You are on page 1of 35

1

BAB 1
TINJAUAN TEORI
I. KONSEP DASAR KELUARGA
A. Pengertian
1. Menurut Ali (2010) mengatakan keluarga adalah dua atau lebih
individu yang bergabung karena hubungan darah, perkawinan, dan
adopsi dalam satu rumah tangga, yang berinteraksi satu dengan lainnya
dalam peran dan menciptakan serta mempertahankan suatu budaya.
2. Menurut Duval, 1997 (dalam Suprajitno, 2004) mengemukakan bahwa
keluarga adalah sekumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan
perkawinan, adopsi, dan kelahiran yang bertujuan menciptakan dan
mempertahankan budaya yang umum, meningkatkan perkembangan
fisik, mental, emosional dan sosial setiap anggota.
3. Menurut Bailon, 1978 (dalam Achjar, 2010) berpendapat bahwa
keluarga sebagai dua atau lebih individu yang berhubungan karena
hubungan darah, ikatan perkawinan atau adopsi, hidup dalam satu
rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dalam peranannya dan
menciptakan serta mempertahankan budaya.
B. Ciri-ciri Keluarga
Menurut Ali (2010) ciri-ciri keluarga di Indonesia adalah:
1. Mempunyai ikatan keluarga yang sangat erat yang dilandasi oleh
semangat kegotongroyongan.
2. Merupakan satu kesatuan utuh yang dijiwai oleh nilai budaya
ketimuran yang kental yang mempunyai tanggung jawab besar.
3. Umumnya dipimpin oleh suami sebagai kepala rumah tangga yang
dominan dalam mengambil keputusan walaupun prosesnya melalui
musyawarah dan mufakat.

4. Sedikit berbeda antara yang tinggal di pedesaan dan di perkotaan.


Keluarga di pedesaan masih bersifat tradisional, sederhana, saling
menghormati satu sama lain dan sedikit sulit menerima inovasi baru.
C. Struktur Keluarga
Menurut Effendy (1998:33), struktur keluarga terdiri dari bermacam-macam
diantaranya, adalah :
1. Patrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah
dalam beberapa generasi. Dimana hubungan ibu disusun melalui jalur
garis ayah.
2. Matrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara
sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui
jalur garis ibu.
3. Matrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga
sedarah istri.
4. Patrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga
sedarah suami.
5. Keluarga kawinan adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi
pembinaan keluarga dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian
keluarga karena adanya hubungan dengan suami atau istri.
D. Tahap dan Tugas Perkembangan Keluarga
Tahap dan siklus tumbuh kembang keluarga menurut Duval 1985 dan
Friedman 1998 dalam Adi Nurjayana (2012), ada 8 tahap tumbuh kembang
keluarga, yaitu :
1. Tahap I: Keluarga pemula
Keluarga pemula merujuk pada pasangan menikah/tahap pernikahan.
Tugas perkembangan keluarga saat ini adalah membangun perkawinan
yang saling memuaskan, menghubungkan jaringan persaudaraan secara
harmonis dan merencanakan keluarga berencana.

2. Tahap II: Keluarga sedang mengasuh anak (anak tertua bayi sampai umur 30
bulan)
Tugas perkembangan keluarga pada tahap II yaitu membentuk keluarga muda
sebagai

sebuah

unit,

mempertahankan

hubungan

perkawinan

yang

memuaskan, memperluas persahabatan dengan keluarga besar dengan


menambahkan peran orang tua kakek dan nenek dan mensosialisasikan
dengan lingkungan keluarga besar masing-masing pasangan.
3. Tahap III: Keluarga dengan anak usia pra sekolah (anak tertua berumur 2-6
tahun)
Tugas perkembangan keluarga pada tahap III yaitu memenuhi kebutuhan
anggota keluarga, mensosialisasikan anak, mengintegrasikan anak yang baru
sementara tetap memenuhi kebutuhan anak yang lainnya, mempertahankan
hubungan yang sehat dalam keluarga dan luar keluarga, menanamkan nilai dan
norma kehidupan, mulai mengenalkan kultur keluarga, menanamkan
keyakinan beragama dan memenuhi kebutuhan bermain anak.
4. Tahap IV: Keluarga dengan anak usia sekolah (anak tertua usia 6-13 tahun)
Tugas perkembangan keluarga tahap IV yaitu mensosialisasikan anak
termasuk meningkatkan prestasi sekolah dan mengembangkan hubungan
dengan teman sebaya, mempertahankan hubungan perkawinan yang
memuaskan, memenuhi kebutuhan kesehatan fisik anggota keluarga,
membiasakan belajar teratur dan memperhatikan anak saat menyelesaikan
tugas sekolah.
5. Tahap V: Keluarga dengan anak remaja (anak tertua umur 13-20 tahun)
Tugas perkembangan keluarga pada tahap V yaitu menyeimbangkan
kebebasan dengan tanggung jawab ketika remaja menjadi dewasa dan mandiri,
memfokuskan kembali hubungan perkawinan, berkomunikasi secara terbuka
antara orang tua dan anak-anak, memberikan perhatian, memberikan
kebebasan dalam batasan tanggung jawab dan mempertahankan komunikasi
terbuka dua arah.
6. Tahap VI: Keluarga yang melepas anak usia dewasa muda (mencakup anak
pertama sampai anak terakhir yang meninggalkan rumah)

Tahap ini adalah tahap keluarga melepas anak dewasa muda dengan tugas
perkembangan keluarga antara lain memperluas siklus keluarga dengan
memasukkan anggota keluarga baru yang didapat dari hasil pernikahan anakanaknya, melanjutkan untuk memperbaharui dan menyelesaikan kembali
hubungan perkawinan, membantu orang tua lanjut usia dan sakit-sakitan dari
suami dan istri.
7. Tahap VII: Orang tua usia pertengahan (tanpa jabatan atau pensiunan)
Tahap keluarga pertengahan dimulai ketika anak terakhir meninggalkan
rumah dan berakhir atau kematian salah satu pasangan. Tahap ini juga dimulai
ketika orang tua memasuki usia 45-55 tahun dan berakhir pada saat pasangan
pensiun. Tugas perkembangannya adalah menyediakan lingkungan yang
sehat, mempertahankan hubungan yang memuaskan dan penuh arah dengan
lansia dan anak-anak serta memperoleh hubungan perkawinan yang kokoh.
8. Tahap VIII: Keluarga dalam tahap pensiunan dan lansia
Dimulai dengan salah satu atau kedua pasangan memasuki masa pensiun
terutama berlangsung hingga salah satu pasangan meninggal dan berakhir
dengan pasangan lain meninggal. Tugas perkembangan keluarga adalah
mempertahankan pengaturan hidup yang memuaskan, menyesuaikan terhadap
pendapatan

yang

menurun,

mempertahankan

hubungan

perkawinan,

menyesuaikan diri terhadap kehilangan pasangan dan mempertahankan ikatan


keluarga antara generasi.
E. Tipe Keluarga
Menurut Allender dan Spradley (2001)
1. Keluarga tradisional
a. Keluarga inti (Nuclear Family) yaitu keluarga yang terdiri dari suami,
istri, dan anak kandung atau anak angkat.
b. Keluarga besar (Extended Family) yaitu keluarga inti ditambah dengan
keluarga lain yang mempunyai hubungan darah, misalnya kakek,
nenek, paman, dan bibi.

c. Keluarga dyad yaitu rumah tangga yang terdiri dari suami istri tanpa
anak.
d. Single parent yaitu rumah tangga yang terdiri dari satu orang tua
dengan anak kandung atau anak angkat yang disebabkan karena
perceraian atau kematian.
e. Single adult yaitu rumah tangga yang hanya terdiri dari seorang
dewasa saja.
f. Keluarga usia lanjut yaitu rumah tangga yang terdiri dari suami istri
yang berusia lanjut.
2. Keluarga non tradisional
a. Commune family yaitu lebih dari satu keluarga tanpa pertalian darah
hidup serumah.
b. Orang tua (ayah/ ibu) yang tidak ada ikatan perkawinan dan anak
hidup bersama dalam satu rumah.
c. Homoseksual yaitu dua individu yang sejenis kelamin hidup bersama
dalam satu rumah tangga.
F. Fungsi Keluarga
Menurut Friedman (1999) dalam Sudiharto (2007), lima fungsi dasar keluarga
adalah sebagai berikut:
1. Fungsi afektif adalah fungsi internal keluarga untuk pemenuhan kebutuhan
psikososial, saling mengasuh dan memberikan cinta kasih serta, saling
menerima dan mendukung.
2. Fungsi sosialisasi adalah proses perkembangan dan perubahan individu
keluarga, tempat anggota keluarga berinteraksi social dan belajar berperan
di lingkungan social.
3. Fungsi reproduksi adalah fungsi keluarga meneruskan kelangsungan
keturunan dan menambah sumber daya manusia.
4. Fungsi ekonomi adalah fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan
keluarga seperti sandang, pangan, dan papan.

5. Fungsi perawatan kesehatan adalah kekampuan keluarga untuk merawat


anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan.
G. Tugas Keluarga
Tugas-tugas keluarga dalam pemeliharaan kesehatan menurut Friedman
(1999) dalam Sudiharto (2007) adalah:
1. Mengenal gangguan perkembangan kesehatan setiap anggota keluarga
2. Mengambil keputusan untuk tindakan kesehatan yang tepat
3. Memberikan perawatan kepada anggota keluarga yang sakit
4. Mempertahankan suasana rumah yang menguntungkan untuk kesehatan
dan perkembangan kepribadian anggota keluarga
5. Mempertahankan hubungan timbal balik antara anggota keluarga dan
fasilitas kesehatan
H. Typologi masalah kesehatan keluarga dan diagnosa keluarga
1. Typologi Masalah Kesehatan Keluarga
Menurut Effendy (1998) dalam typologi masalah kesehatan keluarga ada 3
kelompok masalah besar yaitu:
a.

Ancaman kesehatan adalah keadaan yang dapat memungkinkan


terjadinya penyakit, kecelakaan dan kegagalan dalam mencapai potensi
kesehatan. Yang termasuk dalam ancaman kesehatan adalah penyakit
keturunan, anggota keluarga yang menderita penyakit menular, jumlah
anggota keluarga terlalu besar dan tidak sesuai dengan kemampuan
dan sumber daya keluarga, resiko terjadi kecelakaan dalam keluarga,
kekurangan atau kelebihan gizi dari masing-masing anggota keluarga,
keadaan-keadaan yang dapat menimbulkan stress, sanitasi lingkungan
buruk, kebiasaan-kebiasaan yang dapat merugikan kesehatan, sifat
kepribadian yang melekat, riwayat persalinan sulit, memainkan
peranan yang tidak sesuai, imunisasi anak tidak lengkap dan lain-lain.

b.

Kurang/ tidak sehat adalah kegagalan dalam memantapkan


kesehatan. Yang termasuk didalamnya adalah keadaan sakit sesudah

atau sebelum di diagnosa, kegagalan dalam pertumbuhan dan


perkembangan anak yang tidak sesuai dengan pertumbuhan normal.
c.

Situasi krisis adalah saat-saat yang banyak menuntut individu atau


keluarga dalam menyesuaikan diri termasuk juga dalam hal sumber
daya keluarga. Yang termasuk dalam situasi krisis adalah perkawinan,
kehamilan, persalinan, masa nifas, menjadi orang tua, penambahan
anggota keluarga, abortus, anak masuk sekolah, anak remaja,
kehilangan pekerjaan, kematian anggota keluarga dan pindah rumah.

2. Diagnosa Kebidanan
Setelah diketahui masalah kesehatan keluarga, langkah selanjutnya adalah
menegakkan diagnosa kebidanan keluarga. Berikut adalah beberapa
diagnosa kebidanan keluarga menurut Effendy (1995) antara lain:
a.

Ketidaksanggupan

mengenal

masalah

kesehatan

keluarga,

disebabkan karena:
1)

Kurang pengetahuan/ketidaktahuan fakta

2)

Rasa takut akibat masalah yang diketahui

3)

Sikap dan falsafah hidup

b. Ketidaksanggupan keluarga mengambil keputusan dalam melakukan


tindakan yang tepat, disebabkan karena:
1) Tidak memahami mengenai sifat, berat dan luasnya masalah
2) Masalah kesehatan tidak begitu menonjol
3) Keluarga tidak sanggup memecahkan masalah karena kurang
pengetahuan dan kurangnya sumber daya keluarga
4) Tidak sanggup memilih tindakan diantara beberapa pilihan
5) Ketidakcocokan pendapat dari anggota-anggota keluarga
6) Tidak tahu tentang fasilitas kesehatan yang ada
7) Takut dari akibat tindakan
8) Negative terhadap masalah kesehatan
9) Fasilitas kesehatan tidak terjangkau
10) Kurang percaya terhadap petugas dan lembaga kesehatan
11) Kesalahan informasi terhadap tindakan yang diharapkan

b. Ketidakmampuan merawat anggota keluarga yang sakit disebabkan


karena:
1)

Tidak mengetahui keadaan penyakit misalnya


sifat, penyebab, penyebaran, perjalanan penyakit, gejala dan
perawatannya serta pertumbuhan dan perkembangan anak.

2)

Tidak mengetahui tentang perkembangan


perawatan yang dibutuhkan.

3)

Kurang/tidak ada fasilitas yang diperlukan


untuk perawatan.

4)

Tidak seimbang sumber-sumber yang ada


didalam keluarga, misalnya keuangan, anggota keluarga, yang
bertanggung jawab, fasilitas fisik untuk perawatan.

5)

Sikap negative terhadap yang sakit.

6)

Konflik individu dalam keluarga

7)

Sikap dan pandangan hidup

8)

Perilaku yang mementingkan diri sendiri

c. Ketidaksanggupan
mempengaruhi

memelihara

kesehatan

lingkungan

dan

rumah

perkembangan

yang

pribadi

dapat
anggota

keluarga, disebabkanb karena:


1) Sumber-sumber keluarga tidak cukup, diantaranya keuangan,
tanggung jawab/ wewenang, keadaan fisik rumah yang tidak
memenuhi syarat
2) Kurang dapat melihat keuntungan dan manfaat pemeliharaan
lingkungan rumah
3) Ketidaktahuan pentingnya sanitasi lingkungan
4) Konflik personal dalam keluarga
5) Ketidaktahuan tentang usaha pencegahan penyakit
6) Sikap dan pandangan hidup
7) Ketidakkompakan keluarga karena sifat memerlukan kepentingan
diri sendiri, tidak ada kesepakatan, acuh terhadap anggota keluarga
yang mempunyai masalah

d. Ketidakmampuan

menggunakan

sumber

di

masyarakat

guna

memelihara kesehatan, disebabkan karena:


1)

Tidak tahu bahwa fasilitas kesehatan itu ada

2)

Tidak memahami keuntungan yang diperoleh

3)

Kurang percaya terhadap petugas kesehatan


dan lembaga kesehatan

4)

Pengalaman yang kurang baik deri petugas


kesehatan

5)

Rasa takut pada akibat dari tindakan

6)

Tidak terjangkau fasilitas yang diperlukan

7)

Tidak adanya fasilitas yang diperlukan

8)

Karena asing dan tidak adanya dukungan dari


masyarakat

9)

Sifat dan falsafah hidup

II. KONSEP DASAR KB KALENDER


KB kalender menurut Saifuddin (2010:MK-26-27) adalah:
A. Prinsip KB kalender
Senggama dihindari pada masa subur yaitu dekat dengan pertengahan
siklus haid atau terdapat tanda-tanda adanyanya kesuburan yaitu keluarnya
lendir encer dari liang vagina.
B. Manfaat
1. Dapat digunakan untuk menghindari kehamilan
2. Tidak ada resiko kesehatan yang berhubungan dengan kontrasepsi
3. Tidak ada efek samping sistemik
4. Murah atau tanpa biaya
C. Keterbatasan
1. Sebagai kontrasepsi sedang (9-20 kehamilan per 100 perempuan
selama tahun pertama pemakaian).

10

2. Keefektifan terrgantung dari kemauan dan disiplin pasangan untuk


mengikuti intstruksi.
3. Perlu pantang selama masa subur untuk menghindari kehamilan.
4. Perlu pencatatan setiap hari.
5. Infeksi vagina membuat lendir serviks sulit dinilai.
6. Tidak terlindungi dari IMS dan HIV/ AIDS
D. Cara menghitung masa subur
Sebelum menggunakan KB kalender, pasang suami istri harus
mengetahui masa subur. Siklus masa subur pada tiap wanita tidak sama.
Untuk itu perlu pengamatan minimal 6 kali siklus menstruasi.
Masa subur adalah suatu masa dalam siklus menstruasi perempuan
dimana terdapat sel telur yang matang yang siap untuk dibuahi, sehingga
bila perempuan melakukan hubungan seksual maka dimungkinkan terjadi
kehamilan.
Berikut ini cara menghitung masa subur:
1. Siklus haid teratur (28 hari)
Hari pertama dalam siklus haid dihitung sebagai hari ke-1. Masa subur
adalah hari ke-12 hingga hari ke-16 dalam siklus haid.
Contoh:
Ny S mendapat haid mulai tanggal 9 Januari. Tanggal 9 Januari
dihitung sebagai hari ke-1. Maka hari ke-12 jatuh pada tanggal 20
Januari dan hari ke 16 jatuh pada tanggal 24 Januari. Jadi masa subur
yaitu sejak tanggal 20 Januarihingga tanggal 24 Januari. Pada tanggal
tersebut tidak boleh bersenggama. Bila ingin bersenggama harus
menggunakan kondom atausenggama terputus (senggama dimana tidak
mengeluarkan sperma didalam.
2. Siklus haid tidak teratur
Catat jumlah hari dalam satu siklus haid selama 6 bulan (6 siklus).
Satu siklus haid dihitungmulai dari hari pertama haid saat ini hingga
hari pertamahaid berikutnya, catat panjang pendeknya.

11

Untuk perhitungan masa subur dipakai rumus siklus terpajang


dikurangi 11 siklus terpendek dikurangi 18.
Diantara kedua waktu tersebut, senggama dihindari.
Contoh:
Ny N mempunyai siklus terpendek 19 hari dan siklus panjang 28 hari.
Haid terakhir berhenti tanggal 20 Januari 2014, kapan masa
berpantangnya?
28-11=17
19-18=1
20+1=21 dan 20+17=37
Maka masa berpantangnya adalah 17 hari yaitu antara 21 Januari
sampai 6 Februari.
III. KONSEP DASAR POSYANDU
A. Pengertian Posyandu
Posyandu adalah pusat kegiatan masyarakatdalam upaya pelayanan
kesehatan dan keluarga berencana. Posyandu adalah pusat pelayanan
keluarga berencana dan kesehatan yang dikelola dan diselenggarakan
untuk dan oleh masyarakat dengan dukungan teknis dari petugas
kesehatan dalam rangka pencapaian NKKBS.
B. Tujuan penimbangan
Penimbangan balita dimaksudkan untuk memantau pertumbuhan setiap
bulan.
C. Manfaat penimbangan
1. Untuk mengetahui apakah balita tumbuh sehat
2. Untuk mengetahui dan mencegah gangguan pertumbuhan balita.
3. Untuk mengetahui balita yang sakit, (demam, batuk, pilek, diare),
berat badan 2 bulan berturut-turut tidak naik, balita yang berat
badannya BGM dan dicurigai gizi buruk sehingga dapat segera
dirujuk ke Puskesmas.
4. Untuk mengetahui kelengkapan imunisasi.
5. Untuk mendapatkan penyuluhan.
D. Pelaksanaan

12

Penimbangan dilakukan setiap bulan sampai umur 5 tahun di Posyandu.


E. Cara mengetahui pertumbuhan dan perkembangan balita
Setelah balita ditimbang, hasil penimbangan dicatat di buku KIA atau
KMS, maka akan terlihat berat badan anak naik atau tidak.
1. Naik bila
a. Garis pertumbuhannya naik mengikuti salah satu pitawarna pada
KMS.
b. Garis pertumbuhannya pindah ke pita warna diatasnya
2. Tidak naik bila
a. Garis pertumbuhannya menurun
b. Garis pertumbuhannya mendatar
c. Garis pertumbuhannya naik tapi pindah ke pita warna yang lebih
muda
F. Gizi buruk
Tanda-tanda balita gizi kurang
1. Berat badan tidak naik selama 3 bulan berturut-turut, badannya kurus
2. Mudah sakit
3. Tampak lesu dan lemah
4. Mudah menangis dan rewel
Jenis gizi buruk pada balita
1. Marasmus
a. Tampak sangat kurus
b. Wajah seperti orang tua
c. Cengeng, rewel, apatis
d. Iga gambang, perut cekung
e. Otot pantat mengendor
f. Pengeriputan otot lengan dan tungkai
2. Kwashiorkor
a. Edema seluruh tubuh (terutama pada punggung kaki)
b. Wajah bulat dan sembab
c. Cengeng, rewel, apatis
d. Perut buncit
e. Rambut kusam dan mudah dicabut
f. Bercak kulit yang luas dan kehitaman/ bintik kemerahan
3. Marasmik kwashiorkor
Gejalanya meliputi campuran gejala marasmus dan kwashiorkor
IV. KONSEP DASAR DIABETES MILITUS
A. Pengertian

13

Diabetes melitus (DM) adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai


berbagai

kelainan

metabolik

akibat

gangguan

hormonal,

yang

menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf dan


pembuluh darah disertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan
dengan mikroskop elektron (Mansjoer, 2000:580).
B. Penyebab
Penyebab DM menurut Imim (2000) adalah:
a. Riwayat keluarga yang memiliki DM
b. Obesitas
c. Usia resistensi insulin cenderung meningkat pada usia 65 tahun
keatas
d. Konsumsi alkohol
C. Tanda dan gejala
Gejala yang khas polifagia (banyak makan), poliuri (sering BAK),
polidipsi (banyak minum), lemas dan berat badan turun. Gejala lain yang
mungkin dikeluhkan pasien adalah kesemutan, gatal, mata kabur dan
impotensi pada pria serta pruritus pada wanita (Mansjoer, 2000:580).
D. Komplikasi
Komplikasi DM menurut Imim (2000) adalah:
1. Penyakit jantung, penyakit stroke
2. Kerusakan ginjal
3. Infeksi pada kulit
4. Kebutaan
E. Pengobatan dan pencegahan DM
Pengobatan dan pencegahan DM menurut Sidrwan (2002) adalah:
1. Mengatur makanan yang sehat
2. Menjalani pemeriksaan gula darah

14

3. Berolahraga secara teratur


4. Menjaga keseimbangan berat badan
5. Menggunakan obat sesuai anjuran dokter
F. Gizi seimbang untuk penderita DM
Gizi seimbang untuk penderita DM menurut Sidarwan (2002) adalah:
1. Makanlah beranekaragam makanan
a. Sumber zat tenaga (karbohidrat, lemak)
b. Sumber zat pembangun (protein)
c. Sumber zat pengatur (vitamin dan mineral)
2. Makanlah makanan untuk memenuhi kecukupan energi
3. Makanlah makanan yang mengandung sumber karbohidrat berserat
4. Gunakan garam beryodium 1 sendok
5. Minum air putih lebih dari 8 gelas
6. Hindari minuman beralkohol dan rokok

V. KONSEP DASAR MENSTRUASI


A. Pengertian
Menstruasi adalah perdarahan secara periodic dan siklik dari uterus
disertai pelepasan/deskuamasi endrometrium. Menstruasi adalah siklus
alami yang terjadi secara reguler untuk mempersiapkan tubuh wanita
setiap bulannya terhadap kehamilan (Purwanti, 2011).
Menstruasi merupakan ciri kedewasaan wanita, terjadi pertama kali pada
usia 9-12 tahun. Cepat atau lambanya usia untuk menstruasi sangat
dipengaruhi oleh berbagai faktor misalnya kesehatan remaja, nutrisi,berat
badan, kondisi psikologi remaja (Purwati, 2011).
B. Proses menstruasi

15

Siklus menstruasi adalah jarak antara tanggal mulainya menstruasi yang


lalu sampai menstruasi berikutnya. Siklus menstruasi terdiri dari 4 stadium
yaitu:
1. Fase menstruasi
Pada masa ini endometrium dicampakan dari dinding rahim disertai
perdarahan , hanya lapisan tipis saja yang tinggal yang disebut strtus
basale, stadium ini berlangsung 4 hari.
2. Fase regenerasi
Luka yang terjadi akibat pelepasan endometrium berangsur-angsur
ditutup kembali oleh selaput lendir baru yang berasal dari sel epitel
kelenjar-kelenjar endometrium.
3. Fase proliferasi
Pada masa ini endometrium menjadi tebal 3,5 mm. Kelenjar-kelenjar
tumbuh lebih cepat dari jaringan lain hingga berkelok. Stadium
proliferasi berlangsung dari hari ke-5 sampai hari ke-14 dari hari
pertama haid.
4. Fase sekresi
Pada fase ini endometrium kira-kira tetap tebalnya tapi bentuk
kelenjarnya berubah menjadi panjang dan berliku serta mengeluarkan
getah. Dalam endometrium sudah tertimbun glycogen dan kapur yang
kelak diperlukan sebagai makanan untuk telur.
Sastrawinata (1983:74-75)
C. Kelainan yang muncul saat menstruasi
Menurut Purwati (2011) kelainan yang muncul saat menstruasi adalah:
1. Amenore
Tidak haid sama sekali
2. Menoragia
Perdarahan yang berlebihan
3. Polimenore
Siklus haid yang terlalu sering, haid lebih dari 1 kali dalam 1 bulan

16

4. Oligomenore
Siklus haid terlalu lama/panjang, siklus haid berlangsung lebih dari 1
bulan
5. Dismenore
Nyeri yang terjadi saat haid, nyeri diartikan sebagai suatu keadaan
yang tidak menyenangkan akibat terjadinya rangsangan fisik maupun
dari serabut saraf dalam tubuh ke otak dan diikuti oleh fisik, psikologi
maupun emosional.
D. Perilaku yang sehat saat menstruasi
1. Pemakaian pembalut wanita
Pemakaian pembalut saat haid digunakan untuk menampung darah
haid, agar remaja tetap dapat melakukan aktifitas dengan maksimal.
Cara yang benar dalam penggunakan pembalut adalah minimal 3 kali
ganti dalam 24 jam. Penggunakan pembalut yang terlalu lama tidak
dianjurkan. Hal ini dikarenakan penggunakan pembalut terlalu lama
dapat menyebabkan kebocoran dan meninggalkan noda darah di
pakaian yang akan menurunkan rasa percaya diri remaja. Vagina juga
akan menjadi lembab dan meningkatnya resiko terjadinya infeksi.
Dianjurkan penggunakan pembalut yang tidak terlalu

tebal tapi

mampu menyerap dan menampung darah haid dalam jumlah yang


banyak
2. Hendaknya saat mandi membersihkan daerah kemaluan dengan
menggunakan sabun dari arah kemaluan ke dubur.

17

ASUHAN KEBIDANAN PADA KELUARGA TN B


DENGAN PASANGAN USIA SUBUR YANG TIDAK KB
DI DESA SUKOMORO KECAMATAN SUKOMORO
MAGETAN
A. Pengkajian
Tanggal pendataan

: 18 Januari 2014

Tempat pendataan

: Rmh Tn. B RT: 1 RW: 1 Desa Sukomoro

1. Data Umum
a. Susunan keluarga
Nama kepala keluarga

: Tn. B

Umur

: 45 tahun

Agama

: Islam

Suku/bangsa

: Jawa/Indonesia

18

Pendidikan

: SMA

Pekerjaan

: Karyawan pabrik di Surabaya

Penghasilan

: Rp. 1000.000,-/bln

Tipe keluarga

: Nuclear family

Peranan dalam masyarakat

: Anggota masyarakat

Hubungan dalam keluarga

: Harmonis

No

Nama

1.
2.
3.
4.
5.

Tn. B
Ny. S
An. DA
An. DIN
An. DIM

L/
P
L
P
L
P
L

Umur
45 th
43 th
16 th
10 th
2 th

Hubungan
keluarga
Kep. Keluarga
Istri
Anak kandung
Anak kandung
Anak kandung

Pendidikan Pekerjaan Agama


terakhir
SMA
Karyawan Islam
SMA
IRT
Islam
SMP
Islam
Islam
Islam

b. Status marital
Tn. B

Ny. S

Berapa kali menikah

: 1 kali

1 kali

Usia menikah

: 28 th

26 th

Lama menikah

: 17 th

17 th

c. Genogram
18

Keterangan :

19

: Laki-laki
: Perempuan
: Garis perkawinan
: Garis keturunan
: Dalam 1 rumah
*

: Menderita DM

2. Keadaan Kesehatan Keluarga


a. Kesakitan dan kematian dalam satu tahun terakhir
Ibu menderita penyakit DM sejak 2 tahun yang lalu, sudah berobat ke
Puskesmas. Terapi yang diberikan gliben (1x1 tab) diminum setiap
pagi dan metformin (1x1 tab) diminum setiap siang. Ibu rutin minum
obat sesuai anjuran dokter. Cek gula darah terakhir tanggal 10 Januari
2014, hasil 325. Anak ketiga sedang menderita sariawan dan
hordeulum. Sudah dibawa ke Puskesmas dan mendapat obat, diminum
sesuai anjuran dokter. Dalam satu tahun terakhir, anggota keluarga
lain tidak ada yang menderita penyakit parah. Pernah mengalami
batuk, pilek, panas dan sembuh setelah berobat ke puskesmas. Tidak
ada kematian dalam 1 tahun terakhir.
b. Riwayat Kebidanan
1) Haid
Ibu menarch usia 13 tahun, lama haid 4-5 hari, siklus teratur,
konsistensi encer, tidak mengalami nyeri saat haid, tidak pernah
mengalami keputihan yang berwarna kehijauan, berbau dan gatal
sebelum dan sesudah haid.
HPHT: 10 Januari 2014
An. DIN belum mendapat menstruasi. Anak sudah mengetahui
tentang apa menstruasi karena sudah mendapat pelajaran di
sekolah tentang kesehatan reproduksi.
2) Riwayat kehamilan
Kehamilan

Periksa

Terapi

Keluhan

20

Rutin

Fe,

kalk, Keluhan mual muntah dan

multivitamin
II

Rutin

Fe,

bulan
kalk, Keluhan mual muntah dan

multivitamin
III

Rutin

Fe,

berakhir usia kehamilan 4

berakhir usia kehamilan 3

bulan
kalk, Tidak ada keluhan

multivitamin
3) Persalinan
Persalinan

Usia

Proses

kehamilan persalinan
9
bulan Normal

lebih

lebih

lebih

BBL/

persalinan
Bidan

persalinan
BPM

PB
2700 gr
48 cm

Bidan

BPM

2800gr
48 cm

minggu
9
bulan Normal

III

Tempat

minggu
9
bulan Normal

II

Penolong

Bidan

BPM

2600 gr
47 cm

minggu
4) Nifas
Anak

Keluhan

ASI

keI
II
III

selama nifas
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

eksklusif
Tidak
Tidak
Tidak

Meneteki

Makanan tambahan

2 tahun
2 tahun
2 tahun

Usia 6 bulan
Usia 6 bulan
Usia 6 bulan

c. Riwayat KB
1) Setelah menikah ibu tidak KB.
2) Setelah melahirkan anak pertama ibu menggunakan KB suntik 3
bulanan, selama 5 tahun kemudian berhenti karena ingin
mempunyai anak lagi.

21

3) Setelah kelahiran anak kedua ibu menggunakan alat kontrasepsi


IUD selama 5 tahun. Kemudian berhenti karena mengikuti MOW.
Ibu mengalami kegagalan MOW. Ibu hamil anak ketiga.
4) Setelah kelahiran anak ketiga ibu tidak KB karena sudah tidak
percaya lagi dengan program KB dan merasa tidak masalah bila
tidak KB karena usia yag sudah tua. Ibu ingin menggunakan KB
kalender tapi belum tahu caranya.
d. Pola perawatan/pemeliharaan kesehatan anak
1)

Imunisasi
Ketiga anaknya mendapat imunisasi lengkap sesuai jadwal di
buku KIA.

2)

Penimbangan berat badan


Ibu tidak teratur menimbangkan berat badan anaknya karena
kurangnya informasi tentang jadwal Posyandu. Ibu merasa tidak
masalah bila tidak menimbangkan anaknya secara teratur karena
anak dalam kondisi sehat.

3)

Tempat penimbangan
Ketiga anaknya biasanya ditimbang di Posyandu.

4)

Kepemilikan KMS
KMS dikumpulkan di Posyandu.

5)

Pemberian yodium/ vitamin A


Anak mendapat vitamin A terakhir bulan Agustus 2013

3. Kegiatan Sehari-hari
a. Nutrisi
Tn. B

: Makan 3x sehari, makan 1 porsi sedang komposisi nasi,


sayur (bayam, kangkung, sawi, kubis), lauk (tahu,
tempe, telur, ikan dan ayam 2-3x dalam seminggu).
Minum air putih 5 gelas dalam sehari.

22

Ny. S

: Makan 3x sehari, porsi sedikit dengan komposisi nasi,


sayur

(bayam,

kangkung,

sawi,

kubis),

lauk

(tahu,tempe,telur/ikan/ayam 2-3x seminggu). Minum


air putih 4 gelas dalam sehari.
An. DA

:Makan 3x sehari, makan porsi sedang dengan


komposisi nasi, sayur (bayam, kangkung, sawi, kubis),
lauk

(tahu,tempe,telur,ikan/ayam

2-3x

seminggu).

Minum air putih 4 gelas dalam sehari.


An. DIN : Makan 2-3x sehari, makan porsi sedang dengan
komposisi nasi, sayur (bayam, kangkung, sawi, kubis),
lauk

(tahu,tempe,telur,ikan/ayam

2-3x

seminggu).

Minum air putih 4 gelas sehari.


An. DIM :Makan 3x sehari, makan porsi sedikit dengan
komposisi nasi, sayur (bayam, kangkung, sawi, kubis),
lauk

(tahu,tempe,telur,ikan/ayam

2-3x

seminggu).

Minum susu formula 3 gelas/hari. Air putih 1 gelas/


hari. Sejak menderita sariwan nafsu makan anak
berkurang.
b. Istirahat
Semua anggota keluarga Tn. B tidak ada yang tidur siang. Hanya
anak terkecil yang tidur siang 2 jam. Semua anggota keluarga tidur
malam pada pukul 21.00 WIB dan bangun pukul 05.00 WIB. Tidak
ada keluhan dalam tidur.
c. Eliminasi
Tn B, Ny S, An. DA dan An. DIN BAB 1x sehari, BAK 5
kali sehari tidak ada keluhan selama BAB/BAK. An DIM BAB 1x
dalam 2 hari, BAK 5x sehari, masih ngompol. Semua keluarga
setelah BAB dan BAK cebok dengan air bersih. An DIM cebok
masih dibantu.
d. Personal hygiene
Tn B, Ny S, An. DA dan An DIN mandi dan gosok gigi 2x
sehari, keramas 2x seminggu, ganti baju setiap kali mandi. An DIM

23

mandi dan gosok gigi 2x sehari, keramas 2x seminggu, ganti baju


setiap selesai mandi, potong kuku 1x 1 minggu. Semua kegiatan An.
DIM dibantu.
e. Aktifitas
Tn B

: Bekerja sebagai karyawan pabrik di Surabaya, pulang


setiap minggu.

Ny S

: Setiap hari melakukan aktivitas ibu rumah tangga


seperti memasak, mencuci, membersihkan rumah serta
mengasuh An. DIM. Ibu jarang melakukan olahraga.

An. DA :Berangkat sekolah pukul 06.30 sampai pukul 14.00


WIB,

setelah

pulang

sekolah

bermain

dengan

adik/teman, kadang-kadang melihat TV.


An. DIN :Berangkat sekolah pukul 06.30 sampai pukul 12.00
WIB,

setelah

pulang

sekolah

bermain

dengan

adik/teman, kadang-kadang melihat TV.


An DIM :Setiap hari, pagi dirumah melihat TV dan main dengan
teman sebaya dekat rumah, anak aktif, tidak pemalu.
f. Kebutuhan seksual
Ibu melakukan hubungan seksual ketika suaminya pulang.
g. Rekreasi
Anggota keluarga mengisi waktu luang dengan melihat TV dan
berkunjung ke tetangga/ke rumah saudara yang dekat.
h. Riwayat ketergantungan
Tn B, Ny S tidak mempunyai ketergantung pada alkohol/obatobatan tertentu dan tidak merokok.
4. Keadaan Lingkungan
a. Karakteristik rumah
Luas rumah

: Lebar 6 meter, panjang 10 meter

Jenis rumah

: Permanen

Letak

: 6 m dari jalan raya

24

Dinding

: Tembok

Atap

: Genting

Lantai

: Kramik

Pencahayaan

: Cukup dari jendela dan pintu

Ventilasi

: Cukup

Jumlah ruangan

: 7 ruangan

Dapur

: Terletak di belakang bersebelahan dengan

kamar mandi, lantai dari ubin, dapur bersih, memasak dengan kompor
gas. Asap keluar lewat pintu samping.
Kamar mandi

: Jenis kloset leher angsa, bersih.

b. Denah rumah

Keterangan
: Jendela
a

: tempat pembakaran sampah

c. Sumber air
Sumber air berasal dari PDAM, keadaan air jernih, tidak berbau dan
tidak berasa. Air untuk minum direbus dahulu.
d. Tempat pembuangan limbah

25

Tempat penampungan air limbah dari kamar mandi, tempat cuci dan
dapur adalah SPALyang terletak di belakang rumah.
e. Pembuangan sampah
Sampah basah dijadikan pupuk kompos sedangkan sampah kering
dibakar.
f. Kandang ternak
Kandang ternak berada 100 meter dari rumah, keadaan bersih, rapi,
tidak berbau, setiap hari dibersihkan. Kotoran ternak dijadikan pupuk.
g. Pemanfaatan fasilitas kesehatan
Dalam satu tahun terakhir, bila ada salah satu anggota keluarga yang
sakit paling sering dibawa berobat ke puskesmas.

2. Data Obyektif
a. Tn. B
Tidak terkaji
b. Ny. S
1) KU baik, kesadaran composmentis
2) Antropometri
BB: 45 kg

TB: 155 cm

3) Tanda-tanda vital
T : 100/70 mmHg, N : 76 x/mnt, S : 36oC, R : 18 x/mnt
4) Konjuntiva tidak pucat, sklera putih, muka tidak odem, mata tidak
sembab, penglihatan baik, pendengaran baik, bunyi nafas normal,
detak jantung normal, tidak ada keluhan.
c. An. DA
1) KU baik, kesadaran composmentis
2) Antropometri
BB: 50 kg

TB: 160 cm

3) Tanda-tanda vital
T : 120/80 mmHg, N : 76 x/mnt, S : 36oC, R : 18 x/mnt

26

4) Konjuntiva tidak pucat, sklera putih, muka tidak odem, mata tidak
sembab, penglihatan baik, pendengaran baik, bunyi nafas normal,
detak jantung normal, pergerakan ekstremitas atas dan bawah
bebas.
d. An. DIN
1) KU baik, kesadaran composmentis
2) Antropometri
BB: 36 kg

PB: 140 cm

3) Tanda-tanda vital
T : 120/80 mmHg, N : 76 x/mnt, S : 36oC, R : 18 x/mnt
4) Konjuntiva tidak pucat, sklera putih, muka tidak odem, mata tidak
sembab, penglihatan baik, pendengaran baik, bunyi nafas normal,
detak jantung normal, tidak ada keluhan.
e. An. DIM
1) KU baik, kesadaran composmentis
2) Pemerikasaan antropometri
BB : 10,2 kg (BB normal berdasarkan skala Nelson)
TB : 81,5 cm, LK: 48 cm
3) Persebaran rambut merata, konjuntiva tidak pucat, sklera putih,
muka tidak odem, mata tidak sembab, penglihatan baik,
pendengaran baik, bunyi nafas normal, detak jantung normal, tidak
ada keluhan.
4) Riwayat pertumbuhan dan Perkembangan anak
An DIM lahir pada tanggal 13 Januari 2012, sekarang berumur 2
tahun lebih 7 hari (25 bulan).
a) Pertumbuhan
BB (15/11/201)

: 9,5 kg

BB sekarang

: 10,2 kg

TB

: 81,5 cm

b) Perkembangan
Pemeriksaan DDST:

27

Personal social
-

Sebelah kiri garis:


Membantu di rumah (L)
Menggunakan sendok/garpu (L)
Membuka pakaian (L)

Dilewati garis
Menyuapi boneka (L)
Memakai baju (G)
Gosok gigi dengan bantuan (G)
Cuci dan mengeringkan tangan (L)

Sektor adaptif-motorik halus


-

Sebelah kiri garis:


Ambil manik-manik ditunjukkan (L)
Menara dari 2 kubus (L)
Menara dari 4 kubus (L)

Dilewati garis:
Menara dari 6 kubus (L)
Menara dari 8 kubus (G)

Sektor bahasa
-

Sebelah kiri garis


3 kata (L)
6 kata (L)
Menunjukkan 2 gambar (L)

Dilewati garis:
Kombinasi kata (L)
Menyebut 1 gambar (L)
Bagian badan 6 (L)
Menunjukkan 4 gambar (L)
Bicara sebagian dimengerti (L)
Menyebut 4 gambar (L)
Mengetahui 2 kegiatan (L)

28

Sektor motorik kasar


-

Sebelah kiri garis:


Lari (L)
Berjalan naik tangga (L)
Menendang bola ke depan (L)

Dilewati garis:
Melompat (L)
Melempar bola ke atas (L)

Interpretasi hasil tes DDST : Normal (0T)


Personal social

: OK atau Normal

Adaptif-motorik halus

: OK atau Normal

Bahasa

: OK atau Normal

Motorik Kasar

: OK atau Normal

c.

Pemeriksaan

Deteksi

Dini

Tumbuh Kembang Anak (DDTK)


KPSP : jawaban ya 10 dari 10 pertanyaan, interpretasi sesuai
TDD

: jawaban ya 2 dari 2 pertanyaan, interpretasi normal

BB/TB : 10,2 kg/81,5 cm, interpretasi normal atau gizi normal (2SD s/d 2SD)
LK
B.

:47 cm interpretasi normal

Analisa Data
No

Diagnosa/ Masalah

Data Dasar

.
1.

Masalah:
DS : HPHT : 10 Januari 2013
Ny. S P30003 usia 43 tahun,
Setelah kelahiran anak ketiga
tidak KB
sampai saat ini ibu tidak
Diagnosa:
mengikuti program keluarga
- Ketidaksanggupan mengenal
berencana karena sudah tidak
masalah kesehatan keluarga

percaya lagi dengan program

sehubungan

KB. Sebelum kelahiran anak

dengan

29

kurangnya

pengetahuan

tentang alat kontrasepsi.


- Ketidaksanggupan

ketiga ibu mengikuti program


KB MOW kemudian gagal.

keluarga

Ibu ingin menggunakan KB

mengambil keputusan dalam

kalender

melakukan

caranya.

tepat

tindakan

sehubungan

keluarga

tidak

yang

tapi

belum

tahu

dengan DO : sanggup

memecahkan masalah karena


kurang pengetahuan tentang
2.

alat kontrasepsi.
Ny. S usia 43 tahun dengan
kurangnya

pengetahuan

tentang Posyandu.
Diagnosa:

informasi
keluarga

mengenal

keluarga

masalah

disebabkan

kurangnya

oleh

pengetahuan

keluarga tentang pentingnya


mengikuti Posyandu.
- Ketidaksanggupan

keluarga

mengambil keputusan dalam


melakukan
tepat

tindakan

sehubungan

keluarga

tidak

yang
dengan

sanggup

memecahkan masalah karena


kurang pengetahuan tentang
pentingnya
Posyandu.

mengikuti

tidak

teratur

menimbangkan berat badan


anaknya

- Ketidaksanggupan
dalam

DS:Ibu

Posyandu.
DO:-

karena

kurangnya

tentang

jadwal

30

3.

An. DIN dengan kurangnya


pengetahuan

DS: An. DIN belum mendapat

tentang

menstruasi.

Anak

yang

mengetahui

tentang

berkaitan dengan menstruasi.


Diagnosa:
Ketidaksanggupan
keluarga

menstruasi.

pendidikan reproduksi

dalam

mengenal

keluarga

apa

DO:

masalah

disebabkan

kurangnya

sudah

oleh

pengetahuan

keluarga tentang pendidikan


reproduksi

yang

berkaitan

dengan menstruasi..
4.

Ny. S dengan DM
Diagnosa:
-

DS: Ibu menderita penyakit DM


sejak 2 tahun yang lalu,
K

Terapi yang diberikan gliben

etidaksanggupan
memelihara
rumah

yang

mempengaruhi
penderita DM

sudah berobat ke Puskesmas.

lingkungan

(1x1 tab) diminum setiap

dapat

pagi dan meetformin (1x1

kesehatan

tab) diminum setiap siang.


Ibu rutin minum obat sesuai
anjuran dokter. Cek gula
darah terakhir tanggal 10
Januari 2014, hasil 325.
Setiap

hari

melakukan

aktivitas ibu rumah tangga


seperti memasak, mencuci,
membersihkan rumah serta
mengasuh An. DIM. Ibu
jarang melakukan olahraga.
C.

Typologi Masalah
1. Masalah PUS tidak KB

31

No

Kriteria

Perhitungan

Skor

Pembenaran

Sifat masalah

2/3 x 1

2/3

Ancaman

.
1.

kesehatan,

PUS

yang

tidak

menggunakan

KB

akan meningkatkan
resiko kehamilan.
2.

Kemungkinan
masalah

2/2 x 2

untuk

Masalah

dapat

diubah

diubah

dengan

mudah karena ibu


sudah

mempunyai

rencana

untuk

menggunakan

KB

kalender.
3.

Potensi

masalah 3/3 x 1

untuk dicegah

Tinggi, karena ibu


sudah

mempunyai

rencana

untuk

menggunakan

KB

kalender tapi ibu


belum tahu caranya.
4.

Menonjolnya

1/2 x 1

1/2

masalah

Ibu merasa tidak


perlu

Kb

karena

usia sudah tua.


Total Score

3 1/6

2. Kurangnya pengetahuan tentang posyandu


No

Kriteria

Perhitungan

Skor

Pembenaran

32

.
1.

Sifat masalah

2/3 x 1

2/3

Ancaman
kesehatan,
bila

karena

ibu

teratur

tidak

mengikuti

Posyandu

maka

pertumbuhan

dan

perkembangan
anaknya

tidak

terpantau.
2.

Kemungkinan
masalah

2/2 x 2

untuk

Ibu

sudah

mengikuti

diubah

Posyandu tapi tidak


teratur

karena

kurangnya
informasi

tentang

jadwal Posyandu.
3.

Potensi

masalah 3/3 x 1

untuk dicegah

Potensi

masalah

untuk

dicegah

tinggi karena alasan


tidak

mengikuti

Posyandu

adalah

kurangnya
informasi

tentang

jadwal Posyandu..
4.

Menonjolnya
masalah:

masalah

tidak dirasakan

0/2 x 1

Ibu merasa tidak


masalah bila tidak
teratur

dalam

menimbangkan
anaknya

karena

33

anaknya

dalam

keadaan sehat.
Total Score

3.

2 2/3

Kurangnya pengetahuan tentang pendidikan reproduksi yang


berkaitan dengan menstruasi.
No

Kriteria

Perhitungan

Skor

Pembenaran

Sifat masalah

1/3 x 1

1/3

Krisis, karena anak

.
1.

akan

mengalami

masa peralihan dari


anak-anak

ke

pubertas.
2.

Kemungkinan
masalah

2/2 x 2

untuk

Masalah

dapat

diubah

diubah

dengan

mudah karena anak


sudah tahu bahwa
akan

mengalami

menstruasi
3.

Potensi

masalah 3/3 x 1

untuk dicegah

Potensi

masalah

untuk

dicegah

cukup karena anak


sudah

mendapat

pendidikan
kesehatan
reproduksi

di

34

sekolah.
4.

Menonjolnya

0/2 x 1

masalah

Keluarga

tidak

menyadari

akan

pentingnya
pendidikan tentang
menstruasi.
Total Score

4.

2 1/3

Salah satu anggota keluarga DM


No

Kriteria

Perhitungan

Skor

Pembenaran

1.

Sifat masalah

3/3 x 1

Tidak/kurang sehat

2.

Kemungkinan

1/2 x 2

1/3

Ibu rutin periksa ke

masalah

untuk

Puskesmas

diubah

dan

minum obat sesuai


anjuran dokter.

3.

Potensi

masalah 2/3 x 1

2/3

untuk dicegah

Keluarga yakin bila


ibu rutin periksa ke
Puskesmas

dan

minum obat sesuai


anjuran

dokter

maka akan sembuh.


4.

Menonjolnya
masalah

2/2 x 1

Keluarga
menganggap

DM

adalah

masalah

serius

sehingga

perlu rutin untuk


memeriksakan
kesehatan ibu setiap
2

minggu

di

35

Puskesmas.
Total Score

D. Diagnosa Keluarga dan Prioritas Masalah


1. PUS tidak KB
a. Ketidaksanggupan mengenal masalah kesehatan keluarga sehubungan
dengan kurangnya pengetahuan tentang alat kontrasepsi.
b. Ketidaksanggupan keluarga mengambil keputusan dalam melakukan
tindakan yang tepat sehubungan dengan keluarga tidak sanggup
memecahkan masalah karena kurang pengetahuan tentang alat
kontrasepsi.
2. Salah satu anggota keluarga menderita DM
Ketidaksanggupan memelihara lingkungan rumah yang dapat mempengaruhi
kesehatan penderita DM

3. Kurangnya pengetahuan tentang posyandu


a.

Ketidaksanggupan keluarga dalam mengenal masalah


keluarga disebabkan oleh kurangnya pengetahuan keluarga tentang
pentingnya mengikuti Posyandu.

b.

Ketidaksanggupan keluarga mengambil keputusan dalam


melakukan tindakan yang tepat sehubungan dengan keluarga tidak
sanggup memecahkan masalah karena kurang pengetahuan tentang
pentingnya mengikuti Posyandu.

4. Kurangnya pengetahuan tentang pendidikan reproduksi yang berkaitan


dengan menstruasi.
Ketidaksanggupan keluarga dalam mengenal masalah keluarga disebabkan
oleh kurangnya pengetahuan.