You are on page 1of 168

UNIVERSITAS INDONESIA

KINETIKA REDUKSI 4-NITROFENOL DENGAN KATALIS ZEOLIT ALAM


TERMODIFIKASI NANOPARTIKEL (Au, Ag, DAN Ni)

SKRIPSI

MUHAMMAD SAFAAT
0806399861

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


PROGRAM STUDI KIMIA
DEPOK
JULI 2012

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

UNIVERSITAS INDONESIA

KINETIKA REDUKSI 4-NITROFENOL DENGAN KATALIS ZEOLIT ALAM


TERMODIFIKASI NANOPARTIKEL (Au, Ag, DAN Ni)

SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana sains

MUHAMMAD SAFAAT
0806399861

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


PROGRAM STUDI KIMIA
DEPOK
JULI 2012

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, yang senantiasa

memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat


menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Sholawat serta salam semoga tercurah kepada
Rasullulah Muhammad SAW beserta keluarganya. Skripsi yang berjudul Kinetika
Reduksi 4-Nitrofenol dengan Katalis Zeolit Termodifikasi Nanopartikel (Au, Ag, dan

Ni) disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan program sarjana di
Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas
Indonesia.
Penulis menyadari bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai
pihak, dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan skripsi ini, sangatlah sulit
bagi penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, penulis ingin
mengucapkan terima kasih atas segala bantuan yang telah diberikan kepada:

(1) Dr. Yoki Yulizar, M.Sc selaku dosen pembimbing yang telah memberikan ide
penelitian, menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran serta kesabaran yang luar
biasa dalam membimbing penulis sehingga skripsi ini dapat tersusun
(2) Kak Novena Damar Asri, S.Si selaku editor skripsi saya dengan penuh kesabaran
dalam memahami tiap tulisan saya dan memberikan pengarahan dalam
penyusunan skripsi saya, terima kasih Bu Dr. Ani Chaerani atas motivasi,
semangat, bimbingan, dan soft skill yang telah diberikan kepada penulis serta
Kak Shabrina yang baik hati.
(3) Dr. Ridla Bakri selaku Ketua Departemen Kimia UI, Dra. Sri Handayani, M.Kes

selaku pembimbing akademik, Dra. Tresye (Utari selaku koordinator penelitian,


dan seluruh staf pengajar Kimia UI yang telah memberikan Ilmu yang sangat
berharga selama ini;
(4) Dra. Tresye Utami, M.Si ; Dr. Rahmat Wibowo; dan Dr. Riwandi Sihombing
selaku penguji saya yang telah memberikan ilmunya, masukan dan kesabaran
menghadapi saya.

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

(5) Ibu, Baping, azum, Mas Ivet serta keluarga besar lainnya yang tiada hentinya
memberikan perhatian, dukungan serta doa yang selalu dipanjatkan dengan
setulus hati demi kelancaran penyusunan skripsi ini;
dan duka.
(6) Miranda yang selalu ada di saat suka

(7) Teman penelitian tercinta Andi, Disa, Nia, Resty, dan Rina yang selalu hadir di saatsaat sulit dan senang yang memberikan
rasa kerjasama yang luar biasa,hiburan

/lelucon konyol yang di lab saat susah dan senang, dan kulineran bareng, baso

WC, sop duren, baso pocin, ok cut.


(8) Pak Hedi, Mba Ina, Mba Cucu, Mba Trie, Mba Ema, Mba Indri, Mba Ati, Pak
Trisno perpus (Babeh), Pak Kiri, Pak Min, Pak Marji, dan Pak Hadi terimakasih
atas bantuannya selama ini.
(9) Ka Mila dan Ka Daniel terimakasih atas bantuannya, masukan-masukan yang
diberikan selama penulis menghadapi kesulitan dan yang sabar menghadapi saya
kalau saya suka nebeng FTIR dan AAS. Ka Rispa terimakasih atas bantuannya
selama penulis melakukan pengukuran. Buat afiliasi terimakasih sudah majang
nama penulis di depan UV-Vis sehingga penulis jadi terkenal.
(10)Teman-teman satu lab, Andy, Dika, Rahmat, Apis, Hadi, Reza, Helen, Pandu, Sari,
Dilah, Desti, Dian dan yang lainnya yang belum sempat saya cantumkan.
(11) Opan, Haris, James, Dimas Beler, (geng jomblo) sukses ya buat penelitiannya.
(12)Teman-teman kimia 2008, terimakasih atas bantuannya selama ini sehingga saya
dapat menyelesaikan kuliah saya tepat waktu.
(13)Azum, Noto, Tono, terimakasih kalian sudah mendukung saya dari waktu kita
masih TK hingga saat ini kita sudah dewasa (umurnya). Yuk kembangkan SC!

(14)Kandhi, Dede, Acil, Uzla, Ochi, Annisa, Miranda, dan teman-teman pengajar SC,
terimakasih telah membantu mengembangkan SC dan mendukung penelitian saya.
(15)Teman-teman CT HMDK 2010, Reza, Tata, Desti, Rasti, Michu, Ocha, Yesi, Andy,
Hadi, Mimi, bang Kharis, sukses ya untuk penelitian kita bersama dan semoga kelak
kita dapat menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, bangsa, dan agama.
Teman-teman KEILMIAHAN HMDK 2010 buat degijol selamat ya, buat Abi,
Dika, Dedy, Adit, Arin, Rima, Rahma semangat dan sukses untuk penelitiannya.
HIDUP MAHASISWA!!!

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

(16) Endah, Rahma, Risang, Nia, Andy, Rahmat, Andika, Ima, guru dan murid TK
film pendek di ITB) terimakasih ya atas kerja
Kukel, SMAN 48 Jakarta, (Tim lomba

sama kalian dalam menjalani proyek kita, yang katanya dapat juara harapan 2,
Alhamdulillah

(17)Michu terimakasih sudah menjadi rekan


kerja untuk lomba PKM-GT di OIM 2009,

Alhamdulillah jadi wakil MIPA di UI dan Rima terimakasih sudah menjadi rekan
untuk lomba PKM di COSY 2010 UNTAN Kalimantan.

Penulis
2012

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

ABSTRAK

Nama

: Muhammad Safaat

Program Studi : Kimia


Judul

: Kinetika Reduksi 4-Nitrofenol


dengan Katalis Zeolit Alam Termodifikasi

Nanopartikel (Au, Ag, dan Ni)

Pencemaran air di Indonesia sebagian besar disebabkan oleh aktivitas manusia, terutama hasil
aktivitas di perindustrian. Air limbah yang dihasilkan dari perindustrian tersebut memiliki
efek termal dan mengandung senyawa-senyawa antropogenik, yang juga dapat mengurangi
oksigen dalam air, contohnya senyawa Nitrofenol. Oleh karenanya dilakukan modifikasi
nanopartikel Ag, Au, Ni yang diimobilisasi ke dalam zeolit yang kemudian diaplikasikan
sebagai katalis reduksi senyawa 4-Nitrofenol menjadi senyawa 4-Aminofenol. Zeolit dapat
berfungsi sebagai template dari nanopartikel dan sekaligus dapat berperan aktif sebagai
katalis reduksi senyawa 4-Nitrofenol. Jenis nanopartikel (Au, Ag, dan Ni) dalam zeolit
mempunyai aktivitas katalis yang berbeda. Didapatkan urutan aktivitas katalis 50 mg
zeolit@Au > 50 mg zeolit@Ag > 75 mg Na-zeolit > 75 mg zeolit@Ni. Zeolit@AuNP dengan
berat 50 mg sangat efektif dan efisien dalam mereduksi senyawa 4-Nitrofenol 8,6 x 10-5 M
melalui penurunan absorbansi pada maks 400 nm hasil intermediet ion nitrofenolat dan
peningkatan absorbansi pada maks 300 nm berupa hasil akhir, 4-Aminofenol dengan %
reduksi 99,13 % dan % konversi 85,15% selama 30 menit dengan k = 1,64 x 10-1 menit-1.
Kata kunci

: Katalis zeolit@Au, katalis zeolit@Ag, katalis zeolit@Ni, Reduksi 4Nitrofenol

xx + 147 hlm. : 74 Gambar, 8 Tabel


Bibliografi

: 44 (1962-2011)

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

ABSTRACT

Name

: Muhammad Safaat

Program Study

: Chemistry

Title

: Reduction Kinetics of 4-Nitrophenol


with Catalyst of Natural Zeolite

Modified Au, Ag, and Ni Nanoparticles

Water pollution in Indonesia are mostly caused by human activities, primarily the result of
activity in the industry. Wastewater generated from the industry has a thermal effect and
contain anthropogenic compounds, which also can reduce oxygen in water, for example
nitrophenol compounds. Therefore modification of nanoparticles Ag, Au, Ni is immobilized
into the zeolite which is then applied as a reduction catalyst compound 4-nitrophenol into 4Aminophenol compounds. Zeolites can serve as a template of nanoparticles and also can play
an active role as a catalyst for the reduction of compound 4-nitrophenol. Types of
nanoparticles (Au, Ag, and Ni) in the zeolite catalysts having different activities. Catalysts
obtained activity catalyst is 50 mg Zeolite@Au > 50 mg zeolite@Ag > 75 mg Na-zeolite >
75 mg zeolite@Ni. Zeolite@AuNP weighing 50 mg is highly effective and efficient in
reducing the compound 4-nitrophenol through the reduction of absorbance at 400 nm results
maks nitrofenolat ion intermediates and an increase in absorbance at 300 nm maks form
the final result, 4-Aminofenol with % reduction of 99.13% and % conversion of 85.15% for
30 minutes with k = 1,64 x 10-1 menit-1.
Keywords

: Zeolite@Au catalyst, Zeolite@Ag catalyst, Zeolite@Ni catalyst,


Reduction of 4-Nitrophenol

xx + 147 pages.

: 74 Pictures, 8 Tables

Bibliography

: 44 (1962-2011)

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ......................................................................................................


HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ...........................................................
LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................................
KATA PENGANTAR ...................................................................................................

LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH .......................................

ABSTRAK .....................................................................................................................
ABSTRACT ...................................................................................................................
DAFTAR ISI ..................................................................................................................
DAFTAR GAMBAR .....................................................................................................
DAFTAR TABEL ..........................................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................................

i
ii
iii
iv
vii
viii
ix
x
xiv
xix
xx

1. PENDAHULUAN ........................................................................................................

1.1 Latar Belakang .......................................................................................................

1.2 Perumusan Masalah ...............................................................................................

1.3 Hipotesis ................................................................................................................

. 1.4 Tujuan Penelitian ...................................................................................................

2. TINJAUAN PUSTAKA ...............................................................................................

2.1 Kajian pustaka dari penelitian yang telah dilakukan ................................................

2.2 Studi literatur .............................................................................................................

2.2.1 Zeolit .................................................................................................................

2.2.2 Struktur dan fungsi zeolit ................................................................................

2.2.3 Nanoteknologi ..................................................................................................

14

2.2.4 Nanopartikel perak ..........................................................................................

15

2.2.5 Nanopartikel emas ...........................................................................................

16

2.2.6 Nanopartikel nikel ...........................................................................................

16

2.3 Katalis .......................................................................................................................

17

2.4 Reaksi Redoks ..........................................................................................................

17

2.5 Nitrofenol ..................................................................................................................

18

2.6 Aminofenol ...............................................................................................................

18

2.7 Spectroscopy UV-Visible ........................................................................................

19

2.8 Particle Size Analyzer (PSA) ..................................................................................

20

2.9 Fourier Transform Infra Red (FTIR) .....................................................................

20

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

2.10 X-Ray Fluoresence (XRF) .....................................................................................

21

2.11 X-Ray Difractometry (XRD) .................................................................................

21

2.12 Transmission Electron Microscopy (TEM) .........................................................

22

(LCMS) ..........................................
2.13 Liquid Chromatography Mass Spectrometry

23

3. METODE PENELITIAN ............................................................................................

26

3.1 Peralatan dan Bahan .................................................................................................

26

3.1.1. Peralatan ..........................................................................................................

26

3.1.2. Bahan ..............................................................................................................

26

3.2 Prosedur ....................................................................................................................

26

3.2.1 Pembuatan larutan induk ...............................................................................

26

3.2.1.1 Pembuatan larutan HCl 0,05 M ......................................................

26

3.2.1.2 Pembuatan larutan NaOH 0,05 M ..................................................

27

3.2.1.3 Pembuatan larutan NaCl M ............................................................

27

3.2.1.4 Pembuatan larutan HAuCl4 0,017 M ..............................................

27

3.2.1.5 Pembuatan larutan Ag(NO3) 0,01 M ..............................................

27

3.2.1.6 Pembuatan larutan Ni(NO3).6H2O 0,01 M......................................

27

3.2.1.7 Pembuatan larutan NaBH4 0,1 M ...................................................

27

3.2.1.8 Pembuatan larutan 4-Nitrofenol 0,0102 M .....................................

27

3.2.1.9 Pembuatan larutan 4-Aminofenol 0,0102 M ..................................

27

3.2.2 Aktivasi Zeolit ...............................................................................................

27

3.2.2.1 Aktivasi secara fisika .........................................................................

27

3.2.2.2 Aktivasi secara kimia .........................................................................

28

3.2.2.3 Pengondisian zeolit dengan NaCl Jenuh ............................................

28

3.2.3 Imobilisasi Nanopartikel Emas ...................................................................

29

3.2.3.1 Optimasi Sintesis Nanopartikel Au ....................................................

29

3.2.3.2 Uji Kestabilan Nanopartikel Au......................................................

29

3.2.3.3 Optimasi Waktu immobilisasi Nanopartikel Au ............................

29

3.2.3.4 Imobilisasi Nanopartikel Au dalam Zeolit .....................................

29

3.2.4 Imobilisasi Nanopartikel Perak ...................................................................

30

3.2.4.1 Immobilisasi Nanopartikel Ag ke dalam Zeolit ..............................

30

3.2.4.2 Optimasi Jumlah Pelapisan .............................................................

30

3.2.5 Imobilisasi Nanopartikel Nikel ....................................................................

31

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

3.2.5.1 Optimasi Sintesis Nanopartikel Ni ..................................................

31

3.2.5.2 Uji Kestabilan Nanopartikel Ni .......................................................

31

3.2.5.3 Imobilisasi Nanopartikel Ni dalam Zeolit .......................................

31

3.2.6 Aplikasi Reduksi 4-Nitrofenol .....................................................................

32

3.2.7 Optimasi pada aplikasi Katalis Terhadap


4-Nitrofenol ................................

32

3.2.7.1. Variasi berat katalis ...........................................................................

32

3.2.7.2 Variasi Berat Zeolit dalam Sintesis Zeolit@Au ..............................

32

3.2.7.3 Variasi Konsentrasi 4-NP..................................................................

33

4. PEMBAHASAN .......................................................................................................

35

4.1 Aktivasi Zeolit .....................................................................................................

35

4.1.1 Aktivasi secara fisika ...................................................................................

35

4.1.2 Aktivasi secara kimia...................................................................................

35

4.1.3 Pengondisian Zeolit menggunakan NaCl Jenuh .........................................

36

4.2 Pembuatan Katalis Zeolit Termodifikasi Nanopartikel .....................................

37

4.2.1 Katalis Zeolit Termodifikasi Nanopartikel Ag (Katalis zeolit@Ag) ......

37

4.2.2 Katalis Zeolit Termodifikasi Nanopartikel Ni (Katalis zeolit@Ni) ........

37

4.2.3 Katalis Zeolit Termodifikasi Nanopartikel Au (Katalis zeolit@Au) ......

38

4.3. Karakterisasi ....................................................................................................

38

4.3.1 Karakterisasi dengan Sistem Koloid .......................................................

38

4.3.1.1 Karakterisasi dengan UV-Vis ......................................................

38

4.3.1.1.1 Sintesis dan Kestabilan Nanopartikel Ag ......................

39

4.3.1.1.2 Sintesis dan Kestabilan Nanopartikel Ni.......................

40

4.3.1.1.3 Sintesis dan Kestabilan Nanopartikel Au ......................

43

4.3.1.2 Karakterisasi PSA .......................................................................

47

4.3.2 Karakterisasi Zeolit dengan TEM, BET, dan XRF .................................

47

4.3.2.1 Karakterisasi Zeolit@Au dengan TEM.......................................

47

4.3.2.2 Karakterisasi dengan BET ...........................................................

49

4.3.2.3 Karakterisasi dengan XRF ..........................................................

50

4.3.3 Karakterisasi Zeolit dengan FTIR ............................................................

51

4.3.4 Karakterisasi dengan AAS .......................................................................

53

4.3.5 Karakterisasi zeolit dengan XRD .............................................................

53

4.4. Aplikasi sebagai Katalis Reduksi Senyawa 4-Nitrofenol ...............................

58

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

4.4.1 Larutan 4-Nitrofenol (4-NP) ...................................................................

58

4.4.1.1 Penentuan Panjang Gelombang


Maksimum .................................

58

4.4.1.2 Penentuan Absorptivitas Molar () ..............................................

59

4.4.2 Aktivitas Katalis Reduksi ..........................................................................

61

4.4.2.1 Optimasi Reduksi Tanpa Katalis dengan Variasi Konsentrasi


NaBH4 Tanpa Katalis.....................................................................

61

4.4.2.2 Variasi Kondisi Katalis ................................................................

64

4.4.3. Optimasi Reduksi Senyawa 4-NP ............................................................

69

4.4.3.1 Variasi Berat Katalis Zeolit Aktivasi .........................................

69

4.4.3.2 Variasi Berat Katalis Zeolit@Au ...............................................

75

4.4.3.3 Variasi Berat Katalis Zeolit@Ag ................................................

81

4.4.3.4 Variasi Berat Katalis Zeolit@Ni .................................................

86

4.4.4. Perbandingan Kondisi Optimum Jenis Katalis ........................................

91

4.4.4.1 Variasi Jumlah Berat Zeolit dalam Sintesis Zeolit@Au ..............

96

4.4.4.2 Variasi Konsentrasi 4-Nitrofenol .................................................

99

4.5 Penentuan Nilai Tetapan Laju Reaksi (kr) ........................................................

103

4.5.1 Variasi Kondisi dan Berat Katalis ............................................................

107

4.5.2 Variasi Jumlah Berat Zeolit dalam Sintesis Zeolit@AuNP ......................

108

4.5.3 Variasi Konsentrasi 4-NP .........................................................................

108

4.6 Karakterisasi LCMS ..........................................................................................

110

4.7Karakterisasi Zeolit@Au dengan Diffuse Reflectance Spectroscopy (DRS) ......

113

5. KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................................................

115

5.1 Kesimpulan .................................................................................................................

115

5.2 Saran ...........................................................................................................................

116

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................

117

LAMPIRAN ......................................................................................................................

122

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Skema kerja UV-Vis .............................................................................

19

Gambar 2.2 Difraksi sinar X ....................................................................................

22

Gambar 2.3 Proses pemisahan analit pada Liquid Chromatograpy sampai dengan

sprayer (penyemprotan oleh spray


needle tip)......................................

24

Gambar 3.1 Bagan penelitian ...................................................................................

34

Gambar 4.1 Ilustrasi sintesis Nanopartikel Ag ........................................................

39

Gambar 4.2 Spektra UV-Vis AgNO3 sebelum dan setelah ditambah NaBH4;
[AgNO3] = 10-4 M, [NaBH4] = 0,1 M ...................................................

39

Gambar 4.3 Ilustrasi sintesis nanopartikel Ni ..........................................................

40

Gambar 4.4 Spektra UV-Vis sintesis nanopartikel Ni dengan variasi konsentrasi


NaBH4 ...................................................................................................

41

Gambar 4.5 Kurva hubungan antara panjang gelombang maks dan absorbansi
terhadap konsentrasi NaBH4 pada sintesis Nanopartikel Ni .................

41

Gambar 4.6 Kestabilan Nanopartikel Ni...................................................................

42

Gambar 4.7 Kurva hubungan panjang gelombang maks dan absorbansi terhadap
kestabilan Nanopartikel Ni ..................................................................

43

Gambar 4.8 Ilustrasi sintesis Nanopartikel Au ........................................................

44

Gambar 4.9 Spektra UV-Vis sintesis nanopartikel Au dengan variasi konsentrasi


NaBH4; [HAuCl4] = 10-4 M...................................................................

44

Gambar 4.10 Kurva hubungan antara panjang gelombang maks dan absorbansi
terhadap variasi konsentrasi NaBH4 sintesis Nanopartikel Au ............

45

Gambar 4.11 Spektra UV-Vis Kestabilan Nanopartikel Au ......................................

46

Gambar 4.12 Kurva hubungan antara panjang gelombang maks dan absorbansi
pada kestabilan Nanopartikel Au .........................................................

46

Gambar 4.13 Spektra PSA Nanopartikel Au dengan variasi konsentrasi NaBH4 .....

47

Gambar 4.14 Hasil pengukuran TEM zeolit@Au .....................................................

48

Gambar 4.15 Hasil karakterisasi TEM zeolit@Ag dengan perbesaran: (a) 50000
kali; (b) 100000 kali .............................................................................

49

Gambar 4.16 Spektrum FTIR zeolit; zeolit@Ag .......................................................

51

Gambar 4.17 Hasil spektrum FTIR zeolit; zeolit@Ni ...............................................

52

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Gambar 4.18 Hasil spektrum FTIR zeolit; zeolit@Au ..............................................

52

Gambar 4.19 Grafik hasil Karakterisasi XRD Zeolit awal dan zeolit aktivasi ...........

54

Gambar 4.20 Karakterisasi XRD terhadap zeolit aktivasi dan zeolit@Ag .................

54

Gambar 4.21 Hasil perbesaran spektra XRD pada zeolit aktivasi dan zeolit@Ag
yaitu pada 2 35-80 ...............................................................................

55

Gambar 4.22 Grafik XRD zeolit@Au .......................................................................

56

Gambar 4.23 Grafik XRD zeolit@Ni ........................................................................

57

-5

Gambar 4.24 Spektrum absorpsi Reduksi 4-Nitrofenol 8,6 x 10 M ........................

58

Gambar 4.25 Spektrum absorpsi variasi konsentrasi larutan 4-NP dengan NaBH4 ...

59

Gambar 4.26 Spektrum absorpsi variasi konsentrasi larutan 4-AP ...........................

60

Gambar 4.27 Spektrum absorpsi larutan 4-NP 8,6 x 10-5 M dengan variasi NaBH4
(a) 2,16 x 10-3 M; (b) 2,5 x 10-3 M; (c) 2,72 x 10-3 M; (d) 1,44 x 10-2
M ..........................................................................................................

62

-5

Gambar 4.28 Warna larutan 4-NP 8,6x10 M sebelum pengujian (kiri) dan
pengujian saat penambahan NaBH4 0,1M (tengah) serta setelah
pengujian selama 2 jam (kanan) ..........................................................

63

Gambar 4.29 Grafik pengaluran ln (At/A0) terhadap perubahan waktu pada


panjang gelombang maksimum 400 nm dari penambahan variasi
konsentrasi NaBH4 (a) 2,16 x 10-3 M; (b) 2,5 x 10-3 M; (c) 2,72 x 103

M; (d) 1,44 x 10-2 M ..........................................................................

64

Gambar 4.30 Spektrum absorpsi larutan 4-NP 8,6 x 10-5 M dengan NaBH4 0,1 M
pada variasi kondisi (a) Zeolit aktivasi; (b) Zeolit@Au; (c)
Zeolit@Ag; (d) Zeolit@Ni ...................................................................

65

Gambar 4.31 Kurva penurunan konsentrasi larutan 4-NP 8,6 x 10-5 M pada

berbagai jenis katalis dengan berat 25 mg terhadap waktu...................

67

Gambar 4.32 Kurva persentase reduksi senyawa 4-NP (8,6 x 10-5 M) pada
berbagai kondisi katalis (25mg) terhadap waktu .................................

68

Gambar 4.33 Spektrum absorpsi larutan 4-NP 8,6 x 10-5 M dengan NaBH4 0,1 M
pada variasi berat katalis zeolit aktivasi (a) 5 mg; (b) 10 mg; (c) 25
mg; (d) 50 mg; (e) 75 mg terhadap waktu ...........................................

70

-5

Gambar 4.34 Kurva penurunan konsentrasi larutan 4-NP 8,6 x 10 M pada katalis
zeolit aktivasi dengan variasi berat terhadap waktu .............................

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

71

Gambar 4.35 Perbandingan penurunan konsentrasi larutan 4-NP pada variasi

jumlah berat zeolit aktivasi ..................................................................

72

Gambar 4.36 Kurva persentase reduksi (pengurangan) senyawa 4-NP pada variasi

berat katalis zeolit aktivasi terhadap


waktu .........................................

73

Gambar 4.37 Kurva % Konversi pembentukan


4-AP dengan variasi berat zeolit

aktivasi terhadap waktu.........................................................................

74

Gambar 4.38 Spektrum absorpsi larutan 4-NP 8,6 x 10-5 M dengan NaBH4 0,1 M

pada variasi berat katalis zeolit@Au (a) 5 mg; (b) 10 mg; (c) 25 mg;
(d) 50 mg; (e) 75 mg ............................................................................

75

Gambar 4.39 Kurva penurunan konsentrasi larutan 4-NP 8,6 x 10-5 M pada katalis
zeolit@Au dengan variasi berat terhadap waktu............. .....................

76

Gambar 4.40 Perbandingan penurunan konsentrasi larutan 4-NP pada variasi


jumlah berat zeolit@Au ........................................................................

77

Gambar 4.41 Kurva persentase reduksi (pengurangan) senyawa 4-NP pada variasi
berat katalis zeolit@Au terhadap waktu ...............................................

78

Gambar 4.42 Kurva % konversi pembentukan 4-AP dengan variasi berat


zeolit@Au terhadap waktu....................................................................

79

Gambar 4.43 Hasil reduksi 4-NP dengan zeolit@Au setelah 30 menit......................

80

Gambar 4.44 Spektrum absorpsi larutan 4-NP 8,6 x 10-5 M dengan NaBH4 0,1 M
pada variasi berat katalis zeolit@Ag (a) 5 mg; (b) 10 mg; (c) 25 mg;
(d) 50 mg; (e) 75 mg .............................................................................

81

Gambar 4.45 Kurva penurunan konsentrasi larutan 4-NP 8,6 x 10-5 M pada katalis
zeolit@Ag dengan variasi berat terhadap waktu ..................................

82

Gambar 4.46 Perbandingan penurunan konsentrasi larutan 4-NP pada variasi

jumlah berat zeolit@Ag ........................................................................

83

Gambar 4.47 Kurva persentase reduksi (pengurangan) senyawa 4-NP pada variasi
berat katalis zeolit@Ag terhadap waktu........................... ....................

84

Gambar 4.48 Kurva % Konversi pembentukan 4-AP dengan variasi berat


zeolit@Ag terhadap waktu....................................................................

85

Gambar 4.49 Spektrum absorpsi larutan 4-NP 8,6 x 10-5 M dengan NaBH4 0,1 M
pada variasi berat katalis zeolit@Ni (a) 5 mg; (b) 10 mg; (c) 25 mg;
(d) 50 mg; (e) 75 mg .............................................................................

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

86

Gambar 4.50 Kurva penurunan konsentrasi larutan 4-NP 8,6 x 10-5 M pada katalis
zeolit@Ni dengan variasi berat terhadap wakt .....................................

87

Gambar 4.51 Perbandingan penurunan konsentrasi larutan 4-NP pada variasi

jumlah berat zeolit@Ni .........................................................................

88

Gambar 4.52 Kurva persentase reduksi (pengurangan)


senyawa 4-NP pada variasi

berat katalis zeolit@Ni terhadap


waktu ................................................

89

Gambar 4.53 Kurva % Konversi pembentukan 4-AP dengan variasi berat

zeolit@Ni terhadap waktu ....................................................................

90

Gambar 4.54 Hasil reduksi 4-NP dengan zeolit@Ni setelah 30 menit.......................

91

Gambar 4.55 Kurva penurunan konsentrasi larutan 4-NP 8,6 x 10-5 M pada kondisi
optimum berbagai jenis katalis terhadap waktu ....................................

92

Gambar 4.56 Kurva persentase reduksi senyawa 4-NP (8,6 x 10-5 M) pada
berbagai kondisi katalis optimum terhadap waktu................................

93

Gambar 4.57 Kurva persentase konversi senyawa 4-AP pada berbagai kondisi
katalis optimum terhadap waktu ...........................................................

95

Gambar 4.58 Kurva penurunan konsentrasi larutan 4-NP 8,6 x 10-5 M dengan
variasi berat zeolit pada sintesis zeolit@AuNP terhadap waktu ...........

97

Gambar 4.59 Kurva persentase reduksi senyawa 4-NP dengan variasi berat zeolit
pada sintesis zeolit@AuNP terhadap waktu .........................................

98

Gambar 4.60 Kurva % Konversi pembentukan 4-AP dengan variasi berat zeolit
pada sintesis zeolit@AuNP terhadap waktu .........................................

99

Gambar 4.61 Kurva penurunan konsentrasi senyawa 4-NP dengan variasi


konsentrasi 4-NP terhadap waktu pada 50 mg zeolit@AuNP .............

100

Gambar 4.62 Kurva persentase reduksi senyawa 4-NP dengan variasi konsentrasi

4-NP terhadap waktu.............................................................................

101

Gambar 4.63 Kurva % Konversi pembentukan 4-AP dengan variasi konsentrasi 4NP terhadap waktu ................................................................................

102

Gambar 4.64 Hasil reduksi 4-NP dengan variasi konsentrasi 4-NP pada zeolit@Au
setelah 30 menit ....................................................................................

103

Gambar 4.65 Hubungan antara konsentrasi dengan waktu pada kondisi katalis 25
mg zeolit@Au .......................................................................................

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

104

Gambar 4.66 Hubungan linier antara ln Ct/C0 dengan waktu pada kondisi katalis

25 mg zeolit@Au............................................................
......................

106

Gambar 4.67 Hubungan linier antara laju awal reaksi (v ) dengan konsentrasi

larutan awal pada kondisi konsentrasi


4-NP .........................................

110

Gambar 4.68 Spektrum MS 4-Nitrofenol 2 ppm


........................................................

111

Gambar 4.69 Spektrum LCMS 4-Nitrofenol 2 ppm ...................................................

112

Gambar 4.70 Karakterisasi DRS zeolit@Au sebelum dan setelah aplikasi sebagai

katalis reduksi 4-NP ..............................................................................

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

113

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Data BET zeolit aktif.........................................................................................

50

Tabel 4.2 Data XRF zeolit awal dan zeolit aktivasi .........................................................

50

Tabel 4.3 Sudut difraksi (2) serta intensitas pada standar Ag .......................................

55

Tabel 4.4 Data standar Au .................................................................................................

57

Tabel 4.5 Nilai tetapan laju reaksi untuk setiap kondisi dan berat katalis ......................

107

Tabel 4.6 Nilai tetapan laju reaksi untuk setiap variasi berat zeolit dalam sintesis
zeolit@AuNP .....................................................................................................

108

Tabel 4.7 Nilai tetapan laju reaksi untuk setiap variasi konsentrasi 4-NP .....................

109

Tabel 4.8 Hasil karakterisasi LCMS reduksi 4-NP ........................................................

113

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Optimasi sintesis nanopartikel Ni ..............................................................

Lampiran 2 Standar AAS .............................................................................................

122
123

Lampiran 3 Karakterisasi 4-Nitrofenol dan 4-Aminofenol ...........................................

124

Lampiran 4 Optimasi jumlah berat zeolit dalam sintesis Zeolit@Au ...........................

137

Lampiran 5 Variasi konsentrasi 4-Nitrofenol ..............................................................

139

Lampiran 6 Reduksi 4-NP dengan Variasi NaBH4 Tanpa Katalis ................................

141

Lampiran 7 Ilustrasi Mekanisme Reaksi Reduksi 4-Nitrofenol ...................................

143

Lampiran 8 Karakterisasi 4-Nitrofenol dengan LCMS ...............................................

144

Lampiran 9 Kandungan zeolit .......................................................................................

145

Lampiran 10 Analisis KTK dalam zeolit ........................................................................

146

Lampiran 11 Analisis kandungan dalam zeolit ...............................................................

147

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pencemaran air merupakan salah satu


masalah terbesar yang terjadi, khususnya

di Indonesia. Pencemaran air di Indonesia sebagian besar disebabkan oleh aktivitas


manusia, terutama hasil aktivitas di perindustrian. Limbah dari industri dapat
mencemari lingkungan sekitarnya baik pencemaran air maupun lainnya. Pencemaran
yang disebabkan oleh aktivitas industri sangatlah berbahaya, terutama industri yang
menghasilkan limbah yang bersifat eksplosif, seperti industri yang bergerak di bidang
pembangkit tenaga listrik, pabrik pembakaran, pertambangan dan pengolahan logam.
Air limbah yang dihasilkan dari perindustrian tersebut memiliki efek termal dan
mengandung senyawa-senyawa antropogenik, yang juga dapat mengurangi oksigen
dalam air (Griebler et al., 2004). Senyawa-senyawa antropogenik sangat berbahaya jika
tercemar di lingkungan. Khususnya, 4-nitrofenol (4-NP) terdata sebagai polutan
utama oleh US Environmental Protection Agency (EPA) karena kelarutan yang tinggi
dan stabil di dalam air, 4-NP mampu bertahan dalam waktu yang lama tanpa batasan
waktu (Pocurull et al., 1996). Gugus nitro (-NO2) dalam 4-NP relatif lebih stabil dalam
sistem biologis dan dapat menyebabkan beberapa gangguan, seperti gangguan darah,
ketidakseimbangan hormon, keracunannya sistem saraf pusat, ginjal dan kerusakan hati,
serta iritasi mata.
Pengolahan air limbah telah dilakaukan dengan berbagai metode pengolahan,
yakni secara kimia, fisika, dan biologi. Pada masing-masing metode pengolahan

tersebut, masih terdapat kekurangan pengolahan air secara kimia membutuhkan banyak
bahan kimia dan menghasilkan produk samping yang tidak diinginkan. Pengolahan
secara fisika, membutuhkan peralatan yang banyak dan proses yang rumit. Pengolahan
secara biologis (Fuller et al, 2003), membutuhkan waktu yang cukup lama bagi bakteri
mendegradasi senyawa organik yang terkandung pada limbah. Alasan tersebut
menyebabkan kurang efektif dalam pengolahan limbah cair sehingga tidak digunakan di
industri.

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

4-NP mempunyai sifat karsinogenik, mutagenik, cytotoxic dan embryonictoxic,

oleh karena itu sangat penting dikembangkan


metode yang efisien untuk

mendegradasinya. Suatu metodologi fisika dan kimia seperti proses oksidasi lanjut
(AOPs) termasuk ozonisasi, fotokatalisis, iradiasi UV, sonolisis, gelombang mikro,
elektrokatalisis, dan reaksi Fenton telah digunakan
untuk pemurnian limbah air industri

dan air tanah yang terkontaminasi 4-NP. Karena


kemampuannya untuk memanfaatkan

nitrofenol sebagai sumber karbon, nitrogen dan energi, mikroorganisme seperti

Pseudomonas putida (Shen et al., 2010) dan Cupriavidus necator (Yin et al., 2010)
telah digunakan sebagai agen biotransformasi. Namun, katalis nanopartikel dapat
berfungsi lebih baik dalam proses reduksi polutan seperti 4-nitrofenol karena
aksesibilitas yang lebih besar ke permukaan atom dan bilangan koordinasi yang rendah.
Katalis heterogen dengan komposit kitosan-AgNPs telah digunakan dalam
reduksi 4-NP menjadi 4-aminofenol (4-AP) (Murugadoss dan Chattopadhyay, 2008).
Pradhan et al. (2002) melakukan katalisis reduksi nitroaromatik seperti 2-nitrofenol, 4nitrofenol dan 4-nitroanilin menggunakan in situ mikroelektroda nanopartikel Ag.
Katalis heterogen cluster Ag pada support -Al2O3 efisien dalam reduksi
chemoselective gugus NO2 untuk reduksi substitusi nitroaromatik, nitrostirena
(Shimizu et al., 2010). Kitosan-nanopartikel Ag juga efisien untuk mengkatalisis
reduksi 4-NP menjadi 4-AP (Wei et al., 2010). Sharma et al. (2007) melakukan
pemanfaatan intraseluler akumulasi nanopartikel emas dengan tanaman, Sesbania
drummondii sebagai katalis heterogen dalam katalisis reduksi 4-NP. Narayanan dan
Sakthivel (2011) melakukan degradasi 4-NP oleh nanokomposit emas menggunakan
jamur, Cy. floridanum.
Oh et al., 2004 menyatakan bahwa reduksi dengan menggunakan zero valent

iron (ZVI), terjadi melalui transfer elektron dari besi ke kontaminan terlarut (besi
berkarat), terutama untuk reaksi reduktif dehalogenasi dan hidrogenasi yang
mendegradasi senyawa eksplosif, seperti perklorat, TNT, dan RDX. Katalis logam
paladium dan nikel terbukti sangat efektif digunakan untuk mengolah pelarut
terklorinasi (Lowry dan Reinhard, 2001; Schrick et al, 2002). Beberapa penelitian
terkini juga menunjukkan bahwa katalis paladium dapat mengolah senyawa nitro dan
nitroso pada suhu dan tekanan lingkungan sekitarnya melalui katalisis reduksi atau
hidrogenasi dalam sistem berair (Figueras dan Coq, 2001; Selvam et al., 2004).

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Transfer elektron terjadi pada permukaan katalis antara hidrogen terserap dan gugus

fungsi halogen, nitro, atau nitroso dari kontaminan,


sehingga terbentuk senyawa

tereduksi. Namun, penggunaan katalis untuk pengolahan senyawa bahan peledak dalam

larutan aqueous pada suhu dan tekanan sekitarnya


belum dievaluasi secara menyeluruh.

Meskipun umumnya lebih mahal dari ZVI (berdasarkan massa), penggunaan katalis
logam transisi untuk recovery senyawa peledak
memiliki beberapa keunggulan potensi

atas ZVI, termasuk lebih cepat kinetika dan ketahanan terhadap korosi. Faktor-faktor

ini meningkatkan umur pemakaian dan membuat potensi penggunaan katalis nikel
layak secara ekonomis.
Nanopartikel sangat menarik digunakan untuk katalisis karena mempunyai luas
permukaan yang tinggi untuk rasio volume, serta sifat elektronik dan permukaannya
yang khas (Astruc et al., 2005). Menariknya bulk emas merupakan katalis inaktif,
sedangkan nanopartikel emas dapat digunakan sebagai katalis oksidasi CO, hidrogenasi
olefin, dan beberapa reaksi lainnya. Namun, tingginya energi permukaan dengan
diameter yang kecil (kisaran nanometer) menyebabkan agregasi dan penurunan
aktivitas katalitik nanopartikel. Masalah ini diatasi dengan mengimobilisasi katalis
nanopartikel ke dalam support yang sesuai. Hal ini juga memungkinkan dilakukannya
regenerasi sehingga nanopartikel terimobilisasi dapat digunakan kembali sebagai
katalis.
Membran berpori dapat digunakan sebagai support untuk katalis nanopartikel
karena beberapa alasan. Pertama, pori-pori internal membran memberikan luas
permukaan menjadi besar yang memungkinkan tingginya pengisian material katalis. Ke
dua, melalui aliran membran reaksi dapat berjalan terus-menerus karena katalis tidak
harus dipisahkan dari produk reaksi. Ketiga dan yang paling penting, ketika aliran

membran support berfungsi sebagai kontaktor, transportasi massa konvektif cepat


membawa reaktan ke permukaan katalis aktif (Julbe et al., 2001). Jika pori-pori
membran cukup kecil, radial difusi tidak akan membatasi reaksi, bahkan pada laju alir
yang tinggi. Dalam beberapa kasus, membran berpori berfungsi sebagai microreactor
dimana reaksi konversi dapat dikendalikan hanya dengan menyesuaikan laju aliran
(Reif et al., 2003). Melalui arus kontaktor juga dapat dihasilkan produk secara kontinyu
dari reaksi. Akibatnya, kompetisi antara produk dan reaktan pada sisi aktif katalis kecil
sehingga mengurangi kemungkinan untuk menghasilkan produk samping atau

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

teracuninya katalis. Kemampuan untuk mengurangi reaksi samping dengan membran


hidrogenasi parsial substrat tak jenuh
kontaktor memungkinkan untuk selektivitas

(Bengston, et al., 2006).

Zeolit merupakan mineral yang terdiri


dari kristal alumina silikat terhidrasi yang

mengandung kation alkali atau alkali tanah


dalam kerangka tiga dimensi. Ion-ion logam
tersebut dapat diganti oleh kation lain tanpa
merusak struktur zeolit dan dapat menyerap

air secara reversible. Dalam pengolahan limbah nuklir, (Ames, 1962) telah peneliti

pergunakan klinoptilolit untuk pemisahan zat radioaktif. Terakhir klinoptilolit juga


telah dipakai untuk dekontaminasi air pendingin reaktor pada kecelakaan reaktor Three
Mile Island di Amerika pada tahun 1979.
Sintesis nanopartikel logam dapat dilakukan dengan cara mereduksi ion logam
bermuatan menjadi ion logam tidak bermuatan. Biasanya zat pereduksi yang digunakan
bersifat anorganik natrium/kalium borohidrat atau senyawa organik seperti sodium
sitrat (Sarathy K.V, 2005).
Berdasarkan hasil-hasil penelitian tersebut maka penelitian kali ini akan
dikembangkan mengenai perbandingan berbagai jenis nanokatalis dalam mereduksi
senyawa nitro aromatik. Penelitian kali ini, akan dilakukan modifikasi nanopartikel Au,
Ag, Ni yang diimobilisasi ke dalam zeolit yang kemudian diaplikasikan sebagai katalis
reduksi senyawa nitro aromatik (-NO2) menjadi senyawa amina aromatik (-NH2).
Nanopartikel yang digunakan bersifat inert dan mempunyai valensi 0 sehingga
diharapkan dapat menjadi katalis sebagai medium dalam proses transfer elektron (H-)
ke dalam nitro aromatik (-NO2). Penggunaan zeolit dalam katalis sebagai promotor
diharapkan dapat meningkatkan luas permukaan katalis dan membuat katalis bersifat
heterogen sehingga dapat dipisahkan dengan mudah dari produk. Penelitian ini
diharapkan dapat melihat selektivitas dari masing-masing jenis katalis dalam

mereduksi, serta dapat diaplikasikan pada limbah cair industri yang bersifat eksplosif.
1.2 Perumusan Masalah
Usaha dalam pengolahan limbah industri terutama industri pertambangan dan
perminyakan yang bersifat eksplosif terus dikembangkan demi terwujudnya lingkungan
yang bebas polutan. Limbah tersebut mengandung senyawa antropogenik, salah satunya
adalah senyawa nitroaromatik. Penghilangan senyawa nitroaromatik dilakukan melalui

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

reduksinya menjadi amina aromatik sehingga tidak lagi bersifat eksplosif. Diperlukan

teknik analisis baru yang lebih efektif dengan


melihat waktu interaksi, persen konversi,

dan tingkat selektivitas yang tinggi untuk mengkatalisis reduksi nitroaromatik menjadi

senyawa amina aromatik. Melihat telah banyaknya


penggunaan nanopartikel emas,

perak, dan nikel sebagai katalis reduksi, dengan


agen pereduksi tertentu diharapkan

dapat meningkatkan kemampuan mengkatalisis


senyawa nitroaromatik tersebut. Zeolit

mempunyai pori-pori yang besar dengan permukaan yang luas dan juga memiliki sisi

aktif karena itu zeolit merupakan katalisator yang baik. Dengan adanya rongga
intrakristalin, zeolit dapat digunakan sebagai katalis. Adanya material padat zeolit yang
memiliki rongga sehingga diharapkan dapat menjadi template dan membuat katalis
bersifat heterogen agar katalis dapat dipisahkan dengan sempurna dari produk.
Dilakukannya optimasi terhadap berbagai kondisi emas, perak, dan nikel yang
diimmobilisasi ke dalam zeolit didapatkan kemampuan yang optimal dalam
mengkatalisis senyawa nitroaromatik menjadi amina aromatik.
1.3 Hipotesis
-

Immobilisasi nanopartikel ke dalam zeolit dapat meningkatkan selektivitas katalis


dan persen konversi dalam reaksi reduksi nitroaromatik menjadi senyawa amina
aromatik

Nanopartikel berperan sebagai media transfer elektron (H-) yang berasal dari
NaBH4 ke dalam gugus NO2

Zeolit aktivasi dan zeolit termodifikasi dapat berfungsi sebagai katalis

Selektivitas dan kemampuan katalis dipengaruhi oleh nanopartikel yang


diimobilisasi pada zeolit

1.4 Tujuan Penelitian


-

Memodifikasi zeolit melalui imobilisasi nanopartikel Au, Ag, Ni yang


diimmobilisasikan ke dalam porinya

Melakukan karakterisasi zeolit hasil modifikasi dengan nanopartikel Au (Zeolit@Au),


Ag (Zeolit@Ag), Ni (Zeolit@Ni)

Mengaplikasikan Zeolit@Au, Zeolit@Ag, Zeolit@Ni sebagai katalis reduksi senyawa


4-Nitrofenol menjadi senyawa 4-Aminofenol

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Membandingkan hasil reduksi 4-NP oleh NaBH4 dengan dan tanpa bantuan katalis
melalui analisis UV-Vis dan % konversi berdasarkan waktu interaksi

Membandingkan karakterisasi limbah buatan yang dihasilkan setelah direduksi oleh

NaBH4 dengan bantuan katalis Zeolit@Au,


Zeolit@Ag, Zeolit@Ni melalui analisis

UV-Vis dan % konversi berdasarkan waktu


interaksi

Mempelajari mekanisme reduksi 4-NP oleh


NaBH4 dengan dan tanpa adanya katalis

Memperoleh kondisi optimum reduksi melalui variasi beberapa parameter, yaitu

tetapan laju reduksi, persen reduksi, dan persen konversi.

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kajian Pustaka dari Penelitian yang Telah Dilakukan

Berikut penelitian yang telah dilakukan dan mendukung penelitian ini, yaitu:

1.

(Narayanan, K. B. dan Sakthivel, Natarajan. 2011) mengkaji nanokomposit


perak dari jamur mycelia. Peningkatan laju reduksi 4-NP menjadi 4-AP
diperoleh peningkatan nanokatalis Ag biomatrix dalam biomassa jamur.

2.

(Solanki, J.N. dan Murthy, Z.V.P., 2011) berhasil mensintesis nanokatalis


Ag/Al2O3 dengan monodisperse nanopartikel Ag menggunakan metode
microemulsion dan mengaplikasikannya sebagai katalis reduksi senyawa nitro
aromatik. Didapatkan ukuran nanopartikel Ag monodisperse (8 16 nm)
dengan water-to-surfactant mole ratio () sebesar 3, dapat mereduksi 4nitrophenol menjadi 4-aminophenol selama 22 menit dan dapat mereduksi 4nitroaniline menjadi p-phenylenediamine selama 26 menit.

3.

(Baetzold, R. C., 2008) mengkaji tentang pengaruh ukuran pada transfer


eletron untuk cluster perak. Diperoleh dalam ion perak aqueous, cluster Ag4
dapat digunakan sebagai katalis untuk reaksi transfer elektron.

4.

(Jana et al., 1998) mengkaji tentang growing small dari partikel perak
sebagai katalis redoks. Diperoleh growing small partikel perak lebih efisien
sebagai katalis daripada partikel koloid stabil.

5.

(Dotzauer et al., 2009) mengkaji tentang nanopartikel-containing membran

sebagai katalis dalam reduksi senyawa nitroaromatik. Diperoleh bahwa

membran polyelectrolyte/nanopartikel Au dimodifikasi oleh LBL (layer-bylayer) menunjukkan aktivitas katalisis yang tinggi dalam reduksi senyawa
nitroaromatik dengan NaBH4.
6.

(Chen et al., 2011) mengkaji tentang nanopartikel emas yang diinterkalasi


ke dalam dinding mesopori silika sebagai katalis redoks. Didapatkan bahwa
untuk reduksi p-nitrophenol (4-NP) menjadi p-aminophenol (PAP) tanpa
katalis GMS (Gold Mesoporous Silica) dibutuhkan waktu 2 hari, sedangkan
menggunakan katalis GMS hanya dengan waktu 10 menit pada 283K.

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

7.

(Fuller et al., 2006) melaporkan kemampuan katalis berbasis nikel untuk

mendegradasi senyawa bahan peledak


dalam larutan aqueous. Hampir

semua senyawa organik yang eksplosif diuji, diantaranya 2,4,6


trinitrotoluene (TNT), hexahydro-1,3,5-trinitro-1,3,5-triazina
(RDX), dan

octahydro-1,3,5,7-tetranitro-1,3,5,7-tetrazocine
(HMX), dengan cepat

terdegradasi ke batas bawah deteksi


oleh bubuk nikel pada support alumina
silikat. Degradasi TNT, RDX, dan HMX, diamati dalam aliran kolom katalis

nikel dicampur dengan pasir untuk waktu retensi hidrolik 4 jam.


8.

(Heropoulos et al., 2005) mengkaji senyawa sterik nitroaromatik telah


dipreparasi dan direduksi menjadi amina dengan intensitas ultrasound tinggi
dengan menggunakan hidrazin dengan adanya katalis raney nikel. Reaksi ini
bergantung pada kualitas katalis, pelarut, dan amplitudo ultrasonic,
dihasilkan reaksi silent, proses cepat, dan tingginya yield.

9.

(Sahiner et al., 2010) menkaji tentang nanopartikel nikel di dalam poly(2acrylamido-2-methyl-1-propansulfonic acid) (p(AMPS)) jaringan hydrogel
digunakan sebgai katalis dan media reduksi untuk reaksi reduksi senyawa
nitroaromatik, 2- dan 4-nitrofenol dengan NaBH4. Didapatkan bahwa sistem
katalis hidrogel-composite dapat digunakan secara berulang-ulang sampai 5
kali dengan konversi 100% dan hanya dengan pengurangan 25% dari laju
reduksi mula-mula.

2.2 Studi Literatur


2.2.1 Zeolit

Zeolit pertama kali diidentifikasi oleh A.F.Cronsted, ahli mineralogi


berkebangsaan Swedia. Nama zeolit berasal dari kata zein yang berarti mendidih
dan lithos yang artinya batuan. Disebut demikian mineral ini mempunyai sifat
mendidih atau mengembang apabila dipanaskan. Zeolit merupakan hasil produk
sekunder yang stabil pada kondisi permukaan karena berasal dari proses sedimentasi,
pelapukan maupun aktivitas hidrotermal. Zeolit merupakan mineral alumina silikat
terhidrat yang memiliki rongga berisi molekul air dan kation-kation bebas yang dapat
dipertukarkan. Dengan struktur yang berongga tersebut, zeolit juga mampu menyerap

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

atau menyaring sejumlah molekul yang ukurannya lebih kecil atau sesuai dengan
rongganya.

2.2.2 Struktur dan Fungsi Zeolit

Pada struktur zeolit, empat atom oksigen berkoordinasi dengan semua atom Al

membentuk tetrahedral. Si4+ akan digantikan


oleh Al3+ sehingga terjadi difisiensi

muatan postitif. Defisiensi muatan positif


ini menyebabkan zeolit bermuatan negatif
dan selanjutnya akan dinetralkan oleh kation alkali atau alkali tanah, seperti Na+, K+,
Mg2+, dan Ca2+ di dalam rongga-rongganya untuk mencapai senyawa yang stabil.
Kerangka dasar struktur zeolit terdiri dari unit-unit tetrahedral (AlO4)5- dan
(SiO4)4- yang saling berhubungan melalui atom oksigen dan di dalam struktur tersebut
Si4+ dapat diganti Al3+ dengan substitusi isomorfik. Secara umum, unit sel zeolit
adalah Mx/n [(AlO2)x(SiO2)y].z H2O, dimana M merupakan kation alkali atau alkali
tanah, n merupakan valensi logam alkali atau alkali tanah, [] merupakan kerangka
alumina, z merupakan jumlah molekul air yang terhidrat, serta x dan y merupakan
jumlah tetrahedron per unit sel (Martin, 2000).
Zeolit pada dasarnya memiliki tiga variasi struktur yang berbeda yaitu: a)
struktur seperti rantai (chain-like structure), dengan bentuk kristal acicular dan
prismatic, contoh: natrolit, b) struktur seperti lembaran (sheet-like structure), dengan
bentuk kristal platy atau tabular biasanya dengan basal cleavage baik, contoh:
heulandit, c) struktur rangka, dimana kristal yang ada memiliki dimensi yang hampir
sama, contoh: kabasit. Zeolit mempunyai kerangka terbuka, sehingga memungkinkan
untuk melakukan adsorbsi Ca bertukar dengan 2(Na,K) atau CaAl dengan (Na,K)Si.
Morfologi dan struktur kristal yang terdiri dari rongga-rongga yang berhubungan
ke

segala arah menyebabkan permukaan zeolit menjadi luas. Morfologi ini terbentuk dari
unit dasar pembangunan sekunder dan begitu seterusnya.
Menurut proses pembentukannya zeolit dibedakan menjadi dua,yaitu:
I.

Zeolit Alam
Secara alami zeolit terjadi karena adanya proses alam terhadap batuan
vulkanik, yang terdiri atas silikon oksida dan sejumlah kecil alumina.
Komposisi kimia zeolit tergantung pada kondisi hidrotermal lokal, seperti

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

suhu, tekanan uap air, dan komposisi air tanah dilokasi pembentukannya.
Contohnya adalah Clinoptilolite, Modernit, Analsim, Enonit, dan laumontit
II.

Zeolit sintetis
Zeolit sintetis banyak digunakan untuk keperluan industri karena strukturnya
dapat direkayasa. Zeolit sintetis memiliki kemurnian yang lebih itnggi
dibandingkan zeolit alam,dan rasio
y/x yang dapat disusun sesuai

kebutuhan.Bila dilihat dari rasio y/x,maka ziolit sintetis dapat dikelompokkan


sebagai berikut,yaitu:

a. Zeolit kadar Si rendah


Daya penukar ion dari ziolit maksimum bila perbandingan y/x mendekati
1. Contohnya zeolit A dan zeolit X.
b. Zeolit kadar Si sedang
Zeolit jenis ini memiliki perbandingan kadar y/x antara 5-10.
Permukaannya memiliki selektivitas yang tinggi terhadap air dan molekul
polar yang lain. Contoh zeolit Si sedang adalah zeolit Omega, zeolit
Erionit, dan Clinoptilolite.
c. Zeolit kadar Si tinggi
Zeolit jenis ini memiliki perbandingan kadar y/x antara 10-100 atau lebih.
Sifatnya sangat hidrofobik, menyerap molekul yang non polar atau
berinteraksi lemah dalam air, serta baik digunakan sebagai katalisator
asam unutk hidrokarbon. Contoh zeolit Si tinggi adalah zeolit ZSM_5.
d. Zeolit tanpa Al
Zeolit jenis ini tidak mengandung Al atau tidak mempunyai sifat penukar
kationik.Sifat zeolit jenis ini sangta hidrofobik seingga dapat

mengeluarkan atau memisahkan suatu molekul organik non ppolar dari


campuran air. Contoh zeolit Si adalah silikat.
`

Struktur kerangka ziolit mengandung saluran atau hubungan rongga yang

berisi kation dan molekul air. Kation aktif bergerak dan umumnya bertindak sebagai
ion exchange. Air dapat dihilangkan secara reversibel yang secara umum dilakukan
dengan pemberian panas.
Polaritas muatan zeolit menyebabkan kristal zeolit memiliki afinitas terhadap
molekul-molekul polar seperti air. Semua zeolit yang ditemukan di alam selalu

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

mengandung air. Karena ukurannya kecil, air akan mengisi seluruh saluran dan
rongga-rongga dalam kristal zeolit. Air teradsorbsi ini dapat didesorbsikan dengan
pemanasan atau pemvakuman. Adsorbsi kembali terjadi bila zeolit dikontakkan

dengan air atau uap air. Jenis dan konsentrasi


kation dalam kristal zeolit sangat

berpengaruh pada ukuran saluran bebas, makin besar kation makin kecil ukuran
saluran-saluran. Konsentarsi kation yang ekivalen dengan konsentrasi Al dapat
menghasilkan medan listrik elektrostatis, yang kekuatannya dipengaruhi juga oleh

jenis dan distribusinya. Sifat yang ditimbulkan berpengaruh pada selektivitas adsorbsi
permukaan zeolit.
Karakteristik struktur zeolit antara lain:
1. Sangat berpori, karena kristal zeolit merupakan kerangka yang terbentuk dari
jaring tetrahedral SiO4 dan AlO4.
2. Pori-porinya berukuran molekul, karena pori zeolit terbentuk dari tumpukan
cincin beranggotakan 6, 8, 10, atau 12 tetrahedral.
3. Dapat menukarkan kation, karena perbedaan muatan Al3+ dan Si4+, atom Al
dapat menjadikan kerangka kristal bermuatan negatif dan membutuhkan
kation penetral. Kation penetral yang bukan menjadi bagian kerangka ini
mudah diganti dnegan kation lainnya.
4. Dapat dijadikan padatan yang bersifat asam, karena penggatian kation penetral
dengan proton-proton menjadikan zeolit padatan asam Bronsted.
5. Mudah dimodifikasi karena setiap tetrahedral dapat dikontakkan dengan
bahan-bahan pemodifikasi.
Banyak kristal zeolit baru telah disintesis dan memenuhi beberapa fungsi
penting dalam industri kimia,minyak bumi dan juga dipakai sebagai produk seperti

detergen.Ada sekitar 150 tipe zeolit sintetik dan 40 mineral zeolit.Umumnya bijih
zeolit kualitas tinggi ditambang dengan proses penghancuran, pengeringan,
pembubukan, dan penyaringan.
Zeolit mempunyai beberapa sifat diantaranya:
a. Dehidrasi
Dehidarsi adalah proses yang bertujuan melepaskan molekul-molekul air
dari kisi kristal sehingga terbnetuk suatu rongga dengan permukaan yang
lebih besar dan tidak lagi terlindungi oleh sesuatu yang berpengaruh

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

terhadap proses adsorpsi. Proses ini mempunyai fungsi utama yaitu


melepaskan molekul air dari kerangka zeolit sehingga mempertinggi
zeolit. Dehidrasi molekul air dapat terjadi karena proses pemanasan zeolit

sampai 3500C sehingga memungkinkan


adsorbsi reversible molekul-

molekul yang lebih kecil dari garis tegak saluran itu.


b. Adsorbsi

Pada keadaan normal, ruang hampa dalam kristal zeolit terisi oleh molekul

air bebas yang berada disekitar kation.Bila kristal zeolit dipanaskan pada
suhu 300-400 0C air akan keluar sehingga zeolit dapat berfungsi sebagai
penyerap gas atau cairan.
c. Penukar Ion
Penukar ion di dalam zeolit adalah proses dimana ion asli yang terdapat
dalam intra kristalin diganti dengan kation lain dari zeolit mempunyai
struktur angka tiga dimensi yaitu tetrahedral SiO2 dan AlO4, trivalent Al3+
dimana posisi tetrahedralnya membutuhkan muatan listrik, biasanya
menggunakan Na+, K+, Mg2+, atau Ca2+. Dalam sturktur rangka zeolit,
kation-kation tersebut tidak terikat pada posisi yang tepat, tetapi dapat
bergerak bebas dalam rangka zeolit dan bertindak sebagai counter ion
yang dapat dipertukarkan dengan kation-kation lain.
d. Katalisator
Zeolit merupakan katalisator yang baik karena mempunyai pori-pori yang
besar dengan permukaan yang luas dan juga memiliki sisi aktif. Dengan
adanya rongga intrakristalin, zeolit dapat digunakan sebagai katalis. Reaksi
katalitik oleh ukuran mulut rongga dan sistem alur, karena reaksi ini
tergantung pada difusi pereaksi dan hasil reaksi.

e. Penyaring / pemisah
Zeolit mampu memisahkan berdasrkan perbedaan ukuran, bentuk dan
polaritas dari molekul yang disaring zeolit dapat memisahkan molekul gas
atau zat dari suatu campuran tertentu karena mempunyai rongga yang
cukup besar dengan garis tengah yang bermacam-macam (antarra 2-3).
Volume dan ukuran garis tengah ruang kosong dalam kristal-kristal ini
menjadi dasar kemamapuan zeolit untuk bertindak sebagai penyaring

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

molekul. Molekul yang lebih besar dapat masuk ke dalam pori, sedangkan
besar dari pori akan tertahan.
molekul yang berukuran lebih

Untuk mendapatkan kandungan aluminium yang optimum pada zeolit

dapat dilakukan dengan metode


dealuminasi sehingga dapat digunakan

untuk mengontrol aktivitas keasaman


dan ukuran pori-pori zeolit yang

berhubungan dengan fungsi zeolit sebagai penyerap.


Sifat Fisik dan kimia zeolit

Zeolit memiliki sifat fisik dan kimia yaitu:


a. Hidrasi derajat tinggi
b. Ringan
c. Penukar ion yang tinggi
d. Ukuran saluran yang uniform
e. Menghantar listrik
f. Mengadsorbsi uap dan gas
g. Mempunyai sifat katalitik
Karalteristik zeolit meliputi:
a. Density

:1,1 gr/cc

b. Porositas

:0,31

c. Volume berpori

:0,28-3 cc/gr

d. Surface area

:1-20 m2/gr

e. Jari-jari makropori:30-100 nm
f. Jari-jari mikropori :0,5 nm
Zeolit yang diperoleh dari proses penyiapan telah digunakan untuk

berbagai keperluan.akan tetapi daya serap, daya tukar ion maupun daya
katalis dari zeolit tersebut belum maksimal.Untuk memperoleh zeolit
dengan kemampuan yang tinggi diperlukan beberapa perlakuan antar
lain preparasi, aktivasi dan modifikasi.
a. Preparasi
Tahap ini bertujuan unutk memperoleh ukuran produk yang sesuai
dengan tujuan penggunaan. Preparasi ini terdiri dari tahap
peremukan (crushing) sampai penggerusan (grinding).

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

b. Aktivasi

Proses aktivasi zeolit dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu secara


fisi dan kimiawi. Aktivasi secara fisis berupa pemanasan zeolit
dengan tujuan untuk menguapkan air yang terperangkap dalam
pori-pori kristal zeolit sehingga luas permukaan pori-pori
bertambah.aktivasi secara
kimia dilakukan dengan larutan asam

H2SO4 atau basa NaOH dnegan tujuan untuk membersihkan

permukaan pori,membuang senyawa pengotor dan mengatur


kembali letak atom yang dipertukarkan.
c. Modifikasi
Didalam proses pengolahan limbah bahan peledak, zeolit aktivasi
merupakan katalisator yang baik karena mempunyai pori-pori yang
besar dengan permukaan yang luas dan juga memiliki sisi aktif.
Dengan adanya rongga intrakristalin, zeolit dapat digunakan
sebagai katalis. Agar zeolit dapat berfungsi sebagai katalis reduksi
senyawa organik, maka zeolit dimodifikasi dengan logam valensi
nol.
2.2.3 Nanoteknologi
Nanoteknologi mendeskripsikan ilmu mengenai sistem serta peralatan
berproporsi nanometer. Kata nano dalam istilah nanoteknologi berarti permiliar
(

). Nanoteknologi berkaitan dengan struktur materi yang mempunyai

dimensi per miliar. Meskipun istilah nanoteknolgi merupakan istilah yang relatif baru
tetapi keberadaan struktur dari dimensi nanometer bukan merupakan hal baru.
Eric
Dexler (ilmuwan Amerika Serikat) adalah orang yang pertama kali menggunakan
istilah nanoteknologi. Nano berasal dari kata Yunani, yakni ukuran 1/1.000.000.000
atau satu nanometer (nm) sama dengan 1/1.000.000.000 meter. Nanoteknologi adalah
suatu teknologi yang dihasilkan dengan memanfaatkan sifat-sifat molekul atau
struktur atom apabila berukuran nanometer (Kebamoto, 2005).
Sebuah nanopartikel adalah sebuah partikel mikroskopis berukuran nanometer
(nm). Nanopartikel didefinisikan sebagai partikel yang memiliki ukuran 1-100 nm.
Nanopartikel menarik perhatian di bidang ilmiah karena peranannya sebagai jembatan

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

antara material bulk dan struktur atomik atau molekular. Sebuah material bulk harus
memiliki sifat fisik yang konstan tanpa memperhatikan ukurannya, tetapi hal ini tidak
dapat diterapkan pada skala nano.

Sifat dari suatu material akan berubah


seiring dengan ukurannya yang semakin

mendekati skala nano. Sebagai contoh, pembengkokkan


logam tembaga (kawat, pita,

dsb) yang terjadi seiring dengan pergerakan


atom-atom atau kluster tembaga pada

skala 50 nm. Nanopartikel tembaga dengan ukuran lebih kecil dari 50 nm dianggap

sebagai material sangat keras (super hard) yang tidak menunjukkan sifat mudah
ditempa.
Nanopartikel terkadang memiliki sifat terlihat (visible) yang tidak terduga,
karena dengan ukurannya yang cukup kecil tetapi dapat menghamburkan cahaya
dibandingkan mengabsorpsinya. Sebagai contoh, nanopartikel emas terlihat berwarna
merah gelap dalam larutan.
Pada batas ukuran maksimal dari nanopaertikel (mendekati 100 nm), biasanya
nanopartikel berada dalam bentuk kluster. Nanopartikel logam, nanopartikel
dielektrik, dan nanopartikel semikonduktor terbentuk sebagai struktur hibridanya
(misalnya: core-shell nanopartikel).
Karakterisasi nanopartikel penting diketahui untuk mendapatkan pemahaman
dan kontrol dalam sintesis nanopartikel dan aplikasinya. Karakterisasi dapat dilakukan
dengan menggunakan berbagai macam instrumen, diantaranya: spektrofotometer UVVis, electron microscopy (TEM, SEM), Atom Force Microscopy (AFM).
2.2.4 Nanopartikel Perak
Perak merupakan logam dengan tampilan fisik berwarna abu-abu dan dapat
ditempa. Perak memiliki nomor atom 47 dan konfigurasi elektronnya adalah [Kr] 5s1
4d10. Massa atomnya sebesar 107,87 g/mol dengan kerapatan yang tinggi yaitu
mencapai 10,50 g/mL serta dapat melebur pada suhu 960,50 oC. Bentuk ion
monovalen perak menghasilkan larutan yang tidak berwarna, sedangkan dalam bentuk
nanokoloid Ag berwarna kuning. Selain itu, perak merupakan reflektor cahaya tampak
yang baik yang memiliki reflektifitas optik tertinggi dibandingkan dengan logamlogam lain yaitu pada daerah panjang gelombang 300 - 900 nm (Yu, A. B. et al.,

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

2008). Perak kurang stabil bila terkena kontak dengan udara, tetapi memainkan

peranan penting dalam proses oksidasi-reduksi


yang dikatalisis oleh perak. AgNO3

lebih mudah larut dalam air dibandingkan dengan AgCH3COO, AgNO2, dan Ag2SO4.

2.2.5 Nanopartikel Emas

Pada susunan tabel periodik unsur, emas termasuk pada golongan logam
transisi. Emas memiliki nomor atom 79, dengan konfigurasi elektron [Xe]4f14 5d10
6s1, massa atom 196,967 gram/mol dan jari-jari atom 0,1442 nm. Warna emas adalah
coklat keemasan. Logam ini melebur pada suhu 1064oC. Logam emas tahan terhadap
asam. Dalam bentuk garam emas dapat larut dalam air membentuk anion
tetrakloroaurat [AuCl4]-. Baik pada bentuk monovalen maupun trivalennya emas
dapat dengan mudah direduksi menjadi logamnya. Senyawa emas (I) relatif kurang
stabil dibandingkan senyawa-senyawa emas (III). Emas sangat mudah ditempa,
memiliki kekerasan antara 2,5 sampai 3, sehingga merupakan logam yang lunak.
Emas memiliki kemampuan untuk menghantarkan panas dan listrik lebih baik
dibandingkan tembaga dan perak. Emas juga memiliki sifat tahan terhadap korosi.
Emas hanya dapat terkoros atau larut oleh campuran asam nitrat dan asam
hidroklorida (aquaregia).
2.2.6 Nanopartikel Nikel
Nikel adalah logam putih perak yang keras. Nikel bersifat liat, dapat ditempa
dan sangat kukuh. Logam ini melebur pada 1455oC, dan sedikit magnetis. Nikel
memiliki nomor atom 28, dengan konfigurasi elektron [Ar]4s0 3d10, massa atom
nikel

sebesar 58,71 g/mol. Garam-garam nikel(II) yang stabil, diturunkan dari nikel (II)
oksida, NiO, yang merupakan zat berwarna hijau. Garam-garam nikel yang terlarut,
berwarna hijau, disebabkan oleh warna dari kompleks heksakuonikelat(II),
[Ni(H2O)6]2+.

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

2.3 Katalis

Katalis adalah suatu zat yang mempercepat suatu reaksi, namun ia sendiri,
secara kimiawi, tidak berubah pada akhir
reaksi. Ketika reaksi selesai, kita akan
mendapatkan massa katalis yang sama seperti pada awal kita tambahkan. Katalis

dapat dibagi berdasarkan dua tipe dasar, yaitu katalis heterogen dan katalis homogen.

Katalis heterogen adalah katalis yang berada dalam fasa yang berbeda dengan reaktan,
yang berada dalam fasa yang sama dengan
sedangkan katalis homogen adalah katalis

reaktan. Umumnya katalis heterogen berupa padatan yang memiliki pusat aktif, dan
tidak semua pusat aktif memiliki keaktifan yang sama. Adapun faktor-faktor dalam
pemilihan katalis adalah sebagai berikut:
1. Selektivitas (kemapuan memilih)
Adalah efisiensi mengkatalisis perubahan yang diinginkan atau aktivitas relative
katalis terhadap suatu senyawaan khusus di dalam campuran, atau kecepatan reaksi
relative reaktan tertentu dengan menggunakan katalis tersebut.
2. Aktivitas
Kecepatan dengan adanya katalis menguraikan reaktan untuk menghasilkan suatu
produk lebih cepat dibanding dengan tanpa katalis dan memperlihatkan kondisi
tekanan serta suhu ketika katalis digunakan.
3. Stabilitas
Pada katalis tidak hanya selektivitas dan aktivitas yang sangat penting, tetapi juga
suatu katalis harus dapat mempertahankan dalam jangka waktu yang lama dengan
tidak mengurangi sedikitpun (selektivitas dan aktivitasnya tinggi).
4. Kesesuaian atau cocok
atau
Kecocokan suatu katalis sangat penting, dimana dapat mempengaruhi difusi

penyebarannya, oleh karena itu dengan adanya kecocokan dapat memperbaiki


aktivitasnya.
2.4 Reaksi Redoks
Dari sejarahnya istilah oksidasi diterapkan untuk proses-proses dimana
oksigen diambil oleh suatu zat. Maka reduksi dianggap sebagai proses dimana

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

oksigen diambil dari dalam suatu zat. Kemudian penangkapan hidrogen juga disebut

reduksi, sehingga kehilangan hidrogen disebut


oksidasi.

Definisi umum mengenai oksidasi dan reduksi, yaitu: Oksidasi adalah suatu

proses yang mengakibatkan hilangnya satu


atau lebih elektron dari dalam zat (atom,

ion atau molekul). Bila suatu unsur dioksidasi,


keadaan oksidasinya berubah ke harga

yang lebih positif. Suatu zat pengoksidasi


adalah zat yang memperoleh elektron, dan

dalam proses itu zat tersebut tereduksi. Definisi oksidasi ini sangat umum, karena itu

berlaku juga untuk proses dalam zat padat, lelehan maupun gas.
Reduksi sebaliknya adalah suatu proses yang mengakibatkan diperolehnya
satu atau lebih elektron oleh zat (atom, ion atau molekul). Bila suatu unsur direduksi,
keadaan oksidasi berubah menjadi lebih negatif (kurang positif). Jadi suatu zat
pereduksi adalah zat yang kehilangan elektron, dalam proses itu zat ini teroksidasi.
Definisi reduksi ini juga sangat umum, karena itu berlaku juga untuk proses dalam zat
padat, lelehan maupun gas.
2.5 Nitrofenol
4-nitrofenol (1 Hidroksi, 4 nitro benzena) adalah kristal tidak bewarna sampai
kekuningan yang tidak berbau, sukar larut dalam air, mudah larut dalam alkohol.
Nitrofenol memiliki rumus molekul C6H5NO3, dengan berat molekul 139,11 g/mol
dan memiliki titik didih sebesar 279oC. Uap nitrofenol bila bercampur dengan udara
dapat membentuk ledakan. Selain itu, bila terpapar oleh nitrofenol, maka akan
menyebabkan kerusakan hati dan ginjal. Nitrofenol merupakan hidrokarbon fenolik
yang digunakan secara meluas dalam bidang proses obat-obatan, petrokimia, dan
pembuatan bahan-bahan kimia (Chern & Chien, 2002). 4-NP (4-nitrophenol)
merupakan bahan buangan industri yang berasaskan industri pembuatan polimer,
penghasilan racun serangga, pemrosesan pencelup warna dan obat-batan.
2.6 Aminofenol
p-aminofenol atau 4-Hydroxyaniline dengan rumus molekul C6H7NO yang
memiliki berat molekul 109,13 g/mol dan titik didih 284oC. Salah satu fungsi 4aminofenol di industri yaitu sebagai bahan dasar pembuatan obat analgesik seperti

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

parasetamol. Apabila senyawa 4-aminofenol direaksikan dengan senyawa asetat


(Ellis, Frank., 2002). Parasetamol adalah
anhidrat maka akan terbentuk parasetamol

derivat para amino fenol dan digunakan sebagai obat pereda demam, sakit kepala dan
nyeri yang paling banyak dipergunakan. Senyawaini dikenal dengan nama lain
asetaminofen, merupakan senyawa metabolit
aktif fenasetin, namun tidak memiliki

sifat karsinogenik (menyebabkan kanker)


sepertihalnya fenasetin.

2.7 Spektroskopi UV-Visible

Spektrofotometri UV/Vis merupakan penyerapan sinar tampak atau ultraviolet


oleh suatu molekul yang dapat menyebabkan eksitasi elektron dalam orbital molekul
tersebut dari tingkat energi dasar ke tingkat energi yang lebih tinggi. Daerah spektrum
UV yang digunakan di atas 200 nm diperkirakan energinya mencapai 143 kkal/mol.
Energi tersebut cukup untuk mengeksitasikan elektron ke tingkat lebih tinggi.
Fenomena ini sering disebut sebagai spektroskopi elektronik. Ketika molekul sampel
disinari cahaya yang memiliki energi yang sesuai, terjadi kemungkinan transisi
elektronik antara molekul. Beberapa sinarnya akan terabsorb dan ada yang diteruskan.
Sinar yang tidak terabsorb akan terdeteksi pada alat dan menghasilkan spektrum
dengan absorbansi spesifik pada setiap panjang gelombang tertentu.

Gambar 2.1 Skema Kerja UV/Vis

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

2.8 Particle Size Analyzer (PSA)

PSA merupakan alat yang digunakan untuk mengkarakterisasi nanomaterial,


yaitu suatu alat yang menggunakan metode
Laser Diffraction (LAS) Alat ini

menggunakan prinsip dynamic light scattering (DLS). Metode ini juga dikenal sebagai

quasi-elastic light scattering (QELS). Alat ini berbasis Photon Correlation

Spectroscopy (PCS). Metode LAS bisa dibagi dalam dua metode yaitu metode kering
dan metode basah. Pada metode kering ini memanfaatkan udara atau aliran udara
untuk melarutkan partikel dan membawanya ke sensing zone. Metode ini baik
digunakan untuk ukuran yang kasar, dimana hubungan antarpartikel lemah dan
kemungkinan untuk beraglomerasi kecil. Sedangkan pada metode basah ini
menggunakan media pendispersi untuk mendispersikan material uji. Pengukuran
partikel dengan menggunakan PSA biasanya menggunakan metode basah. Metode ini
dinilai lebih akurat jika dibandingkan dengan metode kering ataupun pengukuran
partikel dengan metode ayakan dan analisa gambar. Terutama untuk sampel-sampel
dalam orde nanometer dan submicron yang biasanya memliki kecenderungan
aglomerasi yang tinggi. Hal ini dikarenakan partikel didispersikan ke dalam media
sehingga partikel tidak saling beraglomerasi (menggumpal). Dengan demikian ukuran
partikel yang terukur adalah ukuran dari single particle.Selain itu hasil pengukuran
dalam bentuk distribusi, sehingga hasil pengukuran dapat diasumsikan sudah
menggambarkan keseluruhan kondisi sampel.
2.9 Fourier Transform Infra Red (FTIR)
Prinsip FT-IR adalah serapan dari senyawa dengan tingkat energi vibrasi dan

rotasi pada ikatan kovalen yang mengalami perubahan momen dipol dalam suatu
molekul. Radiasi IR yang umunya dipakai untuk analisis instrumental adalah daerah
bilangan gelombang 4000-670 cm-1. Bentuk dan struktur molekul menjadi penentu
terjadinya interaksi radiasi IR dengan molekul. Hanya molekul diatomik tertentu
misalnya H2, N2 dan O2 yang tidak dapat mengadsorpsi IR karena vibrasi dan
rotasinya tidak menghasilkan perubahan momen dipol (Sunardi,2007). Apabila suatu
molekul menyerap IR maka molekul akan mengalami perubahan tingkat energi
vibrasi/rotasi, tetapi hanya transisi vibrasi/rotasi yang dapat menyebabkan perubahan

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

momen dipol yang aktif mengabsorpsi IR. Spektra yang dihasilkan umumnya rumit

dan mempunyai pita-pita serapan yang sangat


sempit dan khas untuk tiap senyawa

sehingga penggunaannya terutama untuk identifikasi senyawa organik secara

kualitatif.

2.10 X-Ray Fluoresence (XRF)

Prinsip dari XRF adalah penembakan


sinar X atau rendah dari sumber

radioaktif pada sampel untuk mendeteksi unsur tertentu yang diinginkan.


Penembakan akan menyebabkan elektron pada kulit atom terdalam unsur tersebut
tereksitasi ke level energi yang lebih tinggi.
Kulit yang kosong akan diisi oleh elektron pada kulit atom selanjutnya.
Keadaan eksitasi dari elektron yang ditembak tidak akan stabil sehingga elektron
tereksitasi akan turun ke level energi yang lebih rendah sehingga lebih stabil sambil
memancarkan kelebihan energi yang berasal dari penembakan sumber dalam bentuk
sinar X. Besarnya sinar yang dipancarkan spesifik untuk setiap unsur dan foton
tersebut akan dideteksi oleh detektor sehingga bisa menampilkan data yang kualitatif
dan kuantitatif dari sampel.
2.11 X-Ray Difractometry (XRD)
Max von Laude menyatakan bahwa kristal dapat digunakan sebagai kisi tiga
dimensi untuk difraksi radiasi elektromagnetik. Ketika radiasi elektromagnetik
melewati suatu materi, terjadi interaksi dengan elektron dalam atom dan sebagian

dihamburkan ke segala arah. Dalam beberapa arah, gelombang berada dalam satu fasa
dan saling memperkuat satu sama lain sehingga terjadi interferensi konstruktif
sedangkan sebagian tidak satu fase dan saling meniadakan sehingga terjadi
interferensi destruktif.
Interferensi konstruktif tergantung pada jarak antar bidang (d), besar sudut
difraksi () dan berlangsung hanya apabila memenuhi hukum Bragg :
n = 2d sin

n= 1, 2, 3,

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Penurunan konvensional Hukum Bragg dilakukan dengan menganggap setiap bidang


kisi memantulkan radiasi.

Gambar 2.2 Difraksi sinar X


Dalam difraktometer sampel disebarkan pada bidang datar, dan pola difraksinya
dimonitor secara elektronik. Pada umumnya digunakan untuk analisa kuantitatif dan
kualitatif, karena pola difraksi itu merupakan sejenis sidik jari yang dapat dikenali.
2.12 Transmission Electron Microscopy (TEM)
TEM digunakan dalam analisis mikrostruktur, identifikasi defect, analisis
interfasa, struktur kristal, dan tatanan atom pada kristal serta analisa elemental pada
skala nanometer. TEM bekerja dengan prinsip menembakkan elektron ke lapisan tipis
sampel, selanjutnya informasi tentang komposisi struktur dalam sampel tersebut dapat
terdeteksi dari analisis sifat tumbukan, pantulan maupun fase sinar elektron yang

menembus lapisan tipis tersebut. Dari sifat pantulan sinar elektron tersebut juga bisa
diketahui struktur kristal maupun arah dari struktur kristal tersebut. Bahkan dari
analisa lebih detil, dapat diketahui deretan struktur atom dan ada tidaknya cacat
(defect) pada struktur tersebut. Hanya perlu diketahui, untuk observasi TEM ini,
sampel perlu ditipiskan sampai ketebalan lebih tipis dari 100 nanometer. Dan
penipisan tersebut bukanlah pekerjaan yang mudah, karena memerlukan keahlian dan
alat khusus. Obyek yang tidak bisa ditipiskan sampai order tersebut sulit diproses.

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

TEM mampu menghasilkan resolusi hingga 0,1 nm (1 ) atau sama dengan


pembesaran hingga satu juta kali.

2.13 Liquid Chromatography Mass Spectrometry (LCMS)

Liquid Chromatograpy mass spectroscopy


adalah dua alat yang

digabungkan menjadi satu, dimana berfungsi untuk memisahkan beberapa senyawa

atau campuran senyawa berdasarkan kepolarannya (prinsip kerja kromatografi),

dimana setelah campuran senyawa tersebut terpisah, maka senyawa yang murni
tersebut akan diidentifikasi berat molekulnya. Berbeda dengan Gas Chromatograpy
mass spectroscopy, LC-MS pada output datanya sangat jarang sekali terjadi pola
fragmentasi, dikarenakan tidak ada proses fragmentasi. Sehingga yang didapatkan
adalah berat molekul ditambah beberapa muatan ditambah lagi berat molekul pelarut
(terkadang).
ESI adalah salah satu methode untuk mendapatkan berat molekul yang
digunakan dalam LC-MS dimana jika pada metode biasanya (lupa-red) menggunakan
fragmentasi (pemecahan molekul), maka pada metode ESI menggunakan spray
(Penyemprotan). AKibatnya tidak akan ditemukan fragmen fragmen dari molekul
tersebut.
Adapun cara kerja liquid chromatograpi adalah sama dengan HPLC atau liquid
chromatograpy lain pada umumnya. Sedangkan kerja mass spectroscopy metode ESI
adalah sebagai berikut :

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Gambar 2.3 Proses pemisahan analit pada Liquid Chromatograpy sampai dengan
sprayer (penyemprotan oleh spray needle tip)
1. Analyte bersama dengan eluent dari syringe pump atau LC masuk ke dalam
cappilary.
Di dalam cappilary terdapat anoda (kutup negatif) pada taylor cone dan katoda
(kutup negatif) didekat masukkan analyte dan eluent. Kutup ini berfungsi agar
muatan yang berkumpul pada taylor cone adalah muatan positif sehingga nantinya
saat terjadi penyemprotan dan terbentuk droplet (tetes tetes) tidak bergabung
menjadi droplet yang lebih besar lagi.
2. Analylet dan solven(eluent) di semprotkan (spray) melalui taylor cone.
Akan terbentuk droplet droplet dimana droplet droplet itu akan mengalami
tahap evaporasi solven untuk mengurangi solven yang menempel di analyte.
Karena suatu saat , apabila terjadi evaporasi secara terus menerus maka solven
yang meliputi analyte terkungkung dalam muatan positif yang berlebih, dalam
bahasa inggris tahap seperti ini disebut the rayleigh limit is reached, maka akan
terjadi explosion yang disebut coulombic explosion dimana akan terjadi
pemecahan droplet (tetesan). Ada beberapa kemungkinan yang terjadi pada
droplet droplet tersebut.

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

a. Analyte akan tertambahi satu muatan positif


b. Analyte akan tertambahi beberapa muatan positif
c. Analyte akan tertambahi satu muatan positif dan satu molekul solven

d. Analyte akan tertambahi satu muatan


positif dan beberapa molekul solven

e. Analyte akant tertambahi beberapa muatan positif dan beberapa molekul solven.
3. Droplet yang mengalami coulombic exsploison tersebut akan masuk ke dalam
cone dimana di sisi kiri dan kanannya sudah mengalir gas Nitrogen (N2). Gas ini

berfungsi agar analit yang terjadi tadi stabil dalam bentuknya dan tidak terganggu
oleh pengaruh gas oksigen. Droplet masuk ke dalam cappilary transfer lalu akan
di analisis melalui mass spectrometer.

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1 Peralatan dan Bahan


3.1.1 Peralatan

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: labu ukur, gelas
ukur, pipet volumetri, pipet tetes, gelas beaker, batang pengaduk, botol semprot, bulb,
tabung sentrifuge, sentrifuge, vortex, neraca analitik, oven, botol vial, botol coklat
dan magnetic stirrer.
Alat uji yang digunakan untuk karakterisasi pada penelitian ini yaitu: Fourier
Transmitan Infra Red (FTIR), Prestige 21 (Shimadzu), Particle Size Analyzer (PSA)
Malvern ZEN 1600, Ultraviolet visible (Shimadzu 2450), BET, XRD (shimadszu
7000), TEM (JEM 1400), XRF( Spectro xepos), Atomic Absorption Spectrometry
6300 (Shimadzu), LCMS (LC/MS/MS 3200 Q Trap).
3.1.2 Bahan
Bahan yang digunakan untuk imobilisasi adalah zeolit alam (CV. Transindo
Citra Utama), Au batang (PT. Antam), AgNO3 (Aldrich), Ni(NO3)2.6H2O, NaBH4
(Merck), 4-nitrofenol (PT. Antam) dan akuabides ( PT.Ikapharmindo Putramas).
Untuk aktivasi zeolit digunakan akuabides, HCl (Merck) dan NaOH (Merck).
Aplikasi katalis zeolit@Au, zeolit@Ag, dan zeolit@Ni dilakukan terhadap senyawa
organik dari padatan 4-nitrofenol.

3.2 Prosedur Kerja


3.2.1 Pembuatan Larutan Induk
3.2.1.1 Pembuatan larutan HCl 0,05 M
Sebanyak 10 ml HCl 11,9616 M dipipet sebanyak 2,1mL dan diencerkan dengan
aquabides ke dalam labu ukur 500 mL sehingga konsentrasi larutan menjadi 0,05 M.

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

3.2.1.2 Pembutana larutan NaOH 0,05 M

Sebanyak 1 g NaOH padatan dan diencerkan dengan aquabides dalam labu ukur 500
mL.

3.2.1.3 Pembuatan larutan NaCl 1 M

Pada pembuatan 2,1L NaCl 1M dilakukan dengan melarutkan sebanyak 122,85 g

NaCl dilarutkan dengan 2,1 L aquabides

3.2.1.4 Pembuatan larutan HAuCl4 0,017 M


Sebanyak 0,3474 g emas dilarutkan dengan aquaregia, HCl dan HNO3 dengan
perbandingan 4 : 1 dengan pemanasan 120oC.
3.2.1.5 Pembuatan larutan Ag(NO3) 1 x 10-2 M
Sebanyak 0,3474 g perak dilarutkan dengan aquabides ke dalam 50 mL.
3.2.1.6 Pembuatan larutan Ni(NO3) 1 x 10-2 M
Sebanyak 0,2907 g nikel dilarutkan dengan aquabides ke dalam 100 mL.
3.2.1.7 Pembuatan larutan NaBH4 1 x 10-2 M
Sebanyak 0,0378 g dilarutkan dengan aquabides dingin ke dalam labu 10mL.
3.2.1.8 Pembuatan larutan 4-nitrofenol 1,02 x 10-2 M
Sebanyak 0,0142 g dilarutkan dengan aquabides ke dalam labu 10mL
3.2.1.9 Pembuatan larutan 4-aminofenol 1,02 x 10-2 M

Sebanyak 0,0112 g dilarutkan dengan aquabides ke dalam labu 10mL


3.2.2 Aktivasi Zeolit
3.2.2.1 Aktivasi Secara Fisika
Secara fisika zeolit diaktifkan dengan cara mencuci zeolit dalam aquabides
dengan perbandingan zeolit : Aquabides, yaitu 1: 3, yakni 300 g zeolit dalam 900 mL

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

aquades. Lalu zeolit diaduk selama 1 jam pada suhu 70 oC. Setelah diaduk zeolit

diaging (didiamkan) selama 24 jam, kemudian


koloidnya di ambil. Koloid yang

diambil selanjutnya dicuci kembali dengan menggunakan aquabides dan diaduk selama
Endapan yang terbentuk kemudian
1 jam pada suhu 70 oC lalu di aging 24 jam.

dikeringkan pada suhu 105 oC. Pencucian secara


fisika dilakukan sebanyak tiga kali.

3.2.2.2 Aktivasi secara Kimia

Sebanyak 2,1 mL HCl 11,9616 M dipipet dan diencerkan dengan aquabides ke


dalam labu ukur 500 mL sehingga konsentrasi larutan menjadi 0,05 M dan larutan ini
dijadikan larutan stok HCl. Pembuatan larutan NaOH 0,05 M dilakukan dengan cara
menimbang sebanyak 1g NaOH padatan dan diencerkan dengan aquabides dalam labu
ukur 500 mL. Serta untuk pembuatan NaCl 1M dilakukan dengan cara menimbang
sebanyak 58,5 g NaCl padatan dan dilarutkan dengan aquades dalam labu ukur 1000
mL, 58,5 g NaCl padatan dan dilarutkan dengan aquades dalam labu ukur 1000 mL dan
5,85 g dalam 100 ml, sehingga didapatkan NaCl M sebanyak 2,1L. .Aktivasi secara
kimia dilakukan pencucian dengan asam encer dan dilanjutkan dengan basa encer.
Asam encer yang digunakan adalah HCl 0,05 M dengan perbandingan zeolit : HCl
adalah 1 : 3 (163 g zeolit : 489 mL HCl 0,05 M) dan campuran diaduk selama 1 jam
pada suhu 70oC dan diendapkan selama 24 jam. Endapan yang terbentuk dimabil dan
dikeringkan pada suhu 105o C. Aktivasi dengan basa encer dilakukan dengan
menggunkan NaOH 0,05 M dengan perbandingan zeolit : basa yaitu 1: 3 (150 g zeolit :
450 mL NaOH 0,05M) dan diperlakukan sama seperti pada aktivasi dengan asam
encer.

3.2.2.3 Pengondisian Zeolit dengan NaCl jenuh


Zeolit yang telah kering kemudian dicuci dengan NaCl 1 M (70 g zeolit NaCl
dalam 2,1 L aquabides). Campuran diaduk dengan magnetik stirrer selama 6 jam pada
70 oC dan di aging selama 24 jam serta endapan dikeringkan pada suhu 105oC.
Selanjutnya zeolit dikalsinasi selama 2 jam pada suhu 300oC dan zeolit yang telah aktif
dikarakterisasi menggunakan XRF, XRD, FTIR dan BET.

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

3.2.3 Immobilisasi Nanopartikel Emas

3.2.3.1 Optimasi Sintesis Nanopartikel Au

Uji optimasi sintesis nanopartikel Au berikut dilakukan dengan membuat stock


HAuCl4 1,0 x10-2 M dari proses pemurnian (subbab 3.2.1.4). Stock tersebut diencerkan
-4
menjadi 1,0 x10-4 M. Lalu dilakukan Variasi
konsentrasi NaBH4 yakni 5,83 x 10 ; 1,17

x 10-3; 3,46 x 10-3; 5 x 10-3; 1,17 x 10-2 M. Sehingga diperoleh konsentrasi NaBH4
optimum untuk diaplikasikan dalam imobilisasi Au ke dalam zeolit.

3.2.3.2 Uji Kestabilan Nanopartikel Au


Uji kestabilan berikut dilakukan dengan membuat stock HAuCl4 1,0 x10-2 M dari
proses pemurnian (subbab 3.2.1.4). Stock tersebut diencerkan menjadi 1,0 x10-4 M.
Lalu dilakukan Variasi waktu mulai dari menit ke 2, 5, 10, 15, 30 dan 60 terhadap
penambahan NaBH4 0,015 M. Sehingga diperoleh waktu optimum penambahan NaBH4
untuk diaplikasikan dalam imobilisasi Au ke dalam zeolit.

3.2.3.3 Optimasi Waktu Immobilisasi Nanopartikel Au


Optimasi waktu immobilisasi Nanopartikel emas dalam zeolit telah dilakukan
pada penelitian sebelumnya (N.Sandra. 2010) dengan kondisi waktu optimum pada 3
jam waktu immobilisasi.
3.2.3.4 Imobilisasi Nanopartikel Au dalam Zeolit
Pada penelitian ini imobilisasi nanopartikel Au pada zeolit menggunakan lautan
stok HAuCl4 10-2 M yang dibuat dengan cara melarutkan emas batang didalam
aquaregia dengan perbandingan HCl dan HNO3 4 : 1, setelah itu diperoleh larutan emas
yang mash banyak pengotor. Lalu diambil sebanyak 10 mL dari larutan dan diuapkan
sampai dapat diperkirakan pengotor-pengotornya hilang. Setelah itu kerak sisa
pemanasan diencerkan didalam labu 10 mL dengan konsentrasi 0,017 M. Dari HAuCl4
0,017 M kemudian diencerkan ke dalam labu 10 mL sehingga didapat HAuCl4 10-2 M
sebagai stock. Larutan HAuCl4 tersebut diencerkan dalam labu 25 mL dengan memipet
sebanyak 2,5 mL HAuCl4 10-2 M untuk memperoleh larutan HAuCl4 10-4 M.
Sebelumnya larutan HAuCl4 10-4 M di uji dengan UV-Vis dengan pereduksi NaBH4

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

0,015M. Kemudian larutan HAuCl4 10-4 M tersebut dimasukkan ke dalam beaker glass

yang terdapat 1 gram zeolit yang telah diaktivasi


dan larutan diaduk dengan magnetic

stirrer selama 1 jam, setelah 1 jam ke dalam larutan tersebut ditambahkan 7,5 mL
dengan aquabides dingin dalam labu ukur
NaBH4 0,015 M (0,0057g NaBH4 dilarutkan

10 mL). Pengadukan terus dilakukan selama


6 jam dan di aging selama 24 jam.
Selanjutnya larutan di sentrifuge untuk memisahkan
fase padatan dan fase cairan. Fase

cairan diukur dengan PSA, sedangkan fase padatan dikeringkan dioven pada suhu

105oC. Zeolit yang telah kering diperlakukan kembali seperti diatas sebanyak 3 kali
pelapisan (Indriati, Narita. 2012). Karakterisasi zeolit@Au dilakukan dengan FTIR,
BET, XRD dan TEM.
3.2.4 Immobilisasi Nanopartikel Perak
3.2.4.1 Immobilisasi Nanopartikel Ag ke dalam Zeolit
Larutan stock AgNO3 yang digunakan adalah AgNO3 0,001 M yang dibuat
dengan cara melarutkan sebanyak 0,017 g AgNO3 dengan aquabides ke dalam labu
ukur 100 mL. Lalu dari larutan stock AgNO3 tersebut diambil 5 mL lalu diencerkan ke
dalam labu ukur 50 mL sehingga konsentrasi larutan AgNO3 menjadi 0,0001 M.
Imobilisasi nanopartikel Ag pada zeolit dilakukan dengan cara mencampurkan 1,0 g
zeolit aktivasi dengan 25 mL larutan AgNO3 0,0001 M lalu diaduk selama 1 jam tanpa
pemanasan. Selanjutnya ditambahkan pereduksi 5 mL NaBH4 0,1 M segar (0,0378 g
NaBH4 dilarutkan dengan aquabides dingin ke dalam labu ukur 10 mL) setetes demi
setetes dan terus diaduk hingga 6 jam lalu didiamkan semalaman (12 jam). Endapan
yang dihasilkan kemudian dikeringkan pada suhu 105 oC. Proses imobilisasi ini
dilakukan secara berulang hingga 3 kali pengulangan. Hasil endapan untuk proses

pengulangan imobilisasi selanjutnya dikarakterisasi secara kuantitatif dilakukan dengan


menggunakan AAS, sedangkan secara kualitatif dilakukan dengan menggunakan XRD,
TEM FTIR, dan XRF.
3.2.4.2 Optimasi Jumlah Pelapisan (Jumlah Pengulangan Immobilisasi)
Optimasi jumlah pelapisan immobilisasi Nanopartikel emas dalam zeolit telah
dilakukan pada penelitian sebelumnya (R.Nova. 2012) dengan kondisi jumlah
pelapisan optimum pada 3 kali pengulangan immobilisasi.

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

3.2.5 Immobilisasi Nanopartikel Nikel

3.2.5.1 Optimasi Sintesis Nanopartikel Ni

Uji optimasi sintesis nanopartikel Ni berikut dilakukan dengan membuat stock

-2

Ni(NO3)2.6H2O 1,0 x10 M dari proses pelarutan padatan (subbab 3.2.1.6). Stock

tersebut diencerkan menjadi 5,0 x10-3 M. Lalu dilakukan variasi kosentrasi NaBH4

yakni 7,06 x 10-3; 9,09 x 10-3; 1,45 x 10-2; 1,67


x 10-2; 4,54 x 10-3; 6,89 x 10-3; 8,33 x

10-3 M. Sehingga diperoleh waktu konsentrasi NaBH4 untuk diaplikasikan dalam


imobilisasi Ni ke dalam zeolit.
3.2.5.2 Uji Kestabilan Nanopartikel Ni
Uji kestabilan Nanopartikel Ni berikut dilakukan dengan membuat stock Ni(NO3)2
1,0 x10-2 M dari proses pelarutan padatan (subbab 3.2.1.6). Stock tersebut diencerkan
menjadi 5,0 x10-3 M. Lalu dilakukan variasi waktu mulai dari menit ke 1, 3, 5, 10, dan
18 terhadap penambahan NaBH4 0,1 M. Sehingga diperoleh waktu optimum
penambahan NaBH4 untuk diaplikasikan dalam imobilisasi Ni ke dalam zeolit.
3.2.5.3 Immobilisasi Nanopartikel Ni dalam Zeolit
Pada penelitian ini imobilisasi nanopartikel Ni pada zeolit menggunakan lautan stok
Ni(NO3)2 1,0x10-2 M yang dibuat dengan cara melarutkan 0,0727 gram Ni(NO3)2.6H2O
didalam labu 25 mL dengan aquabides. Larutan Ni(NO3)2 tersebut diencekan dalam
labu 25 mL dengan memipet sebanyak 12,5 mL Ni(NO3)2 10-2 M untuk memperoleh

larutan Ni(NO3)2 5,0x10-3 M. Sebelumnya larutan Ni(NO3)2 5,0x10-3 M di uji dengan

UV-Vis dengan pereduksi NaBH4 0,1M. Kemudian larutan Ni(NO3)2.6H2O 5,0x10-3 M


tersebut dimasukkan ke dalam beaker glass yang terdapat 1 gram zeolit yang telah
diaktivasi dan larutan diaduk dengan magnetic stirrer selama 1 jam, setelah 1 jam ke
dalam larutan tersebut ditambahkan 1,9 mL NaBH4 0,1 M (0,0378 g NaBH4 dilarutkan
dengan aquabides dingin dalam labu ukur 10 mL). Pengadukan terus dilakukan selama
1 jam 47 menit dan di aging selama 24 jam. Selanjutnya larutan di sentrifuge untuk
memisahkan fase padatan dan fase cairan. Fase cairan diukur dengan PSA, sedangkan
fase padatan dikeringkan dioven pada suhu 105oC. Zeolit yang telah kering

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

diperlakukan kembali seperti diatas sebanyak 3 kali pelapisan. Karakterisasi zeolit@Ni

dilakukan dengan FTIR, BET, XRD dan TEM.

3.2.6 Aplikasi Reduksi 4-Nitrofenol

Larutan 4-nitrofenol 8,6 x 10-5 M dibuat dengan cara melarutkan 0,0142 g 4nitrofenol dengan aquabides pada labu ukur 10 mL. Sebanyak 0,24 mL larutan 4-NP
1,02 x 10-2 M diencerkan ke dalam labu 25 mL. Sebanyak 8,6 mL larutan 4-NP 1,00 x

-4

10 M diencerkan ke dalam labu 10 mL. Sebanyak 5 mL 4-NP 8,6 x 10-5 M


dimasukkan ke dalam tabung sentrifuge dan ditambahkan 5 mg zeolit aktivasi; 5 mg
zeolit@Au; 5 mg zeolit@Ag dan 5 mg zeolit@Ni. Kemudian campuran di-vortex
selama 5 menit dan campuran ditambahkan NaBH4 0,1 M, lalu di-vortex dan disentrifuge dengan variasi waktu selama 30 menit. Selanjutnya fasa cair diambil untuk
diukur dengan spektroskopi UV-Vis dan LCMS.
3.2.7 Optimasi pada aplikasi Katalis Terhadap 4-Nitrofenol
3.2.7.1 Variasi Berat Katalis Zeolit Termodifikasi Nanopartikel
Percobaan dilakukan dengan variasi berat pada masing-masing jenis katalis dalam
mereduksi senyawa 4-NP. Masing-masing katalis divariasikan berat, yaitu 5 mg, 10
mg, 25 mg, 50 mg dan 75 mg. Dari masing-masing berat pada setiap katalis
dimasukkan ke dalam tabung sentrifuge dan ditambahkan larutan 4-NP 8,6 x 10-5 M,
kemudian diaduk dengan vortex selama 5 menit dan ditambahkan 0,84 mL NaBH4 0,1
M, lalu diaduk dengan vortex dan di sentrifuge. Lalu fasa cair diambil dan diukur di
UV-Vis dan LCMS.

3.2.7.2 Variasi Berat Zeolit dalam Sintesis Zeolit@Au


Percobaan ini dilakukan dengan variasi berat zeolit dalam sintesis zeolit@Au pada
hasil optimum dari variasi berat dan jenis katalis, yaitu 50 mg zeolit@Au. Zeolit@Au
dibuat dengan variasi berat zeolit aktivasi, yakni 0,5 g; 1 g; dan 2 g terhadap HAuCl4 1
x 10-4 M. Dari 50 mg masing-masing variasi tersebut dimasukkan ke dalam tabung
sentrifuge dan ditambahkan larutan 4-NP 8,6 x 10-5 M, kemudian diaduk dengan vortex
selama 5 menit dan ditambahkan 0,84 mL NaBH4 0,1 M, lalu diaduk dengan vortex dan

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

di sentrifuge. Lalu fasa cair diambil dan diukur di UV-Vis. Pengukuran dilakukan
variasi waktu selama 30 menit.

3.2.7.3 Variasi Konsentrasi 4-NP

Percobaan ini dilakukan dengan variasi konsentrasi 4-NP terhadap kondisi optimum
dari sintesis zeolit@Au, yaitu dengan 2 g zeolit
aktivasi terhadap HAuCl4 1 x 10-4 M.

Larutan 4-NP 8,6 x 10-5 M dibuat dengan mengambil 21,5 mL dari larutan 4-NP 1 x 10-4

M dan diencerkan di dalam labu 25 mL. Untuk larutan 4-NP 5 x 10-5 M dan 3 x 10-5 M
dengan mengambil 5,82 mL dan 3,48 mL dari larutan 4-NP 8,6 x 10-5 M. Untuk larutan
4-NP 1 x 10-5 M dengan mengambil 3,3 mL dari 3 x 10-5 M 4-NP. Dari masing-masing
variasi konsentrasi tersebut dimasukkan ke dalam tabung sentrifuge dan ditambahkan 50
mg zeolit@Au, kemudian diaduk dengan vortex selama 5 menit dan ditambahkan 0,84
mL NaBH4 0,1 M, lalu diaduk dengan vortex dan di sentrifuge. Lalu fasa cair diambil
dan diukur di UV-Vis. Pengukuran dilakukan variasi waktu selama 30 menit.

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Zeolit Alam

Aktivasi

Fisika

Kimia

Penyeragaman Kation

Zeolit Aktivasi
BET

Immobilisasi Nanopartikel

XRF
Zeolit@Au

Zeolit@Ag

XRD

Zeolit@Ni

PSA
FTIR
Zeolit@Nanopartikel
Aplikasi Sebagai Katalis

4-Nitrofenol

Optimasi
UVVis
Berat Katalis

Berat Zeolit dalam


Modifikasi Zeolit

Konsentrasi
4-NP

Gambar 3.1 Bagan Penelitian

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

LCMS

BAB 4

PEMBAHASAN
HASIL DAN

4.1 Aktivasi Zeolit

Zeolit yang digunakan pada penelitian ini adalah zeolit alam yang didapat dari

CV Transindo Citra Utama, berasal dari daerah Bayah, Jawa Barat. Zeolit yang

berasal dari alam biasanya masih mengandung pengotor anorganik dan pengotor
organik. Oleh karena itu, pengotor-pengotor tersebut harus dihilangkan terlebih
dahulu dengan proses aktivasi agar dapat meningkatkan luas permukaannya. Aktivasi
zeolit alam dilakukan dalam tiga tahapan yaitu, aktivasi secara fisika, aktivasi secara
kimia, dan pengkondisian dengan larutan NaCl. Sebelum dilakukan aktivasi, zeolit
dihaluskan terlebih dahulu menggunakan test sieve dengan ukuran 200 mesh (0,75
mikron) untuk memperbesar luas permukaannya.
4.1.1 Aktivasi Secara Fisika
Aktivasi secara fisika dilakukan dengan mencuci zeolit menggunakan
aquabides secara berulang. Pencucian dengan aquabides diharapkan dapat
menghilangkan pengotor-pengotor kasar yang umumnya menempel pada permukaan
zeolit seperti pasir, tanah, debu ataupun pengotor yang bersifat polar (mudah larut
dalam air) seperti ion-ion logam. Pengulangan hingga tiga kali bertujuan
mengoptimalkan proses pencucian sehingga diharapkan zeolit telah bersih dari
pengotor.

4.1.2 Aktivasi Secara Kimia


Aktivasi secara kimia dilakukan menggunakan asam encer (HCl 0,05 M) dan
basa encer (NaOH 0,05 M), bertujuan menghilangkan pengotor-pengotor yang larut
dalam asam maupun basa. Asam dan basa yang digunakan pada proses aktivasi kimia
harus dalam keadaan encer untuk menghindari terjadinya dealuminasi pada zeolit.
Pencucian secara fisika dan kimia disertai dengan pemanasan pada suhu 70 oC,
bertujuan agar proses pencucian berlangsung dengan optimal. Pemanasan pada suhu

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

70 oC diharapkan dapat sedikit membuka pori-pori dan rongga pada zeolit, sehingga
pengotor-pengotor yang masih terjebak pada pori-pori dan rongga zeolit dapat
terbawa dengan lebih mudah.

4.1.3 Pengondisian Zeolit Alam dengan


Larutan NaCl Jenuh

Zeolit alam masih banyak mengandung


berbagai macam kation penyeimbang

pada strukturnya, yakni logam alkali dan


alkali tanah yang dapat mengganggu
imobilisasi nanopartikel Au, Ag, dan Ni pada zeolit, maka perlu dilakukan
pengondisian lebih lanjut untuk mendapatkan bentuk dari zeolit yang didominasi oleh
satu kation penyeimbang tertentu saja. Pengondisian zeolit dengan garam akali, yaitu
NaCl jenuh dilakukan dengan mencuci zeolit menggunakan NaCl 1M dengan
perbandingan zeolit : NaCl, yaitu 1 : 30 dan dilakukan sebanyak 2 kali. Hal ini
bertujuan untuk mendifusikan kation Na(I) ke dalam pori zeolit. Ion Na(I) yang
masuk akan menggantikan kation-kation di dalam struktur zeolit. Akan tetapi, tidak
semua ion yang berada pada struktur zeolit tergantikan oleh Na(I). Hal ini disebabkan
saat penukaran kation terjadi proses kesetimbangan sehingga masih ada sebagian
Na(I) yang tidak dapat menggantikan posisi kation-kation di dalam struktur zeolit.
Semakin banyaknya Na(I) dalam struktur zeolit, maka pergantian Na(I) oleh Ag(I),
Ni(II), Au(III) semakin lebih mudah. Pencucian dengan aquabides panas dilakukan
untuk menghilangkan ion klorin (Cl-) yang tertinggal setelah penambahan larutan
NaCl, dan pencucian ini dilakukan secara berulang hingga tidak terdapat lagi ion Cl-.
Hilangnya ion Cl- ini ditandai dengan tidak terbentuknya endapan putih (AgCl) pada
filtrat hasil pencucian yang diuji dengan cara meneteskan AgNO3. Endapan yang
diperoleh kemudian dikeringkan pada suhu 120 oC untuk menguapkan air maupun

sisa ion Cl- yang masih terdapat pada zeolit. Selanjutnya, endapan dikalsinasi pada
suhu 300 oC selama 2 jam untuk menghilangkan sisa air yang masih terjebak pada
pori atau rongga zeolit serta menguraikan pengotor-pengotor organik yang terkandung
dalam zeolit.

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

4.2 Pembuatan Katalis Zeolit Termodifikasi Nanopartikel

Modifikasi dilakukan melalui 2 tahapan, yaitu pengisian rongga zeolit oleh ion
+

Ag , Ni2+, Au3+, sintesis nanopartikel Ag,


Ni, Au dalam rongga zeolit (zeolit@Ag,
zeolit@Ni, zeolit@Au) melalui proses reduksi Ag+ menjadi Ag0, Ni2+ menjadi Ni0,

Au3+ menjadi Au0 menggunakan NaBH4 (metode brust).

4.2.1 Katalis Zeolit Termodifikasi Nanopartikel


Ag (Katalis zeolit@Ag)

Katalis zeolit@Ag dilakukan melalui imobilisasi nanopartikel Ag dalam zeolit


dilakukan menggunakan larutan AgNO3. Dalam air, AgNO3 akan terurai menjadi ion
Ag+, dan ion Ag+ akan berdifusi dan mengisi pori-pori zeolit dengan merata melalui
proses pengadukan selama 1 jam. Pemakaian waktu 1 jam dikarenakan selama
berdifusi, Ag+ akan bergerak secara merata menggantikan posisi Na+ dalam pori
zeolit. Selanjutnya, dilakukan proses reduksi menjadi Ag0 dengan metode brust
melaui penambahan NaBH4 secara perlahan. Penambahan NaBH4 dilakukan setetes
demi setetes untuk menghindari pembentukan nanopartikel Ag yang tidak merata atau
pembentukan nanokluster Ag yang terlalu besar. Pada proses reduksi Ag+ menjadi
Ag0, dilakukan melalui penambahan NaBH4 sedikit demi sedikit dengan waktu
pengadukan selama 6 jam. Pemilihan waktu 6 jam merupakan waktu dimana semua
Ag+ di pori dan permukaan hampir seluruhnya tereduksi.
Immobilisasi nanopartikel Ag dalam zeolit dilakukan dengan jumlah pelapisan
sebanyak 3 kali (Reka, skripsi 2012). Pelapisan ini dilakukan dalam kondisi optimum
dimana nanopartikel Ag telah berhasil terdifusi ke dalam zeolit dan tereduksi
sempurna baik Ag dalam pori maupun permukaan eksternal zeolit.

4.2.2 Katalis Zeolit Termodifikasi Nanopartikel Ni (Katalis zeolit@Ni)


Pembuatan katalis zeolit@Ni dilakukan melalui immobilisasi Ni ke dalam
zeolit dilakukan dengan menggunakan Ni(NO3)2.6H2O. Di dalam larutan,
Ni(NO3)2.6H2O akan mengion secara bertahap menjadi Ni2+. Kemudian Ni2+ akan
berdifusi dan mengisi pori-pori zeolit dengan merata melalui proses pengadukan
selama 1 jam. Pemakaian waktu 1 jam dikarenakan selama berdifusi, Ni2+ akan
bergerak secara merata menggantikan posisi Na+ dalam pori zeolit. Pada proses

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

pertukaran ion Na+ dengan Ni2+, proses reduksi dilakukan melalui penambahan
stirrer selama 6 jam. Pemilihan waktu 6
NaBH4 sedikit demi sedikit dengan waktu

jam merupakan waktu dimana semua Ni2+ di pori dan permukaan hampir seluruhnya
tereduksi. Hal ini dilakukan agar proses reduksi terjadi secara merata. Pada
pengulangan immobilisasi ke-2 dan ke-3,
setelah penambahan NaBH4 dilakukan
pengadukan selama 1 jam 47 menit. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya
aglomerasi di permukaan zeolit. Percobaan ini menghasilkan zeolit termodifikasi
nanopartikel Ni (zeolit@Ni).

4.2.3 Katalis Zeolit Termodifikasi Nanopartikel Au (Katalis zeolit@Au)


Percobaan dilakukan menggunakan kondisi optimum yang diperoleh pada
penelitian sebelumnya (Novita S, skripsi 2010) dimana waktu immobilisasi optimum
adalah 3 jam dengan jumlah pelapisan sebanyak 3 lapisan. Immobilisasi dilakukan
menggunakan HAuCl4 1,0 x 10-4 M. Di dalam larutan, HAuCl4 akan mengion secara
bertahap menjadi Au3+.
HAuCl4 + H2O
AuCl4- + H2O
AuCl3 + H2O
AuCl2+ + H2O
AuCl2+ + H2O

AuCl4- + H3O+
AuCl3 + Cl- + H2O
AuCl2+ + 2Cl- + H2O
AuCl2+ + 3Cl- + H2O
Au3+ + 4Cl- + H2O

Kemudian Au3+ akan berdifusi dan mengisi pori-pori zeolit dengan merata
menggantikan Na+ melalui proses pengadukan. Proses reduksi dilakukan melalui
penambahan NaBH4 sedikit demi sedikit dengan waktu stirrer selama 3 jam.
Pemilihan waktu 3 jam merupakan waktu pada kondisi optimum dimana semua Au3+
proses
di pori dan permukaannya hampir seluruhnya tereduksi. Hal ini dilakukan agar

reduksi terjadi secara merata dan mencegah terjadinya aglomerasi di permukaan


zeolit. Percobaan ini menghasilkan zeolit termodifikasi nanopartikel Au (zeolit@Au).
4.3. Karakterisasi
4.3.1

Karakterisasi dengan Sistem Koloid

4.3.1.1 Karakterisasi dengan Spektrofotometer UV-Vis

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

4.3.1.1.1 Sintesis dan Kestabilan Nanopartikel Ag

Uji ini dilakukan untuk membentuk nanopartikel Ag dan mengetahui kestabilan


nanopartikel Ag tanpa modifikasi. Hasil uji kestabilan nanopartikel Ag terlihat pada
Gambar 4.1, dan Gambar 4.2

Gambar 4.1 Ilustrasi Sintesis AgNP


8Ag+ + BH4- + 3H2O 8Ag0 + BO33- + 10H+
Dari Gambar 4.1 merupakan ilustrasi sintesis nanopartikel Ag secara
visualisasi perubahan warna dari bening menjadi kuning. Perubahan warna kuning
tersebut tersebut mengindikasikan bahwa Ag+ telah tereduksi menjadi Ag0. Selain
dengan perubahan warna, nanopartikel Ag dikarakterisasi dengan UV-Vis, yaitu.

AgNO3
AgNO3 + NaBH4

0.5

0
200

400

600

800

Gambar 4.2 Spektra UV-Vis AgNO3 sebelum dan setelah ditambah NaBH4; [AgNO3]
= 10-4 M, [NaBH4] = 0,1 M
Dari kurva UV-Vis terlihat bahwa munculnya peak baru di panjang
gelombang 400 nm mengindikasikan bahwa Ag+ telah berhasil teruduksi menjadi Ag0

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

yang khas berwarna kuning. Absorbansi pada nanopartikel Ag sekitar 0.58, hal ini

mengindikasikan bahwa daya adsorpsivitas


nanopartikel Ag cukup besar, sehingga

diharapkan nanopartikel Ag dapat mengadsorpsi muatan dari suatu senyawa cukup

besar.

4.3.1.1.2 Sintesis dan Kestabilan Nanopartikel Ni

Uji ini dilakukan untuk membentuk nanopartikel Ni dan mengetahui kestabilan

nanopartikel Ni tanpa modifikasi. Hasil uji kestabilan nanopartikel Ni terlihat pada


Gambar 4.3, dan Gambar 4.4

Gambar 4.3. Ilustrasi sintesis nanopartikel Ni


Dari Gambar 4.3 menunjukkan hasil reduksi Ni dalam sistem koloid secara
visual menghasilkan perubahan warna dari bening menjadi larutan berwarna abu-abu
kehijauan. Reaksi yang terjadi pada sintesis nanopartikel Ni dengan NaBH4, yaitu
8Ni2+ + 2BH4- + 6H2O 8Ni0 + 2BO33- + 20H+
Penentuan ukuran partikel Ni dilakukan dengan memvariasikan konsentrasi NaBH4

sebagai agen reduksi. Hasil sintesis nanopartikel Ni dengan variasi konsentrasi

NaBH4 dilakukan pada fasa koloid dikarakterisasi menggunakan UV-Vis ditunjukkan


pada Gambar 4.4.

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

NaBH4 0,1M 0,38mL


NaBH4 0,1M 0,5mL
NaBH4 0,1M 0,85mL
NaBH4 0,05M 0,5mL
NaBH4 0,05M 0,8mL
NaBH4 0,05M 1mL

Absorbansi

2
1
0
200

400

600

800

Panjang Gelombang (nm)


Gambar 4.4 Spektra UV-Vis sintesis nanopartikel Ni dengan variasi konsentrasi NaBH4
Hasil karakterisasi UV-Vis dikonversi dengan perbandingan panjang
gelombang maksimum terhadap absorbansi, ditunjukkan pada Gambar 4.5

304

Panjang gelombang (nm)

1,8

305

1,665

1,6

301

302
300

1,4
1,2

300
299

298

297

0,824

296
294

1
0,8
294 0,6

0,535

292

Absorbansi

306

maks
A

0,4

290

0,104

288
7,06

9,09

14,5

4,54

0,0824

0,1336

6,89

0,2
0

8,33

Konsentrasi NaBH4 (x 10-3 M)

Gambar 4.5 Kurva hubungan antara panjang gelombang maks dan absorbansi
terhadap konsentrasi NaBH4 pada sintesis Nanopartikel Ni

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Pada Gambar 4.4 dan Gambar 4.5 diperoleh dalam pereduksian nanopartikel

Ni digunakan NaBH4 7,06 x 10-3 M dengan


panjang gelombang 305 nm dan

absorbansi tertinggi sebesar 0,535. Hal ini menunjukkan bahwa Ni2+ berhasil

tereduksi menjadi Ni0.

Kestabilan nano Ni sangat tidak stabil, terlihat dari visualisasi bahwa saat
penambahan NaBH4 ke dalam larutan Ni(NO
3)2, larutan berubah warna menjadi abu
abu kehijauan dan hanya dalam waktu sekitar 5 menit larutan tersebut berubah

kembali menjadi bening. Oleh karena itu, dilakukan pengamatan kestabilan


nanopartikel Ni terhadap bertambahnya waktu, yaitu sebagai berikut.

Nano Ni 1 M ENIT
Nano Ni 3 M ENIT
Nano Ni 5 M ENIT
Nano Ni 10 M ENIT
Nano Ni 18 M ENIT

Absorbansi

200

400
600
Panjang Gelombang (nm)

800

Gambar 4.6 Kestabilan Nanopartikel Ni

Hasil karakterisasi UV-Vis dikonversi dengan perbandingan panjang


gelombang maksimum terhadap absorbansi pada kestabilan nanopartikel Ni dalam
sistem koloid, ditunjukkan pada Gambar 4.7

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

312

2,5

310

2,1206

308

306

1,5

305
304

1,10045

0,88595

302
301

300

300

298

300

0,1095

296

Absorbansi

Panjang gelombang (nm)

310

0,5

maks
A

0
-0,00605

294

-0,5
1

10

18

Waktu (menit)

Gambar 4.7 Kurva hubungan panjang gelombang maks dan absorbansi terhadap
kestabilan nanopartikel Ni
Gambar 4.6 dan Gambar 4.7 terlihat bahwa waktu 3 menit merupakan waktu
optimum dalam pembentukan nanopartikel Ni dengan panjang gelombang 310 nm
dan absorbansi 1,10045. Dalam hal ini menunjukkan bahwa nanopartikel Ni pada
sistem koloid dalam waktu 3 menit akan beraglomerasi atau teroksidasi dengan udara
menjadi NiO. Namun pada nanopartikel Ni yang terimmobilisasi ke dalam pori zeolit
tidak terlalu berpengaruh terhadap kestabilan nanopartikel Ni. Hal ini dikarenakan
Ni2+ telah terdifusi ke dalam pori zeolit terlebih dahulu menggantikan ion Na+, lalu
direduksi menjadi Ni0 sehingga Ni tidak dapat beraglomerasi.

4.3.1.1.3 Sintesis dan Kestabilan Nanopartikel Au


Uji ini dilakukan untuk membentuk nanopartikel Au dan mengetahui
kestabilan nanopartikel Au tanpa modifikasi. Hasil uji kestabilan nano Au terlihat
pada, Gambar 4.8, Gambar 4.9, dan Gambar 4.10

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

sintesis Nanopartikel Au
Gambar 4.8 Ilustrasi
8Au0 + 3BO33- + 30H+
8Au+ + 3BH4- + 9H2O

Pada Gambar 4.9 dan Gambar 4.10 diperoleh panjang gelombang maksimum
509 nm dengan absorbansi 0,255 pada konsentrasi NaBH4 3,46 x 10-3 M. Oleh karena
itu, dalam pereduksian nanopartikel Au digunakan NaBH4 3,46 x 10-3 M. Pada
panjang gelombang tersebut, nanopartikel Au berada pada daerah visible yang
berwarna hijau dengan warna komplementer merah muda. Hal ini menunjukkan
bahwa Au3+ berhasil tereduksi menjadi Au0.

0.4
NaB H4 5.83x10-4 M
NaB H4 1.17x10-3 M
NaB H4 3.46x10-3 M

0.3

NaB H4 5x10-3 M

Absorbansi

NaB H4 1.17x10-2 M

0.2

0.1

0
200

400

600

800

Panjang gelombang (nm)


Gambar 4.9 Spektra UV-Vis sintesis nanopartikel Au dengan variasi konsentrasi
NaBH4; [HAuCl4] = 10-4 M

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Hasil karakterisasi UV-Vis pada sintesis nanopartikel Au dengan variasi

konsentrasi NaBH4 pada sistem koloid dikonversi


dengan perbandingan panjang

gelombang maksimum terhadap absorbansi, ditunjukkan pada Gambar 4.10

525
520

526
0,252

0,321

0,3

0,255

0,254

0,35

0,313

524

0,25

520

519

0,2
515
0,15
510

509

505

0,1
0,05

500

Absorbansi

Panjang gelombang (nm)

530

0
5.83x10-4 1.17x10-3 3.46x10-3 5x10-3 1.17x10-2

maks
(nm)
A

Konsentrasi NaBH4 (M)

Gambar 4.10 Kurva hubungan antara panjang gelombang maks dan absorbansi
terhadap variasi konsentrasi NaBH4 sintesis Nanopartikel Au
Kestabilan nanopartikel Au cukup stabil, terlihat dari visualisasi bahwa saat
penambahan NaBH4 ke dalam larutan HAuCl4, larutan berubah warna menjadi merah
muda, dan setelah beberapa jam warna berubah menjadi keunguan. Oleh karena itu,
dilakukan pengamatan kestabilan nanopartikel Au terhadap bertambahnya waktu
untuk menentukan waktu optimum dalam membentuk nanopartikel Au, yaitu sebagai
berikut.

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

AuNP 1 menit
AuNP 3 menit
AuNP 5 menit
AuNP 30 menit
AuNP 1 hari

0.4

Absorbansi

0.3

0.2

0.1
0
200

400

600

800

Panjang gelombang (nm)

Gambar 4.11 Spektra UV-Vis Kestabilan Nanopartikel Au


Hasil karakterisasi UV-Vis dikonversi dengan perbandingan panjang
gelombang maksimum terhadap absorbansi pada kestabilan nanopartikel Au dalam
sistem koloid, ditunjukkan pada Gambar 4.12

530

0,26
526

0,255

524

Panjang gelombang (nm)

525

0,255

524

0,25
0,24
513

515

0,233
0,229

510

509

0,24
0,235
0,23
0,225

0,224

Absorbansi

0,245

520

0,22
0,215

505

0,21
500

0,205
1 menit 3 menit 5 menit

30
menit

maks
(nm)
A

1 hari

Waktu Pengamatan

Gambar 4.12 Kurva hubungan antara panjang gelombang maks dan absorbansi pada
kestabilan Nanopartikel Au

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Gambar 4.11 dan Gambar 4.12 terlihat bahwa waktu 3 menit merupakan

waktu optimum dalam pembentukan nanopartikel


Au dengan panjang gelombang 513

nm dan absorbansi 0,224. Dalam hal ini menunjukkan bahwa nanopartikel Au pada
sistem koloid dalam waktu 3 menit akan beraglomerasi. Namun pada nanopartikel Ni
yang terimmobilisasi ke dalam pori zeolit
tidak terlalu berpengaruh terhadap
kestabilan nanopartikel Au. Hal ini dikarenakan
Au3+ telah terdifusi ke dalam pori

zeolit terlebih dahulu menggantikan ion Na+, lalu direduksi menjadi Au0 sehingga Au
tidak dapat beraglomerasi.

4.3.1.2 Karakterisasi PSA

Gambar 4.13 Spektra PSA Nanopartikel Au dengan variasi konsentrasi NaBH4


Dari spektra PSA pada Gambar 4.13 memperlihatkan bahwa nanopartikel Au
hasil sintesis berukuran 8,64 nm melalui proses pembiasan cahaya. Dengan ukuran
partikel Au 8,64 nm, immobilisasi nanopartikel Au pada zeolit mungkin untuk
dilakukan.

4.3.2 Karakterisasi Zeolit dengan TEM, BET, dan XRF


4.3.2.1 Karakterisasi dengan TEM
Karakterisasi TEM dilakukan untuk mengetahui ukuran dan bentuk partikel
yang terimobilisasi ke dalam pori zeolit. Hasil visualisasi TEM diperlihatkan pada
Gambar 4.14 untuk TEM zeolit@Au dan Gambar 4.15 untuk zeolit@Ag.

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Pada Gambar 4.14 memperlihatkan ukuran partikel Au terselubung zeolit <


yaitu, 100 nm, 50 nm, dan 20 nm. Partikel
20nm yang dilihat dari beberapa perbesaran

yang berwarna lebih hitam menunjukkan densitas yang lebih besar, yaitu AuNP

sedangkan lapisan yang mengelilingi nanopartikel


Au merupakan zeolit dengan

densitas yang lebih rendah. Hal ini menunjukkan


nanopartikel Au telah berhasil

terimobilisasi ke dalam pori zeolit dengan distribusi ukuran yang merata.

(Sumber: Indriati, Narita,, Skripsi 2011)

Gambar 4.14. Hasil pengukuran TEM zeolit@Au


Karakterisasi TEM dilakukan untuk mengetahui ukuran Ag yang terimobilisasi

pada zeolit alam. Hasil visualisasi TEM diperlihatkan pada Gambar 4.15. Gambar 4.15
memperlihatkan bahwa terdapat bagian terang dan bagian gelap pada hasil
penggambaran TEM. Bagian terang menunjukkan zeolit yang belum terimobilisasi
seluruhnya oleh nanopartikel Ag, sedangkan bagian gelap menunjukkan densitas
elektron yang besar pada zeolit yang mengindikasikan banyaknya nanopartikel Ag yang
terbentuk pada struktur zeolit. Penentuan distribusi ukuran Ag yang terimobilisasi pada
zeolit berdasarkan hasil penggambaran TEM belum dapat terlihat dengan jelas,
disebabkan perbesaran yang digunakan belum cukup untuk menunjukkan partikel Ag

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

yang terdistribusi pada zeolit. Namun, berdasarkan Gambar 4.14 memperlihatkan

adanya bagian gelap dengan distribusi ukuran


sebesar 8 nm, tetapi tidak menutup

kemungkinan bahwa masih adanya nanopartikel Ag yang terdistribusi pada zeolit

menghasilkan ukuran yang lebih kecil lagi.

(Sumber: Nova, Reka,, Skripsi 2011)

Gambar 4.15 Hasil karakterisasi TEM zeolit@Ag dengan perbesaran: (a) 50000
kali; (b) 100000 kali
4.3.2.2 Karakterisasi dengan BET
Karakterisasi dengan BET terhadap zeolit aktivasi, menggunakan data
karakterisasi dari penelitian sebelumnya ( Daud, Suryantini., Tesis 2011 ).

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Tabel 4.1 Data BET zeolit aktif

Luas permukaan pori

Volume pori

Ukuran pori

28,768 m2/g

8,963 x 10-2 cc/g

1,2087 x 102

(Sumber: Daud, Suryantini,, Tesis 2011)

Zeolit yang digunakan sama, yakni zeolit alam yang berasal dari dari Bayah,
Jawa Barat, maka digunakan data yang sebelumnya. Proses pengukuran BET
dilakukan dengan mengisi pori zeolit dengan gas N2 sehingga dapat diketahui ukuran
pori, luas permukaan dan volume porinya. Pengukuran BET dilakukan untuk
mengetahui jumlah nanopartikel yang mengisi pori zeolit. Pada Tabel 4.1
menunjukkan bahwa pori zeolit berukuran 1,2087 x 102Ao atau 12,087 nm. Data BET
juga memperlihatkan bahwa ukuran pori zeolit termasuk ukuran mesopori (ukuran
pori berkisar antara mikro dan makropori), yaitu 3-50 nm.
4.3.2.3 Karakterisasi Zeolit awal dan Zeolit aktivasi dengan XRF
Tabel 4.2. Data XRF zeolit awal dan zeolit aktivasi
Zeolit Awal

Zeolit Aktivasi

Atom

%Berat

Atom

%Berat

Al2O3
SiO2
K2O
CaO
MgO
Fe2O3
Na2O
BaO

10.10
68.87
2.59
5.10
0.17
1.17
2.87
0.02

Al2O3
SiO2
K2O
CaO
MgO
Fe2O3
Na2O
BaO

10.99
64.33
1.62
1.96
<0.0009
0.56
7.50
0.02

(Sumber: Nova, Reka,, Skripsi 2011)

Berdasarkan Tabel 4.2 struktur fisik zeolit aktivasi hanya sedikit mengalami
perubahan. Proses aktivasi telah berhasil menghilangkan pengotor-pengotor dalam
zeolit tanpa merubah susunan struktur kimianya. Sisi hidrofilik pada zeolit aktivasi
terlihat dengan penurunan jumlah Si dan peningkatan jumlah Al yang terkandung
dalam zeolit. Menurunnya kandungan Si dan meningkatnya kandungan Al pada
strukutur zeolit mengindikasikan jumlah kation penyeimbang dalam zeolit semakin

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

banyak. Bertambahnya jumlah kation penyeimbang dalam zeolit akan meningkatkan


sisi anionik zeolit. Hal ini menunjukkan nilai KTK (Kapasitas Tukar Kation) zeolit
yang semakin besar sehingga logam (Ag, Au, dan Ni) akan lebih mudah berdifusi ke
dalam pori zeolit. Keberhasilan proses aktivasi juga dapat dilihat dari bertambahnya
jumlah atom Na dan berkurangnya jumlah
atom-atom alkali dan alkali tanah karena
dari NaCl yang ditambahkan saat pengondisian
zeolit alam dengan NaCl jenuh. Hal

ini dapat dilihat perubahan kandungan Na2O, yaitu dari 2,87 % menjadi 7,5 %.

Bertambahnya jumlah atom Na dalam zeolit memungkinkan semakin banyaknya


logam yang masuk ke dalam pori untuk menggantikan posisi Na+. Akan tetapi, tidak
semua kation dapat tergantikan oleh Na karena saat terjadinya pertukaran kation,
terjadi kesetimbangan antara Na+ dengan kation lainnya sehingga hanya sebagian
kation yang tergantikan oleh Na+.
4.3.3

Karakterisasi Zeolit dengan FTIR


Karakterisasi dengan FTIR bertujuan untuk melihat keberhasilan modifikasi,

melalui analisa gugus-gugus fungsi pada zeolit sebelum dan setelah dimodifikasi.
Hasil karakterisasi dengan FTIR diperlihatkan Gambar 4.16; Gambar 4.17 dan
Gambar 4.18

% Transmitan

100

50
Zeolit Aktivasi
ZeolitAg

4000

3000

2000

Bilangan Gelombang (cm

1000
-1

Gambar 4.16 Spektrum FTIR zeolit; zeolit@Ag

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Dari Gambar 4.16 terlihat spektrum zeolit aktivasi dan zeolit@Ag yang
hampir sama dan perbedaan hanya pada intensitasnya saja. Perbedaan intensitas
tersebut dikarenakan pori zeolit sudah terdapat kadungan baru di dalamnya. Pada

zeolit@Ag intensitasnya lebih besar dibandingkan


dengan zeolit aktivasi. Hal ini

menandakan bahwa nanopartikel Ag telah


terimobilisasi pada pori-pori zeolit.

100

% Transmitan

80

60

40

20
4000

Zeolit Aktivasi
ZeolitNi

3000

2000

Bilangan Gelombang (cm

1000
-1

Gambar 4.17 Hasil spektrum FTIR zeolit; zeolit@Ni.


Dari Gambar

4.17 terlihat spektrum zeolit aktivasi dan zeolit@Ni yang

hampir sama dan perbedaan hanya terdapat peak baru pada bilangan gelombang 1380
cm-1. Hal ini dimungkinkan terjadinya vibrasi Ni tunggal. Hal ini menandakan bahwa
NiNP telah terimobilisasi pada pori-pori zeolit.
100

% Transmitan

80

60

40

20
4000

Zeolit Aktivasi
ZeolitAu

3000

2000

Bilangan Gelombang (cm

1000
-1

Gambar 4.18 Hasil spektrum FTIR zeolit; zeolit@Au

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Gambar 4.18 Pada spektra FTIR nanopartikel Au sulit teridentifikasi karena

berat molekul Au yang besar sehingga tidak


terdeteksi pada spektrum FTIR. Untuk

meyakinkan data yang didapat adanya nanopartikel Au telah terimobilisasi pada poripori zeolit maka dilakukan karakterisasi untuk menghitung jumlah Au yang masuk ke
dalam pori zeolit. Sehingga perlu dilakukan
analisis menggunakan AAS untuk

mengetahui keberadaan Au dan Ni dengan


menghitung absorbansi zeolit@Au dan

zeolit@Ni.

4.3.4 Karakterisasi dengan AAS


Pada Lampiran 2 Gambar 1 menunjukkan standar dari Au yang digunakan
dalam perhitungan jumlah Au yang terserap di dalam zeolit. Berdasarkan perhitungan
didapat jumlah Au yang ada dalam pori zeolit berada pada absorbasi 0,017 dengan
konsentrasi 200 ppm atau sekitar 0,01 mmol/g . Banyaknya jumlah Au yang terserap
dikarenakan ukuran pori zeolit yang ada memiliki ukuran yang besar sehingga banyak
ruang kosong pada zeolit yang dapat diisi dengan Au3+. Berdasarkan data BET
didapat ukuran pori sekitar 12 nm sedangkan ukuran nano Au yang digunakan dari
data PSA didapat 8,64 nm.
Pada Lampran 2 Gambar 2 menunjukkan standar dari Ni yang digunakan
dalam perhitungan jumlah Ni yang terserap di dalam zeolit. Berdasarkan perhitungan
didapat jumlah Ni yang ada dalam pori zeolit berada pada absorbasi 0,1985 dengan
konsentrasi 1000 ppm atau 3,44 x 10-3 M. Banyaknya jumlah Ni yang terserap
dikarenakan ukuran pori zeolit yang ada memiliki ukuran yang besar sehingga banyak
ruang kosong pada zeolit yang dapat diisi dengan Ni2+.

4.3.5 Karakterisasi zeolit dengan XRD


Dari Gambar 4.19 pola difraksi terdiri dari beberapa peak. Intensitas peak
diplot dalam sumbu y dan sudut difraksi yang terukur diplot dalam sumbu x. Setiap
peak klinoptilolit dan modernit mempunyai tinggi intensitas yang berbeda. Intensitas
yang terjadi berbanding lurus dengan jumlah foton sinar x yang terdeteksi oleh
detektor untuk setiap sudut. Posisi peak yang terjadi pada uji XRD bergantung dari
struktur kristal klinoptilolit dan modernit. Hal ini yang dapat digunakan untuk

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

menentukan struktur dari klinoptilolit dan modernit yang ada pada zeolit aktivasi.

Hasil pengukuran XRD menunjukkan bahwa


munculnya puncak peak standar pada

zeolit aktivasi. Dari zeolit awal muncul peak yang tajam dimana tidak ada pergeseran

sudut difraksi. Hal ini menunjukkan di kerangka


zeolit sudah terjadi pertukaran kation

dan kalsinasi dengan suhu 3000C tanpa mengubah struktur dari zeolit.

Zeolit-Awal
Zeolit Aktivasi

Intensitas (A.U)

10

20

30

40

50

60

70

2 T etha

Sampel Zeolit Aktivasi

Standar Zeolit Alam Klinoptilolit


Standar Zeolit Alam Modernite
(Sumber: Nova, Reka,, Skripsi 2011)

Gambar 4.19 Grafik hasil Karakterisasi XRD Zeolit awal dan zeolit aktivasi
Karakterisasi XRD bertujuan mengetahui keberhasilan imobilisasi
nanopartikel Ag pada zeolit alam serta mengetahui trend spektra XRD zeolit@Ag.
Analisis trend spektra dilakukan dengan mencocokkan sudut difraksi (2) yang
diperoleh pada spektra zeolit@Ag dengan sudut difraksi (2) pada puncak standar Ag.
Kurva XRD zeolit aktivasi; zeolit@Ag; dan standar Ag diperlihatkan pada Gambar
4.20, sedangkan sudut difraksi standar Ag ditunjukkan pada Tabel 4.3.
10

20

30

40

50

60

70

80

Intensitas (A.U)

Zeolit-Ag
Zeolit Aktivasi

Ag

10

20

30

40

50

60

70

80

(Sumber: Nova, Reka,, Skripsi 2011)

Gambar 4.20

Karakterisasi XRD terhadap zeolit aktivasi dan zeolit@Ag

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

80

Pengamatan untuk menentukan ada atau tidaknya puncak-puncak baru Ag pada

spektra zeolit@Ag dilakukan dengan membandingkan


spektra zeolit@Ag dengan

sudut difraksi (2) pada standar Ag dan zeolit aktivasi.

2
(Sumber: Nova, Reka,, Skripsi 2011)

Gambar 4.21 Hasil perbesaran spektra XRD pada zeolit aktivasi dan zeolit@Ag
yaitu pada 2 35-80
Perbesaran grafik XRD dilakukan pada sudut difraksi (2) 35 sampai 80 yang
ditunjukkan pada Gambar 4.21. Dari hasil yang diperoleh terlihat bahwa pada spektra
XRD untuk zeolit@Ag tidak terlihat adanya puncak-puncak baru sesuai dengan
standar Ag.
Tabel 4.3 Sudut difraksi (2) serta intensitas pada standar Ag
Sudut Difraksi
(2) Standar
Ag
38,12
44,28
64,43
77,47

d spacing
()

Intensitas

2,359
2,044
1.445
1,231

100
40
25
26

hkl

111
200
220
311

(Sumber: Nova, Reka,, Skripsi 2011)

Gambar 4.21 memperlihatkan bahwa pada spektra zeolit@Ag tidak terlihat


adanya puncak-puncak baru pada 2 sesuai dengan kisaran 2 standar Ag. Hal ini
disebabkan jumlah nanopartikel Ag (1,67%) pada zeolit tidak sebanding dengan
banyaknya jumlah atom Si dan Al yang membangun struktur zeolit, sehingga sudut

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

difraksinya memiliki intensitas yang sangat kecil. Hal ini justru mengindikasikan

bahwa AgNP kemungkinan besar terbentuk


pada pori zeolit, sehingga terhalangi oleh

atom Si dan Al yang lebih besar yang menyebabkan tidak terbacanya intensitas kristal

Ag pada pengukuran XRD. Proses imobilisasi


nanopartikel Ag pada zeolit tidak

merusak struktur awal dari zeolit, hal ini ditunjukkan dari tidak adanya pergeseran
yang signifikan pada sudut difraksi 2 pada
spektra zeolit@Ag dibandingkan dengan

2 pada spektra zeolit aktivasi.

400
Zeolit Aktivasi
ZeolitAu

300
200
100
0
0

20

40

60

80

2-tetha
(Sumber: Indriati, Narita,, Skripsi 2011)

Gambar 4.22 Grafik XRD zeolit@Au


Gambar 4.22 XRD zeolit@Au menunjukkan struktur zeolit dari proses

aktivasi sampai pada imobilisasi Au ke dalam pori zeolit tidak mengubah struktur

zeolitnya. Puncak-puncak zeolit awal tetap berada pada posisi 2-theta tertentu. Setelah
dibandingkan dengan referensi Au (Database kristal Au Mineral News, 2011) dalam
analisis XRD, ternyata pada grafik tersebut tidak ditemukan peak-peak Au.

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Tabel. 4.4. Data standar Au

2- theta
17.32
20.03
33.52

%I

d-spacing

100

2.355

52
36

2.039
1,230

(Sumber:Indriati, Narita,, Skripsi 2011)

Ketidakmunculan Au pada zeolit berikut dikarenakan Au yang digunakan dalam


penelitian ini berukuran sangat kecil dengan konsentrasi rendah. Au yang diperoleh
berdasarkan karakterisasi ukuran nano Au dengan PSA yaitu 8,64 nm dengan
konsentrasi sekitar 1x10-4 M sehingga didapat peak zeolit yang lebih dominan terbaca
oleh difraksi sinar X-ray.

Zeolit Aktivasi
ZeolitNi

600

400

200

20

40

60

2-tetha

80

Gambar 4.23 Grafik XRD zeolit@Ni


Gambar 4.23 memperlihatkan bahwa pada spektra zeolit@Ni tidak terlihat
adanya puncak-puncak baru pada 2 sesuai dengan kisaran 2 standar Ni. Hal ini
disebabkan jumlah nanopartikel Ni pada zeolit tidak sebanding dengan banyaknya
jumlah atom Si dan Al yang membangun struktur zeolit, sehingga sudut difraksinya
memiliki intensitas yang sangat kecil. Hal ini justru mengindikasikan bahwa

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

nanopartikel Ni kemungkinan besar terbentuk pada pori zeolit, sehingga terhalangi


menyebabkan tidak terbacanya intensitas
oleh atom Si dan Al yang lebih besar yang

kristal Ni pada pengukuran XRD. Proses imobilisasi Ni pada zeolit alam tidak
merusak struktur awal dari zeolit, hal ini ditunjukkan dari tidak adanya pergeseran
yang signifikan pada sudut difraksi 2 pada
spektra zeolit@Ni dibandingkan dengan

2 pada spektra zeolit aktivasi

4.4 Aplikasi Zeolit Termodifikasi Nanopartikel


sebagai Katalis Reduksi

Senyawa 4-Nitrofenol
4.4.1 Larutan 4-Nitrofenol (4-NP)
4.4.1.1 Penentuan Panjang Gelombang Maksimum (maks)
Larutan standar 4-nitrofenol dalam akuabides dengan konsentrasi 8,6 x 10-5 M
dikarakterisasi spektrum absorbsinya menggunakan spektrofotometri UV-Vis untuk
mencari panjang gelombang maksimumnya. Hasil spektrum serapan absorbansi 4nitrofenol ditunjukkan pada Gambar 4.24

Absorbansi

4-Nitrofenol
Intermediet 4-Nitrofenolat
Produk 4-Amiofenol

400 nm

317 nm

300 nm

0
200

300

400

500

Panjang Gelombang (nm)

Gambar 4.24 Spektrum absorpsi reduksi 4-Nitrofenol 8,6 x 10-5 M


Dari hasil spektrum serapan absorbansi yang ditunjukkan pada Gambar 4.24
terlihat bahwa puncak larutan 4-nitrofenol teramati pada panjang gelombang 317 nm.
Pada panjang gelombang 400 nm dan 300 nm merupakan puncak hasil (produk)

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

reduksi 4-nitrofenol, yaitu ion nitrofenolat sebagai senyawa intermediate dan 4


aminofenol sebagai hasil akhir dari reduksi
4-nitrofenol (Narayanan, K. B. dan

Sakthivel, Natarajan. 2011; Solanki, J.N. dan Murthy, Z.V.P., 2011).

4.4.1.2 Penentuan Absorptivitas Molar ()

Penentuan absorptivitas molar ion nitrofenolat dilakukan dengan

memvariasikan konsentrasi larutan 4-nitrofenol (4-NP) pada 1,0 x 10-5 M; 3,0 x 10-5

M; 4,3 x 10-5 M; 5,0 x 10-5 M; dan 8,60 x 10-5 M. Kemudian masing-masing larutan
dengan variasi konsentrasi ditambahkan NaBH4 0,1M sebagai pereduksi. Pengukuran
dengan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang maksimum ion
nitrofenolat sebagai produk intermediet yang telah diperoleh, yaitu 400 nm. Hasil
spektrum serapan absorbansi yang telah diperoleh diperlihatkan pada Gambar 4.25
dan Lampiran 3 Gambar 3.
Absorbansi suatu senyawa pada suatu panjang gelombang tertentu bertambah
dengan bertambah dengan banyaknya molekul yang mengalami transisi elektron. Oleh
karena itu, absorbansi bergantung pada struktur elektronik suatu senyawa,
konsentrasi, dan panjang sel.
2

Absorbansi

1x10 -5M
-5
3x10 M
4,3x10 -5M
-5
5x10 M
8,6x10 -5M

0
200

300

400

500

Panjang Gelombang (nm)

Gambar 4.25 Spektrum absorpsi variasi konsentrasi larutan 4-NP dengan NaBH4

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Sesuai dengan hukum Lambert-Beer, maka absorbansi yang diperoleh dari

spektrum serapan variasi konsentrasi larutan


4-NP dengan NaBH4, dapat dialurkan

terhadap konsentrasi dan diperoleh persamaan linier y = 2,19x104 x 8,46x10-2. Dari

pengolahan data yang diperoleh, dapat disimpulkan


bahwa larutan 4-nitrofenol dalam

akuabides dan direduksi dengan NaBH4 memiliki absorptivitas molar sebesar 2,19 x
104 M-1cm-1. Grafik pengaluran variasi konsentrasi
4-NP dengan NaBH4 terhadap

absorbansi pada panjang gelombang maksimum 400 nm diperlihatkan pada Lampiran

3 Gambar 3.

Penentuan absorptivitas molar produk (4-aminofenol) dilakukan dengan


memvariasikan konsentrasi larutan 4-aminofenol (4-AP) dalam akuabides dengan
variasi konsentrasi 5,0 x 10-6 M; 5,0 x 10-5 M; dan 7 x 10-5 M. Hasil spektrum serapan
absorbansi yang telah diperoleh diperlihatkan pada Gambar 4.26 dan Lampiran 3
Gambar 4.

0.5
4-AP 5x10-6
4-AP 5x10-5
4-AP 7x10-5

Absorbansi

0.4
0.3
0.2
0.1

0
200

300

400

500

Panjang Gelombang (nm)

Gambar 4.26 Spektrum absorpsi variasi konsentrasi larutan 4-AP


Sesuai dengan hukum Lambert-Beer, maka absorbansi yang diperoleh dari
spektrum serapan variasi konsentrasi larutan 4-AP, dapat dialurkan terhadap
konsentrasi dan diperoleh persamaan linier y = 2,38x103x + 6,67x10-3. Dari

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

pengolahan data yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa larutan 4-aminofenol


dalam akuabides memiliki absorptivitas molar sebesar 2,38 x 103 M-1cm-1. Dari nilai
absorptivitas molar 4-AP sangat kecil bila dibandingkan dengan absorptivitas molar
serapan pada 4-AP rendah. Grafik
4-NP, hal ini mengindikasikan bahwa nilai

pengaluran variasi konsentrasi 4-AP terhadap


absorbansi pada panjang gelombang

maksimum 300 nm diperlihatkan pada Lampiran


3 Gambar 4.

4.4.2 Aktivitas Katalis Reduksi

4.4.2.1 Optimasi Reduksi Tanpa Katalis dengan Variasi Konsentrasi NaBH4


Tanpa Katalis
Untuk melihat aktivitas katalis reduksi yang dikembangkan terhadap reduksi
suatu sampel organik cair, dilakukan reaksi terhadap larutan 4-nitrofenol dengan
variasi konsentrasi NaBH4 sebagai agen pereduksi, yaitu 2,16 x 10-3M; 2,5 x 10-3M;
2,72 x 10-3M; dan 1,44 x 10-2M. Hasil pengamatan reduksi senyawa 4-NP ditunjukkan
dengan adanya pengurangan (pemudaran) warna kuning, dan penurunan spektrum
absorpsi UV-Vis pada panjang gelombang maksimum ion nitrofenolat dan kenaikan
spektrum absorpsi UV-Vis pada panjang gelombang maksimum 4-aminofenol (4-AP).
Pengamatan dilakukan terhadap perubahan spektrum absorpsi UV-Vis 4-NP setelah
penambahan variasi konsentrasi NaBH4 dan pemudaran warna larutan setelah
pengujian.
Hasil pengujian aktivitas NaBH4 terhadap larutan 4-NP dengan konsentrasi
awal 8,6 x 10-5 M pada variasi konsentrasi NaBH4 berupa spektrum absorpsi UV-Vis
ditunjukkan pada Gambar 4.27 (a), (b), (c), dan (d).

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Absorbansi

2 MENIT
6 MENIT
17 MENIT
33 MENIT
46 MENIT
60 MENIT
90 MENIT
123 MENIT

0
200

1 MENIT
3 MENIT
5 MENIT
12 MENIT
26 MENIT

300 nm

400 nm

Absorbansi

400 nm

300

400

300 nm

0
200

500

300

400

Panjang Gelombang (nm)

Panjang Gelombang (nm)

(a)

(b)

400 nm
1 MENIT
3 MENIT
9 MENIT
11 MENIT

400 nm

0 MENIT
19 MENIT
52 MENIT
83 MENIT
117 MENIT
145 MENIT
175 MENIT

400

500

2
Absorbansi

Absorbansi

300 nm

300 nm

0
200

500

300
400
Panjang Gelombang (nm)

500

0
200

300

Panjang Gelombang (nm)

(c)

(d)

-5

Gambar 4.27 Spektrum absorpsi larutan 4-NP 8,6 x 10 M dengan variasi [NaBH4]
(a) 2,16 x 10-3 M; (b) 2,5 x 10-3 M; (c) 2,72 x 10-3 M; (d) 1,44 x 10-2 M
Spektrum absorpsi yang ditunjukkan pada Gambar 4.27 memperlihatkan tidak
adanya penurunan absorbansi yang signifikan. Hal ini menujukkan tidak terjadi proses
reduksi larutan 4-NP dengan baik tanpa adanya katalis. Dari hasil pengujian ini
diketahui bahwa ion nitrofenolat merupakan senyawa yang stabil dan tidak mudah
direduksi tanpa adanya katalis. Warna larutan 4-NP pada saat penambahan NaBH4

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

sama dengan setelah pengujian selama 120 menit (2 jam). Hal ini berarti tidak ada

pemudaran warna larutan yang menandakan


terjadinya proses reduksi. Warna larutan

4-NP sebelum pengujian, saat pengujian (awal), dan setelah pengujian dengan variasi
konsentrasi tersebut diperlihatkan pada Gambar 4.28

Gambar 4.28 Warna larutan 4-NP 8,6x10-5M sebelum pengujian (kiri) dan pengujian
saat penambahan NaBH4 0,1M (tengah) serta setelah pengujian selama 2 jam (kanan)
Sesuai dengan hukum laju orde satu: ln (At/A0) = -k.t, maka absorbansi yang
diperoleh dari spektrum serapan variasi konsentrasi NaBH4 dengan larutan 4-NP,
dapat dialurkan ln (At/A0) terhadap perubahan waktu. Grafik pengaluran ln (At/A0)
terhadap perubahan waktu pada panjang gelombang maksimum 400 nm dari masingmasing penambahan variasi konsentrasi NaBH4 dapat dilihat pada Gambar 4.29.
Dari grafik pengaluran ln (At/A0) terhadap waktu yang ditunjukkan pada
Gambar 4.29, terlihat tidak ada perubahan absorbansi yang signifikan. Gambar 4.29
(b) dan (c) terlihat tidak efektif dalam penurunan konsentrasi (absorbansi), bahkan
absorbansi cenderung bertambah tinggi. Hal ini menandakan kestabilan 4-NP menjadi

ion nitrofenolat sangat tinggi sehingga konsentrasi NaBH4 2,5 x 10-3 M dan 2,72
x 103

M tidak efektif dalam mentransfer elektron (H-) ke gugus nitro (-NO2) dalam 4-NP.

Dari pengolahan data yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa larutan 4-nitrofenol
dalam akuabides efektif direduksi oleh NaBH4 1,44 x 10-2 M dengan tetapan laju
reaksi reduksi sebesar 3,00 x 10-4 menit-1.

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

0
-0,005

0,004

y = -2E-04x + 7E-05
R = 0,9562

50

100

150

-0,002
ln(At/A0)

ln(At/A0)

-0,01

-0,015

-0,02

10

20

30

-0,004
-0,006

-0,01
-0,012

-0,03

-0,014

-0,035

Waktu (menit)

(a)
0,006

Waktu (menit)

(b)
y = -3E-04x - 0,0013
R = 0,9843

y = 3E-04x + 7E-04
R = 0,6347

0,005

0
-0,01

0,004

100

200

-0,02

0,003

ln (At/A0)

ln(At/A0)

-0,008

-0,025

y = -5E-04x + 0,0036
R = 0,8254

0,002

0,002
0,001

-0,03
-0,04
-0,05

0
0

10

Waktu (menit)

(c)

15

-0,06
-0,07

Waktu (menit)

(d)

Gambar 4.29 Grafik pengaluran ln (At/A0) terhadap perubahan waktu pada panjang
gelombang maksimum 400 nm dari penambahan variasi konsentrasi NaBH4 (a) 2,16 x 10-3
M; (b) 2,5 x 10-3 M; (c) 2,72 x 10-3 M; (d) 1,44 x 10-2 M
4.4.2.2 Variasi Kondisi Katalis
Untuk melihat aktivitas katalis yang dikembangkan terhadap reduksi suatu
sampel senyawa organik cair, dilakukan reaksi terhadap larutan 4-NP yang direduksi

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

oleh NaBH4 dengan empat kondisi berbeda, yaitu kontrol (4-NP dengan NaBH4 dan
katalis zeolit@Au (4-NP dengan NaBH4
katalis zeolit aktivasi tanpa nanopartikel),

dan katalis Au yang terimmobilisasi ke dalam zeolit), katalis zeolit@Ag (4-NP

dengan NaBH4 dan katalis Ag yang terimmobilisasi


ke dalam zeolit), dan katalis

zeolit@Ni (4-NP dengan NaBH4 dan katalis


Ni yang terimmobilisasi ke dalam zeolit).

Dari eksperimen dengan variasi kondisi ini dapat diketahui pengaruh adanya
nanopartikel logam yang berbeda dan tanpa adanya nanopartikel logam terhadap
reduksi larutan 4-NP dengan NaBH4.

400 nm

Absorbansi

Absorbansi

400 nm
0 MENIT
7 MENIT
13 MENIT
18 MENIT
25 MENIT
31 MENIT

1
300 nm

300 nm

0
200

300

400

0
200

500

300

Panjang Gelombang (nm)

400 nm

500

(b)
400 nm

0 MENIT
3 MENIT
16 MENIT
20 MENIT
21 MENIT
22 MENIT

Absorbansi

Absorbansi

400

Panjang Gelombang (nm)

(a)

0 MENIT
5 MENIT
13 MENIT
18 MENIT
23 MENIT
26 MENIT

300 nm

0
200

0 MENIT
5 MENIT
9 MENIT
11 MENIT
13 MENIT
14 MENIT
15 MENIT

300 nm

300

400

500

0
200

300

Panjang Gelombang (nm)

400

500

Panjang Gelombang (nm)

(c)

(d)
-5

Gambar 4.30 Spektrum absorpsi larutan 4-NP 8,6 x 10 M dengan 0,84 mL NaBH4 0,1 M
pada variasi kondisi (a) Zeolit aktivasi; (b) Zeolit@Au; (c) Zeolit@Ag; (d) Zeolit@Ni

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Hasil pengujian aktivitas katalis terhadap reduksi larutan 4-NP dengan

konsentrasi awal 8,6 x 10-5 M pada kondisi


kontrol dan kondisi katalis (zeolit) yang

telah dimodifikasi dengan nanopartikel berupa spektrum absorpsi UV-Vis dapat


ditunjukkan pada Gambar 4.30. Terlihat adanya perbedaan penurunan absorbansi dan
hasil spektrum UV-Vis yang berbeda. Pada
kondisi katalis zeolit tanpa modifikasi

nanopartikel logam, terlihat adanya sedikit


penurunan absorbansi. Hasil ini

menunjukkan bahwa dengan kondisi zeolit tanpa modifikasi (zeolit aktivasi), proses
reduksi 4-NP belum berjalan optimal.

Pada kondisi katalis menggunakan zeolit@Au nanopartikel (Gambar 4.30 (b)),


terlihat peningkatan dalam penurunan absorbansi ion nitrofenolat yang cukup
signifikan. Hal ini membuktikan bahwa nanopartikel Au memainkan peranan penting
dalam mengkatalisis proses transfer muatan interfasial, sehingga proses reduksi
senyawa 4-NP dapat berjalan lebih efektif dan efisien. Adanya pengurangan senyawa
4-NP yang cukup signifikan juga dapat dilihat dari pemudaran warna larutan 4-NP 8,6
x 10-5 M (Gambar 4.43).
Spektrum absorpsi pada Gambar 4.30 (c) dan (d), memperlihatkan tidak
adanya perbedaan yang signifikan dengan zeolit aktivasi dalam penurunan absorbansi
ion nitrofenolat. Hal ini mengindikasikan bahwa nanopartikel Ag dan Ni yang
diimmobilisasikan ke dalam zeolit telah teroksidasi menjadi Ag2O dan NiO sehingga
dapat menghambat transfer muatan interfasial pada proses reduksi 4-NP.
Dari nilai absorbansi ion nitrofenolat yang diperoleh dari spektrum absorpsi
UV-Vis pada setiap kondisi, dapat dihitung konsentrasi pada setiap menit reduksi
dengan menggunakan hukum Lambert-Beer, A = .b.C. Setelah absorbansi
dikonversikan menjadi nilai konsentrasi (M), dapat dibuat perbandingan penurunan
konsentrasi dari setiap kondisi.

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

0.8

Konsentrasi 4-NP (M)

[10-4]

0.6
0.4
0.2
0
0

Tanpa Katalis
Zeolit Aktivasi
Zeolit-Au
Zeolit-Ag
Zeolit-Ni

10

20

30

Waktu (menit)
Gambar 4.31 Kurva penurunan konsentrasi larutan 4-NP 8,6 x 10-5 M pada berbagai
jenis katalis dengan berat 25 mg terhadap waktu

Gambar 4.31, memperlihatkan bahwa kondisi tanpa katalis, konsentrasi


larutan 4-NP cenderung tetap, sedangkan penurunan konsentrasi larutan 4-NP
menggunakan katalis terlihat lebih signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa transfer
elektron (H-) dari NaBH4 ke gugus nitro (-NO2) pada 4-NP lebih baik dan efektif
melalui media suatu material (katalis) dibandingkan melalui media air (aquabides).
Pada kondisi katalis zeolit tanpa modifikasi nanopartikel logam (aktivasi) dengan
zeolit@Ag dan zeolit@Ni terlihat penurunan konsentrasi 4-NP lebih besar

menggunakan zeolit aktivasi. Hal ini bukan berarti zeolit@Ag dan zeolit@Ni tidak
efektif bila digunakan sebagai katalis reduksi, namun diindikasikan Ag dan Ni yang
terbentuk di dalam zeolit telah teroksidasi dan berada dalam bentuk oksida logamnya
yakni Ag2O dan NiO, sehingga dapat menghambat transfer muatan interfasial pada
proses reduksi 4-NP.
Gambar 4.31 memperlihatkan penurunan konsentrasi 4-NP pada kondisi
katalis zeolit@Au yang sangat signifikan. Hal ini membuktikan bahwa nanopartikel
Au memainkan peranan penting dalam mengkatalisis proses transfer muatan

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

interfasial, sehingga proses reduksi senyawa 4-NP dapat berjalan lebih efektif dan
efisien. Selain itu, nanopartikel Au dapat menerima elektron dan juga berperan
sebagai media/perantara ke penerima elektron lain. Selain kaya akan elektron,
nanopartikel Au juga merupakan logam transisi yang masih memiliki orbital kosong
untuk menerima elektron. Oleh karena itu,
deposisi (penempatan) nanopartikel Au
pada material zeolit berguna untuk meningkatkan
aktivitas katalis dan

memaksimalkan efisiensi reaksi reduksi senyawa 4-NP.

Dengan mengetahui pengurangan konsentrasi larutan 4-NP, dapat diperoleh


persentase reduksi senyawa 4-NP pada setiap selang waktunya untuk masing-masing
kondisi. Hasil pengamatan diperlihatkan pada Gambar 4.32.

100
Tanpa Katalis
Zeolit Aktivasi
Zeolit-Au
Zeolit-Ag
Zeolit-Ni

% Reduksi

80
60
40
20
0
0

10

20

30

Waktu (menit)

Gambar 4.32 Kurva persentase reduksi senyawa 4-NP (8,6 x 10-5 M) pada berbagai
kondisi katalis (25mg) terhadap waktu
Gambar 4.32memperlihatkan bahwa senyawa 4-NP tidak tereduksi dengan
baik dalam waktu 30 menit tanpa adanya katalis. Pada kondisi dengan katalis zeolit
aktivasi dapat mereduksi 4-NP sampai 43,82% dalam waktu 30 menit (Tabel 4.5).
Meskipun senyawa 4-NP hanya sedikit tereduksi, tetapi hasil tersebut menunjukkan
bahwa zeolit mampu berperan aktif dalam mengkatalisis tanpa nanopartikel. Hal ini
dikarenakaan zeolit yang digunakan dalam bentuk serbuk memiliki luas permukaan

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

yang besar sehingga jumlah sisi katalitik semakin besar. Selain itu, aktivasi zeolit
yang menggunakan pemanasan berlanjut dapat menguapkan air dari situs Bronsted
menghasilkan Al terkoordinasi 3 yang memiliki sifat akseptor pasangan elektron
(situs Lewis). Oleh karena itu, elektron (H-) dari NaBH4 dapat masuk ke dalam pori
zeolit dalam jumlah banyak, dan didesorpsikan
kembali ke senyawa 4-NP untuk

mensubstitusikan atom O pada gugus nitro


(-NO2) menjadi gugus amina (-NH2).

Hasil pengujian aktivitas pada kondisi katalisis dengan zeolit@Au

nanopartikel menunjukkan senyawa 4-NP dapat tereduksi hingga 83,78% dalam 30


menit. Hal ini membuktikan bahwa adanya deposisi (penempatan) nanopartikel Au
pada zeolit dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi aktivitas katalis zeolit dalam
mereduksi senyawa 4-NP. Hal ini disebabkan karena dengan adanya deposisi
nanopartikel Au, maka material yang dihasilkan menunjukkan sifat gabungan antara
sifat katalisis logam dengan pendukung katalis logam (zeolit) sehingga penyebaran
logam ke dalam pori dapat dicapai dengan baik. Terjadinya reaksi katalisis oleh
nanopartikel Au disebabkan karena nanopartikel Au dapat mengeksitasi elektron. Hal
ini disebabkan karena nanopartikel Au merupakan nanopartikel logam, sehingga
nanopartikel Au kaya akan elektron dan dapat mengeksitasi elektron sendiri. Elektron
ini kemudian akan bereaksi dengan atom hidrogen untuk membentuk radikal hidrogen
(H). Radikal Hidrogen akan sangat reaktif menyerang molekul 4-NP dan
mereduksinya menjadi 4-AP.
4.4.3. Optimasi Reduksi Senyawa 4-NP
4.4.3.1 Variasi Berat Katalis Zeolit Aktivasi
Hasil pengujian aktivitas katalis terhadap reduksi larutan 4-NP dengan

konsentrasi awal 8,6 x 10-5 M pada kondisi kontrol yang divariasikan berat katalisnya
berupa spektrum absorpsi UV-Vis ditunjukkan pada Gambar 4.33.

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

0 MENIT
7 MENIT
13 M ENIT
18 M ENIT
25 M ENIT
31 M ENIT

Absorbansi

400 nm

Absorbansi

400 nm

0 MENIT
7 MENIT
13 M ENIT
18 M ENIT
25 M ENIT
31 M ENIT

300 nm

300 nm

0
200

300

400

0
200

500

300

Panjang Gelombang (nm)

400

Panjang Gelombang (nm)

(a)

(b)
400 nm

400 nm
0 MENIT
7 MENIT
13 M ENIT
18 M ENIT
25 M ENIT
31 M ENIT

Absorbansi

Absorbansi

0 M ENIT
6 M ENIT
15 MENIT
19 MENIT
25 MENIT
31 MENIT
37 MENIT

1
300 nm

300 nm

0
200

500

300

400

0
200

500

300

400

500

Panjang Gelombang (nm)

Panjang Gelombang (nm)

(c)

(d)
400 nm

Absorbansi

0 M ENIT
6 M ENIT
15 M ENIT
19 M ENIT
25 M ENIT
31 M ENIT
37 M ENIT

1
300 nm

0
200

300

400

500

Panjang Gelombang (nm)

(e)
Gambar 4.33 Spektrum absorpsi larutan 4-NP 8,6 x 10-5 M dengan NaBH4 0,1 M pada
variasi berat katalis zeolit aktivasi (a) 5 mg; (b) 10 mg; (c) 25 mg; (d) 50 mg; (e) 75 mg
terhadap waktu

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Nilai absorbansi yang diperoleh dari spektrum UV-Vis dikonversikan menjadi

nilai konsentrasi (M), sehingga dapat dibuat


perbandingan penurunan konsentrasi dari

setiap berat katalis. Gambar 4.34 menunjukkan penurunan konsentrasi larutan 4-NP
pada variasi berat katalis zeolit aktivasi selama reaksi reduksi 30 menit.

[10-4]

Konsentrasi 4-NP (M)

0.8
0.6
0.4
0.2
0
0

5mg Na-Zeolit
10mg Na-Zeolit
25mg Na-Zeolit
50mg Na-Zeolit
75mg Na-Zeolit

10

20

30

Waktu (menit)

Gambar 4.34 Kurva penurunan konsentrasi larutan 4-NP 8,6 x 10-5 M pada katalis
zeolit aktivasi dengan variasi berat terhadap waktu
Pada Gambar 4.34, terlihat bahwa penurunan konsentrasi paling optimum
terjadi pada kondisi katalisis dengan zeolit aktivasi sebanyak 75 mg. Pada kondisi
katalis zeolit aktivasi sebanyak 5 mg, terlihat larutan 4-NP belum dapat tereduksi
7,47 x
sempurna. Setelah 30 menit masih terdapat senyawa 4-NP dengan konsentrasi

10-5 M. Pada kondisi katalis zeolit aktivasi sebanyak 10 mg dan 25 mg tidak terjadi
penurunan konsentrasi yang signifikan setelah 30 menit. Pada kondisi katalisis dengan
berat katalis zeolit aktivasi 50 mg dan 75 mg, terlihat senyawa 4-NP dapat tereduksi
hingga konsentrasi 1,90 x 10-5 M untuk 50 mg dan 1,59 x 10-5 M untuk 75 mg setelah
30 menit. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah katalis antara 50 mg dan 75 mg tidak
memberikan perbedaan signifikan dalam menurunkan konsentrasi 4-NP setelah 30
menit (Tabel 4.5).

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

-5

Konsentrasi 4-NP (M)

[10 ] 8

5 M ENIT
10 M ENIT
15 M ENIT
20 M ENIT
25 M ENIT
30 M ENIT

20

40

60

Jumlah Berat Zeolit Aktivasi (mg)

Gambar 4.35 Perbandingan penurunan konsentrasi larutan 4-NP pada variasi jumlah
berat zeolit aktivasi
Gambar 4.35 memeperlihatkan bahwa jumlah berat zeolit aktivasi memainkan
peranan penting dalam kinerja katalisis reduksi senyawa 4-NP. Jika berat zeolit
aktivasi terlalu sedikit, maka jumlah pori zeolit menjadi lebih sedikit. Sedangkan,
keberadaan pori pada zeolit memberikan luas permukaan internal yang sangat luas.
Oleh karena itu, luas permukaan yang besar menjadi lebih sedikit sehingga sisi
katalitik menjadi lebih sedikit. Kemampuan zeolit dalam mengabsorpsi elektron (H-)
menjadi lebih sedikit. Bila jumlah berat ditingkatkan, maka jumlah pori semakin
banyak (sisi katalitik semakin meningkat) sehingga elektron yang akan terabsorpsi
semakin banyak (efisiensi meningkat).

Dengan mengetahui pengurangan onsentrasi larutan 4-NP pada setiap variasi


jumlah berat zeolit aktivasi, dapat diperoleh persentase reduksi (pengurangan)
senyawa 4-NP terhadap waktu. Hasilnya diperlihatkan pada Gambar 4.36.

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

100

% Reduksi

80
60
40

5mg Na-Zeolit
10mg Na-Zeolit

25mg Na-Zeolit
50mg Na-Zeolit
75mg Na-Zeolit

20
0
0

10

20

30

Waktu (menit)
Gambar 4.36 Kurva persentase reduksi (pengurangan) senyawa 4-NP pada variasi
berat katalis zeolit aktivasi terhadap waktu
Gambar 4.36 memperlihatkan bahwa pada kondisi katalisis dengan katalis
zeolit aktivasi sebanyak 5 mg, senyawa 4-NP tereduksi sampai 12,04% dalam waktu
30 menit. Pada kondisi katalisis dengan katalis zeolit aktivasi sebanyak 10 mg,
senyawa 4-NP tereduksi sampai 25,28% dalam waktu 30 menit. Pada kondisi katalisis
dengan katalis zeolit aktivasi sebanyak 25 mg, senyawa 4-NP tereduksi sampai
44,07% dalam waktu 30 menit. Pada kondisi katalisis dengan katalis zeolit aktivasi
sebanyak 50 mg, senyawa 4-NP tereduksi sampai 88,27% dalam waktu 30 menit.
Sedangkan, dengan kondisi katalisis zeolit aktivasi sebanyak 75 mg terlihat senyawa

4-NP tereduksi hanya 90,40% dalam waktu 30 menit. Hal ini menunjukkan bahwa %
reduksi antara 50 mg dengan 75 mg zeolit aktivasi terlihat tidak terlalu signifikan
peningkatannya dibandingkan dengan peningkatan %reduksi dari 25 mg ke 50 mg
katalis zeolit aktivasi. Oleh karena itu, proses reduksi senyawa 4-NP dengan katalis
zeolit aktivasi optimum pada berat 75 mg (Tabel 4.5).

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

100

% Konversi

80
60
40

5mg Na-Zeolit
10mg Na-Zeolit

25mg Na-Zeolit
50mg Na-Zeolit

75mg Na-Zeolit

20
0
0

10

20

30

Waktu (menit)

Gambar 4.37 Kurva % Konversi pembentukan 4-AP dengan variasi berat zeolit
aktivasi terhadap waktu
Dari Gambar 4.37 memperlihatkan pada kondisi katalisis dengan katalis zeolit
aktivasi sebanyak 5 mg, senyawa 4-AP dapat terbentuk hanya 10,21% dalam waktu
30 menit. Pada kondisi katalisis dengan katalis zeolit aktivasi sebanyak 10 mg,
terdapat % konversi dalam pembentukan senyawa 4-AP yakni hingga 12,44% dalam
waktu 30 menit. Pada kondisi katalisis dengan katalis zeolit aktivasi sebanyak 25 mg,
terbentuk senyawa 4-AP sampai 36,95% dalam waktu 30 menit. Pada kondisi katalisis
dengan katalis zeolit aktivasi sebanyak 50 mg, terbentuk senyawa 4-AP sampai
65,09% hanya dalam waktu 30 menit. Pada kondisi katalisis zeolit aktivasi sebanyak

75 mg terbentuk senyawa 4-AP sampai 71,50% dalam waktu 30 menit. Hal ini
menunjukkan bahwa % konversi pada katalis zeolit aktivasi tidak cukup baik karena
belum mencapai 100% dalam mengkonversi ke senyawa 4-AP. Proses reduksi
senyawa 4-NP dengan katalis zeolit aktivasi optimum pada berat 75 mg dengan %
reduksi (penurunan 4-NP) 90,40% dan % konversi (kenaikan 4-AP) 71,50% dalam 30
menit (Tabel 4.5).

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

4.4.3.2 Variasi Berat Katalis Zeolit@Au

Hasil pengujian aktivitas katalis terhadap reduksi larutan 4-NP dengan


konsentrasi awal 8,6 x 10-5 M pada katalis zeolit@Au yang divariasikan berat

katalisnya berupa spektrum absorpsi UV-Vis dapat ditunjukkan pada Gambar 4.38.

400 nm

400 nm

Absorbansi

Absorbansi

0 MENIT
7 MENIT
11 MENIT
15 MENIT
19 MENIT
23 MENIT

300 nm

0
200

300 nm

300

400

0
200

500

Panjang Gelombang (nm)

300

500

(b)
400 nm

0 M ENIT
5 M ENIT
9 M ENIT
11 M ENIT
13 M ENIT
14 M ENIT
15 M ENIT

400 nm

Absorbansi

Absorbansi

400

Panjang Gelombang (nm)

(a)

0 MENIT
11 MENIT
14 MENIT
16 MENIT
18 MENIT
20 MENIT

1
300 nm

300 nm

0
200

0 MENIT
6 MENIT
11 MENIT
13 MENIT
15 MENIT
17 MENIT

300

400

Panjang Gelombang (nm)

500

0
200

300

400

500

Panjang Gelombang (nm)

(c)

(d)

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

400 nm

Absorbansi

0 MENIT
4 MENIT
6 MENIT
7 MENIT
8 MENIT
9 MENIT
10 MENIT

1
300 nm

0
200

300

400

500

Panjang Gelombang (nm)

(e)
Gambar 4.38 Spektrum absorpsi larutan 4-NP 8,6 x 10-5 M dengan NaBH4 0,1 M pada
variasi berat katalis zeolit@Au (a) 5 mg; (b) 10 mg; (c) 25 mg; (d) 50 mg; (e) 75 mg
Nilai absorbansi yang diperoleh dari spektrum UV-Vis dikonversikan menjadi
nilai konsentrasi (M), sehingga dapat dibuat perbandingan penurunan konsentrasi dari
setiap berat katalis. Hasilnya diperlihatkan pada Gambar 4.39
-4

[10 ]

Konsentrasi 4-NP (M)

0.8
0.6

5mg ZeolitAu
10mg ZeolitAu
25mg ZeolitAu
50mg ZeolitAu
75mg ZeolitAu

0.4

0.2
0
0

10

20

30

Waktu (menit)

Gambar 4.39 Kurva penurunan konsentrasi larutan 4-NP 8,6 x 10-5 M pada katalis
zeolit@Au dengan variasi berat terhadap waktu

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Gambar 4.39 menunjukkan penurunan konsentrasi larutan 4-NP pada variasi

berat katalis zeolit@Au selama reaksi reduksi


30 menit. Terlihat bahwa penurunan

konsentrasi paling optimum terjadi pada kondisi katalisis dengan zeolit@Au sebanyak
50 mg. Pada kondisi katalis zeolit@Au sebanyak 5 mg, terlihat larutan 4-NP belum
dapat tereduksi sempurna. Setelah 30 menit
masih terdapat senyawa 4-NP dengan

konsentrasi 7,96 x 10-5 M. Pada kondisi katalis zeolit@Au sebanyak 10 mg senyawa


4-NP mampu tereduksi sampai 7,16 x 10-5 M. Terlihat penurunan konsentrasi 4-NP

cukup signifikan dengan katalis zeolit@Au sebanyak 25 mg, yang mampu mereduksi
hingga 1,42 x 10-5 M. Pada kondisi katalisis dengan katalis zeolit@Au 50 mg dan 75
mg, terlihat bahwa di awal reaksi sampai menit ke-5, 75 mg zeolit@Au lebih
signifikan dalam pengurangan konsentrasi 4-NP, namun setelah itu daya penurunan 4NP tidak signifikan dan penurunan konsentrasi hanya sampai 1,81 x 10-5 M.
Sedangkan, dengan kondisi katalis 50 mg zeolit@Au terlihat penurunan konsentrasi
4-NP yang signifikan hingga 5,79 x 10-7 M (hampir mendekati nol) setelah 30 menit.
Perbandingan penrunan konsentrasi pada setiap variasi jumlah berat zeolit@Au
ditunjukkan oleh Gambar 4.40

-5

Konsentrasi 4-NP (M)

[10 ]

5 M ENIT
10 M ENIT
15 M ENIT
20 M ENIT
25 M ENIT
30 M ENIT

20

40

60

Jumlah Berat ZeolitAu (mg)

Gambar 4.40 Perbandingan penurunan konsentrasi larutan 4-NP pada variasi jumlah
berat zeolit@Au

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Gambar 4.40 memeperlihatkan bahwa jumlah berat zeolit@Au memainkan


peranan penting dalam kinerja katalisis reduksi senyawa 4-NP. Jika berat zeolit@Au
terlalu sedikit, maka jumlah pori zeolit dan nanopartikel Au menjadi lebih sedikit.

Keberadaan pori pada zeolit dan nanopartikel


Au memberikan luas permukaan

internal yang sangat luas. Oleh karena itu,


luas permukaan yang besar menjadi lebih
sedikit sehingga sisi katalitik menjadi lebih
sedikit. Kemampuan zeolit dan

nanopartikel Au dalam mengabsorpsi elektron (H-) menjadi lebih sedikit. Bila jumlah

berat ditingkatkan, maka jumlah pori semakin banyak (sisi katalitik semakin
meningkat) sehingga elektron yang akan terabsorpsi semakin banyak (efisiensi
meningkat). Namun, pada berat 75 mg zeolit@Au terjadi penurunan dalam mereduksi
4-NP. Hal ini disebabkan kemampuan dalam mengabsorpsi 4-NP sangat kuat
sehingga 4-NP yang telah terabsorpsi ke dalam permukaan katalis sulit didesorpsikan
kembali, maka katalis menjadi teracuni.
Dengan mengetahui pengurangan onsentrasi larutan 4-NP pada setiap variasi
jumlah berat zeolit@Au, dapat diperoleh persentase reduksi (pengurangan) senyawa
4-NP terhadap waktu. Hasilnya diperlihatkan pada Gambar 4.41.
100

% Reduksi

80
60
5mg ZeolitAu
10mg ZeolitAu
25mg ZeolitAu
50mg ZeolitAu
75mg ZeolitAu

40

20
0
0

10

20

30

Waktu (menit)

Gambar 4.41 Kurva persentase reduksi (pengurangan) senyawa 4-NP pada variasi
berat katalis zeolit@Au terhadap waktu

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Gambar 4.41 memperlihatkan pada kondisi katalisis dengan katalis zeolit@Au

sebanyak 5 mg, senyawa 4-NP hanya tereduksi


6,23% dalam waktu 30 menit. Pada

kondisi katalisis dengan katalis zeolit@Au sebanyak 10 mg, senyawa 4-NP tereduksi

sampai 17,18% dalam waktu 30 menit. Pada


kondisi katalisis dengan katalis

zeolit@Au sebanyak 25 mg, senyawa 4-NP


tereduksi sampai 84,05% dalam waktu 30

menit. Pada kondisi katalisis dengan katalis


zeolit@Au sebanyak 50 mg, senyawa 4
NP tereduksi sampai 99,13% dalam waktu 30 menit. Sedangkan, dengan kondisi

katalisis zeolit@Au sebanyak 75 mg terlihat senyawa 4-NP tereduksi hanya 79,28%


dalam waktu 30 menit. Hal ini menunjukkan bahwa % Reduksi setelah 50 mg terlihat
terjadi penurunan kinerja katalisis dari katalis zeolit@Au. Oleh karena itu, proses
reduksi senyawa 4-NP dengan katalis zeolit@Au baik pada berat 50 mg (Tabel 4.5).
100

% Konversi

80

5mg ZeolitAu
10mg ZeolitAu
25mg ZeolitAu
50mg ZeolitAu
75mg ZeolitAu

60
40
20
0
0

10

20

Waktu (menit)

30

Gambar 4.42 Kurva % Konversi pembentukan 4-AP dengan variasi berat zeolit@Au
terhadap waktu
Gambar 4.42 memperlihatkan bahwa pada kondisi katalisis dengan katalis
zeolit@Au sebanyak 5 mg, senyawa 4-AP dapat terbentuk hingga 36,40% dalam
waktu 30 menit. Pada kondisi katalisis dengan katalis zeolit@Au sebanyak 10 mg,
terjadi penurunan % konversi dalam pembentukan senyawa 4-AP yakni hanya 20,79%
dalam waktu 30 menit. Pada kondisi katalisis dengan katalis zeolit@Au sebanyak 25

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

mg, terbentuk senyawa 4-AP sampai 57,28% dalam waktu 30 menit. Pada kondisi

katalisis dengan katalis zeolit@Au sebanyak


50 mg, terbentuk senyawa 4-AP sampai

85,15% dalam waktu 30 menit. Pada kondisi katalisis zeolit@Au sebanyak 75 mg

terbentuk senyawa 4-AP sampai 100% hanya


dalam waktu 21 menit (Tabel 4.5). Hal

ini menunjukkan bahwa % konversi pada


katalis zeolit@Au sangat baik. Oleh karena
itu, proses reduksi senyawa 4-NP dengan
katalis zeolit@Au optimum pada berat 50

mg dengan % reduksi (penurunan 4-NP) 99,13% dan % konversi (kenaikan 4-AP)

85,15% dalam 30 menit. Kesimpulan ini juga didukung oleh pemudaran warna kuning
setelah 30 menit pada Gambar 4.43.

Gambar 4.43 Hasil reduksi 4-NP dengan zeolit@Au setelah 30 menit

4.4.3.3 Pengaruh Variasi Berat Katalis Zeolit@Ag


Hasil pengujian aktivitas katalis terhadap reduksi larutan 4-NP dengan

konsentrasi awal 8,6 x 10-5 M pada katalis zeolit@Ag yang divariasikan berat
katalisnya berupa spektrum absorpsi UV-Vis dapat ditunjukkan pada Gambar 4.44

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

400 nm

0 MENIT
3 MENIT
16 MENIT
20 MENIT
23 MENIT
25 MENIT

Absorbansi

Absorbansi

400 nm

0 MENIT
2 MENIT
5 MENIT
15 MENIT
24 MENIT
25 MENIT

300 nm

300 nm

0
200

300

400

0
200

500

Panjang Gelombang (nm)

300

400

Panjang Gelombang (nm)

(a)

(b)

400 nm

1
300 nm

300 nm

300

0 MENIT
5 MENIT
17 MENIT
20 MENIT
21 MENIT
22 MENIT

Absorbansi

Absorbansi

400 nm

0 MENIT
3 MENIT
16 MENIT
20 MENIT
21 MENIT
22 MENIT

0
200

500

400

0
200

500

Panjang Gelombang (nm)

300

400

500

Panjang Gelombang (nm)

(c)

(d)
400 nm

Absorbansi

0 MENIT
9 MENIT
17 MENIT
20 MENIT
21 MENIT
22 MENIT

1
300 nm

0200

300

400

500

Panjang Gelombang (nm)

(e)
Gambar 4.44 Spektrum absorpsi larutan 4-NP 8,6 x 10-5 M dengan NaBH4 0,1 M pada
variasi berat katalis zeolit@Ag (a) 5 mg; (b) 10 mg; (c) 25 mg; (d) 50 mg; (e) 75 mg

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Nilai absorbansi yang diperoleh dari spektrum UV-Vis dikonversikan menjadi

nilai konsentrasi (M), sehingga dapat dibuat


perbandingan penurunan konsentrasi dari

setiap berat katalis (Gambar4.45).

-4

[10 ]

Konsentrasi 4-NP (M)

0.8

0.6
0.4
0.2
0
0

5mg ZeolitAg
10mg ZeolitAg
25mg ZeolitAg
50mg ZeolitAg
75mg ZeolitAg

10

20

30

Waktu (menit)
Gambar 4.45 Kurva penurunan konsentrasi larutan 4-NP 8,6 x 10-5 M pada katalis
zeolit@Ag dengan variasi berat terhadap waktu
Gambar 4.45 menunjukkan penurunan konsentrasi larutan 4-NP pada variasi
berat katalis zeolit@Ag selama reaksi reduksi 30 menit. Terlihat bahwa penurunan
konsentrasi paling optimum terjadi pada kondisi katalisis dengan zeolit@Ag sebanyak
50 mg. Pada kondisi katalis zeolit@Ag sebanyak 5 mg, terlihat larutan 4-NP belum

dapat tereduksi sempurna. Setelah 30 menit masih terdapat senyawa 4-NP dengan
konsentrasi 8,11 x 10-5 M. Pada kondisi katalis zeolit@Ag sebanyak 10 mg mampu
mereduksi senyawa 4-NP hingga 6,87 x 10-5 M. Terlihat penurunan konsentrasi 4-NP
tidak begitu signifikan dengan katalis 25 mg zeolit@Ag, yang hanya mampu
mereduksi hingga 4,65 x 10-5 M. Pada kondisi katalisis dengan katalis zeolit@Ag 50
mg dan 75 mg, terlihat bahwa di awal reaksi sampai menit ke-20, 75 mg zeolit@Ag
lebih signifikan pengurangan konsentrasi 4-NP, namun setelah itu terjadi penurunan
daya reduksi 4-NP dan penurunan konsentrasi hanya sampai 1,41 x 10-5 M.

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Sedangkan, dengan kondisi katalis 50 mg zeolit@Ag terlihat sedikit demi sedikit


efektif dibandingkan dengan 75 mg
penurunan konsentrasi 4-NP, namun lebih

sehingga dapat mereduksi sampai 9,40 x 10-6 M setelah 30 menit (Lampiran 3). Hal

ini menunjukkan bahwa setelah 50 mg terjadi


penurunan kinerja katalis zeolit@Ag.

Perbandingan penrunan konsentrasi pada


setiap variasi jumlah berat zeolit@Ag
ditunjukkan oleh Gambar 4.46

-5

Konsentrasi 4-NP (M)

[10 ]

5 M ENIT
10 M ENIT
15 M ENIT
20 M ENIT
25 M ENIT
30 M ENIT

20

40

60

Jumlah Berat ZeolitAg

Gambar 4.46 Perbandingan penurunan konsentrasi larutan 4-NP pada variasi jumlah
berat zeolit@Ag
Dari analisa Gambar 4.46, terlihat bahwa jumlah berat zeolit@Ag memainkan

peranan penting dalam kinerja katalisis reduksi senyawa 4-NP. Jika berat zeolit@Ag
terlalu sedikit, maka jumlah pori zeolit dan nanopartikel Ag menjadi lebih sedikit.
Sedangkan, keberadaan pori pada zeolit dan nanopartikel Ag memberikan luas
permukaan internal yang sangat luas. Oleh karena itu, luas permukaan yang besar
menjadi lebih sedikit sehingga sisi katalitik menjadi lebih sedikit. Kemampuan zeolit
dan nanopartikel Ag dalam mengabsorpsi elektron (H-) menjadi lebih sedikit. Bila
jumlah berat ditingkatkan, maka jumlah pori semakin banyak (sisi katalitik semakin
meningkat) sehingga elektron yang akan terabsorpsi semakin banyak (efisiensi

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

meningkat). Namun, pada berat 75 mg zeolit@Au terjadi penurunan dalam mereduksi

4-NP. Hal ini disebabkan kemampuan dalam


mengabsorpsi 4-NP sangat kuat

sehingga 4-NP yang telah terabsorpsi ke dalam permukaan katalis sulit didesorpsikan
kembali, maka katalis menjadi teracuni.
Dengan mengetahui pengurangan
onsentrasi larutan 4-NP pada setiap variasi
jumlah berat zeolit@Ag, dapat diperoleh persentase reduksi (pengurangan) senyawa
4-NP terhadap waktu (Gambar 4.47).

100
5mg ZeolitAg
10mg ZeolitAg
25mg ZeolitAg
50mg ZeolitAg
75mg ZeolitAg

% Reduksi

80
60
40
20
0
0

10

20

30

Waktu (menit)
Gambar 4.47 Kurva persentase reduksi (pengurangan) senyawa 4-NP pada variasi
berat katalis zeolit@Ag terhadap waktu
Gambar 4.47 memperlihatkan bahwa pada kondisi katalisis dengan katalis

zeolit@Ag sebanyak 5 mg, senyawa 4-NP hanya tereduksi 7,21% dalam waktu 30
menit. Pada kondisi katalisis dengan katalis zeolit@Ag sebanyak 10 mg, senyawa 4NP tereduksi sampai 20,79% dalam waktu 30 menit. Kondisi katalisis dengan katalis
zeolit@Ag sebanyak 25 mg hanya mampu mereduksi senyawa 4-NP hingga 49,56%
dalam waktu 30 menit. Pada kondisi katalisis dengan katalis zeolit@Ag sebanyak 50
mg, senyawa 4-NP tereduksi sampai 89,27% dalam waktu 30 menit. Pada kondisi
katalisis zeolit@Ag sebanyak 75 mg terlihat senyawa 4-NP tereduksi hanya 83,13%
dalam waktu 30 menit (Tabel 4.5 dan Lampiran 3). Hal ini menunjukkan bahwa %

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

reduksi setelah 50 mg memperlihatkan terjadinya penurunan kinerja katalisis dari


reduksi senyawa 4-NP dengan katalis
katalis zeolit@Ag. Oleh karena itu, proses

zeolit@Ag optimum pada berat 50 mg.

100

% Konversi

50
5mg ZeolitAg
10mg ZeolitAg
25mg ZeolitAg
50mg ZeolitAg
75mg ZeolitAg

0
0

10

20

30

Waktu (menit)

Gambar 4.48 Kurva % Konversi pembentukan 4-AP dengan variasi berat zeolit@Ag
terhadap waktu
Gambar 4.48 memperlihatkan bahwa pada kondisi katalisis dengan
katalis zeolit@Ag sebanyak 5 mg, senyawa 4-AP dapat terbentuk hanya 5,97% dalam
waktu 30 menit. Pada kondisi katalisis dengan katalis zeolit@Ag sebanyak 10 mg,
terdapat % konversi dalam pembentukan senyawa 4-AP yakni hingga 13,66% dalam
waktu 30 menit. Untuk kondisi katalisis dengan katalis zeolit@Ag sebanyak 25 mg,

terbentuk senyawa 4-AP sampai 49,54% dalam waktu 30 menit. Pada kondisi
katalisis

dengan katalis zeolit@Ag sebanyak 50 mg, terbentuk senyawa 4-AP sampai 87,36%
hanya dalam waktu 30 menit. Kondisi katalisis zeolit@Ag sebanyak 75 mg dapat
membentuk senyawa 4-AP hingga 100% hanya dalam waktu 5 menit (Tabel 4.5 dan
Lampiran 3). Hal ini menunjukkan bahwa % konversi pada katalis zeolit@Ag sangat
baik. Oleh karena itu, proses reduksi senyawa 4-NP dengan katalis zeolit@Ag
optimum pada berat 50 mg dengan % reduksi (penurunan 4-NP) 89,27% dan %
konversi (kenaikan 4-AP) 87,36% dalam 30 menit (Tabel 4.5).

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

4.4.3.4 Variasi Berat Katalis Zeolit@Ni

Hasil pengujian aktivitas katalis terhadap reduksi larutan 4-NP dengan


konsentrasi awal 8,6 x 10-5 M pada katalis zeolit@Ni yang divariasikan berat

katalisnya berupa spektrum absorpsi UV-Vis ditunjukkan pada Gambar 4.49.

400 nm

0 MENIT
6 MENIT
10 MENIT
13 MENIT
15 MENIT
18 MENIT

400 nm

Absorbansi

Absorbansi

300 nm

0
200

300

300 nm

400

0
200

500

Panjang Gelombang (nm)

300

400

400 nm

(b)
400 nm

0 MENIT
5 MENIT
13 MENIT
18 MENIT
23 MENIT
26 MENIT

Absorbansi

Absorbansi

0 MENIT
5 MENIT
10 MENIT
15 MENIT
20 MENIT
24 MENIT
25 MENIT

300 nm

300 nm

300

500

Panjang Gelombang (nm)

(a)

0
200

0 MENIT
6 MENIT
13 MENIT
15 MENIT
17 MENIT
20 MENIT

400

Panjang Gelombang (nm)

(c)

500

0
200

300

400

500

Panjang Gelombang (nm)

(d)

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Absorbansi

400 nm

300 nm

0
200

0 MENIT
2 MENIT
12 MENIT
15 MENIT
17 MENIT
18 MENIT
19 MENIT

300

400

500

Panjang Gelombang (nm)

(e)
Gambar 4.49 Spektrum absorpsi larutan 4-NP 8,6 x 10-5 M dengan NaBH4 0,1 M pada
variasi berat katalis zeolit@Ni (a) 5 mg; (b) 10 mg; (c) 25 mg; (d) 50 mg; (e) 75 mg
Nilai absorbansi yang diperoleh dari spektrum UV-Vis dikonversikan menjadi
nilai konsentrasi (M), sehingga dapat dibuat perbandingan penurunan konsentrasi dari
setiap berat katalis (Gambar 4.50).
-4

Konsentrasi 4-NP (M)

[10 ]

1
0.8
0.6
0.4
0.2
0
0

5mg ZeolitNi
10mg ZeolitNi
25mg ZeolitNi
50mg ZeolitNi
75mg ZeolitNi

10

20

30

Waktu (menit)

Gambar 4.50 Kurva penurunan konsentrasi larutan 4-NP 8,6 x 10-5 M pada katalis
zeolit@Ni dengan variasi berat terhadap waktu

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Gambar 4.50 menunjukkan penurunan konsentrasi larutan 4-NP pada variasi

berat katalis zeolit@Ni selama reaksi reduksi


30 menit. Terlihat bahwa penurunan

konsentrasi paling optimum terjadi pada kondisi katalisis dengan zeolit@Ni sebanyak

75 mg. Menggunakan kondisi katalis zeolit@Ni


sebanyak 5 mg, terlihat larutan 4-NP

belum dapat tereduksi sempurna. Setelah


30 menit masih terdapat senyawa 4-NP
dengan konsentrasi 6,90 x 10-5 M. Padakondisi katalis zeolit@Ni sebanyak 10 mg
senyawa 4-NP mampu tereduksi sampai 6,74 x 10-5 M. Terlihat penurunan

konsentrasi 4-NP tidak begitu signifikan dengan katalis 25 mg zeolit@Ni, yang hanya
mampu mereduksi hingga 5,97 x 10-5 M. Pada kondisi katalis zeolit@Ni sebanyak 50
mg, senyawa 4-NP mampu tereduksi sampai 4,83 x 10-5 M. Terlihat penurunan
konsentrasi 4-NP cukup signifikan dengan katalis zeolit@Ni sebanyak 75 mg, yang
mampu mereduksi hingga 2,03 x 10-5 M (Lampiran 3). Hal ini menunjukkan bahwa
pada zeolit@Ni optimum pada 75 mg. Perbandingan penrunan konsentrasi pada setiap
variasi jumlah berat zeolit@Ni ditunjukkan pada Gambar 4.51

Konsentrasi 4-NP (M)

[10-5] 8

5 M ENIT
10 M ENIT
15 M ENIT
20 M ENIT
25 M ENIT
30 M ENIT

20

40

60

Jumlah Berat ZeolitNi (mg)

Gambar 4.51 Perbandingan penurunan konsentrasi larutan 4-NP pada variasi jumlah
berat zeolit@Ni

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Gambar 4.51 memperlihatkan bahwa jumlah berat zeolit@Ni memainkan


peranan penting dalam kinerja katalisis reduksi senyawa 4-NP. Pada berat zeolit@Ni
75 mg memperlihatkan penunrunan konsentrasi 4-NP yang signifikan hingga 2 x 10-5

M selama 30 menit. Hal ini memperlihatkan


bahwa jika berat zeolit@Ni terlalu

sedikit, maka jumlah pori zeolit dan nanopartikel


Ni menjadi lebih sedikit sehingga

sisi katalitik menjadi lebih sedikit. Kemampuan


zeolit dan nanopartikel Ni dalam

mengabsorpsi elektron (H-) menjadi lebih sedikit. Bila jumlah berat ditingkatkan,

maka tingkat difusi meningkat sehingga pergerakan Ni ke arah perbatasan oksidaudara akan lebih cepat dari migrasi elektron. Oleh karena itu, proses oksidasi dan
reduksi akan semakin cepat.
Dengan mengetahui pengurangan onsentrasi larutan 4-NP pada setiap variasi
jumlah berat zeolit@Ni, dapat diperoleh persentase reduksi (pengurangan) senyawa 4NP terhadap waktu. Hasilnya ditunjukkan pada Gambar 4.52

100
5mg ZeolitNi
10mg ZeolitNi
25mg ZeolitNi
50mg ZeolitNi
75mg ZeolitNi

% Reduksi

80
60
40
20

0
0

10

20

30

Waktu (menit)

Gambar 4.52 Kurva persentase reduksi (pengurangan) senyawa 4-NP pada variasi
berat katalis zeolit@Ni terhadap waktu
Gambar 4.52 memperlihatkan bahwa pada kondisi katalisis dengan katalis
zeolit@Ni sebanyak 5 mg, senyawa 4-NP hanya tereduksi 18,14% dalam waktu 30

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

menit. Pada kondisi katalisis dengan katalis zeolit@Ni sebanyak 10 mg, senyawa 4 30 menit. Pada kondisi katalisis dengan
NP tereduksi sampai 15,49% dalam waktu

katalis zeolit@Ni sebanyak 25 mg, senyawa 4-NP tereduksi sampai 28,45% dalam

waktu 30 menit. Pada kondisi katalisis dengan


katalis zeolit@Ag sebanyak 50 mg,

senyawa 4-NP tereduksi sampai 41,16% dalam waktu 30 menit. Sedangkan, dengan
kondisi katalisis zeolit@Ni sebanyak 75 mg terlihat cukup signifikan penurunan
konsentrasi senyawa 4-NP dengan 67,11% dalam waktu 30 menit (Tabel 4.5). Hal ini

menunjukkan bahwa % reduksi 75 mg paling optimum kinerja katalisis dari katalis


zeolit@Ni.

100

% Konversi

80
60

5mg ZeolitNi
10mg ZeolitNi
25mg ZeolitNi
50mg ZeolitNi
75mg ZeolitNi

40
20
0
0

10

20

30

Waktu (menit)

Gambar 4.53 Kurva % Konversi pembentukan 4-AP dengan variasi berat zeolit@Ni
terhadap waktu
Gambar 4.53 terlihat pada kondisi katalisis dengan katalis zeolit@Ni sebanyak
5 mg, senyawa 4-AP dapat terbentuk hanya 9,09% dalam waktu 30 menit. Pada
kondisi katalisis dengan katalis zeolit@Ni sebanyak 10 mg, terdapat % konversi
dalam pembentukan senyawa 4-AP yakni hingga 12,44% dalam waktu 30 menit.
Untuk kondisi katalisis dengan katalis zeolit@Ni sebanyak 25 mg, terbentuk senyawa
4-AP sampai 14,11% dalam waktu 30 menit. Pada kondisi katalisis dengan katalis

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

zeolit@Ni sebanyak 50 mg, terbentuk senyawa 4-AP sampai 22,18% dalam waktu 30
sebanyak 75 mg terbentuk senyawa 4-AP
menit. Dengan kondisi katalisis zeolit@Ni

sampai 32,21% dalam waktu 30 menit (Tabel 4.5 dan Lampiran 3). Hal ini

menunjukkan bahwa % konversi pada katalis


zeolit@Ni tidak cukup baik, karena

tidak dapat mencapai 100% dalam waktu


30 menit. Oleh karena itu, proses reduksi
senyawa 4-NP dengan katalis zeolit@Ni baik pada berat 75 mg dengan % reduksi
(penurunan 4-NP) 67,11% dan % konversi (kenaikan 4-AP) 32,21% dalam 30 menit.

Kesimpulan ini juga didukung oleh tidak adanya pemudaran warna kuning setelah 30
menit (Gambar 4.54).

Gambar 4.54 Hasil reduksi 4-NP dengan zeolit@Ni setelah 30 menit

4.4.4. Perbandingan Kondisi Optimum Jenis Katalis


Untuk melihat aktivitas katalis yang dikembangkan terhadap reduksi suatu
sampel senyawa organik cair, dilakukan reduksi terhadap larutan 4-NP oleh NaBH4
dengan empat kondisi berbeda, yaitu kontrol (4-NP dengan NaBH4 dan katalis zeolit
aktivasi tanpa nanopartikel), katalis zeolit@Au (4-NP dengan NaBH4 dan katalis

nanopartikel Au yang terimmobilisasi ke dalam zeolit), katalis zeolit@Ag (4-NP


dengan NaBH4 dan katalis nanopartikel Ag yang terimmobilisasi ke dalam zeolit), dan
katalis zeolit@Ni (4-NP dengan NaBH4 dan katalis nanopartikel Ni yang
terimmobilisasi ke dalam zeolit). Dari eksperimen dengan variasi kondisi ini dapat
diketahui pengaruh adanya nanopartikel logam yang berbeda dan tanpa adanya
nanopartikel logam terhadap reduksi larutan 4-NP dengan NaBH4.

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Konsentrasi 4-NP (M)

[10-4]

0.8

0.6
0.4

Tanpa Katalis
75mg Zeolit Aktivasi
50mg Zeolit-Au
50mg Zeolit-Ag
75mg Zeolit-Ni

0.2
0
0

10

20

30

Waktu (menit)

Gambar 4.55 Kurva penurunan konsentrasi larutan 4-NP 8,6 x 10-5 M pada kondisi
optimum berbagai jenis katalis terhadap waktu
Gambar 4.55, memperlihatkan bahwa pada kondisi tanpa katalis konsentrasi
larutan 4-NP cenderung tetap, sedangkan penurunan konsentrasi larutan 4-NP
menggunakan katalis terlihat lebih signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa transfer
elektron (H-) dari NaBH4 ke gugus nitro (-NO2) pada 4-NP lebih efektif melalui media
suatu material (katalis) dibandingkan melalui media air (aquabides). Sedangkan pada
kondisi katalis zeolit tanpa modifikasi nanopartikel logam (aktivasi) dengan
zeolit@Ag dan zeolit@Ni terlihat penurunan konsentrasi 4-NP lebih besar dengan
zeolit aktivasi. Hal ini bukan berarti zeolit@Ag dan zeolit@Ni tidak efektif bila

digunakan sebagai katalis reduksi, namun diindikasikan Ag dan Ni yang terbentuk


di

dalam zeolit merupakan bentuk oksida logam yakni Ag2O dan NiO, sehingga dapat
menghambat transfer muatan interfasial pada proses reduksi 4-NP.
Gambar 4.55, terlihat penurunan konsentrasi 4-NP pada kondisi katalis
zeolit@Au sangat signifikan. Hal ini membuktikan bahwa nanopartikel Au
memainkan peranan penting dalam mengkatalisis proses transfer muatan interfasial,
sehingga proses reduksi senyawa 4-NP dapat berjalan lebih efektif dan efisien. Selain
itu, nanopartikel Au dapat menerima elektron dan juga berperan sebagai

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

media/perantara ke penerima elektron lain. Nanopartikel Au sebagai logam transisi

masih memiliki orbital kosong untuk menerima


elektron, dan juga sifatnya yang kaya

akan elektron. Oleh karena itu, deposisi (penempatan) nanopartikel Au pada material

zeolit berguna untuk meningktakan aktivitas


katalis dan memaksimalkan efisiensi

pada reaksi reduksi senyawa 4-NP.

Dengan mengetahui pengurangan


konsentrasi larutan 4-NP, dapat diperoleh

persentase reduksi senyawa 4-NP pada setiap selang waktunya untuk masing-masing

kondisi.

% Reduksi

100

50
Tanpa Katalis
Zeolit Aktivasi
Zeolit-Au
Zeolit-Ag
Zeolit-Ni

0
0

10

20

30

Waktu (menit)

Gambar 4.56 Kurva persentase reduksi senyawa 4-NP (8,6 x 10-5 M) pada berbagai
kondisi katalis optimum terhadap waktu

Gambar 4.56, memperlihatkan bahwa senyawa 4-NP tidak tereduksi dengan


baik dalam waktu 30 menit tanpa katalis. Sedangkan, pada kondisi dengan katalis
zeolit aktivasi dapat mereduksi 4-NP sampai 90,40% dalam waktu 30 menit (Tabel
4.5). Hasil tersebut menunjukkan bahwa zeolit berperan aktif tanpa nanopartikel. Hal
ini dikarenakaan zeolit yang digunakan dalam bentuk serbuk memiliki luas
permukaan yang besar sehingga jumlah sisi katalitik semakin besar. Selain itu,
aktivasi zeolit menggunakan pemanasan yang berlanjut, hal ini dapat menguapkan air
dari situs Bronsted menghasilkan Al yang terkoordinasi 3 yang mempunyai sifat

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

akseptor pasangan elektron (situs Lewis). Oleh karena itu, elektron (H-) dari NaBH4
dapat masuk ke dalam pori zeolit dalam jumlah banyak, dan didesorpsikan kembali ke
senyawa 4-NP untuk mensubstitusikan atom O pada gugus nitro (-NO2) menjadi
gugus amina (-NH2).

Hasil pengujian aktivitas pada kondisi


katalisis dengan zeolit@Au

nanopartikel menunjukkan senyawa 4-NP


dapat tereduksi sampai 85,15% dalam 30

menit (Tabel 4.5). Terbukti dengan adanya deposisi (penempatan) nanopartikel Au

pada zeolit dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi aktivitas katalis dalam
mereduksi senyawa 4-NP. Hal ini disebabkan karena dengan adanya deposisi
nanopartikel Au, maka material yang dihasilkan menunjukkan sifat gabungan antara
sifat katalisis logam dengan pendukung katalis logam (zeolit) dan penyebaran logam
ke dalam pori dapat dicapai dengan baik. Terjadinya reaksi katalisis oleh nanopartikel
Au disebabkan karena nanopartikel Au dapat mengeksitasi elektron. Hal ini
disebabkan karena nanopartikel Au merupakan nanopartikel logam, sehingga
nanopartikel Au kaya akan elektron dan dapat mengeksitasi (mendesorpsi) elektron
sendiri. Pemberian elektron dari ikatan NaBH4 kepada orbital atom logam Au yang
kosong pada permukaan dan ikatan balik kepada orbital *, menghasilkan pemutusan
ikatan BH3 H- . Hidrogen (H-) akan sangat reaktif menyerang molekul 4-NP dan
mereduksinya menjadi 4-AP.
Hasil pengujian aktivitas pada kondisi katalisis dengan zeolit@Ag
nanopartikel menunjukkan senyawa 4-NP dapat tereduksi sampai 87,36% dalam 30
menit (Tabel 4.5). Sama halnya dengan katalis zeolit@Au, terbukti dengan adanya
deposisi (penempatan) nanopartikel Ag pada zeolit dapat meningkatkan efektifitas dan
efisiensi aktivitas katalis dalam mereduksi senyawa 4-NP. Mekanisme reaksi
diperlihatkan pada Lampiran 7.

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

100

80

% Konversi

60
40

Tanpa Katalis
Zeolit Aktivasi
Zeolit-Au
Zeolit-Ag
Zeolit-Ni

20
0
0

10

20

30

Waktu (menit)
Gambar 4.57 Kurva persentase konversi senyawa 4-AP pada berbagai kondisi
katalis optimum terhadap waktu
Dari Gambar 4.57, memperlihatkan bahwa senyawa 4-AP tidak terbentuk
dengan baik dalam waktu 30 menit dengan tanpa katalis. Sedangkan, kondisi dengan
katalis zeolit aktivasi dapat menghasilkan 4-AP sampai 71,50% dalam waktu 30
menit. Hasil tersebut menunjukkan bahwa zeolit berperan aktif tanpa nanopartikel
(Tabel 4.5). Hal ini dikarenakaan zeolit yang digunakan dalam bentuk serbuk untuk
mempunyai luas permukaan yang besar sehingga jumlah sisi katalitik semakin besar.
Selain itu, aktivasi zeolit menggunakan pemanasan yang berlanjut sehingga
menghasilkan Al terkoordinasi 3 yang mempunyai sifat akseptor pasangan elektron

(situs Lewis). Oleh karena itu, elektron (H-) dari NaBH4 dapat masuk ke dalam pori
zeolit dalam jumlah banyak, dan didesorpsikan kembali ke senyawa 4-NP untuk
mensubstitusikan atom O pada gugus nitro (-NO2) menjadi gugus amina (-NH2).
Hasil pengujian aktivitas pada kondisi katalisis dengan zeolit@Au
nanopartikel dapat menghasilkan senyawa 4-AP hingga 85,15% dalam 30 menit,
sedangkan pada katalis zeolit@Ag dapat mengkonversi 4-NP menjadi 4-AP hingga
87,36% dalam 30 menit. Hal ini dikarenakan daya absorpsi pada nanopartikel Au

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

lebih kuat daripada nanopartikel Ag sehingga untuk mendesorpsikan hasil reduksi (4 pada katalis zeolit@Ag.
AP) pada permukaan katalis lebih mudah

Pada kondisi katalis zeolit tanpa modifikasi nanopartikel logam (aktivasi)

dengan zeolit@Ni terlihat kenaikan konsentrasi


4-AP lebih besar dengan

menggunakan zeolit aktivasi, yaitu hanya


32,21% (Tabel 4.5). Hal ini bukan berarti
zeolit@Ni tidak efektif bila digunakan sebagai
katalis reduksi, namun diindikasikan

nanopartikel Ni yang terbentuk di dalam zeolit merupakan bentuk oksida logam yakni

NiO, sehingga dapat menghambat transfer muatan interfasial pada proses reduksi 4NP. Koefisien difusi rendah sehingga pergerakan logam Ni ke arah perbatasan oksidaudara akan lebih lambat dari migrasi elektron. Penumpukan logam Ni akan terjadi
dibagian dalam lapisan oksida dan penumpukan logam ini akan menghalangi difusi
ion lebih lanjut sehingga lapisan oksida bersifat protektif dan proses redoks
terhalangi.

4.4.4.1 Variasi Jumlah Berat Zeolit dalam Sintesis Zeolit@Au


Jumlah berat zeolit yang digunakan dalam sintesis zeolit@Au juga memainkan
peranan penting dalam kinerja katalisis reduksi 4-NP. Apabila jumlah zeolit yang
digunakan banyak, maka Au3+ yang terdifusi ke dalam pori zeolit juga banyak dan
dapat mencegah terjadinya agregasi Au nanopartikel berlebih di permukaan zeolit
ketika direduksi dengan NaBH4. Dengan terbentuknya agregat nanopartikel Au,
sehingga luas permukaan katalis menjadi berkurang dan mengakibatkan proses
reduksi menjadi tidak optimal. Akan tetapi, dengan adanya deposisi nanopartikel Au
pada zeolit juga dapat memberikan kelebihan karena material yang dihasilkan
menunjukkan sifat gabungan antara sifat katalisis logam dengan pendukung katalis
logam (zeolit) dan penyebaran logam ke dalam pori dapat dicapai dengan baik.
Untuk memperoleh kondisi optimum dari katalis yang dikembangkan, perlu
dilakukan uji optimasi terhadap jumlah berat zeolit yang digunakan dalam sintesis
zeolit@Au. Optimasi dilakukan terhadap HAuCl4 1x10-4 M dengan variasi berat zeolit
yaitu 0,5; 1; dan 2 gram zeolit. Data konversi hasil penurunan konsentrasi 4-NP pada
setiap variasi berat zeolit diperlihatkan pada Gambar 4.58

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

-4

Konsentrasi 4-NP (M)

[10 ]

1
0.8

1x10 -4M HAuCL4/0.5 g Zeolit


1x10 -4M HAuCL4/1 g Zeolit
1x10 -4M HAuCL4/2 g Zeolit

0.6
0.4

0.2
0
0

10
20
Waktu (menit)

30

Gambar 4.58 Kurva penurunan konsentrasi larutan 4-NP 8,6 x 10-5 M dengan variasi
berat zeolit pada sintesis zeolit@AuNP terhadap waktu
Gambar 4.58 memperlihatkan penurunan konsentrasi paling optimum dengan
kondisi katalis menggunakan zeolit sebanyak 2 gram pada sinetsis zeolit@Au dengan
HAuCl4 1x10-4 M. Terlihat bahwa 3 menit awal reaksi penurunan 4-NP lebih cepat
menggunakan 1 g zeolit dibandingkan 0,5 g. Namun setelah 3 menit, zeolit 0,5 g lebih
efektif dalam menurunkan konsentrasi 4-NP hingga 4,14 x 10 -5 M setelah 30 menit.
Sedangkan, dengan menggunakan 1 g zeolit pada saat modifikasi hanya dapat
menurunkan 4-NP sampai 4,67 x 10-5 M setelah 30 menit. Hal ini dikarenakan 0,5 g
zeolit yang dimodifikasi dengan nanopartikel Au memiliki jumlah nanopartikel
Au
yang terimobilisasi ke dalam pori zeolit lebih banyak dibandingkan dengan 1 g zeolit
sehingga daya absorpsi elektron (H-) pada 0,5 g zeolit : 10-4 M HAuCl4 lebih kuat.
Dengan kondisi katalisis menggunakan 2 g zeolit ketika modifikasi terlihat sangat
signifikan dalam penurunan konsentrasi 4-NP sampai 5,79 x 10-7 M setelah 30 menit
(Tabel 4.6).
Terjadinya penurunan kinerja saat kondisi katalis zeolit@Au 0,5 g : 1 x 10-4 M
dan 1g : 1 x 10-4 M kemungkinan disebabkan oleh nanopartikel Au yang sudah
beragregasi membentuk partikel yang berukuran yang lebih besar (agregat), sehingga

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

luas permukaan katalis menjadi berkurang. Agregat dapat terjadi karena nanopartikel

Au yang berada pada permukaan akan cenderung


saling berikatan atau beragregasi.

Adanya kecenderungan ini disebabkan oleh interaksi gaya kohosi, dimana

nanopartikel Au lebih menyukai untuk berikatan


atau berinteraksi dengan molekul

sejenisnya.

100

% Reduksi

80
1x10 -4
M HAuCL4/0.5 g Zeolit
1x10 -4M HAuCL4/1 g Zeolit
-4
1x10 M HAuCL4/2 g Zeolit

60
40
20
0
0

10

20

30

Waktu (menit)

Gambar 4.59 Kurva persentase reduksi senyawa 4-NP dengan variasi berat zeolit
pada sintesis zeolit@AuNP terhadap waktu
Gambar 4.59 memperlihatkan bahwa pada kondisi katalis dengan
zeolit@AuNP 0,5g : 1 x 10-4 M, senyawa 4-NP dapat tereduksi sampai 52,55% dalam
waktu 30 menit. Hasil reduksi ini sedikit lebih baik dibandingkan dengan hasil reduksi
menggunakan zeolit@Au 1g : 1 x 10-4 M, yaitu 37,51% dalam waktu 30 menit.

Sedangkan, dengan kondisi katalis zeolit@Au 2g : 1 x 10-4 M senyawa 4-NP dapat


tereduksi hingga 99,13% dalam waktu 30 menit (Tabel 4.6).

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

100

80

% Konversi

60

40

-4

1x10 -4M HAuCL4/0.5 g Zeolit


1x10 -4M HAuCL4/1 g Zeolit
1x10 M HAuCL4/2 g Zeolit

20
0
0

10

20

30

Waktu (menit)
Gambar 4.60 Kurva % Konversi pembentukan 4-AP dengan variasi berat zeolit pada
sintesis zeolit@AuNP terhadap waktu
Gambar 4.60 memperlihatkan bahwa pada kondisi katalisis zeolit@AuNP 0,5g
: 1 x 10-4 M, senyawa 4-AP dapat terbentuk hanya 86,43% dalam waktu 30 menit.
Pada kondisi katalisis dengan katalis zeolit@AuNP 1g : 1 x 10-4 M, terdapat %
konversi dalam pembentukan senyawa 4-AP yakni hingga 66,58% dalam waktu 30
menit. Untuk kondisi katalisis dengan katalis 2g : 1 x 10-4 M, terbentuk senyawa 4-AP
sampai 85,15% dalam waktu 30 menit (Tabel 4.6). Oleh karena itu, proses reduksi
senyawa 4-NP dengan katalis zeolit@Au optimum pada perbandingan 2 g zeolit :
1x10-4 M HAuCl4 dengan % reduksi (penurunan 4-NP) 99,13% dan % konversi

(kenaikan 4-AP) 85,15% dalam 30 menit.


4.4.4.2 Variasi Konsentrasi 4-Nitrofenol
Konsentrasi 4-NP yang digunakan dalam proses reduksi senyawa 4-NP juga
memainkan peranan penting dalam kinerja katalis. Pada dasarnya katalis mempunyai
beberapa sifat, yaitu selektif reaktan, dimana hanya reaktan (molekul) dengan ukuran
tertentu yang dapat masuk ke dalam pori dan akan bereaksi di dalam pori. Selain itu,

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

katalis mempunyai sifat selektif produk, dimana hanya produk yang berukuran
tertentu yang dapat meninggalkan situs aktif dan berdifusi melewati saluran (channel)
dan keluar sebagai produk.

Penentuan kondisi optimum katalis dilakukan uji optimasi terhadap variasi

konsentrasi 4-NP. Optimasi dilakukan terhadap katalis 50 mg zeolit@Au dengan


variasi konsentrasi 4-NP yaitu 1 x 10-5; 3 x 10-5; 5 x 10-5; dan 8,6 x 10-5 M. Data
konversi hasil penurunan konsentrasi 4-NP
pada setiap variasi konsentrasi 4-NP

diperlihatkan pada Gambar 4.61

-4

[10 ]

1
1x10 -5 M 4-NP
3x10 -5 M 4-NP
5x10 -5 M 4-NP
8,6x10 -5 M 4-NP

Konsentrasi 4-NP (M)

0.8
0.6
0.4
0.2
0
0

10

20

30

Waktu (menit)

Gambar 4.61 Kurva penurunan konsentrasi senyawa 4-NP dengan variasi konsentrasi

4-NP terhadap waktu pada 50 mg zeolit@AuNP


Gambar 4.61 memperlihatkan penurunan konsentrasi paling optimum dengan
konsentrasi 4-NP 8,6 x 10-5 M, dapat mereduksi hingga 5,79 x 10-7 M setelah 30
menit. Dari kurva tersebut kondisi reduksi dengan 4-NP 1 x 10-5 M terlihat tidak
efektif dalam penurunan konsentrasi 4-NP, yakni hanya sampai 9,41 x 10-6 M setelah
30 menit. Selain itu, dengan kosentrasi 4-NP 3 x 10-5 M dan 5 x 10-5 M tidak seefektif
penurunannya dibandingkan dengan konsentrasi 4-NP 8,6 x 10-5 M (Lampiran 5). Hal

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

ini mungkin dikarenakan 4-NP 8,6 x 10-5 M mempunyai ukuran yang dapat masuk ke

dalam pori zeolit (nanopartikel Au) sehingga


4-NP 8,6 x 10-5 M dapat masuk dan

bereaksi di dalam pori. Terjadinya penurunan kinerja katalis zeolit@Au saat

konsentrasi 4-NP semakin rendah konsentrasinya.


Hal ini dimungkinkan nanopartikel

Au yang berada di dalam pori zeolit tereduksi


lebih lanjut secara in situ sehingga

nanopartikel Au dapat beragregrasi, menyebabkan


luas permukaan nanopartikel Au

berkurang, maka penurunan konsentrasi 4-NP menjadi berkurang.

100
1x10 -5 M 4-NP
3x10 -5
M 4-NP
-5
5x10 M 4-NP
-5
8,6x10 M 4-NP

% Reduksi

80
60
40
20
0
0

10

20

30

Waktu (menit)

Gambar 4.62 Kurva persentase reduksi senyawa 4-NP dengan variasi konsentrasi 4NP terhadap waktu
Gambar 4.62 terlihat pada kondisi katalisis dengan konsentrasi 4-NP 1x10-5 M

, senyawa 4-NP dapat tereduksi sampai 18,14% dalam waktu 30 menit. Dengan
kondisi katalisis konsentrasi senyawa 4-NP 3 x 10-5 M dapat tereduksi hingga 61,81%
dalam waktu 30 menit. Hasil reduksi ini sedikit lebih baik dibandingkan dengan hasil
reduksi 4-NP 5 x 10-5 M , yaitu hanya 31,38% dalam waktu 30 menit. Sedangkan,
dengan kondisi katalisis senyawa 4-NP 8,6 x 10-5 M dapat tereduksi hingga 99,13%
dalam waktu 30 menit. Oleh karena itu, 50 mg zeolit@Au sangat efektif dan efisien
digunakan sebagai katalis reduksi senyawa 4-NP 8,6 x 10-5 M (Tabel 4.7).

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

% Konversi

200

100

1x10 -5 M 4-NP
3x10 -5 M 4-NP
-5
5x10 M 4-NP
8,6x10 -5 M 4-NP

0
0

10

20

30

Waktu (menit)

Gambar 4.63 Kurva % Konversi pembentukan 4-AP dengan variasi konsentrasi 4-NP
terhadap waktu
Dari Gambar 4.63 memperlihatkan bahwa pada kondisi katalisis dengan
konsentrasi 4-NP 1x10-5 M, senyawa 4-AP dapat terbentuk 100% hanya dalam waktu
5 menit. Pada kondisi katalisis dengan konsentrasi 4-NP 3x10-5 M, terdapat %
konversi dalam pembentukan senyawa 4-AP yakni hingga 100% dalam waktu 1
menit. Untuk kondisi katalisis dengan konsentrasi 4-NP 5x10-5 M, terbentuk senyawa
4-AP sampai 100% dalam waktu 2 menit. Pada kondisi katalisis dengan konsentrasi 4NP 8,6 x 10-5 M, terbentuk senyawa 4-AP hanya sampai 85,15% dalam waktu 30
menit (Tabel 4.7). Kesimpulan ini juga didukung oleh pemudaran warna kuning

menjadi tak berwarna (bening) setelah 30 menit, hal ini diindikasikan telah tereduksi
4-NP menjadi 4-AP (Gambar 4.64).

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Gambar 4.64 Hasil reduksi 4-NP dengan variasi konsentrasi 4-NP pada zeolit@Au
setelah 30 menit

4.5 Penentuan Nilai Tetapan Laju Reaksi (kr)


Terdapat beberapa metode untuk menentukan nilai tetapan laju reaksi (kr).
Pada penelitian ini digunakan tiga metode penentuan nilai tetapan laju reaksi (kr),
yaitu metode orde satu, metode Langmuir-Hinshelwood, dan metode laju reaksi awal
(initial rate).
Metode orde satu digunakan untuk menentukan nilai tetapan laju reaksi (kr)
pada penelitian ini, karena reaksi yang terjadi pada setiap kondisi diasumsikan
merupaka reaksi berorde satu, dimana reaktan yang bereaksi hanya senyawa 4-NP
saja. Hal ini dapat dibuktikan dengan menggunakan persamaan orde satu dibawah ini:
AB
-dA/dt = k [A]

ln ([At]/[A0]) = -k t
[At]/[A0] = e-kt
[At] = [A0] e-k t

(4.1)

y = b e-c x
Reaksi dapat dibuktikan berorde satu apabila plot antara konsentrasi waktu t
([At]) terhadap waktu reaksi (t) menghasilkan kurva yang fitting (r > 0,9) pada
persamaan 4.1 tersebut. Sebagai contoh, dapat dilihat pada kurva pengaluran

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

konsentrasi terhadap waktu untuk kondisi katalisis dengan 25 mg zeolit@Au yang


ditunjukkan oleh Gambar 4.65
[10-4]

Konsentrasi 4-NP (M)

0.8

y = 1.11x10-5 + 7.57x10 -5exp (-1.06x10-1x)


|r|=0.999
-1
k' = 1,06 x 10

0.6

0.4
0.2
0
0

10

20

30

Waktu (menit)

Gambar 4.65 Hubungan antara konsentrasi dengan waktu pada kondisi katalis 25 mg
zeolit@Au
Dalam penelitian ini dikembangkan sistem katalis heterogen. Pada sistem
katalis heterogen, tingkat pelingkupan permukaan katalis tergantung tetapan adsorpsi
polutan organik pada permukaan katalis. Hal ini sesuai dengan persamaan LangmuirHinshelwood. Banyak peneliti telah melaporkan bahwa laju reduksi senyawa organik
cair di atas permukaan katalis mengikuti persamaan Langmuir-Hinshelwood, sebagai
berikut:

Keterangan:
Red

: spesi reduktor

Oks

: spesi oksidator

: konsentrasi

: koefisien aktivitas

: koefisien Langmuir

Kd

: konstanta laju reaksi

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

(4.2)

Persamaan 4.2. dapat disederhanakan dengan asumsi bahwa konsentrasi spesi

reduktor (Cred), dalam hal ini NaBH4 dianggap


konstan. Hal ini disebabkan karena

dalam sistem reduksi konsentrasi NaBH4 yang diberikan adalah sama, sehingga suku
kedua sisi sebelah kanan persamaan 4.2. menjadi konstan dan dapat diasumsikan ke
dalam suku pertama (k). Persamaan 4.2.
menjadi sebagai berikut:

(4.3)

Dengan memasukan nilai ke dalam


koefisien Langmuir, maka persamaan

4.3. menjadi:
(4.4)
kemudian dapat disusun ulang menjadi:
(4.5)
Integrasi persamaan 4.5. menghasilkan persamaan:
(4.6)
Persamaan 4.6. dapat disederhanakan menjadi:
(4.7)
Dengan asumsi bahwa adsorpsi isoterm Langmuir berlaku untuk reaksi di
permukaan dan k adalah konstanta orde satu (jika konsentrasi yang digunakan
rendah, C<<1), maka bentuk akhir dari persamaan tersebut dapat dituliskan sebagai
berikut:
(4.8)
Bila reaksi yang terjadi pada penelitian ini merupakan reaksi orde pertama, maka

dengan pengaluran antara ln Ct/C0 terhadap waktu reaksi (t) akan menghasilkan garis
linier, sesuai dengan persamaan 4.8. Sebagai contoh, dapat dilihat pada kurva
pengaluran antara ln Ct/C0 terhadap waktu reaksi (t) untuk kondisi katalis dengan 25
mg zeolit@Au yang ditunjukkan oleh Gambar 4.66 di bawah ini

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

ln (C t/C0)

-1

-2

y = - 8.02x10-2 x - 2.96x10 -2
|r|=0.998
k' = 8,02 x 10 -2

-3
0

10

20

30

Waktu (menit)

Gambar 4.66 Hubungan linier antara ln Ct/C0 dengan waktu pada kondisi katalis 25
mg zeolit@Au
Metode ketiga yang digunakan adalah metode laju reaksi awal (initial rate).
Metode ini dapat digunakan untuk menentukan nilai tetapan laju reaksi dengan
melakukan variasi konsentrasi awal larutan terlebih dahulu. Persamaan laju reaksi
awal dapat dilihat sebagai berikut:
AB
dy/dx = d[A]/dt = k [A]
v0 = k [A]
y=ax

(4.9)

Dari setiap variasi konsentrasi awal akan diperoleh nilai laju awal (v0) dari masingmasing konsentrasi. Kemudian laju reaksi awal (v0) dialurkan terhadap konsentrasi.
Apabila plot menghasilkan garis yang linier, sesuai dengan persamaan 4.8., maka
reaksi dalam penelitian merupakan reaksi berode satu. Penentuan dengan metode laju
reaksi awal (initial rate) dapat memberikan nilai tetapan laju reaksi yang lebih tepat,
karena dengan metode ini nilai tetapan laju reaksi ditentukan dari rata-rata laju reaksi
awal (v0) pada berbagai konsentrasi awal larutan.

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

4.5.1 Variasi Kondisi dan Berat Katalis

Untuk membuktikan bahwa reaksi yang terjadi pada setiap kondisi katalisis
adalah reaksi orde satu, maka penentuan nilai tetapan laju reaksi dilakukan dengan

menggunakan metode orde satu. Hasil pengaluran ln (Ct/C0) terhadap waktu untuk

setiap kondisi ternyata memberikan garis yang linier, sesuai dengan persamaan orde
satu. Hal ini membuktikan bahwa reaksi yang terjadi pada setiap kondisi katalisis
adalah reaksi berorde satu.

Tabel 4.5 Nilai tetapan laju reaksi untuk setiap kondisi dan berat katalis
Kondisi

Berat (mg)

Tanpa Katalis

5
10
25
50
75
5
10
25
50
75
5
10
25
50
75
5
10
25
50
75

Na-Zeolit

Zeolit@Au

Zeolit@Ag

Zeolit@Ni

% Reduksi
(30 menit)
12,04
25,28
44,07
88,27
90,40
6,23
17,18
84,05
99,13
79,28
7,21
20,79
49,56
89,27
83,13
18,14
15,49
28,45
41,16
67,11

k (orde 1)
(menit-1)
3 x 10-4
3,84 x 10-3
6,63 x 10-2
9,43 x 10-2
7,23 x 10-2
7,31 x 10-2
2,76 x 10-3
6,94 x 10-3
1,06 x 10-1
1,65 x 10-1
2,63 x 10-1
2,90 x 10-3
8,04 x 10-3
2,16 x 10-2
3,37 x 10-2
7,91 x 10-2
7,65 x 10-3
7,82 x 10-3
1,22 x 10-2
1,90 x 10-2
4,76 x 10-2

% Konversi
(30 menit)
10,21
12,44
36,95
65,09
71,50
36,40
20,79
57,28
85,15
100
5,97
13,66
49,54
87,36
100
9,09
12,44
14,11

22,18
32,21

Tabel 4.5 memperlihatkan bahwa tetapan laju reaksi (k) yang paling besar
adalah pada katalis 75 mg zeolit@Au. Akan tetapi setelah menit ke-5, tidak terjadi
penurunan konsentrasi 4-NP yang signifikan (Gambar 4.39). Hal ini menunjukkan
bahwa laju reaksi pada katalisis 50 mg zeolit@Au paling cepat diantara kondisi
katalis lainnya, dan dapat mereduksi senyawa 4-NP paling banyak dalam waktu 30

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

menit. Nilai tetapan laju reaksi menunjukkan seberapa cepat proses reduksi berjalan

dan kemampuan kondisi katalis yang digunakan.

4.5.2. Variasi Jumlah Berat Zeolit dalam Sintesis Zeolit@Au

Penentuan nilai tetapan laju reaksi


untuk setiap variasi kondisi dan berat
katalis yang telah dilakukan pada Bab 4.5.1, menunjukkan bahwa reaksi reduksi pada

kondisi katalisis adalah reaksi berorde satu. Oleh karena itu, untuk membuktikan

reaksi katalisis reduksi pada setiap jumlah berat zeolit dalam sintesis zeolit@Au
adalah reaksi berorde satu, dilakukan penentuan nilai tetapan menggunakan metode
orde satu dan Langmuir-Hinshelwood. Nilai tetapan laju reaksi berat zeolit pada
sintesis zeolit@Au yang ditentukan dengan metode orde satu dan metode LangmuirHinshelwood diperlihatkan pada Tabel 4.6
Tabel 4.6 Nilai tetapan laju reaksi untuk setiap variasi berat zeolit dalam sintesis
zeolit@AuNP
% Reduksi

k (orde 1)

k (L-H)

(30 menit)

(menit-1)

(menit-1)

0,5

52,55

4,34 x 10-2

2,57 x 10-2

86,43

37,51

5,00 x 10-2

2,45 x 10-2

66,58

99,13

-1

-1

85,11

Berat Zeolit (g)

1,65 x 10

1,61 x 10

% Konversi

Tabel 4.6 memperlihatkan bahwa laju reaksi yang ditentukan dengan kedua
metode, metode orde satu maupun Langmuir-Hinshelwood, nilai tetapan paling besar
adalah dengan 2 gram zeolit dalam sintesis zeolit@AuNP. Hal ini menunjukkan

bahwa dengan kondisi katalis zeolit@AuNP 2 g : 1 x 10-4 M, reaksi reduksi terjadi


paling cepat diantara kondisi katalis lainnya dan dapat mereduksi senyawa 4-NP
sampai 99,13% dalam 30 menit.
4.5.3. Variasi Konsentrasi 4-NP
Penentuan nilai tetapan laju reaksi untuk setiap variasi konsentrasi 4-NP
dilakukan dengan tiga metode, yaitu metode orde satu, Langmuir-Hinshelwood, dan
persamaan laju reaksi awal (initial rate). Hasil pengaluran dengan mengikuti

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

persamaan orde satu, persamaan Langmuir-Hinshelwood, dan persamaan laju reaksi


awal (initial rate) ternyata menghasilkan line fitting. Nilai tetapan laju reaksi variasi
konsentrasi 4-NP yang ditentukan dengan metode orde satu dan metode Langmuir dibawah ini.
Hinshelwood dapat dilihat pada Tabel 4.7

Tabel 4.7 Nilai tetapan laju reaksi untuk setiap variasi konsentrasi 4-NP

Konsentrasi 4-NP

% Reduksi

k (orde 1)

-1

k (L-H)

% Konversi

(M)

(30 menit)

(menit )

(menit-1)

1 x 10-5

18,14

3,59 x 10-3

6,8 x 10-3

100

3 x 10-5

61,81

5,81 x 10-2

3,65 x 10-2

100

5 x 10-5

31,38

5,16 x 10-1

1,99 x 10-2

100

8,6 x 10-5

99,13

1,65 x 10-1

1,61 x 10-1

85,15

Dari Tabel 4.7 terlihat bahwa laju reaksi yang ditentukan dengan kedua
metode, orde satu maupun Langmuir-Hinshelwood, nilai tetapan paling besar adalah
kondisi katalis dengan konsentrasi 4-NP 8,6 x 10-5 M. Hal ini menunjukkan bahwa
kondisi katalisis dengan konsentrasi 4-NP 8,6 x 10-5 M, reaksi reduksi paling cepat
dibandingkan dengan kondisi konsentrasi 4-NP lainnya dan dapat mereduksi senyawa
4-NP sebanyak 99,13% dalam waktu 30 menit.
Nilai tetapan laju reaksi kondisi katalisis dengan konsentrasi 4-NP 8,6 x 10-5
M yang telah diperoleh dengan menggunakan metode orde satu dan LangmuirHinshelwood, kemudian dibandingkan dengan metode laju reaksi awal (initial rate).
Hal ini dilakukan untuk melihat rata-rata nilai tetapan laju reaksi secara keseluruhan.
Nilai tetapan laju reaksi konsentrasi 4-NP yang ditentukan dengan metode laju
reaksi
awal (initial rate) dapat dilihat pada Gambar 4.67 dibawah ini

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

[10-5] 1.5

y = 0.13x + 2x10 -6
2

r = 0.98

k' = 0,13

v0

0.5

0.2

0.4

0.6

0.8

Konsentrasi 4-NP (M)

1
[10 ]
-4

Gambar 4.67 Hubungan linier antara laju awal reaksi (v0) dengan konsentrasi larutan
awal pada kondisi konsentrasi 4-NP
Dengan metode laju reaksi awal (initial rate) yang terlihat pada Gambar 4.67,
diperoleh nilai tetapan laju reaksi untuk kondisi katalisis adalah 0,13 menit-1.
Sedangkan, tetapan laju reaksi pada kondisi katalisis pada berbagai konsentrasi 4-NP
yang diperoleh dengan metode orde satu dan Langmuir-Hinshelwood bernilai antara
5,2 x 10-3 sampai 2,68 x 10-1 menit-1.

4.6 Karakterisasi LCMS

Larutan standar 4-nitrofenol dalam akuabides dengan konsentrasi 2 ppm

dikarakterisasi menggunakan LCMS untuk mencari berat molekul (m/z). Hasil


spektrum MS (Mass Spectrometry) 4-nitrofenol ditunjukkan pada Gambar 4.68

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Gambar 4.68 Spektrum MS 4-Nitrofenol 2 ppm


Gambar 4.68 memperlihatkan bahwa larutan 4-nitrofenol memiliki nilai m/z
tertinggi sebesar 137,8. Nilai berat molekul (m/z) yang didapatkan dari hasil
karakterisasi MS berkurang dari berat molekul yang seharusnya yaitu 139. Hal ini
mengindikasikan bahwa senyawa 4-nitrofenol yang digunakan merupakan senyawa
yang memiliki karakter lebih mudah untuk melepaskan atom hidrogen (H)
dibandingkan untuk menerima atom hidrogen (H). Hal ini terbukti bahwa 4-NP
cenderung lebih mudah melepaskan atom hidrogen membentuk senyawa
intermedietnya, yakni ion nitrofenolat.
Setelah didapatkan hasil optimasi dari karakterisasi 4-NP menggunakan MS,
lalu dilakukan karakterisasi menggunakan LC (liquid chromatogram) untuk mencari
waktu retensi dari senyawa 4-NP. Hasil diperlihatkan pada Gambar 4.69.

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Gambar 4.69 Spektrum LCMS 4-Nitrofenol 2 ppm


Gambar 4.69 memperlihatkan bahwa larutan 4-nitrofenol terdapat di waktu
retensi sekitar 1,10 memit dengan luas area sebesar 1,57 x 107. Hal ini dapat
disimpulkan bahwa larutan 4-nitrofenol dengan konsentrasi 2 ppm akan sebanding
dengan luas area di bawah kurva sebesar 1,57 x 107. Hasil pengujian aktivitas NaBH4
terhadap larutan 4-NP dengan konsentrasi awal 8,6 x 10-5 M pada konsentrasi NaBH4
0,1 M berupa spektrum LCMS ditunjukkan pada Lampiran 7 Gambar 13.
Lampiran 7 Gambar 13 memperlihatkan bahwa reduksi 4-NP dengan
konsentrasi awal 8,6 x 10-5 M yang direduksi menggunakan NaBH4 0,1 M didapatkan
puncak di waktu retensi yang sama dengan standar 4-NP sekitar 1,11 menit. Hal ini
mengindikasikan bahwa reduksi 4-NP dengan NaBH4 telah berhasil dilakukan dengan
tidak merubah waktu retensi dari 4-NP sendiri. Pada waktu retensi 1,10 menit

didapatkan luas area sebesar 7,66 x 106 atau konsentrasi yang terkandung pada sampel
sebesar 7,15 x 10-5 M.
Hasil pengujian aktivitas katalis terhadap reduksi larutan 4-NP dengan
konsentrasi awal 8,6 x 10-5 M pada katalis zeolit aktivasi 75 mg berupa spektrum
LCMS ditunjukkan pada Lampiran 7 Gambar 14. Lampiran 7 Gambar 4.71
memperlihatkan bahwa reduksi 4-NP dengan konsentrasi awal 8,6 x 10-5 M yang
direduksi menggunakan NaBH4 0,1 M dan adanya katalis 75 mg zeolit aktivasi
didapatkan puncak di waktu retensi yang sama dengan standar 4-NP yaitu 1,10 menit.

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Hal ini mengindikasikan bahwa reduksi 4-NP dengan NaBH4 dan adanya Na-zeolit
sebagai katalis telah berhasil dilakukan dengan tidak merubah waktu retensi dari 4-NP
sendiri. Pada waktu retensi 1,10 menit didapatkan luas area sebesar 1,79 x 106 atau
konsentrasi 4-NP yang terkandung pada sampel setelah dilakukan reduksi dengan
katalis 75 mg Na-zeolit selama 30 menit sebesar 1,67 x 10-5 M. Konsentrasi yang
didapatkan dari hasil karakterisasi menggunakan
LCMS hampir sama dengan

karakterisasi menggunakan UV-Vis yaitu sekitar 1,59 x 10-5 M. Hal ini menandakan

reduksi 4-NP telah berhasil dilakukan dengan menurunkan konsentrasi 4-NP.


Tabel 4.8 Hasil karakterisasi LCMS reduksi 4-NP
Jenis Sampel

Luas Area

Standar 4-Nitrofenol

1,57 x 107

4-Nitrofenol + NaBH4

7,66 x 106

4-Nitrofenol + NaBH4 + Katalis Na-Zeolit

1,79 x 106

4.7 Karakterisasi Zeolit@Au dengan Diffuse Reflectance Spectroscopy (DRS)

60

% Reflektan

50
40

30
Zeolit Aktivasi
ZeolitAu Awal
ZeolitAu Aplikasi

20
200

300

400

500

600

700

Panjang Gelombang (nm)

Gambar 4.70 Karakterisasi DRS zeolit@Au sebelum dan setelah aplikasi sebagai
katalis reduksi 4-NP

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Gambar 4.70 memperlihatkan bahwa terjadi penurunan % reflektan di sekitar

panjang gelombang 512 nm. Hal ini mengindikasikan


bahwa terjadinya absorpsi sinar

oleh nanopartikel Au di dalam zeolit sehingga sinar yang direfleksikan menjadi


dalam nanopartikel Au timbul dari osilasi
berkurang. Absorpsi plasmon permukaan

kolektif pita elektron konduksi bebas yang


diinduksikan oleh peristiwa radiasi
elektromagnetik. Hasil DRS pada zeolit@Au
yang telah diaplikasikan sebagai katalis

reduksi 4-NP, terlihat tidak adanya perubahan puncak terhadap zeolit@Au awal. Hal

ini membuktikan bahwa senyawa 4-NP dan 4-AP telah berhasil dipisahkan (desorpsi)
kembali dari permukaan katalis zeolit@Au.

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan kesimpulan :

1. Zeolit dapat berfungsi sebagai template nanopartikel sekaligus dapat berperan aktif
sebagai katalis reduksi senyawa 4-Nitrofenol
2. Modifikasi zeolit dengan nanopartikel Au dan Ag meningkatkan laju penurunan
konsentrasi senyawa 4-Nitrofenol dan laju pembentukan senyawa 4-Aminofenol
3. Reduksi 4-NP optimum dengan Na-Zeolit pada 75 mg dengan tetapan laju penurunan
4-NP 7,31x10-2 menit-1 dan % konversi 71,50%
4. Reduksi 4-NP optimum dengan katalis Zeolit@Au pada 50 mg dengan tetapan laju
penurunan 4-NP 1,65x10-1 menit-1 dan % konversi 85.11%
5. Reduksi 4-NP optimum dengan Zeolit@Ag pada 50 mg dengan tetapan laju
penurunan 4-NP 3,37x10-2 menit-1 dan % konversi 87,36%
6. Reduksi 4-NP optimum dengan Zeolit@Ni pada 75 mg dengan tetapan laju penurunan
4-NP 4,76x10-2 menit-1 dan % konversi (30 menit) = 32.21%
7. Jenis nanopartikel (Au, Ag, dan Ni) dalam zeolit mempunyai aktivitas katalis yang
berbeda. Didapatkan urutan aktivitas katalis dalam reduksi 4-NP, yaitu zeolit@Au >
zeolit@Ag > Na-zeolit > zeolit@Ni
8. Jumlah zeolit pada Zeolit@Au dapat mempengaruhi daya katalisis senyawa 4Nitrofenol. Laju penurunan konsentrasi 4-NP optimum menggunakan perbandingan
2

g : 1x10-4 M zeolit@Au dengan % reduksi 99,13% dan % konversi 85,11 % selama


30 menit
9. Laju penurunan konsentrasi 4-NP optimum pada konsentrasi 4-NP 8,6x10-5 M
menggunakan 50 mg zeolit@Au dengan % reduksi 99,13% dan % konversi 85,11 %
selama 30 menit
10. Tetapan laju reaksi sejati reduksi 4-NP dengan katalis 50 mg zeolit@Au adalah
1,30x10-1 menit-1.
11. Reduksi 4-NP terjadi pada pseudo orde satu

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

5.2 Saran

1.

Melakukan uji reuse agar dapat mengetahui batas jenuh penggunaan dari katalis
zeolit@Nanopartikel

2.

Melakukan uji reduksi senyawa 4-Nitrofenol dengan jenis katalis bimetal yang
terimmobilisasi di dalam zeolit

3.

Memilih material alumina silika lain sebagai


template dari nanopartikel yang

mempunyai sifat yang sama dengan zeolit

4.

Katalis yang telah disintesis diaplikasikan terhadap senyawa nitroaromatik lainnya

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

DAFTAR PUSTAKA

Alexander J. Blake Dr., Neil R. Champness Dr., Andrei N. Khlobystov Dr., Simon Parsons

Dr., Martin Schrder Prof. Dr., 2000. Controlled


Assembly of Dinuclear Metallacycles

into a Three-Dimensional Helical Array. Angew. Chem. Int.Ed. 39 (2000) 2317-2320


Nonlinear Kinetic Differential Equations.
Ames, W., 1962. Correction-Canonical Forms for

Ind. Eng. Chem. Fund. 1 (4) 304304


Astruc, D.; Lu, F.; Aranzaes, J. R., 2005. Nanoparticles as Recyclable Catalysts: The Frontier
between Homogeneous and Heterogeneous Catalysis. Angew. Chem., Int. Ed. 44 (2005)
78527872
Baetzold, C. R., 2008. Effect of Size on Electron Transfer to Silver Clusters. J. Phys. Chem.
C 2008, 112, 1307013078
Bengtson, G.; Fritsch, D. 2006. Desalination 2006, 200, 666667.
Chen, Lifang; Hu, Juncheng; Qi, Zhiwen; Fang, Yunjin; Ryan Richards., 2011. Gold
Nanoparticles Intercalated into the Walls of Mesoporous Silica as a Versatile Redox
Catalyst. Ind. Eng. Chem. Res. 50 (2011) 1364213649
Chern, JM and Chien, YW, 2002. Adsorption of nitrophenol onto activated carbon: Isotherms
and breakthrough curves. Water Research, 36 (2002) 647- 655.
Dillert, R., Brandt, M., Fornefett, I., Siebers, U., Bahnemann, D., 1995. Photocatalytic
degradation of trinitrotoluene and other nitroaromatic compounds. Chemosphere 30,
23332341.

Dotzauer, D. M.; Bhattacharjee, Somnath; Wen, Ya; Bruening, M. L., 2009. NanoparticleContaining Membranes for the Catalytic Reduction of Nitroaromatic Compounds.
Langmuir 2009, 25, 1865-1871
Dotzauer, D. M.; Dai, J.; Sun, L.; Bruening, M. L., 2006. Nano Lett. 2006, 6, 22682272.
Ellis, Frank (2002). Paracetamol: a curriculum resource. Cambridge: Royal Society of
Chemistry. ISBN 0-85404-375-6

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Figueras, F., Coq, B., 2001. Hydrogenation and hydrogenolysis of nitro-, nitroso-, azo-,

azoxy- and other nitrogen-containing compounds


on palladium. J. Mol. Catal. 173,

223230.

Fuller, M.E., Kruczek, J., Schuster, R.L., Sheehan, P.L., Ariente, P.M., 2003. Bioslurry
high concentrations of 2,4,6treatment for soils contaminated with very

trinitrophenylmethylnitramine (tetryl). J. Hazard. Mater. B100, 245257.


Fuller, M.E., Schaefer, C.E, Lowey, J.M., 2006. Degradation of explosives-related
compounds using nickel catalysts. Chemosphere 67 (2007) 419427
Gates, PJ., Guaratini, T., Vessecchi, RL, Lavarda, FC, Maia Campos, PMBG, Naal, Z.,
Lopes, NP., 2004. 'New Chemical Evidence for the Ability to Generate Radical
Molecular Ions of Polyenes from ESI and HR-MALDI Mass Spectrometry', Analyst,
129, (pp. 1223-1226), 2004. ISSN: 0003-2654 10.1039/b412154f
Griebler, Christian., Afinowski, Michael., Vieth, Andrea., Richnow, H. H., Meckenstock, R.
U., 2004. Combined Application of Stable Carbon Isotope Analysis and Specific
Metabolites Determination for Assessing In Situ Degradation of Aromatic
Hydrocarbons in a Tar Oil-Contaminated Aquifer. Environ. Sci. Technol. 38 (2004)
617-631
Heropoulos, G.A.; Georgakopoulos, Spyros; Steele, B.R., 2005. High intensity ultrasoundassisted reduction of sterically demanding nitroaromatics. Tetrahedron Letters 46
(2005) 24692473
Indriati, Narita. 2011. Imobilisasi Nano Au pada Zeolit Alam serta Modifikasinya dengan
Asam 11-Merkapto Undekanoat dan L-Sistein untuk Adsorpsi Ion Logam Berat. Karya
Utama Sarjana Kimia. Departemen Kimia. FMIPA UI

Jana, N. R.; Sau, T. K.; Pal, T., 1999. Growing Small Silver Particle as Redox Catalyst. J.
Phys. Chem. B 1999, 103, 115-121.
Julbe, A.; Farrusseng, D.; Guizard, C., 2001. J. Membr. Sci. 2001, 181, 320.
Kebamoto. 2005. Gelombang Nanoteknologi. Jakara: YSM Jakarta
Lowry, G.V., Reinhard, M., 2001. Pd-catalyzed TCE dechlorination in water: effect of
[H2](aq) and H2-utilizing competitive solutes on the TCE dechlorination rate and
product distribution. Environ. Sci. Technol. 35 (2001) 696702.

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Murugadoss, A., Chattopadhyay, A., 2008. A green chitosan-silver nanoparticles composite

as a heterogeneous as well as micro-heterogeneous


catalyst. Nanotechnology 19,

015603.

Narayanan, K. B., Sakthivel, Natarajan., 2011. Heterogeneous catalytic reduction of


anthropogenic pollutant, 4-nitrophenol by silver-bionanocomposite using
Cylindrocladium floridanum. Bioresource Technology 102 (2001) 1073710740.
Narayanan, K.B., Sakthivel, N., 2011. Synthesis and characterization of nano-gold composite
using Cylindrocladium floridanum and its heterogeneous catalysis in the degradation of
4-nitrophenol. J. Hazard. Mater. 189 (2011) 519525.
Nova, Reka, 2011. Modifikasi Zeolit Alam Terimobilisasi Nanopartikel Ag dengan L-Sistein
dan Asam 3-Merkaptopropanoat sebagai Adsorben Ion Logam Berat. Karya Utama
Sarjana Kimia. Departemen Kimia. FMIPA UI
Oh, S.Y., Cha, D., Chiu, P.C., Kim, B.J., 2004. Conceptual comparison of pink water
treatment technologies: granular activated carbon, anaerobic fluidized bed, and zerovalent iron-Fenton process. Water Sci. Technol. 49 (2004) 129136.
Pocurull, E., Marce, R.M., Borrull, F., 1996. Determination of phenolic compounds in natural
waters by liquid chromatography with ultraviolet and electrochemical detection after
on-line trace enrichment. J. Chromatogr. A 738 (1996) 19.
Pradhan, Narayan., Pal, Anjali., Pal ,Tarasankar., 2002. Silver nanoparticle catalyzed
reduction of aromatic nitro compounds. Colloids and Surfaces A: Physicochemical and
Engineering Aspects 196 (2002) 247257
Reif, M.; Dittmeyer, R. 2003. Catal. Today 2003, 82, 314.

Sahiner, Nurettin; Ozay, Hava; Ozay, Ozgur; Aktas, Nahit., 2010. New catalytic route:
Hydrogels as templates and reactors for in situ Ni nanoparticle synthesis and usage in
the reduction of 2- and 4-nitrophenols. Applied Catalysis A: General 385 (2010) 201
207
Sandra.N (2010). Potensi Zeolit Klinoptilolit Termodifikasi Nanopartikel Au dan Ligan
Asam 3-Merkaptopropanoat sebagai Adsorben Ion Logam. Karya Utama Sarjana
Kimia. Departemen Kimia. FMIPA UI

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Schrick, B., Blough, J.L., Jones, A.D., Mallouk, T.E., 2002. Hydrodechlorination of

trichloroethylene to hydrocarbons using bimetallic


nickeliron nanoparticles. Chem.

Mater. 14 (2002) 51405147.

Schulz-Dobrick, M.; Sarathy, K. V.; Jansen, M., 2005. Surfactant-Free Synthesis and
Am. Chem. Soc, 127 (2005) 1281612817.
Functionalization of Gold Nanoparticles J.

Selvam, P., Sonovane, S.U., Mohapatra, S.K., Jayaram,


R.V., 2004. Selective reduction of

alkenes, a,b-unsaturated carbonyl compounds,


nitroarenes, nitroso compounds, N,N
hydrogenolysis of azo and hydrazo functions as well as simultaneous
hydrodehalogenation and reduction of substituted aryl halides over PdMCM-41 catalyst
under transfer hydrogen conditions. Tetrahedron Lett. 45 (2004) 30713075.
Sharma, N.C., Sahi, S.V., Nath, S., Parsons, J.G., Gardea-Torresdey, J.L., Pal, T., 2007.
Synthesis of plant-mediated gold nanoparticles and catalytic role of biomatrixembedded
nanomaterials. Environ. Sci. Technol. 41 (2007) 51375142.
Shen, W., Liu, W., Zhang, J., Tao, J., Deng, H., Cao, H., Cui, Z. 2010. Cloning and
characterization of a gene cluster involved in the catabolism of p-nitrophenol from
Pseudomonas putida DLL-E4. Bioresour. Technol. 101 (2010) 75167522.
Shimizu, K., Miyamoto, Y., Satsuma, A., 2010. Size- and support-dependent silver cluster
catalysis for chemoselective hydrogenation of nitroaromatics. J. Catal. 270 (2010) 86
94.
Solanki, J. N.; Murthy, Z. V. P., 2010. Highly monodisperse and subnano silver particles
synthesis via microemulsion technique. Colloids Surf., A 2010, 359, 31.
Solanki, J. N.; Murthy, Z. V. P., 2011. Reduction of Nitro Aromatic Compounds over

Ag/Al2O3 Nanocatalyst Prepared in Water-in-Oil Microemulsion: Effects of Water-to-

Surfactant Mole Ratio and Type of Reducing Agent. Ind. Eng. Chem. Res. 50 (2011)
73387344.
Sunardi. (2007). Penuntun Praktikum Analisa Instrumen. Universitas Indonesia
Wei, D., Ye, Y., Jia, X., Yuan, C., Qian, W., 2010. Chitosan as an active support for
assembly of metal nanoparticles and application of the resultant bioconjugates in
catalysis. Carbohydrate Res. 345 (2010) 7481.

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Yin, Y., Xiao, Y., Liu, H.-Z., Hao, F., Rayner, S., Tang, H., Zhou, N.-Y., 2010.

Characterization of catabolic meta-nitrophenol


nitroreductase from Cupriavidus necator

JMP134. Appl. Microbiol. Biotechnol. 87 (2010) 20772085.

Yu, A. B. and Jiang, X. C., 2008. Silver Nanoplates: A Highly Sensitive Material toward
Inorganic. Langmuir. 24 (2008) 4300 4309

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

LAMPIRAN

Lampiran 1
Optimasi Sintesis Nanopartikel Ni
Tabel 1. Hubungan maks dan absorbansi terhadap variasi
konsentrasi NaBH4 pada sintesis NiNP

7,06x10-3

maks
305

A
0,535

9,09x10-3

300

0,824

1,45x10-2

299

0,104

1,67x10-2

304

2,173

4,54x10-3

301

0,0824

6,89x10-3

297

0,1336

8,33x10-3

294

1,665

NaBH4

Tabel 2. Kestabilan NiNP


Waktu
1
3
5
10
18

maks
301
310
305
300
300

A
2,1206
1,10045
0,88595
0,1095
-0,0061

122

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Universitas Indonesia

123

Lampiran 2
Standar AAS

0,045
0,04
0,035
0,03
0,025
0,02
0,015
0,01
0,005
0

Absorbansi

y = 0,0107x - 0,0032
R = 0,9975

0,5
0,45
0,4
0,35
0,3
0,25
0,2
0,15
0,1
0,05
0

y = 0,0486x + 0,0038
R = 0,9979

10

Konsentrasi (ppm)
(Sumber: Indriati, Narita,, Skripsi 2011)

Gambar 1 Grafik standar Au pada pengukuran AAS

Gambar 2 Grafik standar Ni pada pengukuran AAS

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Universitas Indonesia

124

Lampiran 3
Karakterisasi 4-Nitrofenol dan 4-Aminofenol
A = .b.C

Mencari Konsentrasi 4-Nitrofenol dari absorbansi


= 2,19 x 104 M-1cm-1

Absorbansi

1.5

y 2= 2.19x10 x - 8.46x10
R = 0.998

0.5
2

Konsentrasi 4-NP (M)

-3

8
[10-5]

Gambar 3 Grafik pengaluran variasi konsentrasi larutan 4-NP


dengan NaBH4 terhadap absorbansi pada panjang gelombang
maksimum (400 nm)

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Universitas Indonesia

125

A = .b.C
Mencari konsentrasi 4-Aminofenol dari absorbansi

Absorbansi

0.15

0.1

0.05
y = 2,38x103 x + 6,67x10 -3
R2= 0,995

0
0

Konsentrasi 4-AP (M)

6
[10-5]

Gambar 4 Grafik pengaluran variasi konsentrasi larutan 4-NP


dengan NaBH4 terhadap absorbansi pada panjang gelombang
maksimum (300 nm)

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Universitas Indonesia

126

Menentukan % Reduksi dan % Konversi

(Absorbansi 400 nm)

(Absorbansi 300 nm)

Dengan asumsi pada t = 0 konsentrasi produk 4-aminofenol 0 M dan reaksi selesai (100% terbentuk) karena proses ini berupa orde satu,
jadi asumsi 100% produk 8,6 x 10-5 M 4-aminofenol

Abs = 0,2114

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Universitas Indonesia

127

-5

Tabel 3. Data hasil reduksi senyawa 4-NP 8,6 x 10 M dengan NaBH4 0,1 M dan 5 mg Na-Zeolit terhadap waktu
Waktu
(menit)
0
7
13
18
25
31

Absorbansi
(max 400 nm)
1,89395
1,71605
1,69535
1,6866
1,6687
1,648

Konsentrasi
(x 10-5 M)
8,68857
7,8761
7,78156
7,7416
7,65985
7,56531

% Reduksi
0
9,393067399
10,48602128
10,94801869
11,8931334
12,98608728

Absorbansi
(max 300 nm)
0,09195
0,09505
0,09235
0,1136
0,1077
0,179

Baseline
0
0,0031
0,0004
0,02165
0,01575
0,08705

Konsentrasi
(x 10-5 M)
3,58319
3,71345
3,60
4,49286
4,24496
7,24076

% Konversi
0
1,46641438
0,189214759
10,24124882
7,450331126
41,17786187

Tabel 4. Data hasil reduksi senyawa 4-NP 8,6 x 10-5 M dengan NaBH4 0,1 M dan 10 mg Na-Zeolit terhadap waktu
Waktu
(menit)

Absorbansi
(max 400 nm)

Konsentrasi
(x 10-5 M)

% Reduksi

0
7
13
18
25
31

1,89395
1,71945
1,5643
1,4961
1,43025
1,42695

8,68857
7,89162
7,18305
6,87157
6,57083
6,55576

0
9,21
17,41
21,01
24,48
24,66

Absorbansi
(max 300
nm)
0,09195
0,09945
0,1093
0,1141
0,11425
0,14695

Baseline

Konsentrasi
(x 10-5 M)

% Konversi

0
0,0075
0,01735
0,02215
0,0223
0,055

3,58
3,9
4,31
4,51
4,52
5,89

0
3,55
8,21
10,48
10,55
26,02

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Universitas Indonesia

128

-5

Tabel 5. Data hasil reduksi senyawa 4-NP 8,6 x 10 M dengan NaBH4 0,1 M dan 25 mg Na-Zeolit terhadap waktu
Waktu
(menit)
0
7
13
18
25
31

Absorbansi
(max 400 nm)
1,89395
1,62155
1,15705
1,11945
1,1117
1,10035

Konsentrasi
(x 10-5 M)
8,68857
7,44451
5,32312
5,1514
5,116
5,06417

% Reduksi
1,17239E-14
14,38263946
38,90810211
40,893371
41,30256871
41,90184535

Absorbansi
(max 300 nm)
0,09195
0,12255
0,15005
0,16045
0,1627
0,17235

Baseline
0
0,0306
0,0581
0,0685
0,07075
0,0804

Konsentrasi
(x 10-5 M)
3,58319
4,86891
6,02437
6,46134
6,55588
6,96134

% Konversi
0
14,47492904
27,48344371
32,40302744
33,46736045
38,03216651

Tabel 6. Data hasil reduksi senyawa 4-NP 8,6 x 10-5 M dengan NaBH4 0,1 M dan 50 mg Na-Zeolit terhadap waktu
Waktu
(menit)
0
6
15
19
25
31
37

Absorbansi
(max 400 nm)
1,89395
1,5361
0,74135
0,5628
0,4426
0,413
0,411

Konsentrasi
(x 10-5 M)
8,68857
7,05426
3,4246
2,60915
2,06019
1,92501
1,91588

% Reduksi
0
18,89
60,86
70,28
76,63
78,19
78,30

Absorbansi
(max 300 nm)
0,09195
0,1341
0,20535
0,2068
0,2166
0,214
0,227

Baseline
0
0,04215
0,1134
0,11485
0,12465
0,12205
0,13505

Konsentrasi
(x 10-5 M)
3,58319
5,3542
8,3479
8,40882
8,82059
8,71134
9,25756

% Konversi
0
19,9385052
53,64238411
54,32828761
58,9640492
57,73415326
63,88363292

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Universitas Indonesia

129

-5

Tabel 7. Data hasil reduksi senyawa 4-NP 8,6 x 10 M dengan NaBH4 0,1 M dan 75 mg Na-Zeolit terhadap waktu
Waktu
(menit)
0
6
15
19
25
31
37

Absorbansi
(max 400 nm)
1,89395
1,42255
0,7332
0,50755
0,37005
0,33675
0,33015

Konsentrasi
(x 10-5 M)
8,68857
6,53567
3,38738
2,35682
1,72885
1,57677
1,54663

% Reduksi
1,17E-14
24,88978
61,28726
73,20151
80,46147
82,2197
82,56818

Absorbansi
(max 300 nm)
0,09195
0,16355
0,2112
0,21255
0,24405
0,25275
0,27215

Baseline
0
0,0716
0,11925
0,1206
0,1521
0,1608
0,1802

Konsentrasi
(x 10-5 M)
3,58319
6,5916
8,5937
8,65042
9,97395
10,3395
11,1546

% Konversi
0
33,86944182
56,40964995
57,04824976
71,94891202
76,06433302
85,24124882

Tabel 8. Data hasil reduksi senyawa 4-NP 8,6 x 10-5 M dengan NaBH4 0,1 M dan 5 mg Zeolit@Au terhadap waktu
Waktu
(menit)
0
7
11
15
19
23

Absorbansi
Konsentrasi
Absorbansi
% Reduksi
Baseline
(max 400 nm) (x 10-5 M)
(max 300 nm)
1,89395
8,69
0
0,09195
0
1,8692
8,58
1,306793
0,0982
0,00625
1,81025
8,31
4,419335
0,10125
0,0093
1,77415
8,14
6,325405
0,11015
0,0182
1,78905
8,21
5,538689
0,14405
0,0521
1,79565
8,24
5,190211
0,16065
0,0687

Konsentrasi
(x 10-5 M)
3,58319
3,8458
3,97395
4,3479
5,77227
6,46975

% Konversi
0
2,956481
4,399243
8,609272
24,64522
32,49763

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Universitas Indonesia

130

-5

Tabel 9. Data hasil reduksi senyawa 4-NP 8,6 x 10 M dengan NaBH4 0,1 M dan 10 mg Zeolit@Au terhadap waktu
Waktu
(menit)
0
6
11
13
15
17

Absorbansi
(max 400 nm)
1,89395
1,8334
1,76855
1,74025
1,7139
1,69935

Konsentrasi
(x 10-5 M)
8,69
8,41
8,12
7,99
7,87
7,8

%
Reduksi
0
3,197022
6,621083
8,115315
9,506587
10,27482

Absorbansi
Konsentrasi
Baseline
(max 300 nm)
(x 10-5 M)
0,09195
0
3,58
0,1124
0,02045
4,44
0,11855
0,0266
4,7
0,12625
0,0343
5,02
0,1269
0,03495
5,05
0,12335
0,0314
4,9

%
Konversi
0
9,673605
12,58278
16,22517
16,53264
14,85336

Tabel 10. Data hasil reduksi senyawa 4-NP 8,6 x 10-5 M dengan NaBH4 0,1 M dan 25 mg Zeolit@Au terhadap waktu
Waktu
(menit)
0
5
9
11
13
14
15

Absorbansi
(max 400 nm)
1,89395
1,195
0,88665
0,74195
0,65075
0,6
0,5687

Konsentrasi
(x 10-5 M)
8,69
5,5
4,09
3,43
3,01
2,78
2,64

%
Reduksi
0
36,90435
53,18514
60,82526
65,64059
68,32018
69,97281

Absorbansi
(max 300 nm)
0,09195
0,156
0,18765
0,19195
0,19975
0,2
0,2007

Baseline
0
0,06405
0,0957
0,1
0,1078
0,10805
0,10875

Konsentrasi
(x 10-5 M)
3,58
6,27
7,6
7,78
8,11
8,12
8,15

%
Konversi
0
30,29801
45,26963
47,30369
50,99338
51,11164
51,44276

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Universitas Indonesia

131

-5

Tabel 11. Data hasil reduksi senyawa 4-NP 8,6 x 10 M dengan NaBH4 0,1 M dan 50 mg Zeolit@Au terhadap waktu
Waktu
(menit)
0
11
14
16
18
20

Absorbansi
(max 400 nm)
1,89395
0,3205
0,17965
0,11735
0,09465
0,08785

Konsentrasi
(x 10-5 M)
8,69
1,5
8,59
5,75
4,71
4,4

%
Reduksi
0
83,07769
90,51453
93,80395
95,00251
95,36155

Absorbansi
(max 300 nm)
0,09195
0,2325
0,24965
0,29235
0,26365
0,24685

Baseline
0
0,14055
0,1577
0,2004
0,1717
0,1549

Konsentrasi
(x 10-5 M)
3,58
9,49
10,2
12,0
10,8
10,1

%
Konversi
0
66,48534
74,59792
94,79659
81,22044
73,27342

Tabel 12. Data hasil reduksi senyawa 4-NP 8,6 x 10-5 M dengan NaBH4 0,1 M dan 75 mg Zeolit@Au terhadap waktu
Waktu
(menit)
0
4
6
7
8
9
10

Absorbansi
(max 400 nm)
1,89395
0,92
0,714
0,6113
0,54275
0,52125
0,52325

Konsentrasi
(x 10-5 M)
8,69
4,24
3,3
2,83
2,52
2,42
2,43

%
Reduksi
0
51,42427
62,30101
67,72354
71,34296
72,47815
72,37255

Absorbansi
(max 300 nm)
0,09195
0,197
0,238
0,2273
0,22475
0,24125
0,28725

Baseline
0
0,10505
0,14605
0,13535
0,1328
0,1493
0,1953

Konsentrasi
(x 10-5 M)
3,58
8
9,72
9,27
9,16
9,86
11,8

%
Konversi
0
49,69253
69,08704
64,02554
62,8193
70,62441
92,38411

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Universitas Indonesia

132

-5

Tabel 13. Data hasil reduksi senyawa 4-NP 8,6 x 10 M dengan NaBH4 0,1 M dan 5 mg Zeolit@Ag terhadap waktu
Waktu
(menit)
0
2
5
15
24
25

Absorbansi
(max 400 nm)
1,89395
1,9065
1,8821
1,8329
1,78445
1,7835

Konsentrasi
(x 10-5 M)
8,69
8,75
8,63
8,41
8,19
8,18

% Reduksi
0
-0,66263629
0,625676496
3,223421949
5,781567623
5,831727342

Absorbansi
(max 300 nm)
0,09195
0,1025
0,1011
0,1069
0,10445
0,10535

Baseline
0
0,01055
0,00915
0,01495
0,0125
0,0134

Konsentrasi
(x 10-5 M)
3,58E-05
4,03E-05
3,97E-05
4,21E-05
4,11E-05
4,15E-05

% Konversi
0
4,990539262
4,328287606
7,071901608
5,912961211
6,338694418

Tabel 14. Data hasil reduksi senyawa 4-NP 8,6 x 10-5 M dengan NaBH4 0,1 M dan 10 mg Zeolit@Ag terhadap waktu
Waktu
(menit)
0
3
16
20
23
25

Absorbansi
(max 400 nm)
1,89395
1,87415
1,6957
1,6245
1,57135
1,55765

Konsentrasi
(M)
8,69E-05
8,6E-05
7,78E-05
7,46E-05
7,22E-05
7,15E-05

% Reduksi
0
1,045434146
10,46754138
14,22688033
17,03318461
17,75654056

Absorbansi
(max 300 nm)
0,09195
0,09815
0,1207
0,1215
0,11335
0,12465

Baseline
0
0,0062
0,02875
0,02955
0,0214
0,0327

Konsentrasi
(M)
3,58E-05
3,84E-05
4,79E-05
4,82E-05
4,48E-05
4,96E-05

%
Konversi
0
2,93282876
13,5998108
13,9782403
10,1229896
15,4683065

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Universitas Indonesia

133

-5

Tabel 15. Data hasil reduksi senyawa 4-NP 8,6 x 10 M dengan NaBH4 0,1 M dan 25 mg Zeolit@Ag terhadap waktu
Waktu
(menit)
0
3
16
20
21
22

Absorbansi
(max 400 nm)
1,89395
1,87145
1,3672
1,25885
1,21715
1,1931

Konsentrasi
(M)
8,69E-05
8,59E-05
6,28E-05
5,79E-05
5,6E-05
5,49E-05

%
Absorbansi
Reduksi (max 300 nm)
0
0,09195
1,1879933
0,12445
27,812244
0,1852
33,533092
0,18085
35,734839
0,20115
37,004672
0,2011

Baseline
0
0,0325
0,09325
0,0889
0,1092
0,10915

Konsentrasi
(M)
3,58E-05
4,95E-05
7,5E-05
7,32E-05
8,17E-05
8,17E-05

% Konversi
0
15,37369915
44,11069063
42,05298013
51,65562914
51,63197729

Tabel 16. Data hasil reduksi senyawa 4-NP 8,6 x 10-5 M dengan NaBH4 0,1 M dan 50 mg Zeolit@Ag terhadap waktu
Waktu
(menit)
0
5
17
20
21
22

Absorbansi
(max 400 nm)
1,89395
1,45185
0,75725
0,5933
0,517
0,49255

Konsentrasi
(M)
8,69E-05
6,67E-05
3,5E-05
2,75E-05
2,4E-05
2,29E-05

%
Reduksi
0
23,34275
60,01742
68,67394
72,70255
73,99351

Absorbansi
(max 300 nm)
0,09195
0,14785
0,22225
0,2643
0,274
0,28055

Baseline
0
0,0559
0,1303
0,17235
0,18205
0,1886

Konsentrasi
(M)
3,58E-05
5,93E-05
9,06E-05
0,000108
0,000112
0,000115

% Konversi
0
26,44276254
61,63670766
81,52790918
86,11636708
89,21475875

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Universitas Indonesia

134

-5

Tabel 17. Data hasil reduksi senyawa 4-NP 8,6 x 10 M dengan NaBH4 0,1 M dan 75 mg Zeolit@Ag terhadap waktu
Waktu
(menit)
0
9
17
20
21
22

Absorbansi
(max 400 nm)
1,89395
1,0212
0,56935
0,494
0,4817
0,4762

Konsentrasi
(M)
8,69E-05
4,7E-05
2,64E-05
2,29E-05
2,24E-05
2,21E-05

%
Reduksi
0
46,08094
69,93849
73,91695
74,56638
74,85678

Absorbansi
(max 300 nm)
0,09195
0,2402
0,30435
0,327
0,3537
0,3592

Baseline
0
0,14825
0,2124
0,23505
0,26175
0,26725

Konsentrasi
(M)
3,58E-05
9,81E-05
0,000125
0,000135
0,000146
0,000148

% Konversi
0
70,12771996
100,4730369
111,1873226
123,8174078
126,4191107

Tabel 18. Data hasil reduksi senyawa 4-NP 8,6 x 10-5 M dengan NaBH4 0,1 M dan 5 mg Zeolit@Ni terhadap waktu
Waktu
(menit)
0
6
10
13
15
18

Absorbansi
(max 400 nm)
1,89395
1,80305
1,7429
1,70855
1,6798
1,65425

Konsentrasi
(M)
8,69E-05
8,27E-05
8E-05
7,84E-05
7,71E-05
7,59E-05

%
Reduksi
0
4,799493
7,975395
9,789065
11,30706
12,65609

Absorbansi
(max 300 nm)
0,09195
0,1107
0,10945
0,1097
0,11035
0,11245

Baseline
0
0,01875
0,0175
0,01775
0,0184
0,0205

Konsentrasi
(M)
3,58E-05
4,37E-05
4,32E-05
4,33E-05
4,36E-05
4,44E-05

%
Konversi
0
8,869442
8,278146
8,396405
8,703879
9,697256

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Universitas Indonesia

135

-5

Tabel 19. Data hasil reduksi senyawa 4-NP 8,6 x 10 M dengan NaBH4 0,1 M dan 10 mg Zeolit@Ni terhadap waktu
Waktu
(menit)
0
6
13
15
17
20

Absorbansi
(max 400 nm)
1,89395
1,7267
1,68045
1,6427
1,62635
1,61345

Konsentrasi
(M)
8,69E-05
7,92E-05
7,71E-05
7,54E-05
7,47E-05
7,41E-05

%
Reduksi
0
8,830751
11,27274
13,26593
14,1292
14,81032

Absorbansi
(max 300 nm)
0,09195
0,10305
0,1079
0,10555
0,1118
0,11425

Baseline
0
0,0111
0,01595
0,0136
0,01985
0,0223

Konsentrasi
(M)
3,58E-05
4,05E-05
4,25E-05
4,15E-05
4,42E-05
4,52E-05

%
Konversi
0
5,25071
7,544939
6,433302
9,389782
10,54872

Tabel 20. Data hasil reduksi senyawa 4-NP 8,6 x 10-5 M dengan NaBH4 0,1 M dan 25 mg Zeolit@Ni terhadap waktu
Waktu
(menit)
0
5
13
18
23
26

Absorbansi
(max 400 nm)
1,89395
1,71005
1,5848
1,4797
1,42245
1,377

Konsentrasi
(M)
8,69E-05
7,85E-05
7,28E-05
6,8E-05
6,54E-05
6,33E-05

%
Reduksi
0
9,709866
16,32303
21,87228
24,89506
27,29481

Absorbansi
(max 300 nm)
0,09195
0,10205
0,1068
0,1137
0,11645
0,12

Baseline
0
0,0101
0,01485
0,02175
0,0245
0,02805

Konsentrasi
(M)
3,58E-05
4,01E-05
4,21E-05
4,5E-05
4,61E-05
4,76E-05

%
Konversi
0
4,777673
7,024598
10,28855
11,5894
13,26868

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Universitas Indonesia

136

-5

Tabel 21. Data hasil reduksi senyawa 4-NP 8,6 x 10 M dengan NaBH4 0,1 M dan 50 mg Zeolit@Ni terhadap waktu
Waktu
(menit)
0
5
10
15
20
24
25

Absorbansi
(max 400 nm)
1,89395
1,6803
1,5065
1,37345
1,25995
1,2005
1,17775

Konsentrasi
(M)
8,68857E-05
7,71282E-05
6,91907E-05
6,31143E-05
5,79307E-05
5,52156E-05
5,41766E-05

%
Reduksi
0
11,28066
20,45725
27,48225
33,47501
36,61395
37,81515

Absorbansi
(max 300 nm)
0,09195
0,0973
0,0985
0,11645
0,12195
0,1325
0,13075

Baseline
0
0,00535
0,00655
0,0245
0,03
0,04055
0,0388

Konsentrasi
(M)
3,58E-05
3,81E-05
3,86E-05
4,61E-05
4,84E-05
5,29E-05
5,21E-05

%
Konversi
0
2,530747
3,098392
11,5894
14,19111
19,18165
18,35383

Tabel 22. Data hasil reduksi senyawa 4-NP 8,6 x 10-5 M dengan NaBH4 0,1 M dan 75 mg Zeolit@Ni terhadap waktu
Waktu
(menit)
0
2
12
15
17
18
19

Absorbansi
(max 400 nm)
1,89395
1,66185
1,0328
0,86545
0,8221
0,80195
0,79285

Konsentrasi
(M)
8,69E-05
7,63E-05
4,76E-05
3,99E-05
3,79E-05
3,7E-05
3,66E-05

%
Reduksi
0
12,25481
45,46847
54,3045
56,59336
57,65728
58,13775

Absorbansi
(max 300 nm)
0,09195
0,12485
0,1488
0,15745
0,1621
0,16295
0,16285

Baseline
0
0,0329
0,05685
0,0655
0,07015
0,071
0,0709

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Konsentrasi
(M)
3,58E-05
4,97E-05
5,97E-05
6,34E-05
6,53E-05
6,57E-05
6,56E-05

%
Konversi
0
15,56291
26,89215
30,98392
33,18354
33,58562
33,53832

Universitas Indonesia

137

Lampiran 4
Optimasi Jumlah Berat Zeolit dalam Sintesis Zeolit@Au
-4

-4

HAuCl 4 1x10 M/0,5 g Zeolit

HAuCl 4 1x10 M/1 g Zeolit

0
200

0 M ENIT
4 M ENIT
10 M ENIT
13 M ENIT
15 M ENIT
17 M ENIT

Absorbansi

Absorbansi

0 M ENIT
4 M ENIT
11 M ENIT
17 M ENIT
23 M ENIT
27 M ENIT

400

600

800

Panjang Gelombang (nm)

0
200

400

600

800

Panjang Gelombang (nm)

(a)

(b)

Gambar 5. Spektrum absorpsi larutan 4-NP 8,6 x 10-5 M dengan NaBH4 0,1 M pada katalis 50 mg Zeolit@Au 0,5 g : 1x10-4 M (a); 1 g :
1x10-4 M (b)

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Universitas Indonesia

138

-5

Tabel 23. Data hasil reduksi senyawa 4-NP 8,6 x 10 M dengan NaBH4 0,1 M dan 50 mg Zeolit@Au 0,5 g : 1x10-4 M terhadap waktu
Waktu
(menit)
0
6
11
17
23
28

Absorbansi
(max 400 nm)
1,89395
1,70375
1,38
1,1828
1,00925
0,97285

Konsentrasi
(M)
8,69E-05
7,82E-05
6,34E-05
5,44E-05
4,65E-05
4,48E-05

%
Reduksi
0
10,0425
27,13641
37,54851
46,7119
48,63381

Absorbansi
(max 300 nm)
0,09195
0,18975
0,261
0,2978
0,25325
0,26885

Baseline
0
0,0978
0,16905
0,20585
0,1613
0,1769

Konsentrasi
(M)
3,58319E-05
7,69244E-05
0,000106861
0,000122324
0,000103605
0,00011016

%
Konversi
0
46,26301
79,96689
97,37465
76,30085
83,68023

Tabel 24. Data hasil reduksi senyawa 4-NP 8,6 x 10-5 M dengan NaBH4 0,1 M dan 50 mg Zeolit@Au 1 g : 1x10-4 M terhadap waktu
Waktu
(menit)
0
4
10
13
15
17

Absorbansi
(max 400 nm)
1,89395
1,71065
1,448
1,34
1,32285
1,2523

Konsentrasi
(M)
8,69E-05
7,85E-05
6,65E-05
6,16E-05
6,08E-05
5,76E-05

%
Reduksi
0
9,678186
23,54603
29,2484
30,15391
33,87893

Absorbansi
(max 300 nm)
0,09195
0,21565
0,224
0,232
0,25885
0,2133

Baseline
0
0,1237
0,13205
0,14005
0,1669
0,12135

Konsentrasi
(M)
3,58E-05
8,78E-05
9,13E-05
9,47E-05
0,000106
8,68E-05

%
Konversi
0
58,51466
62,46452
66,24882
78,94986
57,40303

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Universitas Indonesia

139

Lampiran 5
Variasi Konsentrasi 4-Nitrofenol

0.6

0.1

0.4

0 M ENIT
2 M ENIT
4 M ENIT
10 M ENIT
16 M ENIT

Absorbansi

Absorbansi

Absorbansi

0.2

0 MENIT
3 MENIT
12 M ENIT
14 M ENIT
18 M ENIT
20 M ENIT

0 MENIT
7 MENIT
10 MENIT
13 MENIT

0.5

0.2

0
200

300

400

Panjang Gelombang (nm)

500

300

400

500

600

300

400

500

600

Panjang Gelombang (nm)

Panjang Gelombang (nm)

Gambar 6. Spektrum absorpsi larutan 4-NP 1,0 x 10-5 M (a); 3,0 x 10-5 M (b); 5,0 x 10-5 M (c) dengan NaBH4 0,1 M pada katalis 50 mg
Zeolit@Au

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Universitas Indonesia

140

-5

Tabel 25. Data hasil reduksi senyawa 4-NP 1,0 x 10 M dengan NaBH4 0,1 M dan 50 mg Zeolit@Au terhadap waktu
Waktu
(menit)
0
7
10
13

Absorbansi
(max 400 nm)
0,245385
0,23635
0,2286
0,2252

Konsentrasi
(M)
1,16E-05
1,12E-05
1,08E-05
1,07E-05

%
Reduksi
0
3,681969
6,840271
8,225849

Absorbansi
(max 300 nm)
0,015
0,06335
0,0596
0,0842

Baseline
0
0,04835
0,0446
0,0692

Konsentrasi
(M)
0,0000035
2,382E-05
2,224E-05
3,258E-05

%
Konversi
0
158,6807
146,3735
227,1086

Tabel 26. Data hasil reduksi senyawa 4-NP 3 x 10-5 M dengan NaBH4 0,1 M dan 50 mg Zeolit@Au terhadap waktu
Waktu
(menit)
0
3
12
14
18
20

Absorbansi
(max 400 nm)
0,623077
0,563
0,39145
0,3587
0,31555
0,31305

Konsentrasi
(M)
2,88E-05
2,61E-05
1,83E-05
1,68E-05
1,48E-05
1,47E-05

%
Reduksi
0
9,641986
37,1747
42,43087
49,35618
49,75741

Absorbansi
(max 300 nm)
0,038
0,191
0,18045
0,2347
0,21655
0,23505

Baseline
0
0,153
0,14245
0,1967
0,17855
0,19705

Konsentrasi
(M)
1,32E-05
7,74E-05
7,3E-05
9,58E-05
8,82E-05
9,6E-05

%
Konversi
0
195,978
182,4645
251,9534
228,705
252,4017

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Universitas Indonesia

141

-5

Tabel 27. Data hasil reduksi senyawa 4-NP 5 x 10 M dengan NaBH4 0,1 M dan 50 mg Zeolit@Au terhadap waktu
Waktu
(menit)
0
2
4
10
16

Absorbansi
(max 400 nm)
1,084692
0,85025
0,8065
0,7651
0,71985

Konsentrasi
(M)
4,99E-05
3,92E-05
3,72E-05
3,53E-05
3,33E-05

%
Reduksi
0
21,61369
25,6471
29,46385
33,63554

Absorbansi
(max 300 nm)
0,071
0,20925
0,2715
0,2931
0,26285

Baseline
0
0,13825
0,2005
0,2221
0,19185

Konsentrasi
(M)
2,7E-05
8,51E-05
0,000111
0,00012
0,000108

%
Konversi
0
110,0103
159,5448
176,7327
152,6617

Lampiran 6
Reduksi 4-NP dengan Variasi NaBH4 Tanpa Katalis
Tabel 28. Data hasil reduksi senyawa 4-NP 8,6 x 10-5 M dengan NaBH4 2,16 x 10-3 M
Waktu
2
6
17
33
46
60
90
123

Abs 400 nm
1,821
1,816
1,812
1,812
1,804
1,796
1,792
1,769

Konsentrasi 4-NP
0,000155539
0,000155113
0,000154772
0,000154772
0,00015409
0,000153407
0,000153066
0,000151104

ln C
-3,80815945
-3,80935178
-3,81030801
-3,81030801
-3,81222681
-3,81415412
-3,81512099
-3,82072267

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

ln(At/A0)
0
-0,00275
-0,00495
-0,00495
-0,00938
-0,01382
-0,01605
-0,02897

Universitas Indonesia

142

Tabel 29. Data hasil reduksi senyawa 4-NP 8,6 x 10-5 M dengan NaBH4 2,5 x 10-3 M
Waktu
1
3
5
12
26

Abs 400 nm
1,8326
1,83555
1,8377
1,833
1,8107

ln (At/A0)
0
0,001608
0,002779
0,000218
-0,01202

Tabel 30. Data hasil reduksi senyawa 4-NP 8,6 x 10-5 M dengan NaBH4 2,72 x 10-3 M
Waktu
1
3
9
11

Absorbansi
2,00785
2,0143
2,01335
2,0178

ln (At/A0)
0
0,003207
0,002736
0,004943

Tabel 31. Data hasil reduksi senyawa 4-NP 8,6 x 10-5 M dengan NaBH4 1,44 x 10-2 M
Waktu
0
19
52
83
117
145
175

Absorbansi
1,89395
1,87145
1,8611
1,84075
1,81785
1,80615
1,7753

Konsentrasi 4-NP
8,69E-05
8,59E-05
8,54E-05
8,45E-05
8,34E-05
8,29E-05
8,15E-05

ln (At/A0)
0
-0,01195
-0,0175
-0,02849
-0,04101
-0,04747
-0,0647

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Universitas Indonesia

143

Lampiran 7
Ilustrasi Mekanisme Reaksi Reduksi 4-Nitrofenol

(a)

(b)

(c)

Gambar 7. Ilustrasi Mekanisme Reaksi Reduksi 4-Nitrofenol pada Zeolit@Au (a), Zeolit@Ag (b), Zeolit@Ni (c)

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Universitas Indonesia

Lampiran 8

Karakterisasi 4-Nitrofenol dengan LCMS

Gambar 8. Spektrum LCMS hasil reduksi 4-NP 8,6 x 10-5 M dengan NaBH4 0,1 M

Gambar 9. Spektrum LCMS hasil reduksi 4-NP 8,6 x 10-5 M dengan NaBH4 0,1 M dan katalis Na-zeolit

122

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Universitas Indonesia

145

Lampiran 9 Kandungan
Zeolit

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Universitas Indonesia

146

KTK dalam Zeolit


Lampiran 10 Analisis

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Universitas Indonesia

147

Lampiran 11 Analisis Kandungan


dalam Zeolit

Kinetika reduksi..., Muhammad Safaat, FMIPA UI, 2012

Universitas Indonesia