You are on page 1of 81

Ebook

:
Majalah Asy Syariah
Edisi 85/ VIII / 1433 / 2012

POLIGAMI
Problem atau Solusi?

Kata Pengantar
Assalamu’alaikum warohmatulloh wa barokaatuh.
Puji syukur kepada Allah atas nikmat yang telah diberikan kepada kita.
Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Alhamdulillah, Maktabah IMU kembali dapat menghadirkan Ebook
Majalah Asy Syariah. Pembahasan dalam majalah asy Syariah Edisi 85 adalah
seputar POLIGAMI.
Selain itu tentunya ada pembahasan-pembahasan lain yang juga sangat
bermanfaat, InsyaAllah.
Akhirnya, Saya ucapkan selamat membaca dan
dapatkan Ilmu yang bermanfaat sehingga bisa kita aplikasikan dengan amalan
sholih.
Semoga Allah menjaga para ustadz yang telah menulis artikel dalam
Majalah ini. Dan semoga Allah ta’ala senantiasa merahmati kita semua.
Wassalamu’alaikum warahmatullah wa barokaatuh.
Surakarta, 25 Maret 2013
Admin Maktabah IMU

Kompilasi oleh:
MAKTABAH IMU
Sumber Tulisan:
Situs Asy Syariah
www.asysyariah.com

Majalah Asy Syariah Edisi 85

Abdurahman Baharudin Wahid
Email: baharudinwahida@gmail.com
Website: http://islamicandmedicalupdates.blogspot.com
Untuk terus memasyarakatkan dan mengembangkan dakwah Ahlus Sunnah,
kepada pembaca DIPERBOLEHKAN untuk mengutip sebagian isi Majalah
Asy Syariah, dengan syarat:
1. Bukan untuk tujuan komersial
2. Artikel dikutip utuh tanpa ada penambahan atau pengurangan,
ataupun digabungkan dengan tulisan lain yang bukan berasal dari
Majalah Asy Syariah
3. Setiap Naskah kutipan harus menyebutkan nama sumber (nomor
edisi, tahun dan halaman [yakni edisi cetak])

Page 1

Permata Salaf “Mengingat Empat Kengerian”
Kategori: Majalah AsySyariah Edisi 085
Hatim al-Asham rahimahullah mengatakan, “Siapa yang kalbunya
tidak pernah mengingat empat kengerian ini, berarti dia adalah
orang yang teperdaya dan tidak aman dari kecelakaan.
(1) Saat yaumul mitsaq (hari saat diambilnya perjanjian terhadap
ruh manusia) ketika Allah Subhanahu wata’ala berfirman, ‘Mereka
di surga dan Aku tidak peduli, sedangkan mereka (yang lain) di
neraka dan Aku tidak peduli’; dia tidak tahu, dirinya termasuk
golongan yang mana.
(2) Saat dia diciptakan dalam tiga kegelapan (di dalam rahim),
ketika malaikat diseru (untuk mencatat) kebahagiaan atau
kesengsaraan (seseorang); dia tidak tahu apakah dirinya termasuk
orang yang sengsara atau bahagia.
(3) Hari ditampakkannya amalan (saat sakaratul maut); dia tidak
tahu, apakah dia diberi kabar gembira dengan keridhaan Allah
Subhanahu wata’ala atau kemurkaan- Nya.
(4) Hari ketika manusia dibangkitkan dalam keadaan yang berbedabeda; dia tidak tahu jalan mana yang akan ia tempuh di antara dua
jalan yang ada.”
(Jami’ al-‘Ulum wal Hikam hlm. 81)

Pengantar Redaksi “Poligami Indah Sesuai
Sunnah”
Kategori: Majalah AsySyariah Edisi 085
Banyak wanita mempertanyakan buruknya praktik ta’addud
(poligami) dalam Islam. Mereka kemudian menolak keras poligami
dengan alasan menyakiti wanita. Penolakan ini bahkan merembet
hingga menggugat syariat, menganggap syariat tak lagi
memberikan keadilan. Dengan gelap mata, penafsiran ajaran
agama selama ini divonis hanya memihak kaum laki-laki, serta
dituduh dipahami secara tekstual dan parsial.
Alhasil, wanita boleh meradang ketika suaminya menikah lagi.
Lantas, kenapa banyak wanita yang dibiarkan jadi selingkuhan pria
beristri? Mengapa pula banyak wanita yang dengan sukacita jadi
“istri” simpanan demi seonggok materi? Dan mengapa tak sedikit
istri yang lebih senang suaminya “jajan” atau selingkuh ketimbang
kawin lagi, (lagi-lagi) dengan alasan materi—takut harta suami
direbut madunya, warisan suami akan terbagi, dsb? Alasan
menyakiti wanita pun kian abu-abu. Tanpa pernikahan resmi, biaya
sosial yang muncul jelas sangat besar. Jika seks bebas dan
perselingkuhan dibiarkan, siapa yang paling merasakan akibatnya?
Siapa yang menanggung jika terjadi penyebaran Penyakit Menular
Seksual (PMS) akibat gonta-ganti pasangan di luar nikah? Ujungujungnya, yang jadi korban atau setidaknya objek seks adalah
perempuan. Lantas, mengapa poligami yang merupakan wujud
tanggung jawab seorang pria untuk menikahi wanita secara
terhormat justru dikesankan demikian seram?
Memang, dalam praktiknya banyak orang yang “mau cari enaknya”
ketika berpoligami, mencari “daun muda” lantas menelantarkan istri
pertama. Alhasil, kebanyakan kita cenderung memandang dari
realitas yang ada bahwa mengamalkan poligami hanya akan
menciptakan kekerasan terhadap perempuan, dsb. Jika ditelisik,

Majalah Asy Syariah Edisi 85

Page 2

Kekerasan Dalam
poligaminya.

Rumah

Tangga

(KDRT)

bukanlah

soal

Di rumah tangga monogami sekarang, juga marak KDRT. Apakah
dengan itu kita lantas menyalahkan monogami, kemudian dengan
alasan kontekstual menganjurkan hidup membujang? Kalau begitu,
mengapa poligami yang dituding merusak hubungan rumah
tangga? Bukankah perselingkuhan dan perzinaan itu yang
menyebabkan rusaknya rumah tangga? Intinya memang bukan
monogami atau poligaminya, tetapi lebih ke pelaku. Analoginya,
ada orang shalat namun masih bermaksiat, orang berjilbab tetapi
tidak beradab, dst. Apakah (lagi-lagi) dengan alasan kontekstual
kita lantas menggugat shalat, jilbab, dsb?

janda miskin beranak banyak.
Akhirnya, kebesaran jiwa seorang istri juga dibutuhkan di sini.
Wanita tidak perlu takut kebahagiaannya akan berkurang kala
suaminya menikah lagi. Bahkan, semestinya seorang wanita
salehah akan bertambah bahagia kala ia …..[???]

Maka dari itu, kita semestinya lebih mendalami ajaran agama agar
tidak salah memahami, bisa bersikap positif terhadap syariat Allah
Subhanahu wata’ala dan kepada mereka yang telah
mengamalkannya. Apalagi kesuksesan atau kegagalan berumah
tangga adalah hal lumrah. Monogami sekalipun, jika persiapannya
asalasalan, hasilnya juga tidak akan baik. Oleh karena itu, jika pada
kehidupan poligami terjadi “kegagalan”, kita bisa bersikap bijak
dengan tidak mudah menyalahkan poligaminya. Yang harus kita
pupuk adalah kesiapan ilmu dalam membina rumah tangga.
Ketika seorang pria hendak berpoligami, dia harus memahami
syariat ta’addud (poligami) secara benar agar bisa mempraktikkan
secara benar pula. Dalam kehidupan poligami, laki-laki tentu akan
lebih “dipusingkan”. Ia dituntut menjadi nakhoda yang baik bagi
beberapa bahtera. Bagi lelaki yang bertanggung jawab dan bagus
dalam praktik poligami, waktu lebih yang ia luangkan, materi lebih
yang ia keluarkan, serta tenaga dan pikiran lebih yang ia curahkan,
sejatinya tak sebanding dengan “kenikmatan” yang ia dapatkan.
Lebih-lebih, jika ia benar-benar menikahi wanita-wanita yang
secara logika “tidak menguntungkan” untuk dijadikan istri, seperti
Majalah Asy Syariah Edisi 85

Page 3

Tema tentang Riba

Surat Pembaca
Kategori: Majalah AsySyariah Edisi 085

Bismillah. Asy Syariah sudah pernah bahas tuntas tentang riba
belum ya? Kalau sudah pada edisi keberapa?

Angkat Prinsip Al-Wala’ wal Bara’
Kami harapkan majalah Asy-Syariah membahas prinsip al-wala’
wal bara’ dalam menegakkan kebenaran di atas manhaj salaf. Juga
tafsir awal surat Abasa, sebab kelompok sesat melunturkan makna
surat ini ketika mereka diboikot.
085788xxxxxx
Jazakumullahu
pertimbangkan.

khairan

atas

masukannya,

akan

kami

Info Ringan
Saya mau usul, bagaimana kalau Asy-Syariah memuat info-info
praktis masalah thibbun nabawi, resep sehat, tips-tips kesehatan,
dan lain-lain setiap edisi. Biar kita tidak terlalu mengerutkan dahi
ketika membaca. Tetapi ada selingan artikel yang menarik dan
bermanfaat.
Rico-Klaten 085737xxxxxx
Sebagaimana pernah kami sampaikan, kami masih terkendala
dengan padatnya artikel yang masuk. Jadi, rubrik “yang tidak
bersifat selingan” saja masih sering naik turun karena tidak
mendapat ruang. Sementara itu, untuk penambahan halaman, juga
butuh pertimbangan mendalam. Rubrik yang Anda maksud
sebenarnya juga tidak hilang sama sekali, karena sesekali tetap
muncul, hanya saja sifatnya memang tidak rutin. Jazakumullahu
khairan atas masukannya.

Majalah Asy Syariah Edisi 85

Jazakumullahu khairan.
085229xxxxxx
Pembahasan tentang riba pernah kami angkat pada edisi 28 dan
29. Pembaca bisa melihat kembali di website kami,
www.asysyariah.com.
Ulangi Pembahasan
Bismillah. Saya baru saja mengenal manhaj salaf ini, alhamdulillah
saya menemukan majalah ini. Banyak faedah dari majalah ini. Akan
tetapi, banyak permasalahan yang diusulkan pembaca untuk
diangkat, tetapi redaksi sering mengatakan, “Sudah kami angkat
pada edisi sekian.” Padahal tidak semua orang mempunyai edisi
majalah ini lengkap dari edisi pertama sampai sekarang. Insya
Allah tidak mengapa jika pembahasanpembahasan yang lalu
diangkat atau disinggung lagi. Jazakumullah khairan.
Semoga Majalah Asy Syariah tetap istiqamah.
085643xxxxxx
Kami ucapkan jazakumullah khairan atas apresiasi dan doa Anda
untuk kami. Memang, menjadi sebuah dilema tersendiri bagi kami
ketika ada pembaca yang menanyakan sebuah pembahasan yang
ternyata pernah kami angkat. Semoga suatu saat kami bisa
mengangkatnya kembali dengan sisi pandang yang berbeda.

Page 4

(Majmu’ Fatawa Ibn Baz 21/248) emansipasi wanita dan hak asasi manusia mulai merebak di tengah Majalah Asy Syariah Edisi 85 Page 5 . Meskipun pada praktiknya. Cobalah amati saat mereka bergumul membicarakan masalah yang satu ini. sekarang semua artikel yang pernah terbit hingga edisi 80 telah diunggah ke dunia maya. manakala gerakan Para ulama Islam terkemuka menyatakan bahwa di antara keindahan Islam dan perhatiannya yang besar terhadap kehidupan sosial kemasyarakatan serta penanganannya terhadap berbagai problematika umat adalah adanya syariat poligami. Berbeda halnya dengan kaum wanita.asysyariah. Semakin runyam.com untuk mendapatkan artikel-artikel edisi yang telah lalu. Dalam bahasa Arab. Pembaca bisa merujuk ke www.Alhamdulillah. bila poligami sering dijadikan bahan curhat (curahan hati) di antara kaum hawa. pembahasan tentang poligami acap kali menjadi bunga hati. Bahkan untuk mendengarnya saja berat. Tak heran. Kata poligami tergolong sensitif bagi mereka. Manhaji “Poligami Kemasyarakatan” dalam Ranah Sosial Kategori: Majalah AsySyariah Edisi 085 Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi Fakta Unik Poligami Poligami adalah sistem perkawinan yang membolehkan seorang pria mempunyai istri lebih dari satu orang dalam waktu yang bersamaan. poligami disebut ta’addud azzaujat. khususnya para istri. Bagi kaum pria. apalagi dipoligami. Mungkin karena persepsi mereka bahwa poligami adalah monopoli kaum pria atau diskriminasi terhadap hak-hak kaum wanita. tidak semua pria siap menjalaninya. Bukankah mayoritas mereka mengikutinya dengan antusias? Seakan jiwa mereka terfitnah (baca: terfitrah) dengan poligami.

Para suami dihujat dan digugat. dari sejarah poligami di atas dapat diambil pelajaran berharga bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam bukanlah rasul pertama yang menjalani kehidupan rumah tangga dengan berpoligami. di antara mereka adalah para nabi dan rasul yang mulia. Bahkan. Sepenggal kisah dari kehidupan mereka yang mulia telah diabadikan dalam beberapa surat dari alQur’an. dan jauh dari perbuatan zalim. jumlah istri dalam praktik poligami tidak dibatasi. Pada zaman dahulu. Lain masalah ketika para suami itu berbuat serong. Tak heran. Ibarat api dalam sekam. lahir Nabi Ishak ‘Alaihissalam yang menurunkan para nabi dan rasul di kalangan bani Israil. bukan yang mengawali syariat poligami dalam ranah sosial kemasyarakatan. poligami bukan sesuatu yang baru dalam kehidupan umat manusia. Luapan kemarahan akhirnya menjadi solusi. Para pembaca yang mulia. Demikian pula agama Islam yang beliau bawa. tak sedikit para istri yang dipoligami merasa jengkel dan tersulut emosi. Dengan hanya modal semangat pun bisa. Karena itu. selingkuh itu “selingan indah keluarga utuh”. syariat poligami yang terdapat dalam agama Islam tertata. Yang penting tidak dimadu! Itulah sekira letupan hati mereka. Bahkan. punya wanita idaman lain (WIL) yang tak halal baginya alias selingkuh. Reaksi sebagian istri justru tak sehebat ketika dipoligami. jumlah itu dibatasi. orang yang berpoligami tidak cukup hanya dengan modal Page 6 . Pada zaman dahulu. Demikian pula Nabi Dawud ’Alaihissalam dan Nabi Sulaiman ’Alaihissalam serta sejumlah nabi yang lain. pasti Allah Subhanahu wata’ala melarangnya. Setelah kedatangan Islam. Ketika orang-orang mulia dari kalangan nabi dan rasul telah menjalaninya. Bisa jadi karena pengalaman mereka bahwa selingkuh itu “lebih aman” daripada poligami. lahir pula Nabi Isma’il ’Alaihissalam yang menurunkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Demikianlah di antara ragam fakta unik yang terjadi dalam ranah sosial kemasyarakatan kita. tak sedikit dari mereka yang diam seribu bahasa. Adapun dari Hajar istri beliau yang kedua. Kalaulah poligami itu tercela dan berefek negatif dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Sejak dahulu kala umat manusia telah menjalani kehidupan rumah tangga dengan berpoligami. Sampaisampai ada sebuah pelesetan. Padahal selingkuh itu menjijikkan. bukankah beliau berpoligami?! Dari Sarah istri beliau yang pertama. Siapa saja boleh memperbanyak istri tanpa ada batasan tertentu. Seakan telah melakukan dosa besar yang tak bisa diampuni lagi. mereka menjalani kehidupan rumah tangga dengan berpoligami. Selingkuh diharamkan dalam agama dan tak selaras dengan fitrah suci manusia.umat. orang bebas berpoligami sekehendak hatinya. Majalah Asy Syariah Edisi 85 Cobalah ingat kembali sosok Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam. bila di antara para suami “bermasalah” itu lebih memilih berbuat selingkuh daripada poligami. adil. Tak sedikit dari mereka yang tercemar nama baiknya bahkan terempas dari kedudukannya. tapi nyata. berbagai syubhat (kerancuan berpikir) antipoligami pun menjadi konsumsi harian para istri. Baranya terus menjalar. Selingkuh adalah zina. Akibatnya. Setelah kedatangan Islam. perlahan namun pasti. maksimal empat orang istri saja. Memang aneh. Bedanya. berarti poligami itu tidaklah tercela. Sejarah Poligami Menilik sejarahnya.

seperti “Satu istri saja nggak habis. Nabi Dawud ’Alaihissalam dan Nabi Sulaiman ‘Alaihissalam juga telah berpoligami dengan para istri yang banyak jumlahnya dengan seizin Allah Shallallahu ‘alaihi wasallam. maka nikahilah wanitawanita (lain) yang kalian senangi: dua. Demikian pula tidak sedikit dari para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan generasi setelah mereka yang berpoligami. Bila khawatir tidak dapat berlaku adil terhadap (hakhak) para istri yang dipoligami. walaupun poligami itu termasuk dari syariat Islam yang mulia. Pada zaman dahulu. amalan poligami harus dijalani berdasarkan aturan syariat. Yang lain menimpali. dan kewajiban lainnya.” Hingga kelas atas yang pembicaraannya bernuansa ilmiah. dan maslahat di balik itu semua.” (Majmu’ Fatawa Ibn Baz 21/239) Majalah Asy Syariah Edisi 85 Ada Apa dengan Poligami? Poligami tergolong topik yang kontroversial di tengah umat.” Yang lain menimpali. Tarik ulur bahkan perdebatan sengit sering terjadi seputarnya. Allah Subhanahu wata’ala menjadikan mereka bermanfaat bagi umat. dengan menegakkan prinsip keadilan dan kehati-hatian terkait dengan hak para istri dalam hal.” Artinya. Yaitu.semangat. Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata. Setiap pihak berbicara sesuai dengan strata/tingkatannya. amalan poligami dijalani berdasarkan “kebijakan” suami. Setelah kedatangan Islam. atau empat. sedangkan untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dibolehkan lebih dari empat orang istri sebagai kekhususan bagi beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam karena hikmah. Yang demikian itu lebih dekat untuk tidak berbuat aniaya. Lebih Page 7 . Melalui merekalah sejumlah ilmu yang bermanfaat. apalagi banyak. tempat tinggal. menjalani kehidupan rumah tangganya dengan berpoligami. apalagi banyak. tapi juga harus dengan pertimbangan yang matang. “Memang benar poligami itu syariat ilahi.” (an-Nisa’: 3) Rasulullah n selaku teladan terbaik umat manusia. Kemudian jika kalian takut tidak dapat berlaku adil maka nikahilah seorang saja. dan budi pekerti luhur Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam (terutama saat berada di tengah-tengah keluarganya. tetapi perasaan kaum wanita juga harus diperhatikan. rahasia. Datanglah Islam dengan memberikan berbagai batasan padanya dan menentukan jumlah maksimal untuk umat Islam dengan empat orang istri. sebagaimana dalam kitab-kitab tarikh. Allah Subhanahu wata’ala berfirman. atau budak-budak wanita yang kalian miliki.) dapat tersampaikan kepada umat. nafkah. tiga. sebagaimana pula telah dijalani oleh bangsa Arab jahiliah sebelum Islam. tidak sedikit dari mereka yang menjalani kehidupan rumah tangga dengan berpoligami. akhlak yang mulia. Sungguh. Demikian pula para sahabat beliau n yang mulia. Ini semua sebagai bukti bahwa poligami merupakan bagian dari syariat Islam yang mulia. seperti poligami itu syariat ilahi yang telah ditetapkan dalam al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. waktu menginap (giliran bermalam). sebagaimana yang dikisahkan dalam sirahnya. Mulai kelas bawah yang “kampungan”. amalan poligami ini telah dijalani oleh umat terdahulu yang telah mencapai kemajuannya. tapi ngono yo ngono ning ojo ngono (gitu ya gitu tapi jangan gitu). TcX‫ْ َأ‬eUُfْ g ِ ْ‫ع ۖ َ\ِ|ن‬ َ Tَw‫ث َو ُر‬ َ Tَz{ُ ‫ٰ َو‬Qkَ lْ Sَ ‫ ِء‬Tَ`knX‫ ا‬o َ Sn eُpXَ ‫ب‬ َ Tَr TَS ‫ُ]ا‬spِ tTَ\ ٰQSَ TَUVَ Xْ ‫ ا‬Zِ\ ‫`_ُ]ا‬ ِ aْ bُ TcX‫ْ َأ‬eUُ fْ g ِ ْ‫َوِإن‬ ‫ُ]ا‬X]ُ~bَ TcX‫ٰ َأ‬Qtَ ْ‫ˆ َأد‬ َ Xَِٰ‫ْ ۚ ذ‬epُ tُTَ€ْ ‫‚ْ َأ‬pَ zَSَ TَS ْ‫… َ} ًة َأو‬ ِ ‫ُ]ا َ\]َا‬X}ِ ~ْ bَ “Dan jika kalian takut tidak dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) wanita yatim (bila kalian menikahinya). pen. maka Islam menuntunkan agar mencukupkandiri dengan satu istri saja. “Sesungguhnya Nabi n telah berpoligami dengan sembilan orang istri. “Satu istri saja enak.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala.dari itu.” Sungguh berbeda kondisi orangorang yang Allah Subhanahu wata’ala lapangkan dadanya untuk menerima agama Islam dengan segala syariat dan ketetapannya. Wallahul musta’an. dengan orang-orang yang telah membatu hatinya dan berkesumat benci terhadapnya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman. Itulah di antara konsekuensi keimanan yang harus selalu dipegang erat-erat oleh setiap insan yang beriman. akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.Nya. Sehingga jelaslah bahwa syariat Islam merupakan kehidupan bagi umat dan pangkal kebahagiaan mereka. ada kaidah penting yang harus diperhatikan oleh setiap insan yang beriman dalam menyikapi berbagai permasalahan hidup. ataupun hawa nafsu atas segal ketetapan Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. semoga hidayah dan taufik Allah Subhanahu wata’ala selalu mengiringi kita. termasuk poligami. oَS‫ْ ۗ َو‬e‫ ِŠ ِه‬Sْ ‫ْ َأ‬oSِ ‫ َŠ ُة‬Vَ ‹ ِ Xْ‫ ا‬eُ Œُ Xَ ‫ن‬ َ ]ُpَ ‫ْŠًا أَن‬S‫ ُ َأ‬Xُ]ُŽ‫ ُ َو َر‬zcX‫ ا‬Qََ ‫ ٍ’ ِإذَا‬kَ Sِ ْ“Sُ TَX‫ َو‬o ٍ Sِ ْ“€ُ Xِ ‫ن‬ َ Tَ‫ آ‬TَS‫َو‬ TًkVِ–S— TًXTَz˜ َ ™ c˜ َ ْ}aَ \َ ُ Xَ]ُŽ‫ َ َو َر‬zcX‫š ا‬ ِ ~ْ َ “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin. Para pembaca sekalian. Tidak boleh pula mendahulukan perasaan. Sungguh tidak ada kehidupan dan kebahagiaan bagi mereka tanpa itu semua. anak-anak pun hidup takmenentu. dan sesungguhnya kepada.” (alAnfal: 24) Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz t dalam ceramah agama yang bertajuk asy-Syari’ah al-Islamiyyah wa Mahasinuha wa Dharuratul Basyar Ilaiha mengatakan.Nyalah kalian akan dikumpulkan. Namun. Allah Subhanahu wata’ala berfirman. dan sikap enggan menyambut seruan tersebut sebagai kematian. tanpa ada ganjalan sedikit pun di dalam hati. Yaitu.” (al-Ahzab: 36) Dengan menerima segala ketetapan Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya n akan terwujud kehidupan yang berbahagia. apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan. sambutlah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kalian kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kalian. Zِ\ ˆ َ §ِ Xَٰ‫ ِ ۚ أُو‬zcX‫ ِذ ْآ ِŠ ا‬onS eُŒwُ]ُzُ ’ِ Vَ Ž ِ Tَazْ Xn ٌ™ْ ]َ َ\ ۚ ِ wn‫ر‬c onS ‫ُ] ٍر‬t ٰQzَ َ ]َ Œُ \َ ‫ ِم‬TَzŽ ْ |ِ zْ Xِ ¡ُ ‫}ْ َر‬¢ َ ُ zcX‫ح ا‬ َ Šَ ¤ َ oَ€\َ ‫َأ‬ o ٍ Vِ–S— ‫ل‬ ٍ Tَz˜ َ Page 8 . Dan barang siapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan Majalah Asy Syariah Edisi 85 yang nyata. menerima segala syariat dan ketetapan yang datang dari Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan lapang dada dan berbaik sangka kepada syariat. logika. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya. “Maka Allah Subhanahu wata’ala menjadikan sikap menyambut seruan Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya sebagai kehidupan. ‫ َ€Šْ ِء‬Xْ ‫ ا‬o َ Vْ wَ ‫ل‬ ُ ]ُsَ َ zcX‫ن ا‬ c ‫€ُ]ا َأ‬zَ ْ ‫ْ ۖ وَا‬epُ VِVs ْ ُ Tَ€Xِ ْe‫ ُآ‬Tَ‫ل ِإذَا َد‬ ِ ]ُŽŠc zِX‫ ِ َو‬czXِ ‫–ُ]ا‬VِŸUَ Ž ْ ‫ُ]ا ا‬kSَ › o َ ِœXc‫ ا‬TَŒ— ‫ َأ‬Tَ ‫ن‬ َ ‫Šُو‬  َs ْ bُ ِ Vْ Xَ‫ ُ ِإ‬tc ‫ ِ– ِ َوَأ‬zْ َ ‫َو‬ “Hai orang-orang yang beriman. Atas dasar itu. setiap mukmin dan mukminah yang menjunjung tinggi nilainilai keimanan tidak boleh menolak syariat dan ketetapan yang telah disyariatkan oleh Allah Subhanahu wata’alal dan RasulNya. tak dimungkiri bahwa pandangan dan pembicaraan tentang poligami sangat beragam di tengah umat ini. banyak rumah tangga yang berantakan karena poligami! Perceraian tak dapat dihindari.

maka Islam menuntunkan agar mencukupkan diri dengan satu istri saja. Yang mencemarkannya adalah para oknum yang menjalaninya. dan anak-anak hidup merana.Qur’an surat an-Nisa’ ayat 3. Terlepas apakah ada kemampuan untuk menjalaninya ataukah tidak. bila khawatir tidak dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) para istri yang dipoligami. sesungguhnya di balik syariat poligami Page 9 . maka itu bukan karena syariat poligaminya. Merekalah orang-orang yang ditimpa kecelakaan dan kejelekan yang besar. sungguh ketetapan tentang poligami yang sedang dipermasalahkan itu telah dijelaskan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. bertebar sahaja. Wallahul musta’an. Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata. Sama halnya dengan kasus-kasus kelabu seputar pernikahan yang tidak poligami atau perselingkuhan suami/istri. mereka itu dalam kesesatan yang nyata. bila kita perhatikan dengan saksama.Sunnah. sebagaimana yang dibimbingkan dalam surat an-Nisa’ ayat 3 di atas. dan berat hatinya untuk mengingat Allah Subhanahu wata’ala. Penyebab utamanya adalah oknum yang bersangkutan. ketetapan tentang Maka dari itu.” (azZumar: 22) Dari sini terkandung pelajaran berharga bahwa poligami tidak lain adalah syariat ilahi yang ditetapkan dalam kitab suci al-Qur’an dan as. “Apakah sama orang yang Allah Subhanahu wata’ala lapangkan dadanya untuk menyambut agama Islam. 668) Adapun kasus-kasus kelabu seputar poligami. dan anak-anak hidup merana. enggan mengingat ayat-ayat Allah Subhanahu wata’ala. siap menerima dan menjalankan segala hukum syariat yang dikandungnya dengan penuh kelapangan. Penyebab utamanya adalah oknum yang menjalani poligami tersebut. kondisinya selalu berpaling dari ibadah kepada Rabbnya dan mempersembahkan ibadah tersebut kepada selain Allah Subhanahu wata’ala. Setiap muslim dan muslimah harus membenarkan syariat tersebut dan menerimanya dengan lapang dada tanpa ada ganjalan sedikit pun di dalam hati. keluarga berantakan. hlm. keluarga berantakan. Demikian pula dalam as-Sunnah. ‘ia mendapat cahaya dari Rabbnya’). perceraian. Mengingat. bukan wajib. Para pembaca yang mulia. bukan syariat pernikahannya. pernikahan baik dengan poligami maupun tidak poligami tetaplah sebagai syariat ilahi yang mulia. perceraian. Yaitu orang-orang yang membatu hatinya terhadap Kitabullah. sama dengan selainnya?! Bahkan. Bahkan. Ketetapan tentang poligami dijelaskan dalam al.kehidupan rumah tangganya dengan berpoligami.” (Taisir al-Karimirrahman. dan di atas kejelasan ilmu (inilah makna firman Allah Subhanahu wata’ala. poligami dijelaskan dengan praktik poligami yang dilakukan oleh Rasulullah n dalam kehidupan rumah tangga beliau dan sejumlah hadits yang berisi aturan penting bagi siapa saja yang menjalani Di Balik Syariat Poligami Majalah Asy Syariah Edisi 85 Para pembaca yang mulia. poligami itu sendiri hukum asalnya adalah sunnah atau mubah. “Maka apakah orang-orang yang Allah lapangkan dadanya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah.

dan praktik Page 10 .Nasa’i no. Dengan jumlah yang besar. akan didapati banyak wanita yang hidup tanpa suami. Lebih dari itu. dia terhalang untuk sementara waktu dari maslahat memperbanyak keturunan. Padahal lelaki (suami) selalu berhasrat dan siap untuk memperbanyak keturunan sebagaimana yang dihasung oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits di atas. Di antara ketetapan Allah (sunnatullah) di muka bumi ini bahwa jumlah kaum lelaki lebih sedikit dibandingkan jumlah kaum wanita. Masih tersisa berbagai kondisi yang menjadi penghalang baginya untuk melayani kebutuhan biologis suaminya.Irwa’ no. sehingga tidak mampu memenuhi mayoritas hak suami. Berbeda halnya jika mempunyai istri lebih dari satu. 4. 3227. Di antara para istri ada yang menderita sakit berat yang menahun. Hal ini pun akan menjadi problem tersendiri bila mereka tak kuasa menjaga kesucian dirinya. 3. eَ Sَ «ُXْ ‫ ا‬eُ pُ wِ ٌŠ{ِ TَpSُ Zّtِ |ِ \َ ‫ُ] َد‬X]َ Xْ ‫ َ]دُو َد ا‬Xْ‫و©ُ]ا ا‬c ªَ bَ “Nikahilah wanita yang penyayang dan banyak keturunan (subur). maka mau tidak mau harus menyesuaikan sang istri dalam segala kondisinya. bersabar dengan kondisi istrinya yang sakit tersebut dan tidak menceraikannya. Jika seorang lelaki dibatasi hanya satu orang istri. Shahih Sunan an-Nasa’i no. selingkuh. seperti stroke dan sejenisnya. bahkan terkadang mengalami nifas di hari-hari melahirkan. jumlah mereka bisa semakin berkurang. 1. Dengan Majalah Asy Syariah Edisi 85 Ketika sang suami berkeinginan untuk mempunyai anak lalu menikah dengan wanita yang lain. Di antara para istri ada yang tak dikaruniai anak karena mandul atau yang lainnya. sebagaimana dalam sabda beliau. Lebih-lebih jika mereka berpegang teguh dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam serta bimbingan para sahabat yang mulia. 2050 dan an. Poligami adalah sebab terbesar populasi umat Islam. dalam hal ini dengan adanya istri yang kedua. Setiap bulannya secara normal mengalami haid.sosial demikian. Lihat Shahih Sunan Abi Dawud no. terdapat hikmah yang sangat besar dalam ranah kemasyarakatan. 5. Dengan poligami. dan al. karena aku berbangga dengan banyaknya jumlah kalian terhadap umat selain kalian. kebutuhan vital rumah tangganya dapat terpenuhi. Asy-Syaikh al-Albani menilainya hasan sahih. 1784) 2. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam senang dan bangga bila umat Islam banyak jumlahnya. Seorang istri dalam kehidupan rumah tangga pasti mengalami sakit. 1789. padahal kehidupan rumah tangganya tergolong harmonis. Sebagai solusinya adalah poligami. istri yang pertama tetap mendapatkan perhatian dan tidak terabaikan begitu saja. 3227. maka termasuk sikap bijak mempertahankan istri pertama dengan dipoligami dan tidak menceraikannya. Hubungan gelap. Jika istrinya hanya satu orang.” (HR. Maslahat itu akan tetap didapat dari istrinya yang lain. Dengan itu. Abu Dawud no. Di antara hikmah tersebut adalah. umat Islam akan disegani oleh musuhmusuhnya. Di sisi lain. Termasuk sikap bijak dari sang suami. jenis akivitas kaum lelaki secara umum lebih berisiko daripada aktivitas kaum wanita.

asusila lainnya pun sebagai jalan pintasnya. Bisa jadi. dan para tokoh muslim. Sebabnya pun beragam. (Disarikan dari Adhwaul Bayan karya asy-Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi 3/22—23 dan Fatawa al-Lajnah ad-Daimah lil Ifta’ seri 1. Kehormatannya dijual dengan kenistaan. termasuk faktor finansial. Semakin banyak jumlah mereka. maka tidak bisa dibenarkan secara mutlak. mereka akan hidup tanpa suami dan rawan menjadi sebab “kotornya” lingkungan. Dengan itu. kaum wanita lebih siap menikah dibandingkan kaum lelaki. Dengan poligami pula. Dengan poligami. dan memperbanyak populasi umat Islam yang dapat menggentarkan musuh-musuh Islam. akan terjalin hubungan rumah tangga yang sah dan menjadi sebab terjaganya nasab keturunan. Umat Islam membutuhkan kader yang sangat banyak untuk mengemban misi dakwah Islam yang mulia. 19/175—178 fatwa no. jika dalam kehidupan berpoligami muncul permusuhan dan kekacauan di tengah keluarga. menantu dan mertuanya. antara orang tua dan anaknya. bahkan diberikan begitu saja kepada orang yang tak berhak mendapatkannya. Sebab. 7. ulama. ulama. memudahkan proses pernikahan untuk mereka semua. akan diraih kemaslahatan yang besar. akan tersia-siakan nasib kaum wanita yang sudah siap menikah itu. dan para tokoh muslim itu dibatasi menikah dengan satu orang istri saja. Di antara solusi terbaik untuk menjaga kebersihan lingkungan tersebut adalah syariat poligami. 3166. Adapun anggapan bahwa poligami adalah penyebab permusuhan dan kekacauan di tengah keluarga. Karena itu. bahkan antara suami dan istrinya yang hanya satu orang saja. Bersih lingkungan dari praktik asusila (zina) adalah harapan bersama dalam ranah sosial kemasyarakatan. Anak cucu mereka yang sekaligus sebagai para Majalah Asy Syariah Edisi 85 kader itu biidznillah akan banyak berperan dalam menopang perjuangan Islam. karena beban seorang istri tak seberat beban suami. tak sedikit dari kaum lelaki yang “takut” menikah. Dari sini dapat diketahui bahwa jumlah kaum lelaki yang siap menikah jauh lebih sedikit dibandingkan kaum wanita. akan tersalurkan kebutuhan masing-masing pihak secara halal dan terhormat. Wallahul musta’an. Jadi. tentu semakin diharapkan oleh umat. hal itu tergolong lumrah dan efeknya lebih kecil dibandingkan hikmah yang besar di balik syariat poligami yang menjaga kehormatan kaum wanita. Akibatnya. terkhusus dalam hal tanggung jawab pembinaan dan nafkah keluarga. Di antara sistem pengkadera yang alami dan efektif adalah dengan berpoligami. Secara umum. Oleh karena itu. berjalannya kaderisasi di tengah umat ini kurang efektif. jika seorang lelaki yang siap menikah dibatasi hanya satu orang istri saja. di antaranya: Page 11 . dengan beberapa tambahan) Para pembaca yang mulia. 8. Berapa banyak kader mulia yang muncul dari keluarga yang berpoligami?! Masih ingatkah Nabi Ishak q dan Nabi Ismail q serta para nabi keturunan mereka? Bukankah mereka muncul dari keluarga yang berpoligami? 9. Jika orang-orang saleh. permusuhan dan kekacauan di tengah keluarga itu bisa terjadi kapan saja. Terkhusus bagi orang-orang saleh. Syariat poligami dapat menjadi sebab terjalinnya hubungan kekerabatan dengan banyak pihak. 6. kakak dan adiknya. dari pembahasan di atas dapat diambil beberapa kesimpulan penting.

• Di balik syariat poligami terdapat hikmah yang sangat besar dalam ranah sosial kemasyarakatan. Amin. maka Islam menuntunkan agar mencukupkan diri dengan satu orang istri saja. sebagaimana yang dibimbingkan dalam surat anNisa’ ayat 3.• Amalan poligami adalah syariat ilahi. sehingga setiap muslim dan muslimah harus menerimanya dengan lapang dada tanpa ada ganjalan sedikit pun di hati. dan jauh dari perbuatan zalim. berbagai permasalahan umat terkhusus problem rumah tangga dapat dipecahkan. • Nabi Muhammad n bukanlah rasul pertama yang menjalani kehidupan rumah tangga dengan poligami. • Syariat poligami dalam agama Islam tertata. demikianlah selayang pandang tentang poligami dalam ranah sosial kemasyarakatan. apabila seseorang khawatir tidak dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) para istri yang dipoligami. adil. Demikian pula agama Islam yang beliau bawa. Oleh karena itu. bukan yang mengawali syariat poligami dalam ranah sosial kemasyarakatan. ya Rabbal Alamin… Majalah Asy Syariah Edisi 85 Page 12 . Semoga bermanfaat bagi kita semua. Dengan poligami. Akhir kata.

apa yang tertuang dan terangkum di sini masih terlalu banyak kekurangannya. jauh dari ilmu yang benar dan bimbingan para ulama rabbani. kami mengajak diri kami.” Hanya Allah Subhanahu wata’ala sajalah tempat meminta tolong. giliran pengamalan. keluarga kami.Kajian Utama “Syariat Poligami Kasih Sayang Allah Subhanahu wata’ala” Kategori: Majalah AsySyariah Edisi 085 Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq al-Atsari ٌ™_ َ wَ ® َ ‫ك‬ َ Tَg‫ َŠ¡ٌ َأ‬pْ Sُ “Saudaramu ini terpaksa. dan segenap kaum muslimin untuk becermin dari penjelasan ilmu yang syar’i. Dari sini. Hanya Allah Subhanahu wata’ala-lah yang memiliki kesempurnaan. Secara panjang lebar kita bisa memaparkan tentang poligami karena kitab-kitab ulama telah menerangkannya. Poligami yang Ditentang Serasa disambar petir di siang bolong. Akibatnya. memohon taufik dari Allah Subhanahu wata’ala. guna mengamalkannya dan memperbaiki amalan. yang menjadi masalah mungkin pengamalan kita sendiri atau pasangan kita. Tetapi. kami meminta uzur dan maaf kepada semuanya. terus terang ingin kami ucapkan ketika kami ditunjuk dan diberi amanat untuk menyusun materi kajian utama di majalah ini dengan tema poligami. seakan-akan tak sudi untuk diduakan—mendengar suaminya sudah punya istri lagi selainnya. ketika seorang istri—yang tidak bisa menerima syariat poligami. istri-istri kita. nastaghfiruka ya Rabbi wa natubu ilaika. La haula wa la quwwata illa billah. amanat tetaplah amanat. dalam masalah yang mungkin masih dianggap peka dan banyak yang menolaknya karena keawaman (kejahilan) atau hawa nafsu. bisa jadi terlalu jauh dari apa yang diharapkan. masih banyak praktik yang salah dari para pelakunya. Akan tetapi. serta menyusun kembali dari ilmu para ulama yang merupakan pewaris ilmu beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. melainkan masih banyak ustadz dan dai Ahlus Sunnah—yang memiliki ilmu dan amal yang melebihi penyusun—yang lebih pantas dan lebih utama menulisnya. atau hasil pengalaman seorang praktisi/ pakar ahli yang sudah berpengalaman dalam masalah ini. syariat poligami yang mulia ini dipandang buruk oleh manusia. Apa yang kami paparkan di sini bukanlah hasil dan kesimpulan dari pikiran dan pengamalan kami pribadi. Karena itu. Penyusun menyadari. Lebih-lebih. inilah yang sulit. Sudahkah kita dan mereka benarbenar menerima. dan Dia sajalah sandaran bertawakal. Namun. banyak kelalaian dan kealpaan. Page 13 . Kami sematamata menukilkan dari Kitabullah dan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Selain itu. Penyusun sendiri khawatir terjatuh pada perkara menggurui dalam agama Allah Subhanahu wata’ala tanpa ilmu dan amal. bukan karena berani. Wallahul musta’an wa waffaqaniyallahu ilash shawab wal ‘amal bihi. dan belum memenuhi apa yang dibutuhkan para pembaca. Ia harus ditunaikan sesuai dengan kemampuan. terlepas dari pengamalan keseharian kami sebagai hamba yang lemah. dan mengamalkannya dengan benar dan Majalah Asy Syariah Edisi 85 sesuai dengan tuntunan? Wallahul musta’an. Ditambah lagi. Kita tengadahkan tangan. tunduk. Kalimat di atas. Bukan karena apa-apa. semua orang bisa. kalau hanya berteori.

kemudian dijiplak oleh sebagian artis atau selebritas yang mengaku muslim di negeri kita. yang laki-laki dan perempuannya hidup bebas. “Sekejam itukah aturan syariat yang diturunkan dari tujuh lapis langit ini oleh Allah Subhanahu wata’ala. ditambah praktik yang salah dari pelakunya. bertuliskan: Majalah Asy Syariah Edisi 85 antipoligami. syariat poligami bukan buatan kaum lelaki untuk menzalimi perempuan. selain yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wata’ala.atau bahkan baru sekadar berencana menikah lagi. penyusun—afahullahu min kulli khatha’in wa zallatin/semoga Allah menjaganya dari kesalahan dan ketergelinciran—pernah melihat sebuah pelat kendaraan bermotor di negeri yang katanya mayoritas kaum muslimin ini. tidakkah itu dianggap kelam. kaum muslimin juga mau mendengarkan igauan mereka tersebut.Nya. perselingkuhan. Bisa jadi. Dan bisa jadi kalian mencintai sesuatu padahal sesuatu itu tidak baik bagi kalian. Ya. Yang menyedihkan. mereka akan protes (dan sudah mereka lakukan!). “Tidak. melainkan Allah Subhanahu wata’ala—Dzat Yang Maha Mengetahui kemaslahatan para hamba—yang menetapkannya. memaklumi. Bahkan. Pemberi segalanya. Allah Subhanahu wata’ala sebagai Pencipta. TَX ْeUُ tَ‫ َوأ‬eُ zَ~ْ َ ُ zcX‫ْ ۗ وَا‬epُ Xc Š° ¤ َ ]َ ‫ َو ُه‬Tً§Vْ ¤ َ ‫–—]ا‬s ِ bُ ‫ٰ أَن‬Q` َ َ ‫ْ ۖ َو‬epُ Xc ٌŠVْ g َ ]َ ‫ َو ُه‬Tً§Vْ ¤ َ ‫ َŠهُ]ا‬pْ bَ ‫ٰ أَن‬Q` َ َ ‫َو‬ ‫ن‬ َ ]ُ€zَ~ْ bَ “Bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal sesuatu itu baik bagi kalian. Allah Subhanahu wata’ala sendiri amat penyayang kepada para hamba-Nya dan tidak akan menzalimi mereka sedikit pun. ini sebenarnya ulah orangorang kafir dan kaki tangannya yang memang ingin menjelekkan Islam dan tidak akan pernah meridhainya. sebenarnya ada otak yang bermain di balik semua kebencian ini. tak heran apabila syariat ini mengundang protes dan kritikan di mana-mana. Kasih Sayang-Nya yang Mahaluas Suara protes jelas banyak datang dari perempuan sebagai pihak yang merasa dirugikan dengan aturan ini. ‘Pilih dia ceraikan aku. dan memaafkannya. menerima. diduakan. Cemburu. Allah Subhanahu wata’ala menyatakan. Salah satu yang mereka anggap sebagai celah mencacati Islam adalah syariat poligaminya. direndahkan. Padahal seperti yang telah dinyatakan sebelum ini. lubuk hati kita akan bertanya. Kalau dirunut. ketika seorang istri mengetahui suaminya selingkuh. merasa dizalimi. Lantas bagaimana dengan orang-orang kafir di negeri Barat. Oleh karena itu. Islam dianggap kelam dengan syariat poligaminya. Allahlah yang mengetahui sedangkan kalian Page 14 . menjadi alasan. punya kekasih gelap. tidak ada maaf ketika suaminya menikahi perempuan lain secara sah. takut kehilangan cinta.” Sebab. tidak peduli istri orang. buku-buku. sehingga mengundang protes dari para hamba-Nya?” Jelas. ia masih bisa memaafkan suaminya. bahkan pekat dan sangat kotor? Mengapa orang mau memaklumi sesuatu yang haram. dan mau berbaikan kembali. atau pilih aku ceraikan dia!’ Wallahul musta’an. Tetapi. dan Pengatur alam semesta ini. wallahul musta’an. Padahal. dan sebagainya. lagu-lagu. dan sebagainya. Dikaranglah sekian igauan untuk memperburuk perkara yang halal ini. tentu lebih tahu kebutuhan para hamba dan yang menyebabkan kebaikan bagi mereka. Poligami memang masih menjadi hal yang mengganjal bagi para istri dan kaum hawa secara umum. sedangkan untuk sesuatu yang halal seolah-olah tidak ada maaf? Kenyataan yang terjadi. jawabannya. perzinaan. Kalau bisa protes kepada Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul. Kebencian kepada poligami ini diperparah dengan propaganda dan slogan-slogan ‘merendahkan perempuan’. dan film-film yang menggambarkan kelamnya poligami.

Dia menetapkan syariat poligami sebagai kasih sayang-Nya kepada para hamba. bisa jadi semakin banyak lelaki jatuh pada perzinaan. kita juga tahu bahwa Allah Subhanahu wata’ala amat penyayang kepada para hamba-Nya. istri salehah yang ingin menyenangkan suami tidak pantas menolaknya.Rahman dan Ar-Rahim. sampai-sampai untuk lima puluh orang perempuan hanya dipimpin oleh seorang lelaki. banyaknya perzinaan. repot mengurus anak. ‫ل‬ ُ Tَ©Šِّ XTczaِ َ ‫‹ ْ€ ِŠ َو‬ َ Xْ ‫ب ا‬ ُ ْŠ¤ ُ Šَ lُ pْ َ ‫ َو‬Tَtªِّ X‫ َŠ ا‬lُ pْ َ ‫™ َو‬ ُ Œْ Ÿ َ Xْ ‫Šَا‬lُpْ َ ‫ َو‬eُ zْ ~ِ Xْ ‫ ا‬²َ \َ ْŠُ ْ‫ ِ’ َأن‬ َ Tc`X‫ط ا‬ ِ ‫Šَا‬¤ ْ ‫ْ َأ‬oSِ ‫ن‬ c ‫ِإ‬ }ُ … ِ ‫]َا‬Xْ ‫ ا‬eُ Vn aَ Xْ ‫ َŠَأ ٍة ا‬Sْ TَkVْ ` ِ €ْ ‹ َ Xِ ‫ن‬ َ ْ]pُ َ QcU… َ ‫ ُء‬Tَ`knX‫ َŠ ا‬lُ pْ َ ‫َو‬ “Termasuk tanda hari kiamat adalah diangkatnya ilmu. sahabat yang mulia. haid.” (HR. Bahkan. Dia Mahatahu bahwa hal itu memberikan kemaslahatan kepada para hamba. al-Bukhari no. dan sebagainya. perempuan memiliki keterbatasan.Nya. Bisa kita katakan. baik lelaki maupun perempuan. niscaya akan banyak perempuan menjadi perawan tua. Karena jumlah perempuan lebih banyak dibanding lelaki. seperti halnya lelaki membutuhkan perempuan. Ar. Maka dari itu. ketika menetapkan syariat poligami. karena harus diakui bahwa perempuan butuh hidup berdampingan dengan lelaki yang dicintai dan mencintainya. Dia adalah Dzat Yang Mahaadil. alangkah egoisnya para perempuan yang memprotes poligami! Di manakah kasih sayangnya kepada sesama. tentu tidak bisa diserahkan kepada siapa-siapa saat ia haid atau nifas. misalnya. apabila terkait “hubungan khusus”nya dengan suami. letih dengan pekerjaan rumah tangga. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Sama sekali Dia tidak pernah menzalimi mereka. niscaya kebutuhan lelaki akan tersia-siakan dan na’udzubillah. Di samping itu. ‫ر ٍة‬c ‫ل َذ‬ َ Tَalْ Sِ eُ zِ± ْ َ TَX َ zcX‫ن ا‬ c ‫ِإ‬ “Sesungguhnya Allah tidak pernah menzalimi walaupun sebesar zarrah2…. dan banyaknya diminum khamr (minuman memabukkan). Dengan demikian.” (al-Baqarah: 216) Dari nama-Nya yang agung. nifas. menikahi seorang perempuan. Ada kalanya dia sakit. Tentu kasihan sekali hidup para perempuan yang tidak mendapat pasangan tersebut. Andai tidak ada syariat poligami. 81 dan Muslim no. 2671) Seorang Istri Tidak Bisa Memenuhi Semua Keinginan Suami Lantas bagaimana kiranya jika ia memiliki penghalang atau uzur untuk menjalankan khidmat tersebut? Kalau itu berupa pekerjaan. Tidak semua “keinginan” suaminya bisa dia penuhi. padahal Dzat yang memberinya kehidupan amat sayang kepada para hamba? Banyaknya Jumlah Perempuan Sebagai seorang istri. Namun. bisa jadi istri masih bisa menyerahkannya kepada orang yang membantunya di rumah. Tidak terbayang kejelekan yang mungkin bisa menimpa mereka. jumlah para lelaki sedikit sedangkan jumlah perempuan banyak. pernah menyampaikan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. banyaknya kebodohan. Ketika suami meminta khidmat/pelayanannya.tidak mengetahui. tentu Majalah Asy Syariah Edisi 85 Page 15 . Seandainya tidak ada syariat poligami.” (an-Nisa: 40) banyak perempuan yang tidak memperoleh pasangan yang akan memimpin hidupnya apabila seorang lelaki hanya boleh Sebesar debu atau sesuatu yang paling kecil yang bertebaran di udara. yang keadilan-Nya ada pada puncak kesempurnaan.

Pembatasan jumlah istri dengan bilangan empat adalah ketentuan dari Dzat Yang Maha Memiliki hikmah. Sebab. Kalaupun kita anggap kericuhan yang terjadi karena poligami sebagai mafsadat. Kebaikan yang besar ini tentu lebih dikedepankan daripada menolak mafsadat atau dampak negatif yang kecil. kita mohon keselamatan kepada Allah Subhanahu wata’ala! Tiga alasan di atas. niscaya akan membuat marah istri yang lain (madunya). anggapan sebagian musuh-musuh Islam bahwa poligami akan selalu menimbulkan pertikaian dan kegaduhan yang mengantarkan kepada keruhnya kehidupan adalah salah besar. atau dianggap menyakiti hati istri pertama dengan memberinya ‘madu’. Namun. pertikaian di antara individu dalam keluarga. sehingga memberi kekuatan besar untuk menghadapi musuhmusuh Islam. …. Majalah Asy Syariah Edisi 85 yaitu penjagaan terhadap perempuan. Al-Qur’an membolehkan poligami demi kemaslahatan perempuan agar mereka tidak terhalang dari menikah dan untuk kemaslahatan lelaki agar tidak tersia-siakan kemanfaatan mereka saat istrinya yang satu sedang beruzur. Selain itu. ia akan salurkan hasrat yang kurang itu kepada yang tidak halal. pertikaian dan perselisihan itu sebenarnya perkara biasa dalam kehidupan insan. Bisa jadi dengan memandang wanita yang bukan mahram. Al-Allamah Muhammad al-Amin asy-Syinqithi rahimahullah. setiap kali suami membuat senang salah satu istrinya. seorang ulama besar dan ahli ilmu tafsir di zamannya. dengan sedikit perubahan) Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab. tentu ada kemaslahatan bagi umat dengan bertambah banyaknya jumlah mereka sehingga mereka bisa menghadapi musuh-musuh agama.Menutup Pintu Perzinaan Apabila mau jujur. (Adhwa’ul Bayan. ayahnya. menyatakan dalam tafsirnya. Kaidah dan prinsip seperti ini sudah dikenaldalam ilmu ushul. bisa dikatakan bahwa lelaki tidak merasa cukup dengan satu wanita. sungguh tidak ada yang mencela aturan-Nya ini selain orang yang dibutakan oleh Allah Subhanahu wata’ala dengan gelapnya kekafiran. Pertikaian yang dikhawatirkan akan muncul karena poligami tidak ada apa apanya jika dibandingkan dengan kebaikan besar yang diperoleh dari poligami. Page 16 . Sebab. cukuplah mewakili pernyataan kita bahwa syariat poligami adalah tanda rahmat dan kasih sayang Allah Subhanahu wata’ala kepada para hamba. mau tidak mau. memudahkan seluruh perempuan untuk menikah/mendapat pasangan hidup. ke mana gerangan ia palingkan kebutuhannya yang tidak terpenuhi dari seorang istri saja? Apabila si lelaki tidak memiliki rasa takut kepada Allah l. selingkuh. bahkan dengan istri satusatunya. apabila ia hanya memiliki satu istri di rumahnya. Maha Mengetahui lagi Memberitakan. anak-anaknya. Pertikaian bisa terjadi antara seseorang dan ibunya. mencari kekasih gelap. memang selalu ada. Ucapan ini amat jelas batilnya bagi setiap orang yang berakal. bersifat pertengahan antara jumlah yang sedikit yang menyebabkan tersia-siakannya kemanfaatan lelaki dan jumlah banyak yang menyebabkan seorang suami tidak mampu menunaikan semua kebutuhan dan keperluan kehidupan berumah tangga4. Poligami adalah syariat dari Dzat Yang Maha Memiliki hikmah. niscaya sisi positif yang diperoleh dengan poligami lebih dikedepankan karena lebih kuat apabila dibanding dengan mafsadat yang mungkin terjadi. Menurut mereka. Na’udzubillah. dan memperbanyak jumlah umat yang akan terlahir dari pernikahan tersebut. zina. sehingga suami selalu berada di antara dua kemarahan. 3/416— 417.

perintah pada ayat di atas bukanlah lil wujub (untuk mewajibkan). nikahilah Majalah Asy Syariah Edisi 85 satu istri saja atau mencukupkan dengan budak perempuan yang kalian miliki. edisi ketiga. Adapun dalil dari as-Sunnah adalah sebagai berikut. 1/561—562) Hal ini memberikan faedah bolehnya beristri sampai empat orang. Allah Subhanahu wata’ala sama sekali tidak membatasi istri itu harus satu. dan selainnya. atau dalam bahasa keseharian kita biasa disingkat dengan ta’addud. ‫ُ]ا‬spِ tTَ\ yang berupa fi’il amr (kata kerja perintah) tidaklah menunjukkan wajibnya berbilang istri. Adapun lafadz. Dalil dari al-Qur’an. Badai’u ash-Shanai’ fi Tartib asy-Syarai’ (alKasani. tidak menjadi masalah. al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab (an-Nawawi. istilah poligami tidak khusus untuk pihak lelaki. Apa pun istilahnya. Hal itu lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (apakah) dua. Para istrinya juga masuk Islam bersamanya. terbitan Balai Pustaka. melainkan lil ibahah (untuk membolehkan). disebutkan bahwa Ghailan ibnu Salamah ats-Tsaqafi radhiyallahu ‘anhu masuk Islam dalam keadaan ia memiliki sepuluh istri yang dinikahinya di masa jahiliah. TcX‫ْ َأ‬eUُfْ g ِ ْ‫ع ۖ َ\ِ|ن‬ َ Tَw‫ث َو ُر‬ َ Tَz{ُ ‫ٰ َو‬Qkَ lْ Sَ ‫ ِء‬Tَ`kn X‫ ا‬o َ Sn eُpXَ ‫ب‬ َ Tَr TَS ‫ُ]ا‬spِ tTَ\ ٰQSَ TَUVَ Xْ ‫ ا‬Zِ\ ‫`_ُ]ا‬ ِ aْ bُ TcX‫ْ َأ‬eUُ fْ g ِ ْ‫َوِإن‬ ‫ُ]ا‬X]ُ~bَ TcX‫ٰ َأ‬Qtَ ْ‫ˆ َأد‬ َ Xَِٰ‫ْ ۚ ذ‬epُ tُTَ€ْ ‫‚ْ َأ‬pَ zَSَ TَS ْ‫… َ} ًة َأو‬ ِ ‫ُ]ا َ\]َا‬X}ِ ~ْ bَ “Jika kalian khawatir tidak bisa berbuat adil terhadap perempuan yatim (bila kalian menikahinya). Jadi. Justru ada istilah lain yang khusus bagi lelaki. as-Sunnah. dua. 1/597). asySyaukani. karena ada istilah poliandri untuk wanita yang bersuami lebih dari satu. Hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma. atau paling banyak empat istri. terkecuali bagi mereka yang tidak dapat atau khawatir tidak bisa berbuat adil di antara para istri. dan ijma’. nikahilah wanita-wanita lain yang halal bagi kalian untuk dinikahi. yaitu poligini. Allah Subhanahu wata’ala berfirman. sebagaimana disebutkan dalam Tafsir athThabari (3/580). (hlm. jadilah poligami dipakai untuk lelaki. Namun. tiga. yang bermakna sistem perkawinan yang membolehkan seorang pria memiliki beberapa wanita sebagai istrinya di waktu yang bersamaan. makna yang kita maksud adalah lelaki menikahi lebih dari satu wanita. Yang penting. atau empat. 17/202). apabila kalian khawatir tidak bisa berlaku adil (di antara para istri bila sampai kalian memiliki lebih dari satu istri).” (anNisa: 3) Sisi pendalilan dari ayat di atas. Nabi Page 17 . Pensyariatan Poligami Pensyariatan poligami ditunjukkan oleh al-Qur’an. nikahilah oleh kalian wanita-wanita yang halal bagi kalian untuk dinikahi sejumlah yang disebutkan. 1. 885—886) Namun. Demikian pendapat mayoritas fuqaha. karena definisi poligami adalah sistem perkawinan yang salah satu pihak memiliki atau mengawini beberapa lawan jenisnya di waktu yang bersamaan. (Fathul Qadir.Kajian Utama “Syariat Poligami” Kategori: Majalah AsySyariah Edisi 085 Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. ‫ ِء‬Tَ`kn X‫ ا‬o َ Sn eُpXَ ‫ب‬ َ Tَr TَS ‫ُ]ا‬spِ tTَ\ Maksudnya. tiga. Allah Subhanahu wata’ala menyatakan. namun jarang kita pakai. tetapi menunjukkan pembolehan. yang dalam bahasa Arab disebut ta’addud az-zaujat.

insya Allah. taqrir Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga termasuk tasyri’ (berlaku sebagai syariat). “Aku masuk Islam. 1128. Sementara itu. Tً~wَ ْ‫ َأر‬o c Œُ kْ Sِ ْŠUَ g ْ‫ا‬ ‘Pilih empat dari mereka’. sementara aku beristri delapan. Syafi’i. karena sungguh aku berbangga-bangga di hadapan umat-umat yang lain dengan banyaknya jumlah kalian. eَ Sَ «ُXْ‫ ا‬eُ pُ wِ ٌŠ{ِ TَpSُ Zّtِ |ِ\َ ،َ‫]ْد‬Xُ]َ Xْ ‫ َ] ُدوْ َد ا‬Xْ ‫©]ْا ا‬ — ‫ َو‬ªc bَ “Nikahilah oleh kalian wanita yang Poligami.Shallallahu ‘alaihi wasallam pun memerintah Ghailan memilih empat dari mereka (dan menceraikan yang lain). Problem atau Solusi? penyayang (cinta kepada suaminya) lagi subur rahimnya. Hanbali. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda. memerintah para sahabatnya yang berislam dalam keadaan memiliki istri lebih dari empat untuk memilih empat dari para istrinya dan mencerai yang lainnya. yang beristri lebih dari satu. al-Ahnaf (Hanafi). ‫ع‬ َ Tَw‫ث َو ُر‬ َ Tَz{ُ ‫ٰ َو‬Qkَ lْ Sَ Sunnah Taqririyah Penetapan dan diamnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap poligami yang dilakukan oleh sebagian sahabat beliau. Aku pun mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengatakan kepada beliau tentang hal itu. selama memenuhi syarat-syarat pernikahan poligami yang akan disebutkan nanti. dinyatakan hasan sahih dalam Shahih Abi Dawud) Salah satu cara memperbanyak keturunan adalah dengan menikahi banyak wanita sampai batasan empat. dinyatakan hasan dalam Shahih Ibnu Majah dan Irwa’ul Ghalil no. Hadits yang berbunyi. “(Apakah) dua. di antaranya asy. Maliki. Adapun dalil dari ijma’ ahlul ilmi dari kalangan sahabat. 2050 dari sahabat Ma’qil bin Yasar z. di antaranya sahabat yang paling dekat dan paling dicintai oleh beliau.” 2. dan Ibnu Hazm dari kalangan Zhahiri. Beliau pun bersabda. 1952. Yang menganggapnya mustahab berdalil dengan beberapa hadits dan atsar yang menunjukkan sunnahnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai orang yang tidak pernah berucap dari hawa nafsunya tetapi dari wahyu. tabi’in. dan mazhab yang empat. sepakat membolehkan poligami sampai empat istri. ia berkata. Abu Bakr ash. Dari dalil-dalil pensyariatan poligami di atas. Ahmad. asal perintah adalah wajib tentang larangan beristri lebih dari empat dan bolehnya poligami sampai empat. para ulama ada yang menganggap hukum asalnya mubah dan ada pula yang memandang sebagai suatu amalan sunnah/mustahab.” (Sunan at-Tirmidzi. “Yang diamalkan adalah hadits Ghailan ibnu Salamah ini. dinyatakan sahih dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi) Setelah membawakan hadits di atas. atau empat. kitab an-Nikah. bab “Ma Ja’a fir Rajul Yuslim wa ‘Indahu ‘Asyru Niswah”) 2. 1885) Sisi pendalilan dari hadits di atas. Ibnu Majah rahimahullah meriwayatkan dalam Sunan-nya dari Qais ibnul Harits radhiyallahu ‘anhu. seperti: 1. Majalah Asy Syariah Edisi 85 Page 18 . al-Imam at-Tirmidzi rahimahullah berkata.” (HR. Sementara itu. tiga.” (no.Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. (Sunan at-Tirmidzi no. Abu Dawud no.Syafi’i. menurut ulama hadits teman-teman kami. berdasar firman Allah Subhanahu wata’ala. dan Ishaq.

silakan melihat kembali pembahasan kajian utama di majalah Asy-Syariah Vol. Majalah Asy Syariah Edisi 85 “Namun. Orang yang seperti ini makruh hukumnya berpoligami Page 19 . dijadikan sandaran oleh mereka yang berpendapat disunnahkannya memperbanyak istri.”2 ( HR. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda. 2326 dari Abu Dzar al-Ghifari z) 3. dan haram. ia memiliki seorang istri. yaitu wajib. 5069) Semua dalil di atas dan beberapa dalil lain yang tidak kita sebutkan di sini. Sementara itu. 5261) 4. Misalnya. dengan judul Menikah dengan Aturan Islam. al-Bukhari no. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu lalu berkata. dari Anas bin Malik z. an-Nasa’i dalam ‘Isyratun Nisa. “Apakah engkau sudah menikah?” “Belum. 12—13). Muslim no. Untuk keterangan tentang hukum yang lima ini. bisa diberlakukan juga hukum yang lima. Ahmad dalam Musnadnya. Misalnya. ْ‚zَ~ِ © ُ ‫ َو‬،ُµVْ _ ِّ X‫ ُء وَا‬Tَ`kn X‫ ا‬eُ ‫ ُآ‬TَVtْ ‫ْ ُد‬oSِ Z c Xَ‫ ِإ‬µ َ –n … ُ ‫¶ ِة‬ َ· c X‫ ا‬Zِ\ ZِkVْ  َ ‫Š ُة‬c ُ “Dicintakan kepadaku dari dunia kalian adalah (cinta) kepada para wanita/ istri dan minyak wangi. Poligami menjadi wajib jika tidak berpoligami justru menyebabkan seseorang terjatuh pada perkara yang haram atau membuatnya terhalang dari melaksanakan kewajiban.’ٌ َ }َ ¢ َ ْe‫… ِ} ُآ‬ َ ‫ َأ‬²ِ  ْ wُ Zِ\‫َو‬ “Pada kemaluan salah seorang kalian ada sedekah1. ‫ ًء‬Tَ`tِ Tَ‫ ُŠه‬lَ ‫ ِ’ َأ ْآ‬Sc «ُXْ ‫ َŠ َه ِœ ِ¡ ا‬Vْ g َ ‫ن‬ c |ِ \َ ْ‫وج‬c ªَ Uَ \َ “Menikahlah. Poligami menjadi makruh apabila menyebabkan pelakunya terjatuh kepada perbuatan yang makruh. sebagaimana hukum nikah yang pertama.” Pada poligami. 39/1429 H/2008. ia mampu memenuhi syarat pernikahan poligami. 3/285. bila kalian khawatir tidak bisa berlaku adil (di antara para istri bila sampai kalian memiliki lebih dari satu istri)…. emosional. Poligami yang mubah dan sunnah telah disebutkan di atas. tanpa alasan yang benar. atau mengumpulkan dua wanita yang bersaudara kandung dalam keadaan salah satunya belum dicerai/ belum meninggal. mubah. karena sebaik-baik umat ini adalah orang yang paling banyak istrinya. Dalam keadaan ini. namun tidak mencukupinya (dari menginginkan wanita lain) sehingga dikhawatirkan ia terjatuh pada perbuatan zina.” (HR. makruh.” (HR. sunnah. wallahu a’lam. seperti menceraikan istrinya karena pernikahan yang berikutnya. “Menikahlah lagi dengan wanita yang kedua!” Poligami menjadi haram bagi seseorang apabila berpoligami akan mengantarkannya pada perbuatan yang haram. dengan syarat si suami mampu berlaku adil di antara istriistrinya. Said bin Jubair rahimahullah pernah ditanya oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu. dinyatakan sahih dalam Shahihul Jami’ no. karena Allah Subhanahu wata’ala menyatakan. dengan melihat pelakunya. dikatakan kepadanya. subjudul Hukum Nikah (hlm. IV/ no. ia menikah lagi padahal telah memiliki empat orang istri (sehingga menjadi lima). atau seorang yang dikenal kasar dalam hubungan suami istri.” jawabnya. 3124 dan al-Misykat no. tidak memiliki rahmat dan sifat lapang dada terhadap istrinya. serta dijadikan penyejuk mataku dalam shalat.

Majalah Asy Syariah Edisi 85 “Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah suri teladan yang baik (uswah hasanah) yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir lagi banyak menyebut Allah. Sebab. “Aku akan shalat malam terus dan tidak akan pernah tidur.sŒuρ tÅzFψ$# tΠöθu‹ø9$#uρ ©!$# (#θã_ötƒ tβ%x. (apakah) dua. Wallahu waliyyut taufiq. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wata’ala. 94) Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab. (Sualat fi Ta’addudiz Zaujat. bila kalian khawatir tidak bisa berlaku adil (di antara para istri bila sampai kalian memiliki lebih dari satu istri) maka nikahilah satu istri saja atau mencukupkan dengan budak perempuan yang kalian miliki.Ahzab: 21) Sebagian sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata. ô‰s)©9 ∩⊄⊇∪ #ZŽÏVx. hlm.” yang satunya lagi berkata. Hal itu lebih dekat agar kalian tidak berbuat aniaya. aku shalat malam dan aku juga tidur. atau empat. memuji. tidak pernah berbuka (di siang hari).” (an-Nisa: 3) Di samping itu. “Aku tidak akan menikahi para wanita. ta’addud/poligami atau hanya beristri satu?” Beliau t menjawab. kemudian bersabda.karena kehidupan pernikahan membutuhkan dan menuntut kelemahlembutan dan sikap berlapang dada terhadap para istri. dan menyanjung Allah Subhanahu wata’ala.” (al. Selain itu. maka nikahilah wanita-wanita lain yang halal bagi kalian untuk dinikahi. µ َ » ِ ‫ْ َر‬o€َ \َ ‫ َء‬Tَ`knX‫ج ا‬ ُ ‫و‬c ªَ bَ ‫ َوَأ‬،َes ْ zcX‫™ ا‬ ُ ُ‫ وَ›آ‬،ُ‫م‬Tَt‫ َوَأ‬Znz¢ َ ‫ َوُأ‬،ُŠ_ ِ \ْ ‫]ْ ُم َوُأ‬¢ ُ ‫ َأ‬Znkpِ Xَ‫ َآœَا َوآَœا َو‬Zِkºَ zَwَ ُ tc ‫ِإ‬ ZnkSِ ¼ َ Vْ zَ\َ ZِUkcŽ ُ ْo َ “Sampai kepadaku berita ini dan itu… Padahal aku sendiri berpuasa dan juga berbuka. “Aku akan terus puasa. Hukum Asal Pernikahan adalah Poligami Samahatusy Syaikh al-Imam Abdul Aziz ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya. poligami juga mengandung perbuatan baik kepada para wanita serta memperbanyak keturunan sehingga jumlah umat ini semakin besar dan memperbanyak orang yang beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala saja. 43) ©!$# tx. “Apakah hukum asal dalam hal pernikahan itu. mencakup seorang istri dan lebih satu istri. tiga. TcX‫ْ َأ‬eUُfْ g ِ ْ‫ع ۖ َ\ِ|ن‬ َ Tَw‫ث َو ُر‬ َ Tَz{ُ ‫ٰ َو‬Qkَ lْ Sَ ‫ ِء‬Tَ`kn X‫ ا‬o َ Sn eُpXَ ‫ب‬ َ Tَr TَS ‫ُ]ا‬spِ tTَ\ ٰQSَ TَUVَ Xْ ‫ ا‬Zِ\ ‫`_ُ]ا‬ ِ aْ bُ TcX‫ْ َأ‬eUُ fْ g ِ ْ‫َوِإن‬ ‫ُ]ا‬X]ُ~bَ TXc‫ٰ َأ‬Qtَ ْ‫ˆ َأد‬ َ Xَِٰ‫ْ ۚ ذ‬epُ tُTَ€ْ ‫‚ْ َأ‬pَ zَSَ TَS ْ‫… َ} ًة َأو‬ ِ ‫ُ]ا َ\]َا‬X}ِ ~ْ bَ “Jika kalian khawatir tidak bisa berbuat adil terhadap perempuan yatim (bila kalian menikahinya). dan menikahi para wanita. Page 20 . padahal Allah Subhanahu wata’ala berfirman. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menikahi lebih dari satu wanita.” Ini adalah lafadz yang agung dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. (al-Fatawa al-Ijtima’iyah.” Ketika berita mereka sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. poligami mengandung maslahat/kebaikan yang besar untuk menjaga kemaluan si lelaki dan iffah (kehormatan diri) para wanita yang dinikahi. “Aku tidak akan makan daging. yϑÏj9 ×πuΖ|¡ym îοuθó™é& «!$# ÉΑθß™u‘ ’Îû öΝä3s9 tβ%x. beliau berkhutbah di hadapan manusia. hlm. Siapa yang membenci sunnahku.” dan ada pula yang mengatakan. dia bukanlah bagian (golongan)ku. Namun.” yang lainnya mengatakan. “Hukum asal dalam pernikahan adalah disyariatkannya poligami bagi yang mampu dan tidak khawatir berlaku zalim. aku makan daging.

Dengan demikian.Kajian Utama “Rukun dan Syarat Berpoligami” Kategori: Majalah AsySyariah Edisi 085 Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Berilmu Sebelum Beramal Rukun dan syarat pernikahan berpoligami secara umum sama dengan rukun dan syarat pernikahan pertama yang disyariatkan dalam Islam. ilmu dahulu sebelum ucapan dan amalan. Jangan karena salah melangkah dan tanpa bersikap hikmah. lebih. tidak serampangan dan tidak menjadi fitnah. baik sebelum maupun selama menjalaninya. rumah tangga. yakni tidak mengerjakan sebuah amalan sebelum dia mengetahui ilmunya. keduanya samasama pernikahan yang disyariatkan dalam Islam. dan orang yang tadinya tidak tahu menjadi tidak suka dengan poligami. orang menyalahkan poligami. Agama ini pun tegak dan berdiri di atas prinsip yang agung tersebut: al-’ilmu qablal qauli wal ‘amal. Rukun dan Syarat Poligami Sebagaimana telah disampaikan di atas. namun tidak sepantasnya seorang suami melangkah serampangan tanpa bimbingan ilmu.” kata mereka. Akibatnya. manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah. Orang yang antipoligami bertambah antipati. Pihak yang akan berpoligami hendaknya benar-benar membekali diri dengan ilmu. dan masa depan anak anaknya. “Itu semua akibat kawin lagi. urusannya menjadi fitnah. Inilah yang dinyatakan oleh al-Imam al-Bukhari t dalam satu bab dari “Kitab al-’Ilmi” pada kitab Shahih beliau. Sebab. Wallahul musta’an. jalannya akan lurus dan terbimbing. rukun dan syarat pernikahan yang disyariatkan dan ditetapkan dalam Islam pada pernikahan pertama juga menjadi rukun dan syarat yang disyariatkan dalam pernikahan poligami. Sekali lagi. ada beberapa syarat yang ditambahkan yang wajib dipenuhi ketika ingin menunaikan poligami. Dalam poligami akan dijumpai lebih banyak masalah dibandingkan dengan pernikahan dengan satu istri. Kenyataan yang kita saksikan. Ya. Maka dari itu. wallahul musta’an. Jadi. Yang pertama kali dituntut dari orang yang hendak menikah adalah berilmu sebelum dia melangsungkan pernikahannya tersebut. kami menasihati diri kami pribadi secara khusus dan para pembaca secara umum bahwa agama Islam mewajibkan kita semua untuk berilmu dahulu sebelum mengerjakan suatu amalan. Sebelum kita membicarakan syarat tersebut lebih jauh. dia hancurkan semuanya: agama. banyak suami yang berpoligami hanya bermodal semangat tanpa berdasar ilmu yang benar. pernikahan pertama saja memiliki banyak masalah yang membutuhkan bimbingan ilmu. sehingga dia dan istrinya bisa menjalaninya dengan lurus. Namun. Sebab. rumah tangga yang lama hancur atau rumah tangga yang baru bubar. Karena itu. Istri tua dan istri muda adu mulut di depan orang banyak. pertengkaran antara dia dan istrinya tak terelakkan sehingga ribut-ributnya terdengar oleh tetangga. di dalam lubuk hati seorang muslim yang bijak semestinya tertanam prinsip yang sangat mendasar dan pokok ini. seseorang tidak dianggap menunaikan amalan dengan benar dan di atas petunjuk/syariat yang benar apabila dia mengamalkan sebuah amalan tanpa mengetahui ilmunya terlebih dahulu. Aturan Allah l dibenci karenanya. Majalah Asy Syariah Edisi 85 yang merupakan inti dan ushul dari manhaj yang haq. Ujung-ujungnya. ketika Page 21 .lebih bila hendak berpoligami. Artinya. walaupun poligami adalah hak lelaki.

3. Kalau boleh. atau empat…. seperti anggapan alQasim bin Ibrahim dan kelompoknya.” (an-Nisa: 3) Ibnu al-Anbari rahimahullah berkata. ditambah beberapa syarat yang disebutkan oleh para ulama yang akan kami sebutkan. maknanya adalah nikahilah oleh kalian (para lelaki) wanita-wanita yang kalian senangi sebanyak dua orang. Adanya kemampuan jasmani dan nafkah dalam bentuk harta. bukan mengumpulkan jumlah tersebut. Ibnul Jauzi. sebagian pengikut mazhab Zhahiri berpendapat boleh menikahi delapan belas perempuan dengan beralasan mengumpulkan bilangan 2.Majmu. tidak boleh lebih. 3. Sebab. Dalilnya bisa kita lihat berikut ini. yang dimaukan oleh ayat adalah disuruh memilih di antara bilangan yang disebutkan. niscaya akan disebutkan. al-Qasimiyah. (al. “Huruf wawu ( ‫]َا ُو‬X‫ ) ا‬di sini2 maknanya tafarruq/ pemisahan. bukan pengumpulan. 2/8) Al-Hafizh Ibnu Katsir radhiyallahu ‘anhu menyatakan. 17/212) Selain itu. Jumlah istri yang paling banyak dikumpulkan adalah empat. ayat ini berisi pemberitaan tentang anugerah yang diberikan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan kebolehan dari-Nya untuk menikahi lebih dari seorang wanita. tiga. ayat ini tidaklah membolehkan pengumpulan bilangan tersebut (yaitu jumlah 2. (Tafsir al-Qurthubi 5/13) Demikian pula bantahan Ibnul Arabi rahimahullah dalam Ahkamul Qur’an (1/312—313).seseorang berpoligami. dia wajib memenuhi rukun dan syarat tersebut. dan nikahi tiga wanita selain keadaan yang pertama. 1. ada satu sekte dari kelompok Syiah Rafidhah yang membolehkan lelaki menikahi berapa pun wanita yang diinginkannya. dan 4). 4 yang berulang sehingga menjadi 4 ditambah 6 ditambah 8. 17/212) Mengapa hal ini perlu ditekankan? Karena ada yang berpendapat. Dalil dari al-Qur’anul Karim ‫ع‬ َ Tَw‫ث َو ُر‬ َ Tَz{ُ ‫ٰ َو‬Qkَ lْ Sَ ‫ ِء‬Tَ`kn X‫ ا‬o َ Sn eُpXَ ‫ب‬ َ Tَr TَS ‫ُ]ا‬spِ tTَ\ ٰQSَ TَUVَ Xْ ‫ ا‬Zِ\ ‫`_ُ]ا‬ ِ aْ bُ TcX‫ْ َأ‬eUُ fْ g ِ ْ‫َوِإن‬ “Jika kalian khawatir tidak bisa berbuat adil terhadap perempuan yatim (bila kalian menikahinya). Syarat yang pertama: Allah Subhanahu wata’ala membolehkan seorang lelaki yang hendak berpoligami untuk menikahi sampai empat perempuan. serta menyelisihi kesepakatan umat. (Tafsir al-Qur’anil Azhim. 3. 1. maka nikahilah perempuanperempuan lain yang halal bagi kalian untuk dinikahi. Bahkan. Mereka menguatkan pendapat mereka dengan perbuatan Nabi n mengumpulkan sembilan istri. semua itu adalah kebodohan terhadap bahasa Arab dan asSunnah. dan syarat lainnya yang disebutkan dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian.Majmu. (apakah) dua. Dia bisa berbuat dan berlaku adil di antara para istri. Adapun pembolehan bagi Nabi Shallallahu Page 22 . 5/13) Al-Imam al-Qurthubi t menjawab pendapat ini dengan menyatakan. Para ulama menyebutkan dua syarat yang Allah Subhanahu wata’ala sebut dalam al-Qur’an ketika seorang lelaki hendak berpoligami.” (Zadul Masir fi Ilmit Tafsir. 2. 2/149) Dengan demikian. (al. insya Allah. (lihat Tafsir al-Qurthubi. dan nikahi empat orang Majalah Asy Syariah Edisi 85 wanita selain dua keadaan yang telah disebutkan. wawu tersebut menunjukkan pengumpulan.

Secara bahasa. (Tafsir al-Qur’anil Karim. adil adalah inshaf. hal itu adalah kekhususan bagi beliau. Dalil dari ijma’ Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menukilkan dari al-Imam asySyafi’i rahimahullah adanya ijma’ atau kesepakatan ahlul ilmi tentang tidak bolehnya selain Rasulullah n mengumpulkan lebih dari empat wanita/istri. (al-Mu’jamul Wasith. Artinya. yaitu memberi seseorang apa Majalah Asy Syariah Edisi 85 “Namun. ْepُ tُ Tَ€ْ ‫‚ْ َأ‬pَ zَSَ TَS ْ‫… َ} ًة َأو‬ ِ ‫ُ]ا َ\]َا‬X}ِ ~ْ bَ TcX‫ْ َأ‬eUُ fْ g ِ ْ‫َ\ ِ|ن‬ Sisi pendalilan hadits di atas adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan Ghailan untuk memilih hanya empat dari sepuluh istrinya. (Zadul Masir fit Tafsir. (Raddul Mukhtar.‘alaihi wasallam mengumpulkan sembilan istri. Adapun pendapat kedua memaknainya ْeUُ Vِ g َ . Dalil dari as-Sunnah Adapun adil di antara para istri dalam bahasa syariat adalah menyamakanpara istri dalam hal mabit (bermalam/ menginap). Ibnul ‘Abidin. Dengan demikian. apabila seorang lelaki yakin atau khawatir tidak bisa berlaku adil. yang menjadi haknya dan mengambil darinya apa yang menjadi kewajibannya. tidak berlaku bagi umatnya. 3. atTirmidzi no. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pun memerintahkan agar Ghailan memilih empat dari mereka (dan menceraikan yang lain). bila kalian khawatir tidak bisa berlaku adil (di antara para istri bila sampai kalian memiliki lebih dari satu istri) maka nikahilah satu istri saja atau mencukupkan dengan budak perempuan yang kalian miliki…. 1128. cukuplah satu atau budak perempuan yang kalian miliki. Sebab. 1/313). tidak ada dalil yang memalingkannya dari hukum wajib kepada hukum yang lain. minum. padahal asal perintah dari Penetap syariat memberi faedah wajibnya perkara yang diperintahkan. cukup baginya beristri satu. yakni kalian khawatir (tidak bisa berbuat adil). dan para istrinya ini masuk Islam bersamanya.” (an-Nisa: 3) Ada dua pendapat tentang firman Allah Subhanahu wata’ala. lakukanlah! Jika tidak. Dalil tentang syarat yang kedua ini jelas sekali dari firman Allah Subhanahu wata’ala. 2/149) Syarat yang kedua: bisa berbuat dan berlaku adil. 3/378) Hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu yang menyebutkan bahwa Ghailan ibnu Salamah ats-Tsaqafi radhiyallahu ‘anhu masuk Islam dalam keadaan memiliki sepuluh istri yang dinikahinya di masa jahiliah. 2/9) Dengan demikian.Untuk masalah ini. 2/588) 2. dinyatakan sahih dalam Shahih Sunan atTirmidzi) Hukum berlaku adil dalam urusan yang disebutkan di atas adalah fardhu atau wajib (Ahkamul Qur’an. Ibnul Jauzi. meninggalkannya adalah dosa dan pelanggaran. Jadi. kebolehan memperistri lebih dari seorang wanita berporos pada keadilan. tempat tinggal. dan pakaian. makan. (Tafsir athPage 23 . selama tidak ada perkara atau dalil lain yang memalingkannya. (HR. tidak boleh mengumpulkan lebih dari empat istri berdasar perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. yakni kalian yakin (tidak bisa berbuat adil). ketika kalian bisa adil. ْeUُ fْ g ِ ْ‫َ\ ِ|ن‬ Pendapat pertama mengartikannya ْeUُ€ْ zِ َ .

2/317) Al – Imamath – Thabari t menyatakan dalam tafsirnya terhadap ayat di atas.” yakni dengan berlaku adil dalam hal pembagian giliran.” Yang Allah Subhanahu wata’ala maksudkan adalah adil yang tidak dimampui dan tidak disanggupi dilakukan oleh seorang hamba karena bukan hamba yang mengusahakannya. yaitu adil dalam masalah cinta dan kecondongan hati. 1/695) Karena ketidakmungkinan berbuat adil dalam perasaan cinta. ‫ُ]ا‬szِ· ْ bُ ‫َوإِن‬ ’ِ aَ zc~َ €ُ XْTَ‫ آ‬Tَ‫ َœرُوه‬Uَ \َ ™ ِ Vْ €َ Xْ ‫™ ا‬ c ‫ُ]ا ُآ‬zVِ€bَ Tَz\َ ۖ ْeUُ¢ ْ Šَ … َ ْ]Xَ‫ ِء َو‬Tَ`kn X‫ ا‬o َ Vْ wَ ‫ُ]ا‬X}ِ ~ْ bَ ‫~ُ]ا أَن‬Vِ_Uَ ` ْ bَ oَX‫َو‬ “Kalian tidak akan mampu berbuat adil di antara para istri.Thabari. sehingga si suami jatuh pada perbuatan zalim terhadap istri yang tidak/kurang dicintai. Allah Subhanahu wata’ala menutup ayat di atas dengan firman-Nya. Pasti ada istri yang lebih mereka cintai daripada yang lain karena memang hal ini di luar kuasa mereka. Tafsir alQur’anil Azhim. 2/220. Tً€Vِ…‫ر‬c ‫ُ]رًا‬f» َ ‫ن‬ َ Tَ‫ َ آ‬zcX‫ن ا‬ c |ِ \َ ‫ُ]ا‬aUc bَ ‫ُ]ا َو‬szِ· ْ bُ ‫َوإِن‬ “Dan bila kalian mengadakan perbaikan dan bertakwa maka sungguh Allah itu adalah Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Zadul Masir fit Tafsir. Meski demikian. 3/579—580) Firman Allah Subhanahu wata’ala. para suami tidak boleh mengikuti hawa nafsunya dengan menampakkan kecenderungan kepada istri yang lebih mereka cintai lantas meninggalkan yang lainnya. Maka janganlah kalian condong dengan sebenar-benarnya kepada istri yang lebih kalian cintai sehingga kalian membiarkan istri yang lain terkatung-katung. Allah Subhanahu wata’ala melarang seorang suami mengistimewakan istri yang lebih dicintainya dalam hal nafkah dan pembagian giliran sehingga istri yang lainnya terkatung-katung: tidak menjanda. ahli tafsir mengatakan bahwa makna ayat di atas adalah kalian tidak akan sanggup menyamakan rasa cinta kalian di antara para istri. Karena itu.” (an-Nisa: 129) Majalah Asy Syariah Edisi 85 maksudnya menjaga diri dari berbuat zalim.” (an-Nisa: 129) “Dan bila kalian mengadakan perbaikan. T€ً Vِ…‫ر‬c ‫ُ]رًا‬f» َ ‫ن‬ َ Tَ‫ َ آ‬zcX‫ن ا‬ c |ِ \َ “Maka sungguh Allah adalah Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. ‫ُ]ا‬aUcbَ ‫َو‬ “dan bertakwa. walaupun kalian sangat ingin berbuat adil. walaupun mereka berusaha sungguhsungguh untuk menyamakan cinta di antara istri mereka. Page 24 . kaum lelaki atau para suami tidak akan mampu untuk menyamakan istri-istri mereka dalam hal cinta di kalbu mereka. Berkaitan dengan ayat 129 dalam surat an-Nisa. namun sematamata pemberian Allah Subhanahu wata’ala. (Fathul Qadir. Ibnul Jauzi. tidak pula seperti perempuan yang memiliki suami. terhadap kecondongan hati tersebut apabila memang ada. dengan tidak menunaikan hak mereka berupa beroleh giliran. karena hal itu bukan hasil usaha kalian walaupun kalian sangat ingin berbuat adil dalam hal itu. sehingga para suami tidak bisa berlaku adil dalam hal ini.

(alJami’ li Ahkamil Qur’an. Sebab. itu lebih bagus dan lebih utama karena lebih nyata dalam berbuat adil. Namun. Berbeda halnya dengan berlaku adil dalam hak-hak syar’i. jima’ itu jalannya adalah syahwat dan kecondongan. (Adhwaul Bayan. seperti al-Imam Ibnu Qudamah t. jika ia mencintai salah satunya melebihi yang lain dan menggaulinya lebih banyak dari yang lain. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah teladan dalam keadilan tersebut. dalam urusan yang dimampui hamba. dan pergaulan yang baik. hal itu mampu dilakukan oleh para hamba. Ini adalah mazhab Malik dan asy-Syafi’i. Al-Allamah asy-Syinqithi rahimahullah juga menyebutkan demikian karena kecondongan secara tabiat tersebut di luar kuasa manusia. dan tempat dalam kalbu. Namun. (Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an. apabila si suami bisa menyamakan urusan jima’ di antara istrinya. kecondongan yang berlebihan kepada istri yang dicintai menyebabkan istri yang lain layaknya perempuan yang tidak bersuami. Beliau menyatakan. namun tidak pula menjanda (terkatung-katung).nafkah. karena lebih sempurna dalam hal keadilan. seperti rasa cinta beliau terhadap Aisyah x yang lebih besar daripada istri-istri beliau yang lain. serta tidak ada jalan untuk menyamakan di antara para istri dalam hal ini karena kalbu seseorang terkadang lebih condong kepada salah seorang istrinya dan rasa itu tidak ada terhadap yang lainnya. (alMajmu’ 18/119) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam Berbuat Adil Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sangat adil terhadap istriistrinya dalam urusan yang memang dituntut untuk adil. (Majmu’ Fatawa. suami tidak boleh melebihkan salah seorang dari dua istrinya dalam hal Majalah Asy Syariah Edisi 85 Lebih Baik Menyamakan Demikian juga yang dinyatakan oleh al-Imam an-Nawawi rahimahullah. yaitu rasa cinta. “Kitab ‘Isyratun Nisa”. 4/312) bagian giliran. jima’. 32/269) Al-Imam al-Qurthubi rahimahullah juga menyebutkan bahwa keadilan yang tidak dimampui adalah dalam hal kecondongan secara tabiat. seperti yang telah disinggung di atas. tidak ada dosa bagi si suami. beliau pun tidak bisa menyamakannya. Adapun dalam urusan yang tidak dimampui oleh manusia. fa laisa bi’ashin”) Demikian pula yang dinyatakan oleh al-Imam an-Nawawi t dalam al-Majmu’ (18/119). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membagi dengan adil tanpa melebihkan satu dari yang lain dalam hal giliran bermalam di antara istri-istri beliau. Sebab. terkecuali Saudah bintu Zam’ah radhiyallahu ‘anha yang telah menghadiahkan gilirannya untuk Aisyah x. 5/261) Walaupun menyamakan jima’ tidak wajib. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan. namun disenangi apabila mampu untuk menyamakannya/berlaku adil pula dalam hal ini.” (alMughni. namun urung dengan ishlah yang dilakukan oleh Page 25 . mas’alah “Walau wathi’a Zaujatahu wa lam yatha al-Ukhra. “Kami tidak mengetahui perbedaan pendapat di kalangan ahlul ilmi tentang tidak wajibnya menyamakan di antara para istri dalam hal jima’. 1/425) Haruskah Adil dalam Urusan Jima’ (Berhubungan Badan)? Al-Imam Ibnu Qudamah t berkata. Hal ini dinukilkan oleh sejumlah ulama. demi mencari keridhaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang semula hendak menceraikannya.

Sampai di saat sakit beliau bertambah parah sehingga beliau tidak sanggup lagi berjalan.Saudah berupa menggugurkan sebagian haknya asal tetap menjadi istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Aisyah radhiyallahu ‘anha menyampaikan. beliau pun tinggal di rumah Aisyah radhiyallahu ‘anha. ia terkena ancaman hadits yang akan disebutkan di bawah ini. karena Aisyah sangat beliau cintai melebihi yang lain. “Siapakah orang yang paling Anda cintai?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab. Salah satu hadits yang menunjukkan hal ini adalah hadits Amr ibnul Ash yang dikeluarkan dalam ash-Shahihain. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengutusnya untuk memimpin pasukan Dzatu as-Salasil. Istri-istri beliau pun mengizinkan beliau untuk berdiam di mana saja yang beliau inginkan. Beliau datang dan menginap di rumah istri yang sedang mendapat giliran. Lantas beliau tinggal di rumah Majalah Asy Syariah Edisi 85 Aisyah sampai meninggal di sisi Aisyah. adil yang tidak dimampui adalah dalam hal cinta atau kecondongan/ kecenderungan hati. Amr mengatakan bahwa dirinya mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya. Telah diterangkan juga. Namun. 5217) Tidak Disalahkan Apabila Suami Lebih Mencintai Salah Satu Istrinya Kita telah mengetahui adil yang dituntut dari seorang hamba dan adil yang tidak dimampui olehnya. ada yang disenangi dan dicintaimelebihi yang lain. “Dari kalangan laki-laki?” “Ayahnya. ،َ’  َ Áِ Tَ ‫»}ًا؟ ُ ِŠ ْ ُ} َ]ْ َم‬ َ Tَt‫ َأ‬o َ ْ ‫ َأ‬،‫»}ًا‬ َ Tَt‫ َأ‬o َ ْ ‫ َأ‬:ِ Vْ \ِ ‫ت‬ َ TَS . sampai-sampai saat sakit menjelang ajalnya. beliau tidak melakukannya. ‘Amr mengabarkan. Kita pun tahu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia lebih mencintai Aisyah radhiyallahu ‘anha daripada istri-istri beliau yang lain. Sehingga tidaklah berdosa bila ada seorang suami yang memiliki sekian istri. beliau meminta izin kepada istri-istrinya untuk beristirahat di rumah Aisyah radhiyallahu ‘anha dan dirawat di sana. Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam hendak safar. beliau tetap menggilir istri-istrinya semalam-semalam. Seandainya beliau mau. tidak di tempat istri yang lain. beliau mengundi di antara para istrinya. sampai ajal menjemput beliau. al-Bukhari no. Para istri beliau yang salehah lagi penuh kelapangan hati pun mengizinkan. Page 26 . jangan sampai rasa cinta yang lebih tersebut mendorong seorang suami untuk berlaku tidak adil—dalam hal yang dimampui—di antara istri-istrinya. Jika jatuh dalam perbuatan tersebut. beliau biasa bertanya.” jawab beliau. Ancaman bagi Suami yang Tidak Berbuat Adil Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma menyampaikan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. namun kadar cintanya kepada istri-istrinya tidak sama. Siapa yang namanya keluar. Ketika beliau yakin mereka ridha. (HR.” Kataku. Kenyataannya. niscaya beliau akan selalu membawa Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam safar beliau. “Di mana aku besok. di mana aku besok?” Beliau menginginkan tiba hari giliran Aisyah. Saking inginnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam selalu berbuat adil. dialah yang menemani beliau safar. “Aisyah. Aisyah radhiyallahu ‘anha mempersaksikan hal ini dalam haditsnya yang dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya. Di saat sakit yang mengantarkan kepada wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.‫œِي‬Xc‫˜ ِ ا‬ ِ Šَ Sَ Zِ\ ‫ل‬ ُ «َ ` ْ َ ‫ن‬ َ Tَ‫¿ آ‬ ِ ‫لا‬ َ ْ]Ž ُ ‫ن َر‬ c َ‫أ‬ Tَ‫ َ}ه‬kْ  ِ ‫ت‬ َ TَS QcU… َ ’َ   َ Áِ Tَ ‚ ِ Vْ wَ Zِ\ ‫ن‬ َ Tَ pَ\ ‫ َء‬Tَ¤ à ُ Vْ … َ ‫ن‬ ُ ْ]pُ َ ُ © ُ ‫ ُ َأزْوَا‬Xَ ‫ن‬ َ ‫ َ\ َ« ِذ‬.

sehingga melebihkan istri yang dicondonginya tersebut dalam hal pemberian makan (nafkah). Diterangkan pula dalam penjelasan hadits di atas bahwa yang tampak. 4/387) Syarat yang ketiga: Adanya kemampuan fisik dan materi atau nafkah. “Para salaf menyamakan perlakuan di antara istri-istrinya. berupa makan.3384. “Dibenci ia berwudhu di rumah salah seorang istrinya. atau pergaulan yang baik (husnul ‘usyrah). mereka tetap membagi-bagikan di antara istriistri mereka. 4/387) ٌ™Áِ TَS —a¤ ِ ‫ ِ’ َو‬Sَ TَVaِ Xْ ‫ َء َ]ْ َم ا‬Tَ© ،Tَ€‫…}َا ُه‬ ْ ‫ ِإ‬QَX‫ل ِإ‬ َ Tَ€\َ ‫ن‬ ِ Tbَ ‫ َŠَأ‬Sْ ‫ ُ ا‬Xَ ْ‚tَ Tَ‫ْ آ‬oSَ . Gambaran Keadilan Salaf Ibnu Abi Syaibah rahimahullah meriwayatkan dari Muhammad ibnu Sirin . siapa di antara kalian yang memiliki ba’ah maka hendaknya ia menikah.” (HR. hendaknya ia menikah. al. setelapak tangan demi setelapak tangan. namun keduanya sebenarnya kembali pada satu makna. bahwa ia berkata tentang seorang lelaki yang memiliki dua istri.Mushannaf. 2017 ) Dalam Aunul Ma’bud (“Kitab an Nikah”.Bukhari no. 3942. Syariat mengisyaratkan ‘kemampuan’ ini kepada seseorang yang ingin menikah. Kebutuhan pernikahan. sampai-sampai apabila tersisa sawiq (sejenis gandum) dan makanan yang bisa ditakar. dinyatakan sahih dalam Shahih Abi Dawud. ‫ج‬c‫و‬ªَ Uَ Vَ zْ \َ ‫ َء َة‬Tَ–Xْ ‫ ا‬eُ pُ kْ Sِ ‫ع‬ َ Tَ_Uَ Ž ْ ‫ا‬o ِ Sَ ِ‫ب‬Tَ–  c X‫ َŠ ا‬  َ ~ْ Sَ Tَ “Wahai sekalian pemuda.…” (HR. tempat tinggal. 5065 dan Muslim no. Abu Dawud no. Berhubungan badan/jima’. Orang yang seperti ini akan datang pada hari kiamat dalam keadaan tidak sama dua sisi tubuhnya sebagai balasan dari perbuatannya yang tidak adil dengan melebihkan satu istrinya daripada yang lain.” (Mushannaf Ibni Abi Syaibah. dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu) Ada dua pendapat ulama tentang makna ba’ah dalam hadits di atas. hukum yang berlaku tidak hanya dibatasi pada dua istri. minum. Ia condong kepada salah satunya dalam perbuatan yang zahir (tampak). bukan dalam bentuk kecondongan hati. jika memang sisa makanan tersebut tidak mungkin lagi ditakar (karena sedikitnya). makna hadits adalah siapa di antara kalian yang mampu melakukan jima’ karena punya kesanggupan memenuhi keperluan nikah. bab “Fi ‘al-Qasmi Baina anNisa’”) dinyatakan hadits ini adalah dalil wajibnya suami menyamakan di antara istri-istrinya dan haram ia condong/ melebihkan salah satunya. dan perabotan rumah yang memang harus ada. pakaian. kata an-Nawawi rahimahullah. Page 27 . (Hasyiyah al-Imam as-Sindi ‘ala Sunan anNasa’i. dan Irwa’ul Ghalil no. tempat tinggal. Shahih an-Nasa’i. tetapi juga untuk orang yang memiliki tiga atau empat istri. “Siapa yang memiliki dua istri lantas condong kepada salah seorang dari keduanya (berlaku tidak adil) maka ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan sebelah tubuhnya miring. 1. 2. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda. an-Nasa’i no. 2133. 7/63) Ibrahim an-Nakha’i rahimahullah berkata tentang seorang lelaki yang mengumpulkan istri-istri (madu dengan madu).” (alMajalah Asy Syariah Edisi 85 Dengan demikian. sementara itu di rumah istri yang lain tidak dilakukannya.

pakaian. ‚ ِ Vْ –َ Xْ ‫ ا‬Zِ\ ® c ‫ŸŠْ ِإ‬ ُ Œْ bَ ‫ْ َو‬Ɩnaَ bُ ® َ ‫© َ َو‬ ْ ]َ Xْ ‫ب ا‬ ِ Šِ  ْ bَ ® َ ‫‚ َو‬ َ Vْ ` َ Uَ ‫ ِإذَا ا ْآ‬Tَ‫` َ]ه‬ ُ pْ bَ ‫‚ َو‬ َ €ْ ~ِ r َ ‫ إِذَا‬TَŒ€َ ~ِ _ ْ bُ ْ‫َأن‬ “Kamu beri dia (istrimu) makan jika kamu makan dan memberinya pakaian bila kamu berpakaian. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab. tidak halal baginya secara syariat untuk menikah lagi (berpoligami). yaitu makanan yang sesuai. Muslim no. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab. jangan menjelekkan. pukullah mereka dengan pukulan yang tidak keras dan mencederai. dinyatakan sahih dalam al-Jami’ ashShahih. Abu Dawud no. dan kesepakatan ulama. serta kebutuhan-kebutuhan lain yang menyertainya. minuman. Hak mereka atas kalian adalah (memperoleh) rezeki dan pakaian dengan cara yang ma’ruf. Semua ini adalah nafkah yang wajib ditunaikan oleh seorang suami terhadap istrinya sesuai dengan dalil dari al-Qur’an. Jangan memukul wajah. (al-Minhaj. (al-Mughni. dan tempat tinggal. Kalau mereka lakukan apa yang kalian benci. hendaknya ia menikah. dan tempat tinggal yang layak. 2142. Karena itu. Beliau mengatakan kepada kaum muslimin. Dalam hadits lain. karena kalian mengambil mereka dengan amanat Allah dan kalian menjadikan halal kemaluan mereka dengan kalimat Allah.” (HR.Jadi. Kewajiban menafkahi ini bertambah jelas dengan khutbah yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam haji wada’. ® c ‫ َأ‬o c Œِ Vْ zَ َ ْepُ Xَ‫ َو‬،ِ¿‫ َ€ ِ’ ا‬zِpَ wِ o c Œُ © َ ْ‫ْ ُ\ ُŠو‬eUُ zْ zَs ْ Uَ Ž ْ ‫ وَا‬،ِ¿‫نِ ا‬TَS«َwِ o c ‫ ُ€]ْ ُه‬bُ ْœg َ ‫ْ َأ‬epُ tc |ِ \َ ‫ ِء‬Tَ`kn X‫ ا‬Zِ\ ¿ َ ‫]ْا ا‬aُ bcTَ\ o c Œُ ُ ْ‫ْ ِرز‬epُ Vْ zَ َ o c Œُ Xَ‫ َو‬،ٍ‫ َ– ِّŠح‬Sُ Šَ Vْ » َ TًwْŠ˜ َ o c ‫]ْ ُه‬wُŠِ ˜ ْ Tَ\ ˆ َ Xِ‫ َذ‬o َ zْ ~َ \َ ْ‫ \َ|ن‬،ُtَ ْ]‫ َŠ ُه‬pْ bَ ‫…}ًا‬ َ ‫ْ َأ‬epُ ¤ َ Šُ \ُ o َ §ْ r ِ ْ]ُ ‫ف‬ ِ ‫ َ€ ْ~Šُو‬Xْ Tِw o c Œُ bُ]َ ` ْ ‫َو ِآ‬ “Bertakwalah kalian kepada Allah dalam urusan para istri. 9/177) Kebutuhan materi yang diperlukan dalam pernikahan atau hidup berkeluarga mencakup makanan. 86/3) Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan fuqaha tentang wajibnya suami menunaikan kebutuhan primer seorang atau beberapa istrinya. dan jangan memboikotnya selain di dalam rumah. apabila seorang lelaki tidak mampu menafkahi lebih dari satu istri. as-Sunnah. makna hadits adalah siapa di antara kalian yang punya kemampuan memenuhi kebutuhan pernikahan. “Kitab an-Nafaqat”) Demikian pula halnya apabila diterapkan dalam pernikahan poligami. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang hak istri kepada suaminya. Suami dituntut bertanggung jawab memberikan kebutuhan hidup para istrinya.” )HR. Hak kalian atas mereka adalah mereka tidak memperkenankan seseorang yang kalian benci menginjak hamparan kalian. 1216) Majalah Asy Syariah Edisi 85 Page 28 .

apa yang terjadi pada rumah tangga yang dikepalai oleh suami yang nurut pada istri saat ia menjalani kehidupan berpoligami dalam keadaan istrinya tidak suka. dan kebesaran jiwa seorang lelaki untuk menjalankannya. Demikian di antara nasihat yang disampaikan oleh alImam asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah dalam fatwa beliau di kitab ad-Da’wah (1/106) dan FatawaNurun ‘alad Darb (2/165— 166). Memang dibutuhkan kesiapan. ia seharusnya bersabar dan mengharapkan pahala ketika menjalani semuanya. karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (lelaki) di atas sebagian yang lain (perempuan) dan karena mereka (lelaki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. ketiga.Kajian Utama “Warna -Warni di Balik Poligami” Kategori: Majalah AsySyariah Edisi 085 Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Poligami disyariatkan dalam Islam bukan untuk menghancurkan rumah tangga yang sudah dibina sebelumnya atau untuk menggagalkan rumah tangga kedua yang baru dibangun. Kita bisa membayangkan. yang kalau tidak ada lelaki yang menikahinya. keteguhan. Majalah Asy Syariah Edisi 85 Page 29 . Tidak Ada Hak bagi Istri dalam Urusan Ini Beliau rahimahullah juga menekankan. Bahkan. Sebab. Namun. Poligami adalah hak suami yang dianugerahkan oleh Dzat Yang Maha Penyayang dengan hikmah-Nya yang agung. dan hal ini sangat manusiawi. ۚ ْeŒِ Xِ‫]َا‬Sْ ‫ْ َأ‬oSِ ‫ُ]ا‬afَ tَ‫ أ‬Tَ€wِ ‫ َو‬Ç ٍ ~ْ wَ ٰQzَ َ ْeŒُ  َ ~ْ wَ ُ zcX‫™ ا‬ َ c \َ Tَ€wِ ‫ ِء‬Tَ`knX‫ ا‬Qَzَ ‫ن‬ َ ]ُS‫ا‬c]َ ‫ل‬ ُ Tَ©Šn X‫ا‬ “Kaum lelaki adalah pemimpin bagi kaum perempuan. Tentu tidak pantas bagi seorang istri untuk marah. mereka akan hidup membujang di rumah tanpa pasangan hidup dan dikhawatirkan akan jatuh pada kejelekan. Mengapa? Bisa jadi. suaminya ingin menikah lagi karena ingin memperbanyak keturunan. dan tidak terima terhadap hukum Allah Subhanahu wata’ala yang diridhaiNya atas para hamba-Nya. niscaya urusannya akan mudah baginya. semakin banyak istri akan memperbanyak lahirnya generasi baru Islam dan lebih banyak memberikan penjagaan terhadap kemaluan para perempuan. apabila seorang lelaki mampu secara materi dan sanggup berbuat adil. atau ia merasa tidak cukup dengan seorang istri. walaupun si istri beralasan bahwa dirinya telah mencukupi semua yang diinginkan oleh suaminya dan tidak ada yang kurang dari dirinya sehingga suami tidak butuh mencari istri yang lain. tidak ada hak sama sekali bagi istri untuk mencegah suaminya menikah lagi. dalam urusan ini memang biasanya istri pertama akan menentang dan marah. Dengan Dimaklumi. ingin menjaga kemuliaan si perempuan dengan menikahinya. ia dituntut menjadi pemimpin dan pengatur bagi perempuan. Sebab. lelaki yang cerdas /bijak akan bisa Bukan sebaliknya. lebih afdal/utama baginya untuk menikah lagi baik yang kedua. ia diatur oleh istrinya sehingga terkadang tidak berdaya dan tidak berkutik di hadapan istrinya. bila ia berketetapan hati untuk sabar. kesungguhan. Sebagai lelaki. karena Allah l yang menetapkan demikian.” (an-Nisa: 34) demikian. sangatlah tidak diharapkan ketika seorang suami menikah lagi ternyata berisiko perceraian dengan istri yang pertama atau berpisah dengan istri yang baru. protes. maupun keempat. Allah Subhanahu wata’ala telah membolehkan pria untuk memperistri sampai empat wanita. Jadi.

Ada ancaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap istri yang bermudahmudah menuntut cerai dari suaminya. seharusnya suami mengajak bicara istrinya. tidak saling menjauh. (Fatawa Nurun ‘alad Darb. bermusyawarah. Ia mengetahui pernikahan suaminya dengan si madu dan telah rela (walau mungkin kerelaannya harus Majalah Asy Syariah Edisi 85 dipaksakan). Demikian pula apabila ada penentangan dari pihak keluarga. 166) Kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. menurut beliau. dan meminta izin. padahal suaminya telah “berbaik-baik” kepadanya. memberikan penjelasan sampai si istri merasa cukup dengan penjelasannya dan merasa tenang. dll. tanpa curiga istri yang baru ini akan merebut suaminya karena ia telah mendapatkan penjelasan. sama saja apakah setelah minta izin ternyata si istri menolak memberi izin (ataukah menerima). apakah tidak berdosa ia meminta cerai dari suaminya? Sebagaimana si istri tidak boleh menuntut suaminya untuk menceraikan madunya. Karena memerhatikan kemaslahatan ini. Ibnu Majah no. apabila ia mengajak bicara. Andaipun si suami menikah diam-diam dan merahasiakannya dari istrinya. Al-Imam Ibnu Utsaimin rahimahullah menyatakan bahwa seandainya suami meminta izin kepada istrinya. dan saling membenci. Sang suami tidak harus meluluskan permintaan cerai istrinya. Ia terangkan kepada istrinya hikmah poligami dan ia sampaikan alasan keinginan menikah lagi. 2/165. sama saja apakah ia telah minta izin atau belum kepada istri pertamanya. (Fatawa Nurun‘alad Darb. misalnya dari ibu. Apabila hal ini dilakukan suami.” (HR. tidak ada dosa bagi si suami. suami tetap melangkah. Namun. kemudian ia mendatangkan istri barunya kepada istripertamanya. (Fatawa Nurun ‘alad Darb. walaupun tidak wajib. at-Tirmidzi no. tidak halal pula baginya menuntut cerai dari suaminya. maka haram baginya mencium wangi surga.menerangkan kepada si istri bahwa hal itu dibolehkan baginya dan ia berusaha menyenangkan hati si istri dengan segala yang mungkin dilakukannya. 2055. Namun. Agama pun memandang berlakunya ‘urf apabila tidak bertentangan dengan syariat. 1/334— 335) Tidak Dibenarkan Meminta Cerai Ketika Suami Menikah Lagi Apabila suami menikah lagi sedangkan istri pertamanya belum siap dimadu atau tidak bisa menerima kenyataan dimadu. niscaya istri pertama akan bisa menerima dengan lebih tenang. diharapkan kedua istri (istri pertama dan madunya) dapat hidup secara damai. Dengan cara seperti ini. khususnya di negeri kita. 2/163) Lebih Utama Bermusyawarah dengan Istri Seorang suami yang ingin menikah lagi tidak diharuskan mengajak bicara istrinya dan meminta izin tentang niatannya tersebut. hal itu tentu lebih baik dan terpandang dalam ‘urf (adat kebiasaan). ’ِ kc Ÿ َ Xْ ‫ ُ’ ا‬s َ Áِ ‫ رَا‬TَŒVْ zَ َ ٌ‫َŠام‬s\َ ‫س‬ ٍ ْ«wَ Šِ Vْ » َ ْoSِ Tً¶ َ r َ TَŒ© َ ْ‫‚ْ َزو‬Xَ«َ Ž َ ‫ َŠَأ ٍة‬Sْ ‫ ا‬Tَ€— ‫َأ‬ “Istri mana saja yang menuntut cerai dari suaminya padahal tidak ada kesulitan yang mendesak1. sepantasnya suami meminta izin kepada istri pertamanya dan memberitahukannya. si lelaki hendaknya berusaha menerangkan dengan cara yang baik tentang keputusannya berpoligami dan sisi pandangannya. tenteram. biasanya istri akan menolak. 1187. dinyatakan sahih dalam Shahih at-Tirmidzi) Page 30 . Dalam hal ini.

Jadi. dia pun demikian. gengsinya terusik. mencintainya lebih dari yang lain. Sebab. Padahal bila suaminya adalah suami yang baik. Apalagi ketika istri mudanya turut memprovokasi dan terlalu banyak menuntut. Bisa jadi sebaliknya. Inilah kesetiaan kepada cinta yang lama. Tentu kita masih ingat pula berita dalam sirah Alasan sangat mendesak yang memaksanya untuk minta berpisah. orang itu akan datang pada hari kiamat dalamkeadaan sebelah tubuhnya miring. istri tua pun punya perasaan yang sama. Kitab ath-Thalaq. sebenarnya cinta adalah urusan Allah Subhanahu wata’ala. istri tetaplah istri. Cinta suami bisa saja luntur kepada istrinya walaupun si suami tidak memiliki istri yang lain. Suami menikah lagi pun bukan tanda suami tidak cinta lagi. urusan cinta adalah urusan hati. ibunda orang-orang yang beriman. Suami yang baik tentu pandai memberikan apresiasi. Lihatlah Ummul Mukminin. walau istri tua atau istri lama. kita ingatkan suami yang sampai berlaku demikian. dan tidak banyak tuntutannya. Sebenarnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Aisyah radhiyallahu ‘anha. kerelaan seorang istri. pengertian. betapa sering beliau menyebut-nyebut Khadijah radhiyallahu ‘anha—istri pertama beliau yang telah lama wafat—. cinta suami bertambahtambah kepada istrinya padahal si suami telah memiliki Majalah Asy Syariah Edisi 85 istri selainnya. dan mengenang kebaikannya sampai membuat Aisyah radhiyallahu ‘anha cemburu. toh istri baru dengan berjalannya waktu akan menjadi istrilama pula. Dengan kata lain. Hamba tidak mampu menguasainya. menikah lagi memang tidak berarti melupakan cinta yang lama. si istri tidak perlu mengkhawatirkan dirinya menjadi sepah yang dicampakkan. Jika engkau ingin disayang. Terkadang juga para istri keberatan suami menikah lagi karena merasa dihinakan serta dijatuhkan harkat dan martabatnya.Tidak Ada Istilah “Habis Manis Sepah Dibuang” Pepatah di atas mungkin terpikir di benak istri saat suaminya menikah lagi. serta melangkah menuju poligami dengan memerhatikan syaratsyaratnya. Berbeda halnya apabila suaminya seorang yang tidak takut kepada Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala lah yang mengaturnya. cinta itu tidaklah menghalangi beliau n untuk menikahi sekian wanita setelah Aisyah radhiyallahu ‘anha. ketulusannya. dia pun begitu. hendaklah bertakwa kepada Allah Subhanahu wata’ala dan takut akan siksa-Nya. yang tidak luntur dengan datangnya cinta yang baru. Sebab. Namun. Janganlah merusak apa yang sudah dibina. Padahal. Oleh karena itu. menyanjung. Telah datang ancaman Rasul yang mulia Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada suami yang berlaku curang atau tidak adil di antara istri-istrinya. cinta suami akan beralih kepada istri yang baru. maka bisa saja ia menelantarkan istri pertamanya karena telah mendapatkan istri muda. Seorang istri sebatas berusaha mereguk cinta suami. (Tuhfatul Ahwadzi. Terkadang istri pertama khawatir. Jika engkau memiliki perasaan sebagai perempuan. Mengapa harus gengsi jika suami mempunyai istri yang lain—yang jauh berlipat-lipat kali lebih mulia daripada ia memiliki kekasih gelap Page 31 . Sebenarnya kekhawatiran seperti ini pun mudah terjawab. bab “Ma Ja’a fi al-Mukhtali’at”) hidup Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. memuji. Betapa suaminya. justru menjadi salah satu pendorong terbesar berseminya kasih sayang di hati suaminya. Jika engkau cemburu. saleh. Kepada istri muda pun kita ingatkan. dan bertakwa kepada Allah Subhanahu wata’ala. hendaklah bertakwa kepada Allah l dan takutlah akan siksa-Nya.

Ketika seorang wanita cemburu terhadap suaminya karena sang suami melakukan perbuatan yang diharamkan. tetapi masih tersulut juga kecemburuan. Tentu dengan catatan.atau selingkuh dengan wanita yang tidak halal. ada yang membenci syariat karena menetapkan adanya poligami. Misalnya. (Nashihati lin Page 32 . ada uzur bagi para istri tersebut (yakni dibolehkan) apabila cemburunya sebatas tabiat perempuan yang tidak ada seorang pun dari mereka dapat selamat darinya. ia ingin tinggal berjauhan. Sebagian yang lain mengharapkan kematian suaminya apabila sampai menikah lagi. (Fatawa ManarulIslam. Tidak pantas seorang istri yang mukminah memperturutkan rasa cemburunya dan membiarkan perasaan itu menguasainya. dan menjatuhkan kehormatannya. tidak diperkenankan. sebab wanita memang diciptakan dengan sifat tersebut. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani rahimahullah mengatakan. meng-ghibah. jadilah tercela. berbudi mulia.” (FathulBari. Adapun bila suami adalah orang yang adil dan telah menunaikan hak setiap istrinya. Walaupun cemburunya mencapai puncak. cemburu semacam ini disyariatkan (dibolehkan). Ini adalah perasaan yang wajar selama tidak melampaui batas sampai pada tingkat melakukan kedustaan atau menuduh serampangan. Justru yang wajib baginya adalah mendahulukan syariat dan menaati suaminya daripada rasa cemburunya. yang setiap istri memiliki rumah tersendiri. hal itu pasti dan ada bukti (tidak sekadar tuduhan dan kecurigaan). tidak ada hak bagi istri untuk menolak keinginan suami tersebut. juga ditinggal menikah oleh suaminya dan tidak merasa dihinakan atau dijatuhkan harkat martabatnya. Juwairiyah bintu al-Harits. seperti Zainab bintu Jahsy. tetapi lisannya digunakan untuk mencaci maki madunya. “Asal dari sifat cemburu bukanlah hasil usaha wanita. Padahal yang dinikahi oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bukan wanita sembarangan. 9/404) Ada di antara wanita yang sifat cemburunya melampaui batas sehingga berangan-angan poligami tidak dibolehkan dalam syariat ini. ia menuntut agar jangan didekatkan dengan madunya. Dengan syarat. Menolak Tinggal Berdekatan dengan Madu Apabila seorang suami menginginkan istri-istrinya tinggal berdekatan di satu kompleks misalnya. Yang lain tidak berangan demikian. Jika cemburu itu hanya didasari sangkaan tanpa bukti. atau berbuat zalim dengan mengutamakan madunya. 3/116) Majalah Asy Syariah Edisi 85 Yang Terjadi di Antara Madu Cemburu memang perasaan yang pasti terselip di antara para madu. al-Imam Ibnu Utsaimin. Shafiyah bintu Huyai. mengurangi haknya. melainkan para wanita berparas jelita. itu bukanlah alasan penolakan terhadap keinginan suami. Bahkan. seperti berzina. Namun. dan sebagainya. apabila cemburu itu melampaui batas dari kadar yang semestinya. dari keturunan yang mulia. jatuh dalam zina—sementara wanita salehah ahlul jannah setingkat Aisyah2 yang kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. ia tidak melampaui batas dengan melakukan halhal yang diharamkan baik ucapan maupun perbuatan. dan yang lainnya. atau na’udzubillah. “Keutamaan Aisyah dibanding wanita-wanita lain seperti kelebihan tsarid (makanan yang istimewa dari campuran gandum dengan daging) dibandingkan dengan makanan yang lain”.

Gejolak cemburu ini juga muncul dalam rumah tangga yang paling mulia dari manusia termulia Shallallahu ‘alaihi wasallam. meletuplah emosi Aisyah dan mengobarkan rasa cemburunya hingga mengantarkannya berkata kepada suaminya. kemudian mengumpulkan makanan yang berserakan. al-Bukhari no. “Sebab cemburu Aisyah adalah karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam banyak menyebut Khadijah meskipun telah tiada. tidak menghukum mereka selama cemburu itu dalam batas kewajaran. apa pun kenyataan yang dihadapi. 2435) Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengungkapkan rasa cemburunya kepada Khadijah radhiyallahu ‘anha. hingga jatuhlah piring itu dan terbelah.” (HR. Karena itulah. lalu beliau letakkan di atas piring yang terbelah seraya berkata. “Ibu kalian sedang cemburu. Namun. TَŒVْ zَ َ ِ Áِ Tkَ {َ ‫ َو‬Tَ‫ه‬Tc‫¿ ِإ‬ ِ ‫لا‬ ِ ْ]Ž ُ ‫ َŠ ِة ِذ ْآ ِŠ َر‬lْ pَ Xِ َ’Ÿ َ ْ }ِ g َ Qَz َ ‫ت‬ ُ ْŠ» ِ Tَ€‫ل ا¿ َآ‬ ِ ْ]Ž ُ Šَ Xِ ‫ َŠَأ ٍة‬Sْ ‫ ا‬Qَz َ ‫ت‬ ُ ْŠ» ِ TَS “Aku tidak pernah cemburu kepada seorang pun dari istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam seperti cemburuku kepada Khadijah.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab.” Bersamaan dengan itu.” (Fathul Bari. 5229 dan Muslim no. 9/405) Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berada di rumah seorang istrinya.” Beliau lalu menahan pelayan tersebut hingga diberikan kepadanya ganti berupa piring yang masih utuh milik istri yang memecahkannya. istri yang Nabi n sedang berdiam di rumahnya memukul tangan pelayan yang membawa makanan tersebut. mayoritas perempuan merasa mendapatkan musibah yang sangat besar ketika suaminya menikah lagi. Aisyah memahami betapa berartinya Khadijah bagi beliau. Aisyah sebenarnya aman dari tersaingi oleh Khadijah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata. dan aku mendapatkan anak darinya. al-Bukhari no. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri sebagai seorang suami memaklumi rasa cemburu mereka. karena Aisyah mengucapkan hal tersebut didorong rasa cemburunya yang merupakan tabia wanita. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengumpulkan belahan piring tersebut. karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sering menyebutnya.” Namun. “Allah tidak pernah menggantikan untukku wanita yang lebih baik darinya. Semestinya. 158—159) Karena sifat cemburu ini pula. karena beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam banyak menyebut dan menyanjungnya. kita tidak mendapatkan adanya berita yang menunjukkan kemarahan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Aisyah.Nisa. Sebagian kisah-kisah cemburu dalam rumah tangga manusia terbaik tersebut di antaranya sebagai berikut. seorang mukminah semestinya sadar bahwa semua itu adalah ketentuan takdir Allah Subhanahu wata’ala. sementara piring yang Page 33 . Aisyah radhiyallahu ‘anha bertutur tentang cemburunya. hlm. 3818) Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata. “Khadijah itu begini dan begitu3. Istri-istri beliau saling cemburu dan berusaha mengundang cinta beliau. Melihat hal itu. Segala musibah dan kepahitan yang didapatkan di dunia itu sangat kecil dibanding keselamatanagama yang diperolehnya. ٌ}Xَ‫ َو‬TَŒkْ Sِ ZِX ‫ن‬ َ Tَ‫‚ْ َوآ‬tَ Tَ‫‚ْ َوآ‬tَ Tَ‫ آ‬TَŒtc ِ‫ إ‬:‫ل‬ ُ ْ]aُ Vَ \َ ‫Ÿ’ُ؟‬ َ ْ }ِ g َ ® c ‫ َŠَأةٌ ِإ‬Sْ ‫ ا‬TَVtْ }— X‫ ا‬Zِ\ ْopُ َ ْeXَ َ tc«َ ‫َآ‬ Majalah Asy Syariah Edisi 85 “Seakan-akan di dunia ini tidak ada wanita selain Khadijah. Ummu Abdillah al-Wadi’iyah. “Allah telah menggantikan untukmu wanita yang lebih baik darinya. salah seorang ummahatul mukminin (istri beliau yang lain) mengirimkan sepiring makanan untuk beliau.” (HR.

“Berarti engkau adalah sosok yang akulihat di Page 34 . engkau telah mengucapkan satu kata yang seandainya dicampur dengan air lautan niscaya akan dapat mencampurinya. Suatu saat Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata kepada beliau. aku pun bersegera. cukuplah bagimu Shafiyah.dia itu begini dan begitu. “Hafshah mencelaku dengan mengatakan aku putri Yahudi.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata menghiburnya. aku pun melakukan yang sama. 3894) Suatu ketika. kulihat napasmu memburu?” Aku menjawab. ُ Uْ © َ ªَ €َ Xَ Šِ s ْ –َ Xْ ‫ ِء ا‬Tَ€wِ ْ‚© َ ªِ Sُ ْ]Xَ ’ً €َ zِ‫‚ َآ‬ ِ zْ ُ ْ}aَ Xَ “Sungguh. Abu Dawud no. Beliau berdiri lama. lalu mengangkat kedua tangannya sebanyak tiga kali. di malam giliran ‘Aisyah. kita dengar penuturan ‘Aisyah. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian membuka pintu dan keluar dari kamar ‘Aisyah.” (HR. “Sesungguhnya engkau adalah putri seorang nabi. Beliau bersegera. dan Majalah Asy Syariah Edisi 85 engkau adalah istri seorang nabi. dan meletakkannya di sisi kedua kakinya. lalu mengenakan sandalnya dengan perlahan agar tidak mengusik tidur ‘Aisyah. Beliau lalu membentangkan ujung sarungnya di atas tempat tidurnya. ia menangis. Melihat keadaanku beliau pun berkata. Untuk selanjutnya. dinyatakan sahih dalam Shahih Sunan Abi Dawud) Ada lagi kisah lainnya. “Wahai Rasulullah. beliau bangkit dan mengambil selendangnya dengan perlahan. dalam keadaan demikian. Setelah itu. wahai Hafshah!” (HR. Bersamaan dengan itu. “Apa yang membuatmu menangis?” Shafiyah menjawab. Ia pun bangki mengenakan pakaian dan kerudungnya. Bagaimana bisa dia membanggakan dirinya di hadapanmu?” Kemudian beliau menasihati Hafshah. “Kemudian aku mengikuti beliau hingga beliau sampai di permakaman Baqi’. aku pun berlari kecil. “Tidak ada apa-apa. Ketika sampai berita kepada Shafiyah bintu Huyai radhiyallahu ‘anha bahwa Hafshah bintu Umar radhiyallahu ‘anhuma mencelanya dengan mengatakan bahwa dirinya putri Yahudi. Sebab.” Salah seorang rawi hadits ini mengatakan bahwa yang dimaksud Aisyah adalah Shafiyah itu pendek. Tidak berapa lama. Belum lama aku membaringkan tubuhku. Mendengar ceritaku. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam masuk menemuinya dan mendapatinya sedang menangis. “Beri tahu aku. beliau masuk. Beliau berlari lebih cepat. (HR. 5225) Hadits ini menunjukkan. “Bertakwalah kepada Allah Subhanahu wata’ala. (Fathul Bari. beliau pun berbaring. pintu ditutup kembali dengan perlahan. pamanmu adalah seorang nabi. aku pun berbalik. melepas kedua sandalnya. Setelah itu. beliau berkata. Kemudian beliau berbalik. at-Tirmidzi no. al-Bukhari no. akalnya tertutup disebabkan kemarahan yang sangat. 4875. atau Allah Subhanahu wata’alayang akan mengabarkan kepadaku. Beliau pun bertanya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Aisyah. hingga aku dapat mendahului beliau lalu segera masuk ke dalam rumah.” Beliau berkata.pecah disimpan di tempatnya. apabila cemburu itu mengantarkan kepada perbuatan yang diharamkan seperti ghibah. “Ada apa dengan dirimu wahai’Aisyah. Rasulullah n tidak membiarkannya. 3894. ‘Aisyah yang ketika itu disangka telah lelap dalam tidurnya. ternyata melihat apa yang diperbuat oleh suaminya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan selendangnya. Beliau berlari kecil. Mendengar hal tersebut.” Aku pun menceritakan apa yang baru berlangsung. 9/403) Namun. dinyatakan sahih dalam Shahih Sunan Tirmidzi dan al-Misykat no. perempuan yang sedang cemburu tidaklah diberi hukuman atas perbuatan yang dia lakukan tatkala api cemburu berkobar.

” (HR. al. sehingga tidak terlihat orang-orang di sekitarnya) dan beliau berbincang bersamanya. karena khawatir engkau akan merasa sendirian (dalam sepi) dalam kegelapan malam. 2445) Page 35 . Ia pun kemudian meraba-raba mencari beliau. Aisyah x merasa kehilangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. “Iya. sedangkan engkau telah membuka pakaianmu. “Sungguh. semula aku menyangka demikian. kemudian berjalan bersisian dengan unta tersebut hingga mereka singgah di suatu tempat. sementara engkau berada dalam keadaan yang lain. Aku tidak sanggup berkata apa-apa kepada Rasul-Mu. ‘Aisyah memasukkan kakinya ke dalam rumputrumputan seraya berkata.Nya akan berbuat tidak adil terhadapmu4?” ‘Aisyah berkata. “Tidakkah engkau mau menaiki untaku malam ini dan aku menaiki untamu. Suatu ketika. Ternyata ‘Aisyah mendapatkan beliau sedang ruku’ atau sujud seraya berdoa. siapa yang diajak dalam safar tersebut. 5211 dan Muslim no. 974) Pernah juga suatu malam. Aku penuhi panggilannya. “Iya. 485) Majalah Asy Syariah Edisi 85 Kebiasaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila hendak bepergian (safar) adalah mengundi di antara istri-istrinya. aku berada dalam satu keadaan. aku pun menyembunyikannya darimu.” Lalu ia pun menaiki unta Hafshah dan Hafshah menaiki untanya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan salam. Muslim no.” ‘Aisyah pun berkata. niscaya Allah mengetahuinya.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan. Tadi aku menyangka engkau sudah tidur sehingga aku tidak ingin membangunkan tidurmu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan bersisian dengan unta yang ditunggangi ‘Aisyah x (yang berada di dalam sekedup/semacam tandu yang diletakkan di atas unta. Ia pun cemburu. bukan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhs. hingga engkau bisa melihat dan aku bisa melihat?” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menjawab. “Bagaimana pun manusia menyembunyikannya. Keduanya pun dibawa oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. tidak ada sesembahan yang benar selain-Mu. ‘Aisyah merasa kehilangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pada malam itu. “Jibril datang menemuiku saat itu. Jibril berkata kepadaku saat itu. Muslim no. “Apakah engkau menyangka Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul.hadapanku tadi?” Aku menjawab. Dalam safar tersebut.Bukhari no. biarkanlah seekor kalajengking atau ular menyengatku. Jibril tidak mungkin masuk ke kamar ini. Hafshah radhiyallahu ‘anha berkata kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. ‚ َ tْ ‫® َأ‬ c ‫ َ ِإ‬Xِ‫® إ‬ َ ‫ك‬ َ }ِ €ْ s َ wِ ‫ˆ َو‬ َ tَ Tَs–ْ Ž ُ “Mahasuci Engkau dan segala puji bagi-Mu. Ia menyangka beliau pergi ke rumah istri yang lain.” Beliau mendorong dadaku dengan kuat hingga membuatku kesakitan. Memang. Dia memanggilku. ‘Sesungguhnya Rabbmu memerintahkanmu untuk mendatangi permakaman Baqi’ guna memintakan ampun bagi penghuninya’…. apabila malam telah menjelang. Datanglah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menuju unta yang biasa dinaiki oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tanpa mengetahui bahwa yang ada di dalam sekedupnya adalah Hafshah.” (HR. jatuhlah undian kepada ‘Aisyah dan Hafshah radhiyallahu ‘anha. “Ya Rabbku. hingga ketika mereka berhenti dan singgah di suatu tempat. Suatu ketika.” (HR. Kemudian beliau bersabda.

“Aku belum pernah melihat seorang perempuan pun yang paling baik agamanya daripada Zainab. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam meminta pendapat Zainab bintu Jahsy radhiyallahu ‘anha salah seorang istri beliau. tentang diri ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. namun kebaikan yang ada pada diri mereka tidak didapatkan pada dirimu…. Padahal sebelumnya. paling menyambung hubungan silaturahmi. Zainab inilah yang menyamai kedudukannya di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.aku menjaga pendengaranku danpenglihatanku. “Wahai Rasulullah. 4/1805) Pujian ini dilontarkan oleh ‘Aisyah ketika bani Mushthaliq. salam. alBukhari no. Pujian ini dengan jujur diucapkan ‘Aisyah.” (HR.” (alIsti’ab. dibebaskan oleh kaum muslimin dari penawanan karena pernikahan Rasulullah n dengan Juwairiyah. “Kami tidak pernah mengetahui ada seorang perempuan yang lebih besar berkahnya terhadap kaumnya daripada Juwairiyah.” Padahal. Jangan pula kisah mereka dijadikan dalil oleh para perempuan sekarang untuk membenarkan tindakan salah mereka dengan dalih cemburu. Ketahuilah. aku tidakmengetahui darinya selain kebaikan. 4141) Lihatlah kejujuran Zainab! Cemburunya kepada ‘Aisyah tidak Majalah Asy Syariah Edisi 85 membuatnya lupa akan kebaikan dan keutamaan ‘Aisyah. kaum Juwairiyah. Setiap orang yang memandangnya pasti akan terpikat. Semoga shalawat. Dengarkan pula pujian ‘Aisyah terhadap Juwairiyah. dan berkah Allah Subhanahu wata’ala tercurahkan selalu bagi panutan umat dan Page 36 . “Juwairiyah adalah perempuan yang berparas elok dan manis. karena aku tahu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam akan melihat keelokannya sebagaimana yang aku lihat. 4/1804) Demikian sedikit contoh dari kehidupan rumah tangga para istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menunjukkan bahwa kecemburuan tidaklah membutakan mereka dari kebenaran dan melihat kenyataan. atau untuk menolak ucapan baik dari suami mereka yang menasihati mereka dalammasalah cemburu dengan mengatakan. “Apa yang engkau ketahui tentang Aisyah dan apa pendapatmu?” Zainab radhiyallahu ‘anha menjawab.” (al-Isti’ab. Mereka adalah perempuanperempuan yang paling mulia. salah seorang ummahatul mukminin. ‘Aisyah cemburu pada Juwairiyah. ketika peristiwa Ifk. tidaklah membuat mereka menutup mata dari kebaikan yang ada pada madu mereka dan tidak mengantarkan mereka untuk membuat kedustaan guna menjatuhkan madu mereka. Ketika itu aku tidak menyukainya. ‘Aisyah mengatakan. bagaimanapun cemburu yang ada di tengah mereka. ia pernah memuji Zainab. Satu contoh. “Istri-istri Rasulullah juga cemburu dan berbuat ini dan itu karena dorongan cemburunya. Aku melihatnya dari balik pintu saat menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk meminta tolong dalam hal pembebasan dirinya dari status tawanan perang.Cemburu Tidak Membuat Ibunda Kita Buta Kisah-kisah cemburu di atas kitabawakan bukan untuk mencela istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. paling jujur dalam ucapan. paling banyak bersedekah. Demi Allah. Demikian pula sebaliknya pada diri ‘Aisyah. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Zainab radhiyallahu ‘anha. Cukuplah bagi mereka kemuliaan dengan Allah Subhanahu wata’ala memilih mereka menjadi pendamping hidup Rasul-Nya yang mulia.” Memang benar mereka (istri-istri Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam) cemburu dan engkau pun cemburu. Dia seorang yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wata’ala. paling banyak mencurahkan kemampuannya untuk bekerja lalu hasilnya ia sedekahkan dan digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Wallahul musta’an. Sama saja. putri Abu Sufyan. Bahkan. lalu keduanya dikumpulkan dalam pernikahan (dijadikan madu satu dengan yang lainnya).” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab. seayah. seorang ummul mukminin. cemburu telah membuat mereka buta. Mereka menjatuhkan kehormatan perempuan yang mereka cemburui di hadapan suami mereka dan orang lain. coba kita lihat apa yang ada pada diri para perempuan yang cemburu pada hari ini—selain yang dirahmati dan diselamatkan oleh Allah Subhanahu wata’ala! Sungguh. Ketika Allah Subhanahu wata’ala menyebutkan tentang perempuan-perempuan yang haram dinikahi. “Apakah kamu menyenangi hal itu1?” “Iya. sekandung. Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak boleh mengumpulkan dua perempuan bersaudara dalam ikatan pernikahan. dan semoga Allah Subhanahu wata’ala meridhai istri-istri beliau yang mulia yang menjadi teladan terbaik bagi para wanita umat ini.” jawab Ummu Habibah.kekasih-Nya. “Aku suka saudara perempuanku ikut menyertaiku dalam kebaikan. terkecuali apa yang telah lalu. mereka menempuh cara-cara yang dilarang oleh agama guna “menyingkirkan” perempuan yang membuat panas hatinya karena cemburu. Sekarang. Kajian Utama “Aturan Dalam Poligami” Kategori: Majalah AsySyariah Edisi 085 Al Ustadz Muslim Abu Ishaq al Atsari Ada beberapa aturan atau hukum yang diatur oleh syariat dalam hal poligami. Artinya. Toh. atau seibu dengan istri. yakni iparnya. É َ zَŽ َ ْ}َ TَS TcX‫ ِإ‬o ِ Vْ Uَ g ْ «ُXْ ‫ ا‬o َ Vْ wَ ‫Ÿ َ€~ُ]ا‬ ْ bَ ‫َوأَن‬ “Dan kalian mengumpulkan dua perempuan yang bersaudara. seorang lelaki tidak boleh menikahi seorang perempuan kemudian menikahi lagi saudara perempuan istri. saya dapati saya punya madu (istri-istrimu yang lain). saya tidak sendirian sebagai istrimu. nikahilah saudara perempuanku. pernah berkata kepada suaminya. termasuk yang haram dilakukan adalah. di antaranya: 1.” Majalah Asy Syariah Edisi 85 Page 37 . apakah itu adik atau kakak ipar. “Wahai Rasulullah.” (an-Nisa: 23) Ummu Habibah bintu Abi Sufyan radhiyallahu ‘anha.

Bukhari no.” jawab Ummu Habibah. menikah dulu dengan si bibi lalu menikahi keponakannya. karena ia adalah putri dari saudara laki-lakiku sesusuan. 3. Ketika menikahi Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha. 3571) 2. 5171 dan Muslim no. dinyatakan sahih dalam Shahih Abi Dawud) Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu memberitakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerdekakan Shafiyah bintu Huyai radhiyallahu ‘anha dari perbudakan dan menjadikan kemerdekaannya sebagai maharnya. 3429) Yang haram hanyalah apabila mereka disatukan dalam pernikahan.perempuan. Beliau tidaklah menyamakan satu istri dengan istri yang lain. yakni dijadikan madu. Berarti. tidak apa-apa si suami menikahi adik Majalah Asy Syariah Edisi 85 Tsabit al-Bunani. Adapun apabila istrinya sudah meninggal atau bercerai darinya. ‘Aku tidak pernah melihat Nabi n menyelenggarakan walimah pernikahan beliau dengan salah satu dari istri-istri beliau melebihi walimah yang diadakannya saat menikahi Zainab’. maka ia berkata. 3482) 4. “Sungguh hal itu tidak halal bagiku. Boleh menyelenggarakan walimah pernikahan dengan seorang istri lebih meriah daripada walimah pernikahan dengan istri yang lain. Raja Najasyi menyerahkan mahar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebesar empat ribu dirham5. atau sebaliknya. dari pihak ayah ataupun ibu (‘ammah dan khalah) dalam pernikahan.” (HR. seorang tabi’in yang mulia dan murid Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Janganlah kalian (para istriku) menawarkan kepadaku (untuk kunikahi) putri-putri kalian dan jangan pula saudara-saudara perempuan kalian. “Kami membicarakan bahwa Anda ingin menikahi putri Abu Salamah. al-Bukhari no. atau bibi istrinya. Abu Dawud no.” (HR. al-Bukhari no. Demikian pendapat yang rajih. 3489) Al-Kirmani mengatakan. bisa jadi. (HR. 9/202). Boleh memberikan mahar yang berbeda antara satu istri dan istri yang lain. TَŒUِ XَTَg Qَz َ ‫ َ€Šَْأ ُة‬Xْ ‫ وَا‬TَŒUِ €c  َ Qَz َ ‫ َ€Šْأَ ُة‬Xْ ‫ ا‬Æ َ pَ kْ bُ ْ‫ َأن‬Z — –ِ kc X‫ ا‬QَŒtَ “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang seorang perempuan dinikahi setelah ‘ammahnya dan seorang perempuan dinikahi setelah memperistri khalahnya. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata. sebab Zainab radhiyallahu ‘anha dilebihkan dalam walimah daripada istri-istri beliau Shallallahu Page 38 . mengatakan.” (HR.” Ummu Habibah berkata lagi. Dalilnya apa yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hal pemberian mahar pernikahannya dengan istri-istri beliau. ia tetap tidak halal bagiku. al. 5086 dan Muslim no. 2107. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda. Rasulullah n menjelaskan. “Andainya pun ia bukan rabibahku (putri istriku) yang dalam asuhanku.” “Putri Ummu Salamah?” tanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam meyakinkan. “Iya. kakak perempuan. dan ini adalah pendapat jumhur ulama (Fathul Bari. baik dalam hal jumlah atau macamnya. “Disebut-sebut tentang pernikahan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Zainab bintu Jahsyin radhiyallahu ‘anha di sisi Anas radhiyallahu ‘anhu. Tidak boleh mengumpulkan istri dengan bibinya. 5101 dan Muslim no. (HR. tidak boleh setelah menikahi si istri lalu menikahi bibinya. alBukhari no. Aku dan Abu Salamah pernah disusui oleh Tsuwaibah (budak Abu Lahab). 5110 dan Muslim no.

Allah Subhanahu wata’ala menyebutkan lafadz buyut (bentuk jamak dari kata bait) yang bermakna rumah rumah. Melihat hal itu. yaitu AllahSubhanahu wata’ala menikahkan Zainab dengan beliau lewat wahyu. ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berada di rumah salah seorang istrinya. Dikhawatirkan saat suami menggauli salah satu istrinya.Qur’an. Demikian kata al. “Ibu kalian sedang cemburu. 6. o c pُ bِ ]ُVwُ Zِ\ ‫ن‬ َ ْŠَ ‫َو‬ “Tetaplah kalian (istri-istri Nabi) tinggal di rumah-rumah kalian. yang berarti rumah Nabi n tidak hanya satu. baik istri muda maupun istri tua.” (HR. ¿ ِ ‫لا‬ َ ْ]Ž ُ ‫ن َر‬ c ‫َأ‬ Tَ‫ َ}ه‬kْ  ِ ‫ت‬ َ TَS QcU… َ ’َ Áِ Tَ ‚ ِ Vْ wَ Zِ\ ‫ن‬ َ Tَ pَ\ ،َ‫ء‬Tَ¤ à ُ Vْ … َ ‫ن‬ ُ ْ]pُ َ ُ © ُ ‫َ ُ َأزْوَا‬X ‫ن‬ َ ‫ َ\ َ« ِذ‬. Istri-istri beliau pun mengizinkan beliau untuk berdiam di mana saja yang beliau inginkan. Boleh menempatkan istri-istri dalam satu rumah apabila mereka ridha. 4/388) Hadits – hadits juga banyak menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menempatkan istri-istri beliau dalam rumah yang terpisah.” (al-Ahzab: 34) Saat sakit yang mengantarkan kepada kematian Rasulullah n. al. Allah Subhanahu wata’ala menyatakan dalam al. karena mudarat yang bisa muncul di antara keduanya. lalu beliau letakkan di atas piring yang terbelah seraya berkata. sementara piring yang pecah disimpan di tempatnya. al-Bukhari no. Ibnu Abi Syaibah. ( HR.Bukhari no.” Beliau lalu menahan pelayan tersebut hingga diberikan kepadanya ganti berupa piring yang masih utuh milik istri yang memecahkannya. (al-Mushannaf. 5217) Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menyampaikan. 9/296) 5. “Di mana aku besok.Hasan al-Bashri rahimahullah. yaitu permusuhan Majalah Asy Syariah Edisi 85 Page 39 . tetapi berbilang.” (alAhzab: 33) Demikian pula ayat. di mana aku besok?” Beliau menginginkan tiba hari giliran Aisyah. “Tidak boleh seorang suami mengumpulkan dua istri dalam satu tempat tinggal tanpa keridhaan keduanya. ،َ’  َ Áِ Tَ ‫»}ًا؟ ُ ِŠ ْ ُ} َ]ْ َم‬ َ Tَt‫ َأ‬o َ ْ ‫ َأ‬،‫»}ًا‬ َ Tَt‫ َأ‬o َ ْ ‫ َأ‬:ِ Vْ \ِ ‫ت‬ ِ TَS ‫œِي‬Xc‫˜ ِ ا‬ ِ Šَ Sَ Zِ\ ‫ل‬ ُ «َ` ْ َ ‫ن‬ َ Tَ‫آ‬. Para istri sebaiknya ditempatkan di rumah tersendiri karena berkumpulnya mereka rawan memunculkan kecemburuan dan pertikaian. ’ِ €َ pْ s ِ Xْ ‫ ِ وَا‬zcX‫ت ا‬ ِ Tَ› ْoSِ o c pُ bِ ]ُVwُ Zِ\ ٰQzَUْ ُ TSَ ‫ن‬ َ ْŠ‫وَاذْ ُآ‬ “Dan ingatlah apa yang dibacakan dalam rumah-rumah kalian dari ayatayat Allah dan hikmah…. (Fathul Bari. istri yang Nabi sedang berdiam di rumahnya memukul tangan pelayan yang membawa makanan tersebut hingga jatuhlah piring itu dan terbelah. beliau biasa bertanya. Beliau pun tinggal di rumah Aisyah sampai meninggal di sisi Aisyah. istri beliau yang lain mengirimkan sepiring makanan untuk beliau. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengumpulkan belahan piring tersebut kemudian mengumpulkan makanan yang berserakan. Di antaranya hadits Aisyah berikut ini radhiyallahu ‘anha. Setiap istri ditempatkan di rumah tersendiri karena demikianlah yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. 5225)] Dalam ayat di atas. istri yang lain akan melihatnya. Al-Imam Ibnu Qudamah t menerangkan.‘alaihi wasallam yang lain adalah sebagai tanda kesyukuran kepada Allah Subhanahu wata’ala atas nikmat yang dilimpahkan kepada beliau.

dan biasanya tidur di tempat tidurnya bersama istrinya. 2688) Apabila seorang istri ditambah hari gilirannya. hal ini tidaklah diperbolehkan. Suami harus berlaku adil dalam hal nafkah. kecuali Saudah bintu Zam’ah. kalau aku memberikan waktu tujuh hari denganmu. walaupun keduanya ridha. Karena itu. (alJami’ li Ahkamil Qur’an. “Fashl an Yajma’a Baina Imra’ataihi fi Maskan Wahid”) yang ada. Yang satu akan mendengar atau melihat ketika suaminya “mendatangi” istri yang lain. berarti aku juga memberikan tujuh hari untuk istri-istriku yang lain. dan menyibukkan diri. Namun. atau sesuai kesepakatan Majalah Asy Syariah Edisi 85 Tidak ada perselisihan dalam hal ini. keluar rumah. jika kedua istri ridha. Adapun siang hari adalah waktu untuk mengurusi penghidupan. hal itu menjadi hak keduanya dan mereka bisa menggugurkannya.dan kecemburuan. dijatahnya istri-istrinya. al-Bukhari no. (al-Mughni. Page 40 . “Apabila engkau mau. Apabila keduanya dikumpulkan akan mengobarkan pertikaian dan permusuhan. Al-Imam al-Qurthubi rahimahullah juga menyatakan bolehnya mengumpulkan istri dalam satu rumah apabila mereka ridha. Namun. Suami bisa menggilir semalamsemalam. Demikian pula. dan menjatuhkan kehormatan. berdasar hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyatakan kepada Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha saat pengantin barunya. pakaian. apabila keduanya ridha suami tidur di antara keduanya dalam satu selimut. Namun. Seseorang berdiam di rumahnya pada waktu malam. malam dan siangnya dengan adil. “Masalah: Sandaran pembagian giliran adalah malam hari”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri membagi giliran istri-istrinya sehari semalam. apabila keduanya ridha suami mencampuri salah satunya dan yang lainnya menyaksikan. tetap tidak diperkenankan. Demikian pula dalam urusan mabit (bermalam). Sebab. hal ini adalah perbuatan yang rendah. istri yang lain pun ditambah. ia telah menghadiahkan hari dan malamnya untuk Aisyah guna mencari keridhaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata ketika menjelaskan ucapan al-Khiraqi. menenangkan diri dengan keluarganya. sebagaimana hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha. karena waktu malam itu untuk istirahat/menenangkan diri dan berdiam. “ 8. Muslim no. “Kitab ‘Isyratun Nisa”.Z ِّ –ِ kc X‫ا‬ “Beliau membagi giliran setiap istrinya sehari semalam. dan tempat tinggal. 3606) Dalil kita adalah hadits Anas radhiyallahu ‘anhu yang menyebutkan tentang seorang ummul mukminin yang mengirimkan hadiah sepiring makanan kepada Rasulullah n saat beliau berada di rumah istri beliau yang lain.” (HR.” (HR. ’َ   َ Áِ Tَ~Xِ TَŒUَ zَVْ Xَ‫ َو‬TَŒSَ ْ]َ ْ‚–َ ‫ َ~ َ’ َو َه‬Sْ ‫‚ َز‬ َ kْ wِ ‫Ž]ْ َد َة‬ َ ‫ن‬ c ‫ َŠ َأ‬Vْ » َ TَŒUَ zَVْ Xَ‫ َو‬TَŒSَ ْ]َ o c Œُ kْ Sِ ‫ َŠَأ ٍة‬Sْ ‫™ ا‬ n pُ Xِ eُ ` ِ aْ َ ‫ن‬ َ Tَ‫َوآ‬ ¿ ِ ‫لا‬ ِ ْ]Ž ُ ‫ج َر‬ ِ ْ‫ َزو‬Tَ˜‫ˆ ِر‬ َ Xِœَ wِ ZِºUَ –ْ bَ . mencari rezeki. aku akan mencukupkan tujuh hari bersamamu. dan beliau tidak mengingkari perbuatan tersebut. Sebab. Seorang istri boleh mengirimkan hadiah kepada suaminya saat si suami sedang berada di rumah istri yang lain. 14/140) ZِÁTَ`kِ Xِ ‚ ُ ~ْ –c Ž َ ˆ ِ Xَ ‚ ُ ~ْ –c Ž َ ْ‫ˆ َوِإن‬ ِ Xَ ‚ ُ ~ْ c–Ž َ ‚ ِ §ْ ¤ ِ ْ‫ِإن‬ 7 . tidak pantas. hal itu dibolehkan.

ia menunaikan giliran istri-istrinya di siang hari. “Wajib bagi suami berlaku adil di antara istri-istrinya. menunjukkan siang juga masuk dalam pembagian mengikuti malam. Page 41 . Dia menjadikan bagi kalian malam dan siang agar kalian mendapatkan ketenangan di dalamnya (di waktu malam) dan agar kalian bisa mencari sebagian keutamaan. Al-Qurthubi rahimahullah juga menyatakan demikian. “fashl Yuqsamu lil Maridhah…”). “Apabila salah seorang dari kami haid dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ingin bercampur (selain jima’) dengannya. “Siapa di antara kalian yang mampu menahan nafsunya sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mampu menguasainya?” (HR. 302 dan Muslim no. asy-Syafi’i. “Kitab ‘Isyratun Nisa”.” (al-Qashash: 73) Berdasarkan hal ini. 9/386) Majalah Asy Syariah Edisi 85 Namun. “Kitab ‘Isyratun Nisa”. lalu beliau pun mencampurinya. 14/139) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tetap bermalam di rumah istri beliau yang haid dan tidur bersamanya. Adapun saat safar. al-Bukhari no. sedangkan siang harinya ia mengurusi pekerjaan. beliau perintahkan si istri untuk bersarung (menutupi tubuh bagian bawah). memenuhi hakhak manusia. 678) Al-Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata. riwayat Aisyah radhiyallahu ‘anha yang menyebutkan Saudah menghadiahkan malam dan siangnya untuk Aisyah. dan melakukan urusan mubah yang dia inginkan. (al-Mughni. (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an. al-Bukhari no. malam menjadi sandaran giliran di saat seseorang bermukim. sebagaimana dinukilkan oleh Ibnu Qudamah ( al-Mughni.” (an-Naba: 10—11) ‫ن‬ َ ‫Šُو‬pُ   ْ bَ ْepُ zc~َ Xَ‫ ِ َو‬zِ ْ \َ oِS ‫ُ]ا‬ºUَ –ْ Uَ Xَِ‫ ِ و‬Vِ\ ‫ُ]ا‬kpُ ` ْ Uَ Xِ ‫ َر‬TَŒkc X‫™ وَا‬ َ Vْ zcX‫ ا‬eُ pُ Xَ ™ َ ~َ © َ ِ Uِ €َ … ْ ‫ر‬c oِS‫َو‬ “Termasuk rahmat-Nya. “Kitab ‘Isyratun Nisa”. fashl an-Nahar Yadkhulu fil Qism Taba’an Lil lail) 9. (HR. seperti penjaga keamanan (satpam) dan yang semisalnya.Allah Subhanahu wata’ala berfirman. (Fathul Bari. 677) Maimunah radhiyallahu ‘anha pun memberitakan sebagaimana yang dikabarkan oleh Aisyah x. Demikian yang dinyatakan oleh ats-Tsauri.Nya (pada siang hari). Tًkpَ Ž َ ™ َ Vْ zcX‫™ ا‬ َ ~َ © َ ‫َو‬ “Dan Dia menjadikan malam sebagai waktu ketenangan. 303 dan Muslim no. nifas. Istri yang sedang haid. Kata Aisyah. patokan giliran adalah saat singgah di suatu tempat.” (alAn’am: 96) Tً¤Tَ~Sَ ‫ َر‬TَŒkc X‫ ا‬Tَkzْ~َ © َ ‫ )( َو‬TًŽTَ–Xِ ™ َ Vْ zcX‫ ا‬Tَkzْ ~َ © َ ‫َو‬ “Kami menjadikan malam sebagai pakaian dan siang untuk mengurusi penghidupan. sedangkan malam hari baginya seperti siang bagi orang lain. Berbeda halnya apabila ia termasuk orang yang bekerja di waktu malam. Kata Aisyah radhiyallahu ‘anha. Setiap istri berhak mendapatkan giliran sehari semalam. seorang lelaki membagi giliran di antara istrinya semalam demi semalam. dan ashabur ra’yi. “Fashl atTaswiyah baina an-Nisa fin Nafaqah wal Kiswah”) Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan. Yang dimaksud dengan siang hari adalah hari yang mengikuti malam yang sudah lewat.” (al. atau sakit juga tetap mendapat pembagian giliran. Ini adalah pendapat mayoritas ulama.Mughni.

2017) Selain itu. Kalaupun tidak. Tidak boleh mendahulukan satu istri selain dalam hal awal mendapatkan giliran sehingga dilakukan undian. 12. (al. dan jima’. Sebab.” 13. Apabila sampai suami melakukannya. Abu Dawud no. tentu disenangi apabila suami tidak menyia-nyiakan istrinya. 18/119) ٌ™Áِ TSَ ُ a— ¤ ِ ‫ ِ’ َو‬Sَ TَVaِ Xْ ‫ َء َ]ْ َم ا‬Tَ© Tَ€‫…}َا ُه‬ ْ ‫ ِإ‬QَX‫ل ِإ‬ َ Tَ€\َ ‫ن‬ ِ Tَb‫ َŠَأ‬Sْ ‫ ُ ا‬Xَ ْ‚tَ Tَ‫ْ آ‬oSَ Majalah Asy Syariah Edisi 85 Page 42 . 14/139) 10. kecuali dengan undian. siapa istri yang digilirnya terlebih dahulu. maka hal tersebut sudah mencukupi. 3942. Lain halnya jika ia tidak kuasa untuk bergerak. Saat giliran seorang istri. “Siapa yang memiliki dua istri lalu condong kepada salah seorang dari keduanya (berlaku tidak adil).Majmu’. atau si madu dikhawatirkan meninggal. hal itu adalah pelanggaran terhadap sikap adil. Muslim no. tidak ada dosa bagi suami. ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam meninggalkan Aisyah untuk memenuhi ajakan Jibril ziarah ke Baqi’. Ini berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. maka pada malam hari suami tidak boleh pergi ke rumah istrinya yang lain kecuali karena suatu keperluan yang darurat. kecondongan hati. Suami tidak wajib menyamakan istri-istrinya dalam hal cinta.” (HR. Namun. (al-Minhaj. “Apakah engkau menyangka Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya akan berbuat tidak adil terhadapmu7?” (HR. dinyatakan sahih dalam Shahih Abi Dawud. Apabila demikian. tidak pada siang hari. Dalilnya adalah kisah malam giliran Aisyah radhiyallahu ‘anha. ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda. 2133. Suami harus berada di samping istrinya pada hari gilirannya dan malamnya. “Apabila suami hendak membagi giliran (di antara para istrinya) ia tidak boleh memulai dari salah seorang istri tanpa keridhaan istri-istri yang lain. Namun. apabila suami bisa menyamakan. an-Nasa’i no. Bermalam di samping seorang istri tidak berarti harus jima’ dengannya. maka ia tinggal di rumah istrinya tempat ia jatuh sakit (yang membuatnya tidak bisa bergerak/ sakit parah) di situ. Shahih an-Nasa’i. namun disangka oleh Aisyah hendak ke tempat istri yang lain. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika itu menyatakan. Hak istri tidak gugur pada saat sakit dan haid. (18/110). Apabila telah sehat. kalau ia tidak qadha berarti ia telah condong/melebihkan salah seorang istrinya dari yang lain sehingga ia masuk dalam ancaman yang disebutkan dalam hadits. Apabila ia mengutamakan satu istrinya dalam hal giliran baik dengan undian maupun tidak. ia wajib mengqadha (menggantinya) untuk istri-istri yang lain. Wajib bagi suami berlaku adil di antara para istri di saat sakit (suami) sebagaimana yang ia lakukan di saat sehatnya. kecuali apabila para istri ridha mengikuti kehendak suami. atau ia dipaksa oleh penguasa untuk ke tempat madu istrinya. (al. hal itu baik dalam tinjauan keadilan. ia memulai lagi giliran yang baru. si suami bermalam di rumah istri tersebut.Sebagian ulama berpendapat. memulai dari salah seorang istri tanpa melakukan undian akan mengundang perasaan tidak suka/iri. giliran hanya wajib pada malam hari. dan Irwa’ul Ghalil no. Yang penting.Jami’ li Ahkamil Qur’an. 9/288) 1 1 . 974) Darurat yang dimaksud contohnya sakit. Disebutkan dalam al-Majmu’. ia boleh keluar dan wajib baginya mengqadha waktu yang terpotong dari istri yang punya hak giliran. maka ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan sebelah tubuhnya miring.

” (HR.14. sebagaimana berita dari Aisyah radhiyallahu ‘anha. Namun. (Zadul Ma’ad. suami dibolehkan bermesraan.Minhaj. Muslim no. beliau n mengundi di antara istri Page 43 . Sebab. al-Bukhari no. Mengundi para istri apabila ada yang hendak dibawa safar. (Zadul Ma’ad. beliau pun bermalam di rumahnya. Seorang istri boleh madunya. 2688 dari Aisyah radhiyallahu ‘anha) 18. kemudian masing-masing pulang ke rumah mereka. memindahkan istri ke mana saja yang ia inginkan adalah hak suami. dan mencium istri yang bukan gilirannya (asal bukan jima’). (HR. 2135. dan sudah menjadi kewajiban bagi istri untuk mengikuti suaminya. tetapi ia tidak boleh menggauli istri yang bukan hari gilirannya. hadits ini hasan sahih sebagaimana dalam Shahih Abi Dawud) “Mereka (para istri Nabi) berkumpul setiap malam di rumah istri yang didatangi oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. 4/20) Hal ini dilakukan oleh istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. boleh bagi suami untuk masuk menemui istri-istrinya seluruhnya pada hari giliran salah seorang dari mereka. hal itu dibolehkan. Urwah bin az-Zubair. Al-Imam ash-Shan’ani rahimahullah juga menyatakan demikian. Apabila ingin safar. 4/20) 15. menyentuh/ meraba. Boleh para istri berkumpul di malam hari di rumah istri yang sedang mendapatkan giliran untuk bercerita atau berbincangbincang sampai datang waktu tidur. Hukum asalnya dan yang lebih utama. kemudian memanggil istri yang sedang memperoleh giliran ke tempatnya. dan lebih menutupinya. Tatkala beliau sampai ke rumah istri yang mendapat giliran hari itu. TَŒVْ bِ ْ«َ ZِUXc‫‚ ا‬ ِ Vْ wَ Zِ\ ’ٍ zَVْ Xَ ™ c ‫ ُآ‬o َ ~ْ €ِ َUŸ ْ َ o c pُ \َ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu tidak mengutamakan sebagian kami dari yang lain dalam hal berdiamnya beliau di sisi kami saat pembagian giliran. apabila suami memiliki tempat atau kamar khusus. 6/145) Hal ini lebih bagus dari sisi pergaulan suami istri. dan yang berpendapat tidak wajib (Subulus Salam 6/146)9. (al-Mughni. dan al. suami menggilir istriistrinya dengan mendatangi mereka di rumah masing-masing. lebih menjaga istri. Hampir setiap hari beliau berkeliling ke tempat kami seluruhnya. Tidak boleh menggauli istri yang bukan gilirannya kecuali dengan keridhaan istri yang sedang memperoleh giliran. Abu Dawud no. 16. sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. “fashl Al-Aula an Yakuna li Kulli Wahidah min hunna Maskan”. “Kitab ‘Isyratun Nisa”. antara yang mengatakan wajib diundi.” (HR. seperti al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah. 10/289) 17. (Subulus Salam. lalu beliau mendekati setiap istrinya tanpa melakukan jima’. Walaupun dalam masalah ini adaperbedaan pendapat. Aisyah radhiyallahu ‘anha menyampaikan kepadakeponakannya. namun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya. Jadi. “Wahai anak saudara perempuanku! Majalah Asy Syariah Edisi 85 menghadiahkan gilirannya kepada Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Saudah bintu Zam’ah radhiyallahu ‘anha yang memberikan hari dan malamnya untuk Aisyah radhiyallahu ‘anha. 3613) Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan.

Wallahul muwaffiq. sama saja apakah dilakukan undian atau tidak. 10/63) Setelah pulang dari safar yang sebelumnya dilakukan undian untuk menentukan istri mana yang akan diajak. Adapun kalau safarnya tanpa undian. sama saja dilakukan undian atau tanpa undian. Siapa di antara mereka yang keluar undiannya. si suami tidak mengqadha giliran untuk istri yang tidak diajak safar. beliau membawanya dalam safar. Ini adalah pendapat Abu Hanifah dan al-Imam Malik. apakah suami harus mengqadha untuk istri yang tidak diajak safar ataukah tidak. Apakah saya berdosa apabila saya mengatakan kepadanya bahwa saya diberikan harta ini-itu dari suamiku. Ia harus mengedepankan sikap adil dan menjauhi bentuk-bentuk kezaliman. serta dimudahkan untuk berada di atas kebenaran dan cinta kepada kebenaran.” (Mudawatun Nufus hlm. Perbuatan seperti ini jelas tercela Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan. Mereka berdalil bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak melakukannya. perempuan melakukannya karena ingin membuat marah atau memanas-manasi madunya (Fathul Bari. hal itu haruslah memenuhi syarat-syarat tertentu disertai kewajiban menghindari sikap-sikap yang tercela.Bukhari no. 90) Semoga Allah l memudahkan setiap hamba yang berusaha menegakkan sunnah Nabi-Nya. 4/20) 19.” (HR. 5549 dari Asma radhiyallahu ‘anha) Biasanya. AlImam Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan alasan seperti itu dalam Zadul Ma’ad. Ini adalah pendapat al-Imam Ahmad dan asy. Kalau dilakukan undian. “Nikmat Allah Subhanahu wata’ala terbesar kepada seorang hamba adalah dimudahkan untuk memiliki sikap adil dan cinta kepada keadilan. saya memiliki madu. Seorang perempuan dibenci “memanas-manasi” madunya dengan apa yang tidak ada padanya.    Tidak mengqadha. Ini adalah mazhab Zhahiri. ”Kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat di antara ulama tentang tidak wajibnya membagi sama rata di antara para istri dalam urusan jima’ (berhubungan badan). 9/394 ). ‫ْ ُزوْ ٍر‬Zwَ ْ]{َ ¼ ِ wِ ¶ َ ‫ َآ‬Ê َ ~ْ ُ ْeXَ Tَ€wِ ²ُ –n   َ Uَ €ُ Xْ ‫ا‬ “Orang yang berhias-hias (mengakungaku) dengan apa yang tidak diberikan kepadanya seperti orang yang memakai dua pakaian kedustaan.Syafi’i. Al – Imam Ibnu Hazm rahimahullah mengatakan. suami tidak mengqadha. al. al. dibawa siapa saja dari istri yang diinginkan oleh suami. “Wahai Rasulullah. apabila tanpa undian. suami harus mengqadha. (HR. 2688 dari Aisyah radhiyallahu ‘anha) Ibnu Hazm rahimahullah berkata. Diqadha untuk istri-istri yang ditinggal dan tidak diajak safar.istrinya.” Mampu Bersikap Adil Adalah Nikmat Menikah lebih dari satu istri bagi yang mampu adalah sebuah kelebihan. Wallahu a’lam. Demikian pendapat kebanyakan ulama.” (al-Muhalla. padahal sebenarnya suamiku tidak memberikannya?” Rasulullah rahimahullah menjawab. Namun.Bukhari no. 5219 dan Muslim no. “Suami tidak boleh mengkhususkan salah seorang istrinya untuk safar bersamanya kecuali dengan undian. Ibnul Qayyim rahimahullah membawakan tiga pendapat. Page 44 . Majalah Asy Syariah Edisi 85 Ketika ada seorang perempuan berkata. (Zadul Ma’ad.

” (HR. Kebagusan akhlak sang suami dibalas dengan keindahan pula oleh para istri beliau. sehingga mendapatkan istri baru tidak berarti si suami terus bersamanya. Anas radhiyallahu ‘anhu menceritakan. Para istri beliau pun membalas salam beliau dan mendoakan kebaikan untuk beliau…. Di pagi hari dari malam pengantinnya. Kemudian beliau keluar menuju bilik-bilik ummahatul mukminin sebagaimana kebiasaan beliau di pagi hari dari malam pengantin beliau. Saat beroleh istri yang baru dan menikmati bulan madunya. 4794) Dalam sebuah riwayat al-Bukhari (no. Beliau mengenyangkan orang-orang yang hadir dengan roti dan daging.” Benar-benar menyejukkan hati…. teladan setiap wanita pecinta akhirat. wahai istriku!” Aisyah menjawab. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari tempat pengantinannya dengan Zainab radhiyallahu ‘anha menuju bilik Majalah Asy Syariah Edisi 85 Aisyah radhiyallahu ‘anha seraya berkata. Šِ Ÿ َ… ُ QَX‫ج ِإ‬ َ Šَ g َ ec {ُ ،Tً€s ْ Xَ‫ًا َو‬ªْ–g ُ ‫س‬ َ TckX‫ ا‬²َ –َ ¤ ْ «َ \َ –Ë ٍ s ْ© َ ‚ ِ kْ wِ µ َ kَ ْ ªَ wِ Qَkwَ o َ Vْ … ِ ¿ ِ ‫لا‬ ُ ْ]Ž ُ ‫ َر‬eَ Xَْ‫َأو‬ ‫ن‬ َ ْ] ُ ْ}َ ‫ ِ َو‬Vْ zَ َ o َ €ْ zِ` ْ ُ ‫ َو‬o c Œُ Xَ ْ] ُ ْ}َ ‫ َو‬o c Œِ Vْ zَ َ eُ zِّ` َ Vُ \َ ،ِÁِ Tَkwِ ’َ s َ Vْ –ِ ¢ َ ²ُ kَ · ْ َ ْ‚tَ Tَ‫ آ‬Tَ €َ‫ آ‬o َ Vْ kِ Sِ ْ“€ُ Xْ ‫ت ا‬ ِ TَŒSc ‫ُأ‬ ُ Xَ. “Bagaimana istri barumu? Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberikan keberkahan kepadamu. mengucapkan salam keberkahan.Kajian Utama ” Saat Suami Menikah Lagi “ Kategori: Majalah AsySyariah Edisi 085 Al Ustadz Muslim Abu Ishaq al Atsari Para wanita calon penghuni surga. ˆ َ Vْ zَ َ ‫ َو‬:ْ‚XَTَa\َ .” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi satu persatu seluruh bilik istrinya. al-Bukhari no. “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah. beliau menyempatkan menjenguk istri-istrinya. menghilangkan kekakuan. “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengadakan walimah saat pernikahannya dengan Zainab bintu Jahsy radhiyallahu ‘anha. Gambaran akhlak mereka kala suami tercinta menjadi “pengantin baru” bisa kita lihat dari hadits berikut ini. Merekalah ummahatul mukminin. Tidak ada kemarahan yang dimuntahkan dan kebencian yang ditumpahkan.ˆ َ Xَ ¿ ُ ‫كا‬ َ ‫ َر‬Tَw ‫ˆَ؟‬zَ‫ت َأ ْه‬ َ ْ}© َ ‫ َو‬É َ Vْ ‫ َآ‬،ِ¿‫…€َ ُ’ ا‬ ْ ‫¶ ُم َو َر‬ َ` c X‫ا‬ ’ُ   َ Áِ Tَ ْ‚XَTَ Tَ€‫ ُ َآ‬Xَ o َ zْ aُ َ ،َ’  َ Áِ Tَ~Xِ ‫ل‬ ُ ْ]aُ َ . istri dari manusia yang paling mulia dan utama. wanita yang paling mulia dan utama. 4793) disebutkan. mengucapkan seperti yang beliau ucapan kepada Aisyah dan semua mereka berucap sebagaimana ucapan Aisyah. Tً{¶ َ {َ Tَ‫ َ}ه‬kْ  ِ ‫ َم‬Tَ‫ َأ‬µ َ Vn lc X‫ج ا‬ َ ‫و‬c ªَ bَ ‫ َوِإذَا‬،Tً~–ْ Ž َ Tَ‫ َ}ه‬kْ  ِ ‫ َم‬Tَ‫ َŠ َأ‬pْ –ِ Xْ ‫وجَ ا‬c ªَ bَ ‫ ُ’ ِإذَا‬kc ` — X‫ا‬ Page 45 . dan lain sebagainya. Beliau mengucapkan salam kepada mereka dan mendoakan mereka. Bagaimana istri Anda? Semoga Allah memberkahi Anda. yang ada hanya senyuman manis dan kata-kata indah nan memikat. Betapa indah akhlak Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan istri-istri beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata. dan melantunkan doa kebaikan untuk mereka. mengenal lebih jauh. Lama Suami Berdiam Bersama Istri Barunya Syariat Islam telah menetapkan jangka waktu suami menemani istri barunya untuk tujuan pendekatan. wahai suamiku. merekatkan cinta. sehingga mereka merasakan bahwa suami mereka tetap memberikan perhatian dan tidak melupakan mereka meski baru saja beroleh istri yang baru. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak melupakan istriistri yang lain.¿ ِ ‫… َ€ ُ’ ا‬ ْ ‫‚ َو َر‬ ِ Vْ –َ Xْ ‫™ ا‬ َ ‫ْ َأ ْه‬epُ Vْ zَ َ ‫¶ ُم‬ َ` c X‫ ا‬:‫ل‬ َ Tَa\َ ’َ   َ Áِ Tَ ‫Ÿ َŠ ِة‬ ْ… ُ QَX‫ إ‬Ì َ zَ_ َ tْ Tَ\ Z — –ِ kc X‫ج ا‬ َ Šَ ‹ َ \َ Tَ€‫ َآ‬o c Œُ Xَ ‫ل‬ ُ ْ]aُ َ o c Œِ zn‫ ِ ُآ‬Áِ Tَ`tِ Šَ Ÿ َ… ُ ‫ى‬cŠaَ Uَ \َ . “Wa ‘alaikas salam wa rahmatullah.

Syafi’i (dan yang lainnya dari kalangan jumhur. ia memberikan pilihan kepada si istri: waktu tujuh hari berdiam bersamanya kemudian ia mengqadha waktu tersebut untuk istri-istri yang lain. alHakam. kalau aku memberikan waktu tujuh hari denganmu. ZِÁTَ`kِ Xِ ‚ ُ ~ْ –c Ž َ ˆ ِ Xَ ‚ ُ ~ْ –cŽ َ ْ‫ َوِإن‬،ِˆXَ ‚ ُ ~ْ –c Ž َ ‚ ِ §ْ ¤ ِ ْ‫ِإن‬ Namun. atau ia tinggal selama tiga hari bersama si istri dan waktu tiga hari itu tidak dihitung (setelah tiga hari. dan jumhur ulama. dia membagi giliran (di antara istri-istrinya).” (alMinhaj. Apabila ia gadis. berarti aku juga harus memberikan tujuh hari untuk istriistriku yang lain. (HR. alBukhari no. “Wajib qadha untuk seluruhnya pada janda dan gadis.“Yang (diajarkan dalam) sunnah. Majalah Asy Syariah Edisi 85 Tidak Boleh Mempersyaratkan Dicerainya Istri yang Lain Ada wanita yang bersedia dinikahi oleh seorang lelaki yang telah beristri dengan syarat si lelaki menceraikan istrinya yang lama. Namun. Seandainya terpotong maka waktu yang terpotong itu tidak terhitung2. tiga hari tidak akan ada qadha. Ahmad. berdalil dengan zahir nash yang menyuruh berlaku adil di antara para istri. apabila ia mau. beliau tinggal di sisinya selama tiga hari. 5214) Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menikah dengan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. al. 9/286) Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zadul Ma’ad (4/19) mengatakan. ia diberi pilihan. Ibnu Jarir. “Apabila engkau mau. aku akan menggenapkan tujuh hari bersamamu. “Ketetapan ini mengandung beberapa hal. -pent. Abu Hanifah. hadits ini menunjukkan bahwa istri yang baru dinikahi diutamakan daripada yang lainnya (istri lama). Ini adalah pendapatkebanyakan para ulama. ia tinggal di sisi istri barunya selama tujuh hari. yaitu ketika seorang lelaki menikahi seorang gadis sementara dia sudah memiliki istri yang lain. hadits-hadits tersebut mengkhususkan zahir nash yang umum yang memerintahkan berlaku adil. Ishaq. Ummu Salamah memegang pakaian beliau. Ini adalah mazhab al-Imam asy. (Fathul Bari.”(HR. Waktu tiga atau tujuh hari tersebut harus berturut-turut.” Al–Imam an–Nawawi rahimahullah menyatakan.Syafi’i dan pendapat al-Imam Malik. Apabila janda. 9/392) Apabila yang dinikahinya adalah seorang janda. 5213 dan Muslim no. Apabila ia menginginkan tujuh hari. di antaranya adalah wajib membagi giliran dari awalnya. tidak boleh terpotong. setelah itu ia menyamakan giliran di antara kedua istrinya. maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan pilihan. Muslim no. ia tinggal di sisi istri barunya yang janda tersebut selama tiga hari. Apabila ia menikahi janda sedangkan ia punya istri yang lain. Page 46 . berarti tujuh hari ini akan diqadha untuk istri-istri yang lain. Persyaratan seperti ini dilarang dalam syariat karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda. apabila seorang lelaki menikahi gadis sedangkan ia sudah memiliki istri. 3606) Adapun argumen al-Imam asy.). Ketika beliau hendak meninggalkannya menuju istri beliau yang lain. haknya adalah tujuh hari tujuh malam tanpa qadha. dan Hammad mengatakan. 3611) Setelah itu.Bukhari no. ia tinggal bersamanya selama tujuh hari/ malam. baru perhitungan giliran dengan istri-istri yang lain dimulai).” (HR. Abu Tsaur.

“Kitab an-Nikah”. 2454). 722). al-Baihaqi (7/297). 1307). dari Qatadah. dari an-Nadhr bin Anas. an-Nasa’i (2/157).” Asy-Syaikh al-Albani mengatakan. Tuhfatul Ahwadzi.5 Hendaknya ia menikah saja karena ia hanya beroleh apa yang telah ditetapkan/ditakdirkan untuknya. hadits di atas diriwayatkan dengan lafadz. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata. dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma. Adz-Dzahabi dan Ibnu Daqiqil ‘Ied sepakat dengan al-Hakim.” (HR. 471) melalui jalur Hammam bin Yahya. Wahai Suami!” Kategori: Majalah AsySyariah Edisi 085 Al-Ustadz Mukhtar bin Rifai Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. tidak pantas seorang istri meminta suaminya menceraikan madunya sehingga tinggallah dia sendiri (tanpa pesaing). Hadist “Bersikaplah Adil. (Fathul Bari. bab “asy-Syuruth alLati La Tahillu fin Nikah”) Hadits ini berisi larangan bagi wanita ajnabiyah untuk meminta seorang lelaki menceraikan istrinya. athThayalisi (no. dari Basyir bin Nuhaik.” (Diriwayatkan al-Bukhari secara mu’allaq. baru kemudian menikahinya sehingga beralihlah nafkah suami. Jadi. dan Ahmad (2/347. Ê ٌ ِ TَŽ ُ a— ¤ ِ ‫ ِ’ َو‬Sَ TَVaِ Xْ ‫ َء َ]ْ َم ا‬Tَ© Tَ€Œُ kَ ْVwَ ْ‫ْ َ ْ~ ِ}ل‬ezَ\َ ‫ن‬ ِ Tَb‫ َŠَأ‬Sْ ‫™ ا‬ ِ© ُ Šc X‫ َ} ا‬kْ  ِ ‫ن‬ َ Tَ‫ِإذَا آ‬ “Apabila seorang laki-laki memiliki dua istri namun tidak berlaku adil di antara keduanya. Di dalam Sunan at-Tirmidzi. Ibnu Abi Syaibah (2/66/7). 5152 dan Muslim) Ini adalah persyaratan yang tidak halal dalam pernikahan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. ad-Darimi (2/143). bab “Ma Ja’a La Tas’alu alMar’ah Thalaqa Ukhtiha”) Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab. al-Hakim (2/186). Ibnu Majah (1969). 2133). “saudarinya” yang disebut dalam hadits adalah madunya. “Al-Hakim menghukumi hadits ini sahih berdasarkan syarat asy-Syaikhain (al-Bukhari & Muslim). (Fathul Bari 9/275. bersabda. Ibnu Hibban (no. ٌ™Áِ TَS ُ a— ¤ ِ ‫ ِ’ َو‬Sَ TَVaِ X‫ َء َ]ْ َم ا‬Tَ© Tَ€‫…}َا ُه‬ ْ ‫ ِإ‬QَX‫ل ِإ‬ َ Tَ€\َ ‫ن‬ ِ Tَb‫ َŠَأ‬Sْ ‫ ُ ا‬Xَ ‫ن‬ َ Tَ‫ْ آ‬oSَ “Siapa saja orangnya yang memiliki dua istri lalu lebih cenderung kepada salah satunya. pergaulannya. “Kitab ath-Thalaq wal Li’an”.” Takhrij Hadits Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 9/274) Al-Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah menyatakan. Ibnul Jarud (no. al-Bukhari no. dan hal-hal lainnya hanya kepadanya. Majalah Asy Syariah Edisi 85 Page 47 . Tirmidzi (1/213). pada hari kiamat kelak ia akan datang dalam keadaan sebagian tubuhnya miring. pada hari kiamat kelak ia akan datang dalam keadaan sebagian tubuhnya miring. “Tidak boleh seorang wanita mempersyaratkan (ketika ia hendak dinikahi oleh seorang lelaki yang telah beristri) agar saudarinya tersebut dicerai.TَŒXَ ‫ ُ ِّ} َر‬TَS TŒَ Xَ T€ct|ِ \َ ْÆpِ kْ Uَ Xْ ‫ َو‬TَŒUَ fَ s ْ¢ َ ‫غ‬ َ Šِ fْ Uَ ` ْ Uَ Xِ TَŒUِ g ْ ‫ق ُأ‬ َ¶ َr َ ‫ل‬ ُ «َ ` ْ bَ ‫Šَْأ ٍة‬Sَ TِX ™ —s ِ َ ® َ “Tidak boleh seorang wanita meminta seorang lelaki agar menceraikan saudarinya4 agar ia bisa memenuhi piringnya sendiri dan mengosongkan yang lain.

’ Rasulullah bertanya. Abdul Haq mengatakan. ‘Aku tidak rela (dengan pemberian ini) sampai engkau meminta persaksian dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. ‘Amrah bintu Rawahah (ibunya) lantas berkata (kepada ayahku)..’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. ْepُ ± ُ ~ِ َ ۚ Z ِ ºْ –َ Xْ ‫ ِŠ وَا‬pَ kُ€Xْ ‫ ِء وَا‬Tَ s ْ fَ Xْ ‫ ا‬o ِ َ ٰQŒَ kْ َ ‫ٰ َو‬Qwَ ْŠaُ Xْ ‫ ِء ذِي ا‬TَUِ‫ن َوإ‬ ِ Tَ`… ْ |ِ Xْ ‫ل وَا‬ ِ ْ}~َ Xْ Tِw Šُ Sُ ْ«َ َ zcX‫ن ا‬ c ‫ِإ‬ ‫ن‬ َ ‫آŠُو‬c œَ bَ ْepُ zc~َ Xَ “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil. namun ada cacatnya. kemungkaran. al-Albani) Islam Menjunjung Nilai-Nilai Keadilan Islam sangat menjunjung nilai-nilai keadilan. anak dari ‘Amrah bintu Rawahah. keadilan mesti menjadi landasan berpijak.sebagaimana dinukilkan oleh al-Hafizh dalam at-Talkhis (3/201) dan beliau pun menyepakatinya. Dalam memutuskan perkara.. bersabda. ‫]ْا‬Xُ}ِ  ْ Tَ\ ْeUُ€ْ pَ … َ ‫ِإذَا‬ “Apabila kalian memutuskan hukum maka bersikaplah adil!” (Dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah [no. Sikap adil. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. dan memberi kepada kaum kerabat. ْe‫ ِد ُآ‬TَXْ‫ َأو‬o َ Vْ wَ ‫ُ]ا‬X}ِ  ْ ‫¿ وَا‬ َ ‫ُ]ا ا‬abcTَ\ ‘Bertakwalah kalian kepada Allah dan bersikaplah adil di antara anakanak kalian!’ Akhirnya ayahku pulang dan mengambil kembali pemberian itu. 2017. keadilan menjadi salah satu pilar penting bagi seorang hamba untuk mewujudkan bangunan Islam.” (Silsilah ashShahihah no. Oleh karena itu. 469]) Bahkan. berbuat kebajikan. wahai Rasulullah.’ Asy-Syaikh al-Albani mengatakan.” (HR. yaitu Hammam sendirian meriwayatkannya. ‘Tidak. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ada juga yang memaknai adil sebagai sikap menentukan hukum sesuai dengan Kitabullah dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan Allah melarang dari perbuatan keji.’ Lantas ayahku menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. adalah menunaikan hak-hak yang wajib dan memenuhi hak bagi yang memilikinya. ‘Hadits ini tsabit. sikap adil haruslah mendasari setiap Majalah Asy Syariah Edisi 85 perhatian kepada anaknya. Bukhari 5/2587) Mengenai bentuk-bentuk keadilan. “Cacat semacam ini tidak membuat hadits menjadi lemah. Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu pernah bercerita. ‘Apakah engkau memberi seluruh anakmu seperti yang engkau berikan kepada anak itu?’ Ayahku menjawab.‘Utsaimin rahimahullah pernah menjelaskannya berkenaan dengan ayat Allah Subhanahu wata’ala di dalam surat an-Nahl. yaitu firman-Nya. “Aku pernah diberi sesuatu oleh ayahku. Al-Hafizh t menambahkan bahwa al-Imam at-Tirmidzi menghukumi hadits ini gharib padahal beliau sendiri menyatakannya sahih. bersabda. bukan semata-mata berdasarkan akal pikiran. Bahkan.”(anNahl: 90) Page 48 . Amrah menuntutku untuk meminta Anda sebagai saksi. dan permusuhan. dan menyampaikan. menurut asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah. bagi orang tua. ‘Sesungguhnya aku memberi sesuatu kepada salah seorang anakku. asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al. para ulama secara berturut-turut menyatakannya sahih.

Jangan Anda mempersilakan salah seorang darinya duduk dekat di sebelah kananmu sementara yang lain berada jauh darimu. Rabbmu juga memiliki hak. ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan miring sebelah tubuhnya. ‘Harus bersikap adil kepada dua orang yang sedang berseteru. berikanlah hak masing-masing. dan keluargamu pun memiliki hak. ia harus bersikap adil di antara keduanya dalam pembicaraan. Jangan engkau berbicara dengan nada lembut kepada salah seorang di antara mereka.’ Demikian juga seorang suami. namun kepada yang lain sebaliknya. namun orang kedua engkau biarkan tanpa pertanyaan. Jika engkau memberikan satu real kepada anak lakilaki. ‘Sesungguhnya dirimu sendiri memiliki hak. Jangan engkau memandang kepada salah satunya dengan pandangan marah. Maka dari itu. berikanlah setengah real kepada anak perempuan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. ia tidak membeda-bedakan di antara mereka dalam hal ciuman. jika mereka berhukum kepada seorang hakim. tempat duduk. dan posisi duduk. Jadi. Bahkan. posisikan mereka berdua di hadapanmu dalam garis yang sama. Jangan sampai Anda bertanya kepada salah seorang di antara mereka. semua orang sama kedudukannya. perhatian. memanggilnya dan melarang hal itu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda. dengan cara tidak melakukannya melebihi batas kemampuan. Oleh sebab itu. Namun. seorang suami yang lebih cenderung kepada salah satu istri. ia harus bersikap adil di tengahtengah keluarga. Jangan Anda berpihak kepada seseorang hanya karena ia adalah kerabat. Jika engkau memberi dua real kepada anak laki-laki. Jika ia mencium anaknya yang masih kecil Majalah Asy Syariah Edisi 85 sementara kakaknya ada di situ. berikan juga senilai itu kepada yang lain. jika ada seorang muslim bertengkar dengan orang kafir di hadapan seorang hakim. Bahkan. Bersikap adil terhadap diri sendiri artinya tidak memaksakan diri untuk melakukan hal-hal yang tidak diperintahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala. dan orangorang yang berada di bawah tanggung jawabnya. orang fakir. cara memandang. dan cara masuknya. ia harus bersikap adil di antara para istrinya. pembicaraan. Sampai serinci ini. Sikap adil harus juga dijunjung kepada orang-orang yang berhubungan dengan kita. Aku akan shalat malam terus dan tidak akan tidur’. Sesungguhnya para ulama rahimahumullah mengatakan. namun kepada yang lain dengan pandangan senang. Jika Anda memberi satu real kepada salah seorang di antara mereka. saat Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhuma menyatakan. Siapa saja yang memiliki lebih dari satu istri. Demikian juga dalam hal tempat duduk. Bersikaplah adil di antara keduanya. ‘Aku akan berpuasa terus dan tidak akan berbuka. Page 49 . Sikap adil juga wajib diwujudkan di antara anak-anak. berikanlah satu real kepada anak perempuan. Jangan sampai ia mengatakan kepada si muslim. ia pun harus memerhatikan diri sendiri saat melakukan kebaikan. ulama salaf memerhatikan sikap adil di antara anak-anak dalam hal ciuman. ia pun menciumnya juga. Sebab. keluarga. Demikian juga dalam hal berbicara. sedangkan kepada anak yang lain dengan nada yang lembut. orang kaya. Jangan berpihak kepada seseorang. “Kewajiban hamba adalah bersikap adil terhadap diri sendiri. dalam hal tutur kata. Bahkan. ‘Apa kabarmu? Apa kabar keluargamu? Bagaimana kabar anak-anakmu?’. Jangan sampai Anda berbicara dengan seorang anak dengan nada yang kasar. atau seorang teman.Beliau rahimahullah menerangkan .

namun kepada seluruh istri.! Betapa pun dirasa berat. sikap adil harus dijunjung dalam segala hal. kepada istri yang lain pun harus bersikap demikian. Padahal keadaan beliau benar-benar payah. Jika ada kecenderungan kepada salah seorang istri. tidak sepantasnya seorang suami lebih condong kepada salah seorang istrinya.‘Kemarilah!’ sementara si kafir diposisikan jauh. atau hanya memberikan sedikit saja dari hak mereka padahal ia mampu. “… Dengan bersikap adil kepada para istri dalam hal giliran bermalam. ia harus memberikan tempat yang sama. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. dan segala sesuatu yang ia mampu. Page 50 . Demikian pula halnya perhatian kepada anakanaknya. seorang suami harus mampu memberikannya. Hal ini berlaku pada hal-hal yang sebenarnya ia mampu untuk bersikap adil. seorang muslim yang memiliki lebih dari seorang istri harus benar-benar berjuang untuk bersikap adil. haruslah sama antara anak dari istri yang satu dengan istri lainnya. Yang seharusnya ia lakukan adalah memenuhi hak masingmasing tanpa menyakiti istri yang lain. Akan tetapi. Perhatikanlah teladan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. (Syarah Riyadhus Shalihin. Adapun perasaan yang ada di dalam hati.” (Syarah Abu Dawud. seorang suami tidak boleh bersikap lebih cenderung kepada istri yang paling ia sayangi dan cintai. al-Abbad) Oleh sebab itu. alUtsaimin) Bersikap Adil kepada Istri Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad menerangkan makna hadits di atas. Dalam hal-hal yang dapat diberlakukan sikap adil.” Asy – Syaikh Abdu l Muhsin melanjutkan. Pada hari kiamat kelak. Orang semacam ini akan datang pada hari kiamat kelak dengan sebelah tubuh yang miring. Hadiah tidak hanya diberikan kepada salah seorang istri. Namun. Kesimpulannya. namun ia justru bersikap tidak sepantasnya. hendaknya ia tetap bertakwa kepada Allah Subhanahu wata’ala agar sikap tersebut tidak mendorongnya untuk menghilangkan atau mengurangi hak istri lainnya. Alangkah beratnya hukuman dari Allah Subhanahu wata’ala yang harus dijalani pada hari kiamat nanti apabila sikap adil tersebut tidak diupayakan dengan maksimal. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam selalu menanyakan. nafkah. Adapun perasaan di hati. Ia harus bersikap adil dalam hal giliran bermalam. Membagi di antara istri dilakukan sebatas kemampuan yang ia miliki. dan pergaulan. tidak ada yang mampu menentukannya selain Allah k. Meski demikian. ia datang dengan Majalah Asy Syariah Edisi 85 sebelah tubuh yang miring karena saat di dunia ia lebih condong kepada salah seorang istri. beliau tetap berjuang untuk bersikap adil. Memberikan waktu senggang untuk berbincangbincang harus dapat terwujud kepada semua istri. Al – Imam al – Bukhari rahimahullah meriwayatkan dari ‘Aisyah x bahwa pada saat sakit yang berujung wafatnya. nafkah. hal ini di luar kemampuan manusia dan dikembalikan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Kewajiban suami adalah bersikap adil dan seimbang di antara para istri. “Abu Dawud membawakan hadits Abu Hurairah z di atas untuk menunjukkan bahwa balasan yang diperoleh seorang hamba sesuai dengan jenis amalan yang ia perbuat. tetap memerhatikan waktu menggilir meskipun beliau sedang sakit. Apabila kepada salah seorang istri ia dapat bersikap romantis dengan kata-kata dan wajah berseri.

Istri-istri beliau yang lain pun mengizinkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berada di rumah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha sampai meninggalnya. niscaya kehidupan mereka akan bahagia. melainkan tumbuhnya mereka dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala yang menyebabkan mata sejuk memandangnya di dunia dan di akhirat. Sesungguhnya di antara doa seorang mukmin yang diabadikan Allah Subhanahu wata’ala dalam al-Qur’an adalah.nsehingga perbuatan tersebut seperti sihir yang bisa memisahkan antara suami dan istrinya. anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata (kami).” Adapun dalam hal besar kecilnya rasa cinta dan ketertarikan untuk berhubungan badan. TًSTَS‫ ِإ‬o َ VِaUc €ُ zْXِ Tَkzْ ~َ © ْ ‫ وَا‬o ٍ Vُ  ْ ‫Š َة َأ‬c ُ Tَkbِ Tc‫ر‬n ‫ َو ُذ‬Tَk© ِ ‫ْ َأزْوَا‬oSِ TَkXَ ْµ‫ َه‬Tَkwc ‫ن َر‬ َ ]ُX]ُaَ o َ ِœXc‫وَا‬ “Ya Rabb kami. jarang sekali hari berlalu kecuali beliau pasti berkeliling di antara kami semua. Karena itu. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata kepada Urwah bin az-Zubair rahimahullah. dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. tiada sesuatu yang menyejukkan mata seorang muslim yang melebihi melihat anak. saudara. “Maknanya. Rasulullah tidak melebihkan salah seorang di antara kami (para istri) dalam jadwal giliran bermalam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mendekati tiap istri tanpa berhubungan sampai pada istri yang memiliki giliran lalu menginap (bermalam) di sana. 14/336) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan permisalanmseperti dalam hadits di atas agar paramperempuan menjauhi perbuatan tersebut.” (al-Furqan: 74) Menurut penafsiran salaf. saudara. kecocokan yang sempurna dan saling adanya pengertian. atau temannya taat kepada Allah Subhanahu wata’ala. hal ini di luar kemampuan hamba.mkarena akibat yang ditimbulkannyamtidaklah remeh. apabila rumah tangga ini dibangun di atas ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala dan cinta yang sejati. Allah Subhanahu wata’ala memperlihatkan kepada hamba-Nya yang muslim ketaatan istri. (Fathul Bari 9/394—395) Wallahu ta’ala a’lam bishshawab.Bashri rahimahullah berkata tentang ayat ini.” (Tafsir Ibnu Katsir 3/342) Kehidupan rumah tangga termasuk salah satu sisi kehidupan terpenting yang dilalui oleh pria dan wanita karena telah mengambil bagian yang terbesar dalam kehidupan mereka. dan temannya kepada Allah Subhanahu wata’ala. Majalah Asy Syariah Edisi 85 Akhlak “Bahaya yang Keharmonisan Rumah Tangga” Mengancam Kategori: Majalah AsySyariah Edisi 085 Al-Ustadz Abdul Mu’thi. sebagaimana tercelanya orang yangmmemakai dua potong pakaian kedustaan. kebiasaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. “Dahulu.‫»}ًا؟‬ َ Tَt‫ َأ‬o َ ْ ‫ َأ‬،‫»}ًا‬ َ Tَt‫ َأ‬o َ ْ ‫َأ‬ “Di manakah aku besok? Di manakah aku besok?” Beliau berharap di rumah Aisyah radhiyallahu ‘anha. Dahulu.m(al-Minhaj. Lc. Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan. Page 51 . maksud penyejuk mata di sini bukanlah bagusnya fisik. cucu. Perbuatan itu bisammerusak hubungan suami dengan simmadu yang dipanas-panasi dan bisanmembuat kebencian di antara keduanya. Sungguh. demi Allah. Al-Hasan al. ”Kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat di antara ulama tentang wajibnya menggilir dan kesamaan waktu untuk menggilir di antara para istri.

Ketika melihat ada kekurangan dari pihak lain. dikatakan kepadanya. dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang. sampaipun makanan dan minuman yang engkau suapkan untuk mulut istrimu. dengan seizin Allah Subhanahu wata’ala.” (HR.Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri. serta mengurusi anak dan mendidiknya. dan menaati suaminya. Dengan pernikahan pula. tidaklah engkau memberikan suatu nafkah yang dengannya engkau mengharap wajah Allah Subhanahu wata’ala kecuali engkau diberi pahala atasnya. seseorang akan mendapatkan ketenteraman batin dan terhindar dari penyimpangan seksual. jenis manusia terus berlanjut keberadaannya untuk memakmurkan bumi ini sampai batas waktu yang Dia tentukan. Page 52 . Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. ˆ َ Xَِٰ‫ ذ‬Zِ\ ‫ن‬ c ‫… َ€ ً’ ۚ ِإ‬ ْ ‫د ًة َو َر‬c ]َ Sc eُpkَ Vْ wَ ™ َ ~َ © َ ‫ َو‬TَŒVْ Xَ‫ُ]ا ِإ‬kpُ ` ْ Uَ Xn Tً©‫ْ َأزْوَا‬epُ ` ِ fُ tَ‫ْ أ‬oSn eُpXَ Ì َ zَg َ ْ‫ ِ َأن‬bِ Tَ› ْoSِ ‫َو‬ ‫ن‬ َ ‫Šُو‬pc fَ Uَ َ ‫]ْ ٍم‬aَ Xn ‫ت‬ ٍ TَÑَX “Di antara tanda-tanda kekuasaan. Adapun istri. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. Dengan pernikahan. menjaga kemaluannya. menaatinya dalam perkara kebaikan. diharuskan menjaga harta suami. bersabda. juga bersabda. supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya.” (arRum: 21) Pernikahan sebagai tali ikatan cinta yang suci antara pria dan wanita menuntut masing-masing pihak untuk menunaikan kewajibannya terhadap yang lain.keharmonisan rumah tangga yang didambakan. ˆ َ bِ ‫ َŠَأ‬Sْ ‫ ا‬Zِ\ Zِ\ ™ ُ ~َ Ÿ ْ bَ TَS QcU… َ ،TَŒVْ zَ َ َ‫©Šْت‬ ِ ‫ ُأ‬TcX‫¿ ِإ‬ ِ ‫© َ ا‬ ْ ‫ َو‬TَŒwِ ZِºUَ –ْ bَ ’ً aَ fَ tَ َÌfِ kْ bُ ْoXَ ˆ َ tc‫ِإ‬ “Sesungguhnya. Rumah Tangga Bahagia Pernikahan bukan sekadar bersenangsenang menyalurkan kebutuhan biologis. puasa di bulan (Ramadhan). dan asy-Syaikh al-Albani menyatakannya sahih dalam Shahih al-Jami’) Di antara suami istri hendaknya ada saling pengertian dan tidak bersikap egois.” (Muttafaqun ‘alaihi dari hadits Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. ‘Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau inginkan’. Setiap pihak menjalankan tugasnya dan mampu memainkan perannya demi terwujudnya Majalah Asy Syariah Edisi 85 Tَ‫ ْŒ َŠه‬¤ َ ْ‚Sَ Tَ¢‫ َو‬TَŒ` َ €ْ g َ ‫ َ€Šَْأ ُة‬Xْ ‫‚ ا‬ ِ zc¢ َ ‫إِذَا‬ TَŒXَ ™ َ Vْ ِ ،TَŒ© َ ْ‫‚ْ َزو‬ َ Tَr‫ َوَأ‬TَŒ© َ ْŠ\َ ْ‚kَ c·… َ ‫َو‬ ‚ ِ §ْ ¤ ِ ’ِ kcŸ َ Xْ ‫ب ا‬ ِ ‫]َا‬wْ ‫ي َأ‬ n ‫ْ َأ‬oSِ ’َ kc Ÿ َ Xْ‫ ا‬Zِzg ُ ْ‫اد‬ “Apabila seorang wanita shalat lima waktu. Suami. sebagai kepala keluarga berkewajiban memberikan bimbingan agama kepada istrinya serta mencukupi nafkah lahir dan batin. Ibnu Hibban dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Anak-anak mereka akan tumbuh di tengah-tengah lingkungan yang kondusif dan dipenuhi cinta kasih. Apabila suami istri tulus menjalankan tugasnya. sebagai orang yang ditugasi mengurusi rumah. pernikahan adalah sebuah bentuk ibadah kepada Allah Subhanahu wata’ala. pahala dari Allah Subhanahu wata’ala telah menunggunya. Ketenteraman dan cinta kasih akan senantiasa menaungi kehidupan mereka. Lebih dari itu. Allah Subhanahu wata’ala berfirman. Ini artinya bahwa suami istri sedang membangun sebuah generasi yang tahu tentang arti kehidupan.

Adapun orang yang menutup mata dari kebaikan istrinya dan (hanya) melihat kejelekannya walaupun kecil. atau mertuanya. tentu tak ada masalah apabila dia berusaha memperbaiki kekurangannya dengan cara yang bijak. hal ini tentu bukan sikap yang adil. Dari pihak suami. pembagian giliran bermalam yang tidak adil bagi yang beristri lebih dari satu. hubungan akan tetap langgeng. kemungkinannya akan bisa hidup harmonis bersama istrinya. ia akan suka darinya perangai yang lain. kasar dan kakunya perangai terhadap istri. Terkadang seorang istri sibuk dengan aktivitas di luar rumah sehingga kebutuhan suaminya kurang terpenuhi. hubungan ranjang yang tidak memuaskan (egois). terkadang seorang suami merasa tidak mendapatkan pelayanan yang memuaskan dari istrinya. Intinya. Akan tertunaikan pula hakhaknya yang wajib dan yang sunnah. bersabda. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Di sini. lalu ia jadikan hal ini sebagai pembanding terhadap perangai istrinya yang tidak dia sukai…. melarang seorang mukmin (suami) dari pergaulan yang jelek terhadap istrinya. Demikian pula pendidikan terhadap anak kurang maksimal.” (HR.” (Bahjah Qulubil Abrar hlm. 101) Demikian pula sikap seorang istri ketika melihat kekurangan yang ada pada suaminya. bahkan hampir-hampir mustahil. Adapun menuntut penampilan yang selalu prima dan pelayanan yang selalu sempurna tentu sulit. Apabila kita telusuri. Boleh jadi. Muslim) Asy-Syaikh as-Sa’di berkata. Namun. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka yang sedang Page 53 . Adapun dari pihak istri. “Bimbingan dari Nabi n bagi suami dalam hal bergaul dengan istrinya ini adalah faktor terbesar untuk (mewujudkan) hubungan rumah tangga yang harmonis. Orang seperti ini kecil Majalah Asy Syariah Edisi 85 Kadang ketenteraman rumah tangga terusik dengan adanya problem yang berasal dari pribadi suami atau istri. anak. banyak sekali faktor yang memicu munculnya problem. serta kurang memedulikan kebutuhan istri dan anakanaknya berupa perasaan aman dan nyaman.janganlah hal ini dijadikan sebagai sebab untuk menanam kebencian kepadanya yang nantinya akan mengganggu keharmonisan. (dengan sikap seperti ini) seorang istri akan berusaha memperbaiki apa yang tidak disukai oleh suaminya. terkadang ia tidak perhatian terhadap istrinya dari sisi pemberian nafkah. apa pun faktor pemicu ketidakharmonisan tersebut sangat membutuhkan solusi yang cepat dan tepat. Šَ g ِ › TَŒkْ Sِ Z َ˜ ِ ‫ َر‬Tًazُg ُ TَŒkْ Sِ ¡َ Šِ ‫ ً’ ِإنْ َآ‬kَ Sِ ْ“Sُ ٌoSِ ْ“Sُ ‫ك‬ ُ Šَ fْ َ TَX Badai Rumah Tangga “Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Dengan demikian. Bisa juga karena perangai istri yang buruk dan tidak tahu persis apa yang harus dia lakukan terhadap suaminya. Tentunya. Hal ini membutuhkan perhatian serius dan penanganan yang tepat agar bahtera rumah tangga tetap terkendali. Beliau memerintah suami untuk memerhatikan apa yang dimiliki oleh istrinya. Ia hendaknya melihat banyak sisi kebaikannya dan kelebihan yang disandangnya. misalnya. Apabila ia tidak menyukai suatu perangai pada dirinya. Seorang yang adil akan menutup mata dari kekurangan (istrinya) karena telah lebur dalam kebaikannya yang banyak. larangan terhadap sesuatu (mengandung) perintah untuk melakukan yang sebaliknya. berupa perangai yang indah dan hal yang sesuai dengan dirinya.

ingin buang hajat. Istri salehah teringat sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. HR. setidaknya bisa diminimalisir mudaratnya. niscaya aku perintahkan wanita untuk sujud kepada suaminya. at-Tirmidzi dan selainnya) Dia juga tidak melakukan suatu aktivitas yang sifatnya tidak Majalah Asy Syariah Edisi 85 “Tidak halal bagi seorang wanita untuk berpuasa padahal suaminya hadir (ada di sisinya) kecuali dengan seizinnya dan tidak boleh ia memberi izin (seorang memasuki) rumahnya kecuali dengan seizin suami. ‫ت‬ ُ ْ]aُ َ ْoSَ ²َ Vn  َ ُ ْ‫ َأن‬Tً€{ْ ‫ َ€Šْ ِء ِإ‬XْTِw Qَf‫َآ‬ “Cukup seseorang dikatakan berdosa manakala ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. lalu mempraktikkannya dalam kehidupan rumah tangga mereka. Beliau waktu itu juga membawa istrinya. Kehidupan rumah tangga beliau yang harmonis sempat diguncang oleh dahsyatnya isu yang ditiupkan oleh orang-orang munafik. An-Nawawi rahimahullah menyatakannya sahih dalam Riyadhush Shalihin) Seorang suami yang baik akan menyadari kekurangannya dan berusaha memperbaikinya. Sudah saatnya bagi suami istri untuk mempelajari agama ini secara umum dan hal-hal yang berkaitan dengan kewajiban-kewajiban dalam berumah tangga secara khusus.” ( HR. Dan.. Rasulullah n dan para sahabat dalam perjalanan pulang ke Madinah. Dengan demikian. Seorang suami hendaknya ingat firman Allah Subhanahu wata’ala. Seorang istri yang salehah akan selalu ingat besarnya hak suami atasnya sebagaimana sabda Nabi n yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. sekaligus bapak yang sayang terhadap anakanaknya dan tahu kebutuhan mereka. Dia akan membuang sikap egois dan siap menjadi suami yang perhatian terhadap istrinya. Suami istri juga perlu selalu membangun komunikasi yang baik. Abu Dawud dan lainnya dari hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma. Mereka membutuhkan bimbingan agama dan nasihat orang yang berilmu. setiap merasakan nikmat duniawi pasti akan selalu ada orang yang tidak menyenanginya. Mewaspadai Bahaya dari Luar Keharmonisan hidup berumah tangga adalah nikmat yang besar. Di tengah perjalanan. istri beliau. Inilah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.. ِ tِ ْ‫ِ|ذ‬wِ TcX‫ ِ ِإ‬Uِ Vْ wَ Zِ\ ‫ن‬ ُ ‫«ْ َذ‬bَ TَX‫ ِ َو‬tِ ْ‫ ِ|ذ‬wِ TcX‫ ِه}ٌ ِإ‬Tَ¤ TَŒ© ُ ْ‫·]ْ َم َو َزو‬ ُ bَ ْ‫ َŠَأ ٍة َأن‬Sْ TِX ™ —s ِ َ TَX ‫ف‬ ِ ‫ َ€ ْ~Šُو‬Xْ Tِw o c ‫Šُو ُه‬¤ ِ Tَ‫َو‬ “Dan bergaullah dengan mereka secara patut. mendesak yang menyebabkan suaminya terhalangi mengungkapkan gejolak cinta yang terpendam dalam hatinya atau setidaknya mengurangi kenikmatannya. Aisyah. TَŒ© ِ ْ‫و‬ªَ Xِ }َ Ÿ ُ` ْ َ ْ‫ َ€Šَْأ َة َأن‬Xْ ‫ت ا‬ ُ ْŠSَ «َ Xَ }ٍ … َ «َXِ }َ Ÿ ُ` ْ َ ْ‫…}ًا َأن‬ َ ‫Šَا َأ‬Sِ › ‚ ُ kْ ‫]ْ ُآ‬Xَ “Seandainya aku boleh memerintah seorang untuk sujud kepada seseorang.dilanda masalah keluarga harusnya menyadari butuhnya mempelajari kembali kewajibankewajiban yang harus ditunaikan terhadap yang lainnya. ketegangan dalam rumah tangga akan hilang..” (an-Nisa: 19) Demikian pula sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Rombongan pun Page 54 .” (Sahih. al-Bukhari dari jalan sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu) Istri yang salehah juga siap mengoreksi diri demi tergapainya kebahagiaan rumah tangga. Alkisah.

‘Kamu bagus’. Orang yang iri terkadang tega melakukan Majalah Asy Syariah Edisi 85 Page 55 . Setelah mendekat ia pun tahu bahwa ia adalah Aisyah radhiyallahu ‘anha.berhenti menunggu Aisyah. Aisyah memutuskan untuk tetap di situ. Ada pula orang yang sifat irinya diikuti keinginan untuk terjadinya perceraian lalu ia akan menikah dengan salah satunya. tetapi ia (berusaha) untuk mengadu domba di antara mereka. Setan 2. Di antara bukti nyatanya sebagaimana tersebut dalam hadits (yang artinya). Muslim) Juga disebutkan dalam hadits riwayat Jabir radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Secara kebetulan. ‘Kamu belum berbuat apaapa. Salah satu pasukannya datang (kepada iblis) lalu berkata. Tetapi. Dia pun turun kembali dan mencarinya. di antaranya bahwa keharmonisan rumah tangga bisa terancam karena adanya faktor dari luar. Lalu Allah Subhanahu wata’ala menurunkan ayat yang menegaskan kesucian Aisyah radhiyallahu ‘anha dari apa yang dituduhkan kepadanya. lewatlah sahabat Shafwan bin Mu’aththal radhiyallahu ‘anhuma yang tertinggal di belakang rombongan karena suatu keperluan. Setelah kembali lagi.” ( HR. Shafwan mendudukkan kendaraannya lalu Aisyah menaikinya.’ Iblis mendekatkannya dan berkata.’ Iblis berkata. Aisyah kembali ke tengah rombongan dan naik di atas sekedupnya. Setelah selesai hajatnya. Orang yang iri dan tidak suka melihat keharmonisan rumah tangga orang lain Kedengkian setan terhadap manusia yang sudah tertanam semenjak Allah Subhanahu wata’ala memuliakan Adam di hadapan para malaikat terus muncul dari waktu ke waktu. Rasa iri orang semacam ini terkadang semata-mata ingin agar suami istri itu ribut dan bercerai. Keharmonisan rumah tangga Nabi n pun terguncang dalam beberapa hari dan para sahabat pun ikut bersedih karenanya. Berikut di antara faktor tersebut: “Setan telah berputus asa untuk disembah oleh orang yang shalat di Jazirah Arab. Ia pun melihat seorang wanita yang tertinggal dari rombongan. (Lihat Tahdzib Sirah Ibni Hisyam hlm.” (HR. (Faidhul Qadir 2/517) Oleh karena itu. Orang-orang munafik memanfaatkan kejadian ini untuk menebarkan isu miring bahwa Aisyah berbuat yang tidak baik dengan Shafwan. Ahmad 3/314 dan Muslim) Tujuan Iblis terbesar adalah memutuskan keturunan manusia sehingga lenyap keberadaannya dan menjatuhkan manusia ke dalam perzinaan yang merupakan dosa besar yang paling jahat. bersabda (yang artinya). hendaknya seseorang senantiasa meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wata’ala dari godaan setan. Yang paling dekat kedudukannya dari iblis adalah yang paling besar upaya menggodanya. ia ingat bahwa kalungnya tertinggal. ‘Aku tidak tinggalkan ia (manusia) hingga aku memisahkan antara ia dan istrinya.’ Datang (lagi) salah satu dari mereka lalu berkata. 109—195) Dari kisah tersebut kita bisa mengambil faedah. “Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas air lalu ia mengutus pasukannya. ia dapatkan rombongan telah pergi jauh tak terkejar. 1. ‘Aku telah melakukan ini dan itu. Shafwan lantas menuntun kendaraannya hingga masuk kota Madinah tanpa ada pembicaraan antara keduanya.

toh itu hanya ipar. Bahkan. Ahmad.“Diserupakan dengan maut dari sisi sama kejelekannya dan merusaknya sehingga hal ini sangat diharamkan…. 3.” (Faidhul Qadir 3/160) 4. Al – Munawi rahimahullah berkata . putri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. yaitu membinasakan. “Hati-hatilah kalian dari masuk kepada para wanita!” Ada seorang lelaki dari Anshar bertanya. TckSِ ¼ َ Vْ zَ\َ ُ ‫]ْ َآ‬zُ€ْ Sَ ْ‫ ُ َأو‬Uَ © َ ْ‫ئ َزو‬ ٍ Šِ Sْ ‫ ا‬Qَz َ µ َ –c g َ ْoSَ “Barang siapa merusak istri seseorang atau budaknya. Ali keluar menuju masjid dan berbaring dengan bersandar ke tembok masjid.. Fathimah. Masuknya ipar kepada wanita akan mengantarkan kepada kematian agama atau kematian (berakhirnya) wanita itu karena diceraikan saat suaminya cemburu atau dirajamnya ia apabila berzina dengan ipar. bersabda. Sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. tidak sedikit keharmonisan keluarga menjadi hancur berantakan karena sikap bermudah-mudah yang seperti ini. 325) Semoga Allah Subhanahu wata’ala melindungi kita dari kejahatan orang yang hasad/iri dengki. masuknya ipar atau kerabat suami kepada wanita itu seperti maut. hal itu dianggap perkara lumrah dan tidak akan terjadi apa-apa. Karena campur tangan mertua yang tidak mencarikan solusi yang terbaik. “Al-hamwu itu maut.cara-cara yang bengis dan keji. ia bukan termasuk golongan kami. Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pada suatu hari marah kepada istrinya. Bermudah-mudah dengan ipar Tidak sedikit suami bermudah-mudah dengan saudara perempuan istrinya. asy-Syaikh al-Albani menyatakan sahih dalam ash-Shahihah no. Dalam benak sebagian orang. ‫ َŠ ٍم‬s ْ Sَ ْ‫ ُذو‬TَŒ~َ Sَ ‫ َو‬TcX‫ َŠَأ ٍة ِإ‬Sْ Tِw ٌ™© ُ ‫ن َر‬ c ]َ zُ‹ ْ َ TَX “Janganlah seorang lelaki besepisepian dengan seorang wanita Majalah Asy Syariah Edisi 85 kecuali bersama wanita itu ada mahramnya.” (Muttafaqun ’alaihi) Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. bersabda. seorang mertua memberikan pembelaan terhadap anaknya tanpa melihat yang benar. Kenyataannya. Padahal yang seharusnya dilakukan oleh mertua adalah mencari jalan agar suasana menjadi sejuk. demikian pula seorang istri dengan saudara laki-laki suaminya. Tidak jarang.” (HR. “Apa pendapat Anda tentang al-hamwu (ipar dan kerabat suami)?” Nabi bersabda. permasalahan semakin melebar dan perselisihan semakin tajam. Terkadang mereka masuk kepada yang lain berduaan saja padahal bukan mahramnya. Rasulullah n mengusap Page 56 . Nabi n datang menemui Ali yang saat itu punggungnya penuh dengan debu.” (Muttafaqun ’alaihi) Maksudnya. dalam kondisi tertentu sampai terjadi pertumpahan darah karenanya dan terputusnya tali silaturahmi. sehingga timbul percekcokan yang berujung perceraian padahal berita itu belum ditelusuri kebenarannya. seperti pembunuhan atau menyampaikan berita dusta kepada salah satu dari suami istri. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini semua akibat melanggar tuntunan agama. juga bersabda (yang artinya). Mertua Terkadang seorang mertua mendengar problem anaknya dengan suami/istrinya.

Syaikh al-Albani menyatakan hasan dalam Shahih al-Jami’) Parahnya. demikian pula sebaliknya. semoga Allah Subhanahu wata’ala memberi taufik kepada seluruh muslimin baik rakyat maupun penguasanya untuk kembali kepada jalan-Nya yang lurus demi tercapainya kebahagiaan dunia dan akhirat. Pergaulan yang tidak selektif Tidak semua orang pantas untuk dijadikan teman bergaul karena ada jenis manusia yang memiliki perangai jahat. bersabda. seperti bergabung dengan situs jejaring sosial yang kadang dimanfaatkan untuk kejahatan. (lihat Shahih al-Bukhari no. Akhirnya. Sementara itu. Abu Dawud dan at-Tirmidzi. Wal ‘iyadzu billah. 6204) Seperti inilah seorang mertua yang bijak. 5. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Terkadang juga mereka bercerita/curhat tentang problem rumah tangga masing-masing. sudah semestinya seseorang berhati-hati demi keselamatan agamanya dan keharmonisan rumah tangganya. Akibatnya. seorang wanita berani bersikap kasar terhadap suaminya dan seorang suami sudah tidak peduli lagi dengan istrinya. Waspadalah dari bahaya yang mengancam. Wallahu a’lam. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Mengabulkan Doa. Sungguh.” ( HR. Majalah Asy Syariah Edisi 85 Page 57 . Asy. agama seseorang sangat dipengaruhi oleh teman sepergaulannya.debu dari punggung Ali dan memintanya untuk duduk. maka hendaknya seorang dari kalian melihat orang yang ia jadikan teman. ketika keimanan telah menipis dan nyaris hilang serta sifat malu menjadi suatu yang langka. Jangan menjadi orang yang latah dan hanya ikutikutan. seorang lelaki terkadang menjalin pertemanan dengan perempuan yang bukan mahram. berusaha untuk memadamkan api kemarahan dan mendinginkan suasana. ™ ُ XِTَ‹ُ ْoSَ ْe‫… ُ} ُآ‬ َ ‫Šْ َأ‬± ُ kْ Vَ zْ\َ ِ zِVْ zِg َ ِoْ ‫ ِد‬Qَz َ ™ ُ© ُ Šc X‫ا‬ “Seseorang mengikuti agama (perangai) teman sepergaulannya. Bahkan. ada yang sampai terjadi perzinaan dengan teman curhatnya.

Salamah berjanji tidak akan melakukan yang membahayakan lagi. salah seorang pemuka mereka. Khalid kemudian dipanggil oleh Khalifah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. sedangkan pasukan muslimin yang gugur sekitar enam ratus orang. dan tentu saja orang-orang bani Hanifah menjadi geger. Suatu hari setelah sisa-sisa bani Hanifah sepakat untuk berbaiat.” “Keluarkanlah dia dari sini!” perintah Panglima. Khalifah Abu Bakr segera menulis surat teguran untuk Khalid: “Demi Allah. mereka belum mau percaya dengan katakatanya. termasuk sebagian bekas pengikut Musailamah yang telah kembali kepada Islam.” kata Majja’ah.000 orang. Beberapa utusan yang dikirim oleh Panglima Khalid.” Mulanya. “Nikahkan saya dengan putrimu. Begitu mengetahui tindakan Panglima yang menikah dengan putri Majja’ah dan perdamaian yang dilakukannya. setelah membunuh Malik. dan mendapat teguran yang sangat keras. “Nikahkan saya dengan putrimu. Majja’ah mengizinkan. Khalid Menikahi Putri Majja’ah Telah diceritakan sebelumnya bahwa Khalid menikahi Ummu Tamim. Salamah bin ‘Umair meminta izin kepada Majja’ah agar dapat menemui Panglima Khalid radhiyallahu ‘anhuma. Mereka masih mengkhawatirkan kebodohannya akan mendorongnya melakukan tindakan nekat. hai putra ibu Khalid.” Akhirnya. Sekarang. Tanpa setahu mereka. Berita ini gaungnya sampai juga ke telinga Khalifah ash-Shiddiq. dipimpin oleh Abu Khaitsamah. “Ia ingin berbicara dengan Anda. Majja’ah menikahkan putrinya dengan Panglima Khalid. dan meminta agar mereka melepaskannya. Pengikut Musailamah al-Kadzdzab yang tewas tidak kurang dari 14. mereka segera membunuh Salamah dengan pedang mereka sendiri. naluri prajuritnya menggetarkan adanya bahaya. Kamu Page 58 .Jejak “Penaklukan Irak” Kategori: Majalah AsySyariah Edisi 085 Al Ustadz Abu Muhammad Harist Upaya Pembunuhan Terhadap Panglima Khalid Setelah selesai berunding dengan sisa-sisa pengikut Musailamah al-Kadzdzab dan mereka pun kembali kepada Islam yang haq. “Dan sudah saya izinkan. Salamah menyelipkan pedang di balik bajunya lalu berangkat menemui Khalid. anak-anak dan kaum wanita akan dijadikan tawanan? Kau senang dengan tindakanmu ini?” Akhirnya. “Siapa yang datang ini?” tanya Khalid. menceritakan keadaan di Yamamah. Tetapi. Salamah melarikan diri dan menerobos pasukan penjaga Panglima. Malam harinya. istri Malik bin Nuwairah. ternyata di balik bajunya terdapat sebilah pedang. Ternyata benar. pasti sisa-sisa bani Hanifah ini akan dibantai. seakan-akan tahu maksud kedatangan Salamah. Para pengawal pun ribut. Begitu tertangkap. Dengan segera orang-orang yang menemaninya membawa Salamah bin Al-Ustadz Abu Muhammad Harits ‘Umair keluar sambil menggeledah tubuhnya. setelah kemenangan kaum muslimin di Yamamah. Panglima Khalid kembali mengulangi permintaannya. mereka mengikatnya dan Majalah Asy Syariah Edisi 85 memenjarakannya di dalam benteng. Mereka mencacinya bahkan mengutuknya. Korban yang berjatuhan di kedua belah pihak cukup besar. kamu betul-betul telah berbuat siasia. Situasi perang masih menyelimuti Yamamah. “Kau mau membantai kaummu sendiri? Kalau Panglima Khalid tahu kau membawa senjata. Mereka segera mengejar dan menangkap Salamah. Khalid melamar putri Majja’ah yang baru berusia belasan tahun. Majja’ah menolak. selesailah peperangan di Yamamah.

1. 2. Khalid adalah Khalid. Anda adalah pemimpin kaum muslimin. kata beliau.” “Kau benar. Pernah. Dia sudah mati-matian berusaha untuk mati sebagai syahid. Beberapa prajurit muslim berteriak mengingatkan.” Dari sini. beberapa tokoh Quraisy lain tergerak memberikan alasan membela Khalid. Mengetahui hal itu. “Demi Allah. khawatir kaum muslimin kalah. seandainya kesedihan saya dapat membuat yang hidup itu tetap hidup atau dapat mengembalikan yang sudah mati. Di sisi lain. saya tidak dipedulikan. Khalid menerjang musuh bersama kudanya. Pernikahan itu tanpa ada upaya yang menyusahkan dirinya dan yang lain. 4. Pernikahan Khalid ini terjadi setelah keadaan benar-benar aman dan tenang. Adapun kesedihan saya terhadap kaum muslimin yang gugur. Kemudian. walaupun sebagai panglima. saya tahu apa yang kalian katakan. Saya juga tidak mengetahui perkara gaib. tetapi mencari syahadah karena Allah l. “(Ingatlah) Allah. Demi Allah. tetapi gagal. Kalau Anda tidak menyukai hal ini karena urusan agama atau dunia. Saya merasa yakin pendapat saya tidak keliru. beliau pun menerima alasan Si Pedang Allah itu . saya tidak menikahi seorang wanita kecuali betul-betul dalam keadaan senang dan aman. “Alasanmu ini lebih bagus daripada yang ditulis Khalid. 6. Keberanian Khalid tidak pernah disangsikan. Dia tetap bertahan sampai akhirnya diberi kemenangan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Tidak pantas Anda maju seperti ini!” Akan tetapi. Khalid tidak berdamai dengan mereka kecuali dengan sukarela dan pendapatnya tidak salah ketika berdamai. tindakan Majja’ah mengecoh pendapat saya. Dapat pula ditambahkan beberapa hal yang menunjukkan keutamaan Khalid. Dia mewariskan tanah Yamamah kepada kaum muslimin. 5. saya memaafkan Anda. Khalid mengikat hubungan keluarga dengan Majja’ah karena kagum melihat pembelaan Majja’ah terhadap kaumnya. “Wahai Khalifah Rasulillah. hingga putus asa untuk tetap hidup. 3. Dalam setiap pertempuran. sebetulnya tidak. termasuk Abu Barzah alAslami. sebagai berikut. tetapi saya tidak dapat menahan diri.” Page 59 . dia selalu di barisan terdepan. Khalid itu bukanlah Majalah Asy Syariah Edisi 85 seorang pengecut dan pengkhianat. hati Khalifah ash-Shiddiq menjadi lembut. (ingatlah) Allah. dan kesudahan itu adalah untuk orang-orang yang bertakwa. dalam sebuah pertempuran. Saya tidak menikah kecuali dengan putri seseorang yang seandainya saya melamar di Madinah.menikahi seorang perawan sementara di pelataran rumahmu masih tergenang darah 1. Surat itu dititipkannya bersama Abu Barzah al-Aslami radhiyallahu ‘anhuma. maka demi Allah.” kata ash-Shiddiq. “… Amma ba’du. Biarkanlah saya melamarnya sendiri. pasti kesedihan itu sudah membuat yang hidup tetap hidup dan yang mati bangkit kembali. karena dia mengira kaum wanita yang dilihatnya di atas benteng adalah pasukan musuh. jelaslah bahwa pembelaan Khalid terhadap dirinya bukan tanpa alasan. Dia menikah dengan putri seorang pemuka masyarakat. Pernikahan itu terjadi tanpa ada sesuatu yang menyelisihi agama ataupun dunia.” Setelah membaca surat itu.200 kaum muslimin? Kemudian kamu berhasil dikelabui oleh Majja’ah sehingga ia berdamai denganmu padahal Allah Subhanahu wata’ala telah mengalahkan mereka?” Segera saja Khalid mengirim surat balasan di antaranya sebagai penjelasan terhadap tindakan yang dilakukannya. Allah Subhanahu wata’ala telah memberi kebaikan bagi kaum muslimin. Jihad yang dilakukannya bukan karena urusan dunia. Saya sudah berusaha mencari syahadah.

karena sudah tidak ada lagi kemungkinan serangan dari orang-orang Arab yang ingin memberontak. Khalid sempat bertarung dengan salah seorang pengikut Musailamah al. Khalifah juga mengingatkan agar tidak memaksa kaum muslimin untuk ikut dan tidak meminta bantuan kepada mereka yang pernah murtad dari Islam walaupun sudah kembali. dengan penunjuk jalan masingmasing Malik bin ‘Abbad dan Salim bin Nashr. Dengan kekuasaan Allah Subhanahu wata’ala. al-Mutsanna bin Haritsah yang memperoleh kemenangan dalam peperangan di Bahrain meminta izin kepada Khalifah agar ikut memerangi Irak. Sementara itu.000 orang menyusul pasukan Khalid bin al-Walid. Tetapi yang masyhur adalah bahwa beliau berangkat langsung dari Yamamah. Khalifah pun mengizinkan. menggali parit Khandaq. segera Panglima memecah pasukannya menjadi tiga kelompok. dan agaknya saatnya telah tiba. Khalid sendiri maju menantang duel satu lawan satu dengan pihak musuh. dalam Perang Yamamah ini. maka berangkatlah al-Mutsanna dengan kekuatan 8.Bahkan seperti telah diceritakan. dialah yang memimpin seluruh pasukan.Kadzdzab. keadaan pun aman dan tenang. Keduanya bergumul di atas pasir. Khalifah segera mengirim surat kepada Panglima Khalid memberi Majalah Asy Syariah Edisi 85 perintah agar membawa pasukan muslimin menuju Irak. pernah mengatakan bahwa beliau melihat Kerajaan Persia. Dahulu. Tetapi orang itu cukup tangkas. dimulai dari Ubullah yang terletak di tepi sungai Tigris (Dijlah). atau perang. Setelah bertemu dengan seluruh pasukan. masing-masing menempuh jalan yang berbeda. Khalid dan pasukannya mulai bergerak dengan penunjuk jalan Rafi’. Kelompok pertama. dia berhasil pula menusuk Khalid hingga luka tujuh tusukan. Khalifah mulai mengarahkan pandangannya jauh ke depan. Kelompok kedua. Khalid segera mengeluarkan belatinya menikam lawannya. Khalifah ingin mewujudkannya. dan kekayaan negeri itu akan jatuh ke tangan kaum muslimin lalu digunakan untuk jalan Allah Subhanahu wata’alal. Lawan Khalid segera menerkam. ‘Adi bin Hatim dan ‘Isham bin ‘Amr. berangkat dua hari sebelum Khalid bertolak. Khalifah mengingatkan agar tetap mengajak manusia kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala. Kepada Khalid dan ‘Iyadh. Ternyata lawannya adalah seorang ahli berkuda juga. Akhirnya. sedangkan lawannya itu sudah mati lebih dahulu. Khalifah ash-Shiddiq menegaskan bahwa siapa saja di antara mereka yang lebih dahulu sampai di Irak. Begitu pula ketika terjadi pertempuran di kebun “maut”. Page 60 . Setelah bertarung beberapa saat. Sebagian ahli sejarah ada yang mengatakan bahwa Khalid berangkat setelah pulang ke Madinah. Khalid menjanjikan akan bertemu mereka di al-Hafir. salah satu dari kedua kelompok ini mendahului yang lain satu hari sebelumnya. Khalid dan pasukannya lebih dahulu tiba di Irak. Khalifah juga mengirim surat kepada ‘Iyadh bin Ghunm yang telah berhasil menaklukkan Daumatil Jandal agar bergerak menuju Irak. Wallahu a’lam. Terkenang dengan sabda Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam. Persiapan Setelah Islam semakin kuat di Yamamah. Khalifah merasa tenang. dipimpin oleh al-Mutsanna dengan Zhufar sebagai penunjuk jalan. Khalid tergeletak karena luka-lukanya sambil berusaha bangkit. keduanya terjatuh dari kuda masingmasing. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Untuk sementara. yang tidak berbicara dengan hawa nafsunya. atau membayar jizyah. ketika bersamasama memecah batu. Setelah itu. Kabilah-kabilah Arab semakin yakin dengan kekuatan kaum muslimin.

melainkan juga menampilkan sikap kepahlawanan barisan muslimin. semakin tinggi pula kedudukan pemiliknya. Kedudukannya cukup tinggi. “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Hurmuz segera mengumpulkan kekuatan dan segera Majalah Asy Syariah Edisi 85 Page 61 . Hurmuz selalu menyerang bangsa Arab di daratan dan menyerang Hindia di lautan. dan terimalah perlindungan dariku. jadilah ia seorang muslim. Hurmuz yang menerima surat itu segera mengirimkannya kepada Syira bin Kisra dan Azdasyir bin Syira. Amma ba’du. Panglima memulai gerakan militernya dengan mengirim surat kepada seluruh pembesar Kerajaan Persia. dan ini diketahui dari mahkota yang dikenakannya. bahwa yang mereka cari hanya dua. Kalau tidak. Mahkota Hurmuz ditaksir seharga seratus ribu (dinar). Keselamatan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk. maka hendaklah kalian kirimkan kepadaku jaminan. Masing-masing sayap pasukan itu dipimpin oleh Qabbadz dan Anusyjan. Sesampainya di wilayah Persia itu. Ia akan mendapatkan hak seperti yang kami dapatkan. kesombongan telah menutupi mata dan__ hati mereka. dan ia mempunyai kewajiban seperti kewajiban kami. Segala puji kepunyaan Allah Subhanahu wata’ala yang telah memorakporandakan kaki tangan kalian. Siapa yang shalat seperti shalat kami dan menghadap kiblat kami. Bila telah sampai kepada kalian surat ini. Dari Khalid Ibnu Walid kepada para pembesar Persia. seperti kalian yang masih sangat mencintai hidup…!” Para pembesar yang menerima surat tersebut terheran-heran melihat keberanian dan seruan Khalid. Semakin mahal perhiasan mahkota tersebut. serta paling kafir.Memasuki Wilayah Persia bertolak menuju Kazhimah. Farjul Hindi adalah tapal batas Persia yang sangat kuat. kemenangan atau mati syahid. akan kukirimkan kepada kalian satu kaum yang mencintai kematian. Tetapi. merenggut kerajaan kalian. maka demi Allah Subhanahu wata’ala yang tiada sesembahan yang haq selain Dia. Pemimpin mereka. serta melemahkan tipu daya kalian. (insya Allah bersambung) Isi surat itu tidak hanya seruan dakwah kepada Islam. termasuk para gubernur di wilayah Irak. Hurmuz sendiri adalah seorang pembesar yang paling bengis dan cerdik. dari keluarga kerajaan.

Dan berkata Musa kepada saudaranya. sedangkan perhiasan bangsa Mesir yang kalian bawa adalah ghanimah. yaitu Harun. perbaikilah. dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi). beliau bergegas mendahului kaumnya menuju Bukit Thur dan meninggalkan Nabi Harun ’Alaihissalam memimpin bani Israil. agar Engkau ridha (kepadaku). Allah Subhanahu wata’ala pun menjanjikan kepada Nabi Musa ’Alaihissalam tiga puluh malam dan menggenapinya menjadi empat puluh malam. “Hai bani Israil. Kumpulkanlah dan timbunlah dalam tanah. hai Musa?” (Thaha: 83) Mengapa kamu tidak datang bersama kaummu? Nabi Musa berkata (sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala). Semua itu agar Nabi Musa ‘Alaihissalam menyiapkan diri untuk menerima janji Allah Subhanahu wata’ala dan supaya turunnya kitab itu menimbulkan kesan dan kerinduan yang luar biasa dalam hati mereka. Allah Subhanahu wata’ala berfirman. Oleh sebab itulah. Nabi Musa ’Alaihissalam belum juga kembali membawa Taurat yang dijanjikan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman. kalian tidak halal memakan rampasan perang (ghanimah). Kalau Musa datang dan menghalalkannya. Wahai Rabbku. Sebelum berangkat.” Page 62 . bani Israil masih sabar menunggu selama beberapa hari. itu adalah sesuatu yang tidak boleh kalian makan. kembali mereka menghitung hari. Mereka mulai gelisah. ‫ن‬ َ ‫رُو‬Tَ‫ ِ ه‬Vِg«َXِ ٰQŽ َ ]ُS ‫ل‬ َ Tَ‫ ً’ ۚ َو‬zَVْ Xَ o َ Vِ~wَ ْ‫ ِ َأر‬wn‫ت َر‬ ُ TَaVِS ec Uَ \َ Šٍ   ْ ~َ wِ Tَ‫ه‬Tَk€ْ €َ bْ ‫ ً’ َوَأ‬zَVْ Xَ o َ Vِ{Tَz{َ ٰQŽ َ ]ُS Tَtْ} َ ‫َووَا‬ o َ ِ}` ِ fْ €ُ Xْ ‫™ ا‬ َ Vِ–Ž َ ْ²–ِ Uc bَ TَX‫ْ َو‬Æzِ¢ ْ ‫ َوَأ‬ZِSْ]َ Zِ\ Zِkfْ zُg ْ‫ا‬ “Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam.Ibrah “Nabi Musa ‘Alaihissalam Menerima Taurat” mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan’. Nabi Harun ’Alaihissalam yang menggantikan saudaranya memimpin bani Israil berkata kepada bani Israil. Menuju Bukit Thursina Setelah Allah Subhanahu wata’ala menyempurnakan nikmat-Nya kepada bani Israil dengan menyelamatkan mereka dari musuh mereka dan memberi kekuasaan kepada mereka. dan selama waktu tersebut Nabi Musa ’Alaihissalam berpuasa siang dan malam. ٰQ˜ َ ْŠUَ Xِ ‫ب‬ n ‫ˆ َر‬ َ Vْ Xَ‫‚ ِإ‬ ُ zْ Ÿ ِ َ ‫ٰ َأ َ{Šِي َو‬Qzَ َ ‫ ِء‬TَX‫ْ أُو‬e‫ل ُه‬ َ Tَ “Itulah mereka sedang menyusuli aku dan aku bersegera kepadaMu. dan janganlah kamu Majalah Asy Syariah Edisi 85 ٰQŽ َ ]ُS Tَ ˆ َ Sِ ْ]َ oَ ˆ َ zَŸ َ ْ ‫ َأ‬TَS‫َو‬ “Mengapa kamu datang lebih cepat daripada kaummu.” (Thaha: 84) Sepeninggal Nabi Musa ‘Alaihissalam. ambillah. sementara di situ juga ada Samiri. Kemudian. Nabi Musa ’Alaihissalam berpesan kepada Nabi Harun ’Alaihissalam agar menggantikannya membimbing bani Israil. Allah Subhanahu wata’ala hendak melengkapi kenikmatan tersebut dengan menurunkan sebuah kitab yang berisi hukum-hukum syariat dan keyakinan yang diridhai. tetapi kalau tidak. lalu sempurnalah waktu yang telah ditentukan Rabbnya empat puluh malam. Sudah hampir sebulan. ‘Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku.” (al-A’raf: 142) Kategori: Majalah AsySyariah Edisi 085 Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Sempurnalah waktu yang dijanjikan itu empat puluh hari.

yang mengajak bicara adalah Nabi Musa ‘Alaihissalam. Nabi Musa ’Alaihissalam sudah tiba di tempat yang dijanjikan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Beberapa hari kemudian. Ingatlah. ada pula di antara mereka yang menemui Abu ‘Amr Ibnul ‘Ala’— salah seorang ahli qiraah sab’ah (tujuh bacaan al-Qur’an)—agar membacanya dengan memfathahkan lafzhul jalalah sehingga menjadi wa kallamallaha Musa takliima (maknanya. Sebagian dari mereka mengingkari perbuatan tersebut. mereka bahkan hampir membunuh Nabi Harun ‘Alaihissalam.” (al-A’raf: 143) “Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada Majalah Asy Syariah Edisi 85 Page 63 . Samiri berkata kepada mereka. Bahkan. tanpa henti. bahkan dalam ayat lain (an-Nisa’ ayat 164). Abu ‘Amr menjawab. Mereka menegaskan kepada Nabi Harun (sebagaimana dalam ayat). selebihnya mengikuti Samiri. sesampainya beliau di Thursina. Nabi Harun ’Alaihissalam bersama mereka yang masih terjaga fitrahnya berusaha menyadarkan kaum mereka. perintah dan larangan. anggaplah saya baca seperti yang kau inginkan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman.” memberikan wahyu. ٰQŽ َ ]ُS TَkVْ Xَ‫ ِإ‬²َ © ِ ْŠَ ٰQUc … َ o َ Vِf‫ ِآ‬Tَ ِ Vْ zَ َ ‫ح‬ َ Šَ –ْ tc oَX ‫ُ]ا‬XTَ “Mereka menjawab. tumpukan itu menjadi seekor anak lembu yang bersuara. yaitu Nabi Harun dan 12.” (Thaha: 91) Akhirnya bani Israil terpecah.000 orang bani Israil. Nabi Harun ’Alaihissalam dengan penuh kasih sayang terus mengingatkan mereka. lalu bagaimana kau berbuat dengan firman Allah Subhanahu wata’ala. . kalian sedang diuji dengan anak lembu itu. ُ w— ‫ َ€ ُ َر‬zc‫ َو َآ‬Tَkbِ TَaVِ€Xِ ٰQŽ َ ]ُS ‫ َء‬Tَ© Tc€Xَ‫َو‬ “Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. “Inilah ilah Musa dan kalian. Datanglah Samiri membawa bekas jejak kaki kuda Jibril lalu melemparkannya ke tumpukan perhiasan tersebut. hingga Musa kembali kepada kami’. Sebagian mereka dengan berani mengubah harakat i’rab dalam firman Allah Subhanahu wata’ala (an-Nisa’ ayat 164) sehingga mengubah maknanya. ‘Kami akan tetap menyembah patung anak lembu ini. Allah Subhanahu wata’ala mempertegasnya dengan mashdar muakkidah. Tetapi. Dalam ayat ini sangat jelas bahwa Nabi Musa ’Alaihissalam diajak bicara oleh Allah Subhanahu wata’ala. bukannya sadar. keluarlah anak lembu itu.” Akhirnya. Dengan izin Allah Subhanahu wata’ala. menari-nari di sekeliling anak lembu tersebut. ُ w— ‫ َ€ ُ َر‬zc‫َو َآ‬ “dan Rabbnya mengajaknya berbicara (langsung). “Hai kaumku.waktu yang telah Kami tentukan. Musa mengajak bicara Allah).” (al-A’raf: 143) Mereka mengumpulkan dan menimbunnya dalam tanah. Sementara itu. Tً€Vِzpْ bَ Ayat ini membantah keyakinan mu’aththilah yang menolak adanya sifatsifat Allah Subhanahu wata’ala. tetapi dia lupa. Tَkbِ TَaVِ€Xِ ٰQŽ َ ]ُS ‫ َء‬Tَ© Tc€Xَ‫َو‬ untuk menurunkan kitab kepadanya. Rabb kalian adalah Ar-Rahman. Ikutilah aku!” Dengan gigih. mereka tirakat di sekitar anak lembu itu dan mulai beribadah kepadanya. Begitu melihatnya. dan Rabbnya mengajaknya berbicara (langsung). “Baiklah. Nabi Musa ’Alaihissalam mendengarnya dari Allah Subhanahu wata’ala.

tidak serupa dengan suara makhlukNya. tentu saja tidak di dunia. Lembah Thuwa. Ibnu Hajar asy-Syafi’i rahimahullah dalam Syarah Shahih alBukhari menegaskan bahwa siapa yang menafikan suara dia harus Majalah Asy Syariah Edisi 85 menerima bahwa itu berarti Allah Subhanahu wata’ala tidak memperdengarkan Kalam. beliau menegaskan bahwa suara adalah sifat Dzat-Nya. yang sesuai dengan kemuliaan dan kesempurnaan-Nya.” Sebuah permintaan yang wajar dan bukan terlarang. kalau Kalam Allah Subhanahu wata’ala adalah buah pikiran atau sesuatu yang ada di dalam diri Allah Subhanahu wata’ala. Jika ia tetap di tempatnya (seperti sediakala). tetapi mengilhamkan kepada mereka Kalam tersebut. niscaya tidak ada kelebihan dan keutamaan beliau dari nabi yang lain. seutama-utama manusia yang mendengar dari Allah Subhanahu wata’ala pada masa itu. terdiamlah orang Mu’tazilah itu. Allah Subhanahu wata’ala berfirman. Wallahu a’lam.Nya kepada siapa saja. baik malaikatNya maupun para rasul-Nya.Nazi’at: 16) Apakah dia akan menashabkan kata Rabb (memberi harakat fathah) pada kedua ayat yang mulia ini? Ayat-ayat ini menegaskan bahwa Nabi Musa ’Alaihissalam mendengar Kalam Allah Subhanahu wata’ala langsung dari Allah Subhanahu wata’ala. niscaya Nabi Musa ’Alaihissalam tidak dapat mendengarnya. Zِt‫Šَا‬bَ ‫ف‬ َ ْ]` َ \َ ُ tَ TَpSَ Šc aَ Uَ Ž ْ ‫نا‬ ِ |ِ\َ ™ ِ –َ Ÿ َ Xْ ‫ ا‬QَX‫Šْ ِإ‬± ُ t‫ ا‬o ِ pِ Xَٰ‫ َو‬Zِt‫ َŠا‬bَ oَX ‫ل‬ َ Tَ “Allah berfirman. Oleh sebab itulah. dari pohon atau batu. dipilih oleh Allah Subhanahu wata’ala.Seketika. bukan dari pohon. Seandainya Nabi Musa ’Alaihissalam mendengar dari selain Allah Subhanahu wata’ala. atau yang lainnya. Setelah mendengar Kalam Allah Subhanahu wata’ala. beliau berkata (sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala).” (an. Mengapa? Karena bani Israil mendengar Kalam Allah Subhanahu wata’ala langsung dari Nabi Musa ‘Alaihissalam. Akan tetapi—menurut kaum Mu’tazilah— Nabi Musa ’Alaihissalam mendengarnya bukan dari Allah Subhanahu wata’ala. melainkan dari pohon!? Ayat ini menunjukkan pula bahwa Kalam Allah Subhanahu wata’ala itu adalah suara dan huruf. Kita kembali kepada kisah ini. menerima penghargaan yang demikian tinggi. tetapi lihatlah ke bukit itu. Sebab. Nabiyullah Musa ’Alaihissalam semakin rindu kepada Allah Subhanahu wata’ala.” Dengan penuh ketundukan dan harap. Akan tetapi. dan tidak akan digelari Kalimur Rahman. Akhirnya. Dalam bagian lain di kitab itu juga. niscaya kamu dapat melihat-Ku’. ۚˆ َ Vْ Xَ‫Šْ ِإ‬± ُ tَ‫ أ‬Zِt‫ب َأ ِر‬ n ‫َر‬ “Wahai Rabbku. batu. ‘Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku. tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu. bahkan dari bani Israil. apa yang terjadi? Ternyata gunung itu hancur luluh dan Nabi Musa ’Alaihissalam Page 64 . Nabi Musa ’Alaihissalam memandang gunung besar yang ada di dekatnya. bagaimana pula dia memahami firman Allah Subhanahu wata’ala. bukan makna atau pikiran yang ada di dalam diri Allah Subhanahu wata’ala. ‫]ًى‬r ُ ‫س‬ ِ }c aَ €ُ Xْ ‫]َا ِد ا‬Xْ Tِw ُ w— ‫دَا ُ¡ َر‬Tَt ْ‫ِإذ‬ “Tatkala Rabbnya memanggilnya di lembah suci. atau yang lainnya. Sama seperti itu juga.

aku bertaubat kepada Engkau dan aku adalah orang yang pertamatama beriman’.” beliau adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wata’ala berfirman. sesungguhnya aku memilih (melebihkan) kamu dan manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku. dia berkata.’ Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu.” (al-A’raf: 143) Setelah itu Allah Subhanahu wata’ala berfirman. () o َ ِŠ‫ ِآ‬Tc X‫ ا‬o َ Sn oُ‫ˆ َوآ‬ َ Uُ Vْ bَ › TَS ْœ‹ ُ \َ ZِSTَzpَ wِ ‫ َو‬ZِbTَXTَŽŠِ wِ ‫س‬ ِ TckX‫ ا‬Qَz َ ˆ َ Uُ Vْ fَ _ َ¢ ْ ‫ ا‬Znt‫ٰ ِإ‬QŽ َ ]ُS Tَ ‫ل‬ َ Tَ ‫œُوا‬g ُ ْ«َ ˆ َ Sَ ْ]َ ْŠSُ ْ‫] ٍة َوأ‬c aُ wِ Tَ‫‹œْه‬ ُ \َ ‫ْ ٍء‬Z¤ َ ™ n pُ Xn TًzVِ·fْ bَ ‫ ً’ َو‬± َ ِ ْ]Sc ‫ْ ٍء‬Z¤ َ ™ n ‫ ُآ‬oِS ‫ح‬ ِ ‫]َا‬Xْ «َ Xْ ‫ ا‬Zِ\ ُ Xَ Tَk–ْ Uَ ‫َو َآ‬ o َ VِaŽ ِ TَfXْ‫ْ دَا َر ا‬epُ ِ‫Žُ«ر‬ َ ۚ TَŒkِ ` َ… ْ «َ wِ “Allah berfirman. sedangkan sesudah Majalah Asy Syariah Edisi 85 Page 65 . (Insya Allah bersambung) o َ VِkSِ ْ“€ُ Xْ ‫ل ا‬ ُ ‫و‬c ‫ َأ‬Tَt‫ˆ َوَأ‬ َ Vْ Xَ‫‚ ِإ‬ ُ –ْ bُ ˆ َ tَ Tَs–ْ Ž ُ ‫ل‬ َ Tَ ‫ق‬ َ Tَ\‫ َأ‬Tc€zَ\َ “Maka setelah Musa sadar kembali. sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur. tidak mencakup masa sebelum atau sesudahnya. Hal itu karena sebelum beliau.. yang paling utama adalah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam. ‘Mahasuci Engkau. dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Dalam riwayat yang sahih disebutkan bahwa salah satu keistimewaan Taurat adalah dia ditulis sendiri oleh Allah Subhanahu wata’ala dengan kedua Tangan-Nya yang mulia. Itulah firman Allah Subhanahu wata’ala. ‘Hai Musa. Wallahu a’lam.” (al-A’raf: 144—145) Allah Subhanahu wata’ala memilih dan mengutamakan beliau dari sekalian manusia pada masa itu. Tًa~ِ ¢ َ ٰQŽ َ ]ُS Šc g َ ‫ َو‬TÔ‫ ُ َدآ‬zَ~َ © َ ™ ِ –َ Ÿ َ zْXِ ُ w— ‫ٰ َر‬QzcŸ َ bَ Tc€zَ\َ “Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu.pingsan.

3/418) 2. 821 dan Muslim no. 792. sedangkan ujung jari di atas lutut dalam keadaan jarijemari ini agak direnggangkan dan dihadapkan ke arah kiblat. Dalilnya adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. sedangkan Abu Dawud dan at-Tirmidzi meriwayatkannya dari Rifa’ah ibnu Rafi’ radhiyallahu ‘anhu. “Kemudian angkat kepalamu (dari sujud) hingga engkau duduk tenang. 1057) Terkadang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam duduk sangat lama. Duduk dengan thuma’ninah Ketika duduk di antara dua sujud. Disebutkan bahwa Anas berkata. “Aku akan shalat di hadapan kalian sebagaimana tata cara yang pernah aku lihat dari Rasulullah n saat shalat di hadapan kami. Zadul Ma’ad. ‘Sungguh ia lupa.” (HR . (alMajmu’.Seputar Hukum Islam “Duduk di antara Dua Sujud & Gerakan Setelahnya” Kategori: Majalah AsySyariah Edisi 085 Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq al-Atsari 1. ‘Anas lupa’. hingga ada yang berkata. sunnah ini telah ditinggalkan banyak orang setelah berlalunya masa sahabat. 1/60—61) Di saat duduk di antara dua sujud ini. mengangkat kepalanya (bangkit) dari ruku’.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.” (HR . ia berkata. al-Bukhari no. o َ Sِ T–ً ْ Šِ َ o ِ Vْ bَ }َ Ÿ َ` c X‫ ا‬o َ Vْ wَ TَS‫ َو‬،ُ¡‫Ÿ]ْ ُد‬ ُŽ ُ ‫ َو‬، ‫ع‬ ِ ْ]‫ —Š ُآ‬X‫ ا‬o َ Sِ ُ Ž َ ْ‫ َرأ‬²َ \َ ‫ َوِإذَا َر‬، ¿ ِ ‫لا‬ ِ ْ]Ž ُ ‫ع َر‬ ُ ْ]‫ن ُر ُآ‬ َ Tَ ‫آ‬ ‫`]َا ِء‬ c X‫ا‬ “Adalah ruku’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam . sebagaimana dicontohkan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang dikabarkan oleh Tsabit al-Bunani. 3/415. 2/357). siku berada di atas paha. al-Bukhari no. disenangi meletakkan kedua tangan di atas kedua paha dekat dengan kedua lutut. ia berdiri lurus (lama) hingga ada orang yang berkata. 1/60) Amalan duduk di antara dua sujud dan thuma’ninah dalam pelaksanaannya hukumnya wajib menurut pendapat yang rajih (kuat) dan ini merupakan pendapat kebanyakan/jumhur ulama. Ia duduk lama saat duduk di antara dua sujud hingga kami berkata. ‘Sungguh ia lupa’. sujud. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan untuk thuma’ninah. 820 dan Muslim no.” (Zadul Ma’ad. Beliau melakukan duduk ini dengan lama hingga mendekati lama sujudnya sebagaimana ditunjukkan dalam hadits al-Barra ibnu ‘Azib radhiyallahu ‘anhu. kepada orang yang salah shalatnya. Zikir-zikir Page 66 . duduk dengan tenang dan batasannya adalah gerakan sebelumnya tidak tampak lagi (Fathul Bari. hampir sama lamanya. “Dalam shalat tersebut (yang dicontohkan/diajarkan kepada kami) Anas melakukan sesuatu yang aku tidak pernah Majalah Asy Syariah Edisi 85 melihat kalian melakukannya. murid Anas radhiyallahu ‘anhu. menyelisihi pendapat Abu Hanifah yang mengatakan tidak wajib.” Kata Tsabit. Bila ia bangkit dari ruku’. karena itulah Tsabit pernah berkata. ia diam lama.’ Bila ia duduk di antara dua sujud (dalam riwayat Muslim: dan bila ia mengangkat kepalanya dari sujud). dan duduk di antara dua sujudnya. “Anas melakukan sesuatu yang aku tidak pernah melihat kalian melakukannya. 1060) Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mmengatakan. (alMajmu’.

[hapuskanlah dosaku]4. ampunilah aku. 303. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. hingga setiap tulang kembali pada posisinya. Wahai Rabbku. 850. ketentuan.ˆ َ Xِ‫‚ ذ‬ َ zْ ~َ \َ ‫ َ\ ِ|ذَا‬. Page 67 . at. dll. 1. dan bacaan yang telah disebutkan dalam pembahasan sujud (sujud yang pertama). bersabda kepada orang yang salah shalatnya.” Hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang dikeluarkan Abu Dawud no. Bacaan: ،Zِk€ْ … َ ْ‫ وَار‬،ZِX ْŠfِ » ْ ‫ب( ا‬ n ‫ َر‬:Õ ٍ fْ Xَ Zِ\‫ ) َو‬ec Œُ zcX‫ا‬ (Zِk\ِ Tَ‫ ) َو‬،Zِt}ِ ‫ وَا ْه‬،(Zِk~ْ \َ ْ‫ )وَار‬،(ZِtْŠ–ُ© ْ ‫)وَا‬ Zِkْ ‫وَارْ ُز‬ “Ya Allah (dalam satu lafadz: Wahai Rabbku). al-Hakim 1/262.T§ً Vْ ¤ َ ُ kْ Sِ ‚ َ · ْ aَ Uَ tْ ‫ن ا‬ ِ ‫ َوِإ‬،َˆbُ ¶ َ¢ َ ْ‚€c bَ ْ}aَ \َ . Hal ini ditunjukkan dalam hadits Malik ibnul Huwairits radhiyallahu ‘anhu. 302. Majalah Asy Syariah Edisi 85 Sujud yang Kedua Setelah bertakbir. (al. dinyatakan sahih dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi) Duduk Istirahat dan Bangkit Berdiri Sebelum bangkit berdiri untuk melanjutkan ke rakaat berikutnya. berarti kamu mengurangi shalatmu. Apabila kamu lakukan hal itu. Ibnu Majah no. 335. [angkatlah derajatku]3. duduk tegak sejenak di atas kaki kiri beliau. .Di saat duduk di antara dua sujud ini. yaitu ada tujuh kalimat sebagaimana disebutkan di atas. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. al-Baihaq 2/122.‫Ÿ َ} ٍة‬ ْŽ َ ‫™ َر ْآ َ~ ٍ’ َو‬ n ‫ ُآ‬Zِ\ ˆ َ Xِ‫ْ ذ‬²kَ ¢ ْ ‫ ا‬ec {ُ ˆ َ bِ ¶ َ¢ َ ْoSِ ‚ َ · ْ aَ Uَ tْ ‫ِا‬ “Kemudian lakukanlah hal tersebut pada setiap ruku’ dan sujud. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. 898. Apa saja yang dilakukan pada rakaat pertama juga diulang lagi pada rakaat kedua. Menurut al-Imam an-Nawawi rahimahullah dalam al-Majmu’ (3/415). mengangkat kepala dari sujudnya dan bertakbir untuk melanjutkan ke rakaat kedua. ampunilah aku. 2. [perbaikilah aku]2. Bacaan: ZِX ْŠfِ » ْ‫با‬ n ‫ َر‬،ZِX ْŠfِ » ْ ‫با‬ n ‫َر‬ “Wahai Rabbku. Jika ada sesuatu yang kamu kurangi. Ahmad 1/315. 371. dan dinyatakan sahih dalam Shahih Sunan Ibni Majah serta Irwa’ul Ghalil no. 3/418) Bangkit dari Sujud Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. ia berkata. Ulama sepakat tentang wajibnya sujud yang kedua ini. yang lebih hati-hati seluruh lafadznya diucapkan. sungguh telah sempurna shalatmu. 271. ampunilah aku. dan berilah rezeki kepadaku. berdalil haditshadits yang sahih lagi masyhur dan ijma’/kesepakatan kaum muslimin. kembali bersujud (sujud kedua dalam shalat) dengan tata cara. Hadits ini sahih sebagaimana dinyatakan oleh al-Imam Albani t dalam Shahih Kutubus Sunan. pernah membaca zikir dan doa di bawah ini. 897. berilah petunjuk kepadaku.” Hadits Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu ini dikeluarkan oleh Ibnu Majah no. rahmatilah aku. 284.Majmu’.Tirmidzi no. at-Tirmidzi no. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR .

bukan karena hajat/ada kebutuhan. bertanya kepada Abu Qilabah. dan bila mengangkat kepalanya dari sujud yang kedua. karena duduknya hanya sebentar sehingga ucapan takbir yang disyariatkan saat Page 68 . Kemudian baru bangkit dengan bertumpu di atas tanah. Dalam hadits yang sebelumnya (no. 823) disebutkan Abu Qilabah bahwa Malik ibnul Huwairits radhiyallahu ‘anhu memberitakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak bangkit ke rakaat kedua hingga beliau duduk tegak (HR . orang yang bangkit dari sujud atau duduk dalam shalat untuk bertumpu dengan kedua tangannya secara bersama-sama dalam rangka mengikuti sunnah.’ِ Vَ tِ TclX‫Ÿ َ} ِة ا‬ ْ` c X‫ ا‬o َ Sِ ُ Ž َ ْ‫ َرأ‬²َ \َ ‫ َ\ ِ|ذَا َر‬. asy-Syafi’i dalam al-Umm no. tentang bagaimana cara shalat yang dicontohkan Malik. dan Ahmad rahimahumullah. maka kata Abu Qilabah seperti shalat yang dilakukan syaikh kita ‘Amr ibnu Salamah.” Setelah membawakan hadits riwayat al-Bukhari dalam bab “Man Istawa Qa’idan fi Witrin min Shalatihi Tsumma Nahadha” (no. Tidak ada zikir khusus yang dibaca saat duduk ini. Abu Dawud. “Aku melihat Abu Abdillah (yakni al. 2/82) Perbedaan Pendapat dalam Masalah Ini Majalah Asy Syariah Edisi 85 Al-Imam Syafi’i rahimahullah menyatakan. Adapun penyebutan duduk ini sebagai duduk istirahat. Kerap kali beliau duduk tegak. bab “al. (al-Umm. ia duduk tegak. kitab ash-Shalah. syaikhnya yang menyampaikan hadits ini dari Malik radhiyallahu ‘anhu. 1153.Qiyam minal Julus”) Ibnu Hani dalam Masailnya dari al. kemudian baru bangkit berdiri.‫¶ ٍة‬ َ¢ َ ‚ ِ ْ ‫ ِŠ َو‬Vْ » َ Zِ\ Qcz· َ \َ ‫ل ا¿ِ؟‬ ِ ْ]Ž ُ ‫¶ ِة َر‬ َ ¢ َ ْo َ ْepُ {ُ }ِّ … َ ‫ ُأ‬Öَ‫أ‬ ‫ض‬ ِ ْ‫ َ«ر‬Xْ ‫ ا‬Qَz َ }َ €َ Uَ  ْ Tَ\ ‫ َم‬Tَ ec {ُ ،‫}ًا‬ ِ Tَ ‫]َى‬Uَ Ž ْ ‫ ا‬،ٍ’~َ ‫ل َر ْآ‬ ِ ‫و‬c ‫ َأ‬Zِ\ Memang ada silang pendapat dalam masalah duduk istirahat dan bangkit berdiri dengan bertumpu di atas kedua tangan ini. Sanadnya sahih di atas syarat Syaikhani sebagaimana disebutkan dalam al-Irwa 2/82) Pertama: Sunnah secara mutlak. para ulama hadits. Ini adalah pendapat al-Imam asySyafi’i. 3/39) Al-Imam at-Tirmidzi rahimahullah setelah membawakan hadits dalam bab “Kaifa an-Nuhudh minas Sujud” (artinya: bagaimana tata cara bangkit/berdiri dari sujud) pada kitab Sunannya mengatakan. (alMuhalla.”Ibnu Hazm rahimahullah menganggap duduk istirahat ini mustahab dilakukan sebelum bangkit ke rakaat kedua dan keempat. Tatkala ia mengangkat kepalanya dari sujud yang kedua pada rakaat yang awal. (al-Muhalla. 823) Diriwayatkan pula duduk istirahat ini dari Abu Humaid as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu. al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam penjelasannya menyatakan bahwa duduk istirahat ini disyariatkan. kemudian bangkit. dia menyempurnakan takbir. “Hal ini diamalkan oleh sebagian ahlul ilmi.Imam Ahmad t mengatakan (1/57). ia duduk dan bertumpu di atas bumi/tanah. 824) disebutkan Malik ibnul Huwairits radhiyallahu ‘anhu mencontohkan shalat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada orang-orang. 823 yang telah dibawakan di atas). salah seorang perawi hadits ini. asalnya dari para fuqaha. dan al-Baihaqi 2/124.125. (HR . karena hal ini lebih mendekati sikap tawadhu dan lebih membantu orang yang shalat. Teman-teman kami. Ketika Ayyub. 3/40) Dalam riwayat al-Bukhari (no. juga berpendapat seperti ini. 198. (al-Irwa. “Maukah aku gambarkan kepada kalian cara shalat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam?” Lalu Malik shalat di luar waktu shalat6. Bukhari no. an-Nasa’i no.Imam Ahmad) kerap kali bertumpu di atas kedua tangannya ketika bangkit ke rakaat berikutnya.

berdiri sudah cukup. di antaranya: • Hadits Wail ibnu Hujr radhiyallahu ‘anhu. hal ini menunjukkan duduk ini tidaklah dimaksudkan sebagai bentuk amalan/gerakan yang disyariatkan dalam shalat sebagaimana gerakan lainnya. Apabila tidak dibutuhkan. sebagaimana telah kami isyaratkan sebelumnya dalam subjudul Duduk Istirahat dan Bangkit Berdiri. Jika duduk ini dibutuhkan karena fisik yang lemah. Apabila ada kebutuhan. Alasannya. (Majmu’ Fatawa wa Rasail. namun haditsnya dhaif sebagaimana disebutkan dalam al-Irwa no. apakah bertumpunya di atas punggung jarijemari. 2. Yang penting. (Fathul Bari 2/391) Kedua: Tidak sunnah secara mutlak. Abu Dawud no.” (HR . karena hadits yang menyebutkan duduk ini tsabit/kokoh. Pendapat yang merinci seperti ini memiliki kekuatan argumen daripada pendapat yang kedua. at. sakit. Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Qudamah radhiyallahu ‘anhu sebagai wujud pengumpulan dalil yang Majalah Asy Syariah Edisi 85 menetapkan dan dalil yang meniadakan duduk ini. ia tidak duduk. 839. “Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bangkit dalam shalat (bertumpu) di atas bagian dalam kedua telapak kaki beliau. Namun. Disyariatkan duduk seperti ini secara mutlak. atau yang lain. disyariatkan melakukan duduk seperti ini. tidak dilakukan. Menurut pendapat yang ketiga ini. dan tidak ada pula zikir yang diucapkan. apabila tidak dibutuhkan. ia duduk dan apabila ia butuh tumpuan ia bisa bertumpu dengan kedua tangannya. Dinyatakan dhaif oleh al-Imam an. akan tetapi yang jadi permasalahan apakah tsabitnya karena ada kebutuhan ataukah secara mutlak? Inilah yang menjadi pembahasan. “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. 3. bangkit di atas kedua lutut beliau dan bersandar di atas paha beliau. bagaimana pun caranya.” (HR . Demikian pula dalam al-Irwa no. dia duduk dahulu lalu bangkit. (Majmu’ Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh al-Imam Muhammad ibn Shalih al-Utsaimin. Page 69 . yang ada hanya satu takbir. dan yang semisalnya. Tentang hadits Malik ibnul Huwairits radhiyallahu ‘anhu yang menyebutkan Nabi n bersandar di atas kedua tangan beliau saat bangkit berdiri. namun riwayat ini dhaif/lemah. dalam duduk ini tidak ada doa/zikir yang dibaca dan tidak ada takbir perpindahan. ia menyampaikan saat bangkit ke rakaat berikutnya. 362) Ketiga: Pendapat yang merinci. mereka menyatakan bersandar pada kedua tangan umumnya karena ada kebutuhan dan karena tubuh yang berat sehingga tidak bisa bangkit terkecuali harus ada tumpuan. Tidak disyariatkan secara mutlak.Nawawi t dalam alMajmu’ 3/422.Tirmidzi no. maka ini pendapat yang lemah. usia senja. apabila orang yang shalat butuh duduk sebelum bangkit ke posisi berdiri. tanpa ada tata cara tertentu. wallahu ‘alam. ada kebutuhan ataupun tidak. yaitu takbir dari sujud ke berdiri. Karena sebelum dan sesudahnya tidak ada takbir. Tentang hal ini. 288. seluruh jari-jemari. 13/182) Asy-Syaikh Muhammad ibn Shalih al-Utsaimin rahimahullah menyatakan. dilakukan apabila dibutuhkan. tidak ada permasalahan. 363) • Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. dalam masalah ini didapatkan tiga tingkatan kekuatan argumen (yang awal lebih kuat dari yang setelahnya. Mereka berdalil dengan beberapa hadits. Pendapat ini memiliki kekuatan argumen atau bisa dianggap kuat. ia berkata. –pen.): 1. 13/383—385) Dari tiga pendapat di atas.

“Perlu diketahui. Znz¢ َ ‫ ُأ‬Zِt]ُ€Uُ ْ ‫ َرَأ‬Tَ€‫—]ا َآ‬z¢ َ “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat. dan para sahabat lebih didahulukan daripada hadits Wail radhiyallahu ‘anhu. ْepُ wَ ]ُt‫ْ ُذ‬epُ Xَ ْŠfِ ºْ َ ‫ ُ َو‬zcX‫ ا‬eُ pُ –ْ –ِ s ْ ُ Zِt]ُ~–ِ bc Tَ\ َ zcX‫ن ا‬ َ ]—–s ِ bُ ْeUُkُ‫ُ™ْ إِن آ‬ ‘Katakanlah. Allah Subhanahu wata’ala sungguh berfirman. dalam hadits Wail tidak disebutkan secara nyata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam meninggalkan duduk istirahat. Adapun menjawab pendapat bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya karena ada kebutuhan. Bisa jadi.. Wail radhiyallahu ‘anhu melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam shalat dalam satu waktu atau beberapa Majalah Asy Syariah Edisi 85 waktu untuk menerangkan bolehnya hal tersebut. Seandainya duduk istirahat ini tidak termasuk amalan yang disunnahkan bagi setiap orang. Janganlah tertipu dengan banyaknya orang yang bermudah-mudah meninggalkannya (mutasahilin). Kalau memang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya karena ada kebutuhan. Sebab. Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat!” Semua ini ada dalam Shahih al-Bukhari dari beberapa jalan. kalaupun sahih. Lebihlebih lagi. niscaya hadits Malik ibnul Huwairits. bagaimana bisa hal tersebut tersembunyi bagi para sahabat yang mulia tersebut.’ (Ali Imran: 31) Page 70 . Apalagi duduk istirahat ini telah diriwayatkan oleh sejumlah sahabat yang mencapai lebih dari sepuluh orang. Abu Humaid. dijawab bahwa anggapan seperti ini tidak boleh dipakai untuk menolak sunnah yang sahih. Namun. kepada Malik ibnul Huwairits radhiyallahu ‘anhu setelah ia shalat bersama beliau dan menghafal ilmu dari beliau selama dua puluh hari lantas ingin pulang kepada keluarganya. “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat. meskipun orang yang tidak mengerjakannya dalam shalatnya juga tidak diingkari. Banyak perawinya. perintahlah dan ajarilah mereka. yang sering beliau lakukan adalah apa yang diriwayatkan oleh orangorang yang lebih banyak. b.” (al-Majmu’. bukan karena sunnah.pendapat yang lebih kuat adalah yang pertama karena tidak ada berita yang tsabit/kuat yang menentang sunnah ini. Kalau pun ada secara nyata. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan demikian kepada Malik sedangkan Malik telah menyaksikan Nabi n duduk istirahat. Sanad-sanadnya sahih. jika memang kalian mencintai Allah maka ikutilah aku niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. niscaya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memutlakkan ucapan beliau.” Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata. di antara mereka ada Malik ibnul Huwairits radhiyallahu ‘anhu yang menyampaikan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. dari dua sisi: a. Znz¢ َ ‫ ُأ‬Zِt]ُ€Uُ ْ ‫ َرَأ‬Tَ€‫—]ا َآ‬z¢ َ ‫ْ َو‬e‫ ُ€]ْ ُه‬zn َ َ‫ْ و‬e‫ ُŠوْ ُه‬Sُ ‫ َو‬،ْepُ Vْ zِ‫ َأ ْه‬QَX‫اذْ َه–ُ]ا ِإ‬ “Pulanglah kalian kepada keluarga kalian. Yang lebih memperkuat adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. 3/422) Beliau menyatakan. sepantasnya bagi setiap orang untuk terus melakukan duduk ini (dalam shalatnya) karena sahihnya hadits-hadits tentang duduk ini dan tidak ada riwayat sahih yang menentangnya. “Adapun hadits Wail ibnu Hujr radhiyallahu ‘anhu (yang telah dibawakan di atas). wajib dipahami (kepada makna yang) menyepakati hadits lain yang menetapkan duduk istirahat.

Namun. atau bukan termasuk gerakan shalat sama sekali. Wakil: Abdurrazzaq Afifi.Syaikh Ibnu Baz. maka ambillah…. banyak ulama. (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 6/447—448. yang tampak adalah duduk ini disunnahkan secara mutlak. tidak memandang adanya duduk ini.” (al-Majmu’.’ ( alHasyr: 7). dan Anggota: Abdullah bin Ghudayyan) Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab. adalah beliau melakukannya untuk ditiru oleh umatnya. Yang memperkuat pendapat ini adalah: Fatwa al-Lajnah ad-Daimah Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyyah yang saat itu diketuai oleh Samahatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah ketika ditanya tentang masalah duduk istirahat. dan tidak disyariatkan apabila tidak tidak dibutuhkan. demikian pula satu riwayat al-Imam Ahmad rahimahullah. Dasar mereka adalah hadits Malik ibnul Huwairits radhiyallahu ‘anhu. Ketua: asy. Ulama berbeda pendapat setelah itu. bukanlah amalan yang termasuk kewajiban shalat. ¡ُ ‫‹œُو‬ ُ \َ ‫ل‬ ُ ]ُŽŠc X‫ ا‬eُ ‫ ُآ‬Tَb› TَS‫َو‬ ‘Apa saja yang dibawa Rasul kepada kalian. Duduk ini disebutkan oleh hadits Abu Humaid as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad dan Abu Dawud dengan sanad yang jayyid (bagus). hadits-hadits lain tidak ada yang menyebutkan duduk ini. Hukum asal dari perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka dari itu. bukan pula sunnah yang ditekankan (mu’akkadah) dalam shalat. Abu Humaid radhiyallahu ‘anhumenjelaskan tata cara shalat Nabi n di tengahtengah sepuluh orang sahabat. duduk yang disebutkan oleh Malik ibnul Huwairits radhiyallahu ‘anhu tersebut dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. 3/420—421) atau karena sebab lain. di akhir umur beliau tatkala tubuh beliau sudah berat Majalah Asy Syariah Edisi 85 Page 71 . Bisa jadi. apakah duduk ini sunnah saja. Ulama sepakat bahwa duduk setelah mengangkat kepala dan tubuh dari sujud yang kedua pada rakaat pertama dan ketiga serta sebelum bangkit ke rakaat kedua dan keempat.Alasannya. atau kegemukan? 1. 2. atau boleh dilakukan oleh orang yang membutuhkannya karena tubuh yang lemah karena usia. Adapun alasan bahwa duduk ini tidak disebutkan dalam hadits-hadits yang lain tidaklah menunjukkan duduk ini tidak ada. Ini juga merupakan salah satu riwayat dari dua riwayat al-Imam Ahmad rahimahullah. di antaranya Abu Hanifah rahimahullah dan Malik rahimahullah.Firman-Nya. Namun. Mereka berfatwa sebagai berikut. dan mereka membenarkannya. sakit. Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah dan sekelompok ahlul hadits berpandangan sunnah. ada kelompok ketiga yang berpendapat bahwa duduk ini disyariatkan saat ada kebutuhan.

dalam doanya di saat datang kesusahan, Ibnu Abbas radhiyallahu
‘anhuma meriwayatkan,

Khazanah “Al-Azhim”
Kategori: Majalah AsySyariah Edisi 085
Al Ustadz Qomar Suadi
Al-Azhim adalah salah satu asma Allah l yang agung. Al-Azhim,
Yang Mahaagung, berulang kali Allah Subhanahu wata’ala
menyebutkan nama ini dalambeberapa ayat, di antaranya,
‫ ذَا‬oَS ۗ ‫ض‬
ِ ْ‫ َ«ر‬Xْ ‫ ا‬Zِ\ TَS‫ت َو‬
ِ ‫وَا‬Tَ€`
c X‫ ا‬Zِ\ TَS ُ Xc ۚ ٌ‫]ْم‬tَ TَX‫ ٌ’ َو‬kَ Ž
ِ ¡ُ œُ g
ُ ْ«bَ TَX ۚ ‫—] ُم‬Vaَ Xْ‫ ا‬Z
—s
َ Xْ‫ ُه َ] ا‬TcX‫ َ ِإ‬Xَٰ‫ ِإ‬TَX ُ zcX‫ا‬
ۚ ‫ َء‬Tَ¤ Tَ€wِ TcX‫ ِ€ ِ ِإ‬zْ 
ِ ْoSn ‫ْ ٍء‬Z 
َ wِ ‫ن‬
َ ]ُ_Vِsُ TَX‫ْ ۖ َو‬eŒُ fَ zْ g
َ TَS‫ْ َو‬eŒِ ِ}ْ ‫ َأ‬o
َ Vْ wَ TَS eُ zَ~ْ َ ۚ ِ tِ ْ‫ ِ|ذ‬wِ TcX‫ َ} ُ¡ ِإ‬kِ ²ُ fَ  
ْ َ ‫œِي‬Xc‫ا‬
eُ Vِ±~َ Xْ ‫ ا‬Z
— zِ~َ Xْ ‫ ۚ َو ُه َ] ا‬Tَ€Œُ ±
ُ fْ …
ِ ¡ُ ‫ َ§ُ] ُد‬TَX‫ض ۖ َو‬
َ ْ‫ َ«ر‬Xْ‫ت وَا‬
ِ ‫وَا‬Tَ€`
c X‫ ُ ا‬V—Ž
ِ ْŠ‫ ُآ‬²َ Ž
ِ ‫َو‬
“Allah, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Dia Yang
Mahahidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk- Nya), tidak
mengantuk, dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan
di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izinNya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan dan di belakang
mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah
melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit
dan bumi, dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan
Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (al-Baqarah: 255)
eِ Vِ±~َ Xْ ‫ˆ ا‬
َ wn‫ َر‬eِ Ž
ْ Tِw ْƖn`
َ \َ
“Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang
Mahabesar.” (al-Waqi’ah: 96)
eِ Vِ±~َ Xْ ‫ ِ ا‬zcXTِw o
ُ Sِ ْ“ُ TَX ‫ن‬
َ Tَ‫ ُ آ‬tc ‫ِإ‬
“Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang
Mahabesar.” (al-Haqqah: 33)
Demikian pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut nama itu
Majalah Asy Syariah Edisi 85

‫ب‬
— ‫® ا َر‬
c ‫ َ ِإ‬Xَ‫® ِإ‬
َ eِ Vِ±~َ Xْ‫ش ا‬
ِ ْŠ~َ Xْ ‫ب ا‬
— ‫® ا َر‬
c ‫ َ ِإ‬Xَ‫® ِإ‬
َ eُ Vِzs
َ Xْ ‫ ا‬eُ Vِ±~َ Xْ ‫¿ ا‬
ُ ‫®ا‬
c ‫ َ ِإ‬Xَِ‫® إ‬
َ :‫ب‬
ِ ْŠpَ Xْ ‫ َ} ا‬kْ 
ِ ‫ل‬
ُ ]ُaَ ‫ن‬
َ Tَ‫آ‬
‫ض‬
ِ ْ‫ر‬Ù
َ‫با‬
— ‫ت َو َر‬
ِ ‫` َ€]َا‬
c X‫ا‬
‫ش‬
ِ ْŠ~َ Xْ ‫ب ا‬
— ‫َو َر‬
eِ ِŠpَ Xْ ‫ا‬
“Dahulu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa saat ditimpa
kesusahan, (artinya), ‘Tiada sesembahan yang benar selain Allah
Yang Mahaagung,Yang Maha Penyabar, tiada sesembahan yang
benar selain Allah Rabb Arsy yang agung, tiada sesembahan yang
benar selain Allah, Rabb langit-langit dan Rabb bumi, dan Rabb
Arsy yang mulia’.” (Sahih, HR . al-Bukhari dan Muslim)
Al-Azhim, Allah Mahaagung. Dia memiliki tiap sifat yang
mengharuskan untuk diagungkan. Tidak ada satupun makhluk yang
mampu menyanjung- Nya sebagaimana mestinya. Bahkan, Allah
Subhanahu wata’ala adalah seperti yang Ia sifati diri-Nya
dengannya dan di atas segala pujian hamba-Nya.
Perlu diketahui bahwa makna Al-Ustadz Qomar Suaidi keagungan
AllahSubhanahu wata’ala yang hanya merupakan hak-Nya adalah
dua macam.
1. Allah l disifati dengan segala sifat kesempurnaan, dan
kesempurnaan yang Allah Subhanahu wata’ala miliki adalah
kesempurnaan yang paling puncak, paling agung, dan paling luas.
Milik-Nyalah ilmu yang meliputi segala sesuatu, kemampuan yang
tidak bisa dihalangi, kesombongan dan keagungan.
Di antara keagungan Allah Subhanahu wata’ala adalah bahwa
langit-langit dan bumi di tangan Allah Subhanahu wata’ala lebih
kecil daripada biji sawi, sebagaimana diucapkan Ibnu Abbas
Page 72

radhiyallahu ‘anhuma dan yang lainnya. Allah Subhanahu wata’ala
berfirman,
ُ tَ Tَs–ْ Ž
ُ ۚ ِ kِ Vِ€Vَ wِ ٌ‫ت‬Tc]ِ _
ْ Sَ ‫ت‬
ُ ‫وَا‬Tَ€`
c X‫ ِ’ وَا‬Sَ TَVaِ Xْ ‫ ُ َ]ْ َم ا‬Uُ 
َ –ْ َ Tً~Vِ€©
َ ‫ض‬
ُ ْ‫َ«ر‬Xْ ‫ َ}ْ ِر ِ¡ وَا‬Ì

َ َ zcX‫ َ َ}رُوا ا‬TَS‫َو‬
‫ن‬
َ ]ُ‫ ِŠآ‬ 
ْ ُ Tc€
َ ٰQXَTَ~bَ ‫َو‬
“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan
yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya
pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.
Mahasuci dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.”
(az-Zumar: 67)
‫ن‬
َ Tَ‫ ُ آ‬tc ‫ ْ~ ِ} ِ¡ ۚ ِإ‬wَ onS }ٍ …
َ ‫ْ َأ‬oSِ Tَ€Œُ pَ `
َ Sْ ‫ ِإنْ َأ‬TَUXَ‫ زَا‬oِ§Xَ‫ ۚ َو‬TَX‫ُو‬ªbَ ‫ض أَن‬
َ ْ‫ َ«ر‬Xْ ‫ت وَا‬
ِ ‫وَا‬Tَ€`
c X‫ˆ ا‬
ُ`
ِ €ْ ُ َ czX‫ن ا‬
c ‫ِإ‬
‫ُ]رًا‬f»
َ Tً€Vِz…
َ
“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya tidak
lenyap, dan sungguh jika keduanya akan lenyap, tidak ada seorang
pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya
Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Fathir: 41)
Dia Mahatinggi lagi Mahaagung,

satunya, maka Aku akan meyiksanya’.”
2. Allah Subhanahu wata’alal lah yang berhak terhadap segala
macam pengagungan yang dengannya seorang hamba
mengagungkan dan tidak seorang pun dari mahluk berhak untuk
diagungkan sebagaimana Allah Subhanahu wata’alal diagungkan.
Allah Subhanahu wata’ala berhak atas hamba-Nya untuk mereka
agungkan, dengan kalbu, lisan, dan anggota badan mereka. Hal itu
diwujudkan dengan cara mengerahkan segala kemampuan untuk
mengenal-Nya, mencintai-Nya, dan menghinakan diri di hadapanNya.
Inkisar (luluh, remuk redam) di hadapan-Nya, tunduk di hadapan
kesombongan-Nya, takut kepada-Nya, menggunakan lisan untuk
memuji-Nya, menggunakan anggota badan untuk mensyukuri-Nya
dan melaksanakan peribadatan kepada-Nya. Di antara bentuk
pengagungan kepada-Nya adalah dengan bertakwa kepada-Nya,
sehingga Dia ditaati tidak dimaksiati, diingat tidak dilupakan,
disyukuri tidak dikufuri. Di antara bentuk pengagungan kepada-Nya
adalah mengagungkan apa yang disyariatkan-Nya dan apa yang
diharamkan-Nya baik berupa waktu, tempat, maupun perbuatan.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

eُ Vِ±~َ Xْ ‫ ا‬Z
— zِ~َ Xْ‫ض ۖ َو ُه َ] ا‬
ِ ْ‫َ«ر‬Xْ ‫ ا‬Zِ\ TَS‫ت َو‬
ِ ‫وَا‬Tَ€`
c X‫ ا‬Zِ\ TَS ُ Xَ
‫ب‬
ِ ]ُzaُ Xْ ‫]َى ا‬aْ bَ oِS TَŒtc|ِ \َ ِ zcX‫ َŠ ا‬Áِ Tَ~¤
َ ْe±
n ~َ ُ oَS‫ˆ َو‬
َ Xَِٰ‫ذ‬
“Kepunyaan-Nya lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di
bumi. Dan Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung.” (asy-Syura: 4)
Dalam kitab Shahih disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda,

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan
syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan
hati.” (al-Hajj: 32)
ۗ ِ wn ‫ َ} َر‬kِ ُ Xc ٌŠVْ g
َ ]َ Œُ \َ ِ zcX‫ت ا‬
ِ TَSŠُ …
ُ ْe±
n ~َ ُ oَS‫ˆ َو‬
َ Xَِٰ‫ذ‬

ُ Uُ wْ œc 
َ Tَ€Œُ kْ Sِ ‫ وَا…ِ}ًا‬Zِk
َ ‫ َز‬Tَt ْo€َ \َ ،‫ َ€ ُ’ ِإزَارِي‬±
َ ~َ Xْ ‫ وَا‬ZِÁ‫ ُء ِردَا‬Tَ ِŠ–ْ pِ Xْ‫ ا‬:‫ل‬
ُ ]ُaَ ¿
َ ‫نا‬
c ‫ِإ‬
“Allah berfirman, ‘Kesombongan adalah selendang-Ku dan
keagungan adalah sarung-Ku. Orang yang merebut dari-Ku salah
Majalah Asy Syariah Edisi 85

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan
apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik
baginya di sisi Rabbnya.” (al-Hajj: 30)
Page 73

Di antara bentuk pengagungan kepada-Nya adalah tidak
menentang apa yang disyariatkan-Nya dan apa yang diciptakanNya. (Penjelasan as-Sa’di dan Muhammad Khalil Harras, Tafsir
Asmaillah dan Syarah Nuniyyah)
Buah Mengimani Nama Allah Subhanahu wata’ala al-Azhim
Buahnya, kita lebih mengenal keagungan dan kebesaran-Nya,
serta menyadari segala kekurangan kita. Kita hanyalah hamba
Allah Subhanahu wata’ala yang kecil, yang hina, yang lemah, dan
yang serbaterbatas dari segala sisinya. Ini menuntut kita untuk
lebih banyak mengagungkan-Nya dengan berbagai ucapan,
amalan, dan keyakinan.
Menuntut kita untuk menjauhi sifat sombong, takabur, bangga diri,
serta lupa akan pertolongan Allah Subhanahu wata’ala dan
keagungan-Nya. Sebanyak apa pun yang kita miliki berupa harta,
kedudukan, kehormatan, pangkat, atau kekuasaan, itu tidak berarti
apa-apa di hadapan keagungan-Nya.
Di samping itu, mengimaninya juga membuahkan pengetahuan
lebih dalam tentang batilnya segala sesembahan selain Allah
Subhanahu wata’ala. Ternyata, apa pun sesembahan itu, tidak
berarti apa-apa di hadapan keagungan-Nya. Lantas atas dasar apa
tuhan-tuhan palsu itu disembah?
Manfaat apa yang diperoleh darinya? Apa yang dijanjikan oleh
tuhan-tuhan palsu tersebut? Bahkan, semua itu hanya kepalsuan
dan penipuan setan. Karena itu, setan ‘menertawakan’ para
penyembah selain Allah Subhanahu wata’ala tersebut. Kelak, setan
pun akan cuci tangan dari perbuatan mereka itu.

Majalah Asy Syariah Edisi 85

Oase “Buah Keimanan Bag. 6″
Kategori: Majalah AsySyariah Edisi 085
Al Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar
Sesungguhnya keimanan akan menghilangkan keragu-raguan yang
menghinggapi kebanyakan manusia sehingga merusak agama
mereka. Allah Subhanahu wata’ala telah berfirman,
‫ُ]ا‬wTَbْŠَ ْeXَ ec {ُ ِ Xِ]ُŽ‫ ِ َو َر‬zcXTِw ‫ُ]ا‬kSَ › o
َ ِœXc‫ن ا‬
َ ]ُkSِ ْ“€ُ Xْ ‫ ا‬Tَ€tc ‫ِإ‬
“Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah
mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian
mereka tidak ragu-ragu.” (al-Hujurat: 15)
Maknanya, keimanan yang benar akan menolak keragu-raguan
yang ada pada mereka, menghilangkan seluruhnya, mengobati
keragu-raguan yang dibisikbisikkan setan-setan dari kalangan
manusia dan jin, serta menolak jiwa yang mengajak kepada
kejelekan. Karena itu, tidak ada obat bagi penyakit yang
membinasakan ini selain keimanan yang benar.
Oleh karena itu, telah datang dalam ash-Shahihain sebuah hadits
dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. bahwasanya Nabi
Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda (yang artinya),
“Manusia akan terus-menerus saling bertanya sampai-sampai akan
dikatakan, ‘Allah Subhanahu wata’ala telah menciptakan makhlukNya, lantas siapa yang menciptakan Allah Subhanahu wata’ala?’
Barang siapa yang mendapatkan demikian itu, hendaklah
mengucapkan, ‘Aku beriman kepada Allah Shallallahu ‘alaihi
wasallam kemudian berhenti dan berlindung kepada Allah dari
godaan setan’.”

Page 74

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan penyakit yang
berbahaya ini beserta obat yang bermanfaat untuknya berupa tiga
perkara,
a. berhenti/meninggalkan waswas setan ini
b. berlindung (kepada Allah Subhanahu wata’ala) dari (setan) yang
membisikkannya dan yang membuat kerancuan padanya untuk
menyurutkan hamba-hamba Allah Subhanahu wata’ala,
c. berpegang teguh dengan keimanan yang benar, karena barang
siapa yang berpegang teguh dengannya, maka ia termasuk orang
yang beriman dengan sebenar-benarnya. Sebab, kebatilan akan
tampak jelas dengan banyak perkara. Di antaranya yang paling
besar adalah dengan ilmu, sedangkan semua perkara yang
bertentangan dengan kebenaran (al- Haq) adalah kebatilan.
ۖ‫ل‬
ُ Tَz
c X‫ ا‬TcX‫ ِإ‬Ì
ns
َ Xْ‫ ْ~ َ} ا‬wَ ‫ذَا‬Tَ€\َ
“Tidak ada setelah kebenaran itu selain kesesatan.” (Yunus: 32)
(Diambil dari at-Taudhih wal Bayan lisy Syajaratil Iman hlm. 56—57
karya asy-Syaikh ‘Abdurrahman Ibnu Nashir as-Sa’di)

Problem Anda “Hukum Arisan”
Kategori: Majalah AsySyariah Edisi 085
Apa hukum arisan?
Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini
Arisan dikenal oleh sebagian orang Arab dengan istilah jam’iyyah
(kumpulan peserta arisan). Ini termasuk masalah kontemporer yang
tengah marak ditekuni oleh banyak kaum muslimin mengingat
manfaat yang mereka rasakan darinya. Masalah ini diperselisihkan
oleh ulama ahli fatwa masa kini.
1. Ada yang berpendapat haram. Al-‘Allamah Shalih al-Fauzan
hafizhahullah berfatwa, “Ini dinamakan pengutangan di antara
sekumpulan orang (arisan) dan perkara ini kehalalannya diragukan.
Sebab, arisan adalah piutang dengan syarat adanya timbal balik
dengan diutangi pula dan termasuk piutang yang menarik manfaat.
Karena dua alasan tersebut, arisan haram.
Di antara ulama ada yang berfatwa boleh dengan alasan manfaat
yang ditarik karena pengutangan itu tidak khusus pada salah satu
pihak (pemiutang) melainkan pada kedua belah pihak. Menurut
saya, yang rajih (terkuat) adalah pendapat pertama (yang
mengharamkan). Dalilnya adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi
wasallam,
Tًw‫ َ~ ً’ َ\ ُŒ َ] ِر‬fَ kْ Sَ Šc ©
َ ‫ض‬
ٍ ْŠَ ™
— ‫ُآ‬
“Setiap piutang yang menarik suatu manfaat, hal itu adalah riba.”1
(Lihat kitab Asna al-Mathalib hlm. 240, al- Ghammaz ‘ala alLammaz hlm. 173, dan Tamyiz al-Khabits min ath-Thayyib hlm.
124)

Majalah Asy Syariah Edisi 85

Page 75

Adapun peserta yang telah dapat giliran. sementara itu arisan termasuk dalam makna ini. tidak lebih dari itu. Sebab. arisan adalah piutang yang tidak mengandung penarikan manfaat/riba sama sekali. yang berarti syarat pada piutang (yang menarik manfaat/riba)?’ 2. tetapi sematamata syarat agar utang itu dilunasi. Berikut kutipan fatwa mereka. arisan termasuk pengutangan yang mengandung syarat diutangi pula sebagai timbal baliknya. demikian seterusnya sampai seluruh peserta mengambil uang yang telah dikumpulkannya selama ini. Hanya Allah l yang memberi taufik. Selain itu. Kami jawab bahwa hal itu bukan syarat adanya akad lain. dan seterusnya hingga uang itu bergilir kepada seluruh peserta (arisan).”2 Jawabannya. pendapat bahwa arisan termasuk piutang yang menarik manfaat/riba adalah anggapan yang keliru. Beliau t menjawab. karena setiap peserta arisan tidak mengambil uang lebih dari uangnya sendiri yang dikumpulkannya selama berjalannya arisan. Arisan bukan piutang yang menarik manfaat/riba. Artinya.” • Al-Imam Ibnu ‘Utsaimin berfatwa dalam syarah Bulughul Maram. lalu kepada orang kedua di bulan kedua. Adapun kedua alasan yang dikemukakan oleh al‘Allamah al-Fauzan sebagai dasar untuk menghukumi haramnya arisan telah terbantah pada kedua fatwa ini. setorannya untuk Majalah Asy Syariah Edisi 85 Page 76 . Arisan adalah piutang yang tidak mengandung syarat memberi tambahan manfaat kepada siapa pun. • Al-Imam Ibnu Baz rahimahumullah ditanya mengenai hukum arisan.” Berdasarkan keterangan ini. Majelis Haiat Kibar al-‘Ulama telah mempelajari masalah ini dan mayoritas mereka membolehkannya mengingat adanya maslahat untuk seluruh peserta arisan tanpa mengandung mudarat. tentu saja hal itu tidak boleh. ‘Bukankah disyaratkan piutang itu dibayar sepenuhnya kepadanya. lalu mereka memberikannya kepada salah seorang dari mereka. Ini adalah fatwa Ibnu Baz— bersama Haiat Kibar al-‘Ulama (Dewan Ulama Besar Kerajaan Arab Saudi) yang dipimpinnya—dan Ibnu ‘Utsaimin. Arisan bukan pengutangan yang mengandung syarat diutangi pula sebagai timbal baliknya. Seandainya peserta memiutangi uang senilai seribu dengan syarat dikembalikan dua ribu. “Terjadi masalah di kalangan para pegawai yang gajinya dipotong setiap bulan (untuk dikumpulkan) senilai tertentu menurut kesepakatan mereka. “Hal itu tidak mengapa. sekelompok pengajar mengumpulkan sejumlah uang di akhir bulan dari gaji mereka. Ada yang berpendapat boleh. tidak. karena tidak ada peserta yang mendapatkan uang lebih dari jumlah yang telah diberikannya. Ada yang berkata. Uang itu lantas diberikan kepada salah seorang dari mereka di bulan pertama. Apakah masalah ini tergolong piutang yang menarik manfaat/riba? Alhasil. karena tergolong piutang yang menarik manfaat/riba. Wallahu a’lam. Gambarannya.Seluruh ulama telah sepakat atas makna yang terkandung pada hadits ini. padahal Nabi n melarang adanya dua akad dalam satu akad. Sebab. setiap peserta yang mendapat undian (giliran) untuk mendapatkan sejumlah uang arisan yang terkumpul berarti dia diutangi oleh peserta arisan berikutnya (yang belum dapat giliran). lalu diberikan kepada orang berikutnya di akhir bulan berikutnya. peserta memberikannya kepada peserta lainnya dengan syarat ia mengembalikannya kepadanya senilai itu juga. yang benar menurut kami adalah pendapat yang membolehkan. Hal itu bukan piutang yang menarik manfaat/ riba.

Wallahu a’lam. yang telah mengharamkan perbuatan zina dan hal-hal yang menyeret kepadanya. boleh jadi itu tergolong pengutangan yang menarik manfaat/riba sehingga haram. Sebab. Majalah Asy Syariah Edisi 85 Page 77 . keluarganya. tidak ada sama sekali persyaratan akad lain yang membonceng padanya untuk memetik riba. Saya bersaksi bahwasanya tidak ada yang berhak untuk diibadahi dengan benar kecuali Allah Subhanahuwata’ala semata.membayar utangnya kepada pesertapeserta yang belum dapat giliran. Bahaya Dan SebabSebabnya Jadi. Allah l berfirman. Kategori: Majalah AsySyariah Edisi 085 Al-Ustadz Saifudin Zuhri. Wallahul musta’an. Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahuwata’ala dan ketahuilah bahwa di antara perbuatan keji yang paling besar yang telah Allah l haramkan di dalam kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya adalah perbuatan zina. para sahabatnya. serta saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Khutbah Jum’at ” Zina. Demikianlah seterusnya hingga berakhir. Hal itu apabila peserta arisan yang mendapat giliran di putaran-putaran berikutnya atau putaran terakhir diuntungkan oleh peserta-peserta sebelumnya dengan mendapat kelebihan dari nilai uang yang dikumpulkannya selama arisan berlangsung. Hadirin rahimakumullah. TَŒVْ Xَ‫ ِ’ ِإ‬zَ¢ ِ ْ]€ُ X‫ب ا‬ ِ Tَ–Ž ْÙ َ ‫ وَا‬TَŒtِ TَwْŠُ ْoSِ ‫œ َر‬c … َ ‫ َو‬o َ_ َ wَ TَS‫ َو‬TŒْkSِ Šَ Œَ Ú َ TَS Ë َ … ِ ‫]َا‬fَ X‫Š َم ا‬c … َ ْ‫œِي‬Xc‫¿ ا‬ ِ }ُ €ْ s َ Xْ‫ا‬ ِ fِ _ ْ Xُ Qzَ ¡ُ Šُ pُ ¤ ْ ‫ ِ َوَأ‬tِ Tَ`… ْ ‫ ِإ‬Qَz َ ¡ُ }ُ €َ … ْ ‫ْ َأ‬e‫ ُه‬TَVtْ ‫ْ َو ُد‬eŒِ kِ ْ ‫ْ ِد‬Z\ِ ْe‫ —Š ُه‬ ُ َ Tَ€ َ ْeŒُ Xَ ’ً tَ TَV¢ ِ ‫ ِد ِ¡ َو‬Tَ–~ِ wِ ’ً €ْ…‫َر‬ }ُ Œَ ¤ ْ ‫ َوَأ‬،ِbِ Tَf¢ ِ ‫ ِ َو‬Áِ T€َ Ž ْ ‫ ِ َوَأ‬Uِ Vc ‫]ْ ِه‬Xُ‫ ِ َوُأ‬Uِ Vc wِ ْ]wُ‫ْ ُر‬Z\ِ ُ Xَ ˆ َ ْ Šِ ¤ َ ® َ ¡ُ }َ … ْ ‫¿ َو‬ ُ ‫®ا‬ c ‫ َ ِإ‬Xِ‫® إ‬ َ ْ‫ َŒ ُ} َأن‬¤ ْ ‫ َوَأ‬،ِtِ TَkUِ Sْ ‫وَا‬ Qzَ‫ ِ َو‬Vْ zَ َ ¿ ُ ‫ ا‬Qcz¢ َ ،ُkْ Sِ Tَ‫œ َره‬c … َ ® ّ ‫Š إ‬c ¤ َ ® َ ‫ َو‬،ِVْ zَ َ ’َ cSÙ ُ‫لا‬ c ‫® َد‬ c ‫ َŠ ِإ‬Vْ g َ ® َ ُ Xُْ]Ž ُ ‫ ْ– ُ} ُ¡ َو َر‬ َ ‫}ًا‬c€s َ Sُ ‫ن‬ c ‫َأ‬ Ë ِ … ِ ‫]َا‬fَ Xْ ‫ ا‬eَ± ْ ‫ْ َأ‬oSِ ‫ن‬ c ‫ ُ€]ْا َأ‬zَ ْ ‫ وَا‬QَXTَ~bَ ¿ َ ‫]ْا ا‬aُ bc ‫ ا‬،ُ‫س‬TckX‫ ا‬TَŒ— ‫ َأ‬:ٌ}~ْ wَ TcS‫؛ َأ‬Tً€Vْ zِ` ْ bَ eَ zcŽ َ ‫ ِ َو‬wِ Tَs¢ ْ ‫ ِ َوَأ‬Xِ› Tَ tَ ªِّ X‫ َ’ ا‬  َ… ِ Tَ\ ¿ ُ ‫ ا‬TَŒSَ Šc … َ ْZUِ Xc‫ا‬ Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. pada perkembangannya ada model-model arisan yang diboncengi dengan lelang motor atau semacamnya yang perlu diwaspadai. dan seluruh kaum muslimin yang senantiasamengikuti petunjuknya. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada nabi kita Muhammad. Lc. Khutbah Pertama Namun. Segala puji bagi Allah Subhanahuwata’ala.

” (an. yaitu dicambuk dengan seratus cambukan. serta mendatangkan kehinaan dan bencana di dunia dan akhirat. sebagaimana dalam firman-Nya. Ini hukuman bagi pelaku zina yang belum menikah. besarnya dosa dan kejelekan perbuatan zina ini juga ditunjukkan dalam sisi lainnya di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya). ْeUُkُ‫ ِ إِن آ‬zcX‫ ا‬o ِ ِ‫ د‬Zِ\ ’ٌ \َ ْ‫ َرأ‬Tَ€Œِ wِ eُ‫œْآ‬g ُ ْ«bَ TَX‫ َ} ٍة ۖ َو‬zْ© َ ’َ Áَ TِS Tَ€Œُ kْ Sn }ٍ … ِ ‫™ وَا‬ c ‫}ُوا ُآ‬zِ© ْ Tَ\ Zِt‫ا‬ªc X‫ ُ’ وَا‬Vَ tِ ‫ا‬cªX‫ا‬ o َ VِkSِ ْ“€ُ Xْ ‫ ا‬o َ Sn ’ٌ fَ Áِ Tَr Tَ€Œُ wَ ‫œَا‬ َ ْ}Œَ   ْ Vَ Xْ ‫ ِŠ ۖ َو‬g ِ ÑْX‫]ْ ِم ا‬Vَ Xْ ‫ ِ وَا‬zcXTِw ‫ن‬ َ ]ُkSِ ْ“bُ “Perempuan yang berzina dan lakilaki yang berzina. Di samping itu. Adapun hukuman bagi pelaku zina yang sudah menikah.Nur: 2) Demikian hukuman bagi pelaku zina. dan sebagaimana ditunjukkan dalam dalil yang lainnya. juga ditambah dengan diasingkan dari daerahnya selama Majalah Asy Syariah Edisi 85 satu tahun penuh. sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. ْ™~َ fْ َ oَS‫ن ۚ َو‬ َ ]ُtْªَ TَX‫ َو‬Ì ns َ XْTِw TcX‫ ُ ِإ‬zcX‫Š َم ا‬c … َ ZِUXc‫¼ ا‬ َ fْ kc X‫ن ا‬ َ ]ُzUُaْ َ TَX‫ َŠ َو‬g َ › TًŒXَٰ‫ ِ ِإ‬zcX‫ ا‬²َ Sَ ‫ن‬ َ ]ُْ}َ TَX o َ ِœXc‫وَا‬ TًSTَ{‫ َأ‬Ì َ zْ َ ˆ َ Xَِٰ‫ذ‬ “Dan orang-orang yang tidak beribadah kepada sesembahan yang lain bersama dengan peribadahannya kepada Allah dan tidak membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali dengan (alasan) yang benar dan tidak berzina. Allah l berfirman. maka cambuklah tiaptiap seorang dari keduanya seratus kali cambukan dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kalian untuk (menjalankan) agama Allah. meskipun baru sekali menghubungi istrinya adalah dirajam dengan dilempari batu hingga mati.” (alFurqan: 68) Diiringkannya perbuatan zina ini dengan kejelekan syirik dan membunuh jiwa yang Allah Subhanahuwata’ala haramkan menunjukkan betapa besarnya dosa dari perbuatan ini sehingga balasannya pun berupa azab yang berlipat-lipat dan menghinakan. Zina adalah perbuatan keji dan menimbulkan kerusakan yang paling besar di muka bumi ini.Hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.” (alIsra: 32) Allah Subhanahuwata’ala memberitakan dalam ayat ini tentang jeleknya zina dan akibat yang ditimbulkan oleh kejelekannya. Di antara hal yang menunjukkan keji dan jeleknya perbuatan ini adalah hukuman yang telah Allah Subhanahuwata’ala tetapkan atas pelakunya. Perbuatan zina akan merusak nasab dan kehormatan serta akan memunculkan kebencian dan permusuhan di antara manusia. Yaitu bahwa kejelekan zina disebutkan di dalam al-Qur’an dan asSunnah beriringan dengan syirik dan kejahatan pembunuhan. Barang siapa yang melakukan yang demikian itu.TًzVِ–Ž َ ‫ َء‬TَŽ‫ ً’ َو‬  َ… ِ Tَ\ ‫ن‬ َ Tَ‫ ُ آ‬tc‫ ۖ ِإ‬Tَtªn X‫ُ]ا ا‬wŠَ aْ bَ TَX‫َو‬ “Dan janganlah kamu mendekati zina. Allah Subhanahuwata’ala menyatakan bahwa zina adalah jalan yang buruk karena kejelekan yang diakibatkannya sangat besar. Hukuman bagi pelaku zina yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahuwata’ala di dunia ini tentu menunjukkan betapa besarnya dosa dari perbuatan ini. Hadirin rahimakumullah. selama pelakunya tidak bertaubat dan kembali kepada Allah Page 78 . jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir.

: Hingga firman-Nya. maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. barang siapa yang tidak menjaga kemaluannya bukanlah orang yang beruntung. Majalah Asy Syariah Edisi 85 Hadirin rahimakumullah. Hadirin rahimakumullah. barang siapa yang tidak menjaga kemaluannya maka dia dia adalah orang yang tercela. Ketahuilah bahwa Allah Subhanahuwata’ala telah menjadikan dan mengaitkan keberuntungan seseorang dengan penjagaan kehormatan dirinya dari terjatuh pada zina. bahkan dia adalah orang yang tercela dan melampaui batas. Oleh karena itu. sebagaimana dalam firman-Nya.Subhanahuwata’ala serta memperbanyak beramal saleh.” (al-Mu’minun: 5—7) Di dalam ayat ini kita bisa mendapatkan penjelasan tiga perkara yang besar. Yang kedua. Ditetapkannya hukuman bagi pelakunya dengan perincian sebagaimana telah disebutkan yang pelaksanaannya dipersaksikan di depan umum. orang yang tidak menjaga kehormatan dirinya sehingga terjatuh pada zina atau hubungan sesama jenis dan yang semisalnya. Telah kita ketahui betapa kejinya perbuatan zina dan bagaimana hukuman Allah Subhanahuwata’ala yang sangat keras bagi orang yang melakukannya di dunia dan akhirat. mudahmudahan apa yang kami sampaikan bisa menjadi peringatan bagi kita semuanya. o ِ €َ \َ () o َ VِS]ُzSَ Šُ Vْ » َ ْeŒُ tc |ِ\َ ْeŒُ tُTَ€ْ ‫‚ْ َأ‬pَ zَSَ TَS ْ‫ْ َأو‬eŒِ © ِ ‫ٰ َأزْوَا‬Qzَ َ TcX‫ن )( ِإ‬ َ ]ُ±\ِ Tَ… ْeŒِ © ِ ‫Šُو‬fُ Xِ ْe‫ ُه‬o َ ِœXc‫وَا‬ ‫ن‬ َ ‫دُو‬Tَ~Xْ ‫ ا‬eُ ‫ˆ ُه‬ َ §ِ Xَٰ‫ˆ َ\«ُو‬ َ Xَِٰ‫ٰ َورَا َء ذ‬Qºَ Uَ wْ ‫ا‬ “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Barang siapa mencari yang di balik itu. segala puji bagi Allah Subhanahuwata’ala yang karena kasih sayang-Nya yang besar terhadap hamba-hamba-Nya. dia tidak mendapatkan keberuntunan. Allah Subhanahuwata’alal telah meletakkan banyak rambu untuk mencegah terjatuhnya seseorang pada perbuatan yang keji ini. (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalat mereka.” (al-Mu’minun: 1—2) Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Hal ini tentunya akan menjadi pelajaran bagi si pelaku ataupun yang menyaksikannya dan akan menjadi peringatan yang mencegah terjatuhnya seseorang pada perbuatan Page 79 . barang siapa yang tidak menjaga kemaluannya dia adalah orang yang melampaui batas. kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki. Marilah kita senantiasa takut dari azab Allah Subhanahuwata’ala dengan senantiasa menjaga keimanan dan tidak melanggar batasbatas syariat-Nya. Yang pertama. Di antaranya adalah: 1. Akhirnya. Khutbah Kedua ‫}ًا‬c€s َ Sُ ‫ن‬ c ‫ َŒ ُ} َأ‬¤ ْ ‫ َوَأ‬o َ ْ }ِّ X‫ ُ ا‬Xَ o َ Vْ · ِ zِ‹ ْ Sُ ُ Xَ ˆ َ ْ Šِ ¤ َ ® َ ¡ُ }َ … ْ ‫ َو‬،ُ¿‫® ا‬ c ‫ َ إ‬Xَ‫ َŒ ُ} َأنْ ِإ‬¤ ْ ‫ َأ‬o َ Vْ €ِ XَTَ~Xْ ‫ب ا‬ n ‫ ْ€ ُ} َر‬s َ Xْ‫ا‬ }ُ ~ْ wَ TcS‫ن َأ‬ ٍ Tَ`… ْ |ِ wِ ْeŒُ ~َ –ِ bَ ْoSَ ‫ ِ َو‬wِ Tَsْ¢‫ِ َوَأ‬X› Qَz َ ‫ ِ َو‬Vْ zَ َ ¿ ُ ‫ ا‬Qcz¢ َ ،َoVْ Vn–ِ kcX‫ ا‬eَ bَ Tَg “Sesungguhnya beruntunglah orangorang yang beriman. ‫ن‬ َ ]ُ~¤ ِ Tَg ْeŒِ bِ Tzَ¢ َ Zِ\ ْe‫ ُه‬o َ ِœXc‫ن )( ا‬ َ ]ُkSِ ْ“€ُ Xْ ‫ ا‬Æ َ zَ\ْ ‫َ}ْ َأ‬ Jadi. Adapun yang ketiga.

Termasuk perkara yang akan menjadi penghalang dari terjatuh pada zina adalah perintah Allah l terhadap para wanita untuk berhijab. dinyatakan sahih oleh al-Albani) Majalah Asy Syariah Edisi 85 Dari hadits ini. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. 3. Maka dari itu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. Perintah Allah Subhanahuwata’ala untuk menjaga pandangan. maka akan menjadi sarana untuk mencegah terjadinya perbuatan zina. jangan kamu ikutkan pandangan dengan pandangan (berikutnya) karena sesungguhnya bagimu pandangan yang pertama dan bukanlah bagimu pandangan yang terakhir. Sebab. dan seterusnya.Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. tidak dimungkiri bahwa yang menjadi sebab pertama yang menyeret seseorang pada perbuatan zina adalah dimulai dari pandangan matanya. maka tentu saja hal ini akan Page 80 . sebagaimana dalam firman. karena itu mereka tidak diganggu dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (HR. Namun tidak boleh baginya untuk terus memandangnya karena memandang secara disengaja tidak dibolehkan dalam syariat. kita memahami bahwa seseorang kalau tanpa disengaja memandang wanita yang bukan mahramnya. ‫ن‬ َ ]ُ~kَ · ْ َ Tَ€wِ ٌŠVِ–g َ َ zcX‫ن ا‬ c ‫ْ ۗ ِإ‬eŒُ Xَ ٰQ‫ˆ َأزْ َآ‬ َ Xَِٰ‫ْ ۚ ذ‬eŒُ © َ ‫ُ]ا ُ\Šُو‬±fَ s ْ َ ‫ْ َو‬e‫ ِر ِه‬Tَ·wْ ‫ْ َأ‬oSِ ‫—]ا‬ºُ َ o َ VِkSِ ْ“€ُ zْ Xn ™ُ o c Œُ © َ ‫ ُ\Šُو‬o َ± ْ fَ s ْ َ ‫ َو‬o c ‫ ِر ِه‬Tَ·wْ ‫ْ َأ‬oSِ o َ ْ  ُ ْºَ ‫ت‬ ِ TَkSِ ْ“€ُ zْXn ™ُ‫)( َو‬ Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman. anak-anak perempuanmu. 2.” (alAhzab: 59) Dengan menjalankan perintah menutup aurat dan hal-hal yang bisa menarik perhatian laki-laki ini. diteruskan dengan berkenalan. maka hal itu tidak berdosa. ‫ َŠ ُة‬g ِ ÑْX‫ˆ ا‬ َ Xَ ْ‚` َ Vْ Xَ‫ َو‬QَzXُْ‫ˆ ا وْأ‬ َ Xَ ‫ن‬ c |ِ\َ ،َ‫ َŠة‬± ْ kcX‫ َŠ َة ا‬± ْ kc X‫ ا‬²ِ –ِ Uْ bُ ® َ ،—Zzِ َ Tَ “Wahai ‘Ali. “Hendaklah mereka menahan pandangan dan kemaluannya…” (an. Maka sudah semestinya bagi kita untuk menjaga pandangan dari melihat yang diharamkan karena demikian yang diperintahkan oleh Allah l dan demikian pula yang akan membuat hati tenang dan akan merasakan nikmatnya beribadah kepada Allah Subhanahuwata’ala. dan istri-istri orang mukmin. ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka’.zina yang menghinakan tersebut. katakanlah kepada istri-istrimu.Nur: 30—31) Perintah menahan pandangan ini tentunya sangat besar peranannya dalam menghalangi seseorang terjatuh pada perbuatan zina. Sebaliknya. Seperti perintah Allah Subhanahuwata’ala dalam firmanNya. Ahmad dan Abu Dawud. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal. seseorang yang mengumbar pandangannya kepada setiap yang diinginkannya akan menjatuhkan dia pada perbuatan keji yang akan mendatangkan kemurkaan Allah Subhanahuwata’ala.” Katakanlah kepada wanita yang beriman. serta yang lainnya. yaitu dengan berpakaian yang ketat atau tipis dan menampakkan bagian atau lekuk tubuhnya yang merupakan aurat. jika para wanita mengikuti ajakan para penyeru kebebasan atau kesetaraan yang mendorong untuk tampil tanpa hijab yang menutup auratnya bahkan dengan berbusana tapi telanjang. o َ \ْ Šَ ~ْ ُ ‫ٰ أَن‬Qtَ ْ‫ˆ َأد‬ َ Xَِٰ‫ ۚ ذ‬o c Œِ –ِ VِwTَz© َ oِS o c Œِ Vْ zَ َ o َ Vِtْ}ُ o َ VِkSِ ْ“ُ€Xْ ‫ ِء ا‬Tَ`tِ ‫ˆ َو‬ َ bِ Tَkwَ ‫ˆ َو‬ َ © ِ ‫ َ«زْوَا‬Xn ™ُ Z — –ِ kc X‫ ا‬TَŒ— ‫ َأ‬Tَ Tً€Vِ…‫ر‬c ‫ُ]رًا‬f» َ ُ zcX‫ن ا‬ َ Tَ‫ ۗ َوآ‬o َ ْ ‫ ُ“ْ َذ‬Tَz\َ “Wahai Nabi. “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.

Oleh karena itu.com Majalah Asy Syariah Edisi 85 Page 81 . ASY SYARIAH ONLINE www.com MAKTABAH IMU http://islamicandmedicalupdates. Dengan tidak menutup aurat sebagaimana diatur oleh syariat ini maka dia telah berbuat kejelekan pada dirinya sendiri dan orang lain.menyeret pada perbuatan zina. Begitu pula dilarangnya wanita untuk besolek dan memakai wewangian ketika keluar dari rumah serta dilarangnya mendengarkan nyanyian dan musik karena bisa membuat laki-laki dan wanita tergoda serta menyeret pada pergaulan bebas yang kemudian akan menjatuhkan pada perbuatan zina. Hadirin rahimakumullah. Tidak diragukan bahwa hal ini melanggar batas-batas syariat dan merupakan bentuk meniru orang-orang kafir. Masih banyak lagi perkara-perkara yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahuwata’ala yang di antara hikmahnya adalah untuk menghalangi jatuhnya seseorang kepada zina. Seperti dilarangnya seorang lakilaki dan wanita yang bukan mahramnya untuk berduaan. dilarangnya wanita untuk bepergian dalam jarak safar tanpa mahram. marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahuwata’ala dari terjatuh pada perbuatan zina dengan menjauhi hal-hal yang akan menyeret pada perbuatan yang keji tersebut.blogspot.asysyariah.