You are on page 1of 14

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.
World Health Organization (WHO) menetapkan bahwa stroke merupakan suatu
sindrom klinis dengan gejala berupa gangguan fungsi otak secara fokal atau
global yang dapat menimbulkan kematian atau kelainan yang menetap lebih
dari 24 jam, tanpa penyebab lain kecuali gangguan vaskular (Rasyid &
Soertidewi, 2007). Menurut Hickey (1997), stroke adalah suatu keadaan
terputusnya atau terhentinya aliran darah ke otak secara tiba-tiba, yang
mengakibatkan kerusakan dan gangguan fungsi pergerakan, perasaan, memori,
perabaan, dan bicara, yang bersifat sementara atau menetap.

Di Amerika Serikat, kejadian stroke akut pada tahun 2008 diperkirakan sekitar
600.000 (76,9%) orang per tahun dan stroke berulang sekitar 180.000 (23,1%)
per tahun. Dengan total insiden

sekitar 780.000 orang pertahun, stroke

merupakan penyebab kematian ketiga di Amerika setelah penyakit jantung dan
kanker, dan merupakan penyebab kecacatan utama pada orang dewasa. Dari
kasus di Amerika tersebut, diperkirakan setiap 40 detik seseorang mengalami
stroke dan estimasi biaya mencapai lebih dari lima puluh juta dollar per tahun
(Courtney & Flier, 2009).

Pengaruh Latihan…, MG Enny Mulyatsih, FIK UI, 2009

Pengaruh Latihan….4%. FIK UI. penyakit utama penyebab kematian adalah penyakit sistem sirkulasi dengan proporsi sebesar 24. Sedangkan pada tahun 2007 angka kematian menurun menjadi 98 orang (21. kejadian disfagia pada tiga hari pertama pasca stroke dihubungkan dengan lima hingga sepuluh kali lipat meningkatnya risiko infeksi paru dalam minggu pertama pasca stroke. Gejala gangguan menelan bervariasi dari yang paling ringan seperti rasa tidak nyaman di kerongkongan hingga tidak mampu menelan makanan dan cairan. Sharpe.71%) dari 525 kasus stroke. dan infeksi paru.07%) dari 465 kasus stroke. malnutrisi. Menurut Lees. 2001). Gangguan ini menyerang sekitar sepertiga hingga duapertiga pasien stroke fase akut. Berdasarkan hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1995 dan Survey Kesehatan Nasional (SURKESNAS) 2001. Tanda dan gejala disfagia yang lain meliputi tidak mampu menahan air liur. catatan rekam medik menunjukkan pada tahun 2006 angka kematian pasien stroke mencapai 198 orang (37. 2005). sedangkan berdasarkan laporan Dirjen Yanmed Depkes RI penyakit utama penyebab kematian di rumah sakit adalah stroke (Hartono et al. Disfagia adalah kesulitan dalam menelan cairan dan atau makanan yang disebabkan karena adanya gangguan pada proses menelan (Wemer.2 Di Indonesia. 2009 . sekitar 800-1000 kasus stroke baru per tahun. dan Edwards (2006). MG Enny Mulyatsih. dan dapat menjadi penyebab terjadinya dehidrasi.. Di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Dr Cipto Mangunkusumo Jakarta. aspirasi. Salah satu masalah kesehatan yang timbul akibat stroke adalah gangguan menelan atau disfagia.

2002). seperti Pengaruh Latihan…. simetris. input sensori dari saraf tepi. unik dan spesifik bagi setiap individu (Smithard. kondisi terminal. Sedangkan penilaian fungsi menelan secara klinis dapat menggunakan . 2009 . memerlukan waktu lama saat menelan. Fungsi menelan ini dapat dinilai melalui pemeriksaan Digital Videofluoroscopy. faring (pharingeal transit time). suara serak. berurutan. dan fase esopageal. atau keduanya. format The Parramatta Hospitals Dysphagia Assessment. batuk. tersedak. yang sering mengalami gangguan adalah pada fase oral. Proses menelan memerlukan beberapa elemen yang meliputi. Proses menelan sendiri terdiri atas 3 fase. yaitu fase oral.3 kesulitan mengunyah. Proses menelan merupakan suatu sistem kerja neurologik yang sinkron. FIK UI. makanan melekat di kerongkongan. semiotomatis. MG Enny Mulyatsih. Pada pasien stroke. dan sfingter esofagus atas (cricopharingeal opening duration). yang dikembangkan oleh Paramatta Hospital. atau telah mengalami disfagia sebelumnya. makanan tertahan di mulut. yang merupakan bagian dari The Royal Adelaide Prognostic Index for Dysphagic Stroke (RAPIDS). yang mampu mencatat lewatnya bolus melalui mulut (oral transit time). berat badan menurun. dan respon motorik sebagai umpan balik. Ditemukan sekitar 27% pasien stroke fase akut mengalami disfagia. fase faringeal. dan aspirasi pneumonia. terkoordinasi. atau sekitar 40% bila dihitung termasuk pasien stroke yang mengalami penurunan tingkat kesadaran. Sebagian besar pasien stroke berat memiliki indikasi adanya disfagia. fase faringeal. keluar makanan dari hidung. rasa panas di dada atau heart burn. koordinasi saraf pusat.

akurat dan mudah digunakan. Menurut the American Heart Association dalam Courtney & Flier (2009). mengalami disartria. ketergantungan dalam melakukan aktifitas sehari-hari. hampir setengah (43%-54%) diantaranya akan mengalami aspirasi dan sekitar 37% diantaranya menderita infeksi paru atau pneumonia. sehingga lama rawat pasien di rumah sakit menjadi memanjang dan biaya rawat juga meningkat. 2002). Menurut para ahli. Aktifitas skrining disfagia ini termasuk dalam level 1 dari Evidence Best Practice keperawatan (Heckenberg. Hallberg & Ohlsson. Berdasarkan Pengaruh Latihan…. yang dapat menyebabkan infeksi paru atau bahkan kematian. Interrater reliability telah dihitung dengan hasil yang tinggi.50%. teknik MBS ini merupakan alat ukur yang valid. Sensitifitas dan spesifisitasnya mencapai 100% (Massey & Jedlicka. 2009 . MG Enny Mulyatsih. 2008). disfasia ekspresif. Akibatnya intake nutrisi dan cairan tidak adekuat sehingga pasien dapat mengalami dehidrasi dan malnutrisi. serta masih memerlukan perawatan lebih lanjut di rumah setelah pulang dari rumah sakit (Westergren. 1999). memiliki masa lama rawat di rumah sakit lebih lama. kejadian disfagia pada stroke meningkat sekitar 27% . mendapat terapi anti depresan. Diagnosa disfagia ditegakkan melalui skrining disfagia yang dilakukan oleh terapis wicara atau perawat yang telah terlatih. FIK UI. Skrining ini dapat dilakukan dengan berbagai cara. Dampak lain yang membahayakan adalah terjadinya aspirasi pneumonia.4 penurunan kesadaran. Pasien disfagia seringkali tidak ditangani secara tepat. antara lain dengan menggunakan format The Massey Bedside Swallowing Screen (MBS).

Drennan. Menurut Palmer. serta latihan menelan atau swallowing therapy. MG Enny Mulyatsih. Dochterman & Buchelek ( 2004). dan Crary (2007) menyatakan. Teknik ini termasuk merubah posisi kepala. Lenius. 2009 . 2007). Diagnosa keperawatan yang timbul pada pasien stroke dengan disfagia menurut NANDA dalam Ignatavicius (2007). baik metode langsung maupun metode tidak langsung. FIK UI. disfagia merupakan salah satu indikator kualitas/ keamanan pasien yang signifikan. Intervensi yang dianjurkan pada kasus stroke dengan disfagia mencakup modifikasi diet. dan pasien memiliki toleransi terhadap makanan atau minuman tanpa tersedak (Lewis. Heitkemper & Dirksen. dan Baba (2000).5 Joint Commission on the Accreditation of Healthcare Organization dalam JCAH ( 2007). Mann. penanganan disfagia ditujukan pada menurunkan risiko aspirasi. Metode tidak langsung atau kompensatori bertujuan meningkatkan kekuatan otot-otot menelan tanpa merubah secara langsung fisiologi menelan. Kriteria hasil dari rencana tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah ini adalah tidak ada tanda atau gejala aspirasi. intervensi keperawatan untuk mengatasi gangguan menelan pada pasien stroke bisa berupa latihan menelan dengan berbagai alternatif. serta mengoptimalkan status nutrisi. manuver kompensatori. posisi badan. meningkatkan kemampuan makan dan menelan. merubah metode Pengaruh Latihan…. dan Smeltzer & Bare (2002) adalah gangguan menelan sehubungan dengan kelemahan otot menelan dan menurunnya refleks muntah.

Dengan posisi kepala seperti ini dilaporkan mampu menurunkan risiko aspirasi. Intervensi merubah posisi kepala antara lain dengan mengatur posisi pasien duduk tegak minimal 70 derajat atau semi fowler dan kepala agak ditekuk kedepan. dan hindari penggunaan sedotan (Dochterman & Bullechek. 2004). Belum ada penelitian yang membuktikan manfaaat intervensi ini sehingga dimasukkan dalam level IV (Heckenberg. Pengaruh Latihan…. Rosenbek & Sapienza. the Effortful Swallow. Latihan menelan menggunakan metode langsung dirancang untuk merubah fisiologi menelan dan membutuhkan partisipasi langsung dari pasien. antara lain. Belum ada studi tentang merubah metode pemberian makan dan pengaruhnya terhadap fungsi menelan. the Supraglottic Swallow. sehingga esopageal lebih membuka dan trakhea menutup.6 pemberian makan. 2009 . MG Enny Mulyatsih. meletakkan makanan pada sisi mulut yang sehat. Merubah metode pemberian makan dapat dilakukan dengan berbagai cara. atau memodifikasi konsistensi makanan atau cairan yang dikonsumsi. sehingga aktifitas keperawatan ini termasuk dalam level IV dari Evidence Best Practice keperawatan (Heckenberg. menganjurkan pasien tidak berbicara ketika sedang makan. menciptakan lingkungan tenang. 2008). 2008). Expiratory Muscle Strength Training atau berbagai bentuk stimulasi sensori lain seperti Electromyographic Surface Biofeedback (Hegland. mengatur posisi sehingga perawat berhadapan dengan pasien. the Mendelsohn Maneuver. Yang termasuk metode ini antara lain. 2008). FIK UI. menggunakan sendok kecil.

MG Enny Mulyatsih. 2007). Penanganan pasien stroke selama ini masih tersebar di beberapa ruang rawat. dan Expiratory Muscle Strength Training terhadap fungsi menelan orang normal sebanyak 25 orang. Lenius & Crary. 2009 . Metode langsung lain yang membutuhkan partisipasi pasien adalah dengan memberikan petunjuk atau arahan kepada pasien baik secara verbal maupun visual tentang cara mengunyah. seperti Unit Stroke. menelan. yang bertujuan untuk meningkatkan kekuatan otot lidah (Dochterman & Buchelek. Unit Stroke sendiri masih merupakan hal yang baru. FIK UI. dan membersihkan mulut dari sisa makanan (Mann. Kekuatan utama Unit stroke adalah pada tim keperawatan Pengaruh Latihan…. 2004). Di Indonesia.7 Telah dilakukan penelitian yang membandingkan antara pengaruh the Effortful Swallow. Hasil studi menunjukkan terdapat peningkatan kekuatan otot lidah setelah dilakukan latihan kekuatan lidah atau strength training (Stierwalt & Youmans. Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo merupakan rumah sakit tipe A dengan kemampuan melaksanakan pelayanan spesialis dan subspesialis serta menjadi rumah sakit rujukan nasional. Ruang Rawat Neurologi dan Ruang Rawat Khusus atau Swadana. 2007). serta memberikan permen lolipop untuk dikulum pasien. Rosenbek & Sapienza. the Mendelsohn Maneuver. Penilaian fungsi menelan menggunakan Videofluoroscopy dan Electromyographic Surface. dan hasilnya adalah setelah dilakukan ketiga teknik menelan diatas terjadi peningkatan kekuatan otot menelan minimal satu setengah kali lipat bila dibanding teknik menelan normal (Hegland. meskipun Unit stroke di RSCM telah dirintis sejak tahun 1994. 2008).

MG Enny Mulyatsih. selama ini perawatlah yang lebih berperan dalam melakukan latihan menelan dan memberikan inisiasi makan per oral secara dini pada pasien disfagia. dan terapis wicara. perawat. terapis fisik. FIK UI. secepatnya mendapat terapi antipiretik bila febris. Perencanaan pasien pulang juga dilakukan lebih baik di Unit Stroke. pasien di Unit stroke mendapatkan terapi antikoagulan lebih awal. et al. sedangkan perawat bertugas selama 24 jam berkesinambungan. Oleh karena tenaga terapis wicara di Unit Stroke RSCM hanya satu orang di pagi hari saja. komplikasi akibat stroke lebih banyak ditemukan di bangsal umum. Hasil studi menunjukkan outcome pasien stroke yang dirawat di Unit Stroke lebih baik bila dibandingkan dengan perawatan di bangsal atau ruang rawat konvensional (Warlow. 2009 . 2000). Bila pasien mengalami atrial fibrilasi. Perawat melakukan skrining pada semua pasien baru dan bila hasilnya positif selanjutnya akan dilakukan pengkajian lengkap oleh terapis wicara. Menurut Munn (2008). terdeteksi gangguan menelan dan memperoleh nutrisi lebih dini. termasuk dalam penatalaksanaan pasien disfagia secara dini.8 yang melakukan observasi status neurologi dan keadaan umum pasien secara ketat. Pengaruh Latihan…. Penanganan pasien disfagia di Unit Stroke RSCM telah dilakukan secara terintegrasi dan terpadu oleh tim stroke yang terdiri dari dokter. Bila dibandingkan dengan perawatan di Unit Stroke. termasuk kejadian infeksi paru dan dehidrasi akibat disfagia. hasil studi yang membandingkan antara Unit Stroke dan Ruang Rawat Umum membuktikan bahwa proporsi pasien yang dirawat di unit stroke lebih dialokasikan menerima oksigen.

hampir semua intervensi keperawatan telah dilakukan di Unit Stroke RSCM. dan Crary (2007). Sedangkan bila dibandingkan dengan latihan menelan menurut Mann. dan Crary (2007) dan Dochterman & Buchelek ( 2004). seperti Expiratory Muscle Strength Training dan pemberian permen lolipop untuk meningkatkan kekuatan otot lidah. yaitu dengan cara memberikan minum air putih secara bertahap sebanyak 1 sendok. Bila hasil tes fungsi menelan positif atau pasien mengalami gangguan fungsi menelan. dan 50 ml. terapis wicara. Respon pasien dinilai dan hasilnya dicatat di lembar pengkajian fungsi menelan. latihan menelan yang telah dilakukan di Unit Stroke RSCM Pengaruh Latihan…. Selanjutnya hasil skrining ini diinformasikan ke dokter. perawat mengkaji fase oral yang meliputi fungsi nafas. dan gerakan bibir. perawat di Unit Stroke RSUPNCM akan menyusun rencana latihan menelan yang terdiri dari beberapa kegiatan keperawatan. dan ahli gizi. 2 sendok. dilakukan skrining menggunakan simple water test. Bila dibandingkan dengan latihan menelan yang dinyatakan oleh Mann. MG Enny Mulyatsih. Latihan menelan yang selama ini telah dilakukan meliputi latihan menelan metode langsung dan metode tidak langsung.9 Sebelum melakukan skrining. Bila hasil pengkajian fase oral dan fase faringeal baik. Hanya beberapa metode latihan menelan langsung yang belum dilakukan di RSCM. Fase faringeal juga dikaji termasuk kualitas suara. ekspresi verbal. FIK UI. 2009 . Lenius. Kesimpulan hasil skrining adalah fungsi menelan pasien normal atau sebaliknya pasien mengalami gangguan menelan. lidah serta palatum. refleks batuk dan refleks muntah. Lenius.

Metode langsung yaitu aktifitas yang dirancang untuk merubah fisiologi menelan dan membutuhkan partisipasi langsung dari pasien. Sebagian besar masih bersifat konvensional dengan tidak melakukan teknik pengaturan posisi. Hinggá saat ini. Pasien terpasang NGT dengan ukuran diameter relatif besar atau bahkan pasien dipuasakan dan diberi nutrisi parenteral karena pasien dianggap mengalami gangguan saluran cerna. FIK UI. serta modifikasi diet. Studi untuk menilai pengaruh latihan menelan pada pasien disfagia di Unit Stroke selama ini belum pernah dilakukan. Penelitian yang telah ada adalah efektifitas perawatan di Unit Stroke bila dibandingkan dengan perawatan pasien di Bangsal Neurologi. Aktifitas metode langsung belum dilakukan di Unit Stroke RSCM. seperti melatih pasien untuk menahan nafas selama menelan kemudian batuk setelah menelan untuk membersihkan material yang tersisa di hipofaring.10 adalah metode tidak langsung. bahwa perawatan pasien di unit stroke RSCM mampu menurunkan angka kematian dan mampu meningkatkan status fungsional pasien pasca stroke menggunakan parameter NIHSS (Rasyid & Soertidewi. Hasilnya membuktikan. seperti mengatur posisi kepala dan badan. 2007). MG Enny Mulyatsih. melakukan mout care secara teratur. melatih pergerakan otot mengunyah. yang dikenal dengan supraglottic swallow. Pengaruh Latihan…. belum ada tata-laksana yang baku dalam menangani pasien stroke dengan disfagia di Indonesia. teknik kompensatori atau modifikasi diet. 2009 .

Untuk menilai adanya disfagia pada pasien stroke. di RSU Fatmawati juga telah terbentuk tim stroke tetapi juga belum ada pedoman tertulis tentang latihan menelan pada pasien disfagia.11 Di RS Fatmawati. perawatan pasien di Unit Stroke RSU Fatmawati hanya pada fase akut (sekitar3-5 hari). selanjutnya bila kondisi pasien telah stabil pasien dipindahkan ke ruang rawat inap sesuai kemampuan finansial pasien. Sehubungan dengan hal tersebut diatas. Bila dibandingkan dengan penatalaksanaan pasien di Unit Stroke RSCM. risiko Pengaruh Latihan…. Hal ini berbeda dengan kebijakan Unit Stroke RSCM. dimana semua pasien pulang atau keluar dari rumah sakit langsung dari ruang Unit Stroke. Diagnosa keperawatan yang timbul pada pasien stroke dengan disfagia antara lain adalah gangguan menelan berhubungan dengan kelemahan otot menelan dan menurunnya refleks batuk. apakah latihan makan dan menelan pada pasien disfagia di Unit Stroke RSCM mampu memperbaiki fungsi menelan pasien. FIK UI. penulis tertarik melakukan penelitian tentang pengaruh latihan menelan terhadap status fungsi menelan dalam konteks asuhan keperawatan menggunakan parameter RAPIDS. risiko tinggi aspirasi. 2009 . Sama seperti di RSCM. MG Enny Mulyatsih. Tetapi hingga saat ini belum pernah dilakukan penelitian. B. semua pasien stroke fase akut dirawat di Unit Stroke. perawat dapat melakukan skrining disfagia menggunakan The Massey Bedside Swallowing Screen (MBS). Rumusan Masalah Sekitar 27-40% pasien stroke fase akut mengalami gangguan fungsi menelan atau disfagia. sehingga seringkali latihan menelan dilakukan bukan di Unit Stroke tetapi di ruang rawat inap.

12 malnutrisi. Berdasarkan hal diatas. tetapi masih sedikit penelitian tentang latihan menelan pada pasien disfagia. khususnya intervensi keperawatan berupa latihan menelan atau swallowing therapy. . Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini dibagi menjadi dua. peneliti tertarik untuk mengetahui “Sejauhmana pengaruh latihan menelan terhadap status fungsi menelan pada pasien stroke dengan disfagia dalam konteks asuhan keperawatan di Unit Stroke RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo Jakarta?”. Pengaruh Latihan…. C. FIK UI. MG Enny Mulyatsih. dan swallowing therapy Dochierman (2004). Di Indonesia sendiri hasil penelitian tentang pengaruh latihan menelan ini belum ditemukan. Latihan menelan atau swallowing therapy dapat dilakukan melalui berbagai aktifitas keperawatan menggunakan metode langsung maupun metode tidak langsung. intervensi maupun evaluasi. 2009 . baik yang dilakukan oleh perawat maupun oleh profesi kesehatan lain. dan risiko dehidrasi. Penanganan keperawatan yang tepat sejak awal. Intervensi keperawatan berdasarkan NIC intervention adalah aspiration precaution. Telah banyak studi yang membahas tentang skrining disfagia yang dilakukan oleh perawat di berbagai negara. baik saat pengkajian. yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. sehingga lama rawat pasien di rumah sakit menjadi menurun dan biaya rawat di rumah sakit juga menjadi lebih efisien. positioning. akan mampu mencegah komplikasi akibat disfagia. Permasalahan di pelayanan adalah masalah disfagia ini masih terabaikan dan jarang menjadi perhatian saat proses pemberian asuhan keperawatan.

MG Enny Mulyatsih. 2. 2009 . Pengaruh Latihan…. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak. jenis stroke. dan frekuensi serangan stroke dengan status fungsi menelan setelah dilakukan intervensi pada kelompok perlakuan. D. c) Teridentifikasinya perbedaan status fungsi menelan antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. jenis kelamin. jenis kelamin. Tujuan khusus adalah: a) Teridentifikasinya karakteristik responden yang diteliti yang meliputi usia.13 1. Tujuan umum: Teridentifikasinya pengaruh latihan menelan terhadap status fungsi menelan pada pasien stroke dengan disfagia. Bagi Pelayanan. Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan klinik perawat dalam melakukan latihan menelan pada pasien stroke dengan disfagia dan mampu memperbaiki kualitas latihan menelan pada pasien stroke dengan disfagia yang telah ada. FIK UI. yaitu: 1. b) Teridentifikasinya status fungsi menelan sebelum dan setelah latihan menelan pada hari ke-6 dan hari ke-12 pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. d) Teridentifikasinya hubungan faktor konfounding yang meliputi usia. jenis stroke. . dan frekuensi stroke.

14 2. 2009 . penelitian ini dapat dijadikan dasar untuk melakukan penelitian selanjutnya tentang disfagia dengan berbagai modifikasi. MG Enny Mulyatsih. Pengaruh Latihan…. FIK UI. Menambah data hasil penelitian keperawatan tentang pengaruh intervensi keperawatan latihan menelan pada pasien stroke dengan disfagia. Selain itu membantu meningkatkan pemahaman dan pengembangan kualitas tindakan keperawatan dalam bidang spesialisasi keperawatan medikal bedah. Bagi Perkembangan Ilmu Keperawatan. khususnya peminatan neurologi. Bagi Penelitian Keperawatan. 3. Bagi penelitian keperawatan.