You are on page 1of 20

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK

PADA NY “M” DI WISMA BALE KAMBANG
PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA YOGYAKARTA UNIT ABIYOSO
( Untuk Memenuhi Tugas Askep Individu PKK Gerontik Semester VI )

Disusun Oleh :
Nama : Arum Tirta Ratnasari
NIM : 2220111980 / 14
Kelas : 3-C

AKADEMI KEPERAWATAN NOTOKUSUMO
YOGYAKARTA
2014

LEMBAR PENGESAHAN
Asuhan Keperawatan Gerontik ini disusun untuk melengkapi tugas individu PKK Gerontik
Semester VI, di Wisma Bale Kambang Panti Sosial Tresna Werdha Yogyakarta Unit Abiyoso.
Laporan ini disusun dan disahkan pada :
Hari / tanggal
Tempat

:
:

Praktikan

( Arum Tirta Ratnasari )
Mengetahui,
Pembimbing Lahan

(

Pembimbing Akademik

)

( Wiwi Kustio Priliana, A. Kep., SPd, MPH )

KONSEP TEORI PENUAAN

A. DEFINISI LANJUT USIA
Lanjut usia adalah seorang laki-laki atau perempuan yang berusia 60 tahun atau
lebih, baik yang secara fisik masih mampu maupun tidak lagi mampu berperan secara aktif
dalam pembangunan (Depkes RI, 2001).
B. BATASAN LANJUT USIA
Penentuan seseorang dikatakan sebagai lanjut usia sulit dijawab, sehingga ada
beberapa pendapat mengenai batasan umur usia lanjut, yaitu :
a. Batasan usia menurut WHO meliputi : usia pertengahan (middle age) yaitu usia 45
sampai 59 tahun, lanjut usia (elderly) yaitu usia 60 sampai 74 tahun, lanjut usia tua
(old) yaitu usia 75 sampai 90 tahun dan usia sangat tua (very old) yaitu diatas 90 tahun.
b. Menurut Undang-Undang No. 4 tahun 1965 pasal 1, seorang dapat dinyatakan sebagai
seorang jompo atau lanjut usia setelah yang bersangkutan mencapai umur 55 tahun,
tidak mempunyai dan tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya
sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain.
c. Menurut Sumiati Ahmad (Wahyudi, 2000),

membagi

periodisasi

biologis

perkembangan manusia sebagai berikut : 0 – 1 tahun merupakan masa bayi, 1 – 6 tahun
adalah masa prasekolah, 6 – 10 tahun adalah masa sekolah, 10 – 20 tahun merupakan
masa pubertas, 20 – 40 tahun adalah masa dewasa, 40 – 65 tahun adalah masa setengah
umur

(presenium) dan 65 tahun keatas merupakan masa lanjut usia (senium).

C. PERUBAHAN YANG TERJADI PADA LANSIA
Beberapa perubahan yang dihadapi para lansia yang sangat mempengaruhi kesehatan
jiwa mereka (Zainudin, 2002) yaitu :
a. Penurunan kondisi fisik, setelah orang memasuki masa lansia umumnya mulai
dihinggapi adanya kondisi fisik yangbersifat patologis berganda (multiple pathology),
misalnya tenaga berkurang, energi menurun, kulit makin keriput, gigi makin rontok,
tulang makin rapuh, dsb. Secara umum kondisi fisik seseorang yang sudah memasuki
masa lansia mengalami penurunan secara berlipat ganda. Hal ini semua dapat
menimbulkan gangguanatau kelainan fungsi fisik, psikologik maupun sosia, yang
selanjutnya dapat menyebabkan suatu keadaan ketergantungan pada orang lain. Dalam
kehidupan lansia agar dapat tetap menjaga kondisi fisik yang sehat, maka perlu
menyelaraskan kebutuhan-kebutuhan fisik dengan kondisi psikologik maupun sosial,
sehingga mau tidakmauharus ada usaha untukmengurangi kegiatan yang bersifat

memforsir fisiknya. Seorang lansia harus mampu mengatur cara hidupnya dengan baik,
misalnya makan, tidur, istirahat dan bekerja secara seimbang.
b. Perubahan aspek psikososial, pada umumnya setelah orang memasuki lansia maka ia
mengalami penurunan fungsi kognitif dan psikomotor. Fungsi kognitif meliputi proses
belajar,

persepsi

pemahaman,

pengertian,

perhatian

dan

lain-lain

sehingga

menyebabkan reaksi dan prilaku lansia menjadi makin lambat. Sementara fungsi
psikomotorik (kognitif) meliputi hal-hal yang berhungan dengan dorongan kehendak
seperti gerakan, tindakan, koordinasi, yang berakibat bahwa lansia menjadi kurang
cekatan.
1) Fungsi kognitif meliputi:
a) Kemampuan belajar (learning), lanjut usia yang sehat dalam arti tidak
mengalami demensia atau Alzheimer masih memiliki kemampuan belajar
yang baik. Hal ini sesuai dengan prinsip belajar seumur hidup bahwa
manusia memiliki kemampuan untuk belajar dari lahir sampai akhir hayat
sehingga mereka tetap diberikan kesempatan untuk hal tersebut. Implikasi
praktis adalah bersifat promotif, preventif, kuratif, rehabilitative yang sesuai
dengan kondisi lansia;
b) Kemampuan pemahaman (compherension), pada lansia kemampuan
memahami/ menangkap pengertian dipengaruhi oleh fungsi pendengaran,
sehingga dalam pelayanan perlu kontak mata, sehingga jika ada kelainan
fungsi pendengaran, meraka dapat membaca dari gerak bibir. Selain itu perlu
sikap hangat dalam komunikasi sehingga menimbulkan rasa aman, tenang,
diterima dan dihormati;
c) Kinerja (performance) Pada lansia tua terjadi penurunan kinerja kerja baik
secara kualitatif/kuantitatif. Penurunan itu bersifat wajar sesuai perubahan
organ-organ biologis/pathologis. Perlu diberikan latihan keterampilan untuk
tetap mempertahankan kinerja;
d) Pemecahan masalah (problem solving), masalah yang dulu mudah
terpecahkan menjadi sulit karena penurunan fungsi indra pada lansia, selain
itu juga bisa disebabkan penurunan daya ingat pemahaman. Sehingga perlu
perhatian dari ratio petugas kesehatan dan pasien lansia;
a. Motivasi, sesuatu yang mendorong seseorang untuk bertingkah laku demi
mencapai sesuatu yang diinginkan/dituntut oleh lingkungan dapat berasal dari
kognitif/afektif. Kognitif lebih menekankan pada kebutuahn akan informasi,
sedangkan afektif penekanan pada perasaan;Pengambilan keputusan, pada lansia
terjadi perlambatan keputusan sehingga kadang-kadang mereka tidak diikutkan
sehingga menimbulkan kekecewaan dan memperburuk kondisi sehingga kadang
kala

kita

perlu

mengikut

sertakan

mereka.

2) Fungsi afektif, emosi suatu perasaan merupakan fenomena kejiwaan yang
dihayati secara subjektif sebagai suatu yang menimbulkan kesenangan dan

kesedihan.

Afektif

dapat

dibedakan:

a. Biologis: panca indra (panas, dingin, pahit), perasaan vital (lapar, haus,
kenyang), perasaan hialwiah (sayang, cinta, takut);
b. Psikologis : perasaan diri, perasaan social, perasaan etis, estetis, religious.
Pada lansia umumnya afeknya tetap baru dan jika ada kelainan afeksi bilobis
menyebabkan perburukkan fungsi organ tubuh. Penurunan afektif pada lansia
sangat tua disertai regresi.
3). Perubahan yang berkaitan dengan pekerjaan
Pada umumnya perubahan ini diawali ketika masa pensiun. Meskipun tujuan ideal
pensiun adalah agar para lansia dapat menikmati hari tua, namun dalam kenyataan
sering diartikan sebaliknya, karena pensiun sering diartikan sebagai kehilangan
penghasilan, kedudukan, jabatan, peran, kegiatan, status dan harga diri. Reaksi
setelah orang memasuki masa pensiun lebih tergantung dari model
kepribadiannya seperti yang telah diuraikan pada poin tiga di atas.
Menyiasati pensiun agar tidak merupakan beban mental setelah lansia sangat
tergantung pada sikap mental individu dalam menghadapi masa pensiun. Dalam
kenyataan ada menerima, ada yang takut kehilangan, ada yang merasa senang
memiliki jaminan hari tua dan ada juga seolah-olah acuh terhadap pensiun
(pasrah). Masing-masing sikap tersebut sebenarnya punya dampak bagi masingmasing individu, baik positif maupun negatif.
Dampak positif lebih menenteramkan diri lansia dan dampak negative akan
mengganggu kesejahteraan hidup lansia. Agar pensiun lebih berdampak positif
sebaiknya ada masa persiapan pensiun yang benar-benar diisi dengan kegiatankegiatan untuk mempersiapkan diri, bukan hanya diberi waktu untuk masuk kerja
atau tidak dengan memperoleh gaji penuh. Persiapan tersebut dilakukan secara
berencana, terorganisasi dan terarah bagi masing-masing orang yang akan
pensiun. Jika perlu dilakukan assessment untuk menentukan arah minatnya agar
tetap memiliki kegiatan yang jelas dan positif.
Untuk merencanakan kegiatan setelah pensiun dan memasuki masa lansia dapat
dilakukan pelatihan yang sifatnya memantapkan arah minatnya masing-masing.
Misalnya cara berwiraswasta, cara membuka usaha sendiri yang sangat banyak
jenis dan macamnya. Model pelatihan hendaknya bersifat praktis dan langsung
terlihat hasilnya sehingga menumbuhkan keyakinan pada lansia bahwa disamping
pekerjaan yang selama ini ditekuninya, masih ada alternative lain yang cukup
menjanjikan dalam menghadapi masa tua, sehingga lansia tidak membahayakan
bahwa setelah pensiun mereka menjadi tidak berguna, menganggur, penghasilan
berkurang dan sebagiannya.
4) Perubahan dalam peran sosial di masyarakat

Akibat berkurangnya fungsi indera pendengaran, penglihatan, gerak fisik dan
sebagainya maka muncul gangguan fungsional atau bahkan kecacatan pada lansia.
Misalnya badannya menjadi bungkuk, pendengaran sangat berkurang, penglihatan
kabur dan sebagainya sehingga sering menimbulkan keterasingan. Hal itu
sebaiknya dicegah dengan selalu mengajak mereka melakukan aktivitas, selama
yang bersangkutan masih sanggup, agar tidak merasa terasing atau diasingkan.
Karena jika keterasingan terjadi akan semakin menolak untuk berkomunikasi
dengan orang lain dan kadang-kadang terus muncul perilaku regresi seperti
mudah menangis, mengurung diri, mengumpulkan barang-barang tak
bergunaserta merengek-rengek dan menangis bila bertemu orang lain sehingga
perilakunya seperti anak kecil.

4. PROSES MENUA
Menurut Nugroho (2000), proses menua adalah suatu proses menghilangnya
secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau
mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan
terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita. Proses menua
merupakan proses yang berlanjut secara ilmiah, dimulai sejak lahir dan umumnya
dialami oleh semua mahluk hidup. Sedangkan menurut Depkes RI (2000),
penuaan adalah suatu proses alami yang tidak dapat dihindarkan, yang hidup
terbatas oleh suatu peraturan alam, maksimal sekitar 6 kali masa bayi sampai
dewasa atau 6x20 tahun, yang disebabkan oleh faktor biologik yang terdiri adri 3
fase yaitu : fase progresif, fase stabil dan fase regresif.
Stanley (2006), mendefinisikan bahwa penuaan adalah proses yang normal,
dengan perubahan fisik dan tingkah laku yang dapat diramalkan yang terjadi pada
semua orang pada saat mereka mencapai usia tahap perkembangan kronologis
tertentu. Ini merupakan suatu fenomena yang kompleks dan multidimensional
yang dapat diobservasi didalam satu sel dan berkembang sampai pada
keseluruhan sistem, yang terjadi pada tingkat kecepatan yang berbeda, di dalam
parameter yang cukup sempit, proses tersebut tidak tertandingi.
5. TEORI-TEORI PROSES MENUA
Teori-teori proses menua menurut Stanley (2006), antara lain:
a. Teori biologi
1) Teori genetik dan mutasi (somatic mutatie theory)
Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik untuk spesies-spesies
tertentu. Menua terjadi sebagai akibat dari perubahan biokimia yang diprogram

oleh molekul-molekul/DNA dan setiap sel pada saatnya akan mengalami mutasi.
Sebagai contoh yang khas adalah mutasi dari sel-sel kelamin (terjadi penurunan
kemampuan fungsional sel).
2) Pemakaian dan rusak
Kelebihan usaha dan stres menyebabkan sel-sel tubuh lelah (rusak)
3) Reaksi dari kekebalan sendiri (auto immune theory)
Di dalam proses metabolisme tubuh, suatu saat diproduksi suatu zat khusus. Ada
jaringan tubuh tertentu yang tidaktahan terhadap zat tersebut sehingga jaringan
tubuh menjadi lemah dan sakit.
4) Teori immunologi slow virus (immunology slow virus theory)
Sistem imune menjadi efektif dengan bertambahnya usia dan masuknya virus
kedalam tubuh dapat menyebabkab kerusakan organ tubuh.
5) Teori stres
Menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa digunakan tubuh. Regenerasi
jaringan tidak dapat mempertahankan kestabilan lingkungan internal, kelebihan
usaha dan stres menyebabkan sel-sel tubuh lelah terpakai.
6) Teori radikal bebas
Radikal bebas dapat terbentuk dialam bebas, tidak stabilnya radikal bebas
(kelompok atom) mengakibatkan osksidasi oksigen bahan-bahan organik seperti
karbohidrat dan protein. Radikal bebas ini dapat menyebabkan sel-sel tidak dapat
regenerasi.
7) Teori rantai silang
Sel-sel yang tua atau usang , reaksi kimianya menyebabkan ikatan yang kuat,
khususnya jaringan kolagen. Ikatan ini menyebabkan kurangnya elastis,
kekacauan dan hilangnya fungsi.
8) Teori program
Kemampuan organisme untuk menetapkan jumlah sel yang membelah setelah selsel tersebut mati.
b. Teori kejiwaan sosial
a) Aktivitas atau kegiatan (activity theory)
Ketentuan akan meningkatnya pada penurunan jumlah kegiatan secara langsung.
Teori ini menyatakan bahwa usia lanjut yang sukses adalah mereka yang aktif dan
ikut banyak dalam kegiatan sosial. Ukuran optimum (pola hidup) dilanjutkan pada
cara hidup dari lanjut usia. Mempertahankan hubungan antara sistem sosial dan
individu agar tetap stabil dari usia pertengahan ke lanjut usia
b) Kepribadian berlanjut (continuity theory)
Dasar kepribadian atau tingkah laku tidak berubah pada lanjut usia. Teori ini
merupakan gabungan dari teori diatas. Pada teori ini menyatakan bahwa

perubahan yang terjadi pada seseorang yang lanjut usia sangat dipengaruhi oleh
tipe personality yang dimiliki.
c) Teori pembebasan (disengagement theory)
Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia, seseorang secara
berangsur-angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya. Keadaan ini
mengakibatkan interaksi sosial lanjut usia menurun, baik secara kualitas maupun
kuantitas sehingga sering terjaadi kehilangan ganda (triple loss), yakni :
kehilangan peran, hambatan kontak sosial dan berkurangnya kontak komitmen.
6. PERMASALAHAN YANG TERJADI PADA LANSIA
Menurut Hardiwinito dan Setiabudi (2005), berbagai permasalahan yang
berkaitan dengan pencapaian kesejahteraan lanjut usia, antara lain:
a. Permasalahan umum
1) Makin besar jumlah lansia yang berada dibawah garis kemiskinan
2) Makin melemahnya nilai kekerabatan sehingga anggota keluarga yang berusia
lanjut kurang diperhatikan, dihargai dan dihormati
3) Lahirnya kelompok masyarakat industri
4) Masih rendahnya kuantitas dan kulaitas tenaga profesional pelayanan lanjut
usia
5) Belum membudaya dan melembaganya kegiatan pembinaan kesejahteraan
lansia
b. Permasalahan khusus
1) Berlangsungnya proses menua yang berakibat timbulnya masalah baik fisik,
mental maupun sosial
2) Berkurangnya integrasi sosial lanjut usia
3) Rendahnya produktifitas kerja lansia
4) Banyaknya lansia yang miskin, terlantar dan cacat
5) Berubahnya nilai sosial masyarakat yang mengarah pada tatanan masyarakat
individualistik
6) Adanya dampak negatif dari proses pembangunan yang dapat mengganggu
kesehatan fisik lansia

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK

PADA NY. W DENGAN HIPERTENSI

Nama mahasiswa : Arum Tirta Ratnasari
Tempat praktek

: Wisma Bale Kambang Panti Sosial Tresna Werdha Yogyakarta Unit Abiyoso

Tanggal

: 14 April-19 April 2014

Metode

: Wawancara, Observasi, Pemeriksaan Fisik, Studi Pustaka

Identitas diri klien
Nama

: Ny. “M”

Umur

: 64 Tahun

Jenis kelamin

: Perempuan

Alamat

: Panembahan,Kraton, Yogyakarta

Status perkawinan

: Cerai

Agama

: Katholik

Suku

: Jawa

Pendidikan

:-

Pekerjaan

:-

Lama bekerja

:-

Sumber

: Klien

A. KELUHAN UTAMA
a. Keluhan utama saat ini
Klien mengatakan pegel-pegel pada kaki dan punggung dan tensi sering tinggi.
b. Apa yang dipikirkan saat ini
Klien mengatakan saat ini tidak memikirkan apa-apa,sudah senang di wisma banyak temannya.
c. Siapa yang paling dipikirkan saat ini
Klien mengatakan tidak ada yang dipikirkan.
B. Riwayat Penyakit
1. Riwayat Penyakit Sekarang
Klien mengatakan pegel-pegel pada kaki dan punggung
2. Riwayat Penyakit Dahulu
Klien mengatakan ± 8 tahun yang lalu terjadi kecelakaan saat gempa di Bantul, kakinya
tertindih pasir akibatnya sekarang kakinya bengkok dan sulit saat berjalan.

C. Kegiatan Sehari-hari
1. Persepsi Dan Pemeliharaan Kesehatan
Klien mengatakan jika sakit diperiksakan ke poloklinik.
2. Aktivitas dan latihan
Kemampuan perawatan diri
Makan / minum
Mandi
Toileting
Berpakaian
Mobilitas di tempat tidur
Berpindah / berjalan
Ambulasi / ROM
Keterangan:

0






1

2

3

4

0 : mandiri, 1: alat bantu, 2: dibantu orang lain 3: dibantu orang lain dan alat, 4: tergantung
total.
3. Nutrisi
a. Makan
Frekuensi makan
Nafsu makan
Jenis makanan
Kebiasaan sebelum makan
Makanan yang tidak disukai
Alergi terhadap makanan
Pantangan makanan
b. Minum
Frekuensi minum
Nafsu minum
Jenis minuman
Minuman yang tidak disukai
Alergi terhadap minuman
Pantangan minuman

: 3x sehari
: Normal
: Nasi, lauk pauk, sayur, dan buah
: Cuci tangan
: tidak ada
: tidak ada
:
: 8 gelas air teh ( 8x 200 cc = 1600 cc)
: Normal
: Air teh
: Air Putih
: tidak ada
: air putih karena sering kembung perutnya

4. Eliminasi
a. BAK
Frekuensi dan waktu
Warna
Bau
Kebiasaan BAK pada malam hari
Keluhan yang berhubungan dengan BAK
b. BAB
Frekuensi dan waktu
Konsistensi
Warna
Keluhan yang berhubungan dengan BAB
Pengalaman memakai Laxantif/pencahar
5. Personal Hygiene
a. Mandi

: ±6x sehari
:
:
: Ada
: tidak ada
: 1x sehari
: Lembab
:
: tidak ada
: tidak ada

Frekuensi dan waktu mandi
Pemakaian sabun ( ya/tidak )
b. Oral hygiene
Frekuensi dan gosok gigi
Menggunakan pasta gigi
c. Cuci rambut
Frekuensi
Penggunaan shampoo( ya/tidak )
d. Kuku dan tangan
Frekuensi gunting kuku
Kebiasaan mencuci tangan pakai sabun
6. Istirahat dan tidur
Lama tidur malam
Lama tidur siang
Keluhan yang berhubungan dengan tidur
7. Kebiasaan mengisi waktu luang
a.
Olaraga
b.
Nonton TV
c.
Berkebun/memasak
d.
Lain-lain

: 2x sehari
: ya
: 2xsehari
: ya
: 2x seminggu
: ya
: 1x dua minggu
: ya
: 7 jam
:: tidak ada

:: ya
: ya
:-

8. Kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan ( jenis/frekuensi/jumlah/lama pakai )
a.
Merokok ( ya/tidak )
: tidak ada
b.
Minuman keras ( ya/tidak )
: tidak ada
c.
Ketergantungan terhadap Obat ( ya/tidak )
: Ya (Penurun TD Nifedipin ½ tablet 2 x
sehari dan untuk sakit di kaki Nationdiklofenac 1 tablet 1 x sehari)
9. Uraian kronologis kegiatan sehari-hari
Jenis kegiatan
1. memasak
2 bersih-bersih rumah
4.cuci piring
5.cuci baju
6.tidur

Lama waktu untuk setiap
kegiatan
Jam 05.30-07.30
Jam 07.30-8.30
Jam 08.30-9.00
Jam 04.00-05.00
Jam 20.00-03.00

10. Pola Perceptual
a. Penglihatan
Klien tidak dapat melihat dengan jelas, klien tidak pakai kaca mata.
b. Pendengaran
Klien mampu mendengar pertanyaan dengan baik dan jawaban klien sesuai dengan
pertanyaan yang diberikan
c. Pengecap
Klien dapat membedakan rasa antara manis, pahit, asam dan asin.
d. Sensasi
Klien masih dapat membedakan panas, dingin, sakit maupun nyeri. Keluhan yang sering
dirasakan adalah pegel pegel di kaki dan punggung.
11. Pola persepsi diri

a. Gambaran diri
Klien mengatakan tidak ada masalah dengan penampilannya.
b. Ideal diri
Klien mengatakan dirinya merasa tidak begitu mengganggu dengan kondisinya saat ini
untuk beraktifitas masih dapat mandiri.
c. Harga diri
Klien mengatakan bahwa dirinya masih dapat berguna untuk orang disekitarnya.
d. Identitas diri
Klien sudah dapat menerima keadaannya, tidak merasa malu dengan keadaannya.
e. Peran diri
Klien mengatakan walaupun menderita sakit hipertensi, tetapi klien masih mampu
menjalankan perannya dikegiatan sehari-harinya.
12. Peran Hubungan Sosial
a. Orang terdekat dengan klien
Klien mengatakan orang yang terdekat dengan dia yakni sepupu dan keponakannya yang
sering berkunjung ke wisma.
b. Hubungan dengan keluarga
Klien mengatakan sudah tidak memiliki keluarga lagi. Klien mengatakan dulunya klien
adalah 4 bersaudara dan telah cerai dengan suaminya.
c. Hubungan dengan lawan bicara
Klien berhubungan dengan lawan bicara cukup baik dan menjaga emosional saat dilakukan
wawancara.
d. Hubungan dengan orang lain
Klien berhubungan dengan orang lain cukup baik, apabila berjumpa dengan orang ain saling
bertegur sapa.
13. Managemen Koping Stress
Klien mengatakan apabila marah hanya diam saja.
14. Psikolog dan Spiritual
Suasana Hati

: Baik

Karakter

: Sabar dan mampu mengontrol emosi

Kondisi Diri

: Baik namun apabila berjalan agak menaikkan kaki yang kiri

Keyakinan

: Klien mengatakan beragama Katholik dan berusaha untuk menjalankan

ibadah sesuai keyakinannya. Klien juga rajin mengikuti kegiatan
keagamaan.

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik
Tingkat kesadaran

: Compos Mentis

Keadaan Umum

:

TD

: 140/80 mmHg.

Nadi

: 85 x/menit,

Respirasi

: 21 x/menit

Temperatur

: 37 °C

BB

:

Kg

TB

:

cm

IMT

:

1. Kepala

: Kulit kepala dan rambut bersih,rambut pendek

2. Leher

: Tidak ada pembesaran vena jugularis dan pembesaran kelenjar limfe.

3. Thorak

:

IPPA ( Bentuk dada simetris, retraksi otot dada tidak ada )
4. Abdomen

:

IAPP (Tidak ada Ascites, tidak kembung, dan tidak ada nyeri tekan
5. Ekstremitas

: (atas bawah )Tidak ada kelainan, kuku jari tangan dan kaki bersih, kaki

kadang- kadang terasa sakit terutama pada saat bangun tidur.
6. Pemeriksaan Panca Indera
a. Penglihatan (mata)
Bola mata

: Simetris tidak ada kelainan

Konjunctiva

: Tidak anemis

Sklera

: Tidak ikterik

Reflek pupil

: +/+

b. Pendengaran(telinga)
Bentuk telinga simetris
Nyeri tekan tidak ada
Liang telinga : serumen tidak ada
Gangguan pendengaran tidak ada
c. Pengecapan( mulut )
Gigi bersih dan gigi hanya ada 6 dibagian bawah

Lidah bersih
Klien masih mampu merasakan sensasi rasa manis ,asin dan pahit
d. Sensasi ( kulit )  warna, kelembaban, turgor, ada/tidak edema
Klien masih mampu merasakan ransangan sensasi nyeri, sensasi taktil, sensasi suhu yang
diberikan
Turgor kulit : baik
e. Penciuman(hidung)
Lubang hidung simetris
Septum nasi : lurus
Konka : normal
Tidak ada sekret.
ANALISA DATA
DATA

PROBLEM

DS:
Pasien mengatakan kaki dan punggung
sering pegel-pegel dan tensi sering tinggi.
DO :
Pasien tampak memegangi punggung dan
kakinya yang pegel
TD : 140/70 mmHg
DS:
Pasien mengatakan tidak ada pantangan
apa-apa

DIAGNOSA SESUAI PRIORITAS

ETIOLOGI

Rencana Keperawatan

Catatan Perkembangan
Dx :
SOAP

IMPLEMENTASI

EVALUASI