You are on page 1of 12

Makalah Asuhan Keperawatan ISPA

BAB I
KONSEP DASAR TEORI
A.

Pendahuluan
Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) di negara berkembang masih merupakan masalah

kesehatan yang menonjol, terutama pada anak.Penyakit ini pada anak merupakan penyebab
kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas) yang tinggi.Angka kematian ISPA di negara
maju berkisar antara 10 -15 %, sedangkan di negara berkembang lebih besar lagi.
Di Indonesia angka kematian ISPA diperkirakan mencapai 20 %.Hingga saat ini salah
satu penyakit yang banyak diderita oleh masyarakat adalah ISPA. (Infeksi Saluran
Pernapasan Akut). ISPA masih merupakan masalah kesehatan yang penting karena
menyebabkan kematian bayi dan balita yang cukup tinggi yaitu kira-kira 1 dari 4 kematian
yang terjadi.Setiap anak diperkirakan mengalami 3 - 6 episode ISPA setiap tahunnya.40 % 60 % dari kunjungan di puskesmas adalah oleh penyakit ISPA (Anonim, 2009).
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan Pada anak dengan ISPA
a.
b.
c.
d.
e.

2. Tujuan Khusus
Untuk mengetahui bagaimana pengkajian pada anak dengan ISPA
Untuk mengetahui Diagnosa keperawatan apa yang muncul pada anak dengan ISPA.
Untuk mengetahui Intervensi keperawatan pada anak dengan ISPA
Untuk mengetahui Implementasi keperawatan apa yang tetapat pada anak dengan ISPA.
Untuk mengetahui Evaluasi keperawatan serta rencana tindakan apa yang akan dilakukan
pada anak dengan ISPA.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A.
1.

Konsep Dasar Penyakit
Pengertian
Infeksi saluran pernafasan adalah suatu keadaan dimana saluran pernafasan (hidung,
pharing dan laring) mengalami inflamasi yang menyebabkan terjadinya obstruksi jalan nafas

1990. Bakteri penyebab ISPA antara lain adalah dari genus Streptococcus.Bordetelladan Corinebacterium. penelitian di berbagai negara menunjukkan bahwa di negara berkembang streptococcuspneumonia dan haemophylusinfluenza merupakan . beserta organ-organ disekitarnya seperti : sinus. virus dan richetsia. ruang telinga tengah dan selaput paru. Etiologi Etiologi ISPA terdiri dari lebih dari 300 jenis bakteri. seperti sinus.Penetapan etiologi Pneumonia di Indonesia masih didasarkan pada hasil penelitian di luar Indonesia. Picornavirus. Pneumococcus. Staphylococcus. pilek dan tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotik. ISPA merupakan kepanjangan dari Infeksi Saluran Pernafasan Akut dan mulai diperkenalkan pada tahun 1984 setelah dibahas dalam lokakarya Nasional ISPA di Cipanas. ISPA adalah penyakit yang menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya. 1419). daya tahan tubuh anak tersebut terhadap penyakit serta keadaan cuaca (Whaley 2. namun demikian anak akan menderita pneumoni bila infeksi paru ini tidak diobati dengan antibiotik dapat mengakibat kematian. sakit telinga. ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut. ukuran dari saluran pernafasan. Disamping itu terdapat beberapa faktor yang turut mempengaruhi yaitu. Virus penyebab ISPA antara lain adalah golongan Miksovirus.Istilah ini merupakan padanan istilah bahasa inggris yakni Acute Respiratory Infections (ARI). usia dari bayi/ neonatus. radang tenggorokan. Herpesvirus dan lain-lain. Sedangkan infeksi yang menyerang bagian bawah saluran nafas seperti paru itu salah satunya adalah Pneumonia. Adenovirus. Etiologi Pneumonia pada Balita sukar untuk ditetapkan karena dahak biasanya sukar diperoleh. Haemophylus.ISPA umumnya berlangsung selama 14 hari. rongga telinga tengah dan pleura.ISPA meliputi saluran pernapasan bagian atas dan saluran pernapasan bagian bawah ISPA adalah infeksi saluran pernapasan yang berlangsung sampai 14 hari. Yang dimaksud dengan saluran pernapasan adalah organ mulai dari hidung sampai gelembung paru (alveoli).dan akan menyebabkan retraksi dinding dada pada saat melakukan pernafasan (Pincus Catzel & Ian Roberts. 450). Menurut publikasi WHO. influenza. Sebagian besar dari infeksi saluran pernapasan hanya bersifat ringan seperti batuk. 1991.Penyebab dari penyakit ini adalah infeksi agent/ kuman. Coronavirus. Micoplasma. dan juga sinusitis.(WHO) Infeksi saluran pernafasan adalah suatu penyakit yang mempunyai angka kejadian yang cukup tinggi. bronchitis. and Wong.Yang termasuk dalam infeksi saluran nafas bagian atas adalah batuk pilek biasa.

daya tahan tubuhnya lebih baik dibandingkan dengan anak yang status imunisasinya tidak lengkap. Ditambah lagi dengan status kesehatan masyarakat yang masih rendah. Geografi Sebagai daerah tropis. meningkatnya penyakit ISPA dan Pneumonia pada Balita. 1). yakni 73. Sedangkan di negara maju. seperti polusi udara di kota-kota besar dan asap rokok b.Dengan demikian pendekatan dalam pemberantasan ISPA perlu dilakukan dengan mengatasi semua faktor risiko dan faktor-faktor lain yang mempengaruhinya. akan 3). 1% hasil isolasi dari spesimen darah. 9% aspirat paru dan 69. dapat menyebabkan timbulnya penyakit ISPA pada anak. Faktor Pendukung terjadinya ISPA Kondisi Ekonomi Keadaan ekonomi yang belum pulih dari krisis ekonomi yang berkepanjangan berdampak peningkatan penduduk miskin disertai dengan kemampuannya menyediakan lingkungan pemukiman yang sehat mendorong peningkatan jumlah Balita yang rentan terhadap serangan berbagai penyakit menular termasuk ISPA. menambah berat beban kegiatan pemberantasan penyakit ISPA. Pada akhirnya akan mendorong 2). Faktor Pencetus ISPA 1). gas buang sarana transportasi dan polusi udara dalam rumah merupakan ancaman kesehatan terutama penyakit . Indonesia memiliki potensi daerah endemis beberapa penyakit infeksi yang setiap saat dapat menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat. 4). kemungkinan untuk menderita atau terkena penyakit ISPA lebih besar bila dibandingkan dengan anak yang usianya lebih tua karena daya tahan tubuhnya lebih rendah. Dengan makin meningkatnya tingkat pendidikan di masyarakat diperkirakan akan berpengaruh positif terhadap pemahaman masyarakat dalam menjaga kesehatan Balita agar tidak terkena penyakit ISPA yaitu melalui upaya memperhatikan rumah sehat dan lingkungan sehat. 3). Status Imunisasi Anak dengan status imunisasi yang lengkap.Perilaku bersih dan sehat tersebut sangat dipengaruhi oleh budaya dan tingkat pendidikan penduduk. 2).bakteri yang selalu ditemukan pada dua per tiga dari hasil isolasi.Pengaruh geografis dapat mendorong terjadinya peningkatan kaus maupun kemaian penderita akibat ISPA. Usia Anak yang usianya lebih muda. dewasa ini Pneumonia pada anak umumnya disebabkan oleh virus. Lingkungan Lingkungan yang udaranya tidak baik. 5) Lingkungan dan Iklim Global Pencemaran lingkungan seperti asap karena kebakaran hutan. a. Kependudukan Jumlah penduduk yang besar mendorong peningkatan jumlah populasi Balita yang besar pula. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) PHBS merupakan modal utama bagi pencegahan penyakit ISPA.

Saluran pernafasan selama hidup selalu terpapar dengan dunia luar sehingga untuk mengatasinya dibutuhkan suatu sistem pertahanan yang efektif dan efisien. Sembuh dengan atelektasis. seperti yang terjadi pada anak. Menjadi kronis. pada anak yang mendapatkan air susu ibu angka kejadian pada usia dibawah 3 bulan rendah karena mendapatkan imunitas dari air susu ibu. Kekurangan antibodi ini akan memudahkan terjadinya infeksi saluran nafas. 1991.Ketahanan saluran pernafasan tehadap infeksi maupun partikel dan gas yang ada di udara amat tergantung pada tiga unsur alami yang selalu terdapat pada orang sehat yaitu keutuhan epitel mukosa dan gerak mukosilia. batuk. Karena dengan lobang yang semakin sempit maka dengan adanya edematosa maka akan tertutup secara keseluruhan dari jalan nafas. clamydia trachomatis. Tahap dini penyakit : dimulai dari munculnya gejala penyakit. Meninggal akibat pneumonia. curah hujan. kelembapan. Usia bayi atau neonatus.timbul gejala demam dan a. Tubuh menjadi lemah 3. b. staphylococus. haemophylus influenzae. Kondisi klinis secara umum turut berpengaruh dalam proses terjadinya infeksi antara lain malnutrisi. merupakan beban ganda dalam pemberantasan penyakit ISPA. Demikian pula perubahan iklim gobal terutama suhu. anemia. B. 1420). Penderita yang rentan (imunokompkromis) mudah terkena infeksi ini seperti pada pasien keganasan yang mendapat terapi sitostatika atau . Antibodi ini banyak ditemukan di mukosa. Patofisiologi Perjalanan alamiah penyakit ISPA dibagi 3 tahap yaitu : Tahap prepatogenesis : penyebab telah ada tetapi belum menunjukkan reaksi apa-apa. Agen infeksi adalah virus atau kuman yang merupakan penyebab dari terjadinya infeksi saluran pernafasan. dan antibodi. Infeksi saluran pernafasan biasanya terjadi pada saat terjadi perubahan musim. tetapi juga biasa terjadi pada musim dingin (Whaley and Wong. Tahap inkubasi : virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa.Ada beberapa jenis kuman yang merupakan penyebab utama yakni golongan A -hemolityc streptococus. c. makrofag alveoli. Ukuran dari lebar penampang dari saluran pernafasan turut berpengaruh didalam derajat keparahan penyakit. kelelahan. d. apalagi bila keadaan gizi dan daya tahan sebelumnya rendah. 1. Antibodi setempat yang ada di saluran nafas ialah Ig A. mycoplasma dan pneumokokus. asthma serta kongesti paru. 2.ISPA. Keadaan yang terjadi secara langsung mempengaruhi saluran pernafasan yaitu alergi. Tahap lanjut penyaklit. dibagi menjadi empat yaitu : Dapat sembuh sempurna.

Sumbatan pada jalan nafas/ Nasal.5OC-40. 451). . kaku dan nyeri pada c. Manifestasi Klinis 1. Selain hal itu. pilek dengan nafas cepat atau sesak nafas. 1990. pertama terjadinya infeksi. biasa terdapat wheezing. stridor. Anorexia Biasa terjadi pada semua bayi yang mengalami sakit. Infeksi bakteri mudah terjadi pada saluran nafas yang sel-sel epitel mukosanya telah rusak akibat infeksi yang terdahulu. gejalanya adalah nyeri kepala. Suhu tubuh bisa mencapai 39. tersumbat oleh karena banyaknya sekret. Bayi akan menjadi susah minum dan d. Pada umur kurang dari 2 bulan. crackless. seringkali terjadi mengiringi infeksi saluran pernafasan akibat f. mengalami sakit. 1991. a. 1419). punggung serta kuduk. pada saluran nafas yang sempit akan lebih mudah h. C. nyeri pada abdomen mungkin disebabkan karena adanya lymphadenitis g. hal-hal yang dapat mengganggu keutuhan lapisan mukosa dan gerak silia adalah asap rokok dan gas SO2 (polutan utama dalam pencemaran udara). mungkin tanda i. Diare (mild transient diare). bhkan tidak mau minum.Penyebaran infeksi pada ISPA dapat melalui jalan hematogen. biasanya muncul dalam periode sesaat tetapi juga bisa selama bayi tersebut e.radiasi. Meningismus Adalah tanda meningeal tanpa adanya infeksi pada meningens. Batuk. dan tidak terdapatnya suara pernafasan (Whaley and Wong. nafas cepat lebih dari 60 x / mnt. Demam Pada neonatus mungkin jarang terjadi tetapi gejala demam muncul jika anak sudah mencaapai usia 6 bulan sampai dengan 3 tahun. pengobatan dengan O2 konsentrasi tinggi (25 % atau lebih).5OC. perkontinuitatum dan udara nafas. merupakan tanda umum dari tejadinya infeksi saluran pernafasan. bayi menjadi gelisah dan susah atau bahkan sama sekali tidak mau minum (Pincus Catzel & Ian Roberts. terdapatnya tanda kernig dan brudzinski. infeksi virus. Penyakit ini biasanya dimanifestasikan dalam bentuk adanya demam. adanya obstruksi hidung dengan sekret yang encer sampai dengan membuntu saluran pernafasan. Seringkali demam muncul sebagai tanda b. Abdominal pain. limfogen. Vomiting. ini merupakan tanda akut dari terjadinya infeksi saluran pernafasan. Batuk. biasanya terjadi selama periodik bayi mengalami panas. mesenteric. Suara nafas. sindroma imotil.

c. Observasi lainya adalah terjadinya infeksi yang biasanya ditandai dengan peningkatan suhu tubuh. a. nyeri pada 6. Kedalaman. 5. cepat (tachynea) atau normal. 1. Diagnostik virus secara langsung. pernafasan. Biakan virus 2. 2. Penatalaksanaan . kedalaman. terputus-putus. Pemeriksaan Diagnostik Diagnosis ISPA oleh karena virus dapat ditegakkan dengan pemeriksaan laboratorium terhadap jasad renik itu sendiri. pernafasan cuping hidung. adanya batuk. bervariasi tergantung pada pola dan kedalaman pernafasan. kontinyu. suara nafas wheezing. Pola. melalui pergerakan rongga dada dan pergerakan abdomen. batuk. 4. biakan cairan pleura. biakan darah. Sedangkan diagnosis ISPA oleh karena bakteri dilakukan dengan pemeriksaan sputum. Fokus utama pada pengkajian pernafasan ini adalah pola. Usaha. usaha serta irama dari 1. sakit tenggorokan) Riwayat penyakit sekarang (kondisi klien saat diperiksa) Riwayat penyakit dahulu (apakah klien pernah mengalami penyakit seperti yang d. 2. Palpasi Adanya demam Teraba adanya pembesaran kelenjar limfe pada daerah leher/nyeri tekan pada nodus limfe servikalis 3. Serologis 3. dangkal atau terlalu dalam yang biasanya dapat kita amati 3. Irama pernafasan. 3. Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar tyroid c. 4. b. b. rongga dada dan peningkatan produksi dari sputum.D. Pemeriksaan fisik difokuskan pada pengkajian sistem pernafasan : Inspeksi Membran mukosa hidung-faring tampak kemerahan Tonsil tampak kemerahan dan edema Tampak batuk tidak produktif Tidak ada jaringan parut pada leher Tidak tampak penggunaan otot-otot pernafasan tambahan. dialaminya sekarang) Riwayat penyakit keluarga (adakah anggota keluarga yang pernah mengalami sakit seperti e. Perkusi : Suara paru normal (resonance) d. Pemeriksaan yang dilakukan adalah : 1. Bisa juga didapati adanya cyanosis. Riwayat kesehatan: Keluhan utama (demam. atau tiba-tiba berhenti disertai dengan adanya bersin. 1. Auskultasi : Suara nafas vesikuler/tidak terdengar ronchi pada kedua sisi paru E. 2. penyakit klien) Riwayat sosial (lingkungan tempat tinggal klien) a. nafas normal. pilek. 5.

2. 1. Hipertermi berhubungan dengan invasi mikroorganisme. 2. pada air (tidak perlu air es). tablet dibagi sesuai dengan dosisnya. 3. Memberikan kompres. celupkan b. serta mengurangi penggunaan obat batuk yang kurang bermanfaat. diberikan tiga kali sehari. a. Cara pemberiannya.Penemuan dini penderita pneumonia dengan penatalaksanaan kasus yang benar merupakan strategi untuk mencapai dua dari tiga tujuan program (turunnya kematian karena pneumonia dan turunnya penggunaan antibiotik dan obat batuk yang kurang tepat pada pengobatan penyakit ISPA) . Mengatasi batuk. c. d. bayi 1. dengan menggunakan kain bersih. kemudian digerus dan diminumkan. b. Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan ekspansi paru. . Pengobatan dan perawatan Prinsip perawatan ISPA antara lain : Menigkatkan istirahat minimal 8 jam perhari Meningkatkan makanan bergizi Bila demam beri kompres dan banyak minum Bila hidung tersumbat karena pilek bersihkan lubang hidung dengan sapu tangan yang e. a. c. Parasetamol diberikan 4 kali tiap 6 jam untuk waktu 2 hari. Pedoman penatalaksanaan kasus ISPA akan memberikan petunjuk standar pengobatan penyakit ISPA yang akan berdampak mengurangi penggunaan antibiotik untuk kasus-kasus batuk pilek biasa. b. Bila terserang pada anak tetap berikan makanan dan ASI bila anak tersebut masih menetek 3. f. Penatalaksanaan ISPA meliputi langkah atau tindakan sebagai berikut : Upaya pencegahan Pencegahan dapat dilakukan dengan : Menjaga keadaan gizi agar tetap baik Immunisasi Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ketidak mampuan dalam memasukan dan mencerna makanan. Strategi penatalaksanaan kasus mencakup pula petunjuk tentang pemberian makanan dan minuman sebagai bagian dari tindakan penunjang yang penting bagi pederita ISPA. Pengobatan antara lain : Mengatasi panas (demam) dengan memberikan parasetamol atau dengan kompres. d. dibawah 2 bulan dengan demam harus segera dirujuk. Dianjurkan memberi obat batuk yang aman yaitu ramuan tradisional yaitu jeruk nipis ½ sendok teh dicampur dengan kecap atau madu ½ sendok teh . a. bersih Bila badan seseorang demam gunakan pakaian yang cukup tipis tidak terlalu ketat. F.

pilek dan sakit c. Dx I: 1.4. d. sakit kepala. sakit tenggorokan. Bersihkan mulut. lips). batuk . mampu bernafas dengan mudah. b. pernah mengalami sakit seperti penyakit klien tersebut. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan Lakukan fisioterapi dada jika perlu 4. tidak ada suara nafas abnormal). Rencana Asuhan Keperawatan Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan ekspansi paru. 2. tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum. Pengkajian Pengkajian Keluhan Utama : Klien mengeluh demam. 3. pilek. Keluarkan sekret dengan batuk atau suction 5. nyeri otot dan sendi. 10. Lakukan suction pada mayo 7. a. pernafasan dalam rentang normal. Riwayat penyakit sekarang : Dua hari sebelumnya klien mengalami demam mendadak. Kurang pengetahuan tentang penatalaksanaan ISPA berhubungan dengan kurang informasi. Riwayat penyakit keluarga : Menurut pengakuan klien. BAB III KONSEP DASAR KEPERAWATAN 1. Riwayat sosial : Klien mengatakan bahwa klien tinggal di lingkungan yang berdebu dan 2. nafsu makan menurun. Tanda Tanda vital dalam rentang normal (tekanan darah. Pertahankan jalan nafas yang paten . hidung dan secret trakea 12. Riwayat penyakit dahulu : Kilen sebelumnya sudah pernah mengalami penyakit sekarang. Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan. frekuensi 3. padat penduduknya. irama nafas. Berikan bronkodilator bila perlu 8. A. pernafasan) Intervensi : 1. catat adanya suara tambahan 6. tidak ada pursed 2. Berikan pelembab udara Kassa basah NaCl Lembab 9. tenggorokan. nadi. Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik.anggota keluarga ada juga yang e. Tujuan kriteria hasil : Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih. badan lemah. batuk. Auskultasi suara nafas. Monitor respirasi dan status O2 11.

9. 11. 3. Kaji adanya alergi makanan Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yangdibutuhkan pasien. 2. Berikan makanan yang terpilih ( sudah dikonsultasikan dengan ahli gizi). Monitor warna dan suhu kulit 3. Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi Tidak ada tanda tanda malnutrisi Menunjukkan peningkatan fungsi pengecapan dan menelan Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti Intervensi : 1. 7. Kolaborasi pemberian antipiretik. Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign. nadi dan RR 4. 4.13. 6. 17. Diagnosa III : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ketidakmampuan dalam memasukan dan mencerna makanan Tujuan Kriteria Hasil : 1. Berikan pasien kompres air hangat. Suhu tubuh dalam rentang normal 2. 2. 5. . hindari pemberian kompres dingin. Monitor suhu sesering mungkin 2. 10. 5. Kolaborasi pemeberian cairan intravena. Tingkatkan intake cairan dan nutrisi 6. 14. Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing Intervensi : 1. 16. 15. Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi. Nadi dan RR dalam rentang normal 3. Tingkatkan sirkulasi udara. Monitor intake dan output 5. 3. 8. 4. Monitor tekanan darah. Ajarkan pada pasien cara mencegah keletihan akibat panas. 6. Atur peralatan oksigenasi Monitor aliran oksigen Pertahankan posisi pasien Observasi adanya tanda tanda hipoventilasi Monitor adanya kecemasan pasien terhadap oksigenasi Diagnosa II : Hipertermi berhubungan dengan invasi mikroorganisme Tujuan Kriteria Hasil : 1.

Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan BB pasien dalam batas normal. 9. dan fisiologi. Evaluasi : Evaluasi adalah stadium pada proses keperawatan dimana taraf keberhasilan dalam pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan atau intervensi keperawatan ditetapkan (Brooker. Intervensi : 1. 11. Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang proses penyakit yang 2. 6. Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya. Diskusikan pilihan terapi atau penanganan. dengan cara yang tepat. 1999) adalah : Bersihan jalan nafas efektif. 2001). dengan cara yang tepat. Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar. 8. 4. 2. total protein. dengan cara yang tepat. 14. 12. Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit. spesifik. Monitor turgor kulit Monitor mual dan muntah Monitor kadar albumin. prognosis dan 2.Evaluasi yang diharapkan pada pasien 1. program pengobatan. Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi 7. . 4. Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit. Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori. 5. 3. 13. Pengetahuan adekuat serta tidak terjadi komplikasi pada klien. Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi. tidak ada bunyi atau nafas tambahan. Klien dapat mencapai BB yang direncanakan mengarah kepada BB normal. 8. Hb. kondisi.7.5 C. dan kadar Ht Monitor pertumbuhan dan perkembangan Diagnosa IV : Kurang pengetahuan tentang penatalaksanaan ISPA berhubungan dengan kurang informasi. Suhu tubuh pasien dalam rentang normal antara 36 -37. dengan cara yang tepat B. dengan cara yang tepat Gambarkan proses penyakit. di masa yang akan datang dan atau proses pengontrolan penyakit. Tujuan Kriteria Hasil : 1. dengan myocarditis (Doenges. Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan dengan anatomi 3. Identifikasi kemungkinan penyebab. Instruksikan pasien mengenai tanda dan gejala untuk melaporkan pada pemberi perawatan kesehatan. 10. 3.

Kesimpulan Penyakit ISPA adalah salah satu penyakit yang banyak diderita bayi dan anak-anak.Idealnya pengobatan bagi ISPA bakterial adalah pengobatan secara rasional. maka timbul persoalan pada pengenalan (diagnostik) dan pengelolaannya. .Pengobatan yang rasional adalah apabila pasien mendapatkan antimikroba yang tepat sesuai dengan kuman penyebab. Penatalaksanaan dan pemberantasan kasus ISPA diperlukan kerjasama semua pihak. kematian dan angka kesakitan sesuai harapan pembangunan nasional. yaitu peranserta masyarakat terutama ibu-ibu.BAB 1V PENUTUP A.Sampai saat ini belum ada obat yang khusus antivirus. dokter. Untuk dapat melakukan hal ini. para medis dan kader kesehatan untuk menunjang keberhasilan menurunkan angka. penyebab kematian dari ISPA yang terbanyak karena pneumonia. Klasifikasi penyakit ISPA tergantung kepada pemeriksaan dan tanda-tanda bahaya yang diperlihatkan penderita. Seperti yang diuraikan diatas bahwa ISPA mempunyai variasi klinis yang bermacammacam.

serta penatalaksanaan dan pemberantasan kasus ISPA yang sudah dilaksanakan sekarang ini.et.Disamping itu penyuluhan kepada ibu-ibu tentang penyakit ISPA perlu ditingkatkan dan dilaksanakan secara berkesinambungan. Nursing Diagnoses : definition & Classification 2001-2002. 8.2002. Philadelpia. Saran Karena yang terbanyak penyebab kematian dari ISPA adalah karena pneumonia. 1992 Doenges. Direktorat Jenderal PPM & PLP.blogspot.kemudian dilakukan pemeriksaan mikrobiologik.html .2001. Marlyn E . barusetelah itu diberikan antimikroba yang sesuai. Jakarta.1999 Suriadi. 5. Pedoman Pemberantasan Penyakit Infeksi 2. maka diharapkan penyakit saluran pernapasan penanganannya dapat diprioritaskan.CV sagung Seto. 3. DepKes RI.USA Naning R. 7.Yuliani R. 6.Infeksi Saluran Pernapasan Akut (Handout kuliah Ilmu Kesehatan Anak) Http://makalahskripsimakalah. B.com/2012/11/asuhan-keperawatan-anak-denganispa. Rencana Asuhan Keperawatan: pedoman untuk perencanaan dan 4. Jakarta: EGC. pendokumentasian perawatan pasien Alih bahasa I Made Kariasa. diharapkan lebih ditingkatkan lagi. Ed 3.2001.Jakarta. Gordon. Saluran Pernafasan Akut (ISPA). DAFTAR PUSTAKA 1.kuman penyebab ISPA dideteksi terlebih dahulu dengan mengambil material pemeriksaan yang tepat.Asuhan Keperawatan pada Anak. 1992 Lokakarya Dan Rakernas Pemberantasan Penyakit Infeksi saluran pernapasan akut.al.