You are on page 1of 36

MODUL III

SESAK NAFAS

Skenario 3
Klien Ny. R usia 42 tahun masuk rumah sakit dengan keluhan sesak nafas
sejak 3 hari yang lalu. Saat pemeriksaan perrnafasan 30 x/ menit dan pasien
terpasang oksigen via nasal kanul sebanyak 2 L. Klien juga mengeluh batuk dan
berlendir serta bengkak pada kedua kaki yang dialami sejak dua bulan yang lalu.
Klien mengatakan kakinya sulit untuk digerakan. Klien mengatakan badan terasa
lemas, mual dan muntah, nafsu makan berkurang, dan mengeluh gatal dikulit
(tangan dan kaki). Klien memiliki riwayat diabetes melitus.
1. Klarifikasi istilah penting
a) Sesak nafas : Pernafasan yang sulit atau terasa berat
b) Batuk : Respons alami dari tubuh sebagai sistem pertahanan saluran
napas jika terdapat gangguan dari luar. Respons ini berfungsi
membersihkan lendir atau faktor penyebab iritasi atau bahan iritan
(seperti debu atau asap) agar keluar dari paru-paru dan .
c) Bengkak : Pembesaran atau protuberansi pada tubuh
d) Pernafasan : Proses pengambilan gas oksigen dari lingkungan dan
pengeluaran karbon dioksida dari dalam tubuh makhluk hidup.
Normal pernafasan :
-

Bayi : 30-40 x/menit

-

Anak : 20-30 x/menit

-

Dewasa : 16-20 x/menit

-

Lansia : 14-16 x/menit

2. Kata / Problem Kunci
a)

Ny. R usia 42 tahun

b) Sesak nafas
c)

Batuk

d) Bengkak
e)

Mual dan muntah

f)

Riwayat diabetes melitus

g) Gatal dikulit (tangan dan kaki)

3. Main Map

SESAK NAFAS

SN

GGK

Definisi : Sindrom
nefrotik adalah suatu
kumpulan gejala
gangguan klinis,
meliputi hal-hal:
Proteinuria masif> 3,5
gr/hr,
Hipoalbuminemia,
Edema,
Hiperlipidemia.

Definisi : adalah
kerusakan ginjal
yang terjadi selama
lebih dari 3 bulan,
berdasarkan kelainan
patologis dan
petanda kerusakan
ginjal seperti
proteinuria.

GGA

Definisi : adalah
Dalvm
sindrom klinis dimana
ginjal tidak lagi
mengsekresi produkproduk limbah
metabolisme.
Etiologi :
Prarenal :
- Hipovolemik
- Penurunan curah
jantung

Etiologi :

- Kelainan
Kongenital
- Glomerulonefritis
- Diabetes melitus

Renal :
- Hipoperfusi
berkepanjangan.
- Infeksi, nefrotoksis
- Glomerulonefritis
akut
Post renal :
- Obstruksi : batu
KK,
hipertrofiprostat,
cancer
kolon,
cancer servik &
uterus.

Etiologi :
Prarenal :
- Hipovolemik
- Penurunan curah
jantung
Renal :

Manifestasi klinis :
-

Lemah
Mual dan muntah
Sesak nafas
Oliguria
Edema
Anoreksia

- Hipoperfusi
berkepanjangan.
- Infeksi,
nefrotoksis
- Glomerulonefritis
akut
Post renal :
- Obstruksi : batu

 KK,
H

hipertrofiprostat,
i
cancer
kolon,
cancer
servik &
p
uterus.

Manifestasi klinis :
- Anemia
- Mual dan muntah
- Nyeri pinggang
hebat
- Gatal- gatal
- Edema
- Sesak nafas
- Retensi urine

o
Manifestasi klinis :

a

-

Riwayat
DM
l
Mual dan muntah
b
Gatalgatal
Edema
u
Sesak nafas
m
Retensi urine
i
Lemah

n
e
m
i

Jawaban pertanyaan 1) Karena terjadi peningkatan cairan N+ dan K+ maka akan mengakibatkan penimbunan cairan . Pertanyaan Penting 1) Mengapa klien mengalami sesak nafas ? 2) Mengapa klien mengeluh batuk dan berlendir ? 3) Mengapa klien mengalami bengkak pada kaki dan tangan ? 4) Mengapa klien mengalami mual dan muntah serta kehilangan nafsu makan ? 5) Mengapa klien mengalami gatal dikulit tangan dan kaki ? 5. hal ini yang menyebabkan sesak nafas pada klien. Lembar ceklis Manifestasi klinis Gagal ginjal akut Sindrom Nefrotik Gagal ginjal kronik Sesak nafas   dan    pada    Gatal dikulit  -  Mual dan muntah    Kurang      Batuk berlendir Bengkak kaki dan tangan nafsu makan Riwayat diabetes - melitus 4. sehingga menekan rongga diagframa dan paru. .

Klarifikasi informasi Terapi hemodialisa adalah suatu teknologi tinggi sebagai terapi pengganti untuk mengeluarkan sisa-sisa metabolisme atau racun tertentu dari peredaran darah manusia seperti air. 3) Karena terjadi penurunan GFR maka ginajl tidak dapat mengencerkan urine secara normal. diikuti juga peningkatan tekanan hidrostatik dan peningkatan permeabilitasi kapiler cairan keluar ke ekstrvaskular. osmosis dan ultra filtrasi. Peningkatan ureum serum mengakibatkan gangguan keseimbangan asam. urea. Ini bisa menyebabkan resiko kerusakan integritas kulit pada klien. ketika itu terjadi makan akan meningkatkan K+ dan N+ . sehingga reaksi kompensasi tubuh untuk respon batuk yang mengeluarkan lendir. asam urat. kalium. Ketika terjadi asam lambung yang naik klien akan meraskaan anoreksia. mual dan muntah. Hemodialisa merupakan sebuah metode untuk membuang sisasisa metabolisme tubuh yang tidak terpakai dari dalam darah pada kondisi . dan zat-zat lain melalui membran semi permeabel sebagai pemisah darah dan cairan dialisat pada ginjal buatan dimana terjadi proses difusi. Tujuan pembelajaran  Untuk mengetahui terapi hemodialisa pada gagal ginjal kronik 7. hidrogen. peningkatan ini akan menyebabkan cairan tertahan dan akan terjadi vasodilatasi pembuluh darah. 6. kreatinin. Maka terjadi pembengkakan atau edema. 5) Karena terjadi peningkatan kadar BUN menyebabkan sindrom uremia pada klien. Dan meningkatan asam lambung pada klien.2) Karena terjadi penumpukan cairan didaerah diafraghma dan mengakibatkan penumpukan sekret. Tingginya Ureum dalam tubuh akan menimbulkan pruiritis sehingga klien mengalami gatal-gatal pada kulit. natrium. yang dapat beresiko untuk perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. 4) Karena terjadi penurunan glomerulus filtrasi rate yang mengakibatkan penurunan klirens kreatinin dan peningkatan kadar kreatinin serum dan BUN.

seperti ureum. Meningkatkan kualitas hidup pasien yang menderita penurunan fungsi ginjal. . yaitu membuang sisa-sisa metabolisme dalam tubuh. Menggantikan fungsi ginjal sambil menunggu program pengobatan yang lain. Frekuensi Hemodialisa. dan sisa metabolisme yang lain. tetapi sebagian besar penderita menjalani dialisa sebanyak 3 kali/minggu. Menggantikan fungsi ginjal dalam mengeluarkan cairan tubuh yang seharusnya dikeluarkan sebagai urin saat ginjal sehat.tertentu seperti penurunan fungsi ginjal hingga gagal ginjal akut maupun kronis. Tujuan dari pengobatan hemodialisa antara lain Menggantikan fungsi ginjal dalam fungsi ekskresi. kreatinin. tergantung kepada banyaknya fungsi ginjal yang tersisa.

8. meredakan atau mentolerir tuntutantuntutan internal maupun eksternal yang disebabkan oleh transaksi antara individu dengan peristiwa-peristiwa yang dinilai menimbulkan stres. Seperti diketahui pasien hemodialisa bergantung kepada keluarga yang merawat (family caregiver) dalam segala aktifitasnya. tingginya tingkat gula dalam darah merusak jutaan unit penyaringan kecil dalam setiap ginjal. meskipun tidak semua ini akan berkembang menjadi gagal ginjal. baik secara kognitif maupun perilaku untuk mengatasi. Hal ini akhirnya mengarah pada gagal ginjal. Perbedaan situasi yang dihadapi oleh masing-masing subjek menentukan bagaimana strategi coping yang dilakukan. suatu kondisi yang ditandai dengan kadar glukosa darah tinggi (gula). Stres yang dialami oleh family caregiver laki-laki dan perempuan memiliki gambaran stres yang berbeda. Penelitian ini melibatkan dua subjek penelitian. Salah satu penyebab gagal ginjal adalah diabetes mellitus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa family caregiver mengalami stres ketika merawat pasien hemodialisa. yaitu satu orang perempuan dan satu orang laki-laki yang menjadi family caregiver dari pasien hemodialisa dan dua orang significant other. Desember 2013) Abstrak. Seseorang dengan diabetes rentan terhadap nefropati apakah mereka . Informasi tambahan “ Strategi copyng pada family caragiver pada gagal ginjal kronis yang menajalni hemodialisa” Kartika Agustina Triana Kesuma Dewi Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya (03. 9. Analisa dan sintesa Hubungan diabetes melitus dengan gagal ginjal. Penelitian ini bertujuan untuk melihat strategi coping yang digunakan oleh family caregiver dari pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisa. Sekitar 20 sampai 30 persen orang dengan diabetes mengalami penyakit ginjal (nefropati diabetik). Coping dalam penelitian ini diartikan sebagai usaha-usaha. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis tematik dengan koding terhadap hasil transkrip wawancara yang telah dibuat verbatim dan catatan lapangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Seiring waktu.

Tekanan darah tinggi (hipertensi) merupakan faktor risiko yang diketahui untuk penyakit ginjal dan orang-orang dengan diabetes rentan terhadap hipertensi. 10. Laporan diskusi . Risiko ini terkait dengan lamanya waktu orang yang memiliki diabetes.menggunakan insulin atau tidak. Untuk penyebab dari gula darah yang tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada glomerulus belum diketahui pasti atau belum jelas penyebabnya. Renin-angiotensin system – yang membantu mengatur tekanan darah – juga diduga terlibat dalam pengembangan nefropati diabetic.

dapat menimbulkan perburukan fungsi ginjal secara progresif. Gangguan ini merupakan akibat langsung dari iskemia renal. Organ sasaran utama organ ini adalah jantung. a. yaitu stadium yang lebih tinggi menunjukka n nilai laju filtrasi glomerulus yang lebih rendah. Ginjal mengecil. Klasifikasi tersebut membagi penyakit ginjal kronik dalam lima stadium.1. berdasarkan kelainan patologis atau petanda kerusakan ginjal seperti proteinuria. Etiologi Kronik dapat timbul dari hamper semua penyakit. stadium 3 kerusakan ginjal dengan penurunan yang sedang fungsi ginjal. 2006) . otak. Konsep Medis 1. Tekanan Darah Tinggi Hipertensi yang berlangsung lama dapat mengakibatkan perubahan – perubahan stuktur pada arteriol diseluruh tubuh. diagnosis penyakit ginjal kronik ditegakkan jika nilai laju filtrasi glomerulus kurang dari 60 ml/menit/1. Jika tidak ada tanda kerusakan ginjal. Pada pasien dengan penyakit ginjal kronik.73m². Pada ginjal adalah akibat aterosklerosis ginjal akibat hipertensi lama menyebabkan nefrosklerosis begina. Stadium 1 adalah kerusakan ginjal dengan fungsi ginjal yang masih normal. dan stadium 5 adalah gagal ginjal (Perazella. Apapun sebabnya. stadium 2 kerusakan ginjal dengan penurunan fungsi ginjal yang ringan. 2. klasifikasi stadium ditentukan oleh nilai laju filtrasi glomerulus. Secara histology lesi yang esensial adalah sklerosis arteri arteri kecilserta arteriol yang paling nyata . ginjal dan mata. Definisi Gagal ginjal kronik adalah kerusakan ginjal yang terjadi selama lebih dari 3 bulan. stadium 4 kerusakan ginjal dengan penurunan berat fungsi ginjal. ditandai dengan fibrosis dan hialinisasi (sklerosis) didingding pembuluh darah. biasanya simetris dan permukaan berlubang – lubang dan berglanula. Dibawah ini terdapat beberapa penyebab gagal ginjal kronik.

Perubahan yang paling dini sering kali hanya mengenai sebagian rumbai glomerulus atau hanya mengenai beberapaglomerulus yang tersebar. Pielonefritis akut juga bias . d. Lupus Eritematosus Sistemik (SLE) Nefritis lupus disbabkan oleh kompleks imun dalam sirkulasi yang terperangkap dalam membrane basalis glomerulus dan menimbulkan kerusakan. sehingga seluruh nefron rusak.pada arteriol eferen. b. bilateral. sehingga terjadi peningkatan aliran darah dan peningkatan permeabilitas kapiler glomerulus dan filtrasi glomerulus. Pielonefritis itu sendiri dapat bersifat akut atau kronik. Protein-protein plasma dan sel darah merah bocor melalui glomerulus. Penyakit Ginjal Polikistik Penyakit ginjal polikistik (PKD) ditandai dengan kista-kista multiple. Glomerulonefritis dibagi menjadi dua yaitu: 1) Gomerulonefritis Akut Glomerulonefritis akut adalah peradangan glomerulus secara mendadak. 2) Glomerulonefritis Kronik Glomerulonefritis kronik adalah pradangan yang lama dari sel-sel glomerulus. e. Pielonefritis Pielonefritis adalah infeksi yang terjadi pada ginjal itu sendiri. c.semakin lama ginjal tidak mampu mempertahankan fungsi ginjal. Reaksi peradangan diglomerulus menyebabkan pengaktifan komplemen. Penyumbatan arteri dan arteriol akan menyebabkan kerusakan glomerulusdan atrofi tubulus. Glomerulonefritis Glomerulonefritis terjadi karena adanya peradangan pada glomerulus yang diakibatkan karena adanya pengendapan kompleks antigen antibody. sehingga ginjal akan menjadi rusak (GGK).dan berekspansi yang lambat laun mengganggu dan menghancurkan parenkim ginjal normal akibat penekanan.

Diabetes mellitus menyerang struktur dan fungsi ginjal dalam bentuk. selaput serosa. meliputi kelainan-kelainan berbagai organ seperti: kelainan hemopoeisis. Pielonefritis kronik dapat terjadi akibat infeksi berulang-ulang dan biasanya dijumpai pada individu yang mengidap batu. pada stadium ini sering terjadi peningkatan GFR yang disebabkan oleh banyak factor yaitu. kelainan neuropsikiatri dan kelainan kardiovaskular (Sukandar. 2006). Kelainan hemopoeisis Anemia normokrom normositer dan normositer (MCV 78-94 CU). atau repluks vesikoureter. a. kulit. angiotensin II danprostaglandin.terjadi melalui infeksi hematogen. f. mata. Manifestasi klinis Gambaran klinik gagal ginjal kronik berat disertai sindrom azotemia sangat kompleks. efek rennin. 3) Stadium 3 (Nefropati insipient) 4) Stadium 4 (nefropati klinis atau menetap) 5) Stadium 5 (Insufisiensi atau gagal ginjal progresif) 3. 2) Stadium 2 (fase perubahan struktur dini) ditandai dengan penebalan membrane basalis kapiler glomerulus dan penumpukan sedikit demi sedikit penumpukan matriks mesangial. sering ditemukan pada pasien gagal ginjal kronik. Anemia yang terjadi sangat bervariasi bila ureum darah lebih dari 100 mg% atau bersihan kreatinin kurang dari 25 ml per menit. obstruksi lain. Riwayat perjalanan nefropati diabetikum dari awitan hingga ESRD dapat dibagi menjadi lima fase atau stadium: 1) Stadium 1 (fase perubahan fungsional dini) ditandai dengan hifertropi dan hiperfentilasi ginjal. glucagon yang abnormal hormone pertumbuhan. saluran cerna. kadar gula dalam darah yang tinggi. . Nefropati diabetic adalah istilah yang mencakup semua lesi yang terjadi diginjal pada diabetes mellitus. berjumlah 30% hingga 40% dari semua kasus. Diabetes Melitus Diabetes mellitus adalah penyebab tunggal ESRD yang tersering.

Keratopati mungkin juga dijumpai pada beberapa pasien gagal ginjal kronik akibat penyulit hiperparatiroidisme sekunder atau tersier. f. miosis dan pupil asimetris. e. Gangguan visus cepat hilang setelah beberapa hari mendapat pengobatan gagal ginjal kronik yang adekuat. diduga mempunyai hubungan dengan dekompresi oleh flora usus sehingga terbentuk amonia. Kelainan neuropsikiatri . c. Patogenesis mual dam muntah masih belum jelas. Kelainan saraf mata menimbulkan gejala nistagmus. Kelainan mata Visus hilang (azotemia amaurosis) hanya dijumpai pada sebagian kecil pasien gagal ginjal kronik. Kelainan selaput serosa Kelainan selaput serosa seperti pleuritis dan perikarditis sering dijumpai pada gagal ginjal kronik terutama pada stadium terminal. Kulit biasanya kering dan bersisik. Keluhan gatal ini akan segera hilang setelah tindakan paratiroidektomi. Kelainan retina (retinopati) mungkin disebabkan hipertensi maupun anemia yang sering dijumpai pada pasien gagal ginjal kronik. Kelainan saluran cerna Mual dan muntah sering merupakan keluhan utama dari sebagian pasien gagal ginjal kronik terutama pada stadium terminal. patogenesisnya masih belum jelas dan diduga berhubungan dengan hiperparatiroidisme sekunder. tidak jarang dijumpai timbunan kristal urea pada kulit muka dan dinamakan urea frost. Penimbunan atau deposit garam kalsium pada conjunctiva menyebabkan gejala red eye syndrome akibat iritasi dan hipervaskularisasi. Kelainan selaput serosa merupakan salah satu indikasi mutlak untuk segera dilakukan dialisis. misalnya hemodialisis.b. Kelainan kulit Gatal sering mengganggu pasien. Amonia inilah yang menyebabkan iritasi atau rangsangan mukosa lambung dan usus halus. Keluhan-keluhan saluran cerna ini akan segera mereda atau hilang setelah pembatasan diet protein dan antibiotika. d.

g. Kelainan mental ringan atau berat ini sering dijumpai pada pasien dengan atau tanpa hemodialisis. dilusi. sering dijumpai pada pasien gagal ginjal kronik terutama pada stadium terminal dan dapat menyebabkan kegagalan fatal jantung. dan tidak jarang dengan gejala psikosis juga sering dijumpai pada pasien GGK. Beberapa faktor seperti anemia. mengakibatkan gangguan pada syaraf. aterosklerosis. Hal ini menimbulkan gangguan metabolism protein dalam usus yang mengakibatkan anoreksia. Terjadi uremia yang mepengaruhi setiap system tubuh. Pada penyakit ginjal tahap akhir urine tidak dapat dikonsentrasikan atau diencerkan secara normal sehingga terjadi ketidakseimbangan cairan elektrolit. insomnia. akibat ketidakseimbangan suplai oksigen dengan kebutuhan. Kelainan kardiovaskular Patogenesis gagal jantung kongestif (GJK) pada gagal ginjal kronik sangat kompleks.Beberapa kelainan mental ringan seperti emosi labil. Semakin banyak timbunan produk sampah. maupun vomitus yang menimbulkan perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. Dengan menurunnya glomerulo filtrate rate (GFR) mngakibatkan penurunan klirens kreatinin dan peningkatan kadar kreatinin serum. hipertensi. dilusi. Penurunan jumlah glomeruli yang normal menyebabkan penurunan klirens substansi darah yang dibersihkan oleh ginjal. Selain itu Blood Ureum Nitrogen (BUN) biasanya juga meningkat. nausea. kalsifikasi sistem vaskular. dan depresi sering dijumpai pada pasien gagal ginjal kronik. produk akhir metabolism protein normalnya diekresikan kedalam urine tertimbun dalam darah. terutama pada neurosensori. maka gejala akan semakin berat. Penderita dapat terjadi sesak nafas. Kelainan mental berat seperti konfusi. Hal ini menimbulkan resiko kelebihan volume . 4. Natrium dan cairan tertahan meningkatkan resiko gagal jantung kongestif. dan tergantung dari dasar kepribadiannya (personalitas). Patofisiologi Pada ginjal kronik fungsi renal menurun. Peningkatan ureum kreatinin sampai keotak mempengaruhi fungsi kerja.

memperbaiki metabolisme secara optimal dan memelihara keseimbangan cairan dan elektrolit (Sukandar. Sehingga pada penderita dapat timbul keluhan adanya kelemahan dan kulit terlihat pucat menyebabkan tubuh tidak toleran terhadap aktifitas. meringankan keluhan-keluhan akibat akumulasi toksin azotemia. Penatalaksanaan a) Terapi konservatif Tujuan dari terapi konservatif adalah mencegah memburuknya faal ginjal secara progresif.cairan dalam tubuh. Semakin menurunnya fungsi renal terjadi asidosi metabolic akibat ginjal mengekresikan muatan asam (H+) yang berlebihan. 1) Peranan diet Terapi diet rendah protein (DRP) menguntungkan untuk mencegah atau mengurangi toksin azotemia. ekresi protein dalam urine dan adanya hipertensi. Dengan menurunnya filtrasi melalui glomerulus ginjal terjadi peningkatan fosfat serum dan penurunan kadar serum kalsium. 5. Penurunan kadar kalsium serum menyebabkan sekresi parat hormone dari kelenjar paratiroid. 2006). . yaitu mempertahankan keseimbangan positif nitrogen. memelihara status nutrisi dan memelihara status gizi. tetapi untuk jangka lama dapat merugikan terutama gangguan keseimbangan negatif nitrogen. Terjadi penurunan eritropoetin yang mengekibatkan terjadinya anemia. 2) Kebutuhan jumlah kalori Kebutuhan jumlah kalori (sumber energi) untuk GGK harus adekuat dengan tujuan utama. Laju penurunan fungsi ginjal perkembangan gagal ginjal kronis berkaitan dengan gangguan yang medasari. sehingga perlu dimonitor balance cairannya.

. dan transplantasi ginjal (Suwitra.3) Kebutuhan cairan Bila ureum serum > 150 mg% kebutuhan cairan harus adekuat supaya jumlah diuresis mencapai 2 L per hari. 3) Keluhan gastrointestinal Anoreksi. mual dan muntah. Terapi tersebut dapat berupa hemodialisis. c) Terapi pengganti ginjal Terapi pengganti ginjal dilakukan pada penyakit ginjal kronik stadium 5.35 atau serum bikarbonat ≤ 20 mEq/L. Untuk mencegah dan mengobati asidosis metabolik dapat diberikan suplemen alkali. Terapi alkali (sodium bicarbonat) harus segera diberikan intravena bila pH ≤ 7. Tindakan yang harus dilakukan yaitu program terapi dialisis adekuat dan obat-obatan simtomatik. b) Terapi simtomatik 1) Asidosis metabolic Asidosis metabolik harus dikoreksi karena meningkatkan serum kalium (hiperkalemia). dan efektif. 2006). Terapi pemberian transfusi darah harus hati-hati karena dapat menyebabkan kematian mendadak. dialisis peritoneal. merupakan keluhan yang sering dijumpai pada GGK. 4) Kebutuhan elektrolit dan mineral Kebutuhan jumlah mineral dan elektrolit bersifat individual tergantung dari LFG dan penyakit ginjal dasar (underlying renal disease). cegukan. murah. Keluhan gastrointestinal yang lain adalah ulserasi mukosa mulai dari mulut sampai anus. 2) Anemia Transfusi darah misalnya Paked Red Cell (PRC) merupakan salah satu pilihan terapi alternatif. yaitu pada LFG kurang dari 15 ml/menit. Keluhan gastrointestinal ini merupakan keluhan utama (chief complaint) dari GGK.

pasien-pasien yang telah menderita penyakit sistem kardiovaskular. bendungan paru dan kelebihan cairan yang tidak responsif dengan diuretik. hipertensi refrakter. dan astenia berat (Sukandar. Tetapi terapi dialisis tidak boleh terlalu cepat pada pasien GGK yang belum tahap akhir akan memperburuk faal ginjal (LFG). 2006). yaitu keinginan pasien . Indikasi medik CAPD. Kendala yang ada adalah biaya yang mahal (Rahardjo.73m². mual. muntah persisten. muntah. Hemodialisis di Indonesia dimulai pada tahun 1970 dan sampai sekarang telah dilaksanakan di banyak rumah sakit rujukan. Indikasi non-medik. dan Blood Uremic Nitrogen (BUN) > 120 mg% dan kreatinin > 10 mg%. yaitu perikarditis. pasien GGT (gagal ginjal terminal) dengan residual urin masih cukup. anoreksia. ensefalopati/neuropati azotemik.pasien yang cenderung akan mengalami perdarahan bila dilakukan hemodialisis. Indikasi elektif. yaitu indikasi absolut dan indikasi elektif. 2) Dialisis peritoneal (DP) Akhir-akhir ini sudah populer Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) di pusat ginjal di luar negeri dan di Indonesia. pasien. 2006). kesulitan pembuatan AV shunting. Beberapa yang termasuk dalam indikasi absolut. pasien dengan stroke. Kualitas hidup yang diperoleh cukup baik dan panjang umur yang tertinggi sampai sekarang 14 tahun. Indikasi tindakan terapi dialisis. Umumnya dipergunakan ginjal buatan yang kompartemen darahnya adalah kapiler-kapiler selaput semipermiabel (hollow fibre kidney). yaitu pasien anak-anak dan orang tua (umur lebih dari 65 tahun). dan malnutrisi. yaitu LFG antara 5 dan 8 mL/menit/1. dan pasien nefropati diabetik disertai co-morbidity dan co-mortality.1) Hemodialisis Tindakan terapi dialisis tidak boleh terlambat untuk mencegah gejala toksik azotemia.

Masa hidup (survival rate) lebih lama . sedangkan hemodialisis hanya mengambil alih 70-80% faal ginjal alamiah .Kualitas hidup normal kembali . Pencegahan Pencegahan untuk oenyakit gagal ginjal akut adalah :  Setiap orang harus memiliki gaya hidup sehat dengan menjaga pola makan dan olahraga teratur. peningkatan .  Membiasakan minum air dalam jumlah yang cukup merupakan hal yang harus dilakukan setiap orangsehingga faktor resiki untuk mengalami gangguan ginjal dapat dikurangi  Hindari pemakaian obat-obat atau zat yang bersifat nefrotoksik  Selalu melakukan check-up untuk mengetahui fungsi ginjal. pengendalian gula darah. yaitu: . lemak darah. dan di daerah yang jauh dari pusat ginjal (Sukandar.sendiri.Cangkok ginjal (kidney transplant) dapat mengambil alih seluruh (100%) faal ginjal. 2006).Komplikasi (biasanya dapat diantisipasi) terutama berhubungan dengan obat imunosupresif untuk mencegah reaksi penolakan. Berbagai upaya pencegahan yang telah terbukti bermanfaat dalam mencegah penyakit ginjal dan kardiovaskular. 3) Transplantasi ginjal Transplantasi ginjal merupakan terapi pengganti ginjal (anatomi dan faal). tingkat intelektual tinggi untuk melakukan sendiri (mandiri). anemia. Pertimbangan program transplantasi ginjal.  Upaya pencegahan terhadap penyakit ginjal kronik sebaiknya sudah mulai dilakukan pada stadium dini penyakit ginjal kronik. penghentian merokok. yaitu pengobatan hipertensi (makin rendah tekanan darah makin kecil risiko penurunan fungsi ginjal). 6.

. 2009).aktivitas fisik dan pengendalian berat badan (National Kidney Foundation.

2. Identitas klien Nama : Ny R Umur : 42 tahun Jenis kelamin : Wanita Pekerjaan : tidak dikaji Suku : tidak dikaji Bangsa : tidak dikaji Agama : tidak dikaji Diagnosa medis : Gagal ginjal kronik (GGK) B. alkohol dll) : Tidak dikaji .  Upaya untuk mengatasinya : terpasang oksigen via nasal kanul sebanyak 2 liter. Saat pemeriksaan perrnafasan 30 x/ menit dan pasien terpasang oksigen via nasal kanul sebanyak 2 L. Klien juga mengeluh batuk dan berlendir serta bengkak pada kedua kaki yang dialami sejak dua bulan yang lalu. Pengkajian A.Riwayat kesehatan saat ini :  Keluhan utama : Sesak nafas  Alasan masuk rumah sakit : Klien Ny. Klien mengatakan kakinya sulit untuk digerakan. R usia 42 tahun masuk rumah sakit dengan keluhan sesak nafas sejak 3 hari yang lalu.Riwayat kesehatan dahulu :  Penyakit yang pernah dialami : diabetes melitus  Pernah dirawat: Tidak dikaji  Alergi : Tidak dikaji  Kebiasaan (merokok. Klien mengatakan badan terasa lemas. Konsep keperawatan 1. nafsu makan berkurang. mual dan muntah. Riwayat kesehatan . . dan mengeluh gatal dikulit (tangan dan kaki).

.Pola tidur dan istirahat : Tidak dikaji . C.Diagnosa dan terapi : Diagnosa Gagal ginjal kronik.Pola persepsi dan manjemen kesehatan : Tidak dikaji . Pemeriksaan fisik : Keadaan umum : .Tanda – tanda vital :  TD : Tidak dikaji  N : Tidak dikaji  RR : 30x/menit  S : Tidak dikaji .Pola seksual – Reproduksi : Tidak dikaji D. Pola kebutuhan dasar : . Dan terapi pemberian oksigen via nasal kanul sebanyak 2 liter..Pola konsep diri : Tidak dikaji .Pola aktivitas dan istirahat :  Aktivitas : klien mengatakan kakinya sulit digerakan.Pola eliminasi : BAB dan BAK  Sebelum sakit : Tidak dikaji  Saat sakit : tidak dikaji .  Latihan : Tidak dikaji .Keadaan fisik :  Kepala dan leher : - .Pola peran-hubungan : Tidak dikaji .Riwayat kesehatan keluarga : Tidak dikaji .Pola kognitif : Tidak dikaji .Pola nutrisi metabolik :  Sebelum sakit : Tidak dikaji  Saat sakit : klien mengeluh mualdan muntah serta kurang nafsu makan.

Pemeriksaan penunjang : .  Neurologi : E. (Ini disebabkan karena adanya pembengkakan pada area kaki).Pemeriksaan radiologi : . Dada : Sesak nafas (Dispneu)  Paru : Pernafasan 30x/menit Klien juga mengeluh batuk dan berlendir  Jantung : -  Payudara dan ketiak : -  Abdomen : -  Genetalia : -  Integumen : klien mengeluh gatal – gatal dikulit tangan dan kaki  Ekstermitas : Atas : Bawah : kaki mengatakan kaki sulit digerakan .Data laboratorium : .Pemeriksaan penunjang : - .

Pemeriksaan fisik : Pernafasan 30 x/menit .Klien mengeluh bengkak pada kaki yang dialami sejak 2 bulan yang lalu .Klien memiliki riwayat Diabetes melitus (DM) . mual dan muntah dan kurang nafsu makan .Klien mengatakan badan terasa lemas. Data Objektif . Data fokus Data Subjektif .Klien juga mengeluh batuk dan berlendir . .Klien mengeluh gatal dikulit (tangan dan kaki).Klien mengatakan kakinya sulit digerakan.2.Klien mengeluh sesak nafas .

Klien mengeluh bengkak pada Ginjal tidak dapat mengencerkan urine dengan baik kaki dan tangan Pengingkatan Na+K+ Data objektif : . Klien mengeluh sesak nafas Volume Cairan .Klien mengeluh sesak nafas .Pernafasan : 30x/mnt Diagnosa Cairan tertahan dan mengakibatkan vasodilatasi kapiler Peningkatan hidrostatik & peningkatan permeabilitasi kapiler Cairan ke ekstravaskular Edema Klien mengeluh bengkak pada kaki dan tangan . Analisa data No 1 Data Etiologi Data subjektif : Kelebihan GFR menurun .3.

(asam lambung naik) Oran GI Klien mengeluh mual. muntah.Klien mengeluh Peningkatan kadar kreatinin dan BUN serum lemas .Klien mengeliuh sulit untuk Bengkak pada kaki menggerakan kakinya Klien mengeluh kakinya sulit digerakan Mobilitasi Fisik .2 Data subjektif : .Klien mengeluh Ketidak- tubuh Sindrom uremia. anoreksia dan lemas 3 Data subjektif : Hambatan Edema .Klien mengeluh kurang nafsu makan seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan Azotemia mual dan muntah .

4 Data subjektif : .Klien mengeluh gatal – gatal dikulit tangan dan Resiko Peningkatan kadar kreatinin dan BUN serum Azotemia kaki Sindrom ureamia Pruritis pada kulit Klien mengeluh gatal-gatal Kerusakan Integritas Kulit .

Diagnosa keperawatan 1) Kelebihan volume cairan (00026) Domain : 2 Nutrisi Kelas : 5 Hidrasi 2) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh (00002) Domain : 2 Nutrisi Kelas : 1 Ingesti 3) Hambatan mobilitasi fisik (00085) Domain : 4 aktivitas / istirahat Kelas : 2 aktivitas / latihan 4) Resiko kerusakan integritas kulit (00047) Domain : 11 Keamaman / perlindungan Kelas : 2 cedera fisik .4.

Klien mengetahui edema cairan.. Batasi asupan diharapkan : dan tangan pernafasan pemberian mengeluh selama . Klien tidak fowler jika sesak kambuh Mandiri . Untuk mengetahui pembengka nasal kanul kan natrium 6.(Pernafasan : klien 2.Fungsi ginjal.Keparahan overload . Agar dapat mengetahui volume cairan tubuh 4. Definisi : Peningkatan retensi cairan isotonic .x24 jam Mandiri : bengkak pada kaki pasien 30x/mnt) klien 4. Intervensi dan rasional N Diagnosa NOC NIC Rasional o 1 Kelebihan volume NOC : NIC: Rasional : cairan (00026) . Instruksikan teratasi respirasi oksigen via cairan seperti 1. Untuk n elektrolit Domain : 2 Nutrisi asam dan basa Kelas : 5 Hidrasi . Pantau lokasi edema dan luas 3.Keseimbanga Observasi : Observasi : 1. Monitor dilakukan . Pantau jumlah ouput dan intake cairan .(Klien mengeluh tindakan sesak nafas) keperawatan keadaan 2.Keseimbanga n cairan. karakteristik : Kriteria Hasil : Data subjektif : Setelah . Sesak nafas Data Objektif : atau lokasi 5. Untuk klien untuk mengetahui mengeluh mengubah kebutuhahn bengkak posisi tidur oksigen dengan semi klien 2..5. Pantau 1. Batasan pernafasan 3.

Kolaborasika n dengan mengurangi resiko ataupun menghindari dokter untuk resiko udem pemberian pada klien . Agar klien dan keluarga mengetahui upaya pertama dalam menanggula Kolaborasi : ngi sesak 9. Agar dapat menguraHealth education ngi : peningkatan 7.5. Agar untuk pemberian diuretik 10. Health education : 7. Ajarkan kepada keluarga dan klien untuk natrium dalam tubuh klien 6. Kolaborasikan nafas dengan dokter 8. Untuk klien melakukan mudah teknik semi untuk fowler jika bernafas sesak datang tiba-tiba 8. Ajarkan kepada keluarga asupan yang dapat beresiko untuk tingkatnya pembengkakan atau edema.

Untuk .Weight control untuk memenuhi kebutuhan metabolik. Untuk mengetahui kebutuhan oksigen yang dibutuhkan klien 11. Anjurkan . hb 3. Untuk mengontrol jumlah dan intake albumin nutrisi dan hb Mandiri : dalam tubuh klien dilakukan 4. Untuk mengontrol keadaaan BUN 2 Ketidakseimbanga n nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh (00002) Domain : 2 Nutrisi Kelas : 1 Ingesti NOC NIC Rasional . Kaji kadar albumin . Kaji kalori 2.Status nutrisi : intake nutrisi Definisi : asupan nutrisi tidak cukup .Status nutrisi Observasi : Obseravsi 1. Kaji adanya 1. 9.oksigen yang Kolaborasi : terpasang. Kolaborasika n dengan tenaga laboratorium untuk pemantauan peningkatan BUN mengurangi udem yang terjadi pada klien 10.Status nutrisi : food dan fluid intake . Untuk 11. Kriteria hasil : Batasan karakteristik : Setelah penurunan mengetahui berat badan berat klien 2.

Meningkatan 4. Ajarkan makan klien 7. Mening- . Agar dapat status nutrisi meningkatk untuk an jumlah merasa mual meningkatka hb yang dan muntah n sistem kurang . Berikan klien dapat makanan meningkatk yang terpilih an nutrisi kepada klien 7. serta nafsu imun sehingga 2.Serta klien tindakan klien untuk keperawatan meningkatka mengetahui selama . Untuk Mandiri : bayam 5. Tawarkan yang masuk makanan sehingga kesukaan jauh dari klien tetapi nosocomial maish dalam infeksi asupan gizi yang baik 6. Klien tidak makan meningkat. Untuk meningkatk an nasfu Health education: 9. 6.Data subjektif : .. Agar klien tidak rentan juz buah terhadap yang segar virus atau kepada klien bakteri 8. Tawarkan 5. Klien tidak mengeluh kurang merasa nafsu makan lemah seperti sayur 3..Klien mengeluh mual dan muntah .Klien mengeluh kemah .x24 jam n intake Fe jumlah pasien (zat besi) nutrisi klien diharapkan : 1.

Kolabo- 10. Untuk memberika .kepada katkan keluarga dan status klien untuk nutrisi klien memilih 8. Kolabo- 9. Agar klien makanan dapat yang sehat meningkatk dan bergizi an nafsu 10. Agar klien rasikan terhindar dengan ahli dari asupan gizi untuk gizi yang pemberian buruk asupan makanan 12. Berikan makan informasi dengan kepada memberika keluarga dan n makanan klien tentang kesukaanny kebutuhan a nutrisi Health Kolaborasi : education : 11. Agar klien paham terhadap rasikan kebutuhan dengan nutrisi dokter tubuh untum Kolaborasi : pemberian cairan IV cath 11.

Untuk mengontrol aktivitas klien Mandiri : 3. Kaji mengetahui status kemampuan kesehatan klien dalam klien latihan Kriteria Hasil : Definisi : Setelah keterbatasan pada dilakukan pergerakan fisik tindakan tubuh atau satu atau keperawatan yang dapat selama . Agar . Berikan alat dilakukan lebih ekstermitas secara mandiri dan karakteristik : Data subjektif : - Klien mengeluh aktivitas Mandiri : pasien bantu kursi diharapkan : roda atau terarah. Batasan melakukan 1. Untuk membantu 4..n asupan nutrisi yang baik kepada klien 12. 3 Hambatan mobilitasi fisik (00085) Domain : 4 Aktivitas / istirahat Kelas : 2 Aktivitas / NOC : NIC Rasional . tongkat jika klien sulit untuk berjalan 2.Joint Observasi : Observasi 1. Untuk movement : active .x24 jam 3.. Klien tidak sulit untuk menggerak an kakinya. Untuk penambaha n cairan tubuh kepada klien. Dampingi klien dalam klien saat beraktivitas melakukan 4.Mobility level tanda vital 2. Kaji Tanda- 1.

Tissue Observasi : Observasi : 1. Agar tidak melakukan akan terjadi terapi pijak komplikasi urut lainnya sembarangan 6. Ajarkan an sesuatu kepada keluarga dan Health educatin : klien untuk tidak 5.kakinya sulit aktivitas digerakan memudahk an klien Health untuk education : mengingink 5. Kaji kulit 1. Kolaborasi : Untuk dokter untuk memudahk tekhnik- an klien tekhik melakukan ambulasi aktivitasnya. 4 Resiko kerusakan integritas kulit (00047) NOC : NIC : Rasional : . Kolaborasika n dengan 7. Untuk integrity : . Untuk 6. Ajarkan memudahk kepada an keluarga keluarga dalam untuk tekhnik membantu ambulasi aktivitas klien Kolaborasi : 7.

Gatal – gatal yang dirasakan kulit Mandiri : 2.gatal teratasi dan dikulit tidak dan keluarga tangan dan beresiko untuk menghilang kaki. Ajarkan klien 3. Oleskan kepada fisik dilakukan lotion pada kerusakan Definisi : beresiko tindakan area gatal intergritas mengalami keperawatan perubahan kulit yang buruk Batasan karakteristik : - Klien mengeluh selama . Kolaborasi : . untuk menjaga kan rasa kerusakan kebersihan gatal dikulit ingteritas diri klien kulit 4. Taburi pupur agar mengurangi rasa gatal 1. kebersihan klien. Untuk Kolaborasi : Health 5. Agar klien dokter untuk tetap pemberian menjaga obat gatal .Domain : 11 skin and akan adanya mengetahui keamanan / mocous kemerahan adanya perlindungan Kelas : 2 Cedera Kriteria Hasil : indikasi Mandiri : klien Setelah 2..x24 jam pasien diharapkan : 3.. Kobalorasika education : maupun jaringan lembab n dengan 4. Untuk membantu Health kulit klien education : agar tetap gatal.

Untuk mengobati rasa gatal dan untuk mencegah klien dari kerusakan integritas kulit.5. .

Setiati. Susalit. In: Reilly. Setiyohadi. Perazella. Dalam: Sudoyo.A. Suzanne C. 2009. Rahardjo. Edisi keempat. Dr. S. R. Chronic Kidney Disease. Nephrology In 30 Days. Alwi.W... Chronic Kidney Disease... E.. Marcellus.. I. Jakarta: EGC Wilkinson. P.F. Hemodialisis.. M. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Perkemihan.. Jr. Brenda G bare. Jakarta: Salemba Medika Perazella.K.A. A. B.. 579-580. ..DAFTAR PUSTAKA National Kidney Foundation. New York: Mc Graw Hill. Smeltzer. 2009. Jakarta: EGC. M. Suhardjono. 2006. M. ed. (2016). 2006. 2006. 251-274. Nurs M. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. New york Nursalam.. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.. S. Diagnosis Keperawatan Edisi 10. J.