trauma jatuh . Respons Risiko posisi bedah (tromboembosis. Kontrol peristaltik usus menurun 2.cedera tekan) 2.

drainase selang tidak tersumbat.keharusan untuk menghubungkan selang ke  sistem drainase yang spesifik.untuk berjaga-jaga jika pasien mual akibat agens anestetik.Asuhan Keperawatan Post Operatif A Pengkajian Setelah laporan PACU. Keselamatan : Kebutuhan akan pagar tempat tidur.penunjang.gangguan oleh kebisingan. Peralatan : Diperiksa untuk fungsi yang baik .perawat unit melakukan pengkajian awal dan melanjutkan dengan segala intervensi keperawatan segera. Perawat merujuk catatan pasien untuk menentukan kapan medikasi untuk nyeri dapat diberikan.frekuensi. Pengkajian segera pasien bedah saat kembali ke unit klinik terdiri atas yang berikut :  Respirasi    pernapasan.perubahan posisi  yang dibutuhkan. Kenyamanan : Tipe nyeri dan lokasi. Psikologi : Sifat dari pertanyaan pasien.karakter tidur. Drainase : Adanya drainase. Seringnya pemindahan fisik menambah ketidaknyamanan temporer.mual atau muntah.dan mengingatkan pasien bahwa medikasi akan tersedia ketika diperlukan. Sirkulasi : Tanda-tanda vital termasuk tekanan darah dan kondisi kulit.kedalaman.kebutuhan akan istirahat dan : Kepatenan jalan napas. Biasanya pertanyaan “Bagaimana perasaan anda ?” memberikan informasi tentang ketidaknyamanan pasien juga tingkat kewaspadaan mental pasien. Basin emesis disimpan dekat sekitar pasien.adanya dan kondisi balutan. Neurologi : Tingkat respon.cairan IV terinfus dengan tepat dan letak IV terbebat dengan  baik.ketersediaan bel pemanggil  atau lampu pemanggil.sifat dan bunyi napas.

dan penurunan masukan cairan..termasuk apakah warna kulit baik atau sianotik.Pengkajian repsirasi.pasien diamati terhadap patensi jalan napas. Ansietas tentang diagnosis pascaoperatif. Perubahan eliminasi urinarius yang berhubungan dengan penurunan  aktivitas.dan bunyi napas.atau terdapat mukus yang berlebihan dalam tenggorokan dan dalam hidung.nadi. Nyeri dan ketidaknyamanan pascaoperatif lainnya.apakah kulit teraba dingin dan kusam atau hangat dan lembab.diagnosa keperawatan mayor dapat mencakup yang berikut :  Bersihan jalan napas tidak efektif yang berhubungan dengan efek depresan      dari medikasi dan agens anestetik.kemungkinan perubahan dalam gaya hidup. Kondisi umum pasien dikaji dan dicatat. Perubahan nutrisi :Kurang dari kebutuhan tubuh. Tekanan vena sentral (TVS) dan nilai gas darah arteri dipantau jika kondisi pasien membutuhkan pengkajian yang demikian.dan perubahan dalam konsep diri .seperti kedalaman. Konstipasi yang berhubungan dengan penurunan motilitas lambung dan  usus selama periode intraoperatif. Resiko terhadap perubahan suhu tubuh : hipotermia.pernapasan. Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan efek depresan dari anestesia. Resiko terhadap cedera yang berhubungan dengan status pascaanestesia.dan suhu tubuh digunakan untuk menentukan fungsi kardiovaskuler. Saat masuk ke unit perawatan klinik.penurunan intoleransi aktivitas. Pengkajian Sirkulasi Pertimbangan dasar dalam mengkaji fungsi kardiovaskuler adalah memantau pasien terhadap tanda-tanda syok dan hemoragi.frekuensi. Penampilan pasien. B Diagnosis Berdasarkan pada data pengkajian. Kualitas pernapasan dicatat.efek medikasi.dan pembatasan aktivitas yang  diresepkan.tekanan darah.

Komplikasi ini termasuk.pengumpulan   darah perifer. pemeliharaan keseimbangan nutrisi. tetapi tidak terbatas pada. . efek depresan dari medikasi dan agen anestesi. reda dari nyeri dan ketidaknyamanan pasca operatif (mual dan mutah. pengumpulan darah perifer.potensial komplikasi dapat mencakup :  Perubahan perfusi jaringan sekunder terhadap hipivolemia. penurunan control batuk efektif dan muntah efek sekunder anestesi. cegukan). kerusakan perfusi jaringan. Resiko tinggi pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan kondisi pernafasan efek sekunder anestesi 2. 3. Penurunan perfusi perifer berhubungan dengan depresi mekanisme regulasi sirkulasi normal. pemulihan mobilitas dalam keterbatasan pasca operatif dan rencana rehabilitatif. bebas dari cedera. Risiko terhadap infeksi yang berhubungan dengan kerentanan terhadap invasi bakteria. distensi abdomen. Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengat tempat insisi bedah  dan drainase. dan tidak adanya komplikasi. Dari sumber yang lain dibahas diagnosa perawatan post operasi sebagai berikut : 1. ketidakseimbangan cairan.dan vasokontriksi. perdarahan pascaoperatif. dan vasokontriksi. Risiko terhadap kekurangan volume cairan. penurunan hipovolemia. kembalinya fungsi perkemihan yang normal. Perencanaan dan Implementasi Tujuan: Tujuan utama pasien dapat mencakup fungsi pernapasan yang optimal. Jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan control kepatenan jalan nafas(lidah).Potensial Komplikasi Berdasarkan pada data pengkajian. mengalami kembali pola biasanya dari eliminasi usus. pemeliharaan suhu tubuh normal. kerusakan integritas kulit. curah jantung. reduksi ansietas dan pencapaian kesejahteraan psikologi. dan infeksi.

efek medikasi. Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan kerentanan terhadap invasi bakteri. Gangguan konsep diri berhubungan dengan perubahan bentuk tubuh. Konstipasi berhubungan dengan penurunan motilitas lambung dan usus selama periode intraoperatif 7. 9. kemungkinan perubahan dalam gaya hidup. dan pembatasan aktivitas yang diresepkan. Berhubungan dengan cedera vascular.4. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan efek depresan dari anestesi. kehilangan fungsi dan struktur organ pasca bedah. kerusakan neuromuscular pascabedah. efek sekunder kompresi posisi bedah. dan perubahan dalam konsep diri. Nyeri berhubungan dengan cedera jaringan lunak bedah urogenital. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tempat insisi bedah dan drainase. Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan penurunan aktivitas. Kecemasan berhubungan dengan diagnosis pascaoperatif. 8. 6. 10. 11. mengefektifkan jalan nafas. Tujuan . pembentukan thrombus pada ekstremitas. 12. Resiko terhadap cedera vascular (thrombosis vena provunda). penurunan intoleransi aktifitas. resiko tinggi pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan control pernafasan efek sekunder anestesi. dan mencegah hipoksemia (penurunan oksigen dalam dara) dan hiperkapnea (kelebihan karbondioksida . dan penurunan masukan cair. mempertahankan ventilasi pulmonal. 5.

seperti jika mendorong gigi bawah di depan gigi Beri oksigen 3 liter/menit atas. bantu pasien membersihkan jalan nafas dengan cara meludah. Pemenuhan oksigen dapat membantu meningkatkan paO2 dicairan otak yang akan . Jalan nafas oral atau oral airway tetap terpasang untuk kepatenan jalan nafas sampai tercapai pernafasan yang nyaman dengan kecepatan normal.dalam darah) Criteria evaluasi : Frekuensi pernafasan dalam batas normal (12-20x/menit) Pasien tidak menggunakan otot bantu nafas Tidak terdengar bunyi nafas tambahan Oral airway dapat dilepas tanpa komplikasi Intervensi Rasional Atur rempat pasien dengan didekatkan pada Pasien biasanya masih mendapat okigenisasi akses oksigen dan suction Kaji dan observasi dalan nafas pemeliharaan sampai sadar penuh Deteksi awal untuk interpretasi selanjutnya Salah satu cara untuk mengetahui apakah pasien bernafas atau tidak adalah dengan menempatkan telapak tangan di atas hidung dan mulut pasien untuk merasakan hembusan nafas. Gerakan toraks dan diafragma tidak selalu menandakan Pertahankan kepatenan jalan nafas pasien bernafas. Atur posisi kepala untuk mempertahankan Tindakan terhadap jalan nafas obstruksi hipofariangus termasuk mendongakkan kepala ke belakang dan mendorong ke depan pada sudut rahang bawah.apabila fungsi pernafasan sudah kembali normal. Kemampuan melakukan hal tersebut menandakan kembalinya reflex muntah normal.

efek depresan dari medikasi dan agens anestesi. Tujuan: Pola napas kembali efektif sesuai dengan berkurangnya efek anestesi umum dan pasien mampu melakukan laatihan pernapasan pascabedah. Jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penurunan control kepatenan jalan napas (lidah). pasien dibalikkan miring dan vomitus dikumpulkann dalam basin emesis. Kesulitan pernafasan dapat terjadi akibat sekresi lendir yang berlebihan. penurunan control batuk efektif dan muntah efek sekunder anestesi. Wajah diusap dengan kasa atau kertas tisu . Kreteria evaluasi: Frekuensi peranapasan dalam batas normal (12-20 x/menit) Pasien tidaka menggunakan otot bantu napas.membalikkan pasien dari satu sisi ke sisi lainya memungkinkan cairan yang terkumpul untuk keluar dari sisi mulut. Intrevensi Rasional Kaji dan monitor control pernapasan Obat anestesi tertentu dapat menyebabkan depresi pernapasan.Bersihkan secret pada jalan nafas mempengaruhi pengaturan pernafasan. mulut dapat dibuka secara manual dan berhati-hati dengan spatel lidah yang dibungkus kasa. perawat harus mewaspadai pernapasan yang dangkal dan lambat serta batuk yang lemah. kemudian sifat serta jumlah muntah dicatat. . Saturasi oksigen 100% Oral airway sudah bisa dilepas saat pasien keluar ruang pemulihan. Mucus atau muntah yang menyambut faring atau trakea dihisap dengan ujung penghisnap faringeal atau kateter nasal yang dimasukkan ke dalam nasofaring atau orofaring. Jika terjadi muntah. Oleh karena itu. Jika gigi pasien mengatup.

Pembebatan dengan cermat pada abdomen atau insisi toraks membantu pasien mengatasi ketakutannya bahwa eksresi dari batuk dapat menyebabkan insisi bedah terbuka. kedalaman Deteksi awal adanya perubahan terhadap ventilasi pernapasan. Akral hangat Pengisian kapiler < 3 detik Tidak terlihat adanya sianosis sentaral atau perifer. Sebagai contoh. Intervensi Rasional Monitor tandaa dan gejala penurunan Pasien dipantau terhadapa segala tanda dan . bunyi napas. Kulit perifer tidak pucat. Tindakan evaluasi untuk menentukan dimulainya latihan pernapasan sesuai yang Instruksikan pasien untuk napas dalam. dan warna oblongata untuk intervensi selanjutnya. Batuk juga didorong untuk melonggarkan sumbatan mucus. Tujuan: Dalam waktu 15 menit pascabedah perfusi perifer menjadai optimal. Output urine 50 ml/jam. diajarkan pada saat praoperatif. Meningkatkan ekspansi paru. pengumpulan darah perifer. kesimetrisan gerakan control pola pernapasan dari medulla dinding dada. maksimal. TTV dalam batas normal.Monitor frekuensi. Untuk memperbesar ekspasnsi dada dan pertukaran gas. hipovolemia. Pastikan fungsi pernapasan sudah optimal. Penurunan perfusi perifer berhubungan dengan depresi mekanisme regulasi sirkulasi normal. penurunan curah jantung. Kriteria evaluasi: Denyut nadi perifer teraba. dan vasokontriksi. irama. membrane mukosa. perdarahan pascaoperatif. meminta pasien untuk menguap atau untuk melakukan inspirasi Instruksikan untuk melakukan batuk efektif.

gejala yang menandakan menurunnya perfusi jaringan. Risiko terhadap cedera vascular (thrombosis vena profunda/TVP) berhubungan . Salah satu dari tanda dan gejala ini harus dilaporkan.perfusi jaringan. dan pemberian oksigen. pernapasan cepat atau sulit. denyut perifer menurun atau tak teraba. Tindakan yang dilakukan dapat mencakup penggantian cairan. terapi komponen darah. satursi O2yang tidka adekuat. yaitu: penurunan tekanan darah. tergantung pad penyebab tidak adekuatnya perfusi jaringan. kusam. output urine kurang dari 30 ml/jam. menggigil vasokontriksi. antidisritmia. perfusi jaringan yang adekuat. Aktivitas sepertai latihan tungkai dilakukan untuk menstimulasi sirkulasi dan pasien didorong untuk berbalik dan mengubah posisi dengan perlahan dan untuk menghindari posisi yang megganggu arus bali vena. Beri intervensi sesuai dengan penyebab· Tindakan dilakukan untuk mempertahankan penurunan perfusi. dan agen inotropik). dan sianosis. suhu ruangan dijaga agar nyama. peningkatan frekuensi nadi > 100 x/menit. Selain itu. medikasi untuk mendukung atau memperbaiki fungsi jantung (misalnya: vasodilator koroner. · Respons pasien terhadap tindakan ini dipantau dan didokumentasikan. respons melambat. kemudian pasien diberi pakaian yang mencukupi dan slimut untuk mencegah menyebabkan Lakukan percepatan mobilisasi aktivitas. kulit dingin. Efek yang daraia terapi cairan dan komponen darah dipantau. gelisah.

pembentukan thrombus pada ekstremitas.dengan cedera vascular. Upaya yang diarahkan pada pencegahan pembentukan thrombus temasuk tindakan seperti latian tungkai yang dapat diajarkan Hindari posisi kaki yang menggantung. sirkulasi. efek sekunder kompresi posisi bedah. keram pada kaki seperti yang ditunjukkan Lakukan latihan tungkai oleh tanda Homan. Dextran 40 dan Dextran 70 (dengan berat molekul rendah dan tinggi) adalah plasma ekspander yang mengurangi pembentukan bekuan mikroskopik yang dicetuskan oleh hemokonsentrasi. . Warfarin dosis rendah adalah antikoagulan lain yang mungkin dibeikan. Intervensi Rasional Monitor tanda dan gejala thrombosis vena Gejala pertama TVP bisa berupa nyeri atau profunda (TVP). sebelum pembedahan. Tujuan: Dalam Waktu 1 X 24 Jam Tidak Terjadi TVP. Duduk di tepi tempat tidur dan kaki menggantung dapat membahayakan dan tidak dianjuran pada pasien yang rentan. Kriteria evaluasi: Tidak terdapat tanda-tanda Hormans. karena tekanan di bawah lutut dapat membahayakan Kolaborasi pemberian heparin. Heparin dosis rendah dapat diresepkan dan diberikan melalui subkutan sampai pasien bisa ambulasi.

nyeri Persiapan praoperatif yang diterima oleh peroeperatif. fisiologis oksigen memnuhi asupan akan yang kebutuhan O2 sehingga menurukan nyeri sekunder dari iskemia spina. Rasional Banyak factor fisiologi (motivasi. sifat prosedur. · Ajarkan tekni relaksasi pernapsan dalam saat Meningkatkan nyeri muncul. Tujuan: Dalam waktu 1 x 24 jam nyeri berkurnag atau teradaptasi. dalam periode pascaoperatif. Istirahatkan secara menurunkan kebutuhan diperlukan untuk metabolism basa.Nyeri bernubungan dengan cedera jaringan lunak bedah urogenital. · Istirahatkan pasien. pasien (termasuk informasi tentang apa yang diperkirakan adalah dan factor dukungan yang psikologis) signifikan dala menurunkan ansietas dan nyeri yang dialami Kaji skala nyeri. Saka nyeri pascaoperatif tergantung pada persepsi fisiologis dan psikologis individu. kognitif. afektif. Lakukan manajemen nyeri keperawatan. Nyeri di tingkat 0 atau 1 dari skala 0-4. kerusakan neruomuskular pascabedah. Distraksi (pengalihan perhatian) menurunkan stimulus internal. dan kedalaman trauma bedah. · Manajemen lingkungan: lingkungan tenang. Kriteria evaluasi: TTV dalam batas normal. Kaji persiapan pengelolaan dan emosional) yang dapat memengaruhi persepsi nyeri. Lingkungan tenang akan dapat menurunkan . toleransi yang ditimbulkan untuk nherim letak insisi. Itervensi Kaji kemmpuan control nyeri pasien. · Ajarkan tekni distraksi pada saat nyeri.

nyeri akan berkurang. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian Analgesik memblok lintasan nyeri. pasien terhadap rerncana teraupetik. · Tingkatkan pengetahuan tentang penyebab Pengetahuan membantu mengurangi nyeri dan menghubungkan berapa lama nyeri nyerinya dan mengembangkan kepatuhan akan berlangsung. Manajemen sentuhan pada saat nyeri berupa sentuhan dukungan psikologis dapat membantu menurunkan nyeri. Konstipasi berhubungan dengan penurunan motilitas lambung dan usus selama periode intraoperatif. Intervensi Kaji kemampuan peristaltic setiap 4-8 jam. Penilaian bunyi bising usus merupakan parameter penting .batasi pengunjung dan istirahatkan pasien. · Lakukan manajemen sentuhan. Anestesi Rasional umum akan memengaruhi penurunan peristaltic usus. sehingga analgesik. Masase ringan dapat meningkatkan aliran darah dan membantu suplai darah dan oksigen ke area · Lakukan teknik stimulasi perkutaneus. Salah satu menstimulasi metode distraksi pengeluaran untuk endorphin- enkefalin yang berguna sebagai analgetik internal untuk memblok rasa nyeri. Kriteria evaluasi: TTV dalam batas normal Peristaltik usus normal Pasien mampu BAB. Istirahat akan menurunkan kebutuhan O2jaringan perifer. Tujuan: Dalam Waktu 3 X 24 Jam Fungsi Peristalik Menjadi Normal. stimulus nyeri eksternal dan pembatasan pengunjung akan membantu meningkatkan kondisi O2 ruangan yang akan bekurnag apabila banyak pengunjung yang berada di ruangan. nyeri.

Perawat secara rutin mengaustulasi abdomen untuk mendeteksi kembalinhya bising usus normal. Berikan asupan nutrisi dan tingkatkan secara Beberapa jam pertama setelah pembedahan. Perawat mengkaji peristaltic usus setiap 4-8 jam. seperti air. Apabila dokter memprogramkan pemberian diet normal pada malam pertama setalah pembedahan. jus apel. Jumlah cairan yang terlalu banyak dapat menyebabkan distensi dan muntah. Hal ini merupakan tanda penting yang menunjukkan bahwa fungsi usus telah kembali normal. apabila peristaltic sudah kembali. Perawat menanyakan apakah pasien sudah mengeluarkan gas (flatus). Pasien yang telah menjalani bedah abdomen biasanya berpuasa selama 24-48 jam pertama setelah pembedahan. pertama-tama perawat memberikan cairan yang encer. Apabila pasien dapat menoleransi cairan tanpa rasa mual. atau the. bertahap. pasien hanya menerima cairan melalui IV.yang dilakukan perawat untuk mengetahui fungsi intestinal sudah optimal. Bunyi gemerincing bernada tinggi yang disertai dengan distensi abdomen menunjukkan usus belum berfungsi dengan baik. diet terus diberikan sesuai program. setelah mual pasien hilang. perawat memberikan cairan yang . Adanya suara seperti berkumur yang nyaring sebanyka 5-30 kali per menit pad setup kuadran abdomen menunjukkan bahwa peristaltic telah kembali normal.

Apabila tonus kandung kemih menurun. dan selang rectal sesuai instruksi.encer. pembedahan pasien pada yang system menjalani perkemihan biasanya akan dipasang kateter tetap untuk mempertahankan kelancaran aliran urine sampai control volunteer berkemih kembali . pasien akan mengalami kesulitan untuk memulai berkemih. obat supositoria. Perubahan elimanasi urine berhubungan dengan penurunan aktivitas. Lakukan dan tingkatkan ambulasi dan Aktivitas fisik merangsang latihan. dilanjutkan dengan cairana yang kental. Apabila terjadi konstipasi atau distensi. lebih nyaman ketika berjalan. efek medikasi. dan akhirya diberikan diet regular. pasien harus berkemih dalam waktu 8-12 jam setelah pembedahan. Kriteria evaluasi : pasien mampu berkemih secara spontan dan tanpa bantuan selang kateter Intervensi Rasional Kaji kemampuan control berkemih Efek depresan dari anestesi dan analgesic dapat mengganggu sensasi penuhnya kandung kemih. kembalinya pertistaltik. Jus buah dan air hangat biasanya sangat efektif. Tujuan: Dalam waktu 8-12 jam pasien mampu berkemih. Caiaran menjaga feses tetap lembut sehingga mudah dikeluarkan. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian Perawat memberikan enema. Pasien yang mengalami distensi abdomen dan “nyeri karena gas” akan merasa Pertahankan asupan cairan yang adekuat. supositoria rectal. dokter mencoba memasang peristaltic melalui katarik atau enema. dan penurunan masukan cairan. diet ringan makanan padat. namun. Selang rectal atau enema aliran balik meningkatkan keluarnya flatus.

Pasien bedah yang diharuskan berbaring di tempat tidur memerlukan bantuan untuk memegang dan menggunakan pispot atau urinal. Monitor asupan dan keluaran cairan tiap 4 Perawat memantau asupan dan keluaran jam cairan. apabila pasien tidak berkemih dalam waktu 8 jam setelah pembedahan.perawat mengukur asupan dan keluaran cairan selama beberapa hari setelah pembedahan sampai tercapai asupan cairan dan keluaran urine yang . pekat dan volumenya sedikit.normal. Perawat mengkaji adanya distensi kandung kemih. mungkin pasien perlu dipasang kateter urine . maka dokter harus diberitahu. Jumlah keluaran urine untuk dewasa minimal 2 ml/kg/jam. pasien lakilaki akan membutuhkan bantuan untuk berdiri saat berkemih. Perawat memeriksa pasien dengan sering untuk mengetahui adanya kebutuhan untuk berkemih. Pasien sering merasa bahwa tiba-tiba kandung kemihnya penuh dan perlu segera berkemih. Pasien mudah mengalami dehidrasi akibat cairan yang hilang dari luka bedah. dan perawat harus berespons dengan cepat jika pasien meminta Kaji adanya distensi kandung kemih bantuan. pispot menyebabkan pasien sulit berkemih. Apabila urine berwarna gelap. Pasien wanita akan berkemih Monitor keinginan berkemih dari pasien dengan baik jika ia dapat berkemih di toilet. Bantu pasien untuk berkemih dalam posisi Perawat membantu pasien untuk berada pada normal posisi normal selama berkemih. untuk itu diperlukan instruksi dari dokter.

mempengaruhi posisi pasien pada brankar sehingga mempunyai resiko jatuh.  Pasien kooperatif terhadap tindakan  Wajah rileks Intervensi Rasional Kaji tanda verbal dan nonverbal kecemasan. Konfrontasi dapat meningkatkan rasa marah. Apabila perawat mendapatkan gejala awal perubahan dari nonverbal. Control sensasi pasien (dalam menurunkan ketakutan) dengan cara memberikan informasi tentang keadaan pasien. Kecemasan berhubungan dengan diagnosis pascaoperatif. kemungkinan perubahan dalam gaya hidup.normal. Reaksi verbal/nonverbal dapat menunjukkan dampingi pasien dan lakukan tindakan bila rasa agitasi. membantu latihan relaksasi dan tehnik-tehnik pengalihan. menurunkan kerjasama. menekankan pada penghargaan terhadap sumber-sumber koping (pertahanan diri) yang positif. dan memberikan respons balik yang positif. . maka perawat meminta bantuan dari perawat lain di ruang pemulihan Hindari konfrontasi untuk melakukan fiksasi pada pasien. dan memperlambat Tingkatkan control sensasi pasien penyembuhan. marah dan gelisah yang akan menunjukkan perilaku merusak. dapat mengidentifikasi penyebab atau factor yang mempengaruhinya. dan perubahan dalam konsep diri Tujuan : dalam waktu 1x24 jam tingkat kecemasan pasien berkurang atau hilang Kriteria evaluasi :  Pasien menyatakan kecemasan berkurang  Pasien mampu mengenal perasaannya. Orientasikan pasien terhadap prosedur rutin Orientasi dapat menurunkan kecemasan.

meliputi : Kembalinya fungsi fisiologis pada seluruh system secara normal Tidak terjadi komplikasi pascabedah Pasien dapat beristirahat dan memperoleh rasa nyaman Tidak terjadi luka operasi Hilangnya rasa cemas .dan aktivitas yang diharapkan EVALUASI KEPERAWATAN PASCAOPERATIF       Evaluasi yang diharapkan pada pasien pascaoperatif.