You are on page 1of 18

Telaah Ilmiah

Intermittent Exotropia

Oleh
Muhamad Alniroman Yukendri, S.Ked

Pembimbing
dr. Linda Trisna, SpM(K)

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA
RSUP DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2016

d 4 Juli 2016. SpM(K) 2 . Linda Trisna. 4 Juni 2016 dr.Ked 04084821618166 Referat ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas dalam mengikuti Kepaniteraan Klinik Senior di Bagian Ilmu Kesehatan Mata RSUP Dr.HALAMAN PENGESAHAN Judul Telaah Ilmiah Intermittent Exotropia Oleh: Muhamad Alniroman Yukendri. Mohammad Hoesin Palembang Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya periode 30 Mei 2016 s. S. Palembang.

KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis haturkan kepada Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya telaah ilmiah yang berjudul “Intermittent Exotropia” ini dapat diselesaikan tepat waktu. Linda Trisna. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada para residen. dan pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada dr. Dalam penulisan telaah ilmiah ini. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dan kekeliruan dalam penulisan telaah ilmiah ini. penulis mendapat bantuan dari berbagai pihak. Mohammad Hoesin Palembang Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan untuk penulisan yang lebih baik di masa yang akan datang. teman-teman dokter muda dan semua pihak yang telah membantu dalam penulisan telaah ilmiah ini. Palembang Juni 2016 Penulis 3 . SpM(K) selaku pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan arahan selama penulisan telaah ilmiah ini sehingga menjadi lebih baik. Telaah ilmiah ini dibuat untuk memenuhi salah satu syarat ujian kepaniteraan klinik senior di Bagian Ilmu Kesehatan Mata RSUP Dr.

.3 2....1...............4......4 2...........................................iv DAFTAR GAMBAR.................5.........................8.....9 2.9................................i HALAMAN PENGESAHAN ... Etiologi............................. Intermittent Exotropia...................................................................v BAB I PENDAHULUAN........................................................ Anatomi dan Fisiologi Mata................................6 2...............................................2..................8 2.................................... Epidemiologi...............................2..................................................................................... Definisi.........................................2...........................2.. Prognosis......1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA .2.....5 2..............................................3.................................................................................................... Pemeriksaan Fisik…………………………………………………...........7.................................11 BAB III KESIMPULAN..........................1...........................................................................................................................9 2...................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ........................................5 2........2.......................................................4 2.................................................... Penatalaksanaan.........................................2...3 2.......13 4 .......................2.........................................ii KATA PENGANTAR ................................................................ Gejala..............................................................................................................7 2.............................. Diagnosis...........................................12 DAFTAR PUSTAKA.............................iii DAFTAR ISI ..................................................................2..................6......................2.........2... Klasifikasi..........................................

.................................2 5 ...DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 1................................ Anatomi Otot Mata......................

Beberapa teori telah mencoba menjelaskan penyebab terjadinya kelainan ini. ada beberapa orang yang tetap stabil dan bahkan pada beberapa kasus mengalami perbaikan. dan mendapatkan hasil bahwa 75% dari 51 pasien dengan eksotropia yang tidak menerima penatalaksanaan menunjukkan progresivitas.1 Deviasi horizontal terbagi lagi menjadi deviasi comitant dan incomitant. otot horizontal. diagnosis banding. anomaly korepondensi retina. development of suppression. Penulisan telaah ilmiah ini bertujuan untuk mengetahui definisi. patofisiologi. cara pemeriksaan. Diharapkan telaah ilmiah ini dapat bermanfaat untuk memberikan informasi 1 . Hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh beberapa hal seperti bertambahnya usia. Pasien eksotropia intermitten dapat bermanifestasi menjadi diplopia.1 Namun tidak semua kasus intermittent eksotropia berkembang menjadi eksotropia konstan. sedangkan eksotropia menggambarkan strabismus horizontal yang divergen. Esotropia menggambarkan strabismus horizontal yang konvergen. dan prognosis dari eksotropia intermiten. Dalam beberapa kasus. Comitant adalah deviasi okuler yang masih searah dengan arah pandangan. dan bertambahnya divergensi orbita. sedangkan incomitant merupakan deviasi okuler yang berbeda arah dengan arah pandangan. 9% tetap stabil. diagnosis. yaitu esotropia dan eksotropia. suppression. Sebuah penelitian yang dilakukan Von Noorden untuk mengetahui kemungkinan eksotropia dapat membaik atau memburuk. tatalaksana. berkurangnya kemampuan akomodasi. dan terkadang keselaran binokuler yang normal dengan stereopsis yang baik. antara lain akibat disfungsi otot obliq. Sekitar 50% dari eksotropia merupakan eksotropia intermiten sederhana. maupun iatrogenik. Deviasi pertama akan terjadi bila melihat jarak jauh.BAB I PENDAHULUAN Deviasi horizontal dapat dibagi menjadi 2 kategori. yang semakin lama akan semakin dekat hingga dekat dengan titik fiksasi. anomali struktur orbita. esoforia akan berkembang menjadi eksotropia intermittent yang bila tidak mendapatkan penatalaksanaan akan berkembang menjadi eksotropia konstan. dan 16% mengalami perbaikan. dengan insufisiensi konvergen. Di Amerika. kasus eksotropia intermiten paling banyak terjadi pada anak-anak usia 1 sampai 4 tahun. Periode strabismus dan tingkat kontrol berbeda pada masing-masing individu.

ekstorsi dalam abduksi .depresi dalam aduksi 3. medial. aksi primer: sekunder: 2. aksi primer: .abduksi dalam elevasi . dan inferior) dan 2 otot oblik (superior dan inferior) yang terdiri dari: 1.aduksi pada depresi .terkait eksotropia intermiten dan menjadi salah satu sumber bacaan tentang eksotropia intermiten.1.elevasi dalam aduksi .aduksi . Rektus superior.ekstorsi pada abduksi 4. aksi primer: . aksi primer: sekunder: . aksi: 5. Rektus lateral.depresi pada abduksi sekunder: .1 Anatomi dan Fisiologi Otot Penggerak Bola Mata3 Manusia memiliki 6 otot ekstraokular yang terdiri dari 4 otot rektus (lateral. Otot Oblik Inferior Otot oblik inferior mempunyai origo pada fosa lakrimal tulang lakrimal.abduksi . Rektus medius.elevasi dalam abduksi sekunder: .abduksi dalam depresi . berinsersi pada sklera posterior 2 mm dari kedudukan 2 . superior.intorsi dalam aduksi . Oblik inferior. Rektus inferior.aduksi dalam elevasi Gambar 1.1. aksi: 6. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.intorsi pada abduksi . Anatomi otot mata 2. Oblik superior.

Berfungsi menggerakkan bola mata untuk depresi (primer) terutama bila mata melihat ke nasal.5.1.2.III (n.Trochlearis) yang keluar dari bagian dorsal susunan saraf pusat.4. berjalan menuju troklea dan dikatrol balik dan kemudian berjalan di atas otot rektus superior. Otot Rektus Lateral Rektus lateral mempunyai origo pada anulus Zinn di atas dan di bawah foramen optik. 2.okulomotor) Fungsi menggerakkan mata: .VI (Abducens) dengan pekerjaan menggerakkan mata terutama abduksi. berjalan antara oblik inferior dan bola mata atau sklera dan insersi 6 mm di belakang limbus yang pada persilangan dengan oblik inferior diikat kuat oleh ligamen Lockwood. bekerja untuk menggerakkan mata keatas.mempunyai aksi pergerakan miring dari troklea pada bola mata dengan kerja utama terjadi bila sumbu aksi dan sumbu penglihatan searah atau mata melihat ke arah nasal.1. Otot Rektus Inferior Rektus inferior mempunyai origo pada anulus Zinn. abduksi dan eksiklotorsi. yang kemudian berinsersi pada sklera dibagian temporal belakang bola mata. Rektus inferior dipersarafi oleh N.1. Oblik superior dipersarafi saraf ke IV (N.makula. Rektus lateral dipersarafi oleh N. Otot Rektus Medius Rektus medius mempunyai origo pada anulus Zinn dan pembungkus dura saraf optik yang sering memberikan rasa sakit pada 3 .eksoklotorsi (gerak sekunder) .aduksi 2. 2. Otot Oblik Superior Otot oblik superior berorigo pada anulus Zinn dan ala parva tulang sfenoid di atas foramen optik. 2. dipersarafi saraf okulomotor (N. abduksi dan insiklotorsi.3.1.III).depresi (gerak primer) .

III (Okulomotor). Definisi Eksotropia adalah salah satu bentuk dari strabismus dimana sumbu mata dari salah satu atau kedua mata mengalami deviasi keluar.1.1. terutama bila tidak melihat ke lateral .5 2. terutama bila mata melihat ke lateral . hanya terjadi pada beberapa saat saja. Berfungsi untuk: . keadaan eksotropia terjadi dengan frekuensi yang lebih sering. Beberapa pasien dan keluarganya terkadang menyadari kondisi ini saat sedang lelah atau melamun. atau bahkan terkadang sangat sering hingga berkembang menjadi eksotropia konstan. Namun pada beberapa penderita. Dikatakan eksotropia intermiten saat salah satu mata terdiaviasi keluar sedangkan mata yang lain melihat lurus. Eksotropia Intermiten 2. dan adapun yang baru menyadari saat penderita melihat jauh.insiklotorsi 2. Fungsinya untu menggerakkan mata untuk aduksi (gerak primer). Otot ini berinsersi 7 mm di belakang limbus dan dipersarafi cabang superior N. Rektus medius merupakan otot mata yang paling tebal dengan tendon terpendek. Epidemiologi Eksodeviasi lebih sering terjadi dalam bentuk laten atau intermiten 4 . 2.2. Intermiten eksotropia biasa terjadi dengan frekuensi yang rendah dan disertai dengan sedikit atau tanpa gejala. dan berinsersi 5 mm di belakang limbus.2.2. 4. Otot Rektus Superior Rektus superior mempunyai origo pada anulus Zinn dekat fisura orbita superior beserta lapis dura saraf optik yang akan memberian rasa sakit pada bola mata bila terdapat neuritis retrobulbar.pergerakkan mata bila terdapat neuritis retrobulbar. Eksotropia intermiten adalah eksotropia yang tidak terjadi secara terus menerus.aduksi.elevasi.6.2.

Eksodeviasi lebih sering terjadi didaerah Timur.3.6 Adapun teori lain yang megatakan bahwa mayoritas dari kasus eksodeviasi didasarkan pada tonus divergensi yang hiperaktif. dan kondisi fascias dan ligamen dari orbita. Studi terbaru juga menunjukkan bahwa ketidaksejajaran binokuler mata dapat disebabkan oleh extraocular muscle pulley position. bentuk dan ukuran orbit. volume dan kekentalan jaringan reterobulbar. Berdasarkan umur. fungsi dari otot mata yang ditentukan oleh insersio. et al. elastin dan otot polos yang mengelilingi otot ekstraokular dan digabungkan ke dinding orbita dan struktur jaringan ikat lainnya dengan jaringan yang sama. Dari semua kasus eksotropia. dan subequatorial Afrika daripada di Amerika Serikat. Kebanyakan teori saat ini tentang etiologi exodeviations struktural menggabungkan kedua konsep tersebut dan mengatakan bahwa yang eksodeviasi disebabkan oleh kombinasi mekanik dan inervasi. panjang.2. b) Role of AC/A Ratio Kemungkinan bahwa high 5 accommodation convergence to .dibandingkan dengan esodeviasi. dimana suatu muscle pulley terdiri dari cincin atau lengan kolagen. elastisitas dan pengaturan. Suatu penelitan yang dilakukan oleh Nusz. (2005) menyatakan bahwa prevalensi eksotropia intermiten lebih sering terjadi pada wanita.2 2. Area tegmentum dari batang otak pada manusia dan divergence burst cells di daerah formasi mesencephalic retikuler dikatakan sebagai pusat terjadinya perbedaan inervasi tersebut. eksotropia intermiten lebih sering terjadi pada usia yang lebih muda. sekitar 50-90% merupakan eksotropia intermiten dan biasanya didahului oleh tahap eksoforia dan terjadi pada sekitar 1% dari populasi umum. Posisi normal ini ditentukan oleh faktor-faktor anatomi dan mekanik seperti orientasi. yaitu:2 a) Faktor Innervasi dan Mekanik Salah satu teori mengatakan bahwa eksodeviasi disebabkan oleh ketidakseimbangan inervasi yang mengganggu hubungan timbal balik antara mekanisme konvergensi aktif dan divergensi. Timur Tengah. Etiologi Terdapat berbagai teori yang menjelaskan etiologi eksotropia intermiten. ukuran dan bentuk bola. Telah diusulkan bahwa ketidakseimbangan inervasi di pusat-pusat ini merupakan pemicu untuk eksodeviasi. dengan 25-40% kasus terjadi pada usia 2 tahun.

accommodation (AC/A) rasio berkemungkinan memainkan peran dalam eksotropia intermiten dan sudah dibahas secara mendalam oleh Cooper and Medow. et al.11 Secara umum. Dari teori ini dapat dikatakan bahwa adanya supresi penglihatan temporal membuat mata mudah berdivergensi. disimpulkan bahwa gangguan refraksi dapat mengganggu akomodasi dan dari hal tersebut dapat ikut berperan dalam pathogenesis eksotropia. 2. (1988) ditemukan bahwa sekitar 60% pasien dengan divergence excess memiliki AC/C ratio yang tinggi. Alasan/keluhan utama datang berobat Alasan utama yang membawa pasien berobat harus didapatkan dengan tepat. gangguan refraksi juga dapat mempengaruhi dan memodifikasi pola inervasi yang memperngaruhi posisi bola mata.2. Anamnesis yang baik merupakan petunjuk utama untuk mendapatkan diagnosis yang baik dan menentukan manajemen yang paling tepat sesuai standar terapi yang tersedia saat itu. Diagnosis Aspek paling penting dalam menata laksana setiap keadaan klinis dimulai dari pengambilan anamnesis yang baik. anamnesis yang baik terdiri dari:11 I. Pada pasien dengan myopia yang tidak mendapatkan penatalaksanaan. Menurut Donders. kurangnya stimulasi konvergensi ini dapat menyebabkan eksodeviasi. Pada penelitian Kushner. dan pada status 6 . c) Gangguan Refraksi Selain pengaruh dari gangguan mekanisme konvergensi dan divergensi mata.4. lebih sedikit dari usaha akomodasi normal dibutuhkan dalam penglihatan jarak dekat sehingga menyebabkan berkurangnya konvergensi akomodasi. dan 40% memiliki AC/A raio normal. Mereka menyimpulkan bahwa AC/A ratio bisa normal atau sedikit meningkan dari normal pada pasien dengan eksotropia intermiten. Alasan ini bisa berbeda pada berbagai tempat. d) Teori Supresi Hemiretina Suatu penelitian yang dilakukan oleh Knapp dan Jampolsky menghasilkan teori bahwa adanya progresivitas dari keadaan eksoforia menjadi supresi bilateral bitemporal hemiretinal menjadi eksotropia intermiten. Dari pernyataan diatas.

Home Control: orang tua pasien dapat diajarkan untuk membuat chart untuk - melihat deviasi pasien saat dirumah. II. Near Stereoacuity: Sebuah penelitian menyebutkan bahwa stereoacuity tidak berkorelasi baik dengan tingkat kontrol pada eksotropia intermittent. Poor Control: pasien gagal secara spotan tanpa segala bentuk dari disrupsi fusi. atau mereka yang tidak secara spontan membalikkan kesejajaran walaupun sudah mengedip atau refiksasi.  Subjective Methods . keluarga. Pada pasien dewasa. Good Control: pasien istirahat hanya setelah cover test dan melanjutkan fusi - secepatnya sebelum dan tanpa dibutuhkannya mengedip atau refiksasi.5.Ada baiknya meninjau ulang kembali alasan ini pada tiap akhir terapi dan mengevaluasi apakah keluhan utama pasien saat datang berobat pertama kali telah terpenuhi dan mendapat terapi dengan baik.2.  Objective Methods .sosio-ekonomi yang berbeda. II. obstetrik. terutama jika pasiennya anak-anak. Banyak kelainan motilitas okuler yang berkaitan dengan anomali perkembangan maupun herediter. maupun riwayat sosial. Akan 7 . kita juga harus menanyakan riwayat medis dan neurologis. Jarak normal stereoacuity biasanya - menandakan bahwa kontrol masih bagus atau tanpa suppresi. Berusaha untuk mengerti kebutuhan psikologis pasien sangat penting karena tidak ada terapi yang terbaik selain terapi yang dapat memberikan kepuasan pada pasien. Pemeriksaan Fisik Assesment Control of Intermittent Exotropia Assesment kontrol untuk eksotropia intermiten esensial dalam mendapatkan evaluasi dasar juga untuk memoniroe deteriorasi dan progresivitas dari intermiten eksotropia.Distance Stereoacuity: menyediakan assessment yang objektif untuk kontrol dan fusi deviasi serta deteriorasi. Fair Control: Pasien mengedip atau refiksasi untuk mengontrol deviasi - setelah dipicu oleh cover testing. sehingga sebaiknya kita juga menanyakan mengenai riwayat medis.

Far distance measurement: Mengukut deviasi dengan memfiksasikan mata pada suatu objek yang diletakkan jauh mengurangu variabilitas pengukuran dan membantu dalam menunjukkan deviasi maksimal dengan mengurangi konvergensi jarak dekat. 8 . penderita bisa dengan cepat kembali menjadi asimptomatik dikarenakan adanya perkembangan adaptasi sensoris mata. II. Apabila near stereoacuity mengalami perburukan. Beberapa penderita mungkin bisa merasakan gejala seperti mata lelah.Patch Test: Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengontrol konvergensi tonus fusi mata untuk membedakan pseudo-divergen excess dari true divergence excess. kabur. dan kesulitan dalam membaca dalam waktu yang lama. Menutup mata selama 30 cukup untuk menghambat konvergensi - tonus fusi dan menunjukkan besarnya deviasi.  Mengukur Sudut Deviasi .6. Kombinasi dari patch test dan far distance measurement test dapat mengurangi tingkat koreksi yang salah dan meningkatkan hasil penatalaksanaan secara overall.tetapi.  Gejala Asthenopia mungkin dirasakan saat mata berdeviasi sesaat. near stereoacuity dapat digunakan sebagai salah satu tanda deteriorasi dari penyakit tersebut.2. Berikut beberapa gejala yang dikeluhkan oleh penderita eksotropia:  Transient Diplopia: beberapa penderita mengeluhkan diplopia horizontal yang hilang timbul. Gejala Penderita intermiten eksotropia sangat jarang sekali mengeluhkan adanya suatu gejala. Akan tetapi. sedangkan beberapa pasien lain mengeluhkan adanya rasa tidak nyaman atau pandangan kabur saat mata mereka berdeviasi. maka kemungkinan besar kontrol pasien tidak cukup unruk mencegah amblyopia.  Micropsia: dapat terjadi dikarenakan oleh terjadinya akomodasi konvergensi untuk mengontrol eksodeviasi.

Sedangkan jika deviasinya kecil.2. Silaunya salah satu mata mengganggu proses fusi. II. II. Convergence Insufficiency: pengukuran deviasi jarak dekat lebih dari 10 prism dioptric dibandingkan dengan deviasi jarak jauh. Penderita Basic Intermittent Exotropia memiliki tonus fusi konvergen yang normal. System ini didasarkan pada konsep fusi konvergen dan divergen dan beracuan pada pengukuran dari deviasi jarak dekat dan jarak jauh: 1. pencegahan diplopia.7.8. dan kosmetik. Diplophotophobia: menutupnya salah satu mata saat melihat cahaya yang silau. Pada deviasi eksotropia intermiten. namun meningkat melebihi 10 prism dioptric setelah dilakukan oklusi monokuler selama 30-60 menit. Basic Intermittent exotropia: pengukuran deviasi jarak jauh masih dalam ukuran 10 prism dioptric deviasi jarak dekat. terapi amblyopia. tidak diperlukan terapi. 2. Jika frekuensi atau durasi fase tropi 9 . 3. sehingga salah satu mata akan ditutup untuk menghilangkan diplopia. Dalam exotropia intermiten.8 Indikasi Operasi Sama pada semua jenis strabismus. pemberian overkoreksi dengan lensa minus dapat dicoba. konvergensi akomodatif (AC/A ratio yang normal) dan konvergensi proksimal.2. Simulated or Pseudo-divergence Excess: terjadi saat penderia memiliki eksotropia yang lebih besar dibandingkan dengan deviasi jarak dekat. karena ini menunjukkan memburuknya kontrol fusional. Penatalaksanaan Pada kasus yang ringan. Klasifikasi Intermittent exotropia diklasifikasikan menjadi 4 grup menurut system klasifikasi yang ditemukan oleh Burian. salah satu indikasi penting untuk intervensi terapeutik adalah peningkatan fase tropia. Divergence Excess: dikatakan demikian apabila deviasi jarak jauh lebih dari 10 prism dioptric dari deviasi jarak dekat. 4. dapat diberikan koreksi kelainan refraksi. indikasi untuk operasi adalah maintenance atau pemulihan fungsi teropong. serta kaca mata prisma untuk mengontrol deviasi dan meringankan keluhan asthenopia.

5. durasi penyimpangan yang bermanifestasi dan kemudahan mendapatkan kembali fusi setelah disosiasi dari Cover-uncover test. bahkan dengan adanya ambliopia. Kemajuan harus dipantau dengan mendokumentasikan ukuran penyimpangan. menunjukkan kontrol fusional berkurang dan potensi kehilangan fungsi binokuler. Berkurangnya kontrol fusional secara perlahan dan meningkatnya frekuensi eksodeviasi 2. ahli bedah sering memilih operasi reses-resect unilateral sehingga menghindari operasi pada mata dengan visus yang baik. Apabila kontrol fusional memburuk maka merupakan salah satu indikasi untuk operasi. II. 2) Resesion-Resection Procedure Prosedur ini melibatkan resesi rektus lateral dengan reseksi rektus medial. besarnya resesi unilateral pada rektus lateral pada mata non-dominan mungkin efektif. Tanda Progresivitas dari Eksotropia Intermittent 1. Berkembangnya insufisiensi konvergen sekunder 3.meningkat. Pada pasien dengan unilateral amblyopia. Prognosis12. Berkembangnya supresi yang ditandai dengan hilangnya diplopia saat fase manifest. 1010 . Berkurangnya streoacuity. Hanya satu operasi yang diperlukan untuk memperbaiki deviasi pada 80-85% pasien. Eksotropia sudut besar lebih dari 50 prism dioptric biasanya membutuhkan bilateral resesi rectus lateral yang dikombinasikan dengan reseksi satu atau lebih otot rektus medial.2. Bertambahnya ukuran deviasi 4.9. Jenis Operasi 1) Lateral Rectus Recession Resesi bilateral rektus lateralis adalah modalitas bedah pilihan untuk pasien dengan true divergence excess. 3) Medial rectus Resection Reseksi Bilateral rektus medial dianggap berguna untuk pengobatan jenis insufisiensi konvergensi dari eksotropia intermittent.13 Prognosis untuk pasien dengan kondisi ini adalah bonam. Pada pasien dengan penyimpangan kecil yang hanya mencapai sekitar 16 prism dioptric.

15% pasien membutuhkan operasi kedua atau ketiga untuk mencapai kondisi ortoforia. Kegagalan mendeteksi dan menangani kasus ini dengan baik akan menyebabkan perburukan pandangan binokuler dan ambliopia. waktu penanganan dan riwayat ambliopia. 11 . Perbaikan pandangan binokuler tergantung pada usia pasien.

keluarga. Prognosis pada kasus ini umumnya baik jika tidak disertai dengan gangguan perkembangan visus. dapat dilakukan tindakan seperti koreksi kelainan refraksi. terutama pada anak-anak untuk mendapatkan binokularitas dan menghindari amblyopia. sedangkan jika deviasinya kecil. obstetrik. Resesion-Resection Procedure. Anamnesis dapat menentukan onset kejadian untuk memperkirakan adanya gangguan visus dan riwayat lain dari pasien seperti riwayat medis. Pemeriksaan fisik yang dilakukan berupa seluruh pemeriksaan rutin oftalmologi dan strabismus untuk menentukan diagnosis eksotropia intermiten. Tujuan pemeriksaan oftalmologi adalah untuk menentukan diagnosis yang tepat sehingga dapat memberikan rencana terapi yang optimal. dan pengukuran sudut deviasi. pemberian overkoreksi dengan lensa minus dapat dilakukan. dan sosial. Pemeriksaan eksotropia intermiten terbagi menjadi pemeriksaan subjektif. hanya terjadi pada beberapa saat saja. terapi amblyopia. Dikatakan eksotropia intermiten saat salah satu mata terdiaviasi keluar sedangkan mata yang lain melihat lurus. Penatalaksanaan secara garis besar terbagi menjadi 2 yaitu terapi bedah dan non-bedah. Pada deviasi eksotropia intermiten. Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik. dan Medial Rectus Resection. tidak diperlukan terapi. Pada kasus yang ringan.BAB III KESIMPULAN Eksotropia adalah salah satu bentuk dari strabismus dimana sumbu mata dari salah satu atau kedua mata mengalami deviasi keluar. serta kaca mata prisma untuk mengontrol deviasi dan meringankan keluhan asthenopia. Terdapat berbagai pilihan operasi pada eksotropia intermitten seperti berdasarkan masalah yang mendasari seperti Lateral Rectus Recession. Terapi bedah diperuntukkan bagi eksotropia intermiten yang signifikan secara klinis. 12 . Eksotropia intermiten adalah eksotropia yang tidak terjadi secara terus menerus. objektif. serta untuk mendeteksi kelainan okuler dan non-okuler lain yang mungkin berkaitan.

pg 343. alphabet patterns and oblique muscle dysfunctions. New York. Ilyas Sidarta. Incidence and types of childhood exotropia: a population-based study. Spiegel PH.2010 : hal 1213. Trans Am Acad Ophthalmol Otolaryngol. Noorden GK von. org. 18976:84. Thompson LS. Color atlas of strabismus surgery strategies and techniques. In : Wright KW. 1953 Mar-Apr. Sidarta.. 2005 Jan. Ilyas. (2006). 2000 : p 150-51.DAFTAR PUSTAKA 1. Wright KW. Griffin JR. strabismus. Ann. 6. Intermittent exotropia. a major review. Govindan M.112(1):104-8. 2. Wright KW. California. Edisi ketiga. Diehl NN. Amsterdam. 2002: p 227-29. A new classification of the motor anomalies of the eyes based upon physiological principles together with their symptoms. EyeRounds. Otolaryngol. 4. JP Lippincott company. Jakarta : Balai Penerbit FKUI 7. Jakarta. Duane A. 2006 : p 284-320. R. 1896. Exodeviations. 2010. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Brown HW. 57(2):157-62. 3. Mohney BG. 8. Springer. Ilmu Penyakit Mata. Ed 2nd. 9. 13 . Ophthalmol.5:969. Symposium. Ciuffreda KJ. Ophthalmology. vertical deviations. Handbook of Pediatric Strabismus and amblyopia. diagnosis and treatment. Burke JP. Binocular anomalies diagnosis and vision therapy. Ilmu Penyakit Mata Edisi Ketiga. 5. Grisham JD.247. In: Binocular Vision and Ocular Motility 5 th ed. Bhola. 1996 Mosby. Butterworth Heinemann.