You are on page 1of 3

PENDIDIKAN PANCASILA

Soal !!
1. Apakah penerapan syariat islam di Aceh bertentangan dengan pancasila?
Sebelum kami menjawab pertanyaan tersebut , mari kita kembali ke Sistem
Pemerintahan Aceh yang sekarang. Meskipun Aceh dapat menerapkan sistem Syariat Islam
seperti ditegaskan dalam Undang undang Nomor 18 Tahun 2001 tentang otonomi khusus
bahwa untuk memberi kewenangan yang luas dalam menjalankan pemerintahan bagi Provinsi
Daerah Istimewa Aceh , tetapi jangan lupa aturan dan implementasinya tidak boleh
bertentangan dengan hukum nasional dalam artian Pancasila.
Dalam sistem pemerintahannya yang menerapkan sistem syariat Islam , Aceh boleh
memakai sistem itu selama tidak bertentangan dengan hukum hukum nasional yang berlaku
sekarang. Namun kenyataannya yang terjadi sekarang setelah adanya Undang undang yang
mengatur tentang otonomi khusus itu adalah pembuatan peraturan daerah (Perda ) atau Qanun
( Sebutan di Aceh ) terkait dengan Syariat syariat ternyata lebih banyak ditentukan oleh
Dewan Perwakilan Rakyat ( DPR ) dari Aceh sendiri. Dan juga seluruh masalah masalah
tentang syariah diputuskan oleh Dewan Perwakilan Rakyat ( DPR ) Aceh.
Sebenarnya itu tidak menjadi masalah , namun yang menjadi masalah menurut kami
adalah penggunaan sistem dan materi dalam penerapan sistem Syariah Islam di Aceh ternyata
tidak untuk warga non-Islam di wilayah itu. Tetapi hanya untuk yang beragama Islam saja.
Dari situ munculah ketidak setujuan kami dengan penerapan sistem Syariat Islam yang lebih
mementingkan kedudukan penganut Islam dalam artian ketidak adilan antar umat beragama.
Adapun contoh penerapan hukum hukum Islam di wilayah Aceh yang sering jadi
sorotan yakni Hukuman cambuk. Menurut kami , memang hukuman cambuk termasuk dalam
penerapan Syariah islam dan dibolehkan diterapkan dalam hukum islam tetapi jangan lupa
aturannya tidak boleh bertentangan dengan syariat yang telah ditentukan. Contoh kasus yang
telah terjadi adalah hukuman cambuk terhadap warga Non-Muslim di Aceh. Sebelum kami
lanjutkan , ayo kita kembali ke sistem yang di terapkan Aceh yang penerapannya hanya
dikhususkan untuk beragama Islam saja. Nah , jadi dapat disimpulkan bahwa kenapa
pemerintah Aceh tetap menjalankan hukuman cambuk tersebut ? Padahal sistem hukum
hukum islam tersebut kan hanya di peruntukkan pada warga beragama Islam saja ? Ini
menunjukkan bahwa hukum hukum tersebut yang diperuntukkan pada warga beragama

islam , hanya sebuah omongan fiktif belaka. Jadi dari semua itu dapat dilihat terjadinya
pergeseran dalam penerapan hukum hukum islam yang diterapkan disana.
Menurut pendapat kami , kenapa tidak dipastikan dulu apakah warga non-muslim itu
mau menerima hukuman tersebut atau tidak ? Karena apa ? Kita tetap harus kembali ke
sistem syariat islam yang diterapkan oleh Aceh yang telah di khususkan untuk warga
beragama islam tersebut. Dengan adanya sistem syariat islam itu , seharusnya sudah
dipastikan apakah warga non-muslim itu benar benar bersedia menerima hukuman cambuk
tersebut. Karena hukuman cambuk itu kan hanya diperuntukkan warga beragama Islam saja ?
Nah , kesimpulan kami coba kita ulas kembali permasalahan warga non-muslim tersebut
apakah dia perseorangan atau berkelompok ? Menurut kami jika dia perseorangan seharusnya
dia tidak menerima hukuman cambuk tersebut karena dia tidak menganut ke dalam sistem
Syariat islam tersebut. Tetapi , jika dia berkelompok dan ternyata diketahui rekan
kelompoknya adalah warga muslim. Dapat dipastikan warga non-muslim tersebut harus
bersedia menerima hukuman tersebut. Itulah yang membuat kami tidak menyetujui jika
syariat islam diterapkan dalam pemerintahan Aceh karena dengan penerapan sistem Syariat
Islam tersebut yang lebih mementingkan kedudukan penganut Islam dalam artian ketidak
adilan antar umat beragama.
Menurut kelompok kami, ada dua jawaban yakni setuju dan tidak setuju jika syariat
islam tersebut bertentangan dengan pancasila. Syariat islam mulai dijalankan di Aceh sejak
Aceh mendapatkan pengakuan negara atas keistimewaan dan kekhususan daerah Aceh yang
dijelaskan dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (LN
2006 No 62, TLN 4633). Undang-undang Pemerintahan Aceh ini tidak terlepas dari nota
Kesepahaman (Memorandum of Understanding) antara Pemerintah dan Gerakan Aceh
Merdeka (GAM) yang ditandatangani pada tanggal 15 Agustus 2005 dan merupakan suatu
bentuk rekonsiliasi secara bermartabat menuju pembangunan sosial, ekonomi, serta politik di
Aceh secara berkelanjutan.
Syariat islam sendiri adalah peraturan-peraturan yang mengatur tata hubungan antara
manusia dengan Allah, antar sesama manusia, dan manusia dengan lingkungannya.
Peraturan-peraturan tersebut diterapkan dalam Al-Quran dan juga hadits yang bertujuan
untuk kemaslahatan umat baik di dunia maupun di akhirat. Kami menjawab setuju jika
syariat islam tersebut tidak bertentangan dengan pancasila karena hukum islam merupakan
hukum yang seadil-adilnya.

Penegakan syariat islam di Aceh ini juga dilakukan dengan asas personalitas
keislaman terhadap setiap orang yang berada di wilayah Aceh tanpa membedakan
kewarganegaraan, kedudukan, dan statusnya dalam wilayah tersebut. Kami juga berpendapat
bahwa syariat islam yang diberlakukan tidak bertentangan dengan sila pertama pancasila
selama moral ketuhanan yang maha esa menjadi landasannya.
Kami menjawab bertentangan karena meskipun syariat islam memberlakukan hukum
yang adil namun hal tersebut juga bertentangan dengan pancasila dimana pancasila
menjunjung tinggi hak asasi manusia. Contohnya saja jika seseorang melakukan tindak
kriminal, maka orang tersebut akan di hukum dengan hukuman sesuai kriminalitas yang ia
lakukan. Hal ini sangat berbeda dengan hukum yang menganut pancasila dimana jika orang
tersebut melakukan tindak kriminalitas maka hukumannya adalah dipenjara sesuai dengan
tingkat kriminal yang dilakukannya. Selain itu pemberlakuan syariat islam di Aceh ini akan
menimbulkan kekacauan-kekacauan lain dimana daerah-daerah yang memiliki penduduk
mayoritas non muslim akan menginginkan keistimewaan yang sama seperti Aceh untuk
memberlakukan hukum sesuai pada ajaran agamanya.
Berdasarkan jawaban jawaban dan pembahasan diatas , dapat diketahui bahwa
penerapan syariat - syariat islam di Aceh sangat bertentangan dengan pancasila. Dengan kata
lain , banyak ketidakadilan antar umat beragama karena penerapan sistem syariat Islam yang
lebih mementingkan kedudukan penganut Islam dan mengesampingkan kedudukan warga
non-muslim.
Adapun ketidaknyamanan yang timbul serta kebebasan penduduk non-muslim karena
merasa menganut hukum yang tidak sesuai dengan dengan ajaran yang mereka yakini. Selain
itu pemberlakuan syariat islam di Aceh yang akan menimbulkan kekacauan - kekacauan lain
dimana daerah - daerah yang memiliki penduduk mayoritas non muslim akan menginginkan
keistimewaan yang sama seperti Aceh yang telah memberlakukan hukum sesuai pada ajaran
agama yang mereka yakini.
Disisi lain kami menjawab setuju karena menurut kami syariat islam yang sebenarnya
tidak bertentangan dengan pancasila karena hukum - hukum islam yang diterapkan
merupakan hukum yang benar benar adil dan seadil - adilnya. Itulah yang membuat kami
menjawab setuju karena syariat islam tersebut tidak bertentangan dengan pancasila melainkan
karena hukum islam merupakan hukum yang seadil-adilnya.