You are on page 1of 10

Mata Kuliah Mikrobiologi Lingkungan

ARCHAEBACTERIA

Disusun Oleh :
KELOMPOK 3 /

2DIV

Awanda Putri Amalia

(P2.31.33.1.15.023)

Dila Mutiara Junia

(P2.31.33.1.15.040)

Hasna Nafiah

(P2.31.33.1.15.018)

Muhammad Andrie Ardiansyah

(P2.31.33.1.15.023)

Restia Dwi Kurwanti

(P2.31.33.1.15.0

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN JAKARTA II


JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN PROGRAM STUDI D-IV TINGKAT II
Jl. Hang Jebat III/F3 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12120
Telp.(021)7397641, 7397643.Fax (021) 7397769
2016

ARCHAEBACTERIA
Archaebacteria (Yunani, archaio = kuno) adalah kelompok bakteri yang dinding selnya
tidak mengandung peptidoglikan. Namun, membrane selnya mengandung lipid. Archaebacteria
tidak dikenali sebagai bentuk kehidupan lain dari bakteri hingga tahun1977 saat Carl Woese dan
George Fox menunjukkan kingdom ini melalui analisis RNA. Archaebacteria termasuk makhluk
hidup prokariot uniseluler.
Secara umum ciri-ciri Archaebacteria adalah sebagai beriku
1. Archaea merupakan sel prokariotik
2. Dinding selnya tidak memiliki peptidoglikan (terdiri dari protein,glokoprotein atau
polisakarida)
3. Archaea kebal terhadap beberapa antibiotik yang berpengaruh padabakteri, tetapi
sensitif terhadap beberapa antibiotik yang berpengaruh pada eukarya.
4. Hidup di lingkungan ekstrim seperti lingkungan dengan kadar garamtinggi,
lingkungan panas, dan lingkungan dengan kadar asam tinggi.

1. MORFOLOGI
Berbagai arkea individu dari 0,1 mikrometer (m) sampai lebih dari 15 m dengan
diameter, dan terjadi dalam berbagai bentuk, umumnya sebagai bola, batang, spiral atau
piring. Bahkan terdapat beberapa Archaea yang memiliki bentuk tidak biasa , yaitu segitiga
dan persegi panjang.
Archaea merupakan organisme yang berukuran sangat kecil, yaitu sekitar 1.5-2.5 m
(Beveridge, 2001). Ukuran yang kecil ini memberikan keuntungan tersendiri bagi sel
tersebut. Sel yang berukuran lebih kecil memiliki luas permukaan yang lebih besar
dibandingkan dengan volume sel, jika dibandingkan dengan sel yang berukuran lebih besar.
Sehingga memiliki rasio permukaan terhadap volume lebih tinggi. Rasio permukaan/volum
memberikan beberapa akibat pada kehidupannya. Sebagai contoh pada pertukaran nutrisi, sel
yang memiliki rasio permukaan/volum lebih tinggi akan mendukung pertukaran nutrisi lebih
cepat dibanding yang lebih rendah, oleh karena itu sel yang lebih kecil akan tumbuh lebih
cepat dibandingkan dengan sel yang lebih besar karena memiliki rasio yang lebih tinggi.
Sedangkan secara genetik, hal ini dapat berdampak pada evolusi karena sel Archaea adalah
haploid, sehingga mutasi akan diekspresikan secara langsung. Sedangkan mutasi itu sendiri
adalah sumber dari suatu evolusi. Oleh sebab itu Archaea dapat lebih cepat menanggapi
perubahan lingkungan.

Gambar. Anatomi sel Archaebacteria.


2. STRUKTUR
Arkea dan bakteri memiliki struktur sel umumnya sama, tetapi komposisi sel dan
organisasi mengatur arkea terpisah. Seperti bakteri, arkea tidak memiliki membran interior
dan organel. membran sel arkea biasanya dibatasi oleh dinding sel dan mereka berenang
menggunakan satu atau lebih flagela. Secara struktural, arkea paling mirip dengan bakteri
gram-positif. Kebanyakan memiliki membran plasma dan dinding sel tunggal, dan tidak ada
ruang periplasmik; pengecualian untuk aturan umum ini adalah Ignicoccus, yang memiliki
sebuah periplasma sangat besar yang berisi vesikel bermembran dan tertutup oleh membran
luar.
a. Membran
Membran arkea terbuat dari molekul yang sangat berbeda dari molekul di bentuk
kehidupan lain, menunjukkan arkea yang terkait jauh dari bakteri dan eukariota. Dalam
semua organisme, membran sel yang terbuat dari molekul yang dikenal sebagai fosfolipid.
Molekul-molekul ini memiliki kedua bagian kutub yang larut dalam air ("kepala" fosfat), dan
bagian non-polar "berminyak" yang tidak larut dalam air (ekor lipid). Bagian-bagian yang
berbeda dihubungkan oleh gugus gliserol. Dalam air, fosfolipid mengelompok, dengan
kepala menghadap air dan ekor menghadap jauh dari air. Struktur utama dalam membran sel
adalah lapisan ganda fosfolipid ini, yang disebut lipid bilayer.
Fosfolipid ini tidak biasa dalam beberapa hal:
1. Bakteri dan eukariota memiliki membran terutama terdiri dari gliserol-lipid ester,
sedangkan arkea memiliki membran terdiri dari gliserol-lipid eter. Ikatan eter
secara kimiawi lebih tahan dari ikatan ester. Stabilitas ini mungkin membantu
arkea bertahan pada suhu ekstrem dan lingkungan yang sangat asam atau basa.

2. Gliserol yang digunakan Archaea untuk membentuk fosfolipid merupakan


stereoisomer dari gliserol yang digunakan untuk membentuk membran sel pada
bakteri dan eukaria. Stereokimia Gliserol dapat terjadi dalam dua bentuk seperti
bayangan cermin yang berhadapan satu sama lain. Pada membran sel bakteri dan
eukaria, gliserol yang menyusun membran selnya berupa D-Gliserol, sedangkan
pada arkaea berupa L-gliserol.
3. Ekor lipid arkea secara kimiawi berbeda dari organisme lain. Lipid arkea
didasarkan pada rantai samping isoprenoid dan rantai panjang dengan beberapa
sisi-cabang dan kadang-kadang bahkan cincin siklopropana atau sikloheksana.
Hal ini kontras dengan asam lemak yang ditemukan dalam membran organisme
lain, yang memiliki rantai lurus tanpa cabang atau cincin. Meskipun
isoprenoidnya memainkan peran penting dalam biokimia banyak organisme,
hanya arkea yang menggunakannya untuk membuat fosfolipid. Rantai ini
bercabang dapat membantu mencegah membran arkea dari bocor pada suhu
tinggi.
4. Dalam beberapa arkea, lapisan ganda lipid digantikan oleh sebuah monolayer.
Akibatnya, arkea menyatukan dua ekor molekul fosfolipid independen menjadi
molekul tunggal dengan dua kepala polar (bolaamphiphile); fusi ini dapat
membuat membran mereka lebih kaku dan lebih mampu menahan lingkungan
yang keras.

b. Dinding Sel
Archaea memiliki keragaman dalam hal lapisan yang menyelubungi selnya.
Beberapa Archaea memiliki lapisan protein permukaan atau S-layer. Lapisan ini
terdiri dari protein monomolekular yang identik atau lebih dikenal dengan sebutan
glikoprotein (Kandler dan Konig, 1993). Lapisan ini secara langsung berhubungan
dengan bagian luar membran plasma dan berfungsi untuk melindungi dari lisis
osmotik. Lapisan ini juga dapat berfungsi sebagai penyeleksi molekul yang dapat
masuk kedalam sel.

Gambar. S-Layer (Glikoprotein)


Selain S-Layer, diketahui beberapa Archaea juga memiliki struktur yang mirip
dengan dinding sel pada bakteri, namun berbeda dalam hal komposisi kimia
penyusunnya. Dinding sel Archaea tidak memiliki peptidoglikan namun memiliki
molekul yang mirip dengan peptidoglikan yang disebut pseudomurein.
c. Struktur Permukaan Archae

a. Pili
Fimbriae dan pili merupakan struktur filamen yang tersusun atas protein yang
memanjang dari permukaan sel dan memiliki banyak fungsi. Fimbriae memungkinkan
sel untuk menempel pada suatu permukaan. Secara umum pili mirip dengan fimbriae,
tetapi pili lebih panjang dan hanya satu atau sebagian kecil pili yang bisa melekat pada
permukaan sel. Fungsi pili itu sendiri adalah untuk memfasilitasi pertukaran gen di antara
sel pada suatu proses yang disebut sebagai konjugasi. Walaupun sebenarnya proses
konjugasi tidak selalu diperantarai oleh pili.

Gambar 11. Tanda panah menunjukkan pili pada struktur permukaan sel.
b. Cannula, Hami, Iho670 Fibers, dan Bindosome
Struktur permukaan sel Archaea terdiri dari banyak bagian, yaitu kanula, hami,
Cannula, Hami, Iho670 Fibers, dan Bindosome. Struktur permukaan tersebut tidak
banyak dibahas seperti halnya pili dan flagella, hal ini disebabkan karena sistem genetik
di dalam struktur tersebut tidak mudah untuk dipelajari dan tidak ditemukan pada semua
jenis Archaea.
c. Kanula

Kanula merupakan jaringan tubula yang sampai saat ini hanya ditemukan pada
genus Pyrodictium. Kanula berupa pipa berongga berdiameter luar 25 nm (Gambar 12)
yang sangat resisten terhadap panas dan proses denaturasi (Rieger et al., 1995).
Strukturnya hampir sama dengan struktur permukaan sel lainnya yaitu terbentuk atas
lapisan glikoprotein, yang memiliki tiga subunit glikoprotein yang homolog. Kanula
menunjukkan aktivitasnya sebagai penghubung intraseluler antar ruang periplasmik sel
yang berbeda (Nickell et al., 2003). Walaupun fungsi kanula belum diketahui secara jelas,
tetapi dapat diasumsikan bahwa dengan adanya kanula, sel dapat melakukan pertukaran
nutrisi atau bahkan materi genetik.

Gambar . Kanula (Rieger et al., 1995).


d. Hami
Struktur permukaan Archaea yang lain adalah hamus atau hami (Gambar 13).
Hami banyak ditemukan pada Archaea yang hidup di daerah suhu rendah yang
mengandung kadar sulfat tinggi (cold sulphidic springs). Strukturnya menunjukkan
filamen-filamen yang sangat kompleks dengan kenampakan seperti kawat berduri yang
ujungnya memiliki kait dengan diameter 60 nm (Moissl et al., 2005). Masing-masing sel
dikelilingi oleh sekitar 100 hami. Hami stabil pada kisaran temperatur dan pH yang luas
yaitu antara 0-70 oC dan 0,5-11,5. Hami dapat bertindak sebagai perantara proses adesi
seluler permukaan terhadap komposisi kimia yang berbeda sebagaimana adesi yang
berlangsung di antara sel. Hami juga terbukti menjadi komponen protein utama dalam
pembentukan biofilm Archaea, dimana sel membentuk susunan tiga dimensi yang
jaraknya konstan melalui proses perlekatan antar sel Archaea (Henneberger et al., 2006).

Gambar 13. (a) Sekitar 100 hami keluar secara melingkar di permukaan sel. (b)
Kenampakan kait yang berada di ujung hami. Tanda panah menunjukkan lokasi kait. (c)
Hami menunjukkan kenampakan seperti kawat berduri (Moissl et al., 2005).
e. Bindosome
Bindosome (Gambar 14) adalah struktur Archaea yang diduga mempunyai fungsi
unik pada Sulfolobus solfataricus (Albers dan Pohlschrder, 2009). Komponen struktural
bindosome yang utama adalah substrat pengikat protein (substrat binding protein/SBP)
yang diketahui sebagai glikoprotein (Elferink et al., 2001), yang disusun oleh Pilin tipe
IV seperti pada sekuen peptida sinyal dan mengandung protein khas yang diketahui
mampu membentuk struktur oligomerik pada Archaea dan bakteri. Susunan oligomerik
komplek berperan dalam penyerapan gula, hal ini dapat membantu S. solfataricus untuk
dapat tumbuh pada substrat yang bervariasi (Ng et al., 2008).
f. Iho670fibers
Pada pertengahan tahun 2009 telah dilakukan penelitian oleh Muller et al.
mengenai struktur permukaan Ignicoccus hospitalis, hasilnya menunjukkan adanya
tambahan permukaan sel baru yang kemudian diberi nama Iho670 fiber (Gambar 15).
Iho670 fiber merupakan struktur yang sangat rapuh, berbeda dengan flagella dan pili
yang memliliki struktur primer dari protein. Hal ini juga menunjukkan bahwa Iho670
fiber bukan salah satu organel sel yang motil. yang menjadi bagian menarik adalah bahwa
komponen utama Iho670 fiber disintesis oleh Pilin tipe IV seperti peptida sinyal dan
diproses oleh peptidase prepilin homolog. Karena Pilin tipe IV seperti sistem ini juga
digunakan untuk flagela, pili tertentu, dan bindosome dalam Archaea, Pilin tipe IV
menjadi jalur yang sangat banyak digunakan oleh Archaea dalam hal perakitan struktur
permukaan.
Bentuk Archaebacteria bervariasi, yaitu bulat, batang, spiral, atau tidak beraturan.
Beberapa spesies dapat dalambentuk sel tunggal, sedangkan jenis lainnya berbentuk filamen atau
koloni.Reproduksinya dilakukan dengan cara membelah diri (pembelahan biner), membentuk
tunas, atau fragmentasi. Archaebacteria sering disebut makhluk hidup ekstrimofil karenamampu

hidup di lingkungan dengan kondisi yang ekstrem. Misalnya di mata air panas dan di dasar
samudra. Semua anggota Archaebacteria merupakan makhluk hidup nonpatogen. Berdasarkan
lingkungan tempat hidupnya. kingdom ini dapat dibagi menjaditiga kelompok, yaitu metanogen,
ekstrem halofil, dan termoasidofil.
A. Metanogen
Metanogen merupakan kelompok prokariotik yang mereduksi karbondioksida
(CO2) menjadi metana (CH4) menggunakan hydrogen (H2). Metanogen merupakan
mikroorganisme anaerob, tidak memerlukan oksigen karena oksigen merupakan racun
baginya. Metanogen memiliki tempat hidup di lumpur dan rawa, tempat mikroorganisme
lain menghabiskan oksigen. Contohnya adalah Methanococcus janascii. Akibatnya gas
akan menghasilkan gas metan atau gas rawa. Beberapa spesies lain yang termasuk
kelompok metanogen hidup di lingkungan anaerob di dalam perut hewan seperti sapi,
rayap, dan herbivora lain. Contohnya adalah Succinomonas amylolytica yang hidup di
dalam pencernaan sapi dan merupakan pemecah amilum. Peran lain metanogen adalah
sebagai
pengurai, sehingga bisa
dimanfaatkan
dalam
pengolahan
kotoran
hewan
untuk
memproduksi
gas
metana,
yang
merupakan
bahan bakar alternatif.
B. HALOFIL

EKSTRIM

Halofil ekstrim merupakan kelompok prokariotik yang hidup di tempat yang asin,
seperti di Great Salt Lake (danau garam di Amerika) dan Laut Mati. Kata halofi l berasal
dari bahasa Yunani, halo yang berarti garam, dan phylos yang berarti pencinta.
Beberapa spesies sekadar memiliki toleransi terhadap kadar garam, tetapi ada pula
spesies lain yang memerlukan lingkungan yang sepuluh kali lebih asin dari air laut untuk
dapat tumbuh. Beberapa koloni halofi l ekstrim membentuk suatu buih bewarna ungu.
Warna tersebut adalah bakteriorhodopsin. Bakteriorhodopsin merupakan suatu pigmen
yang menangkap energi cahaya.

Gambar. Methanococcus sp.


C. THERMOASIDOFIL (TERMIFIL EKSTRIM)

Termofil ekstrim adalah kelompok organisme prokariotik yang hidup di


lingkungan yang panas, optimum pada suhu 60- 80 oC. Contohnya adalah Sulfolobus sp.
yang hidup di mata air panas bersulfur di Yellowstone National Park (Amerika Serikat).
Sulfolobus sp. Hidup dengan mengoksidasi sulfur untuk memperoleh energi. Karena suka
dengan panas dan asam, kelompok ini disebut juga termoasidofi l. Jenis lain yang
memetabolisme sulfur adalah organisme prokariotik yang hidup pada air bersuhu 105 oC
di dekat lubang hidrotermal di laut dalam (kawah gunung api bawah laut). Termofi l
ekstrim merupakan kelompok prokariotik yang paling dekat dengan organisme eukariotik

Gambar. Sulfolobus sp.

DAFTAR PUSTAKA
http://perpustakaancyber.blogspot.co.id/2012/12/archaebacteria-archaea-pengertian-ciri-struktursel-contoh.html
https://www.scribd.com/doc/51816828/ARCHAEBACTERIA-DAN-EUBACTERIA
http://file.upi.edu/Direktori/SPS/PRODI.PENDIDIKAN_IPA/196307011988031SAEFUDIN/Domain_Archaea.pdf
https://id.wikipedia.org/wiki/Arkea#Morfologi