Sang Penjilat

Karya : Anton Widyanto

Malam menggairahkan itu datang kembali. Tepat pukul 24.00 WIB, wajah Durjan tiba-tiba
kembali berubah. Matanya mencorong. Perutnya agak membuncit.
Di bagian belakang tubuhnya, perlahan mencuat sesuatu yang semakin lama semakin
bertambah memanjang. Moncongnya mengerucut maju. Kedua kupingnya agak melancip.
Kukunya yang biasa pendek, memanjang satu per satu. Tajam. Setajam pandangan matanya
yang berubah membelalak.
Penciumannya juga semakin ampuh. Ia dapat mencium manisnya kue dan apa pun dari dalam
kamarnya, bahkan aroma duit dari yang kertas sampai
recehan. Ia mencoba berdiri, tapi tidak sanggup. Kedua tangan dan kakinya kompak
membenamkan hasrat Durjan yang ingin berdiri. Nalurinya mengajarkan ia untuk merangkak.
Ya, merangkak. Tapi yang jelas bukan seperti bayi yang baru belajar.
***
Durjan punya sejarah terlahir dari keluarga yang sebenarnya selalu berkecukupan, bahkan
bisa dikatakan berlebihan. Ayahnya seorang pegawai pajak dan ibunya bertugas sebagai
bendahara di lingkungan Pemerintahan Daerah. Urusan kebutuhan harian, bukan masalah.
Semua ada. Semua tersedia. Apa saja, mulai dari urusan menyantap makanan mewah, biaya
pendidikan, sepeda motor, mobil, pakaian, tak ada yang perlu dikhawatirkan.
Tanpa perlu bantuan jin model Aladin yang pakai simsalabim, semua bisa dipenuhi segera.
“Durjan,” panggil ayahnya suatu kali saat ia berusia 14 tahun. “Untuk jadi orang besar nanti,
kamu tidak perlu pintar,” sambung ayahnya.
Durjan terdiam, tak mengerti. “Kamu hanya perlu memupuk rasa culas dan serakah dalam
dirimu. Buat apa pintar kalau tidakculas? Yang ada malah cuma jadi sampah masyarakat.
Pengangguran. Nyusahin negara,” ayahnya menjelaskan sambil mengelus batu cincin
barunya dengan kain putih.

Badannya akan terasa menggigil. Soal tugas. Tidak perlu heran karena memang dia tidak kuliah dengan sebenarnya kuliah. demam dan rasanya mau mati. “Kok bisa Yah?” tanya Durjan. Atau kadangkala tinggal memakai jurus menjiplak karya orang lewat Internet yang jumlahnya ribuan. Setelah lulus kuliah. Awalnya terasa sakit. “Ikuti saja. “Suatu saat kamu akan mengerti. Kali ini ayahnya tidak tersenyum. dia tinggal mengongkoskan teman. *** Kini usia Durjan sudah menginjak kepala tiga. dia langsung diangkat di sebuah dinas pemerintah. “Tahu dimana ayah dapat ini?” tanya ayahnya lagi. penuh makna.Warna batu itu semakin lama digosok semakin terlihat mengkilap.Ayah Durjan seringkali berpesan agar Durjan selalu berlatih memanjangkan lidah. Persis orang yang kecanduan putaw yang mengalami sakau. Setelah menghela kecil nafasnya. Ia masih selalu menjalankan ritual menjulurkan lidahnya setiap kali bangun pagi dan menjelang tidur. Dari segi karier. Yang ia tahu. tapi justru tertawa kecil. Ayahnya menjawab dengan senyum simpul. Durjan tidak tahu. Melesat begitu cepat laksana kilat. Tapi bisa ayah dapat gratis. Mata Durjan tersedot melihat kemolekannya “Kamu tahu berapa harga batu cincin ini?” tanya ayahnya. Tapi ayahnya selalu bilang untuk tidak pernah bertanya apapun. Durjan tidak tahu maksudnya untuk apa. kisah Durjan ibarat meteor. Durjan kembali menggeleng. tapi lama-lama menjadi terbiasa dan tidak sakit lagi. Tapi entah apa maknanya. toh nilai akhir di transkrip nilainya tergolong biasa-biasa saja.” jawab ayahnya setiap kali ditanyakan alasan melatih lidah. . Ayahnya tersenyum. Aneh memang. batu cincin ini harganya 2 miliar. “Suatu saat kamu akan mengerti”.nepuk pundaknya perlahan beberapa kali sambil tetap tersenyum. Warnanya pun bisa berubah ketika digerakkan berlawanan arah. ayahnya menepuk. Sang Ayah berkata.” begitu pesan Sang Ayah selanjutnya yang selalu diulangulang sampai Durjan hafal. Ia bahkan merasa tidak enak badan kalau tidak melakukannya. pas-pasan malahan. Bukan karena ia pandai sebenarnya. Durjan diminta untuk mengeluarkan lidahnya berkali-kali. setiap bangun pagi dan menjelang tidur. Sejak usia 6 tahun. Durjan menggeleng.” sambung ayahnya sambil masih tertawa kecil. Sesekali Durjan diminta untuk menarik lidahnya perlahan. “Percaya nggak.

Banyak di antara mereka yang malah tidak tahu apa itu Internet. Jilat dan sanjunglah semua pimpinan dengan pujian dan pujaan. Bolak-balik saja tidak apa-apa. Durjan mengangguk. Bisa membuat semua urusan jadi mulus. Dengan datang rutin ke rumahnya sambil membawa bingkisan. Biar tidak ada yang macam-macam.” urai sang ayah lagi. apalagi kritik. Entah ayahnya memakai jimat apa. Malah justru akan menjatuhkan marwahmu. dahsyat benar kekuatan fulus. Twitter. Kariernya sebagai pegawai negeri sipil pun menanjak. yang jelas dengan teknik lobi tingkat tinggi.” kata ayahnya suatu kali. Banyak orang yang rasanya tidak percaya kenapa begitu beruntungnya dia menjadi manusia. Kembali ke soal kerja. “Kalau kau sempat berfoto dengan bosmu atau orang-orang hebat. Amboi. tampilkan fotomu bersama mereka di media-media sosial.” lanjut ayahnya menasehati Durjan. Jangan pernah kau bantah apa katanya. ia pun lolos jadi pegawai di instansi pemerintah. Pakai garansi lulus dan tidak dipersulit saat ujian. Kalau perlu. Jangan kau cela. Apalagi kau tampilkan foto-foto murahan dengan mereka di media sosial. Tidak sampai setahun ia sudah diangkat menjadi Kepala Sub Bagian. Hati mereka pasti berbunga. Itu tidak akan mengangkat derajatmu. Malah ada dosennya yang dengan senang hati menawarkan untuk membuatkan skripsinya. Buat dia bagaikan orang yang tak pernah salah. terus selanjutnya menjadi Kepala Bagian. *** “Durjan. Pasti mereka akan senang. facebook. katakan yang salah sebagai benar dan katakan yang benar sebagai salah.” “Tidak perlu malu dan . kalau itu mau mereka. Tidak perlu berkawan dengan orang-orang biasa. Itu akan mempengaruhi orang lain betapa posisimu sangat hebat. Apalagi banyak dosen di kampusnya yang juga gampang dibujuk. “Bukankah kau sudah kulatih menjilat sejak kecil?” tanya ayahnya.Dosen paling-paling juga tidak melacak dari mana ia mencuri makalah orang. “Nah itulah fungsinya. Tutupi kekurangannya dengan pujian. “Buatlah atasan di kantormu layaknya raja.bunga mendengar kepatuhanmu. Bosmu juga pastinya akan senang melihatnya. Kerjakan saja semua yang disuruh. Instagram dan lain semacamnya. sudah bisa membuat hatinya luluh.

” Dan Durjan pun melaksanakan semua perintah ayahnya. Biarkan saja teman-temanmu iri atau mencaci. resep sang ayah ternyata sangat manjur. Pakailah jurus budeg. Hasilnya. dia akan selalu tersenyum manis. Penciumannya juga semakin sensitif. Titik. Tepat pukul 24. orang kritis bisa menjadi penghalang kariermu. Cukup main telunjuk kiri saja kepada mereka.takut. Di mata Durjan. Kukunya yang biasa pendek. Durjan akan memotong habis karier si tukang protes. Matanya mencorong. Jadi jelas perbedaan kastanya. Banyak membuat orang terkesima. Ingat. Hasut saja bosmu untuk memecatnya. Ada yang protes? Sikat dan injak saja. *** Malam menggairahkan itu datang kembali. meski untuk prestasi kerja dia hanya memperalat potensi bawahannya. siapa bawahan dan siapa atasan. Kata-kata yang keluar dari mulutnya bak madu. Moncongnya mengerucut maju. Pandangan matanya berubah membelalak tajam. Karier Durjan moncer. sikut dan tendang saja pelan-pelan. Yang penting namanya yang muncul di mata pimpinan. Dalam hal berteman dia sangat memilih. Sesekali dengan umpatan dan ancaman akan lebih baik. Perutnya agak membuncit. Yang penting bos happy.00 WIB. wajah Durjan perlahan mulai berubah. . khususnya aroma wangi uang. Anggap saja itu angin lalu. bukan nama para bawahannya. Di bagian belakang tubuhnya. Kedua kupingnya berubah melancip. yang tidak perlu didekati karena akan menjatuhkan marwahnya. Semua aroma bisa ia tangkap. memanjang satu per satu. Mereka adalah pekerja dan pesuruh. para bawahan adalah kaum berkasta rendah. Kalau perlu dibangku panjangkan saja. biar kapok. Tapi jangan berharap bersikap demikian untuk para bawahan. perlahan mencuat sesuatu yang semakin lama semakin bertambah memanjang. Itu saja Dan kalau ada yang macam-macam. Kalau dengan para pejabat.