You are on page 1of 13

Makalah

RHEUMATOID ARTHRITIS

Di susun oleh :
SUPRIADI NURDIN
C12116707

Program Studi Ilmu Keperawatan


Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin
2016-2017
PENDAHULUAN

I. latar belakang
Rheumatoid arthritis adalah salah satu penyakit kronis yang
menyerang persendian biasanya dalam waktu yang lama (kronis)
timbulnya

penyakit

ini

belum

diketahui

secara

pasti

meskipun

penyebabnya telah dicurigai berupa penyakit autoimun, infeksi bahkan


genetic.penyakit ini menimbulkan gangguan rasa nyaman terutama nyeri
pada persendian. Selain itu dapat juga mengakibatkan keterbatasan pada
mobilitas

sehingga

dapat

menganggu

aktivitas

sehari-hari.dengan

demikian diperlukan asuhan keperawatan untuk mendampingi pasien


dengan rheumatoid artitis
Di seluruh dunia, kejadian tahunan Arthitis rheumatoid adalah
sekitar tiga kasus per 10.000 penduduk, dan tingkat prevalensi sekitar
1%.

Remisi

klinis

spontan

bersifat

jarang

(sekitar

5-10%)arthritis

rheumatoid terjadi 2-3 kali lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan
pada pria. Frekuensi Arthitis rheumatoid puncaknya terjadi pada usia 3550 tahun.
Pada asien AR terjadi penurunan harapan hidup 5-10 tahun,
meskipun angka kematian mungkin lebih rendah pada mereka yang
merespon

tehadap

terapi.

Faktor-faktor

yang

meningkatkan

resiko

kematian termasuk infeksi, penyakit jantung, penyakit ginjal, pendarahan


GI, dan gangguan limfoproliferatif. Peristiwa ini dapat lansung disebabkan
oleh penyakit dan komplikasinya (misalnya vaskulitis dan amiloidosis)
atau efek samping akibat terapi.

II. Tujuan Penulisan


Adapun tujuan penulisan dari makalah rheumatoid arthritis ini
adalah :
1. Mengetahui
gejala

pengertian, etiologi, patofisiologi, serta tanda dan

yang terjadi pada penderita rheumatoid artritis.

2. Mengetahui penatalaksanaan asuhan keperawatan pada


penderita

rheumatoid arthritis

RHEMATOID ARTHRITIS
I. Pengertian
Artritis rheumatoid adalah penyakit inflamasi nonbacterial yang
bersifat sistemik,progresif cenderung kronis yang menyerang berbagai
system organ. Penyakit ini adalah salah satu dari sekelompok penyakit
jaringan penyambung difus yang diperantarai oleh imunitas dan tidak
diketahui penyebabnya. Biasanya terjadi dekstruksi sendi progresif
walaupun episode peradangan dapat mengalami masa membaik.(arif
muttaqin 2008)
Rheumatoid arthritis is a common inflammatory condition. It is
characterized by arthritis that is usually polyarticular and follows a chronic
course, resulting in significant disability. Rheumatoid arthritis is a systemic
disease and is associated with a reduction in life expectancy. Other
systems may also be involved (Annabel coote.2008)
Arthritis rheumatoid adalah penyakit peradangan sistemis kronis
yang tidak diketahui penyebabnya dengan manifestasi pada sendi perifer
dengan pola simetris, konstitusi gejala termasuk kelelahan, malaise, dan
kekakuan pada pagi hari.(Zairin Noor,2016)
II. Etilogi
Etiologi RA belum diketahui dengan pasti. Namun, kejadiannya
dikorelasikan dengan interaksi yang kompleks antara faktor genetic,
lingkungan , hormon, immunologi dan faktor-faktor infeksi mungkin
memainkan peran penting, sementara itu, faktor sosial ekonomi,
psikologis

dan

gaya

hidup

dapat

mempengaruhi

progrevitas

dari

penyakit.
1.

Genetik,

sekitar 60% dari pasien dengan AR membawa epitop

bersama dari cluster HLA-DR4 yang merupakan salah satu situs


pengikatan peptide molekul HLA-DR tertentu yang berkaitan dengan
AR.
2. Lingkungan , untuk beberapa dekade, sejumlah agen infeksi
seperti organisme mycoplasma, Epstein-barr dan virus rubella
menjadi predisposisi peningkatan AR
3. Hormonal, hormon seks mungkin memainkan peran, terbukti
dengan jumlah perempuan yang tidak proporsional dengan AR,
ameliorasi selama kehamilan, kambuh dalam periode post partum
dini, dan insiden berkurang pada wanita yang menggunakan
kontrasepsi oral.
4. Immnunology system immunology memainkan peran penting
dalam pemeliharaan dari proses auto imun AR. Peristiwa sekuler
dari sitokinin yang mengakibatkan konsekuensi patologis kompleks
seperti

ploriferasi

sinovial

dan

kerusakan

sendi,

berikutnya.

Keterlibatan limposit T dan B, magrofag serta banya sitokin.


Penyimpangan produksi dan regulasi dari kedua sitokin proinflamasi
dan antiinflamasi dan jalur sitokin di temukan di AR. Sel T CD4
diasumsikan memainkan peran penting dalam inisisasi AR. Sel-sel
kemudian dapat mengantifkan magrofag dari populasisel lainnya.
Termasuk fibroblast sinovia. Makrofag dan sinovia fibroblast menjadi
produsen

utama

dari

sitokin

proinflamasi

TNF-alfa

dan

IL-1.

Hiperaktivasi dari membrane sinovia membentuk jaringan pannus


dan menyerang tulang sehingga mengalami degradasi oleh aktivasi
osteoklas. Perbedaan utama antara AR dan bentuk lain dari
inflamasi arthritis seperti radang sendi proriasis, tidak terletak pada
pola sitokin mereka, tetapi lebih pada potensi merusak yang sangat
dari membran sinovial AR dan autoimun sistematis local. Hubungan
dua

peristiwa

tersebut

tidak

jelas

namun

respon

autoimun

dibayangkan mengarah pada pembentukan imunitas kompleks yang

mengaktifkan proses inflamasi ketingkat yang lebih tinggi yang jauh


dari biasanya.

III. Patofisiologi Artritis Reumatoid


AR tidak diketahui penyebabnya. Meskipun etiologi infeksi telah
berspekulasi bahwa penyebabnya adalah organisme mikoplasma, virus
Epstein-barr, parvovirus dan rubella tapi tidak ada organisme yang
terbukti bertanggung jawab. AR dikaitakn dengan banyak respon auto
imun tetapi apakah auto imunitas merupakan peristiwa sekunder atau
primer masih belum diketahui.
AR memiliki komponen genetic yang signifikan dan berbagi epitop
dari cluster HLA-DR4 /DR1 hadir pada 90% pasien dengan RA. Hiperplasia
sel cairan sendi dan aktivasi sel endotel adalah kejadian pada awal proses
patologis yang berkembang menjadi peradangan yang tidak terkontrol
dan berakibat pada kehancuran tulang dan tulang rawan. Faktor genetic
dan elainan system kekebalan berkontribusi terhadap progresivitas
penyakit.
Sel T CD4, fagosit mononuclear, fibroblast, osteoklas, dan neutrofil
memainkan peran seluler utama dalam patofisiologi AR sedangkan
limfosit B memproduksi autoantibody. Produksi sikotin abnormal, kemokin
dan mediator inflamasi lain (misalnya TNF-alfa, interleukin (IL)-1 IL-6,IL-8
serta faktor pertumbuhan fibroblast) telah ditunjukkan pada pasien
dengan AR. Pada akhirnya, peradangan dan proliferasi sinovium (yaitu
pannus) menuju kepada kerusakan dari berbagai jaringan, termasuk
tulang rawan, tulang tendon, ligament dan pembuluh darah. Meskipun
struktur artikular adalah tempat utama yang terlibat oleh AR tetapi
jaringan lain juga terpengaruh.

IV. Manisfestasi Klinik


Pasien-pasien rheumatoid arthritis akan menunjukkan tandatanda dan gejala nyeri persendian, bengkak, kekakuan pada sendi
terutama pagi setelah bangun tidur dan terbatasnya pergerakan
1.
Tanda dan gejala setempat
a. Sakit persendian disertai kaku dan gerakan terbatas.
b. Lambat laun membengkak,panas merah dan lemah
c. Semua sendi bisa terserang, panggul, lutut, pergelangan tangan
,siku, rahang dan bahu.
2. Tanda dan gejala sistemik
Lemah, demam, tachycardia, berat badan menurun, anemia
Secara rinci tahap permulaan akan timbul nyeri pada sendi-sendi,
sendi-sendi panas dan membengkak, demam (pireksia) anemia,berat
badan menurun, kekuatan berkurang.
Sedang pada tahap lanjut akan ditemukan adanya kekakuan
terutama pada pagi hari, gerakan menjadi terbatas, nyeri dan nyeri
tekan, deformitas bertambah pembengkakan, kelemahan dan depresi
bila di tinjau dari stadium maka pada rheumatoid atritis terdapat 3
(tiga) stadium yaitu :
1. Stadium sinovitis
Pada stadium ini terjadi perubahan dini pada jaringan sinovial yang
ditandai adanya hiperemi, edema karena kongesti, nyeri pada saat
istirahat maupun saat bergerak, bengkak dan kekakuan.
2. Stadium destruksi
Pada stadium ini selain terjadi kerusakan pada jaringan sinovial
terjadi juga pada jaringan sekitarnya yang ditandai adanya
konstraksi tendon. Selain tanda dan gejala tersebut terjadi pula
perubahan bentuk pada tangan yaitu bentuk jari swan neck
3. Stadium deformitas
Pada stadium ini terjadi perubahan secara progresif dan berulang
kali, deformitas dan gangguan fungsi secara menetap. Perubahan
pada sebdi diawalai adanya sinovitis, berlanjut pada pembentukan
pannus angkilosis fibrosa dan terakhir ankilosis tulang.

V. Pemeriksaan diaknostik
1. Tes serologi
a. Sedimentasi eritrosit meningkat
b. Anemia dan leukositosis
/Rheumatoid factor positif
2. Pemeriksaan radiologi
a. Periarticultural osteoporosis : erosi pada permukaan
persendiaan
b. Kelanjutan penyakit : ruang sendi menyempit , sub luksasi
dan ankilosis
3. Aspirasi sendi
Cairan sinovial menunjukkan adanya proses inflamatorik/radang
aseptic

VI. Komplikasi
Rheumatoid arthritis bersifat sistemik sehingga dapat menimbulkan
perubahan-perubahan pada jaringan lain seperti adanya proses granulasi
dibawah lapisan kulit yang di sebut subkutan module. Pada otot dapat
terjadi myositis yaitu prose/s granulasi jaringan otot. Kelainan pada katup
jantung menyebabkan katup menjadi kaku. Pada pembuluh darah terjadi
tromboemboli sedangkan pada lien dapat terjadi splenomegali.
VII. Penatalaksanaan
Tujuan utama dari program penatalaksanaan/ perawatan adalah
sebagai berikut : Untuk menghilangkan nyeri dan peradangan Untuk
mempertahankan fungsi sendi dan kemampuan maksimal dari penderita
Untuk mencegah dan atau memperbaiki deformitas yang terjadi pada
sendi Mempertahankan kemandirian sehingga tidak bergantung pada
orang lain.
Ada sejumlah cara penatalaksanaan yang sengaja dirancang untuk
mencapai tujuan-tujuan tersebut di atas, yaitu :
Penatalaksanaan nonfarmakologik

a. Pendidikan Langkah pertama dari program penatalaksanaan ini


adalah memberikan pendidikan yang cukup tentang penyakit
kepada penderita, keluarganya dan siapa saja yang berhubungan
dengan penderita. Pendidikan yang diberikan meliputi pengertian,
patofisiologi (perjalanan penyakit), penyebab dan perkiraan
perjalanan (prognosis) penyakit ini, semua komponen program
penatalaksanaan termasuk regimen obat yang kompleks, sumbersumber bantuan untuk mengatasi penyakit ini dan metode efektif
tentang penatalaksanaan yang diberikan oleh tim kesehatan. Proses
pendidikan ini harus dilakukan secara terus-menerus.
b. Istirahat Merupakan hal penting karena reumatik biasanya disertai
rasa lelah yang hebat. Walaupun rasa lelah tersebut dapat saja
timbul setiap hari, tetapi ada masa dimana penderita merasa lebih
baik atau lebih berat. Penderita harus membagi waktu seharinya
menjadi beberapa kali waktu beraktivitas yang diikuti oleh masa
istirahat.
c. Latihan Fisik dan Termoterapi Latihan spesifik dapat bermanfaat
dalam mempertahankan fungsi sendi. Latihan ini mencakup gerakan
aktif dan pasif pada semua sendi yang sakit, sedikitnya dua kali
sehari. Obat untuk menghilangkan nyeri perlu diberikan sebelum
memulai latihan. Kompres hangat pada sendi yang sakit dan
bengkak mungkin dapat mengurangi nyeri. Mandi parafin dengan
suhu yang bisa diatur serta mandi dengan suhu panas dan dingin
dapat dilakukan di rumah. Latihan dan termoterapi ini paling baik
diatur oleh pekerja kesehatan yang sudah mendapatkan latihan
khusus, seperti ahli terapi fisik atau terapi kerja. Latihan yang
berlebihan dapat merusak struktur penunjang sendi yang memang
sudah lemah oleh adanya penyakit.
d. Diet/ Gizi Penderita Reumatik tidak memerlukan diet khusus. Ada
sejumlah cara pemberian diet dengan variasi yang bermacammacam, tetapi kesemuanya belum terbukti kebenarannya. Prinsip
umum untuk memperoleh diet seimbang adalah penting.

Penatalaksanaan farmakologik
e. Obat-obatan Pemberian obat adalah bagian yang penting dari
seluruh program penatalaksanaan penyakit reumatik. Obat-obatan
yang dipakai untuk mengurangi nyeri, meredakan peradangan dan
untuk mencoba mengubah perjalanan penyakit. Obat-obatan seperti
obat anti inflamasi nonstreroid (OAINS), disesase modifying
antirheumatic drug (DMARD), kortikosteroid ,dan lain sebagainya.

ASUHAN KEPERAWATAN
I. Pengkajian Keperawatan
1. Riwayat keperawatan
Manifestasi awal pada penyakit ini berupa
a. Adanya keluhan sakit dan kekauan pada tangan atau pada
tungkai.
b. Rasa tidak nyaman terjadi beberapaperiode/waktu sebelum
pasien mengetahui dan merasakan adanya perubahan pada
sendi.
2. Pemeriksaan fisik
a. Insfeksi dan palpasi persendian masing-masing sisi (bilateral)
amati warna kulit, ukuran, pembengkakan.
b. Lakukan pengukuran passive range of motion pada sendi-sendi
sinovial
1. Catat bila ada deviasi (keterbatasan gerak sendi)
2. Catat bila ada krepitasi
3. Catat bila terjadi nyeri saat sendi digerakkan
c. Lakukan inspeksi dan palpasi otot-otot skeletal secara bilateral :
1. Catat bila ada atrofi, tonus otot yang berkurang.
2. Ukur kekuatan otot
d. Kaji tingkat nyeri, derajat dan mulainya
e. Kaji aktivitas/kegiatan sehari-hari
3. Riwayat psikososial

Pasien dengan rheumatoid arthritis mungkin merasakan adanya


kecemasan yang cukup tinggi apalagi pada pasien yang telah
mengalami deformitas pada sendi-sendi. Pasien merasakan kegiatan
sehari-hari menjadi berubah yang disebabkan adanya kelemahankelemahan pada dirinya. Perawat dapat melakukan pengkajian
terhadap konsep diri klien khususnya aspek body image/citra tubuh
dan harga diri.

II. Diagnosa Keperawatan


1.
2.
3.
4.

Nyeri
Hambatan mobilitas fisik
Gangguan konsep diri
Defisiensi pengetahuan tentang prognosis dan kebutuhan
pengobatan

III. Intervensi keperawatan


1. Nyeri berhubungan dengan peradangan
Tujuan perawatan : nyeri berkurang, hilang atau teratasi
Intervensi :
1. Kaji lokasi,intensitas dan tipe nyeri
Rasional : nyeri merupakan respon subjektif yang dapat di kaji
dengan menggunakan skala nyeri.
2. Bantu klien dalam mengidentifikasi faktor pencetus.
Rasional : nyeri di pengaruhi oleh kecemasan dan peradangan pada
sendi
3. Ajarkan relaksasi : teknikmengurangi ketengangan otot rangka
yang dapat mengurangi intensitas nyeri dan tingkatkan relaksasi
masase
Rasional : melancarkan peredaran darah sehingga kebutuhan
oksigen terpenuhi.
4. Beri posisi nyaman
Rasional : istrahat relaksasi dapat meningkatkan kenyamanan
5. Kolaborasi pemberian analgetik
Rasional : analgetik dapat membantu meredakan rasa nyeri

2. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan tulang dan


sendi
Tujuan : klien mampu melakukan mobilitas fisik sesuai kemanpuannya
Intervensi :
1. Kaji kemanpuan klien untuk melakukan mobilitas fisik
Rasional : mengetahui tingkat kemampuan klien dalam
berkativitas
2. Atur posisi fisiologi
Rasional : dapat membantu memperbaiki sirkulasi oksigenasi
3. Anjurkan klien untuk melakukan gerak aktif pada ekstremitas.
Rasional : gerakan aktif dapat memberi massa otot dan kekuatan
otot serta memperbaiki fungsi jantung dan pernapasan.
4. Kolaborasi dengan fisioteraphy untuk latihan fisik
Rasional : kemampuan mobilisasi ekstremitas dapat ditingkatkan
dengan latihan fisik dan tim fisiotherapi.
3. Gangguan citra diri berhubungan dengan gangguan dan perubahan
struktur tubuh.
Tujuan : citra diri klien meningkat.
Intervensi :
1. Kaji perubahan perpepsi dan hubungannya dengan
ketidakmampuan
Rasional : menentukan bantuan individual dengan menyusun
rencana perawatan atau pemilihan intervensi
2. Anjurkan klien mengekspresikan perasaan termasuk rasa marah.
Rasional : menunjukkan penerimaan membantu klien mengenal
dan mulai menyesuaikan perasaan tersebut.
3. Bantu dan anjurkan perawatan yang baik dan memperbaiki
kebiasaan.
Rasional : membantu meningkatkan perasaan harga diri dan
mengontrol lebih dari satu area kehidupan.
4. Kolaborasi : rujuk ke ahli neuropsikologi dan konseling bila ada
indikasi
Rasional dapat memfasilitasi perubahan peran yang penting untuk
perkembangan perasaan.
4.

kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi

tentang penatalaksanaan perawatan dirumah


Tujuan : klien dan keluarga dapat memahami cara perawatan di
rumah.

Intervensi :
1. Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang perawatan
dirumah
Rasional : menjadi data dasar perawat untuk menjelaskan sesuai
pengetahuan klien.
2. diskusikan tentang pengobatan, nama obat, jadwal,tujuan,dosis,dan
efek samping.
Rasional : memberi pengetahuan dasar tentang obat-obatan yang
akan digunakan sehingga dapt mengurangi dampak komplikasi dan
efek samping obat.
3. diskusikan tanda dan gejala kemajuan penyakit, peningkatan
mobilitas
Rasional : membantu klien dan keluarga dalam penatalaksanaan
perawatan klien
4. beri dukungan psikologis agar klien menjalankan apa yang sudah
disepakati.
Rasional : meningkatkan kemampuan klien dan keluarga tentang
pentingnya perawatan dirumah.

DAFTAR PUSTAKA
Risnanto, uswantun insani 2014 buku ajar asuhan keperawatan medical
bedah :
system muskolosketal. Yogyakarta : deepublish
Muttaqim arief 2008 buku ajar asuhan keperawatan klien gangguan
system
muskuloskletal. Jakarta : ECG
Coote Annabel 2004 rheumatology and orthopaedics.philadelphia: mosby
Elsevier
Suarjana, I.N., 2009. Artritis Reumatoid. dalam Sudoyo, A.W.,
Setiyohadi, B.,
Alwi, I., Simadibrata, M., Setiati, S. (editor). Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam.
Edisi V. hal. 2495-508. FKUI. Jakarta
Susaldy,dkk.2016.Keperawatan medikal bedah : sistem musculoskeletal.
Jakarta : Erlangga