You are on page 1of 55

SKENARIO III

Why did it move ?
A moyher and her 5 years old son came to the primary health care with a
chief complain of red and itchy on his lower leg moving from one side to the
other. This complaint have existed one months ago since he was staying in the
fruit farm for holiday in Subang. Initially, there is a red spot with little stain and
growing bigger from day to day eventhough his mother has put on some topical
drugs. From what the mother says, his son likes to play with his favourite cat.
Physical examination from the sinistra lateral inferior extremity found linier and
serpiginosa papule eritema. Some area are found pustule and vesicel.

1

SEVEN JUMP
I. KLARIFIKASI ISTILAH
1. Serpiginosa
Serpiginosa merupakan salah satu bentuk ruam yang dibagi berdasarkan
penyebaran dan lokasinya. Serpiginosa adalah proses yang menjalar ke
satu jurusan diikuti oleh penyembuhan pada bagian yang ditingglkan.
(Menaldi, 2015)
2. Papul
Papul adalah lesi yang padat dan menonjol, biasanya berdiameter kurang
dari 1 cm dan dapat disebabkan oleh hiperplasia salah satu unsur kulit
normal atau infiltrasi unsur asing.
(Burnside, 1995)
3. Topical drugs
Topical drugs merupakan salah satu bentuk obat yang sering dipakai dalam
terapi dermatologi. Obat ini terdiri dari vehikulum (bahan pembawa) dan
zat aktif.
(Burnside, 1995)
4. Linier
Linier adalah salah satu contoh morfologi UKK kulit dinilai dari
bentuknya yang berupa garis lurus memanjang.
(Siregar, 2004)

II. IDENTIFIKASI MASALAH
1. Mengapa pasien mengalami bercak merah dan berpindah tempat ?
2. Mengapa terdapat bercak merah dan gatal pada tungkai bawah pasien ?
3. Apa hubungan riwayat penyakit sekarang dengan riwayat liburan ke
kebun buah satu bulan yang lalu ?
4. Apa hubungan riwayat penyakit sekarang dengan riwayat kebiasaan yang
sering bermain dengan hewan peliharaannya ?

2

5. Mengapa keluhan tidak berkurang walaupun sudah diberikan obat topikal
oleh ibunya ?
6. Mengapa terdapat pustule dan vesicel pada area keluhan ?
7. Bagaimana interpretasi hasil pemeriksaan fisik pada skenario ?
8. Apa saja pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan yang terkait
dengan skenario ?
9. Apa saja diagnosis banding pada skenario ?

III.

ANALISIS MASALAH
1. Mengapa terdapat bercak merah dan gatal pada tungkai bawah pasien ?
Pruritus / gatal merupakan gejala penyakit kulit yang ditimbulkan
oleh proses rumit dari kerja saraf yang merespon terhadap mediator
tertentu ( histamine atau proses sinyal saraf otak)
Fisiologi jaras sensorif kulit
Ujung saraf bebas ( nosiseptor ) memiliki 2 jenis yaitu:
a. Serabut saraf A
Merupakan serabut saraf yang bermielin dan menghantarkan sinyal
saraf secara cepat, yaitu 30 m/detik. Serabut saraf A merupakan
nosiseptor

3

b. Serabut saraf C
Merupakan serabut saraf yang tidak bermielin dan memiliki 2
mekonoseptor yaitu mekanosensitif (80% tersebar di tubuh, 12
m/detik) dan mekanoinsensitif (20% tersebar di tubuh, 0,5 m/detik).
Serabut

saraf

ini

merupakan

penghantar

sinyal

lambat.

Mekanosensitif merespon semua jenis stimulus baik itu secara
mekanik ataupun kimiawi. Sedangkan mekanoinsensitif tidak
merespon stimulus mekanik namun merespon stimulus kimiawi.
Saat tersentuh zat kimia  pruriseptor aktif  timbul keinginan
untuk menggaruk  saat menggaruk  polidomal nosiseptor aktif
(bila sentuhannya secara mekanik,berupa baju baru dengan label
kasar)  pruriseptor berhenti terangsang  stimulus yang berasal
dari serabut saraf C ganglion dorsal dan menyilang pada saraf tulang
belakang ke sisi kontralateral  masuk ke jalur spinothalamus 
thalamus  korteks serebri sensori.
Gatal adalah suatu persepsi akibat terangsangnya serabut
mekanoreseptor. biasanya impuls berawal dari rangsangan permukaan
ringan, misalnya pada rambatan kutu, bahan iritan, gigitan serangga.
Sensasi gatal biasanya diikuti dengan refleks menggaruk yang bertujuan
untuk memberi sensasi nyeri yang cukup sehingga sinyal gatal pada
medula spinalis dapat ditekan. Penyebab gatal sangat beragam, antara lain
a. Reaksi alergi (hipersensitivitas tipe 1)
b. Pembentukan sistem komplemen
c. Inflamasi
d. Paparan fisik
e. Stress
f. Penyakit sistemik
g. Bahan iritan
h. Obat – obatan
Masing-masing faktor penyebab mempunyai jalur patomekanisme
yang berbeda, namun pada akhirnya semua mekanisme akan berhubungan
dengan

pengeluaran

histamin

sebagai

mediator

inflamasi

yang

menyebabkan pruritus atau gatal. Histamin dibentuk oleh sel mast
jaringan dan basofil. Pelepasannya dirangsang oleh kompleks antigenantibodi (IgE), alergi tipe I, pengaktifan komplemen (C3a, C5a), luka
bakar, inflamasi, dan beberapa obat. Histamin melalui reseptor H1 dan

4

peningkatan konsentrasi Ca2+seluler di endotel akan menyebabkan
endotel melepaskan NO, yang merupakan dilator arteri dan vena. Melalui
reseptor H2 histamin juga menyebabkan pelebaran pembuluh darah kecil
yang tidak tergantung dengan NO. Histamin meningkatkan permeabilitas
protein di kapiler. Jadi, protein plasma difiltrasi dibawah pengaruh
histamin, serta gradien tekanan onkotik yang melewati dinding kapiler
akan menurun sehingga terjadi edema.
Ketika sel mast menghasilkan histamin, ia langsung dapat
mensensitisasi ujung serabut saraf C yang berada di bagian superfisialis
kulit. Saraf C termasuk saraf tak bermielin yang juga berfungsi sebagai
reseptor rasa geli. Setelah impuls diterima oleh saraf C, impuls diteruskan
ke serabut radiks dorsalis kemudian diteruskan menuju medulla spinalis.
Pada komisura anterior medulla spinalis impuls menyilang ke kolumna
alba anterolateral sisi berlawanan. Kemudian naik ke batang otak atau
talamus untuk diinterpretasikan sebagai sensasi gatal. Sensasi ini
kemudian merangsang refleks menggaruk untuk memberikan sensasi
nyeri yang cukup untuk kemudian menekan sinyal gatal pada medulla
spinalis.
(Fitzpatrick’s, 2009)
(Djuanda, 2011)
2. Mengapa pasien mengalami bercak merah dan berpindah tempat ?
Bercak merah yang berpindah-pindah dapat disebabkan oleh
parasit atau tungau. Parasit atau tungau yang masih hidup akan terus
berjalan sehingga menyebabkan ruam yang ditimbulkan berpindahpindah.
Larva parasit menetas dalam waktu 1-2 hari kemudian akan
menjadi infektif setelah 5-10 hari. Dalam kondisi yang sesuai dapat
bertahan selama 3-4 minggu dan dapat terus menyebar.
(Menaldi, 2015)
3. Apa hubungan riwayat penyakit sekarang dengan riwayat liburan ke
kebun buah satu bulan yang lalu ?
Pasien menceritakan bahwa ia habis berlibur di perkebunan seperti
yang kita tahu bahwa perkebunan identik dengan pepohonan, tanah yang

5

b. seperti di daerah perkebunan dan pertanian turut mempengaruhi keberadaan dan distribusi parasit / cacing tersebut. dapat hidup walaupun kehilangan 70% dari air tubuhnya. Kelembaban tanah Kelembaban sangat berpengaruh terhadap aktivitas pergerakan parasit / cacing karena sebagian tubuhnya terdiri atas air berkisar 75-90 % dari berat tubuhnya. parasit / cacing akan segera masuk ke dalam tanah dan berhenti makan serta akhirnya mati. cara pengolahan tanah. intensitas cahaya dan lain sebagainya). Aktivitas hidup parasit / cacing dalam suatu ekosistem tanah dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. kadar air tanah. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi keberadaan parasit / cacing sebagai berikut: a. Disamping itu faktor lingkungan lain dan sumber bahan makanan. Meskipun demikian parasit / cacing masih mampu hidup dalam kondisi kelembaban yang kurang menguntungkan dengan cara berpindah ke tempat yang lebih sesuai atau pun diam.lebab. Kekeringan yang lama dan berkelanjutan dapat menurunkan jumlah parasit / cacing. Suhu yang ekstrim tinggi atau rendah dapat mematikan 6 . Suhu (temperatur) tanah Kehidupan hewan tanah juga ikut ditentukan oleh suhu tanah. kelembaban. Sebaliknya bila kelembaban tanah terlalu kering. seperti: iklim (curah hujan. khusunya parasit / cacing sangat ditentukan oleh faktor abiotik dan biotik. Keberadaan dan kepadatan fauna tanah. Kelembaban tanah yang terlalu tinggi atau terlalu basah dapat menyebabkan parasit / cacing berwarna pucat dan kemudian mati. nutrien (unsur hara) dan biota (vegetasi dasar dan fauna tanah lainnya) serta pemanfaatan dan pengelolaan tanah. Hewan-hewan yang dicurigai dapat menyebabkan keluhan pasien adalah cacing. Lumbricus terrestris misalnya. sifat fisik dan kimia tanah (temperatur. pH dan kadar organik tanah). dan hewan-hewan. Itulah sebabnya usaha pencegahan kehilangan air merupakan masalah bagi parasit / cacing.

Tanah yang pH-nya asam dapat mengganggu pertumbuhan dan daya berkembangbiak parasit / cacing.6. pH tanah Kemasaman tanah sangat mempengaruhi populasi dan aktivitas parasit / cacing sehingga menjadi faktor pembatas penyebaran dan spesiesnya. tetapi dengan bahan organik tanah yang tinggi mampu berkembang pada pH 3. terrestris ± 10 0C.2 karena dengan kondisi 7 . Tanah pertanian di Indonesia umumnya bermasalah karena pH-nya asam. reproduksi dan metabolisme hewan tanah.5 0C. Suhu tanah pada umumnya dapat mempengaruhi pertumbuhan. rubellus kisaran suhu optimumnya 15 – 18 0C. Di samping itu. contohnya L. reproduksi dan metabolisme.5. L. Dari penelitian yang telah dilakukan secara umum didapatkan parasit / cacing menyukai pH tanah sekitar 5.8-7. Tiap spesies hewan tanah memiliki kisaran suhu optimum. Umumnya parasit / cacing tumbuh baik pada pH sekitar 4. Oleh karena itu.6. Pengapuran berfungsi menaikkan (meningkatkan) pH tanah sampai mendekati pH netral. tanah dengan pH asam kurang mendukung percepatan proses pembusukan (fermentasi) bahan-bahan organik. Tiap spesies parasit / cacing memiliki kisaran suhu optimum tertentu. Parasit / cacing sangat sensitif terhadap keasaman tanah. karena itu pH merupakan faktor pembatas dalam menentukan jumlah spesies yang dapat hidup pada tanah tertentu.hewan tanah. karena ketersediaan bahan organik dan unsur hara (pakan) parasit / cacing relatif terbatas. c. tanah pertanian yang mendapatkan perlakuan pengapuran sering banyak dihuni parasit / cacing. Di samping itu suhu tanah pada umumnya mempengaruhi pertumbuhan. sedangkan kondisi yang sesuai untuk aktivitas parasit / cacing di permukaan tanah pada waktu malam hari ketika suhu tidak melebihi 10.

ini bakteri dalam tubuh parasit / cacing dapat bekerja optimal untuk mengadakan pembusukan. meningkatkan absorpsi kation dan juga sebagai ketersediaan unsur hara. Kadar Organik Materi organik tanah sangat menentukan kepadatan organisme tanah. Faktor makanan. Selanjutnya dijelaskan bahwa parasit / cacing lebih menyenangi daun yang tidak mengandung tanin. Pada umumnya parasit / cacing lebih menyenangi serasah herba dan kurang menyenangi serasah pohon gugur dan daun yang berbentuk jarum. hewan organisme tanah. e. meningkatkan kemampuan mengikat air. Vegetasi Pada tanah dengan vegetasi dasarnya rapat. 8 . karena fisik tanah lebih baik dan sumber makanan yang banyak ditemukan berupa serasah. Penyebaran vertikal maupun horizontal parasit / cacing sangat dipengaruhi oleh pH tanah. Bahan organik juga mempengaruhi sifat fisik-kimia tanah dan bahan organik itu merupakan sumber pakan untuk menghasilkan energi dan senyawa pembentukan tubuh parasit / cacing. parasit / cacing akan banyak ditemukan. Materi organik mempunyai pengaruh besar pada sifat tanah karena dapat menyebabkan tanah menjadi gembur. baik jenis maupun kuantitas vegetasi yang tersedia di suatu habitat sangat menentukan keanekaragaman spesies dan kerapatan populasi parasit / cacing di habitat tersebut. Selanjutnya materi organik dalam tanah tidaklah statis tetapi selalu ada perubahan dengan penambahan sisa-sisa tumbuhan tingkat tinggi dan penguraian materi organik oleh jasad pengurai. baik yang telah terdekomposisi maupun yang sedang terdekomposisi. d. Bahan organik tanah sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan populasi parasit / cacing karena bahan organik yang terdapat di tanah sangat diperlukan untuk melanjutkan kehidupannya. Materi organik tanah merupakan sisa-sisa tumbuhan.

Apa hubungan riwayat penyakit sekarang dengan riwayat kebiasaan yang sering bermain dengan hewan peliharaannya ? Tumpukan kotoran dari hewan yang menjadi inang bisa mengandung telur cacing tambang. dan pada akhirnya menghasilkan telur. Sedangkan N. stercoralis menggunakan manusia sebagai inang utama. Mengapa keluhan tidak berkurang walaupun sudah diberikan obat topikal oleh ibunya ? Obat topikal memiliki banyak jenis. Tidak seperti pada inang hewan. antara lain obat topikal antifungi. dan bisa membuat siklus baru lagi. Kemungkinan obat topikal yang diberikan kepada pasien tidak sesuai dengan penyebab dari keluhan pasien sehingga keluhan pasien tidak berkurang setelah penggunaan obat topikal tersebut. Pada inang hewan. larva menembus dermis dan menuju sistem vena serta limfatik. antibiotik dan lain-lain. membuat larva bisa menuju ke paru. 2004) 5. yang kemudian dikeluarkan bersama dengan kotoran/tinja. 2009) 4. americanus. sehingga membatasi larva migrans hanya berada di lapisan luar saja (kutan). (Menaldi. (Siregar. Pada skenario kali ini tidak dijelaskan jenis obat topikal yang diberikan kepada pasien. larva tidak bisa menembus keseluruhan lapisan kulit (dermis) pada manusia. Maka siklus ini menjadi penuh. retakan kulit yang kecil. duodenale dan S. atau bahkan kulit yang utuh. Larva yang kontak dengan kulit manusia bisa memasuki akar/folikel rambut. maka parasit ini bisa membuat siklus penuh lewat manusia dan jarang menyebabkan larva migrans. Dan kemudian menetas pada tanah berpasir yang hangat dan lembap. A.(Fitzpatrick’s. Migrasi ke trakea bisa membuat larva ditelan oleh hewan inang. 2015) 9 . antiviral. Larva dimungkinkan mengalami pendewasaan di usus. Larva kemudian berpindah ke bawah kulit.

(Gambar 1.  merupakan reaksi inflamasi serta respon tubuh terhadap infestasi mikroorganisme.6. kucing atau babi). Bagaimana interpretasi hasil pemeriksaan fisik pada skenario ? Keluhan utama: gatal kemerahn 1 bulan lalu dan terasa ada yang berpindah-pindah dari satu sisi ke sisi lain tubuh. Larva ini tinggal di kulit berjalan-jalan tanpa tujuan sepanjang dermoepidermal. akan timbul gejala di kulit. tapi infeksi nya hanya terbatas pada epidermis karena tidak memiliki enzym collagenase yang dibutuhkan untuk penetrasi kebagian kulit yang lebih dalam. fissura atau menembus kulit utuh menggunakan enzim protease. Larva ini mampu menembus dermis dan melengkapi siklus hidupnya dengan berkembang biak di organ dalam. Sedangkan pada manusia. yaitu Ancylostoma braziliense dan Ancylostoma caninum. Reaksi yang timbul pada kulit. 2011) 7. Mengapa terdapat pustule dan vesicel pada area keluhan ? Penyebab utama adalah larva yang berasal dari cacing tambang binatang anjing dan kucing. Nematoda tersebut hidup pada hospes (anjing. larva memasuki kulit melalui folikel. setelah beberapa jam atau hari. Creeping eruption (Djuanda. Sensasi sesuatu berrgerak di kulit merupakan adanya parasit berupa larva cacing hookworm (Ancylostoma) yang terjebak di lapisan dermoepidermal kulit pasien. bukan diakibatkan oleh parasit. 10 . ovum terdapat pada kotoran binatang dan karena kelembapan berubah menjadi larva yang mempu mengadakan penetrasi kekulit.1 Creepin Gambar 1. Pada hewan. tetapi disebabkan oleh reaksi inflammasi dan alergi oleh sistem immun terhadap larva dan produknya. 7.

Apa saja pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan yang terkait dengan skenario ?  Pemeriksaan laboratorium kemungkinan akan didapatkan peningkatan eosinofil perifer pada hitung jenis leukosit serta peningkatan immunoglobulin E (IgE). Distribusi : ditempat terekspos. misalnya pada kaki. Riwayat obat : tidak respon  obat yang diberikan oleh ibu pasien tidak tepat sasaran berdasarkan keluhan pasien. gluteus. Linear  ada c. 11 . anus. Berdasarkan manifestasi klinis : 1. Serpiginosa  ada b. Terowongan. tungkai bawah. Eritema  ada 5. Timbul papul dengan bentuk linear berkelok  larva tersebut melakukan migrasi 2-3 mm/hari dan dari hasil migrasi tersebut meninggalkan noda khas dan dari situ akan tampak eritema/kemerahan. serpiginosa dan membentuk terowongan  bila lebih dari 5 hari. sehingga tidak memiliki efek apapun ( bukan obat antihelminths) Riwayat Kebiasaan : memegang dan bermain dengan hewan peliharaan berupa kucing  kucing merupakan salah satu zoonis dari parasit jenis CLM dikarenakan kucing yang melakukan defekasi di tanah kemudian menggaruk” tanah tersebut dengan kakinya dan akhirnya larva dari CLM hinggap disana.Riwayat dahulu : pergi ke kebuh buah 1 bulan lalu  ini merupakan kawasan lembab dan gembur sehingga disini adalah tempat terbaik bagi perkembangbiakan cacing tambang. tangan  berdasarkan kasus tempat distribusinya ada di tungkai bawah lateral kiri. merupakan tahap perkembangan penyakit selanjutnya. 2011) 8. Biasanya disertai rasa gatal hebat di malam hari. (Djuanda. 3. 4. setelah itu kucing tersebut berkontak dengan pasien. Lesi kulit khas yang ada di CLM dan sesuai kasus diatas : a. lebar 2-3 mm dan mengandung cairan serosa meninggi  ada d. Gatal  tempat larva penetrasi 2. Papul merah yang menjalar seperti benang merah berkelok dan polisiklik.

Dermatitis insect bite (Siregar. Scabies d. Dermatofitosis e. (Jusych. SISTEMATIKA MASALAH (BAGAN) 12 . kemudian dengan pewarnaan periodic acid-Schiff positive akan didapatkan larva pada terowongan di suprabasal. Granuloma anulare c. Pemeriksaan biopsi kulit beberapa sentimeter dari jalur awal. 2004) IV. Cutaneous larva migrans/creeping eruption b. 2012) 9. Apa saja diagnosis banding pada skenario ? Differential diagnosis pada skenario kali ini antara lain : a.

komplikasi. patogenesis. TUJUAN PEMBELAJARAN (LO) 1. dan penatalaksanaan dari dermatofitosis. etiologi. 4. komplikasi. patogenesis. Mahasiswa mampu menjelaskan definisi. 13 . etiologi. komplikasi. komplikasi. patogenesis. dan penatalaksanaan dari cutaneus larva migrane. dan penatalaksanaan dari granuloma annuler. etiologi. patogenesis. etiologi.V. Mahasiswa mampu menjelaskan definisi. Mahasiswa mampu menjelaskan definisi. 2. dan penatalaksanaan dari scabies. Mahasiswa mampu menjelaskan definisi. 3.

VI. dan penatalaksanaan dari dermatitis insect bite. prevalensi infeksi cacing tambang - berkisar 30-50% Prevalensi yang lebih tinggi ditemukan di daerah perkebunan 14 . patogenesis. MENGUMPULKAN INFORMASI DAN BELAJAR MANDIRI VII. etiologi.68% A. BERBAGI INFORMASI 1. Definisi Cutaneous larva migrans (CLM) merupakan kelainan kulit yang merupakan peradangan yang berbentuk linear atau berkelok-kelok. yaitu Ancylostoma braziliense. etiologi. komplikasi. dan penatalaksanaan dari cutaneus larva migrans. disebabkan oleh invasi cacing tambang yang berasal dari kucing dan anjing.braziliense.5. patogenesis. komplikasi. Mahasiswa mampu menjelaskan definisi. menimbul dan progresif. Ancylostoma caninum.caninum Sering daerah iklim hangat dan lembab (Sub tropis & Tropis) Larvanya banyak ditemukan di pantai berpasir Di berbagai daerah di Indonesia.braziliense anjing = - 18% A. dan Ancylostoma ceylanicum Epidemiologi - Distribusi Geografik di Jakarta : kucing = 72% A. Mahasiswa mampu menjelaskan definisi.

Morfologi Ancylostoma caninum mempunyai tiga pasang. Cacing betina dapat mengeluarkan telur 4. caninum. Gigi sebelah lateral lebih besar.000 butir setiap. sedangkan gigi sebelah medial sangat kecil. Panjang cacing jantan dewasa Ancylostoma caninum berukuran 11-13 mm dengan bursa kopulatriks dan cacing betina dewasa berukuran 14-21 mm. pada Ancylostoma braziliense juga terdapat sepasang gigi segitiga di dasar bukal kapsul. tetapi kapsul bukalnya memanjang dan berisi dua pasang gigi sentral. Cacing betina meletakkan rata-rata 16. ceylanicum terdapat terdapat dua pasang gigi yang tidak sama besarnya 15 . Cacing betina berukuran 6-9 mm dan cacing jantan berukuran 5-8 mm. karet akan terus menerus terpapar sumber kontaminasi Etiologi Penyebab utama adalah larva yang berasal dari cacing tambang yang hidup di usus anjing atau kucing.- Tingginya prevalensi juga dipengaruhi oleh jenis pekerjaan. Morfologi Ancylostoma ceylanicum juga hampir sama dengan A.000 telur setiap harinya. a. Morfologi Ancylostoma braziliense mirip dengan Ancylostoma caninum. Sebagai contoh kelompok karyawan yang mengolah tanah di perkebunan teh. braziliense dan A. Selain itu. hanya saja pada rongga mulut A. yaitu Ancylostoma caninum dan Ancylostoma braziliense serta Ancylostoma caninum yang dapat ditemukan di daerah tropis dan subtropics juga ditemukan di Indonesia.

Gambar 2. Bagian kepala Ancylostoma caninum 16 .

Pada kontak dengan pejamu hewan (anjing dan kucing).Gambar 3. Pada sebagian besar spesies. Cacing dewasa hidup dalam lumen usus kecil dan menempel di dinding usus. Larva rabditiform tumbuh di tinja dan/atau tanah. Beberapa larva ditemukan di jaringan dan menjadi sumber infeksi bagi anak anjing melalui transmammary atau transplasenta. Larva filariform (larva stadium tiga) cacing tambang b. larva menetas dalam 1-2 hari. 17 . larva tidak dapat berkembang lebih lanjut di tubuh manusia dan bermigrasi tanpa tujuan di epidermis. Larva kemudian 10 menembus alveoli. Manusia juga dapat terinfeksi dengan caralarva filariform menembus kulit. dan tempat yang teduh). Siklus Hidup Telur keluar bersama tinja pada kondisi yang menguntungkan (lembab. larva menembus kulit dan dibawa melalui pembuluh darah menuju jantung dan paru-paru. Larva mencapai usus kecil. Larva infektif ini dapat bertahan selama 3 sampai 4 minggu di kondisi lingkungan yang sesuai. hangat. Beberapa larva dapat bertahan pada jaringan yang lebih dalam setelah bermigrasi di kulit. Setelah itu. kemudian tinggal dan tumbuh menjadi dewasa. dan menjadi larva filariform (larva stadium tiga) yang infektif setelah 5 sampai 10 hari. naik ke bronkiolus menuju ke faring dan tertelan.

kebiasaan wisatawan untuk berjalan di pesisir pantai tanpa menggunakan sandal dan berjemur di pasir tanpa menggunakan alas menyebabkan banyaknya laporan kejadian CLM dari wisatawan yang baru berlibur ke pantai. Selain itu. Siklus Hidup Cacing Tambang Faktor Resiko 1. 2. Faktor lingkungan Adapun faktor lingkungan yang mempengaruhi kejadian CLM antara lain: 18 . Faktor perilaku Adapun faktor perilaku yang mempengaruhi kejadian CLM antara lain: a. Berlibur ke daerah tropis atau pesisir pantai Kondisi biogeografis yang hangat dan lembab menyebabkan banyak terdapat larva penyebab penyakit ini di daerah tropis. Perawatan rutin anjing dan kucing. termasuk de-worming secara teratur dapat mengurangi pencemaran lingkungan oleh telur dan larva cacing tambang c. Sebuah penelitian pada wisatawan international yang baru meninggalkan Brazil bagian Timur Laut di bandara menunjukkan bahwa semua wisatawan yang menderita CLM telah mengunjungi pantai selama liburannya. Pengobatan teratur terhadap anjing dan kucing Penyebab utama CLM adalah larva cacing tambang yang berasal dari anjing dan kucing.Gambar 4. Kebiasaan tidak menggunakan alas kaki Adanya bagian tubuh yang berkontak langsung dengan tanah yang terkontaminasi akan mengakibatkan larva dapat melakukan penetrasi ke kulit sehingga menyebabkan CLM b.

Larva filariform inilah yang akan melakukan penetrasi ke kulit dan menyebabkan CLM 3. telur akan menetas menjadi larva rabditiform dan kemudian menjadi larva filariform yang infektif. Larva filariform dari cacing tersebut apabila kontak dengan kulit manusia. Telur dan larva bertahan lebih lama di tanah yang basah dibandingkan di tanah yang kering dan dapat tersebar secara luas oleh hujan yang deras. Ancylostoma ceylanicum dan Ancylostoma caninum. dan Ancylostoma caninum dikeluarkan bersama tinja anjing dan kucing. iklim yang lembab juga mengakibatkan peningkatan infeksi cacing tambang di anjing dan kucing sehingga pada akhirnya meningkatkan jumlah tinja yang terkontaminasi dan risiko infeksi pada manusia c. dapat menembus kulit dan menyebabkan CLM b.a. Ancylostoma ceylanicum. Pada keadaan lingkungan yang lembab dan hangat. Selain itu. Cuaca atau iklim lingkungan Ada variasi musiman yang berbeda pada kejadian CLM. Telur tersebut dapat berkembang menjadi stadium larva yang infektif (filariform) pada tanah dan pasir yang terkontaminasi. Faktor demografis Adapun faktor demografis yang mempengaruhi kejadian CLM antara lain: a. dan Ancylostoma caninum. Ancylostoma ceylanicum. Hal ini disebabkan karena anak pada usia tersebut masih jarang menggunakan alas kaki saat keluar rumah. Usia CLM paling sering terkena pada anak berusia ≤4 tahun. Tinggal di daerah dengan keadaan pasir atau tanah yang lembab Telur Ancylostoma braziliense. dengan puncak kejadian selama musim hujan. Pada penelitian tersebut juga didapatkan bahwa usia merupakan faktor 19 . Tinja anjing dan kucing yang terinfeksi dapat mengandung telur cacing Ancylostoma braziliense. Keberadaan anjing dan kucing Anjing dan kucing merupakan hospes definitif dari cacing Ancylostoma braziliense.

didapati 34 dari 760 (4.5%) orang menderita CLM Gejala Klinis Pada saat larva masuk ke kulit biasanya disertai rasa gatal dan panas di tempat larva melakukan penetrasi. Mula-mula akan timbul papul. serpiginosa. Adanya lesi papul yang eritematosa ini menunjukkan bahwa larva tersebut telah berada di kulit selama beberapa jam atau hari. papul merah ini menjalar seperti benang berkelok-kelok. kemudian diikuti bentuk yang khas. menimbul. penambang pasir dan pekerjaan lain yang sering kontak dengan tanah atau pasir c. lesi-lesi ini akan lebih sulit untuk diidentifikasi. yakni lesi berbentuk linear atau berkelok-kelok. dan membentuk terowongan (burrow). lesi berpindah ataupun bertambah beberapa milimeter perhari dengan lebar sekitar 3 milimeter. Tingkat pendidikan Suatu penelitian tentang prevalensi dan faktor risiko CLM di Brazil menunjukkan. didapati 23 dari 354 (6. tukang kebun. Pada stadium yang lebih lanjut. pemburu. Umumnya. mencapai panjang beberapa sentimeter. Pekerjaan yang memiliki risiko teinfeksi larva penyebab CLM diantaranya petani. Perkembangan selanjutnya.demografis yang hubungannya paling signifikan dengan kejadian CLM (p<0. jika digaruk dapat menimbulkan infeksi sekunder. sedangkan pada penduduk dengan tingkat pendidikan tinggi.0001) b. hanya ditandai dengan rasa gatal dan nodul-nodul. 20 . Pekerjaan Larva infektif penyebab CLM terdapat pada tanah atau pasir yang lembab.5%) penduduk dengan tingkat pendidikan rendah menderita CLM. dan berwarna kemerahan. Orang yang pekerjaannya sering kontak dengan tanah atau pasir tersebut dapat meningkatkan risiko terinfeksi larva CLM. dari 1114 penduduk pedesaan. nelayan. menimbul dengan diameter 2-3 mm. Lesi tidak hanya berada di tempat penetrasi. polisiklik. Hal ini disebabkan larva dapat bergerak secara bebas sepanjang waktu. Rasa gatal yang timbul terutama terasa pada malam hari.

tergantung pada tingkat keparahan infeksi. infiltrat pulmonar migratori. dan paha (Aisah. CLM biasanya ditemukan pada bagian tubuh yang berkontak langsung dengan tanah atau pasir. Prosedur invasif jarang digunakan untuk mengindentifikasi parasit pada CLM. berjalan tanpa alas kaki di pantai atau aktivitas lainnya di daerah tropis. Lesi berbentuk linear atau berkelokkelok mulai muncul 5 hari setelah infeksi. namun tidak spesifik. Beberapa jam kemudian. gejala yang muncul antara lain eosinofilia perifer (sindroma Loeffler). Pada infeksi percobaan dengan 50 larva. Tempat predileksi antara lain di tungkai. yang kemudian akan menjadi vesikel yang sangat gatal setelah 24 jam. biopsi tidak diperlukan.Pada CLM. bokong. Gambaran Klinis CLM Penegakkan Diagnosis Diagnosis CLM ditegakkan berdasarkan gejala klinisnya yang khas dan disertai dengan riwayat berjemur. didapati gejala mulai muncul beberapa menit setelah tusukan. plantar. Papul-papul kemudian bergabung membentuk erupsi eritematopapular. dapat dijumpai lesi tunggal atau lesi multipel. bercak awal mulai digantikan oleh papul kemerahan. Pada kondisi sistemik. dan peningkatan kadar imunoglobulin E. 2008). Hal ini disebabkan karena ujung anterior lesi tidak selalu menunjukkan tempat dimana larva berada. Gambar 5. tangan. namun kondisi ini jarang ditemui. Dalam sebuah 21 . diikuti dengan munculnya papulpapul setelah 10 menit. eosinofilia mungkin ditemukan. Pada pemeriksaan lab. anus.

albendazol dengan regimen tiga hari biasanya lebih direkomendasikan. Penatalaksanaan Dosis tunggal ivermectin lebih efektif daripada dosis tunggal albendazol. Penggunaan secara topikal didapati tidak memiliki efek samping. Namun. Karena penggunaan ivermectin dan albendazol secara oral menunjukkan hasil yang baik. dan keram usus. Oral albendazol (400 mg setiap hari) yang diberikan selama 5-7 hari menunjukkan tingkat kesembuhan yang sangat baik. tetapi ini termasuk komplikasi yang jarang terjadi. mikroskop epiluminesens telah digunakan untuk memvisualisasikan pergerakan larva. Sekarang ini. namun sensitivitas metode ini belum diketahui. 22 . mual muntah. peningkatan kadar eosinofil dapat mengindikasikan perpindahan larva cacing ke visceral. Tiabendazol (50 mg per kg berat badan selama 2-4 hari) telah digunakan secara luas sejak laporan mengenai efikasinya pada tahun 1963. Karena dosis tunggal albendazol memiliki efikasi yang rendah. Selain itu. tetapi memerlukan kepatuhan pasien yang baik. penggunaan tiabendazol secara oral tidak direkomendasikan. tetapi pengobatan berulang dengan albendazol dapat dilakukan sebagai alternatif yang baik di negara-negara dimana ivermectin tidak tersedia. dapat dilakukan pendekatan alternatif dengan dosis awal albendazol dan mengulangi pengobatan. tiabendazol yang diberikan secara oral memiliki toleransi yang buruk. dengan angka kesembuhan mencapai 92-100%. CLM yang disebabkan oleh Ancylostoma caninum dapat dideteksi dengan ELISA (Enzyme-linked immunosorbent assay). Namun. Jika diperlukan. penggunaan tiabendazol secara oral sering menimbul efek samping berupa pusing. Penggunaan tiabendazol secara topikal pada lesi dengan konsentrasi 1015% tiga kali sehari selama 5-7 hari terbukti memiliki efektivitas yang sama dengan pengguaan ivermectin secara oral.penelitian di Jerman pada wisatawan dengan CLM. hanya pada 8 (20%) dari 40 orang didapatkan eosinofilia.

Infeksi sekunder harus ditangani dengan antiobiotik topikal. tetapi pengobatan farmakologi dapat memperpendek perjalanan penyakit. (Djuanda. ketiga cara tersebut sulit karena sulit untuk mengetahui secara pasti dimana larva berada. terutama untuk anak-anak. Cara terapi lain ialah dengan cryotherapy yakni menggunakan CO2 snow (dry ice) dengan penekanan selama 45 detik sampai 1 menit. Pada akhirnya. Selain itu. Ivermectin dan albendazol adalah gabungan yang menjanjikan untuk penggunaan topikal. 2011) 23 . cara ini dapat menimbulkan nyeri dan ulkus. Pengobatan dengan cara ini sudah lama ditinggalkan. Di samping itu. namun data efikasi untuk penggunaan ini masih terbatas. Hal ini disebabkan karena larva tidak dapat menyelesaikan siklus hidupnya padmanusia Lesi tanpa komplikasi yang tidak diobati akan sembuh dalam 4-8 minggu.Tiabendazol topikal terbatas pada lesi multipel yang luas dan tidak dapat digunakan pada folikulitis. Akan tetapi. larva akan mati di epidermis setelah beberapa minggu atau bulan. dapat juga dilakukan dengan menggunakan nitrogen liquid dan penyemprotan kloretil sepanjang lesi. dua hari berturutturut. Pencegahan Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah kejadian CLM antara lain:  Mencegah bagian tubuh untuk berkontak langsung dengan tanah atau   pasir yang terkontaminasi Saat menjemur pastikan handuk atau pakaian tidak menyentuh tanah Melakukan pengobatan secara teratur terhadap anjing dan kucing  dengan antihelmintik Hewan dilarang untuk berada di wilayah pantai ataupun taman  bermain Menutup lubang-lubang pasir dengan plastik dan mencegah binatang  untuk defekasi di lubang tersebut Wisatawan disarankan untuk menggunakan alas kaki saat berjalan di pantai dan menggunakan kursi saat berjemur Prognosis CLM termasuk ke dalam golongan penyakit self-limiting.

Etiologi Tungau Sarcoptes scabiei varian hominis. merupakan parasit obligat. merupakan arthropoda dari ordo acarina. sedangkan pada skabies krusta dapat mencapai ratusan hingga jutaan. komplikasi. 2015) (Natadisastra. Tungau skabies betina yang gravid 24 . Gambar 6. etiologi. Tungau yang menginfestasi kulit merupakan tungau betina. di mana siklus hidup sepenuhnya terjadi di tubuh manusia. jumlah tungau betina yang menginfeksi manusia sekitar 5 hingga 15 tungau pada skabies klasik. 2005) 2. disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei varian hominis. dan penatalaksanaan dari scabies. 2011) (Greer. dengan proses maturasi kurang lebih membutuhkan waktu 15 hari. Mahasiswa mampu menjelaskan definisi. 2015) (Minulwih. Larva menetas dari telur dalam waktu 2 hingga 3 hari.(Dorland. Definisi Skabies adalah infeksi parasit yang sering terjadi. patogenesis.

Gambar 7. Skabies krusta 25 . Skabies krusta Gambar 8.

Periode inkubasi sebelum munculnya gejala adalah sekitar 3 hingga 6 minggu pada infestasi primer.Gambar 9. sedangkan pada re-infestasi lebih pendek. yaitu sekitar 3 hari. Gambar 10. Skabies noduler Erupsi kulit pada skabies klasik merupakan akibat dari infestasi dan reaksi hipersensitivitas terhadap tungau. Erupsi stratum korneum kulit karena skabies 26 .

Gambar 11. Lesi skabies di kaki. Lesi skabies pada kulit. Sarcoptes scabiei dewasa pada gambaran histopatologi Gambar 12. tampak kanalikuli (liang di kulit) Gambar 13. 27 .

sosioekonomi rendah. semua ras. ssering pada wanita dan anak-anak. hanya dapat merangkak dengan kecepatan 2. semua umur. 28 . Distal liang atau kanalikuli berisi Sarcoptes scabiei Epidemiologi Prevalensi dunia menunjukkan 300 juta kasus pertahunnya. dan host yang imunocompromised.5 cm permenit pada kulit yang hangat. dan seluruh tingkat ekonomi. Keparahan penularan penyakit ini hingga timbulnya komplikasi skabies dipengaruhi oelh beberapa risiko diantaranya institusi seperti rumah sakit. Data epidemiologi Amerika Serikat menunjukkan prevalensi meningkat di area urban. serta tetap dapat menginfestasi dan membuat liang di epidermis kulit. serta sering menjangkit saat musim dingin.Gambar 14. Dapat menyerang di segala jenis kelamin. Transmisi Skabies Tungau tidak dapat terbang. Mereka dapat bertahan selama 24-36 jam di temperatur ruangan dan kelembapan rata-rata.

bantal. pemeriksaan fisik. genitalia. terutama hubungan sesama jenis dan berganti-ganti pasangan. di mana ditemukan adanya riwayat keluarga atau kontak dengan penderita skabies. siku. pantat. seperti melalui tempat tidur. dan pakaian. disertai manifestasi klinik berupa gatal yang luar biasa terutama di malam hari. Liang ataun kanal yang dibentuk oleh Sarcoptes scabiei dan nodul merupakan tanda khas skabies. Diagnosis Diagnosis dapat ditegakkan melaui anamnesis. Pruritus inflamatorik dapat ditemukan di manapun. juga dapat ditularkan melalui kontak seksual. baik secara langsung antarkulit maupun secara tidak langsung. dan pemeriksaan penunjang. axilla. Siklus Sarcoptes scabiei Semakin banyak parasit pada seseorang. Penularan sering melalui antar anggota keluarga dan institusi tertentu. permukaan flexor pergelangan tangan. dan mammae pada perempuan. 29 . Beberapa predileksi skabies diantaranya pada sela jari tangan. maka kemampuan menularkan skabies juga lebih besar.Gambar hidup 15. Selain itu.

diagnosis dapat ditegakkan dengan adanya gatal yang menyeluruh atau menyebar. larva. Cara diagnosis ini memiliki sensitivitas 100% dan spesifisitas 97% untuk menegakkan diagnosis skabies. Gambar 17. dan adanya riwaayat anggota keluarga yang juga mengeluhkan gatal. Hasil positif apabila tampak tungau.Gambar 16. 30 . yaitu: 1. telur. di tutup dengan gelas penutup. yaitu 13%. kemudian dikerok dengan menggunakan scalpel steril untuk mengangkat atap papul atau terowongan. Pemeriksaan Penunjang Skabies Diagnosis pasti ditegakkan dengan ditemukannya tungau pada pemeriksaan mikroskopis yang dapat dilakukan dengan berbagai cara. Minyak mineral diteteskan di atas papul atau terowongan baru yang masih utuh. Lesi inflamatorik yang ditimbulkan oleh Sarcoptes scabiei yang menandakan adanya liang. dan lesi yang dapat dilihat minimal di dua tempat predileksi skabies. Menurut laporan di daerah sub-Sahara di mana terjadi prevalensi skabies yang tinggi. lalu diletakkan di atas gelas objek. Kerokan kulit. dan diperiksa di bawah mikroskop. Lesi sekunder pada penderita skabies.

 Cara pemakaian: sangat sederhana. Kuretasi terowongan. dengan kadar 4-20% dalam bentuk salep atau krim. Tes ini mudah sehingga dapat dikerjakan pada bayi/anak dan pasien nonkooperatif. kemudian segera dihapus dengan alkohol. Papul skabies dilapisi dengan tinta pena. Jejak terowongan akan tampak sebagai garis yang karakteristik berbelok-belok karena adanya tinta yang masuk. anak-anak dan pasien nonkooperatif.16 yang dilakukan sejajar dengan permukaan kulit. 4. lalu kerokan diperiksa dibawah mikroskop setelah ditetesi minyak mineral. Tungau akan memegang ujung jarum dan dapat diangkat keluar. 3. Belerang endap (sulfur presipitatum). atau skibala. Mengambil tungau dengan jarum. 5. 2. Jarum dimasukkan ke dalam terowongan pada bagian yang gelap. 31 . Spesimen kemudian diletakkan pada gelas objek. Kuretasi superficial sepanjang sumbu terowongan atau pada puncak papul. lalu digerakkan secara tangensial. lalu dengan hati-hati diiris pada puncak lesi dengan scalpel no. Epidermal shave biopsi.nimfa. Cara ini dilakukan pada bayi. Sulfur adalah antiskabietik tertua yang telah lama digunakan. Dapat dipakai pada bayi berumur kurang dari 2 tahun. yakni mengoleskan salep setelah mandi ke seluruh kulit tubuh selama 24 jam selama tiga hari berturut-turut. Penatalaksanaan Skabies Obat-obat anti skabies yang tersedia dalam bentuk topikal antara lain: 1. lalu ditetesi minyak mineral dan periksa di bawah mikroskop. Pemeriksaan harus dilakukan dengan hati-hati pada bayi dan anak-anak atau pasien yang tidak kooperatif. Biopsi dilakukan sangat superficial sehingga tidak terjadi perdarahan dan tidak memerlukan anestesi. Mencari terowongan atau papul yang dicurigai pada sela jari antara ibu jari dan jari telunjuk. Tes tinta Burrow.

dan selaput lendir kemudian keseluruh bagian tubuh tungau dengan konsentrasi tinggi pada jaringan yang kaya lipid dan kulit yang menyebabkan eksitasi. Keuntungan: harganya yang murah dan mungkin merupakan satu-satunya pilihan di negara yang membutuhkan terapi massal. Setelah pemakaian dicuci bersih 32 . Gama benzena heksa klorida (gammexane. Penggunaan berulang dapat menyebabkan dermatitis alergi. Secara umum sulfur bersifat aman bila digunakan oleh anakanak. dosis dapat dikurangi menjadi 12. adalah sebuah insektisida yang bekerja pada sistem saraf pusat (SSP) tungau. Emulsi benzil-benzoat (20-25%)  Cara kerja: Benzil benzoat bersifat neurotoksik pada tungau skabies. lotion.  Kerugian/Efek samping: pemakaian obat ini adalah bau tidak enak. mewarnai pakaian dan kadang-kadang menimbulkan iritasi. Cara pemakaian: Lindane tersedia dalam bentuk krim.5% pada bayi. mukosa usus. wanita hamil dan menyusui serta efektif dalam konsentrasi 2.  Lindane dimetabolisme dan diekskresikan melalui urin dan feses. karena itu penderita harus diingatkan untuk tidak menggunakan secara berlebihan.5%. gel. Efek samping: dapat menyebabkan dermatitis iritan pada wajah dan skrotum. tidak berbau dan tidak berwarna. 3. Terapi ini dikontraindikasikan pada wanita hamil dan menyusui. bayi. Benzil benzoate sangat efektif bila digunakan dengan baik dan teratur dan secara kosmetik bisa  diterima. Bila kontak dengan jaringan hidup. konvulsi. Lindane diserap masuk ke mukosa paru-paru. Lindane)  Cara Kerja: Lindane juga dikenal sebagai hexaklorida gamma benzena.  Cara pemakaian: Digunakan sebagai 25% emulsi dengan periode kontak 24 jam dan pada usia dewasa muda atau anak-anak. dan anak-anak kurang dari 2 tahun. dan kematian tungau. Tapi benzil benzoate lebih efektif dalam pengelolaan resistant crusted scabies. Pemakaian secara tunggal dengan mengoleskan ke seluruh tubuh dari leher ke bawah selama 12-24 jam dalam bentuk 1% krim atau lotion. preparat ini akan membentuk hydrogen sulfide dan pentathionic acid (CH2S5O6) yang bersifat germicid dan fungicid. 2.

Beberapa bukti menunjukkan lindane dapat mempengaruhi perjalanan fisiologis kelainan darah seperti anemia aplastik. Tanda-tanda klinis toksisitas SSP setelah keracunan lindane yaitu sakit kepala.  Cara pemakaian: Hasil terbaik telah diperoleh bila diaplikasikan dua kali sehari selama lima hari berturut-turut setelah mandi dan mengganti pakaian dari leher ke bawah selama 2 malam kemudian  dicuci setelah aplikasi kedua. Efek samping: Efek samping lindane antara lain menyebabkan toksisitas SSP. trombositopenia. bayi dan anak kecil. Beberapa penelitian menunjukkan penggunaan Lindane selama 6 jam sudah efektif. berkedut dari kelopak mata. Krotamiton 10% dalam krim atau losion. kelemahan. kegagalan pernapasan. Efek samping: berupa iritasi bila digunakan jangka panjang. mual. Hal ini untuk memusnahkan larva-larva yang menetas dan tidak musnah oleh pengobatan sebelumnya.Beberapa ahli beranggapan bahwa Krotamiton krim ini tidak memiliki efektivitas yang tinggi terhadap skabies. Permetrin dengan kadar 5%  Cara kerja: Merupakan sintesa dari pyrethroid dan bekerja dengan cara mengganggu polarisasi dinding sel saraf parasit yaitu melalui ikatan dengan natrium. Hal ini memperlambat repolarisasi dinding sel dan akhirnya terjadi paralise parasit. Obat ini merupakan pilihan pertama dalam pengobatan scabies karena efek toksisitasnya terhadap mamalia sangat rendah dan kecenderungan keracunan 33 . pusing. gelisah. dan pancytopenia. dan bahkan kematian pada anak atau bayi walaupun jarang terjadi. Krotamiton 10% Krotamion (crotonyl-N-etil-o-toluidin) digunakan sebagai krim 10% atau lotion. Dianjurkan untuk tidak mengulangi pengobatan dalam 7 hari. kejang. 5. Tingkat keberhasilan bervariasi antara 50% dan 70%.dan dapat diaplikasikan lagi setelah 1 minggu. 4. dan kematian. kejang. tidak mempunyai efek sistemik dan aman digunakan pada wanita hamil. muntah. disorientasi. koma. tremor. serta tidak menggunakan  konsentrasi lain selain 1%.

handuk dan pakaian yang digunakan dalam 5 hari terakhir. namun mungkin hal tersebut dikarenakan kulit yang sebelumnya memang sensitive dan terekskoriasi. Keduanya mendominasi gambaran klinik yang ada. Selain itu untuk mencegah terjadinya reinfeksi melalui seprei. orangorang yang kontak langsung atau dekat dengan penderita harus diterapi dengan topikal skabisid.akibat kesalahan dalam penggunaannya sangat kecil. Efek samping: jarang ditemukan. harus dicuci bersih dan dikeringkan dengan udara panas karena tungau scabies dapat hidup hingga 3 hari diluar kulit. Cara pemakaian: Permethrin tersedia dalam bentuk krim 5%. skuama. Permethrin jarang diberikan pada bayi-bayi yang berumur kurang dari 2 bulan. Erosi merupakan tanda yang paling sering muncul pada lesi sekunder. supurasi. Komplikasi Infeksi sekunder pada pasien skabies merupakan akibat dari infeksi bakteri atau karena garukan. dan ulkus. berupa rasa terbakar. dan juga melalui urin. Belum pernah dilaporkan  resistensi setelah penggunaan obat ini. bantal. Infeksi sekunder dapat ditandai dengan munculnya pustul. karpet dan kain pelapis lainnya sehingga harus dibersihkan (vacuum cleaner). Pencegahan Untuk melakukan pencegahan terhadap penularan scabies. Hal ini disebabkan karena hanya sedikit yang terabsorpsi di kulit dan cepat dimetabolisme yang kemudian dikeluarkan kembali melalui keringat dan sebum. Apabila belum sembuh bisa dilanjutkan dengan pemberian kedua setelah 1 minggu. Wanita hamil  dapat diberikan dengan aplikasi yang tidak lama sekitar 2 jam. yang diaplikasikan selama 8-12 jam dan setelah itu dicuci bersih. perih dan gatal. Selain itu dapat muncul eritema. dan semua tanda inflamasi lain pada ekzem sebagai respon imun tubuh yang kuat 34 . wanita hamil dan ibu menyusui. Terapi pencegahan ini harus diberikan untuk mencegah penyebaran scabies karena seseorang mungkin saja telah mengandung tungau scabies yang masih dalam periode inkubasi asimptomatik.

patogenesis. (Djuanda. memiliki prognosis yang baik. Infestasi scabies dapat disembuhkan. dan kuku. kondisi ini bisa menetap untuk beberapa tahun. jumlah tungau akan berkurang seiring waktu. dan penatalaksanaan dari dermatofitosis. post-streptococcal glomerulonephritis bisa terjadi karena skabies-induced pyodermas yang disebabkan oleh Streptococcus pyogens. 2008) (Harahap. inguinal. penis. 2011) (Handoko. tergantung tingkat pyodermanya. dan axilla. misalnya stratum korneum pada epidermis. yaitu: • Trichophyton • Microsporum • Epidermophyton Klasifikasi Berdasarkan ekologi dan cara transmisi atau penularannya. Prognosis Jika tidak dirawat. rambut. Nodul-nodul muncul pada daerah yang tertutup seperti bokong. jika diobati dengan benar. Etiologi Terdapat 3 genera atau genus dermatofita yang dapat menyebabkan dermatofitosis. yang disebabkan golongan jamur dermatofita.terhadap iritasi. 2000) (Olivier. komplikasi. limfangitis dan septiksemia dapat juga terjadi terutama pada skabies Norwegian. Seorang individu dengan infeksi scabies. Pada individu yang immunocompetent. Mahasiswa mampu menjelaskan definisi. Infeksi sekunder lokal sebagian besar disebabkan oleh Staphylococcus aureus dan biasanya mempunyai respon yang bagus terhadap topikal atau antibiotic oral. Definisi Dermatofitosis atau tinea adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk. etiologi. keluhan gatal dan ekzema akan sembuh. Selain itu. skrotum. dermatofita dikelompokkan sebagai berikut: 35 . 2006) 3.

Lingkungan Spesies Trichophyton atau jenis rubrum. Klasifikasi dermatofit berdasarkan ekologi dan cara transmisinya Terdapat lebih dari 40 spesies yang teridentifikasi.: M. T. Microsporum audouinii. interdigitale).rubrum banyak menginfeksi daerah Asia Tenggara.rubrum adalah penyebab tersering folikulitis dermatophytic di Amerika. T. verrucosum. M. Trychophyton rubrum merupakan penyebab tersering dermatophytosis epidermis dan onchomycosis di negara industri. dan Afrika : T. T. pernah sedikitnya mengalami satu episode infeksi T. violaceum. spp. T. khususnya pada orang dewasa. T. equinum. Secara geografis. canis. Tabel 1. Trichophyton spp. Tonsurans – Eropa. etiologi tinea kapitis pada anak-anak yaitu: – Amerika Utara dan Eropa : T. Microsporum spp. 36 .S. nanum . dan Afrika Barat. Epidemiologi Sebanyak 70% populasi U. tonsurans. mentagrophytes T. M. Asia. mentagrophytes). mentagrophytes (var. dan sedikitnya 10 spesies yang sering menyerang manusia. Violaceum T.: T. schoenleinii. gypseum.Klasifikas Anthropophilic Zoophilic Geophilic i Transmisi Antar-orang Hewan ke manusia. Epidermophyton floccosum. (var.: fomites T. pedalaman Australia.rubrum (biasanya merupakan tinea pedis). T.

anak yang memiliki infeksi kulit kepala (Trichophyton. Microsporum). secara langsung dari kulit ke kulit) • Hewan • Tanah Faktor predisposisi • Diathesis atopik Defisiensi imun diperantarai sel untuk T. Onychomycosis di U.Transmisi Transmisi dermatofitosis adalah sebagai berikut: • Paling sering dari orang lain (fomites. rubrum • Imunosupresan topikal Aplikasi lama glukokortikoid topikal (terutama pada wajah. sekitar 50% terjadi pada usia 75 tahun • Ras Insidensi penyakit ini terhadap ras hitam dewasa lebih rendah. pangkal paha. dan tangan) • Pasien immunocompromised Dapat menimbulkan abses dan granuloma (granuloma Majocchi) • Usia Anak. Tinea kapitis lebih sering terjadi pada anak-anak ras hitam Klasifikasi Klasifikasi dermatofitosis berdasarkan struktur kulit yang terlibat adalah sebagai berikut: 37 .S.

granuloma. dan patogenesis trichomycosis (B) 38 . (trichophytic) tinea capitis. Majocchi Tinea cruris.Klasifikasi Epidermomycosis Onychomychosis Trichomycosis Struktur Epidermis Apparatus unguis Rambut dan folikel rambut yang terlibat Macam- Tinea facialis. Patogenesis epidermomycosis (A). Tabel 2. tinea Tinea unguium Dermatophytic macam corporis. tinea folliculitis. Klasifikasi dermatofitosis Patogenesis Dermatofit mensintesis keratinases yang mencerna keratin dan mempertahankan keberadaan jamur di struktur keratin. tinea pedis. Gambar 18. tinea manus. tinea barbae. Imunitas seluler dan aktivitas antimikroba polimorfonuklear leukosit membatasi patogenisitas dermatofit.

pemaparan dalam pekerjaan. oklusi. Menggunakan skalpel yang tumpul. pinset. lesi dikerok dengan mantap. • Bagian tepi lesi lebih aktif (lebih jelas tanda-tanda peradangan) dari pada bagian tengah. yaitu: • Gatal • Kelainan berbatas tegas. lokasi geografis. Laboratorium membutuhkan spesimen yang cukup untuk melakukan pemeriksaan mikroskop dan kultur. kerokan kuku dan rambut yang dicabut. Penegakkan Diagnosis Kerokan kulit. glukokortikoid topikal dan sistemik. Waktu yang dibutuhkan untuk pemeriksaan mikroskop harus kurang dari 24 jam. klinisi harus sadar akan kebutuhan untuk menghasilkan jumlah yang mencukupi dari bahan klinis yang sesuai. Sayang sekali sebagian spesimen yang diantarkan jumlahnya kurang mencukupi atau tidak tepat untuk membuat diagnosis definitif. meskipun kultur dapat memakan waktu beberapa minggu. Untuk diagnosis laboratorium. • terdiri atas macam-macam efloresensi kulit (polimorfi). yaitu: • Tempat infeksi • Respon imunologik hospes • Spesies jamur (fungus) Tinea atau dermatofitosis memiliki morfologi dan gejala yang khas. atau kuret tulang. 39 . Pada pasien yang diduga dermatofitosis kulit [tinea atau ringworm] setiap salep atau obat topikal yang ada harus disingkirkan dengan sebuah ”alcowipe”. penyakit kolagen vaskular • Faktor lokal yang mendukung infeksi dermatofit: berkeringat.Faktor yang mempengaruhi penyakit • Faktor host yang memfasilitasi infeksi dermatofit: atopi. khususnya pada ujungnya. kelembaban tinggi (tropis atau iklim semi tropik) Manifestasi klinis Manifestasi klinik bergantung pada beberapa faktor.

sering 200mg/hr selama 1 mgg. Setiap debris keratin putih dibawah tepi yang bebas dari kuku juga harus dikumpulkan. Kultur seringkali lebih dapat dipercaya dan memungkinkan untuk mengidentifikasi secara akurat spesies jamur yang terlibat. Pengumpulan ulang harus selalu dipikirkan.Pada kasus tinea pedis vesikular. Spesimen kulit dan kuku dapat juga dikerok secara langsung pada kartu hitam khusus yang mana akan membuat lebih mudah untuk melihat berapa banyak bahan yang telah dikumpulkan dan menyediakan kondisi yang ideal untuk mengantar ke laboratorium.d sembuh (6-12 bln) Griseofulvin 500-1000 mg/hr s. imidazol. Fluconazole 150dikombinasikan dengan 300 mg/mggu selama 4 mgg.d sembuh (12-18 bulan) Griseofulvin 500mg/day Terbinafine 250 mg/hr/4 mgg (≥ 10mg/kgBB/hari) Itraconazole 100 mg/hr/4mgg sampai sembuh (6-8 Fluconazole 100 mg/hr/4 mgg minggu) Griseofulvin 500 mg/hr Terbinafine 250 mg/hr selama 2-4 minggu sampai sembuh (4-6 Itraconazole 100 mg/hr selama 15 hr atau minggu). Fluconazole 150-300 mg/ mgg s. Pada pasien dengan dugaan dermatofitosis kuku [onikomikosis] kuku harus dipotong dan dikerok menggunakan skalpel tumbul sampai bagian yang mengalami degenerasi putih yang rusak dapat dicapai. tetapi tidak memberikan indikasi spesies jamur yang terlibat. Penatalaksanaan Infeksi Rekomendasi Tinea unguium Terbinafine 250 mg/hr 6 (Onychomycosis) minggu untuk kuku jari tangan. Hasil mikroskopik positif menunjukkan hifa jamur dan/atau artrokonidia umumnya cukup untuk diagnosis dermatofitosis. 40 . 12 minggu untuk kuku jari kaki Tinea capitis Tinea corporis Alternatif Itraconazole 200 mg/hr /3-5 bulan atau 400 mg/hr seminggu per bulan selama 3-4 bulan berturut-turut. ujung dari vesikel yang segar harus disingkirkan karena jamur seringkali banyak ditemukan pada atap dari vesikel. Kartu koleksi hitam menunjukkan jumlah yang mencukupi dari bahan kuku untuk sebuah sampel yang baik. Harus ditekankan bahwa sampai 30% dari bahan yang diduga dikumpulkan dari spesimen kuku bisa negatif baik dengan mikroskopik langsung atau kultur.

tinea. Epidemiologi Granuloma annulare dapat menyerang semua umur namun paling sering dijumpai pada anak-anak.Tinea cruris Griseofulvin 500 mg/hr Terbinafine 250 mg/hr selama 2-4 mgg sampai sembuh (4-6 Itraconazole 100 mg/hr selama 15 hr atau minggu) 200 mg/hr selama 1 mgg. komplikasi. widespread selama 4-6 minggu Griseofulvin 500-1000 mg/hr sampai non-responsive sembuh (3-6 bulan). (Djuanda. Chronic and/or Terbinafine 250 mg/hr Itraconazole 200 mg/hr selama 4-6 mgg. Mahasiswa mampu menjelaskan definisi.3 : 1. kecuali faktor predisposisi sulit dihilangkan. Tinea pedis Griseofulvin 500mg/hr Terbinafine 250 mg/hr selama 2-4 mgg sampai sembuh (4-6 Itraconazole 100 mg/hr selama 15 hr atau minggu) 200mg/hr selama 1 mgg. Sebuah penelitian tentang granuloma annulare subkutan ditemukan riwayat trauma pada 25% anak-anak. Fluconazole 150-300 mg/hr selama 4 mgg. 2009) 4. 2011) (Wolff. dan penatalaksanaan dari granuloma annuler. Etiologi Granuloma annulare adalah penyakit yang tidak diketahui penyebabnya. dominan pada pasien di bawah 30 tahun. yaitu :  Trauma ringan nonspesifik Trauma ringan nonspesifik diduga menjadi faktor pencetus. Tabel 3. Definisi Granuloma annulare (GA) adalah suatu kelainan pada jaringan dermis dan subkutan yang idiopatik. Penatalaksanaan dermatofitosis Prognosis Umumnya baik. Fluconazole 150300 mg/mgg selama 4 mgg. remaja dan dewasa muda. Penyakit ini dapat terjadi pada ras atau usia manapun tetapi lebih sering menyerang wanita daripada pria. dengan rasio wanita : pria 2. Granuloma annulare ini juga 41 . Trauma ini juga diduga menjadi faktor terbentuk lesi auricular. etiologi.Beberapa faktor predisposisi yang telah dilaporkan. patogenesis.

Infeksi dan imunisasi Ada beberapa laporan perkembangan granuloma annulare pada bekas luka herpes zoster. intranasal calcitonin. Hal ini juga telah dilaporkan pada kasus setelah cacar air. Telah dilaporkan pula bahwa granuloma annulare terjadi pada orang dengan tato yang  telah lama. quinidine. Obat-Obatan Granuloma annulare seperti obat reaksi dilaporkan untuk gold terapi dan pengobatan dengan allopurinol. Namun. Apakah terdapat hubungan diantaranya kedua penyakit tersebut telah lama menjadi bahan perdebatan. dan perforasi dari granuloma annulare dapat terjadi dalam hubungan dengan infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Satu pasien yang mendapatkan terapi ultraviolet A setelah ditambahkan psoralen maka penyakitnya menjadi meluas. pada kasus lainnya granuloma annulare tipe general telah dikaitkan dengan infeksi virus. namun demikian fototerapi juga telah digunakan untuk mengobati  granuloma annulare. serangga. Reaksi obat interstisial granulomatosa terkait dengan penggunaan angiotensin converting enzyme inhibitor. dan  hepatitis C. dam amlodipine. kadang-kadang bertahun-tahun setelah infeksi aktif. hepatitis kronis B. ikan gurita.terjadi setelah gigitan kucing. Hubungan keduanya terutama pada 42 . general.  Diabetes Melitus dan Penyakit Tiroid Keterkaitan terjadinya granuloma annulare pada pasien dengan diabetes melitus secara luas telah didokumentasikan. Granuloma annulare fotosensitif telah diamati dengan pada pasien dengan infeksi HIV. Paparan sinar matahari Granuloma annulare telah dilaporkan memiliki kecenderungan terjadi pada area kulit yang sering terpapar matahari. diclofenac. calcium channel blockers dan obat lainnya dianggap sebagai entitas yang berbeda tetapi bisa menyerupai granuloma annulare. Tipe lokal.

tetapi ada juga kasus yang dilaporkan berkaitan dengan diabetes tipe 2 (non-insulin dependent). 2. hypothiroidism. Vaskulitis halus atau mikroangiopati lainnya mudah menyebabkan luka/cedera pada jaringan. Lesi kulit limfoma kutaneus dan keganasan hematologi lainnya dapat memberikan gambaran seperti granuloma annulare baik secara klinis maupun histopatologi. Patogenesis Patogenesis dari penyakit ini masih belum jelas. Proses degeneratif primer jaringan ikat mengawali terjadinya inflamasi granulomatosis. dan adenoma tiroid. Batas lesi annular tegas pada saat dipalpasi dan bisa berlanjut atau terdiri dari gabungan beberapa papul dalam lingkaran komplit atau sebagian. Granuloma annulare juga dilaporkan terjadi pada sejumlah  pasien dengan tiroiditis. Keganasan Hubungan antara granuloma annulare dan keganasan pada pasien dewasa dilaporkan terutama pada penderita dengan limfoma Hodgkin dan limfoma non-Hodgkin. Patogenesis yang menyebabkan perubahan pada keadaan sekitar jaringan penghubung oleh infiltrasi inflamasi granulomatosis masih belum dimengerti. Kadang-kadang dapat terjadi pada telapak tangan dan telapak kaki.diabetes tipe 1 (insulin independent). Ukuran rata-rata berdiameter 1-5cm. dan tungkai bawah. Reaksi imun yang dimediasi oleh limfosit menyebabkan aktivasi makrofag dan degradasi sitokin yang dimediasi oleh jaringan ikat. 3. Papul padat atau nodul juga biasanya nampak. pergelangan tangan dan kaki. Predileksinya pada punggung kaki dan tangan. 43 . penyakit sel B. Sebagian kecil lesi terjadi pada tempat lain termasuk kelopak mata. Biasanya ditandai dengan perubahan warna kulit eritematous atau violaseus. Beberapa patogenesis yang telah diteliti. yaitu : 1. termasuk mikosis fungoides. Manifestasi klinis Berdasarkan gambaran klinisnya granuloma annulare dibagi menjadi : 1. limfoma lennert. Tipe lokal Kebanyakan granuloma annulare berbentuk lesi annular atau arcuate. dan sel T.

Lesi dapat berwarna pink. Granuloma annulare tipe lokal 2. telapak tangan dan telapak kaki dapat juga terkena. Bentuk annular atau non annular dapat menonjol. Gambar 20. Manifestasi klinis tampak papul-papul yang menyebar. gabungan beberapa papul kecil membentuk plak annular. Pada wajah. Tipe ini mempunyai karakteristik berupa batas tegas. biasanya nodul asimptomatik terletak pada kulit 44 . predileksinya seringkali pada badan beserta leher dan ekstremitas. coklat dan kuning. Tipe subkutan Tipe subkutan kebanyakan terjadi pada anak-anak. Granuloma annulare tipe general 3. Mayoritas pasiennya adalah dewasa tapi bisa juga terjadi pada anak-anak.Gambar 19. tapi bisa juga terjadi pada pasien dewasa. Tipe general Tipe general terjadi pada 8-15% kasus. ungu. skalp. Tidak seperti pada tipe lokal.

punggung kaki. Granuloma annulare subkutan dapat juga ditemukan pada penis. Tipe perforasi Tipe ini jarang ditemukan. kelopak mata. Granuloma annulare tipe subkutan 4.5 cm. hanya sekitar 5% dari kasus GA. pergelangan kaki. Nodul pada kulit kepala. Tipe ini juga telah ditemukan pada orang dengan skar herpes zoster dan orang yang bertato. Predileksi pada tungkai kaki bagian depan.bagian bawah dan jaringan subkutan. Biasanya lokasinya pada punggung tangan dan jari-jari atau terdapat pada tubuh dan ekstremitas. Ukuran lesi berdiamter 6 mm – 3. Lesi ini dapat menghilang secara spontan atau mungkin berulang setelah eksisi. dapat menyulitkan diagnosis penyakit ini. pantat dan tangan. 45 .Karakteristiknya berupa eliminasi trans-epidermis oleh nekrobiotik kolagen. Gambar 21. lingkaran mata. Biasanya lesinya atropi dan hiperpigmentasi.

Eritema yang meluas juga telah dilaporkan pada pasien yang positif menderita HIV. Gambar 23. Granuloma annulare tipe perforasi 5. yaitu:  Pemeriksaan histopatologis 46 . utamanya mereka yang berumur antara 30-70 tahun.Gambar 22. merah kecoklatan. Tipe patch Lesi granuloma annulare tipe ini berupa makula yang eritem. Granuloma annulare tipe patch Penegakkan diagnosis Pemeriksaan penunjang untuk mendukung diagnosis pada granuloma annulare. atau berbentuk patch violaceous tanpa pinggiran berbentuk anular telah dilaporkan terjadi pada wanita dewasa.

atau MRI mungkin bermanfaat dalam evaluasi lesi subkutan atipikal. Pada MRI. fibrosis dan sebukan sel radang limfohistiositik yang dapat membentuk granuloma palisade.Gambaran histopatologis granuloma annulare yang khas adalah degenerasi kolagen. radiografi. granuloma annulare subkutan muncul sebagai massa dengan batas tidak tegas yang terbatas pada jaringan subkutan. Namun. Di antara serabut fibrin dan kolagen yang berdegenerasi dapat ditemukan deposit musin pada bagian tengah granuloma palisade.  Pemeriksaan Pencitraan Pemeriksaan pencitraan umumnya tidak diperlukan dalam mendiagnosis granuloma annulare. Pemeriksaan radiografi pada granuloma annulare subkutan menunjukkan massa jaringan lunak spesifik tanpa kalsifikasi. granuloma annulare subkutan muncul sebagai gambaran yang sulit untuk didefinisikan dengan peningkatan variabel redaman dan variabel kontras. CT scan. tetapi tidak diagnostik. evaluasi laboratorium yang sesuai harus dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan diagnostik lainnya. 47 . Gambar 24. Pemeriksaan histologi granuloma annulare  Laboratorium Studi laboratorium tidak memiliki kontribusi yang besar pada pasien dengan granuloma annulare. jika anamnesis menyeluruh sulit didapatkan atau penyakit sistemik dianggap mungkin. Namun. Temuan MRI mungkin sugestif. Pada CT scan.

Pemberian steroid topikal super poten atau takrolimus topikal 0. Sebagian besar kasus dapat sembuh sendiri dalam beberapa bulan tanpa meninggalkan bekas tetapi ada sebagian orang yang butuh waktu sampai bertahun-tahun. Granuloma annulare tipe lokal umumnya asimptomatik. Kemungkinan manfaat dari pengobatan. Insiden efek samping pada obat-obatan tersebut juga sangat rendah. sehingga pengobatan biasanya tidak diperlukan. Steroid topikal atau injeksi steroid terkadang dapat membantu penyembuhan dan merupakan pilihan pertama untuk terapi lokal. kortikosteroid topikal bawah oklusi.5-5.0 mg per triamsinolon mL. Satu studi pada 31 pasien dengan granuloma annulare tipe lokal menunjukkan 81 persen resolusi setelah pengobatan dengan nitrogen cairan atau nitrous oxide. kebanyakan kasus membaik dalam 3 sampai 7 bulan.1% dua kali sehari selama 2 minggu mungkin saja efektif pada beberapa pasien. dan berbagai perawatan telah diusulkan. Namun demikian. khususnya pada lesi makula yang banyak. Dalam laporan kasus baru-baru ini. banyak pasien tetap mengeluhkan dari segi kosmetikanya dan ingin mendapatkan penanganan. Injeksi triamsinolone suspensi intralesi efektif untuk lesi tunggal. tacrolimus topikal dan pimecrolimus memberikan hasil yang baik. harus seimbang terhadap toksisitas yang signifikan dari sebagian besar perawatan ini. dan elektrodefikasi. Untuk pasien tersebut.Penatalaksanaan Lesi yang ada kadang-kadang asimptomatik dan dapat terjadi penyembuhan spontan. Terapi sistemik diperlukan untuk granuloma annulare tipe general. pilihan terapi termasuk injeksi kortikosteroid intralesi dengan 2. yang tidak jelas karena kurangnya uji klinis. Dapson yang umumnya digunakan untuk dermatitis herpetiformis atau penyakit Hansen. telah dilaporkan efektif dalam mengatasi granuloma annulare tipe general. Dosis yang biasanya digunakan yaitu 48 . Oleh karena itu. dokter keluarga harus melanjutkan dengan hati-hati dan harus mempertimbangkan konsultasi dengan dokter kulit. tidak ada pengobatan spesifik yang dibutuhkan pada kebanyakan kasus. bedak beku. Pasien harus diperingatkan bahwa semua perawatan ini dapat menyebabkan skar dan atrofi.

Efektifitas dari siklosporin telah dilaporkan pada pasien individu. Setengah dari peserta studi menghentikan terapi karena efek samping gastrointestinal. Kebanyakan 49 . Pemantauan kadar kreatinin serum dan tekanan darah diperlukan dalam penggunaan obat ini. retinoid lain juga telah dilaporkan efektifbagi pengobatan penyakit ini. Anthralin dan psoralen A plus ultraviolet (PUVA) terapi telah dilaporkan efektif dalam studi dengan total enam pasien. Efek samping isotretinoin seperti peningkatan kadar trigliserida. bahkan pada dosis tinggi. Agen antimalaria. Lesi mungkin betul-betul hilang dalam beberapa minggu atau menetap selama beberapa tahun. dan toksisitas hati. anemia aplastik. Dosis yang berhasil dicoba yaitu 1. Etretinate. juga terbukti efektif dalam mengobati granuloma annulare pada berbagai kasus. tetapi hanya pada tiga pasien. Namun. peningkatan kadar enzim hati. Psoralen oral (misalnya.100 mg per hari dengan waktu pemberian 2-18 minggu. ditemukan juga efektif pada granuloma annulare. Obat tersebut bersifat imunosupresif dan anti-inflamasi. jangka panjang terapi PUVA membawa resiko peningkatan insiden kanker kulit nonmelanoma. Dosis yang berhasil dicoba yaitu 6 mg/KgBB/hari untuk hydroxychloroquine sedangkan untuk klorokuin yaitu 3 mg/KgBB/hari dengan waktu pemberian selama 6 minggu. termasuk hydroxychloroquine dan klorokuin. dan teratogenisitas dapat terjadi. telah digunakan dalam pengobatan granuloma annulare. Niasinamid telah digunakan dan cukup aman. Efek samping yang mungkin timbul adalah retinopati. Hal ini berdasarkan studi yang dilakukan pada 8 pasien. Ester asam fumarat yang juga digunakan untuk terapi psoriasis. Isotretinoin yang dikenal untuk mengobati akne berat. Vitamin E dikombinasikan dengan lipoxygenase inhibitor 5 telah dicoba dan berhasil. dan tingkat transaminase hati harus dikontrol selama pengobatan. Namun. toksisitas hati merupakan dampak buruk yang penting. Prognosis Kebanyakan kasus dari granuloma annulare yang terlokalisasi akan sembuh spontan dan tanpa relaps.500 mg per hari dengan waktu pemberian selama 24 minggu. Pemberiannya sendiri yaitu 40 mg per hari selama 10 minggu.

patogenesis. Lesi yang berulang mungkin saja berkembang dalam beberapa bulan atau tahun kemudian. dan penatalaksanaan dari dermatitis insect bite. etiologi.menghilang dalam 2 tahun. persawahan. Patogenesis 50 . b. seringkali pada tempat yang sama. Sebuah gigitan atau sengatan dapat menyuntikkan bisa (racun) yang tersusun dari protein dan substansi lain yang mungkin memicu reaksi alergi kepada penderita. d. Ada juga laporan terjadinya anetoderma dan mid-dermal elastolysis setelah granuloma annulare generalisata. Granuloma annulare yang generalisata kadang-kadang perlangsungannya lama. Terjadi pada tempat-tempat yang banyak serangga. seperti di perkebunan. (Siregar. 2004) (Djuanda. komplikasi. Granuloma annulare yang perforasi prognosisnya kurang baik. Definisi Insect Bite atau gigitan serangga adalah kelainan akibat gigitan atau tusukan serangga yang disebabkan reaksi terhadap toksin atau alergen yang dikeluarkan artropoda penyerang. Mahasiswa mampu menjelaskan definisi. Bayi dan anak-anak labih rentan terkena gigitan serangga dibanding orang dewasa. Etiologi Secara sederhana gigitan dan sengatan lebah dibagi menjadi 2 grup yaitu Venomous (beracun) dan Non Venomous (tidak beracun). c. Gigitan dan sengatan serangga mempunyai prevalensi yang sama di seluruh dunia. Sedangkan serangga yang tidak beracun menggigit dan menembus kulit dan masuk mengisap darah. ini merupakan suatu mekanisme pertahanan diri yakni dengan cara menyuntikan racun atau bisa melalui alat penyengatnya. Epidemiologi a. Serangga yang beracun biasanya menyerang dengan cara menyengat. 2011) 5. ini biasanya yang menimbulkan rasa gatal. Prevalensinya sama antara pria dan wanita. misalnya tawon atau lebah. dan lain-lain.

Pemeriksaan laboratorium Peningkatan jumlah eosinofil dalam pemeriksaan darah. Topikal: Jika reaksi lokal ringan. 51 . pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang. muntah-muntah. Manisfestasi Klinis Setelah digigit serangga timbul edema pada kulit. dapat menyertai gigitan dengan toksin yang berat (seperti gigitan laba-laba hitam). dan diberi obat sistemik. dikompres dengan larutan asam borat 3%. limfosit dan histiosit. Pada dermis ditemukan pelebaran ujung pembuluh darah dan sebukan sel radang akut. serotonin. Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasar anamnesis.Gigitan atau sengatan serangga akan menyebabkan kerusakan kecil pada kulit. disusul jaringan nekrosis setempat. Dari anamnesis dapat ditemukan adanya riwayat aktivitas diluar rumah yang mempunyai resiko mendapat serangan serangga seperti di daerah perkebunan dan taman. Racun dari serangga mengandung zat-zat yang kompleks. neutrofil. Reaksi yang timbul melibatkan mekanisme imun. Penderita mengeluh gatal dan nyeri pada tempat gigitan. Reaksi terhadap antigen tersebut biasanya akan melepaskan histamin. Pemeriksaan Penunjang a. Gejala sistemik berupa rasa tak enak. Lesi yang timbul disebabkan oleh respon imun tubuh terhadap antigen yang dihasilkan melalui gigitan atau sengatan serangga. Infiltrat dapat berupa eosinofil. parakeratosis serta sebukan sel polimorfonuklear. atau kortikosteroid topikal seperti krim hidrokortison 1-2%. Penatalaksanaan a. lewat gigitan atau sengatan antigen yang akan masuk langsung direspon oleh sistem imun tubuh. spongiosis. Jika reaksi berat dengan gejala sistemik. pusing sampai syok. b. Bisa juga ditanyakan mengenai kontak dengan beberapa hewan peliharaan yang bisa saja merupakan vektor perantara dari serangga yang dicurigai telah menggigit atau menyengat. Histopatologis Pada fase akut didapatkan adanya edema antara sel-sel epidermis. asam formic atau kinin. lakukan pemasangan torniket proksimal dari tempat gigitan.

(Siregar. 2004) KESIMPULAN Berdasarkan kasus skenario di atas. Prognosis Prognosis dari gigitan serangga sebenarnya baik. Kortikosteroid sistemik diberikan pada penderita yang tak tertolong dengan antihistamin atau adrenalin. Dimana gatal tersebut merupakan reaksi dari respon imun mengeluarkan histamine dan timbul papul kemerahan dengan tanda linear serpiginosa adalah penetrasi dari larva filariform cacing tambang jenis zoonis kucing dan anjing (Ancylostoma Caninum/Ancylostoma Braziliensis/Ancylostoma Ceylanicum) yang berjalan ke dermoepidermal kutis manusia karena cacing jenis ini hanya memiliki zat keratinase dan proteinase namun tidak memiliki zat kolagenase sehingga cacing tersebut akan berada di sepanjang kulit 4-6 minggu. Dan apabila terjadi syok anafilaktik maka prognosisnya bergantung dari penangan yang cepat dan tepat. Adrenalin 1% 0.b. tapi tergantung jenis serangga serta racun yang dimasukkannya ke dalam tubuh manusia. Sistemik: injeksi histamin seperti klorfeniramin 10 mg atau defenhidramin 50 mg.3-0. pasien usia 5 tahun dengan keluhan gatal dan merasakan ada sesuatu yang bergerak di sisi tungkai bawah kiri lateral sejak 1 bulan lalu dengan effloresensi kulit berupa kemerahan dan terdapat bentuk linear serpiginosa merupakan gejala dari creeping eruption. Hal ini diperkuat dengan adanya riwayat pergi ke kebun buah dan menyukai kucing yang merupakan faktor predisposisi dari kejadian CLM/ Creeping Eruption dimana jenis cacing ini sangat menyukai daerah dengan tanah lembab dan sejuk yang biasanya terletak di kawasan tropis/subtropis.5 ml subkutan. Kucing juga merupakan salah satu hospes definitive dari 52 .

Mahasiswa kurang kritis sehingga kurang mendapatkan informasi lebih lengkap dan terperinci. 53 . 4. 2. 2. hanya membaca dan kurang dapat menyampaikan kembali maksud pernyataannya. Diagnosis banding pada kasus ini mudah disingkirkan karena gejala klinis dan predisposisi dari CLM yang khas dan tanpa perlu menggunakan pemeriksaan penunjang yang rumit. Mahasiswa kurang mempersiapkan log book.cacing ini karena sasaran awalnya adalah untuk melakukan penetrasi di zoonis tersebut. Mahasiswa kurang menguasai materi. Harapan 1. Penatalaksanaan yang tepat pada kasus pasien ini adalah dengan pemberian single dose ivermectin atau apabila pada Negara tersebut tidak memiliki jenis obat ini. prognosis baik bila pasien dengan imunokompeten. SARAN Hambatan 1. 4. Mahasiswa kurang aktif dalam mencari referensi sehingga informasi yang di dapat kurang beragam. maka dapat digantikan dengan Albendazole oral berdasarkan algoritma penatalaksanaan. 3. Riwayat pemberian obat topical oleh ibu pasien tidak mengurangi gejala pasien dikarenakan tidak tepat sasaran sesuai kasus karena obat yang seharusnya digunakan untuk kasus CLM adalah merupakan jenis topical/oral Antihelmints. Untuk kasus ini. Mahasiswa dapat lebih menguasai materi dan dapat menyampaikan materi dengan lancar. Mahasiswa dapat lebih kritis dalam menggali informasi. Mahasiswa dapat lebih aktif dalam mencari referensi sehingga mendapatkan informasi yang lengkap. 3. Mahasiswa dapat mempersiapkan log book dengan lebih baik.

Hamzah.DAFTAR PUSTAKA Burnside. S. Dalam: Adhi D. John W. Jakarta. 2008. Mochtar M. Siti A. Medscape Handoko R. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi 5. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin.. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Diagnosis Fisik. W. Dermatology General Medicine. Jakarta: EGC Djuanda. Edisi keenam. editor. M. Jakarta: EGC Fitzpatrick’s. 2015. Skabies. New York: McGraw-Hill Greer. Aisah. 1995. Kenneth E. 6th Edition.A Newman. Kamus Saku Kedokteran Dorland Edisi 28. Scabies. A. 2011. 2009. Dorland. Cetakan ke 3. Balai Penerbit FK UI 54 . 2011.

Scabies. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit Edisi 2. 2015. Menaldi. LA. Ph. Sri. 2005. Jakarta: Hipokrates Jusych. 2015.D. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Natadisastra.Harahap M. R. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin.D. 2000. Djaenudin. Parasitologi Kedokteran (ditinjau dari organ yang diserang). Ilmu Penyakit Kulit Edisi 1. 2012. Jakarta : EGC 55 .. 2004. Jakarta: Badan Penerbit FK UI Minulwih. M.S. 2006. Edisi 7. Jakarta: EGC Olivier Chosidow. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. treatment and medication. The New England Journal of Medicine: 354:1718-27 Siregar. Cutaneous Larva Migrans: overview. Sri Linuwih SW.