You are on page 1of 3

HOME

Alat Pengetahuan 2
Kita telah mengetahui bahwa salah satu alat yang diperlukan oleh manusia untuk mengetahui
alam sekitarnya adalah pancaindra. Kehilangan satu indra akan menyebabkan hilangnya satu
ilmu yang terkait secara langsung dengan indra tersebut.

Sekarang pertanyaannya adalah, apakah jika semua indra kita


berfungsi normal maka secara otomatis kita bisa mengetahui hakikat dari sesuatu?
Jawabannya tentu saja tidak.
Dalam banyak hal pancaindra tidak bisa dijadikan sebagai patokan untuk mengetahui keapaan objek yang ingin kita ketahui. Tidak semua hal bisa diteliti dan dibawa ke laboratorium
untuk dilihat dengan mikroskop.
Orang tidak akan sanggup memperlihatkan bukti bagaimana bentuknya rindu, marah, sedih,
cinta dan lain-lain kecuali hanya menunjukkan gejala atau perumpamaan-perumpamaan yang
bisa dimengerti sebagai rasa rindu, marah, sedih dan cinta.
Jikapun sains ingin meneliti bukti-bukti dari sesuatu yang bersifat abstrak, maka sains hanya
bisa meneliti kepada effek atau kecenderungan melekul, hormon, darah atau semacamnya
yang berhubungan dengan bagian-bagian phisik atau organ tubuh seseorang.
Melihat persoalan ini, maka tentunya kita membutuhkan alat lain sebagai pendamping indra,
yaitu akal atau rasio.
Dengan rasio kita akan mampu memilah dan menguraikan semua informasi yang sudah
terekam oleh pancaindra. Dalam mengolah informasi tersebut kita biasanya membuat
katagori-katagori untuk mempermudah mengenali semua persoalan yang telah dimediasi oleh
indra tersebut. Yang ini kita masukkan kedalam katagori kuantitas dan yang itu kita
masukkan dalam katagori kualitas.
Misalnya, untuk ukuran luas persegi kita namai meter persegi, untuk ukuran jarak kita namai
meter, untuk berat kita namai kilogram dan kesemuaanya itu kita masukkan kedalam katagori
kuantitas. Ramah, suka senyum, galak dan lain-lain kita masukkan kedalam katagori kualitas.

Untuk sesuatu yang tidak bisa kita katagorikan kedalam katagori kuantitas ataupun kualitas
kita masukkan kedalam katagori relatif. Beribu-ribu perkara kita masukkan kedalam katagori
relatif dan untuk perkara-perkara yang tidak masuk kedalam katagori kuantitas, kualitas
ataupun relatif kita kelompokkan kedalam kelompok yang lain, yaitu katagori substansi.
Tentang pengkatagorian ini sendiri sebenarnya banyak pendapat dan sudut pandang sehingga
tidak semua ilmuwan seragam didalam pembuatan katagori-katagorinya. Aristoteles
misalnya, dia membuat 10 katagori dan ilmuwan yang lain mengatakan 5 katagori, Hegel
dengan katagorinya sendiri, Kant juga demikian.
Pengkatagorian ini adalah merupakan aktivitas rasio dan pemikiran yang sifatnya rasional.
Rasio memproses sesuatu dari yang sifatnya partial menjadi general dan kemudian universal.
Mungkin tidak semua dari kita mengetahui ataupun menyadari bahwa rasio memiliki
kecanggihan yang sangat luar biasa dalam urusan melepas (tajrid). Dengan mengetahui
sedikit saja kemampuan melepas (tajrid) rasio maka sesungguhnya sangat mudah untuk
mementahkan teori matrialisme yang berpangkal kepada pembuktian indrawi semata.
Kita tahu bahwa hampir semua perkara di alam objektif/alam nyata ini sebenarnya hanya ada
satu perkara dan tidak mungkin dapat dipisah-pisahkan.
Misalnya :
ada
Budi
,
ada
Alexander
5 mobil , 10 orang , 1000 supporter

ada

Kursi

Contoh yang kita lihat diatas, di alam nyata itu hanyalah satu perkara. Kita tidak bisa
pisahkan 2 hal yang berbeda pada perkara tersebut pada alam nyata.
Kita tidak bisa pisahkan antara Ada dan Budi , kita tidak mungkin mengatakan yang ini
adalah si ADA dan yang itu adalah si BUDI
Atau..
Kita tidak bisa mengatakan yang ini adalah si 5 dan yang itu adalah si MOBIL. Di alam
nyata 2 hal tersebut adalah satu kesatuan dan tidak bisa dipisahkan.
Kita tidak bisa menghadirkan ADA untuk disaksikan atau menyaksikan sesuatu tanpa
dikaitkan kepada sesuatu yang lain, seperti mobil, Alexander, Budi dan seterusnya.
Pun demikian, kita tidak bisa menghadirkan 5 untuk disaksikan atau menyaksikan kecuali di
ikatkan kepada benda objektif seperti mobil, orang, angka, supporter dan lain-lain.
Realitas yang hanya ada satu pada alam objektif tersebut bisa kita pisahkan atau lepaskan
(tajrib) menjadi 2 di alam rasio. Di alam rasio kita bisa saja menghadirkan 5 tanpa
mengikatkan kepada benda apapun. Kita bisa mengatakan 55=25 dengan tanpa mengatakan
25 mobil, motor dan lain-lain.
Sampai disini kita sudah bisa melihat bahwa, ruang gerak dan liputan yang bisa diolah oleh
rasio ternyata jauh melampaui ruang gerak yang bisa disampaikan oleh indra.

Dan secara tidak langsung kita juga sudah bisa melihat hubungan kekerabatan yang begitu
dekat antara alat indra (baca :menghadirkan mobil ) dan alat rasio ( baca :menghadirkan 5 )
untuk wilayah dan otoritas masing-masing alat mengetahui tersebut.