You are on page 1of 19

MORFOMETRI AVERTEBRATA DAN VERTEBRATA

Oleh :
Nama
NIM
Rombongan
Kelompok
Asisten

: Nur Rosyidah
: B1J014068
: IV
:2
: Fika Nurulfalah

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEMATIKA HEWAN I

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2016

BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Morfologi adalah ilmu yang mempelajari bentuk luar suatu organisme. Bentuk luar
dari organisme ini merupakan salah satu ciri yang mudah dilihat dan diingat dalam
mempelajari organisme. Adapun yang dimaksud dengan bentuk luar organisme ini
adalah bentuk tubuh, termasuk di dalamnya warna tubuh yang kelihatan dari luar. Pada
dasarnya bentuk luar dari ikan dan berbagai jenis hewan air lainnya mulai dari lahir
hingga ikan tersebut tua dapat berubah-ubah, terutama pada ikan dan hewan air lainnya
yang mengalami metamorfosis dan mengalami proses adaptasi terhadap lingkungan
(habitat). Namun pada sebagian besar ikan bentuk tubuhnya relatif tetap, sehingga
kalaupun terjadi perubahan, perubahan bentuk tubuhnya relatif sangat sedikit. Bentuk
tubuh pada mahluk hidup, termasuk pada hewan air juga erat kaitannya dengan anatomi,
sehingga ada baiknya sebelum melihat anatominya, terlebih dahulu kita melihat bentuk
tubuh atau penampilan (morfologi) hewan air tersebut (Bambang, 1997).
Morfometri adalah suatu studi yang bersangkutan dengan variasi dan perubahan
dalam bentuk (ukuran dan bentuk) dari organisme, meliputi pengukuran panjang dan
analisis kerangka suatu organisme. Morfometri didasarkan pada sekumpulan data
pengukuran yang mewakili variasi bentuk dan ukuran ikan. Setiap ikan mempunyai
ukuran yang berbeda-beda, tergantung pada umur, jenis kelamin dan keadaan
lingkungan hidupnya (Radiopoetro, 1990).
Morfometri terbagi menjadi dua yaitu morfometri sederhana atau tradisional dan
truss morfometrics. Morfometri tradisional adalah perbandingan antara univariate
karakter meristik dan morfometrik seperti panjang tubuh, lebar tubuh, dan tinggi tubuh
yang mampu mengidentifikasi perbedaan antar species. Kekurangannya dari morfometri
tradisional yaitu seringkali gagal mengidentifikasi perbedaan antara galur populasi
(Fitrianis, 2009). Metode baku atau morfometri tradisional mengandung kelemahan
misalnya pengukuran lebar badan tidak mengikuti anatomi ikan sehingga tidak
konsisten dari suatu bentuk ke bentuk yang lainnya dan pengukuran panjang tubuh
masih terlalu umum dalam menggambarkan bentuk ikan. Metode truss morfometrics
digunakan untuk menggambarkan secara lebih tepat bentuk ikan dengan memilih titiktitik. Berdasarkan cara ini pengukuran lebih konsisten, memberikan informasi yang

terinci dengan menggambarkan bentuk ikan dan memperkecil kesalahan pengukuran


(Brojo, 1999).
B. Tujuan
Tujuan paktikum pengenalan karakter, identifikasi dan klasifikasi hewan
avertebrata kali ini, antara lain:
1. Dapat mengenali karakter morfologi hewan avertebrata dan vertebrata yang penting
digunakan sebagai dasar identifikasi.
2. Dapat melakukan analisis karakter morfologi hewan avertebrata dan vertebrata
secara meristik dan morfometrik.
3. Dapat menerapkan teknik morfometri sederhana dan truss morphometrics pada
hewan averterbata dan vertebrata.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


Morfometri adalah suatu studi yang bersangkutan dengan variasi dan perubahan
dalam bentuk (ukuran dan bentuk) dari organisme, meliputi pengukuran panjang dan
analisis kerangka suatu organisme. Studi morfometri didasarkan pada sekumpulan data
pengukuran yang mewakili variasi bentuk dan ukuran ikan. Pengukuran morfologi
(analisis morfometri) dalam biologi perikanan digunakan untuk mengukur ciri-ciri
khusus dan hubungan variasi dalam suatu taksonomi suatu stok populasi ikan. Variasi
morfometri suatu populasi pada kondisi geografi yang berbeda dapat disebabkan oleh
perbedaan struktur genetik dan kondisi lingkungan. Sebaran dan variasi morfometri
yang muncul merupakan respon terhadap lingkungan fisik tempat hidup spesies tersebut
(Saanin, 1984).
Morfometrik adalah ciri-ciri yang berkaitan dengan ukuran tubuh atau bagian tubuh
ikan misalnya panjang total, panjang baku, panjang cagak, dan sebagainya sedangkan
meristik adalah ciri-ciri yang berkaitan dengan jumlah bagian tertentu pada tubuh ikan
misalnya jumlah sisik pada garis rusuk, jumlah jari-jari keras dan lemah pada sirip
punggung dan sebagainya. Ukuran dalam morfometrik adalah jarak antara satu bagian
tubuh ke bagian lainnya, misalnya jarak antara ujung kepala sampai dengan pelipatan
batang ekor (panjang baku). Ukuran ini disebut dengan ukuran mutlak yang biasanya
dinyatakan dalam satuan milimeter atau centimeter (Affandi et al., 1992).
Metode analisis morfologi tradisional adalah perbandingan antara univariate
karakter meristik dan morfometrik seperti panjang tubuh, lebar tubuh, dan tinggi tubuh,
yang

mampu

mengidentifikasi

perbedaan

antar

spesies,

seringkali

gagal

mengidentifikasi perbedaan antar galur atau populasi. Karakter morfometrik baku yang
terkonsentrasi pada ukuran-ukuran panjang dari bagian kepala, badan dan ekor
menghasilkan pola gambaran bentuk tubuh yang cenderung bias. Pengamatan
morfometri diikuti dengan pengamatan pada meristik dan pola warna, untuk data
meristik yang dihitung antara lain jumlah sisik sepanjang gurat sisi/ linea lateralis (LL),
jumlah jari-jari bercabang pada sirip punggung (dorsal), sirip perut (ventral), sirip dada
(pectoral), dan sirp dubur (anal). Pola warna dicatat mengenai penampakan warna sisik
pada bagian punggung (dorsal) dari tubuh ikan (Haryono, 2001).
Kekurangan sistem morfometri tradisional seringkali hanya mengambarkan
beberapa hal saja sehingga tidak mewakili keseluruhan bentuk organisme yang di ukur
dalam bentuk karakter morfometrik baku dan terkesan hasilnya bias dan seringkali gagal

mengidentifikasi perbedaan antara galur populasi. Kelebihan dari menggunakan


morfometri tradisional ini adalah mudah digunakan karena hanya berdasarkan bentuk
tubuh organisme secara sederhana seperti panjang total tubuh, panjang karapaks,
panjang standar, panjang badan (abdomen) berat udang, tinggi badan, lebar badan,
panjang kepala (thorax), panjang rostrum, panjang ekor dan lebar ekor (dari uropoda)
sehingga mudah dilakukan oleh siapa saja (Mayr, 1982).
Truss morfometrics ialah metode pembandingan antara ukuran-ukuran tubuh bagian
penting dari ikan dengan satu ukuran yang dianggap standar. Panjang kepala dan
panjang standar ialah dua variable yang sering digunakan untuk menentukan spesies
ikan. Sebagai contoh, perbandingan antara panjang standar dengan tinggi badan akan
menentukan bentuk badan dari ikan. Ada beberapa bukti perbedaan morfologis antar
populasi geografis yang berbeda. Metode konvensional dan truss morphometrics
biasanya digunakan untuk menggambarkan variasi morfologi di antara populasi yang
berbeda dari suatu spesies. Teknik truss morphometrics merupakan salah satu upaya
menggambarkan bentuk ikan dengan cara mengukur bagian-bagian dari tubuhnya atas
dasar titik-titik patokan. Kegunaan dari truss morfometrics adalah menentukan galur
spesies dan menentukan hewan-hewan yang tidak punya seksual dimorphisme
(Demardjati & Wardhana, 1990)
Kelebihan dari truss morphometrics adalah memberikan gambaran yang lebih
menyeluruh dan menghasilkan karakterisasi geometrik bentuk tubuh ikan secara lebih
sistematis dan menunjukkan peningkatan kemampuan untuk mengidentifikasi
perbedaan-perbedaan bentuk tubuh. Pengukuran dengan cara ini lebih konsisten,
memberikan informasi yang terinci dengan menggambarkan bentuk ikan dan
memperkecil kesalahan pengukuran. Kelemahan dari metode ini adalah cukup rumit
karena dibutuhkan tingkat ketelitian yang lebih, selain itu penggunaan waktunya juga
lumayan lama. Perbedaan mendasar antara ciri morfometrik dan meristik, yaitu ciri
meristik lebih stabil jumlahnya selama masa pertumbuhan setelah ukuran tubuh yang
mantap tercapai, sedangkan karakter morfometrik berubah secara kontinyu sejalan
ukuran dan umur (Messieh, 1972).
Preparat yang mewakili hewan avertebrata acara morfometri yaitu udang dogol
(Metapenaeus sp.), sedangkan hewan vertebrata meliputi ikan nila (Oreochromis
niloticus), ular kobra (Naja sputatrix), ular weling (Bungarus candidus), ular macan
(Xenochrophis piscator), ular kadut (Homalopsis buccata), ular jali (Ptyas mucosus),
dan ular bajing (Gonyosoma oxycephalum).

Preparat yang digunakan kelompok 2 rombongan IV adalah ular jali (Ptyas


mucosus). Ular jali (Ptyas mucosus) adalah jenis ular yang mempunyai kebiasaan
tinggal dalam liang-liang tanah di sekitar lokasi pertanian dan belukar di perbukitan
hingga mencapai ketinggian 800 m dpl. Penyebaran jenis ular ini di Indonesia meliputi
wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, serta Sumatera dan P. Bangka.
Sedangkan di luar negeri tersebar mulai dari Iran, Afghanistan, Turkemenistan,
Pakistan, India, Nepal, Bangladesh, Srilanka, Myanmar, China, Taiwan, Vietnam, Laos,
Kamboja, Thailand hingga Malaysia Ular ini juga diketahui erat berhubungan dengan
daerah perairan yang debit airnya berlimpah, seperti saluran irigasi. Apabila ular Jali
ditemukan di dataran rendah yang berparit, berarti ular tersebut sedang atau akan
melakukan aktifitas mencari mangsa. Ular ini tidak jarang juga terlihat di permukiman
penduduk, seperti pekarangan atau kebun (Lazell, 1998).
Menurut Das (2002), morfologi dari ular jali yaitu mempunyai warna coklat muda
kekuningan di bagian sisi tubuhnya, dan di bagian depannya mempunyai warna hitam
yang lebih terang bila dibandingkan dengan warna ekornya dan selain itu ular jali ini
panjangnya dapat mencapai 2 meter. Bagian sebelah depan (anterior) biasanya berwarna
lebih terang dari ekornya yang kehitaman. Sisik-sisik di atas ekor bertepi hitam,
sehingga terkesan bergaris-garis seperti memakai stocking hitam. Sisi bawah tubuh
(ventral) berwarna kekuningan sampai kuning terang. Matanya berukuran besar.
Kerabatnya yang mirip adalah Ptyas mucosus, yang dibedakan dengan adanya lorengloreng hitam di bibirnya dan di tubuh bagian belakang. P mucosus umumnya juga
bertubuh lebih besar, hingga lebih dari tiga meter panjangnya. Ular ail kerap ditemui di
sawah-sawah, kebun, pekarangan, dan dekat tepi sungai. Mangsa utamanya adalah
hewan pengerat, terutama tikus. Klasifikasi ular jali menurut Turan (1999) sebgai berikut:
Kingdom : Animalia
Phylum

: Chordata

Order

: Squamata

Class

: Reptilia

Family

: Colubridae

Genus

: Ptyas

Species

: Pytas mucocus

Ikan nila memiliki ciri morfologis yaitu berjari-jari keras, sirip perut torasik, letak
mulut subterminal dan berbentuk meruncing. Selain itu, tanda lainnya yang dapat dilihat
dari ikan nila adalah warna tubuhnya hitam dan agak keputihan. Bagian tutup insang

berwarna putih, sedangkan pada nila lokal putih agak kehitaman bahkan kuning. Sisik
ikan nila berukuran besar, kasar dan tersusun rapi. Sepertiga sisik belakang menutupi
sisi bagian depan. Tubuhnya memiliki garis linea lateralis yang terputus antara bagian
atas dan bawahnya. Linea lateralis bagian atas memanjang mulai dari tutup insang
hingga belakang sirip punggung sampai pangkal sirip ekor. Ukuran kepala relatif kecil
dengan mulut berada di ujung kepala serta mempunyai mata yang besar (Kottelat et al.,
1993).
Bentuk badan ikan nila (Oreochromis niloticus) ialah pipih ke samping memanjang.
Mempunyai garis vertikal pada badan sebanyak 911 buah, sedangkan garis-garis pada
sirip berwarna merah berjumlah 612 buah. Pada sirip punggung terdapat juga garisgaris miring. Mata kelihatan menonjol dan relatif besar dengan bagian tepi mata
berwarna putih. Badan relatif lebih tebal dan kekar dibandingkan ikan mujair. Garis
lateralis (gurat sisi di tengah tubuh) terputus dan dilanjutkan dengan garis yang terletak
lebih bawah (Susanto, 2007).
Menurut Saanin (1984), ikan nila (Oreochromis niloticus) mempunyai klasifikasi
sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum

: Chordata

Class

: Osteichthyes

Order

: Percomorphi

Family

: Cichlidae

Genus

: Oreochromis

Species

: Oreochromis niloticus

Karakter meristik merupakan karakter yang menunjukkan identitas dari tetua O.


niloticus, karakter ini mungkin menunjukkan tidak adanya efek genotip dan fenotip dari
faktor yang mempengaruhi karakter. diversifikasi fenotipik selama invasi biologi dapat
timbul dengan adaptasi lingkungan atau plastisitas adaptif fenotipe . keterbatasan utama
dari karakter morfologi pada tingkat variasi intra-spesifik fenotipe yang tidak langsung
dibawah kontrol genetik namun mengalami modifikasi lingkungan (Verma et al., 2015).
Studi morfometrik dan meristic merupakan salah satu cara untuk melihat
pengelompokan populasi ikan, selain untuk identifikasi. Karakter morfometrik yang
diukur pada ikan meliputi, SL = panjang standar, TL = panjang total, HL = panjang
kepala, HD = tinggi kepala, SNL = panjang moncong, ED = diameter mata, LUJ =
panjang rahang atas, LLJ = panjang rahang bawah, BD = tinggi badan, LCP = panjang

batang ekor, DCP = tinggi batang ekor, PDL1 = panjang sebelum sirip punggung 1,
PDL2 = panjang sebelum sirip punggung 2, PVL = panjang sebelum sirip perut, PAL =
panjang sebelum sirip dubur, LDB1 = panjang dasar sirip punggung 1, LDB2 = panjang
dasar sirip punggung 2, LAB = panjang dasar sirip dubur, LPF = panjang sirip dada,
LVF = panjang sirip perut, LCF = panjang sirip ekor, LDF1 = panjang sirip punggung 1,
LDF2 = panjang sirip punggung 2, LAF = panjang sirip dubur, LMCF = panjang sirip
ekor bagian tengah (Afina et al., 2014).
Crustacea adalah hewan akuatik (air) yang terdapat di air laut dan air tawar. Kata
Crustacea berasal dari bahasa latin yaitu kata Crusta yang berarti cangkang yang keras.
Ilmu yang mempelajari tentang crustacean adalah karsinologi (Demarjati & Wardhana,
1990 ). Jumlah udang di perairan seluruh dunia diperkirakan sebanyak 343 spesies yang
potensial secara komersil. Dari jumlah itu 110 spesies termasuk didalam family
Penaidae. Udang digolongkan kedalam Filum Arthropoda dan merupakan Filum
terbesar dalam Kingdom Animalia (Fast dan Laster, 1992). Bentuk dan ciri udang yang
mudah dikenali adalah melalui warna dan bentuk serta jumlah gerigi pada rostrumnya.
Ciri dan bentuk tersebut secara umum dikenal di Indonesia dan dikelompokkan sebagai
berikut (Naamin et al, 1992):
1. Kelompok udang jerbung (Penaeus sp) berwarna putih kekuningan, rostrum lurus
dan pendek, bagian pangkal agak besar berbentuk segitiga dengan rumus 7-8/4-6
dan permukaan tubuh halus.
2. Kelompok udang windu (Penaeus monodon) loreng hitam dan kuning secara
vertikal, rostrum bergerigi tipis dengan rumus 7-8/2-3 serta berkulit halus.
3. Kelompok udang dogol (Metapenaeus sp) berkulit kasar dengan warna kecoklatan
serta hijau kemerahan, rostrum berbentuk gerigi tipis dengan rumus 6-9/0.
Udang dogol (Metapenaeus sp) memiliki kulit yang kasat dan keras, berwarna
coklat muda sedikit tembus cahaya, kadang berwarna kemerah-merahan, berbintikbintik merah. Ujung kaki dan ekor berwarna kemerah-merahan, kecuali dua kaki
pertama yang berwarna putih. Panjang udang dogol dapat mencapai 18 cm (Maemunah,
2001). Udang dogol merupakan salah satu organisme pemakan plankton, baik
fitoplankton maupun zooplankton dan merupakan predator beberapa invertebrata
(Nybakken, 1992).
Menurut Shigueno (1975), ciri morfologi udang dogol adalah mempunyai rostrum
panjang dan lurus yang ditumbuhi 7-9 duri dorsal sampai ke tepi posterior karapas.
Rostrum memiliki gigi dengan rumus 6-9/0, umurnya 8/0, berbentuk lurus atau hampir

lurus dan agak mengarah ke atas. Basipod satu pada periopod ketiga terdapat sebuah
duri. Duri ischiopod pada periopod satu. Pada jantan, bagian pangkal meropod pada
periopod kelima terdapat sebuah bonggol yang bentuknya sama seperti pada ischiopod.
Bagian telson tidak memiliki duri lateral. Rostrum bergigi hanya pada sisi bagian atas,
gurat pada karapas tidak ada. Kaki jalan pertama dilengkapi dengan tonjolan duri yang
kelihatan sangan kecil. Eksopod pada kaki jalan kelima tidak ada. Abdomen kasar dan
berambut. Klasifikasi udang Metapenaeus sp. menurut Dall et al. (1990) sebagai berikut
Kingdom : Animalia
Phylum

: Arthropoda

Class

: Crustacea

Order

: Decapoda

Family

: Penaeidae

Genus

: Metapenaeus

Species

: Metapenaeus sp.

Proses yang rumit ini melibatkan kordinasi sistem hormonal dalam tubuh udang.
Siklus molting berlangsung melalui beberapa tahapan. Pada beberapa spesies, masingmasing mempunyai tahapan dan definisi sendiri-sendiri. Menurut Saanin (1984) pada
udang ada 4 tahapan siklus molting, yaitu:
1

Postmolt
Postmolt adalah tahapan beberapa saat setelah proses eksuviasi (penanggalan

eksoskeleton yang lama). Pada tahapan ini terjadi pengembangan eksoskeleton yang
disebabkan oleh meningkatnya volume hemolymph akibat terserapnya air ke dalam
tubuh. Air terserap melalui epidermis, insang dan usus. Setelah beberapa jam atau hari
(tergantung pada panjangnya siklus molting), eksoskeleton yang baru akan mengeras.
2

Intermolt
Tahapan ini, eksoskeleton menjadi semakin keras karena adanya deposisi mineral

dan protein. Eksoskeleton (cangkang) udang relatif lebih tipis dan lunak dibandingkan
dengan kepiting dan lobster.
3

Early Premolt

Tahapan early premolt (premolt awal) mulai terbentuk epicuticle baru di bawah
lapisan endocuticle. Tahapan premolt dimulai dengan suatu peningkatan konsentrasi
hormon molting dalam hemolymph (darah).
4

Late Premolt
Tahapan premolt akhir terbentuk lagi lapisan exocuticle baru di bawah lapisan

epicuticle baru yang terbentuk pada tahapan early premolt. Kemudian diikuti dengan
pemisahan cangkang lama dengan cangkang yang baru terbentuk. Eksoskeleton
(cangkang) lama akan terserap sebagian dan cadangan energi dimobilisasi dari
hepatopankreas. Ecdysis (pemisahan cangkang) sebagai suatu tahapan hanya
berlangsung beberapa menit saja, dimulai dengan membukanya cangkang lama pada
jaringan penghubung bagian dorsal antara thorax dengan abdomen, dan selesai ketika
udang melepaskan diri dari cangkangnya yang lama. Siklus molting dikendalikan oleh
hormon molting yang dihasilkan oleh kelenjar molting yang terdapat di dalam ruang
anterior branchium, dan disebut Y organ.
Perbedaan antara udang air tawar dan udang air laut menurut Bambang (1997),
sebagai berikut:
Perbedaan
Beda ukuran
Perbandingan

Air tawar
Kecil
1:1

Air laut
Besar
1:2

Menopang pada 1 dan 3

Tidak menopang pada

cepalothorax &
abdomen
Pleura (selaput)

pleura 1 dan 3 ( mirip


Reproduksi

Appendix maskulin

genting)
Petesma (jantan) &

(jantan) & appendix

thelicum (betina)

interna (betina)
Perbedaan udang jantan dan betina, pada udang jantan memiliki ciri pasangan kaki
jalan ke-2, tumbuh sangat besar, kuat, bercapit besar dan panjang, bagian perut lebih
ramping daripada betina, kepala udang tampak lebih besar dari udang betina, tubuh
udang jantan langsing dan keadaan ruang dibawah abdomen sempit, alat kelamin udang
galah jantan terletak pada pangkal kaki jalan ke-5. Sedangkan udang betina pasangan

kaki jalan ke-2 tumbuh kecil, capit yang ke-2 lebih pendek, bagian abdomen nampak
lebih gemuk dan lebar, kepala udang betina lebih kecil daripada udang jantan, tubuh
udang betina terlihat gemuk dan ruang bagian bawah abdomen membesar sesuai dengan
kegunaannya untuk mengerami telur, alat kelamin udang galah betina terletak pada
pangkal kaki jalan ke-3 (Fujaya, 1999).
BAB III. MATERI DAN METODE
A. Materi
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum acara morfometri yaitu bak preparat,
pinset, laporan sementara, jarum pentul, jangka sorong, penggaris, sterofom, millimeter
blok, benang dan alat tulis.
Bahan yang digunakan dalam praktikum adalah udang dogol (Metapenaeus sp.),
ikan nila (Oreochromis niloticus), ular kobra (Naja sputatrix), ular weling (Bungarus
candidus), ular macan (Xenochrophis piscator), ular kadut (Homalopsis buccata), ular
jali (Ptyas mucosus), dan ular bajing (Gonyosoma oxycephalum).
B. Metode
Pengukuran morfometri hewan avertebrata:
1

Preparat udang (Metapenaeus sp.) disiapkan dan diletakkan diatas millimeter blok.

Metode morfometrik sederhana, bagian-bagian tubuh udang diukur dengan


penggaris.

Patokan titik truss dibuat untuk metode Truss Morphometrics pada tubuh udang
dengan menggunakan jarum pentul.

Karakter morfometrik diukur dengan menggunakan jangka sorong dengan teknik


truss morphometrics.

Karakter meristik dari udang dihitung.

Seluruh hasil pengukuran dicatat pada table.


Pengukuran morfometri hewan vertebrata:

Preparat ular jali (Ptyas mucosus) dan ikan nila (Oreochromis niloticus).

Morfometri sederhana, bagian-bagian tubuh ular jali (Ptyas mucosus) dan ikan nila
(Oreochromis niloticus) diukur dengan pengaris.

Ikan nila (Oreochromis niloticus) diletakkan pada millimeter yang dibawahnya ada
sterofom diberi titik-titik patok menggunakan jarum pentul untuk metode truss
morphometrics.

Jarak antara titik-titik patokan diukur.

Karakter meristic ular jali (Ptyas mucosus) dan ikan nila (Oreochromis niloticus)
dihitung.

Hasil ditulis pada laporan sementara.


B. Pembahasan
Pengamatan yang dilakukan pada praktikum kali ini yaitu melakukan analisis

karakter morfologi hewan avertebrata secara meristik, morfometrik sederhana dan truss
morphometric. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari pengamatan secara meristik
jumlah bagian tubuh udang air laut betina diantaranya terdapat 1 pasang antenna, 5
pasang periopod dan pleopod, 2 pasang uropod dan terdapat 6 segmen pada abdomen
tubuhnya. Data ciri-ciri meristik hasil praktikum yaitu, udang laut jantan memiliki 5
pasang pleopoda, 6 pasang periopoda, 2 pasang uropoda, 1 pasang anntena, 1 pasang
antenulla, dan 6 ruas abdomen.
Data hasil analisis karakter morfologi secara meristik pada ikan nila (Oreochromis
niloticus) meliputi, jumlah jari-jari keras sirip punggung, jumlah jari-jari lunak sirip
punggung, jumlah sisik batang ekor, sisik linea lateralis 1, dan sisik linea lateralis 2.
Jari-jari keras sirip punggung ikan nila berjumlah 16 buah, jari-jari lunak sirip punggung
ikan nila berjumlah 11 buah, sisik batang ekor berjumah 14 buah, sisik linea lateralis
total berjumlah 58 buah.
Titik truss pada tubuh ikan mempunyai 10 titik yaitu, (1) titik paling posterior dari
rahang atas (maksila), (2) titik paling posterior dari mata, (3) titik pangkal dari sirip
abdomen, (4) titik pangkal dari sirip dorsal, (5) titik pangkal sirip anal, (6) titik antara
sirip keras dan sirip lunak pada sirip dorsal, (7) titik ujung sirip anal, (8) titik ujung sirip
dorsal, (9) titik dorsal pangkal sirip caudal, (10) titik ventral pangkal sirip caudal.
Udang laut juga memiliki 10 buah titik truss pada tubuhnya yaitu, (1) bagian terlebar
dari cepalothorax ventral, (2) pangkal rostrum, (3) bawah tangkai mata, (4) pertengahan
cepalothorax dorsal, (5) batas belakang cepalothorax ventral, (6) batas belakang
cepalothorax dorsal, (7) batas depan segmen 1 abdomen ventral, (8) batas belakang
segmen 3 abdomen dorsal, (9) batas belakang segmen 6 abdomen ventral, (10) batas

belakang segmen 6 abdomen dorsal. 10 titik truss pada tubuh ikan menghasilkan 21
jarak antar titik truss yaitu A1 (1-3) = 51,05 mm, A2 (1-2) = 46,20 mm, A3 (2-4) =
25,25 mm, A4 (3-4) = 69,05 mm, A5 (2-3) = 65,35 mm, A6 (1-4) =69,15 mm, B1 (3-5)
= 60,15 mm, B3 (4-6) = 89,15 mm, B4 (6-5)= 78,05 mm, B5 (5-4) = 98,05 mm,B6 (36)= 109,20 mm, C1 (7-5) = 35,35 mm,C3 (6-8) = 30,30 mm,C4 (8-7)= 31,40 mm, C5
(7-6) = 59,35 mm, C6 (5-8) = 52,05 mm, D1 (9-7) = 16,05 mm, D3 (8-10) = 22,05 mm,
D4 (10-9) = 99,05 mm, D5 (9-8) = 34,15 mm, D6 (7-10) = 34,30 mm.
Udang laut yang menjadi preparat untuk perhitungan Truss morphometrics
avertebrata juga memiliki 10 buah patokan titik truss yang menghasilkan 21 jarak antar
titik truss yaitu A1 (3-1) , A2 (1-2) , A3 (2-4) , A4 (4-3), A5 (3-2) , A6 (4-1) , B1 (5-3) ,
B3 (4-6) , B4 (6-5) , B5 (5-4) , B6 (6-3) , C1 (4-5) , C3 (6-8) , C4 (8-7) , C5 (7-6), C6
(8-5), D1 (9-7), D3 (8-10), D4 (10-9), D5 (9-8), D6 (10-7) . Pada udang laut betina, A1
= 23,05 mm, A2 = 13,05 mm, A3 = 11 mm, A4 = 16,05 mm, A5 = 19,25 mm, A6 =
26,25 mm, B1 = 11,05 mm, B3 = 19,5 mm, B4 = 13,55 mm, B5 = 20,5, B6 = 20,5 mm,
C1 = 22,5 mm, C3 = 22,5mm, C4 = 16,9 mm, C5 = 26,5 mm, C6 = 29,5 mm, D1 = 30
mm, D3 = 40,5 mm, D4 = 13,75 mm, D5 = 36 mm, D6 = 35 mm. Pada udang laut
jantan, A1 = 20,5 mm, A2 = 15,5 mm, A3 = 8 mm, A4 = 11 mm, A5 = 19 mm, A6 =
23,5 mm, B1 = 14 mm, B3 = 13 mm, B4 = 18,75 mm, B5 = 22,75 mm, B6 = 20,5 mm,
C1 = 22,5 mm, C3 = 22,5 mm, C4 = 16,5 mm, C5 = 26,5 mm, C6 = 29,5 mm, D1 = 30
mm, D3 = 40,5 mm, D4 = 13,75 mm, D5 = 36 mm, D6 = 35 mm.
Pengukuran selanjutnya dilakukan dengan menggunakan metode morfometrik
sederhana. Pengukuran ini dilakukan secara manual dengan menggunakan penggaris.
Bagian-bagian yang diukur pada udang air laut dengan metode ini diantaranya panjang
total yang diukur dari ujung antenna sampai ujung uropod, diperoleh panjang total 340
mm. Panjang standar diukur dari ujung rostrum sampai ujung telson, didapatkan 110
mm. Pengukuran panjang standar ini digunakan karena terkadang bagian-bagian tubuh
hewan ada yang tidak lengkap. Panjang karapax diukur dari bawah tangkai mata sampai
ujung karapax, panjang yang diperoleh 40 mm. Panjang rostrum diukur mulai dari gigi
awal sampai gigi terakhir, panjangnya yaitu 23 mm. Panjang scapocherit setelah diukur
hasilya adalah 16 mm. Pengukuran panjang segmen abdomen dilakukan sesuai panjang
pada segmen abdomenya yaitu dihasilkan panjang sekitar 55 mm. Pengukuran terakhir
yaitu panjang telson yang didapatkan 15 mm.

Beberapa bagian tubuh ikan nila (Oreochromis niloticus) yang diukur jika kita
melakukan metode morfometri sederhana adalah sebagai berikut, panjang total yaitu
panjang tubuh ikan mulai dari ujung moncong ikan sampai ujung ekor, panjang standar
yaitu panjang dari ujung moncong ikan sampai pangkal ekor, panjang kepala yaitu dari
ujung moncong sampai ujung operculum, panjang batang ekor (diukur secara
horizontal), panjang moncong, tinggi sirip dorsal, panjang pangkal sirip dorsal, diameter
mata, tinggi batang ekor (diukur secara vertikal), tinggi badan ikan (bagian badan ikan
yang paling lebar, diukur secara vertikal), panjang sirip dada, dan panjang sirip perut.
Data morfometri sederhana tubuh ikan nila (Oreochromis niloticus) yang didapat dari
hasil praktikum yaitu, panjang total (PT) = 23 cm, panjang standar (PS) = 18,5 cm,
panjang kepala (PK) = 4,5 cm, panjang batang ekor (PBE) = 6,5 cm, panjang moncong
(PM) = 2 cm, tinggi sirip dorsal (TSD) = 14,2 mm, panjang pangkal sirip (PPSD) = 2
cm, diameter mata (DM) = 0,45 cm, tinggi batang ekor (TBE) = 4,5 cm, tinggi badan
(TB) = 6,5 cm, panjang sirip dada (PSD) = 3,0 cm, dan panjang sirip perut (PSP) = 7,5
cm.
Data pengukuran yang diperoleh pada metode morfometrik sederhana dan metode
truss morphometric menunjukkan nilai yang berbeda. Data pengukuran menggunakan
metode truss morphometric menunjukkan hasil yang lebih spesifik dibanding dengan
menggunakan metode morfometrik sederhana, yang merupakan salah satu kelebihan
dari penggunakaan metode truss morphometric. Pengukuran menggunakan metode
truss morphometric melakukan 21 pengukuran, sedangkan pada metode morfometrik
sederhana hanya melakukan 7 pengukuran. Keunggulan lain dari penggunaan metode
truss morphometric ialah pola penggambaran yang menyeluruh. Namun, metode ini
juga memiliki kelemahan, yaitu alat yang digunakan terbilang mahal, waktu pengukuran
yang lama, dan prosedur yang rumit. Meskipun metode morfometrik sederhana tidak
spesifik, namun metode ini memiliki kelebihan yaitu, lebih sederhana dalam
penggunaan, alat yang digunakan terbilang murah, dan waktu yang digunakan singkat.
Bagian tubuh ular macan air (Xenochrophis sp.) yang diukur dengan metode
morfometri sederhana adalah panjang total yaitu panjang tubuh ular dari ujung mulut
sampai ujung ekor, panjang standar yaitu panjang tubuh ular dari ujung mulut sampai
kloaka, panjang kepala, diameter mata, keliling badan, diameter badan, jarak mata
hingga pangkal kepala, lebar kepala, keliling leher, dan keliling bagian kloaka. Data
morfometri sederhana tubuh ular macan air (Xenochrophis sp.)) yang didapat dari hasil

praktikum yaitu, panjang total = 90 cm, panjang standar 70 cm, panjang kepala = 3,5
cm, diameter mata 0,61 cm, keliling badan 19 cm, jarak mata hingga pangkal kepala =
2,5 cm, lebar kepala = 3 cm.
Data hasil analisis karakter morfologi secara meristik ular macan air (Xenochrophis
sp.) meliputi berbagai macam sisik pada kepala ular beserta jumlahnya. Macam sisik
pada kepala ular ini adalah rostral yang terdapat pada ujung mulut, prenasal yang
terdapat di bagian depan dari nasal, frontal yang terdapat diengah-tegah bagian dorsal
kepala ular kadut, prefrontal yang terdapat di bagian depan dari sisik frontal,
supraocular yang terdapat di atas mata ular, infraocular yang terdapat di bawah mata
ular, parietal yang terdapat di belakang sisik frontal dan supraocular, temporal yang
berada di sebelah bawah sisik parietal, supralabial yang terdapat dibawah sisik temporal
dan terdapat di bagian tepi labium atas ular, infralabial yang terdapat pada bagian tepi
labium bawah ular, mental yang terdapat di tengah-tengah labium bawah ular,
postmental yang terdapat di belakang mental, dan chin shielduang terdapat di bagian
belakang postmental. Ular kadut memiliki 1 sisik rostral, 4 sisik postnasal, 1 sisik
frontal, 2 sisik prefrontal, 2 sisik supraocular, 2 sisik parietal, 10 sisik temporal, 16
(masing masing 8 kanan kiri) sisik supralabial, 20 (masing-masing 10 kanan kiri) sisik
infralabial, 1 sisik mental, 2 sisik postmental, dan 4 sisik chin shield.
Teknik morfometri yang dilakukan pada ikan nila (Oreochromis niloticus) dan
udang laut (Metapeneous sp.) adalah teknik morfometri sederhana, dan Truss
morphometrics. Teknik Truss morphometrics dapat dilakukan pada ikan nila dan udang
laut karena ikan nila dan udang laut bagian-bagian tubuhnya berbentuk jelas dan dapat
dengan mudah dibedakan. Berbeda dengan ikan nila dan udang laut, teknik pengukuran
morfometri pada ular macan air (Xenochrophis sp.) hanya dilakukan dengan metode
morfometri sedehana tanpa metode Truss morphometrics. Metode Truss morphometrics
tidak dilakukan pada ular kadut karena bagian tubuh ular kadut sulit dibedakan
dibanding dengan bagian tubuh ikan nila dan udang laut.
Metode morofometri sederhana dapat dilakukan dengan cara mempersiapkan
preparat di baki preparat lalu langsung diukur bagian-bagian tubuhnya dengan
menggunakan jangka sorong dan penggaris lalu dicatat pada laporan sementara. Bagian
tubuh ikan nila yang diukur dengan metode morfometri sederhana adalah panjang total
yaitu panjang tubuh ikan mulai dari ujung moncong ikan sampai ujung ekor, panjang

standar yaitu panjang dari ujung moncong ikan sampai pangkal ekor, panjang kepala
yaitu dari ujung moncong sampai ujung operculum, panjang batang ekor (diukur secara
horizontal), panjang moncong, tinggi sirip dorsal, panjang pangkal sirip dorsal, diameter
mata, tinggi batang ekor (diukur secara vertikal), tinggi badan ikan (bagian badan ikan
yang paling lebar, diukur secara vertikal), panjang sirip dada, dan panjang sirip perut.
Bagian tubuh udang laut yang perlu diukur dengan metode morfometri sederhana adalah
panjang total yaitu panjang tubuh udang dari ujung anntena sampai ujung uropoda,
panjang standar yaitu panjang tubuh udang dari ujung rostrum sampai ujung telson,
panjang karapaks, panjang rostrum, panjang segmen abdomen, panjang telson, dan
panjang scaphocerite. Bagian tubuh ular macan air yang perlu diukur dengan metode
morfometri sederhana adalah panjang total yaitu panjang tubuh ular dari ujung mulut
sampai ujung ekor, panjang standar yaitu panjang tubuh ular dari ujung mulut sampai
kloaka, panjang kepala, diameter mata, keliling badan, diameter badan, jarak mata
hingga pangkal kepala, lebar kepala.
Metode pengukuran Truss morphometrics yang dilakukan pada ikan nila dan udang
laut, dapat dilakukan dengan cara preparat ikan nila dan udang laut diletakkan pada
stereofoam yang telah dilapisi kertas milimeter. Kemudian, titik-titik truss pada ikan
nila dan udang ditandai dengan jarum pentul. Lalu, jarak antara titik truss satu ke titik
truss selanjutnya diukur dengan jangka sorong agar hasil lebih akurat.

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

A Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan praktikum, dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut:
1

Praktikan dapat mengenali karakter morfologi hewan avertebrata dan vertebrata yang
penting digunakan sebagai dasar identifikasi, seperti jenis sisik pada ular, panjang
tubuh ular, jumlah sirip pada ikan, panjang tubuh ikan, lebar tubuh ikan, jumlah linea
lateralis pada ikan, jumlah rostrum, pleiopoda, periopoda, dan uropoda pada udang.

Praktikan dapat melakukan analisis karakter morfologi hewan avertebrata dan


vertebrata secara meristik (jenis sisik pada kepala ular beserta jumlahnya, jumlah
pleiopoda, periopoda, uropoda, anntena, antenulla, dan ruas abdomen pada udang,
dan jumlah jari-jari keras sirip punggung, jari-jari lunak sirip punggung, sisik batang
ekor, sisik linea lateralis pada ikan) dan morfometrik (titik-titik truss pada ikan dan
udang, bagian-bagian tubuh ikan, udang, dan ular yang diukur dengan teknik
morfometri sederhana)

Praktikan dapat menerapkan teknik morfometri sederhana dan Trussmorphometrics


pada hewan avertebrata (Metapeneus sp.) dan vertebrata (Oreochromis niloticus dan
Homalopsis buccata).

B Saran

Sebaiknya laporan morfometri vertebrata dan avertebrata dipisah. Karena terlalu


banyak yang ditulis.

DAFTAR REFERENSI
Affandi, R., Safei, D.S., Rahardjo, M.F. & Sulistiono. 1992. Ikhtiologi : Suatu Pedoman
Kerja Laboratorium. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat
Jendral Pendidikan Tinggi. Pusat Antar Universitas Ilmu Hayati. Bogor : Institut
Pertanian Bogor.
Afina, I., Dewi, E., Tutik, K. & Siti, Z.M. 2014. Analisis Morfometrik dan Meristik
Hasil Persilangan Ikan Pelangi Boesemani (Melanotaenia boesemani) dan Ikan
Pelangi Merah Abnormal (Glossolepis incisus). Unnes Journal of Life Science,
3(2), pp.112-123.
Bambang, M. 1997. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga.
Brojo, M. 1999. Ciri-Ciri Morfometrik Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Strain
Chitralada dan Strain Gift. Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia,
6(2), pp.21-38.
Dall, W., Hill, B.J, Rothlisberg, P.C. & Staples D.J. 1990. The Biology of The Peneidae.
New York: Academic Press.
Das, I. 2002. A Photographic Guide to Snakes and Other Reptiles of India. Florida:
Ralph Curtis Books.
Demardjati, B.S. & Wardhana, W. 1990. Taksonomi Avertebrata. Jakarta : UI Press.
Fujaya, Y. 1999. Fisiologi Ikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Fast, A.W. & Lester, L.J. 1992. Pond Monitoring and Management Marine Shrime
Culture Principle and Practise. Netherlands: Elsevier Science Publisher
Amsterdam.
Haryono. 2001. Variasi Morologi dan Morfometri Ikan Dokun (Puntius Lateristriga) di
Sumatera. Jurnal Biota, 6(3), pp.109-116.
Kottelat, M., Whitten, A.J, Kartikasari, S.N. & Wirjoatmodjo, S. 1993. Fresh Water
Fishes of Western Indonesia and Sulawesi. Jakarta: Periplus Editions Limited.
Lazell, J.D. 1998. Morphology and the status of the snake genus Ptyas. Herpetological
Review, 29(3), 134-145.
Maemunah, S. 2001. Pengaruh Suhu dan Kemasan Terhadap Mutu Siomay Ikan Nila
(Oreochromis niloticus) dengan Flavour Udang (Metapenaeus monoceros)
Selama Masa Penyimpanan. Skripsi. Program Studi Teknologi Hasil Perikanan.
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Bogor: IPB.
Mayr, E. 1982. Principles Of Systematic Zoologi. New Delhi: Tata McGraw-Hill
Publishing Company.
Messieh, SN. 1972. Use of otoliths in identifying herring stocks in southern Gulf of
Lawrence and adjacent waters. J. Fish. Res. Board Can. 29(8), pp.1113-1118.
Naamin, N.B., Sumiono, S. & Ilyas. 1992. Pedoman Teknis Pemanfaatan dan
Pengelolaan Sumberdaya Udang Penaeid bagi Pembangunan Perikanan. Jakarta :
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Radiopoetro. 1990. Zoologi. Jakarta: Erlangga.


Saanin, H. 1984. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan Jilid 1 dan 2. Jakarta: Bina
Cipta.
Shigueno, K. 1975. Shrimp Culture in Japan Edisi 1. Tokyo: Association for
International Technical Promotion.
Susanto, H. 2006. Budidaya Ikan di Pekarangan edisi Revisi. Jakarta: Penebar Swadaya.
Turan, C. 1999. A Note on The Examination of Morphometric Differentiation Among
Fish Populations: The Truss System. Journal of The University of Mustafa
Kemal, Faculty of Fisheries, 28, pp.259-263.
Verma, P., Singh, A.K., Madhu, T. & Sharad, C.S. 2015. Comparative morphometry,
growth and feeding ecology of feral Oreochromis niloticus (L.) invaded into the
Ganga river system, India. Research in Environment and Life Sciences, 8(1),
pp.63-68.