You are on page 1of 2

NAMA

KELAS

: ADIT BUDI .SP


: X TKR 2

Anak Sholeh itu Birrul Walidain


Perintah Allah untuk birrul walidain
Berbuat baik secara umum dalam bahasa Arab disebut ihsan. Sementara bila ditujukan
khusus kepada orang tua, lebih dikenal dengan istilah al-birr. Dalam segala bentuk hubungan
interaktif, Islam sangatlah menganjurkan ihsan atau kebaikan. Orang tua adalah manusia yang
paling berhak mendapatkan dan merasakan 'budi baik' seorang anak, dan lebih pantas
diperlakukan secara baik oleh si anak, ketimbang orang lain. Allah swt. telah memberikan
penghormatan yang sedemikian tinggi kedudukan orang tua kita di sisi-Nya.
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan
hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di
antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekalikali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ah dan janganlah kamu
membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (Q.S Al Israa', 17:23)
Dan dalam sebuah ayat lain, Bersyukurlah engkau kepada-Ku dan kepada kedua orang
tuamu (Q.S. Luqman: 14 ). Kalau kita perhatikan pada ayat pertama perintah beribadah kepada
Allah dan perintah birrul walidain diletakkan berdampingan serangkai di dalam satu ayat.
Demikian pula dalam banyak hadits Rasulullah saw. memberikan keterangan pentingnya
berbakti kepada orang tua yang merupakan salah satu amal terbaik dan kunci surga. Begitu agung
nilai birrul walidain hingga melebihi amalan jihad fi sabilillah. Seorang sahabat bertanya kepada
Rasulullah saw.: Ya Rasulullah amalan apa yang paling dicintai Allah? Nabi saw. menjawab,
Shalat pada waktunya. Sahabat bertanya lagi, Kemudian apalagi ya Rasul ? Nabi menjawab
Birrul walidain. Sahabat bertanya lagi Apalagi ya Rosul ? Nabi menjawab, Jihad
Fisabilillah.
Kita tahu bahwa jihad fisabilillah merupakan amalan yang paling mulia dan balasannya
adalah surga, namun amalan tersebut (menurut Rasulullah saw.) masih di bawah birrul walidain.
Mengapa demikian? Allah swt. berfirman: Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat
baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan
melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga
puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia
berdoa: Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau
berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang
Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku.
Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang
muslim.(Q.S Al Ahqaaf:15)
Hak orang tua atas anaknya
1. Menaati mereka selama tidak mendurhakai Allah
Menaati kedua orang tua hukumnya wajib bagi seorang anak. Sebaliknya, haram hukumnya
mendurhakai keduanya. Sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Isra di atas, bagi seorang anak
tidak diperbolehkan sedikit pun mendurhakai orang tua kecuali jika mereka menyuruh untuk
menyekutukan Allah atau mendurhakai-Nya.
Perintah Allah untuk berbuat baik kepada orang tua itu bersifat umum, mencakup hal-hal yang
disukai oleh anak ataupun hal-hal yang tidak disukai oleh anak. Bahkan sampai-sampai dalam AlQur'an surat Luqman ayat 15, Allah memberi wasiat kepada para anak agar berbakti kepada
kedua orang tuanya meskipun mereka adalah orang-orang yang kafir.
2. Berbicara lemah lembut
Berbicara dengan lemah lembut kepada keduanya,tidak boleh mengeraskan suara
melebihi suara orang tua, tidak boleh juga berjalan di depan mereka, masuk dan keluar
mendahului mereka, atau mendahului urusan mereka berdua. Rendahkanlah diri di hadapan

mereka berdua dengan cara mendahulukan segala urusan mereka. Menghindari ucapan dan
perbuatan yang dapat menyakiti hati kedua orang tua, walaupun dengan bahasa isyarat. Termasuk
bentuk bakti kepada kedua orang tua adalah senantiasa membuat mereka senang dengan
melakukan apa yang mereka inginkan, selama hal itu tidak mendurhakai Allah swt.
3. Membuat keduanya ridha
Dari Abdullah bin Amr, Rasulullah saw. bersabda, Ridha Allah tergantung ridha kedua
orang tua dan murka Allah tergantung murka kedua orang tua. (H.R. Thabrani dan dishahihkan
oleh Al-Albani). Ada tiga orang yang doanya mustajab dan hal tersebut tidak perlu diragukan
lagi. Tiga orang tersebut adalah doa orang yang teraniaya, doa orang yang sedang bepergian, dan
doa orang tua untuk kebaikan anaknya. (H.R. Ibnu Majah dan dihasankan oleh Al-Abani)
4.Tidak mencela keduanya tidak menyebabkan mereka dicela orang lain
Mencela orang tua dan menyebabkan mereka dicela orang lain termasuk salah satu dosa
besar. Rasulullah saw.: Termasuk dosa besar adalah seseorang mencela orang tuanya. Para
Sahabat bertanya: Ya, Rasulullah, apa ada orang yang mencela orang tuanya? Beliau
menjawab: Ada. Ia mencela ayah orang lain kemudian orang itu membalas mencela orang
tuanya. Ia mencela ibu orang lain lalu orang itu membalas mencela ibunya. (H.R. Bukhari no.
5973 dan Muslim no. 90, dari Ibnu 'Amr radhiyallahu 'anhu)
5. Memenuhi kebutuhan hidupnya
Dan apabila kalian menafkahkan harta, yang paling berhak menerimanya adalah orang
tua, lalu karib kerabat yang terdekat. (Q.S. Al-Baqarah: 215)
6. Jangan Mendurhakainya!
Mendurhakai orang tua adalah dosa besar. Dan berbuat durhaka terhadap ibu adalah dosa
yang jauh lebih besar lagi. Melalui pelbagai penjelasan Islam tentang 'kewajiban kita' terhadap
sang ibunda, kita dapat menyadari bahwa berbuat durhaka terhadapnya adalah sebuah tindakan
paling memalukan yang dilakukan seorang anak berakal. Imam An-Nawawi menjelaskan,
Rasulullah saw. menyebutkan keharusan berbuat baik kepada ibu sebanyak tiga kali, baru pada
kali yang keempat untuk sang ayah, karena kebanyakan sikap durhaka dilakukan seorang anak,
justru terhadap ibunya (lihat Syarah Muslim).
Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah mengharamkan
sikap durhaka terhadap ibu dan melarang mengabaikan orang yang hendak berhutang. Allah juga
melarang menyebar kabar burung, terlalu banyak bertanya dan membuang-buang harta (H.R.
Bukhari dan Muslim).
Ibnu Hajar memberi penjelasan sebagai berikut, Dalam hadits ini disebutkan 'sikap
durhaka' terhadap ibu, karena perbuatan itu lebih mudah dilakukan terhadap seorang ibu. Sebab,
ibu adalah wanita yang lemah. Selain itu, hadits ini juga memberi penekanan, bahwa berbuat baik
kepada itu harus lebih didahulukan daripada berbuat baik kepada seorang ayah, baik itu melalui
tutur kata yang lembut, atau limpahan cinta kasih yang mendalam (Lihat Fathul Baari V : 68).
Ibnu Hajar Al-Asqalani juga menjelaskan, Arti durhaka kepada orang tua yaitu melakukan
perbuatan yang menyebabkan orang tua terganggu atau terusik, baik dalam bentuk ucapan
ataupun amalan. (Lihat Fathul Baari I: 420)
Semua dosa itu akan Allah tunda hukumannya menurut kehendak-Nya sampai hari kiamat nanti,
kecuali hukuman terhadap perbuatan zina dan durhaka kepada kedua orang tua atau memutuskan
silaturahim, sesungguhnya Allah akan memperlihatkan kepada pelakunya di dunia sebelum
datang kematian. (H.R. Bukhari dalam kitab al-Adab al-Mufrad).
Firman Allah berikut kiranya menjadi pengingat betapa jasa orang tua sangat besar dan tak
terbalas : Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan
ucapkanlah, Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah
mendidik aku waktu kecil. (Al-Israa : 24)