You are on page 1of 23

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menurut

Siregar

(2011),

insomnia

adalah

kesukaran

dalam

memulai

atau

mempertahankan tidur yang bisa bersifat sementara atau persisten. Sedangkan menurut Hariana
(2004), insomnia merupakan suatu keadaan seseorang yang mengalami sulit untuk tidur atau
sering terbangun di malam hari atau bangun terlalu pagi. Berdasarkan penjelasan di atas, peneliti
menyimpulkan bahwa insomnia merupakan suatu keadaan dimana seseorang mengalami
gangguan tidur berupa kesulitan untuk memulai tidur, sering terbangun di malam hari atau sering
bangun terlalu pagi yang dapat bersifat sementara atau persisten.
Sekarang ini insomnia tidak hanya menjadi masalah pada anak-anak dan remaja, tetapi
bisa juga terjadi pada orang dewasa bahkan cenderung terjadi pada usia lanjut. Dari semua
kelompok usia yang ada, masalah insomnia sering terjadi pada usia lanjut. Makin lanjut usia
seseorang, makin banyak terjadi kasus insomnia. Pada usia lebih dari 50 tahun, angka kejadian
insomnia sekitar 30%. Sebagian besar lansia mempunyai resiko tinggi mengalami gangguan tidur
akibat berbagai faktor. Orang lanjut usia yang sehat sering mengalami perubahan pada pola
tidurnya yaitu memerlukan waktu yang lama untuk dapat tidur. Proses patologis terkait usia
dapat menyebabkan perubahan pola tidur.
Menurut teori penuaan biologi, lansia mengalami penurunan fungsi dan struktur atau
mengalami proses degeneratif. Hal ini mengakibatkan perubahan sistem saraf pusat, antara lain
sistem gelombang otak dan siklus sirkadian. Perubahan tersebut menyebabkan terganggunya
pusat pengaturan tidur yang ditandai dengan menurunnya aktivitas gelombang alfa sehingga
mempengaruhi proses tidur.
Menurut data dari WHO (World Health Organization) kurang lebih 18% penduduk dunia
pernah mengalami gangguan sulit tidur dan meningkat setiap tahunnya dengan keluhan yang
sedemikian hebat sehingga menyebabkan tekanan jiwa bagi penderitanya. Pada saat ini
diperkirakan 1 dari 3 orang mengalami insomnia. Nilai ini cukup tinggi jika dibandingkan
dengan penyakit lainnya.
1

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Skenario
LBM III
TIDUR LAGI TIDUR LAGI
Tn. Budi 65 tahun, datang ke Poliklinik RS UNIZAR diantar istrinya. Tn. Budi mengeluh
sudah tiga bulan ini sering terbangun tengah malam tanpa ada alasan dan susah untuk tertidur
lagi. Pasien juga merasa tidur malamnya tidak nyenyak dan membutuhkan waktu lebih banyak
untuk tidur siang hari karena sangat mengantuk. Istri Tn. Budi menceritakan jika suaminya tidur
sekitar jam 20.00 dan terbangun sekitar jam 02.00. Pasien mengaku memiliki riwayat hipertensi
tapi rajin kontrol sedangkan riwayat penyakit lain disangkal.
Pada pemeriksaan awal didapatkan TB : 165 cm, BB : 78 kg, tanda vital TD : 155/95
mmHg, N : 80 x/menit, R : 20 x/menit, S : 36,8 oC. Lalu pasien menanyakan kepada dokter apa
penyebab dari gejala yang dialaminya.
2.3 Permasalahan
1. Jelaskan siklus tidur normal pada bayi, dewasa, dan lansia?
2. Jelaskan mekanisme keluhan dan interpretasi hasil pemeriksaan fisik pasien pada
skenario?
3. Jelaskan neuroanatomi gangguan tidur?
4. Jelaskan perubahan pola tidur?
5. Jelaskan faktor resiko yang dapat menyebabkan terjadinya osteoporosis?
6. Jelaskan jenis-jenis osteoporosis?
7. Jelaskan etiologi dari osteoporosis?
8. Jelaskan patogenesis terjadinya osteoporosis?
9. Jelaskan manifestasi klinis dari osteoporosis?
10. Jelaskan pemeriksaan yang dilakukan untuk mendiagnosa terjadinya osteoporosis?
11. Jelaskan penatalaksanaan pada pasien osteoporosis?

2.4 Pembahasan
1. Jelaskan struktur tulang dan proses remodeling tulang?

2

Struktur tulang manusia Tulang tersusun oleh jaringan tulang kompakta (cortical) dan canselous (trabekular atau spongiosa). Tulang kompakta secara makroskopis terlihat padat. Akan tetapi jika diperiksa dengan mikroskop terdiri dari sistem havers. dan pembuluh limfe. saraf. Sebuah kanal havers mengandung pembuluh darah. Sistem havers terdiri dari kanal havers. 3 .Gambar 1.

Tulang rawan elastis Yaitu tulang yang mengandung serabut-serabut elastis. Pada orang dewasa tulang rawan hanya ditemukan di beberapa tempat. dan rangka janin. trakea. tuba eustachi (pada telinga)  dan laring. lakuna (ruang di antara lamela yang mengandung sel-sel tulang atau osteosit dan saluran limfe). sendi-sendi tulang. Tipe-tipe tulang berdasarkan jaringan penyusun dan sifat-sifat fisiknya: a.lamela (lempengan tulang yang mengelilingi kanal sentral). ujung-ujung tulang panjang. yaitu cuping hidung. b. cuping hidung. tulang rawan bersifat lentur dan lebih kuat dibandingkan dengan jaringan ikat biasa. dan kanalikuli (saluran kecil yang menghubungkan lakuna dan kanal sentral). Saluran ini mengandung pembuluh limfe yang membawa nutrien dan oksigen ke osteosit. Tulang rawan terdiri dari tiga tipe. bronkus. Tulang Rawan (Kartilago) Tulang rawan adalah tulang yang tidak mengandung pembuluh darah dan saraf kecuali lapisan luarnya (perikondrium). tulang rusuk  bagian depan. Tulang rawan hialin dapat kita temukan pada laring. cuping telinga. antar ruas tulang belakang dan pada epiphyseal plate. yaitu :  Tulang rawan hialin Yaitu tulang yang berwarna putih sedikit kebiru-biruan. Pada zat interseluler tersebut juga terdapat rongga-rongga yang disebut lakuna yang berisi sel tulang rawan. Pada orang dewasa tulang rawan jumlahnya sangat sedikit dibandingkan dengan anak-anak. Tulang rawan memiliki sifat lentur karena tulang rawan tersusun atas zat interseluler yang berbentuk jelly yaitu condroithin sulfat yang di dalamnya terdapat serabut kolagen elastin. Tulang rawan elastis dapat kita temukan pada daun telinga. Tulang Keras (Osteon) 4 . Tulang rawan fibrosa Yaitu tulang yang mengandung banyak sekali bundel-bundel serat kolagen sehingga tulang rawan fibrosa sangat kuat dan lebih kaku. antar tulang rusuk (costal cartilage) dan tulang dada. mengandung serat-serat kolagen dan kondrosit. Maka dari itu. Tulang ini dapat kita temukan pada diskus di antara tulang vertebra dan pada simfisis pubis di antara dua tulang pubis.

osteosit. Tulang baru dibentuk oleh osteoblas yang membentuk osteoid dan mineral pada matriks tulang. Gambar 2. dan osteoklas. dapat bergerak. Bila proses ini selesai osteoblas menjadi osteosit dan terperangkap dalam matriks tulang  yang mengandung mineral. yaitu osteoblas. dan deposit mineral. Selsel ini berdiferensiasi menjadi osteoklas ketika menerima sinyal dari osteoblas. Sel ini berinti banyak. Osteoklas 5 . serta melekat di tulang melalui integrin di tonjolan membran yang disebut sealing zone. Siklus remodelling tulang Siklus remodeling tulang dimulai dengan perekrutan sel-sel prekursor osteoklas. Osteoklas Osteoklas mengikis dan menyerap tulang yang sudah terbentuk di sekitarnya dengan mengeluarkan asam yang melarutkan kristal kalsium fosfat dan enzim yang menguraikan matriks organik. Sel-selnya terdiri atas tiga jenis dasar.  Osteoblas Merupakan sel pembentuk tulang yang memproduksi kolagen tipe I dan berespon terhadap perubahan PTH. Osteosit Berfungsi memelihara mineral dan elemen organik tulang.Tulang keras atau yang sering kita sebut sebagai tulang yang sebenarnya berfungsi untuk menyusun berbagai sistem rangka. Tulang tersusun atas sel. matriks protein. Osteosit ini  merupakan sel-sel tulang dewasa.

Sedangkan yang membuat (former) nya adalah osteoblast. Selain faktor usia ada beberapa faktor resiko dapat mempengaruhi terjadinya osteoporosis yaitu faktor genetik. dimana wanita dengan usia tersebut biasanya telah mengalami menopause. osteoblas mungkin meningkat jumlahnya dalam mengkompensasi peningkatan resorpsi tulang karena kurangnya estrogen. Pada wanita usia 65 tahun kadar hormon estrogennya cenderung menurun yang kemudian menyebabkan aktivasi osteoklastnya meningkat sehingga osteoklast yang lebih dominan 6 . aktivitas osteoblas dapat menurun karena penurunan Insulin-like Growth Factor 1 (IGF-1) dan testosteron. Estrogen ini berfungsi untuk menekan aktivitas resorpsi tulang oleh osteoklas. Fase yang panjang ini diatur oleh apoptosis osteoklas. Peak mass bone (puncak pembentukan massa tulang) adalah pada umur 30 tahun. kurangnya asupan vitamin D dan juga kalsium. 2. Osteoblas matur mensintesis matriks tulang. Pada usia diatas 30 tahun atau post menopause yang lebih dominan adalah proses resorpsinya. Anak yang sedang tumbuh mempunyai lebih banyak osteoblas dibandingkan dengan orang tua. Selanjutnya preosteoblas ditarik dari stem sel mesenkimal dalam sum-sum tulang. Menopause ini selanjutnya menurunkan kadar hormon estrogen. Resorpsi tulang ini adalah tahap pertama dari siklus renovasi. Pada wanita lansia. terutama kolagen tipe I dan mengatur mineralisasi tulang yang baru terbentuk. Dimana saat proses pembentukan peran ini osteoblast yang dominan untuk membentuk tulang. Pada pria lansia.yang matur kemudian mensintesis enzim proteolitik yang mencerna matriks kolagen. Selain karena gangguan mineral tulang pasien. Jelaskan mekanisme keluhan pasien pada skenario? Wanita pada skenario berusia 65 tahun. gangguan visual dan keseimbangan tubuh juga merupakan beberapa hal yang menyebabkan pasien terjatuh di kamar mandi. Hubungan identitas pasien dengan keluhannya Pada wanita homon estrogen menginduksi apoptosis osteoklast (menurunkan aktivitas osteoklas). osteoklas ini fungsinya untuk resorpsi atau penyerapan (penghancuran) tulang. Hal ini kemudian mengarah pada osteoporosis yang meningkatkan resiko terjadinya fraktur. Beberapa osteoblast matur terjebak dalam mineralisasi tulang dan menjadi ostesit. selain itu aktivitas enzim hydrolase dan kolagenase meningkat sehingga matriks tulang menjadi lebih longgar.

sistem imun. ovarium. Estrogen berperan pada pertumbuhan tanda seks sekunder pada wanita dan menyebabkan pertumbuhan uterus. Estriol merupakan estrogen yang terutama didapatkan di dalam urine. osteosit. 17β-estradiol (E2). penipiisan mucus serviks dan pertumbuhan saluran-saluran pada payudara.25 (OH)2D. Estrogen juga mempengaruhi profil lipid dan endotel pembuluh darah. Selain terdistribusi pada jaringan otak. Peran estrogen pada tulang Estrogen manusia dapat dibagi menjadi 3 kelompok yaitu estron (E1). estriol (E3). dan sistem gastrointestinal. Berasal dari hidroksilasi 16 estron dan estradiol. Estrogen merupakan regulator pertumbuhan dan homeostasis tulang yang penting. dan prostat. Ekspresi ERα dan ERβ meningkat bersamaan dengan diferensiasi dan maturasi osteoblas. 7 . Efek tak langsung meliputi estrogen terhadap tulang berhubungan dengan homeostasis kalsium di usus. sistem kardiovaskular. eseptor estrogen juga diekspresikan oleh berbagai sel tulang. termasuk osteoblas. uterus. modulasi 1. ekskresi Ca di ginjal dan sekresi hormon paratiroid (PTH). hati. osteoklas. Efek-efek ini akan meningkatkan formasi tulang dan menghambat resorpsi tulang oleh osteoklas. Estron juga dihasilkan oleh tubuh manusia tetapi berasal dari luar ovarium yaitu dari konversi androstenedion pada jaringan perifer. susunan saraf pusat. estrogen memiliki beberapa efek. penebalan mukosa vagina.untuk menghancurkan tulang yang menyebabkan tulang penderita menjadi lebih rapuh dan apabila mengalami trauma maka akan mudah timbul keluhan seperti pada skenario. dan kondrosit. Saat ini telah ditemukan 2 macam reseptor estrogen (ER) yaitu reseptor estrogen-α (ERα) dan reseptor estrogen-β (ERβ). Estrogen yang terutama dihasilkan oleh ovarium adalah estradiol. Terhadap sel-sel tulang. tulang. Estrogen memiliki efek langsung dan tak langsung pada tulang.

Jelaskan definisi dari osteoporosis? 8 .Gambar 3. Efek estrogen terhadap berbagai sel tulang 3.

5 SD).5 SD lebih rendah dari Osteoporosis berat nilai rata-rata dewasa muda Seperti definisi osteoporosis diatas dengan satu 9 . Tabel 1. Osteoporosis Osteoporosis berasal dari Bahasa Yunani yaitu ‘ostoun’ yang berarti tulang dan ‘poros’ yang berarti pori.5 standar deviasi (SD) atau dibawah nilai rata-rata dewasa muda yang sehat (T score < -2. osteoporosis adalah nilai BMD berada pada 2. dengan etiologi multifaktorial yang ditandai dengan massa tulang yang rendah dan deteriorasi mikro arsitektural jaringan tulang yang menyebabkan peningkatan kerapuhan tulang. sistemik progresif. Definisi osteoporosis berdasarkan WHO DEFINISI Normal KRITERIA BMD berada pada -1 SD dari nilai rata-rata Low bone mass (Osteopenia) dewasa muda BMD berada pada -1 dan -2.Gambar 4. Berdasarkan kriteria WHO.5 SD lebih rendah Osteoporosis dari nilai rata-rata dewasa muda BMD berada pada -2. Osteoporosis sendiri merupakan penyakit kronik.

Faktor resiko yang dapat diubah : ˗ Merokok Nikotin dalam rokok menyebabkan melemahnya daya serap sel terhadap kalsium dari darah ke tulang. Keadaan ini terutama terjadi pada wanita antara usia 50-60 tahun dengan sensitas tulang yang rendah dan diatas usia 70 tahun dengan Body Mass Index (BMI) yang rendah. 5. Bentuk tubuh Kerangka tubuh yang lemah dan skoliosis vertebra menyebabkan penyakit ini. karena masa puncak massa tulang juga lebih rendah dan efek kehilangan estrogen selama menopause. wanita kaukasia yang berperawakan tidak gemuk dan berkerangka kecil lebih rentan terkena osteoporosis. proses pembentukan tulang ˗ oleh osteoblas menjadi melemah. Riwayat keluarga Riwayat keluarga juga mempengaruhi penyakit ini.3 juta per tahun. Gaya hidup 10 . Pada keluarga yang mempunyai riwayat osteoporosis. Jelaskan faktor resiko yang dapat menyebabkan terjadinya osteoporosis? a. Perbedaan ini ‘mungkin’ disebabkan oleh faktor hormonal dan rangka tulang yang lebih ˗ ˗ kecil. Faktor resiko yang tidak dapat dirubah : ˗ Usia Lebih sering terjadi pada laki-laki atau wanita usia tua (lansia). Prevalensi osteoporosis pada wanita 75 tahun adalah sekitar 90%. Jelaskan epidemiologi terjadinya osteoporosis? Wanita lebih sering mengalami osteoporosis dan lebih ekstensif dari pria. Rata-rata wanita usia 75 tahun telah kehilangan 25% tulang kortikalnya dan 40% trabekulanya. Dengan bertambahnya usia populasi ini. Ras Kulit putih mempunyai resiko paling tinggi terkena osteoporosis. Wanita afrika dan amerika memiliki massa tulang lebih besar daripada wanita kaukasia sehingga lebih tidak rentan terhadap osteoporosis. ˗ Jenis kelamin Wanita 3 kali lebih sering terkena dibanding laki-laki. Sebaliknya. b. insidensi fraktur meningkat 1. anak-anak yang dilahirkan cenderung ˗ mempunyai penyakit yang sama.atau lebih fraktur 4. Oleh karena itu.

osteoporosis dibedakan atas : a.Aktivitas fisik yang kurang dan imobilisasi dengan penurunan penyangga berat badan merupakan stimulus penting bagi resorpsi tulang. Osteoporosis primer dibedakan lagi menjadi : ˗ Osteoporosis tipe I (pasca menopause). Osteoporosis sekunder 11 . tirotoksikosis. defisiensi kalsium Aktivitas fisik dan pembebanan mekanik Obat-obatan (kortikosteroid. Tabel 2. Faktor resiko osteoporosis Umur Setiap peningkatan umur 1 dekade berhubungan dengan Genetik Lingkungan Hormon dan penyakit kronik Sifat fisik tulang peningkatan resiko Etnis (kaukasian/oriental > afrika/polinesia) Gender (wanita > laki-laki) Riwayat keluarga Makanan. sirosis. akan cepat terjadi osteoporosis. b. Menopause dini dan hormonal Kadar estrogen plasma yang turun atau berkurang menyebabkan resorpsi tulang menjadi lebih cepat. sehingga akan terjadi penurunan massa tulang yang banyak. Osteoporosis tipe II ( senilis). Jelaskan jenis-jenis osteoporosis? Menurut Peck dan Chestmut (1989) . yang terjadi pada usia muda dengan penyebab yang tidak diketahui. Bila tidak segera diatasi. Beban fisik ˗ yang terintegrasi merupakan penentu dari puncak massa tulang. Osteoporosis primer Osteoporosis yang terjadi bukan sebagai akibat penyakit yang lain. Osteoporosis idiopatik. terutama kehilangan massa tulang di daerah ˗ korteks. heparin) Merokok Alkohol Defisiensi estrogen Defisiensi androgen Gastrektomi. hiperkortisolisme Densitas massa tulang Ukuran dan geometri tulang Mikroarsitektur tulang Komposisi tulang 6. yang kehilangan tulang terutama ˗ di bagian trabekula. antikonvulsan.

Jelaskan etiologi dari osteoporosis? Osteoporosis pascamenopause terjadi karena kurangnya hormon estrogen. dan adrenal) serta 12 . kolum femur Meningkat Terutama ekstraskeletal Penuaan. dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang. rematoid artritis. Biasanya gejala timbul pada perempuan yang berusia antara 51-75 tahun. dan lain-lain. Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang memiliki kadar dan fungsi hormon yang normal. tetapi dapat muncul lebih cepat atau lebih lambat. radius distal Menurun Terutama skeletal Defisiensi estrogen Tipe senilis > 70 tahun 2:1 Trabekuler dan kortikal Rendah Vertebra. Penyakit ini bisa disebabkan oleh gagal ginjal kronis dan kelainan hormonal (terutama tiroid. Kurang dari 5% penderita osteoporosis juga mengalami osteoporosis sekunder yang disebabkan oleh keadaan medis lain atau obat-obatan. defisiensi estrogen 7. Hormon estrogen produksinya mulai menurun 2-3 tahun sebelum menopause dan terus berlangsung 3-4 tahun setelah menopause. antara lain hiper-paratiroid. paratiroid. Perbedaan osteoporosis tipe pasca menopause dan tipe senilis Usia terjadinya Rasio kelamin (W : L) Tipe kerusakan tulang Bone turn over Lokasi fraktur terbanyak Fungsi paratiroid Efek estrogen Etiologi utama Tipe pasca menopause 51-75 tahun 6:1 Terutama trabekuler Tinggi Vertebra. Hal ini berakibat menurunnya massa tulang sebanyak 1-3% dalam waktu 5-7 tahun pertama setelah menopause.Osteoporosis yang terjadi pada atau diakibatkan oleh penyakit lain. Osteoporosis senilis kemungkinan merupakan akibat dari kekurangan kalsium yang berhubungan dengan usia dan ketidakseimbangan antara kecepatan hancurnya tulang (osteoklas) dan pembentukan tulang baru (osteoblas). yang membantu mengatur pengangkutan kalsium ke dalam tulang. Senilis berarti bahwa keadaan ini hanya terjadi pada usia lanjut. Tabel 3. Osteoporosis juvenil idiopatik merupakan jenis osteoporosis yang penyebabnya tidak diketahui. Wanita sering kali menderita osteoporosis senilis dan pasca menopause. gagal ginjal kronis. Penyakit ini biasanya terjadi pada orang-orang berusia diatas 70 tahun dan 2 kali lebih sering menyerang wanita. kadar vitamin yang normal.

keduanya meningkat menunjukkan adanya peningkatan bone turnover. 8. terutama fraktur vertebra dan radius distal meningkat. menopause juga menurunkan sintesis berbagai protein yang membawa 1. Pada menopause. maka kadar PTH akan meningkat pada wanita menopause. karena memiliki permukaan yang luas dan hal ini dapat dicegah dengan terapi sulih estrogen. Petanda resorpsi tulang dan formasi tulang. Untuk mengatasi keseimbangan negatif kalsium akibat menopause. Estrogen juga berperan menurunkan produksi berbagai sitokin oleh bone marrow stroma cell dan sel-sel mononuklear. dan TNF-α yang berperan meningkatkan kerja osteoklas. Pemakaian alkohol yang berlebihan dan merokok dapat memperburuk keadaan ini.25(OH)2D. antikejang. Jelaskan patogenesis terjadinya osteoporosis? Osteoporosis tipe I Setelah menopause. Peningkatkan bikarbonat pada menopause terjadi akibat penurunan rangsang respirasi sehingga terjadi relatif asidosis respiratorik 13 . menopause juga menurunkan absorpsi kalsium di usus dan meningkatkan ekskresi kalsium di ginjal.obat-obatan (misalnya kortikosteroid. Selain peningkatan aktivitas osteoklas. Dengan demikian. seperti IL-1. terutama pada decade awal setelah menopause. dan hormon tiroid yang berlebihan). sehingga insiden fraktur. meningkatnya kadar albumin dan bikarbonat.25(OH)2D di dalam plasma. menurunnya kadar estrogen akibat menopause akan meningkatkan produksi berbagai sitokin tersebut sehingga aktivitas osteoklas meningkat. sehingga osteoporosis akan semakin berat. Selain itu. Penurunan densitas tulang terutama pada tulang trabekular. sehingga pemberian estrogen akan meningkatkan konsentrasi 1. maka resorpsi tulang akan meningkat. IL-6. sehingga meningkatkan kadar kalsium yang terikat albumin dan juga kadar kalsium dalam bentuk garam kompleks. barbiturat. kadangkala didapatkan peningkatan kadar kalsium serum dan hal ini disebabkan oleh menurunnya volume plasma.

perubahan mikroarsitektur tulang dan peningkatan resiko fraktur. Faktor lain yang juga berperan dalam kehilangan massa tulang pada orang tua adalah faktor genetik dan lingkungan (merokok. Akibat defisiensi kalsium. Patogenesis osteoporosis pasca menopause Osteoporosis tipe II Osteoporosis tipe II merupakan osteoporosis senilis yang terjadi pada laki-laki maupun perempuan di atas usia 75 tahun.Gambar 5. Pada dekade delapan dan sembilan kehidupan. anoreksia. terjadi ketidakseimbangan remodeling tulang dimana resorpsi tulang meningkat. 14 . malabsorpsi. sedangkan formasi tulang tidak berubah atau menurun. dan paparan sinar matahari yang rendah. Defisiensi kalsium dan vitamin D juga sering didapatkan pada orang tua. Hal ini akan menyebabkan kehilangan massa tulang. Hal ini disebabkan oleh asupan kalsium dan vitamin D yang kurang. alkohol. obat-obatan. Disebabkan oleh gangguan absorpsi kalsium di usus sehingga menyebabkan hiperparatiroidisme sekunder yang menyebabkan timbulnya osteoporosis. imobilisasi lama). akan timbul hiperparatiroidisme sekunder yang persisten sehingga akan semakin meningkatkan resorpsi tulang dan kehilangan massa tulang.

Penyebab osteoporosis sekunder dapat dilihat pada gambar 6. sehingga kehilangan tulang terutama terjadi pada tulang kortikal dan meningkatkan resiko fraktur tulang kortikal misalnya pada femur proksimal. Selain itu glukokortikoid juga akan menekan produksi gonadotropin. remodeling endokortikal dan intrakortikal akan meningkat. Patogenesis osteoporosis senilis Osteoporosis sekunder Jenis osteoporosis ini timbul akibat keadaan lain seperti akromegali. Gambar 6. Glukokortikoid merupakan penyebab osteoporosis sekunder dan fraktur osteoporotik yang terbanyak. hiperparatiroidisme primer. sehingga produksi estrogen menurun dan akhirnya osteoklas juga 15 . diabetes melitus tipe I.Dengan bertambahnya umur. hiperparatiroidisme sekunder dan peningkatan kerja osteoklas. peningkatan resorpsi endokortikal tulang panjang akan diikuti peningkatan formasi periosteal sehingga diameter tulang panjang akan meningkat dan menurunkan resiko fraktur pada laki-laki tua. hipertiroidisme. Glukokortikoid akan menyebabkan hipokalsemia. dan keganasan seperti myeloma multipel lama. akibat terapi kortikosteroid lama. Pada lakilaki tua.

Terhadap osteoblas. yaitu suatu deformitas akibat kolaps dan fraktur pada vertebra torakal tengah. yang lain sering kali menunjukan gejala klasik berupa nyeri punggung. Dengan adanya peningkatan resorpsi tulang oleh osteoblas.4 kali. maka akan terjadi osteoporosis yang progresif. Fraktur terjadi bukan saja karena osteoporosis tetapi juga karena kecenderungan usia lanjut untuk jatuh. 16 . Berdasarkan meta-analisis didapatkan bahwa resiko fraktur panggul pada pengguna steroid meningkat 2. Sekitar 30% wanita dengan fraktur leher femur menderita osteoporosis. Penderita lain mungkin datang dengan gejala patah tulang.akan meningkat kerjanya. bungkuk punggung (dowager’s hump). Faktur yang mengenai leher femur dan radius sering terjadi. yang seringkali akibat fraktur kompresi dari satu atau lebih vertebra. seringkali akan hilang dengan sendirinya setelah 4-6 minggu. glukokortikoid akan menghambat kerjanya. Jelaskan manifestasi klinis dari osteoporosis? Gejala pada usia lanjut bervariasi. Gambar 7. beberapa tidak menunjukan gejala. sehingga formasi tulang menurun.1-4. Penyebab osteoporosis sekunder 9. dibandingkan hanya 15% pada pria. Nyeri seringkali dipicu oleh adanya stres (fisik). turunnya tinggi badan.

Osteoporosis dapat terjadi pada setiap tulang. dan postur membungkuk. Jelaskan pemeriksaan yang dilakukan untuk mendiagnosa terjadinya osteoporosis? a. Penderita osteoporosis dapat mengalami patah tulang hanya dengan benturan ringan. Single Photon Absorptiometry (SPA) Alat ini memanfaatkan isotop yang dengan potonmonoenergic biasanya 1-125. kesulitan berdiri. Tulang yang dijadikan tempat pengukuran adalah tulang-tulang di perifer pada 1/3 17 . pinggul. 10. BMD diukur dengan tes X-ray absorptiometry energi ganda (disebut sebagai scan DXA). Ini sama halnya dengan dengan mengukur tekanan darah untuk membantu memprediksi risiko stroke. Ini hanya dapat memprediksi risiko.5 standar deviasi terhadap rata-rata orang dewasa. Hasil tes dinyatakan normal bila statistik BMD menunjukkan skor T antara 1 dan -1.5. dan tulang belakang. Gejala awal berupa nyeri sendi. dengan standar deviasi 1 dibanding rata-rata orang dewasa. Meskipun osteoporosis sendiri tidak menimbulkan nyeri. patah tulang. kehilangan tinggi badan.Osteoporosis sering disebut sebagai silent disease. Laporan ini menunjukkan skor T antara -1 dan -2. kanker. Standar penilaian hasil tes BMD mengacu pada standar yang dikeluarkan oleh WHO untuk osteoporosis. Tes Kepadatan Mineral Tulang (Bone Mineral Density) Tes Kepadatan Mineral Tulang (Bone Mineral Density) umumnya berkorelasi dengan kekuatan tulang dan digunakan untuk mendiagnosis osteoporosis. Penting untuk diingat bahwa tes BMD tidak dapat memprediksi dengan pasti kapan dimulainya proses patah tulang. Massa tulang yang rendah (secara medis disebut osteopenia) bila nilai BMD yang lebih besar dari 1 deviasi standar tetapi kurang dari 2. Osteoporosis pada tulang belakang dapat menyebabkan gejala nyeri punggung. atau kelainan bentuk tulang belakang. namun paling umum ditemui pada pergelangan tangan. karena kehilangan tulang terjadi tanpa gejala. yang merupakan tes kedokteran yang digunakan untuk mendeteksi tumor. namun jika terjadi patah tulang penderita dapat merasa nyeri hebat. atau membungkuk. mengangkat benda. jatuh. menaiki tangga. b. Dengan mengukur BMD. memungkinkan untuk memprediksi risiko patah tulang. yang berarti meningkatkan risiko patah tulang tetapi tidak memenuhi kriteria untuk osteoporosis. dan infeksi pada tulang. Tes kepadatan tulang tidak sama dengan scan tulang. dan kesulitan duduk tegak.

Keuntungan utama SPA adalah relatif lebih mudah dan adekuat untuk melihat penurunan massa korteks tulang. yaitu sebesar 3 mrads.rem 18 . sehingga pengaruh bagian belakang corpus dapat dihindari sehingga presisi pengukuran lebih tajam.5%). dibandingkan 5m. karena presisi yang lebih tinggi (0. Dengan adanya DEXA. c. d.5 m. Dual X-ray Absorptiometry (DEXA) DEXA merupakan gold standard untuk diagnosis osteoporosis. Berbeda dengan SPA. dengan tingkat presisi 1-2% clan paparan radiasi 2-5 mrem. Tidak sensitif untuk melihat perubahan pada tulang trabekular dimana destruksi pada tulang trabekular lebih tinggi dibanding tulang kortikal.distal os radius. Waktu yang diperlukan untuk pemeriksaan berkisar sekitar 10-15 menit. perkapuran dalam aorta atau ligamen. Waktu peneraan alat ini 20-45 menit dengan paparan radiasi 5-10 mrem. alat ini tidak digunakan untuk penjajakan rutin. Mampu mengukur material radio-opak yang dilalui oleh sinar misalnya osteofit. terlihat hasil lebih efektif untukmenentukan ada tidaknya osteoporosis pada kasus yang diperiksa. Gadolinium-153. pengukuran dengan DPA. Unit pengukuran densitas tulang dengan DEXA adalah densitas area (g/cm2). Dari banyak laporan.1-3. Keuntungan lainnya adalah paparan radiasi yang minimal. Kelemahan metode SPA dan DPA yang sumber energinya berasal dari radio isotop adalah ketidakstabilannya oleh karena sifat isotop yang dapat menurun setiap waktu ini tidak terdapat pada metode X-ray.7% dan akurasi 90-97%. maka banyak institusi radiologi yang menggantikan pesawat DPA-nya dengan pesawat DXA. misalnya pengukuran vertebral dan lateral. metode ini bisa mengukur dari banyak lokasi.6-1. Karena harganya yang mahal dan membutuhkan waktu yang lama dalam pemeriksaan. DEXA saat ini lebih banyak digunakan untuk penjajakan osteoporosis menggantikan DPA. apalagi diketahui bahwa dosis permukaan pada penderita lebih kecil dari pada pemeriksaan dengan DPA (2. Metode ini mempunyai nilai presisi 1. Salah satu keuntungan densitometer DEXA dibandingkan DPA antara lain. yaitu dengan radio nuklir. sistem ini memakai isotop 2 energi.rem. Dual Photon Absorptiometry (DPA) Dengan alat ini tulang yang dinilai adalah tulang axial/sentral yaitu tulang vertebra lumbal.

Waktu yang dibutuhkan untuk peneraan 10-20 menit dengan tingkat presisi 3-15% (rata-rata 7%) dan paparan radiasi 100-1000 mrem. Bone Sonometer (Quantitative Ultra Sound/QUS) Pesawat sonografi pada densitometri ini tidak berbeda dengan pesawat USG yang biasa kita kenal pada pemeriksaan abdomen atau obstetrik. Paparan radiasi pada penderita sekitar 25 mrem. DPA atau DEXA.5 MHz). yaitu 3.2 sampai 0.pada DPA). Phantom tersebut berisi cairan yang mengandung kalium fosfat. Pemeriksaan dengan QCT diperlukan dosis radiasi yang tinggi dengan paparan radiasi pada penderita sekitar 25 mrem. Keterbatasan penggunaan alat ini adalah dosis radiasi yang tinggi dan memerlukan teknik yang canggih dan mahal. DEXA juga lebih sensitif dan akurat dalam menentukandensitas mineral tulang.5 MHz dan untuk payudara sekitar 5-7. f. kurus atau gemuk. Quantitative Computed Tomography (QCT) Quantitative CT densitometer mempunyai keunggulan dibandingkan pesawat yang lainnya. relatif murah. Dengan USG pengukuran densitas mineral tulang dilaksanakan dengan cara yang tidak berbahaya. e. Keterbatasan penggunaan pesawat ini adalah biaya yang tinggi sehingga biaya pemeriksaan per-penderita lebih mahal dibandingkan dengan pesawat SPA. terletak pada perangkat lunak dan phantom kalibrasi standart yang tidak dipunyai pesawat CT Scan Imaging dan ini dapat diinstalkan. Akurasi dan presisi pengukuran densitas tulang dengan QCT sangat dipengaruhi oleh ukuran tubuh penderita. QCT densitometer dapat digunakan untuk mengukur densitas tulang dalam 3 dimensi.5 MHz (bandingkan dengan USG yang biasa dipakai untuk pemeriksaan abdomen atau obstetri. mudah dan tidak memerlukan radiasi. Dengan ultrasonografi ini dapat diukurdensitas mineral pada tulang-tulang perifer seperti tumit. jari dan tulang tibia. 19 . Akhir-akhir ini sudah ada perkembangan baru dari phantom ini yang terbuat dari bahan solid dan mengandung kalsium. berarti panjang gelombang makin panjang dengan daya tembus makin dalam. tempurung lutut. karena kemampuannya dalam melakukan pemeriksaan dengan irisan axial. Perbedaannya dengan pesawat CT Scan yang sudah ada. Frekuensi gelombang suara yang dipergunakan sekitar 0.

karena osteoporosis masih jarang pada kaum pria. antara lain : 20 . Pemeriksaan ini merupakan suatu metode yang mempunyai keuntungan tidak hanya gampang dibawa bawa tetapi juga tidak ada radiasi ukuran kecil. Pemakaian densitometer sebagai alat pemeriksaan untuk penjajakan osteoporosis. Beberapa hal perlu diketahui dalam menganalisa hasil skrening densitometer. Salah satu metode yang lebih murah dengan menilai densitas masa tulang perifer menggunakan gelombang suara ultra yang menembus tulang dinilai atenuasi kekuatan dan daya tembus melewati tulang dengan ultrasound broad band dan kekakuan (stiffines) dan tanpa ada resiko radiasi. pengukuran cepat dan relatif murah. Parameter-parameter diatas diketahui berkurang pada pasien osteoporosis dan yang lebih penting parameter sonografi dapat merupakan prediktor resiko fraktur vetebra. Lokasi pemeriksaan pada daerah sedikit jaringan lunak yaitu dilakukan pada tulang calcaneus tibia dan bisa juga pada jari tangan. dibandingkan bila pasien sudah datang dengan fraktur. Alat ini mempunyai tingkat akurasi 20%. keabsahan hasil skrening dengan interpretasi hasil.Penggunaan USG pada densitometri ini baru diakui oleh FDA pada tahun 1998 yang berarti layak pakai sebagai alat pemeriksaan untuk osteoporosis. yang lazimnya tercapai pada usia 30-35 tahun. alatini jauh lebih praktis. Jelaskan penatalaksanaan pada pasien osteoporosis? Penatalaksanaan pada pasien yang hanya dengan osteoporosis tanpa disertai patah tulang lebih sederhana. di Amerika baru direkomendasikan untuk kaum wanita. Densitas tulang terbaca sebagai nilai T-score . 11. karena tampilan alat portable dan biaya pemeriksaan yang lebih murah. Adanya elastisitas tulang terbukti dengan adanya kecepatan tembus gelombang dan kekuatan tulang berkaitan dengan atenuasi ultrasound. diantaranya: Pengertian T-Score. T-Score merupakan nilai perbandingan kandungan densitas mineral tulang seseorang bila dibandingkan dengan nilai puncak optimalisasi pembentukan masa tulang (peak bone mass). memerlukan asesmen bertingkat. Dibandingkan dengan QCT. hampir tanpa efek radiasi. Pasien usia lanjut dengan fraktur osteoporosis terutama bila akibat jatuh.

atau sekunder. primer. kalau dioperasi harus dilakukan pendekatan pada dokter bedah.gonadal. Perlu diadakan tindakan pencegahan dan atau pengobatan agar lain kali tidak jatuh lagi. Preparat yang mutakhir adalah preparat hormone paratiroid (teriparatid) harian subkutan 20a g yang dikatakan meningkat densitas mineral tulang vertebra dan femur proksimal pada pria hipoatau eu. b. Berbagai preparat bisfosfonat telah tersedia di pasaran. 21 . pada pria mungkin diperlukan testosteron). ditambahkan dengan vitamin D. Setelah operasi. tindakan rehabilitasi yang baik disertai pemberian obat untuk upaya pemeriksaan osteoporosis bisa dikerjakan.a. apa yang menyebabkannya apakah akibat faktor lingkungan. Oleh karena itu penderita harus dianjurkan untuk minum obat dengan banyak air putih dan tidak boleh berbaring setidaknya ½-1 jam setelahnya. bisfosfonat. baik per oral maupun injeksi (jangka panjang). Lebih baik dilakukan dibawah ˗ sinar matahari pagi karena membantu pembuatan vitamin D. dan lain-lain. Selain itu dapat pula diberikan obat-obatan yang mengurangi perusakan tulang (estrogen. kalsium. Penatalaksanaan osteoporosisnya : ˗ Tindakan dietetik Diet tinggi kalsium (sayur hijau. c. berjalan cepat. Terapi ini lebih bermamfaat sebagai tindakan pencegahan. Preparat anabolik yang memperbaiki defek fungsi osteoblast (terutama berimplikasi terjadinya osteoporosis pada pria). Pada usia lanjut harus ˗ diberikan bersama dengan jenis terapi yang lain. Asesmen mengenai sebab jatuh. Olahraga Olahraga yang terbaik adalah yang bersifat mendukung beban (weight bearing). gangguan intra atau ekstra serebral dan lain sebagainya. kalsitonin). dan lain-lain). Pemberian per oral harus berhati-hati karena efek samping pemberian yang dapat menyebabkan terjadinya esophagitis. manifestasi ditempat lain. misalnya jogging. fluorida). Operable atau tidak. Asesmen mengenai osteoporosisnya. Preparat asam ˗ zoledronat diberikan dengan dosis 1-2 kali 5 mg bertahan selama 23-24 jam. Asesmen mengenai frakturnya. Obat-obatan Obat-obatan yang membantu pembentukan tulang (steroid anabolik.

BAB III PENUTUP 3. pada penelitian terakhir (antara lain penelitian Women’s Health Initiative yang dihentikan sebelum waktunya) ternyata memberikan efek samping kardiovaskuler dan terjadinya keganasan yang cukup signifikans. Terapi sulih hormon tersebut hanya digunakkan jangka pendek untuk mengurangi gejala sindroma peri menopause. 3.2. Saran Semoga pembuatan dari laporan ini berguna kedepannya. baik vaginal maupun psikomotor. Kesimpulan Jadi dari hasil diskusi kami.1. wanita usia 65 tahun pada kasus di skenario mengalami osteoporosis. saat ini terapi jangka panjang untuk osteoporosis pasca menopause dianjurkan dengan bifosfonat atau raloksifen.Terapi pengganti hormon/terapi sulih hormon (TSH) baik dengan estrogen atau kombinasi estrogen dan progesteron yang selama ini dianjurkan untuk terapi osteoporosis wanita pasca menopause. 22 . Oleh karena itu.

DAFTAR PUSTAKA 1. B. Boedhi Darmojo. 2. Pencegahan. Wim. Osteoporosis dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi V Jilid III. 2009. Pengenalan. Junaidi. Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula. De Jong. Jakarta : EGC. Osteoporosis. Sloane. dr. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. 2005. Rasjad. Sistem muskuloskeletal dalam Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 3. 2004. Jakarta: Interna Publishing 6. Chairuddin. R. 2007. et all. Setiyohadi. Iskandar. Sjamsuhidajat. 2010. serta Pengobatan Penyakit Osteoporosis dan Penyakit Tulang Lain Yang Mirip. R. Jakarta: PT Sehat Ilmu Populer Kelompok Granmedia 4. Buku Ajar Geriatri. 2014. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC 5. Jakarta: EGC 3. 23 .