You are on page 1of 34

MODUL 1

BENGKAK
Seorang anak laki-laki usia 3,5 tahun datang ke RS diantar keluarga. Ibu klien
mengatakan bahwa tubuh anaknya bengkak mulai dari wajah sampai kaki sejak 3 hari
yang lalu, tidak demam, tidak sesak nafas, terdapat pilek, tidak ada gangguan pada
kulit, BAK sedikit dan berwarna kuning kecoklatan pekat, tidak nyeri saat BAK.
Klien mengeluh malas makan dan mengeluh nyeri daerah mulut. Setelah dilakukan
pemeriksaan terdapat stomatitis dirongga mulut. Orang tua klien sangat cemas dengan
kondisi anaknya. Dia selalu menanyakan apakah anaknya akan sembuh kembali
seperti biasa. Setelah dikaji orang tua khususnya ibu klien belum makan sejak
kemarin.
1. KLARIFIKASI ISTILAH PENTING
a. Stomatitis adalah inflamasi mukosa oral yang dapat meliputi mukosa
bukal (pipi) labial (bibir), lidah, gusi, langit-langit dan dasar mulut.
(William dan wilkins, 2008).
b. Pilek adalah rdang yang terjadi pada lapisan hidung dan tenggorokan,
sehingga menyebabkan produksi lendir menjadi lebih banyak. Mereka
yang terkena pilek akan mengalami gejala berupa nyeri tenggorokan,
bersin-bersin, hidung tersumbat yang kemudian beringus, bahkan batukbatuk.
2. KATA KUNCI
a. bengkak mulai dari wajah sampai kaki sejak 3 hari yang lalu
b. BAK sedikit dan berwarna kuning kecoklatan pekat
c. Adanya stomatitis
d. Hasil pemeriksaan terdapat stomatitis dirongga mulut
3. MIND MAP

Sindrom Nefrotik

BENGKAK
1

Gagal Ginjal Akut/Kronik

Benigna Prostat Hiperplasia

Lembar ceklist
Penyakit

GGA / GGK

Tanda

SINDROM

BENIGNA

NEFROTIK

PROSTAT
HIPERPLASIA

Bengkak
Tidak demam
Tidak sesak nafas



-




-

-

Terdapat pilek
Tidak
ada
gangguan

-

-

-

pada

kulit
BAK sedikit dan
berwarna

kuning

kecoklatan
Tidak nyeri saat
BAK
Malas makan

4. PERTANYAAN-PERTANYAAN PENTING
1. Mengapa tubuh klien mengalami pembengkakan ?
2


-

2. Apa yang menyebabkan BAK pada klien sedikit dan berwarna kuning
kecoklatan ?
3. Mengapa klien mengeluh malas makan?
4. Mengapa klien merasakan nyeri dirongga mulut?
5. JAWABAN PERTANYAAN PENTING
1. Bengkak yang dirasakan oleh anak tersebut karena adanya perubahan
permeabilitas glomerulus sehingga proses penyaringan protein menjadi
terganggu.

Protein

dan

albiumin

tersebut

kemudian

lolosdalam

prosesfiltrasi dan masuk ke dalam urin akhrnya terjadi proteinuria dan
hipoalbuminemia.

Fungi

dari

albumin

sendiri

adalah

untuk

mempertahankan tekanan osmotic koloid plasma agar cairan tidak keluar
ke rongga interstisial. Maka dari itu dengan albumin yang kurang dalam
darah

menyebabkan

tekanan

hidrostatik

meningkat

yag

akan

mengakibabtkan ekstravaksi cairan sehingga cairan menjadi menumpuk
pada ruang instestinum dan akan menyebabkan bengkak.
2. BAK sedikit yang dirasakn klien karena proses penyaringan yang
terganggu di glomerulus yang menyebabkan protein dan albumin akan
lolos

ke

urin

sehingga

akanmengakibatkan

proteinuria

dan

hipoalbuminemia. Hal tesebut akan membuat ekstravaksi cairan sehingga
cairan akan tertumpuk di ruang intestinum dan terjadi penurunan volume
intravaskuler. Penurunan ini akan mengakibabtkan peningkatan ADH.
ADH sendiri berfungsi untuk mengatur proses pengeluaran urine dan
menigkatkan penyerapan air. Ketika ADH

meningkat

ini akan

mengakibatkan urin yang akan di ekskresi menjadi sekit, dan warna urine
menjadi kuning kecoklatan menandakan bahwa klien mengalami dehidrasi
3. Malas makan yang dirasakan klien karena klien mengalami peradangan
pada mulut yakni Stomatitis. Jelas jika seseorang mengalami masalah
pada mulut dapat mengakibatkan rasa tenak enak dalam mulut salat
satunya adalah kesulitan untuk makan.

3

Proteinuria merupakan gejala utama pada sindrom nefrotik.April 2012. edema. sedangkan gejala klinis lainnya dianggap sebagai manifestasi sekunder. Penelitian berlangsung dari Oktober 2011. Djamil Padang Periode Januari 2009 .4. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi hubungan antara proteinuria dan hipoalbuminemia pada anak dengan sindrom nefrotik. 6. Kehilangan protein melalui urin menyebabkan terjadinya hipoalbuminemia. INFORMASI TAMBAHAN 1.121 ± 2. Sebagian besar pasien memiliki kadar protein urin semikuantitatif +3 dengan rata-rata kadar protein urin kuantitatif 3. Rasa nyeri disekitar rongga mulut karena adanya penurunan pada system kekebalan tubuh.157 gr/24 jam. hipoalbuminemia. Hasil penelitian menunjukan insiden tertinggi sindrom nefrotik pada kelompok umur >6 tahun terutama pada anak laki-laki dengan rasio 1. Djamil Padang periode 2009-2012 Abstrak Sindrom nefrotik terdiri dari proteinuria massif. serta dapat disertai hiperkolesterolemia. TUJUAN PEMBELAJARAN SELANJUTNYA  Untuk mengetahui hubungan antara Proteinuria dan Hipoalbuminemia yang terjadi pada anak  Untuk mengetahui beberapa factor resiko yang akan terjadi pada penyakit Sindrom Nefrotic 7. Hubungan antara Proteinuria dan Hipoalbuminemia pada Anak dengan Sindrom Nefrotik yang Dirawat di RSUP Dr. M. Data sekunder diambil dari rekam medik pasien yang didiagnosis sebagai Sindrom Nefrotik Anak di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. 4 . Metode yang digunakan adalah studi retrospektif dengan desain Cross Sectional. Protein yang sedikit ini membuat proses unutk pembentukan antibody dalam tubuh juga akan berkurang. System imun yang rendah dikarenakan protein yang berada dalam darah sedikit. M.43:1.Desember 2012.

Analisis data dengan uji Kai-kuadrat dan analisis bivariat dengan tingkat kemaknaan α = 0.05). Analisis statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara proteinuria dan hipoalbuminemia (p > 0. Analisis multivariat dilakukan untuk mencari faktor risiko yang paling berpengaruh.Hampir seluruh pasien mengalami hipoalbuminemia (98. 5 . : Didapatkan hubungan yang bermakna secara statistik antara respon terhadap terapi steroid inisial. Penelitian retrospektif. Kata kunci: Anak dengan sindrom nefrotik. Sindrom nefrotik merupakan penyakit kronis yang masih menjadi penyebab utama rujukan kepada dokter nefrologi anak. I Gusti Ayu Putu Nilawati Abstrak Latar belakang .125. dan hematuria saat terdiagnosis dengan terjadinya kekambuhan pada sindrom nefrotik.078. Hal ini mungkin disebabkan oleh jumlah subjek yang kurang. 0. dengan RO masing2 6.875.2%). sehingga penelitian selanjutnya diharapkan berlangsung lebih lama agar didapatkan jumlah subjek yang lebih besar.05. dengan p < 0. 2013. infeksi saat terdiagnosis. data diambil secara sekunder dari rekam medis pasien rawat inap dan rawat jalan di RSUP Sanglah Denpasar dari bulan Januari 2011 sampai 31 Desember 2012. Faktor risiko kekambuhan perlu diketahui agar prognosis penderita dapat ditentukan sejak awal Tujuan : Untuk mengetahu faktor risiko terjadinya kekambuhan pada pasien sindrom nefrotik di bagian anak RSUP Sanglah Denpasar Metode. 0.05 (IK 95%). Tingginya angka kekambuhan akan memperburuk prognosis sindrom nefrotik. Hipoalbuminemia Jurnal Kesehatan Andalas. Faktor Risiko Kekambuhan Pasien Sindrom Nefrotik Ni Made Adi Purnami. 2(2) 2. Proteinuria. Hasil.

Lebih dari setengah anak dengan sindrom nefrotik adalah laki-laki dengan rasio laki-laki dan perempuan sebesar 1.98 tahun. 1. Djamil Padang periode 2009-2012 Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan. 6 .Simpulan. Hubungan antara Proteinuria dan Hipoalbuminemia pada Anak dengan Sindrom Nefrotik yang Dirawat di RSUP Dr. Respon terapi steroid saat terapi inisial. Kata kunci: faktor risiko. Vol. Paling banyak terjadi pada kelompok umur >6 tahun. 3. dan infeksi bermakna secara statistic sebagai faktor risiko kekambuhan pada sindrom nefrotik. kambuh. dapat disimpulkan bahwa : 1. Desember 2013 8. 2. Rata-rata kadar protein urin kuantitatif anak adalah 3. 2. sindrom nefrotik JIKA. No. hematuria. M. Kadar protein urin semikuantitatif terbanyak pada anak dengan sindrom nefrotik adalah +3. KLARIFIKASI INFORMASI 1.121 gr/24 jam. Rata-rata umur anak dengan sindrom nefrotik adalah 6.43:1.

5. I Gusti Ayu Putu Nilawati 3. Hampir seluruh anak dengan sindrom nefrotik mengalami hipoalbuminemia dan hanyaterdapat 1 anak dengan normoalbuminemia. ANALISA DAN SINTESA KASUS Pada kasus di atas kami mengangkat Diagnosa Medis Sindrom Nefrotik karena berdasarkan beberapa manifestasi yang dikeluhkan seperti 7 . Faktor Risiko Kekambuhan Pasien Sindrom Nefrotik Ni Made Adi Purnami.4. 2. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara proteinuria dan hipoalbuminemia pada anak dengan sindrom nefrotik.

8 . Jadi terdapat perbedaan pada kasus tersebut yakni secara teori menunjukan terjadi sesak nafas. hematuria. hipoalbuminemia. sedangkan pada kasus tidak terjadi sesak nafas. penurunan albumin dalam darah (hipoalbuminemia). tidak nyeri saat BAK. Definisi Sindrom nefrotik merupakan gangguan klinis ditandai oleh peningkatan protein. Hanya saja kami tidak mengangkat Diagnosa Keperawatan untuk Nyeri Akut karena menurut kami nyeri yang dirasakan oleh klien tersebut karena terjadi penurunan system imun yang disebabkan oleh terjadinya proteinuria dan hipoalbuminemia yang protein sendiri berfungsi untuk mempertahankan system imun dalam tubuh. Sedangkan berdasarkan teori yang ada manifestasi klinis menunjukan adanya proteinuria. Selanjutnya untuk diagnosa keperawatan yang kami angkat adala Kelebihan Volume Cairan. terdapat pilek. dan nyeri abdomen. ). dan Penurunan Koping Keluarga. edema anasarka. fatique. tidak ada gangguan pada kulit. sesak nafas. diare. Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang Dari Keburuhan Tubuh.bengkak pada bagian wajah dan kaki. Hal tersebut karena edema yang terjadi tidak sampai ke paru-paru yang nantinya jika paruparu tersebut terendam maka akan mengakibatkan sesak nafas. Hasil pengkajian juga di dapatkan stomatitis di rongga mulut. (Brunner & Suddarth. edema dan serum kolesterol yang tinggi dan lipoprotein densitas rendah (hiperlipidemia). Hal tersebut karena data yang terdapat pada kasus tersebut menunjang untuk di angkat Diagnosa Keperawatan tersebut. hipertensi. malas makan dan mengeluh nyeri daerah mulut. tidak demam. 4. oliguria. tidak sesak nafas. anorexia. BAK sedikit dan berwarna kuning kecoklatan pekat. LAPORAN DISKUSI 1.

yakni : a. kolon. (Muttaqin). hipoalbuminemia. 2013). kaptopril. hipoalbuminemia. edema dan hiperlipidemia dengan kadar BUN yang biasanya normal (Price & Wilson. 2). dkk (2001). edema.5 g/hari). Sindrom nefrotik adalah suatu kumpulan gejala gangguan klinis. Glumerulonefritis sekunder - Lupus eritematosus sistemik - Obat (emas. hiperlipidemia dan edema (Suryadi & Yuliani. dan hiperkolesterolmia. 2. meliputi hal-hal: Proteinuria masif> 3. penisilamin. amiloidosis) Menurut (Nurarif & Kusuma. Sindrom nefrotik adalah keadaan klinis dengan adanya proteinuria masif (>3. 2005). Glumerulonefritis primer (sebagian besar tidak diketahui sebabnya) - Glumerulonefritis membranosa - Glumerulonefritis kelainan minimal - Glumerulonefritis membranoproliferatif - Glumerulonefritis pascastreptokokus b. Edema. Manifestasi dari keempat kondisi tersebut yang sangat merusak membran kapiler glomelurus dan menyebabkan peningkatan permeabilitas glomerulus. hipoalbuminemia. Etiologi Penyebab sindrom nefrotik pada dewasa terbagi menjadi dua menurut Mansjoer. 2001). Hiperlipidemia. bronkus) - Penyakit sistemik yang mempengaruhi glumerulus (diabetes. etiologi sindrom nefrotik umumnya dibagi menjadi : 9 .5 gr/hr.Nefrotik sindrom merupakan kelainan klinis yang ditandai dengan proteinuria. (Baughman. Sindrom nefrotik merupakan kumpulan gejala yang disebabkan oleh adanya injuri glomerular dengan karakteristik proteinuria. Hipoalbuminemia. anti inflamasi nonsteroid) - Neoplasma (kanker payudara. hipoproteinuria.

Sindrom nefrotik sekunder - Malaria quartana - Penyakit kolagen (SLE. purpura anafilaktoid) - Glumerulonefritis akut atau kronik. Sindrom nefrotik idiopatik Dikenal pula dengan sebutan sindrom nefrotik primer. air raksa) - Amiloidosis. glumerulonefritis. akibat sekunder (penyakit lain seperti Malaria quartana. Kerusakan glomerolus ketiga jenis etiologi tersebut mengakibatkan perubahan permeabilitas atau kemampuan membran glomerolus dalam melakukan filtrasi. pada keadaan normal. dll) serta idiopatik (tidak diketahu penyebabnya) (Nurarif & Kusuma. trombosis vena renalis - Bahan kima (trimetadion. membran basal glomerolus memiliki mekanisme penghalang pertama berdasarkan ukuran molekul (size barrier) 10 . Hal tersebut dikarenakan sindrom ini secara primer terjadi akibat kelainan pada glomerulus itu sendiri tanpa ada penyebab lain. hiperprolinemia. penyakit kolagen. bahan kima. Sindrom nefrotik bawaan - Diturunkan sebagai resesif autosomal atau karena reaksi maternofetal - Resisten terhadap pengobatan - Gejala edema pada masa neonatus - Prognosis buruk dan biasanya pasien meninggal pada bulan-bulan pertama kehidupannya 2. penyakit sel sabit. paradion. 2013). Patofisiologi Etiologi utama dari sindrom nefrotik ialah kerusakan glumerolus. nefritis membraneproliferatif hipokomplementemik 3. Kerusakan tersebut dapat terjadi karena bawaan (diturunkan oleh orangtua. 3. baik berupa lesi maupun infeksi. racun oak. garam emas.1. penisilamin. sengatan lebah.

Kurangnya jumlah protein di dalam tubuh membuat tubuh meningkatkan aktivitas sintesis protein di hati. Cairan yang masuk ke ekstraseluler menyebabkan penurunan volume intravaskuler diikuti peningkatan ADH dan penurunan volume urin yang dikeluarkan (oliguria). Hal tersebut juga membuat usus mengabsorbsi air sehingga feses mengeras dan mengakibatkan konstipasi. mata dan paru-paru (efusi pleura) yang dapat mengakibatkan ketidakefektifan bersihan jalan nafas. Keluarnya protein baik yang bermolekul kecil (albumin) maupun yang bermolekul besar (immunoglobulin) tersebut membuat jumlah albumin di dalam tubuh berkurang (hipoalbumin).dan yang kedua berdasarkan muatan listrik (charge barrier). sehingga nafsu makan menurun dan pemenuhan nutrisi terganggu dan mengakibatkan kelemahan yang bermuara pada hambatan mobilitas fiisik dan gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak. Peningkatan aktivitas sintesis tersebut menghasilkan α2-Macroglobulin dan lipoprotein dalam jumlah yang banyak. Penekanan saraf vagus yang diinterpretasikan sebagai rasa kenyang. fibrinogen dan faktor pembekuan lain. Akibat dari edema lainnya meliputi penekanan tubuh yang meminimalkan suplai nutrisi dan oksigen dalam tubuh sehingga terjadi hipoksia pada jaringan yang tertekan. protombin. 2005). ikut keluar bersama urin. berlanjut iskemia dan nekrosis. Terganggunya kedua penghalan tersebut pada penderita sindrom nefrotik mengakibatkan protein yang seharusnya tertahan. Hipovolemia dan peningkatan granulasi sel-sel glomerolus mengaktifkan pengeluaran renin oleh sel 11 jukstaglomerular pada bagian arterior aferen . Hal tersebut diikuti pula oleh peningkatan kolesterol darah dan LDL (Low density lipoprotein) serta VLDL (Very low density lipoprotein). pengeluaran trombin dan penurunan sel imun (Price & Wilson. termasuk albumin. Keadaan berkurangnya jumlah albumin di dalam tubuh menurunkan tekanan koloid yang berakhir pada edema akibat cairan masuk ke ekstraseluler sehingga terjadi kelebihan volume cairan pada genitalia. yakni < 500 ml/hari.

Medik Tujuan terapi adalah untuk mencegah kerusakan ginjal lebih lanjut dan menurunkan risiko komplikasi. peningkatan tekanan darah tersebut mengakibatkan beban kerja jantung meningkat sehingga terjadi penurunan curah jantung (Nurarif & Kusuma. 2013) 4. Untuk mencapai tujuan terapi. Perubahan tersebut juga membuat efek vasokonstriksi arterioral perifer sehingga meningkatkan tekanan darah bersamaan dengan meningkatnya volume plasma. 12 . Rujukan ke bagian gizi diperlukan untuk pengaturan diet terutama pada pasien dengan penurunan fungsi ginjal. Perbaiki keadaan umum penderita : 1) Diet tinggi kalori. Hipoalbumin 3. Renin yang disekresikan mengubah angiotensin menjadi angiotensin I dan II sebagai respon tubuh untuk meningkatkan volume plasma dengan meningkatkan aldosteron sehingga merangsang reabsorbsi natrium dan air. Hiperkoagulabilitas 5. maka penatalaksanaan tersebut.ginjal. Sindrom nefrotik serangan pertama. Proteinuria 2. 2) Tingkatkan kadar albumin serum. Nyeri Abdomen 6. Anoreksia 5. rendah garam. tinggi protein. Fatigue atau malaise ringan 7. Penatalaksanaan a. Edema 4. kalau perlu dengan transfusi plasma atau albumin konsentrat. Manifestasi Klinis 1. rendah lemak. meliputi : a.

Sindrom nefrotik kambuh tidak sering: sindrom nefrotik yang kambuh < 2 kali dalam masa 6 bulan atau < 4 kali dalam masa 12 bulan. segera berikan prednison tanpa menunggu waktu 14 hari. 13 . Setelah 4 minggu. 4) Lakukan work-up untuk diagnostik dan untuk mencari komplikasi. 2) Rumatan Setelah 3 minggu. 2) Perbaiki keadaan umum penderita. Bila dalam waktu 14 hari terjadi remisi spontan. Jika ada hipertensi. 5) Berikan terapi suportif yang diperlukan: Tirah baring bila ada edema anasarka. 6) Terapi prednison sebaiknya baru diberikan selambat-lambatnya 14 hari setelah diagnosis sindrom nefrotik ditegakkan untuk memastikan apakah penderita mengalami remisi spontan atau tidak. c. Diuretik diberikan bila ada edema anasarka atau mengganggu aktivitas. dapat ditambahkan obat antihipertensi. prednison dihentikan. Sindrom nefrotik kambuh (relapse) 1) Berikan prednison sesuai protokol relapse.3) Berantas infeksi. 1) Induksi Prednison dengan dosis 60 mg/m2/hari (2 mg/kg BB/hari) maksimal 80 mg/hari. tetapi bila dalam waktu 14 hari atau kurang terjadi pemburukan keadaan. diberikan selang sehari dengan dosis tunggal pagi hari selama 4 minggu. diberikan dalam 3 dosis terbagi setiap hari selama 3 minggu. prednison tidak perlu diberikan. b. segera setelah diagnosis relapse ditegakkan. prednison dengan dosis 40 mg/m 2/48 jam.

atau untuk biopsi ginjal. 1) Induksi Prednison dengan dosis 60 mg/m2/hari (2 mg/kg BB/hari) maksimal 80 mg/hari. dosis prednison diturunkan menjadi 40 mg/m2/48 jam diberikan selama 1 minggu. siklofosfamid oral 2-3 mg/kg/hari diberikan setiap pagi hari selama 8 minggu. 2. akhirnya 10 mg/m 2/48 jam selama 6 minggu. diberikan selang sehari dengan dosis tunggal pagi hari selama 4 minggu. Setelah 4 minggu. kemudian 30 mg/m2/48 jam selama 1 minggu. cairan dalam tubuh Antikoagulan diberikan untuk menekan terjadinya penggumpalan 4. Pada saat prednison mulai diberikan selang sehari. kemudian prednison dihentikan. relapse frekuen. prednison dengan dosis 60 mg/m2/48 jam. Berikut beberapa jenis obat yang biasa diberikan kepada pasien yang menderita sindrom nefrotik : 14 1. terdapat indikasi kontra steroid. Indikasi untuk merujuk ke dokter spesialis nefrologi anak adalah bila pasien tidak respons terhadap pengobatan awal. terdapat komplikasi. kemudian 20 mg/m2/48 jam selama 1 minggu. Setelah 8 minggu siklofosfamid dihentikan. Antihipertensi berfungsi untuk menurunkan tekanan darah Diuretic digunakan untuk menghilangkan dan membuang kelebihan 3.d. Sindromnefrotik kambuh sering : sindrom nefrotik yang kambuh > 2 kali dalam masa 6 bulan atau > 4 kali dalam masa 12 bulan. 2) Rumatan Setelah 3 minggu. dalam darah Steroid berfungsi untuk mengurangi peradangan yang terjadi . diberikan dalam 3 dosis terbagi setiap hari selama 3 minggu.

c. Baringkan pasien setengah duduk. Klien akan mengeluh nyeri abdomen dan mungkin juga muntah dan pingsan. e. Kantong urin dan plester harus diangkat dengan lembut. b. Terapi cairan Jika klien dirawat di rumah sakit. Imunosupresan. Terapinya dengan memberikan infus plasma intravena. karena jika bantal melintang maka ujung kaki akan lebih rendah dan akan menyebabkan edema hebat). Perawatan mata Tidak jarang mata tertutup akibat edema kelopak mata dan untuk mencegah alis mata yang melekat. berfungsi untuk menekan inflamasi dan respons abnormal pada sistem imunitas tubuh. Cairan diberikan untuk mengatasi kehilangan cairan dan berat badan harian.. Berikan alas bantal pada kedua kakinya sampai pada tumit (bantal diletakkan memanjang.5. Trauma terhadap kulit dengan pemakaian kantong urin yang sering. karena adanya cairan di rongga thoraks akan menyebabkan sesak nafas. d. menggunakan pelarut dan bukan dengan cara mengelupaskan. Perawatan kulit Edema masif merupakan masalah dalam perawatan kulit. Monitor nadi dan tekanan darah. Perawatan spesifik 15 . maka intake dan output diukur secara cermat da dicatat. plester atau verban harus dikurangi sampai minimum. Tirah Baring Menjaga pasien dalam keadaan tirah baring selama beberapa harimungkin diperlukan untuk meningkatkan diuresis guna mengurangi edema. Penatalaksanaan krisis hipovolemik. f. mereka harus diswab dengan air hangat. b. Non Medik a.

Mengurangi asupan makanan yang mengandung tinggi kadar garam b. e. Kerusakan kulit Edema berat Efek samping obat-obatan : diuretik. kortikosteroid. h. pencatatan tekanan darah dan pencegahan dekubitus. akibat dari hipelipidemia yang lama. penimbnagan harian. pembekuan yang menyebabkan keadaan hiperkoagulasi. berhubungan dengan kenaikan beberapa faktor d. Gagal ginjal.meliputi: mempertahankan grafik cairan yang tepat. Akselerasi aterosklerosis. b. g. antihipertensi. berikut beberapa pencegahan yang dapat dilakukan : a. 16 . antibiotik. sitostatika yang sering digunakan pada pasien sindrom nefrotik. Gangguan koagulasi. disebabkan gangguan mekanisme pertahanan humoral. Mengurangi konsumsi makanan yang banyak mengandung lemak c. Beraktifitas dan berolahraga secara rutin dan teratur d. Komplikasi a. akibat hipoalbuminemia berat. c. 6. Pencegahan Disamping melakukan penatalaksanaan . Bila sudah mengalami sindrom nefrotik serangan pertama. tetap mengonsumsi obat yang dianjurkan 7. f. Malnutrisi. penurunan gamma globulin serum. Infeksi sekunder.

tidak nyeri saat BAK.KONSEP KEPERAWATAN A. c. Riwayat Penyakit Keluarga . Status Kesehatan Massa Lalu . register : Tidak dikaji Diagnosa medis : Sindrom Nefrotik b. tidak sesak nafas. Setelah pemeriksaan di dapatkan stomatitis pada rongga mulut.Alergi : Tidak dikaji d.Tidak dikaji 17 . tidak ada gangguan pada kulit.Keluhan utama : Bengkak mulai dari wajah sampai kaki sejak 3 hari yang lalu . Identitas Pasien Nama : Seorang Anak Umur : 3. terdapat pilek.Pernah dirawat : Tidak dikaji . Status Kesehatan Status Kesehatan Saat Ini .Riwayat keluhan utama : Klien mengeluh tidak demam.Penyakit yang pernah dialami : Tidak dikaji . PENGKAJIAN a.5 Tahun Agama : Tidak dikaji Jenis kelamin : Laki-laki Status : Tidak dikaji Pendidikan : Tidak dikaji Pekerjaan : Tidak dikaji Suku bangsa : Tidak dikaji Alamat : Tidak dikaji Tanggal masuk : Tidak dikaji Tanggal pengkajian : Tidak dikaji No. BAK sedikit dan berwarna kuning kecoklatan pekat. Klien mengeluh malas makan dan mengeluh nyeri daerah mulut.

f. g.Ibu klien mengatakan . b.Setelah dilakukan bahwa tubuh anaknya pemeriksaan bengkak stomatitis mulai dari wajah sampai kaki sejak 18 mulut terdapat dirongga . h. Pemeriksaan fisik a.e. kecoklatan Sistem pencernaan Sistem musculoskeletal Sistem integument Sistem endokrin Sistem reproduksi : Malas makan : Tidak dikaji : Edema mulai dari wajah sampai kaki : Tidak dikaji : Tidak dikaji B. Sistem kardiovaskuler Sistem persarafan Sistem perkemihan : Klien tidak mengalami sesak nafas : Tidak dikaji : Tidak dikaji : BAK sedikit dan berwarna kuning e. i. d. Sistem pernapasan. c. DATA FOKUS DATA SUBJEKTIF DATA OBJEKTIF .

Dia menanyakan selalu apakah anaknya akan sembuh kembali seperti biasa. Idiopatik C. Klien mengeluh malas - makan Klien mengeluh nyeri - daerah mulut Orang tua klien sangat cemas dengan kondisi anaknya.- 3 hari yang lalu Tidak demam Tidak sesak nafas Terdapat pilek Tidak ada gangguan - pada kulit BAK sedikit berwarna - Setelah dikaji orang tua khususnya belum kemarin. PATHWAY Perubahan permeabilitas glomerulus Mekanisme penghalang protein terganggu Kerusakan glomerulus Protein dan albumin lolos dalam Kebocoran molekul 19 filtrasi dan masuk ke urine ibu klien makan sejak . dan kuning - kecoklatan pekat Tidak nyeri saat BAK.

Sel imun menurun Protein dalam urine meningkat Gangguan Imunitas Protein dalam darah menurun Proteinuria Hipoalbuminemia Tejadi peradangan pada membrane mukosa (Stomatitis) KERUSAKAN MEMBRAN MUKOSA ORAL Ekstrvaksi cairan Penumpukan cairan ke intestinum Eodema SINDROM NEFROTIK Orang tua klien mengeluh tentang kondisi anaknya PENURUNAN KOPING KELUARGA KELEBIHAN VOLUME CAIRAN 20 .

AJ. ↓ 21 AG. AK. ↓ P. ↓ X. AI. ANALISA DATA E. Perubahan AF. N F. AM. Idiopatik M. AH. SINDROM NEFROTIK W. ↓ R. KELEBIHAN VOLUME CAIRAN . Ekstrvaksi cairan Y. ↓ T. ETIOLOGI H. Protein dan albumin lolos dalam filtrasi dan masuk ke urine S. Kerusakan glomerulus Q. Data Objektif G. AN. 1 - Data Subjektif Ibu klien mengatakan bahwa tubuh anaknya bengkak wajah - mulai sampai dari kaki sejak 3 hari yang lalu BAK sedikit dan berwarna kuning kecoklatan pekat K. MASALAH KEPERAWATAN L. AL. Protein dalam urine meningkat U.D. J. ANALISA DATA I. AO. ↓ N. permeabilitas glomerulus O. ↓ V.

Perubahan permeabilitas glomerulus daerah mulut stomatitis AT. BV. ↓ AX. BP.Terjadi peradangan BJ.Klien mengeluh malas - makan Klien mengeluh nyeri AR. Sel Imun menurun BE. BL. ↓ BB. Eodema AC. BK. ↓ BD. ↓ AD. BN. AZ. BQ. Kerusakan glomerulus AY.Setelah dilakukan pemeriksaan terdapat mulut AS. BO. CB. AQ. Idiopatik dirongga AW. BS. KELEBIHAN VOLUME CAIRAN AE. ↓ AB. . BW. Penumpukan cairan ke intestinum AA. AP. Kebocoran molekul BC. ↓ AV. BX. BY. 22 AU. BZ. BU. BT. Data Subjektif : 2 . ↓ BF.Z. KERUSAKAN MEMBRAN MUKOSA ORAL BR. ↓ Mekanisme penghalang protein terganggu BA. CA. Data Objektif : . BM.

CF. CC. DB. Dia menanyakan apakah kembali seperti biasa CE. ↓ BH. ↓ CN.Orang tua klien sangat cemas dengan kondisi anaknya. Kerusakan glomerulus CM. PENURUNAN KOPING KELUARGA DI. DC. DK.pada membrane mukosa (Stomatitis) BG. Protein dan albumin lolos dalam filtrasi dan masuk ke urine CO. ↓ CR. DG. CG. KERUSAKAN MEMBRAN MUKOSA ORAL BI. ↓ CP. CZ. ↓ CJ. Data Subjektif : 3 . DD. 23 ibu Idiopatik CI. CY. ↓ CL. DF. Perubahan permeabilitas selalu anaknya akan sembuh tua CH.Setelah dikaji orang klien khususnya belum makan sejak kemarin. . DE. SINDROM NEFROTIK CX. DA. CD. Data Objektif : . DH. Protein dalam urine meningkat CQ. DJ. glomerulus CK.

Orang tua klien mengeluh tentang kondisi anaknya CU. DO. DN. PENURUNAN KOPING KELUARGA CW. DM. DL. ↓ CT. 24 . ↓ CV.CS.

DP. Kelebihan Volume Cairan (00026) DQ. Penurunan Koping Keluarga (00074) DU. Kelas 2 : Respon Koping DW. DY. ED. EE. Domain 9 : Koping / Toleransi terhadap Stress DV. Kelas 5 : Hidrasi 2. EB. DX. Kelas 2 : Cedera Fisik 3.DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. 25 . EC. EA. DZ. Domain 2 : Nutrisi DR. Kerusakan Membran Mukosa Oral (00045) DS. Domain 11 : Keamanan/Perlindungan DT.

EQ. N EK. ES. Setelah mengetahui seberapa banyak bagian dilakukan selama 2x24 ER. FG. efusi.Batasan karakteristik : 1. Pantau asupan cairan dan haluaran FC.  Keparahan overload cairan.NIC EL. EH.  Keseimbangan cairan. Mandiri : 4. Menunjukan jenis urin dalam batas normal 3. Volume Cairan (00026) EM. anasarka 2. Manajemen hipovolemia FH. Edema pasien 2. isotonic membantu menentukan status cairan yang mengalami edema FD. NOC EJ.Definisi : retensi 26 NOC : jam pasien diharapkan : 1. Rasional : Pemantaun Kriteria Hasil : tindakan Peningkatan Observasi : EY.  Keseimbangan elektrolit dan Asam-basa. Terbebas dari edema. EP. FB. Kelebihan EW. Domain : 2 Nutrisi EN.EF.RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN EG. DIAGNOSA EI. Kelas : 5 Hidrasi EO. Rasional : Agar tidak terjadi edema yang lebih buruk FF. Warna urin menjadi kuning tubuh yang kena edema Untuk dan menentukan tindakan selanjutnya 3. Rasional : Menurunkan . Kaji ektremitas atau bagian tubuh EZ. 1. Rasional : keperawatan cairan 1. Kaji efek pengobatan terhadap edema FE.  Fungsi ginjal EX.

Programkan pasien pada diet rendah natrium selama fase edema FJ. Kelebihan asupan cairan EV. Berikan alas bantal pada kedua kaki sampai lutut dengan posisi bantal memanjnag FL. Rasional : Diet rendah natrium dapat mencegah retensi cairan 7. Oliguria ET. Rasional : Untuk mengatur dan mencegah perubahan komplikasi kadar cairan akibat dan/atau elektrolit 8. volume cairan intrasel dan ekstrasel dan mencegah komplikasi pada pasien yang mengalami kelebihan volume cairan 5. Manajemen Eliminasi Urine FI. Rasional : Untuk menurunkan edema yang terjadi pada 27 . Rasional : Untuk mempertahankan pola eliminasi urine yang optimal 6.2. terang FA. Manajemen cairan/elektolit FK. Faktor yang berhubungan 1. EU.

Rasional : Untuk meningkatkan protein karena pasien FR. FN.Kerusakan FZ. Rasional : Agar . Konsultasikan dengan ahli gizi untuk memberikan diet dengan kandungan protein yang adekuat dan pembatasan natrium FQ. HE : 9. Ajarkan keluarga tentang penyebab dan cara mengatasi edema FO. 2. Kaji pemahaman dan kemampuan klien untuk melakukan perawatan oral GD. Observasi Membran Mukosa Oral (00045) FT. Keadaan bantal memanjang untuk mencegah agar edema tidak menjadi lebih berat FM. Kolaborasi : 10. kekurangan protein GC. Rasional : Agar keluarga mampu mengenali penyebab dan cara mengatasi edema FP. FS.Domain 28 NOC 11 :  Higiene oral  Integritas jaringan: Kulit dan 1.bagian kaki.

GF.Keamanan/Perlin Membran Mukosa dungan FU. Menunjukkan hygiene oral. Rasional Meningkatkan penyembuhan untuk : untuk klien yang megalami lesi mukos oral. Tingkatkan istirahat klien GH. mukosa 3. pasien diharapkan : jaringan lunak di 1. Factor berhubungan : 29 nyaman mengonsumsi cairan. Semakin Mandiri Stomatit fungsi Vitamin C sendiri adalah untuk meningkatkan system imun dalam yang tubuh 3. Nyeri dan ketidaknyamanan di mulut 2. n makan 3. Kesulita is FX. FY. Rasional : Dengan . Tidak ada lesi membrane rongga mulut FW. Pemuliahan kesehatan mulut dengan cara menganjurkan klien mengonsumsi vitamin C GG. Kriteria Hasil : GB. Kelas 2 : Cedra Fisik FV. makanan dalam dan 2. 2. Batasan karakterikstik : 1.Definisi bibir GA. Setelah : Gangguan perawat bisa mengetahui bagaimana pada dan/atau cara klien melakukan perawatan oral dan juga bisa mengetahui penyebab dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 terjadinya disebabkan jam stomatitis apakah karena tidak memperhatikan perawatn pada oral GE.

Rasional : Agar cepat diatasi apabila klien beresiko 30 . maka kondisi seperti pilek dan stomatitis pada klien 4. Luluh imun tercukupi istirahat klien. GL. bisa teratasi Berikan makanan sedikit tapi sering GI. Rasional : Agar dapat memenuhi kebutuhan nutrisi pasien 5.1. Instruksikan klien untuk melaporkan tanda infeksi kepada dokter sesegera mungkin GM. Rasional : Agar pasien lebih sering untuk makan dan dapat dicerna dengan baik GK. HE : 6. Dehudrasi 2. Berikan makanan yang disukai dan makanan yang biasa/lunak GJ.

Penurunan Koping 3. Melaporkan GQ. 2. Kolaborasi : 8. Keluarga (00074) GT. HD. Definisi : Orang pendukung utama ( anggota keluarga atau teman dapat teratasi dengan criteria hasil : 1. Konsultasikan dengan dokter jika terdapat tanda dan gejala stomatitis yang membandel dan memburuk GP. Rasional : Agar anggota keluarga mampu untuk mengetahui keadaan klien HF. Rasional : Agar keluarga . Kelas 2 : Respon HC. Mencari informasi terkait keluarga untuk belajar HE.infeksi GN. Kaji kemampuan dan kesiapan anggota x 24 jam diharapkan Koping GV.Rasional : Agar akan diberikan obat untuk menangani gejala stomatitis yang membandel dan memburuk GR. Observasi : setelah 1. Bantu Mandiri : keluarga dalam mengambil keputusan dan memecahkan masalah HH. Domain 9 : Koping / Toleransi terhadap Stress GU. 31  Penyesuaian psikososial penurunan perasaan negative 2. GO. Tujuan : dilakukan tindakan keperawatan selama … ketidakefektifan koping GW. HG. GS.

Berikan perawatan kepada pasien menggantikan keluarga untuk tidak cukup. penyakit pada pasien GX. Rasional : Agar dapat terjalin hubungan saling percaya antar sesama 4. HE : 5. Berikan informasi tentang perubahan kesehatan spesifik dan keterampilan koping yang dibutuhkan HM. yang perawatan HJ. 32 dengan HN. Rasional : perubahan mencegah kesehatan.dekat) yang biasanya penyakit pengobatan 3. Menggunakan memeberikan dan kenyamanan.Rasional : Agar dapat mengurangi mungkin dibutuhkan klien oleh untuk mengelola dan menguasai tugas adaptasi yang terkait dengan rasa cemas pada keluarga HK. atau dorongan yang dapat mengatasi masalah secara bersama-sama strategi 3. pertanyaan keluarga HI. perasaan. bantuan. HL. tidak mengurangi beban mereka dan saat efektif. dan koping yang paling efektif dukungan. Agar kemungkinan dapat terjadi . atau keluarga tidak mamou memberikan menurun. Dengarkan kekhawatiran.

Rasional : masalah Agar dan dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh pasien . Kesalahan informasi yang didapat oleh invidu pendukung 2. Informasi yang didapat 33 Kolaborasi : dalam penyelesaian fasilitas komunikasi. takut. ketunadayaan atau krisi situasional dan perkembangan lain HA. perasaan bersalah. GZ. HB. adaptif. dan terhadap ansietas) penyakit. libatkan pasien / keluarga pasien menggambarkan focus berlebihan terhadap reaksi personal (misalnya. Orang terdekat multidisiplin. dukacita.GY. HP. HO. Lakukan konferensi perawatan pasien karakteristik : 1. Faktor yang berhubungan : 1. Batasan 6.

34 . HS. Kegelisahan sementara dari orang yang penting bagi klien HQ. HR. HT.oleh orang yang penting bagi klien tidak adekuat 3.