PEMERIKSAAN ANTI HIV

METODE RAPID TEST

I.

Hari, Tanggal

: Kamis, 28 Mei 2015

Pertemuan

: XI

TUJUAN
Tujuan Instruksional Umum

Mahasiswa mampu memahami prinsip pemeriksaan anti-HIV metode rapid test.

Tujuan Instruksional Khusus

Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan pemeriksaan anti-HIV metode rapid test.

Mahasiswa mampu menginterpretasikan hasil pemeriksaan anti-HIV metode rapid test.

II. METODE
Metode

yang

digunakan

dalam

pemeriksaan

rapid

test

anti

HIV

adalah

immunochromatografi rapid test.
III.PRINSIP
Pada sampel positif yang mengandung antibodi HIV-1/2, antigen rekombinan HIV-1/2
(gp41, p24 dan gp36) dalam bentuk koloid konjugat emas dan sampel akan bergerak di
sepanjang membran chromatographi ke wilayah tes 1 yang dilapisi dengan rekombinan
antigen HIV-1 (gp41, p24) dan wilayah tes 2 yang dilapisi dengan rekombinan gambaran
HIV-2 (gp36) membentuk garis sebagai kompleks partikel emas antigen-antibodi-antigen
dengan sensitivitas dan spesifisitas tinggi. Garis kontrol digunakan untuk kontrol prosedur.
IV. DASAR TEORI
A. Pengertian
Human Immunodeficiency Virus (HIV) Merupakan virus yang merusak sistem kekebalan
tubuh manusia yang tiidak dapat hidup di luar tubuh manusia. Kerusakan sistem kekebalan
tubuh ini akan menimbulkan kerentanan terhadap infeksi penyakit. Sedangkan Acquired
Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) adalah Sekumpulan gejala, infeksi dan kondisi yang
diakibatkan infeksi HIV pada tubuh. Muncul akibat rusaknya sistem kekebalan tubuh

Bersama dengan Luc Montagnier. Melalui kloning dan analisis sekuens (susunan genetik). Pada orang yang sistem kekebalan tubuhnya masih baik infeksi ini mungkin tidak berbahaya. Tidak lama setelah HIV-1 ditemukan. Infeksi oportunistik adalah infeksi yang muncul akibat lemahnya system pertahanan tubuh yang telah terinfeksi HIV atau oleh sebab lain. mereka membuktikan bahwa virus tersebut merupakan penyebab AIDS. Jean Claude Chermann dan Françoise Barré-Sinoussi dari Perancis berhasil mengisolasi HIV untuk pertama kalinya dari seorang penderita sindrom limfadenopati. Bila telah muncul tanda-tanda penyakit infeksi dan tidak kunjung sembuh atau berulang. virus itu disebut ALV (lymphadenopathy-associated virus). berolahraga dan tidur secara seimbang. Perbedaan terbesar lainnya antara kedua strain (galur) virus tersebut terletak pada glikoprotein selubung. suatu subtipe baru ditemukan di Portugaldari pasien yang berasal dari Afrika Barat dan kemudian disebut HIV-2. atau lebih spesifik lagi disebut HIV-1. Penelitian lanjutan memperkirakan bahwa HIV2 berasal dari SIV (retrovirus yang menginfeksi primata) karena adanya kemiripan sekuens dan reaksi silang antara antibodi terhadap kedua jenis virus tersebut. istilah yang digunakan untuk menyebut virus tersebut adalah HIV. terbukti bahwa ALV dan HTLV-III merupakan virus yang sama dan pada tahun 1986. Robert Gallo dari Amerika Serikat juga meneliti tentang virus penyebab AIDS yang disebut HTLV-III. sistim kekebalan tubuh berkurang. namun pada orang yang kekebalan tubuhnya lemah (HIV/AIDS) bisa menyebabkan kematian. artinya daya tahan tubuh menjadi buruk. . Orang yang terinfeksi HIV dapat tetap sehat sepanjang hidupnya apabila ia menjaga kesehatan tubuhnya: makan teratur. Sejarah HIV Pada tahun 1983. Gaya hidup sehat akan tetap melindungi kebugaran orang dengan HIV dan ia akan tetap produktif dalam berkarya. B. Pada awalnya. HIV-2 memiliki perbedaan sebesar 55% dari HIV-1 dan secara antigenik berbeda.manusia sehingga infeksi dan penyakit mudah menyerang tubuh dan dapat menyebabkan kematian. maka berkembanglah AIDS. Pada awal tahun 1984. Setelah diteliti lebih lanjut.

dan jaringan asing dari binatang maupun manusia lain. Namun. monyet dunia lama Guinea-Bissau. bahan kimia.Kedua spesies HIV yang menginfeksi manusia (HIV-1 dan -2) pada mulanya berasal dari Afrika barat dan tengah. ia lebih dahulu sudah dilumpuhkan. C. Virus AIDS (HIV) masuk ke dalam tubuh seseorang dalam keadaan bebas atau berada di dalam sel limfosit. Pan troglodyte troglodyte. Sedangkan. Saat virus memasuki tubuh. HIV kemudian mengubah fungsi reseptor di permukaan sel T helper sehingga reseptor ini dapat . Sementara pada kelompok N dan O belum diketahui secara jelas jumlah subtipe virus yang tergabung di dalamnya. Mekanisme ini disebut sebagai tanggap kebal (immune response) yang terdiri dari 2 proses yang kompleks yaitu : Kekebalan humoral dan kekebalan cell-mediated. sebelum sel T helper dapat mengenal benda asing HIV. Sel-sel CD4-positif (CD4+) mencakup monosit. Sebagian besar infeksi HIV di dunia disebabkan oleh HIV-1 karena spesies virus ini lebih virulen dan lebih mudah menular dibandingkan HIV-2. ditemukan pada Sooty mangabey. Patofisiologi Tubuh mempunyai suatu mekanisme untuk membasmi suatu infeksi dari benda asing. Sedangkan. HIV-1 merupakan hasil evolusi dari simian immunodeficiency virus (SIVcpz) yang ditemukan dalam subspesies simpanse. N. bakteri. dan O. misalnya : virus.tidak berdaya. yaitu M. “ber-aksi” bahkan kemudian dilumpuhkan. tetapi begitu sel T helper menempel pada benda asing tersebut. berpindah dari primata ke manusia dalam sebuah proses yang dikenal sebagai zoonosis. 2013). bahkan HIV bisa pindah dari sel induk ke dalam sel T helper tersebut. makrofag dan limfosit T4 helper. HIV-2 kebanyakan masih terkurung di Afrika barat. Kelompok HIV-1 M terdiri dari 16 subtipe yang berbeda. Virus ini memasuki tubuh dan terutama menginfeksi sel yang mempunyai molekul CD4. Berdasarkan susuanan genetiknya. reseptor sel T helper . benda asing ini segera dikenal oleh sel T helper (T4). Virus AIDS (HIV) mempunyai cara tersendiri sehingga dapat menghindari mekanisme pertahanan tubuh. Jadi. kedua kelompok tersebut memiliki kekerabatan dengan SIV dari simpanse. HIV-2 merupakan spesies virus hasil evolusi strain SIV yang berbeda (SIVsmm). HIV-1 dibagi menjadi tiga kelompok utama. HIV-2 memiliki 8 jenis subtipe yang diduga berasal dari Sooty mangabey yang berbeda-beda (Wayan Sutrimo.

Sesudah terikat dengan membran sel T4 helper. Karena sel T helper sudah lumpuh maka tidak ada mekanisme pembentukan sel T killer. D. dan organ donor Infeksi HIV dapat menular kepada seseorang yang menerima darah atau produk darah yang terkontaminasi HIV. ditemukan kaitan yang erat antara infeksi HIV dengan hubungan seks anogenital. penatalaksanaan infeksi menular seksual dapat mencegah penularan HIV. DNA ini akan disatukan ke dalam nukleus sel T4 sebagai sebuah provirus dan kemudian terjadi infeksi yang permanen.menempel dan melebur ke sembarang sel lainnya sekaligus memindahkan HIV. Fungsi T helper dalam mekanisme pertahanan tubuh sudah dilumpuhkan. HIV akan menginjeksikan dua utas benang RNA yang identik ke dalam sel T4 helper. HIV akan melakukan pemrograman ulang materi genetik dari sel T4 yang terinfeksi untuk membuat double-stranded DNA (DNA utas-ganda). Oleh karena itu.14 Lima sampai sepuluh persen dari infeksi HIV di dunia ditularkan melalui transfusi dari darah dan produk darah terkontaminasi . 2. baik heteroseksual maupun homoseksual. Berbagai macam infeksi menular seksual yang menimbulkan ulserasi di daerah genital juga meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi HIV. Kelumpuhan mekanisme kekebalan inilah yang disebut AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) atau Sindroma Kegagalan Kekebalan. Sampai suatu saat ada mekanisme pencetus (mungkin karena infeksi virus lain) maka HIV akan aktif membentuk RNA. sediaan apus serviks. Transmisi melalui jalur hubungan seksual Infeksi HIV dapat menular melalui hubungan seksual. genom dari HIV ¬ proviral DNA ¬ dibentuk dan diintegrasikan pada DNA sel T helper sehingga menumpang ikut berkembang biak sesuai dengan perkembangan biakan sel T helper. antara lain: 1. produk darah. Virus HIV dapat ditemukan di cairan semen. ke luar dari T helper dan menyerang sel lainnya untuk menimbulkan penyakit AIDS. sel B dan sel fagosit lainnya. Transmisi HIV Transmisi HIV dari satu orang ke orang lain dapat melalui berbagai jalur. Transmisi melalui darah. Selain itu. dan cairan vagina. Dengan menggunakan enzim yang dikenal sebagai reverse transcriptase.

E. Pekerjaan tersebut antara lain pekerja di laboratorium. tenaga kesehatan seperti perawat. Transmisi karena faktor pekerjaan Faktor pekerjaan juga dapat menjadi faktor yang dapat mentransmisikan infeksi HIV. Antibodi tersebut biasanya diproduksi mulai minggu ke 2. Saliva sendiri mengandung faktor antivirus endogen seperti IgA. Pekerjaan yang berhubungan dengan materi biologis yang mengandung HIV berisiko menjadi media transmisi HIV. 2008).15 Selain itu. Transmisi maternal-fetal Infeksi HIV bisa ditransmisikan dari ibu yang terinfeksi ke fetus ketika dalam kandungan. Pemeriksaan HIV 1. Western blot menjadi tes konfirmasi bagi ELISA karena pemeriksaan ini lebih sensitif dan lebih spesifik. 3. tes ini mendeteksi antibodi yang dibuat tubuh terhadap virus HIV. dan menyusui. 2. dan IgM yang spesifik terhadap HIV yang dapat dideteksi pada pengidap HIV. Mereka pada umumnya tertular HIV secara tidak sengaja akibat tertusuk jarum atau alat tajam bekas digunakan pada pasien HIV atau terkena cairan tubuh yang infeksius.HIV. sehingga kasus 'yang tidak dapat disimpulkan' sangat . ELISA ELISA (Enzym-Linked Immunosorbent Assay). 5. IgG. Western Blot Sama halnya dengan ELISA. atau bahkan setelah minggu ke 12 setelah terpapar virus HIV. Western Blot juga mendeteksi antibodi terhadap HIV. atau bahkan pekarya. Kerena alasan inilah maka para ahli menganjurkan pemeriksaan ELISA dilakukan setelah minggu ke 12 sesudah melakukan aktivitas seksual berisiko tinggi atau tertusuk jarum suntik yang terkontaminasi. HIV juga bisa menular melalui pemakaian alat medis (suntikan dan jarum. 4. Transmisi dari cairan tubuh lain Meski HIV dapat diisolasi dalam titer yang rendah dari saliva seorang pengidap HIV. Diduga glikoprotein besar seperti musin dan thrombospondin-1 dapat menggumpalkan HIV untuk dikeluarkan (Braunwald. mesin dialisis) bersama dengan pasien HIV. tidak ditemukan bukti yang meyakinkan bahwa saliva dapat menularkan infeksi HIV. proses persalinan.

Salah satu kekurangan dari pemeriksaan ini adalah biayanya sangat mahal. Alkohol swab VI. plasma atau whole blood. Mikropipet 3. Selain itu. IFA IFA atau indirect fluorescent antibody juga meurupakan pemeriksaan konfirmasi ELISA positif. PCR test juga dilakukan secara rutin untuk uji penapisan (screening test) darah atau organ yang akan didonorkan (Sutrimo. Sampel serum. Pipet kapiler 5. IFA juga mendeteksi antibodi terhadap HIV. 2013).kecil. PCR Test PCR atau polymerase chain reaction adalah uji yang memeriksa langsung keberadaan virus HIV di dalam darah. CARA KERJA . Assay dilluents 4. ALAT DAN BAHAN A. Seperti halnya dua pemeriksaan diatas. 3. biasanya hanya dilakukan jika uji antibodi diatas tidak memberikan hasil yang pasti. BAHAN 1. pemeriksaan ini lebih sulit dan butuh keahlian lebih dalam melakukannya. 4. Tes ini sangat mahal dan memerlukan alat yang canggih. Tissue 3. Lancet B. Rapid test anti-HIV 2. Walaupun demikian. Oleh karena itu. ALAT 1. Tip 4. 2. V. Tes ini dapat dilakukan lebih cepat yaitu sekitar seminggu setelah terpapar virus HIV.

Perhatian: jika hasil tes tidak terbaca setelah 10 menit karena warna latar belakang yang tinggi. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.INTERPRETASI HASIL Hasil negatif - : Adanya satu garis pada garis kontrol (C) dalam jendela hasil. Digunakan APD yang baik. Hasil invalid - : Tidak adanya garis pada kontrol (C) atau / warna pink / ungu pada jendela hasil menunjukkan hasil yang tidak valid. diletakkan pada tempat yang datar dan kering. Interpretasikan hasil dalam waktu 10-20 menit. jika menggunakan sampel serum atau plasma tambahkan 10 µl dari plasma atau serum spesimen ke sumur sampel (s). tambahkan 20 µl dari spesimen darah dengan pipet kapiler ke dalam sumur sampel (s). Hasil positif - : Adanya dua garis pada garis kontrol (C) dan garis test 1 (1) dalam jendela hasil menunjukkan hasil yang positif untuk HIV-1. garis test 1 (1) dan garis test 2 (2) dalam jendela hasil menunjukkan hasil yang positif untuk HIV-1 dan atau HIV-2. baca lagi nanti tetapi dalam waktu 20 menit. 2. Dikeluarkan alat test dari kantong foil. Tidak boleh membaca setelah 20 menit. Jika menggunakan sampel darah kapiler. - Adanya dua garis pada garis kontrol (C) dan garis test 2 (2) dalam jendela hasil menunjukkan hasil yang positif untuk HIV-2. 4. Setelah menambahkan pengencer. Namun. dibaca hasil setelah 10 menit tetapi tidak lebih dari 20 menit. benar dan lengkap. Ditambahkan 4 tetes (sekitar 120 µl) assay diluents secara vertikal pada sumur sampel (s) 6.1. Catatan : . VII. 3. - Adanya tiga garis pada garis kontrol (C). 5.

Reaksivitas rangkap yang ditunjukkan pada SD BIOLINE HIV ½ 0.3 pada garis HIV-1 dan HIV-2 dapat terjadi karena reaksi silang yang diberikan pada rantai asam amino HIV-1 dan HIV-2. Infeksi rangkap dari HIV-1 dan HIV-2 sangat jarang terjadi pada satu individu. VIII.. sehingga menjadi sumber penularan bagi orang lain. HASIL PENGAMATAN IX. dan beberapa . Hal ini terjadi karena seringkali seseorang tidak menyadari bahwa dirinya telah terinfeksi HIV. Didapatkan hasil positif dengan munculnya garis pada daerah C dan T1 yang berarti positif HIV 1 HIV/AIDS termasuk jajaran penyakit yang mempunyai tingkat penularan yang sangat tinggi. Seseorang terkena HIV biasanya diketahui jika telah terjadi Sindrom Defisiensi Imun Dapatan (AIDS) yang ditandai antara lain penurunan berat badan. diare berkepanjangan. Sarkoma Kaposi.- Jika intensitas warna garis 1 lebih gelap dari garis 2 mengindikasikan HIV-1 positif. PEMBAHASAN Dilakukan pemeriksaan terhadap sampel D. - Jika intensitas warna garis 2 lebih gelap dari garis 1 mengindikasikan HIV-2 positif. strip test ditetesi 20 µl sampel serum D lalu ditambahkan 4 tetes diluents dan ditunggu 10 menit.

Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal. fungsi dari diluetns ini adalah untuk memigrasi sampel dan akan terlihat hasilnya. cairan vagina. Dalam pemeriksaan ini pertama menggunakan strip uji 1 dimana strip uji yang pertama ini menggunakan strip HIV 1/2. Secara umum . Pada praktikum ini dilakukan pemeriksaan Anti-HIV untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap antigen Human Imunodefisiensi Virus (HIV) pada serum pasien. Pemeriksaan HIV ini dilakukan secara rapid test. Pada praktikum kali ini digunakan 1 sampel serum dengan kode “D”. bersalin. dengan cairan tubuh yang mengandung Human Immunodeficiency Virus (HIV). Bila pada garis “C” muncul garis merah maka strip ini masih dalam keadaan bagus jika tidak muncul garis merah pada “C” maka strip tidak dapat digunakan. Dimana pada penggunaan strip ini menggunakan serum pasien sebanyak 10 µl diteteskan kedalam sumur “S” dan diteteskan 4 tetes diluents. dimana dalam strip uji ini terdapat “S” (sumur sampel). Pada penggunaan strip uji harus ditempatkan pada tempat yang datar karena nanti akan mempengaruhi migrasi sampel. cairan preseminal. atau menyusui. garis “C” (control). ataupun oral). serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut. dan T2 (test) untuk HIV 2. dan air susu ibu. air mani. Pemeriksaan antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) dalam serum atau plasma merupakan cara yang umum yang lebih efisien untuk menentukan apakah seseorang tak terlindungi dari Human Immunodeficiency Virus (HIV) melindungi darah dan elemenelemen yang dihasilkan darah untuk Human Immunodeficiency Virus (HIV). Human Immunodeficiency Virus (HIV) ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah.gejala lainnya. Hasil yang didapat dari pemeriksaan sampel serum kode “D” adalah positif dimana terbentuk garis warna merah pada kontrol (C) dan T1 (test 1). Pada test 2 (T2) terbentuk garis yang samar atau garis yang lebih muda dari test 1 (T1). transfusi darah. garis T1 (test) untuk HIV 1. dimana dalam pemeriksaan ini menggunakan strip HIV ½. jarum suntik yang terkontaminasi. seperti darah. antara ibu dan bayi selama kehamilan. Pada pemeriksaan menggunakan strip uji 1 untuk pemebacaan dibaca setelah 15-20 menit. hal tersebut berarti bahwa hasil pemeriksaan yang didapat positif HIV-1. anal.

tes HIV juga berguna untuk mengetahui perkembangan kasus HIV/AIDS serta untuk meyakinkan bahwa darah untuk transfusi dan organ untuk transplantasi tidak terinfeksi HIV. Pemeriksaan HIV adalah pemeriksaan yang berguna untuk mengetahui perkembangan kasus HIV/AIDS serta untuk meyakinkan bahwa darah untuk transfusi dan organ untuk transplantasi tidak terinfeksi HIV. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan HIV Rapid ini antara lain: - Petugas harus menggunakan APD selengkap mungkin karena HIV merupakan penyakit yang sangat berbahaya. yaitu melalui jalan lahir dan juga dalam proses menyusui dengan air susu ibu. Karena itu cara perpindahan HIV dari seseorang kepada orang lain juga sangat spesifik. dll - Hubungan seks tidak aman. misalnya jarum suntik di antara pengguna narkotika - Pemakaian jarum suntik / alat tajam yang memungkinkan terjadinya luka. secara bergantian tanpa disterilkan. misalnya jarum tato. atau cairan sperma dengan darah (pada seks anal)tanpa penghalang (dalam hal ini kondom) - Dari seorang ibu hamil yang HIV positif. yaitu : - Melalui transfusi darah atau produk darah - Transplantasi organ atau jaringan tubuh - Pemakaian jarum suntik yang sudah tercemar HIV secara bergantian. KESIMPULAN 1. kepada bayi yang dikandungnya. peralatan pencet jerawat. X. jarum tindik. - Sampel serum yang digunakan tidak lisis - Pengerjaan test dilakukan sesuai prosedur kerja karena hasil yang akan dikeluarkan merupakan hasil yang sangat sensitif. yang memungkinkan tercampurnya cairan sperma dengan cairan vagina (pada seks vaginal) . .

2. Berdasarkan pemeriksaan yang telah dilakukan terhadap sampel serum dengan kode D didaparkan hasil positif HIV-1 dengan terbentuknya garis warna pada kontrol dan test 1 serta garis samar pada test 2. . Hal ini dilakukan untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap antigen Human Imunodefisiensi Virus (HIV) pada serum pasien. Pada pratikum ini dilakukan pemeriksaan HIV menggunakan rapid test. 3. Hal tersebut mengindikasikan pasien dengan serum D tersebut positif HIV 1.