You are on page 1of 31

LAPORAN AKHIR

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
JUDUL PROGRAM
PEMANFAATAN EKSTRAK GONAT BULU BABI (D. setosum) DARI
PERAIRAN SIOMPU BUTON SEBAGAI HEPATOPROTEKTOR
BIDANG KEGIATAN :
PKM PENELITIAN EKSAKTA
Diusulkan Oleh :
NURJEDDAH FARIANE

(F1F113071/2013)

YUSNI OKTAVIANI TIMUNG

(F1F113091/2013)

IKA PUTRI WIDIYANINGSIH

(F1F113076/2013)

FEBRIANTI SUHAMDANI

(F1F113078/2013)

UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2016

PENGESAHAN USULAN PKM PENELITIAN EKSAKTA
1. Judul Kegiatan

2. Bidang Kegiatan
3. Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap
b. NIM
c. Program Studi
d. Perguruan Tinggi
e. Alamat Rumah dan No Tel./Hp
4.
5.

6.
7.

: Pemanfaatan Ekstrak Gonat Bulu
Babi (D. Setosum) dari PerairanSiomp
u Buton sebagai
Hepatoprotektor
:PKMPE - Kesehatan

: Nurjeddah Fariane
: F1F113071
: Farmasi
: Universitas Halu Oleo
: Jl. Salangga, Kendari, hp.
081212668440
f. Alamat e-mail
: nurjeddah_fariane@yahoo.co.id
Anggota Pelaksana Kegiatan/Penulis: 3 orang
Dosen Pendamping
a. Nama Lengkap dan Gelar
: Wahyuni, S.Si., M. Si. Apt.
b. NIDN
: 0029067907
c. Alamat Rumah/No.Telp
: Jln. Sao-Sao, No. 209
A/085292399129
Biaya Kegiatan Total
a. Dikti
: Rp. 12. 497. 500.b. Sumber lain
:Jangka Waktu Pelaksanaan
: 4 bulan
Kendari, 27 - 10 - 2015
Menyetujui,
Ketua Jurusan

( Nur Illiyyin Akib, S.Si., M.Si.,Apt )
NIP/NIK. 19810319 200801 2 006
Wakil Rektor
Bidang Kemahasiswaan dan Alumni

Ketua Pelaksana Kegiatan

(Nurjeddah Fariane)
NIM. F1F113071
Dosen Pendamping

(Dr. La Ode Ngkoimani, S. Pd.,M.Si.)
(Wahyuni, S. Si., M.Si., Apt.)
NIP/NIK. 19711231 199903 1 064
NIDN. 0029067907
RINGKASAN
Penyakit hati merupakan penyakit yang sangat berbahaya bagi manusia,
karena hati memiliki peran yang sangat penting dalam tubuh yaitu sebagai organ

metabolisme utama.Oleh karena itu perlu dikembangkan berbagai obat yang dapat
berfungsi sebagai hepatoprotektor.Hepatoprotektor adalah senyawa atau zat yang
berkhasiat melindungi sel sekaligus memperbaiki jaringan hati yang rusak akibat
pengaruh zat toksik.Maka perlu dilakukan pengobatan dengan bahan alternatif
alamiah yang murah dan bisa dipertanggung jawabkan secara medis. Merujuk pada
berbagai pustaka, baik teori maupun hasil pengalaman empiris oleh para leluhur,
bahan aktif dalam gonat bulu babi (D. setosum) dapat dimanfaatkan sebagai
hepatoprotektor, sehingga dapat diolah menjadi obat baru dan dapat menjadi acuan
bagi peneliti selanjutnya serta formulator yang ingin membuat formula atau desain
obat dari ekstrak gonat bulu babi sebagai hepatoprotektor.
Keyword.Hepatoprotektor, penyakit hati, gonat bulu babi (D. setosum)
ABSTRACK
Liver disease is a disease that is very dangerous for humans , because the liver has a
very important role in the body is a major metabolic organ . Therefore, it is necessary
to develop a variety of drugs that can function as a hepatoprotective . Hepatoprotektor
is efficacious compounds or substances that protect the cells and also repair damaged
heart tissue due to the influence of toxic substances . It is necessary to treatment with
a natural alternative ingredients are cheap and can be justified medically . Refers to a
variety of literature , both theoretical and empirical experience the results by the
ancestors , the active ingredient in gonat urchins (D. setosum) can be used as a
hepatoprotective , so it can be processed into new drugs and could be a reference for
further research and formulators who want to make the formula or design a drug from
the extract of sea urchin as a hepatoprotective gonat.
Keyword.Hepatoprotective , liver disease , gonat urchins ( D. setosum )
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL................................................................................. i

HALAMAN PENGESAHAN...................................................................ii
DAFTAR ISI .............................................................................................iii
RINGKASAN ..........................................................................................iv
BAB I – PENDAHULUAN......................................................................1
A. Latar Belakang.................................................................................1
B. Rumusan Masalah............................................................................2
C. Tujuan...............................................................................................2
D. Luaran yang Diharapkan..................................................................2
BAB II – TINJAUAN PUSTAKA.............................................................3
A. Uraian Sampel.................................................................................3
B. Hepatoprotektor...............................................................................4
C. Gonat Bulu Babi ......................................................................5
D. Penyakit Hati....................................................................................5
E. Ekstraksi..........................................................................................6
BAB III - METODE PELAKSANAAN ...................................................6
A. Desain penelitian.............................................................................7
B. Alat dan Bahan ...............................................................................7
a. Bahan penelitian.............................................................................7
b. Alat penelitian.................................................................................7
C. Cara kerja........................................................................................7
a. Pembuatan Ekstrak Gonat Bulu Babi.............................................7
b. Skrining Fitokimia .........................................................................8
c. Penyiapan Hewan Uji.....................................................................8
d. Uji Aktivitas Gonat Bulu Bai sebagai Hepatoprotektor................8
BAB IV – HASIL YANG DICAPAI DAN POTENSI KHUSUS ............9
A. Pembuatan Ekstrak Gonat Bulu babi..............................................9
B. Skrining Fitokimia..........................................................................
C. Uji Aktivitas hepatoprotektor.........................................................
BAB V – PENUTUP
A. KESIMPULAN ..............................................................................
B. SARAN ..........................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................10
LAMPIRAN-LAMPIRAN........................................................................20

BAB I. PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Hati merupakan organ yang sangat penting dalam pengaturan
homeostasis tubuh meliputi metabolisme, biotransformasi, sintesis, penyimpanan,

dan imunologi. Sel-sel hati (hepatosit) mempunyai kemampun regenerasi yang
cepat. Oleh karena itu sampai batas tertentu, hati dapat mempertahankan
fungsinya bila terjadi gangguan ringan. Pada gangguan yang lebih berat, terjadi
gangguan fungsi yang serius dan akan berakibat fatal (Muchid, 2007).
Kerusakan sel hati selain disebabkan oleh virus, juga dapat disebabkan
oleh karena obat-obatan, misal pemberian obat dalam jangka waktu lama,
terinhalasi karbon tetraklorida (CCL4) waktu pengisian alat pemadam api maupu
yang terminum untuk bunuh diri, peminum alkohol ataupun makanan yang
mengandung alfatosin misal kacang-kacangan, dan biji-bijian yang lain
(Chodidjah dkk, 2007).
Lautan Indonesia adalah bagian wilayah Indopasifik yang merupakan
salah satu pusat keanekaragaman biota laut terbesar di dunia. Biota laut
(marineorganism) merupakan sumber bahan alam yang sangat kaya dengan
aktivitas biologi yang unik (Handayani dkk, 2012). Potensi biota laut sebagai
sumber bahan bioaktif baru banyak diteliti dalam tahun-tahun terakhir, meskipun
belum sebanyak penelitian terhadap biota darat. Berbagai jenis senyawa dengan
bermacam-macam bioaktivitas telah ditemukan dari biota tersebut mulai dari
antibakteri, anti jamur anti virus, antiplasmodium dan sebagainya (Trianto dkk,
2004). Salah satu biota laut yang biasa digunakan sebagai obat adalah bulu babi
(D. setosum).
Bulu babi merupakan salah satu jenis biota perairan yang berasal dari filum
echinodermata. Penyebaran bulu babi terlihat hampir di seluruh zona perairan Indonesia.

Bulu babi merupakan biota perairan yang memiliki nilai gizi tinggi. Senyawa
bioaktif yang dihasilkan oleh bulu babi memiliki potensi untuk dimanfaatkan
sebagai senyawa antibakteri alami. Bulu babi memiliki cangkang yang keras dan
bagian dalamnya bersisi lima simetris (Olivia dkk, 2015). Pemanfaatan gonad bulu babi
di Jepang yaitu sebagai komponen utama dalam masakan shusi, masakan yang diolah
khusus, dimakan mentah dengan bumbu cuka, kecap atau diasin. gonad bulu babi dapat
dimanfaatkan sebagai bahan makanan yaitu berupa produk fermentasi penggaraman
(unishiokara). Gonad bulu babi juga mengandung asam amino yang cukup lengkap
sebagai pemacu pertumbuhan dan kesehatan manusia. Asam amino arginina dan histidina

berperan penting dalam pertumbuhan anak (Kurniati dkk, 2014). Pada perairan Siompu,
gonad bulu babi (D. setosum) secara empiris digunakan sebagai hepatoprotektor.

Berdasarkan uraian diatas, maka perlu dilakukan penelitian mengenai
aktivitas bulu babi untuk mengetahui secara pasti kemampuan ekstrak gonat bulu
babi (D. setosum) sebagai hepatoprotektor, agar dapat dijadikan acuan bagi
peneliti-peneliti selanjutnya yang ingin mengembangkan produk dari bulu babi
sebagai hepatoprotektor.
B. RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah :
1. Apa kandungan dalam ekstrak gonat bulu babi (D. setosum) ?
2. Bagaimana aktivitas gonat bulu babi (D.setosum) sebagai hepatoprotektor?
C. TUJUAN
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui kandungan dalam ekstrak gonat bulu babi (D.

setosum).

2. Untuk mengetahui aktivitas gonat bulu babi (D. setosum) sebagai
hepatoprotektor.
D. LUARAN YANG DIHARAPKAN
Luaran yang diharapkan dalam penelitian ini adalah :
1. Memberikan informasi mengenai aktivitas gonat bulu babi (D. setosum)
sebagai hepatoprotektor.
2. Memberikan informasi bagi peneliti yang ingin mengembangkan sediaan dari
bulu babi (D. setosum).
3. Menghasilkan publikasi ilmiah yang paten bertaraf nasional maupun
internasional.
E. MANFAAT
1. Internal
a. Menambah wawasan keilmuan penelitian dibidang riset penyakit.
2. External
a. Menemukan kegunaan bulu babi (D. setosum) sebagai hepatoprotektor.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
A. URAIAN SAMPEL
a. Klasifikasi
Klasifikasi bulu babi adalah sebagai berikut :
Kingdom

: Animalia

Phylum

: Echinodermata

Kelas

: Echinoidea

Ordo

: Diadematoida

Famili

: Diadematoidae

Genus

: Diadema

Spesies

: Diadema setosum

(Clark & Rowe 1971).
b. Morfologi
Bulu babi Diadema Setosum termasuk kedalam kelompok bulu babi
yang mempunyai cangkang beraturan (regularia). Bentuk luar cangkang
berupa buah delima.Sebagaimana bentuk umum bulu babi regularia, cangkang
Diadema tersusun dari ratusan keping-keping kecil yang terpolakan dengan
arsitektur yang unik (Gambar 1). Berbeda dengan kelas Asteroidea dan
Ophiuroidea, pada bulu babi tangan yang berpola pentaradial absen sama
sekali. Tetapi lempengan-lempengan kapur tetap tersusun dengan pola
pentaradial simetri. Lima pasang jalur keeping ambulakral tersusun bergantian
dengan lima pasang jalur keping interambulakral (Clark & Rowe 1971).

Gambar 1. Bulu babi

B. HEPATOPROTEKTOR
Hepatoprotektor adalah senyawa atau zat yang berkhasiat melindungi sel
sekaligus memperbaiki jaringan hati yang rusak akibat pengaruh zat toksik.
Beragam jenis tumbuhan obat telah diteliti khasiat hepatoprotektornya antara lain
Silybum marianum, Picrorhiza kurroa, Curcuma longa, Camelia sinensis,
Celidonium majus, Glycyrrhiza glabra, dan Allium sativa (Panjaitan dkk, 2011)
C. GONAT BULU BABI
Gonad berada pada rongga tubuh bulu babi. Ciri fisik gonad bulu babi dari
ketiga spesies tersebut terlihat sama dan sulit dibedakan (Gambar 2). Gonad bulu
babi atau disebut telur merupakan timbunan protein berkualitas tinggi (Radjab
1998). Gonad ini dapat dikonsumsi dalam keadaan mentah karena memiliki rasa
yang lezat dan dipercaya oleh masyarakat merupakan makanan bergizi yang dapat
menjaga kesehatan (Kurniati dkk, 2014).
Komposisi kimia gonad bulu babi sangat dipengaruhi oleh kondisi
lingkungan atau perairan tempat hidup, musim saat ditangkap, jenis kelamin, dan
fase reproduksi biota tersebut. Perbedaan komponen gizi yang dikandung biota ini
dapat menggambarkan bentuk asli materi yang dikonsumsi oleh bulu babi, juga
hasil metabolisme materi yang dikonsumsi. Makanan utama bulu babi adalah alga
coklat, hijau dan lamun, namun dalam kondisi terpaksa bisa berubah menjadi
omnivora. Dalam kondisi pakan melimpah, berat rata-rata gond bisa mencapai
11.58-15.71% berat total, dan matang seksual pertama biasanya pada umur 1-2
tahun (Tambaria, 2013).

Gambar 2. Gonat Bulu Babi

D. PENYAKIT HATI
Gangguan fungsi hati masih menjadi masalah kesehatan besar di Negara maju
maupun di negara berkembang. Indonesia merupakan negara dalam peringkat
endemic tinggi mengenai penyakit hati (Depkes RI, 2007). Angka kejadian
kerusakan hati sangat tinggi, dimulai dari kerusakan yang tidak tetap namun dapat
berlangsung lama (Setiabudy, 1979). Rusaknya fungsi hati biasanya ditandai
dengan menguningnya warna kulit, membran mukosa dan naikknya konsentrasi
bilirubin, enzim AST, ALT dan GGT dalam darah (Lu, 1995).
Salah satu penyebab kerusakan hati adalah obat-obatan (Depkes RI, 2007).
Kerusakan sel hati selain disebabkan karena virus, juga dapat disebabkan oleh obat
obatan yaitu penggunaan obat dalam jangka waktu yang lama atau juga peminum
alkohol. Obat yang dikatakan hepatotoksik adalah obat yang dapat menginduksi
kerusakan hati atau biasanya disebut drug induced liver injury (Sonderup, 2006).
Obat penginduksi kerusakan hati semakin diakui sebagai penyebab terjadinya
penyakit hati akut dan kronis (Isabel dkk, 2008).
BAB III. METODE PENELITIAN
A. DESAIN PENELITIAN
Metodologi yang diuraikan di bawah ini meliputi pendekatan dan proses tata
kerja dari rangkaian kegiatan penelitian yang akan dilakukan. Kegiatan ini

berpusat dalam laboratorium yang terdiri dari penyiapan alat dan bahan, preparasi
sampel, maserasi, pengeringan sampel di evaporator, dan uji aktivitas sampel. Alur
penelitian dapat dilihat pada skema berikut.
penyiapan sampel

ekstraksi

Skring
Fitokimia

uji aktivitas

B. ALAT DAN BAHAN
a. Alat
Alat-alat yang digunakan meliputi evaporator, oven, incubator,
autoklaf,

cawan petri dan botol semprot. Peralatan gelas yang digunakan

berupa gelas kimia, batang pengaduk, labu takar, gelas ukur, toples, tabung
reaksi dan lain-lain.
b. Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah gonat bulu babi
jenis Diadema setosum yang diambil dari Pulau Siompu Kabupaten Buton
Selatan. Pelarut yang digunakan untuk ekstraksi adalah etanol. Hewan uji yang
digunakan adalah mencit (Mus muscullus).
C. CARA KERJA
a. Pembuatan Ekstrak Gonat Bulu Babi
Sampel diperoleh di daerah Siompu Kabupaten Buton Selatan, diambil
gonatnya kemudian dibersihkan. Selanjutnya diekstraksi

dengan cara

sebanyak 125,8 g sampel direndam dalam pelarut etanol selama 3 x 24 jam.
Ekstrak disaring menggunakan kertas saring kemudian dievaporasi dengan
vacum rotary evaporator pada suhu 37-60ºC, selanjutnya ekstrak disimpan
pada suhu chiling (0-4ºC) sebelum diuji aktivitasnya.
b. Skrining Fitokimia
Skrining fitokimia dilakukan menggunakan uji Kromatografi Lapis
Tipis (KLT). Adapun uji skrining fitokimia yang dilakukan meliputi
pemeriksaan alkaloid, tanin, flavonoid, terpenoid dan saponin.
c. Penyiapan Hewan Uji

Mencit dipelihara dengan baik di Laboratorium Farmasi UHO selama
2 minggu dengan tujuan untuk membiasakan mencit pada lingkungan dan
perlakuan yang baru. Pada tahap ini dilakukan pangamatan keadaan umum dan
penimbangan berat badan setiap hari.
d. Uji Aktivitas Sampel pada Hewan Uji
Hewan dikelompokkan menjadi 5 kelompok yang masing-masing
kelompok terdiri dari 5 ekor mencit jantan. Kelompok 1 hanya diberikan Na
CMC 0,5% dari berat badan secara oral selama 2 hari, kelompok 1 digunakan
sebagai control negatif. Kelompok II menerima Parasetamol dengan dosis 5,07
mg/gramBB mencit selama 2 hari, pada hari ke2 diberikan Na CMC 0,5%
setelah 1 jam pemberian Paracetamol. Kelompok III, IV, V masing-masing
diinduksi dengan Parasetamol dengan dosis 5,07 mg/gramBB mencit selama 2
hari selama 2 hari, pada hari ke 2 diberikan ekstrak gonat bulu babi dengan
dosis berurutan yaitu 10ppm; 20ppm dan 30ppm, setelah 1 jam pemberian
Paracetamol. Pemberian dosis ini diberikan secara oral. Penelitian dilakukan
selama 3 hari. Dilaksanakan pada suhu kamar dengan siklus 12 jam terang dan
gelap. Pada hari ke 3 semua darah mencit diambil pada pembulu darah leher,
darah ditampung dengan tabung sentrifuge. Setelah itu disentrifus selama 3
menit dengan kecepatan 3000 rpm, serum dipisahkan kemudian diukur
aktivitas SGOT dan SGPT.

BAB IV. HASIL YANG DICAPAI DAN POTENSI KHUSUS
Persentase pelaksanaan program telah mencapai 100%. Penelitian ini telah
diselesaikan sejak tanggal 25 Juni 2016.
A. Pembuatan Ekstrak Gonat Bulu Babi
Berat ekstrak etanol gonat bulu babi (D. setosum) yang diperoleh sebesar 125,
8 gram dan memiliki rendamen sebesar 48,38%.
B. Skrining Fitokimia
b. Uji Saponin

Uji saponin pada sampel ektrak etanol gonat bulu babi (D. setosum)
menandakan rekasi positif, ini ditandai dengan terbentuknya warna ungu
gelap pada plat setelah disemprotkan H2SO4 0,1 M kemudian dipanaskan.
c. Uji Alkaloid
Uji alkaloid pada sampel ektrak etanol gonat bulu babi (D. setosum)
menandakan rekasi positif, ini ditandai dengan terbentuknya warna jingga
pada plat setelah disemprotkan pereaksi Dragendrof.
d. Uji Terpenoid
Uji terpenoid pada sampel ektrak etanol gonat bulu babi (D. setosum)
menandakan rekasi positif, ini ditandai dengan terbentuknya warna merah
ungu (violet) pada plat setelah disemprotkan perekasi Liberman-Buchart
kemudian dipanaskan.
e. Uji Flavonoid
Uji flavonoid pada sampel ektrak etanol gonat bulu babi (D. setosum)
menandakan rekasi negatif, ini ditandai dengan tidak terbentuknya warna
hijau pada plat setelah diberikan uap amoniak.
f. Uji Tanin
Uji tanin pada sampel ektrak etanol gonat bulu babi (D. setosum)
menandakan rekasi positif, ini ditandai dengan terbentuknya warna biru pada
plat setelah disemprotkan FeCl3 1% kemudian dipanaskan.
C. Uji Aktivitas Hepatoprotektor
Hasil pengukuran kadar SGOT dan SGPT pada darah mencit :
Jumlah
Pengukuran Kadar
Rata Perlakuan
SGOT dan
SGPT
Hewan
SGOT
SGPT
SGOT
Kontrol
1
164
139
Positif
2
233
173
184,75
3
170
118
4
172
115
Kontrol
1
21
7
Negatif
2
17
16
17
3
13
13
4
17
21
Dosis
1
147
51
10 ppm
2
115
62
147,75
3
174
39
4
163
68
Dosis
1
154
96
192

Rata
SGPT
136,25

14,25

55
81,75

20 ppm
Dosis
30 ppm

2
3
4
1
2
3
4

158
206
250
154
171
86
139

72
82
77
46
96
59
83

137,5

71

Perbandingan kadar SGOT dan SGPT dapat dilihat pada grafik berikut
ini :

perbandingan Pengukuran SGOT dan Konsentrasi Ekstrak

Ko nsentrasi Ekstrak d alam pp m

perbandingan
Pengukuran
SGOT dan
Konsentrasi
Ekstrak

Ka da r SGOT

Perbandingan Kadar ekstrak dan SGPT
100

Kadar SGPT 50

Perbandingan
Kadar ekstrak
dan SGPT

0
024
Kadar ekstrak dalam ppm

Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa untuk perbandingan konsentrasi
ekstrak gonat bulu babi (D. setosum) dari perairan Siompu menunjukan adanya
aktivitas dalam menurunkan kadar SGOT dan SGPT pada darah hewan coba.
Penurunan yang sangat nyata terlihat pada penggunaan ektrak sampel pada

konsentrasi 10 ppm. Hal ini menunjukkan bahwa pada konsentrasi rendah ektrak
gonat bulu babi (D. setosum) sangat optimal menurunkan kadar SGOT dan SGPT.
Pada grafik juga dapat dilihat bahwa ekstrak sampel lebih berpotensi menurunkan
kadar SGPT.
Enzim SGOT tidak hanya terdapat pada hati, tetapi juga diproduksi di
otot dan otot jantung, enzim ini lebih sensitive untuk mendeteksi kerusakan otot
dan otot jantung. Maka peningkatan SGOT tidak selalu menunjukkan adanya
kelainan pada sel hati. SGPT suatu enzim yang terdapat di dalam sel hati, karena
itu SGPT lebih akurat menggambarkan fungsi hati seseorang. Ketika sel hati
mengalami kerusakan, akan terjadi pengeluaran enzin SGPT dari dalam sel hati
ke darah, dengan terjadinya penurunan kadar SGOT dan SGPT pada hewan coba
menunjukkan adanya aktivitas yang nyata pada ekstrak gonat bulu babi (D.
setosum) dari perairan Siompu. Nilai normal SGOT adalah 3-45 u/L, sedangkan
nilai normal SGPT adalah 0-35 u/L.
BAB V. PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari penelitian yang dilakukan dapat disimpulan :
1. Kandungan kimia yang terdapat dalam ekstrak gonat bulu babi (D. setosum)
dari perairan Siompu adalah alkaloid, tannin, terpenoid, dan saponin.
2. Ekstrak gonat bulu babi (D. setosum) dari periaran Siompu berpotensi sebagai
Hepatoprotektor ditandai dengan adanya penurunan kadar SGPT pada darah
mencit yang telah diinduksi dengan Parasetamol dosis tinggi.
B. Saran
Perlu adanya penelitian lebih lanjut untuk mengetahui senyawa murni
dari ekstrak gonat bulu babi (D. setosum) dari perairan Siompu yang memiliki
aktivitas sebagai hepatoprotektor dan dimanfaatkan sebagai salah satu produk
paten yang memiliki khasiat yang bermutu dibidang pengobatan hati.

DAFTAR PUSTAKA
Chodidjah, Eni W., dan Utari. 2007. Pengaruh Pemberian Air Rebusan Meniran
(Phyllanthm niruriLinn) Terhadap Gambaran Histopatologi Hepar Tikus
Wistar yang Terinduksi CCL4. Jurnal Anatomi Indonesia. Vol. 2. (1).

Daud, Moh. Fajar., Esti R. Sadiyah., Endah Rismawati. 2011. Pengaruh Perbedaan
Metode Ekstraksi Terhadap Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Daun
Jambu Biji (Psidium Guajava L.) Berdaging Buah Putih. Prosiding Seminar
Nasional Penelitian dan PKM Sains, Teknologi, dan Kesehatan. Program
Studi Farmasi. Universitas Islam Bandung.
Depkes RI. 2007. Pharmaceutical Care untuk Penyakit Hati. Departemen
Kesehatan RI. Jakarta.
Handayani, D., Mega Y., Yohanes A., dan Nicolle J. 2012. Isolasi Senyawa Sitotoksik
dari Spons Laut Petrosia sp. JPB Perikanan. Vol. 7 (1).
Isabel, M., et al. 2008. Assessment of drug-induced liver injury in clinical
practice Assessment of drug-induced liver injury in clinical practice.
Agencia Espan˜-oladel Medicamento and from the Fondo de
Investigacio´ n Sanitaria.
Kurniati, I. F., Sugeng H. S., dan A. M. J. 2014. Profil Asam Lemak dan
Asam Amino Gonad Bulu Babi. JPHPI. Vol. 17 (1).
Lu F.C., 1995. Toksikologi Dasar: Asas, Organ, Sasaran, dan Penilaian Risiko,
Edisi ke-2. UI press. Jakarta
Muchid, A. 2007. Pharmaceutical Care untuk Penyakit Hati. Departemen Kesehatan
Republik Indonesia. Jakarta.
Mery, T. D. A. 2003. Pengaruh Kapur Sirih Terhadap Penanganan Bulu Babi dan
Kualitas Gonad Bulu Babi Tripneustes gratila (LINNAEUS) dan
Echinothrix calamaris (PALLAS). Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan. Vol. 1
(1).
Olivia, F. A., Tati N., dan Ruddy S. 2015. Isolasi dan Karakterisasi Senyawa
Antibakteri dari Bulu Babi. JPHPI. VOl 18 (1).
Purwani, MV., Suyanti., Muhadi AW. 2008. Ekstraksi Konsentrat Neodimium
Memakai Asam Di-2-Etil Heksil Fosfat. Seminar Nasional IV SDM
Teknologi Nuklir. Yogyakarta.
Setiabudy, R., 1979, Hepatitis
Kedokteran,15: 8-12.

Karena

LAMPIRAN
PENGGUNAAN DANA

Obat,

Cermin

Dunia

Nama
Biaya Perjalanan
pengambilan sampel
Sewa alat dan tenaga
pengambilan sampel
Etanol

Spesifikasi

Kegunaan

Harga (Rp)
1.517.000.600.000,-

2 liter

Plat KLT

Sebagai pelarut

100.000,-

Sebagai fase diam

120.000,-

Kertas saring

1 boks

Sebagai penyaring

30.000

n-heksan

10 mL

Campuran eluen

10.000

Etil asetat

10 mL

Campuran eluen

10.000

Makanan mencit

5 bungkus

Toples
Ember
Eter

1 buah
3 buah
1 botol

ATK
Kertas Label

1 lusin

Tissue

1 pact

Handscoon

8 pasang

Jarum Pentul

5 pak

Gunting

4 buah

Pisau bedah

4 buah

Masker
Kandang Tikus

1 lusin
5 buah

Pisau

4 buah

Kos tangan

2 pasang

Biaya cetak foto

25 lembar

Untuk makanan
mencit
Wadah maserasi
Wadah sampel
Anastesi
Untuk perlengkapan
tulis
Untuk menandai
perlakuan
Untuk membersihkan
Untuk membungkus
tangan
Untuk menjepit
tangan dan kaki tikus
pada saat dibedah
Untuk memotong
sampel
Untuk membedah
hewan coba
Tempat merawat tikus
Untuk membesihkan
sampel

100.000,100.000,100.000,50.000,200.000,22.500,50.000,80.000,50.000,85.000,80.000,100.000,100.000,60.000,20.000,-

Dokumentasi

100.000,-

Pembayaran
administrasi lab
Biaya pengukuran
SGOT dan SGPT
Paracetamol

150.000,1.500.000,Penginduksi hati

100.000,-

Lembur

600.000,-

Komunikasi

200.000,-

Transportasi

300.000,-

Total

BUKTI PEMBAYARAN

6.534.500,-

Tiket kapal cepat pulang pergi Kendari-Siompu 3 orang anggota

Bukti pembayaran jasa sewa alat dan tenaga pengambilan sampel

Bukti pembayaran biaya makan dan transportasi darat selama di Siompu

Bukti pembayaran pembelian mencit

Bukti pembayaran kandang mencit

Bukti pembayaran kertas saring

Bukti pembayaran kotak tempat alat

Bukti pembayaran alumunium voil, sabun, gunting, kertas label, tissu.

Bukti pembayaran pelarut n-heksan

Bukti pembayaran administrasi laboratorium

Bukti pembayaran plat KLT

BUKTI-BUKTI PENDUKUNG KEGIATAN

Bulu babi di perairan siompu

Sampel gonat bulu babi

sampel yang sudah diambil

sampel yang sedang dikeringkan

Penimbangan sampel

Penyaringan

Proses ekstraksi dengan cara maserasi

Proses evaporasi untuk mendapatkan ekstrak

Proses pengeringan sampel di waterbath

Ekstrak etanol gonat bulu babi (D.
setosum)

Alat dan bahan yang digunakan untuk srining fitokimia

proses penotolan

Proses pemberian peraksi pada plat

Proses elusidasi

Hasil pengamatan skrining fitokimia

Bahan-Bahan pembuatan larutan PCT, ekstrak,

proses pembuatan larutan

Dan Na CMC 0,5%

Proses perlakuan pada mencit

Proses pengambilan darah mencit

Darah ditampung dalam tabung sentrifuge

Reagen SGOT yang digunakan

Reagen SGPT yang digunakan untuk pengukuran

Sampel disentrifus untuk
Memisahkan serum dan darah2

Pengukuran SGOT dan SGPT pada spektro