You are on page 1of 23

KONSEP DIRI

Dosen pengampu : Ns.Noerma Shovie Rizqiea,M.Kep

OLEH :
Rika Nilamsari

(48/S16A)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA SURAKARTA

TAHUN AJARAN 2016/2017KATA PENGANTAR
Puji dan syukur Penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
berkat limpahan rahmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyusun
makalah ini tepat pada waktunya.Makalah ini membahas kekerasan dalam rumah
tangga.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapat tantangan
dan hambatan akan tetapi dengan berbagai bantuan dari pihak tantangan itu bisa
teratasi.Olehnya itu,penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu dalam penyusunan makalah ini, semoga bantuannya mendapat
balasan yang setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan
baik dari bentuk penyusunan maupun materinya kritik konstruktif dari pembaca
sangat penulis harapkan untuk penyempurnakan makalah selanjutnya.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita
sekalian.

Surakarta,23 September 2016

Penyusun

i

........................................ Saran.... Latar Belakang......... Perlindungan bagi Korban KDRT........... Daftar Pustaka............. Kesimpulan.........................................2 BAB II TINJAUAN TEORI A........i Daftar isi............................15 C...1 B...............................3 B........................6 D....................1 2 BAB III PENUTUP A......ii BAB I PENDAHULUAN A................................................................................16 ................................................................................................................ Faktor-faktor penyebab Kekerasan dalam Rumah Tangga....................................................7 E.................................................................................8 F.......................................................................................................................DAFTAR ISI Kata Pengantar.......................................................... Sudut pandang pancasila............................................................. Pengertian Kekerasan dalam Rumah Tangga........ Bentuk-Bentuk Kekerasan dalam Rumah Tangga.............. Tujuan..................... Cara Penanggulangan Kekerasan dalam Rumah Tangga....................14 B..................................................................................................4 C..............

kepribadian dan pengendalian emosi tiap anggota keluarga sehingga terwujudlah kebahagiaan dalam keluarga. emosi dan sosial) seluruh anggota keluarga. ketegangan. Latar Belakang Hak asasi merupakan hal yang sangat sensitif dalam kehidupan manusia. Wanita sering kali dianggap lebih rendah dibandingkan pria. Hampir diseluruh negara memiliki peraturan tersendiri dalam melindungi HAM. Keluarga adalah unit sosial terkecil dalam masyarakat yang berperan dan berpengaruh sangat besar terhadap perkembangan sosial dan perkembangan kepribadian setiap anggota keluarga. Setiap keluarga masalahnya masing-masing. Keluarga disebut diharmonis apabila terjadi sebaliknya. khususnya wanita dalam pelanggaran kekerasan dalam rumah tangga. Akan tetapi sering kali HAM tersebut masih dipandang sebelah mata apalagi menyangkut perbedaan gender antara pria dan wanita. memiliki cara Apabila untuk menyelesaikan masalah diselesaikan secara baik dan sehat maka setiap anggota keluarga akan mendapatkan pelajaran yang berharga yaitu menyadari dan mengerti perasaan. Penyelesaian konflik secara sehat terjadi bila masingmasing anggota keluarga tidak mengedepankan kepentingan pribadi. mental. sehingga sering kali bermunculan kasus pelanggaran hak asasi manusia. Sebuah keluarga disebut harmonis apabila seluruh anggota keluarga merasa bahagia yang ditandai dengan tidak adanya konflik. mencari akar permasalahan dan membuat solusi yang . kekecewaan dan kepuasan terhadap keadaan (fisik.ii BAB I PENDAHULUAN A.

Menjelaskan yang dimaksud dengan Kekerasan dalam Rumah Tangga. Menjelaskan apa saja bentuk-bentuk Kekerasan dalam Rumah Tangga. Disisi lain. 5. TUJUAN Tujuan dari rumusan masalah di atas yaitu 1. Menjelaskan perlindungan bagi korban KDRT. 1 B. Menjelaskan faktor-faktor penyebab Kekerasan dalam Rumah Tangga. 2. 3. 4. Menjelaskan cara penanggulangan Kekerasan dalam Rumah Tangga.sama-sama menguntungkan anggota keluarga melalui komunikasi yang baik dan lancar. apabila konflik diselesaikan secara tidak sehat maka konflik akan semakin sering terjadi dalam keluarga. .

2 .

dan huruf d perlu dibentuk . hal itu harus mendapatkan perlindungan dari Negara dan/atau masyarakat agar terhindar dan terbebas dari kekerasan atau ancaman kekerasan. huruf b. seksual. yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik. b. atau perlakuan yang merendahkan derajat dan martabat kemanusiaan.23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga. ancaman dan/atau untuk penelantaran melakukan rumah perbuatan. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagai dimaksud dalam huruf a. c. Bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan rasa aman dan bebes dari segala bentuk kekerasan sesuai dengan falsafah Pancasila dan Undang-undang Republik Indonesia tahun 1945. memiliki arti setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan. psikologis. Masalah kekerasan dalam rumah tangga telah mendapatkan perlindungan hukum dalam Undang-undang Nomor 23 tahun 2004 yang antara lain menegaskan bahwa: a. terutama Kekerasan dalam rumah tangga merupakan pelanggaran hak asasi manusia. d.BAB II TINJAUAN TEORI A. huruf c. penyiksaan. Bahwa korban kekerasan dalam rumah tangga yang kebanyakan adalah perempuan. dan kejahatan terhadap martabat kemanusiaan serta bentuk deskriminasi yang harus dihapus. tangga termasuk pemaksaan. atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. Pengertian Kekerasan dalam Rumah Tangga Kekerasan dalam Rumah Tangga seperti yang tertuang dalam Undang-undang No. Bahwa segala bentuk kekerasan.

gigi patah atau bekas luka lainnya. 3. memukul. Biasanya perlakuan ini akan nampak seperti bilurbilur. memukul/melukai dengan senjata. Bentuk-bentuk Kekerasan dalam Rumah Tangga Menurut Undang-Undang No. meludahi. dan sebagainya. menyudut dengan rokok. mengancam atau . 23 Tahun 2004 tindak kekerasan terhadap istri dalam rumah tangga dibedakan kedalam 4 (empat) macam : 1. isteri atau anak diancam hukuman pidana” B. 3 Tindak kekerasan yang dilakukan suami terhadap isteri sebenarnya merupakan unsur yang berat dalam tindak pidana. hilangnya rasa percaya diri.Undang-undang tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga.menakut-nakuti sebagai sarana memaksakan kehendak. komentar-komentar yang menyakitkan atau merendahkan harga diri. muka lebam. Kekerasan seksual . menarik rambut (menjambak). jatuh sakit atau luka berat. Prilaku kekerasan yang termasuk dalam golongan ini antara lain adalah menampar. Perilaku kekerasan yang termasuk penganiayaan secara emosional adalah penghinaan. hilangnya kemampuan untuk bertindak. dasar hukumnya adalah KUHP (kitab undang-undang hukum pidana) pasal 356 yang secara garis besar isi pasal yang berbunyi: “Barang siapa yang melakukan penganiayaan terhadap ayah. ibu. Kekerasan psikologis / emosional Kekerasan psikologis atau emosional adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan. rasa tidak berdaya dan / atau penderitaan psikis berat pada seseorang. mengisolir istri dari dunia luar. 2. menendang. Kekerasan fisik Kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit.

4 Kekerasan seksual berat. ejekan dan julukan dan atau secara non verbal.  merendahkan dan atau menyakitkan. gurauan porno.atau cedera. siulan. Pemaksaan hubungan seksual dengan cara tidak disukai. Kekerasan Seksual Ringan. terteror. Melakukan repitisi kekerasan seksual ringan dapat dimasukkan ke dalam jenis kekerasan seksual berat. seperti meraba. berupa pelecehan seksual secara verbal seperti komentar verbal. memaksa selera seksual sendiri. menyentuh organ seksual. luka. Kekerasan ekonomi . terhina dan merasa dikendalikan. Pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain untuk  tujuan pelacuran dan atau tujuan tertentu. 4. tidak memperhatikan kepuasan pihak istri.Kekerasan jenis ini meliputi pengisolasian (menjauhkan) istri dari kebutuhan batinnya. Tindakan seksual dengan kekerasan fisik dengan atau tanpa bantuan alat yang menimbulkan sakit. mencium secara paksa. seperti ekspresi wajah. berupa:  Pelecehan seksual dengan kontak fisik. Pemaksaan hubungan seksual tanpa persetujuan korban  atau pada saat korban tidak menghendaki. memaksa melakukan hubungan seksual. merangkul serta perbuatan lain yang menimbulkan rasa  muak/jijik. Terjadinya hubungan seksual dimana memanfaatkan  posisi ketergantungan korban pelaku yang seharusnya dilindungi. gerakan tubuh atau pun perbuatan lainnya yang meminta perhatian seksual yang tidak dikehendaki korban bersifat melecehkan dan atau menghina korban.

bahkan menghabiskan uang istri. berupa melakukan upaya- upaya sengaja yang menjadikan korban tergantung atau tidak berdaya secara ekonomi atau tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya. Strauss A. manipulasi dan pengendalian lewat sarana ekonomi berupa:  Memaksa korban bekerja dengan cara eksploitatif termasuk   pelacuran. Contoh dari kekerasan jenis ini adalah tidak memberi nafkah istri. 5 Kekerasan Ekonomi Berat. Melarang korban bekerja tetapi menelantarkannya. merampas dan atau memanipulasi harta benda korban. yang memungkinkan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (marital violence) sebagai berikut: 1. C. Kekerasan Ekonomi Ringan. Pembelaan atas kekuasaan laki-laki . Faktor-faktor penyebab Kekerasan dalam Rumah Tangga. perawatan atau pemeliharaan kepada orang tersebut.Setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya. yakni tindakan eksploitasi. Murray mengidentifikasi hal dominasi pria dalam konteks struktur masyarakat dan keluarga. padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan. Mengambil tanpa sepengetahuan dan tanpa persetujuan korban.

4. maka suami akan menyalah-kan istri sehingga tejadi kekerasan dalam rumah tangga. diterima sebagai pelanggaran hukum. Diskriminasi dan pembatasan dibidang ekonomi Diskriminasi dan pembatasan kesempatan bagi wanita untuk bekerja mengakibatkan wanita (istri) ketergantungan terhadap suami. D.Laki-laki dianggap sebagai superioritas sumber dibandingkan dengan wanita. dan ketika suami kehilangan pekerjaan maka istri mengalami tindakan kekerasan. 3. dan Laki-laki merasa punya hak untuk melakukan kekerasan sebagai seorang bapak melakukan kekerasan terhadap anaknya agar menjadi tertib. sehingga penyelesaian kasusnya sering ditunda atau ditutup. Alasan yang lazim dikemukakan oleh penegak hukum yaitu adanya legitimasi hukum bagi suami melakukan kekerasan sepanjang bertindak dalam konteks harmoni keluarga. Beban pengasuhan anak Istri yang tidak bekerja. mengakibatkan kele-luasaan laki-laki untuk mengatur mengendalikan segala hak dan kewajiban wanita. Wanita sebagai anak-anak Konsep wanita sebagai hak milik bagi laki-laki menurut hukum. 2. Ketika terjadi hal yang tidak diharapkan terhadap anak. sehingga mampu daya mengatur dan mengendalikan wanita. Orientasi peradilan pidana pada laki-laki Posisi wanita sebagai istri di dalam rumah tangga yang mengalami kekerasan oleh suaminya. menjadikannya menanggung beban sebagai pengasuh anak. Cara Penanggulangan Kekerasan dalam Rumah Tangga . 6 5.

3) Harus adanya komunikasi yang baik antara suami dan istri. sehingga kekurangan ekonomi dalam keluarga dapat diatasi dengan baik. Dengan berlakunya Undang-Undang No. 5) Seorang istri harus mampu mengkoordinir berapapun keuangan yang ada dalam keluarga.Untuk menghindari terjadinya Kekerasan dalam Rumah Tangga. sehingga seorang istri dapat mengatasi apabila terjadi pendapatan yang minim. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT) maka persoalan . saling menghargai dan sebagainya antar anggota keluarga. serta dapat saling mengahargai setiap pendapat yang ada. antara lain: 1) Perlunya keimanan yang kuat dan akhlaq yang baik dan berpegang teguh pada agama sehingga dapat menyelesaikan permasalahan dengan kesabaran. Jika tidak ada rasa kepercayaan maka yang timbul adalah sifat cemburu yang kadang berlebih dan rasa curiga yang kadang juga berlebih-lebihan. agar tercipta sebuah rumah tangga yang rukun dan harmonis. Sehingga rumah tangga dilandasi dengan rasa saling percaya. 4) Butuh rasa saling percaya. Jika sudah ada rasa saling percaya. 7 E. diperlukan cara-cara penanggulangan Kekerasan dalam Rumah Tangga. kini menjadi fakta dan relita dalam kehidupan rumah tangga. maka mudah bagi kita untuk melakukan aktivitas. pengertian. 2) Harus tercipta kerukunan dan kedamaian di dalam sebuah keluarga. Perlindungan bagi Korban KDRT Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dulu dianggap mitos dan persoalan pribadi (private).

perkawinan. Peran pihak lainnya lebih bersifat individual. pengadilan atau pihak lainnya. 8 Dilihat dari stelsel hukum pidana. Sebagian besar korban KDRT adalah kaum perempuan dan pelakunya adalah suami. persusuan. atau mengetahui terjadinya tindak KDRT. agama dan sistem hukum yang belum dipahami. Pelaku atau korban KDRT adalah orang yang mempunyai hubungan darah. Padahal perlindungan oleh negara dan masyarakat bertujuan untuk memberi rasa aman terhadap korban serta menindak pelakunya. perwalian dengan suami. atau orang-orang yang tersubordinasi di dalam rumah tangga itu. UU PKDRT secara substanstif memperluas institusi dan lembaga pemberi perlindungan agar mudah diakses oleh korban KDRT. perlindungan. Ironisnya kasus KDRT sering ditutup-tutupi oleh si korban karena terpaut dengan struktur budaya. dan anak bahkan pembatu rumah tangga. lembaga sosial. advokat. sementara institusi dan lembaga resmi yang menangani perlindungan korban KDRT sangatlah terbatas. Peran itu diperlukan karena luasnya ruang dan gerak tindak KDRT. bahwa institusi dan lembaga pemberi perlindungan itu tidak terbatas hanya lembaga penegak hukum.KDRT ini menjadi domain publik. kejaksaan. tetapi termasuk juga lembaga sosial bahkan disebutkan pihak lainnya. pertolongan darurat serta membantu pengajuan permohonan penetapan perlindungan baik langsung maupun melalui institusi dan lembaga resmi yang ada. Pihak lainnya itu adalah setiap orang yang mendengar. Mereka diwajibkan mengupayakan pencegahan. Di sini terlihat. walaupun ada juga korban justru sebaliknya. tinggal di rumah ini. kepolisian.baik perlindungan sementara maupun berdasarkan penetapan pengadilan. melihat. tindak KDRT ini adalah tindak kekerasan sebagaimana diatur dalam Kitab Undang- . pengasuhan. yaitu pihak keluarga.

Itu sebabnya. Penyelesaiannya harus dilakukan secara komprehensif. psikologi. serta berpotensi dilakukan secara berulang (pengulangan) dengan penyebab (causa) yang lebih kompleks dari tindak kekerasan pada umumnya. kesehatan.Undang Hukum Pidana (KUHP) yakni tindak pidana penganiayaan. melalui proses sosial. tentu persoalan mendapatkan dan atau memberikan perlindungan itu bukanlah masalah. Yang lebih penting lagi adalah bagaimana persoalan itu dipahami oleh masyarakat luas sehingga cita-cita yang hendak dicapai oleh legislator yang terkandung dalam UU PKDRT dapat terwujud sesuai harapan. dan agama. kesusilaan. hukum. korban dan pelakunya terikat hubungan kekerasan atau hubungan hukum tertentu lainnya. Lalu mengapa masih diperlukan UU PKDRT? Memang. Tetapi bagi institusi dan lembaga di luar itu. dengan melibatkan berbagai disiplin. serta bagaimanakah hubungan masing-masing institusi dan lembaga pemberi perlindungan itu secara konkret dan faktual di lapangan? Itulah pokok persoalan yang perlu dibahas lebih lanjut. serta penelantaran orang yang perlu diberi nafkah dan kehidupan. Bagi korban yang status soseknya lebih tinggi atau institusi dan lembaga yang tugas dan fungsinya selaku penegak hukum. Bentuk perlindungan Korban KDRT atau bahkan lembaga pemberi perlindungan bagaimana itu sendiri belum tentu memahami perlindungan itu didapatkan dan bagaimana diberikan. Bagaimanakah bentuk dan cara perlindungan itu. tindak kekerasan yang diatur dalam PKDRT ini mempunyai sifat khas/spesifik. tindak kekerasan ini lebih merupakan persoalan sosial yang tidak hanya dilihat dari perspektif hukum. perlu mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang cukup serta . misalnya peristiwa itu terjadi di dalam rumah tangga. lintas institusi dan lembaga.

Perlindungan oleh institusi dan lembaga non-penegak hukum lebih bersifat pemberian pelayanan konsultasi. UU PKDRT juga membagi perlindungan itu menjadi perlindungan yang bersifat sementara dan perlindungan dengan penetapan pengadilan serta pelayanan. 9 Artinya tidak semua institusi dan lembaga itu dapat memberikan perlindungan apalagi melakukan tindakan hukum dalam rangka pemberian sanksi kepada pelaku. Selain itu. Perlindungan dan pelayanan diberikan oleh institusi dan lembaga sesuai tugas dan fungsinya masing-masing: a) Perlindungan oleh kepolisian berupa perlindungan sementara yang diberikan paling lama 7 (tujuh) hari. kepolisian wajib meminta surat penetapan perintah perlindungan dari pengadilan. mediasi.akreditasi selaku institusi dan lembaga pemberi perlindungan terhadap korban KDRT. Artinya tidak sampai kepada litigasi.Pemerintah dan masyarakat perlu segera membangun rumah aman (shelter) untuk menampung. pendampingan dan rehabilitasi. peran masing-masing institusi dan lembaga itu sangatlah penting dalam upaya mencegah dan menghapus tindak KDRT. relawan pendamping dan pembimbing rohani untuk mendampingi korban. sosial. Tetapi walaupun demikian. melayani dan mengisolasi korban dari pelaku . UU PKDRT secara selektif membedakan fungsi perlindungan dengan fungsi pelayanan. Pelayanan terhadap korban KDRT ini harus menggunakan ruang pelayanan khusus di kantor kepolisian dengan sistem dan mekanisme kerja sama program pelayanan yang mudah diakses oleh korban. dan dalam waktu 1 X 24 jam sejak memberikan perlindungan. Perlindungan sementara oleh kepolisian ini dapat dilakukan bekerja sama dengan tenaga kesehatan.

melakukan koordinasi dengan sesama penegak hukum. c) Perlindungan dengan penetapan pengadilan dikeluarkan dalam bentuk perintah perlindungan yang diberikan selama 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang. dan pekerja sosial(kerja sama dan kemitraan). penuntutan. dan mendampingi korban di tingkat penyidikan. Sejalan dengan itu. relawan pendamping. Bahkan kepolisian dapat melakukan penangkapan dan penahanan tanpa surat perintah terhadap pelanggaran perintah perlindungan. Pengadilan juga dapat memberikan perlindungan tambahan atas pertimbangan bahaya yang mungkin timbul terhadap korban. 10 b) Perlindungan oleh advokat diberikan dalam bentuk konsultasi hukum. kepolisian sesuai tugas dan kewenangannya dapat melakukan penyelidikan. penangkapan dan penahanan dengan bukti permulaan yang cukup dan disertai dengan perintah penahanan terhadap pelaku KDRT. Pengadilan dapat melakukan penahanan dengan surat perintah penahanan terhadap pelaku KDRT selama 30 (tiga puluh) hari apabila pelaku tersebut melakukan pelanggaran atas pernyataan yang ditandatanganinya mengenai kesanggupan untuk memenuhi perintah perlindungan dari pengadilan.KDRT. dan pemeriksaan dalam sidang pengadilan (litigasi). melakukan mediasi dan negosiasi di antara pihak termasuk keluarga korban dan keluarga pelaku (mediasi). . artinya surat penangkapan dan penahanan itu dapat diberikan setelah 1 X 24 jam.

f) Pelayanan relawan pendamping diberikan kepada korban mengenai hak-hak korban untuk mendapatkan seorang atau beberapa relawan pendamping. memberikan informasi mengenai hak-hak korban untuk mendapatkan perlindungan. mendampingi korban memaparkan secara objektif tindak KDRT yang dialaminya pada tingkat penyidikan. Bentuk perlindungan dan pelayanan ini masih besifat normatif. kewajiban dan memberikan penguatan iman dan takwa kepada korban. penuntutan dan pemeriksaan pengadilan. mampu dijalankan dan diakses oleh korban KDRT. serta mengantarkan koordinasi dengan institusi dan lembaga terkait. . Tanpa upaya sungguh-sungguh dari pemerintah dan semua pihak. Tenaga kesehatan sesuai profesinya wajib memberikan laporan tertulis hasil pemeriksaan medis dan membuat visum et repertum atas permintaan penyidik kepolisian atau membuat surat keterangan medis lainnya yang mempunyai kekuatan hukum sebagai alat bukti. g) Pelayanan oleh pembimbing rohani diberikan 11 untuk memberikan penjelasan mengenai hak.d) Pelayanan tenaga kesehatan penting sekali artinya terutama dalam upaya pemberian sanksi terhadap pelaku KDRT. mendengarkan dan memberikan penguatan secara psikologis dan fisik kepada korban. maka akan sangat sulit dan mustahil dapat mencegah apalagi menghapus tindak KDRT di muka bumi Indonesia ini. Adalah tugas pemerintah untuk merumuskan kembali pola dan strategi pelaksanaan perlindungan dan pelayanan dan mensosialisasikan kebijakan itu di lapangan. e) Pelayanan pekerja sosial diberikan dalam bentuk konseling untuk menguatkan dan memberi rasa aman bagi korban. karena berbagai faktor pemicu terjadinya KDRT di negeri ini amatlah subur. belum implementatif dan teknis oparasional yang mudah dipahami.

menempatkan manusia sesuai dengan hakikatnya sebagai makhluk Tuhan. . 12 Dalam sila kedua terdapat pokok-pokok pikiran antara lain . karena KDRT justru acapkali dilakukan oleh mereka yang kondisi sosial ekonominya baik. F. tenteram. menjunjung tinggi kemerdekaan sebagai hak segala bangsa. Terutama pada sila kedua. dan mewujudkan keadilan dan peradaban yang tidak lemah. agama dan hak asasi manusia. perangai dan tabiat pelaku yang kasar. hukum. serta gagal dalam karier dan pekerjaan ternyata tidaklah sepenuhnya benar. tindakan kekerasan dalam rumah tangga merupakan tindakan yang menyimpang dari pancasila. ekonomi. Upaya menghapus KDRT di muka bumi Indonesia adalah perjuangan panjang bangsa ini. Sehingga dengan demikian.Bahwa anggapan orang terjadinya KDRT merupakan akibat dari suatu sebab konvensional seperti disharmonisasi dari tekanan sosial ekonomi yang rendah. sukses karier dan pekerjaannya. Sudut pandang pancasila Pancasila sebagai Dasar Negara telah jelas mengatakan bahwa segala tindak kekerasan adalah dilarang karena bertentangan dengan sila pancasila. khususnya kaum perempuan yang rentan menjadi korban KDRT. KDRT merupakan multi persoalan. bahkan berpendidikan tinggi. adil dan bermartabat bagi keluarga dan bangsa Indonesia. budaya. termasuk persoalan sosial. Upaya sungguh-sungguh itu diharapkan dapat mempengaruhi struktur dan karakteristik multi persoalan tadi menjadi nilai yang diyakini benar dan dapat memberi rasa aman. yaitu “ Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Adapun maksud yang terkait dalam masalah yang kami angkat adalah setiap manusia baik laki-laki maupun perempuan tidak boleh menjadi obyek kekerasan dengan alasan apapun dan bagaimanpun.

13 .

Berdasarkan peristiwa tersebut dapat disimpulkan bahwa implementasi Undang-Undang Nomor 23 tahun 2004 tentang PKDRT tidak berjalan efektif. KDRT merupakan suatu tindak pelanggaran Hak Asasi Manusia. dan tidak semena-mena terhadap orang lain. Oleh karena itu dibutuhkan kerjasama mendukung dari berbagai implementasi lembaga yang undang-undang berwenang KDRT agar dapat bisa meminimalisir terjadinya tindak pidana KDRT. mengingat kasus seperti ini sangat banyak di Indonesia. Suhaebi. Karena dalam penerapannya masih banyak kasus yang tidak diselesaikan lewat jalur hukum dan terhenti pada pihak kepolisian saja sehingga menghambat kinerja Undang-Undang PKDRT. CONTOH KASUS Contoh kasus Kekerasan dalam Rumah Tangga yang kami ambil adalah Kekerasan dalam Rumah Tangga yang dialami oleh Cici Paramida. Beberapa uraian dari sila ini yang sangat bertentangan dengan tindak kekerasan terutama KDRT adalah saling mencintai sesama manusia. Kesimpulan Perlindungan wanita dalam konteks KDRT ternyata sangat penting untuk diperhatikan. yaitu “kemanusiaan yang adil dan beradab”. Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) jika dilihat sudut pandangnya dari pancasila sudah sangat jelas merupakan tindakan yang tidak sesuai terutama dengan sila ke-2. wajah Cici Paramida babak belur akibat peristiwa penabarakan yang diduga dilakukan suaminya. Peristiwa itu sendiri berawal ketika Cici yang mencurigai suaminya membawa perempuan lain mencoba mengejar mobil suaminya hingga ke kawasan puncak. . menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.BAB III PENUTUP A. Dimana dalam kasus KDRTnya ini.

Suatu hubungan akan berjalan harmonis apabila sebuah pasangan dilandasi dengan percaya kepada pasangannya. Jalan Raya Puncak. SARAN Demikian yang dapat kami jelaskan semoga bemanfaat bagi pembaca dan dalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangan-kekurangan oleh karena itu kami menerima saran dan kritik yang sifatnya membangun.Kabupaten Bogor. Saat kedua mobil tiba di kawasan Gang Semen. Kemudian atas Kekerasan yang dilakukan oleh Suhebi. tiba-tiba mobil digas sehingga menyerempet Cici. 14 Cici kemudian turun dari mobil. Akibatnya Cici Paramida tampak terluka di bagian wajah dan lengan seperti bekas tersenggol. mobil Cici menyalip. Namun kejadian ini tidak akan terjadi apabila sang istri menanyaka secara baik-baik kepada suaminya. Dari contoh kasus diatas kita dapat menarik kesimpulan bahwa seorang suami seharusnya menjaga kepercayaan yang diberikan oleh istrinya. B. Cici melaporkan tindakan kekerasan itu polisi. Cisarua. senantiasa . Apakah benar ia bersama perempuan lain atau hanya sekedar rekan kerjanya. “Saat dia mau mendekati mobil itu.

15 .

Mansour. Pranata Hukum Sebuah Telaah Sosiologis. 16 . Anton F. Bandung. 1991. 1998. Politik Hukum Menuju Satu Sistem Hukum Nasional . Otje Salman. Yogyakarta: CIDESINDO. Alumni. Sunaryati. Bandung: Alumni.F. Hartono. Fakih. C.G. Semarang. Diskriminasi dan Beban Kerja Perempuan: Perspektif Gender. Beberapa Asoek Sosiologi Hukum. Suryandaru utama. Susanto.DAFTAR PUSTAKA Esmi Warassih.